Tag: Biografi

  • Biografi Singkat Dr. Soepomo, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Singkat Dr. Soepomo, Pahlawan Nasional Indonesia

    Prof. Mr. Dr. Soepomo dikenal sebagai arsitek UUD 1945.

    Ia adalah ketua dari Panitia Kecil Perancang Undang-undang Dasar yang beranggotakan Mr. KRMT Wongsonegoro, Mr. Raden AchmadSoebardjo Djojoadisoerjo, Mr. Alexander Andries Maramis, Mr. Raden Panji Singgih, Haji Agus Salim, Dr. Soekiman Wirjosandjojo.

    Pada tanggal 14 Juli 1945, sidang pleno BPUPKI menerima laporan hasil pembahasan panitia pimpinan Soepomo ini. Berikut hasil kerja panitia kecil tersebut:

    • Pernyataan Indonesia Merdeka.
    • Pembukaan Undang-Undang Dasar (Preambul).
    • Undang-Undang Dasar (Batang Tubuh) yang kemudian dinamakan sebagai “Undang-Undang Dasar 1945”

    Soepomo kecil dilahirkan di Sukoharjo, daerah Surakarta pada tanggal 22 Januari 1903.

    Ia adalah keturunan priyayi. Ayahnya adalah Raden Tumenggung Wignyodipuro, menjabat sebagai Bupati Anom, Inspektur Penghasilan Negeri Kasunanan Surakarta.

    Soepomo adalah anak tertua dari 11 bersaudara.

    Pendidikan dasar Soepomo diselesaikan di Europesche Lagere School (ELS).

    Lalu melanjut ke MULO, setingkat SMP, di kota Solo. Selepas dari MULO Soepomo berangkat ke Jakarta untuk meneruskan pendidikannya.

    Ia masuk ke Bataviasche Rechtsschool, sebuah sekolah kejuruan hukum pada saat itu.

    Ia lulus tahun 1923 dan menjadi salah seorang pelajar terbaik.

    Setelah lulus Soepomo diangkat menjadi pegawai negeri di Pengadilan Negeri di Sragen, daerah Surakarta.

    Karena prestasinya yang membanggakan, Soepomo mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke Rijksuniversiteit Leiden di Belanda, di bawah bimbingan Cornelis van Vollenhoven, seorang antropolog juga seorang profesor Hukum Adat Hindia-Belanda.

    Soepomo menyelesaikan pendidikannya hingga ke jenjang doktor hanya dalam rentang waktu tiga tahun, tahun 1924- 1927.

    Thesis doktornya yang berjudul Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta (Reorganisasi sistem agraria di wilayah Surakarta) tidak saja mengupas sistem agraria tradisional di Surakarta, tetapi juga secara tajam menganalisis hukum-hukum kolonial yang berkaitan dengan pertanahan di wilayah Surakarta.

    Dalam masa studinya di Belanda, , Soepomo bergabung dalam organisasi mahasiswa bernama Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereeniging), yang bertujuan Indonesia Merdeka.

    Sekembalinya dari negeri Belanda, Soepomo langsung mengabdikan hidupnya pada pekerjaan.

    Ia pun terpaksa harus berpindah-pindah karena tugas. Soepomo pernah di tempatkan di Sragen,Yogyakarta, Jakarta, dan Purworejo.

    Saat bertugas di Jakarta ia melakukan penelitian hukum adat (privaatrecht der Inheemse bevolking) di daerah hukum (rechtskring) Jawa Barat.

    Saat pemerintah Jepang berkuasa, Soekarno membentuk Panitia Kecil Perancang Undang-undang Dasar yang diketuai oleh Soepomo.

    Beberapa jabatan penting yang pernah diemban oleh Soepomo yaitu: Menteri Kehakiman Republik Indonesia yang pertama, salah satu utusan menghadiri Konperensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, sebagai Duta Besar RI di Inggris (London) tahun 1954-1956, Guru Besar pada Universitas Gajah Mada, Akademi Ilmu Politik, pada Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.

    Soepomo juga adalah Rektor kedua Universitas Indonesia, saat itu masih bernama Presiden Universiteit Indonesia.

    Soepomo juga pernah memimpin berbagai lembaga internasional, misalnya International Insstitute of Differing Civili­zation di Brusel, dan International Commission for a Scientific and Cultural History of Mankind and Indonesian Institute of World Affairs.

    Soepomo meninggal akibat serangan jantung pada tanggal 12 September 1958 di Jakarta.

    Jenazahnya dikebumikan di makam keluarga di kampung Yosoroto, Solo.

    Atas jasa-jasanya, Soepomo dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 123 Tahun 1965 tanggal 14 Mei 1965.

  • Biografi Singkat H.O.S Cokroaminoto, Pemimpin Sarekat Islam

    Biografi Singkat H.O.S Cokroaminoto, Pemimpin Sarekat Islam

    Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau H.O.S Cokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882 dan meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun.

    Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu.

    Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo.

    Sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional, ia mempunyai beberapa murid yang selanjutnya memberikan warna bagi sejarah pergerakan Indonesia, yaitu Musso yang sosialis/komunis, Soekarno yang nasionalis, dan Kartosuwiryo yang agamis.

    Namun ketiga muridnya itu saling berselisih. Pada bulan Mei 1912, Tjokroaminoto bergabung dengan organisasi Sarekat Islam.

    Sebagai pimpinan Sarikat Islam, HOS dikenal dengan kebijakan-kebijakannya yang tegas namun bersahaja.

    Kemampuannya berdagang menjadikannya seorang guru yang disegani karena mengetahui tatakrama dengan budaya yang beragam.

    Pergerakan SI yang pada awalnya sebagai bentuk protes atas para pedagang asing yang tergabung sebagai Sarekat Dagang Islam yang oleh HOS dianggap sebagai organisasi yang terlalu mementingkan perdagangan tanpa mengambil daya tawar pada bidang politik.

    Dan pada akhirnya tahun 1912 SID berubah menjadi Sarekat Islam

    Seiring perjalanannya, SI digiring menjadi partai politik setelah mendapatkan status Badan Hukum pada 10 September 1912 oleh pemerintah yang saat itu dikontrol oleh Gubernur Jenderal Idenburg.

    SI kemudian berkembang menjadi parpol dengan keanggotaan yang tidak terbatas pada pedagang dan rakyat Jawa-Madura saja.

    Kesuksesan SI ini menjadikannya salah satu pelopor partai Islam yang sukses saat itu.

    Perpecahan SI menjadi dua kubu karena masuknya infiltrasi komunisme memaksa HOS Cokroaminoto untuk bertindak lebih hati-hati kala itu.

    Ia bersama rekan-rekannya yang masih percaya bersatu dalam kubu SI Putih berlawanan dengan Semaun yang berhasil membujuk tokoh-tokoh pemuda saat itu seperti Alimin, Tan Malaka, dan Darsono dalam kubu SI Merah.

    Namun bagaimanapun, kewibaan HOS Cokroaminoto justru dibutuhkan sebagai penengah di antara kedua pecahan SI tersebut, mengingat ia masih dianggap guru oleh Semaun.

    Singkat cerita jurang antara SI Merah dan SI Putih semakin lebar saat muncul pernyataan Komintern (Partai Komunis Internasional) yang menentang Pan-Islamisme (apa yang selalu menjadi aliran HOS dan rekan-rekannya).

    Hal ini mendorong Muhammadiyah pada Kongres Maret 1921 di Yogyakarta untuk mendesak SI agar segera melepas SI merah dan Semaun karena memang sudah berbeda aliran dengan Sarekat Islam.

    Akhirnya Semaun dan Darsono dikeluarkan dari SI dan kemudian pada 1929 SI diusung sebagai Partai Sarikat Islam Indonesia hingga menjadi peserta pemilu pertama pada 1950.

    HOS Cokroaminoto hingga saat ini akhirnya dikenal sebagai salah satu pahlawan pergenakan nasional yang berbasiskan perdagangan, agama, dan politik nasionalis.

    Kata- kata mutiaranya seperti “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” akhirnya menjadi embrio pergerakan para tokoh pergerakan nasional yang patriotik, dan ia menjadi salah satu tokoh yang berhasil membuktikan besarnya kekuatan politik dan perdagangan Indonesia. H.O.S.

    Cokroaminoto meninggal di Yogyakarta pada 17 Desember 1934 pada usia 52 tahun.

