Tag: banyuwangi

  • Kode Pos Blimbingsari Banyuwangi Lengkap Berdasarkan Desa

    Kode Pos Blimbingsari Banyuwangi Lengkap Berdasarkan Desa

    Blimbingsari adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang memiliki kode pos 68460 dan 68461.

    Daerah Blimbingsari terkenal dengan bandara dan wisata lautnya. Sehingga, Kecamatan ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat wisata di Banyuwangi.

    Mengingat potensinya yang cukup tinggi, maka masyarakat sekitar hendaknya mengetahui kode pos Blimbingsari.

    Kode pos adalah serangkaian angka yang digunakan untuk memudahkan proses pengiriman surat dan paket.

    Setiap wilayah, baik itu kota, kabupaten, kecamatan, bahkan desa, memiliki kode pos yang unik. Dengan adanya kode pos, proses penyortiran dan pengiriman barang menjadi lebih efisien.

    Bagi masyarakat Blimbingsari, penggunaan kode pos ini akan membantu memperlancar administrasi, komunikasi, hingga mempermudah para wisatawan yang datang.

    Berikut adalah kode pos Blimbingsari lengkap berdasarkan desa atau kelurahan.

    1. Desa Blimbingsari: 68460

    2. Desa Kaotan: 68460

    3. Desa Watukebo: 68460

    4. Desa Gintangan: 68460

    5. Desa Bomo: 68460

    6. Desa Patoman: 68460

    7. Desa Kaligung: 68460

    8. Desa Karangrejo: 68460

    9. Desa Badean: 68461

    10. Desa Sukojati: 68461

  • Kode Pos Rogojampi, Informasi Lengkap untuk Warga dan Wisatawan

    Kode Pos Rogojampi, Informasi Lengkap untuk Warga dan Wisatawan

    Kode pos Rogojampi adalah 68462. Kode tersebut berfungsi memudahkan proses pengiriman surat dan barang, serta identifikasi wilayah.

    Di Rogojampi terdapat beberapa desa, antara lain: Aliyan, Bubuk, Gitik, Gladag, Karangbendo, Kedaleman, Lemahbangdewo, Mangir, Rogojampi, Pengatigan.

    Apa itu kode pos?

    Kode pos adalah serangkaian angka yang digunakan untuk memudahkan proses pengiriman barang atau surat ke suatu alamat tertentu.

    Kode pos ini dirancang untuk mempercepat proses sortir dan distribusi oleh jasa pengiriman, sehingga paket atau surat dapat sampai ke tujuan dengan lebih cepat dan tepat.

    Dengan mengerti fungsi dari kode pos, maka warga Rogojampi hendaknya mengingat nomor kode pos tersebut.

    Sebab, Rogojampi merupakan salah satu kecamatan yang memiliki potensi besar dalam bidang ekonomi.

    Rogojampi memiliki berbagai potensi yang menarik, terutama sektor pertanian dan perikanan.

    Di daerah ini, banyak petani yang mengolah lahan untuk menghasilkan berbagai komoditas, seperti padi, jagung, dan sayuran.

    Selain itu, nelayan di pesisir Rogojampi juga berperan penting dalam memenuhi kebutuhan ikan di pasar lokal.

    Bagi wisatawan, Rogojampi menawarkan keindahan alam yang menawan. Beberapa tempat menarik untuk dikunjungi adalah pantai, air terjun, dan lokasi-lokasi bersejarah.

    Menggunakan kode pos yang benar akan memudahkan wisatawan saat melakukan reservasi hotel atau pengiriman tiket, sehingga pengalaman liburan mereka menjadi lebih nyaman.

  • Polresta Banyuwangi Gelar Sarasehan Bersama Media untuk Wujudkan Kondusifitas Jelang Pilkada 2024

    Polresta Banyuwangi Gelar Sarasehan Bersama Media untuk Wujudkan Kondusifitas Jelang Pilkada 2024

    Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., menyelenggarakan sarasehan yang melibatkan ratusan jurnalis dari berbagai media di Warung Seblang, Kecamatan Singojuruh, Senin (28/10/2024).

