Kategori: Sastra

  • KOPIWANGI dan Dispusip Banyuwangi Bahas Publikasi Ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi serta Pengajuan ISBN

    KOPIWANGI dan Dispusip Banyuwangi Bahas Publikasi Ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi serta Pengajuan ISBN

    Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Andi Budi Setiawan, melakukan kunjungan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Banyuwangi, Selasa (10/03/2026).

    Kunjungan tersebut dilakukan untuk menjalin kerja sama sekaligus membahas publikasi ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi (Antologi Pantun Basa Using) yang telah dirilis melalui platform ebookbanyuwangi.

    Andi Budi Setiawan tiba di kantor Dispusip Banyuwangi sekitar pukul 10.00 WIB.

    Ia disambut oleh Yusup Khoiri, S.STP, selaku Pustakawan Ahli Madya, di ruang kerjanya untuk berdiskusi mengenai pengembangan literasi daerah.

    Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah membahas publikasi ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi (Antologi Pantun Basa Using) yang sudah tersedia di laman resmi Dispusip Banyuwangi.

    Ebook tersebut dapat diakses masyarakat melalui platform digital perpustakaan daerah. (https://ebookbanyuwangi.id/book/tandang-bareng-mbangun-banyuwangi-antologi-pantun-basa-using/)

    Selain publikasi digital, Dispusip Banyuwangi juga berencana mengajukan ISBN untuk karya tersebut ke Perpustakaan Nasional.

    Langkah ini dilakukan agar antologi pantun tersebut tercatat secara resmi sebagai koleksi karya sastra yang mengangkat kearifan lokal Banyuwangi, khususnya pantun berbahasa Using.

    Antologi Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi memuat 48 pantun karya 34 penulis dari berbagai latar belakang.

    Para penulis berasal dari anggota KOPIWANGI, guru bahasa Using, hingga pegiat literasi yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya daerah.

    Keragaman penulis tersebut menjadi kekuatan utama dalam antologi ini. Karya-karya yang terhimpun menunjukkan bahwa bahasa Using tetap hidup dan dirawat bersama oleh berbagai kalangan lintas generasi dan profesi.

    Secara tematik, pantun-pantun dalam antologi ini mengangkat kearifan lokal Banyuwangi melalui lima subtema utama.

    Subtema tersebut meliputi seni dan pertunjukan, ritual dan tradisi, arsitektur dan tata ruang, kuliner dan pangan, serta hubungan manusia dan alam.

    Melalui tema-tema tersebut, antologi ini merekam potret Banyuwangi secara utuh. Tidak hanya menggambarkan kekayaan seni dan tradisi adat, tetapi juga menampilkan lanskap alam serta ragam kuliner khas daerah.

    Dalam kesempatan itu, Yusup Khoiri menjelaskan bahwa tidak semua karya tulis dapat diajukan untuk mendapatkan ISBN dari Perpustakaan Nasional.

    Menurutnya, terdapat sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi oleh sebuah karya sebelum diajukan secara resmi.

    “Karya yang bisa diajukan ISBN, baik dalam bentuk PDF maupun cetak, harus sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional. Karya tulis yang merupakan produk pembelajaran tidak bisa diajukan ISBN.

    Jika karya tidak memenuhi syarat tersebut, maka bisa dipublikasikan melalui platform ebookbanyuwangi,” jelas Yusup Khoiri.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan menyampaikan bahwa Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi merupakan ebook ketiga yang dirilis oleh Dispusip Banyuwangi.

    Sebelumnya, Dispusip telah menerbitkan dua antologi lain yang juga melibatkan pegiat literasi daerah.

    “Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi merupakan ebook ketiga yang dirilis Dispusip Banyuwangi. Sebelumnya ada Marhaban Ya Ramadan, antologi pantun, puisi, dan quote Ramadan, serta Sajak Merah Putih, antologi puisi bertema pahlawan,” ujar Andi.

    Dispusip Banyuwangi juga mendorong keterlibatan aktif komunitas literasi dalam menghasilkan karya tulis.

    Keterlibatan tersebut diharapkan dapat memperkaya khazanah literasi lokal sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap karya-karya kreatif daerah.

    Langkah ini sejalan dengan visi KOPIWANGI yang mengusung semangat bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi.

    Kolaborasi antara komunitas literasi dan lembaga pemerintah menjadi salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutan budaya melalui karya tulis.

    Melalui inisiatif ini, masyarakat Banyuwangi diharapkan semakin terdorong untuk membaca, menulis, dan mendokumentasikan kekayaan budaya daerah.

    Karena itu, dukungan publik sangat penting agar gerakan literasi terus tumbuh dan memberi dampak luas bagi generasi mendatang.

  • FIBA Rilis Komik La Valise d’Eliane, Kisahkan Perjalanan Pebasket Swiss di Piala Dunia 1953

    FIBA Rilis Komik La Valise d’Eliane, Kisahkan Perjalanan Pebasket Swiss di Piala Dunia 1953

    Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) merilis komik berjudul La Valise d’Eliane yang mengangkat kisah perjalanan pebasket asal Swiss, Eliane Girod, saat mengikuti Piala Dunia Bola Basket Putri 1953 (FIBA Women’s Basketball World Cup 1953).

    Laman resmi FIBA, Senin, menyebutkan komik tersebut diluncurkan bertepatan dengan peringatan International Women’s Day pada 8 Maret.

    Peluncuran ini menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah edisi pertama Piala Dunia Bola Basket Putri yang digelar di Santiago, Chile pada 1953.

    Momentum penerbitan komik itu juga memiliki makna khusus. Tanggal 7 Maret merupakan hari dimulainya turnamen tersebut sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahun ke-100 Eliane Girod pada tahun 2026.

    FIBA menyebutkan bahwa cerita dalam komik tersebut terinspirasi dari catatan harian yang ditulis Girod selama mengikuti turnamen bersejarah tersebut.

    Pada masanya, Girod dikenal sebagai pemain klub bola basket asal Swiss, Chene-Bougeries. Klub tersebut mendominasi kompetisi domestik dengan meraih 13 gelar juara nasional secara beruntun dalam periode 1942 hingga 1954.

    Selain berprestasi di level klub, Girod juga pernah memperkuat tim nasional Swiss.

    Ia menjadi satu dari tiga pemain Chene-Bougeries yang membela negaranya pada ajang FIBA Women’s EuroBasket 1952, setahun sebelum tampil di Piala Dunia Bola Basket Putri 1953.

    Sekitar tujuh dekade kemudian, berbagai kenangan perjalanan Girod kembali ditemukan

    Dengan dukungan keluarganya, termasuk putrinya Corinne Dahan dan cucunya Joachim Dahan, serta mantan rekan setim seperti Claudine Clot dan Yvonne Cotier, sejumlah memorabilia berhasil dikumpulkan.

    Di antara koleksi tersebut terdapat buku harian yang ditulis Girod selama mengikuti turnamen.

    Seluruh memorabilia itu kemudian disumbangkan kepada FIBA Foundation sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah bola basket putri.

    Komik La Valise d’Eliane menggambarkan perjalanan panjang para pemain menuju lokasi turnamen.

    Mereka menempuh rute dari Geneva ke Paris, lalu melanjutkan perjalanan ke Lisbon, Dakar, Rio de Janeiro, hingga akhirnya tiba di Santiago.

    Cerita tersebut juga menyoroti perjuangan para atlet perempuan yang harus menghadapi berbagai stereotip sosial dan budaya pada masa ketika dunia olahraga masih sangat didominasi oleh laki-laki.

    Komik ini ditulis oleh Jacobo Rivero dengan ilustrasi karya Raulowsky.

