Tag: banyuwangi

  • FKKS Sempu Gelar Sosialisasi di Desa Karangsari: Dorong Kolaborasi untuk Wujudkan Desa Sehat

    Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) sebagai bagian dari Forum Banyuwangi Sehat (FBS) mengadakan sosialisasi di Balai Desa Karangsari, Sempu, Banyuwangi, pada Rabu (14/8/2024).

    Adapun acara tersebut dihadiri oleh Ketua FKKS Sempu, PMK Kecamatan Sempu, PKK Kecamatan Sempu, PKK Desa Karangsari, serta Pemerintah Desa Karangsari yang diwakili oleh Kepala Desa Agus Firmanto, SE.

    Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti oleh seluruh peserta, kemudian sambutan oleh Agus Nurwakhid, ST selaku Kasi PMK, dilanjut Kepala Desa Karang Karangsari Agus Firmanto, SE.

    Dalam sambutannya, Agus Nurwakhid, ST mengapresiasi Pemerintahan Desa Karangsari karena telah memberi fasilitas tempat untuk menggelar kegiatan.

    Ia juga menyampaikan amanat dari Camat Sempu yang berhalangan hadir karena ada kegiatan lain. Camat berpesan kepada peserta agar kegiatan ini bisa dicermati dan diperhatikan hingga selesai.

    “Pesan dan salam dari Camat agar peserta dapat mencermati sosialisasi hingga selesai,” tuturnya.

    Sementara itu, Agus Firmanto, SE selaku Kepala Desa Karangsari meminta maaf kepada peserta dan penyelenggara jika ada kekurangan dalam memfasilitasi kegiatan tersebut.

    Ia mengatakan jika Pemdes Karangsari sangat mendukung komunikasi kegiatan positif dan menyehatkan.

    Kemudian, Agus Firmanto, SE menjelaskan bahwa Pemdes Karangsari juga telah menerapkan beberapa kegiatan positif yang bertujuan untuk mewujudkan desa sehat, salah satunya menyanjikan jingle yang rutin diikuti oleh seluruh aparatur pemerintahan desa.

    “Desa Karangsari juga rutin melakukan kegiatan positif. Jam 07.15 WIB doa pagi, dilanjutkan menyanyikan jingle dan diakhiri dengan diskusi dengan para Kasun,” ujarnya.

    Di akhir sambutannya, Agus Firmanto SE juga mengabarkan bahwa Desa Karangsari akan menggelar jalan sehat pada hari Minggu, (18/8/2024).

    Jalan sehat dengan rute 2 kilometer tersebut bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang sehat bagi masyarakat.

    Adapun untuk menarik minat masyarakat, pihaknya telah menyediakan doorprize berupa satu unit sepeda motor dan beberapa hadiah menarik lainnya.

    Untuk mengantisipasi kemacetan lalu lintas, Agus Firmanto, SE mengimbau kepada linmas dan keamanan desa agar mampu menjaga kondusifitas serta memberi arahan yang humanis kepada pengguna jalan raya.

    Usai sambutan, kegiatan sosialiasi diisi oleh Dewi Anggorowati dari FBS. Sebelum memulai materinya, Dewi mengapresiasi Desa Karangsari yang memiliki jingle sendiri.

    “Sehat itu bukan hanya fisik, tapi juga mental. Seperti jingle, menandakan Desa Karangsari punya mental yang sehat. Semoga desa lain juga punya jingle sendiri,” ujarnya.

    Dalam materinya, Dewi menjelaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memujudkan kota sehat, antara lain:

    1. Kehidupan Masyarakat Sehat Mandiri
    2. Pemukiman dan Fasilitas Umum
    3. Pasar
    4. Satuan Pendidikan
    5. Pariwisata
    6. Transportasi dan Tertib Lalu Lintas Jalan
    7. Perkantoran dan Perindustrian
    8. Perlindungan Sosial
    9. Pencegahan dan Penanganan Bencana

    Dewi mengimbau kepada PKK Kecamatan Sempu dan Desa Karangsari untuk memaksimalkan program yang ada kemudian didokumentasikan via media sosial agar ada jejak digitalnya.

    “Tidak perlu buat program baru, tapi program yang ada dimaksimalkan dan didokumentasikan, seperti posyandu, pencegahan stunting, dan sebagainya,” ujarnya.

    Dewi juga sempat menceritakan bagaimana sejarah Forum Banyuwangi Sehat (FBS) yang sudah terbentuk sejak tahun 2011 lalu dan pernah meraih prestasi pada tahun 2015.

    Senada dengan Dewi, pemateri kedua, Hendy Setiyantoro, SKep.Ns menjelaskan prosedur bagaimana mewujudkan desa sehat. Ia juga memberi kiat agar dapat memaksimalkan program kesehatan yang telah dijalankan.

    Kemudian, Hendy juga sedikit menyinggung tentang indikator desa bisa dikatakan sehat, salah satunya adalah seberapa tinggi angka keselamatan ibu melahirkan.