    Tujuan utama acara ini adalah mempererat kolaborasi antara Polresta Banyuwangi dengan media demi menciptakan situasi keamanan yang kondusif di wilayah Banyuwangi, terutama menjelang pelaksanaan Pilkada 2024.

    Dalam sambutannya, Kombes Pol Rama menekankan pentingnya sinergi antara kepolisian dan media sebagai salah satu upaya menjaga keamanan wilayah Banyuwangi. Ia memulai dengan apresiasi bagi rekan-rekan media yang bersedia hadir.

    “Saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan media yang sudah meluangkan waktu hadir di sini. Kegiatan ini menunjukkan komitmen kita untuk membangun komunikasi yang baik dan efektif dalam menjalankan tugas kita masing-masing,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Kombes Pol Rama menyampaikan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak bisa dilakukan sendiri oleh kepolisian. Dukungan dan sinergi dengan media adalah kunci utama keberhasilan tugas ini.

    “Kami dari Polresta Banyuwangi sebagai penanggung jawab keamanan tentu tidak dapat bekerja sendiri. Kami butuh bantuan dan dukungan dari teman-teman awak media,” katanya tegas.

    Dalam kesempatan tersebut, Kombes Pol Rama mengingatkan pentingnya media untuk menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan menyejukkan.

    Ia berharap pemberitaan yang disampaikan tidak memancing konflik atau provokasi yang dapat memicu situasi tidak kondusif di masyarakat.

    “Saya berharap media di Banyuwangi bukan hanya menyajikan berita yang akurat dan faktual, tetapi juga memberikan kesejukan, tidak justru memprovokasi yang membuat kondisi tidak kondusif,” jelasnya.

    Ia mengajak seluruh awak media untuk bersama-sama menjaga suasana kondusif di Banyuwangi, terutama menjelang Pilkada 2024. Kolaborasi ini diharapkan bisa menjamin pelaksanaan Pilkada yang aman dan damai.

    “Saya sangat berharap sinergitas antara Polresta Banyuwangi dengan teman awak media, mari kita bergandengan tangan. Saya kira kita semua sepakat, kita semua berkomitmen bagaimana Pilkada 2024 ini dapat berjalan aman, kondusif, dan lancar,” tutup Kombes Pol Rama.

    Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa Polresta Banyuwangi berkomitmen merangkul seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri dan menjaga keamanan serta ketertiban di Banyuwangi.

    Warung Seblang di Kecamatan Singojuruh dipilih sebagai lokasi acara karena memiliki suasana nyaman yang mendukung terciptanya komunikasi yang santai namun mendalam antara kepolisian dan media.

    Sarasehan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara Polresta Banyuwangi dan awak media, sehingga kolaborasi yang lebih solid dan efektif dapat terjalin dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat Banyuwangi menjelang Pilkada 2024.

  • Sudah 10 Tahun Berlangsung, Lebih dari 3 Ribu Warga Banyuwangi Terima Fasilitas Operasi Katarak Gratis

    Sudah 10 Tahun Berlangsung, Lebih dari 3 Ribu Warga Banyuwangi Terima Fasilitas Operasi Katarak Gratis

    Kabupaten Banyuwangi kembali melaksanakan program operasi katarak gratis yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai hari Selasa, 22 Oktober 2024.

    Program ini merupakan pelaksanaan kedua untuk tahun ini sekaligus menandai genap satu dekade program ini berlangsung.

    Operasi katarak gratis diadakan di Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Banyuwangi yang berlokasi di Jalan Kartini.

    Kegiatan ini diselenggarakan berkat kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, PMI Banyuwangi, John Fawcett Foundation, serta berbagai lembaga donor lainnya.

    Plt. Bupati Banyuwangi, Sugirah, mengungkapkan bahwa target pada pelaksanaan kali ini adalah sebanyak 300 orang yang akan menjalani operasi katarak gratis.

    Selain operasi katarak, program ini juga mencakup pemberian kacamata gratis untuk sekitar 800 orang, layanan pengobatan mata gratis bagi 500 orang, pemeriksaan mata gratis di sekolah untuk 300 siswa, serta pemasangan bola mata gratis untuk sejumlah orang.

