Tag: banyuwangi

  • Malam Mupus Braen Blambangan: Cinta dalam Doa yang Disamarkan

    Malam Mupus Braen Blambangan: Cinta dalam Doa yang Disamarkan

    Malam Mupus Braen Blambangan: Cinta dalam Doa yang Disamarkan
    Syafaat (Ketua Lentera Sastra Banyuwangi)

    Malam penutupan Festival Banyuwangi Tempo Dulu adalah malam yang penuh bayangan. Lampu-lampu panggung menyala seperti kunang-kunang yang terjebak di jaring raksasa, sementara angin dari Selat Bali membawa aroma laut yang samar-samar menyusup di antara kain batik Gajah Oling, kebaya, dan udeng yang dikenakan para penonton, orang-orang berdiri rapat, sebagian duduk di kursi undangan yang berjejer rapi, sebagian lagi bersila di tikar seadanya, dan sisanya sibuk mencari sudut paling pas untuk menyaksikan pertunjukan.

    Ada yang menyalakan kamera kecil, ada yang menempelkan mata ke layar telepon genggam, berharap gambar bergerak itu kelak bisa disimpan dan dibagikan ulang, tetapi ada juga yang sekadar duduk diam, memandang, membiarkan malam menanamkan dirinya ke dalam ingatan.

    Saya ada di sana, duduk di deretan undangan, di antara pejabat, seniman, dan warga yang datang dengan penuh rasa ingin tahu, saya merasa seperti sedang mencari sesuatu di bukan sekadar hiburan, saya ingin meraih sepotong makna dari panggung yang malam itu menampilkan tradisi pernikahan khas Banyuwangi: Mupus Braen Blambangan.

    Saya tidak pernah bisa menolak undangan yang berkaitan dengan tradisi, barangkali karena saya lahir di tanah ini, tanah yang penuh percampuran, tanah yang diceritakan leluhur dengan cara berlapis-lapis, ada sejarah migrasi, ada riwayat perdagangan, ada kisah pelayaran.

    Namun, di balik semua itu, selalu ada satu rasa yang menempel pada saya: rasa seperti orang asing di rumah sendiri.

    Saya teringat masa kecil, di sekolah dasar, teman-teman sering memanggil saya wong jowo kulon di sebutan itu terdengar sederhana, tetapi ia membawa garis pemisah yang tidak terlihat, saya bukan suku Osing di saya anak Jawa, lahir dari keluarga Mataraman yang datang dari barat, dari Tulungagung, Jogjakarta Kediri, atau mungkin lebih jauh lagi, kata itu melekat begitu lama, membuat saya sering merasa hanya sedang singgah, meski akte kelahiran saya jelas ditulis: lahir di Banyuwangi.

    Namun malam itu, ketika gamelan ditabuh dengan ritme yang memanggil, ketika pengantin Mupus Braen memasuki panggung dengan segala riasan penuh makna, saya merasa dipanggil pulang, seakan ada meja besar terbentang, meja warisan leluhur, tempat semua orang Banyuwangi boleh duduk: Osing, Jawa, Madura, Bali, Arab, Cina, Bugis, tidak ada lagi sekat, tidak ada lagi garis. Yang tersisa hanyalah rasa memiliki bersama, budaya ini milik kita, semua suku yang ada di bumi Blambangan.

    Dan cinta, rupanya, adalah bahasa yang membuat semua pintu terbuka, Mupus Braen. Saya baru benar-benar mengerti artinya malam itu, mupus berasal dari kata pupus, daun muda di pucuk pohon: rapuh, hijau, penuh harapan. Braen berarti indah, menawan, memesona, maka Mupus Braen adalah puncak merias diri, puncak keindahan, yang hanya dilakukan sekali seumur hidup: saat menikah.

    Pengantin di panggung malam itu mengenakan pakaian merah dan hitam, merah melambangkan keberanian menghadapi hidup rumah tangga. Hitam adalah doa agar langgeng sampai maut memisahkan.

    Di atas kepala, bunga melati putih disematkan sebagai lambang kesucian dan keharuman. Mahkota emas menambah agung, seolah cinta yang mereka bawa harus tegak berdiri di hadapan waktu.

    Saya tiba-tiba menyadari: riasan itu bukan kosmetik semata. Ia adalah kitab yang dibaca dengan mata. Merah, hitam, putih, emas, setiap warna adalah doa, setiap perhiasan adalah nasihat.

    Bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa. Ia butuh keberanian, ia butuh doa, ia butuh kesucian, ia butuh keagungan, dan saya berkhayal jika saya yang jadi mempelainya.

    Betapa kontras dengan cinta-cinta yang sering saya lihat di luar panggung: cinta yang tergesa, cinta yang tumbuh cepat lalu layu seketika, cinta yang berakhir bahkan sebelum sempat dirayakan. Mupus Braen mengajarkan hal sebaliknya, cinta adalah puncak yang dicapai lewat kesabaran.

    Ada aturan yang unik: Mupus Braen hanya untuk anak bungsu, saya bertanya dalam hati, mengapa demikian? Mengapa hanya bungsu yang berhak? Mengapa yang lain tidak?. Saya tidak menemukan jawabannya malam itu.

    Namun, semakin saya renungi, semakin saya merasa ada filosofi cinta di balik aturan itu. Anak bungsu adalah penutup sebuah garis, akhir dari sebuah generasi.

    Mungkin itu simbol bahwa cinta sejati adalah yang terakhir, yang mengikat sepenuhnya, yang bukan lagi permainan atau percobaan.

    Apakah itu berarti setiap orang memang ditakdirkan jatuh cinta berkali-kali, hingga menemukan yang terakhir? Saya tidak tahu. Tetapi saya tahu, di usia tertentu, cinta berhenti menjadi bunga liar yang bisa tumbuh di mana saja.

