Blog

  • Keren! RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Luncurkan Program Unggulan Sectio Caesarea dengan ERACs “BERKAH”

    Keren! RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Luncurkan Program Unggulan Sectio Caesarea dengan ERACs “BERKAH”

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan yang inovatif dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

    Pada Kamis (9/10/2025), rumah sakit yang telah bekerjasama dengan berbagai instansi ini resmi meluncurkan program unggulan “Sectio Caesarea dengan ERACs BERKAH”, sebuah inovasi persalinan melalui operasi caesar dengan metode pemulihan cepat dan minim nyeri.

    Acara peluncuran berlangsung khidmat di aula rumah sakit, dihadiri oleh Ketua MPKU PCM Rogojampi Ir. Hudiono, Direktur RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi dr. Fuadi Shiham, Kabid Pelayanan Medis dr. Gita Putri Santoso, dan Kabag Administrasi dan Keuangan Nur Imron Rosyadi, S.E., M.M., dan para karyawan dari berbagai unit.

    Program Unggulan Sectio Caesarea dengan ERACs BERKAH

    Sebelum seremonial peluncuran program dimulai, kegiatan diawali dengan pengajian karyawan yang dipimpin oleh Ustaz Atok Fahludi, dengan tema memaknai rezeki sebagai ungkapan rasa syukur. Suasana hangat penuh refleksi mengiringi pembukaan acara tersebut.

    Usai pengajian, kegiatan berlanjut dengan sambutan dari Ketua MPKU PCM Rogojampi, Ir. Hudiono, yang menyampaikan apresiasinya terhadap langkah inovatif rumah sakit dalam menghadirkan layanan yang unggul.

    “Program ini adalah bentuk upaya nyata memberikan pelayanan yang excellent kepada masyarakat, terutama dalam kesehatan ibu dan anak. Saya mengapresiasi kerja keras tim marketing, pelayanan medis, dan seluruh jajaran yang telah bersinergi menyiapkan program ini,” ujar Hudiono.

    Ia juga menambahkan bahwa setiap inovasi di lingkungan PKU Muhammadiyah harus tetap mengedepankan profesionalitas serta nilai-nilai Islami sebagai wujud dakwah untuk kemaslahatan umat.

    Sementara itu, Direktur RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, dr. Fuadi Shiham, dalam sambutannya menjelaskan bahwa program ERACs BERKAH merupakan langkah maju dalam pelayanan obstetri modern.

    “Metode Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACs) memungkinkan ibu melahirkan dengan rasa nyeri minimal dan waktu pemulihan yang lebih cepat. Kami ingin para ibu bisa segera berkumpul dengan bayinya dalam kondisi yang aman dan nyaman,” jelas dr. Fuadi.

    Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa BERKAH merupakan akronim dari:

    B: bimbingan bunda terampil bayi sehat
    E: excellent service massage oxytocin pada ibu
    R: rawat kecantikan ibu pasca persalinan
    K: komplit dokumentasi momen persalinan sampai dapat akte kelahiran
    A: antar jemput pasien sampai dirumah
    H : hampers bayi yang menarik dan bermanfaat

    “Melalui konsep BERKAH ini, kami ingin menghadirkan layanan yang lengkap dan berkesan, mulai dari proses kelahiran hingga pendampingan pascaoperasi. Ini bukan hanya pelayanan medis, tetapi juga bentuk kasih sayang dan kepedulian,” tambahnya.

    Tak luput pula, Kabid Pelayanan Medis dr. Gita Putri Santoso menyampaikan bahwa ERACs BERKAH merupakan hasil kerja kolaboratif lintas unit yang telah dikaji matang sebelum akhirnya diluncurkan.

    “Program ini bukan hanya inovasi klinis, tetapi juga inovasi pelayanan. Kami berupaya menghadirkan pengalaman persalinan yang lebih nyaman, aman, dan penuh makna,” ujarnya.

    Dari sisi manajerial, Kabag Administrasi dan Keuangan Nur Imron Rosyadi, S.E., M.M. menekankan pentingnya sinergi dan efisiensi dalam pengelolaan layanan unggulan agar program ini berjalan lancar sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi pasien.

    “Kami mendukung sepenuhnya program ini agar dapat berjalan berkelanjutan, memberi manfaat luas bagi masyarakat, dan meningkatkan kepercayaan terhadap RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi,” terangnya.

    Peluncuran Program Unggulan Sectio Caesarea dengan ERACs BERKAH

    Acara peluncuran juga dimeriahkan dengan pemutaran video profil program unggulan, doa bersama, serta dilanjutkan dengan talkshow dan live streaming bertajuk “Operasi Caesar ala Artis Ibu Kota: Minimal Nyeri, Pulang Lebih Cepat”.

    Talkshow ini menghadirkan dr. Tresna Resmantara, Sp.An, dokter spesialis anestesi sekaligus penanggung jawab program ERACs di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, yang memaparkan lebih detail manfaat dan prosedur dari layanan ini.

    Di akhir sesi, Kasubag Marketing RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, Heri Iskandar, S.Ners, menegaskan bahwa inovasi yang terus dilahirkan oleh rumah sakit merupakan komitmen nyata dalam menjadikan RSU PKU sebagai pilihan utama masyarakat, khususnya di wilayah Banyuwangi.

