Blog

  • Kompetisi Aswaja Online 2025 Sukses Digelar, Diikuti 1.208 Peserta se-Banyuwangi

    Kompetisi Aswaja Online 2025 Sukses Digelar, Diikuti 1.208 Peserta se-Banyuwangi

    Gelaran Kompetisi Aswaja Online (KAO) 2025 tingkat MI/SD se-Kabupaten Banyuwangi berlangsung sukses dan penuh semangat.

    Kegiatan yang dipusatkan di SMK Gajah Mada Banyuwangi pada Sabtu, 18 Oktober 2025, ini diikuti oleh 1.208 peserta dari berbagai madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar di seluruh Banyuwangi.

    Dari ribuan peserta tersebut, sebanyak 99 finalis berhasil melaju ke babak akhir dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam memahami makna, sejarah, dan tokoh-tokoh Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

    Kompetisi ini menjadi ajang penting bagi siswa untuk memperdalam nilai-nilai keaswajaan sekaligus menumbuhkan semangat intelektual yang berakar pada tradisi keislaman.

    Acara dibuka secara resmi oleh Gus Fatan, yang hadir mewakili Ketua PCNU Kabupaten Banyuwangi. Dalam sambutannya, Gus Fatan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

    Ia juga berjanji akan mengajak para juara bertemu langsung dengan Bupati Banyuwangi dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2025.

    Kompetisi Aswaja Online 2025 Banyuwangi

    “Anak-anak yang berprestasi di ajang ini patut diberi ruang apresiasi. Mereka adalah generasi penerus yang akan menjaga nilai-nilai Aswaja di masa depan,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Panitia KAO 2025, M. Haris Jamroni, M.Pd.I., yang juga merupakan Kepala MIN 1 Banyuwangi, menjelaskan bahwa kompetisi ini tidak sekadar lomba akademik, tetapi sarana edukatif untuk mengenalkan pemahaman Aswaja secara kontekstual.

    “Soal-soal disusun agar peserta berpikir kritis dan mampu mengaitkan ajaran Aswaja dengan realitas kehidupan sehari-hari,” terangnya.

    Hal senada disampaikan oleh Ketua PERGUNU Banyuwangi, Drs. H. Wijanarko, M.Pd., selaku penggagas kegiatan dan Kepala SMK Gajah Mada.

    Ia menuturkan, ajang ini bukan hanya perlombaan, tetapi juga wahana silaturahmi dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.

    Kegiatan KAO 2025 terselenggara berkat dukungan sejumlah pihak, di antaranya LP Ma’arif NU, Bank Syariah Indonesia (BSI), BMPS, PGRI, serta Travel Umrah dan Haji Kubah Hijau.

    Dukungan tersebut menjadi bentuk nyata sinergi lintas lembaga dalam memperkuat pendidikan berbasis nilai-nilai Aswaja di Banyuwangi.

    Adapun para juara Kompetisi Aswaja Online (KAO) 2025 adalah sebagai berikut:

    Juara I: Syifa Mufida Zahrani (MI Darul Amin Gambiran)

    Juara II: Keenar Amabel Fitriyani (MI Miftahul Huda Pondok Nongko Kabat)

    Juara III: Fatin Arfadhia Sholihah (MIN 1 Banyuwangi)

    Kategori Harapan:

    Harapan I: Moza Alya Kirana (SDN Kepatihan)

    Harapan II: Aulada Hafizah Ramadhani (MIN 1 Banyuwangi)

    Harapan III: Ahmad Hadziq El Haddho (MIN 3 Banyuwangi)

    Selain menyabet beberapa gelar juara, MIN 1 Banyuwangi juga dinobatkan sebagai madrasah dengan peserta terbanyak dalam ajang KAO 2025.

    Para pemenang menerima tropi, piagam penghargaan, uang pembinaan, serta voucher umrah senilai dua juta rupiah sebagai bentuk apresiasi atas prestasi mereka.

    Acara ditutup dengan penuh hikmah oleh Dewan Pakar PERGUNU Banyuwangi, H. Zaqy Mubarok, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya melestarikan nilai-nilai Aswaja di kalangan generasi muda.

    “Aswaja bukan hanya ajaran, tapi juga karakter. Melalui ajang seperti ini, kita menanamkan nilai cinta tanah air dan moderasi beragama sejak dini,” pesannya.

    Dengan terselenggaranya Kompetisi Aswaja Online 2025 ini, Banyuwangi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah yang aktif menggerakkan pendidikan keagamaan berbasis tradisi Aswaja.

    Semangat keilmuan dan kebersamaan yang tampak di ajang ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai Aswaja terus hidup dan berkembang di hati para pelajar muda.

  • KOPIWANGI Meriahkan Bulan Bahasa dengan Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong

    KOPIWANGI Meriahkan Bulan Bahasa dengan Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong

    Momen bulan bahasa kali ini berdeba dengan tahun sebelumnya. Launching buku antologi “Gotong Royong” pada hari Jumat (17/10) di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi menjadi tanda komitmen KOPIWANGI untuk terus berkarya dan berkiprah serius di dunia literasi.

    Acara launching buku antologi “Gotong Royong” ini bersamaan dengan launching buku “Lamunan Seorang Wartawan” karya Ricky Sulivan. Dimana kisahnya diangkat dari perjalanan Ricky yang berprofesi sebagai seorang wartawan.