    Ia berubah menjadi pohon besar. Ia menuntut akar yang dalam. Ia memerlukan tanah subur, air, dan kesabaran yang panjang, selain riasan, tradisi ini juga membawa ubarampe: bantal, guling, tikar, ayam, telur, kelapa, kampil putih. Semua disertai doa. Semua membawa makna.

    Saya suka membayangkan cinta dengan cara yang sama. Cinta membutuhkan bantal untuk tempat beristirahat, guling untuk sandaran, tikar untuk alas kebersamaan, ayam dan telur untuk keberlangsungan hidup, kelapa untuk keteguhan, kampil putih untuk kesederhanaan, tidak ada cinta yang bertahan hanya dengan ciuman dan janji.

    Ia membutuhkan ubarampe sehari-hari: kesabaran, pengertian, pengorbanan, tawa, dan doa. Banyak orang ingin cinta yang indah, tetapi enggan mengumpulkan ubarampe itu. Padahal tanpa ubarampe, cinta hanya akan menjadi pesta semalam, lalu padam ketika lampu dipadamkan.

    Saya teringat sebuah doa Nabi Muhammad saw. dalam pernikahan: “Semoga Allah memberkahimu, memberkahi atasmu, dan menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.” Doa sederhana, tapi menyeluruh. Dan doa itu, barangkali, adalah ubarampe paling penting.

    Tuhan memahami semua bahasa, termasuk bahasa simbol. Tuhan tahu doa manusia meski tidak diucapkan dengan lisan. Doa bisa hadir lewat tanda, lewat isyarat, lewat ubarampe. Di tanah Osing, setelah akad nikah, doa sering diiringi shalawat dan kembar mayang: dua rangkaian kembang yang penuh tanda.

    Ada iembang jambe, ada bunga yang biasanya dipakai di pemakaman, ada buah-buahan. Semua itu doa yang disamarkan, harapan agar pernikahan tidak akan dipisahkan kecuali oleh kematian, lalu disatukan kembali di alam kelanggengan.

    Malam itu, ketika pertunjukan usai dan tepuk tangan bergema, saya berdiri diam, saya tahu saya tidak baru saja menonton tari-tarian, saya sedang menonton tafsir cinta.

    Cinta, rupanya, adalah tradisi. Ia bukan sekadar perasaan dua orang, melainkan doa leluhur, nasihat orang tua, dan harapan anak-anak yang belum lahir. Cinta adalah ritual kecil sehari-hari: menunggu dengan sabar, menjemput dengan ikhlas, memberi kabar dengan jujur, menahan amarah dengan rendah hati, dan memaafkan dengan tulus.

    Mupus Braen mengajarkan itu dengan bahasa yang indah. Bahwa cinta adalah daun muda yang rapuh, tapi juga indah. Bahwa cinta adalah merah keberanian, hitam doa panjang, putih kesucian, emas keagungan. Bahwa cinta membutuhkan ubarampe sederhana: sabar, doa, tawa, dan pengorbanan.

    Saya pulang dari festival itu dengan langkah pelan di angin malam menyapa wajah saya, seperti tangan yang lembut. Di jalan, lampu-lampu kota berkelip seperti bintang yang turun ke bumi.

    Saya merasa ditemani sesuatu yang tidak bisa saya lihat, tapi bisa saya rasakan. Saya tahu, cinta bukan lagi sekadar perasaan. Ia adalah upacara. Ia adalah doa yang harus dipelihara setiap hari.

    Dan di Banyuwangi, doa itu diwariskan lewat Mupus Braen Blambangan.

  • Tim DKV SMK PGRI Rogojampi Raih Juara 3 Lomba Video Kreatif Kesehatan RS PKU Muhammadiyah

    Tim DKV SMK PGRI Rogojampi Raih Juara 3 Lomba Video Kreatif Kesehatan RS PKU Muhammadiyah

    SMK PGRI Rogojampi kembali menorehkan prestasi di bidang Desain Komunikasi Visual (DKV).

    Tim Threefource, yang terdiri dari siswa kelas XI DKV, Mohammad Farhan, Mohammad Rifan, dan Aris Raditiya, berhasil meraih Juara 3 Lomba Video Kreatif Kesehatan kategori umum yang diselenggarakan oleh RS PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Lomba Video Kreatif ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia dengan tema seputar dunia kesehatan.

    Lomba terbagi menjadi dua kategori, yaitu Program Unggulan untuk pegawai internal RS PKU Muhammadiyah Rogojampi, dan Kesehatan untuk umum yang diikuti puluhan peserta dari berbagai instansi kesehatan, praktisi, generasi milenial, hingga masyarakat umum.

    Kegiatan lomba berlangsung sejak 15 Agustus hingga 15 September 2025 dan pemenangnya diumumkan pada Selasa, 23 September 2025 di Aula RS PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Penilaian dilakukan oleh tiga juri berkompeten, yaitu Heri Iskandar (konten kreator), Rangga (desainer grafis dan editor video), serta Maulana Affandi (Pemimpin Redaksi media online dan Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi), dengan kriteria kreativitas, manfaat, dan kualitas teknis.

    “Alhamdulillah, rasa syukur tiada terkira. Dengan persiapan kurang dari setengah bulan, melalui proses yang berat dan usaha luar biasa, akhirnya konten kami selesai dan dapat dikirim. Sungguh di luar dugaan, kami bisa meraih prestasi ini,” ujar Farhan, salah satu anggota Threefource.

    Rifan menambahkan, “Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu guru pendamping SMK PGRI Rogojampi atas waktu dan pemikiran yang diberikan hingga kami sampai di titik ini. Terima kasih juga kepada Kepala SMK PGRI Rogojampi beserta jajaran yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk berkembang dan mengharumkan nama almamater. Tidak lupa kepada RS PKU Muhammadiyah Rogojampi dan dewan juri atas apresiasinya.”

