Pengertian Postmodernisme

Postmodernisme adalah sebuah istilah yang sering digunakan dalam kajian filsafat, seni, sastra, hingga ilmu sosial.

Konsep ini muncul sebagai bentuk reaksi sekaligus kritik terhadap modernisme yang dianggap gagal memenuhi janji-janjinya, terutama dalam hal membawa kemajuan, kebebasan, dan kesejahteraan manusia.

Berbeda dengan modernisme yang menekankan rasionalitas, objektivitas, dan kepastian, postmodernisme justru hadir dengan watak yang lebih cair, relatif, dan terbuka terhadap keragaman pandangan.

Karena alasan inilah postmodernisme sering dipahami sebagai gerakan yang menggugat fondasi berpikir lama sekaligus menawarkan cara pandang baru terhadap dunia.

Fenomena postmodernisme tidak hanya berhenti pada ranah teori, melainkan juga merambah ke dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Konsep ini terlihat dalam cara manusia berinteraksi, memproduksi budaya, hingga memahami identitas dirinya.

Pengertian Postmodernisme Menurut Para Ahli

Oleh karena itu, untuk memahami lebih jauh tentang apa yang dimaksud dengan postmodernisme, diperlukan pandangan dari para ahli yang menelaahnya melalui perspektif berbeda.

Pendapat-pendapat para ahli inilah yang akan memberi gambaran lebih jelas mengenai pengertian postmodernisme dalam berbagai konteks.

1. Sarup (2003: 231-232)

Postmodernisme adalah gerakan kultural yang semula terjadi di masyarakat Barat tetapi telah menyebar ke seluruh dunia, khususnya dalam bidang seni.

2. Pauline Rosenau (1992)

Postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya.

3. Emanuel (2006: 93)

Postmodernisme adalah keseluruhan usaha yang bermaksud merevisi kembali paradigma modern.

4. Ghazali & Effendi (2009: 161)

Postmodernisme mengoreksi modernisme yang tidak terkendali yang telah muncul sebelumnya.

5. Louis Leahy

Postmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide ide zaman modern (Leahy, 1985: 271).

Ciri Ciri Postmodernisme

  • Timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas.
  • Meledaknya industri media massa.
  • Munculnya radikalisme etnis dan keagamaan akibat reaksi ketika orang semakin meragukan terhadap kebenaran sains, teknologi dan filsafat yang dinilai gagal memenuhi janjinya untuk membebaskan manusia.
  • Munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan rasionalisme dengan masa lalu.
  • Semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban) sebagai pusat kebudayaan dan wilayah pedesaan sebagai daerah pinggiran.
  • Semakin terbukanya peluang bagi klas-klas sosial atau kelompok untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas.
  • Era postmodernisme juga ditandai dengan munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya eklektisisme. (Baca Pengertian Eklektisisme)
  • Bahasa yang digunakan dalam wacana postmodernisme cenderung mengesankan ketidakjelasan makna dan banyak mengandung paradoks.
  • Berwatak relativisme, artinya pemikiran postmodernisme dalam hal realitas budaya (nilai nilai, kepercayaan, dan lainnya) tergambar dalam teori-teori yang
    dikembangkan oleh disiplin ilmu antropologi.

Tokoh-Tokoh Postmodernisme

Ada beberapa tokoh yang bisa disebut mewakili era teori Postmodernisme. Diantaranya:

1. Jean-Francois Lyotard, merupakan salah satu filsuf postmodernisme cukup terkenal diantaranya tokoh-tokoh filsuf postmodernisme lainnya.

2. Charles Sanders Peirce, ahli semiotika, logika, dan matematika.

3. Roman Osipocich Jakobson, seorang linguist, ahli sastra, dan semiotikus yang lahir di Rusia (1896-1982)

4. Jan Mukarovsky, Pengikut strukturalisme Praha yang lahir di Bohemia (1891-1975).

5. Hans Robert Jauss, Ahli sastra dan kebudayaan abad pertengahan asal Jerman.

6. Jurij Mikhailovich Lotman, seorang ahli semiotika struktural yang lahir di rusia (1922).

7. Roland Barthes, seorang ahli semiotika, kritikus sastra, khususnya naratologi yang lahir di Cherbourg, Perancis (1915-1980).

8. Umberto Eco, semiotikus, kritikus, novelis, dan jurnalis, lahir di Piedmot, Italia (1932).

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.