    Buku antologi “Gotong Royong” ini merupakan kolaborasi antara penerbit Lintang Banyuwangi dengan KOPIWANGI dan Komunitas Gotong Royong. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya dimana penulisnya merupakan anggota KOPIWANGI.

    Butuh proses panjang bisa menerbitkan buku antologi “Gotong Royong” ini. Sebagai bekal penulis mendapat pelatihan sebanyak dua kali secara daring lewat aplikasi zoom.

    Pelatihan pertama materi dasar tentang menulis puisi dan pentigraf berbahasa Indonesia dan Using. Pelatihan kedua peserta lebih banyak berdiskusi dengan narasumber tentang karya yang ditulis sampai selesai. Untuk selanjutnya dilakukan kurasi karya.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan
    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (Dok. sastrawacana.id/)

    Beberapa narasumber pelatihan menulis, diantaranya Yeti Chotimah ketua MGMP SMP Bahasa Using, Heri Iskandar Sastrawan Using dan Andi Budi Setiawan sastrawan sekaligus ketua KOPIWANGI dengan Koordinator kurasi karya Muhammad Iqbal Baras.

    Acara peluncuran dipandu oleh Maria Ulfa dari Kopiwangi dan dibuka secara resmi oleh Maulana Affandi, S.S., Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ selaku media partner.

    Dalam sambutannya, Affandi menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam menyukseskan peluncuran buku tersebut.

    Ia menegaskan, sinergi antara penerbit, komunitas literasi, dan para penulis merupakan cerminan nyata bahwa semangat menulis dan berkarya di Banyuwangi terus berkembang dan tidak pernah padam.

    Pada kesempatan berikutnya, Lina Kamalin, M.Pd, selaku penasihat KOPIWANGI, menyampaikan bahwa terselenggaranya kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi yang harmonis antara penulis dan komunitas dalam menumbuhkan semangat literasi.

    “Buku Antologi Gotong Royong lahir dari perjalanan panjang yang melibatkan banyak pihak dengan kepedulian mendalam terhadap dunia literasi. Dari proses penulisan hingga penerbitan, setiap langkah dijalani dalam semangat kolaborasi, saling mendukung, dan tumbuh bersama. Karena itu, buku ini tidak sekadar menghimpun karya tulis, melainkan menjadi wujud nyata bahwa kebersamaan dapat menumbuhkan karya bermakna bagi Banyuwangi.” ujarnya.

    Lina Kamalin berharap, dalam beberapa bulan ke depan karya yang tengah digarap dapat segera rampung. Dengan demikian, tahun mendatang diharapkan menjadi momen peluncuran karyanya, agar dapat dinikmati dan menginspirasi para pembaca.

    Selanjutnya dilakukan seremonial penyerahan buku antologi “Gotong Royong” dan “Lamunan Seorang Wartawan” kepada pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Perpusda) Banyuwangi. Penyerahan tersebut diwakili oleh Yusuf Khoiri, disusul oleh Lina Kamalin yang mewakili KOPIWANGI, serta Iqbal Baras sebagai perwakilan kurator.

    “Terima kasih kepada Penerbit Lintang Banyuwangi yang telah menghibahkan kedua buku ini kepada Perpusda, sehingga dapat dinikmati oleh pembaca, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional melalui tautan e-book yang telah kami sediakan di laman https://ebookbanyuwangi.id,” jelas Yusuf Khoiri di sela-sela sambutannya.

    Saimah Veteran

    Selain peluncuran buku, acara turut dimeriahkan oleh berbagai penampilan peserta.
    Saimah, seorang veteran perdamaian, membacakan puisi karyanya berjudul Masa Transisi dengan suara tegas dan penuh penghayatan, membuat suasana aula hening dan haru.

    Penampilan berikutnya datang dari Afina Alana Qolbi, siswi MI Darun Najah 2 Banyuwangi, yang membawakan dongeng Legenda Banyuwangi dengan gaya bertutur khas anak-anak, menghidupkan kembali kisah klasik daerah.

    Dalam sesi diskusi, Ricky Sulivan menjelaskan bahwa Lamunan Seorang Wartawan lahir dari pengalaman pribadinya selama bertahun-tahun sebagai jurnalis. Ia mengungkapkan, banyak jurnalis yang kehilangan arah di tengah tekanan pekerjaan, antara tuntutan kecepatan dan akurasi dengan idealisme serta nilai kemanusiaan yang sering terabaikan. Buku ini, lanjutnya, menjadi bentuk refleksi atas kegelisahan tersebut.

    Dua panelis, Yeti Chotimah dan Andi Budi Setiawan, S.Pd., memaparkan pandangan mereka tentang penerbitan Antologi Gotong Royong. Keduanya sepakat, buku ini tidak hanya untuk memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, tetapi juga menjadi wujud kolaborasi antarpenulis dan komunitas literasi di Banyuwangi.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd., menekankan pentingnya menjadikan literasi sebagai gerakan sosial berkelanjutan.

    “Literasi tidak boleh berhenti pada peluncuran buku atau lomba menulis saja, tetapi perlu kesinambungan dan dukungan antarpegiat agar ekosistemnya terus tumbuh,” ungkapnya.

    Yeti menegaskan, semangat utama penerbitan ini adalah membangkitkan kembali gairah menulis di kalangan generasi muda.

