Sastrawacana.id – Haul ke-36 pendiri Ponpes Al Anwari, KH Abdul Wahid Akwan Al-Hafidz dan haul ke-4 Nyai Hj. Fathma Wahid digelar pada Jumat, 13 Februari 2026 bertepatan 25 Sya’ban 1447 H.
Kegiatan berlangsung di halaman pondok di Jalan KH Abdul Wahid, Kertosari, Banyuwangi, dengan menghadirkan mubaligh KH Syamsuri Mukhtar, pengasuh Ponpes Salaf Darussalam Rejoagung.
Majelis haul yang sarat keberkahan itu dihadiri berbagai unsur, antara lain:
- Keluarga besar KH Hasan Abdillah (Bani Siddiq Jember dan KH Hamid Pasuruan),
- Kasi Bimas Kemenag,
- Direktur LPPTKA-BKPRMI,
- Ketua MUI Kecamatan Kota bersama Dewan Syuro dan Ketua Tanfidziyah PAC NU Kota,
- Camat Kota Andik Basuki,
- Lurah Nur Hasanah,
- Kepala SD/MI se-Kecamatan Kota,
- Para alumni,
- Wali santri,
- Muslimat dan masyarakat sekitar.
Pesantren yang telah berdiri lebih dari 40 tahun ini kini juga mengelola lembaga formal SMP dan MA Unggulan Al-Anwari.

Rangkaian acara diawali gema sholawat hadrah Al-Banjari, dilanjutkan pembacaan Juz Amma oleh Gus Hasan Ali Murtadhoh, Lc bin Achmad Siddiq, kemudian doa khotmil Qur’an oleh KH Abdullah Faishol, pengasuh pondok di Lamongan.
Selanjutnya Gus Washil membacakan Surat Yasin, diteruskan tahlil oleh Gus Ahyar, dengan doa penutup oleh KH M. Thohir Ahmad dari Glenmore, adik Nyai Fatmah.
Kepala KUA Sempu, Achmad Syakur Isnaini, S.Ag., M.H.I., selaku ketua alumni, berharap keberkahan haul dapat dirasakan seluruh keluarga besar pesantren.
Ia menilai para pendiri merupakan teladan keikhlasan dalam berbagi ilmu agama dan kepedulian sosial. “Semoga Al Anwari menjadi cahaya dunia dan akhirat,” tuturnya, alumni tahun 1995.
Pengasuh pesantren, KH Achmad Siddiq, menceritakan sejarah perjuangan orang tuanya.
Ia mengisahkan sang ayah wafat pada 1990 ketika dirinya hampir menuntaskan studi kitab di Ponpes Darussalam Blok Agung.
Saat itu ia dipanggil pulang oleh Gus Hisyam Syafaat dan mendapati ayahnya telah wafat, meninggalkan delapan anak yatim, sementara kondisi pondok nyaris dilelang.
“Yakinlah, hanya munajat kepada Allah Yang Maha Kaya. Harus ikhtiar dan doa. Pondok harus memiliki usaha ekonomi mandiri yang kuat, jangan sampai terjerat judi online dan pinjaman ilegal,” pesannya.
Kini, pesantren mampu membeli 17 petak tanah untuk perluasan. Ia juga menyebut tiga anaknya hafidz Al-Qur’an, dan dari 15 cucu, sebagian besar juga penghafal Al-Qur’an.
KH Achmad Siddiq merupakan alumni Universitas Nurul Jadid, sedangkan putra sulungnya alumni Universitas Al-Azhar.
Ia juga menyampaikan bahwa sebulan sebelum haul, telah dilaksanakan rangkaian khataman Al-Qur’an oleh santri putra dan putri, murid, keluarga, hingga alumni.
Puncaknya adalah khataman ke-99 yang dilakukan para alumni di makam pendiri pada malam Jumat hingga dini hari.

Pesantren Al Anwari juga mencatat sejumlah prestasi, di antaranya siswa SMP dan MA yang unggul di bidang multimedia, meraih juara 1 lomba Pendidikan Agama Islam dan Musabaqah Hifdzil Qur’an hingga tingkat nasional.
Selain itu, ustadzah Handariyatul Masruroh berhasil masuk ajang Festival Dai Indosiar.
Dalam tausiyahnya, KH Syamsuri Mukhtar menyampaikan bahwa keberadaan jamaah dalam majelis tahlil merupakan bentuk tabarukan kepada para ulama pendahulu.
Ia mengajak umat menjadi hamba yang pandai bersyukur, baik saat mendapat cobaan maupun nikmat.
“Rezeki tidak selalu berupa materi. Ketenangan batin dan kesehatan hingga bisa beribadah juga rezeki besar. Siapa yang bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Ceramah disampaikan dengan gaya segar, diselingi sholawat serta puji-pujian dalam bahasa Osing dan Jawa, sehingga jamaah mengikuti rangkaian acara dengan khusyuk sekaligus hangat hingga selesai.









