Tag: banyuwangi

  • Dukung Pelestarian Budaya, Kadis Perpusda dan Arkeolog Disbudpar Banyuwangi Kunjungi Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung

    Dukung Pelestarian Budaya, Kadis Perpusda dan Arkeolog Disbudpar Banyuwangi Kunjungi Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung

    Momen peringatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi tonggak penting bagi upaya pelestarian sejarah dan budaya Banyuwangi.

    Bertempat di Dusun Pondokasem, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, digelar kegiatan persiapan Rumah Peradaban sekaligus rintisan Museum Candi Purwo Gumuk Gadung, Senin (10/11).

    Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si, serta Arkeolog Museum Blambangan, Bayu Ari Wibowo, yang hadir mewakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi.

    Acara ini merupakan tindak lanjut dari Sarasehan Rumah Peradaban yang sebelumnya digelar di Pelinggihan Prabu Tawang Alun, Kantor Disbudpar Banyuwangi, pada 11 Oktober 2025 lalu.

    Suasana ramah tamah berlangsung sederhana namun penuh makna, dihadiri oleh tokoh masyarakat Dusun Pondokasem serta para penggiat sejarah dan budaya Nusantara.

    Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si,
    Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si, (Dok. Sastrawacana)

    Dalam sambutannya, Yusdi Irawan mengapresiasi langkah masyarakat dan para penggiat literasi yang telah memprakarsai rintisan Pojok Literasi Candi Purwo Gumuk Gadung dan Rumah Peradaban.

    Menurutnya, kegiatan ini akan menjadi pusat edukasi penting bagi masyarakat, khususnya di wilayah Tegaldlimo dan sekitarnya.

    “Semoga ke depan terus berkembang menjadi embrio yang bermanfaat bagi regenerasi anak bangsa,” ujar Yusdi.

    Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah terus memberikan dukungan terhadap kemajuan literasi di Banyuwangi.

    Salah satunya melalui kegiatan Festival Literasi Using yang digelar pada awal November 2025, dengan tujuan melestarikan budaya Using sekaligus memperkenalkan dunia literasi kepada para pelajar.

    Lebih lanjut, Yusdi menilai bahwa Pojok Literasi yang mengangkat tema peradaban, sejarah, adat istiadat, budaya, dan seni merupakan inisiatif yang patut diapresiasi.

    Sementara itu, Bayu Ari Wibowo, selaku perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan dukungan terhadap setiap upaya yang berkaitan dengan pelestarian cagar budaya.

    Bayu Ari Wibowo
    Bayu Ari Wibowo, Arkeolog Museum Blambangan (Dok. Sastrawacana)

    Tak hanya menghadiri kegiatan simbolis di Rumah Peradaban, Bayu juga terjun langsung meninjau kawasan Candi Purwo Gumuk Gadung bersama warga sekitar sebagai bagian dari survei awal pelestarian.

    “Kami mendukung dan langsung meninjau lokasi Candi Purwo Gumuk Gadung bersama warga sekitar untuk memastikan kondisi lapangan, meninjau potensi temuan, dan mengkaji kemungkinan situs ini apakah dapat dikategorikan sebagai situs bersejarah,” jelas Bayu.

    Menurutnya, langkah seperti ini bisa menjadi model pengembangan literasi berbasis budaya, yang ke depan berpotensi dikembangkan menuju digitalisasi buku sejarah dan peningkatan minat baca masyarakat dalam memahami warisan leluhur.

    Sebagai penutup, Bayu juga menyampaikan dukungan terhadap pembentukan Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung, yang akan menampilkan sejumlah artefak, koin kuno, dan benda peninggalan lainnya sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.

    Sementara itu, I Wayan Sucita, selaku penggagas Rumah Peradaban dan Pojok Literasi Candi Purwo Gumuk Gadung, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan pemerintah dan para pihak yang terlibat.

    “Kami berharap sinergi ini dapat terus menumbuhkan semangat pelestarian budaya dari generasi ke generasi,” ungkapnya.

    Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cinderamata sebagai simbol komitmen bersama dalam melestarikan sejarah dan peradaban Banyuwangi di masa lalu. (Tyo/Affandi)

  • MTs Maulana Ishaq Peringati Hari Pahlawan dengan Teater Puisi yang Menginspirasi

    MTs Maulana Ishaq Peringati Hari Pahlawan dengan Teater Puisi yang Menginspirasi

    Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional 2025 dengan tema “Pahlawanku Teladanku: Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan,” keluarga besar MTs Maulana Ishaq menggelar upacara bendera sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan, Senin (10/11).

    Sejak pagi, halaman madrasah telah dipenuhi siswa-siswi yang tampil rapi mengenakan pakaian adat, batik, dan busana daerah dari berbagai penjuru Nusantara.

    Upacara bendera berlangsung lancar dan penuh semangat sebagai wujud cinta tanah air.

    Petugas upacara melaksanakan tugas dengan tertib dan penuh tanggung jawab, sementara peserta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan khidmat.

    Suasana di lapangan terasa tenang dan khusyuk saat bendera Merah Putih dikibarkan.

    Momen ini menjadi pengingat akan pentingnya disiplin, rasa hormat, dan kebersamaan dalam menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan siswa.

    Suasana upacara semakin semarak dengan penampilan istimewa dari OSIM (Organisasi Siswa Intra Madrasah) MTs Maulana Ishaq yang membawakan teater puisi bertema “Pertempuran 10 November.”

    Melalui perpaduan drama, puisi, dan musik, para siswa berhasil menggambarkan semangat perjuangan para pahlawan yang rela berkorban demi kemerdekaan.

    Teater Puisi MTs Maulana Ishaq

    Pertunjukan tersebut mengingatkan seluruh peserta upacara bahwa kebebasan yang dirasakan saat ini lahir dari keberanian, persatuan, dan tekad kuat mempertahankan kehormatan bangsa.

    Karya kreatif dari OSIM itu mendapat tepuk tangan meriah dari guru dan siswa yang hadir.

    Banyak di antara mereka tampak terharu dan bangga menyaksikan semangat para siswa dalam menghayati nilai-nilai kepahlawanan melalui seni pertunjukan.

    Kepala MTs Maulana Ishaq, Bapak Rustam Efendi, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan tersebut.

    “Kegiatan seperti ini menjadi cara yang menarik untuk menanamkan nilai perjuangan dan semangat cinta tanah air. Melalui teater puisi, siswa tidak hanya belajar sejarah, tetapi juga belajar mengekspresikan semangat juang dengan cara yang kreatif,” ujarnya.