  • Biografi Cucuk Espe, Penulis dan Seniman Indonesia

    Biografi Cucuk Espe, Penulis dan Seniman Indonesia

    Cucuk Espe adalah seorang penyair, esais, cerpenis dan penulis naskah drama, juga aktor Indonesia yang dikenal sangat produktif menulis di berbagai media cetak nasional di Indonesia dan beberapa jurnal seni di luar negeri.

    Beliau lahir di Jombang, Jawa Timur, 19 Maret 1974. Ia belajar Bahasa Indonesia di IKIP Malang.

    Setelah itu menjadi seniman adalah pilihan hidupnya dan mendirikan Teater Kopi Hitam Indonesia.

    Cucuk Espe pernah menjadi aktor teater terbaik pada Peksiminas III di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1995).

    Selanjutnya, ia mendirikan dan memimpin Teater Kopi Hitam Indonesia yang telah berpentas di hampir seluruh kota besar di Indonesia.

    Juga bersama sejumlah pegiat kebudayaan di Jawa Timur menggagas Lembaga Baca-Tulis Indonesia (LBTI) yakni sebuah komunitas nirlaba yang bergerak di bidang kebudayaan (menuju masyarakat makin berbudaya).

    Sejumlah esainya sering dipublikasikan di Jawa Pos, Kompas, Republika, Media Indonesia, Lampung Post, Radar Surabaya, Bali Post, Banjarmasin Post, Surabaya Pagi, Harian Bhirawa, dan banyak Media Online.

    Cucuk Espe sendiri ditahun 2015 juga aktif dalam gerakan ‘Gugat Ikon Jombang’ yang dilakukan bersama pemuda-pemuda di Jombang.

    Gerakan ini sendiri dilakukan sebagai protes terhadap Pemerintah Kota Jombang perihal ikon jombang yang menggunakan tower.

    Warga Jombang menginginkan ikon Jombang menggunakan besut , karena besut merupakan budaya khas Jombang yang juga menjadi cikal bakal ludruk dan lain-lain.

    Karya drama/teater

    Para Pejabat, (1995)
    Monolog Sang Penari, (1997)
    Bukan Mimpi Buruk, (1998)
    Mengejar Kereta Mimpi, (2001)
    Rembulan Retak, (2003)
    Juliet dan Juliet, (2004)
    13 Pagi, (2010)
    Trilogi monolog JENDERAL MARKUS, (2010)
    INONG dongeng rumah jalang, (2011)
    Wisma Presiden, (2012)
    Ganasrev, (monolog-2013)
    Puisinolog; MANIVESTO ORGIL, (2014)

    Skenario film televisi

    Kuda Lumping dari Gunung Sumbing, (TVRI, 1996)
    Ketupat Lebaran, (sinema lebaran, 1998)
    Perempuan Bukan Perempuan, (IndMovie Festival, SCTV, 1999)
    Matahari dalam Selokan, (SCTV Movie, 2001)
    Jadikan Aku Perempuan, (IndiePro, 2010)
    Mbok, (Rumah Imaji Pictures, 2015)

    Novel/cerpen/buku

    Bulan Sabit di Atas Kubah (Pustaka Radar Minggu, 2010)
    13 Pagi diangkat dari repertoar teater (Pustaka Radar Minggu, 2011)
    Ketika Karya Sastra Dipanggungkan (Lembaga Baca-Tulis Indonesia, 2012)
    Revolusi Senyap (Harfeey, 2014)
    3 Repertoar Cucuk Espe (DJMPublisher, 2014)
    Jentir (Kumpulan Cerpen, Rasibook, 2015)
    Sejumlah cerpen dan esai yang tersebar di media cetak dalam dan luar negeri

    Penghargaan

    Aktor Teater Terbaik Peksiminas III di Jakarta (1995)
    Cerpenis Terbaik 2 FolkFEST II Desember 2010 di Bangkok, Thailand

  • Biografi Ahmadun Yosi Herfanda dan Karya-Karyanya

    Biografi Ahmadun Yosi Herfanda dan Karya-Karyanya

    Ahmadun Yosi Herfanda lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958. Ahmadun telah aktif sebagai editor dan jurnalis sejak menjadi mahasiswa.

    Dimulai dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (1983-1999), lalu di Harian Yogya Post (1999-1992), Majalah Sarinah (bersama Korrie Layun Rampan, 1992-1993), dan terakhir di Harian Republika Jakarta (1993-2010).

    Di harian Republika ia menjabat sebagai Redaktur Sastra, Koordinator Desk Opini dan Budaya, dan Asisten Redaktur Pelaksana.

    Karier strukturalnya tidak begitu ia perhatikan, karena kesibukannya dalam menulis karya kreatif, mengelola acara-acara sastra, dan menjadi nara sumber berbagai workshop penulisan.

    Ia juga mengajar di sejumlah perguruan tinggi, mengisi diskusi, pentas baca puisi, serta seminar sastra di berbagai kota di tanah air dan mancanegara.

    Dalam perjalanan karier terakhirnya (di Republika), aktivitas sastra lebih banyak menyedot kecintaannya daripada kerja jurnalistik.

    Sejak Maret 2010 Ahmadun aktif sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk periode 2010-2013.

    Ini adalah untuk kedua kalinya ia menjadi anggota DKJ.

    Sebagai sastrawan (penyair), ia sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya maupun menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan sastrawan serta diskusi dan seminar sastra nasional maupun internasional.

    Adapun seminar tersebut antara lain di Seoul dan Ansan (Korea Selatan), Kairo Mesir, Thailand, Singapura, Malaysia, Turkey, dan Brunei Darussalam, serta berbagai kota di Indonesia.

    Setelah menyelesaikan di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Yogyakarta, ia melanjutkan pendidikan jenjang S-2 jurusan Teknologi Informasi pada Universitas Paramadina, Jakarta, 2005.

    Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia (HISKI, 1993-1995), dan ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (KSI, 1999-2002).

    Tahun 2003, bersama cerpenis Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana, ia mendirikan Creative Writing Institute (CWI).

    Tahun 2007 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Cerpen Indonesia (KCI, 2007-2010).

    Tahun 2008 terpilih sebagai Ketua Umum Komunitas Sastra Indonesia (KSI).

    Ahmadun juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat dan anggota Mejelis Penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Tahun 2010, bersama sejumlah sastrawan Jakarta, mendirikan Yayasan Sastra Indonesia—Yayasan Cinta Sastra—dan diamanati menjadi ketuanya.

    Karya Ahmadun Yosi Herfanda

    Karya-karya Ahmadun dipublikasikan di berbagai media sastra dan antologi puisi yang terbit di dalam dan luar negeri, antara lain:

    • Antologi puisi Secreets Need Words (Ohio University, A.S., 2001)
    • Waves of Wonder (The International Library of Poetry, Maryland, A.S., 2002)
    • Jurnal Indonesia and The Malay World (London, Inggris, November 1998)
    • The Poets’ Chant (The Literary Section, Committee of The Istiqlal Festival II, Jakarta, 1995).

    Beberapa kali sajak-sajaknya dibahas dalam “Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman” (Deutsche Welle).

    Cerpennya, Sebutir Kepala dan Seekor Kucing, memenangkan salah satu penghargaan dalam Sayembara Cerpen Kincir Emas 1988 Radio Nederland (Belanda) dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik (Radio Nederland, 1989).

    Tahun 1997 ia meraih penghargaan tertinggi dalam Peraduan Puisi Islam MABIMS (forum informal Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

    Beberapa buku karya Ahmadun yang telah terbit sejak dasawarsa 1980-an, antara lain:

    • Ladang Hijau (Eska Publishing, 1980),
    • Sang Matahari (kumpulan puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, Nusa Indah, Ende, 1984),
    • Syair Istirah (bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, Masyarakat Poetika Indonesia, 1986),
    • Sajak Penari (kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1990),
    • Sebelum Tertawa Dilarang (kumpulan cerpen, Balai Pustaka, 1997),
    • Fragmen-fragmen Kekalahan (kumpulan sajak, Forum Sastra Bandung, 1997),
    • Sembahyang Rumputan (kumpulan puisi, Bentang Budaya, 1997),
    • Ciuman Pertama untuk Tuhan (kumpulan puisi, bilingual, Logung Pustaka, 2004),
    • Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (kumpulan cerpen, Bening Publishing, 2004),
    • Badai Laut Biru (kumpulan cerpen, Senayan Abadi Publishing, 2004),
    • The Warshipping Grass (kumpulan puisi bilingual, Bening Publishing, 2005),
    • Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta Publishing House, 2006),
    • Koridor yang Terbelah (kumpulan esai sastra, Jakarta Publishing House, 2006).
    • Yang Muda yang Membaca (buku esai panjang, Kemenegpora RI, 2009).Sajadah Kata (kumpulan puisi, Pustaka Littera, 2013
  • Biografi Mas Mansur, Tokoh Muhammadiyah Pejuang Bangsa

    Biografi Mas Mansur, Tokoh Muhammadiyah Pejuang Bangsa

    K.H. Mas Mansur lahir di kampung Sawahan, Surabaya pada tanggal 25 Juni 1896.

    la adalah putera Kyai Mas Ahmad dari keluarga pesantren Sidoresno Surabaya dan ibunya bernama Ramlah.