    Di akhir sesi, Agus Nur Wahyudi dari FBS menambahkan agar tercipta sinergi dan kolaborasi untuk mewujudkan desa yang sehat.

    “Karena ini menyangkut banyak hal, maka lebih baik jika sinergi dikembangkan dan melakukan kolaborasi dengan pihak lain,” ujarnya. ***

  • Ratusan Finalis Festival Sastra Banyuwangi 2024 Tampil Memukau di SMPN2 Gambiran

    Para finalis Festival Sastra Kabupaten Banyuwangi 2024 yang berhasil lolos seleksi dihadirkan untuk penilaian secara langsung pada Selasa, 23 Juli 2024 di SMPN 2 Gambiran.

    Sebelumnya, sekira 700 siswa SMP se-Kabupaten Banyuwangi mengikuti seleksi berbagai perlombaan Festival Sastra 2024 yang dilangsungkan sejak tanggal 8 Juli 2024 hingga 20 Juli 2024.

    Kemudian, panitia beserta segenap juri menyeleksi karya serta penampilan siswa yang diunggah melalui Google Meet dan Youtube untuk mencari 50 finalis dari masing-masing cabang lomba.

    Barulah, masing-masing finalis tersebut diberi undangan untuk tampil secara langsung pada tanggal 23 Juli 2024 di SMPN 2 Gambiran.

    Sebelum perlombaan para finalis dilangsungkan, semuanya dikumpulkan di aula untuk mendapat arahan serta motivasi dari panitia, termasuk dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

    Dinas Pendidikan yang diwakili oleh Kabid Pendidikan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Didik Eko Wahyudi memberi apresiasi kepada para peserta yang berhasil lolos menjadi finalis.

    Ia berpesan agar para finalis tetap semangat dalam berkarya untuk memajukan bangsa, khususnya Kabupaten Banyuwangi.

    Setelah sambutan dan diberi informasi terkait teknis lomba, para peserta kemudian memasuki ruangan masing-masing sesuai dengan cabang lomba yang diikuti.

    Sebelum masuk ke ruangan, para finalis melakukan pendaftaran ulang dan mendapatkan kaos yang bisa digunakan saat tampil di depan dewan juri.

    Kemudian, dari 50 finalis masing-masing cabang perlombaan tersebut, dipilih 5 terbaik (juara 1, 2, 3, harapan 1, harapan 2) untuk tampil di Awarding Festival Sastra 2024.

    Salah satu juri dalam Festival Sastra 2024, Bung Aguk menyampaikan bahwa para finalis memang peserta yang terpilih sehingga tampil cukup memukau.

    “Penampilan para finalis bagus-bagus, memukau, kami bangga,” ujarnya.

    Tak sampai di situ, Bung Aguk juga sedikit memberi nasihat dan berbagi pengalamannya dalam dunia literasi sebagai bekal untuk para peserta.

    Menurut jadwal awal, Awarding Festival Sastra 2024 akan diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 2024 di RTH Maron Genteng.

    Namun, menurut informasi yang disebar oleh panitia, acara Awarding ditunda pekan depan dan para peserta diharap menunggu informasi selanjutnya. **

  • Gala Desa Voli Bupati Cup 2024 Gambiran Disambut Meriah oleh Antusias Warga

    sastrawacana.id/ – Dalam rangka mencari bibit pemain voli berbakat, Pemerintah Daerah Banyuwangi kembali mengadakan Gala Desa yang diikuti oleh setiap kecamatan, salah satunya Kecamatan Gambiran.

    Di Gambiran sendiri ada enam desa yang turut berkontestasi untuk memperebutkan Piala Bupati.

    Kontestasi voli skala Kabupaten ini disambut meriah oleh warga Gambiran, terlihat dari antusias masyarakat dalam laga perdana pada Senin, 22 Juli 2024.

    Adapun dalam laga perdana tersebut diisi dengan pertandingan antara tim Desa Jajag Putri melawan tim Desa Gambiran Putri. Sementara untuk pemain putra, ada tim Desa Purwodadi melawan tim Desa Yosomulyo.

    Menurut jadwal, babak penyisihan turnamen antar Desa ini akan berlangsung sampai tanggal 26 Juli 2024 dan babak final akan dilangsungkan pada tanggal 27 Juli 2024.

    Setelahnya, pemenang akan diadu kembali dengan pemenang dari masing-masing Kecamatan.

    Tak hanya masyarakat setempat, beberapa tokoh juga turut hadir pada hari pertama pembukaan Bupati Cup, seperti Forpimka Kecamatan Gambiran serta Kepala Desa se-Kecamatan Gambiran.

    Forpimka Kecamatan Gambiran dan Kades se-Kecamatan Gambiran memberi apresiasi kepada para pemain serta masyarakat yang antusias mendukung pelaksanaan event dari Pemda tersebut.

    Menurut informasi yang dihimpun, Kecamatan Gambiran sudah dua kali mengikuti turnamen tarkam ini, sebelumnya tahun 2023 lalu.