    Saat ini, La Valise d’Eliane telah tersedia di sejumlah toko buku di Swiss dan Prancis, serta dapat dipesan secara daring melalui situs penerbit Livreo-Alphil.

  • Kemenag Banyuwangi Merajut Karakter Lewat Workshop Pentigraf

    Kemenag Banyuwangi Merajut Karakter Lewat Workshop Pentigraf

    Di bawah payung peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyalakan obor literasi melalui Workshop Pentigraf (cerita pendek tiga paragraf) yang digelar secara hibrida, Selasa (16/12/2025).

    Aula MAN 3 Banyuwangi menjadi ruang temu luring, sementara layar-layar daring menghubungkan madrasah lain dalam satu tarikan napas yang sama: sastra sebagai jalan pembentukan karakter.

    Membuka kegiatan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menegaskan bahwa pentigraf bukan sekadar latihan merangkai kata.

    Pentiraf merupakan disiplin batin, cara berpikir holistik yang memaksa penulis memahami persoalan secara utuh, lalu merumuskannya dengan ringkas, padat, dan bermakna. Dalam kependekan, karakter diuji; dalam kesederhanaan, kedalaman dituntut.

    Ketua Panitia HAB ke-80 Kementerian Agama RI pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Fathurrahman, menyambut kegiatan ini dengan rasa syukur.

    Berlatar pengalaman jurnalistik yang tumbuh tanpa bangku pelatihan formal, ia melihat workshop ini sebagai ladang subur bagi tumbuhnya insan literasi yang andal dan berkarakter, sebuah ikhtiar yang kini bersemi di lingkungan Kemenag Banyuwangi, diinisiasi oleh Lentera Sastra.

    Dua suara menguatkan ikhtiar itu. Dr. Nurul Lutfia Rohmah dari Lentera Sastra, Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi, membentangkan lanskap teori dan kepekaan sastra.

    Sementara Syafaat, Ketua Lentera Sastra, menautkan teori dengan laku: peserta tidak berhenti pada pemahaman, melainkan melangkah ke praktik. Mereka menulis, berlomba, dan karya terbaiknya kelak dibukukan, menjadi jejak yang dapat dibaca waktu.

    Pelaksanaan hibrida menjahit jarak: materi disampaikan luring di MAN 3 Banyuwangi dan daring bersama siswa MTs Nurul Iman, Desa Sukojati, Kecamatan Blimbingsari.

    Dari ruang ke ruang, dari layar ke layar, sastra bekerja sebagai jembatan, menumbuhkan budaya literasi, mengasah kreativitas, dan meneguhkan karakter peserta didik. Di tiga paragraf, Banyuwangi belajar merangkum dunia; di sastra, ia menemukan arah. (Syafaat)

  • KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Sering kita dengar pernyataan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Tentunya itu bukan sekadar angka, seolah-olah bangsa ini nyaris tidak gemar membaca.

    Namun, jika ditelusuri, data tersebut tidak tercatat dalam laporan resmi UNESCO maupun BPS.

    Faktanya, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2024), tingkat kemampuan baca-tulis masyarakat Indonesia justru sudah sangat tinggi, yaitu sekitar 96–99%.

    Artinya, hampir semua penduduk Indonesia sudah bisa membaca dan menulis.

    Namun tantangannya kini bukan lagi sekadar bisa membaca, melainkan bagaimana menjadikan membaca bagian dari kehidupan.

    Banyak dari kita mampu membaca teks, tetapi belum tentu memahami isinya atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Persoalan utama bukan lagi pada kemampuan membaca, melainkan bagaimana membangun budaya membaca dan memperdalam literasi.

    Literasi bukan hanya sekadar mengenal huruf, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk berpikir reflektif dan kreatif. Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan upaya berkelanjutan.

    Pada dasarnya, literasi memiliki tiga makna, yaitu:

    1. Pertama, Enlightenment (mencerahkan) — literasi menghadirkan kesadaran baru dan membuka wawasan pembacanya. Dengan membaca, seseorang dapat memahami dunia dengan lebih luas.
    2. Kedua, Enrichment (memperkaya) — setiap bacaan memperkaya pengetahuan, memperluas empati, dan menambah khazanah berpikir.
    3. Ketiga, Empowerment (memberdayakan) — literasi menjadikan seseorang memiliki kompetensi dan keterampilan hidup (life skills) untuk menghadapi tantangan zaman.

    Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), sebuah komunitas literasi yang berdiri pada Maret 2023 dan berperan aktif menumbuhkan semangat membaca serta menulis di Banyuwangi.

    Anggotanya berasal dari beragam latar belakang, mulai dari tenaga pendidik (mayoritas guru penggerak), mahasiswa, dosen, penulis, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.

    Dengan visi “bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi,” KOPIWANGI mengusung misi yang nyata dan terukur: mengadakan pelatihan menulis fiksi dan nonfiksi, pendampingan sampai penerbitan karya, berbagi praktik baik antarpenulis, serta menyelenggarakan kegiatan dan kolaborasi literasi dengan berbagai pihak.

    Melalui program pelatihan komunitas, KOPIWANGI membuka ruang bagi siapa pun, baik guru, siswa, penulis pemula, maupun masyarakat umum untuk mengasah keterampilan menulis secara daring maupun luring.

    Kegiatan lomba literasi menjadi wadah bagi pegiat literasi dan memotivasi anggota agar terus produktif berkarya.

    Pertemuan bulanan berfungsi sebagai ruang refleksi, diskusi, dan evaluasi agar komunitas tetap tumbuh secara berkelanjutan.

    Beberapa kegiatan telah terlaksana setiap tahun, antara lain lomba cipta dan baca puisi untuk jenjang pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum tingkat kabupaten.

    Selain itu, KOPIWANGI rutin menggelar lomba baca puisi dan mendongeng bagi siswa SD, SMP, dan SMA sederajat, serta lomba cipta puisi, pantun, dan quote antaranggota komunitas.

    Melalui berbagai kegiatan ini, KOPIWANGI terus menumbuhkan semangat berekspresi dan kecintaan terhadap literasi.

    Kegiatan menulis puisi dan esai di KOPIWANGI dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap pelatihan, pendampingan, hingga penerbitan karya antaranggota komunitas.

    Upaya ini membuahkan hasil nyata melalui terbitnya tiga buku antologi, yakni Lentera di Pengujung Asa – Pendidikan yang Memerdekakan (2024), Pena Sang Surya – Kisah Inspiratif Pendidikan Era Milenial (2024), dan Antologi Gotong Royong (2025).

    Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa literasi akan berkembang jika dilakukan bersama dengan tekad serta niat yang kuat.

    Lebih dari sekadar komunitas, KOPIWANGI hadir sebagai jembatan antara literasi dan lintas generasi.

    Di dalamnya, berbagai usia dan latar belakang bersatu dalam semangat yang sama: mencintai literasi.

    Kegiatan sharing dan diskusi antara guru, penulis pemula, penulis senior, hingga kalangan masyarakat umum mendorong inspirasi untuk menulis dan membaca.

    Literasi pun menjadi ruang dialog antar generasi, tempat di mana pengalaman dan gagasan bertemu untuk melahirkan perubahan.

    KOPIWANGI hadir sebagai jembatan antara intuisi dan tulisan; antara pemikiran dan karya.

    Setiap intuisi atau pemikiran yang lahir mengalir ke dalam tulisan dan menjadi karya.

    Melalui tulisan, KOPIWANGI tidak hanya menyalurkan ide tetapi juga meneguhkan bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menggerakkan.

    Makna kata “jembatan” menggambarkan peran sebagai penghubung antara karya literasi dan lintas generasi — sebuah warisan yang dapat dinikmati dari masa ke masa.

