Blog

  • DPC Peradi Banyuwangi Gelar Arisan di Blimbingsari, Bahas Materi KUHP–KUHAP Baru

    DPC Peradi Banyuwangi Gelar Arisan di Blimbingsari, Bahas Materi KUHP–KUHAP Baru

    Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Banyuwangi menggelar kegiatan arisan yang bertempat di Rumah Makan Dapur Gebyok, Blimbingsari, pada Sabtu, 24 Januari 2026.

    Kegiatan ini dihadiri sekitar 50 advokat yang tergabung dalam DPC Peradi Banyuwangi.

    Acara arisan tersebut diselenggarakan sebagai upaya mempererat silaturahmi serta memperkuat kebersamaan antaranggota.

    Dalam suasana yang hangat dan akrab, para advokat berkumpul untuk saling berbagi pengalaman sekaligus pengetahuan terkait profesi advokat.

    DPC Peradi Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas dan profesionalisme anggotanya dalam menjalankan tugas sebagai penegak hukum.

    Melalui kegiatan arisan ini, diharapkan tercipta semangat baru serta kerja sama yang semakin solid di antara para anggota.

    Dalam sambutannya, Ketua DPC Peradi Banyuwangi, Eko Sutrisno, SH, menyampaikan bahwa selain agenda arisan, pada hari yang sama juga akan dilaksanakan pembukaan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) DPC Peradi Banyuwangi yang bekerja sama dengan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi.

    Oleh karena itu, ia berharap seluruh pengurus harian dapat hadir dalam agenda tersebut.

    Selain arisan, pertemuan ini juga diisi dengan penyampaian materi terkait pembuktian berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru berlaku. Materi tersebut disampaikan oleh Jaenuri, SH.

    “Dalam konteks pembuktian, KUHP dan KUHAP yang baru menekankan pentingnya keadilan restoratif serta perlindungan hak asasi manusia. Hakim dan jaksa juga diharapkan dapat mempertimbangkan berbagai faktor yang ada,” ujarnya.

    Sebagai tuan rumah kegiatan, H. Mujiono, SH menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota DPC Peradi Banyuwangi yang telah hadir.

    Ia berharap rasa kekeluargaan sebagai bagian dari keluarga besar Peradi dapat terus terjaga. Acara yang berlangsung guyub tersebut ditutup dengan sesi foto bersama, ramah tamah, serta makan bersama.

  • English TOEFL Junior dan Robotic Competition Meriahkan Dies Natalis ke-33 SMKS Muhammadiyah 6 Rogojampi

    English TOEFL Junior dan Robotic Competition Meriahkan Dies Natalis ke-33 SMKS Muhammadiyah 6 Rogojampi

    SMKS Muhammadiyah 6 Rogojampi menggelar English TOEFL Junior Competition dan Robotic Competition dalam rangka Dies Natalis ke-33, dengan mengusung tema “Tumbuh dalam Kebersamaan, Maju dalam Perubahan”, Sabtu (21/1/2026).

    Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi SMP/MTS sederajat se-Kabupaten Banyuwangi.

    Kepala SMKS Muhammadiyah 6 Rogojampi, Fahima Sholatin, M.Pd., menyampaikan bahwa peringatan dies natalis tahun ini dirancang untuk membangkitkan semangat pelajar dalam mengenali potensi diri, khususnya di bidang bahasa internasional dan teknologi berbasis robotika.

    “Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan kepercayaan diri pelajar sejak dini dalam berbahasa Inggris sekaligus mengenal perkembangan teknologi robotik,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan telah dimulai sejak dua hari sebelumnya dengan pelatihan robotika kepada 10 SMP binaan SMKS Muhammadiyah 6 Rogojampi.

    Para siswa dilatih merakit robot secara mandiri, yang kemudian dilombakan pada hari puncak kegiatan.

    Robot hasil karya peserta tersebut selanjutnya dihibahkan kepada sekolah masing-masing sebagai upaya mendorong semangat belajar robotika.

    Acara ini secara resmi dibuka oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Banyuwangi, Eko Budi Santoso, S.Sos., M.M.

    Dalam sambutannya, Eko mengapresiasi langkah SMKS Muhammadiyah 6 Rogojampi yang dinilai tepat dalam mengarahkan pelajar SMP/MTS untuk mengenal kemampuan berbahasa Inggris dan teknologi robotik di era digital.

    “Daripada waktu habis untuk aktivitas gawai yang kurang bermanfaat, kegiatan seperti ini justru mendorong pelajar keluar dari zona nyaman dan mengenal ilmu pengetahuan serta teknologi yang berguna bagi masa depan mereka,” katanya.