    Beliau menambahkan bahwa MTs Maulana Ishaq akan terus mendorong kegiatan positif yang membentuk karakter siswa agar menjadi generasi yang berakhlak, bersemangat, dan memiliki daya juang tinggi.

    Upacara Hari Pahlawan tahun ini menjadi momen berkesan bagi seluruh warga madrasah. Dengan semangat kepahlawanan dan kreativitas, siswa-siswi MTs Maulana Ishaq menunjukkan tekad untuk menjadi generasi penerus perjuangan bangsa.

    Nilai-nilai perjuangan seperti keberanian, keikhlasan, tanggung jawab, dan cinta tanah air tercermin dalam sikap peserta didik selama kegiatan berlangsung.

    Mereka belajar bahwa menjadi pahlawan tidak selalu berarti berperang, melainkan berjuang melalui ilmu, kerja keras, dan kontribusi nyata bagi lingkungan.

    Semangat inilah yang diharapkan terus tumbuh, menjadikan para siswa pribadi tangguh yang siap menjaga dan meneruskan cita-cita para pahlawan Indonesia.

  • Dinsos Banyuwangi Respons Cepat Kondisi Penyandang Disabilitas di Kedaleman Rogojampi

    Dinsos Banyuwangi Respons Cepat Kondisi Penyandang Disabilitas di Kedaleman Rogojampi

    Senyum cerah terpancar dari wajah Luk Luul Maknun (19), penyandang daksa asal Dusun Krajan, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

    Gadis yang mengalami disabilitas fisik sejak lahir ini mendapat kunjungan dari Komunitas Gotong Royong 45, media online sastrawacana.id/, dan pegiat sosial yang peduli terhadap penyandang disabilitas di daerah, Minggu (9/11).

    Luk Luul tinggal bersama kedua orang tuanya, Mansur (57) dan Sumiyati (53). Ayahnya bekerja sebagai kernet bus Minto jurusan Banyuwangi–Situbondo, sementara ibunya hanya ibu rumah tangga.

    Sejak kecil, Luk Luul tidak mengenyam pendidikan secara penuh, hanya sempat bersekolah di taman kanak-kanak selama dua tahun.

    Hal itu disebabkan keterbatasan orang tua, sang ayah sibuk bekerja, sementara sang ibu tidak bisa mengendarai kendaraan bermotor untuk mengantar.

    Kunjungan Komunitas Gotong Royong 45 yang dipimpin oleh Bung Aguk Darsono, yang juga aktif di Forum Banyuwangi Sehat (FBS) dan Forum Pembauran Kebangsaan {FPK) menjadi awal harapan baru bagi keluarga ini.

    Luk Luul Maknun Disabilitas Kedaleman

    Dalam kesempatan itu, turut hadir Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ sekaligus Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi, Maulana Affandi, S.S., serta beberapa pegiat sosial Banyuwangi.

    “Luk Luul ini anak yang cerdas dan ceria. Walau ada sedikit kesulitan berbicara, tapi semangatnya luar biasa. Dia tidak malu, malah terlihat senang saat diajak ngobrol,” ujar Bung Aguk yang juga merupakan pemandu bakat talenta yatim piatu.

    Ditemani pamannya, Iwan (50), yang juga penyandang disabilitas akibat kram dingin saat musibah kapal nelayan di Pantai Puger, Jember, Luk Luul menyampaikan keinginannya yang sederhana, yakni ingin bisa keluar rumah karena ejak kecil hampir seluruh waktunya dihabiskan di dalam rumah.

    Pamannya menuturkan, jika Luk Luul memiliki kursi roda, ia akan lebih mudah beraktivitas di luar rumah.

    “Selama ini dia hanya bisa duduk atau berbaring di kasur, jarang sekali keluar,” ujar Pakdhe Iwan, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang servis elektronik dan dapat dihubungi melalui nomor ponsel 082341828320.

    Menanggapi hal tersebut, Bung Aguk langsung menghubungi Khoirul Hidayat, S.STP., M.Si., Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Banyuwangi, untuk menyampaikan kondisi Luk Luul.

    Khoirul Hidayat menyampaikan, pihaknya siap memberikan bantuan dan berharap pemerintah desa turut aktif memantau kondisi warganya serta memperbarui data agar ia dapat menerima bantuan sosial yang selama ini belum pernah diterimanya.

    “Kami akan segera tindak lanjuti. Tapi ke depannya, pihak desa perlu lebih aktif melaporkan dan memperbarui data agar bantuan sosial bisa tepat sasaran,” ujarnya melalui pesan singkat.

    Sementara itu, Maulana Affandi menyampaikan apresiasi terhadap respons cepat Dinas Sosial Banyuwangi.

    “Langkah cepat Pak Khoirul dan tim Dinsos patut diapresiasi. Ini bukti bahwa kepedulian Dinsos Banyuwangi kepada warga yang membutuhkan sangat tinggi,” ujarnya.

    Menurut Affandi, pihaknya masih menunggu tindak lanjut dari pekerja sosial di Rogojampi untuk mendata Luk Luul, karena namanya belum tercatat dalam data penyandang disabilitas Kabupaten Banyuwangi

    Luk Lukul Maknun Kedaleman

    Ia juga menambahkan, Dinas Sosial Banyuwangi memang dikenal tanggap terhadap berbagai persoalan sosial.

    “Bukan hanya kali ini, sebelumnya Dinas Sosial juga sigap membantu warga lain, seperti Aripin yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan kerja. Hal itu menunjukkan adanya kesinambungan kepedulian yang nyata, salah satunya melalui pemberian kursi roda 3 in 1,” ujarnya.

    Kehadiran komunitas sosial, rekan media, dan pegiat kemanusiaan di rumah Luk Luul membawa semangat baru bagi keluarganya.

    Mereka berharap Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) juga dapat melakukan survei dan memberikan bantuan bagi Luk Luul, yang kini tinggal di rumah warisan kakek-neneknya dari pihak ayah.

    Selain menantikan bantuan berupa kursi roda dan popok, Luk Luul yang memiliki hobi bernyanyi juga direncanakan akan tampil dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) mendatang. Ia akan didampingi oleh relawan dari Komunitas Gotong Royong 45 dan Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Koordinator Divisi Program YALI, Indah Catur Cahyaningtyas, mengatakan dirinya hanyalah relawan, bukan pahlawan.