    Melalui karya yang sarat nilai positif dan logis, literasi menjadi cermin reflektif budaya, khususnya dalam bidang sastra, yang terus hidup dan berkembang seiring perjalanan waktu.

    Dalam dunia yang dibanjiri informasi, kemampuan literasi menjadi tameng sekaligus kompas.

    Masyarakat yang melek literasi tidak mudah terombang-ambing oleh hoaks, tidak cepat tersulut oleh opini kosong, dan mampu menilai setiap informasi secara kritis.

    Karena itu, gerakan literasi seperti KOPIWANGI memiliki arti penting: membangun Banyuwangi yang cerdas, berbudaya, dan berdaya saing.

    Sampai di sini, KOPIWANGI membuktikan komitmennya bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca buku atau menulis cerita, tetapi sebuah gerakan yang mencerahkan, memperkaya, dan memberdayakan.

    Dari Banyuwangi, semangat api literasi terus menyala — menghubungkan masa lalu lewat tulisan yang berakar pada nilai-nilai budaya, masa kini yang dinamis, dan masa depan yang dipenuhi generasi milenial yang cakap berliterasi.

    Mari dukung gerakan ini, karena setiap kata yang ditulis dan setiap karya yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar bagi generasi berikutnya.

    Penulis merpakan Pendidik di SMK PGRI Rogojampi yang aktif di dunia literasi dan Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

  • Gema Madrasah di Liga Puisi – Syafaat

    Gema Madrasah di Liga Puisi – Syafaat

    Gema Madrasah di Liga Puisi
    Oleh: Syafaat

    Liga Puisi 4 yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi memang telah berakhir, namun gema dan napasnya belum benar-benar pergi. Ia masih berputar di udara seperti gema adzan di dada yang belum selesai berdzikir.

    Setiap kali kenangan itu disentuh, terdengar kembali suara-suara anak madrasah yang membaca puisi dengan wajah serius, suara yang mungkin sedikit gemetar, namun jujur. Suara yang tidak hanya mengucapkan kata, tetapi menyalakan lentera kecil di dalam dirinya sendiri.

    Dari empat kategori jenjang yang dilombakan, tiga juara pertama diraih oleh insan madrasah: SD/MI, SMP/MTs, dan kategori guru.

    Tiga kemenangan itu seperti tiga bait dalam satu puisi panjang tentang kesabaran, bait pertama ketulusan, bait kedua keuletan, bait ketiga doa yang tak bersuara.

    Orang bisa menyebutnya keberuntungan, tetapi siapa pun yang memahami denyut hidup di madrasah akan tahu: ini bukan kebetulan.

    Ini buah dari kerja panjang yang senyap, dari peluh yang jatuh di antara dhuha dan ashar, dari latihan-latihan kecil yang tak pernah dimuat di berita, tapi menyimpan cahaya di baliknya, seperti lampu minyak yang terus menyala di tengah malam panjang.

    Madrasah adalah dunia kecil yang melatih kepekaan dengan cara paling sederhana. Di sana anak-anak belajar membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, melagukan Tilawah dengan suara yang bening, lalu tanpa sadar belajar pula membaca kehidupan dengan rasa yang halus.

    Dua tahun sekali mereka mengadakan Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) hingga ke tingkat provinsi—dan membaca puisi selalu menjadi cabang lomba yang ditunggu, seperti zikir yang berubah rupa menjadi suara.

    Di madrasah, puisi bukan pelarian dari kenyataan, melainkan pelengkap iman. Anak-anak membaca dan menulis tentang ibu yang tak pernah berhenti berdoa, tentang guru yang berjalan di bawah gerimis membawa spidol, tentang langit pagi yang disapa dengan salam dan harapan.

    Sering kali terlupa bahwa di balik seragam hijau tua itu, tersimpan anak-anak yang memendam mimpi menjadi penyair. Mereka mungkin tak memiliki banyak buku sastra, tetapi mereka punya guru yang mengajarkan makna kata ikhlas.

    Mungkin karena itu, setiap kali mereka membaca puisi, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan, getar yang membuat penonton diam sejenak sebelum bertepuk tangan. Bukan karena kagum, tetapi karena terharu. Sebab yang berbicara di atas panggung bukan sekadar anak madrasah, melainkan hati yang sedang mencari cara untuk bersyukur.

    Kini banyak madrasah menggandeng pelatih profesional, bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena ingin belajar dari yang terbaik. Mereka tahu, membaca puisi bukan hanya tentang suara, tetapi tentang keberanian membuka hati.

    Di antara anak-anak itu, ada yang dulunya pemalu, tak berani bicara di depan kelas. Namun ketika diberi teks puisi dan diminta membaca, sesuatu di dalam dirinya menyala. Puisi memberi ruang untuk menjadi diri sendiri, memberi tempat bagi jiwa untuk berbicara tanpa takut dihakimi.

    Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir semakin giat menumbuhkan gerakan literasi dan sastra. Guru-guru madrasah dan ASN membentuk komunitas, menerbitkan antologi, menulis di media.

    Sebagian dari mereka bahkan rutin mengadakan pelatihan menulis di sela jam mengajar, di antara azan dan ujian. Literasi di madrasah bukan sekadar program, melainkan jalan menuju empati; bukan lomba untuk menang, tetapi perjalanan menuju pencerahan.

    Entah dengan rahasia apa, madrasah selalu punya cara yang lembut namun dalam dalam menanak rasa. Kata-kata di sana tumbuh dari tanah yang disiram doa dan diterangi ayat.

    Saat para santri menulis, ada aroma kitab yang baru saja dibuka, wangi kertas, tinta, dan kesunyian yang penuh makna. Di antara diksi-diksi mereka tercium jejak sujud yang panjang, langkah kecil menuju pemahaman yang tak selalu perlu dijelaskan.

    Dan ketika mereka membaca, suara mereka datang dari ruang yang lebih jauh dari sekadar panggung, ada gema doa di setiap jeda, ada dzikir yang bersembunyi di antara tanda baca.

    Bahasa mereka mungkin belum semegah para penyair besar, tetapi kejujuran mereka berdenyut lebih hangat, lebih hidup—seperti embun yang tak tahu bahwa dirinya sedang memantulkan cahaya matahari. Sebab di madrasah, kata-kata tak pernah dikejar untuk dipuji, melainkan dijaga agar tetap suci.

    Di sana, kalimat lahir dari hati yang terbiasa tunduk pada makna, dan setiap makna adalah perjalanan pulang menuju Yang Maha Kata.

    Liga Puisi bukan sekadar ajang, melainkan cermin kecil dari apa yang telah mereka tanam bertahun-tahun. Kemenangan bukan tujuan utama, mereka datang bukan hanya untuk bersaing, tetapi untuk berbagi ruh.

    Ada murid MI yang membaca puisi tentang pendidikan dan kemiskinan, guru madrasah yang menulis tentang sunyi ruang kelas dan karut-marut nasib anak bangsa, siswi MTs yang suaranya nyaris pecah menahan tangis saat membaca tentang perjuangan orang tua. Tak satu pun dari itu dibuat-buat, semuanya lahir dari hati yang mengenal kehilangan dan doa.

    Layak diteladani, bagaimana mereka saling mendukung tanpa iri, tanpa ingin tampil paling indah. Di ruang lomba itu, terpantul semangat lama: bahwa puisi tidak dilahirkan dari kepandaian, melainkan dari kepedihan yang diterima dengan sabar.

    Dan barangkali di situlah madrasah menang, karena mereka telah terbiasa menulis dan membaca dengan kesabaran, seperti santri yang belajar menulis huruf arab satu demi satu hingga menjadi doa yang utuh.