    Eko juga menekankan pentingnya kompetisi sebagai sarana mengukur kemampuan diri, memperluas jejaring pertemanan, serta menumbuhkan motivasi belajar sejak dini.

    “Masa depan adalah milik mereka yang bersungguh-sungguh belajar,” tegasnya.

    Pembukaan acara ditandai dengan pembacaan basmalah dan pemukulan gong sebagai simbol dimulainya kompetisi.

    Pernyataan Eko, “Kalian semua adalah pemenang dan kalianlah juaranya,” disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi serta Kasubbag Tata Usaha Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Wilayah Banyuwangi.

    Selain peserta lomba, para guru pembimbing dan orang tua juga hadir memberikan dukungan moral dan doa.

    Rangkaian acara pembukaan dimeriahkan dengan penampilan Paduan Suara Gita Suara Barista, dilanjutkan tari Gandrung yang disambut antusias oleh seluruh hadirin.

    Usai pembukaan, peserta diarahkan ke ruang kompetisi untuk mengikuti lomba dengan sistem penilaian yang ketat dan terukur, termasuk penggunaan perangkat digital dalam pelaksanaan ujian.

    Sebanyak 104 peserta mengikuti English TOEFL Junior Competition, sementara 12 peserta berkompetisi dalam Robotic Competition.

    Para pemenang memperebutkan tropi, uang pembinaan, dan sertifikat, dengan total hadiah mencapai sekitar Rp5 juta.

    Untuk kategori robotika, ditetapkan juara I, II, dan III, sedangkan TOEFL Junior Competition menetapkan juara I, II, III, serta Harapan I, II, dan III.

  • Rapat LPP SDM LPKS BKPRMI Digelar di Safinda Tukangkayu, Dihadiri Ketua Umum BKPRMI

    Rapat LPP SDM LPKS BKPRMI Digelar di Safinda Tukangkayu, Dihadiri Ketua Umum BKPRMI

    Banyuwangi — LPPSDM LPPKS BKPRMI menggelar rapat koordinasi pada Jumat, 23 Januari 2026.

    Kegiatan ini berlangsung di Safinda Tukangkayu, Banyuwangi, dengan suasana penuh khidmat dan semangat kebersamaan.

    Rapat tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum BKPRMI, H. Mujiono, S.H beserta jajaran pengurus dan perwakilan LPPSDM LPPKS BKPRMI.

    Kehadiran Ketua Umum memberikan motivasi tersendiri bagi seluruh peserta rapat untuk terus menguatkan peran BKPRMI dalam pengembangan kualitas SDM, khususnya di bidang pendidikan, keterampilan, dan pembinaan generasi muda masjid.

    Dalam sambutannya, Ketua Umum BKPRMI menekankan pentingnya sinergi antar lembaga di tubuh BKPRMI agar program-program yang dirancang benar-benar memberi dampak nyata bagi umat dan masyarakat.

    “Rapat ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah dan memperkuat sinergi antar lembaga di tubuh BKPRMI. LPPSDM dan LPPKS harus menjadi motor penggerak peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam mencetak kader-kader masjid yang berilmu, berakhlak, dan memiliki keterampilan yang relevan dengan tantangan zaman,” tutur H. Mujiono, S.H

    Ia juga mengajak seluruh pengurus untuk terus menjaga semangat pengabdian, keikhlasan, dan profesionalisme dalam berorganisasi.

    Rapat membahas sejumlah agenda strategis, di antaranya evaluasi program kerja, perencanaan kegiatan pengembangan SDM ke depan, serta penguatan peran LPPKS BKPRMI sebagai pusat pembinaan dan kader dakwah yang unggul.

    Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan komitmen untuk terus mempererat ukhuwah serta meningkatkan kualitas kontribusi BKPRMI bagi umat.

  • DPR RI Tekankan Penguatan Pendidikan Karakter untuk Cegah Kekerasan di Sekolah

    DPR RI Tekankan Penguatan Pendidikan Karakter untuk Cegah Kekerasan di Sekolah

    Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengingatkan pemerintah serta seluruh satuan pendidikan agar memperkuat pendidikan karakter sebagai upaya mencegah maraknya tindak kekerasan di lingkungan pendidikan.

    Ia menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak boleh diabaikan karena berperan penting dalam membentuk kepribadian dan akhlak peserta didik.

    Menurutnya, penguatan nilai-nilai tersebut perlu diluruskan dan diperbaiki agar sejalan dengan tujuan utama pendidikan nasional.