    “Ini merupakan tahun kesepuluh pelaksanaan operasi katarak gratis di Banyuwangi. Alhamdulillah setiap pelaksanaan, pesertanya selalu membeludak,” ujar Sugirah.

    Program operasi katarak gratis pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014, dan saat itu kegiatan ini diadakan setahun sekali.

    Namun, karena tingginya minat, frekuensi pelaksanaannya ditingkatkan menjadi dua kali dalam setahun.

    “Dalam sepuluh tahun terakhir, hanya sekali tidak digelar, yaitu ketika Covid-19,” jelas Plt. Ketua PMI Banyuwangi, Nurhadi.

    Nurhadi menambahkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, lebih dari 3.840 orang telah menerima operasi katarak gratis.

    Sementara itu, jumlah warga yang mendapatkan pemasangan bola mata palsu secara gratis mencapai lebih dari 150 orang.

    Lebih jauh lagi, pemberian kacamata gratis telah menjangkau lebih dari 13.700 orang dengan pengobatan mata gratis mencakup lebih dari 7.000 orang dan pemeriksaan mata bagi anak sekolah mencapai lebih dari 6.800 siswa.

    Untuk pelaksanaan kali ini, sebanyak delapan dokter mata dan puluhan tenaga kesehatan lainnya ditugaskan untuk memberikan layanan.

    “Saya sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan kali ini,” lanjut Nurhadi.

    Salah satu pasien operasi katarak gratis, Kiran, yang berusia 70 tahun, mengungkapkan rasa senangnya bisa berpartisipasi dalam program ini.

    Sebelumnya, untuk menjalani operasi katarak secara mandiri, ia harus mengeluarkan biaya mencapai beberapa juta rupiah.

    “Senang di sini bisa gratis,” kata Kiran.

    Kiran mengalami katarak di mata sebelah kiri dan berharap setelah dioperasi, penglihatannya dapat membaik sehingga ia bisa kembali beraktivitas secara normal.

  • Resmi, Motif Batik Gajah Oling Jadi Kekayaan Intelektual Banyuwangi

    Resmi, Motif Batik Gajah Oling Jadi Kekayaan Intelektual Banyuwangi

    Motif batik Gajah Oling yang merupakan ciri khas Banyuwangi kini resmi terdaftar sebagai kekayaan intelektual komunal (KIK) setelah menerima surat pencatatan dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

    Motif Gajah Oling diakui sebagai Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) asli dari Banyuwangi.

    “Kita semua sangat bersyukur. Motif batik Gajah Oling sudah sah secara hukum diakui berasal dari Banyuwangi. Kita akan terus dorong motif-motif batik lain untuk segera dicatatkan pula,” ujar Plt. Bupati Banyuwangi, Sugirah, pada Minggu (20/10/2024).

    Gajah Oling merupakan salah satu dari sekian banyak motif batik yang ada di Banyuwangi, dan motif ini dianggap paling terkenal di antara yang lainnya.

    Gajah Oling menggambarkan kombinasi antara elemen gajah dan uling yang merupakan sejenis belut.

    Terdapat beberapa interpretasi mengenai makna dari motif ini, namun yang paling dikenal adalah sebagai simbol pengingat akan Tuhan.

    Kata “Oling” berasal dari istilah “iling,” yang berarti ingat, sementara gajah melambangkan kekuatan dan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

    Sugirah menambahkan bahwa pengakuan terhadap motif Gajah Oling ini menunjukkan bahwa batik telah lama menjadi bagian integral dari seni dan budaya Banyuwangi.

    Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan lainnya memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan melestarikan batik di wilayah mereka.

    Salah satu inisiatif pemerintah daerah dalam melestarikan batik adalah melalui Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang merupakan contoh nyata komitmen pemkab untuk mengembangkan industri batik di Banyuwangi.

    Pada tahun 2024, BBF akan menampilkan salah satu motif batik tradisional, yakni Jenon.

    Sebelumnya, festival ini telah mengangkat beberapa motif lainnya, termasuk Gajah Oling, Galaran, Sembruk Cacing, Gedekan, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, Jajang Sebarong, hingga Sekar Jagad Blambangan.

