Blog

  • Empat Tahun Lumpuh, Aripin Warga Desa Kedaleman Rogojampi Uji Kesabaran Keluarga

    Empat Tahun Lumpuh, Aripin Warga Desa Kedaleman Rogojampi Uji Kesabaran Keluarga

    Hidup penuh perjuangan kini dirasakan oleh Aripin (48), warga RT 03/02 Dusun Krajan, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi.

    Sejak empat tahun lalu ia mengalami kelumpuhan setelah terjatuh dari atap toko saat bekerja sebagai kuli bangunan.

    "Awalnya saya jatuh di tempat kerja. Beberapa hari kemudian, kaki dan tangan saya tidak bisa digerakkan, sampai sekarang," ungkap Aripin dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di rumahnya, Minggu (31/8).Ia sudah ikhtiar medis dan alternatif.

    Terpantau, kondisi Aripin hanya bisa terbaring di tempat tidur dengan tangan dan kaki yang tidak mampu digerakkan.

    Situasi ini tentu tidak mudah bagi keluarganya, namun sang istri, Mutamaroh, tetap sabar mendampingi dan merawatnya.

    Kini, kebutuhan rumah tangga ditopang dari penghasilan istri yang bekerja sebagai tukang jahit pakaian.

    Sementara putri tunggalnya Firda bekerja di Toko Cinta depan Kantor Kecamatan Rogojampi. Diinformasikan pula jika owner Cinta juga kerap membantu keluarga Aripin.

    Aripin dikenal sebagai sosok aktif dalam kegiatan keagamaan di desanya. Ia merupakan penggerak pengajian rutin mingguan di Dusun Krajan sebelum mengalami musibah yang merubah kehidupannya.

    "Saya sudah berobat ke mana-mana, tapi belum ada hasilnya. Dari kantor balai desa sudah pernah mendapatkan bantuan. Saat mengkonsumsi obat dari Shin She ada sedikit perubahan, namun harganya lumayan mahal,” tuturnya.

    Harapan besar ia sampaikan kepada pemerintah maupun lembaga sosial untuk bisa mendapatkan bantuan pengobatan agar kondisinya bisa pulih seperti sedia kala. Ia juga butuh tempat pembaringan mekanik seperti di rumah sakit serta kursi roda 3 in 1.

    Keprihatinan juga datang dari salah satu tokoh masyarakat setempat, Maulana Affandi yang turut berusaha untuk mencarikan solusi ke sejumlah lembaga dan dinas sosial untuk memberikan perhatian sebagaimana sesuai harapan Aripin.

    Affandi menilai Aripin layak mendaat perhatian serius. Ia menilai bahwa kondisi yang dialami Aripin bukanlah persoalan ringan yang bisa dibiarkan begitu saja.

    Sebagai sosok yang selama ini dikenal aktif dalam kegiatan masyarakat dan keagamaan, Aripin sudah banyak memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya.

    Karena itu, ketika kini Aripin harus berjuang dengan keterbatasan fisik akibat kelumpuhan, sudah seharusnya perhatian serius diberikan kepadanya.

    "Saya pribadi merasa prihatin melihat kondisi Pak Aripin. Beliau dulu sangat aktif dalam kegiatan masyarakat dan keagamaan. Sekarang, ketika beliau dalam keadaan sulit, sudah seharusnya kita yang ada di sekelilingnya ikut hadir untuk memberikan dukungan, baik moril maupun materiil. Saya berharap masyarakat bersama pemerintah bisa turun tangan, karena kepedulian kita akan sangat berarti bagi keluarga beliau," papar Affandi yang juga merupakan pemimpin redaksi dari media sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Sementara itu, Ketua Komunitas Gotong Royong 45, Agus Wahyu Nuryadi atau yang akrab disapa Bung Aguk, juga lakukan advokasi dan peduli dan ajak segenap elemen masyarakat agar lpeduli terhadap kondisi yang menimpa Aripin.

    "Melihat keadaan Pak Aripin, hati kita semua tentu terenyuh. Karena itu saya mengajak masyarakat, komunitas sosial, maupun pemerintah untuk hadir. Kita perlu bahu-membahu memberikan bantuan, sekecil apa pun, agar beliau bisa tetap melanjutkan pengobatannya dan keluarganya tidak merasa sendirian dalam menghadapi ujian ini. Alhamdulillah setelah komunikasi dengan Wakil Bupati di TL ke Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dengan sigap Kabid Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial Khoirul Hidayat siap kirim kursi roda 3 in 1 setelah surat permohonan dari Kades diterima," tutur Bung Aguk Ketua Komunitas Gotongroyong'45, yang juga tergabung dalam FBS (Forum Banyuwangi Sehat) ini.

  • Rumah Besar Kita Sedang Berlayar

    Rumah Besar Kita Sedang Berlayar

    Rumah Besar Kita Sedang Berlayar – Syafaat

    Negeri ini bukan sekadar tanah, bukan sekadar udara dan batu, tapi ia adalah kekasih yang bernapas, yang menangis dalam senja dan tersenyum di fajar. Ia lahir dari darah yang meresap ke bumi, dari keringat yang menempel di batu-batu, dari rintihan sunyi yang dipanjatkan dalam doa.