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd selaku guru pendamping sekaligus Ketua Komunitas Literasi di SMK PGRI Rogojampi (SMKPRO) menuturkan bahwa torehan prestasi tersebut merupakan buah dari kerja keras siswa yang terlibat.

    “Awalnya saya melihat pamflet Lomba Video Kreatif yang diadakan RS PKU Muhammadiyah Rogojampi. Deadline lomba kurang dari setengah bulan lagi, sehingga saya harus mengonfirmasi kepada perwakilan siswa jurusan DKV yang juga merupakan peserta Event Literasi Sekolah Nasional Tahun 2025. Meskipun hanya satu kali bertemu untuk membahas konsep yang akan diangkat menjadi konten, mereka tetap bersemangat menyelesaikan tugas tersebut. Alhasil, kerja keras mereka terbayar dengan meraih Juara 3 Lomba Video Kreatif kategori umum, mewakili generasi milenial,” jelas Andi.

    Prestasi Threefource menambah daftar keberhasilan SMK PGRI Rogojampi di bidang DKV dan menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus berkarya dan berprestasi.

  • Jodang Inka dan Bendera One Piece Meriahkan Arak-Arakan Kembang Ndog SMKN Kalipuro

    Jodang Inka dan Bendera One Piece Meriahkan Arak-Arakan Kembang Ndog SMKN Kalipuro

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMKN 1 Kalipuro (Pelayaran Niaga), Kabupaten Banyuwangi, dirayakan dengan Arak-Arakan Jodang Kembang Ndog-ndogan.

    Acara ini menampilkan replika karya Pengurus OSIS Batalyon dan perwakilan kelas, diawali kirab Drum Band Blue Sailor, dan ditutup dengan penampilan Hadrah, pada Kamis (25/09/25).

    Kirab dimulai dari Balai Kelurahan Kalipuro, dilepas oleh Kasi Pemerintahan dan Trantib Kantor Kecamatan Kalipuro, Plt Lurah Yanuar Pribadi, SE, didampingi Kepala Sekolah Suliha, M.Pd dan KTU Bobi Ananta, S.AP.

    Tepat pukul 07.17, arak-arakan melewati perkampungan dan disambut hangat warga. Warga menerima pembagian kembang telur, sambil disambut salam santri MI Darusalam dan keluarga di KUA.

    Kegiatan diikuti 300 taruna-taruni, 90 persen berasal dari luar kota dan pulau seperti Madura, NTB, Bali, dan Kalimantan, yang menuntut ilmu di bidang nautika, pengelasan, teknik, dan boga.

    Replika jodang dilombakan, dengan juara pertama diraih Pengurus Batalyon yang membuat Tongkang Boat lengkap dengan pelampung.

    Juara kedua diraih hasil kolaborasi kelas XI Pengelasan dan Boga dengan kue tart bersusun, sementara juara ketiga adalah kelas XI Nautika Kapal Niaga yang mengibarkan bendera One Piece, sosok bajak laut dari Jepang.

    Replika lain menampilkan pabrik INKA, perhotelan Mitra Dudi yang bekerja sama dengan SMKN Kalipuro, masjid, Ka’bah, serta bebek yang filosofinya berbeda dengan ayam: bila bertelur atau beramal tidak riya, sementara ayam selalu ramai diumumkan.

    Selama proses pembuatan jodang, digelar lomba baca puisi yang dimenangkan Faras dari Genteng, Cleo dari Kalimantan, dan Ganesha dari Maluku.

    Maulid Nabi SMKN Kalipuro

    Ketua Panitia HM Shodiqiin, S.Pd, MM, membuka sambutan dengan pekik “semangat pagi” yang disambut yel-yel dan sholawat Asyifa.

    Ia menjelaskan inti kegiatan Maulid adalah pembentukan karakter dan cinta Rasulullah Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah, serta mengenalkan tradisi Kembang Ndog yang diperkenalkan Kyai Faqih dari Cemoro Songgon.

    Filosofi kembang dijelaskan: bunga yang harum adalah nama yang baik, cangkang telur ibarat Islam, putihnya iman, dan kuningnya ihsan.

    “Pengalaman peringatan Maulid di Bumi Blambangan sangat berkesan bagi mereka yang bekerja di lautan dan kembali ke kampung halaman,” tutur pengurus PERGUNU yang pernah mengajar 20 tahun di Belu, perbatasan Timor Timur.

    Usai arak-arakan, taruna-taruni berkumpul di aula untuk siraman rohani Maulid oleh Habib Muchsin Baharun. Acara juga diisi sholawatan, asyarakal, gema wahyu Illahi, penampilan jawara baca puisi, dan kultum bahasa Inggris.

    Rangkaian kegiatan disiarkan live via TikTok sekolah, memungkinkan guru, tenaga kependidikan, serta keluarga yang berada di Surabaya, Semarang, maupun jauh lainnya memantau anak-anaknya.

    Kepala SMKN 1 Kalipuro, Suliha, M.Pd, mengapresiasi semarak kiprah taruna (80 persen) dan taruni (20 persen), serta memberi penghargaan kepada Ketua Panitia, guru matematika yang berhati sastra.

    “Kami berharap anak-anak menjadi lebih beradab dengan akhlaqul karimah, didukung disiplin sekolah. Adab lebih tinggi dari ilmu, contohnya diam dan mendengarkan saat orang berbicara,” tutur Suliha, mantan guru Bahasa Indonesia di SMKN 1 Banyuwangi.

    Dalam maudhah hasanah, Habib Muchsin menyampaikan kegembiraannya bertemu para kader bangsa yang semangat hijrah menuntut ilmu demi cita-cita. “Kami doakan kalian menjadi kebanggaan orangtua serta bahagia dunia dan akhirat!” tuturnya, yang diamini hadirin.

