Blog

  • Upacara Adat Tujuh Bulanan Nusantara Warnai Kehamilan Pasangan Hafidz di Rogojampi

    Upacara Adat Tujuh Bulanan Nusantara Warnai Kehamilan Pasangan Hafidz di Rogojampi

    Pasangan hafidz, Muhammad Haidar Rosyid dan Fani Faizah Hurriyatul Alawiyah Hasan, menggelar upacara adat tujuh bulanan atau mitoni/tingkeban sebagai penanda usia kehamilan pertama mereka.

    Prosesi adat nusantara tersebut berlangsung di Gang Garuda V, Katesan, Prejengan 1, Rogojampi, Selasa (6/1/2026).

    Rosyid yang berasal dari suku Using dan Fani dari suku Madura menjalani prosesi adat yang sarat makna kebudayaan dan spiritual.

    Ritual mitoni dipandu Bu Mumun dari suku Sunda, dengan tamu undangan lintas etnis, mulai dari Jawa, Minang, hingga Madura.

    Acara dipandu oleh Aguk Darsono, pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Kabupaten Banyuwangi dari unsur suku Jawa, yang mengenakan busana surjan galur merah dan kopiah batik khas Jogokariyan, Yogyakarta.

    Prosesi diawali dengan pembacaan Ummul Kitab, Surat Al-Fatihah, dilanjutkan dengan sungkeman calon ayah dan ibu kepada kedua orang tua untuk memohon doa restu.

    Selanjutnya, dua keluarga besar serta tokoh agama dan masyarakat secara bergiliran memasukkan air dari tujuh sumber ke dalam belanga.

    Menariknya, sebagian air tersebut berasal dari sumber-sumber yang diperoleh Rosyid saat berziarah ke makam para wali, mulai dari makam pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo, Asembagus, hingga makam para aulia di Pulau Madura.

    Sukorejo sendiri merupakan tempat Rosyid menimba ilmu sejak SMA hingga sarjana, sekaligus menghafal Al-Qur’an 30 juz.

    Tahapan berikutnya, kembang setaman dimasukkan ke dalam belanga oleh ibunda Rosyid dan kakak Fani, Lisa Zakiyah.

    Ritual mitoni ini menjadi ikhtiar spiritual (krenteg hajad) agar calon ibu dan bayi diberi keselamatan, kesejahteraan, serta kelancaran proses kelahiran. Fani sendiri dikenal sebagai hafidzah yang menimba ilmu di pondok pesantren di Yogyakarta.

    Prosesi siraman dilakukan dengan pasangan mengenakan busana takwa dan gamis.

    Rangkaian prosesi simbolik dijalani dengan penuh khidmat, mulai dari pelilitan kain putih pada calon ibu, pelepasan telur, hingga menggendong dan melepas kelapa cengkir gading yang dihias tokoh wayang Arjuna dan Srikandi.

    Prosesi ini ditutup dengan pelepasan ikatan janur di perut calon ibu sebagai doa agar proses kelahiran berjalan lancar, ibu dan jabang bayi diberi keselamatan, serta sang suami selalu siaga mendampingi.

    Siraman diawali oleh calon kakek dari pihak perempuan, H. Hasan Basori, seorang guru agama sekaligus Ketua Asosiasi BPD se-Wongsorejo.

    Prosesi dilanjutkan oleh ibu pihak laki-laki, Asmiyati; Bu Mumun; para sesepuh keluarga; dan ditutup oleh ayah pihak laki-laki, Muhammad Nur, pengrajin suvenir, plakat, dan kaligrafi.

    Setelah itu, Rosyid menyiram istrinya menggunakan kendi yang kemudian dijatuhkan hingga pecah.

    Pecahan kendi tersebut diperebutkan warga sebagai simbol keberkahan, dilanjutkan tradisi “jualan” dawet dan rujak oleh pasangan calon orang tua.

    Usai berganti busana kering, Bu Mumun memperagakan ritual pemilihan tujuh kain batik bermotif khas, seperti gajah oling, karapan potre kuning, sido mukti, hingga sembrung cacing.

    Setelah enam motif dinilai kurang sesuai, pilihan jatuh pada kain batik parang barong yang melambangkan kewibawaan dan keanggunan.

    Dengan selempang batik tersebut, Fani melanjutkan prosesi berjualan rujak dan dawet yang disambut antusias warga.

    Rangkaian acara ditutup dengan pembagian jenang merah putih dan nasi tumpeng berkat, disertai doa syukur dan keselamatan yang dipimpin H. Hasan Basori.

    Acara yang dimulai selepas salat Asar berakhir menjelang waktu samarwulu, diiringi lantunan selawat dari Masjid Besar Baturahim.

    Pada malam harinya, rangkaian selamatan dilanjutkan dengan tahlilan ba’da Magrib yang dipimpin Kepala Dusun Prejengan 1, M. Basuni.

    Sebanyak 33 jamaah mengikuti tahlilan dengan pembacaan Surat Yusuf, Maryam, Muhammad, Luqman, Al-Ikhlas sebanyak 99 kali, serta Surat Yasin secara berjamaah.

    “Semoga keluarga Rosyid dan Fani menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, melahirkan generasi Qur’ani yang berbakti kepada orang tua, membahagiakan kakek-nenek, serta berguna bagi agama, bangsa, dan negara,” doa M. Basuni yang diamini seluruh jamaah.