    Para pendahulu kita mencintainya dengan pengorbanan yang tak masuk akal: senjata seadanya, perut keroncongan, tubuh ringkih, tapi hati mereka membara, tekad mereka lebih keras dari baja.

    Dari penderitaan dan cinta itu, lahirlah rumah bernama Indonesia, sebuah hati yang kita jaga bersama, yang kita rawat dengan harapan dan doa yang tak pernah padam.

    Rumah itu berdiri di atas kesepakatan bersama, cinta yang disepakati semua hati. Bahasa kita satu, nasib kita satu, perbedaan bukan alasan untuk terpisah.

    Suku-suku yang ratusan jumlahnya, budaya yang bertubrukan di perempatan sejarah, keyakinan yang kadang berbeda bahkan bertolak belakang, semuanya dipayungi oleh satu kata yang lebih besar daripada ego: Indonesia.

    Di rumah itu, setiap suara adalah bisikan cinta, setiap langkah adalah tarian hati, setiap tangan yang terulur bukan untuk diri sendiri semata, tetapi untuk menahan dinding tetap tegak, agar atap tak roboh, agar jiwa rumah tetap hangat.

    Rumah ini bukan sekadar bangunan, tapi tubuh kekasih yang kita peluk bersama, yang kita sayangi, yang setiap retaknya terasa seperti luka di hati kita sendiri.

    Perbedaan diolah menjadi harmoni rapuh namun indah, seperti sungai yang mengalir di antara batu-batu berwarna, menyatu tanpa kehilangan bentuk masing-masing.

    Bahasa yang satu bukan sekadar kata, tetapi rindu yang diamini bersama; nasib yang satu bukan sekadar nasib individu, tetapi nasib kolektif yang menuntut pengorbanan, perhatian, dan kesadaran bahwa runtuhnya satu bagian akan menimpa seluruh rumah.

    Rumah ini menuntut kesabaran, keberanian mengakui kesalahan, kebijaksanaan menahan amarah, kasih untuk menambal setiap retak dengan kelembutan.

    Indonesia bukan sekadar nama, bukan sekadar tanah dan air, melainkan kekasih yang jiwa-jiwanya kita rawat bersama, sejarahnya menjadi doa panjang, harapannya cahaya yang tak pernah padam meski badai terus datang.

    Tetapi rumah ini, betapapun megah, tak pernah selesai sekali jadi. Selalu ada genteng yang rembes ketika hujan, dinding yang merekah dimakan waktu, kayu yang lapuk bila penghuninya hanya sibuk menolong diri sendiri.

    Menjaga rumah ini adalah menjaga hati kita sendiri; keruntuhannya adalah patah hati kita, keutuhannya adalah kebahagiaan yang kita bagi bersama.

    Pada malam sunyi, ketika lampu padam dan jangkrik bernyanyi, terbayang kekasih bernama Indonesia, dibangun dengan tergesa sekaligus cinta yang membara. Tiangnya kokoh namun belum dipoles, dinding menjulang tapi kasar, atap tegak meski banyak genteng belum rapat.

    Tergesa itu bukan semata ingin berteduh, tetapi karena luka yang ingin segera diobati dengan persatuan, karena hati yang ingin segera dimiliki bersama. Rumah itu dibangun dari bahan seadanya tapi dengan doa yang tak putus, bata rapuh diperkuat harapan, kayu basah dipanaskan semangat.

    Ia berdiri bukan hanya sebagai tempat berteduh, tetapi sebagai pernyataan: bangsa ini memilih mencintai bersama, meski fondasinya belum sempurna, retakan kecil selalu muncul, dan hanya dengan kesabaran serta ketulusan rumah itu bisa bertahan.

    Hari-hari berlalu. Rumah itu semakin ramai. Anak-anak lahir, cucu-cucu tumbuh. Ada yang rajin membersihkan, ada yang menumpang tidur. Ada yang menyumbang bata, ada yang mencuri kayu.

    Rumah besar itu mulai retak. Retakan kecil, awalnya bisa ditambal tipis, lama-lama dibiarkan. Kita terlalu sibuk. Terlalu lelah. Terlalu mementingkan diri sendiri.

    Kadang negeri ini bukan rumah, tapi perahu yang berlayar di samudra luas, laut yang tak pernah tenang, sesekali hanya beriak kecil, tiba-tiba badai menghadang.

    Perahu itu bernama Indonesia. Kapal-kapal megah berlayar di sekitarnya, dengan layar menjulang, mesin modern, nahkoda terdidik.

    Sedangkan perahu kita sederhana: kayu sederhana, layar tambal dari kain lusuh, tali kadang putus, kemudi retak.

    Namun dengan perahu rapuh inilah pelayaran ditempuh, badai ditantang, gelombang dihadapi, keselamatan tercapai bukan karena keelokan kapal, tapi karena kebersamaan penumpang, doa yang dipanjatkan, dan keyakinan akan arah tujuan.

    Sejarah menuliskan, perahu bernama Indonesia ini pernah oleng, nyaris karam. Namun selalu muncul tangan-tangan yang menambal celah dengan kesetiaan, bahu-bahu yang memikul beban dengan keikhlasan. Badai tidak pernah pergi, ombak terus silih berganti, tapi perahu itu tetap bertahan.