    Dari kecil, ia belajar pada ayahnya sendiri, kemudian belajar pada Kyai Cholil di Kademangan, Bangkalan, Madura.

    Hingga pada usia 12 tahun ia dikirim oleh ayahnya ke Mekah untuk memperdalam ilmu.

    Namun, belum lama di sana, terjadilah peristiwa politik di negeri Saudi Arabia dan semua orang asing diperintahkan oleh Raja Syarif Husein di Mekah agar meninggalkan kota itu.

    Mansur berangkat ke Mesir karena ingin meneruskan pelajaran di Universitas Al Azhar, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena menganggap Mesir adalah tempat plesir dan maksiat.

    Di Mesir tidak menerima kiriman uang dari ayahnya sehingga hidup dari dana-dana dan makan pun di mesjid.

    Untung hal yang demikian tidak berlangsung lama. Ayahnya kemudian berubah pendapat dan mau mengirim belanja kepadanya.

    Selama di Mesir banyak membaca buku-buku sastra Barat yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab.

    Di sana menyaksikan pula tumbuhnya nasionalisme dan hal ini membekas dalam jiwanya. Ia belajar di Al Azhar kurang lebih 3 tahun lamanya.

    Selama di Mesir berkesempatan mengunjungi beberapa negara Islam, antara lain meninjau pesantren Syanggit di Tripoli yang amat berkesan dihatinya.

    Berhubung dengan berkecamuknya perang dunia I, dipanggil pulang oleh ayahnya. Dalam perjalanan pulang bermukim lagi satu tahun di Mekah.

    Pada tahun 1915 tiba kembali di tanah airnya. Ia segera disibukkan oleh berbagai kegiatan dalam pergerakan agama, bahkan politik pula.

    Sebagai ulama, dikenal ahli ilmu tasawuf, ilmu tauhid, ilmu kalam, falsafah, dan mantiq K.H. Mas Mansyur menyadari, bahwa pada masa penjajahan itu, agama Islam tidak dapat berkembang.

    Pemerintah jajahan selalu berusaha menjauhkan masyarakat, terutama kaum terpelajarnya, dari kehidupan agama Islam.

    K.H. Mas Mansyur sudah berkata pada zaman itu, bahwa….. di tanah air kita Indo­nesia ini sebagian banyak dari kaum terpelajar kita yang lari dari agama Islam lantaran mereka merasa ragu-ragu disebabkan oleh keadaan pemeluknya yang pada masa ini sedang berada di lapisan yang paling rendah, rendah dan sungguh rendah martabat kedudukannya kalau dibandingkan dengan umat yang lain, ya sekali lagi rendah martabatnya.

    Tetapi di samping kerendahan bangsa kita dewasa ini adalah boleh dikatakan, karena kita sendiri, bukan karena Is­lam.

    Bukan karena Muhammad, dan bukan karena Qur’an dan Hadisnya, Is­lam tetap tinggi, tetapi umatnya belum tentu sebagai dia.

    Biar umatnya tidak terpandang, hina dina, namun dia (Islam) tetap mulia. Kehinaan umatnya bukan menunjukkan atas kehinaannya.

    Tegasnya, kehinaan dan kebenaran serta kemuliaan pemeluk sesuatu agama itu, bukan menjadi ukuran atas kehinaan agama yang dipeluknya.

    Tetapi ukuran kebenaran dan kerendahan suatu agama itu, ialah tersimpan di mata air agama itu sendiri.

    Setibanya kembali di tanah air, dari Jakarta K.H. Mansur tidak langsung pulang ke Surabaya, tetapi singgah di Yogyakarta pada K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, untuk memperkenalkan diri dan bersilaturahmi.

    Rupanya sejak di negeri Saudi Arabia sudah tertarik oleh Muhammadiyah yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan tiga tahun sebelum pulang.

    Sejak itu terjadilah hubungan erat antara K.H. Mas Mansur dengan K.H. Ahmad Dahlan dan pada tahun 1921 K.H. Mas Mansur pun masuk menjadi anggota Muhammadiyah.

    Sebelum masuk Muhammadiyah lebih dahulu telah tertarik kepada politik dan menjadi anggota SI (Serikat Islam) sejak tahun 1915.

    Disamping itu aktif didalam lembaga pendidikan bersama-sama rekan-rekannya ulama mendirikan Madrasah Nadhatul Wathan.

    Taswirul Afkar dan mengajar dipesantren ayahnya Madrasah Mufidah. Di sini menerapkan sistim Mesir.

    Di dalam Muhammadiyah kedudukan K.H. Mas Mansur terus meningkat. Masuk Muhammadiyah, kemudian mendirikan cabang Surabaya yang diketuainya.

    Lalu diangkat menjadi konsul untuk Jawa Timur dan di dalam kongres Muhammadiyah ke-26 pada tahun 1937 dipilih menjadi Ketua Pimpinan Pusat.

    Di dalam kongres-kongres berikutnya dipilih kembali hingga memimpin Muhammadiyah selama 6 tahun penuh, dari tahun 1937 hingga 1943.

    Selama menjadi Ketua PP Muhammadiyah memberi pelajaran pada Madrasah Mu’alimin, yaitu sekolah calon guru Muhammadiyah sekaligus sebagai kader-kader yang disiapkan untuk menanam benih-benih Muhammadiyah ke seluruh Indonesia.

    Di sana K.H. Mas Mansur memberikan pelajaran ilmu tauhid dan terkenal sebagai ustadz yang pandai mengajar.

    Pelajarannya padat, tetapi populer, mudah diikuti. Oleh karenanya para siswanya hingga sekarang masih terkenang kepada almarhum gurunya yang mahir itu.

    Sebagai seorang mubaligh K.H. Mas Mansur pandai berpidato. la terkenal dengan pidatonya yang singkat, padat, seringkali dibumbui dengan hal yang lucu-lucu.

    Menulis pun Mas Mansur mahir. Tulisan-tulisannya dimuat berbagai majalah. Tulisannya pun seperti pidatonya, yaitu singkat, padat, jelas dan enak dibaca.

    Pernah pula menerbitkan majalah tengah bulanan yang diberinya nama Le Djinem (baca: Jinem), Journal Ertude, Proprietair.

    Majalah yang nama-namanya mirip bahasa Perancis itu bukan berbahasa Perancis, tetapi berbahasa Jawa dengan huruf Arab.

    Majalah Djinem menyuarakan ”arinom” artinya adik muda atau angkatan muda. Majalah ini terbit tahun 1920.

    Kecuali berpidato dan menulis pun suka berpolemik tentang sesuatu masalah.

    Ia selalu merasa perlu mendudukkan suatu persoalan sewajarnya hingga masyarakat umum memahami soal itu dengan benar-benar. Kalau masih juga lawan polemiknya belum mengerti.

    Mas Mansur tidak segan-segan mendatanginya tidak lain untuk menjelaskan persoalannya.

    Dalam memimpin Muhammadiyah Mas Mansur menerapkan disiplin yang ketat. Menarik garis antara pribadi dan organisasi.

    Ia lebih suka orang-orang Muhammadiyah datang di kotanya tentang urusan organisasi dari pada datang di kediamannya dengan dalih bersilaturrahmi.

    Rapat PP Muhammadiyah pernah dibatalkan, karena pada waktu yang ditetapkan dalam undangan, para anggota belum mencukupi jumlah untuk dapat bersidang.

    Sejak itu PP Muhammadiyah menjauhi kebiasaan jam karet.

    Sebagai tokoh masyarakat, banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, baik dari golongan agama maupun golongan politik membantu Muhammadiyah dalam menyelenggarakan rumah dan poliklinik.

    K.H. Mas Mansur tidak saja memiliki berbagai keahlian dalam soal-soal agama Islam, tetapi banyak pula prakarsanya mengembangkan agama Islam ditanah air.