    “Kami terus berupaya menghadirkan program-program unggulan yang tak hanya menjawab kebutuhan masyarakat, tapi juga membawa pembaruan dalam layanan kesehatan. Inovasi ini adalah bagian dari strategi kami untuk menjaga kepercayaan publik dan memperkuat posisi rumah sakit sebagai institusi layanan kesehatan yang unggul dan terpercaya,” ujar Heri.

    Heri Iskandar juga menambahkan bahwa seluruh inovasi yang diluncurkan merupakan bagian dari kontribusi aktif RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi dalam mewujudkan Indonesia Sehat.

    “Setiap program kami rancang untuk memberikan dampak positif yang nyata, baik secara klinis maupun emosional bagi pasien. Ini merupakan bentuk ikhtiar kami dalam mendukung visi besar menciptakan Indonesia yang lebih sehat, bermartabat, dan penuh kepedulian,” lanjutnya.

    Melalui program Sectio Caesarea dengan ERACs BERKAH, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi menegaskan diri sebagai rumah sakit yang terus berinovasi dalam pelayanan ibu dan anak, sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai Islami dalam setiap langkah pelayanannya.

  • Jelaskan menurut pemahaman anda, apa hubungan antara keimanan dan ketakwaan

    Jelaskan menurut pemahaman anda, apa hubungan antara keimanan dan ketakwaan

    Jelaskan menurut pemahaman anda, apa hubungan antara keimanan dan ketakwaan, serta berikan satu contoh nyata penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Jawaban:

    Keimanan dan ketakwaan memiliki hubungan yang sangat erat dan saling melengkapi.

    Keimanan adalah keyakinan yang kuat dalam hati terhadap Allah SWT, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk. Iman menjadi dasar spiritual dan pondasi utama bagi seorang muslim dalam berpikir dan bertindak.

    Sedangkan ketakwaan adalah wujud nyata dari keimanan itu sendiri dalam bentuk perbuatan. Takwa berarti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan rasa takut kepada-Nya.

    Dengan kata lain, iman adalah keyakinan dalam hati, sedangkan takwa adalah implementasinya dalam perbuatan.

    Contoh nyata penerapan:

    Seorang muslim yang beriman meyakini bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatannya. Keyakinan ini mendorongnya untuk bertakwa, misalnya dengan menjauhi korupsi atau kecurangan di tempat kerja meskipun tidak ada yang mengawasi. Ia sadar bahwa Allah selalu melihat, sehingga ia berusaha bekerja dengan jujur dan amanah.

    Jadi, keimanan menjadi dasar keyakinan, sedangkan ketakwaan adalah bukti nyata dari keyakinan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

  • Technical Meeting Festival Literasi Using SMP 2025 Digelar Secara Daring, Siap Lestarikan Bahasa dan Budaya Using

    Technical Meeting Festival Literasi Using SMP 2025 Digelar Secara Daring, Siap Lestarikan Bahasa dan Budaya Using

    Persiapan Festival Literasi Using SMP 2025 resmi dimulai dengan technical meeting atau rapat teknis secara daring melalui Zoom pada Rabu (8/10/2025), diikuti oleh panitia, juri, serta pendamping dari sekolah negeri dan swasta yang akan mengikutsertakan muridnya dalam gelaran bergengsi ini.

    Rapat teknis ini menjadi langkah awal untuk menyatukan pemahaman, membahas petunjuk teknis, serta memastikan seluruh rangkaian kegiatan festival berjalan lancar dan seragam di setiap cabang lomba.

    Sebagai informasi, Festival Literasi Using merupakan agenda tahunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang didukung MGMP Bahasa Using SMP, PKG SD serta Balai Bahasa Jawa Timur.

    Ketua MGMP Bahasa Using SMP, Yeti Chotimah menyampaikan bahwa festival ini sudah memasuki tahun kelima pelaksanaan.

    Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar lomba, melainkan ruang bagi siswa untuk mencintai bahasa dan budaya Using, identitas asli masyarakat Banyuwangi.

    “Selama lima tahun ini, Festival Literasi Using menjadi wadah bagi siswa SMP, baik negeri maupun swasta, untuk menunjukkan kecintaan mereka pada bahasa daerah. Tujuannya bukan hanya berlomba, tapi juga melestarikan warisan budaya Using,” ujary Yeti, yang siap memberikan informasi lebih lanjut melalui WhatsApp di 081336275599.

    Tahun ini, Festival Literasi Using akan digelar pada tanggal 1 November 2025 di SDN Model Banyuwangi. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 8 – 26 Oktober 2025 melalui link berikut ini https://bit.ly/FESTIVALUSING2025

    Sementara untuk grup peserta dapat bergabung melalui tautan ini: KLIK DI SINI.

    Ada tujuh kategori yang dilombakan, diantaranya Nulis Aksara (Menulis Kalimat Using), Nulis Cerpen, Moco Geguritan (Baca Puisi), Nembang (Menyanyi), Ngewer (Stand-up Comedy Using), dan Ndongeng (Bercerita) serta pidato.

    Setiap cabang dirancang untuk mengasah kemampuan siswa dalam menulis, membaca, dan menampilkan karya dalam bahasa Using dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.

    Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Didik Eko Wahyudi, S.Pd, memberikan apresiasi terhadap konsistensi MGMP Bahasa Using dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, festival tersebut menjadi wujud nyata dari upaya pelestarian bahasa daerah melalui jalur pendidikan.