    “Kami ingin anak-anak muda terus menulis, membaca, dan mencintai literasi di daerahnya. Semangat gotong royong adalah jantung gerakan ini,” ujarnya.

    Sebagai penutup, kurator sekaligus tokoh literasi, Iqbal Baraas yang merupakan dosen Universitas Ibrahimy menyampaikan apresiasinya. Ia menilai karya para penulis Banyuwangi semakin matang, baik dari segi tema maupun teknik penulisan.

    Menurutnya, puisi menjadi media kuat untuk mengekspresikan kegelisahan batin, di mana penyair menuangkan perasaan, kekhawatiran, atau keresahan jiwa melalui rangkaian kata yang indah dan imajinatif.

    Tema kegelisahan, tambahnya, kerap muncul dalam puisi dan sering digambarkan lewat simbol alam maupun pergulatan batin penyair.

    Sementara itu, apresiasi juga disampaikan oleh Mujiono, S.H., Thomas Raharto, dan Drs. Jaenuri NZ. Ketiganya berharap kegiatan literasi seperti ini terus berlanjut agar literasi menjadi gerakan yang tumbuh di tengah masyarakat, bukan sekadar wacana.

    Peluncuran dua buku ini menjadi bukti bahwa semangat literasi di Banyuwangi tidak pernah padam, khususnya bagi KOPIWANGI yang hingga kini telah menerbitkan tiga buku, yakni Lentera di Pengujung Asa (Maret 2024), Pena Sang Surya (Juli 2024), dan Antologi Gotong Royong (Oktober 2025). Seluruh karya tersebut sejalan dengan slogan “Bergerak Bersama Majukan Literasi Banyuwangi.”

  • Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan Warnai Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan Warnai Bulan Bahasa di Banyuwangi

    Bertepatan dengan momentum Bulan Bahasa, dua buku baru, yaitu Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan resmi diluncurkan di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Banyuwangi pada Jumat (17/10).

    Kegiatan yang digagas oleh Penerbit Lintang Banyuwangi, Komunitas Gotong Royong 45, dan Kopiwangi ini dihadiri oleh puluhan pegiat literasi, penulis, akademisi, serta perwakilan dari berbagai instansi pemerintah.

    Peluncuran dua buku tersebut mendapat sambutan positif. Selain menjadi ruang temu antarkomunitas, acara ini juga menegaskan semangat kolaborasi dalam memperkuat tradisi menulis di Banyuwangi.

    Dua buku yang diluncurkan memiliki karakter berbeda namun sama kuat secara pesan.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (3)

    Antologi Gotong Royong berisi kumpulan puisi dan pentigraf dua bahasa (Indonesia–Using) yang ditulis oleh puluhan penulis Banyuwangi, termasuk penyair difabel.

    Sementara Lamunan Seorang Wartawan karya Ricky Sulivan merupakan novel fiksi yang mengangkat realitas profesi jurnalis di lapangan.

    Acara peluncuran dipandu oleh Maria Ulfa dari Kopiwangi dan dibuka secara resmi oleh Maulana Affandi, S.S., Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ selaku media partner.

    Dalam sambutannya, Affandi menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan peluncuran buku tersebut.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, mulai dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, Dinas Kominfo, Komunitas Gotong Royong 45, Kopiwangi, hingga para penulis yang telah berkontribusi melahirkan karya,” ujarnya.

    Ia menambahkan, kolaborasi antara penerbit, komunitas literasi, dan para penulis menjadi bukti bahwa semangat menulis dan berkarya di Banyuwangi masih terus tumbuh.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh Lina Kamalin, M.Pd., selaku penasihat Kopiwangi. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menunjukkan kekuatan sinergi antarpenulis dan komunitas.

    “Lahirnya Buku Antologi Gotong Royong ini merupakan cerminan dari proses panjang kolaborasi banyak pihak yang memiliki kepedulian terhadap dunia literasi. Setiap tahap, mulai dari penulisan hingga penerbitan, dijalani dengan semangat saling mendukung dan belajar bersama. Proses itulah yang membuat buku ini tidak hanya menjadi kumpulan tulisan, tetapi juga simbol nyata bagaimana kebersamaan dapat melahirkan karya yang bermakna bagi Banyuwangi,” ujarnya.

    Peluncuran Buku Antologi Gotong Royong dan Lamunan Seorang Wartawan (4)

    Sambutan selanjutnya disampaikan oleh pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi H. Yusuf Khoiri yang menyampaikan bahwa pihaknya terus membuka ruang bagi kegiatan literasi publik.

    “Aula ini terbuka untuk siapa pun yang ingin menggelar kegiatan serupa. Kami ingin tempat ini menjadi ruang bersama bagi para pegiat literasi, penulis, maupun komunitas yang ingin berbagi gagasan dan karya. Buku Antologi Gotong Royong juga sudah kami unggah ke perpustakaan digital agar dapat diakses oleh masyarakat luas, semoga bisa menginspirasi banyak orang,” jelasnya.

    Selain peluncuran buku, acara juga dimeriahkan oleh sejumlah penampilan dari para peserta.

    Salah satunya datang dari Saimah, seorang veteran perdamaian yang membacakan puisi karyanya sendiri berjudul Masa Transisi.

    Saimah Veteran

    Dengan suara yang tegas namun sarat penghayatan, ia berhasil memikat perhatian. Suasana aula seketika hening, diiringi keharuan dan empati yang terasa menyelubungi ruangan.