  • Rayakan 13 Tahun, EL Grup Berbagi Kebahagiaan Bersama Lansia di Muncar

    Rayakan 13 Tahun, EL Grup Berbagi Kebahagiaan Bersama Lansia di Muncar

    Senyum bahagia merekah terpancar dari wajah 30 lansia saat menerima kunjungan “anak cucu” mereka dari EL Grup dalam kegiatan berwisata hati ke Panti Jompo Sahabat Lansia Blambangan, Muncar, Rabu (7/1/2026).

    Kegiatan ini digelar sebagai bentuk tasyakuran atas 13 tahun berdirinya EL Hotel Banyuwangi Residence, sekaligus perayaan hadirnya Banyuwangi Park yang turut mendukung pengembangan pariwisata di Bumi Blambangan.

    Direktur PT Mitra Buana Niaga (EL Grup), Vera Safira, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud rasa syukur perusahaan yang diwujudkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

    “Sebagai ungkapan syukur, tahun ini kami berbagi kebahagiaan dengan para lansia di panti jompo,” ujar Vera Safira yang hadir bersama sekitar 45 karyawan EL Grup.

    Senada, General Manager EL Hotel Banyuwangi, Wilmar Des Rizal, menyampaikan rasa haru dan bahagianya bisa bersilaturahmi langsung dengan para lansia.

    “Oma, opa, kami ini anak cucumu yang datang menjenguk,” ucapnya penuh kehangatan.

    Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PHRI Banyuwangi serta mitra IHC RS Bhakti Husada Krikilan yang turut mendampingi dan memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi para lansia.

    EL Grup di Panti Jompo Sahabat Lansia Muncar

    Dalam kesempatan tersebut, perwakilan PHRI Banyuwangi, Hafrida, menyampaikan ucapan selamat atas hari jadi ke-13 EL Grup.

    Ia berharap kegiatan bakti sosial seperti ini dapat menginspirasi anggota PHRI lainnya.

    “Kami doakan seluruh usaha yang tergabung dalam EL Grup semakin laris, banyak pengunjung, dan meraih kesuksesan di Banyuwangi,” ujarnya, yang diamini oleh seluruh hadirin.

    Tak hanya berbagi bantuan berupa dana, sembako, pampers, selimut, dan kebutuhan lainnya, EL Grup juga menghadirkan kebahagiaan melalui berbagai aktivitas interaktif.

    Para lansia diajak bermain permainan sederhana menggunakan bola kecil, bernyanyi lagu-lagu nostalgia, berbagi cerita masa kecil, hingga berjoget bersama badut Park dan Joira Istimewa. Kegiatan tersebut ditutup dengan pembuatan buket bunga bersama.

    Sementara itu, Ketua Yayasan Sahabat Lansia, Indah Purwaningrum, menjelaskan bahwa saat ini yayasan mengasuh 30 lansia serta 16 anak yatim yang dibekali pendidikan agama.

    “Tujuan kami adalah menyiapkan para lansia agar dapat menjalani masa akhir hidup dengan bahagia dan husnul khotimah,” ujarnya.

    Indah menuturkan, yayasan yang berdiri sejak tiga tahun lalu ini awalnya beroperasi di Desa Kelir dengan menyewa lahan.

    Sekitar dua tahun terakhir, yayasan berpindah ke Muncar dan kini telah memiliki lahan sendiri meski masih dalam proses mencicil pembangunan panti.

    “Karena panti kami masih terakreditasi C, kami belum mendapatkan bantuan permakanan dari Dinas Sosial. Syaratnya minimal akreditasi B, sehingga selama ini bantuan murni berasal dari swasta dan para donatur,” jelasnya.

    Ia menambahkan, yayasan juga telah memiliki mobil layanan dan rumah singgah di Malang yang digunakan saat harus mendampingi rujukan perawatan anak yatim maupun lansia.

    “Alhamdulillah, kami hanya menjadi kurir dari para donatur dan dermawan,” tutup relawan Rumah Kebangsaan Banyuwangi tersebut.

  • Menyalakan Cahaya dari Kelas: Jejak Literasi Betty Lutviyanti di Banyuwangi

    Menyalakan Cahaya dari Kelas: Jejak Literasi Betty Lutviyanti di Banyuwangi

    Di banyak ruang kelas, cahaya pengetahuan kerap hadir dalam bentuk yang sederhana. Dari sana pula, perubahan sering kali bermula.

    Di Banyuwangi, cahaya itu tumbuh pelan namun konsisten melalui langkah seorang pendidik bernama Betty Lutviyanti, yang memilih menjadikan literasi sebagai jalan pengabdian—bukan hanya di sekolah, tetapi juga di ruang-ruang budaya dan sosial.

    Berangkat dari kesehariannya sebagai guru sekolah dasar, Betty menjadikan dunia anak, lingkungan sekolah, dan pendidikan sebagai sumber inspirasi utama karya-karyanya.

    Ia percaya bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan upaya menumbuhkan rasa, nalar, dan imajinasi sejak dini.

    Betty Lutviyanti merupakan pendidik dengan pengalaman mengajar selama 18 tahun. Ia mengabdi sebagai kepala SD Negeri 4 Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

    Dengan latar belakang pendidikan Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta Magister Pendidikan yang diraihnya pada tahun 2025, Betty aktif merancang dan menjalankan berbagai inovasi literasi di sekolah.