  • Dari Rengganis hingga Sri Tanjung, Literasi Budaya Hiasi Festival Banjoewangi Tempo Doeloe

    Dari Rengganis hingga Sri Tanjung, Literasi Budaya Hiasi Festival Banjoewangi Tempo Doeloe

    Upaya melestarikan seni dan budaya yang terancam punah diwujudkan melalui proses pelatihan, penelitian, refleksi, dan pengembangan sesuai era digital.

    Program ini digagas oleh Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Pusat bekerja sama dengan Banyuwangi dan Dewan Kesenian Blambangan, dan divisualisasikan di Panggung Festival Banjoewangi Tempo Doeloe, Plataran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Rabu (24/09/25).

    Festival ini mengangkat lima topik utama, yakni Rengganis dan Gembrung yang nyaris punah, literasi jaranan buto yang masih dijaga oleh banyak sanggar, legenda Sri Tanjung yang menjadi inspirasi nama wilayah di ujung timur Pulau Jawa, serta sejarah Tawang Alun, prosesi dari Blambangan menjadi Banyuwangi.

    Ketua HISKI Banyuwangi, Nurul Lutfiah Rahma, S.Pd, menyampaikan apresiasi kepada HISKI Pusat yang telah menghadirkan program kementerian untuk mendokumentasikan naskah lisan, mendukung digitalisasi, serta menghidupkan kembali sastra yang langka agar generasi muda tertarik.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Taufik Rahman, menyambut baik kolaborasi HISKI dan DKB.

    Menurutnya, pemerintah perlu menindaklanjuti agar maksud dan tujuan pemrakarsa dapat terealisasi melalui forum diskusi, program revitalisasi, serta naskah akademik atau pertunjukan yang dapat mentransformasikan budaya sesuai zaman.

    Taufik menambahkan bahwa keesokan harinya, di arena festival akan ditampilkan jaranan dan Manten Mupus Braen yang menggarap musiknya dengan Giro Osing, cocok untuk acara pernikahan dengan latar etnis yang beragam.

    Pertunjukan dari lima kelompok ini juga diselingi penampilan tari dari SMPN 1 Tegaldlimo dan SMAN Taruna Budaya Rogojampi, serta duta bercerita dari Perpustakaan Nasional, Avilla Putri Yuwono asal MI Islamiyah Rogojampi.

    Avilla membacakan legenda asal usul Kota Banyuwangi dari buku Sritanjung Hidup Kembali karya Aekanu Haryono, dipandu oleh Nur Khofifah.

    Acara ditutup dengan sarasehan dan apresiasi oleh HISKI Pusat yang dihadiri Prof. Dr. Novi Anoegrahjekti, Dr. Tengsoe Tjahyono, Dr. Venus Khasanah, dan Dr. Sudartomo.

    “Semua sudah optimal dan maksimal. Diawali delapan bulan lalu dengan FGD mengenai sastra dan produk, kini menjadi anugerah. Terima kasih kepada pemerintah daerah dan semua pihak sehingga sampai titik ini. Alih wahana menjadi menyenangkan dan menghasilkan karya yang bisa dinikmati bersama!” ujar Prof. Novi, yang selama 25 tahun meneliti ragam potensi khas Banyuwangi.

  • Warga Binaan Lapas Pamer Batik Jeruji di Festival Banjoewangi Tempo Doeloe

    Warga Binaan Lapas Pamer Batik Jeruji di Festival Banjoewangi Tempo Doeloe

    Festival Banjoewangi Tempo Doeloe kembali digelar pada 23-25 September 2025 sebagai bagian dari agenda Banyuwangi Festival.

    Bertempat di halaman Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, festival ini menampilkan beragam atraksi budaya, sejarah, dan karya masyarakat.

    Di area festival, pengunjung dapat menjumpai stand-stand unik seperti peninggalan Suku Bugis dan Mandar yang sehari-hari tersimpan di rumah tetua adat, Situs Desa Macan Putih yang mengungkap sejarah Raja Blambangan Tawang Alun, serta jejak Majapahit di Desa Tembok Rejo hingga informasi mengenai Ijen Geopark.

    Selain itu, ada pula pondok kreasi bambu gintangan, koleksi akik, buku dan koin kuno milik komunitas Djawa Dwipa Blambangan.

    Festival ini juga mendapat dukungan dari Indosiana yang bekerja sama dengan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Banyuwangi serta Dewan Kesenian Blambangan.

    Mereka berkolaborasi untuk melestarikan kesenian daerah, seperti Seni Rengganis, Jaranan Buto, Gembrung, legenda Sritanjung, dan sejarah Tawang Alun.

    Festival semakin meriah dengan penampilan Juara Tari Kreasi dari SMPN 2 Rogojampi serta tari bertema kesetiaan suami-istri dari Sanggar Paswangi, yang seluruh penarinya merupakan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi.

    Kalapas I Wayan Nuranta Wibawa pun turut menurunkan petugas untuk mengawal penampilan mereka.

    Yang menarik perhatian adalah stand batik motif jeruji dan borgol, hasil karya warga binaan Lapas Banyuwangi.

    Mereka juga menampilkan kerajinan celengan, tempat tisu, dan keset berbahan kain perca. Batik semi-tulis dengan pewarnaan khas ini dibanderol dengan harga mulai Rp500 ribu.

    “Pembeli banyak datang lewat penawaran di media sosial. Bahkan kadang kami kewalahan melayani pesanan,” ujar Kasie Kegiatan Kerja Lapas, Priyo Asnanto.

    Ia menambahkan, karya tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian.

    “Tantangannya, setelah bebas warga binaan harus mulai melatih dari nol lagi, sementara yang baru juga perlu dibimbing. Selain batik, kami juga punya pelatihan barbershop, musik, jurnalistik, hingga pijat dan bekam,” jelasnya.

    Kepala Disbudpar Banyuwangi, Taufik Rahman, mengapresiasi penampilan warga binaan dan berjanji akan kembali memberi kesempatan mereka tampil di panggung festival berikutnya.

