Blog

  • Tunjukkan Dua Manfaat Keberagaman bagi Bangsa Indonesia?

    Tunjukkan Dua Manfaat Keberagaman bagi Bangsa Indonesia?

    Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman, baik dari segi suku, budaya, agama, bahasa, maupun adat istiadat.

    Keberagaman ini bukanlah sebuah hambatan, melainkan anugerah yang membentuk identitas nasional Indonesia.

    Di tengah perbedaan yang ada, masyarakat Indonesia hidup berdampingan dalam semangat persatuan dan saling menghormati.

    Keberagaman tersebut memberikan berbagai manfaat yang besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang apabila dikelola dengan baik dapat menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan harmonis.

    Berikut dua manfaat utama keberagaman bagi bangsa Indonesia:

    1. Memperkuat persatuan dan sikap toleransi

    Keberagaman mengajarkan masyarakat untuk saling menghargai perbedaan suku, agama, budaya, dan pendapat. Melalui interaksi sehari-hari, tumbuh sikap toleransi dan rasa persaudaraan yang memperkuat persatuan bangsa sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini membantu menjaga keharmonisan sosial dan mencegah konflik.

    2. Memperkaya budaya dan meningkatkan kreativitas bangsa

    Beragam tradisi, kesenian, bahasa, dan adat istiadat menjadi kekayaan budaya nasional yang dapat saling melengkapi. Keberagaman ini mendorong pertukaran ide dan pengalaman, sehingga melahirkan inovasi di berbagai bidang, seperti seni, kuliner, pariwisata, dan pendidikan, yang berdampak positif bagi kemajuan bangsa.

    Dengan demikian, keberagaman memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan serta memperkaya budaya bangsa Indonesia.

    Sikap toleransi yang tumbuh dari perbedaan membuat masyarakat mampu hidup rukun, sementara kekayaan budaya mendorong kreativitas dan kemajuan di berbagai bidang.

    Oleh karena itu, menjaga dan menghargai keberagaman merupakan tanggung jawab seluruh warga negara agar Indonesia tetap kokoh sebagai bangsa yang bersatu, damai, dan sejahtera di tengah perbedaan yang ada

  • Indonesia adalah negara yang masyarakatnya sangat?

    Indonesia adalah negara yang masyarakatnya sangat?

    Indonesia adalah negara yang masyarakatnya sangat majemuk, baik dari segi suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, maupun latar belakang sosial budaya.

    Kemajemukan ini terbentuk dari kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

    Sehingga setiap daerah berkembang dengan ciri khasnya masing-masing. Setiap suku memiliki tradisi, kesenian, sistem nilai, dan cara hidup yang berbeda, namun tetap berada dalam satu kesatuan bangsa Indonesia.

    Selain itu, keberagaman agama yang dianut masyarakat, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, turut memperkaya dinamika kehidupan sosial.

    Perbedaan bahasa daerah yang jumlahnya ratusan juga menjadi bukti nyata betapa luas dan berwarnanya identitas bangsa ini.

    Meskipun begitu, seluruh perbedaan tersebut dipersatukan oleh bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang menjadi alat komunikasi bersama.

    Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia hidup berdampingan dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada.

    Nilai gotong royong, musyawarah, dan toleransi menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan di tengah kemajemukan.

    Prinsip Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu, bukan sekadar slogan, melainkan telah menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

    Kemajemukan masyarakat Indonesia juga menghadirkan tantangan, seperti potensi konflik sosial akibat perbedaan pandangan atau kepentingan.

    Namun, dengan sikap saling pengertian, dialog, serta penegakan keadilan, perbedaan tersebut justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun bangsa yang lebih maju.

    Keberagaman memungkinkan terjadinya pertukaran budaya, pemikiran, dan pengalaman yang memperkaya wawasan masyarakat.

    Melalui kemajemukan ini, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa yang kuat, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

    Oleh karena itu, menjaga persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat yang majemuk merupakan tanggung jawab bersama.

    Dengan menjunjung tinggi nilai toleransi dan persaudaraan, kemajemukan tidak akan menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi modal utama dalam mewujudkan kehidupan bangsa yang harmonis, adil, dan sejahtera.

  • Jelaskan dua contoh perbuatan amar ma’ruf dalam kehidupan sehari-hari

    Jelaskan dua contoh perbuatan amar ma’ruf dalam kehidupan sehari-hari

    Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia memiliki tanggung jawab moral untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

    Salah satu ajaran penting dalam Islam adalah amar ma’ruf, yakni mengajak dan mendorong sesama untuk melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat.