    Mengingat cukup banyak bibit muda voli yang bertalenta, alhasil Gambiran kembali menjadi Kecamatan yang cukup diperhitungkan pada turnamen tahun ini.

    Dalam kesempatan yang sama, Sekdes Desa Gambiran, Binar, juga turut mengapresiasi diadakannya gala voli seperti ini.

    Menurutnya, turnamen seperti ini memberi ruang sekaligus wadah kepada para pemain voli, baik yang muda maupun profesional.

    Diharapkan nantinya dapat memunculkan bibit-bibit baru yang dapat memajukan bidang olahraga banyuwangi, khususnya voli.

    “Harapannya ya agar voli Banyuwangi semakin maju, muncul bibit-bibit baru yang bisa menjadi atlet profesional,” tandasnya.

    Binar menambahkan bahwa di Gambiran memang sudah ada beberapa atlet voli berbakat, bahkan ada juga yang sudah berlaga di tingkat lokal maupun Provinsi. **

  • Grand Opening Taman Baca Al Djawahir Hadirkan Bakti Sosial Sedulur Terapis Blambangan

    Dalam rangka peresmian Taman Baca Al Djawahir pada Minggu, (21/7/2024) di Gambiran, tuan rumah turut menghadirkan para terapis profesional Banyuwangi yang tergabung dalam Sedulur Terapis Blambangan.

    Para terapis tersebut mengadakan bakti sosial dengan memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat.

    Ada beberapa metode pengobatan yang tersedia, seperti bekam, gurah, akupuntur, pijat urat, totok saraf, hingga rukiah.

    Taman Baca Al Djawahir sendiri merupakan sebuah perpustakaan untuk warga desa yang diinisiasi oleh Djawahir, pria berusia 80 tahun.

    Meski memasuki usia senja, tapi semangatnya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa tak pernah padam.

    Dengan kegigihan dan kebulatan tekad, ia mencoba merangkul beberapa pihak, termasuk pemerintahan desa setempat. Alhasil, cita-citanya pun menjadi kenyataan.

    Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan agar Taman Baca tersebut bisa menjadi peninggalan yang terbaik dan dikenang oleh anak cucu serta masyarakat sekitar.

    “Saya berharap Taman Baca ini bisa menjadi tempat belajar yang nyaman untuk anak-anak. Semoga peninggalan saya ini bisa dikenang oleh anak, cucu, dan masyarakat,” ujarnya.

    Hal senada juga disampaikan oleh Ketua BPD Desa Gambiran, Atmorjo, S.Pd yang mengatakan bahwa Taman Baca Al Djawahir adalah konsep yang sangat berguna di era modern saat ini.

    Menurutnya, buku adalah jendela dunia, sehingga kebiasaan membaca buku harus dimulai sejak kecil agar masyarakat memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup dalam mengarungi kehidupan.

    Ketua BPD juga menambahkan bahwa semakin banyak membaca, maka seseorang akan merasa bodoh dan semakin ingin membaca untuk mendapat pengetahuan lainnya.

    Selain itu, hadir juga para pegiat literasi Banyuwangi, diantaranya Maulana Affandi, Bung Aguk, dan Yeti Chotimah, hingga perwakilan dari Rumah Sakit Al Huda, Yusron.

    Dalam kesempatan yang sama, Maulana Affandi memberi apresiasi kepada Djawahir karena telah peduli kepada dunia literasi.

    Kemudian, ia juga menambahkan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para terapis yang sudah bersedia melayani masyarakat sebagai bentuk kegiatan sosial.

    Lantas, Yeti Chotimah menambahkan bahwa literasi mampu mengantarkan seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih dikenal dunia.

    Yeti mencontohkan dirinya yang mampu bertemu dengan para petinggi negara karena literasi dan karya tulis yang diciptakan.

    Di akhir acara, Bung Aguk sebagai pegiat literasi dan sekaligus pembawa acara mengenalkan Koperasi Gotong Royong 45 yang merupakan wadah bagi para pelaku UMKM di Banyuwangi sekaligus beberapa produk yang ditawarkan. **

  • 7 Tempat Wisata di Banyuwangi yang Wajib Dikunjungi

    7 Tempat Wisata di Banyuwangi yang Wajib Dikunjungi

    Banyuwangi adalah sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur pulau Jawa, Indonesia.

    Kabupaten ini terkenal dengan keindahan alamnya, seperti pantai-pantai yang eksotis, hutan lindung, dan gunung yang megah.

    Selain itu, Banyuwangi juga dikenal dengan kebudayaan dan seni tradisionalnya yang kaya, seperti tari Gandrung dan festival-festival budayanya yang menarik.

    Maka tak heran jika kabupaten yang dijuluki sebagai Kota Gandrung ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik domestik maupun internasional.

    Tempat Wisata di Banyuwangi

    Nah, buat kamu yang penasaran dengan apa saja wisata di Banyuwangi, berikut adalah beberapa tempat wisata populer yang wajib dikunjungi.