    Rahasianya: keyakinan dan cinta yang melingkupi setiap penumpang. Perahu tetap berlayar meski retak, dengan cahaya harapan yang tak pernah padam.

    Masalah muncul bukan dari laut, bukan dari badai, tetapi dari kita yang ada di dalam perahu. Kita sibuk bertikai, berebut kemudi, tarik layar, saling menyalahkan. Ketika retakan muncul, tak ada yang menambalnya.

    Kita terlalu sibuk membuktikan siapa yang lebih pantas menjadi nahkoda, padahal kekasih ini menangis pelan di setiap retak yang kita abaikan.

    Di era digital, perpecahan tumbuh cepat. Media sosial menjadi pasar riuh sekaligus arena yang menelanjangi manusia. Ada anak muda yang bunuh diri karena dibuli komentar, ada yang diperas karena rekamannya tersebar

    Dunia maya, awalnya jendela kebebasan, berubah menjadi ruang penyiksaan. Retakan perahu hari ini bukan hanya politik dan ekonomi, tapi juga dari sikap kita: jari-jari yang mengetik terlalu cepat, mulut yang ringan menghina, hati yang tipis empati.

    Kita tidak ingin hanya meratap. Retakan bisa ditambal. Rumah bisa diperbaiki, perahu dikuatkan kembali.

    Caranya sederhana tapi tidak mudah: dengan kebersamaan, dengan cinta yang tulus. Ambil semen kesadaran, pasir kesabaran, air pengertian, lalu tambal dinding rumah kita.

    Jika perahu bocor, ambil papan persaudaraan, paku dengan tekad bersama, ikat dengan cinta, ia akan kuat kembali. Menambal retakan bukan pekerjaan satu orang. Semua harus bergerak. Semua harus turun tangan.

    Bayangkan Indonesia sebagai kekasih yang kita cintai dengan seluruh jiwa. Kekasih yang menangis ketika retakan muncul, tersenyum ketika tangan kita menambal, yang berdebar ketika kita mengingatnya.

    Kekasih yang kita peluk dalam doa panjang, yang dulu dicintai para pejuang ketika darah menetes di tanah, yang dibisikkan para ibu ketika melepas anak berperang. Kekasih ini, yang kita warisi, belum selesai kita cintai, tapi terus kita jaga.

    Indonesia adalah perahu itu, rumah itu, kekasih itu. Mungkin tak sebesar kapal modern, tapi punya cerita panjang, daya tahan, dan jiwa yang tak mudah karam. Musuh sejati bukan sesama awak, tetapi badai, ombak, dan bajak laut di luar sana.

    Perahu ini, bagaimanapun keadaannya, adalah rumah kita. Rumah, betapapun rapuh, selalu layak kita jaga bersama. Jangan biarkan ia runtuh hanya karena kita sibuk mengeluhkan retakan kecil tapi enggan menambalnya. Rumah ini milik kita semua. Perahu ini milik kita semua. Negeri ini milik kita semua.

    Dan pada akhirnya, sebagaimana doa dan cinta yang tidak pernah putus, kita hanya bisa berserah, berharap perahu ini, betapapun retak, tetap membawa kita berlayar hingga sampai ke pantai tujuan, dengan kekasih di hati yang selalu menuntun, dengan cinta yang tak pernah surut, dan dengan harapan yang menyalakan lampu di gelapnya samudra.

    Penulis: Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

  • Ketua BKPRMI Banyuwangi Serukan Istigosah Demi Kedamaian dan Kondusivitas Daerah

    Ketua BKPRMI Banyuwangi Serukan Istigosah Demi Kedamaian dan Kondusivitas Daerah

    Dalam upaya menjaga suasana damai dan kondusif di wilayah Banyuwangi, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi mengimbau seluruh elemen masyarakat, khususnya remaja masjid dan Lembaga TPA/TPQ untuk mengadakan kegiatan istigosah bersama di wilayah masing-masing.

    Ketua DPD BKPRMI Banyuwangi, Achmad Sururuddin, SE, M.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan istigosah ini merupakan ikhtiar spiritual untuk mempererat ukhuwah islamiyah sekaligus memperkuat ketenangan batin masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, politik, maupun ekonomi.

    “Kami mengajak seluruh DPK BKPRMI, remaja masjid, Lembaga TPA/TPQ, dan masyarakat luas untuk melaksanakan istigosah bersama sebagai bentuk doa dan harapan agar Banyuwangi tetap aman, damai, serta terhindar dari segala bentuk potensi konflik atau gejolak sosial,” ujar Achmad Sururuddin dalam keterangan resminya, Senin (1/9).

    Menurutnya, istigosah tidak hanya menjadi wadah untuk memanjatkan doa, tetapi juga sarana membangun kebersamaan dan sinergi antar elemen masyarakat.

    Kegiatan istigosah ini rencananya akan dilaksanakan secara serentak pada minggu pertama bulan September 2025, dengan lokasi utama di sejumlah masjid besar serta Lembaga TPA/TPQ yang berada di bawah binaan BKPRMI.

    BKPRMI juga mendorong agar kegiatan ini melibatkan tokoh agama, pemerintah desa, serta aparat keamanan setempat.

    Lebih lanjut, DPD BKPRMI Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif menjaga stabilitas sosial sekaligus memperkuat peran remaja masjid sebagai agen perdamaian di tengah masyarakat.