    “Pendidikan karakter tidak bisa dikesampingkan. Ini penting untuk membentuk karakter dan akhlak siswa. Itu yang harus kita luruskan dan perbaiki agar sesuai dengan tujuan dan fungsi utama pendidikan,” ujar Lalu Hadrian Irfani di Jakarta, Kamis, (22/12) menanggapi meningkatnya kasus kekerasan di dunia pendidikan sepanjang 2025.

    Ia menilai kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi sistem pendidikan nasional.

    Sepanjang tahun 2025, pihaknya mencatat lebih dari 1.000 kasus kekerasan di sekolah dan perguruan tinggi, dengan berbagai bentuk mulai dari kekerasan verbal hingga fisik.

    Hadrian juga menyinggung kasus kekerasan antara guru dan siswa di sebuah SMK di Jambi. Dalam peristiwa tersebut, tindakan kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswa berujung pada pengeroyokan guru oleh sejumlah siswa.

    Politisi dari Daerah Pemilihan NTB II itu turut menyoroti kasus guru yang membawa senjata tajam ke lingkungan sekolah.

    Menurutnya, tindakan tersebut sudah melampaui batas dan mencerminkan buruknya relasi edukatif antara guru dan siswa.

    “Saya melihat relasi edukasi antara guru dan siswa tidak berjalan sebagaimana mestinya. Guru tidak memahami sepenuhnya tugas dan kewajibannya, begitu juga siswa,” tegasnya.

    Ia menegaskan bahwa guru seharusnya menjadi teladan dan panutan bagi peserta didik.

    “Guru harus menjadi profil yang diidolakan” tutupnya.

    Sumber: Antara

  • Perkuat Konsolidasi, DPK BKPRMI Kalipuro Gelar Rapat Persiapan MUSCAM 2026

    Perkuat Konsolidasi, DPK BKPRMI Kalipuro Gelar Rapat Persiapan MUSCAM 2026

    Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kecamatan Kalipuro menggelar Rapat Persiapan Musyawarah Kecamatan (MUSCAM) Tahun 2026 pada Rabu malam, 21 Januari 2026.

    Kegiatan ini berlangsung di Lingkungan Krajan RT/RW 003/002, Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro.

    Rapat yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut berlangsung khidmat dan sarat dengan semangat kebersamaan.

    Hadir dalam kegiatan ini Ketua DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, H. Mujiono, jajaran pengurus DPK BKPRMI Kecamatan Kalipuro, serta perwakilan lembaga di bawah naungan DPD BKPRMI Banyuwangi, di antaranya LPPTKA, LPPKS, LPEKIN, LKM, dan lembaga terkait lainnya.

    Dalam sambutannya, H. Mujiono menegaskan pentingnya MUSCAM sebagai forum strategis organisasi.

    Menurutnya, MUSCAM menjadi momentum evaluasi kinerja, konsolidasi kepengurusan, sekaligus penentuan arah gerak BKPRMI ke depan.

    Ia juga menyampaikan sekilas sejarah BKPRMI yang berdiri sejak tahun 1977, serta kiprahnya dalam pembinaan pendidikan keislaman, pemuda, dan remaja masjid, khususnya melalui pengembangan TKA/TPQ di seluruh Indonesia, termasuk di Kabupaten Banyuwangi.

    Rapat berlangsung dinamis dengan berbagai agenda pembahasan, mulai dari teknis pelaksanaan MUSCAM, kesiapan panitia, hingga penguatan peran dan kontribusi BKPRMI di tingkat kecamatan.

    Beragam masukan dan gagasan konstruktif disampaikan oleh para peserta demi menyukseskan MUSCAM DPK BKPRMI Kecamatan Kalipuro Tahun 2026.

    Melalui rapat persiapan ini, diharapkan pelaksanaan MUSCAM nantinya dapat berjalan lancar dan demokratis, serta menghasilkan kepengurusan yang solid dan program-program yang memberikan manfaat nyata bagi umat, khususnya dalam pembinaan generasi muda Islam di Kecamatan Kalipuro.

    Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan harapan agar BKPRMI senantiasa istiqamah dalam pengabdian, serta terus menjadi wadah dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan pemuda remaja masjid.

  • Kontingen MI Islamiyah Rogojampi Tembus Nasional di KOMPERASIA 2 UNESA

    Kontingen MI Islamiyah Rogojampi Tembus Nasional di KOMPERASIA 2 UNESA

    Kontingen MI Islamiyah Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, menorehkan prestasi membanggakan di ajang KOMPERASIA 2 (Kompetisi Pelajar Juara Indonesia ke-2) tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Andima Smarthouse.