    Amar ma’ruf tidak hanya diwujudkan melalui nasihat lisan, tetapi juga melalui sikap, keteladanan, serta kebiasaan positif yang dapat memberi pengaruh baik bagi lingkungan sekitar.

    Dari hal-hal sederhana inilah nilai kebaikan dapat tumbuh dan mengakar dalam kehidupan bermasyarakat.

    Berikut dua contoh perbuatan amar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) dalam kehidupan sehari-hari:

    1. Mengingatkan dengan sopan untuk melaksanakan ibadah

    Misalnya mengajak keluarga atau teman untuk salat tepat waktu, mengingatkan untuk membaca Al-Qur’an, atau mengajak berdoa sebelum memulai aktivitas. Cara yang lembut dan penuh hikmah membuat ajakan kebaikan lebih mudah diterima.

    2. Mengajak berbuat jujur dan disiplin

    Contohnya menasihati teman agar tidak mencontek saat ujian, mengingatkan rekan kerja untuk datang tepat waktu, atau mengajak orang sekitar menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

    Perbuatan amar ma’ruf tidak harus dengan cara besar, tetapi bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang membawa dampak positif bagi diri sendiri dan orang lain.

  • Pemkot Depok Terapkan WFH Setiap Kamis bagi ASN, Dorong Digitalisasi dan Efisiensi Anggaran

    Pemkot Depok Terapkan WFH Setiap Kamis bagi ASN, Dorong Digitalisasi dan Efisiensi Anggaran

    Pemerintah Kota Depok resmi akan memberlakukan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Kamis.

    Langkah ini menjadi bagian dari upaya adaptasi pemerintahan terhadap percepatan transformasi digital sekaligus strategi menekan pemborosan anggaran.

    Dengan kebijakan tersebut, para pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkot Depok hanya akan bekerja di kantor selama empat hari dalam sepekan, yakni pada Senin, Selasa, Rabu, dan Jumat.

    Wali Kota Depok, Supian Suri, menjelaskan bahwa kebijakan ini selaras dengan langkah yang lebih dulu diterapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

    “Latar belakangnya, hari ini seiring dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang sudah menerapkan WFH, sehingga kita mencoba sejalan dengan pemerintah provinsi,” ujar Supian Suri, Selasa (27/1/2026).

    Ia menilai, perubahan pola kerja merupakan keniscayaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

    Menurutnya, penerapan WFH dapat mendorong aparatur pemerintah kembali mengoptimalkan sistem kerja berbasis digital.

    “Hari ini era digital sudah semakin cepat perkembangannya,” katanya.

    Supian Suri juga mengingatkan bahwa sistem kerja digital sempat berjalan efektif saat pandemi Covid-19, terutama melalui pemanfaatan rapat daring.

    Namun, kebiasaan tersebut mulai berkurang setelah pandemi berlalu.

    “Dulu kita sudah terbiasa dengan Zoom saat Covid-19, sekarang justru sudah jarang lagi. Salah satu cara memulai kerja-kerja digital itu memang harus ‘dipaksa’ dengan mekanisme WFH,” ucapnya.

    Selain sebagai bagian dari transformasi digital, kebijakan WFH ini juga akan dijadikan alat evaluasi efisiensi anggaran.

    Pemkot Depok ingin mengkaji secara langsung dampak penerapan WFH terhadap penghematan biaya operasional pemerintahan.

    “Saya ingin mengukur sejauh mana penghematan pembiayaan. Apakah ada korelasi antara WFH dengan penghematan listrik, air, telepon, termasuk makan-minum dan lainnya di Balai Kota. Itu semua harus dihitung,” tegasnya.

    Sumber: depokpos

  • Pemkot Jakbar Siapkan 20 Ribu Buku Baru untuk 158 Titik Baca

    Pemkot Jakbar Siapkan 20 Ribu Buku Baru untuk 158 Titik Baca

    Pemerintah Kota Jakarta Barat melalui Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Sudin Pusip) berencana menambah sebanyak 20 ribu eksemplar buku baru pada tahun 2026.

    Langkah ini dilakukan untuk memperbarui dan memperkuat referensi bacaan masyarakat di wilayah tersebut.