    Program seperti GESSAH (Gerakan Sedekah Satu Buku untuk Anak Sekolah), SAPA (Sehari Satu Pantun), dan Rame Riang (Gerakan Membaca Sehari Satu Dongeng) menjadi ikhtiar nyata untuk menumbuhkan budaya baca di kalangan siswa.

    “Literasi harus dihadirkan dengan cara yang dekat dan menyenangkan. Anak-anak perlu merasakan bahwa membaca dan menulis adalah bagian dari keseharian, bukan beban,” ujar Betty dalam salah satu kesempatan.

    Selain mengajar, Betty juga dikenal sebagai penulis produktif. Sejumlah karyanya telah diterbitkan, di antaranya Harmoni Putih Abu-abu dan Hujan Diksi Bulan Desember (2021), Praktik Baik Merdeka Mengajar dan Mengeja Rindu (2023), Pinasthika Laksamana (2024), serta Antologi Gotong Royong dan Toponimi Wilayah di Banyuwangi (2025).

    Ia juga terlibat sebagai kontributor dalam berbagai karya kolaboratif, termasuk e-book Anjasmara Kasmaran: Hikayat Damarwulan terbitan DISPUSIP Banyuwangi, antologi cerita cendhek Using Aroma Ring Pawon Using dalam buku Leroban, serta antologi cerita anak nusantara Lentera dari Timur ke Barat Jilid 2.

    Dedikasi tersebut turut membuahkan prestasi. Betty meraih Juara 2 Lomba Dongeng Video AI (2024), Juara 3 Lomba Cipta Puisi kategori umum KOPIWANGI (2024), serta terpilihnya 59 puisi karyanya dalam ajang cipta puisi bertema ibu dan guru pada tahun 2023.

    Ia juga aktif membina siswa dalam Festival Literasi Using dan PORSENI SD, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.

    Lebih dari sekadar deretan karya dan penghargaan, kiprah Betty Lutviyanti menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh dari ruang kelas yang sederhana, lalu menjalar ke panggung yang lebih luas.

    Ia menghadirkan literasi sebagai praktik kemanusiaan—menghubungkan pendidikan, budaya, dan harapan masa depan.

    Di tengah arus zaman yang serba cepat, langkah Betty menjadi pengingat bahwa perubahan besar kerap berawal dari ketekunan yang sunyi.

    Dari sekolah, cahaya itu dinyalakan—dan dari sana, ia terus menyala, menerangi generasi demi generasi.

  • Warga Dusun Lateng Gelar Kenduren Takir Sewu Sambut Tahun Baru 2026

    Warga Dusun Lateng Gelar Kenduren Takir Sewu Sambut Tahun Baru 2026

    Warga Dusun Lateng, Desa Rogojampi, menggelar tradisi Kenduren Takir Sewu di aula Balai Dusun Lateng, Kampoeng Lebak, pada Kamis (1/1/2026).

    Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur sekaligus ikhtiar spiritual masyarakat dalam menyambut awal tahun baru 2026.

    Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut berlangsung khidmat namun tetap meriah, dengan melibatkan partisipasi warga secara guyup rukun.

    Kenduren Takir Sewu menjadi ruang kebersamaan warga dalam merawat tradisi lokal yang sarat nilai keagamaan dan sosial.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan ketua panitia, tahlil, doa bersama, dan ditutup dengan ramah tamah makan bersama.

    Momentum ini mempererat tali silaturahmi antarwarga dalam suasana kekeluargaan.

    Koordinator kegiatan, Rita, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kenduren Takir Sewu merupakan ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada masyarakat Dusun Lateng dan sekitarnya.

    Selain itu, kegiatan ini diniatkan sebagai doa bersama agar di awal tahun 2026 seluruh urusan masyarakat dimudahkan, harapan dan cita-cita dikabulkan, serta kehidupan ke depan senantiasa dilimpahi keberkahan.

    “Melalui kenduren ini, kita bersyukur bersama sekaligus memanjatkan doa agar tahun 2026 menjadi tahun yang lebih baik, penuh kelancaran, keselamatan, dan keberkahan bagi kita semua,” ujarnya.

    Tahlil dan doa bersama kemudian dipimpin oleh sesepuh Dusun Lateng, Mbah Sabuang, dan diikuti dengan khusyuk oleh seluruh hadirin.

    Suasana religius terasa kental ketika doa-doa dipanjatkan sebagai ikhtiar batin mengawali perjalanan di tahun yang baru.

    Pada sesi ramah tamah, warga menikmati kebersamaan dengan sajian sebanyak 1.000 takir yang disiapkan panitia.

    Beragam kuliner khas Banyuwangi tersaji, mulai dari nasi tumpeng, nasi golong, pecel pitik, ayam kesrut, orem-orem, hingga aneka lauk tradisional lainnya.

    Tak ketinggalan jajanan khas seperti kue lapis, lanun, klepon, getuk, awuk, ketan, hingga jajanan poro bungkil.

    Seluruh hidangan disajikan menggunakan daun pisang, menambah nuansa tradisi dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas Kenduren Takir Sewu.

    Kebersamaan warga tampak semakin hangat saat mereka makan bersama dengan penuh kegembiraan, mencerminkan semangat guyup rukun dan tandang bareng yang telah mengakar kuat di Dusun Lateng.