    Suasana rapat teknis berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Sekitar 45 peserta yang terdiri dari panitia, juri, dan guru pendamping aktif berdiskusi, menyimak penjelasan juknis tiap cabang lomba, serta menyampaikan pertanyaan seputar aturan teknis.

    Terpisah, Affandi Maulana, pemimpin redaksi media online sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang menyatakan siap menjadi media partner dan merasa terhormat karena dilibatkan sebagai juri bersama dengan tokoh literasi dari komunitas literasi Gotongroyong ’45 serta Kopiwangi.

    Sarjana Sastra UNEJ ini menekankan pentingnya agar karya siswa tidak berhenti hanya di ajang lomba, tetapi terus berkembang dalam aktivitas literasi di dunia pendidikan maupun kehidupan masyarakat.

    "Karya-karya anak kita sebaiknya tidak hanya tampil di panggung festival, tapi juga diabadikan dalam bentuk buku antologi. Dengan begitu, semangat literasi Using bisa terus hidup dan menjadi warisan bagi generasi berikutnya," ujarnya.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd, selaku ketua komunitas Kopiwangi, turut mengapresiasi gelaran festival ini.

    Menurutnya, kegiatan seperti Festival Literasi Using sangat penting karena tidak hanya mengasah kemampuan siswa dalam menulis, membaca, dan menampilkan karya, tetapi juga menumbuhkan kecintaan mereka terhadap bahasa dan budaya Using, sehingga generasi muda tetap terhubung dengan warisan budaya daerahnya.

    Pertemuan daring yang berlangsung selama dua jam itu ditutup dengan sesi foto bersama, dimana seluruh peserta mengangkat simbol tangan literasi sebagai wujud komitmen untuk menjaga bahasa Using agar tetap hidup, digunakan, dan dicintai oleh para pelajar Banyuwangi di tengah arus zaman yang serba digital.

    Selain itu, muncul harapan agar Using kelak bisa diakui sebagai bahasa mandiri dengan identitasnya sendiri, bukan sekadar dipandang sebagai dialek, sehingga keberadaannya dapat terus dilestarikan dan berkembang di tengah masyarakat.

  • Daerah yang memenuhi sistem pertidaksamaan linear

    Daerah yang memenuhi sistem pertidaksamaan linear

    Daerah yang memenuhi sistem pertidaksamaan linear 3x + 4y ≤ 96 ; x + y ≤ 30 ; x ≥ 0 ; y ≥ 0 adalah ….

    A. I
    B. II
    C. III
    D. IV
    E. V​

    Jawaban:

    D. IV

    Pembahasan:

    Sistem pertidaksamaan yang harus dipenuhi adalah:

    • 3x+4y≤96
    • x+y≤30
    • x≥0
    • y≥0

    1. Menentukan Persamaan Garis Batas

    Terlebih dahulu kita identifikasi dua garis batas dari pertidaksamaan (1) dan (2) pada diagram.

    Garis 1: 3x+4y=96

    • Titik potong dengan sumbu X (saat y=0):
      3x+4(0)=96⟹3x=96⟹x=32. Titik: (32,0).
    • Titik potong dengan sumbu Y (saat x=0):
      3(0)+4y=96⟹4y=96⟹y=24. Titik: (0,24).

    Garis 2: x+y=30

    • Titik potong dengan sumbu X (saat y=0):
      x+0=30⟹x=30. Titik: (30,0).
    • Titik potong dengan sumbu Y (saat x=0):
      0+y=30⟹y=30. Titik: (0,30).

    Dari gambar:

    • Garis yang memotong sumbu X di (32,0) dan sumbu Y di (0,24) adalah garis yang lebih bawah/landai (melalui x=30 sedikit ke kanan, dan y=20 sedikit ke atas). Ini adalah garis 3x+4y=96.
    • Garis yang memotong sumbu X di (30,0) dan sumbu Y di (0,30) adalah garis yang lebih atas/curam (melalui x=30 persis, dan y=30 persis). Ini adalah garis x+y=30.

    2. Menentukan Daerah Himpunan Penyelesaian (DHP)

    A. Pertidaksamaan x≥0 dan y≥0

    Pertidaksamaan ini membatasi daerah hanya pada kuadran I (daerah di sebelah kanan sumbu Y dan di atas sumbu X). Ini berarti daerah I, II, dan V (yang jelas berada di kuadran I) dan sebagian dari III dan IV (yang juga di kuadran I) yang mungkin.

    B. Pertidaksamaan 3x+4y≤96

    Gunakan titik uji (0,0):
    3(0)+4(0)≤96⟹0≤96 (Benar).
    Karena titik (0,0) memenuhi, DHP untuk pertidaksamaan ini adalah daerah di bawah atau ke kiri dari garis 3x+4y=96.

    C. Pertidaksamaan x+y≤30

    Gunakan titik uji (0,0):
    0+0≤30⟹0≤30 (Benar).
    Karena titik (0,0) memenuhi, DHP untuk pertidaksamaan ini adalah daerah di bawah atau ke kiri dari garis x+y=30.

    3. Menentukan Irisan Daerah

    Daerah yang memenuhi semua pertidaksamaan harus:

    • Berada di kuadran I (x≥0 dan y≥0).
    • Berada di bawah garis 3x+4y=96.
    • Berada di bawah garis x+y=30.