    “Bersamaan dengan momentum Hari Pahlawan, Luk Luul kami catat sebagai anggota dampingan kami. Harapannya, keluarga bisa lebih responsif dan kami juga akan mengikutkan mereka dalam pelatihan bagi orang tua yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas,” tutur aktivis Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) ini.

    Melalui kegiatan itu, Luk Luul akan mendapat ruang untuk menyalurkan bakatnya dan tampil bersama para penyandang disabilitas lainnya. Lewat gawai milik ibunya, ia juga diharapkan bisa menjalin silaturahmi agar tidak merasa sendirian.

    Dengan nada pasrah, sang ibu, Sumiyati, berharap ada pihak yang peduli terhadap putrinya, terutama dalam hal mobilitas agar bisa beraktivitas di luar rumah.

    “Bukan karena malu, tapi saya enggan merepotkan tetangga dan kerabat. Ternyata saya salah, dulu tidak menyekolahkan, tidak membuatkan KIA, dan baru mengurus KTP setelah usianya lebih dari 18 tahun,” ujarnya lirih.

    Semangat dan senyum Luk Luul menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Di balik segala keterbatasan, tersimpan keyakinan bahwa kuasa Tuhan selalu hadir bagi hamba-Nya, pada waktu dan cara yang paling tepat. (Affandi/Bung Aguk)

  • KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Sering kita dengar pernyataan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Tentunya itu bukan sekadar angka, seolah-olah bangsa ini nyaris tidak gemar membaca.

    Namun, jika ditelusuri, data tersebut tidak tercatat dalam laporan resmi UNESCO maupun BPS.

    Faktanya, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2024), tingkat kemampuan baca-tulis masyarakat Indonesia justru sudah sangat tinggi, yaitu sekitar 96–99%.

    Artinya, hampir semua penduduk Indonesia sudah bisa membaca dan menulis.

    Namun tantangannya kini bukan lagi sekadar bisa membaca, melainkan bagaimana menjadikan membaca bagian dari kehidupan.

    Banyak dari kita mampu membaca teks, tetapi belum tentu memahami isinya atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Persoalan utama bukan lagi pada kemampuan membaca, melainkan bagaimana membangun budaya membaca dan memperdalam literasi.

    Literasi bukan hanya sekadar mengenal huruf, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk berpikir reflektif dan kreatif. Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan upaya berkelanjutan.

    Pada dasarnya, literasi memiliki tiga makna, yaitu:

    1. Pertama, Enlightenment (mencerahkan) — literasi menghadirkan kesadaran baru dan membuka wawasan pembacanya. Dengan membaca, seseorang dapat memahami dunia dengan lebih luas.
    2. Kedua, Enrichment (memperkaya) — setiap bacaan memperkaya pengetahuan, memperluas empati, dan menambah khazanah berpikir.
    3. Ketiga, Empowerment (memberdayakan) — literasi menjadikan seseorang memiliki kompetensi dan keterampilan hidup (life skills) untuk menghadapi tantangan zaman.

    Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), sebuah komunitas literasi yang berdiri pada Maret 2023 dan berperan aktif menumbuhkan semangat membaca serta menulis di Banyuwangi.

    Anggotanya berasal dari beragam latar belakang, mulai dari tenaga pendidik (mayoritas guru penggerak), mahasiswa, dosen, penulis, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.

    Dengan visi “bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi,” KOPIWANGI mengusung misi yang nyata dan terukur: mengadakan pelatihan menulis fiksi dan nonfiksi, pendampingan sampai penerbitan karya, berbagi praktik baik antarpenulis, serta menyelenggarakan kegiatan dan kolaborasi literasi dengan berbagai pihak.

    Melalui program pelatihan komunitas, KOPIWANGI membuka ruang bagi siapa pun, baik guru, siswa, penulis pemula, maupun masyarakat umum untuk mengasah keterampilan menulis secara daring maupun luring.

    Kegiatan lomba literasi menjadi wadah bagi pegiat literasi dan memotivasi anggota agar terus produktif berkarya.

    Pertemuan bulanan berfungsi sebagai ruang refleksi, diskusi, dan evaluasi agar komunitas tetap tumbuh secara berkelanjutan.

    Beberapa kegiatan telah terlaksana setiap tahun, antara lain lomba cipta dan baca puisi untuk jenjang pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum tingkat kabupaten.

    Selain itu, KOPIWANGI rutin menggelar lomba baca puisi dan mendongeng bagi siswa SD, SMP, dan SMA sederajat, serta lomba cipta puisi, pantun, dan quote antaranggota komunitas.

    Melalui berbagai kegiatan ini, KOPIWANGI terus menumbuhkan semangat berekspresi dan kecintaan terhadap literasi.

    Kegiatan menulis puisi dan esai di KOPIWANGI dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap pelatihan, pendampingan, hingga penerbitan karya antaranggota komunitas.

    Upaya ini membuahkan hasil nyata melalui terbitnya tiga buku antologi, yakni Lentera di Pengujung Asa – Pendidikan yang Memerdekakan (2024), Pena Sang Surya – Kisah Inspiratif Pendidikan Era Milenial (2024), dan Antologi Gotong Royong (2025).

    Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa literasi akan berkembang jika dilakukan bersama dengan tekad serta niat yang kuat.

    Lebih dari sekadar komunitas, KOPIWANGI hadir sebagai jembatan antara literasi dan lintas generasi.

    Di dalamnya, berbagai usia dan latar belakang bersatu dalam semangat yang sama: mencintai literasi.

    Kegiatan sharing dan diskusi antara guru, penulis pemula, penulis senior, hingga kalangan masyarakat umum mendorong inspirasi untuk menulis dan membaca.

    Literasi pun menjadi ruang dialog antar generasi, tempat di mana pengalaman dan gagasan bertemu untuk melahirkan perubahan.

    KOPIWANGI hadir sebagai jembatan antara intuisi dan tulisan; antara pemikiran dan karya.

    Setiap intuisi atau pemikiran yang lahir mengalir ke dalam tulisan dan menjadi karya.

    Melalui tulisan, KOPIWANGI tidak hanya menyalurkan ide tetapi juga meneguhkan bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menggerakkan.

    Makna kata “jembatan” menggambarkan peran sebagai penghubung antara karya literasi dan lintas generasi — sebuah warisan yang dapat dinikmati dari masa ke masa.

    Melalui karya yang sarat nilai positif dan logis, literasi menjadi cermin reflektif budaya, khususnya dalam bidang sastra, yang terus hidup dan berkembang seiring perjalanan waktu.

    Dalam dunia yang dibanjiri informasi, kemampuan literasi menjadi tameng sekaligus kompas.