    Kompetisi bergengsi tersebut dilaksanakan secara luring pada Sabtu, 10 Januari 2026, bertempat di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

    Dalam keikutsertaan perdananya di tingkat nasional, MI Islamiyah Rogojampi berhasil membawa pulang tiga medali dari bidang akademik berbeda.

    Prestasi tersebut diraih oleh Ilman Rasyid Abdillah yang meraih medali perak bidang Bahasa Inggris, Hafiz Maulana Ishak yang memperoleh medali perunggu bidang Matematika, serta Brama Alaric Zeroun Al Faizullah yang menyabet medali perunggu bidang Sains.

    Ketiganya merupakan siswa kelas 6 MI Islamiyah Rogojampi yang mengikuti lomba secara individu.

    Keberhasilan ini tidak diraih secara instan. Para siswa menjalani persiapan intensif selama sekitar dua hingga tiga bulan.

    Selama pelaksanaan lomba di Surabaya, para peserta mendapatkan pendampingan langsung dari pihak sekolah dan orang tua.

    Pendampingan pembinaan akademik di sekolah oleh para pembina sesuai bidang lomba, yakni M.S. Rahdiyan Syah Tuasikal, S.Pd. (Bahasa Inggris), Mohamad Nurhadi, S.Pd. (Matematika), dan Maria Ulfa, S.Pd. (Sains).

    Peran pembina dan dukungan orang tua menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan diri, disiplin belajar, serta ketangguhan mental siswa saat berkompetisi di tingkat nasional.

    Pihak sekolah menyampaikan harapan agar capaian ini menjadi pemantik semangat belajar bagi seluruh siswa.

    Prestasi yang diraih diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan sesaat, tetapi juga menjadi motivasi berkelanjutan agar peserta didik tumbuh sebagai anak-anak yang berprestasi, berkarakter, dan mampu memenuhi harapan orang tua serta sekolah.

    Prestasi di KOMPERASIA 2 ini sekaligus menegaskan komitmen MI Islamiyah Rogojampi dalam mendorong budaya kompetitif yang sehat dan edukatif.

    Keberhasilan menembus ajang nasional pada keikutsertaan pertama menjadi bukti bahwa dengan pembinaan yang tepat, dukungan lembaga, dan semangat belajar yang kuat, siswa madrasah mampu bersaing dan berprestasi di tingkat nasional.

  • Pengajian Isra Mikraj di Masjid Baitul Huda Kabat, Jamaah Diajak Menelaah Sholat sebagai Benteng Agama

    Pengajian Isra Mikraj di Masjid Baitul Huda Kabat, Jamaah Diajak Menelaah Sholat sebagai Benteng Agama

    Masjid Baitul Huda, Dusun Jurangjero, Desa Kalirejo, Kecamatan Kabat, dipenuhi jamaah dalam pengajian peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, Jumat malam (16/1/2026).

    Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut berlangsung khidmat, meriah, dan tertib hingga selesai.

    Pengajian rutin tahunan ini diselenggarakan oleh Takmir Masjid Baitul Huda bersama Panitia Hari Besar Islam (PHBI), bekerja sama dengan GP Ansor Ranting Kalirejo.

    Jamaah yang hadir berasal dari berbagai unsur, mulai dari tokoh masyarakat, perangkat desa, banom NU, hingga warga sekitar.

    Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan sambutan Ketua Takmir Masjid Baitul Huda, Mohamad Jakpar, serta Kepala Desa Kalirejo, Moch. Arifin.

    Dalam sambutannya, Ketua Takmir menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga kegiatan peringatan Isra Mikraj dapat terselenggara dengan lancar.

    Suasana pengajian semakin semarak saat sesi selingan yang diisi oleh Hadrah Syafaatul Azka, yang menambah kekhidmatan sekaligus membangkitkan semangat jamaah sebelum memasuki acara inti berupa mauidhoh hasanah.

    Pengajian inti disampaikan oleh Ustadz Qomaruzaman, Lc, penceramah asal Desa Badean, Kecamatan Kabat.

    Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema “Menelaah Sholat sebagai Benteng Agama dan Kisah Perjuangan Rasulullah”.

    Jamaah diajak menempatkan peristiwa Isra Mikraj sebagai momentum penting untuk meneguhkan kembali kewajiban sholat.

    “Sholat merupakan kunci dari amal-amal yang lain,” ujar Ustadz Qomaruzaman.

    Ia menegaskan bahwa sholat bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan fondasi utama yang menjaga keimanan, akhlak, dan arah kehidupan seorang muslim.

    Menurutnya, perintah sholat yang diterima langsung oleh Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Mikraj menunjukkan betapa agung dan sentralnya ibadah tersebut. Ketika sholat terjaga, maka aspek kehidupan lainnya akan ikut terarah dan terpelihara.