    1. Kawah Ijen

    Kawah Ijen adalah sebuah kawah aktif yang terletak di puncak Gunung Ijen, perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia

    Kawah ini memiliki diameter sekitar 722 meter dan kedalaman sekitar 200 meter. Danau kawah Ijen merupakan danau asam terbesar di dunia.

    Kawah Ijen terkenal dengan fenomena blue fire-nya, yaitu api biru yang menyala di tengah kawah.

    Api biru ini disebabkan oleh pembakaran gas belerang yang keluar dari perut bumi. Blue fire hanya bisa dilihat pada malam hari, karena pada siang hari cahaya matahari terlalu terang.

    Selain blue fire, Kawah Ijen juga menawarkan pemandangan alam yang luar biasa.

    Dari puncak Gunung Ijen, wisatawan dapat melihat pemandangan matahari terbit yang spektakuler, serta keindahan danau kawah Ijen yang berwarna hijau toska.

    Untuk mencapai Kawah Ijen, wisatawan harus trekking terlebih dahulu selama sekitar 2 jam dari pos pendakian. Pos pendakian Kawah Ijen terletak di Desa Paltuding, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi.

    Berikut adalah beberapa tips untuk trekking ke Kawah Ijen:

    • Berangkatlah pada malam hari, sekitar pukul 01.00 WIB, agar bisa melihat blue fire.
    • Kenakan pakaian yang nyaman dan hangat.
    • Bawa senter atau headlamp.
    • Bawa masker untuk melindungi diri dari gas belerang.
    • Bawa air minum yang cukup.
    • Berhati-hati saat trekking, karena jalan setapaknya cukup licin.

    2. Taman Nasional Baluran

    Taman Nasional Baluran merupakan taman nasional yang terletak di ujung timur Pulau Jawa.

    Taman nasional ini memiliki luas sekitar 25.000 hektar dan terdiri dari berbagai macam ekosistem, mulai dari hutan hujan tropis, savana, hingga pantai.

    Taman Nasional Baluran terkenal dengan sebutan “Africa van Java” karena bentang alamnya yang mirip dengan Afrika, dengan padang savana yang luas dan penuh dengan satwa liar.

    Taman nasional ini merupakan habitat bagi berbagai macam hewan, termasuk banteng, rusa, monyet, dan berbagai macam burung.

    Taman Nasional Baluran menawarkan berbagai macam kegiatan wisata, seperti trekking, safari jeep, dan pengamatan burung.

    3. Pantai Pulau Merah

    Pantai Pulau Merah adalah salah satu pantai pasir putih yang populer di Banyuwangi, Jawa Timur. Pantai ini terletak di Kecamatan Pesanggaran, sekitar 70 kilometer dari pusat kota Banyuwangi.

    Pantai Pulau Merah memiliki pasir putih yang bersih dan air laut yang jernih. Pantai ini juga merupakan salah satu spot surfing terbaik di Indonesia.

    Pantai Pulau Merah menawarkan berbagai macam kegiatan wisata, seperti berenang, surfing, snorkeling, dan diving.

    Adapun rutenya sebagai berikut:

    • Dari pusat kota Banyuwangi, arahkan kendaraan ke Jalan Jember-Banyuwangi.
    • Ikuti Jalan Jember-Banyuwangi hingga melewati Pasar Pesanggrahan.
    • Belok kanan ke Jalan Pelabuhan Pancer.
    • Ikuti Jalan Pelabuhan Pancer hingga menemukan pintu masuk ke Pantai Pulau Merah.

    4. Teluk Hijau

    Teluk Hijau adalah sebuah pantai yang terletak di Taman Nasional Meru Betiri, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pantai ini berjarak sekitar 90 kilometer dari pusat kota Banyuwangi.

    Teluk Hijau terkenal dengan air lautnya yang jernih berwarna hijau toska. Teluk ini juga dikelilingi oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi.

    Teluk Hijau menawarkan berbagai macam kegiatan wisata, seperti berenang, snorkeling, dan diving.

    5. Pantai Plengkung

    Pantai Plengkung juga dikenal sebagai G-Land, adalah salah satu pantai paling populer di Banyuwangi, Jawa Timur. Pantai ini terletak di Taman Nasional Alas Purwo, sekitar 80 kilometer dari pusat kota Banyuwangi.

    Pantai Plengkung terkenal dengan ombaknya yang besar. Ombak di pantai ini dapat mencapai ketinggian 6 meter dan panjang hingga 2 kilometer. Ombak ini menjadikan Pantai Plengkung sebagai salah satu spot surfing terbaik di dunia.

    Selain ombaknya, Pantai Plengkung juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Pantai ini memiliki pasir putih yang bersih dan air laut yang jernih. Pantai ini juga dikelilingi oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi.

    Pantai Plengkung menawarkan berbagai macam kegiatan wisata, seperti berselancar, snorkeling, dan diving.