    Madrasah, dengan segala kesederhanaannya, kini menjelma taman kata. Di sana, iman dan imajinasi saling berpelukan seperti dua sahabat lama yang tak pernah benar-benar berpisah. Anak-anak belajar shalawat sambil belajar metafora, menulis bukan untuk terkenal, melainkan agar langit mendengar.

    Setiap bait menjadi doa yang disusun dalam bentuk baru; setiap kata adalah zikir yang disampaikan dengan nada lembut. Suatu hari nanti, tak ada lagi yang heran melihat madrasah terus melahirkan penyair.

    Sebab di sana, puisi tak pernah diajarkan sebagai pelajaran, tetapi dihidupkan sebagai kehidupan. Membaca puisi menjadi cara lain untuk bersyukur, menulis puisi menjadi bentuk zikir yang paling sunyi.

    Dan ketika panggung Liga Puisi telah kosong, mikrofon dimatikan, para juri meninggalkan tepat, gema itu masih tinggal. Ia bergetar di dada para guru yang tersenyum bangga, berbisik di hati anak-anak yang malamnya masih mengulang bait-baitnya di depan cermin.

    Di dunia yang semakin bising ini, madrasah telah memberi satu anugerah paling berharga: kemampuan untuk mendengarkan suara hati sendiri, suara yang lirih namun abadi, yang kelak tumbuh menjadi puisi kehidupan itu sendiri.

    Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

  • Membaca Ulang Sastra Pesantren – Syafaat

    Membaca Ulang Sastra Pesantren – Syafaat

    Membaca Ulang Sastra Pesantren
    Oleh : Syafaat (Ketua Lentera Sastra Banyuwangi)

    Tahun lalu, dalam perhelatan Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi, ada satu denyut yang menggugah kesadaran: denyut dari balik tembok pesantren.

    Dari ratusan puisi yang mengalir menuju meja panitia, banyak di antaranya lahir dari tangan-tangan santri, dari ruang-ruang sunyi Kementerian Agama dan pesantren yang tersebar dari Riau hingga Madura, dari Tapal Kuda hingga lereng-lereng pesantren tua di timur Jawa. Fenomena ini tentu bukan kebetulan.

    Ia seperti getar halus dari sejarah yang tengah menulis dirinya sendiri, bahwa pesantren kini sedang membuka babak baru dalam kesusastraan Indonesia.

    Dari balik dinding yang dulu hanya bergema lantunan kitab kuning, desiran syi’ir selepas adzan, kidung puji-pujian sebelum jamaah berkumpul untuk shalat, dan bisikan wirid Subuh yang merambat lembut di antara detik-detik pagi, kini mengalir pula sajak-sajak yang berbahasa Indonesia: puisi yang tetap berjiwa religius namun menatap dunia dengan mata kemanusiaan.

    Dan ketika Sastra Timur Jawa menggelar Temu Karya Serumpun 2025, gema itu kembali terdengar. Di antara halaman-halaman tebal antologi yang disusun dari penulis lintas negara, puisi-puisi santri turut menorehkan warna, lembut tapi teguh, sederhana namun memancarkan kedalaman batin.

    Sastra pesantren telah menjelma bukan hanya gema spiritual, tetapi juga pernyataan estetik: bahwa dari rahim kesunyian, lahir puisi yang membawa cahaya.

    Puisi di pesantren tumbuh dari keseharian yang sederhana, dari ketukan waktu yang diatur oleh adzan, dari denyut kehidupan asrama yang bersahaja, dari perenungan malam di serambi mushala yang remang. Puisi santri lahir bukan dari ruang akademik atau ruang baca yang tenang, tetapi dari ruang-ruang batin yang penuh dzikir dan kesunyian.

    Mereka menulis di antara waktu belajar Nahwu dan Shorof, di antara doa dan kerja bakti, di antara rindu dan kepatuhan.Karena itu, puisi-puisi mereka sering kali tidak berambisi menjadi “modern” atau “eksperimental” dalam pengertian estetika kota, tetapi jujur dan bersumber dari getaran iman yang paling dalam.

    Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru, tradisi puisi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan pesantren, bahkan sejak masa-masa awal penyebaran Islam di Nusantara. Syi’ir-syi’ir berbahasa Arab dan Jawa dengan aksara Pegon digunakan sebagai media pengajaran dan dakwah.

    Nadzoman tentang akhlak, fiqih, dan tasawuf dilagukan dengan nada yang indah agar mudah dihafal. Para santri belajar ilmu sekaligus belajar estetika: bagaimana kata bisa menuntun hati, bagaimana irama bisa menjadi jalan menuju Tuhan. Dalam suasana seperti itulah lahir ungkapan terkenal bahwa “setiap ilmu yang tidak disertai adab adalah kegelapan, dan setiap kata tanpa niat adalah suara kosong.”

    Sastra pesantren, dalam beragam bentuknya, hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syi’ir, dan nadzoman, merupakan cermin dari upaya manusia pesantren memahami dunia. Ia lahir dari pergulatan antara teks dan konteks, antara tradisi keilmuan dan realitas sosial.

    Karya-karya ini dibacakan di surau, di langgar, di rumah-rumah kiai, dan di sela pengajian. Orang-orang tua dan muda mendengarkannya bersama, lalu menurunkannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Karena itulah sastra pesantren memiliki sifat komunal, ia milik bersama, bukan milik individu semata.
    Berbicara tentang “sastra pesantren” berarti berbicara tentang kesadaran budaya yang tumbuh dari pengalaman religius. Ia bukan sekadar catatan kehidupan kaum santri, tetapi juga cermin dari subyektivitas kreatif mereka dalam menafsirkan dunia.

    Sejarah mencatat bahwa sejak abad ke-17, pesantren telah menjadi tempat persemaian para pujangga dan penulis. Yasadipura I (Raden Ngabehi Yasadipura I), Yasadipura II (Tumenggung Sastronagoro), dan Ranggawarsita yang hidup di Kasunanan Surakarta adalah contoh klasik: mereka pernah nyantri, menguasai bahasa Arab dan Jawa, dan menulis karya-karya besar yang menggabungkan hikmah spiritual dengan pengalaman sejarah bangsanya.

    Yasadipura I, misalnya, melalui karyanya Serat Cabolek, adalah sebuah cermin zaman — cermin yang merekam denyut ketegangan antara syariat dan makrifat, antara akal yang tunduk pada hukum dan hati yang mencari makna di balik hukum itu sendiri.

    Di dalamnya bergolak perdebatan antara Ketib Anom, sang penjaga kemurnian ajaran syariat, dengan Haji Mutamakkin, pengembara ruhani yang menapaki lorong-lorong mistik Jawa.

    Keduanya berhadap-hadapan di hadapan para ulama dan bangsawan Keraton Kartasura, di mana agama dan kekuasaan bersilang pandang, dan bahasa langit bernegosiasi dengan bahasa bumi.

    Melalui karya Yasadipura I, kisah itu menjelma bukan sekadar pertentangan dua tokoh, melainkan pertemuan dua arus besar peradaban: pesantren dan kraton, kitab dan kebudayaan, syariat dan rasa.

    Di sana, pesantren tampak tidak lagi semata sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi menjelma menjadi pusat kebudayaan jiwa Jawa — ruang di mana aksara berdoa, dan doa berubah menjadi aksara

    Dalam berbagai daerah Nusantara, karya-karya santri juga berkembang dalam bentuk lokalnya masing-masing.