    Mari kita tinjau daerah-daerah pada gambar:

    • Daerah V: Berada di atas garis x+y=30 (tidak memenuhi x+y≤30).
    • Daerah III: Terbatas di atas garis 3x+4y=96 (tidak memenuhi 3x+4y≤96).
    • Daerah II: Terbatas di bawah garis 3x+4y=96 tetapi berada di atas sumbu X dan berada di bawah garis x+y=30. Namun, Daerah II adalah daerah tak terbatas yang mencakup daerah di bawah kedua garis, tetapi juga dibatasi oleh garis 3x+4y=96 dan x+y=30 serta sumbu X.

    Lebih spesifik, jika kita perhatikan perpotongan garis:

    x+y=30 dan 3x+4y=96.

    Substitusi x=30−y ke 3x+4y=96: 3(30−y)+4y=96⟹90−3y+4y=96⟹y=6.

    Maka x=30−6=24. Titik potong adalah (24,6).

    • Daerah II, III, IV, V merupakan pembagian bidang oleh kedua garis.
    • Daerah yang memenuhi semua syarat (di bawah kedua garis dan di Kuadran I) adalah daerah yang diapit oleh kedua garis tersebut dan sumbu koordinat (sebelah kiri titik potong (24,6)).

    Daerah IV adalah satu-satunya daerah yang memenuhi secara visual:

    • Terletak di kuadran I (di atas sumbu X dan kanan sumbu Y).
    • Terletak di bawah garis x+y=30.
    • Terletak di bawah garis 3x+4y=96.

    Oleh karena itu, Daerah IV adalah himpunan penyelesaian.

  • Dissiptaka Barito Utara Terima Naskah Kuno Al-Qur’an Tulisan Tangan Karya Ulama Lokal

    Dissiptaka Barito Utara Terima Naskah Kuno Al-Qur’an Tulisan Tangan Karya Ulama Lokal

    Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dissiptaka) Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, menerima satu naskah kuno berharga berupa Al-Qur’an tulisan tangan lengkap dengan terjemahan karya ulama sekaligus penulis lokal, almarhum Muhammad Tasin.

    Kepala Dissiptaka Barito Utara, Fakhri Fauzi, menyampaikan apresiasinya atas penyerahan naskah bersejarah tersebut.

    “Kami apresiasi mendalam atas penyerahan naskah tersebut. Ini akan kami arsipkan dan lindungi dengan baik, serta kami usulkan untuk didaftarkan sebagai warisan budaya daerah,” ujarnya.

    Menurut Fakhri, naskah karya ulama besar dari masa lampau itu memiliki nilai historis, intelektual, dan spiritual yang tinggi.

    Keberadaannya menjadi bagian penting dari pelestarian khazanah keagamaan dan kebudayaan masyarakat Barito Utara.

    Dissiptaka juga berencana melakukan kajian mendalam terhadap isi dan kondisi naskah, sekaligus menyiapkan digitalisasi agar dapat diakses masyarakat tanpa merusak dokumen aslinya.

    “Kami juga segera mengusulkan naskah ini ke tingkat nasional agar dapat memperoleh Sertifikat Naskah Kuno dari instansi berwenang di Jakarta. Langkah ini penting untuk memastikan perlindungan jangka panjang terhadap naskah bersejarah ini,” tambahnya.

    Penyerahan naskah dilakukan oleh Afu Anwar, seorang penghulu di KUA Kecamatan Teweh Tengah. Menurut Fakhri, langkah ini mencerminkan sinergi antara tokoh masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga warisan literasi Islam di Kalimantan Tengah.

    Naskah Al-Qur’an tulisan tangan yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun tersebut akan dipamerkan pada ajang MTQH tingkat Provinsi Kalimantan Tengah di Muara Teweh pada November 2025, sekaligus dijadikan koleksi museum Kabupaten Barito Utara yang tengah direncanakan pendiriannya.

    Berdasarkan data hasil pertemuan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan se-Kalimantan Tengah tahun ini, Kabupaten Kotawaringin Barat saat ini tercatat memiliki koleksi naskah kuno terbanyak.

    Sementara Barito Utara terus berupaya memperkaya koleksinya, termasuk dua naskah lain yang tengah diajukan sertifikasi, yaitu naskah khutbah Hari Raya di Masjid Jami Abdurrahim dan surat permohonan pendirian rumah dari masa kolonial Belanda.

    Dengan bertambahnya koleksi Al-Qur’an tulisan tangan karya Muhammad Tasin, Dissiptaka berharap kesadaran masyarakat terhadap pelestarian warisan sejarah dan literasi keagamaan lokal semakin meningkat, terutama di kalangan generasi muda Barito Utara.

    Source: Antara

  • Tingkatkan Literasi, DAPD Buleleng Perluas Jangkauan Layanan Perpustakaan Keliling

    Tingkatkan Literasi, DAPD Buleleng Perluas Jangkauan Layanan Perpustakaan Keliling

    Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Kabupaten Buleleng terus melakukan berbagai inovasi untuk memperluas akses literasi masyarakat melalui program “Lan Eling” (Layanan Perpustakaan Keliling).

    Program ini menjadi upaya nyata menghadirkan bahan bacaan yang mudah dijangkau oleh masyarakat, terutama di wilayah pelosok, guna menumbuhkan minat baca di semua lapisan.

    Kepala DAPD Buleleng, Made Era Oktarini, menjelaskan bahwa Lan Eling merupakan bentuk layanan jemput bola, di mana petugas perpustakaan mendatangi langsung sekolah, desa, dan kecamatan yang jauh dari perpustakaan daerah.