    Kepala Sudin Pusip Jakarta Barat, Achmad Jazuri, menyampaikan bahwa saat ini koleksi buku yang tersedia mencapai sekitar 66 ribu eksemplar dan akan terus ditingkatkan melalui pengadaan tahun ini.

    “Tahun ini kita bakal ada pengadaan 20 ribu eksemplar buku. Kalau sekarang, sudah ada 66 ribu eksemplar. Itu akan ditambah lagi,” ujar Jazuri di Jakarta, Selasa.

    Ia menjelaskan, pengadaan ribuan buku dengan anggaran lebih dari Rp2 miliar tersebut akan didistribusikan ke 158 titik baca yang tersebar di berbagai lokasi di Jakarta Barat.

    “Kita di Jakbar itu ada sekitar 158 titik baca. Nanti penyebaran buku itu lewat reses anggota dewan (DPRD), sesuai hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan sesuai yang sudah bersurat langsung ke kita,” katanya.

    Titik-titik baca tersebut meliputi beragam fasilitas, mulai dari perpustakaan di kantor Sudin Pusip, perpustakaan keliling, hingga Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) serta forum aspirasi masyarakat.

    “Mulai dari perpustakaan kantor Sudin Pusip, ada yang di perpustakaan keliling (pusling), RPTRA dan juga ada yang ke forum-forum aspirasi masyarakat,” lanjutnya.

    Menurut Jazuri, penambahan koleksi buku ini bertujuan untuk menggantikan buku-buku yang rusak, hilang, maupun yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.

    “Koleksi buku itu ada penyusutan. Misalnya ada yang pinjam tapi tak kembali, ada yang rusak. Setiap tahun, kita juga mengadakan pergantian buku yang sudah ‘out of the date’ (tidak relevan lagi),” ujarnya.

    Ia pun mengajak masyarakat Jakarta Barat untuk memanfaatkan fasilitas literasi yang tersedia sebagai upaya membangun budaya membaca sejak dini.

    “Penyebaran buku-buku itu untuk mendekatkan literasi dengan masyarakat. Jadi, dibutuhkan juga kesadaran untuk mengakses literasi yang sudah tersedia itu,” tutupnya.

    Sumber: Antara

  • Dorong Minat Baca, Guru MIN 14 Al-Azhar Asy-Syarif Sumbangkan Buku untuk Perpustakaan

    Dorong Minat Baca, Guru MIN 14 Al-Azhar Asy-Syarif Sumbangkan Buku untuk Perpustakaan

    Para guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 14 Al-Azhar Asy-Syarif turut ambil bagian dalam Program Sedekah Buku dengan menyumbangkan sejumlah buku baru untuk memperkaya koleksi perpustakaan madrasah.

    Kegiatan ini berlangsung di area perpustakaan MIN 14 pada Rabu (21/1/2026) sebagai langkah nyata dalam menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa.

    Program Sedekah Buku melibatkan seluruh warga madrasah untuk berbagi buku bacaan yang layak dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

    Melalui inisiatif ini, perpustakaan diharapkan memiliki koleksi yang semakin lengkap dan variatif guna mendukung kegiatan belajar mengajar.

    Beragam jenis buku diserahkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari cerita bergambar, dongeng dan fabel, cerita rakyat Nusantara, hingga buku sains sederhana, ensiklopedia anak, kisah Nabi dan Rasul, pembelajaran akhlak dan adab, serta buku-buku motivasi.

    Seluruh bahan bacaan dipilih sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan siswa MIN 14.

    Donasi buku diterima langsung oleh Penanggung Jawab Perpustakaan MIN 14, Inas.

    Ia mengungkapkan bahwa program ini memberikan dampak positif bagi pengembangan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar di madrasah.

    “Program Sedekah Buku ini sangat berarti bagi kami. Buku-buku baru yang disumbangkan akan menambah koleksi perpustakaan dan membuat anak-anak semakin semangat membaca,” ujar Inas.

    Ia menambahkan, kehadiran buku-buku yang menarik dan relevan diharapkan mampu meningkatkan frekuensi kunjungan siswa ke perpustakaan.

    Perpustakaan pun tidak hanya berfungsi sebagai tempat meminjam buku, tetapi juga sebagai ruang belajar yang nyaman dan inspiratif.

    Melalui kegiatan ini, madrasah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta terus menguatkan gerakan literasi dengan melibatkan peran aktif para pendidik.

    Program Sedekah Buku menjadi salah satu upaya strategis dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang berdampak langsung bagi siswa dan lingkungan sekitar.