    Di Jawa Barat muncul Tjarita Ibrahim dan Tjarita Nurulqamar; di pesisir Jawa Tengah hidup Serat Jatiswara dan Serat Centhini; di Sumatera terdapat Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura; bahkan di Sulawesi Selatan, kisah I La Galigo disisipkan unsur pesantren, ketika tokoh Sawerigading dalam versi santri digambarkan pergi menuntut ilmu ke Mekkah dan pulang mendirikan masjid.

    Proses penyisipan dan penyesuaian ini menunjukkan daya kreatif kaum pesantren dalam mentransformasikan kebudayaan lokal menjadi kebudayaan Islam Nusantara.

    Tradisi puisi dalam pesantren memiliki kekuatan spiritual yang khas. Ia tidak semata berbicara tentang cinta atau keindahan, tetapi juga tentang perjalanan jiwa. Dalam syi’ir-syi’ir pesantren, cinta selalu mengarah pada Tuhan, dan keindahan adalah cermin dari keagungan-Nya.

    Puisi menjadi alat tafakur, sarana tazkiyah (penyucian jiwa). Santri belajar menulis bukan untuk menjadi penyair besar, melainkan untuk memahami makna diri. Dan dalam keheningan malam, mereka melafalkan kata-kata yang seolah menembus batas antara manusia dan Tuhan.

    Puisi-puisi itu kini menemukan bentuk barunya. Para santri muda menulis di koran, di majalah sastra, dan di media sosial. Mereka menulis tentang kehidupan pesantren dengan bahasa yang segar, namun tetap membawa nilai-nilai keislaman dan etika sufistik.

    Karya-karya penyair seperti D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Ahmad Tohari menjadi bukti bahwa dunia pesantren masih memancarkan cahaya bagi kesusastraan Indonesia. Mereka membawa kesederhanaan hidup santri ke panggung nasional, tanpa kehilangan ruh spiritual yang membentuknya.

    Sebut saja dua puisi Acep Zamzam Noor dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan, dua puisi (Fajar bagi Kata-kata, dan Teluk Nipah) yang memantulkan aroma pesantren, serupa dupa yang menyala perlahan di ruang hati.

    Di antara bait-baitnya, tercium wangi kesunyian, getir pengalaman, dan cahaya makrifat yang menetes lembut dari langit penghayatan. Acep, penyair yang menempuh jalan sunyi antara sastra dan tasawuf, seolah menulis dengan tinta yang dicelup dari air wudhu.

    Puisinya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan dzikir yang berirama, doa yang disamarkan dalam keindahan metafora. Ketika ia hadir dalam Liga Puisi 2025 di Banyuwangi, suaranya bukan hanya membaca, ia menafsirkan diri sendiri.

    Setiap larik yang keluar dari bibirnya seperti menyentuh ruang batin para pendengar; menyapa yang jauh, memeluk yang luka, dan mengingatkan bahwa kata sejati selalu lahir dari jiwa yang bersujud.

    Juga KHR Ahmad Azzaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, turut menorehkan cahaya dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan.

    Puisinya yang berjudul “Allahumma Ampelkan Jiwa Raga” adalah napas panjang dari seorang salik yang berjalan di jalan sunyi menuju Yang Maha Cinta.

    Dalam larik-lariknya, kata tidak hanya menjadi bunyi, melainkan doa yang berdenyut, dzikir yang bergetar, dan cahaya yang menuntun jiwa. Puisi itu seolah lahir dari kedalaman malam di mana seorang kekasih berbicara diam-diam dengan Tuhannya.

    Aroma tasawuf begitu kental di dalamnya, seakan setiap kata telah dimandikan oleh air mata rindu yang tak pernah kering. Ia menulis bukan untuk memamerkan keindahan bahasa, melainkan untuk mengembalikan bahasa kepada asalnya: sebagai jalan pulang.

    Dan dari bait-bait itu, kita merasakan sesuatu yang melampaui wacana, semacam getar halus dari hati yang telah luluh di hadapan Sang Maha Segalanya.

    Dalam puisi Allahumma Ampelkan Jiwa Raga, kata “Ampelkan” bukan sekadar seruan, tetapi permohonan seorang hamba agar raganya pun berlabuh di pelukan Ilahi.

    Namun demikian, posisi sastra pesantren, termasuk puisi pesantren, masih berada di pinggiran dalam peta sastra Indonesia. Karya-karya mereka sering dianggap kurang “modern”, atau terlalu “moralistik”.

    Padahal, di tengah krisis spiritual masyarakat modern, suara-suara dari pesantren justru menawarkan keseimbangan. Mereka mengingatkan bahwa sastra bukan hanya permainan bentuk, tetapi juga laku batin; bukan hanya tentang estetika, tetapi juga etika; bukan sekadar tentang kata-kata, tetapi tentang kejujuran hati.

    Dalam pandangan ini, sastra pesantren bukan sekadar genre, melainkan cara hidup. Ia mengajarkan bahwa menulis adalah bagian dari ibadah, membaca adalah bagian dari tafakur, dan mendengar adalah bagian dari dzikir.

    Santri yang menulis puisi sesungguhnya sedang belajar memahami dirinya sendiri: bagaimana ia mencintai, bagaimana ia percaya, bagaimana ia berdoa. Dalam setiap bait puisi, selalu ada jejak sujud yang tak kelihatan.

    Di Banyuwangi, sastra pesantren tumbuh seperti pohon tua yang akarnya menembus masa lalu dan pucuknya menatap langit masa kini. Jejaknya kentara, berdenyut dalam nadi para santri dan insan Kementerian Agama yang menulis bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menyucikan ingatan.

    Sebut saja Shalawat Badar, yang ditulis oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada tahun 60-an, sebuah kidung yang melampaui zaman, menjadi gema dari masa ketika puisi masih lahir dari sujud dan air mata.

    Dari tangan seorang abdi negara, lahirlah syair yang bukan sekadar karya sastra, melainkan dzikir yang berpakaian bahasa.

    Dan kini, denyut itu tak padam. Ia menjelma dalam diri Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi hari ini, yang sajak-sajaknya mengalir dengan aroma pesantren, lembut, teduh, dan sarat makna.

    Dalam setiap puisinya terasa desir angin serambi mushala, gema adzan di pagi buta, dan getar kesadaran bahwa kata hanyalah jembatan menuju Yang Maha Kata.

    Kini, ketika dunia semakin bising oleh kata-kata yang kehilangan makna, puisi pesantren hadir sebagai suara yang lembut namun tegas. Ia tidak berteriak, tidak menggurui, tapi mengalir seperti air yang jernih, menyentuh yang mau disapa, dan menghidupkan yang haus akan makna.

    Dalam setiap puisinya, ada doa yang disamarkan, ada cinta yang disembunyikan, dan ada pengakuan kecil bahwa manusia selalu butuh Tuhan dalam setiap perjalanan menulisnya.

    Mungkin di situlah letak keabadian sastra pesantren: ia tidak mencari kemegahan, tapi ketulusan. Ia tidak mengejar abadi, tapi karena keikhlasanlah, ia bertahan dalam keabadian.

    Penulis adalah ASN/Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

  • Penyair Serumpun Asia Tenggara Temu Karya di Jember, Bahas Trauma dan Imajinasi Kebebasan

    Penyair Serumpun Asia Tenggara Temu Karya di Jember, Bahas Trauma dan Imajinasi Kebebasan

    Para penyair dari berbagai negara Asia Tenggara berkumpul di Jember dalam ajang Temu Karya Serumpun 2025 yang digelar di Seger Nusantara, Pakusari Jember pada 25–26 Oktober 2025.

    Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan antara sastrawan Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Timor Leste.

    Acara dibuka dengan Dialog Sastra Penyair Serumpun yang menghadirkan tokoh-tokoh sastra lintas negara.

