SASTRAWACANA.id – Di tahun 2026, kalimat “banyak anak banyak rezeki” sepertinya sudah resmi menjadi mitos yang usang.
Realitas sosiologis yang berkembang justru menunjukkan arah sebaliknya.
Punya anak kini dianggap sebagai ultimate privilege atau hak istimewa yang hanya sanggup dibayar oleh mereka dengan saldo tak berseri.
Fenomena Childfree by Economy meledak bukan karena kebencian terhadap anak kecil, melainkan kesadaran diri yang menyakitkan bahwa membesarkan manusia di zaman sekarang harganya jauh lebih mahal daripada mencicil aset mewah di pusat kota.
Baca juga: Riset Terbaru: Banyak Pekerja Mudah Ogah Menerima Promosi Jabatan, Ini Alasannya
Mengapa membesarkan satu nyawa kini terasa seberat mengelola perusahaan besar?
1. Kalkulasi Biaya Hidup yang Gila-gilaan
Anak muda 2026 adalah generasi yang paling mahir berhitung. Mereka tidak lagi menggunakan intuisi, melainkan data.
Berdasarkan riset pasar, biaya susu formula premium, imunisasi non-subsidi, hingga popok sekali pakai telah mengalami inflasi dua digit dalam tiga tahun terakhir.
Ketika angka-angka ini disandingkan dengan kenaikan gaji rata-rata yang stagnan, hasilnya adalah defisit.
Memilih untuk tidak memiliki anak sering kali menjadi satu-satunya cara bagi pasangan kelas menengah untuk tetap bisa bernapas tanpa terjerat pinjaman online.
2. Ketakutan Mewariskan Trauma Ekonomi
Ada pergeseran mentalitas yang sangat drastis. Anak muda sekarang lebih takut anaknya hidup susah daripada takut tidak memiliki penerus garis keturunan.
Muncul kesadaran etis bahwa membawa nyawa baru ke dunia tanpa persiapan finansial yang mumpuni adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab.
Prinsipnya sederhana namun menyesakkan. “Daripada anak saya lahir hanya untuk menjadi budak korporasi tanpa warisan dan harus berjuang setengah mati hanya untuk sekadar makan, lebih baik ia tidak perlu lahir sekalian.”
3. Runtuhnya Sistem Pendukung di Kota Besar
Jika dulu membesarkan anak adalah kerja kolektif—di mana kakek, nenek, hingga tetangga ikut membantu—di tahun 2026, pasangan muda berdiri sendirian.
Di kota-kota besar, biaya pengasuhan anak (daycare) berkualitas sering kali setara dengan satu bulan gaji penuh pekerja entry-level.
Dilemanya nyata. Salah satu orang tua harus “tumbas” kariernya untuk menjaga anak, atau seluruh pendapatan mereka habis hanya untuk membayar pengasuh.
Tanpa dukungan sosial yang gratis, struktur ekonomi urban secara tidak langsung “melarang” kelompok ekonomi tertentu untuk beranak-pinak.
4. Anak Tidak Lagi Dianggap Aset Masa Tua
Berbeda dengan generasi orang tua kita yang melihat anak sebagai jaminan di hari tua, Gen Z dan Milenial melihatnya secara berbeda.
Mereka sadar bahwa membebani anak dengan harapan finansial di masa depan hanya akan menciptakan “generasi sandwich” baru yang menderita.
Alhasil, mereka lebih memilih mengalokasikan dana untuk asuransi kesehatan mandiri dan dana pensiun daripada bertaruh pada investasi jangka panjang bernama “anak”.
Mereka memilih memutus rantai beban keluarga daripada memperpanjangnya.
5. Standar Kelayakan yang Terlalu Tinggi
Tuntutan sosiologis di tahun 2026 memaksa orang tua untuk memberikan yang terbaik. Dari gizi stunting-free hingga pendidikan yang mampu bersaing dengan teknologi AI.
Bagi banyak orang, standar “layak” ini menjadi tembok tinggi yang mustahil dipanjat.
Ada perasaan gagal secara sosial jika hanya mampu memberikan kehidupan yang “pas-pasan” kepada anak. Perasaan inilah yang akhirnya membunuh keinginan untuk bereproduksi.
Fenomena Childfree by Economy adalah tamparan keras bagi para pengambil kebijakan.
Saat memiliki keturunan hanya dianggap mampu dilakukan oleh kasta ekonomi atas, maka kita sedang menuju krisis demografi yang nyata.
Keputusan untuk tidak memiliki anak bukanlah bentuk keegoisan, melainkan bentuk protes bisu terhadap sistem dunia yang membuat harga sebuah kehidupan menjadi terlalu mahal untuk dibeli.