    Sementara itu, Kepala Desa Kalirejo, Moch. Arifin, mengapresiasi kekompakan panitia dan partisipasi masyarakat dalam menjaga tradisi peringatan hari besar Islam.

    Ia berharap kegiatan keagamaan semacam ini terus dilestarikan sebagai sarana memperkuat iman, persaudaraan, dan kebersamaan warga.

    Pengajian ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan serta keteguhan iman bagi seluruh jamaah.

    Melalui peringatan Isra Mikraj ini, panitia berharap nilai-nilai perjuangan Rasulullah SAW dan makna sholat dapat semakin membumi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya warga Desa Kalirejo dan sekitarnya.

  • Majestic Basketball Event 3×3 2026 Resmi Digelar, Ratusan Pelajar Jawa Timur Ramaikan Banyuwangi

    Majestic Basketball Event 3×3 2026 Resmi Digelar, Ratusan Pelajar Jawa Timur Ramaikan Banyuwangi

    Upaya pembinaan prestasi olahraga bola basket pelajar di Jawa Timur kembali menemukan momentumnya melalui Majestic Basketball Event 3×3 Competition 2026 Season 3.

    Kejuaraan ini resmi digelar selama tiga hari, 16–18 Januari 2026, bertempat di GOR Sahabat Banyuwangi, dengan melibatkan ratusan atlet pelajar dari berbagai daerah di Jawa Timur.

    Diselenggarakan oleh Komunitas Majestic di bawah naungan Perbasi Jawa Timur, ajang ini tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga ruang edukatif bagi atlet pelajar dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.

    Sebanyak 112 tim yang terdiri dari sekitar 56 tim putra dan 56 tim putri ikut ambil bagian. Para peserta datang dari Banyuwangi, Jember, Surabaya, Pasuruan, hingga Malang.

    Atmosfer kompetisi terasa semakin hidup karena sejumlah atlet yang berlaga telah memiliki pengalaman bertanding di level Porprov Jawa Timur, Kejurprov, Popnas, hingga DBL.

    Kehadiran mereka menjadi tantangan sekaligus motivasi tersendiri bagi atlet-atlet muda lainnya.

    Pada jenjang sekolah dasar, peserta yang berpartisipasi antara lain SD Lazuardi, SDN Model, SD 4 Penganjuran, SD IT Al Qomar, SD Al Ushwah, SD Al Khoiriyah, SD Mutu, SDK Alethea Genteng, SDK Santa Maria Banyuwangi, SD Menghua, SD Bloom, SD Greeta, dan beberapa sekolah lainnya.

    Sementara itu, dari jenjang sekolah menengah pertama, kejuaraan ini diikuti oleh SMPN 1 Banyuwangi, SMPN 2 Banyuwangi, SMPN 1 Giri, SMPN 1 Genteng, SMP Lazuardi, SMP Adz Dzikra, SMPK Santa Yusup, SMPK Maria Genteng, SMPK Alethea Genteng, serta SMPK Maria Fatima.

    Tingginya partisipasi sekolah-sekolah ini mencerminkan antusiasme pelajar SMP terhadap pembinaan basket yang terstruktur dan berkelanjutan.

    Adapun dari jenjang sekolah menengah atas, peserta yang ambil bagian meliputi SMAN 1 Glagah, SMAN 1 Giri, SMK PGRI Rogojampi, SMAN 1 Darusolah, SMAK Hikmah Mandala Banyuwangi, MA Kader Adz Dzikra Banyuwangi, SMAN 1 Jember, SMAN 1 Jeraldh, SMAN 8 Malang, MAN 1 Pasuruan, serta Vita School Surabaya.

    Selain itu, terdapat pula tim umum seperti Tosca, Skyhawk, dan CKD, yang semakin memperkaya dinamika kompetisi lintas wilayah di Jawa Timur.

    Ketua Panitia, Nuzulia Fajrina, SH, menyampaikan bahwa kejuaraan ini lahir dari kegelisahan sekaligus harapan.

    Kegelisahan atas terbatasnya ruang tanding berjenjang bagi atlet muda, serta harapan agar bakat-bakat basket daerah memiliki panggung yang layak untuk berkembang.

    “Kami ingin menyediakan wadah yang sehat dan terarah bagi atlet basket pelajar. Bukan hanya untuk bertanding, tetapi juga untuk membangun mental, kepercayaan diri, dan pengalaman bertanding di level provinsi,” ujarnya.

    Menggunakan peraturan resmi FIBA 3×3, setiap tim diperkuat oleh empat pemain dengan sistem pertandingan fase grup.