    “Satu persatu setiap tahunnya motif-motif khas Banyuwangi kita angkat dalam BBF mulai tahun 2013. Diawali dari Gajah Oling, lalu Kangkung Setingkes, Paras Gempol, Sekar Jagad Blambangan, Kopi Pecah, hingga tahun ini Jenon. Ini adalah kekayaan warisan leluhur yang harus kita jaga, lestarikan, dan kembangkan,” tambah Sugirah.

    Keberagaman motif batik yang dimiliki akan terus didorong dan difasilitasi oleh pemerintah daerah untuk mendapatkan pengakuan sebagai kekayaan intelektual komunal dari Kemenkumham.

    “Ke depan pemkab akan terus mengupayakan pengakuan hukum atas keanekaragaman budaya Banyuwangi, termasuk motif batik khas-nya,” tegasnya.

  • FKKS Srono Perkuat Relawan Sehat dan Ajak Generasi Muda Berperan Aktif

    FKKS Srono Perkuat Relawan Sehat dan Ajak Generasi Muda Berperan Aktif

    Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Srono memperkuat kelembagaan dengan melakukan penyegaran pengurus dan merekrut kader generasi muda sebagai relawan di Pokja Desa Sehat.

    Langkah ini diputuskan dalam pertemuan dengan Forum Banyuwangi Sehat (FBS) yang digelar di Balai Desa Sukonatar, Kecamatan Srono, pada Jumat (18/10).

    Dewi Anggorowati, perwakilan dari Forum Banyuwangi Sehat menyampaikan pentingnya mendokumentasikan serta memberi narasi kegiatan sesuai tupoksi yang ada.

    Dalam paparannya, ia menjelaskan 9 tatanan kabupaten sehat, yang menjadi pedoman FKKS dan Pokja Sehat dalam menjalankan program.

    “Setelah ini, silakan laporkan hasil rembuk ini kepada kepala desa agar segera ditindaklanjuti,” ujar Dewi, yang juga merupakan pengurus TP PKK Banyuwangi.

    Menindaklanjuti paparan tersebut, Sekretaris Camat Srono, Suryatik S, SE, serta Kasie PMD Imam Basori, S.Sos, mengimbau kepada sekretaris desa dan kesra di masing-masing desa untuk segera membuat SK pengurus Pokja Sehat yang baru, mengingat masa bakti pengurus saat ini segera berakhir.

    Menurut mereka, pengurus baru harus mencakup perwakilan ASN atau perangkat desa, serta melibatkan tokoh masyarakat, LSM peduli lingkungan dan kesehatan, aktivis pemuda, serta mahasiswa.

    Ketua FKKS Srono, Drs. Heri Suprianto yang juga memiliki galeri batik di Wagud Kebaman, menyampaikan pentingnya peran desa dalam melaporkan kegiatan ke kecamatan.

    “Tanpa gerakan desa, kecamatan tidak punya data untuk dilaporkan ke FBS,” ujarnya.

    Heri menambahkan bahwa calon pengurus baru yang terpilih merupakan orang-orang yang cerdas di bidang teknologi informasi, pelaku UMKM online, serta aktif dalam kegiatan kepemudaan dan keagamaan.

    Heri juga menyampaikan kebanggaannya terhadap aspirasi Ketua Pokja Desa Sehat dari beberapa desa, seperti Siti Romlah dari Kepundungan, Nur Azizah dari Parijatah Wetan, dan Fitroh dari Sukamaju, yang mendapat apresiasi dari FBS sebelum pandemi.

    Camat Srono, Ir. Tri Wahyu Angembani, yang membuka acara, menegaskan bahwa sekretariat FKKS sudah siap beroperasi di rumah joglo yang berdampingan dengan Panti PKK.

    Ia berharap FKKS dan Pokja Desa Sehat dapat berperan aktif dalam menangani masalah lingkungan, seperti darurat sampah, serta mempromosikan budaya hidup sehat.

    “Kami berterima kasih kepada semua kader posyandu, KB, PKK, KPM, dan semua pihak yang mendukung berbagai program daerah maupun kementerian,” ujar Tri Wahyu.