    Sumber: kemenag

  • Ratusan Kepala Sekolah Dilantik, Sekda Aceh Tekankan Pemulihan dan Peningkatan Mutu Pendidikan

    Ratusan Kepala Sekolah Dilantik, Sekda Aceh Tekankan Pemulihan dan Peningkatan Mutu Pendidikan

    Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir, resmi melantik sebanyak 201 kepala sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB di bawah naungan Pemerintah Aceh.

    Prosesi pelantikan berlangsung pada Senin (26/1/2026) di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh.

    Dalam kesempatan itu, M Nasir menekankan pentingnya peran kepala sekolah sebagai ujung tombak dalam menjaga dan membangun masa depan pendidikan di Aceh.

    Ia menyampaikan apresiasi atas prestasi Aceh yang berhasil menembus lima besar nasional dalam tingkat kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2025.

    Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari kontribusi besar para pendidik di berbagai daerah.

    “Terima kasih atas dedikasi dan kerja keras yang telah mendorong peringkat Aceh di tingkat nasional,” ujarnya.

    Meski demikian, Sekda Aceh mengingatkan masih adanya tantangan serius yang perlu segera ditangani.

    Ia menyebutkan bahwa meskipun pada 2025 Pemerintah Aceh telah menyalurkan beasiswa kepada 93.579 anak yatim di seluruh kabupaten/kota dan berbagai jenjang pendidikan, masih terdapat sekitar 56 ribu remaja berusia 16 hingga 18 tahun yang belum mengenyam pendidikan.

    “Kalau ini tidak cepat kita tangani, maka akan menjadi bom waktu bagi proses pembangunan Aceh,” tegas M Nasir.

    Ia pun berharap para kepala sekolah yang baru saja dilantik dapat berkontribusi nyata dalam menekan angka putus sekolah tersebut secara signifikan dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

    Lebih lanjut, M Nasir menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar pergantian posisi, melainkan amanah dan kepercayaan dari negara.

    Menurutnya, kualitas kepemimpinan kepala sekolah sangat menentukan suasana belajar serta arah kemajuan lembaga pendidikan.

    “Sekolah tidak hanya membutuhkan fasilitas, tetapi juga kepemimpinan yang mumpuni dan berkualitas,” katanya.

    Sekda juga menyinggung kondisi sejumlah sekolah yang masih dalam tahap pemulihan pascabencana.

    Ia mendorong para kepala sekolah untuk berperan aktif dalam memulihkan kondisi pendidikan sekaligus meningkatkan prestasi peserta didik.

    “Ciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman bagi anak,” pesan Sekda.

    Selain itu, M Nasir mengajak seluruh kepala sekolah untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah strategis pemerintah dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan terbebas dari stunting.

    Acara pelantikan ini turut dihadiri oleh Anggota DPRA Yahdi Hasan, Kepala Badan Kepegawaian Aceh Abdul Qohar, serta Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh, Akkar Arafat.

    Sumber: acehprov

  • PC ISNU Banyuwangi Gelar Lingkar Diskusi Teladani Jejak Perjuangan Gus Dur

    PC ISNU Banyuwangi Gelar Lingkar Diskusi Teladani Jejak Perjuangan Gus Dur

    Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Banyuwangi melalui Seksi Sosial Humaniora kembali melaksanakan kegiatan Lingkar Diskusi sebagai bagian dari ikhtiar penguatan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman.

    Diskusi yang mengusung tajuk “Kembali Meneladani Jejak Perjuangan dan Nilai Pedoman KH Abdurrahman Wahid” ini digelar pada Selasa malam, 27 Januari 2026, bertempat di Masjid At-Ta’awun, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi.

    Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Seksi Sosial Humaniora PC ISNU Banyuwangi, Ginanjar Prastyanto, yang didampingi oleh Mohamad Soleh Kurniawan, yang juga aktivis di DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi.

    Lingkar diskusi ini merupakan gelombang ke-3 setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di Kecamatan Kalipuro dan Kecamatan Pesanggaran.

    Konsistensi pelaksanaan diskusi ini menjadi bukti komitmen PC ISNU Banyuwangi dalam menghadirkan ruang dialektika intelektual yang sehat dan inklusif di tengah masyarakat.

    Dalam sambutannya, Ginanjar Prastyanto menyampaikan bahwa figur KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan sosok yang relevan untuk terus dikaji dan diteladani, terutama di tengah tantangan sosial dan keagamaan saat ini.