    Kenduren Takir Sewu Lateng Rogojampi

    Rangkaian kegiatan ditutup dengan pengajian umum ba’da Magrib bertema “Muhasabah Awal Tahun dan Doa Bersama Meraih Ridho Allah SWT”, yang disampaikan oleh Ustaz H. Andi Hidayat, S.Ag dari Rogojampi.

    Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah menjadikan pergantian tahun sebagai momentum introspeksi diri, memperbaiki niat dan akhlak, serta memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT melalui sholat berjamaah, sedekah, dan memperbanyak sholawat.

    Melalui tradisi Kenduren Takir Sewu Pinggir Banyu ini, warga Dusun Lateng tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan.

    Kegiatan ini menjadi bukti bahwa menyambut tahun baru dapat dilakukan dengan cara yang bermakna, melalui doa, syukur, dan kebersamaan sebagai ikhtiar meraih ridho Allah SWT dan keberkahan di tahun 2026.

  • Refleksi Akhir Tahun 2025, YALI Perkuat Komitmen Angkat Martabat Disabilitas

    Refleksi Akhir Tahun 2025, YALI Perkuat Komitmen Angkat Martabat Disabilitas

    Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI) Banyuwangi menutup tahun 2025 dengan meneguhkan komitmen perjuangan dalam mengangkat harkat dan martabat penyandang disabilitas.

    Tekad tersebut ditegaskan dalam kegiatan Refleksi Aura Lentera Akhir Tahun 2025 yang digelar di Ajeg Resto, Dusun Watu Ulo, Desa Rejosari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Selasa (31/12/2025).

    Kegiatan refleksi akhir tahun ini menjadi ruang evaluasi atas seluruh aktivitas advokasi, pendampingan, dan pemberdayaan penyandang disabilitas yang telah dijalankan YALI sepanjang tahun 2025.

    Selain itu, forum ini juga menjadi momentum memperkuat visi perjuangan menuju masyarakat yang lebih inklusif.

    Acara dibuka oleh Wakil Ketua YALI, M. Safarudi yang akrab disapa Cik Nang dengan menekankan pentingnya menjaga semangat kolektif dalam kerja-kerja sosial.

    Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan arahan dari Bung Aguk Darsono, sesepuh sekaligus pengawas YALI.

    Dalam pesannya, Aguk menegaskan bahwa perjuangan mengangkat martabat penyandang disabilitas harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, terutama dalam memperjuangkan kesetaraan hak di tengah masyarakat.

    Ketua Yayasan Aura Lentera Indonesia, Nurhadi Windoyo, menyampaikan bahwa berbagai aktivitas yang dijalankan YALI selama ini memang terlihat sederhana, namun memiliki dampak luas dalam membangun kesadaran publik.

    “Gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten mampu menggerakkan masyarakat Banyuwangi, bahkan Indonesia, untuk mulai membangun kehidupan yang inklusif, dimulai dari keluarga dan dunia pendidikan,” ujarnya.

    Nurhadi Windoyo, yang merupakan penyandang tunanetra sejak usia tujuh tahun, menambahkan bahwa tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi YALI.

    Pasalnya, sejak didirikan pada tahun 2006, YALI baru secara resmi memiliki badan hukum pada 7 Februari 2025.

    “Hampir dua dasawarsa kami berjuang sebagai komunitas relawan tanpa badan hukum,” tuturnya.

    Dengan telah dimilikinya legalitas organisasi, Nurhadi menegaskan bahwa YALI harus melangkah lebih profesional dalam menjalankan perannya sebagai lembaga sosial.

    “Tidak ada pilihan lain, kita harus profesional. Apalagi YALI juga bekerja sama dengan lembaga internasional, sehingga tata kelola organisasi harus semakin kuat dan akuntabel,” tegas suami Indah Catur Cahyaningtias (Direktur Program YALI 2025–2030) tersebut.

    Melalui refleksi akhir tahun ini, YALI menegaskan kembali posisinya sebagai organisasi yang konsisten memperjuangkan kesetaraan, kemandirian, dan martabat penyandang disabilitas, sekaligus menyiapkan langkah strategis untuk memperluas dampak perjuangan di tahun-tahun mendatang.

  • Sastrawacana: Ruang Tumbuh Jurnalisme di Antara Literasi dan Meja Redaksi

    Sastrawacana: Ruang Tumbuh Jurnalisme di Antara Literasi dan Meja Redaksi

    Bagi penulis, dunia jurnalisme adalah ruang baru yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran.

    Di tengah keseharian sebagai guru matematika di sebuah SMK swasta di Banyuwangi yang diisi dengan mengajar di kelas, mendampingi bimbingan belajar, serta menulis karya sastra, penulis berusaha tetap menyisihkan waktu untuk menulis berita dan opini.

    Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas tambahan, melainkan panggilan nurani untuk ikut mengabadikan peristiwa dengan menghadirkan cerita yang bermakna bagi pembaca.

    Penulis telah lama menekuni dunia kepenulisan, mulai dari puisi, quote, opini, hingga buku, dengan capaian tiga buku solo serta delapan belas buku antologi fiksi dan nonfiksi.

    Tulisan-tulisan tersebut penulis bagikan melalui media sosial, laman pribadi, serta media daring.

    Namun, ketika bergabung sebagai jurnalis di media online Sastrawacana, penulis merasakan tantangan yang berbeda.

    Menulis berita menuntut kedisiplinan, ketelitian, dan tanggung jawab yang lebih besar.