    Masyarakat yang melek literasi tidak mudah terombang-ambing oleh hoaks, tidak cepat tersulut oleh opini kosong, dan mampu menilai setiap informasi secara kritis.

    Karena itu, gerakan literasi seperti KOPIWANGI memiliki arti penting: membangun Banyuwangi yang cerdas, berbudaya, dan berdaya saing.

    Sampai di sini, KOPIWANGI membuktikan komitmennya bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca buku atau menulis cerita, tetapi sebuah gerakan yang mencerahkan, memperkaya, dan memberdayakan.

    Dari Banyuwangi, semangat api literasi terus menyala — menghubungkan masa lalu lewat tulisan yang berakar pada nilai-nilai budaya, masa kini yang dinamis, dan masa depan yang dipenuhi generasi milenial yang cakap berliterasi.

    Mari dukung gerakan ini, karena setiap kata yang ditulis dan setiap karya yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar bagi generasi berikutnya.

    Penulis merpakan Pendidik di SMK PGRI Rogojampi yang aktif di dunia literasi dan Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

  • Banyuwangi Kirim 14 Duta Bahasa Using ke Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi

    Banyuwangi Kirim 14 Duta Bahasa Using ke Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi

    Sebanyak 14 pelajar asal Kabupaten Banyuwangi yang terdiri dari 7 siswa SD dan 7 siswa SMP diberangkatkan menuju Surabaya untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Jawa Timur, Jumat (7/11).

    Kegiatan pelepasan peserta berlangsung di pelataran Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M.

    Dalam arahannya, Suratno menyampaikan agar para peserta terus melestarikan bahasa Using dan tidak malu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

    “Ke-14 siswa tersebut merupakan duta Bahasa Using yang telah bertanding secara berjenjang, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, dan kini provinsi. Mereka adalah hasil seleksi dari kegiatan Festival Literasi Using yang dilaksanakan pada 1 November 2025 dan dihadiri langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani,” paparnya.

    Juara Puisi Festival Literasi Using

    Sementara itu, Erpandi, S.Pd., M.Pd., salah satu pendamping delegasi, menyampaikan harapan besar kepada para peserta.

    “Bisa jadi nanti mereka yang masuk peringkat satu di ajang Tunas Bahasa Ibu kategori Bahasa Madura dan Bahasa Using akan terundang pada peringatan Hari Pendidikan Nasional bulan Mei 2026 di tingkat nasional,” tuturnya sambil mengajak seluruh kafilah menaiki bus pariwisata.

     

    Selain berkompetisi, duta Banyuwangi yang merupakan gabungan pelajar SD dan SMP bersama para guru juga akan menampilkan seni pertunjukan khas Banyuwangenan di Surabaya.

    Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Jawa Timur digelar pada 6–8 November 2025 di Hotel Santika Surabaya, dengan format awarding.

    Peserta berasal dari empat kabupaten di Madura, serta Situbondo dan Bondowoso.

    Adapun Banyuwangi menjadi satu-satunya peserta dengan bahasa Using yang sebelumnya telah menorehkan prestasi di tingkat nasional pada ajang serupa.

    Daftar Delegasi Banyuwangi Peraih Juara 1

    Nulis Aksara

    • Ahmed Fahrizi Paythoni – SMPN 2 Banyuwangi
    • Tinnaka Aknini Magfiroh – SDN 2 Gintangan, Blimbingsari

    Ndongeng

    • Graceylla Alley Nadyne CP – SMPN 5 Banyuwangi
    • Novi Jasmin Al Marista – SDN 2 Sumberagung, Pesanggaran

    Ngewer

    • Achmad Fikry Setiawan – SMPN 3 Rogojampi
    • Ulan Pancar Sari – SDN 3 Rogojampi

    Pidato

    • Arayo Datan Pratama – SMPN 3 Rogojampi
    • Annora Hanifa Firmala – SDN 1 Licin

    Maca Geguritan

    • İstiqlal Syukri Ahmad – SMP Bustanul Makmur, Genteng
    • Nabila Umaira Bramanta – SDN 4 Penganjuran, Banyuwangi

    Nembang

    • Cinta Qieta Berliana Putry – SMP Muhammadiyah 7 Sempu
    • Putri Qoireen Khumaira Herlangga – SDN 1 Rogojampi

    Nulis Cerita Cendhek

    • Anggun Aulia Pratama Putri – SMPN 2 Cluring
    • Keyra Febrisal Wardani – SDN 1 Pakistaji, Kabat

    Selain itu, juara 2 kategori cerita cendhek, Sifa Zulliyati (SMPN 1 Singojuruh) dan Aisya Nada Nahdliyina (SDN 1 Tamansuruh, Glagah), juga diundang menghadiri awarding.

    Juara Festival Literasi Using

    Para peserta tersebut akan mengikuti program inkubasi pelatihan menulis cerpen dwibahasa (bahasa lokal dan bahasa Indonesia) yang dilaksanakan Balai Bahasa Jawa Timur bekerja sama dengan Sengker Kuwung Blambangan di Hotel Swiss-Belinn Manyar, Surabaya, pada 9–11 November 2025.

    Peserta dari kategori bahasa Madura juga dijadwalkan mengikuti pelatihan serupa dalam kegiatan bertajuk Kemah Cerpen.

    Salah satu pengurus MGMP Bahasa Using SMP, Widyaningsih, S.Pd. dari SMPN 1 Blimbingsari, berharap bahasa Using terus dilestarikan dan memiliki penerus di masa mendatang.

    “Bahasa Using harus terus bergenerasi sampai anak cucu nanti. Untuk jenjang SD sudah lama berjalan sebagai muatan lokal, tapi di tingkat SMP belum ada regulasi yang tegas. Harapannya, lewat ajang festival ini, Bupati bisa membuat gebrakan yang menjadi gerakan nyata,” ujarnya.

    Widyaningsih juga menegaskan, keberlanjutan bahasa daerah tak hanya bergantung pada peserta didik, tetapi juga dukungan kebijakan dan pelatihan guru melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) dan diseminasi.

  • Membaca Ulang Sastra Pesantren – Syafaat

    Membaca Ulang Sastra Pesantren – Syafaat

    Membaca Ulang Sastra Pesantren
    Oleh : Syafaat (Ketua Lentera Sastra Banyuwangi)

    Tahun lalu, dalam perhelatan Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi, ada satu denyut yang menggugah kesadaran: denyut dari balik tembok pesantren.