    Menurutnya, nilai-nilai moderasi beragama, pluralisme, serta kelapangan dada yang diperjuangkan Gus Dur merupakan pedoman penting bagi generasi sekarang dalam menjaga persatuan dan harmoni sosial.

    “Gus Dur mengajarkan kepada kita bahwa Islam harus hadir sebagai rahmat bagi semua, bukan sebagai sumber konflik. Moderasi, sikap terbuka, dan penghormatan terhadap perbedaan adalah warisan besar yang harus terus kita rawat,” ungkap Ginanjar.

    Diskusi malam itu berlangsung dinamis dengan pembahasan mendalam seputar keteladanan Gus Dur dalam merawat keberagaman, memperjuangkan keadilan sosial, serta keberaniannya dalam membela kelompok-kelompok minoritas.

    Para peserta juga diajak merefleksikan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam konteks lokal Banyuwangi.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) ISNU Rogojampi, Irfan Hidayat, beserta jajaran pengurus.

    Kehadiran PAC ISNU Rogojampi menambah semarak diskusi sekaligus memperkuat sinergi antarstruktur organisasi ISNU di tingkat cabang dan anak cabang.

    Melalui lingkar diskusi ini, PC ISNU Banyuwangi berharap dapat terus menumbuhkan kesadaran kritis, memperkuat karakter intelektual kader, serta menjaga spirit perjuangan Gus Dur agar tetap hidup dan membumi di tengah masyarakat.

    Kegiatan serupa direncanakan akan terus berlanjut di kecamatan lain sebagai bagian dari gerakan intelektual dan sosial ISNU Banyuwangi.

  • PERGUNU Banyuwangi Gelar Workshop School Branding untuk Perkuat Citra dan Daya Saing Sekolah

    PERGUNU Banyuwangi Gelar Workshop School Branding untuk Perkuat Citra dan Daya Saing Sekolah

    Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kabupaten Banyuwangi menggelar Workshop School Branding pada 25–27 Januari 2026.

    Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan citra, daya saing, serta kualitas pengelolaan lembaga pendidikan di bawah naungan PERGUNU.

    Workshop tersebut diikuti oleh para pendidik dan pengelola lembaga pendidikan yang memiliki komitmen kuat dalam pengembangan mutu serta penguatan identitas sekolah.

    Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., MM.

    Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya school branding sebagai instrumen untuk membangun kepercayaan publik sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang berbasis nilai, profesionalisme, dan keberlanjutan.

    Pembukaan kegiatan turut dihadiri Ketua PC PERGUNU Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Witjanarko, M.Pd., Ketua PAC PERGUNU Kecamatan Banyuwangi, Haikal Kafili, M.Pd., serta Ketua Panitia Pelaksana, H. Wawuh Purnomo, S.T., Gr., bersama jajaran pengurus PERGUNU lainnya.

    Seluruh pihak memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan workshop sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas lembaga pendidikan.

    Materi utama disampaikan oleh Dr. Yusmia Widiastuti, S.P., M.M., yang mengulas secara komprehensif konsep, strategi, dan praktik school branding sesuai dengan tantangan dunia pendidikan saat ini.

    Peserta dibekali pemahaman mengenai penguatan identitas sekolah, pengelolaan citra lembaga, serta strategi komunikasi yang efektif dan berkelanjutan.

    Selain pemaparan materi, workshop juga dilengkapi dengan sesi simulasi yang meliputi pengembangan perencanaan (plan development) dan implementasi program (plan implementation).

    Seluruh sesi dipandu oleh fasilitator untuk memastikan peserta mampu menerapkan konsep branding secara praktis dan terstruktur.

    Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi presentasi, di mana peserta memaparkan hasil perencanaan strategi branding sekolah masing-masing.

    Presentasi ini disertai pendampingan serta arahan dari fasilitator sebagai bentuk evaluasi dan penguatan konsep.

    Sebagai bentuk penguatan implementasi, workshop juga mencakup kegiatan fieldwork atau praktik lapangan di lembaga masing-masing peserta.

    Pada tahap ini, peserta mendapatkan pendampingan langsung guna memastikan penerapan school branding berjalan efektif, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik sekolah.

    Melalui Workshop School Branding ini, PERGUNU Banyuwangi berharap para peserta mampu merumuskan serta mengimplementasikan strategi branding sekolah secara optimal, sehingga dapat meningkatkan mutu layanan pendidikan, memperkuat kepercayaan masyarakat, dan mendorong kemajuan lembaga pendidikan di Kabupaten Banyuwangi.