    Sementara itu, Kalapas I Wayan Nuranta Wibawa menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

    “Kesempatan ini menjadi bukti sinergi luar biasa, warga binaan bisa berbaur dengan masyarakat sekaligus menunjukkan kreasi dan prestasi mereka,” ungkapnya.

  • FPK Gresik Studi Tiru ke Banyuwangi, Pelajari Program Harmoni Antar Suku

    FPK Gresik Studi Tiru ke Banyuwangi, Pelajari Program Harmoni Antar Suku

    Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Gresik melakukan studi tiru ke Kabupaten Banyuwangi pada Senin (22/9/2025).

    Kegiatan yang berlangsung di Aula Harmoni, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Banyuwangi ini bertujuan memperkuat peran FPK dalam menjaga kerukunan lintas suku dan etnis di daerah masing-masing.

    Acara dihadiri oleh Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Kepala Bakesbangpol Gresik, Ketua FPK Banyuwangi, Ketua FPK Gresik beserta rombongan, serta jajaran terkait.

    Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan selamat datang kepada rombongan Gresik di “Bumi Blambangan” atau “Sunrise of Java”. Ia menekankan peran penting FPK dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.

    “Meski situasi nasional sempat memanas dengan berbagai demonstrasi, Banyuwangi tetap kondusif dan damai. Ini berkat peran aktif FPK yang terus membangun dialog lintas suku dan budaya,” ujarnya.

    Atas konsistensi tersebut, Banyuwangi menerima penghargaan sebagai Kota Welas Asih dan Kota Harmoni.

    Kepala Bakesbangpol Gresik mengapresiasi pencapaian Banyuwangi, termasuk penguatan peran FPK.

    “FPK sangat strategis, baik di Banyuwangi maupun di Gresik. Kami terus mendorong kerukunan mulai dari tingkat kabupaten hingga desa,” ungkapnya, sebelum menutup sambutan dengan pantun yang mencairkan suasana.

    Ketua FPK Banyuwangi kemudian memaparkan program yang telah dijalankan sejak lembaga ini terbentuk pada 2010.

    Hingga kini, FPK Banyuwangi telah melalui empat kali pergantian SK dengan berbagai program unggulan, antara lain:

    • 2016: Inisiasi pembentukan FPK tingkat desa dan lahirnya Desa Kebangsaan.
    • 2021–2022: Festival Kebangsaan bernuansa etnik di Desa Patoman.
    • 2023: Pasar Kebangsaan yang menampilkan kuliner lintas etnis se-Banyuwangi.
    • 2024: Festival Kebangsaan Mandar di Taman Blambangan, dirangkaikan dengan tradisi Petik Laut Mandar.
    • 2025: Tradisi Petik Laut Mandar masuk kalender resmi Banyuwangi Festival.

    Selain itu, FPK aktif membina organisasi lintas etnis seperti Sakera, Jokotole, KKSS, KOPAT, dan Keluarga Besar Minang.

    Mereka juga rutin menggelar dialog terbuka di Rumah Kebangsaan, kerja bakti lintas etnis, serta dialog antar suku yang difasilitasi Bakesbangpol.

    Tahun ini, FPK akan mengadakan Pentas Seni Lintas Suku serta pembentukan Desa Kebangsaan di Grajagan, Kecamatan Purwoharjo.

    FPK Banyuwangi juga tengah menyusun buku “Banyuwangi dalam Bingkai Etnis” sebagai dokumentasi keragaman budaya daerah.

    Seluruh kegiatan dijalankan dengan skema anggaran satu pintu melalui Bakesbangpol dan semangat gotong royong.

    Dari pihak Gresik, Ketua FPK menuturkan bahwa lembaga tersebut sudah terbentuk hingga tingkat kecamatan dan desa. Mereka juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dengan dana hibah cukup besar.

    “Antusiasme masyarakat dalam pembentukan FPK sangat tinggi. Ini menandakan pentingnya wadah untuk memperkuat kebersamaan dan kebhinekaan,” tambah Sekretaris FPK Gresik.

    Kegiatan studi tiru yang dipandu Namira, perwakilan etnis Batak, ditutup dengan penyerahan cenderamata, oleh-oleh khas, serta doa oleh Dukun Kan Usik dengan mantra Osing yang khusyuk.

    Penulis: Bung Aguk/Marhaedi Sanusi/Namira

  • RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gaungkan Inovasi dan Program Unggulan Lewat Lomba Video Kreatif

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gaungkan Inovasi dan Program Unggulan Lewat Lomba Video Kreatif

    Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Rogojampi menggelar acara pengumuman pemenang lomba video kreatif dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia. Kegiatan ini berlangsung meriah di Aula RS PKU pada Selasa, 23 September 2025.

    Terdapat dua kategori lomba yang diselenggarakan, yakni Lomba Video Kreatif Program Unggulan khusus bagi pegawai yang diikuti oleh 17 unit kerja di lingkungan RS PKU Muhammadiyah Rogojampi, dan Lomba Video Kreatif untuk Umum yang mengangkat tema seputar dunia kesehatan.

    Dukungan penuh datang dari Kabag Administrasi Keuangan, Nur Imron Rosyadi, S.E, M.M yang terus berinovasi dalam mengembangkan program rumah sakit hingga bisa berkembang seperti saat ini.

    Tak luput pula, kontribusi besar dari Kabid Pelayanan Medis, dokter Gita Putri Santoso yang juga turut mendampingi dan memberi motivasi kepada segenap unit untuk meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan inovasi yang telah dicanangkan oleh pihak Rumah Sakit.

    Direktur RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, dr. Fuadi Shiham
    Direktur RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, dr. Fuadi Shiham (Dok. sastrawacana.id/)

    Acara dimulai dengan sambutan dari Direktur RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, dr. Fuadi Shiham yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat, khususnya untuk menjaga pola hidup sehat.