    Dalam diskusi itu, penyair asal Pattani, Thailand, Abas Salae, menyoroti pentingnya peran bahasa dan sastra dalam menjaga persaudaraan di kawasan Asia Tenggara.

    Ia menilai, kesamaan sejarah dan latar budaya menjadi fondasi yang mempererat hubungan antarpenyair serumpun.

    Sementara itu, penyair dari Riau, Muhammad Asqalani E, turut berbagi pengalaman tentang bagaimana trauma masa lalu membentuk dirinya dalam menulis puisi.

    Ia menganggap pengalaman emosional dapat menjadi sumber inspirasi yang memperkaya makna karya sastra.

    Pandangan itu mendapat penguatan dari sejumlah tokoh lain seperti Rakmat Faisal dari Universitas Negeri Surabaya, Nurul Ludfiah dari Banyuwangi, Faidi Rizal Alief dari Sumenep, Muhammad Lefand dari komunitas Sastra Timur Jawa, dan Yogira Yogaswara dari Ciwedey, Jawa Barat. Diskusi tersebut dipandu oleh Fitri Nura Murti, dosen FKIP Universitas Jember.

    Sastrawan Tengsoe menambahkan bahwa dialog lintas negara semacam ini bukan sekadar ajang pertemuan para penyair, tetapi juga menjadi wadah refleksi bersama tentang kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara.

    Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut agar puisi tetap menjadi jembatan lintas budaya dan bahasa.

    Pada hari kedua, kegiatan berlanjut dengan Peluncuran dan Bedah Buku bertema “Semesta Ingatan: Trauma dan Imajinasi Kebebasan.”

    Dalam sesi tersebut, Prof. Taufiq menilai tema itu mencerminkan perjalanan batin manusia dalam menghadapi luka sejarah serta menemukan makna kebebasan melalui sastra. Ia juga menyebut bahwa ingatan kolektif menjadi sumber penting dalam proses penciptaan karya.

    Pandangan lain datang dari Acep Zamzam Noor, yang berpendapat bahwa trauma tidak selalu membawa dampak negatif, melainkan bisa menjadi kekuatan yang melahirkan karya sastra dengan kedalaman makna.

    Adziah Abd Aziz, penulis asal Malaysia, mengingatkan bahwa kebebasan berimajinasi harus disertai tanggung jawab moral agar tidak mengganggu ruang kreatif penulis lain.

    Sesi ditutup oleh Mashuri yang menegaskan pentingnya ketepatan berbahasa dalam dunia puisi. Ia menilai keindahan sebuah karya lahir dari disiplin berbahasa yang tinggi, sehingga kesalahan kecil pun bisa memengaruhi kekuatan puisi.

  • Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan Warnai Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan Warnai Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Bertepatan dengan momentum Bulan Bahasa, dua buku baru, yaitu Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan resmi diluncurkan di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Banyuwangi pada Jumat (17/10).

    Kegiatan yang digagas oleh Penerbit Lintang Banyuwangi, Komunitas Gotong Royong 45, dan Kopiwangi ini dihadiri oleh puluhan pegiat literasi, penulis, akademisi, serta perwakilan dari berbagai instansi pemerintah.

    Peluncuran dua buku tersebut mendapat sambutan positif. Selain menjadi ruang temu antarkomunitas, acara ini juga menegaskan semangat kolaborasi dalam memperkuat tradisi menulis di Banyuwangi.

    Dua buku yang diluncurkan memiliki karakter berbeda namun sama kuat secara pesan.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (3)

    Antologi Gotong Royong berisi kumpulan puisi dan pentigraf dua bahasa (Indonesia–Using) yang ditulis oleh puluhan penulis Banyuwangi, termasuk penyair difabel.

    Sementara Lamunan Seorang Wartawan karya Ricky Sulivan merupakan novel fiksi yang mengangkat realitas profesi jurnalis di lapangan.

    Acara peluncuran dipandu oleh Maria Ulfa dari Kopiwangi dan dibuka secara resmi oleh Maulana Affandi, S.S., Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ selaku media partner.

    Dalam sambutannya, Affandi menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan peluncuran buku tersebut.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, mulai dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Dinas Kominfo, Komunitas Gotong Royong 45, Kopiwangi, hingga para penulis yang telah berkontribusi melahirkan karya,” ujarnya.

    Ia menambahkan, kolaborasi antara penerbit, komunitas literasi, dan para penulis menjadi bukti bahwa semangat menulis dan berkarya di Banyuwangi masih terus tumbuh.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh Lina Kamalin, M.Pd., selaku penasihat Kopiwangi. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menunjukkan kekuatan sinergi antarpenulis dan komunitas.

    “Lahirnya Buku Antologi Gotong Royong ini merupakan cerminan dari proses panjang kolaborasi banyak pihak yang memiliki kepedulian terhadap dunia literasi. Setiap tahap, mulai dari penulisan hingga penerbitan, dijalani dengan semangat saling mendukung dan belajar bersama. Proses itulah yang membuat buku ini tidak hanya menjadi kumpulan tulisan, tetapi juga simbol nyata bagaimana kebersamaan dapat melahirkan karya yang bermakna bagi Banyuwangi,” ujarnya.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (4)

    Sambutan selanjutnya disampaikan oleh pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi H. Yusuf Khoiri yang menyampaikan bahwa pihaknya terus membuka ruang bagi kegiatan literasi publik.

    “Aula ini terbuka untuk siapa pun yang ingin menggelar kegiatan serupa. Kami ingin tempat ini menjadi ruang bersama bagi para pegiat literasi, penulis, maupun komunitas yang ingin berbagi gagasan dan karya. Buku Antologi Gotong Royong juga sudah kami unggah ke perpustakaan digital agar dapat diakses oleh masyarakat luas, semoga bisa menginspirasi banyak orang,” jelasnya.

    Selain peluncuran buku, acara juga dimeriahkan oleh sejumlah penampilan dari para peserta.

    Salah satunya datang dari Saimah, seorang veteran perdamaian yang membacakan puisi karyanya sendiri berjudul Masa Transisi.

    Saimah Veteran

    Dengan suara yang tegas namun sarat penghayatan, ia berhasil memikat perhatian. Suasana aula seketika hening, diiringi keharuan dan empati yang terasa menyelubungi ruangan.

    Penampilan dilanjutkan oleh Afina Alana Qolbi, siswi MI Darun Najah 2 Banyuwangi yang membawakan dongeng Legenda Banyuwangi. Dengan gaya bertutur khas anak-anak, ia berhasil menghidupkan kembali kisah klasik yang menjadi identitas daerah.

    Memasuki sesi diskusi, Ricky Sulivan menjelaskan bahwa Lamunan Seorang Wartawan ditulis berdasarkan pengalaman nyata selama bertahun-tahun menjadi jurnalis.

    “Saya melihat banyak rekan seprofesi yang kehilangan arah di tengah tekanan pekerjaan. Di satu sisi, jurnalis dituntut untuk cepat dan akurat, namun di sisi lain, nilai-nilai idealisme dan kemanusiaan juga sering terpinggirkan. Dari kegelisahan itu, buku ini lahir sebagai refleksi,” tuturnya.

    Sementara itu, dua panelis, Yeti Chotimah dan Andi Budi Setiawan, S.Pd, memaparkan pandangan mereka tentang penerbitan Antologi Gotong Royong.

    Keduanya sepakat bahwa buku ini hadir bukan hanya untuk memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, tetapi juga sebagai bentuk nyata kolaborasi antarpenulis dan komunitas literasi di Banyuwangi.

    Yeti Chotimah menjelaskan, semangat utama dari penerbitan buku ini adalah menghidupkan kembali gairah menulis di kalangan generasi muda.