    Ia juga berharap FBS dapat menjadi mediator untuk berkolaborasi dengan SKPD dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan 9 tatanan kabupaten sehat.

    Di akhir acara, Tri Wahyu turut pamitan sebagai Plt Camat Cluring, mengingat ia akan terlibat dalam kerja bakti kebersihan sungai dan pasar sebagai persiapan Festival Batik yang akan digelar di Destinasi Wisata Djawatan pada 18-19 Oktober 2024.

  • Gus Makki Ikut Lomba Mancing, Serap Aspirasi Rakyat di Kolam Pemancingan

    Gus Makki Ikut Lomba Mancing, Serap Aspirasi Rakyat di Kolam Pemancingan

    Calon Bupati Banyuwangi nomor urut 2, Ali Makki atau yang akrab disapa Gus Makki mengikuti lomba memancing ikan lele di kolam pemancingan Lingkungan Payaman, Kecamatan Giri, pada Minggu (13/10/2024).

    Dalam acara yang dihadiri ratusan warga ini, Gus Makki terlihat akrab berbaur dengan para peserta, mulai dari komunitas pemancing lokal hingga warga dari berbagai daerah di Banyuwangi.

    Sebagai bagian dari agenda kampanyenya, Gus Makki memilih pendekatan yang santai dan unik untuk lebih dekat dengan masyarakat.

    Ia tidak hanya berkompetisi dalam lomba memancing tetapi juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mendengarkan langsung berbagai aspirasi warga terkait isu-isu yang tengah dihadapi.

    Dalam momen lomba tersebut, Gus Makki berhasil menangkap ikan lele berukuran besar yang langsung disambut sorak-sorai warga.

    “Ini bukan hanya soal mancing, tapi juga cara kita bersilaturahmi, berbagi cerita, dan mendengarkan apa yang masyarakat rasakan. Insya Allah, jika nanti diberi amanah, kita akan bersama-sama membangun Banyuwangi Hebat dan Rakyat Bahagia” tutur Gus Makki.

    Gus Makki yang maju sebagai calon bupati nomor urut 2, dikenal dengan pendekatan kampanye yang kreatif dan penuh kehangatan.

    Keikutsertaannya dalam lomba mancing ini juga memperlihatkan kesederhanaannya dan menambah daya tarik bagi pemilih.

    Menurut pengelola kolam, Jam’i, lomba memancing yang diadakan rutin setiap minggu ini selalu diikuti oleh warga dari berbagai pelosok Banyuwangi.

    Ia menyatakan bahwa komunitas pemancing sangat berharap pada perubahan kepemimpinan.

    “Kalau komunitas mancing menginginkan perubahan pengganti dinasti. Pokoknya Gus Makki menang,” ungkap Jam’i.

    Selain menghibur warga, acara ini juga diharapkan bisa mempererat hubungan antara calon pemimpin dengan masyarakat, sekaligus menjadi sarana komunikasi yang efektif di tengah memanasnya situasi politik menjelang pemilihan.

  • Membanggakan, Difabel Berkompetisi di Peparkab II Banyuwangi 2024 dengan Penuh Antusias

    Peparkab II kabupaten Banyuwangi sukses dihelat NPCI Banyuwangi hari ini (10/10/2024) bertempat di GOR Tawangalun.

    Tercatat ratusan peserta mulai Jenjang SDLB 145 peserta dan umum 185 peserta tersebar di cabang lomba Lompat jauh, Bulu tangkis, Lempar Lembing, Tolak Peluru, Catur, Tenis Meja, dan Lari.

    Peni Munawaroh, S.Pd., Ketua NPCI Banyuwangi berharap peningkatan pertumbuhan atlet di Banyuwangi.

    “Saya berharap semoga Peparkab II ini bisa menumbuhkan atlit-atlit paralimpian yang berbakat sehingga kami dapat membawa mereka ke ajang yang lebih tinggi lagi seperti di Peparprov (Pekan Paralimpik Provinsi) dan Peparda (Pekan Paralimpik Daerah) untuk Paralimpian usia sekolah,” ujar Peni.

    Peni mengapresiasi dukungan pemerintah kepada paralimpian di Banyuwangi.