    Pada tahun 1926 menjadi ketua MAIHS (Mu’tamar al-alam allslam Far’ul Hindisy – Syaqiyah) dengan sekretaris Haji Agus Salim.

    Dalam tahun itu juga menjadi ketua HOH (Haji Organisasi Hindia), dan dalam tahun itu pula bersama H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur Sejak berangkat ke Mekah untuk mewakili Indonesia dalam Mu’tamar Alam Islami sedunia.

    K.H. Mas Mansur adalah seorang ulama yang besar, juga seorang pemimpin yang disegani.

    Bukan saja karena ilmunya yang luas dan dalam mengenai agama Islam, tetapi juga karena wataknya yang luhur dan berbudi.

    Pengaruhnya tidak terbatas dilingkungan umat Islam saja, tetapi juga meluas di segenap masyarakat bangsa, karena itu sudah sewajarnya, apabila pemerintah kolonial Hindia Belanda memperhatikan dan berusaha untuk mendekati K.H. Mas Mansur.

    Dengan melalui Dr. Pijper pemerintah Hindia Belanda menawari K.H. Mas Mansur supaya suka menduduki jabatan sebagai Ketua Hod van Islamietische Zaken, yaitu suatu lembaga tinggi tentang urusan agama Islam, yang berkewajiban memberikan nasehat-nasehat keagamaan Islam kepada Pemerintah Hindia-Belanda.

    K.H. Mas Mansur akan memperoleh gaji sebesar f.1000,- (seribu gulden) setiap bulan, suatu jumlah yang sungguh besar, seperti gaji seorang bupati di zaman Hindia Belanda itu.

    Tetapi diluar dugaan Pemerintah Hindia Belanda dan pihak-pihak yang tidak menyukai beliau, ternyata K.H. Mas Mansur menolak.

    la memilih kebebasan bergerak di dalam perserikatan Muhammadiyah, walaupun dengan keperluan hidup yang serba terbatas daripada menjadi ketua Hod van Islamitiesche Zaken dengan gaji besar dan kehidupan mewah, tetapi menjadi alat pemerintahan penjajahan.

    Karena penolakannya itu, nama Kyai Haji Mas Mansur makin harum, terutama dikalangan para pemimpin pergerakan nasional.

    Prakarsa K.H. Mas Mansur yang mendapat penghargaan dari para pemimpin Islam ialah berdirinya Majelis Islam Tertinggi yang berkembang menjadi MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) pada tahun 1937, menemui Kyai Haji Moh.

    Dahlan pemimpin Nadlatul Ulama (NU) di Surabaya dan mengusulkan pembentukannya Majelis Islam Tertinggi.

    Usul itu mendapat sambutan dan kemudian mereka mengadakan pertemuan dengan para ulama di Surabaya yang di hadiri oleh 70 orang ulama dari Jawa dan Madura.

    Pada pertemuan itulah dibentuk majelis tersebut dengan ketua K.H. Mas Mansur, wakilnya K.H Moh. Dahlan (Surabaya) dan K.H. Wahab Habullah dari NU duduk didalam pengurus pula.

    Pada tanggal 26 Februari – 1 Maret 1938 MIAI mengadakan Kongres Al Islam ke I di Surabaya.

    Sebenarnya umat Islam Indonesia pernah melangsungkan kongres Al Islam sampai yang ke-9 sebelum ada MIAI, namun yang diusahakan MIAI itu disebut Kongres Al Islam ke-1.

    Hal ini tidak menjadi persoalan karena para ulama lebih mementingkan persatuan umat Islam yang waktu itu terasa goncang.

    Kegoncangan itu disebabkan karena adanya perbedaan pandangan antara PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) dengan kelompok-kelompok lainnya.

    Kegoncangan itu melahirkan PARII (Partai Islam Indonesia) yang didirikan pada tanggal 24 Desember 1938 dibawah pimpinan Wiwoho Purbohadijoyo dan dr. Sukirman Wiryosanjoyo. K.H. Mas Mansur duduk sebagai anggota Pengurus Besarnya.

    Pada tahun 1939 berdirilah GAPI (Gabungan Partai-Partai Politik Indonesia) dengan tuntutannya ”Indonesia Berparlemen” dan programnya menyelenggarakan Kongres Rakyat Indonesia (KRI).

    MIAI dengan wakil-wakilnya, Wahid Hasyim, Wondoamiseno, Sukiman dan K.H Mas Mansur ikut serta.

    Beberapa partai dan organisasi lain ikut pula. Dalam tahun 1941 KRI yang telah menjadi badan tetap mengganti nama dengan Majelis Rakyat Indonesia (MRI) K.H. Mas Mansur dipilih menjadi ketuanya.

    Hal itu membuktikan bahwa kepemimpinannya tidak hanya diakui oleh kelompok agama, tetapi juga oleh kaum pergerakan nasional.

    Perlu diketahui pada zaman kolonial itu pemerintah Belanda memang membentuk Dewan Rakyat (Volksraad).

    Tetapi para pemimpin pergerakan nasional, terutama kaum nonkoperasi (tidak bekerjasama dengan pemerintah jajahan) tidak menaruh kepercayaan terhadap Volksraad yang dinamakannya Komidi omong. Volksraad itu memang alat Pemerintah Hindia Belanda.

    Selama berjuang dan memimpin perjuangan umat Islam K.H. Mas Mansur banyak sekali menyumbang buah pikiran berupa pidato-pidato dan tulisan-tulisan diberbagai majalah dan surat kabar.

    Pemerintah RI dengan SK Presiden RI No.162 Tahun 1964 tertanggal 26 Juni 1964 menganugerahi Kyai Haji Mas Mansur gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

    Sumber: pahlawancenter

  • Biografi: Pengertian, Contoh, dan Cara Membuatnya

    Biografi: Pengertian, Contoh, dan Cara Membuatnya

    Setiap orang tentu memiliki kisah hidupnya masing-masing dengan cerita yang berbeda.

    Namun, dari semua kisah tersebut tentu memiliki sebuah nilai moral yang kadang diperlukan oleh orang lain sebagai pembejalaran dan motivasi.

    Umumnya, kisah hidup seseorang bisa dibukukan menjadi biografi.

    Dari biografi itulah nantinya pembaca bisa belajar karena penulis akan membeberkan kisah hidup seseorang mulai dari kecil hingga beranjak dewasa.

    Jika tokoh yang ditulis sudah meninggal, biasanya biografi berisi cerita yang lengkap, mulai lahir hingga meninggal.

    Pengertian Biografi

    Pengertian Biografi adalah kisah hidup seseorang yang diabadikan dalam bentuk tulisan, teks, atau naskah.

    Biografi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Bios yang artinya hidup dan Graphien yang artinya tulis.

    Sehingga jika digabungkan maka bisa berarti tulisan yang mengisahkan hidup seseorang.

    Lebih sederhana lagi, biografi bisa dikatakan sebagai riwayat hidup.

    Jadi, dalam mengisahkan riwayat hidup seseorang, teks yang digunakan dalam biografi bisa panjang ataupun pendek.

    Biasanya, jika teks biografi panjang, kisah yang dianggap cukup mendetail mengenai masa lalu sedari seseorang tersebut masih kecil hingga dewasa.

    Namun, kadang juga biografi hanya mengambil poin-poin penting dari kisah hidup seseorang.

    Poin-poin penting itu berupa tanggal lahir, nama lengkap, nama kecil, orang tua, pendidikan, karir, prestasi, pasangan, anak, dan tempat tinggal.

    Semua data tersebut dikemas menjadi teks yang ringkas sehingga menjadi sebuah bacaan yang informatif, alias informasi yang diberikan dapat dimengerti oleh pembaca.

    Menurut Wikipedia, Biografi adalah kisah atau keterangan tentang kehidupan seseorang yang kompleks.

    Dalam biografi dijelaskan secara lengkap kehidupan seorang tokoh sejak kecil sampai tua, bahkan sampai meninggal dunia.

    Semua jasa, karya, dan segala hal yang dihasilkan atau dilakukan oleh seorang tokoh dijelaskan juga. Teks biografi disusun oleh orang lain, bukan oleh diri sendiri.

    Sedangkan menurut KBBI biografi adalah riwayat hidup (seseorang) yang ditulis oleh orang lain.

    Jadi, secara garis besar arti biografi adalah sebuah tulisan yang menjelaskan kisah hidup seseorang mulai dari lahir hingga dewasa, bahkan sampai menutup usia.

    Contoh Biografi

    Biografi Muhammad Yamin, Sastrawan Nasional Indonesia.