    Dalam sambutannya, dr. Fuadi mengapresiasi kerja keras panitia, partisipasi pegawai, dan antusiasme para peserta yang telah menunjukkan semangat kreativitas dalam era digital yang relevan dengan isu-isu kesehatan saat ini.

    "Kita memang perlu memaksimalkan serta memanfaatkan teknologi digital saat ini untuk mengkampanyekan kesehatan kepada masyarakat luas, salah satunya dengan lomba video kreatif ini," paparnya.

    Ketua MPKU PCM Rogojampi

    Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua MPKU PCM Rogojampi, Ir. H. Hudiyono yang menyampaikan bahwa RSU PKU Muhammadiyah terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai keIslaman.

    "Kami bangga melihat perkembangan RS PKU Muhammadiyah Rogojampi yang terus meningkat setiap tahunnya, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman sebagai dasar pelayanan," terangnya.

    Sambutan terakhir disampaikan oleh Ketua Panitia sekaligus Kasubbag Marketing RS PKU Muhammadiyah Rogojampi, Heri Iskandar, S.Kep., Ners.

    Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu langkah strategis yang diambil RS PKU Muhammadiyah untuk mengasah kreativitas dan membangun citra positif rumah sakit di mata publik melalui media digital.

    Periode lomba berlangsung sejak 15 Agustus hingga 15 September 2025 dan berhasil menjaring puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

    Tiga orang juri dipercaya untuk menilai karya peserta, yaitu dua juri internal RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, diantaranya Heri Iskandar, yang juga merupakan konten kreator dan Rangga, desainer grafis sekaligus editor video.

    Juri Lomba Video Kreatif

    Sementara dari eksternal, hadir Maulana Affandi, Pemimpin Redaksi media online sekaligus direktur Penerbit Lintang Banyuwangi yang memiliki pengalaman dalam bidang digital marketing.

    Penilaian dilakukan berdasarkan tiga aspek utama: kreativitas, manfaat, dan kualitas teknis. Berikut adalah daftar pemenang dari masing-masing kategori:

    Juara Lomba Video Kreatif Program Unggulan (Internal Pegawai):

    1. Unit Poliklinik
    2. Unit Kebidanan
    3. Unit Kamar Operasi

    Juara Lomba Video Kreatif Kesehatan (Umum):

    1. Abdul Rahman
    2. Puskesmas Gladag
    3. Threefource

    Juara Lomba Video Kreatif RS PKU Muhammadiyah Rogojampi

    Acara pengumuman pemenang ini sekaligus menjadi penutup dari seluruh rangkaian kegiatan peringatan HUT RI ke-80 yang diselenggarakan oleh RS PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Melalui program ini, pihak RS berharap dapat terus meningkatkan semangat kolaborasi antar tim serta mendorong peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.

    Jurnalis: Maulana Affandi

  • Haul Ke-334 Tawang Alun, GENTA Perkuat Warisan Leluhur di Petilasan Rowo Bayu

    Haul Ke-334 Tawang Alun, GENTA Perkuat Warisan Leluhur di Petilasan Rowo Bayu

    Peringatan haul Tawang Alun ke-334 tidak hanya menjadi momentum mengenang sosok leluhur, tetapi juga mengajarkan bahwa selain kekuatan fisik, manusia harus memiliki kekuatan batin dan spiritual. Tawang Alun tidak hanya dikenang, tetapi juga diwarisi keberanian serta kebijaksanaannya.

    Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun menunjukkan dukungan terhadap pelestarian alam, kearifan lokal, situs budaya, dan identitas Banyuwangi yang juga termasuk bagian dari situs geopark dunia.

    Hal itu disampaikan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam suasana sakral di Samarwulu, tepi Waduk Rowo Bayu, Kecamatan Songgon, pada Kamis (18/09/25).

    Bupati menambahkan bahwa semangat konservasi Rowo Bayu harus dijaga sebagai rumah bersama yang menjadi energi spiritual bermartabat.

    Generasi Trah Tawang Alun (GENTA) Macan Putih Blambangan melalui tokohnya, Doni Osmond, SH, menegaskan memiliki tanggung jawab moral untuk mempererat silaturahmi sekaligus mewariskan budaya dan sejarah Blambangan yang luar biasa.

    “Peringatan haul ke-334 ini tepat dengan pepengetan tilarnipun Kanjeng Sinuwun Prabu Tawang Alun, Ratu Kerajaan Macan Putih, pada 18 September 1691 hingga 18 September 2025. Biasanya acara digelar sederhana hanya bersama inti trah. Namun kali ini menggunakan protokoler dan prototype model, dimulai pra-acara dengan mohon restu ke eyang di titik sumber, membawa Panji Sonangkara yang dipimpin Mbah Made Widagdo, hingga dilanjutkan ke panggung utama. Ini akan menjadi pegangan saat haul ke-335 nanti, yang direncanakan masuk agenda Banyuwangi Festival,” tutur pria asal Lateng yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.

    Haul Ke-334 Tawang Alun

    Sementara itu, tokoh yang dituakan, Joni Subagyo, SH, MH alias Ki Ageng Bumi Sroyo, menyampaikan bahwa laku budaya ini merupakan amanat sesepuh Mas Soepranoto Manggisan dan HR. Mas Slamet Oetomo.

    Mereka membekali dengan semangat, filosofi, visi misi, serta ragam literasi berupa buku, benda peninggalan, peta, hingga silsilah keluarga besar.

    “Selain Kanjeng Tawang Alun, kami juga memperingati tokoh Wong Agung Wilis, Rempeg Jagapati, dan Sayu Wiwit,” ungkap mantan pimpinan DPRD Banyuwangi tersebut.

    Ketua Masyarakat Adat Nusantara (Matra) Jawa Timur, Kanjeng Pangeran Panji Srie Soe Putra Jowo Uja Ciptonagoro, juga turut memberikan paparan.