  • CFD Banyuwangi Hadirkan Harmoni Antara Wisata, UMKM, dan Budaya Lokal

    CFD Banyuwangi Hadirkan Harmoni Antara Wisata, UMKM, dan Budaya Lokal

    Program Car Free Day (CFD) di Banyuwangi mengalami dinamika yang memberi warna baru bagi UMKM.

    Awalnya CFD berlangsung di Jalan Jendral Ahmad Yani, kemudian bergeser ke RTH Blambangan, lalu muncul gagasan Banyuwangi Creative Market (BCM) yang sempat bertahan sebelum pandemi.

    Kini, atas kebijakan revitalisasi RTH Blambangan, CFD dikembalikan ke Jalan Jendral Ahmad Yani meski hanya sepanjang sekitar 345 meter

    Surat dari Asisten Pemerintah Kabupaten mengatur agar BCM menjadi prioritas relokasi, namun hanya sebagian pelaku usaha yang bersedia pindah karena menunggu regulasi yang lebih jelas.

    CFD Banyuwangi

    Sejumlah pedagang mengungkapkan harapan agar pemerintah memberi komitmen jangka panjang.

    Fendi Felani yang berjualan madu, misalnya, berharap regulasi lebih transparan. Meski begitu, ia tetap senang dengan adanya dua lokasi CFD karena bisa memberi kesempatan baru bagi UMKM yang antre di BCM.

    “Belum ada pihak dari manapun yang memberikan informasi secara utuh, jelas regulasi, aspek ekonomi dan berkomitmen jangka panjang kepada saya mengenai masalah ini. Kalau bagi saya pribadi, saya manut pemerintah asal jelas dan bisa berkomitmen,” ungkap Fendi Felani.

    Pedagang lain, Sonhaji yang menjual tahu petis, menekankan pentingnya membuka ruang UMKM di mana pun tanpa ada penggusuran. Perihal rezeki, ia meyakini jika itu urusan Tuhan Yang Maha Esa.

    “Soal rejeki, dimana kita ikhtiar itu urusan Yang Maha Kaya,” paparnya.

    Sementara itu, Ulfiatuzzahroh pemilik Alfina Bakery yang menjajakan roti dan kopi merasa bersyukur bisa berjualan di wilayah tempat tinggalnya sehingga bisa memperluas jaringan pelanggan sekaligus memperkuat solidaritas sesama pelaku UMKM.

    Bagi yang ingin memesan produk kue di Alfina Bakery, bisa langsung menghubungi nomor 081333924441 atau 081249962400.

    “Kami produksi aneka kue premium dengan bahan kualitas. Ada bloeder dan tawar gandum buat yang diet. Yang biasa pesan lewat medsos, bisa ketemu koki dan pembeli,” ungkapnya sembari berdiri ditopang kruk usai kecelakaan kerja saat jadi pemateri untuk konsumen Signora di Genteng.

    Di samping pelaku UMKM, yang digilir Dispendik antara lain ada karate SMPN 1 serta gerakan perpaduan pramuka, PMR, UKS, pecinta lingkungan dan literasi jurnalistik SMPN 3 Banyuwangi.

    Suasana CFD juga makin meriah dengan kegiatan jalan sehat, lomba anak-anak, pertunjukan seni, hingga layanan publik dari berbagai instansi seperti Dispenduk, Dispora, dan Perpustakaan Daerah.

    Sekolah-sekolah pun turut berpartisipasi, seperti karate SMPN 1 serta gerakan perpaduan pramuka, PMR, UKS, pecinta lingkungan, serta komunitas literasi jurnalistik SMPN 3 Banyuwangi.

    Di sisi lain, pegiat Rumah Kebangsaan dan sejumlah tokoh masyarakat seperti Hakim Sa’id, SH, Syech H Ikrom Hasan, Andi Purnama dan Akademisi Herman juga memanfaatkan CFD sebagai ruang diskusi publik.

    CFD di Banyuwangi

    “Aktivitas dagang dan sosialisasi hal positif nong kene wae!” ungkap Hakim Sa’id

    Sementara itu, Ketua Komunitas Gotongroyong’45, Aguk Wahyu Nuryadi, berharap semua pihak termasuk DPRD yang sudah memfasilitasi RDP bisa menyalurkan aspirasi dengan damai dan penuh kekeluargaan.

    Ia menegaskan pentingnya regulasi CFD yang jelas sesuai arahan pemerintah pusat agar tidak terjadi salah tafsir, sekaligus mengajak semua pihak untuk memanfaatkan kearifan lokal dalam penamaan dan konsep kegiatan.

    “Bupati perlu tegaskan regulasi CFD sesuai arahan pemerintah pusat mendukung tatanan Kabupaten Sehat. Jadi ndak keblinger inovatif hingga muncul istilah community & Food Day ataupun CFD Blambangan yang jadi Banyuwangi Creative Market. Kalau bisa pakai kearifan lokal dengan bahasa daerah seperti Osing atau Jawa seperti yang ada di kampung dan deso,” ungkap aktivis yang tergabung di Forum Banyuwangi Sehat dan Forum Pembauran Kebangsaan ini.