    “Tidak semua masyarakat memiliki waktu dan akses datang ke perpustakaan daerah. Karena itu, kami yang mendatangi mereka. Dengan layanan keliling ini, buku-buku hadir di tengah masyarakat,” jelasnya.

    Saat ini, DAPD Buleleng mengoperasikan dua unit mobil dan satu sepeda motor layanan keliling, dengan kendaraan roda dua merupakan hibah dari Perpustakaan Nasional tahun 2025.

    Koleksi yang dibawa mencapai lebih dari 21 ribu eksemplar buku, ditambah 500 buku baru hasil hibah tersebut.

    Layanan ini beroperasi secara bergilir ke seluruh wilayah Buleleng, mulai dari Tejakula hingga Gerokgak, dengan prioritas utama sekolah dasar dan desa terpencil.

    “Kami menyusun jadwal rutin agar semua wilayah mendapatkan giliran. Untuk anak-anak TK dan PAUD di Kecamatan Buleleng, kami bekerja sama dengan Dinas Perhubungan dan Undiksha untuk program antar-jemput menggunakan bus sekolah,” tambahnya.

    Kegiatan perpustakaan keliling ini tidak hanya mengenalkan anak-anak pada buku sejak dini, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

    Bahkan, banyak siswa TK yang berkunjung ke Perpustakaan Bung Karno enggan pulang karena antusias mengikuti kegiatan belajar sambil bermain.

    Program Lan Eling juga sejalan dengan konsep transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, di mana aktivitas membaca dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

    Salah satu contohnya adalah kelompok Laklak Kelor, yang berhasil mengintegrasikan literasi dengan pemberdayaan ekonomi lokal dan menjadi nominasi nasional dalam bidang tersebut.

    Selain itu, DAPD Buleleng terus mendorong percepatan akreditasi perpustakaan desa dan sekolah agar layanan baca semakin berkualitas.

  • Gedung Layanan Perpustakaan Baru Pontianak Segera Diresmikan

    Gedung Layanan Perpustakaan Baru Pontianak Segera Diresmikan

    Pembangunan Gedung Layanan Perpustakaan baru yang dikerjakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Pontianak di Jalan Ampera, tepat di samping SMA Negeri 8 Pontianak, kini telah memasuki tahap akhir.

    Gedung tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada bulan Desember 2025 atau paling lambat awal tahun 2026.

    Menurut Rendrayani, Gedung Layanan Perpustakaan ini terdiri dari tiga lantai dengan luas bangunan yang memadai, menjadikannya lebih representatif untuk kegiatan perpustakaan.

    Fasilitas yang disediakan juga lebih lengkap, mencakup layanan anak, perpustakaan umum, ruang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), ruang rapat, hingga ruang serba guna yang diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk berkunjung.

    Ia juga menuturkan bahwa ke depan, Disperpusip berencana menambah studio mini di gedung tersebut.

    “Jadi, ada space-space khusus, misalnya untuk layanan anak, layanan perpustakaan umum, ruang TIK, ruang rapat, ruang serba guna. Dan kami rencanakan juga ke depannya akan ada studio mini untuk di Gedung Layanan Perpustakaan,” terangnya.

    Rendrayani berharap hadirnya gedung baru ini dapat menjadi daya tarik baru bagi masyarakat Pontianak serta mampu meningkatkan minat baca dan kunjungan ke perpustakaan umum di kota tersebut.

  • DKPUS Babel Terima Hibah Buku dari Sekretariat DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

    DKPUS Babel Terima Hibah Buku dari Sekretariat DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

    Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKPUS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menerima kunjungan kedinasan dari Sekretariat DPRD Prov. Kep. Babel pada Rabu (8/10/2025).

    Kunjungan ini bertujuan untuk menyerahkan hibah buku kepada Perpustakaan Daerah sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap peningkatan budaya literasi di daerah.

    Sebanyak 108 judul dengan total 109 eksemplar buku diserahkan langsung oleh Plt. Kepala Sekretariat DPRD Prov. Kep. Babel, Dedy Apriandy, SE, MM, kepada Kepala DKPUS Prov. Kep. Babel yang diwakili oleh Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan, Rinaldy, S.T., M.Si., didampingi sejumlah pustakawan.

    Dalam kesempatan tersebut, Dedy Apriandy menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud sinergi antarinstansi pemerintah dalam mendukung program Perpustakaan Nasional Tahun 2025 serta program Gubernur Kep. Babel yang berfokus pada penguatan budaya literasi dan peningkatan minat baca masyarakat.

    Ia berharap hibah buku ini dapat memperkaya koleksi Perpustakaan Daerah, memperluas akses informasi, serta menjadi sarana edukatif bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Melalui langkah kecil seperti ini, diharapkan semangat membaca dan menulis terus tumbuh di tengah masyarakat Bangka Belitung, sehingga budaya literasi dapat menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

    Source: dkpus.babelprov.go.id

  • Mengenal Dokter Geriatri, Spesialis Kesehatan untuk Lansia

    Mengenal Dokter Geriatri, Spesialis Kesehatan untuk Lansia

    Penuaan penduduk adalah salah satu perubahan demografis paling dramatis abad ini. Jumlah orang berusia 60 tahun ke atas terus meningkat di seluruh dunia.