    Dari ratusan puisi yang mengalir menuju meja panitia, banyak di antaranya lahir dari tangan-tangan santri, dari ruang-ruang sunyi Kementerian Agama dan pesantren yang tersebar dari Riau hingga Madura, dari Tapal Kuda hingga lereng-lereng pesantren tua di timur Jawa. Fenomena ini tentu bukan kebetulan.

    Ia seperti getar halus dari sejarah yang tengah menulis dirinya sendiri, bahwa pesantren kini sedang membuka babak baru dalam kesusastraan Indonesia.

    Dari balik dinding yang dulu hanya bergema lantunan kitab kuning, desiran syi’ir selepas adzan, kidung puji-pujian sebelum jamaah berkumpul untuk shalat, dan bisikan wirid Subuh yang merambat lembut di antara detik-detik pagi, kini mengalir pula sajak-sajak yang berbahasa Indonesia: puisi yang tetap berjiwa religius namun menatap dunia dengan mata kemanusiaan.

    Dan ketika Sastra Timur Jawa menggelar Temu Karya Serumpun 2025, gema itu kembali terdengar. Di antara halaman-halaman tebal antologi yang disusun dari penulis lintas negara, puisi-puisi santri turut menorehkan warna, lembut tapi teguh, sederhana namun memancarkan kedalaman batin.

    Sastra pesantren telah menjelma bukan hanya gema spiritual, tetapi juga pernyataan estetik: bahwa dari rahim kesunyian, lahir puisi yang membawa cahaya.

    Puisi di pesantren tumbuh dari keseharian yang sederhana, dari ketukan waktu yang diatur oleh adzan, dari denyut kehidupan asrama yang bersahaja, dari perenungan malam di serambi mushala yang remang. Puisi santri lahir bukan dari ruang akademik atau ruang baca yang tenang, tetapi dari ruang-ruang batin yang penuh dzikir dan kesunyian.

    Mereka menulis di antara waktu belajar Nahwu dan Shorof, di antara doa dan kerja bakti, di antara rindu dan kepatuhan.Karena itu, puisi-puisi mereka sering kali tidak berambisi menjadi “modern” atau “eksperimental” dalam pengertian estetika kota, tetapi jujur dan bersumber dari getaran iman yang paling dalam.

    Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru, tradisi puisi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan pesantren, bahkan sejak masa-masa awal penyebaran Islam di Nusantara. Syi’ir-syi’ir berbahasa Arab dan Jawa dengan aksara Pegon digunakan sebagai media pengajaran dan dakwah.

    Nadzoman tentang akhlak, fiqih, dan tasawuf dilagukan dengan nada yang indah agar mudah dihafal. Para santri belajar ilmu sekaligus belajar estetika: bagaimana kata bisa menuntun hati, bagaimana irama bisa menjadi jalan menuju Tuhan. Dalam suasana seperti itulah lahir ungkapan terkenal bahwa “setiap ilmu yang tidak disertai adab adalah kegelapan, dan setiap kata tanpa niat adalah suara kosong.”

    Sastra pesantren, dalam beragam bentuknya, hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syi’ir, dan nadzoman, merupakan cermin dari upaya manusia pesantren memahami dunia. Ia lahir dari pergulatan antara teks dan konteks, antara tradisi keilmuan dan realitas sosial.

    Karya-karya ini dibacakan di surau, di langgar, di rumah-rumah kiai, dan di sela pengajian. Orang-orang tua dan muda mendengarkannya bersama, lalu menurunkannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Karena itulah sastra pesantren memiliki sifat komunal, ia milik bersama, bukan milik individu semata.
    Berbicara tentang “sastra pesantren” berarti berbicara tentang kesadaran budaya yang tumbuh dari pengalaman religius. Ia bukan sekadar catatan kehidupan kaum santri, tetapi juga cermin dari subyektivitas kreatif mereka dalam menafsirkan dunia.

    Sejarah mencatat bahwa sejak abad ke-17, pesantren telah menjadi tempat persemaian para pujangga dan penulis. Yasadipura I (Raden Ngabehi Yasadipura I), Yasadipura II (Tumenggung Sastronagoro), dan Ranggawarsita yang hidup di Kasunanan Surakarta adalah contoh klasik: mereka pernah nyantri, menguasai bahasa Arab dan Jawa, dan menulis karya-karya besar yang menggabungkan hikmah spiritual dengan pengalaman sejarah bangsanya.

    Yasadipura I, misalnya, melalui karyanya Serat Cabolek, adalah sebuah cermin zaman — cermin yang merekam denyut ketegangan antara syariat dan makrifat, antara akal yang tunduk pada hukum dan hati yang mencari makna di balik hukum itu sendiri.

    Di dalamnya bergolak perdebatan antara Ketib Anom, sang penjaga kemurnian ajaran syariat, dengan Haji Mutamakkin, pengembara ruhani yang menapaki lorong-lorong mistik Jawa.

    Keduanya berhadap-hadapan di hadapan para ulama dan bangsawan Keraton Kartasura, di mana agama dan kekuasaan bersilang pandang, dan bahasa langit bernegosiasi dengan bahasa bumi.

    Melalui karya Yasadipura I, kisah itu menjelma bukan sekadar pertentangan dua tokoh, melainkan pertemuan dua arus besar peradaban: pesantren dan kraton, kitab dan kebudayaan, syariat dan rasa.

    Di sana, pesantren tampak tidak lagi semata sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi menjelma menjadi pusat kebudayaan jiwa Jawa — ruang di mana aksara berdoa, dan doa berubah menjadi aksara

    Dalam berbagai daerah Nusantara, karya-karya santri juga berkembang dalam bentuk lokalnya masing-masing.

    Di Jawa Barat muncul Tjarita Ibrahim dan Tjarita Nurulqamar; di pesisir Jawa Tengah hidup Serat Jatiswara dan Serat Centhini; di Sumatera terdapat Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura; bahkan di Sulawesi Selatan, kisah I La Galigo disisipkan unsur pesantren, ketika tokoh Sawerigading dalam versi santri digambarkan pergi menuntut ilmu ke Mekkah dan pulang mendirikan masjid.

    Proses penyisipan dan penyesuaian ini menunjukkan daya kreatif kaum pesantren dalam mentransformasikan kebudayaan lokal menjadi kebudayaan Islam Nusantara.

    Tradisi puisi dalam pesantren memiliki kekuatan spiritual yang khas. Ia tidak semata berbicara tentang cinta atau keindahan, tetapi juga tentang perjalanan jiwa. Dalam syi’ir-syi’ir pesantren, cinta selalu mengarah pada Tuhan, dan keindahan adalah cermin dari keagungan-Nya.