    Penampilan dilanjutkan oleh Afina Alana Qolbi, siswi MI Darun Najah 2 Banyuwangi yang membawakan dongeng Legenda Banyuwangi. Dengan gaya bertutur khas anak-anak, ia berhasil menghidupkan kembali kisah klasik yang menjadi identitas daerah.

    Memasuki sesi diskusi, Ricky Sulivan menjelaskan bahwa Lamunan Seorang Wartawan ditulis berdasarkan pengalaman nyata selama bertahun-tahun menjadi jurnalis.

    “Saya melihat banyak rekan seprofesi yang kehilangan arah di tengah tekanan pekerjaan. Di satu sisi, jurnalis dituntut untuk cepat dan akurat, namun di sisi lain, nilai-nilai idealisme dan kemanusiaan juga sering terpinggirkan. Dari kegelisahan itu, buku ini lahir sebagai refleksi,” tuturnya.

    Sementara itu, dua panelis, Yeti Chotimah dan Andi Budi Setiawan, S.Pd, memaparkan pandangan mereka tentang penerbitan Antologi Gotong Royong.

    Keduanya sepakat bahwa buku ini hadir bukan hanya untuk memeriahkan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, tetapi juga sebagai bentuk nyata kolaborasi antarpenulis dan komunitas literasi di Banyuwangi.

    Yeti Chotimah menjelaskan, semangat utama dari penerbitan buku ini adalah menghidupkan kembali gairah menulis di kalangan generasi muda.

    “Kami ingin anak-anak muda terus menulis, membaca, dan menumbuhkan kecintaan terhadap literasi di daerahnya masing-masing. Semangat gotong royong adalah jantung dari gerakan ini,” ujar Yeti.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd, menekankan pentingnya menjadikan kegiatan literasi sebagai bagian dari gerakan sosial yang berkelanjutan.

    “Literasi tidak boleh berhenti di acara peluncuran buku atau lomba menulis semata. Harus ada kesinambungan, ruang belajar, dan dukungan antarpegiat agar ekosistemnya tetap tumbuh,” kata Andi.

    Menjelang akhir acara, sejumlah kurator dan tokoh literasi memberikan apresiasi. Iqbal Baraas, dosen Universitas Ibrahimy, yang menilai bahwa karya para penulis Banyuwangi semakin matang, baik secara tema maupun teknik penulisan.

    Apresiasi juga disampaikan oleh Mujiono, S.H., Thomas Raharto, dan Drs. Jaenuri NZ. Mereka menilai kegiatan semacam ini perlu terus digelar agar literasi tidak hanya menjadi wacana, tetapi gerakan yang hidup di tengah masyarakat.

    Acara ditutup dengan doa bersama dan sesi foto para penulis, kurator, dan tamu undangan.

    Peluncuran dua buku ini menjadi bukti bahwa semangat literasi Banyuwangi tidak pernah padam, melainkan terus tumbuh melalui kolaborasi dan kerja gotong royong.

  • Sinergi STIKES Banyuwangi dan FBS Bangkitkan Semangat UKS/M di Blimbingsari

    Sinergi STIKES Banyuwangi dan FBS Bangkitkan Semangat UKS/M di Blimbingsari

    Kesadaran untuk menghidupkan kembali program Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) yang kini banyak hanya tinggal nama kembali digelorakan oleh Tim Promotor UKS STIKES Banyuwangi.

    Kegiatan ini digelar di Aula Satkordikwilcam Blimbingsari pada Kamis (16/10/2025), hasil kolaborasi antara STIKES Banyuwangi, Forum Banyuwangi Sehat (FBS), dan Pembina UKS Kecamatan Blimbingsari.

    Dalam sambutannya saat membuka acara, Kasi PMK Kecamatan Blimbingsari, Abdul Aziz, SH, MH, menyinggung sejumlah isu seperti mutasi camat, digitalisasi perlindungan sosial, dan musrenbang desa.

    Ia menekankan pentingnya menciptakan wilayah Blimbingsari yang aman, nyaman, dan sehat.

    Hal itu dapat diwujudkan dengan menghidupkan kembali program UKS/M di seluruh lembaga pendidikan, yang laporannya disampaikan ke Kantor Kecamatan untuk disinergikan dengan Puskesmas serta para pemangku kepentingan.

    Sementara itu, Aguk Wahyu Nuryadi dari FBS menjelaskan bahwa regulasi UKS merupakan hasil Surat Keputusan Bersama (SKB) empat kementerian.

    Kegiatan UKS dapat didukung oleh dana BOS dan PSM, dengan kepengurusan yang melibatkan komite sekolah, Puskesmas, dan pemangku wilayah.

    Ia menambahkan, UKS maupun program Adiwiyata termasuk indikator penting dalam penilaian Pendidikan Sehat guna mendukung Kabupaten Sehat.

    Paparan materi diawali oleh Intan Nur Wahyuni Ngsih, S.Pd, SD, Pembina UKS SDN 1 Watukebo, yang memaparkan profil dan prestasi sekolahnya sebagai jawara Gerakan Sekolah Sehat.

    “Kami tegas soal kebersihan lingkungan dan toilet, namun mengajar tetap menyenangkan di kelas. Kader Tiwisada dan dokter kecil juga dengan sopan menegur tamu, bahkan guru, yang merokok di lingkungan sekolah,” ujarnya.

