Industri film Banyuwangi kembali bergeliat dengan hadirnya karya baru dari komunitas anak muda Kresek Entertainment asal Kecamatan Srono, yang merilis sebuah film horor berjudul “Darma Malam Kelahiranku”.

Film karya Muftiurrahman ini diangkat dari kepercayaan lokal masyarakat Jawa dengan premis cerita akan terjadi tragedi saat tradisi keluarga dilanggar.

Screening perdana film tersebut digelar di Ruang Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, pada Jumat (14/11).

Acara tersebut dibuka oleh Kabid Pemasaran Disbudpar Banyuwangi, Ainur Rofiq, yang juga bertindak sebagai moderator diskusi.

Pemutaran ini dihadiri oleh sineas senior Banyuwangi, Bambang Harjito, serta berbagai perwakilan kelompok pemerhati film di Banyuwangi.

Angkat Kultur ‘Pamali’ Weton

Film Horor Darma Malam Kelahiranku

Film “Darma Malam Kelahiranku” berangkat dari kultur masyarakat yang meyakini bahwa bepergian pada hari kelahiran atau weton adalah pamali (tabu) dan dapat mendatangkan malapetaka.

Disajikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Jawa, film ini mengisahkan petualangan empat remaja, yaitu Darma dan ketiga kawannya.

Mereka memutuskan untuk mendaki gunung. Di tengah hutan, mereka bertemu dengan kuncen yang memperingatkan agar mereka pulang.

Namun, Darma dan kawannya mengabaikan nasihat tersebut dan memilih melanjutkan perjalanan.

Keputusan itulah yang membawa mereka pada serangkaian peristiwa mistis yang memakan korban jiwa, termasuk Darma sendiri, yang tewas tepat pada hari dan weton kelahirannya.

Tanggapan dan Evaluasi Membangun

Film yang diproduksi oleh anak muda ini menuai apresiasi dan kritik yang membangun.

Secara umum, para pemerhati film yang hadir menilai film ini memiliki kualitas yang sangat baik untuk sebuah karya anak muda, khususnya dalam hal sinematografi dan manajemen adegan.

“Untuk ukuran karya anak muda, hasilnya sudah luar biasa. Aspek visual dan pengaturan scene di beberapa adegan sudah tertata dengan baik,” ujar Andre Waluyo dari Sanggar Merah Putih 45 dalam diskusi tersebut.

Di sisi lain, beberapa kritikan juga mengemuka, seperti adegan dinilai masih kurang natural, terutama dari intonasi dialog para pemain yang dianggap masih terdengar seperti membaca naskah teater.

Aspek makeup dan kostum juga dinilai masih perlu banyak penyempurnaan. Selain itu, terdapat ketidaktepatan dalam pemilihan kandidat atau casting untuk beberapa peran.

Menurut Bambang Harjito, produser perlu memahami arti Based on True Story dan Based on Culture, karena ketika mencantumkan kalimat Based on True Story, berarti film ini dibuat dari kisah yang betul-betul pernah tejadi peristiwanya.

Sedangkan jika hanya berdasarkan dari sebuah kepercayaan yang ada pada kultur budaya masyarakat setempat sebaiknya jangan mencantumkan “Based on True Sory” dalam cover filmnya, tetapi yang tepat adalah “Based on Culture”.

Kehadiran film “Darma Malam Kelahiranku” dinilai sebagai angin segar bagi industri kreatif lokal Banyuwangi.

Karya ini tidak hanya menjadi media ekspresi bagi sineas muda, tetapi juga upaya pelestarian budaya lokal melalui bahasa dan kepercayaan yang diangkat ke dalam medium film.

Penulis: Andre Waluyo

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.