    Bahkan, organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2030 satu dari enam orang di dunia akan berusia 60 tahun atau lebih, dan pada pertengahan abad populasi lanjut usia akan jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

    Perubahan ini membawa konsekuensi besar pada sistem kesehatan, seperti beban penyakit kronis meningkat, kebutuhan perawatan jangka panjang bertambah, dan masalah terkait fungsionalitas, kemandirian, serta kualitas hidup menjadi prioritas.

    Di sinilah peran dokter geriatri menjadi krusial, karena bukan hanya mengobati penyakit, tetapi mengelola kompleksitas kesehatan yang khas pada lansia.

    Baca juga: Mengenal Apa Itu Etiket Biru dalam Dunia Skincare dan Bahayanya

    Apa Itu Dokter Geriatri?

    Dokter geriatri atau yang sering disebut geriatrician adalah dokter yang memperoleh pelatihan khusus untuk merawat orang lanjut usia.

    Mereka dilatih untuk memahami bagaimana penuaan mempengaruhi fungsi tubuh dan pikiran, bagaimana penyakit kronis saling berinteraksi, dan bagaimana obat-obatan dapat berdampak berbeda pada tubuh yang menua.

    Berbeda dari spesialis tunggal yang fokus pada satu organ atau penyakit, geriatri bersifat multidimensional, yakni menilai aspek medis, fungsional, kognitif, psikososial, dan lingkungan pasien secara terpadu untuk merancang rencana perawatan yang menjaga kemandirian dan kualitas hidup.

    Ringkasnya, tujuan utama geriatri adalah menjaga fungsi agar orang tua tetap hidup seproduktif dan seaman mungkin, bukan sekadar memperpanjang umur.

    Yang membedakan geriatri dari sebagian besar cabang kedokteran adalah fokus pada fungsi dan tujuan hidup pasien.

    Penilaian geriatrik komprehensif (Comprehensive Geriatric Assessment/ CGA) adalah alat sentral: CGA mencakup evaluasi medis, fungsi fisik (mis. kemampuan berjalan, naik-turun tangga), kognisi (memori, perhatian), status emosional, dukungan sosial, dan lingkungan tempat tinggal.

    Hasil CGA digunakan untuk merancang intervensi yang sering bersifat praktis, misalnya rekomendasi terapi fisik, penyesuaian obat, modifikasi rumah untuk mencegah jatuh, atau pengaturan layanan perawatan di rumah.

    Keputusan pengobatan juga lebih sering mempertimbangkan trade-off antara manfaat jangka panjang dan risiko jangka pendek (mis. operasi besar pada pasien yang rentan mungkin membawa risiko kehilangan fungsi lebih besar daripada manfaatnya).

    Apa Saja Peran Dokter Geriatri?

    Peran seorang dokter geriatri sangat luas dan mencakup berbagai aspek. Beberapa peran utama mereka antara lain:

    1. Menangani penyakit kompleks pada lansia

    Lansia sering mengalami lebih dari satu penyakit sekaligus, misalnya hipertensi, diabetes, radang sendi, dan gangguan memori. Dokter geriatri membantu mengelola semua kondisi itu secara bersamaan, sehingga pengobatan lebih terkoordinasi dan tidak tumpang tindih.

    2. Mengatasi polifarmasi (banyak obat)

    Banyak orang tua minum 5 sampai 10 jenis obat setiap hari. Ini meningkatkan risiko interaksi obat, efek samping, bahkan risiko jatuh. Dokter geriatri terlatih untuk mengevaluasi obat-obatan, mengurangi yang tidak perlu, dan menyesuaikan dosis agar lebih aman.

    3. Mencegah dan menangani sindrom geriatrik

    Sindrom geriatrik adalah kumpulan masalah kesehatan khas lansia, seperti jatuh berulang, kebingungan mendadak (delirium), inkontinensia (sulit menahan kencing), dan penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Dokter geriatri berfokus pada pencegahan dan penanganan masalah ini.

    4. Menilai fungsi fisik dan kognitif

    Tidak semua lansia punya kondisi kesehatan yang sama. Ada yang sehat, ada yang rapuh (frail). Dokter geriatri menilai kemampuan berjalan, ingatan, konsentrasi, dan kondisi emosional untuk menyesuaikan perawatan yang sesuai.

    5. Membantu keluarga dalam pengambilan keputusan

    Lansia kadang sulit mengambil keputusan medis sendiri. Dokter geriatri berperan sebagai pendamping keluarga untuk menjelaskan pilihan pengobatan, risiko, dan manfaatnya, sehingga keputusan yang diambil sesuai dengan keinginan dan kondisi pasien.

    Ruang Lingkup Praktek dan Peran Klinis

    Peran klinis geriatrian sangat luas. Geriatrician mengevaluasi lansia dengan keluhan umum seperti penurunan mobilitas, kelelahan kronis, penurunan memori, inkontinensia, dan risiko jatuh.

    Mereka juga menangani masalah kompleks seperti polifarmasi (penggunaan banyak obat), sindrom geriatrik (mis. delirium, jatuh, inkontinensia, gangguan makan), serta menilai kapasitas fungsional dan kognitif untuk keperluan keputusan medis dan perencanaan perawatan.

    Selain itu, geriatrician sering menjadi koordinator tim multidisiplin yang bekerja bersama perawat, fisioterapis, apoteker, pekerja sosial, dan spesialis lain untuk mengharmoniskan pengobatan, meminimalkan risiko obat, dan memaksimalkan fungsi sehari-hari pasien.