    Puisi menjadi alat tafakur, sarana tazkiyah (penyucian jiwa). Santri belajar menulis bukan untuk menjadi penyair besar, melainkan untuk memahami makna diri. Dan dalam keheningan malam, mereka melafalkan kata-kata yang seolah menembus batas antara manusia dan Tuhan.

    Puisi-puisi itu kini menemukan bentuk barunya. Para santri muda menulis di koran, di majalah sastra, dan di media sosial. Mereka menulis tentang kehidupan pesantren dengan bahasa yang segar, namun tetap membawa nilai-nilai keislaman dan etika sufistik.

    Karya-karya penyair seperti D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Ahmad Tohari menjadi bukti bahwa dunia pesantren masih memancarkan cahaya bagi kesusastraan Indonesia. Mereka membawa kesederhanaan hidup santri ke panggung nasional, tanpa kehilangan ruh spiritual yang membentuknya.

    Sebut saja dua puisi Acep Zamzam Noor dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan, dua puisi (Fajar bagi Kata-kata, dan Teluk Nipah) yang memantulkan aroma pesantren, serupa dupa yang menyala perlahan di ruang hati.

    Di antara bait-baitnya, tercium wangi kesunyian, getir pengalaman, dan cahaya makrifat yang menetes lembut dari langit penghayatan. Acep, penyair yang menempuh jalan sunyi antara sastra dan tasawuf, seolah menulis dengan tinta yang dicelup dari air wudhu.

    Puisinya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan dzikir yang berirama, doa yang disamarkan dalam keindahan metafora. Ketika ia hadir dalam Liga Puisi 2025 di Banyuwangi, suaranya bukan hanya membaca, ia menafsirkan diri sendiri.

    Setiap larik yang keluar dari bibirnya seperti menyentuh ruang batin para pendengar; menyapa yang jauh, memeluk yang luka, dan mengingatkan bahwa kata sejati selalu lahir dari jiwa yang bersujud.

    Juga KHR Ahmad Azzaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, turut menorehkan cahaya dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan.

    Puisinya yang berjudul “Allahumma Ampelkan Jiwa Raga” adalah napas panjang dari seorang salik yang berjalan di jalan sunyi menuju Yang Maha Cinta.

    Dalam larik-lariknya, kata tidak hanya menjadi bunyi, melainkan doa yang berdenyut, dzikir yang bergetar, dan cahaya yang menuntun jiwa. Puisi itu seolah lahir dari kedalaman malam di mana seorang kekasih berbicara diam-diam dengan Tuhannya.

    Aroma tasawuf begitu kental di dalamnya, seakan setiap kata telah dimandikan oleh air mata rindu yang tak pernah kering. Ia menulis bukan untuk memamerkan keindahan bahasa, melainkan untuk mengembalikan bahasa kepada asalnya: sebagai jalan pulang.

    Dan dari bait-bait itu, kita merasakan sesuatu yang melampaui wacana, semacam getar halus dari hati yang telah luluh di hadapan Sang Maha Segalanya.

    Dalam puisi Allahumma Ampelkan Jiwa Raga, kata “Ampelkan” bukan sekadar seruan, tetapi permohonan seorang hamba agar raganya pun berlabuh di pelukan Ilahi.

    Namun demikian, posisi sastra pesantren, termasuk puisi pesantren, masih berada di pinggiran dalam peta sastra Indonesia. Karya-karya mereka sering dianggap kurang “modern”, atau terlalu “moralistik”.

    Padahal, di tengah krisis spiritual masyarakat modern, suara-suara dari pesantren justru menawarkan keseimbangan. Mereka mengingatkan bahwa sastra bukan hanya permainan bentuk, tetapi juga laku batin; bukan hanya tentang estetika, tetapi juga etika; bukan sekadar tentang kata-kata, tetapi tentang kejujuran hati.

    Dalam pandangan ini, sastra pesantren bukan sekadar genre, melainkan cara hidup. Ia mengajarkan bahwa menulis adalah bagian dari ibadah, membaca adalah bagian dari tafakur, dan mendengar adalah bagian dari dzikir.

    Santri yang menulis puisi sesungguhnya sedang belajar memahami dirinya sendiri: bagaimana ia mencintai, bagaimana ia percaya, bagaimana ia berdoa. Dalam setiap bait puisi, selalu ada jejak sujud yang tak kelihatan.

    Di Banyuwangi, sastra pesantren tumbuh seperti pohon tua yang akarnya menembus masa lalu dan pucuknya menatap langit masa kini. Jejaknya kentara, berdenyut dalam nadi para santri dan insan Kementerian Agama yang menulis bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menyucikan ingatan.

    Sebut saja Shalawat Badar, yang ditulis oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada tahun 60-an, sebuah kidung yang melampaui zaman, menjadi gema dari masa ketika puisi masih lahir dari sujud dan air mata.

    Dari tangan seorang abdi negara, lahirlah syair yang bukan sekadar karya sastra, melainkan dzikir yang berpakaian bahasa.

    Dan kini, denyut itu tak padam. Ia menjelma dalam diri Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi hari ini, yang sajak-sajaknya mengalir dengan aroma pesantren, lembut, teduh, dan sarat makna.

    Dalam setiap puisinya terasa desir angin serambi mushala, gema adzan di pagi buta, dan getar kesadaran bahwa kata hanyalah jembatan menuju Yang Maha Kata.

    Kini, ketika dunia semakin bising oleh kata-kata yang kehilangan makna, puisi pesantren hadir sebagai suara yang lembut namun tegas. Ia tidak berteriak, tidak menggurui, tapi mengalir seperti air yang jernih, menyentuh yang mau disapa, dan menghidupkan yang haus akan makna.

    Dalam setiap puisinya, ada doa yang disamarkan, ada cinta yang disembunyikan, dan ada pengakuan kecil bahwa manusia selalu butuh Tuhan dalam setiap perjalanan menulisnya.

    Mungkin di situlah letak keabadian sastra pesantren: ia tidak mencari kemegahan, tapi ketulusan. Ia tidak mengejar abadi, tapi karena keikhlasanlah, ia bertahan dalam keabadian.

    Penulis adalah ASN/Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

  • Pecel Mbak Tutik, Legenda Kuliner Rogojampi yang Tetap Eksis Tanpa Promosi Digital

    Pecel Mbak Tutik, Legenda Kuliner Rogojampi yang Tetap Eksis Tanpa Promosi Digital

    Bagi warga Rogojampi dan sekitarnya, siapa yang tak kenal dengan warung Pecel Mbak Tutik yang melegenda?