    Prof. Mr. Muhammad Yamin, S.H dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada tanggal 23 Agustus 1903.

    Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmadjo. Salah seorang anaknya yang dikenal, yaitu Rahadijan Yamin.

    Ketika kecil , Muhammad Yamin oleh orang tuanya diberi pendidikan adat dan agama hingga tahun 1914.

    Di zaman penjajahan, ia termasuk segelintir orang yang beruntung karena dapat menikmati pendidikan menengah dan tinggi.

    Lewat pendidikan itulah, ia sempat menyerap kesusastraan asing, khususnya kesusastraan Belanda.

    Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tradisi sastra Belanda diserapnya sebagai seorang intelektual sehingga ia tidak menyerap mentah-mentah apa yang didapatnya itu.

    Dia menerima konsep sastra Barat, dan memadukannya dengan gagasan budaya yang nasionalis.

    Pndidikan yang sempat diterima oleh Muhammad Yamin, antara lain, Hollands inlands School (HIS) di Palembang, tercatat sebagai peserta kursus pada Lembaga Pendidikan Peternakan dan Pertanian di Cisarua, Bogor, Algemene Middelbare School (AMS) ‘Sekolah Menengah Umum’ di Yogya, dan HIS di Jakarta.

    Muhammad Yamin menempuh pendidikan di AMS setelah menyelesaikan sekolahnya di Bogor yang dijalaninya selama lima tahun.

    Studi di AMS Yogya sebetulnya merupakan persiapannya untuk mempelajari kesusastraan Timur di Universitas Leiden, Belanda.

    Di AMS, ia mempelajari bahasa Yunani, bahasa Latin, bahasa Kaei, dan sejarah purbakala.

    Dalam waktu tiga tahun saja ia berhasil menguasai keempat mata pelajaran tersebut, suatu prestasi yang jarang dicapai oleh otak manusia biasa.

    Dalam mempelajari bahasa Yunani, ia banyak mendapat bantuan dari pastor-pastor di Seminari Yogya, sedangkan dalam bahasa Latin ia dibantu Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer.

    Setamat AMS Yogya, Ia bersiap-siap berangkat ke Leiden. Akan tetapi, sebelum sempat berangkat sebuah telegram dari Sawahlunto mengabarkan bahwa ayahnya meninggal dunia.

    Karena itu, kandaslah cita-cita Yamin untuk belajar di Eropa sebab uang peninggalan ayahnya hanya cukup untuk belajar lima tahun di sana.

    Padahal, belajar kesusastraan Timur membutuhkan waktu tujuh tahun.

    Ia akhirnya melanjutkan kuliah di Recht Hogeschool (RHS) di Jakarta dan berhasil mendapatkan gelar Meester in de Rechten ‘Sarjana Hukum’ pada tahun 1932.

    Sebelum tamat dari pendidikan tinggi, Muhammad Yamin telah aktif berkecimpung dalam perjuangan kemerdekaan.

    Berbagai organisasi yang berdiri dalam rangka mencapai Indonesia merdeka yang pernah dipimpinnya antara lain, adalah, Yong Sumatramen Bond ‘Organisasi Pemuda Sumatera’ (1926–1928).

    Peran Muhammad Yamin bisa dilihat dalam Kongres Pemuda II. Muhammad Yamin termasuk tokoh yang ikut merumuskan sumpah pemuda.

    Di sana disepakati penggunaan bahasa Indonesia.

    Pada tahun 1938 hingga 1942, ia tercatat sebagai anggota Pertindo, yang merangkap sebagai anggota Volksraad ‘Dewan Perwakilan Rakyat’.

    Setelah kemerdekaan Indonesia terwujud, jabatan-jabatan yang pernah dipangku Muhammad Yamin dalam pemerintahan Indonesia antara lain sebagai Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953-1955), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962), dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961-1962).

    Dari riwayat pendidikan Muhammad Yamin dan dari keterlibatannya dalam organisasi politik maupun perjuangan kemerdekaan, tampaklah bahwa ia termasuk seorang yang berwawasan luas.

    Walaupun pendidikannya pendidikan Barat, ia tidak pernah menerima mentah-mentah apa yang diperolehnya itu sehingga ia tidak menjadi kebarat-baratan. Ini merupakan salah satu sifat teladan Muhammad Yamin.

    Ia tetap membawakan nasionalisme dan rasa cinta tanah air dalam karya-karyanya.

    Barangkali hal ini merupakan pengaruh lingkungan keluarganya karena ayah ibunya adalah keturunan kepala adat di Minangkabau.

    Dengan demikian, dapat dipahami apabila ia tidak terhanyut begitu saja oleh hal-hal yang pernah diterimanya, baik itu berupa karya-karya sastra Barat yang pernah dinikmatinya maupun sistem pendidikan Barat yang pernah dialaminya.

    Muhammad Yamin wafat pada tanggal tanggal 17 Oktober 1962 di Jakarta. Atas peran dan jasa Muhammad Yamin maka pemerintah kemudian memberikan gelar Pahlawan Nasional.

    Walaupun pada masa dewasanya ia praktis meninggalkan lapangan sastra dan lebih banyak berkecimpung dalam lapangan politik dan kenegaraan ia telah meninggalkan karya-karya yang berarti dalam perkembangan sastra Indonesia.

    Di samping menulis sajak, misalnya Ken Arok dan Ken Dedes (1943) dan Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932?).

    Yamin memang banyak menaruh minat pada sejarah, terutama sejarah nasional.

    Baginya sejarah adalah salah satu cara dalam rangka mewujudkan cita-cita Indonesia Raya.

    Dengan fantasi seorang pengarang roman dan dengan bahasa yang liris, ia pun menulis Gadjah Mada (1946) dan Pangeran Diponegoro (1950).

    Ia banyak pula menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia, antara lain karya sastrawan Inggris William Shakespeare (1564–1616) berjudul Julius Caesar (1952) dan dari pengarang India Rabindranath Tagore (1861–1941) berjudul Menantikan Surat dari Raja dan Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga.

    Cara Membuat Biografi

    Menulis biografi tidak bisa sembarangan karena ada langkah serta tahapan yang harus disiapkan terlebih dahulu oleh penulis.

    Bagaimana cara menulis biografi? Simak di bawah ini.

    1. Menentukan siapa yang akan ditulis

    Hal pertama yang harus diperhatikan adalah menentukan siapa yang akan ditulis.

    Pemilihan ini bukan didasari dari terkenal atau tidaknya.

    Tapi sebagai penulis, kita harus punya alasan yang kuat kenapa harus menulis tokoh tersebut dalam sebuah buku biografi.

    2. Meminta izin kepada yang bersangkutan

    Setelah menentukan siapa yang akan ditulis, langkah selanjutnya adalah penulis harus meminta izin terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

    Jika orangnya masih bisa ditemui, alangkah baiknya untuk meminta izin secara langsung.

    Jika orang yang hendak ditulis sudah meninggal, maka bisa izin ke keluarga terdekat.

    Ini memang bukan aturan pasti, tapi sebuah etika yang harus digunakan.

    3. Mengumpulkan data dari sumber yang jelas

    Kemudian, penulis harus mengumpulkan data yang didapatkan dari sumber terpercaya.

    Bisa ke orangnya langsung ataupun ke orang lain yang dekat hubungannya, misal orang tua, saudara, teman, atau orang-orang yang pernah kumpul sehingga informasi yang didapat valid.

    Jangan mengira-ngira atau mengada-ada karena bisa mengubah nilai karyanya.

    4. Menentukan judul biografi

    Saat sudah mengantongi izin, sudah mendapat data dan fakta, maka tugas penulis adalah mulai menulis yang diawali dari judul.

    Usahakan untuk menulis judul yang menarik dan mewakili isi tulisan.

    Seperti contoh biografi di atas, judulnya menerangkan bahwa Muhammad Yamin adalah seorang sastrawan nasional.

    5. Meminta masukan dan kritik

    Sebelum disebarluaskan, alangkah baiknya buku biografi yang ditulis, diserahkan terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

    Takutnya ada kesalahan yang tidak sesuai dengan kisah hidup.

    Jika diperiksa terlebih dahulu, nanti penulis akan mendapat saran serta kritik yang akan menyempurnakan karya biografi tersebut.

    Nah, itulah informasi tentang apa itu biografi, pengertian biografi, contoh biografi, dan cara membuat biografi.

    Semoga artikel dari sastrawacana.id/ ini bermanfaat dan jangan lupa baca artikel lainnya, ya!