    Rute ke Pantai Plengkung:

    • Dari pusat kota Banyuwangi, arahkan kendaraan ke Jalan Jember-Banyuwangi.
    • Ikuti Jalan Jember-Banyuwangi hingga melewati Pasar Pesanggrahan.
    • Belok kanan ke Jalan Pelabuhan Pancer.
    • Ikuti Jalan Pelabuhan Pancer hingga melewati Pantai Pulau Merah.
    • Belok kiri ke Jalan Pantai Plengkung.
    • Ikuti Jalan Pantai Plengkung hingga menemukan pintu masuk ke Pantai Plengkung.

    6. Pantai Grajagan

    Pantai Grajagan adalah pantai yang terletak di Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pantai ini berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat kota Banyuwangi.

    Pantai Grajagan terkenal dengan ombaknya yang besar dan konsisten. Ombak di pantai ini dapat mencapai ketinggian 6 meter dan panjang hingga 2 kilometer. Ombak ini menjadikan Pantai Grajagan sebagai salah satu spot surfing terbaik di dunia.

    Selain ombaknya, Pantai Grajagan juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Pantai ini memiliki pasir putih yang bersih dan air laut yang jernih. Pantai ini juga dikelilingi oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi.

    7. Desa Wisata Osing

    Desa Wisata Osing Kemiren adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

    Desa ini merupakan salah satu desa wisata terbaik di Indonesia yang menawarkan pengalaman wisata budaya dan alam yang unik.

    Desa Wisata Osing Kemiren dihuni oleh suku Osing, yang merupakan salah satu suku asli Banyuwangi. Suku Osing memiliki budaya dan tradisi yang unik, yang masih dilestarikan hingga saat ini.

    Itulah beberapa wisata Banyuwangi yang dapat dikunjungi.

    Selain  tempat wisata di atas, Banyuwangi juga memiliki berbagai macam destinasi wisata lainnya, seperti Taman Gandrung Terakota, Pantai Sukamade, dan Air Terjun Tirto Kemanten

    Banyuwangi merupakan destinasi wisata yang cocok untuk wisatawan yang menyukai alam, budaya, dan sejarah.

  • Daftar Lengkap Rumah Sakit di Banyuwangi dan Alamatnya

    Daftar Lengkap Rumah Sakit di Banyuwangi dan Alamatnya

    Banyuwangi menjadi salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang mengalami kemajuan pesat dalam berbagai sektor, termasuk kesehatan.

    Terbukti, fasilitas serta layanan medis di Banyuwangi semakin tahun kian mengalami peningkatan.

    Dengan fokus pada keahlian medis, keselamatan pasien, dan kenyamanan, rumah sakit di Banyuwangi menjadi tempat yang penting bagi masyarakat untuk mencari perawatan medis yang optimal.

    Nah, buat kamu yang sedang mencari daftar rumah sakit di Banyuwangi untuk melakukan perawatan medis atau penelitian ilmiah, berikut ini adalah beberapa daftar dan alamatnya.

    1. RSUD Blambangan

    Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan adalah rumah sakit pemerintah yang menyediakan berbagai layanan medis dan pelayanan kesehatan. Rumah sakit ini dilengkapi dengan fasilitas modern dan tim medis yang terlatih.

    Alamat RSUD Blambangan

    Jl. Letkol Istiqlah No.49, Singonegaran, Kec. Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68415.

    2. Rumah Sakit Bhakti Husada Krikilan

    Dulunya rumah sakit ini didirikan pada tahun 1898. Dulunya bernama Rumah Sakit Krikilan yang kemudian berubah nama menjadi Rumah Sakit Bhakti Husada pada tahun 1966.

    Alamat Rumah Sakit Bhakti Husada

    Jl. rs Bhakti Husada No.11, Dsn. Krajan, Tegalharjo, Kec. Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68466.

    3. Rumah Sakit Yasmin

    Rumah Sakit Yasmin berdiri sejak tahun 1986 yang saat ini menjadi salah satu rumah sakit populer di Banyuwangi karena beragam fasilitas dan kemudahan yang disediakan untuk pasien.

    Alamat Rumah Sakit Yasmin

    Jl. Letkol Istiqlah No.80-84, Singonegaran, Kec. Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68415.

    4. RSI Fatimah Banyuwangi

    RSI Fatimah menyediakan berbagai layanan unggulan, seperti Operasi Katarak Tanpa Jahitan, USG Mata, Pemeriksaan Treadmill Untuk Jantung, Echocardiography, USG 4 Dimensi, dan masih banyak lagi.

    Alamat RSI Fatimah Banyuwangi

    Jl. Raya Jember No.25, Dusun Krajan, Kalirejo, Kec. Kabat, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68461.

    5. Rumah Sakit Al-Huda Genteng

    Rumah sakit Al Huda Genteng berdiri pada tanggal 1 Agustus 1991 dibawah naungan Yayasan Nurul Huda.

    Saat ini menyediakan berbagai layanan medis, seperti IGD 24 jam, instalasi hemodialisis, instalasi radiologi, dan masih banyak lagi.

    Alamat Sakit Al-Huda Genteng

    Jl. Raya Gambiran No. 225 Genteng, Dusun Krajan II, Gambiran, Kec. Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68465.