    Harapannya CFD tetap menjadi ruang yang membawa berkah bagi UMKM, mempererat persaudaraan, dan menjaga Banyuwangi tetap harum sebagai daerah yang penuh welas asih dan harmoni.

    Penulis: Bung Aguk/AM

  • DPRD dan Kominfo Jatim Satukan Langkah Sosialisasi Literasi Digital di Ponpes Darunnajah

    DPRD dan Kominfo Jatim Satukan Langkah Sosialisasi Literasi Digital di Ponpes Darunnajah

    Ikhtiar agar masyarakat cerdas bermedsos di era globalisasi ini, Dinas Kominfo Jatim bersama DPRD Jatim menggelar sosialisasi Literasi Digital di Ponpes Darunnajah Tukangkayu Banyuwangi, Sabtu (30/8/25).

    Kepala Dinas Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin, S. Si, M. IP, melalui zoom meeting menyampaikan bahwa era digitalisasi di media sosial dalam menyampaikan informasi publik maupun hiburan sudah merambah seluruh sektor kehidupan dan melibatkan semua lapisan sosial ekonomi.

    Maka dari itu, ikhtiar untuk menghindari dampak negatif perlu dilakukan dengan membekali masyarakat melalui literasi digital agar bisa meminimalkan dampak buruk sekaligus memetik manfaatnya.

    Sosialisasi Literasi Digital Di Ponpes Darunnajah

    Sementara itu, anggota DPRD Jatim dari F-PKB, Dra. Hj. Ma’mullah Harun, M. Pdi, mengungkapkan pesan dari  Ketua Umum PKB H. Muhaimin Iskandar yang juga Menko.

    Ia menekankan bahwa guru madrasah dan santri pondok pesantren harus melek informasi digital agar terhindar dari mudharat.

    Dengan begitu, mereka bisa menyaring kecakapan digital yang bermanfaat untuk pendidikan, penguatan karakter akhlaqul karimah, serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

    “Maka hari ini gayung bersambut bisa silaturahmi sekaligus sosialisasi literasi yang di dalamnya ada membaca, mempelajari, membandingkan dengan sumber agama dan regulasi, agar kita bukan pelaku fitnah dan terhindar dari penyebaran hoaks seperti berita sesat, judi online, pornografi, maupun pembatasan penggunaan HP di keluarga kita!” imbuh putri KH Harun ini.

    Tampil sebagai narasumber adalah Sekretaris Dinas Kominfo dan Persandian Kabupaten Banyuwangi, Rahmawati Setyoardini, S. IP, M. IP, serta Miskawi, M. Pd, Ketua Prodi Sejarah Uniba.

    Sekdin Dini, yang sejak 2004 bekerja di bagian Humas Pemkab, mengungkapkan bahwa TikTok menempati posisi teratas dalam jumlah pengguna, dan rata-rata orang memegang HP hingga tiga jam sehari.

    Kehadiran media sosial, menurutnya, mendorong kinerja karena tidak harus bertemu langsung dengan perorangan atau kelompok tertentu.

    “Akses informasi menjadi efektif dan mendorong partisipasi publik. Juga bisa untuk promosi dan branding, sebagaimana video maupun vlog yang menggandeng influencer, mampu membuat orang paham Banyuwangi dan pariwisata semakin maju!” ujarnya.

    Namun, ia juga mengingatkan bahwa di sisi lain, media sosial bisa menimbulkan dampak negatif berupa penyebaran kebencian, pergaulan tanpa etika, cybercrime, dan lainnya.

    Sosialisasi Literasi Digital Di Ponpes Darunnajah

    “Maka anak saya sekolah di pondok untuk memutus mata rantai keburukan bermedsos yang kurang bijak atau belum waktunya karena masih anak remaja!” tambahnya.

    Sementara itu, Miskawi berpesan kepada guru dan orang tua agar mengontrol penggunaan HP anak maupun muridnya.

    Ia mengingatkan agar selalu menyaring sebelum membagikan informasi, meneliti sumbernya, serta memperhatikan UU ITE.

    “Budaya getuk tular dan gosip jangan diteruskan di medsos. Jaga kedamaian dan hindari SARA yang bisa memecah persatuan, adat, maupun adab. Bisa jadi meluasnya kerusuhan di berbagai kota yang masif juga dipicu medsos yang tidak bertanggung jawab!” tegas Ketua Forum Pembauran Kebangsaan ini, seraya menekankan pula pentingnya bijak memanfaatkan AI.

    Diskusi yang dipandu moderator M. Bahas Qossam Syahzindah, S. Pd, berlangsung asyik. Berbagai pertanyaan muncul dari peserta, baik generasi lansia yang baru memegang HP setelah pandemi covid-19, maupun generasi Z yang terjerat pinjaman online, iklan menyesatkan, hingga penipuan hacker.

    Semua pertanyaan dijawab narasumber dengan berbagai pengalaman nyata yang banyak dialami masyarakat.

    Penulis: Bung Aguk/AM

  • Pentas Seni Prejengan 1 Meriah, Warga Rayakan HUT RI Sekaligus Ultah Kades Rogojampi

    Pentas Seni Prejengan 1 Meriah, Warga Rayakan HUT RI Sekaligus Ultah Kades Rogojampi

    Dusun Prejengan 1 Desa Rogojampi merayakan Dirgahayu Republik Indonesia ke-80 dengan menggelar pentas seni pada Jumat, 29 Agustus, di Jalan KH Wahid Hasyim yang menghubungkan pasar dengan stasiun.