    Seluruh laga dipimpin oleh wasit bersertifikat dan didukung kesiapan panitia serta tim medis guna menjamin keamanan dan kenyamanan peserta.

    Kejuaraan ini turut mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Perbasi Banyuwangi, KONI, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Kementerian Agama Banyuwangi, serta sejumlah sponsor seperti Rieda Perdana, Hotel KYRIE, OWN, HOPE Physiotherapy, PT SLSA, Bee Sportphotography, Kiddy, dan Jajan Ra Ya.

    Hadir pula sejumlah tokoh penting, termasuk Ketua KONI, Ketua Perbasi Ricco Antar Budaya, serta Exco Perbasi Jawa Timur NSH Imanuddin Husnuzan, yang memberikan dukungan langsung terhadap pembinaan basket usia dini dan pelajar.

    Selain trofi dan medali, panitia menyiapkan uang pembinaan, jersey champion, serta piagam tingkat Jawa Timur bagi juara 1 hingga 4. Bagi panitia, penghargaan tersebut bukan sekadar simbol kemenangan, melainkan penanda proses panjang dan kerja keras para atlet muda.

    Lebih dari sekadar kompetisi, Majestic Basketball Event 3×3 membawa pesan reflektif bahwa setiap ikhtiar dalam proses pembinaan akan bermuara pada keberhasilan.

    Di akhir kegiatan, panitia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh Komunitas Majestic Ballers yang secara konsisten menghadirkan ruang bertumbuh bagi atlet muda melalui penyelenggaraan event ini untuk ketiga kalinya.

    Dengan antusiasme peserta yang tinggi dan dukungan lintas instansi, ajang ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan, sekaligus bagian dari denyut pembinaan basket pelajar yang terus tumbuh dan bersemangat di Banyuwangi dan Jawa Timur.

  • Sinergi LBHA, BKPRMI Bersama Pemkab Banyuwangi Perkuat Perlindungan Hukum untuk Santri dan Guru Ngaji

    Sinergi LBHA, BKPRMI Bersama Pemkab Banyuwangi Perkuat Perlindungan Hukum untuk Santri dan Guru Ngaji

    Silaturahmi antara LBHA (Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi) dan DPD BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia) dengan Bagian Hukum Setda Pemkab Banyuwangi berlangsung hangat dan produktif di kantor Bagian Hukum Setda Pemkab Banyuwangi, pada Selasa (13/12).

    Dirda LBHA dan Ketua Umum BKPRMI, H. Mujiono, SH, diterima oleh perwakilan Bagian Hukum Setda Pemkab Banyuwangi, Sadhu Bagas Suratno dan Nur Wahid Rosyadi.

    Dalam kesempatan ini, LBHA dan BKPRMI membahas sinergi dan kolaborasi untuk meningkatkan kesadaran hukum serta perlindungan anak, khususnya bagi santri dan guru ngaji di Banyuwangi.

    Dirda LBHA menegaskan komitmen LBHA untuk terus mendukung program-program pemerintah daerah dalam upaya perlindungan hukum terhadap anak.

    Ketua Umum BKPRMI, H. Mujiono, SH juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Bagian Hukum Setda Pemkab Banyuwangi terhadap berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan BKPRMI.

    “Dukungan Bagian Hukum Setda Pemkab Banyuwangi sangat berarti bagi BKPRMI, kami mengucapkan terima kasih atas kerja samanya,” ujar H. Mujiono, SH.

    Selain itu, diskusi tersebut juga membahas rencana kerja sama lebih lanjut dalam meningkatkan kesadaran hukum dan perlindungan bagi santri serta guru ngaji di wilayah Banyuwangi.

    Perwakilan Bagian Hukum menyambut baik inisiatif LBHA dan BKPRMI, serta menyatakan kesiapan untuk mendukung dan memfasilitasi kerja sama antara pemerintah daerah dan organisasi masyarakat keagamaan, khususnya BKPRMI, dalam meningkatkan kesadaran hukum masyarakat di Banyuwangi.

    Momen silaturahmi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi kerja sama yang lebih erat dan produktif antara BKPRMI, LBHA, dan Bagian Hukum Setda Pemkab Banyuwangi dalam memperkuat kesadaran hukum serta perlindungan bagi santri dan guru ngaji di Banyuwangi.

  • Peran Tutor Sebaya sebagai Pendukung Pembelajaran Matematika di Jenjang SMK

    Peran Tutor Sebaya sebagai Pendukung Pembelajaran Matematika di Jenjang SMK

    Matematika sering dianggap menakutkan oleh peserta didik, baik di jenjang pendidikan dasar, menengah atas, maupun kejuruan.