    Penulis belajar bahwa sebuah peristiwa tidak cukup hanya ditulis, tetapi harus disajikan secara utuh, berimbang, dan bernilai bagi publik.

    Sastrawacana, bagi penulis, bukan sekadar media, tapi rumah literasi yang telah berdiri lebih dari sepuluh tahun dan konsisten menyuguhkan konten positif, edukatif, serta inspiratif.

    Fokusnya pada pendidikan, literasi, dan prestasi menjadikan media ini sejalan dengan nilai-nilai yang penulis perjuangkan.

    Karena itu, penulis memilih untuk menaruh perhatian besar pada pemberitaan seputar literasi dan dunia pendidikan, tentang bagaimana literasi tumbuh di Banyuwangi, tentang prestasi peserta didik, pendidik, sekolah, hingga peristiwa kecil yang sering kali luput dari sorotan.

    Di tengah padatnya aktivitas, penulis meyakini bahwa sekecil apa pun momen layak untuk ditulis. Sebab setiap peristiwa memiliki cerita, dan setiap cerita dapat menjadi inspirasi.

    Di situlah penulis menemukan makna jurnalisme: dedikasi untuk hadir, merekam, dan menyampaikan nilai-nilai positif kepada masyarakat.

    Keyakinan ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Pimpinan Redaksi Sastrawacana, Maulana Affandi, S.S.

    Menurutnya, Andi Budi Setiawan, S.Pd a.k.a Penapanuluh merupakan salah satu aset penting bagi Sastrawacana karena konsistensi dalam menulis, khususnya di bidang literasi dan pendidikan.

    “konsistensi dalam menulis berita maupun opini yang membuatnya layak memperoleh penghargaan.” ungkap Maulana Affandi.

    Penghujung tahun 2025 menjadi momen yang sangat berkesan bagi penulis.

    Penghargaan sebagai Jurnalis Produktif Tahun 2025 dari Sastrawacana bukan hanya sebuah pencapaian personal, melainkan pengakuan atas proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan dan konsistensi.

    Penghargaan ini penulis terima langsung dari Maulana Affandi, sosok yang penulis hormati atas komitmennya menjaga marwah media yang positif dan berorientasi pada literasi.

    Penulis sangat tersanjung dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada beliau serta seluruh jajaran redaksi Sastrawacana atas program apresiasi ini.

    Bagi penulis, penghargaan ini memiliki makna yang mendalam.

    “Penghargaan ini bukan sekadar hadiah di penghujung tahun 2025, melainkan api semangat yang akan terus menyala untuk senantiasa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat lewat berita,” demikian yang selalu penulis yakini.

    Apresiasi ini menjadi motivasi tersendiri, bahwa setiap karya yang ditulis dan dirilis mendapatkan tempat serta penghargaan yang layak.

    Penghargaan ini semakin menguatkan keyakinan penulis bahwa jurnalisme dan literasi adalah dua sayap yang membantu penulis terbang menggapai tujuan: memberi kontribusi positif bagi masyarakat melalui tulisan.

    Sebagai Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), semangat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kerja literasi harus terus diperjuangkan, kapan pun dan di mana pun.

    Harapan penulis, program apresiasi seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi pemantik semangat bagi jurnalis lainnya untuk giat menulis berita, opini, maupun artikel yang mencerahkan.

    Mari bersama-sama menjaga Sastrawacana sebagai ruang bersama untuk menyuguhkan informasi yang positif dan edukatif, serta terus menyalakan api literasi melalui tulisan yang jujur, konsisten, dan bertanggung jawab.

  • Aklamasi Musda III, Duet Mujiono–Sururudin Nahkodai BKPRMI Banyuwangi Periode 2026-2030

    Aklamasi Musda III, Duet Mujiono–Sururudin Nahkodai BKPRMI Banyuwangi Periode 2026-2030

    BANYUWANGI — Musyawarah Daerah (Musda) III Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi secara aklamasi dan mufakat menetapkan duet H. Mujiono, SH sebagai Ketua Umum dan Achmad Sururudin, SE, M.Si, M.Pd sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) masa khidmat 2026–2030.

    Musda digelar pada Ahad (28/12/2025) atau bertepatan dengan 8 Rajab 1447 H di Hotel Aston Banyuwangi.

    Sidang Musda dipimpin Alim Sulaiman, M.Pd, Sekretaris Umum BKPRMI Wilayah Jawa Timur.

    Setelah kepengurusan demisioner dinyatakan berakhir, pimpinan sidang membuka peluang pencalonan Ketua Umum kepada peserta Musda yang terdiri dari jajaran DPD dan perwakilan 25 DPK kecamatan.

    Namun, tidak satu pun peserta mengajukan diri. Situasi tersebut kemudian disikapi oleh utusan DPK Rogojampi, Singojuruh, dan Kalipuro yang mengusulkan skema keberlanjutan kepemimpinan.

    Mereka mengusulkan agar Achmad Sururudin, mantan Ketua Umum dua periode untuk ditetapkan sebagai Ketua MPD, sementara H. Mujiono dipercaya sebagai Ketua Umum.

    Usulan tersebut diterima secara aklamasi oleh seluruh peserta Musda.

    Dalam sambutannya, H. Mujiono mengawali dengan ungkapan haru.