    6. RSU Abdhi Famili

    RSU Abdhi Famili menyediakan berbagai layanan medis seperti Electrotherapy, Manual Lymphatic, Medical Acupuncture, dan masih banyak lagi.

    Alamat RSU Abdhi Famili

    Jl. Moh. Ikrom, RT.02/RW.01, Mulyorejo Utara, Wringinrejo, Kec. Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68465.

    7. RSUD Genteng

    Rumah Sakit Umum Daerah Genteng menjadi salah satu rumah sakit yang memiliki rekam jejak baik dan telah meraih berbagai penghargaan, seperti Rumah Sakit Sayang Ibu Tahun 1999, Rumah Sakit Sayang Bayi Tahun 1995, Layanan Prima (Nilai 765) Tahun 2012, dan masih banyak lagi.

    Alamat RSUD Genteng

    Jalan Sultan Hasanuddin No.98, Dusun Krajan, Genteng Wetan, Kec. Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68465.

    8. RS Graha Medika Banyuwangi

    RS Graha medika memiliki tata nilai sebagai berikut:

    S: Santun (Sopan dalam tutur kata)
    E: Empati (Melayani sepenuh hati)
    H: Handal (bantuan pelayanan oleh tenaga profesional)
    A: Adil (Pelayanan yang merata tidak membedakan-bedakan)
    T: Terjangkau

    Alamat RS Graha Medika Banyuwangi

    RS Graha Medika Banyuwangi beralamat di Dsn Sidorejo Wetan RT001 RW001 Ds Yosomulyo Kec Gambiran Kab Banyuwangi.

    9. Rumah Sakit Medika Srono

    Rumah Sakit Medika Srono memiliki beberapa layanan seperti kamar operasi 24 jam, poliklinik anak, poliklinik bedah, poliklinik dalam, radiologi, perinatologi, dan masih banyak lagi.

    Alamat Rumah Sakit Medika Srono

    Jl. Pekulo-Sukomukti No.09, Kebaman, Srono, Banyuwangi Jawa Timur.

    10. Rumah Sakit NU Banyuwangi

    Rumah Sakit NU Banyuwangi memiliki pelayanan yang prima dan banyak promo program setiap bulannya.

    Alamat Rumah Sakit NU Banyuwangi

    Jl. Raya Mangir, Krajan, Mangir, Kec. Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68462.

  • Tradisi Petik Laut, Simbol Rasa Syukur Nelayan Banyuwangi

    Tradisi Petik Laut, Simbol Rasa Syukur Nelayan Banyuwangi

    Setiap daerah atau wilayah pasti mempunyai adat, tradisi, dan budaya masing-masing. Keberagaman itu merupakan salah satu faktor yang mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut.

    Seperti keberagaman tradisi yang terdapat di kota paling ujung timur pulau Jawa, yaitu Banyuwangi.

    Kota Gandrung ini memang terkenal dengan unsur magisnya, sehingga tak jarang jika tradisi yang ada selalu berkaitan dan berhubungan dengan nilai magis dan sakral. Seperti tradisi Petik Laut.

    Petik Laut adalah sebuah upacara adat atau ritual yang dilangsungkan oleh warga Banyuwangi, khususnya daerah atau pemukiman pesisir (pantai).

    Tujuannya adalah sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah, rezeki, dan keselamatan yang telah diberikan.

    Ritual ini dilakukan oleh para nelayan yang bermukim di daerah Muncar sebab daerah tersebut dihuni oleh mayoritas nelayan.

    Ritual yang digelar setahun sekali ini umumnya dilaksanakan pada bulan Purnama, tepatnya setiap Bulan Muharam atau yang lebih akrab dikenal Bulan Syuro.

    Ritual petik laut dipimpin oleh sesepuh adat yang berasal dari Madura karena asal muasal dari ritual ini berasal dari warga Madura yang menetap di Muncar.

    Hal tersebut ditandai dengan kelengkapan ornamen saat ritual yakni dengan mengenakan pakaian adat Madura, yaitu “Baju Sakera”.

    Dalam pelaksanaannya, para nelayan menyiapkan sesaji yang terdiri dari: kepala kambing kendit, aneka kue sebanyak 44 macam, buah-buahan, pancing emas, candu, tumpeng, ayam jantan, dan berbagai sesaji lainnya.

    Sesajian tersebut disusun serapi mungkin dan diletakkan pada kapal yang telah dihias dengan indah. Kemudian kapal tersebut bergerak ke tengah samudera dengan diiringi oleh puluhan kapal lain yang telah dihias juga.

    Selanjutnya kapal akan berhenti pada arus yang tenang di tengah lautan serta menenggelamkan sesaji yang telah dipersiapkan tersebut.

    Saat itu pula, terdengar teriakan ucap syukur dari para nelayan menggema di hingga ke tepi laut.

    Uniknya, saat sesaji tersebut telah ditenggelamkan, para nelayan malah menceburkan diri untuk merebutkan sesaji tersebut. Hingga akhirnya acara ini ditutup dengan doa.