    Ia juga menambahkan bahwa situs Watukebo telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui SK Bupati yang mendukung pengembangan Geopark Ijen.

    Kepala SDN 1 Watukebo, Umi Masrohatin, S.Pd, SD, berharap melalui pembinaan dari FBS dan Pembina UKS dapat diadakan sarana-prasarana pengelolaan sampah serta kantin sehat.

    Hal ini sebagai persiapan karena sekolahnya akan mewakili Kabupaten Banyuwangi dalam lomba tingkat Provinsi Jawa Timur.

    Dari Tim Pembina UKS Kabupaten yang juga Pengurus PKK Kabupaten, Pipit Haryono, S.Kep, M.Pd, menyampaikan bahwa SDN 1 Watukebo dapat menjadi studi tiru ideal bagi lembaga pendidikan di wilayah Blimbingsari, Kabat, Rogojampi, hingga Songgon.

    “Monggo, kepala sekolah bisa mengirim guru calon pembina UKS untuk mengikuti pelatihan dua hari di Watukebo dalam waktu dekat agar program UKS ini lebih serius dijalankan. Selanjutnya, bina kader dari siswa untuk siswa, baik dokter kecil maupun Kelompok Kesehatan Remaja,” ujarnya.

    Sesi berikutnya diisi oleh Desika Ulfatunisa, S.Kep, yang memimpin yel-yel “Sehat dimulai dari saya” sebelum menampilkan paparan tentang langkah-langkah pembentukan UKS.

    Ia menjelaskan pentingnya penerbitan SK Kepala Sekolah, penyusunan program, serta kegiatan monitoring. Ia juga mendorong pelibatan Puskesmas dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan kapasitas SDM.

    “Minimal ada kader 10 persen dari jumlah murid di setiap lembaga pendidikan untuk menjalankan program UKS. Maksimalkan pula potensi intra dan ekstrakurikuler guna mendukung UKS agar menjadi budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang menjadi karakter lembaga pendidikan,” tuturnya.

    Desika juga memberikan nomor kontak WhatsApp bagi peserta yang ingin mengundang atau mengunjungi praktik baik di STIKES Banyuwangi, yang berlokasi di Jalan Letkol Istiqlal.

  • Sastra Lisan Nyambei dari Rejang Lebong Resmi Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional

    Sastra Lisan Nyambei dari Rejang Lebong Resmi Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional

    Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah menetapkan sastra lisan Nyambei dari Rejang Lebong sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia 2025. Keputusan ini diumumkan dalam Sidang Penetapan WBTB 5–11 Oktober 2025 di Jakarta.

    Bupati Rejang Lebong, H. M. Fikri Thobari, menyatakan kebanggaannya atas pengakuan nasional tersebut. Ia menyebut bahwa penghargaan ini merupakan hasil dari proses panjang dan penilaian komprehensif.

    Menurutnya, pencapaian ini semoga memicu semangat masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya daerah.

    Pemkab Rejang Lebong akan mendorong agar Nyambei dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal.

    Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Zakaria, menegaskan bahwa pengakuan tersebut menegaskan bahwa budaya Nyambei adalah milik masyarakat Rejang Lebong.

    Ia menambahkan bahwa pihaknya akan menggelar lomba Nyambei di tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, bahkan nasional sebagai salah satu cara mempertahankannya.

    Zakaria juga menyatakan bahwa upaya pengusulan Nyambei sebagai warisan budaya takbenda nasional menunjukkan komitmen daerah dalam melestarikan nilai-nilai budaya lokal.

    Selain pelestarian, langkah ini juga diharapkan mendukung visi Rejang Lebong sebagai destinasi wisata budaya.

    Sekilas Tentang Nyambei

    Nyambei adalah tradisi sastra lisan tradisional masyarakat Rejang yang sudah ada sejak zaman dahulu, sebelum pengaruh luar merambah ke wilayah Bengkulu bagian tengah.

    Dalam sejarahnya, Nyambei digunakan sebagai hiburan dalam acara adat dan hajatan masyarakat, terutama sebagai forum berbalas pantun, perkenalan, serta ekspresi emosional melalui untaian bahasa yang penuh makna.

    Uniknya, bahasa yang digunakan dalam Nyambei merupakan perpaduan berbagai unsur bahasa daerah, termasuk pengaruh bahasa Jawa.

    Pertunjukan biasanya diiringi alat musik tradisional, seperti kulintang “jenggung”, menciptakan suasana akrab di malam perkampungan Rejang.

    Dalam tradisi lisan masyarakat Rejang, dikenal istilah pengela (pembuka syair) dan andak (penutup dengan irama berbeda).

    Menariknya, tradisi Nyambei pernah tercatat dalam karya William Marsden The History of Sumatra (1785), yang menunjukkan bahwa tradisi ini telah berlangsung lebih dari dua abad.

    Meski perannya kini sering menyertai pertunjukan seni tari tradisional, semangat Nyambei tetap hidup sebagai simbol keindahan bahasa, kecerdasan lokal, dan romantika budaya Rejang yang terus dijaga.

    Sumber: rejanglebongkab

  • Raih Penghargaan Nobel Sastra 2025, Pria ini Justru Menganggap Dapat ‘Bencana’

    Raih Penghargaan Nobel Sastra 2025, Pria ini Justru Menganggap Dapat ‘Bencana’

    Keputusan Akademi Swedia menganugerahkan Nobel Sastra 2025 kepada László Krasznahorkai, novelis asal Hungaria, justru berujung pada pernyataan tak biasa.