    Mereka juga berperan dalam perencanaan perawatan paliatif, keputusan akhir hayat, dan rehabilitasi pasca-rawat inap.

    Pendidikan dan Sertifikasi

    Jalur untuk menjadi dokter geriatri berbeda antar negara, tetapi ada pola umum, seperti menyelesaikan pendidikan kedokteran dasar, kemudian mengikuti program residensi (biasanya di bidang penyakit dalam atau kedokteran keluarga) dan selanjutnya mengikuti fellowship atau pelatihan spesifik di geriatrik yang minimal berdurasi sekitar 1 tahun pada banyak negara.

    Di Amerika Serikat, misalnya, calon geriatrician biasanya harus memenuhi persyaratan residensi internal medicine atau family medicine, lalu menyelesaikan fellowship geriatric medicine sebelum memperoleh sertifikasi tambahan.

    Selama pelatihan, mereka mempelajari penilaian fungsional, manajemen multimorbiditas, deprescribing (pengurangan obat yang tidak perlu), pencegahan dan penanganan delirium, serta pendekatan rehabilitatif untuk lansia.

    Standar dan kurikulum dikembangkan oleh asosiasi geriatrik profesional untuk memastikan kompetensi yang sesuai.

    Baca juga: 5 Obat Herbal Asam Urat yang Aman dan Ampuh, Wajib Coba Sebelum Minum Obat Kimia!

    Model Layanan dan Integrasi dengan Sistem Kesehatan

    Layanan geriatrik dapat diberikan di berbagai tempat, mulai dari poliklinik rawat jalan, rumah sakit (unit geriatrik), pusat rehabilitasi, dan layanan kunjungan rumah.

    Model efektif sering kali adalah tim multidisiplin yang terkoordinasi, dimana geriatrician sebagai pemimpin klinis bersama perawat geriatrik, apoteker, fisioterapis, dan pekerja sosial.

    Di beberapa negara, layanan transisi (mis. follow-up intensif setelah pulang dari rumah sakit) terbukti mengurangi readmisi dan memperbaiki fungsi.

    Selain itu, pelatihan tenaga kesehatan primer dalam prinsip dasar geriatrik penting untuk memperluas cakupan layanan, karena jumlah geriatrician sering kali tidak sebanding dengan kebutuhan lansia di banyak negara.

    Tantangan yang Sering Dihadapi Dokter Geriatri

    Merawat lansia bukanlah hal yang sederhana. Lansia adalah kelompok usia dengan kondisi yang unik: tubuh mereka mengalami perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang saling berkaitan.

    Itu sebabnya dokter geriatri menghadapi tantangan yang berbeda dibanding dokter spesialis lain. Beberapa tantangan utama yang sering muncul antara lain:

    1. Frailty (Kerapuhan Fisik dan Fungsional)

    Frailty atau kerapuhan adalah kondisi di mana tubuh lansia menjadi sangat rentan terhadap stres ringan.

    Pada orang muda, flu atau infeksi saluran kencing mungkin hanya menyebabkan gejala ringan. Tetapi pada lansia yang rapuh, infeksi kecil bisa membuat mereka terbaring di tempat tidur, kehilangan nafsu makan, bahkan menurunkan kemampuan berjalan.

    Frailty bukan hanya soal otot yang melemah, tetapi melibatkan kombinasi berbagai faktor: penurunan massa otot (sarkopenia), kurang gizi, penurunan cadangan energi, serta melemahnya sistem kekebalan tubuh.

    Kondisi ini membuat lansia lebih mudah jatuh, lebih lama sembuh setelah sakit, dan memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.

    Tantangan bagi dokter geriatri adalah mengenali tanda-tanda awal frailty, karena semakin cepat dideteksi, semakin besar peluang untuk melakukan intervensi seperti latihan fisik, perbaikan nutrisi, hingga terapi rehabilitasi.

    Sayangnya, banyak pasien lansia baru datang ke dokter setelah kondisi sudah parah, sehingga ruang untuk memperbaiki kualitas hidup menjadi terbatas.

    2. Delirium dan Gangguan Kognitif

    Delirium adalah kondisi kebingungan mendadak yang sering muncul pada lansia, terutama ketika mereka dirawat di rumah sakit.

    Pasien bisa tiba-tiba gelisah, tidak mengenali keluarga, atau berhalusinasi. Kondisi ini berbahaya karena dapat meningkatkan risiko jatuh, memperlambat proses penyembuhan, dan bahkan meningkatkan angka kematian.

    Tantangan terbesar adalah delirium sering disalahartikan sebagai “pikun” biasa. Padahal, delirium berbeda dengan demensia.

    Delirium muncul secara tiba-tiba dan bisa bersifat sementara jika penyebabnya ditangani, misalnya dehidrasi, infeksi, atau efek samping obat.

    Dokter geriatri dituntut untuk jeli mencari pemicu delirium, sekaligus melibatkan tim medis dan keluarga agar penanganan berjalan cepat.

    Selain delirium, lansia juga sering menghadapi penurunan fungsi otak jangka panjang seperti demensia atau Alzheimer.

    Ini menambah kerumitan, karena pasien mungkin sulit mengikuti instruksi medis, lupa minum obat, atau mengalami perubahan perilaku yang menyulitkan keluarga.

    Peran dokter geriatri di sini bukan hanya mengobati, tetapi juga memberikan edukasi kepada caregiver agar lebih siap menghadapi perubahan perilaku pasien.