    Hal ini muncul karena matematika identik dengan angka, perhitungan pasti, serta penggunaan rumus-rumus yang harus tepat dalam proses penyelesaiannya.

    Belajar matematika jelas berbeda dengan belajar bahasa atau ilmu sosial lainnya.

    Dalam pembelajaran bahasa atau ilmu sosial, peserta didik masih dapat belajar secara mandiri dengan mencari berbagai referensi.

    Sebaliknya, dalam pembelajaran matematika, peserta didik sangat membutuhkan pendampingan langsung dari tenaga pendidik yang mengampu mata pelajaran tersebut.

    Penulis merupakan salah satu tenaga pendidik di sebuah SMK swasta di Kabupaten Banyuwangi yang mengampu mata pelajaran matematika.

    Sebagai sekolah swasta yang berada di bawah naungan yayasan, diperlukan upaya yang lebih besar dalam memperoleh peserta didik baru.

    Di samping itu, sekolah juga harus mampu bersaing dengan SMK yang lain di sekitarnya.

    Dengan latar belakang peserta didik yang sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke bawah, dibutuhkan tenaga dan pemikiran ekstra dalam membimbing mereka selama proses pembelajaran.

    Saat mengajar di kelas X–XII pada beberapa jurusan, penulis menyadari bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit.

    Sudah menjadi rahasia umum bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar peserta didik.

    Bahkan sejak jenjang SMP, matematika telah menjadi momok tersendiri.

    Kondisi ini semakin terasa di lembaga tempat penulis mengajar, karena sebagian besar peserta didik yang diterima merupakan peserta didik yang belum berkesempatan melanjutkan pendidikan di SMA negeri dan memilih SMK sebagai jalur pendidikan lanjutan.

    Secara umum, kemampuan akademik mereka berada pada tingkat yang beragam, dengan sebagian masih memerlukan pendampingan lebih lanjut.

    Berdasarkan pengalaman dan hasil diskusi dengan peserta didik, terdapat beberapa alasan mengapa matematika dianggap sulit untuk dipahami.

    Pertama, sebagian besar peserta didik sudah tidak menyukai matematika sejak jenjang pendidikan dasar maupun menengah pertama.

    Kedua, adanya ketidakcocokan dengan tenaga pendidik pada jenjang sebelumnya sehingga terbentuk persepsi bahwa matematika adalah mata pelajaran yang sulit.

    Ketiga, matematika merupakan mata pelajaran eksakta yang berkaitan dengan perhitungan, rumus, dan hasil akhir yang pasti. Kesalahan dalam menggunakan rumus akan berdampak langsung pada hasil akhir yang salah.

    Dampak dari kondisi tersebut adalah terjadinya ketimpangan pemahaman antarpeserta didik dalam mengikuti pembelajaran matematika.

    Ironisnya, dari materi yang disampaikan, hanya sekitar sepuluh persen peserta didik yang benar-benar mampu menguasainya.

    Sebagian besar peserta didik kurang memahami materi, bahkan tidak paham sama sekali.

    Fenomena ini sering penulis temui dan berdampak pada rendahnya nilai harian, penilaian tengah semester, hingga penilaian akhir semester.

    Banyak nilai rapor matematika yang tidak tuntas karena masih berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

    Selain itu, kondisi ini juga berdampak pada suasana kelas yang kurang kondusif.

    Ketika peserta didik kehilangan fokus, mereka cenderung bersikap acuh dan sibuk dengan aktivitas masing-masing, sehingga kelas menjadi ramai dan mengganggu proses pembelajaran.

    Hal tersebut menjadi persoalan serius bagi tenaga pendidik agar peserta didik kembali fokus, memperoleh pemahaman yang relatif merata, serta tercipta suasana kelas yang nyaman, tenang, dan kondusif.

    Harapannya, pada akhir evaluasi pembelajaran, peserta didik dapat mencapai ketuntasan belajar tanpa kendala berarti.

    Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis mencoba menerapkan pola atau sistem pembelajaran yang penulis anggap lebih menarik dan efektif.

    Pada awal pembelajaran, penulis memberikan asesmen diagnostik untuk mengetahui minat dan kemampuan awal peserta didik terhadap mata pelajaran matematika.

    Dari hasil asesmen tersebut, penulis memetakan kemampuan peserta didik dan membagi mereka ke dalam beberapa kelompok heterogen.

    Dalam setiap kelompok, setidaknya terdapat satu peserta didik yang memiliki minat dan kemampuan lebih baik di bidang matematika.

    Peserta didik tersebut diharapkan dapat berperan sebagai tutor sebaya yang mendampingi teman-temannya selama proses pembelajaran.