    Setiap pagi mulai pukul 05.30 WIB, warung sederhana di barat pertigaan Pasar Rogojampi ini selalu ramai dipadati pelanggan yang ingin menikmati sarapan nasi pecel khas racikan Mbak Tutik.

    Selama lebih dari 40 tahun, nasi pecel ini menjadi menu favorit masyarakat sekitar.

    Setiap harinya, tak kurang dari 20 kilogram beras dimasak untuk memenuhi permintaan pelanggan yang datang silih berganti, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja kantoran, hingga pedagang yang tak pernah absen sarapan di sana.

    Warung Pecel Mbok Tutik Rogojampi

    Cita rasa pecelnya yang khas menjadi daya tarik utama. Nasi hangat disajikan dengan sambal pecel yang gurih pedas, kuah sayur segar, rempeyek renyah, serta lauk pendamping seperti telur ceplok, telur asin, dendeng ikan, dan kerupuk.

    Hidangan ini semakin nikmat ditemani segelas teh hangat atau temulawak yang menambah suasana hangat di pagi hari.

    Rudi, seorang pedagang yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi pelanggan setia, mengaku banyak warung pecel di sekitar Rogojampi, namun tak ada yang mampu menandingi cita rasa nasi pecel Mbak Tutik. Ia bahkan menyebut, “sudah terlanjur jatuh hati dan tidak ingin pindah ke lain hati.”

    Selain nasi pecel, warung ini juga menawarkan aneka jajanan tradisional seperti lumpia, risoles, pisang goreng, donat salju, kue lapis, dan berbagai kue lain yang menggugah selera.

    Suasana hangat dan pelayanan ramah khas Mbak Tutik membuat pelanggan merasa seperti sedang sarapan di rumah sendiri.

    Menariknya, warung Pecel Mbak Tutik tetap eksis meski tanpa promosi digital. Semua pelanggan datang berkat rekomendasi dari mulut ke mulut atau tutur tinular.

    Mbak Tutik meyakini, kunci keberhasilan usahanya terletak pada ketulusan melayani dan menjaga keaslian rasa.

    Prinsip inilah yang membuat warungnya bertahan puluhan tahun dan tetap menjadi salah satu UMKM kebanggaan Rogojampi, sederhana, hangat, dan selalu dirindukan.

  • Program Go Pro Wangi Libatkan Difabelpreneur, Perkuat UMKM Banyuwangi

    Program Go Pro Wangi Libatkan Difabelpreneur, Perkuat UMKM Banyuwangi

    Kehidupan inklusif di Banyuwangi semakin terasa dalam berbagai bidang, termasuk UMKM.

    Selaras dengan program Bupati Banyuwangi, UMKM Naik Kelas sejak tahun 2021, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskompumdag) Kabupaten Banyuwangi telah meluncurkan program Go Pro Wangi (Gerobak Promosi Banyuwangi) sebagai salah satu inovasi dalam memperluas akses pemasaran produk pelaku UMKM, termasuk pelaku usaha difabel yang mereka sebut difabelpreneur.

    Kepala Diskompumdag Banyuwangi, Hj. RR. Nanin Oktaviantie, menjelaskan bahwa Go Pro Wangi memberi kesempatan UMKM tampil di berbagai ajang besar daerah seperti Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Pasar Rakyat, hingga Car Free Day.

    “Setiap pelaku UMKM mendapat jatah tampil dua hingga tiga kali dalam satu siklus kegiatan, sehingga semua memiliki kesempatan yang seimbang untuk memperkenalkan produk mereka,” ujar Nanin.

    Diskompumdag Banyuwangi juga menyediakan gerobak dan stan dengan desain menarik serta ramah akses, sementara pelaku UMKM bertanggung jawab membawa produk dan memastikan kemasan yang layak jual.

    Menurut Nanin, keterlibatan pelaku usaha difabel mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam membangun ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

    Selain ruang promosi, pelaku UMKM difabel juga mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas promosi, penguatan branding, serta perluasan jejaring usaha.

    Apresiasi terhadap program ini datang dari Nurhadi Windoyo, Ketua Aura Lentera sekaligus pembina komunitas UMKM Sahabat.

    Windoyo Ketua Aura Lentera
    Windoyo Ketua Aura Lentera (Dok. sastrawacana.id/)

    Ia menilai Go Pro Wangi menjadi wadah penting bagi pelaku usaha difabel untuk belajar menghadapi pasar nyata.

    "Program ini sangat bermanfaat untuk sahabat-sahabat kami Diffabel pelaku UMKM. Selain memberikan peluang pasar juga menjadi wahana belajar bagi kami menghadapi pasar yang nyata. Selain itu, kesempatan bagi kami untuk sosialisasi dan promosi bahwa kami juga mampu menjalankan usaha, ada produk yang kami hasilkan," kata Windoyo saat ditemui di ajang Kejurprov Voli Jawa Timur 2025 di GOR Tawangalun.

    Saat ini banyak penyandang disabilitas tergabung dalam kelompok UMKM seperti Sahabat dan Mekarwangi.

    Meski begitu, tantangan mobilitas dan pemasaran masih menjadi kendala utama.

    Windoyo berharap pemerintah terus memberikan pendampingan dan pembinaan terpadu agar pelaku difabel bisa tumbuh menjadi difabelpreneur yang unggul.

    Go Pro Wangi

    Dalam ajang Kejurprov Voli Jatim 2025, UMKM Sahabat menampilkan beragam produk, antara lain telur asin hasil karya siswa SLBN Banyuwangi, kue Klemben produksi Mahmud Hasyim (Ketua INAF Persawangi), serta kopi As Syifa milik Nurul Imam (Ketua UMKM Sahabat).

    Melalui Go Pro Wangi, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Banyuwangi berupaya memperluas jangkauan pemasaran produk lokal, memperkuat citra dan daya saing UMKM, serta membuka peluang menuju pasar nasional hingga global.

    “Dengan semangat kolaboratif dan inklusif, Go Pro Wangi menjadi bukti nyata bahwa setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan mengharumkan nama Banyuwangi,” pungkas Nanin.

  • Workshop Pentigraf Warnai Semarak Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Workshop Pentigraf Warnai Semarak Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa 2025, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menggelar kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra.”