    Alih-alih bersyukur, penulis berusia 61 tahun itu menyebut penghargaan paling bergengsi di dunia sastra tersebut sebagai “bencana”.

    Krasznahorkai menerima kabar kemenangannya saat berada di Frankfurt, Jerman, Kamis malam (9/10) waktu setempat.

    Dalam wawancara via telepon dengan pihak Akademi Swedia, ia mengaku terkejut dan menyamakan momen itu dengan reaksi penulis legendaris Samuel Beckett ketika menerima Nobel.

    “Ini lebih dari sekadar bencana. Saya teringat Samuel Beckett yang juga menyebut penghargaan ini sebagai bencana ketika menerimanya,” ujar Krasznahorkai dikutip dari situs resmi Nobel Prize.

    Meski menyebutnya bencana, penulis Sátántangó itu tetap mengungkapkan rasa bangga dan bahagia karena bisa sejajar dengan para sastrawan besar dunia.

    Ia juga menegaskan pentingnya tetap menggunakan bahasa asli Hungaria dalam karya-karyanya.

    “Saya bangga menulis dengan bahasa kecil seperti bahasa Hongaria. Saya berterima kasih kepada para pembaca yang selalu setia,” katanya.

    Krasznahorkai juga mengajak masyarakat untuk terus membaca dan berfantasi, karena menurutnya, imajinasi adalah sumber kekuatan di masa sulit.

    “Membaca memberi kita kekayaan batin dan kekuatan untuk bertahan hidup,” ujarnya.

    Soal karya terbarunya, Krasznahorkai memilih untuk tidak membocorkan apa pun sebelum buku tersebut diterbitkan.

    “Saya tidak pernah membicarakan apa yang sedang saya tulis. Saat waktunya tiba, saya akan memulai kembali dengan karya yang lebih baik dari sebelumnya,” tambahnya.

    László Krasznahorkai lahir pada 1964 di kota kecil Gyula, Hungaria tenggara, dekat perbatasan Rumania.

    Daerah pedesaan itu menjadi latar bagi novel debutnya, Sátántangó, yang terbit pada 1985 dan langsung menjadi fenomena sastra di Hungaria.

    Karya tersebut menggambarkan kehidupan penduduk miskin di sebuah pertanian kolektif menjelang runtuhnya rezim komunis.

    Sumber:

  • DPR Dukung Sastra Lokal Masuk Kurikulum, Upaya Perkuat Identitas Budaya Daerah

    DPR Dukung Sastra Lokal Masuk Kurikulum, Upaya Perkuat Identitas Budaya Daerah

    Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendukung agar sastra lokal, seperti sastra khas Tegal di Jawa Tengah, dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

    Menurut Fikri, upaya tersebut penting untuk memperkuat identitas daerah sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal.

    “Semarak Budaya itu mempunyai makna satu perlindungan budaya. Jadi, Tegal itu punya kekhasan Jawa tetapi berbeda, bukan Sunda tetapi Jawa, Nah, bahasanya saja berbeda, kemudian nanti ada budaya-budaya lain seperti tari dan sebagainya,” kata Fikri.

    Dukungan itu disampaikan dalam kegiatan Rembuk Budaya Tegal yang digelar di Pelataran Sastra Piek Ardiyanto Supriyadi, Kota Tegal.

    Acara tersebut merupakan bagian dari masa reses anggota DPR, hasil kerja sama antara DPR RI dan Kementerian Kebudayaan RI, dengan tujuan merawat serta mengembangkan kekayaan budaya lokal.

    Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan seniman, budayawan, dan generasi muda itu diharapkan menjadi momentum memperkuat karakter budaya Tegal.

    Fikri berharap kekayaan lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan secara kreatif agar tetap relevan.

    Legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX, yang meliputi Kabupaten dan Kota Brebes serta Tegal, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

    “Pemajuan budaya harus mencakup empat pilar utama, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan,” ungkapnya.

    Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa kementeriannya terus memberikan dukungan terhadap subsektor yang berkaitan dengan pemajuan kebudayaan.

    “Begitu juga dukungan kepada komunitas dalam berbagai bentuk baik sarana-prasarana, dukungan dalam berbagai macam event, festival-festival internasional. Misalnya, kita hampir hadir di semua festival film internasional dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan sebagian mempunyai prestasi, sebagian besar kita mendapatkan pencapaian. Begitu juga untuk seni dan juga ekspresi budaya lain,” ujar Fadli Zon.

    Fadli menjelaskan bahwa perhatian kementeriannya tidak hanya terfokus pada bidang seni, tetapi juga mencakup manuskrip, bahasa, sastra, pangan tradisional, permainan rakyat, olahraga tradisional, dan berbagai unsur budaya lainnya.

    Sumber: Antara

  • Festival Sastra Banggai ke-9 Resmi Dibuka dengan Tema Simpul Kesembilan Merajut Kata

    Festival Sastra Banggai ke-9 Resmi Dibuka dengan Tema Simpul Kesembilan Merajut Kata

    Yayasan Babasal Mombasa resmi membuka Festival Sastra Banggai (FSB) ke-9 tahun 2025 dengan tema “Simpul Kesembilan Merajut Kata” pada Rabu (15/10/2025) di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong, Luwuk.