    Ia mengaku tidak pernah membayangkan akan mengemban amanah sebagai pimpinan organisasi yang bergerak dalam pemakmuran masjid dan pembinaan generasi, dengan ikon nasional Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) yang digelar berjenjang setiap dua tahun.

    “Baik, saya menerima amanat ini dengan syarat dukungan dari semuanya, termasuk tim formatur yang ditunjuk, agar bersama-sama memajukan organisasi,” ujarnya, yang langsung disambut hangat oleh hadirin.

    Musda III BKPRMI Banyuwangi mengusung tema besar Kaderisasi Mujahid Pemakmuran Masjid dan Pembinaan Generasi Qur’ani.

    Kegiatan ini dihadiri peserta pemilik suara dari 25 kecamatan, tujuh Direktur Daerah, Sekretaris Umum DPW BKPRMI Jawa Timur, unsur Forkopimda, serta perwakilan ormas dan lembaga keislaman seperti DMI, MUI, LPTQ, Kementerian Agama, dan Bagian Kesejahteraan Rakyat.

    Pembukaan Musda diwarnai paduan suara para ustadzah Pondok Pesantren Safinda di bawah bimbingan Ustadzah Siti Ruqoyah, S.Pd, yang juga pengurus DPW LPKS-BKPRMI Jatim.

    Panitia turut menayangkan kilas balik aktivitas BKPRMI Banyuwangi selama empat hingga lima tahun terakhir dalam bentuk foto dan video.

    Musda secara resmi dibuka oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE, M.Si, mewakili Bupati Banyuwangi.

    Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas sinergi dan kontribusi BKPRMI dalam menjaga Banyuwangi tetap kondusif dan berprestasi.

    Sementara itu, Achmad Sururudin yang telah memimpin BKPRMI Banyuwangi selama dua periode menyatakan kesiapannya menyerahkan estafet kepemimpinan.

    Ia berharap pelantikan kepengurusan baru dapat dilaksanakan sebelum Ramadan, serta merencanakan kirab santri pada 1 Muharram sebagai bagian dari syiar dakwah.

    Dari aspek kaderisasi, Direktur LPSDM BKPRMI, KH. Achmad Zakariya, menegaskan pentingnya penguatan program BCM, metode ngaji paham makna yang menyenangkan, serta Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) bagi remaja masjid, mushalla, sekolah, dan kampus.

    “Kami bermimpi lahir pengurus muda BKPRMI usia 33–45 tahun dari desa ke desa,” ungkapnya.

    Musda ini juga menjadi ruang silaturahmi lintas generasi dengan menghadirkan para pendiri BKPRMI Banyuwangi sejak gerakan awal 1990-an, sekaligus doa bersama untuk para mujahid dakwah yang telah wafat, khususnya Ustadz Jazir Jogokariyan dan KH. As’ad Human, pelopor metode Iqra’ yang mendunia. (Affandi)

  • Lomba Baca Puisi dan Story Telling Tutup Rangkaian Literasi Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Lomba Baca Puisi dan Story Telling Tutup Rangkaian Literasi Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Momentum peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 sekaligus Hari Ibu dimaknai melalui lomba baca puisi dan story telling yang digelar di Saestwo Cafe, Banyuwangi, Sabtu (20/12/2025).

    Dua cabang lomba tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan literasi yang sebelumnya telah berlangsung selama dua hari, 19–20 Desember 2025.

    Lomba baca puisi yang mengangkat karya dari Antologi Gotong Royong serta lomba story telling diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum.

    Pelaksanaan lomba dimulai pukul 13.00 WIB. Sejumlah peserta datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyuwangi untuk mengikuti kegiatan tersebut.

    Antusiasme terlihat dari kehadiran peserta yang tidak hanya berasal dari sekitar lokasi kegiatan, tetapi juga dari kecamatan lain.

    Sebelumnya, pada hari pertama, Jumat (19/12/2025), panitia telah menyelenggarakan lomba pidato cilik (pildacil) TPA/TPQ, bercerita menggunakan bahasa Using, serta lomba melukis di kanvas.

    Pelaksanaan hari pertama bertepatan dengan peringatan hari lahir Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi (KOPPIWANGI) yang ke-10 dan dihadiri Ketua KOPPIWANGI, H. Mujiono, S.H.

    Panitia menyebutkan, lomba baca puisi dan story telling pada hari kedua menjadi ruang bagi peserta untuk mengekspresikan gagasan, imajinasi, serta kepekaan terhadap nilai-nilai gotong royong.

    Kehadiran peserta dari berbagai daerah di Banyuwangi menunjukkan bahwa kegiatan literasi masih mendapat perhatian dan minat dari masyarakat..

    Pemenang Lomba Story Telling

    Pemenang lomba story telling event harjaba saestwo cafe

    Juara I: Berlian Ramadhani (MI Darunnajah II)

    Juara II: Queenbe Hilwa Tazkia (SD Lazuardi)

    Juara III: Abdul Ghani Ibrahim (MI Darussalam 1 Kalipuro)

    Harapan I: Adhira Kayyira Luneto

    Harapan II: Zahsy Rouwan Haqueena Yadid

    Harapan III: Chantika Irfa’

    Pemenang Lomba Membaca Puisi

    pemenang lomba baca puisi event harjaba saestwo cafe

    Juara I: Adilla Makhrisza Alharsi (SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya)

    Juara II: Mohammad Rizky Yulleo Altaf (SMK Muhammadiyah 8 Siliragung)

    Juara III: Muhammad Iqbal Maulana (Tenaga Kependidikan SMPN 3 Rogojampi)

    Harapan I: Kristanto (Guru SMA Negeri 1 Bangorejo)

    Harapan II: Farras Aryantaqi (SMK Pelayaran Kalipuro)

    Salah satu juri puisi, Andi Budi Setiawan, S.Pd, menyampaikan bahwa lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi.