    “Kami merasa dukungan pemerintah kabupaten Banyuwangi khususnya Dispora sudah amat sangat baik dan mendukung kegiatan NPCI Banyuwangi,” tambahnya.

    Peni juga menjelaskan bahwa peserta yang lolos Peparkab akan diikutsertakan dalam Peparprov Jawa Timur.

    Saat ini, di Peparnas telah dikirim Diang Gusti Pengayom, atlet dengan hambatan pendengaran di Cabor Bulutangkis.

    Alfin, panggilan akrab Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi hadir memberikan dukungan semangat kepada para atlet.

    “Pekan Paralimpik Kabupaten (Peparkab) dimaksudkan untuk memberikan wadah dan kesempatan bagi atlet disabilitas untuk berkompetisi dan menunjukkan kemampuan mereka,” kata Alfin.

    Lebih jauh Alfin menguraikan tujuan kegiatan olahraga disabilitas diantaranya meningkatkan Prestasi Olahraga Penyandang Disabilitas, dengan Mencari dan mengembangkan bakat atlet penyandang disabilitas.

    “Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendukung olahraga penyandang disabilitas,” tambah Alfin.

    Selain itu tujuan selanjutnya adalah meningkatkan Kesadaran dengan jalan mengedukasi masyarakat tentang kemampuan dan potensi penyandang disabilitas melalui olahraga.

    Tujuan keempat mempererat Persaudaraan, menjalin hubungan yang baik antar atlet, pelatih, dan masyarakat.

    Tujuan yang tak kalah penting sebagai Promosi Kesehatan yakni mendorong gaya hidup sehat di kalangan penyandang disabilitas.

    Sedangkan tujuan yang terakhir untuk mengukur persiapan kegiatan peparperda tgl 5 November yang akan digelar di Bangkalan.

    “Dan harapan kami, bersama dengan NPCI, diharapkan akan muncul ekosistem olahraga disabilitas dibanyuwangi,” pungkas Alfin.

    A’an Wahyu Madira, Ketua Panitia Peparkab II Kab Banyuwangi tak ketinggalan menyampaikan harapannya agar pelaksanaan kegiatan ini dapat berlangsung berkelanjutan.

    “Harapan kami acara PEPARKAB ini bisa diadakan setiap tahun mengingat penyandang difable di Banyuwangi lumayan banyak, PEPARKAB Ke-2 ini selain sebagai ajang mengasah kemampuan dalam bidang Olahraga juga sebagai ajang silaturahmi dan eksistensi teman2 difable khususnyadi Bwi,” ujar A’an.

    “Semoga kedepan acara PEPARKAB tetap eksis, makin maju, meriah dan lebih sukses daripada tahun-tahun sebelumnya,” imbuh A’an penuh semangat. (Indah)

  • Syafaat Serahkan Buku Catatan Perjalanan Petugas Haji 2024 kepada Tim Irjen Kemenag di Banyuwangi

    Syafaat Serahkan Buku Catatan Perjalanan Petugas Haji 2024 kepada Tim Irjen Kemenag di Banyuwangi

    Dalam acara yang sederhana namun bermakna, Syafaat, seorang petugas haji tahun 2024, menyerahkan Buku Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji kepada Tim Irjen Kementerian Agama, Muh. Taqiyudin dan Adha Anggaini.

    Penyerahan tersebut berlangsung di ruang PTSP Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, pada Selasa (08/10/2024), bertepatan Taqiyudin sedang melaksanakan tugas di daerah tersebut.

    Perkenalan Syafaat dengan Taqiyudin terjadi saat keduanya bertugas sebagai Dalgas (Pengendali Petugas) di Terminal Jiyad, Makkah.

    Kala itu, mereka tengah menjalankan tugas untuk membantu jamaah yang membutuhkan dukungan, terutama setelah menyelesaikan ibadah thawaf.

    Salah satu momen penting terjadi ketika Taqiyudin dan timnya membantu jamaah dari kelompok SUB-58 yang menggunakan kursi roda setelah thawaf.

    Jamaah tersebut kemudian diantar kembali ke hotel Bilal di kawasan Misfalah.