  • DPD LKM BKPRMI Banyuwangi Gaspol Aksi Nyata, Siapkan Baksos Kesehatan hingga Program Sinergi Lintas Lembaga

    DPD LKM BKPRMI Banyuwangi Gaspol Aksi Nyata, Siapkan Baksos Kesehatan hingga Program Sinergi Lintas Lembaga

    Sebagai wujud nyata gerakan dakwah dan pengabdian kepada masyarakat, Lembaga Kesehatan Masyarakat (LKM) BKPRMI Kabupaten Banyuwangi terus menggulirkan berbagai program sosial berbasis masjid dan pemberdayaan umat.

    Hal tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi yang digelar pada Minggu siang, 25 Januari 2026, di kediaman BD. Diah Fitrianingsih, S.Keb., M.Kes., CH.

    Rapat ini membahas sejumlah agenda strategis yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat hingga memasuki bulan Ramadan.

    Salah satu program utama yang akan direalisasikan adalah Bakti Sosial (Baksos) Cek Kesehatan Gratis yang dijadwalkan pada Jumat, 6 Februari 2026, bertempat di salah satu masjid di wilayah Kecamatan Blimbingsari.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari pelayanan kesehatan berbasis masjid yang diinisiasi oleh LKM BKPRMI Banyuwangi.

    Selain itu, LKM BKPRMI juga akan membuka booth kesehatan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Gintangan pada Sabtu, 31 Januari 2026, sekitar pukul 14.00 WIB.

    Booth tersebut akan memberikan edukasi kesehatan serta layanan kesehatan ringan bagi masyarakat yang beraktivitas di ruang publik.

    Agenda penting lainnya adalah pembentukan DUTA/Laskar LKM BKPRMI yang akan disinergikan dengan DPK LKM Kecamatan Blimbingsari. Kegiatan ini direncanakan berlangsung di Masjid Patoman pada Jumat, 6 Februari 2026.

    Dalam rapat tersebut juga disampaikan sejumlah program kolaboratif lintas lembaga di bawah naungan BKPRMI.

    Salah satunya adalah kegiatan diklat SAR yang akan digelar oleh Brigade Masjid di Wonosobo selama satu hari penuh, dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai salat Magrib, yang dilanjutkan dengan prosesi pembaretan.

    Dalam diklat ini juga akan diselipkan materi penyuluhan PPGD (Pelatihan Penanganan Gawat Darurat). Menariknya, panitia akan memilih satu peserta terbaik oleh pelatih yang akan mendapatkan hadiah berupa voucher umrah.

    Selain program pelatihan, BKPRMI Banyuwangi juga menyiapkan kegiatan kultum selama bulan Ramadan yang akan berlangsung selama 30 hari penuh.

    Kultum tersebut akan menjadi bagian dari syiar Islam dengan tema-tema yang telah disiapkan sebelumnya.

    Tak hanya itu, akan digelar pula kompetisi video bertajuk “Remaja Rijig-Rijig Masjid” yang dilaksanakan selama bulan Ramadan.

    Setiap DPK diwajibkan mengirimkan satu video sebagai bentuk partisipasi dalam syiar kreatif berbasis media digital.

    Di bidang pendampingan hukum, disepakati pula program sinergi dengan PERADI. Setiap satu DPK akan didampingi oleh satu orang advokat dari PERADI yang akan masuk dalam Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di masing-masing kecamatan.

    Ketua DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, H. Mujiono, menegaskan bahwa seluruh kegiatan yang berada di lingkungan BKPRMI harus dilaksanakan dengan semangat sinergi dan kolaborasi antar lembaga.

    “Setiap kegiatan, walaupun diinisiasi oleh satu lembaga seperti LKM, maka lembaga lain di bawah naungan BKPRMI harus ikut berpartisipasi.

    Baik Brigade maupun lembaga-lembaga lainnya, semua harus bersinergi agar kegiatan semakin sukses, bersinar, dan dikenal luas oleh masyarakat,” tegasnya.

    Melalui berbagai program tersebut, BKPRMI Banyuwangi berharap peran masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pelayanan sosial, kesehatan, dakwah, serta penguatan umat di tengah masyarakat.

    Sementara itu, LKM BKPRMI Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program-program nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat gerakan dakwah yang solutif dan kolaboratif.