    “Yang kami lihat bukan hanya teknik, tetapi keberanian peserta dalam menyuarakan nilai gotong royong dan kepekaan mereka terhadap lingkungan sosialnya. Itu yang membuat pembacaan puisi terasa hidup,” ujarnya.

    Sementara itu, ketua panitia menyebutkan bahwa kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai ajang lomba, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan ekspresi bagi anak-anak, remaja, dan masyarakat umum.

    “Melalui kegiatan ini, nilai literasi, seni, dan budaya lokal diharapkan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat,” ujar ketua panitia, H.M Shodiqin.

    Peringatan Harjaba ke-254 melalui kegiatan lomba literasi ini menjadi salah satu upaya memperkuat semangat gotong royong sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam pengembangan budaya baca, bercerita, dan berkarya di Banyuwangi.

  • Yusdi Irawan dan Harapan yang Disulam di Balik Rak Buku

    Yusdi Irawan dan Harapan yang Disulam di Balik Rak Buku

    Kemajuan literasi di daerah tidak hadir secara instan. Ia tumbuh melalui kesadaran, komitmen, serta keberpihakan para pemangku kebijakan terhadap pentingnya budaya membaca dan belajar sejak usia dini.

    Di Banyuwangi, upaya tersebut terus menunjukkan geliat yang positif, salah satunya melalui peran aktif Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, S.E., M.Si., sosok pemimpin yang dikenal rendah hati, sederhana, dan memiliki kepedulian nyata terhadap literasi.

    Kehadiran Yusdi Irawan dalam kegiatan kunjungan dan donasi buku di MI Islamiyah Kedaleman Rogojampi menegaskan bahwa literasi tidak hanya menjadi wacana di ruang rapat, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata di lingkungan sekolah.

    Di sela-sela jadwal yang padat, Yusdi Irawan tetap meluangkan waktu untuk hadir langsung di tengah masyarakat, sebuah teladan kepemimpinan yang patut diapresiasi.

    Bagi penulis, sebagai pegiat literasi dan Ketua KOPIWANGI, langkah tersebut mencerminkan kepemimpinan yang memahami bahwa perpustakaan sekolah merupakan fondasi penting dalam menumbuhkan budaya baca di tengah masyarakat.

    Yusdi Irawan memandang perpustakaan bukan sekadar tempat penyimpanan buku, melainkan sebagai ruang belajar yang hidup dan berkelanjutan.

    Pandangan tersebut sejalan dengan program-program Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi yang selama ini berfokus pada penguatan perpustakaan sekolah, peningkatan minat baca, serta perluasan akses literasi hingga ke wilayah-wilayah yang belum terjangkau secara optimal.

    Kehadiran layanan perpustakaan keliling serta kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan sekolah-sekolah menjadi wujud komitmen nyata dan kesungguhan dalam memajukan literasi di Banyuwangi.

    Dalam dialog bersama pihak sekolah, ia tidak hanya menyerahkan buku, tetapi juga menyampaikan masukan strategis terkait pengelolaan perpustakaan serta pembiasaan membaca bagi siswa.

    Pernyataannya bahwa kebiasaan membaca akan tumbuh menjadi budaya membaca mencerminkan pemahaman yang mendalam bahwa literasi merupakan proses jangka panjang, bukan kegiatan seremonial semata.

    Dari kebiasaan inilah akan tumbuh karakter peserta didik yang menyadari pentingnya membaca sebagai bekal menghadapi masa depan, sebab membaca adalah jendela untuk memahami dunia dan kehidupan.

    Sebagai seorang pendidik yang aktif di dunia literasi, penulis mengapresiasi komitmen tersebut.

    Dukungan langsung dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi sekolah.

    Perpustakaan pun menjadi lebih bermakna; guru dan siswa merasa diperhatikan, sementara sekolah memperoleh dorongan moral untuk terus berinovasi dalam kegiatan literasi.

    Dalam konteks ini, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai ruang membaca, tetapi juga sebagai ruang diskusi untuk berbagi gagasan, ruang kolaborasi untuk bekerja sama, serta ruang inovasi dalam melahirkan karya-karya kreatif.

    Apresiasi yang sama juga disampaikan oleh Maulana Affandi, S.S., Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi dan Media Sastrawacana.

    Menurutnya, keterlibatan aktif Yusdi Irawan mencerminkan sinergi yang sehat antara pemerintah daerah, penerbit, media, komunitas literasi, dan sekolah.

    Sinergi inilah yang menjadi kunci terciptanya ekosistem literasi yang kuat dan berkelanjutan.

    Komitmen tersebut dibuktikan melalui kehadiran serta dukungan penuh Yusdi Irawan terhadap program donasi buku ke sekolah-sekolah yang membutuhkan, yang telah dicanangkan oleh Media Sastrawacana dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, penguatan literasi sejak pendidikan dasar sebagaimana yang didorong Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi merupakan investasi masa depan.