    Rangkaian kegiatan ini mencakup Lomba Baca Puisi, Lomba Bercerita, dan Workshop Pentigraf yang digelar di Ballroom ED Hotel SMK Models Siliragung.

    Salah satu kegiatan yang menarik perhatian peserta adalah Workshop Pentigraf yang menghadirkan narasumber Maulana Affandi, S.S., Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus penulis buku.

    Workshop Pentigraf SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Kegiatan ini diikuti oleh total 60 peserta, yang terdiri atas 13 peserta dari sekolah eksternal (SMP dan SMA), 21 jurnalis SMK Models, serta 26 peserta dari intra dan ekstrakurikuler sekolah.

    Dipandu oleh moderator Ananda Ayu, suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta dengan semangat tinggi mengikuti setiap sesi yang disampaikan pemateri.

    Dalam paparannya, Affandi tidak hanya membahas teori seputar penulisan pentigraf (cerita pendek tiga paragraf), tetapi juga mengajak peserta memahami makna literasi secara lebih luas.

    Ia membagikan trik sederhana agar peserta lebih mudah menulis, yakni dengan memulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    “Menulis pentigraf tidak harus dimulai dari inspirasi besar. Justru ide terbaik bisa lahir dari benda, pengalaman pribadi, atau emosi yang kita rasakan,” ungkapnya.

    Ia kemudian memperkenalkan formula menulis pentigraf melalui tiga elemen dasar, yaitu benda, emosi, dan tempat.

    Dengan menentukan ketiga unsur tersebut, penulis sudah memiliki kerangka cerita yang siap dikembangkan menjadi karya utuh.

    Workshop Pentigraf

    Untuk menambah semangat, Affandi memberikan tantangan spontan kepada beberapa peserta untuk membaca karya pentigraf dan puisi di depan forum. Peserta yang berani tampil mendapat hadiah buku terbitan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Memasuki pertengahan sesi, peserta langsung diberi waktu praktik menulis pentigraf.

    Dalam waktu kurang dari 30 menit, sebagian besar peserta berhasil menuntaskan karya mereka dengan mengikuti trik yang baru saja dipelajari. Suasana ruangan pun dipenuhi antusiasme dan rasa ingin tahu.

    Di akhir sesi, Affandi mengajak peserta melakukan refleksi. Salah satu peserta dari tim Jurnalis SMK Models, Aurelia Clarista menyampaikan kesannya bahwa setelah mengikuti kegiatan ini, ia merasa lebih percaya diri dan mampu menulis pentigraf dengan mudah.

    “Sebelumnya saya merasa kebingungan dalam menentukan ide pentigraf, setelah mendengar pemaparan dari Kak Affandi, ternyata ada trik menulis pentigraf jadi tidak butuh waktu lama,” ujarnya.

    Sebelum workshop ditutup, moderator membuka sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam kesempatan itu, Affandi berpesan kepada seluruh peserta, khususnya para jurnalis muda, untuk tidak minder dalam berkarya.

    Workshop Pentigraf di SMK Models Siliragung

    “Tidak ada karya yang buruk. Semua karya itu baik, jadi jangan pernah malu dengan karya kita sendiri,” pesannya.

    Ia juga berbagi pengalaman pribadinya sebagai jurnalis dan penulis, mendorong peserta untuk terus berkarya dan menjadikan tulisan sebagai sarana menebar manfaat.

    “Menulis itu bukan sekadar hobi, tapi jalan untuk memahami diri dan dunia. Dari satu tulisan kecil, bisa lahir perubahan besar,” ujarnya menutup sesi dengan tepuk tangan meriah dari peserta.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung yang bekerja sama dengan KOPIWANGI, Sastrawacana, dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

  • Pemerintah Desa Pondoknongko dan UPN Veteran Jatim Jalin Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    Pemerintah Desa Pondoknongko dan UPN Veteran Jatim Jalin Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    Sebanyak 21 mahasiswa Program Studi S1 Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur melaksanakan Kuliah Lapangan Dialektologi di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi pada Kamis (23/10).

    Kegiatan ini bertujuan untuk meneliti dan mendalami bahasa Using, bahasa tutur khas masyarakat Banyuwangi yang menjadi bagian penting dari kekayaan linguistik Nusantara.

    Acara pembukaan berlangsung di pendopo kantor desa, dihadiri oleh Ketua Program Studi Pendidikan, Dr. Endang Sholihatin, S.Pd., M.Pd., serta dua dosen pembimbing, Dwika Muzakky Anan Taturia, M.Hum., dan Nisa Hanum Mufida, M.Hum.

    Turut hadir pula Kasi PMK Kecamatan Kabat, Sahroni, S.T., Mujalis, perangkat desa, dan beberapa warga yang akan menjadi narasumber penelitian di wilayah Pondoknongko.

    Antusiasme masyarakat tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Warga merasa bangga karena bahasa yang mereka gunakan sehari-hari menjadi objek kajian ilmiah yang dapat memperkaya khazanah linguistik Indonesia.

    Kepala Desa Pondoknongko, Hamdan Ramahurmuzi, S.T., dalam sambutannya menyampaikan rasa haru dan bangga atas kedatangan mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur.

    Ia menyebut kegiatan ini memiliki makna pribadi karena dirinya merupakan alumnus kampus yang sama, angkatan 1996 jurusan Teknik Industri.

    Kerjasama Kuliah Lapang Dialektologi

    “Saya dulu angkatan 96 dari jurusan Teknik Industri. Kedatangan adik-adik mahasiswa ini benar-benar membawa kenangan dan kebanggaan tersendiri,” ujarnya.

    Hamdan berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat bagi warga desa serta memperkaya penelitian tentang bahasa Using.

    “Semoga kolaborasi ini membawa manfaat bagi warga desa serta memperkaya penelitian tentang bahasa Using,” imbuhnya.

    Bahasa Using sendiri dikenal sebagai identitas budaya masyarakat Banyuwangi yang memiliki struktur dan ciri khas tersendiri.

    Melalui kuliah lapangan ini, para mahasiswa berkesempatan mendalami karakter bahasa yang lahir dari sejarah panjang dan kehidupan masyarakat pesisir timur Jawa.

    Selain menggali aspek linguistik, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat.

    Bagi mahasiswa, pengalaman langsung di lapangan menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana bahasa hidup dan berkembang di tengah budaya lokal.

    Dari Desa Pondoknongko, semangat pelestarian bahasa daerah kembali digaungkan. Menjaga bahasa tidak sekadar melestarikan kata, tetapi juga merawat jati diri, budaya, dan ingatan kolektif bangsa.