    Ia menceritakan tentang kearifan Suku Kajang yang diakui dunia sebagai pelestari alam terbaik, sekaligus memberikan motivasi terkait bela negara.

    Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap proksi media sosial dan intelijen asing yang menguasai antropologi serta sosiologi Nusantara untuk mengadu domba bangsa Indonesia yang bhinneka.

    “Ilmu adiluhung leluhur dan perilaku luhur perlu terus diajarkan kepada generasi penerus. Empat pusaka soso jendro yang harus dijaga adalah menghapus rasa benci, iri, gengsi, dan dendam dari hati,” tuturnya.

    Paparan tersebut juga diperkuat oleh KH. Achmad Wahyud, SH, MHI, serta Wakapolresta Banyuwangi, AKBP Teguh Priyo Sasono, SIK.

    Acara yang dipandu Cornelis dan Fitri ini dihadiri berbagai kalangan, mulai pejabat daerah (Kepala Dinas, Kepala Badan, Camat, dan Kades), seniman, budayawan, pelestari pusaka, media, FKUB, hingga Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) binaan Bakesbangpol.

    Hadir pula Ki Mursyid Bin H. Huzairi Prayitno yang memiliki sejarah dengan Djoko Supaat Slamet, sosok yang pertama kali memulai situs ini berkat bisikan gaib Eyang Tawang Alun dan Srikandi Sayu Wiwit, serta utusan abdi dalem Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

    “Kami turunan Wali Sunan Giri. Ziarah ke Blambangan bagi kami juga merupakan penghormatan kepada leluhur,” ujar Nimas Ayu Ranu Wijayanti, yang kesehariannya menjaga tradisi leluhur dengan melestarikan acara tingkeban, ruwatan, dan pitutur agar budaya tetap adiluhung.

    Sementara itu, Aguk Darsono memberikan apresiasi jika kejayaan Kerajaan Macan Putih dan epos Perang Puputan Bayu dijadikan kalender tetap dalam Banyuwangi Festival. Ia juga berharap tokoh Blambangan dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

    “Hanya dalam Perang Bayu dan Perang Suroboyo, komandan penjajah gugur dan mereka menghabiskan biaya besar. Itu menjadi spirit sekaligus motivasi bagi karakter jati diri bangsa,” ujarnya.

    Ia menegaskan perlunya dukungan nyata melalui forum musrenbangdes dan musrenbang kecamatan yang dihadiri anggota dewan, agar dapat diakomodasi dalam musrenbang kabupaten bersama Bappeda Jawa Timur.

    Hal itu untuk perbaikan infrastruktur rawa yang ambrol, revitalisasi situs, pembangunan toilet dan tempat ibadah, serta memperbanyak dialog dan diskusi tentang pelestarian adat, tradisi, dan sejarah.

    “Semua ini demi kemajuan Banyuwangi tercinta yang harmoni, welas asih, sekaligus heroik,” tegas Wakil Ketua FPK yang pernah menjadi panitia pengusulan Pahlawan Nasional bagi Pejuang Blambangan ini saat menjabat Sekretaris DHC ’45 Banyuwangi.

  • Sinergi Pemda, NLR, dan Liliana Foundation Wujudkan Program Pemberdayaan Disabilitas di Banyuwangi

    Sinergi Pemda, NLR, dan Liliana Foundation Wujudkan Program Pemberdayaan Disabilitas di Banyuwangi

    Pemerintah Daerah Banyuwangi melalui Wahyudiono, S.T selaku Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Bappeda Kabupaten Banyuwangi menerima audiensi dari Yayasan Aura Lentera Indonesia, NLR Indonesia, dan Liliana Foundation pada Rabu (17/9) siang di lounge Bappeda.

    Pertemuan ini dilakukan dalam rangka persiapan pelaksanaan program advokasi bagi anak dan remaja penyandang disabilitas maupun kusta, sekaligus sebagai tindak lanjut koordinasi antara Pemda Banyuwangi bersama Yayasan Aura Lentera Indonesia, NLR Indonesia yang diwakili Dewi dan Nela, serta Liliana Foundation yang diwakili oleh Mr Elli, seorang warga Lebanon yang kini bermukim di Belanda dan akan turut menjalankan program di Banyuwangi.

    Wahyudiono, S.T menyampaikan jika kolaborasi ini merupakan komitmen pemerintah dalam menyediakan ruang-ruang publik yang ramah bagi difabel.

    “Kami sangat senang sekali dengan adanya kolaborasi ini untuk kita semua berkomitmen bukan hanya secara formal, tapi secara moral dan sosial. Pemerintah daerah juga sedang mengupayakan menyediakan ruang-ruang publik yang ramah difabel, termasuk jalan, taman, dan fasilitas umum lainnya,” ungkapnya.

    Sementara itu, Ketua Yayasan Aura Lentera, Nurhadi Windoyo, menegaskan bahwa masih banyak pandangan keliru terhadap penyandang disabilitas, baik di masyarakat maupun dalam birokrasi.

    Mereka kerap diposisikan hanya sebagai penerima bantuan sosial. Padahal, yang lebih penting adalah perubahan paradigma menuju pemberdayaan yang inklusif.

    Dalam kesempatan tersebut hadir pula perwakilan dari Dinas Sosial, Ivan Candra Febri Yusmanto, S.T, yang menekankan pentingnya kualitas data untuk mendukung lahirnya kebijakan inklusif.

    “Saat ini kami sedang melakukan pendataan penyandang disabilitas, dan data riil tersebut sudah kami pegang,” jelasnya.

    Yayasan Aura Lentera

    Data yang dimaksud meliputi jumlah serta jenis disabilitas sebagai bahan penyusunan E-Disabilitas. Aspirasi Forum Rembug Disabilitas yang dilaksanakan di Disbudpar (15/09/25) dengan moderator Indah Catur Cahyaningtas dan difasilitasi oleh Bappeda pun telah diterima dengan baik oleh Bupati Ipuk Fistiandani.

    Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat, kelompok rentan, dan mitra lainnya menjadi kunci untuk mewujudkan Indonesia yang inklusif, khususnya di Banyuwangi.

    Sebelumnya, pihak NLR dan Liliana Foundation telah menyimak presentasi Rumah Literasi di Gunung Remuk Ketapang serta mendengar narasi sejarah Aura Lentera di Kedai Makmoer sebagai bentuk penyerapan aspirasi untuk sinergi berkelanjutan.

    Selanjutnya, akan dijalankan Proyek BEN di Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Timur, yang mencakup wilayah Jember, Situbondo, serta Banyuwangi.

  • Jambore III FPRB Jawa Timur Hadirkan Inklusi, Relawan Disabilitas Ikut Belajar Mitigasi Bencana

    Jambore III FPRB Jawa Timur Hadirkan Inklusi, Relawan Disabilitas Ikut Belajar Mitigasi Bencana

    Jambore III Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur yang berlangsung di Pantai Grand Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, pada 12-14 September 2025, menjadi ruang pembelajaran kolektif bagi ratusan relawan dari berbagai daerah.

    Selama tiga hari, acara dipadati sesi paparan, diskusi, hingga praktik lapangan dengan beragam topik pengurangan risiko bencana (PRB).

    Agenda berjalan sejak pagi hingga malam, menghadirkan narasumber dari lembaga nasional hingga daerah.

    Tak hanya materi teknis, jambore tahun ini juga menghadirkan sesi tematik paralel yang menekankan inklusi dan pelibatan bermakna.

    Dalam sesi tersebut, mitra Civil Society Organization (CSO) memandu diskusi bersama peserta yang datang dari berbagai forum PRB daerah.

    Keistimewaan Jambore III kali ini adalah kehadiran kelompok disabilitas. Panitia menghadirkan Gerakan Kesehatan Tuli Indonesia (GERKATIN) serta Yayasan Aura Lentera Indonesia yang mendampingi peserta tunanetra.

    Nurhadi Windoyo, Ketua Yayasan Aura Lentera, mengapresiasi keterlibatan komunitas disabilitas dalam forum besar ini.

    “Kami sangat senang bisa ikut serta di jambore ini, meskipun belum bisa sepenuhnya dilibatkan dalam simulasi,” ujar Windoyo.

    Ia menambahkan, pihaknya berharap ke depan ada kolaborasi lebih luas dalam Jambore Nasional, sehingga relawan dari berbagai latar belakang dapat memahami situasi penyelamatan warga disabilitas ketika bencana melanda.

    Antusiasme juga tampak dari Gerkatin Banyuwangi yang aktif mengikuti simulasi penyelamatan bersama tim PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI).

    Proses latihan dilengkapi pendampingan Juru Bahasa Isyarat (JBI), sehingga semua tahapan dapat dipahami peserta tuli.

    Ricky Malebhy, Ketua Gerkatin Banyuwangi, bahkan mendorong anggotanya terlibat langsung di setiap sesi.

    Fahmi, salah satu anggota Gerkatin, mendapat kesempatan mempraktikkan pertolongan korban tenggelam sekaligus melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP).

    “Kami merasa bangga, lewat jambore ini Gerkatin bisa meningkatkan kapasitas menghadapi bencana,” kata Ricky.

    Selain aspek inklusi, jambore juga menghadirkan materi berbobot dari berbagai instansi. BNPB, Kemendes, Kemendagri, Kemenkeu, Kemen PPN/Bappenas, MPBI, BPBD Jawa Timur, hingga FPRB Jawa Timur hadir membawakan diskusi.

    BNPB membuka jalannya diskusi dengan tema Peran Forum dalam Kolaborasi Pentahelix untuk Membangun Ketangguhan Bencana.

    Direktur Kesiapsiagaan BNPB turut mensosialisasikan rancangan peraturan baru terkait Forum PRB. Selain itu, BNPB juga mengenalkan Katalog Digital Kesiapsiagaan yang tengah diuji coba.

    Sesi panel selanjutnya menyoroti praktik baik Forum PRB daerah dalam implementasi PRBBK. FPRB Jawa Timur berbagi pembelajaran dari Kampung Bungin, disusul sharing session praktik baik PRB yang menginspirasi banyak peserta.

    Pada hari terakhir, jambore menghadirkan sesi panel kedua dengan topik Strategi Kolaborasi dan Koordinasi antar Forum PRB sebagai Pendorong Resiliensi: Tantangan dan Peluang. Diskusi ini dilanjutkan lokakarya mekanisme komunikasi dan koordinasi antar forum, serta praktik lapangan berupa water rescue dan simulasi penyelamatan.

    Menutup rangkaian kegiatan, digelar dialog terbuka untuk menyusun agenda bersama menuju Festival Forum PRB 2026. Sebelum penutupan resmi, panitia membacakan rekomendasi serta komitmen bersama yang menjadi kesepakatan seluruh peserta.

    Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, yang hadir dalam pembukaan, memberikan apresiasi atas terselenggaranya Jambore III.

    “Forum ini adalah wadah strategis yang mempertemukan relawan PRB, tidak hanya dari Jawa Timur tapi juga skala nasional. Melalui forum ini, para relawan mendapat pencerahan untuk memperdalam manajemen pengurangan risiko bencana,” kata Adhy kepada jurnalis, Sabtu (13/9).

    Ketua FPRB Banyuwangi, Mahbub Junaidi, juga menyampaikan penghargaan kepada semua pihak.

    “Terima kasih kepada peserta yang sudah mengikuti kegiatan selama tiga hari penuh di Pantai Grand Watudodol. Apresiasi juga untuk Pemkab Banyuwangi, BPBD, sponsor, serta seluruh instansi terkait yang telah mendukung penuh acara ini,” ujarnya.