    Melalui kerja kelompok, peserta didik dapat saling berdiskusi, bertanya, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas.

    Selanjutnya, penulis merancang model pembelajaran matematika dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta didik, kebutuhan belajar, serta karakter dan perkembangan mereka.

    Pembelajaran dirancang dengan menghargai hak peserta didik untuk belajar, menciptakan suasana yang menyenangkan dan bermakna, serta memastikan tidak ada peserta didik yang tertinggal.

    Selain itu, penulis juga menanamkan growth mindset, yaitu pola pikir positif yang mendorong peserta didik untuk terus berkembang dan tidak mudah menyerah.

    Pembelajaran dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari agar peserta didik memahami manfaat dan aplikasi materi yang dipelajari.

    Perangkat pembelajaran juga memiliki peran penting dalam mendukung capaian pembelajaran.

    Penyusunan alur tujuan pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan prinsip sederhana, informatif, esensial, kontekstual, berkesinambungan, serta mengoptimalkan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

    Modul ajar disusun secara sistematis dengan prinsip relevan, kontekstual, dan berkesinambungan. Seluruh komponen tersebut menjadi faktor penentu keberhasilan pembelajaran matematika di kelas.

    Setelah beberapa pertemuan, terlihat perubahan yang signifikan dalam proses pembelajaran.

    Kegiatan belajar tidak lagi berpusat pada tenaga pendidik, melainkan lebih banyak diisi dengan diskusi dan tanya jawab antarkelompok.

    Pada awal pembelajaran, penulis menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan motivasi kepada peserta didik.

    Ketika suasana kelas mulai jenuh, penulis menyisipkan ice breaking agar peserta didik kembali bersemangat.

    Kelompok yang telah terbentuk dapat memaksimalkan peran tutor sebaya.

    Peserta didik yang sudah memahami materi membantu teman sekelompoknya dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami.

    Hal ini membuat peserta didik lebih nyaman dan tidak sungkan untuk bertanya.

    Setelah tugas selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, sementara kelompok lain memberikan tanggapan.

    Apa pun hasil presentasinya, penulis selalu memberikan apresiasi sebagai bentuk penghargaan dan motivasi.

    Pada akhir pembelajaran, penulis memberikan kesimpulan dan elaborasi terhadap materi yang telah dipelajari.

    Hasilnya, sebelum penerapan metode tersebut, tingkat pemahaman peserta didik hanya sekitar sepuluh persen.

    Dari 36 peserta didik, hanya 4–5 orang yang benar-benar menguasai materi.

    Setelah metode pembelajaran diterapkan, tingkat pemahaman meningkat menjadi sekitar 70–80 persen, atau sekitar 27 peserta didik menunjukkan penguasaan materi yang lebih baik.

    Peningkatan ini juga tercermin dari nilai harian dan nilai rapor peserta didik yang semakin banyak mencapai dan melampaui KKM.

    Meskipun masih terdapat beberapa peserta didik yang belum tuntas, persentasenya jauh berkurang.

    Bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan, penulis memberikan pendampingan khusus dengan pendekatan yang lebih sederhana dan persuasif.

    Penulis juga meluangkan waktu untuk memberikan motivasi agar semangat belajar mereka tumbuh kembali.

    Pendampingan dilakukan secara konsisten hingga peserta didik mampu memahami materi sesuai dengan kemampuan masing-masing.

    Pesan yang dapat penulis ambil sebagai tenaga pendidik di SMK swasta dengan latar belakang peserta didik yang beragam adalah bahwa kunci utama dalam mendidik adalah keikhlasan lahir dan batin untuk menuntun segala potensi yang dimiliki peserta didik.

    Tugas pendidik adalah menuntun, bukan memaksa. Setiap anak memiliki kodrat dan keunikan masing-masing. Tidak ada istilah mengajari ikan untuk terbang atau burung untuk berenang.

    Guru hendaknya mampu menjadi sosok yang menginspirasi, memberikan teladan, dan menjadi pedoman hidup bagi peserta didiknya.

    Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Di tangan gurulah masa depan generasi bangsa dipertaruhkan.

    Daftar Pustaka

    • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Modul kerangka kurikulum: Prinsip pembelajaran dan asesmen. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2022). Prinsip dan prosedur alur tujuan pembelajaran. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    • Keluarga. (1936–1937). Dasar-dasar pendidikan. Th. I No. 1–4 (November–Desember 1936; Januari–Februari 1937).

    ✍️ Penulis adalah Guru di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Penulis Penerbit Lintang Banyuwangi dan Jurnalis Sastrawacana.