    Pada saat yang sama, Syafaat bertugas mendampingi jamaahnya yang masih melaksanakan thawaf, menjadikannya saksi dari berbagai situasi yang mengharukan di tanah suci.

    Buku Catatan Kecil yang disusun oleh Syafaat mencatat berbagai pengalaman berharga yang diperolehnya selama bertugas sebagai petugas haji.

    Buku ini mengandung catatan tantangan-tantangan yang dihadapi, pelajaran yang dipetik, dan berbagai refleksi tentang tugas mulia tersebut.

    Syafaat mengungkapkan harapannya bahwa pengalaman ini bisa memberikan manfaat dan menjadi sumber inspirasi bagi rekan-rekannya.

    Ia juga berharap buku ini mampu mendorong petugas haji lainnya untuk terus berusaha meningkatkan kualitas pelayanan kepada jamaah di masa mendatang.

    Muh. Taqiyudin sangat mengapresiasi dedikasi Syafaat yang telah menuangkan pengalamannya dalam bentuk catatan yang mendalam.

    “Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan, tetapi juga menggambarkan dedikasi dan komitmen kita dalam melayani jamaah,” ungkap Taqiyudin.

    Bagi Syafaat, Buku Catatan Kecil ini bukan hanya sekadar dokumentasi pengalaman pribadi, tetapi juga cerminan dari kolaborasi yang harmonis antara petugas haji.

    Melalui buku ini, ia menekankan pentingnya kerjasama dan dukungan antara petugas demi memberikan layanan terbaik selama musim haji.

    Ia juga menyatakan bahwa silaturahmi antar petugas haji tidak boleh berhenti ketika musim haji selesai, melainkan harus terus dilanjutkan untuk menjaga solidaritas dan semangat melayani.

    Syafaat menyampaikan bahwa selain tugas formal yang diemban, ia merasa terpanggil untuk terus memberikan bimbingan dan bantuan kepada jamaah.

    Ia menekankan pentingnya pengabdian berkelanjutan kepada jamaah, baik yang sedang dalam perjalanan ibadah maupun yang baru bersiap untuk berangkat.

    Penyerahan Buku Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji ini menegaskan bahwa setiap pengalaman, sekecil apapun, memiliki nilai yang bisa dibagikan.

    Syafaat berharap karya sederhana namun penuh makna ini dapat menjadi pelajaran dan motivasi bagi para petugas haji di masa depan.

    Selain itu, diharap juga karyanya dapat menginspirasi untuk terus memperbaiki kualitas pelayanan haji, demi tercapainya pengalaman ibadah yang semakin baik bagi para jamaah. (Syaf)

  • Wisata Hati Pajero.one ke Panti Jompo Sahabat Dhuafa Banyuwangi,Berbagi Kasih Kepada Lansia

    Wisata Hati Pajero.one ke Panti Jompo Sahabat Dhuafa Banyuwangi,Berbagi Kasih Kepada Lansia

    Yayasan Sahabat Dhuafa Banyuwangi yang terletak di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, melayani masyarakat melalui dua lembaga, yaitu Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) dan Panti Jompo.

    LKSA Sahabat Dhuafa bekerja sama dengan toko modern Indahmart, menampung 25 anak yatim piatu dengan bimbingan guru mengaji dan pengajar bahasa Inggris dari Banyuwangi dan Madura.

    Selain itu, yayasan ini juga mengelola Panti Jompo yang telah beroperasi selama dua tahun dan menampung 15 lansia serta sepasang suami istri di perbatasan Blambangan, Tapanrejo, dan Kebaman-Srono.

    Menurut ketua panti, Sumiati, sebagian besar lansia yang tinggal di panti jompo ini berasal dari Lumajang, Probolinggo, Situbondo, dan beberapa kecamatan di Banyuwangi.

    Mereka diantaranya adalah orang tua yang tidak lagi bisa dirawat oleh keluarganya karena keterbatasan fisik, seperti lumpuh, sakit, atau tunanetra.

    Mbah Marianah (72), salah satu penghuni asli Desa Blambangan adalah salah satu contohnya. Meskipun pernah menikah empat kali, ia tidak memiliki anak dan merasa tenang tinggal di panti ini.