    Sebenarnya serangkaian acara pada Petik Laut merupakan sebuah simbol rasa syukur para nelayan atas berkah yang diberikan oleh Tuhan.

    Diharapkan dengan meningkatkan rasa syukur, maka penghasilan dan jumlah tangkapan ikan akan bertambah setiap harinya.

    Perlu diketahui juga, tradisi Petik Laut tidak hanya dilangsungkan di Muncar saja tapi banyak daerah lain yang juga melangsungkannya, seperti Grajagan dan Bulusan.

    Bahkan ada beberapa Kabupaten lain yang melangsungkannya juga, seperti Jember, tepatnya di Kecamatan Puger.

    Author : Eva
    Editor  : Maulana Affandi

  • Godong Lemes, Kebudayaan Berorganisasi Asli Banyuwangi

    Godong Lemes, Kebudayaan Berorganisasi Asli Banyuwangi

    Bicara tentang kebudayaan dan adat-istiadat, tentu saja setiap daerah memiliki budaya dan adatnya masing-masing.

    Sebab, kebudayaan itu lahir dari buah pikir, ide, opini, serta kebiasaan masyarakat yang diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

    Ada budaya yang sudah dikenal dan bahkan dilestarikan sampai sekarang. Namun, ada pula kebudayaan yang sudah tak terlihat lagi, alias tak jelas juntrungannya.

    Hal itu adalah hal yang wajar, mengingat begitu banyaknya jumlah kebudayaan yang tercipta, jadi tidak semua bisa dijaga.

    Selain itu, penikmat serta pegiat budaya juga semakin tergerus jumlahnya, banyak generasi penerus yang enggan, bahkan tidak mau meneruskan apa yang sudah dibuat oleh orang terdahulu.

    Padahal, kebudayaan adalah salah satu wujud, bentuk, dan aset Negara yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya.

    Bicara tentang budaya yang mulai luntur tentu saja tidak terhitung jumlahnya, salah satu contoh adalah Godong Lemes yang berasal dari Kota Gandrung, Banyuwangi.

    Ya, mungkin sebagian dari kita, khususnya anak muda tidak mengetahui apa itu Godong Lemes.

    Dikutip dari berbagai sumber, Godong Lemes disebut sebagai kebudayaan masyarakat Banyuwangi zaman dulu dalam berorganisasi.

    Kabarnya, kebudayaan berorganisasi ini sudah ada sejak tahun 1963-an silam, yang berlangsung di Sawahan, Kelurahan Pengantigan Banyuwangi.

    Jadi, secara garis besar, Godong Lemes adalah sebuah perkumpulan sosial yang beranggotakan kepala keluarga lelaki atau lelaki dewasa di wilayah Sawahan dan merembet ke sekitarnya.

    Mereka berkumpul secara insidentil bila ada anggotanya yang akan mempunyai hajat: mengawinkan atau menyunatkan anak serta sanak saudara.

    Perkumpulan ini bisa dilakukan pada tempat tertentu, namun umumnya para lelaki dewasa tersebut akan melakukan musyawarah di kediaman yang punya hajat.

    Adapun pembahasan ketika mereka berkumpul adalah tiada lain hanya untuk urusan bersama yang meliputi toleransi, tenggang rasa, gotong royong, seperti sifat-sifat dasar yang diajarkan oleh nenek moyang kita.

    Tak kalah penting pula, para warga yang berkumpul tersebut juga akan memberikan sedikit materi yang dimiliki, alias iuran.

    Jumlahnya tidak ditentukan, tapi seikhlas dan semampunya. Tentu saja ini merupakan bentuk toleransi dan kepedulian sosial yang teramat baik, bukan?

    Tidak sampai di situ saja, saat berkumpul ada kelakar dan candaan yang dilontarkan kepada tuan rumah yang akan segera melakukan hajat.

    Namun, lebih menarget kepada sosok atau seseorang yang akan dihajatkan. Guyonan khas Banyuwangi akan keluar dari lisan mereka, tujuannya tidak lain hanya untuk melatih mental serta menambah keakraban.

    Kabar terkini mengatakan jika kebudayaan berorganisasi Godong Lemes dibentuk oleh Almarhum Bapak Bacar Am dan Buang Asmono pada tahun 1963-an.

    Walau sudah tidak seramai dulu, tapi budaya ini masih bertahan hingga sekarang, meskipun hanya segelintir orang yang melakukannya dan tanpa pernah dipublikasikan.

    Kebudayaan berorganisasi ini juga terbilang cukup unik dan memiliki karakteristik, misalnya bila ada anggota Godong Lemes yang mempunyai anak 9 (Sembilan), maka dia berhak untuk didatangi anggota sebanyak 9 (sembilan) kali bila mempunyai hajat.

    Jadi, tidak ada istilah hitung-hitungan, berapapun anaknya, warga tetap akan membantu sebagai wujud toleransi yang luhur.