  • Biografi Singkat Sayuti Melik, Pengetik Naskah Proklamasi

    Biografi Singkat Sayuti Melik, Pengetik Naskah Proklamasi

    Sayuti Melik dilhairkan di Sleman pada tanggal 22 November 1908, merupakan putra seorang Kepala Desa bernama Abdul Mu’in alias Partoprawiro, sedangkan ibunya bernama Sumilah.

    Sayuti mengenyam pendidikan dimulai dari Sekolah Ongko Loro (Setingkat SD) di desa Srowolan, sampai kelas IV dan diteruskan sampai mendapat Ijazah di Yogyakarta.

    Nasionalisme sudah sejak kecil ditanamkan oleh ayahnya kepada Sayuti kecil.

    Ketika itu ayahnya menentang kebijaksanaan pemerintah Belanda yang menggunakan sawahnya untuk ditanami tembakau.

    Ketika belajar di sekolah guru di Solo, 1920, ia belajar nasionalisme dari guru sejarahnya yang berkebangsaan Belanda, H.A. Zurink.

    Pada usia belasan tahun itu, ia sudah tertarik membaca majalah Islam Bergerak pimpinan K.H. Misbach di Kauman, Solo, ulama yang berhaluan kiri.

    Ketika itu banyak orang, termasuk tokoh Islam, memandang Marxisme sebagai ideologi perjuangan untuk menentang penjajahan.

    Dari Kiai Misbach ia belajar Marxisme. Perkenalannya yang pertama dengan Bung Karno terjadi di Bandung pada 1926.

    Tulisan-tulisannya mengenai politik menyebabkan ia ditahan berkali-kali oleh Belanda.

    Pada tahun 1926 ditangkap Belanda karena dituduh membantu PKI dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (1927-1933).

    Tahun 1936 ditangkap Inggris, dipenjara di Singapura selama setahun.

    Setelah diusir dari wilayah Inggris ditangkap kembali oleh Belanda dan dibawa ke Jakarta, dimasukkan sel di Gang Tengah (1937-1938).

    Sepulangnya dari pembuangan, Sayuti berjumpa dengan Soerastri Karma Trimurti, seorang wartawati dan aktivis perempuan di zaman pergerakan dan zaman setelah kemerdekaan dan terlibat dalam berbagai kegiatan pergerakan secara bersama.

    Akhirnya pada 19 Juli 1938 mereka menikah.

    Pada tahun itu juga Mereka mendirikan koran Pesat di Semarang yang terbit tiga kali seminggu dengan tiras 2 ribu eksemplar.

    Karena penghasilannya masih kecil, pasangan suami-istri itu terpaksa melakukan berbagai pekerjaan, dari redaksi hingga urusan percetakan, dari distribusi dan penjualan hingga langganan.

    Trimurti dan Sayuti Melik bergiliran masuk keluar penjara akibat tulisan mereka mengkritik tajam pemerintah Hindia Belanda.

    Sayuti sebagai bekas tahanan politik yang dibuang ke Boven Digul selalu dimata-matai dinas intel Belanda (PID).

    Pada zaman pendudukan Jepang, Maret 1942 koran Pesat diberedel Japan, Trimurti ditangkap Kempetai, Jepang juga mencurigai Sayuti sebagai orang komunis.

    Pada 9 Maret 1943, diresmikan berdirinya Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dipimpin “Empat Sekawan” Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Kiai Mas Mansoer.

    Saat itu Soekarno meminta pemerintah Jepang membebaskan Trimurti, lalu membawanya ke Jakarta untuk bekerja di Putera, dan kemudian di Djawa Hookoo Kai, Himpunan Kebaktian Rakyat Seluruh Jawa.

    Dan lalu Trimurti dan Sayuti Melik dapat hidup relatif tenteram.

    Sayuti terus berada di sisi Bung Karno dan secara diam-diam namanya dimasukkan ke dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

    Sayuti Melik juga termasuk dalam kelompok Menteng 31, yang berperan dalam penculikan Sukarno dan Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945 (Peristiwa Rengasdengklok).

    Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok.

    Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang.

    Sayuti Melik bersama Sukarni merupakan perwakilan pemuda sebagai pembantu Bung Karno dan Bung hatta yang bersama-sama dengan tokoh-tokoh lainnya mengkonsepkan naskah proklamasi.

    Sayuti juga yang mengusulkan agar naskah proklamasi ditandatangani oleh Bung karno dan Bung Hatta, “atas nama bangsa Indonesia” menggantikan kalimat “wakil-wakil bangsa Indonesia.

    Setelah Indonesia Merdeka, Sayuti menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

    Pada tahun 1946 atas perintah Mr. Amir Syarifudin, ia ditangkap oleh Pemerintah RI karena dianggap sebagai orang dekat Persatuan Perjuangan serta dianggap bersekongkol dan turut terlibat dalam “Peristiwa 3 Juli 1946.

    Setelah diperiksa oleh Mahkamah Tentara, ia dinyatakan tidak bersalah.

    Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, ia ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Ambarawa. Ia dibebaskan setelah selesai KMB.

    Tahun 1950 ia diangkat menjadi anggota MPRS dan DPR-GR sebagai Wakil dari Angkatan ’45 dan menjadi Wakil Cendekiawan.

    Sebenarnya Sayuti dikenal sebagai pendukung Sukarno. Namun, ketika Bung Karno berkuasa, Sayuti justru tak “terpakai”.

    Dalam suasana gencar-gencarnya memasyarakatkan Nasakom, dialah orang yang berani menentang gagasan Nasakom (nasionalisme, agama, komunisme).

    Ia mengusulkan mengganti Nasakom menjadi Nasasos, dengan mengganti unsur “kom” menjadi “sos” (sosialisme).

    Ia juga menentang pengangkatan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup oleh MPRS. Tulisannya, Belajar Memahami Sukarnoisme dimuat di sekitar 50 koran dan majalah dan kemudian dilarang.

  • Biografi Dewi Sartika, Pahlawan Pendidikan Wanita

    Biografi Dewi Sartika, Pahlawan Pendidikan Wanita

    Raden Dewi Sartika dilahirkan di Bandung, tanggal 4 Desember 1884. Ia terkenal dengan julukan “Djuragan Dewi” atau “Djuragan Ageung”.

    Ayahnya adalah seorang patih, berkedudukan di Bandung dan namanya Raden Somanagara, sedangkan ibunya bernama Raden Aju Radjapermas.

    Suasana masyarakat Bandung saat Raden Dewi Sartika dilahirkan dan dibesarkan adalah suasana yang masih feudal-kolonial.

    Saat itu juga terjadi tindakan melawan ketidakadilan pemerintahan feudal-kolonial.

    Salah satunya adalah adanya peristiwa peletakan bom di bawah panggung pacuan kuda di Tegallega, di mana saat itu para pembesar kolonial akan hadir di pacuan itu, dan akan diledakkan saat pacuan berlangsung.

    Saat bom ditemukan dan telah diadakan pengusutan, bukti mengarah kepada ayah Raden Dewi Sartika.

    Saat pengusutan berlangsung Patih Somanagara dipindahkan ke Mangunredja, Priangan Timur. Setelah dinyatakan bersalah Raden Somanagara dibuang ke Ternate hingga meninggal dunia di sana.

    Raden Dewi Sartika pada awalnya disekolahkan oleh ayahnya di sekolah Belanda, namun sekolah tersebut tidak bisa meluluskannya karena saat itu ayahnya menjalani pembuangan.

    Dan tidak ada sekolah yang saat itu terbuka pintunya bagi anak seorang buangan.

    Raden Dewi Sartika kemudian dirawat oleh bapak-tuanya Patih Aria Tjitjalengka.

    Di dalam keluarga inilah ia melanjutkan pendidikannya, baik dalam pekerjaan kerajinan kewanitaan, maupun dalam hal perkembangan intelektualnya.

    Raden Dewi Sartika adalah seorang gadis yang periang, rajin dan suka bergaul dengan anak-anak rakyat, sabar dan tidak suka berselisih.

    Ia mempunyai kebiasaan bermain-main guru dan sekolah ketika selesai melaksanakan tugasnya.

    Di belakang dapur kepatihan ia mengajar menulis dan membaca teman-teman sesama gadis, anak-anak pembantu rumah tangga Kepatihan.

    Dan anak-anak rakyat sekeliling kepatihan itu yang termasuk temannya.

    Batu tulis yang digunakan saat itu adalah pecahan genting. Papan tulis menggunakan papan-papan yang ada, sedangkan kapur tulis yang digunakan adalah arang kayu.