    “Jika ada yang meninggal, mereka akan dimakamkan di kampung halaman sesuai dengan keterangan dari desa asalnya,” jelas Sumiati.

    Hingga saat ini, panti jompo Sahabat Dhuafa mendapat bantuan rutin dari nelayan Muncar dalam bentuk ikan dan donasi uang.

    Namun, panti ini masih membutuhkan dukungan tambahan, seperti kursi roda khusus untuk lansia, tongkat alarm bagi tunanetra, dan popok kemasan (pampers).

    Sumiati berharap lebih banyak relawan yang dapat membantu, terutama untuk mengurus lansia yang membutuhkan bantuan fisik, seperti mengangkat mereka ke toilet.

    “Kami perlu bantuan kursi roda yang ada lubang untuk BAB, tongkat alarm untuk yang tunanetra serta pampers amat kewalahan. Juga relawan yang perlu angkat dan gendong untuk yang mau ke toilet,” imbuhnya.

    Sementara pembina yayasan, Sistim Indra Kurniawan menyampaikan jika LKSA berfokus untuk menyiapkan tumbuh kembang kader bangsa dan agama. Sedangkan panti jompo untuk menyiapkan kembali ke haribaan.

    “Semua niatnya ibadah dan kemanusiaan.Dan berharap yayasannya bisa menjadi wisata hati yang membuat senyum bahagia semuanya!”

    Pada Minggu (15/09/24), panti jompo ini menerima kunjungan dari komunitas Pajero.one yang datang dari berbagai daerah, termasuk Bekasi, Surabaya, dan Bali. Mereka berbagi donasi dan makanan untuk para lansia.

    “Ini adalah kunjungan perdana kami, dan kami merasa senang dapat membantu saat para lansia sangat membutuhkan,” ujar I Ngurah Ardian, salah satu anggota komunitas dengan nama gaul Biwa’st.

    Komunitas Pajero.one, melalui H. Irvant asal Surabaya, menuturkan bahwa mereka rutin mengadakan kegiatan bakti sosial dan tur tahunan di berbagai tempat di Jawa dan Bali.

    Kali ini, melalui anggota asal Banyuwangi, Kang Pandu dari Watubuncul, Banjarsari, Glagah, mereka merasa terpanggil untuk berbagi setelah melihat kondisi panti jompo ini di media sosial.

    Selain itu, Ketua Rumah Kebangsaan, Hakim Said, SH., melalui sekretarisnya, Joko Setiono, S.Kep., Ns., SHt., menyatakan bahwa mereka akan menggalang relawan sosial di setiap kecamatan untuk mendukung panti ini.

    Kemudian, pihaknya juga menggalakkan 3 KO, yakni Komunikasi, Koordinasi dan Kondusif dengan APH maupun pejabat pemeritah guna menciptakan wilayah yang aman dan nyaman.

    Mereka juga berkomitmen untuk mewujudkan suasana yang kondusif di wilayah tersebut, sembari berkoordinasi dengan aparat dan pejabat setempat.

    “Dalam waktu dekat, kami akan menggalang bantuan dari para dermawan untuk memenuhi kebutuhan panti jompo ini,” ucap Joko.

    Di waktu bersamaan, Aguk Wahyu Nuryadi dari Forum Banyuwangi Sehat (FBS) yang dibina oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Banyuwangi dengan pimpinan harian Kepala Bappeda dan Dinkes juga mengunjungi panti.

    “Kebetulan Muncar termasuk wilayah dampingan kami, panti ini bisa jadi andalan titik pantau tim kabupaten sehat nasional,” ujarnya.

    Aguk Wahyu Nuryadi juga menjadwalkan anjangsana untuk Paguyuban Lansia Gotong-Royong’45, termasuk fans radio komunitas dan forum peduli disabilitas Aura Lentera, serta Yayasan Gerontologi untuk wisata hati dalam waktu dekat.

    Selain untuk menghibur penghuni Panti Jompo, nantinya juga akan diagendakan untuk membuat film pendek yang menyebut Panti Jompo ini masuk dalam Tatanan Sosial Sehat.

    Beberapa rancangan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sosial yang sehat. (Bung Aguk/Maulana Affandi) ***