    “Kami ingin anak-anak muda terus menulis, membaca, dan menumbuhkan kecintaan terhadap literasi di daerahnya masing-masing. Semangat gotong royong adalah jantung dari gerakan ini,” ujar Yeti.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd, menekankan pentingnya menjadikan kegiatan literasi sebagai bagian dari gerakan sosial yang berkelanjutan.

    “Literasi tidak boleh berhenti di acara peluncuran buku atau lomba menulis semata. Harus ada kesinambungan, ruang belajar, dan dukungan antarpegiat agar ekosistemnya tetap tumbuh,” kata Andi.

    Menjelang akhir acara, sejumlah kurator dan tokoh literasi memberikan apresiasi. Iqbal Baraas, dosen Universitas Ibrahimy, yang menilai bahwa karya para penulis Banyuwangi semakin matang, baik secara tema maupun teknik penulisan.

    Apresiasi juga disampaikan oleh Mujiono, S.H., Thomas Raharto, dan Drs. Jaenuri NZ. Mereka menilai kegiatan semacam ini perlu terus digelar agar literasi tidak hanya menjadi wacana, tetapi gerakan yang hidup di tengah masyarakat.

    Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto para penulis, kurator, dan tamu undangan.

    Peluncuran dua buku ini menjadi bukti bahwa semangat literasi Banyuwangi tidak pernah padam, melainkan terus tumbuh melalui kolaborasi dan kerja gotong royong.

  • Peluncuran Buku Sangang Puluh Sanga (99) Karya Jaenuri, Upaya Menghidupkan Bahasa Using Lewat Sastra

    Peluncuran Buku Sangang Puluh Sanga (99) Karya Jaenuri, Upaya Menghidupkan Bahasa Using Lewat Sastra

    Suasana haru dan semarak mewarnai peluncuran buku puisi berbahasa Using bertajuk “Sangang Puluh Sanga (99)”, karya Drs. Ir. Jainuri, NZ, M.Pd yang digelar di LKP TMB Elit, Lemahbang Dewo, Sabtu (12/10).

    Buku Sangang Puluh Sanga (99) merupakan karya ketiga Jainuri dalam genre puisi berbahasa Using, setelah sebelumnya ia menerbitkan Guritan Telu Likur (23) dan Guritan Suwidak Siji (61).

    Ketiga buku tersebut membentuk semacam trilogi yang memperlihatkan konsistensi dan dedikasi Jainuri dalam menghidupkan bahasa Using melalui sastra.

    Acara yang dipandu oleh Nikmatur Rosyida ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dan pegiat seni budaya.

    Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd, M.M; Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Drs. Hasan Basri; Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si; budayawan sekaligus Ketua Kiling Using, Aekanu Hariyono; serta perwakilan dari berbagai komunitas literasi dan seni, termasuk komunitas sastra Kopiwangi.

    Para peserta yang hadir berasal dari beragam elemen, mulai dari pengajar, pegiat literasi, seniman, budayawan, serta mahasiswa dan pelajar yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap peluncuran buku ini.

    Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd.,  M.M, memberikan apresiasi mendalam terhadap karya Jainuri. Ia bahkan membacakan salah satu puisi dari buku tersebut yang berjudul “Guru”.

    “Inilah hasil kristalisasi intuisi yang kemudian dijadikan karya. Sebuah proses kreatif yang tidak bisa diraih secara instan,” ungkapnya.

    Ia menambahkan, “Jika seseorang bisa terus melahirkan karya, berarti orang itu luar biasa. Apalagi jika karya itu mampu menginspirasi dan mengangkat budaya lokal seperti yang dilakukan Pak Jainuri.”

    Sementara itu, dalam testimoni, Aekanu Hariyono, budayawan Banyuwangi yang juga Ketua Kiling Using, menyampaikan bahwa kehadiran buku Sangang Puluh Sanga (99) menjadi oase dalam upaya pelestarian budaya daerah, khususnya bahasa Using.

    “Karya ini bisa digunakan untuk nguri-nguri Bahasa Using agar tetap hidup di kalangan generasi muda. Ini penting agar anak-anak kita tidak kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

    Apresiasi tertulis juga datang dari Ketua DKB, Drs. Hasan Basri. Ia menilai buku puisi Using karya Jainuri memiliki kompleksitas yang tinggi, bukan hanya dari sisi bahasa, tetapi juga tema-tema yang diangkat.

    Acara peluncuran buku juga dimeriahkan oleh berbagai penampilan seni, salah satunya penampilan Avila, murid MI Islamiyah Rogojampi, yang membawakan dongeng berjudul Sritanjung Hidup Lagi.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si, turut memberikan testimoni. Ia berharap karya ini dapat menjangkau lebih luas generasi muda.

    “Pak Jaenuri menginspirasi kita semua. Buku ini bisa menjadi jendela budaya. Anak-anak muda Banyuwangi harus tahu bahwa bahasa Using itu kaya, dan puisi adalah cara indah untuk menyampaikannya,” tegas Taufik.

    Sementara itu, Ketua komunitas Kopiwangi, Andi Budi Setiawan, yang juga dikenal sebagai penyair puisi, turut memberikan apresiasi dengan peluncuran buku puisi ini.

    “Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan tonggak sejarah bagi perkembangan literasi lokal. Kita perlu mendukung lebih banyak karya seperti ini agar semangat berkarya tidak pernah padam, khususnya dalam bahasa ibu kita sendiri,” kata Andi.

    Buku Sangang Puluh Sanga (99) berisi 99 puisi yang seluruhnya ditulis dalam bahasa Using.

    Sebuah usaha nyata dari Jainuri untuk memperkenalkan kembali keindahan bahasa lokal kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus mendokumentasikannya dalam bentuk karya sastra yang dapat dinikmati lintas generasi.

    Acara peluncuran ini bukan hanya menjadi ajang perayaan karya sastra, tetapi juga ruang temu dan diskusi lintas komunitas tentang pentingnya menjaga budaya dan bahasa daerah di tengah arus globalisasi.

  • Malam Mupus Braen Blambangan: Cinta dalam Doa yang Disamarkan

    Malam Mupus Braen Blambangan: Cinta dalam Doa yang Disamarkan

    Malam Mupus Braen Blambangan: Cinta dalam Doa yang Disamarkan
    Syafaat (Ketua Lentera Sastra Banyuwangi)

    Malam penutupan Festival Banyuwangi Tempo Dulu adalah malam yang penuh bayangan. Lampu-lampu panggung menyala seperti kunang-kunang yang terjebak di jaring raksasa, sementara angin dari Selat Bali membawa aroma laut yang samar-samar menyusup di antara kain batik Gajah Oling, kebaya, dan udeng yang dikenakan para penonton, orang-orang berdiri rapat, sebagian duduk di kursi undangan yang berjejer rapi, sebagian lagi bersila di tikar seadanya, dan sisanya sibuk mencari sudut paling pas untuk menyaksikan pertunjukan.

    Ada yang menyalakan kamera kecil, ada yang menempelkan mata ke layar telepon genggam, berharap gambar bergerak itu kelak bisa disimpan dan dibagikan ulang, tetapi ada juga yang sekadar duduk diam, memandang, membiarkan malam menanamkan dirinya ke dalam ingatan.

    Saya ada di sana, duduk di deretan undangan, di antara pejabat, seniman, dan warga yang datang dengan penuh rasa ingin tahu, saya merasa seperti sedang mencari sesuatu di bukan sekadar hiburan, saya ingin meraih sepotong makna dari panggung yang malam itu menampilkan tradisi pernikahan khas Banyuwangi: Mupus Braen Blambangan.