    Acara yang berlangsung meriah ini menjadi lebih menyentuh hati ketika kru akustik Wong Osing menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dari Jamrud yang dipersembahkan khusus untuk Kepala Desa Rogojampi, Hj Siti Jamilah.

    Pada bulan kemerdekaan ini, Siti Jamilah genap berusia 64 tahun. Suasana pun semakin hangat karena seluruh warga ikut bernyanyi dan mengucapkan selamat, termasuk Babhinkamtibmas dan Babinsa.

    Pendukung acara yang terdiri dari koor PKK dan Posyandu turut memberikan kado berupa kue tart dan karangan bunga.

    Peringatan HUT RI di Desa Rogojampi

    Kado tersebut diserahkan usai Kepala Desa yang kini memasuki periode ketiga kepemimpinannya, menyampaikan sambutan di panggung yang disiapkan oleh karang taruna.

    Kepala Dusun Prejengan 1, Makmud Basuni (50), menyampaikan rasa terima kasihnya atas partisipasi warga serta kerja keras panitia, di antaranya H Ubay Pinky dan H Junaidi Ilyas yang berhasil mengompakkan masyarakat hingga pentas seni bisa terselenggara dengan meriah dan tertata rapi.

    “Patut kita syukuri rahmat kemerdekaan ini. Warga dapat beribadah dan berkarya dengan penuh berkah,” tutur pria yang akrab disapa Pak Wo.

    Ia juga memimpin hening cipta untuk para pahlawan bangsa, sekaligus mengobarkan semangat yel-yel NKRI yang berlandaskan Pancasila.

    Pentas seni tersebut memanfaatkan perlengkapan sound milik warga bernama Khoiri, sementara kru Helmi Print Komputer menata audio secara digital hingga pertunjukan terdengar layaknya sebuah festival besar.

    Kreasi warga tampil variatif, mulai dari paduan suara, pembacaan puisi, senam kreasi bertema anak Indonesia hebat, joget emak-emak, karaoke, hingga live musik Wong Osing.

    “Kami senang bisa mengisi kemerdekaan dengan gembira. Hampir sebulan kami berlatih dengan berbagai latar belakang sosial ekonomi. Semua drama dan dinamika akhirnya terbayar saat tampil di depan tamu undangan, warga, serta ditayangkan live di media sosial panitia maupun kanal YouTube Eko Ndut,” ungkap Nur dan Aas.

    Mereka menambahkan, momen ini membuat warga sejenak melupakan beban sehari-hari.

    “Jadi lupa utang dan masalah hidup. Terima kasih untuk semua yang sudah belajar bersama, sabar, dan nrimo, agar bisa tampil maksimal demi kampung dan bangsa. Merdeka!” tegas keduanya.

    Penulis: Bung Aguk/Yeti Chotimah

  • SIBABA, Inovasi Polresta Banyuwangi untuk Permudah Difabel Mengurus SIM D

    SIBABA, Inovasi Polresta Banyuwangi untuk Permudah Difabel Mengurus SIM D

    Suasana santai sekaligus penuh kegembiraan terlihat di halaman Satpas Polresta Banyuwangi, Rabu (28/7) ketika belasan kendaraan roda dua dan roda tiga milik anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI) serta Persatuan Sepakbola Amputasi Banyuwangi (Persawangi) memasuki area pelayanan.

    Sebanyak 19 orang penyandang disabilitas daksa mendapatkan pelayanan langsung dari petugas, mulai dari pengisian formulir, pelatihan aturan berkendara, hingga mengikuti ujian praktik untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM) D.

    Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., bersama tokoh-tokoh disabilitas daksa beberapa waktu lalu.

    Program SIBABA Polresta Banyuwangi

    Dalam pertemuan tersebut, disampaikan sejumlah permohonan, diantaranya kemudahan pengurusan SIM D, dukungan terhadap perkembangan sepak bola amputasi Banyuwangi, serta penyuluhan untuk meminimalisasi keterlibatan penyandang disabilitas dalam tindak kriminal.

    Program SIBABA atau SIM Bersama Disabilitas kemudian lahir sebagai salah satu inovasi pelayanan unggulan Satpas Polresta Banyuwangi.

    Dalam kesempatan itu, Kompol Elang Prasetyo selaku Kasatlantas Polresta Banyuwangi terlihat mendampingi proses ujian praktik. Ia bahkan sempat meneliti kondisi modifikasi kendaraan milik Temon, Ketua DMI.

    “Perangkat kemudi disesuaikan kebutuhan kami Pak, ada tukangnya khusus,” jelas Temon saat ditanya.

    Mendengar hal itu, Kompol Elang mengapresiasi sekaligus menegaskan bahwa fungsi kendaraan bagi para penyandang disabilitas bukan hanya sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai penunjang pekerjaan sehari-hari.

    “Karena dipakai untuk bekerja, maka SIM harus diurus dengan baik. Kami berkomitmen melayani sepenuh hati. Jangan lupa setelah urus SIM, teman-teman juga tetap taat membayar pajak kendaraan bermotor,” ujarnya sambil tersenyum.