    Bakat mengajarnya sudah tampak saat ia masih gadis kecil dan kemudian berkembang saat ia dewasa.

    Ketika remaja, Raden Dewi kembali ke ibunya di Bandung.

    Ia berpikir bagaimana caranya agar bisa mendirikan sebuah sekolah, dimana ia berkesempatan memberikan pelajaran kepada gadis-gadis, baik anak-anak golongan priyayi, maupun anak-anak dari golongan rakyat.

    Ia ingin memberikan kemajuan kepada kaum wanita, yang di zamannya, yakni zaman feudal-kolonial, sangat dibelakangkan, jika dibandingkan dengan pendidikan kaum pria saat itu.

    Jalanpun terbuka, ketika keinginannya sampai kepada Bupati Bandung R.A.A. Martanagara.

    Dengan pertolongan Bupati dan bantuan pembesar-pembesar yang berwajib saat itu, maka pada tanggal 16 Januari 1904, Raden Dewi mulai membuka sekolah gadis pertama di Priangan (Bandung), bahkan yang pertama di Indonesia, dengan mengambil tempat di ruangan persidangan kabupaten sebelah barat.

    Dibuka sekaligus kelas satu dan kelas dua dengan tiga orang guru. Sekolah itu bernama “Sakola Istri”.

    Pada tahun 1905, karena kekurangan ruangan maka “Sakola Istri” dipindahkan ke suatu tempat di luar halaman kabupaten, di jalan yang kemudian bernama DJalan Raden Dewi.

    Di sekolah tersebut, para gadis tidak hanya mendapat pelajaran yang bersifat umum saja tetapi juga kerajinan tangan wanita yang saat itu bermanfaat bagi rakyat seperti menjahit menisi, menambal, menyulam, dan merenda.

    Pada tahun 1906, Raden Dewi Sartika, menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, yang masih kaum kerabatnya guru di sekolah Karangpamulangan di Bandung.

    Dengan bantuan moril suaminya ini maka semakin berkembang pula cita-cita dari Raden Dewi.

    Sekolah yang semula dinamakan “Sakola Istri” itu pada tahun 1910 diganti namanya dengan “Sakola Kautamaan Istri” dan mata pelajarannya ditambah dengan memasak, mencuci, menyetrika, dan membatik.

    Perhatian dari pihak berwajib saat itu kian bertambah. Murid-murid tidak hanya terbatas pada gadis-gadis yang berada di Bandung dan sekitarnya tetapi datang pula dari Sumatera.

    Beberapa gadis datang dari Bukittinggi untuk belajar dan kemudian diaplikasikan kembali di kampung halamannya dengan mendirikan sekolah keutamaan istri.

    Sekolah gadis ini menyebar ke beberapa tempat di Jawa Barat, Garut, Purwakarta, dan Tasikmalaya.

    Karena baktinya kepada bangsa dalam usahanya mengangkat kaum wanita ketingkatan yang lebih baik, maka pemerintah saat itu memberikan penghargaan dan tanda-tanda jasa kepada Raden Dewi. Nama sekolahnya kemudian menjadi “Sakola Raden Dewi”

    Pada tanggal 16 Januari 1939, Raden Dewi Sartika menghadiri perayaan ke-35 tahun berdirinya sekolah yang ia idam-idamkan bagi kemajuan kaum wanita.

    Perayaan ini mendapat sangat banyak perhatian baik dari kalangan masyarakat di Jawa Barat maupun dari kalangan pemerintah.

    Enam bulan kemudian, tanggal 25 Juli 1939, Raden Dewi Sartika ditimpa musibah.

    Ia ditinggal oleh suaminya yang telah memberikan bimbingan dan dukungan yang menghasilkan tercapainya cita-citanya. Raden Agah Suriawinata meninggal dunia saat itu.

    Di saat Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942, Sekolah Raden Dewi dibubarkan oleh Jepang dan diganti dengan Sekolah Gadis.

    Pada tahun 1946 saat peristiwa Bandung Lautan api, gedung sekolah saat itu terhindar dari bahaya api.

    Raden Dewi sekeluarga saat itu meninggalkan Bandung, mengungsi ke Tjiparaj, sebelah tenggara Bandung, kemudian karena adanya pertempuran berpindah lagi ke Garut, dan dari sini berpindah ke daerah pegunungan di sebelah selatan Tjiamis, yakni di Tjineam.

    Sementara itu keadaan Raden Dewi telah menjadi lemah. Di Tjineam ini ia menderita sakit keras, dan dirawat di rumah sakit darurat Republik Indonesia, di mana ia kemudian menyusul suaminya pulang menghadap Ilahi.

    Raden Dewi Sartika meninggal pada hari Kamis, tanggal 11 September 1947, pukul 09.00 pagi.

    Dimakamkan di tempat itu, lalu dipindahkan ke Bandung, sisa-sisa jasadnya diperistirahatkan untuk selama-lamanya berdekatan dengan peristirahatan sang suami -kawan seperjuangan. Hal ini terjadi di tahun 1951.

  • Biografi D. Zawawi Imron Lengkap dengan Karyanya

    Biografi D. Zawawi Imron Lengkap dengan Karyanya

    Biografi D. Zawawi Imron

    Zawawi Imron lahir di desa Batang-batang 1 Januari 1945 di ujung timur pulau Madura.

    Dia mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 1982.

    Setelah tamat Sekolah Rakyat (SR, setara dengan sekolah dasar) dia melanjutkan pendidikannya di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Semenep.

    Kumpulan sajaknya Bulan Tertusuk Ilallang mengilhami Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film layar perak Bulan Tertusuk Ilalang.

    Kumpulan sajaknya Nenek Moyangku Airmata terpilih sebagai buku puisi terbaik dengan mendapat hadiah Yayasan Buku Utama pada 1985.

    Pada 1990 kumpulan sajak Celurit Emas dan Nenek Moyangku Airmata terpilih menjadi buku puisi di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

    Juara pertama sayembara menulis puisi AN-teve dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-50 pada 1995.

    Buku puisinya yang lain adalah Berlayar di Pamor Badik (1994), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Madura, Akulah Darahmu (1999), dan Kujilat Manis Empedu (2003).

    Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria.

    Zawawi menjadi juara pertama menulis puisi di AN-teve.

    Pembicara Seminar Majelis Bahasa Brunei Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majelis Asia Tenggara (MASTERA) Brunei Darussalam (Maret 2002).

    Penyair yang tidak tamat Sekolah Rakyat ini memenangkan hadiah utama penulisan puisi ANTV (1995).

    Bersama Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, dan Ayu Utami, Zawawi pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002).

    Karya-Karya D. Zawawi Imron

    • Semerbak Mayang (1977)
    • Madura Akulah Lautmu (1978)
    • Celurit Emas (1980)
    • Bulan Tertusuk Ilalang (1982; yang mengilhami film Garin Nugroho berjudul sama)
    • Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985)
    • Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996)
    • Lautmu Tak Habis Gelombang (1996)
    • Madura Akulah Darahmu (1999).
  • Biografi Muhammad Yamin, Sastrawan Nasional

    Biografi Muhammad Yamin, Sastrawan Nasional

    Nama : Prof. Mohammad Yamin, S.H.
    Lahir : Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903
    Meninggal : Jakarta, 17 Oktober 1962 (umur 59)
    Agama : Islam
    Ayah : Tuanku Oesman Gelar Baginda Khatib
    Ibu: Siti Saadah

    Jabatan 

    Menteri Kehakiman Indonesia ke-6 (27 April 1951 – 14 Juni 1951)
    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ke-8 (30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955)
    Menteri Penerangan Indonesia ke-14 (6 Maret 1962 – 17 Oktober 1962)

    Biografi Muhammad Yamin

    Prof. Mr. Muhammad Yamin, S.H dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada tanggal 23 Agustus 1903.

    Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmadjo. Salah seorang anaknya yang dikenal, yaitu Rahadijan Yamin.

    Ketika kecil , Muhammad Yamin oleh orang tuanya diberi pendidikan adat dan agama hingga tahun 1914.

    Di zaman penjajahan, ia termasuk segelintir orang yang beruntung karena dapat menikmati pendidikan menengah dan tinggi.

    Lewat pendidikan itulah, ia sempat menyerap kesusastraan asing, khususnya kesusastraan Belanda.

    Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tradisi sastra Belanda diserapnya sebagai seorang intelektual sehingga ia tidak menyerap mentah-mentah apa yang didapatnya itu.

    Dia menerima konsep sastra Barat, dan memadukannya dengan gagasan budaya yang nasionalis.