    Disadur dari tulisan Elvin Hendratha

  • Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi dan Asal Usulnya

    Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi dan Asal Usulnya

    Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi

    Membahas tentang keindahan kota Banyuwangi memang tidak akan pernah ada habisnya.

    Banyuwangi merupakan kota yang sarat akan keindahan wisata, budaya, tradisi, dan kesenian.

    Salah satu kesenian yang telah menjadi ciri khas dari kota tersebut adalah Tari Gandrung.

    Kata “Gandrung” sendiri memiliki arti yaitu terpesonanya masyarakat Blambangan kepada Dewi Sri yang mereka percaya sebagai Dewi padi yang telah membawa kesejahteraan untuk pertanian mereka.

    Tujuan dari tari Gandrung adalah sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat akan hasil panen yang melimpah.

    Tari gandrung sendiri memiliki histori dan filosofi yang sangat menarik.

    Menurut sejarah, kesenian Gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirtagondo” untuk membangun ibukota Blambangan atas perintah dari Mas Alit yang telah dilantik sebagai Bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang.

    Pada awal kemunculannya, tari gandrung dibawakan oleh para lelaki yang berdandan seperti perempuan.

    Namun, pada tahun 1980an, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dan benar benar berakhir pada tahun 1914 setelah kematian penari terakhirnya yakni Karsan.

    Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi.

    Semi merupakan seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang menderita penyakit cukup parah pada tahun 1895.

    Segala macam cara sudah dilakukan demi kesembuhannya, namun Semi tak kunjung sembuh.

    Akhirnya Ibu Semi bernazar “kadhung sira waras, sun dhadekaken seblang, kadhung sing yo sing” yang berarti (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu seblang, kalau tidak ya tidak jadi).

    Lambat laun kesehatan Semi mulai berangsur membaik dan dijadikanlah dia seblang serta dimulainya babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh perempuan.

    Tradisi gandrung yang dilakukan oleh semi kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya.

    Pada mulanya tari gandrung hanya boleh ditarikan oleh keturunan penari gandrung saja.

    Namun di tahun 1970an, mulai banyak anak perempuan muda yang belajar tari gandrung sehingga tarian ini dikenal oleh seluruh masyarakat Banyuwangi.

    Pada perkembangan jaman, kesenian gandrung banyuwangi melibatkan seorang penari wanita profesional bersama para tamu pria yang menari dengan iringan musik khas Jawa dan Bali.

    Seperti gong, kluncing, biola, kendhang, kethuk dan panjak sebagai pelengkapnya.

    Selain itu di selingin dengan Saron Bali, angklung atau rebana sebagai bentuk kreasi.

    Tari gandrung di bagi menjadi 3 bagian yaitu:

    1. Jejer

    Merupakan bagian pembuka pertunjukan dengan dinyanyikannya beberapa lagu oleh penari secara solo.

    2. Maju

    Setelah jejer selesai, sang penari Gandrung memainkan dan memberikan selendangnya kepada tamu pria.

    Umumnya tamu-tamu pentingkah yang berkesempatan untuk menari terlebih dahulu.

    Penari Gandrung mendatangi tamu yang menari dengannya denga gerakan-gerakan menggoda. Itulah esensi dari tari Gandrung yakni tergila-gila dan hawa nafsu.

    3. Seblang Subuh

    Merupakan bagian penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan Gandrung.

    Pada bagian ini, penari Gandrung akan melakukan gerakan perlahan dan penuh penghayatan sambil membawa kipas yang dikibaskan sesuai dengan irama.

    Suasana mistis akan sangat terasa pada treatment ini karena terhubung erat dengan ritual seblang yang diartikan sebagai ritual penyembuhan atau penyucian.

    Busana yang dikenakan oleh penari Gandrung sangat khas dan berbeda dari kesenian tari Jawa lainnya.

    Karena terdapat pengaruh kerajaan Blambangan dan Bali di dalamnya. Hal itu dapat kita lihat dari busana penari Gandrung yang terbuat dari kain Beludru berwarna hitam yang dihiasi dengan ornamen berwarna emas.

    Sedangkan pada bagian bawah penari Gandrung mengenakan kain batik panjang khas Banyuwangi.

    Dan pada bagian kepala, penari gandrung memakai “Omprok” yakni mahkota dengan berbagai macam hiasan berwarna merah dan emas.

    Berbagai aksesoris seperti kelat pada tangan, ikat pinggang, selendang, dam simbong yang dihiasi warna emas juga digunakan.

    Tidak lupa juga tata rias khusus yang dipoleskan agar penari gandrung tampak semakin cantik.

    Pada era globalisasi ini, kesenian Gandrung Banyuwangi masih tetap kokoh dan telah menjadi maskot pariwisata Banyuwangi dengan disusulnya pembuatan patung Gandrung yang diletakkan di berbagai sudut kota dan desa.

    Bahkan pemerintah Banyuwangi mempromosikan gandrung untuk dipentaskan di beberapa kota bahkan luar negeri.

    Penulis : Eva