    Hal senada disampaikan AKP Dwi Satria Aryanto, Kanit Lantas Polresta Banyuwangi. Ia menyebut hampir setiap tahun selalu ada rekan-rekan disabilitas yang mengurus perpanjangan maupun pembuatan SIM baru.

    AKP Dwi Satria Aryanto

    “Kegiatan hari ini tidak lain untuk membantu saudara-saudara disabilitas. Kami memfasilitasi sepenuhnya agar mereka lebih mudah mendapatkan SIM. Satpas Polresta Banyuwangi punya program khusus yaitu SIBABA, SIM Bersama Disabilitas,” kata Satria.

    Ucapan terima kasih datang dari Hasyim Mahmud, Ketua Persawangi yang merasa sangat terbantu dengan pelayanan yang diberikan hingga para anggotanya bisa menyelesaikan ujian praktik.

    “Terima kasih Bapak Kapolresta dan Satpas Polresta Banyuwangi, kami dibantu sampai lulus ujian praktek,” ujarnya penuh sukacita.

    Perlu diketahui, sebagian besar kendaraan modifikasi milik penyandang disabilitas tidak hanya digunakan sebagai alat transportasi, melainkan juga sebagai sarana mencari nafkah.

    Beberapa di antaranya berprofesi sebagai penjual gas, air isi ulang, ayam, ikan segar, dan berbagai usaha lainnya. Karena itu, kemudahan dalam mengurus SIM menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti bagi mereka.

    AKP Dwi Satria Aryanto menutup dengan sebuah harapan. “Semoga dengan memiliki SIM D, saudara-saudara disabilitas dapat lebih berhati-hati dalam berkendara serta senantiasa menaati aturan lalu lintas,” pungkasnya.

    Penulis: Indah CC

  • Bagaimana Globalisasi Memengaruhi Hidup Kita Sebagai Remaja?

    Bagaimana Globalisasi Memengaruhi Hidup Kita Sebagai Remaja?

    Bagaimana globalisasi mempengaruhi hidup kita sebagai remaja? Apa contoh globalisasi dalam keseharian kita?

    Jawaban:

    Globalisasi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan remaja, karena masa remaja adalah fase ketika seseorang sedang membentuk identitas, mencari jati diri, dan sangat mudah terpengaruh oleh perubahan lingkungan, baik budaya, sosial, maupun teknologi.

    Globalisasi membuka akses yang sangat luas terhadap informasi, hiburan, dan gaya hidup dari berbagai belahan dunia.

    Remaja bisa dengan mudah melihat tren fashion dari Korea, musik dari Amerika, atau gaya hidup dari Eropa hanya melalui media sosial.

    Hal ini menjadikan remaja lebih terbuka dengan keberagaman budaya, namun sekaligus bisa membuat mereka kehilangan jati diri jika tidak bijak dalam menyaring pengaruh tersebut.

    Selain dalam hal budaya, globalisasi juga memengaruhi cara remaja belajar dan berinteraksi. Dengan adanya internet dan teknologi digital, materi pembelajaran dari luar negeri bisa diakses dengan mudah.

    Platform seperti YouTube, Coursera, atau Khan Academy memberikan kesempatan bagi remaja untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang sebelumnya hanya bisa diperoleh di sekolah atau universitas.

    Globalisasi juga memudahkan komunikasi lintas negara melalui media sosial, sehingga remaja bisa memiliki teman dari berbagai negara, bertukar pikiran, bahkan belajar bahasa asing dengan lebih cepat.

    Contoh nyata globalisasi dalam kehidupan sehari-hari remaja antara lain penggunaan smartphone yang memungkinkan mereka mengikuti tren TikTok atau Instagram, kebiasaan menonton drama Korea atau film Hollywood melalui platform streaming, mendengarkan musik dari berbagai negara melalui Spotify, hingga memakai aplikasi belajar online yang berisi materi dari pengajar internasional.

    Bahkan gaya berpakaian remaja sering dipengaruhi oleh artis luar negeri yang mereka idolakan. Di sisi lain, globalisasi juga membawa dampak positif dalam hal kesadaran isu global, misalnya isu lingkungan, hak asasi manusia, hingga gerakan sosial yang melibatkan remaja di seluruh dunia.

    Dengan demikian, globalisasi membuat hidup remaja lebih berwarna, terbuka, dan modern. Namun, tetap dibutuhkan sikap kritis dan bijak agar pengaruh globalisasi tidak hanya diikuti secara membabi buta, melainkan disaring untuk hal-hal yang bermanfaat bagi perkembangan diri dan masa depan.

  • Bagaimana pandangan orang yang mengimani hari akhir terhadap kemegahan dunia?

    Bagaimana pandangan orang yang mengimani hari akhir terhadap kemegahan dunia?

    Orang yang mengimani hari akhir memandang kemegahan dunia bukan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai ujian dan titipan sementara yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

    Dalam pandangan mereka, segala bentuk harta, kekuasaan, jabatan, dan kemewahan hanyalah sementara serta tidak bisa dibawa ketika ajal menjemput.

    Keyakinan pada hari akhir membuat seorang mukmin menempatkan kenikmatan dunia secara proporsional, yakni dinikmati sekadar kebutuhan, dimanfaatkan untuk kebaikan, dan tidak sampai melalaikan kewajiban beribadah.