    Acara pembukaan dihadiri oleh Wakil Bupati Banggai Drs. Furqanuddin Masulilli, MM, didampingi Kapolres Banggai dan sejumlah Kepala OPD Kabupaten Banggai.

    Turut hadir pula Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI Bidang Diplomasi Budaya & Hubungan Internasional, Nisa Ringganis, serta Direktur Pengembangan Budaya Digital, Andi Syamsurizal, yang sekaligus membuka kegiatan FSB ke-9 secara resmi.

    Tahun ini, Festival Sastra Banggai telah mencapai simpul kesembilan sejak pertama kali digelar. Kegiatan ini akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2025, menghadirkan berbagai kelas program, pameran seni, hingga pementasan teatrikal.

    Direktur FSB, Ama Gaspar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan Festival Sastra Banggai ke-9 berjalan beriringan dengan Akademi Sastra Banggai ke-3.

    “Dua kegiatan ini masing-masing didukung oleh Dana Indonesiana, LPDP, Manajemen Talenta Nasional, & Penguatan Festival Sastra Nasional Kementerian Kebudayaan.” Ujar Direktur FSB.

    Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Banggai Ir. H. Amirudin, SP., MM atas dukungan penuh terhadap terselenggaranya FSB tahun ini, serta berharap kegiatan tersebut terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

    Dalam sambutannya, Wakil Bupati Banggai Furqanuddin Masulilli menegaskan bahwa Festival Sastra Banggai bukan sekadar ajang perayaan karya sastra, tetapi juga ruang ekspresi, refleksi, dan pelestarian identitas budaya.

    Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan RI atas dukungannya terhadap penguatan literasi budaya di Banggai.

    “Kami berterima kasih kepada Kementerian Kebudayaan RI atas dukungan dan perhatian terhadap upaya penguatan literasi budaya,” paparnya.

    Sementara itu, Direktur Pengembangan Budaya Digital, Andi Syamsurizal, menjelaskan bahwa pada tahun 2025 pihaknya meluncurkan program penguatan ekosistem sastra sebagai upaya menyatukan berbagai elemen penting dalam dunia sastra Indonesia.

    “Program penguatan komunitas sastra diinisiasi oleh Direkturat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan. Program ini berfokus mendorong berlangsungnya festival-festival sastra di berbagai daerah secara lebih berkelanjutan dan terkoneksi satu sama lain.” terangnya.

    Menurutnya, FSB telah berhasil menjadi ruang dialog penting bagi perkembangan sastra dan kebudayaan nasional, menjadikan Banggai sebagai salah satu lokus sastra penting di Indonesia.

    Malam pembukaan FSB 2025 turut diramaikan oleh sejumlah penulis ternama Indonesia, di antaranya Aan Mansyur, Dee Lestari, Eka Kurniawan, Eko Triono, dan Henry Manampiring. Mereka akan berbagi pengalaman dan mengisi berbagai sesi selama festival berlangsung.

    Menariknya, di wilayah Sulawesi hanya terdapat dua festival sastra besar yang konsisten digelar, yakni Makassar International Writers Festival (MIWF) di Fort Rotterdam Makassar, dan Festival Sastra Banggai di RTH Teluk Lalong, Luwuk.

    Acara pembukaan ditutup dengan prosesi pemukulan gong sebagai tanda dimulainya festival, serta penampilan memukau dari penyanyi solo Pusakata.

    Source: banggainews

  • Pelayanan Prima RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Wujudkan Kepuasan dan Kepercayaan Pasien

    Pelayanan Prima RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Wujudkan Kepuasan dan Kepercayaan Pasien

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien.

    Upaya peningkatan pelayanan prima ini diwujudkan melalui sikap ramah tenaga kesehatan, sistem pelayanan yang cepat dan responsif, serta penerapan teknologi medis yang semakin modern.

    Salah satu wujud peningkatan pelayanan tersebut terlihat pada layanan operasi katarak modern, yang kini menjadi pilihan unggulan bagi masyarakat.

    Pada Selasa (14/10), perawat Irzam Beni, Amd.Kep, tampak dengan sabar mendampingi pasien pascaoperasi katarak di depan ruang apotek.

    Sembari menyerahkan obat, Beni aktif memberikan penjelasan rinci mengenai cara perawatan setelah operasi agar proses penyembuhan berjalan dengan baik.

    “Kami selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien. Karena itu, kami tekankan pentingnya mengikuti anjuran dokter agar kondisi pasien cepat pulih,” terangnya.

    Ia juga menjelaskan bahwa sebelum menjalani operasi, setiap pasien wajib melewati serangkaian pemeriksaan ketat, mulai dari skrining tekanan darah, tes laboratorium, hingga pemeriksaan tambahan lain untuk memastikan kondisi tubuh aman dan siap operasi.

    Prosedur operasi katarak di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi kini menggunakan teknik fakoemulsifikasi, yaitu metode modern yang memanfaatkan energi ultrasonik untuk memecah dan menyedot lensa mata yang keruh menjadi fragmen-fragmen kecil, kemudian menggantikannya dengan lensa buatan.

    Proses operasi ini hanya memakan waktu sekitar 15 menit per pasien, dengan masa pemulihan yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Dalam waktu kurang dari satu minggu, penglihatan pasien biasanya sudah kembali jelas dan normal.

    Terpisah, Kasubag Marketing RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, Heri Iskandar, S.Kep, menjelaskan bahwa seluruh inovasi layanan yang dilakukan merupakan bagian dari komitmen rumah sakit untuk memberikan pengalaman terbaik bagi pasien.