    3. Masalah Sosial dan Emosional

    Tidak bisa dipungkiri, banyak lansia menghadapi kesepian. Setelah pensiun, mereka kehilangan rutinitas sehari-hari.

    Ketika pasangan hidup atau teman-teman sebaya mulai berpulang, rasa kehilangan bisa semakin dalam. Kondisi ini sering memicu depresi atau gangguan kecemasan.

    Bagi dokter geriatri, tantangan ini sangat besar karena kesehatan mental berhubungan langsung dengan kesehatan fisik.

    Lansia yang depresi lebih rentan jatuh sakit, lebih sulit mengikuti terapi, dan sering mengalami penurunan imunitas tubuh.

    Selain itu, kondisi sosial juga berpengaruh. Tidak semua lansia memiliki keluarga yang siap mendampingi. Ada yang hidup sendiri, ada yang bergantung pada tetangga atau panti jompo.

    Dalam situasi ini, dokter geriatri harus bekerja sama dengan pekerja sosial, perawat, bahkan komunitas untuk memastikan pasien tidak terabaikan.

    Artinya, tugas dokter geriatri tidak berhenti di ruang periksa, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan empati.

    4. Keterbatasan Jumlah Tenaga Ahli

    Tantangan lain yang tak kalah besar adalah jumlah dokter geriatri yang masih sangat terbatas, terutama di Indonesia.

    Padahal, populasi lansia terus meningkat setiap tahun. Artinya, kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga ahli semakin lebar.

    Di banyak kota kecil atau daerah terpencil, hampir tidak ada dokter geriatri. Akibatnya, pasien lansia tetap ditangani oleh dokter umum atau spesialis organ yang mungkin belum terbiasa menghadapi kompleksitas kesehatan lansia.

    Misalnya, pasien dengan diabetes, jantung, dan demensia mungkin mendapat banyak obat dari tiga spesialis berbeda, tanpa koordinasi yang baik. Risiko interaksi obat dan efek samping pun meningkat.

    Selain kekurangan jumlah, distribusi tenaga juga menjadi masalah. Sebagian besar dokter geriatri masih terkonsentrasi di kota besar, sedangkan daerah dengan jumlah lansia tinggi justru minim layanan.

    Tantangan ini hanya bisa diatasi dengan kebijakan nasional yang serius, mulai dari pendidikan, insentif, hingga penguatan layanan kesehatan primer berbasis komunitas.

    5. Polifarmasi dan Efek Samping Obat

    Salah satu tantangan yang selalu dihadapi dokter geriatri adalah polifarmasi, yaitu penggunaan banyak obat sekaligus.

    Lansia dengan penyakit kronis bisa saja mengonsumsi 6–10 jenis obat setiap hari. Semakin banyak obat, semakin besar risiko interaksi, overdosis, atau efek samping yang justru memperburuk kondisi pasien.

    Misalnya, obat tidur yang diberikan untuk membantu insomnia bisa menyebabkan pusing dan meningkatkan risiko jatuh.

    Atau obat tekanan darah tertentu bisa membuat pasien terlalu lemah hingga sulit beraktivitas.

    Di sinilah keahlian dokter geriatri sangat dibutuhkan, mereka belajar seni deprescribing, mengurangi obat yang tidak perlu dan menyesuaikan dosis sesuai kebutuhan nyata pasien.

  • Apa Nama Zona Waktu yang Dimiliki Gugusan Pulau Nusa Tenggara dan Pulau Sulawesi?

    Apa Nama Zona Waktu yang Dimiliki Gugusan Pulau Nusa Tenggara dan Pulau Sulawesi?

    Gugusan pulau Nusa Tenggara (Bali, NTB, NTT) dan pulau Sulawesi berada pada Zona Waktu Indonesia Tengah (WITA) dengan perbedaan waktu +8 jam dari GMT/UTC.

    Pulau-pulau di gugusan Nusa Tenggara yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), serta wilayah Pulau Sulawesi, termasuk ke dalam pembagian waktu resmi Indonesia yang dikenal dengan Zona Waktu Indonesia Tengah (WITA).

    Zona waktu ini memiliki selisih +8 jam terhadap Greenwich Mean Time (GMT+8) atau UTC+8. Artinya, ketika di London menunjukkan pukul 12.00 siang, maka di wilayah yang menggunakan WITA sudah menunjukkan pukul 20.00 malam.

    Penetapan zona waktu ini diatur pemerintah untuk menyeragamkan aktivitas masyarakat di berbagai daerah, terutama agar tidak terjadi kekacauan dalam urusan administrasi, transportasi, komunikasi, hingga kegiatan ekonomi.

    WITA mencakup daerah yang secara geografis berada di bagian tengah Indonesia, sehingga letaknya berada di antara WIB (Waktu Indonesia Barat, GMT+7) dan WIT (Waktu Indonesia Timur, GMT+9).

    Oleh karena itu, masyarakat di Nusa Tenggara dan Sulawesi sehari-hari menggunakan WITA sebagai acuan dalam menentukan jam kerja, jam sekolah, kegiatan sosial, maupun penyesuaian jadwal penerbangan dan pelayaran antar daerah.

    Dengan pembagian waktu ini, Indonesia yang terbentang luas dari barat hingga timur tetap dapat menjaga keteraturan dalam berbagai aktivitas meskipun terpisah oleh ribuan kilometer.