    Dengan kesadaran ini, mereka biasanya lebih berhati-hati agar tidak terjebak pada kesombongan dan kemewahan semata, karena menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah ladang amal untuk bekal menuju kehidupan yang kekal di akhirat.

    Al-Qur’an menegaskan bahwa kenikmatan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Allah berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 20:

    “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”

    Rasulullah pun pernah bersabda, “Tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat melainkan seperti seseorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke laut.” (HR. Muslim).

    Hadits ini menekankan betapa kecilnya nilai dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

    Karena itu, orang beriman kepada hari akhir tidak memandang kemegahan dunia sebagai puncak keberhasilan, melainkan ujian yang harus disikapi dengan bijak.

    Mereka berusaha menjaga keseimbangan, tidak anti terhadap dunia, tetapi juga tidak terlena.

    Semua yang dimiliki dipandang sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan kelak, sehingga kekayaan, jabatan, maupun kemewahan digunakan untuk menolong sesama, memperkuat ibadah, dan mencari ridha Allah.

    Inilah sikap yang membedakan seorang mukmin dari orang yang hanya terpesona oleh gemerlap dunia tanpa mengingat akhirat.

    Seorang muslim yang benar-benar meyakini adanya hari akhir akan selalu menimbang kemegahan dunia dengan hati-hati.

    Misalnya, seorang pengusaha yang memiliki harta melimpah tidak akan menggunakan kekayaannya hanya untuk berfoya-foya atau bermegah-megahan, melainkan menjadikannya sebagai sarana untuk membantu orang miskin, membangun fasilitas pendidikan, atau mendukung kegiatan sosial.

    Contoh lain dapat dilihat pada seorang pejabat atau pemimpin yang tidak tergoda dengan gemerlap kekuasaan. Ia sadar bahwa jabatan adalah amanah, bukan kehormatan semata.

    Sehingga, keputusan yang diambil selalu berpihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi.

  • Bagaimana Awal Mula Ditemukannya Mikroskop?

    Bagaimana Awal Mula Ditemukannya Mikroskop?

    Awal mula ditemukannya mikroskop tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi lensa di Eropa pada abad ke-16 yang saat itu sedang berkembang pesat.

    Catatan sejarah menunjukkan bahwa Hans Janssen dan putranya Zacharias Janssen yang berprofesi sebagai pembuat kacamata di Belanda sekitar tahun 1590 dianggap sebagai orang pertama yang menemukan prinsip dasar mikroskop majemuk.

    Mereka secara tidak sengaja menemukan bahwa dengan menyusun dua lensa cembung di dalam sebuah tabung, objek kecil dapat diperbesar berkali lipat dan terlihat lebih jelas.

    Penemuan ini masih sangat sederhana, namun menjadi fondasi dari instrumen ilmiah yang kelak akan mengubah arah perkembangan ilmu pengetahuan.

    Sekitar tahun 1609, Galileo Galilei yang sebelumnya terkenal dengan teleskop untuk mengamati benda langit mulai mengadaptasi prinsip serupa untuk melihat objek kecil di bumi.

    Alat rancangannya kemudian disebut sebagai mikroskop sederhana, dan ia bahkan menamai alat ini “occhiolino” atau mata kecil.

    Perkembangan penting terjadi pada pertengahan abad ke-17 ketika Robert Hooke dari Inggris memperbaiki rancangan mikroskop majemuk dan berhasil melihat struktur halus pada berbagai benda.

    Dalam karyanya yang berjudul Micrographia (1665), Hooke mempublikasikan gambar detail dari serangga, jaringan tanaman, dan khususnya irisan gabus yang memperlihatkan ruangan-ruangan kecil seperti kotak. Ia menamakan struktur itu “cell” atau sel, istilah yang hingga kini menjadi dasar dalam biologi.

    Tidak lama setelah itu, seorang pedagang kain dari Belanda bernama Antonie van Leeuwenhoek menciptakan mikroskop sederhana dengan satu lensa cembung kecil, namun kualitas pembesarannya sangat tinggi mencapai lebih dari 200 kali.

    Berkat alat ini, Leeuwenhoek mampu mengamati untuk pertama kalinya dunia mikroorganisme yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

    Ia mendeskripsikan bakteri, protozoa, sperma, serta sirkulasi darah pada kapiler, dan temuannya ini ia kirimkan dalam bentuk surat kepada Royal Society di London yang kemudian menjadi tonggak lahirnya ilmu mikrobiologi.

    Dari perkembangan tersebut dapat dipahami bahwa mikroskop lahir dari perpaduan keahlian pembuat lensa, ilmuwan, dan pengamat tekun yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap dunia kecil yang tak kasat mata.

    Inovasi demi inovasi terus berlanjut pada abad-abad berikutnya hingga menghasilkan mikroskop majemuk modern dengan sistem pencahayaan dan lensa yang jauh lebih kompleks.

    Kehadiran mikroskop bukan hanya menjadi penemuan teknis, melainkan revolusi ilmiah yang membuka pemahaman baru tentang sel, jaringan, dan mikroorganisme yang menjadi dasar bagi biologi sel, kedokteran, serta berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya.