Suara lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk teriakan. Sebagian hadir dalam sehelai daun, tumbuhan yang perlahan menghilang, hingga kicauan burung yang kini tak lagi terdengar setiap pagi.
Pesan itulah yang menjadi semangat kegiatan “Suara Bumi dalam Lensa: Jelajah Literasi Visual bersama Jurnalis Muda Lintas Iman” yang digelar di SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) Bayuwangi, Jawa Timur Sabtu (12/9/2026), pukul 08.00 WIB.
Kegiatan yang diikuti oleh 16 jurnalis muda tersebut menjadi bagian dari rangkaian Gema Literasi Nasyiatul Aisyiyah Banyuwangi dalam rangka Semarak Musyawarah Wilayah (Musywil) Ke-13 Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur.
Para peserta yang tergabung dalam Models Jurnalisme, Ekstrakurikuler Jurnalistik SMK Models, diajak untuk mengenal lingkungan melalui pendekatan berbeda: melihat, mengamati, membaca, memotret, dan kemudian menceritakan.
Aksi Lingkungan Perlu Dikabarkan
Kegiatan diawali dengan diskusi melingkar bersama Zahrotul Janah, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur Bidang Lingkungan Hidup serta Pustaka, Informasi dan Teknologi Digital.
Dalam diskusi tersebut, Zahrotul Janah menyampaikan bahwa aksi lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan menanam pohon, membersihkan sampah, maupun mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan.
Menurutnya, peran jurnalis juga memiliki posisi penting dalam gerakan menjaga bumi.
“Aksi lingkungan tidak hanya berhenti pada menanam pohon, melakukan clean up sampah, atau menjalankan gaya hidup ramah lingkungan. Ada peran penting jurnalis untuk mengabarkan kepada dunia tentang keadaan lingkungan di sekitar kita,” ujarnya.
Menurut Zahrotul, tulisan memiliki kekuatan untuk menggerakkan kesadaran. Melalui berbagai gaya penulisan dan cara bercerita, seorang jurnalis dapat menghadirkan persoalan lingkungan menjadi lebih dekat dan menyentuh hati pembacanya.
“Kalau tidak ada peran serta jurnalis yang menyampaikan dengan tulisan yang mampu menyentuh hati, mungkin tidak semua orang akan tergerak untuk melakukan aksi lingkungan. Padahal menjaga lingkungan merupakan kewajiban bersama dan menjadi nilai yang diajarkan oleh semua agama,” katanya.
Zahrotul yang juga inisiator Merdeka Sampah ini kemudian memantik diskusi dengan pertanyaan sederhana kepada para jurnalis muda.
“Apa saja isu lingkungan yang kalian ketahui?”
Pertanyaan tersebut membuka percakapan tentang berbagai persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Diskusi kemudian berlanjut pada persoalan kehilangan keanekaragaman hayati.
Para peserta diajak mengingat kembali berbagai jenis tumbuhan maupun hewan yang dahulu mudah ditemukan, tetapi kini mulai sulit dijumpai atau bahkan tidak lagi terlihat.

Menanam Sambil Mengenal Tumbuhan
Usai diskusi, para peserta melanjutkan kegiatan dengan aksi penanaman.
Sebanyak 25 bibit loofah atau blustru dan 5 bibit markisa ditanam di area SMK Models.
Namun, kegiatan tidak berhenti pada proses menanam. Para jurnalis muda juga diajak mengobservasi berbagai tumbuhan yang ada di lingkungan sekolah.
Tumbuhan yang belum mereka kenal menjadi pintu masuk untuk melakukan pencarian literatur. Peserta diajak mencari nama, karakteristik, manfaat, hingga informasi lain yang dapat memperkaya pemahaman mereka terhadap keanekaragaman hayati di sekitar sekolah.
Founder Models Jurnalisme sekaligus Sekretaris PCNA Siliragung, Cici Arista Devi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki output berupa karya literasi visual dari masing-masing peserta.
Setiap jurnalis muda diminta memotret tumbuhan yang mereka temukan di area sekolah dan kemudian membuat deskripsi berdasarkan hasil observasi serta penelusuran literatur.
“Para jurnalis muda ini akan mengenal keanekaragaman hayati, khususnya tumbuhan yang ada di sekolah. Mereka tidak hanya mengambil gambar, tetapi juga belajar melihat lebih dekat, mengenali, mencari informasi, kemudian menceritakannya kepada orang lain,” ujarnya.
Menurutnya, jurnalis muda memiliki ruang yang besar untuk menyuarakan ekoliterasi, terutama melalui karya visual dan tulisan yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Cici pun mengajak peserta untuk melihat lingkungan dengan cara yang lebih peka.
“Tidak semua suara dapat didengar. Sebagian harus ditemukan, dilihat, lalu diceritakan,” katanya.
Setelah mendapatkan arahan, para peserta kemudian dilepas untuk mengeksplorasi berbagai sudut sekolah.
Kamera dan telepon genggam menjadi alat untuk menangkap cerita-cerita kecil tentang tumbuhan yang selama ini tumbuh di sekitar mereka.
Ketika Suara Burung Mulai Hilang
Kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman baru bagi para peserta. Salah satunya dirasakan Aurelia Clarista Putri.
Ia mengaku sebelumnya belum banyak mengikuti isu lingkungan. Namun, diskusi tentang kehilangan keanekaragaman hayati membuatnya mulai melihat perubahan yang terjadi di sekitarnya.
“Awalnya saya tidak mengikuti terkait isu lingkungan. Ternyata setelah mengikuti kegiatan ini kami membahas tentang kehilangan keanekaragaman hayati dan saya juga mengalami hal itu, yaitu sudah hilangnya suara burung setiap pagi,” katanya.
Sementara itu, Rico Adi Prasetyo menilai kegiatan tersebut menjadi bentuk edukasi yang penting bagi jurnalis muda.
Menurutnya, pemahaman terhadap isu lingkungan akan membuat generasi muda lebih sensitif terhadap berbagai perubahan yang terjadi.
“Kegiatan ini adalah edukasi yang baik untuk jurnalis muda dan kami jadi lebih sensitif terhadap isu seperti El Nino. Dari kegiatan ini bisa menjadi langkah awal para jurnalis muda lebih dekat dengan bumi dan menyuarakan isu lingkungan,” ujarnya.
Melalui Suara Bumi dalam Lensa, para jurnalis muda tidak hanya belajar membuat berita. Mereka juga belajar membaca lingkungan sebagai sebuah teks. Setiap daun, batang, bunga, dan tumbuhan memiliki cerita.
Sebagian tumbuh dan tetap bertahan. Sebagian lainnya perlahan menghilang tanpa sempat terdokumentasikan.
Karena itu, literasi tidak hanya berlangsung di depan buku atau layar. Literasi juga dapat dimulai dari langkah kaki yang menyusuri halaman sekolah, mata yang memperhatikan tumbuhan, kamera yang menangkap gambar, serta tulisan yang menyampaikan suara bumi kepada lebih banyak orang.
SMK Muhammadiyah 8 Siliragung sendiri merupakan sekolah dampingan Eco Bhinneka Muhammadiyah yang aktif mengembangkan berbagai aksi lingkungan secara inklusif.
Melalui keterlibatan jurnalis muda dalam kegiatan ini, aksi lingkungan diharapkan tidak hanya menjadi gerakan yang dilakukan, tetapi juga menjadi cerita yang terus disuarakan.
Sebab bumi juga memiliki suara. Dan terkadang, suara itu membutuhkan jurnalis muda untuk menemukan, melihat, lalu menceritakannya kepada dunia.