    “Kami terus berupaya menghadirkan pelayanan yang cepat, ramah, dan profesional. Harapannya, setiap pasien yang datang ke RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi tidak hanya sembuh secara medis, tetapi juga pulang dengan rasa puas dan percaya kepada kami,” ujarnya.

    Dengan semangat pelayanan yang tulus dan berorientasi pada kepuasan pasien, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi terus berbenah untuk memberikan layanan kesehatan terbaik bagi masyarakat.

    Kemudian, mtenaga medis yang profesional, fasilitas modern, serta pendekatan yang humanis, rumah sakit ini berupaya menjadi pilihan utama masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman, nyaman, dan bermutu.

  • Peluncuran Buku Sangang Puluh Sanga (99) Karya Jaenuri, Upaya Menghidupkan Bahasa Using Lewat Sastra

    Peluncuran Buku Sangang Puluh Sanga (99) Karya Jaenuri, Upaya Menghidupkan Bahasa Using Lewat Sastra

    Suasana haru dan semarak mewarnai peluncuran buku puisi berbahasa Using bertajuk “Sangang Puluh Sanga (99)”, karya Drs. Ir. Jainuri, NZ, M.Pd yang digelar di LKP TMB Elit, Lemahbang Dewo, Sabtu (12/10).

    Buku Sangang Puluh Sanga (99) merupakan karya ketiga Jainuri dalam genre puisi berbahasa Using, setelah sebelumnya ia menerbitkan Guritan Telu Likur (23) dan Guritan Suwidak Siji (61).

    Ketiga buku tersebut membentuk semacam trilogi yang memperlihatkan konsistensi dan dedikasi Jainuri dalam menghidupkan bahasa Using melalui sastra.

    Acara yang dipandu oleh Nikmatur Rosyida ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dan pegiat seni budaya.

    Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd, M.M; Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Drs. Hasan Basri; Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si; budayawan sekaligus Ketua Kiling Using, Aekanu Hariyono; serta perwakilan dari berbagai komunitas literasi dan seni, termasuk komunitas sastra Kopiwangi.

    Para peserta yang hadir berasal dari beragam elemen, mulai dari pengajar, pegiat literasi, seniman, budayawan, serta mahasiswa dan pelajar yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap peluncuran buku ini.

    Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd.,  M.M, memberikan apresiasi mendalam terhadap karya Jainuri. Ia bahkan membacakan salah satu puisi dari buku tersebut yang berjudul “Guru”.

    “Inilah hasil kristalisasi intuisi yang kemudian dijadikan karya. Sebuah proses kreatif yang tidak bisa diraih secara instan,” ungkapnya.

    Ia menambahkan, “Jika seseorang bisa terus melahirkan karya, berarti orang itu luar biasa. Apalagi jika karya itu mampu menginspirasi dan mengangkat budaya lokal seperti yang dilakukan Pak Jainuri.”

    Sementara itu, dalam testimoni, Aekanu Hariyono, budayawan Banyuwangi yang juga Ketua Kiling Using, menyampaikan bahwa kehadiran buku Sangang Puluh Sanga (99) menjadi oase dalam upaya pelestarian budaya daerah, khususnya bahasa Using.

    “Karya ini bisa digunakan untuk nguri-nguri Bahasa Using agar tetap hidup di kalangan generasi muda. Ini penting agar anak-anak kita tidak kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

    Apresiasi tertulis juga datang dari Ketua DKB, Drs. Hasan Basri. Ia menilai buku puisi Using karya Jainuri memiliki kompleksitas yang tinggi, bukan hanya dari sisi bahasa, tetapi juga tema-tema yang diangkat.

    Acara peluncuran buku juga dimeriahkan oleh berbagai penampilan seni, salah satunya penampilan Avila, murid MI Islamiyah Rogojampi, yang membawakan dongeng berjudul Sritanjung Hidup Lagi.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si, turut memberikan testimoni. Ia berharap karya ini dapat menjangkau lebih luas generasi muda.

    “Pak Jaenuri menginspirasi kita semua. Buku ini bisa menjadi jendela budaya. Anak-anak muda Banyuwangi harus tahu bahwa bahasa Using itu kaya, dan puisi adalah cara indah untuk menyampaikannya,” tegas Taufik.

    Sementara itu, Ketua komunitas Kopiwangi, Andi Budi Setiawan, yang juga dikenal sebagai penyair puisi, turut memberikan apresiasi dengan peluncuran buku puisi ini.

    “Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan tonggak sejarah bagi perkembangan literasi lokal. Kita perlu mendukung lebih banyak karya seperti ini agar semangat berkarya tidak pernah padam, khususnya dalam bahasa ibu kita sendiri,” kata Andi.

    Buku Sangang Puluh Sanga (99) berisi 99 puisi yang seluruhnya ditulis dalam bahasa Using.

    Sebuah usaha nyata dari Jainuri untuk memperkenalkan kembali keindahan bahasa lokal kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus mendokumentasikannya dalam bentuk karya sastra yang dapat dinikmati lintas generasi.

    Acara peluncuran ini bukan hanya menjadi ajang perayaan karya sastra, tetapi juga ruang temu dan diskusi lintas komunitas tentang pentingnya menjaga budaya dan bahasa daerah di tengah arus globalisasi.