    Literasi tidak hanya membentuk kecakapan membaca dan menulis, tetapi juga menanamkan nilai berpikir kritis, karakter, dan kepekaan sosial.

    Pada dasarnya, literasi berfungsi memberikan pencerahan (enlightenment), memperkaya pemikiran (enrichment), serta memberdayakan (empowerment).

    Penulis meyakini bahwa Banyuwangi berada di jalur yang tepat dalam membangun budaya literasi bagi generasi masa depan.

    Keyakinan tersebut tumbuh karena hadirnya pemimpin yang memiliki visi dan arah kebijakan yang jelas.

    Sosok Yusdi Irawan, S.E., M.Si. menunjukkan bahwa kemajuan literasi tidak cukup diwacanakan, tetapi menuntut kehadiran nyata, komitmen kebijakan yang konsisten, serta kerja bersama lintas sektor.

    Pada akhirnya, upaya memajukan literasi merupakan kerja kolektif yang menuntut kolaborasi berbagai pihak.

    Namun demikian, dukungan dan keteladanan dari pemimpin daerah menjadi penggerak utama agar gerakan literasi tidak berhenti di tengah jalan.

    Apa yang dilakukan Yusdi Irawan hari ini merupakan bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk menjadikan Banyuwangi sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga kuat dalam tradisi membaca, berkesadaran tinggi, berpikir kritis, dan belajar sepanjang hayat.

    ✍️ Penulis adalah Pendidik di SMK PGRI Rogojampi yang aktif di dunia literasi dan Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

  • Kolaborasi Bareng Sungai Watch, Desa Mangir Gelar Aksi Big Clean Up Angkut 4,1 Ton Sampah

    Kolaborasi Bareng Sungai Watch, Desa Mangir Gelar Aksi Big Clean Up Angkut 4,1 Ton Sampah

    Banyuwangi – Upaya menjaga kebersihan sungai dan kelestarian lingkungan terus digencarkan di Kabupaten Banyuwangi.

    Salah satunya melalui aksi bersih-bersih sungai kolosal bertajuk “Big Clean Up” yang digelar di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, pada Jumat (19/12/2025).

    Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Mangir, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan organisasi lingkungan Sungai Watch.

    Mengusung semangat “Saatnya Sungai Kita Bernapas Kembali”, aksi ini menjadi wujud kepedulian bersama untuk membersihkan sungai dari pencemaran sampah plastik dan limbah lainnya.

    Hasil dari kegiatan gotong royong tersebut terbilang signifikan. Berdasarkan data di lapangan, total sampah yang berhasil diangkat dari aliran sungai mencapai 4.162,52 kilogram atau setara 4,1 ton.

    Sampah tersebut dikumpulkan dan dipilah ke dalam 871 karung (kampil).

    Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari keterlibatan berbagai pihak. Sebanyak 45 personel Sungai Watch diterjunkan langsung untuk memimpin teknis pembersihan, dengan dukungan 111 relawan yang terdiri dari warga lokal dan berbagai komunitas.

    Aksi bersih sungai ini turut dihadiri oleh Forkopimka Kecamatan Rogojampi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pengairan, serta Dinas Pertanian.

    Sejumlah komunitas dan organisasi kepemudaan juga berpartisipasi aktif, di antaranya Tim Jebeng Thulik Banyuwangi, Pencinta Lingkungan Banyuwangi (PLC), PC IPNU Banyuwangi, dan Kelompok KIPAN Banyuwangi.

    Dari tingkat desa, dukungan penuh datang dari Pemerintah Desa Mangir bersama 3 Pilar, BPD, LPMD, HIPPA, TP PKK, Komite Persampahan, Gapoktan, Poktan, BUMDes, KDMP, serta Pendamping Desa Kemensos.

    Partisipasi kepala sekolah dan pelajar dari jenjang TK, SD, MI, hingga SMK se-Desa Mangir, serta anggota Linmas, semakin memperkuat semangat gotong royong dalam kegiatan tersebut.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan sungai merupakan tanggung jawab bersama demi menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

    Sungai Watch sendiri merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2020 di Bali.

    Saat ini, Sungai Watch memiliki lebih dari 100 anggota tim yang tersebar di wilayah Bali, Banyuwangi, dan Sidoarjo, Jawa Timur.

    Organisasi ini memiliki misi menghentikan sampah, khususnya anorganik, sebelum mencapai laut dengan cara membersihkan sungai.

    Sungai Watch juga mengembangkan teknologi jaring sampah yang telah terpasang di 180 titik.

    Setiap hari, tim Sungai Watch secara rutin membersihkan sampah yang tertangkap di jaring tersebut untuk kemudian dibawa ke lokasi pemilahan dan pengelolaan sampah yang berada di Station Bangorejo, Rogojampi, dan Giri.

    Hingga saat ini, Sungai Watch telah mengumpulkan lebih dari 4.000.000 kilogram sampah anorganik dari sungai, mangrove, dan pantai di berbagai wilayah Indonesia.

    Dalam kegiatan Big Clean Up di Desa Mangir, jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah plastik sekali pakai, styrofoam, dan kemasan sachet.

    Sampah hasil kegiatan ini tidak langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan dibawa ke Station Sungai Watch di Giri, Rogojampi, dan Bangorejo untuk dipilah, dibersihkan, dilakukan brand audit, serta didaur ulang.

    Langkah ini bertujuan mengurangi volume sampah residu yang berakhir di TPA sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.