    Saya tidak pernah bisa menolak undangan yang berkaitan dengan tradisi, barangkali karena saya lahir di tanah ini, tanah yang penuh percampuran, tanah yang diceritakan leluhur dengan cara berlapis-lapis, ada sejarah migrasi, ada riwayat perdagangan, ada kisah pelayaran.

    Namun, di balik semua itu, selalu ada satu rasa yang menempel pada saya: rasa seperti orang asing di rumah sendiri.

    Saya teringat masa kecil, di sekolah dasar, teman-teman sering memanggil saya wong jowo kulon di sebutan itu terdengar sederhana, tetapi ia membawa garis pemisah yang tidak terlihat, saya bukan suku Osing di saya anak Jawa, lahir dari keluarga Mataraman yang datang dari barat, dari Tulungagung, Jogjakarta Kediri, atau mungkin lebih jauh lagi, kata itu melekat begitu lama, membuat saya sering merasa hanya sedang singgah, meski akte kelahiran saya jelas ditulis: lahir di Banyuwangi.

    Namun malam itu, ketika gamelan ditabuh dengan ritme yang memanggil, ketika pengantin Mupus Braen memasuki panggung dengan segala riasan penuh makna, saya merasa dipanggil pulang, seakan ada meja besar terbentang, meja warisan leluhur, tempat semua orang Banyuwangi boleh duduk: Osing, Jawa, Madura, Bali, Arab, Cina, Bugis, tidak ada lagi sekat, tidak ada lagi garis. Yang tersisa hanyalah rasa memiliki bersama, budaya ini milik kita, semua suku yang ada di bumi Blambangan.

    Dan cinta, rupanya, adalah bahasa yang membuat semua pintu terbuka, Mupus Braen. Saya baru benar-benar mengerti artinya malam itu, mupus berasal dari kata pupus, daun muda di pucuk pohon: rapuh, hijau, penuh harapan. Braen berarti indah, menawan, memesona, maka Mupus Braen adalah puncak merias diri, puncak keindahan, yang hanya dilakukan sekali seumur hidup: saat menikah.

    Pengantin di panggung malam itu mengenakan pakaian merah dan hitam, merah melambangkan keberanian menghadapi hidup rumah tangga. Hitam adalah doa agar langgeng sampai maut memisahkan.

    Di atas kepala, bunga melati putih disematkan sebagai lambang kesucian dan keharuman. Mahkota emas menambah agung, seolah cinta yang mereka bawa harus tegak berdiri di hadapan waktu.

    Saya tiba-tiba menyadari: riasan itu bukan kosmetik semata. Ia adalah kitab yang dibaca dengan mata. Merah, hitam, putih, emas, setiap warna adalah doa, setiap perhiasan adalah nasihat.

    Bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa. Ia butuh keberanian, ia butuh doa, ia butuh kesucian, ia butuh keagungan, dan saya berkhayal jika saya yang jadi mempelainya.

    Betapa kontras dengan cinta-cinta yang sering saya lihat di luar panggung: cinta yang tergesa, cinta yang tumbuh cepat lalu layu seketika, cinta yang berakhir bahkan sebelum sempat dirayakan. Mupus Braen mengajarkan hal sebaliknya, cinta adalah puncak yang dicapai lewat kesabaran.

    Ada aturan yang unik: Mupus Braen hanya untuk anak bungsu, saya bertanya dalam hati, mengapa demikian? Mengapa hanya bungsu yang berhak? Mengapa yang lain tidak?. Saya tidak menemukan jawabannya malam itu.

    Namun, semakin saya renungi, semakin saya merasa ada filosofi cinta di balik aturan itu. Anak bungsu adalah penutup sebuah garis, akhir dari sebuah generasi.

    Mungkin itu simbol bahwa cinta sejati adalah yang terakhir, yang mengikat sepenuhnya, yang bukan lagi permainan atau percobaan.

    Apakah itu berarti setiap orang memang ditakdirkan jatuh cinta berkali-kali, hingga menemukan yang terakhir? Saya tidak tahu. Tetapi saya tahu, di usia tertentu, cinta berhenti menjadi bunga liar yang bisa tumbuh di mana saja.

    Ia berubah menjadi pohon besar. Ia menuntut akar yang dalam. Ia memerlukan tanah subur, air, dan kesabaran yang panjang, selain riasan, tradisi ini juga membawa ubarampe: bantal, guling, tikar, ayam, telur, kelapa, kampil putih. Semua disertai doa. Semua membawa makna.

    Saya suka membayangkan cinta dengan cara yang sama. Cinta membutuhkan bantal untuk tempat beristirahat, guling untuk sandaran, tikar untuk alas kebersamaan, ayam dan telur untuk keberlangsungan hidup, kelapa untuk keteguhan, kampil putih untuk kesederhanaan, tidak ada cinta yang bertahan hanya dengan ciuman dan janji.

    Ia membutuhkan ubarampe sehari-hari: kesabaran, pengertian, pengorbanan, tawa, dan doa. Banyak orang ingin cinta yang indah, tetapi enggan mengumpulkan ubarampe itu. Padahal tanpa ubarampe, cinta hanya akan menjadi pesta semalam, lalu padam ketika lampu dipadamkan.

    Saya teringat sebuah doa Nabi Muhammad saw. dalam pernikahan: “Semoga Allah memberkahimu, memberkahi atasmu, dan menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.” Doa sederhana, tapi menyeluruh. Dan doa itu, barangkali, adalah ubarampe paling penting.

    Tuhan memahami semua bahasa, termasuk bahasa simbol. Tuhan tahu doa manusia meski tidak diucapkan dengan lisan. Doa bisa hadir lewat tanda, lewat isyarat, lewat ubarampe. Di tanah Osing, setelah akad nikah, doa sering diiringi shalawat dan kembar mayang: dua rangkaian kembang yang penuh tanda.

    Ada iembang jambe, ada bunga yang biasanya dipakai di pemakaman, ada buah-buahan. Semua itu doa yang disamarkan, harapan agar pernikahan tidak akan dipisahkan kecuali oleh kematian, lalu disatukan kembali di alam kelanggengan.

    Malam itu, ketika pertunjukan usai dan tepuk tangan bergema, saya berdiri diam, saya tahu saya tidak baru saja menonton tari-tarian, saya sedang menonton tafsir cinta.

    Cinta, rupanya, adalah tradisi. Ia bukan sekadar perasaan dua orang, melainkan doa leluhur, nasihat orang tua, dan harapan anak-anak yang belum lahir. Cinta adalah ritual kecil sehari-hari: menunggu dengan sabar, menjemput dengan ikhlas, memberi kabar dengan jujur, menahan amarah dengan rendah hati, dan memaafkan dengan tulus.

    Mupus Braen mengajarkan itu dengan bahasa yang indah. Bahwa cinta adalah daun muda yang rapuh, tapi juga indah. Bahwa cinta adalah merah keberanian, hitam doa panjang, putih kesucian, emas keagungan. Bahwa cinta membutuhkan ubarampe sederhana: sabar, doa, tawa, dan pengorbanan.

    Saya pulang dari festival itu dengan langkah pelan di angin malam menyapa wajah saya, seperti tangan yang lembut. Di jalan, lampu-lampu kota berkelip seperti bintang yang turun ke bumi.

    Saya merasa ditemani sesuatu yang tidak bisa saya lihat, tapi bisa saya rasakan. Saya tahu, cinta bukan lagi sekadar perasaan. Ia adalah upacara. Ia adalah doa yang harus dipelihara setiap hari.

    Dan di Banyuwangi, doa itu diwariskan lewat Mupus Braen Blambangan.