    Riwayat Pendidikan Muhammad Yamin

    Pendidikan yang sempat diterima oleh Muhammad Yamin, antara lain, Hollands inlands School (HIS) di Palembang, tercatat sebagai peserta kursus pada Lembaga Pendidikan Peternakan dan Pertanian di Cisarua, Bogor, Algemene Middelbare School (AMS) ‘Sekolah Menengah Umum’ di Yogya, dan HIS di Jakarta.

    Muhammad Yamin menempuh pendidikan di AMS setelah menyelesaikan sekolahnya di Bogor yang dijalaninya selama lima tahun.

    Studi di AMS Yogya sebetulnya merupakan persiapannya untuk mempelajari kesusastraan Timur di Universitas Leiden, Belanda.

    Di AMS, ia mempelajari bahasa Yunani, bahasa Latin, bahasa Kaei, dan sejarah purbakala.

    Dalam waktu tiga tahun saja ia berhasil menguasai keempat mata pelajaran tersebut, suatu prestasi yang jarang dicapai oleh otak manusia biasa.

    Dalam mempelajari bahasa Yunani, ia banyak mendapat bantuan dari pastor-pastor di Seminari Yogya, sedangkan dalam bahasa Latin ia dibantu Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer.

    Setamat AMS Yogya, Ia bersiap-siap berangkat ke Leiden. Akan tetapi, sebelum sempat berangkat sebuah telegram dari Sawahlunto mengabarkan bahwa ayahnya meninggal dunia.

    Karena itu, kandaslah cita-cita Yamin untuk belajar di Eropa sebab uang peninggalan ayahnya hanya cukup untuk belajar lima tahun di sana. Padahal, belajar kesusastraan Timur membutuhkan waktu tujuh tahun.

    Ia akhirnya melanjutkan kuliah di Recht Hogeschool (RHS) di Jakarta dan berhasil mendapatkan gelar Meester in de Rechten ‘Sarjana Hukum’ pada tahun 1932.

    Riwayat Organisasi Muhammad Yamin

    Sebelum tamat dari pendidikan tinggi, Muhammad Yamin telah aktif berkecimpung dalam perjuangan kemerdekaan.

    Berbagai organisaasi yang berdiri dalam rangka mencapai Indonesia merdeka yang pernah dipimpinnya antara lain, adalah, Yong Sumatramen Bond ‘Organisasi Pemuda Sumatera’ (1926–1928).

    Peran Muhammad Yamin bisa dilihat dalam Kongres Pemuda II.

    Muhammad Yamin termasuk tokoh yang ikut merumuskan sumpah pemuda. Disana disepakati penggunaan bahasa Indonesia

    Pada tahun 1938 hingga 1942, ia tercatat sebagai anggota Pertindo, yang merangkap sebagai anggota Volksraad ‘Dewan Perwakilan Rakyat’.

    Setelah kemerdekaan Indonesia terwujud, jabatan-jabatan yang pernah dipangku Muhammad Yamin dalam pemerintahan Indonesia antara lain sebagai Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953-1955), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962), dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961-1962).

    Dari riwayat pendidikan Muhammad Yamin dan dari keterlibatannya dalam organisasi politik maupun perjuangan kemerdekaan, tampaklah bahwa ia termasuk seorang yang berwawasan luas.

    Walaupun pendidikannya pendidikan Barat, ia tidak pernah menerima mentah-mentah apa yang diperolehnya itu sehingga ia tidak menjadi kebarat-baratan.

    Ini merupakan salah satu sifat teladan Muhammad Yamin.

    Ia tetap membawakan nasionalisme dan rasa cinta tanah air dalam karya-karyanya.

    Barangkali hal ini merupakan pengaruh lingkungan keluarganya karena ayah ibunya adalah keturunan kepala adat di Minangkabau.

    Dengan demikian, dapat dipahami apabila ia tidak terhanyut begitu saja oleh hal-hal yang pernah diterimanya.

    Baik itu berupa karya-karya sastra Barat yang pernah dinikmatinya maupun sistem pendidikan Barat yang pernah dialaminya.

    Karya Sastra Muhammad Yamin

    Umar Junus dalam bukunya Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern (1981) menyatakan bahwa puisi Yamin terasa masih berkisah, bahkan bentul-betul terasa sebagai sebuah kisah.

    Dengan demikian, puisi Yamin memang dekat sekali dengan syair yang memang merupakan puisi untuk mengisahkan sesuatu.

    ”Puisi Yamin itu dapat dirasakan sebagai syair dalam bentuk yang bukan syair”, demikian Umar Junus.

    Karena itu, sajak-sajak Yamin dapat dikatakan lebih merupakan suatu pembaruan syair daripada suatu bentuk puisi baru.

    Akan tetapi, pada puisinya seringkali bagian pertamanya merupakan lukisan alam, yang membawa pembaca kepada suasana pantun sehingga puisi Yamin tidak dapat dianggap sebagai syair baru begitu saja.

    Umar Junus menduga bahwa dalam penulisan sajak-sajaknya, Yamin menggunakan pantun, syair, dan puisi Barat sebagai sumber.

    Perpaduan ketiga bentuk itu adalah hal umum terjadi terjadi pada awal perkembangan puisi modern di Indonesia.

    Jika Umar Junus melihat adanya kedekatan untuk soneta yang dipergunakan Yamin dengan bentuk pantun dan syair, sebetulnya hal itu tidak dapat dipisahkan dari tradisi sastra yang melingkunginya pada waktu masih amat dipengaruhi pantun dan syair.

    Soneta yang dikenal Yamin melalui kesusastraan Belanda ternyata hanya menyentuhnya pada segi isi dan semangatnya saja.

    Karena itu, Junus menangkap kesan berkisah dari sajak-sajak Yamin itu terpancar sifat melankolik, yang kebetulan merupakan sifat dan pembawaan soneta.

    Sifat soneta yang melankolik dan kecenderungan berkisah yang terdapat didalamnya tidak berbeda jauh dengan yang terdapat dalam pantun dan syair.

    Dua hal yang disebut terakhir, yakni sifat melankolik dan kecenderungan berkisah, kebetulan sesuai untuk gejolak perasaan Yamin pada masa remajanya.

    Karena itu, soneta yang baru saja dikenal Yamin dan yang kemudian digunakannya sebagai bentuk pengungkapan estetiknyha mengesankan bukan bentuk soneta yang murni.

    Keith Robert Foulcher (1974) dalam disertasinyha mengemukakan bahwa konsepsi Yamin tentang soneta dipengaruhi sastra Belanda dan tradisi kesusastraan Melayu.

    Karena itu, soneta Yamin bukanlah suatu adopsi bentuk eropa dalam keseluruhan kompleksitas strukturalnya, tetapi lebih merupakan suatu pengungkapan yang visual, sesuatu yang bersifat permukaan saja dari soneta Belanda, yang masih memiliki ekspresi puitis yang khas Melayu.

    Muhammad Yamin Wafat

    Muhammad Yamin wafat pada tanggal tanggal 17 Oktober 1962 di Jakarta. Atas peran dan jasa Muhammad Yamin maka pemerintah kemudian memberikan gelar Pahlawan Nasional.

    Walaupun pada masa dewasanya ia praktis meninggalkan lapangan sastra dan lebih banyak berkecimpung dalam lapangan politik dan kenegaraan ia telah meninggalkan karya-karya yang berarti dalam perkembangan sastra Indonesia.

    Di samping menulis sajak, misalnya Ken Arok dan Ken Dedes (1943) dan Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932?). Yamin memang banyak menaruh minat pada sejarah, terutama sejarah nasional.

    Baginya sejarah adalah salah satu cara dalam rangka mewujudkan cita-cita Indonesia Raya. Dengan fantasi seorang pengarang roman dan dengan bahasa yang liris, ia pun menulis Gadjah Mada (1946) dan Pangeran Diponegoro (1950).

    Ia banyak pula menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia, antara lain karya sastrawan Inggris William Shakespeare (1564–1616) berjudul Julius Caesar (1952) dan dari pengarang India Rabindranath Tagore (1861–1941) berjudul Menantikan Surat dari Raja dan Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga.

    Karya Muhammad Yamin

    Puisi : Indonesia, Tumpah Darahku
    Drama : Ken Arok dan Ken Dedes, Kalau Dewa Tara Sudah Berkata.
    Terjemahan : Julius Caesar karya Shakspeare, Menantikan Surat dari Raja, Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga, Tan Malaka.
    Sejarah : Gadjah Mada, Sejarah Pangerah Dipenogoro.