Tag: Biografi

  • Biografi Silas Papare, Pahlawan dari Papua

    Biografi Silas Papare, Pahlawan dari Papua

    Biografi Silas Papare

    Nama : Silas Ayari Donari Papare
    Lahir : Serui, Papua, 18 Desember 1918
    Meninggal : Serui, Papua, 7 Maret 1973 (umur 54 tahun)
    Agama : Kristen Protestan
    Keluarga : Isteri (Ny. Regina Aibui), Anak (9 orang)

    Pendidikan

    Volschool
    Sekolah Juru Rawat (lulus tahun 1935)

    Organisasi

    Komite Indonesia Merdeka (KIM)
    Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII)
    Badan Perjuangan Irian
    Kompi Irian 17
    Biro Irian

    Jabatan

    Pendiri Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII)
    Pendiri Badan Perjuangan Irian
    Delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York (15 Agustus 1962)
    Pembentuk Komite Indonesia Merdeka (KIM)

    Prestasi

    • Salah satu kapal perang milik TNI AL mendapat kehormatan menggunakan nama KRI Silas Papare yaitu sebuah korvet kelas Parchim, yang dibuat untuk Volksmarine/AL Jerman Timur pada akhir 70-an. Penamaan menurut Pakta Warsawa adalah Project 133
    • Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993.
    • Pada 5 April 1945, Silas mendapat penghargaan dari pemerintah kolonial Belanda berupa Bintang Perunggu, yang diberikan oleh Koningin Wilhelmina
    • Berkat pertolongannya kepada tentara Sekutu melawan Jepang di Irian Jaya, ia kembali memperoleh penghargaan dari bagian OPS Perang Pasifik dari Biro Intelijen tentara Sekutu yang ditandatangani oleh GA Willongbym Mayor Jenderal USA (US ARMY) pada 31 Oktober 1945
    • Nama Beliau juga diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yang berada di Jalan Diponegoro. Sedangkan di kota Nabire, nama Silas Papare dikenang dalam wujud nama jalan.

    Peran

    • Mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Akibatnya, Silas kembali ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun, Silas berhasil melarikan diri menuju Yogyakarta.
    • Pada Oktober 1949 di Yogyakarta, Silas Papare membentuk Badan Perjuangan Irian
      Ditunjuk menjadi salah seorang delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York pada tanggal 15
    • Agustus 1962 yang mengakhiri perseteruan antara Indonesia dan Belanda perihal Irian Barat
    • Pada 29 September 1945, Silas Papare dengan bimbingan ex Digulis Harjono dan Suprapto membentuk Komite Indonesia Merdeka ( KIM )
    • Membentuk Kompi Irian 17 di Markas Besar Angkatan Darat untuk mendukung politik Pemerintah di forum Internasional dalam usaha pengembalian Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia pada tahun 1951.
    • Membentuk Biro Irian di Jakarta pada tahun 1945 dan Silas Papare ditetapkan sebagai Komisaris I (Keppres RI No. 53 tahun 1945 tanggal 17 Pebruari 1954). Membentuk Propinsi Irian Barat di Jakarta sebagai pemerintah tandingan Pemerintah Belanda di Irian Barat.
    • Merupakan pelopor/penganjur/teladan atas anjurannya “I Love Indonesia”, cinta tanah air Indonesia nasionalisme yang mulia dikembangkan di Bumi Irian.
    • Pada 25 Desember 1945, Silas dan beberapa kawannya berupaya mengajak pemuda-pemuda Irian yang tergabung dalam Batalyon Papua untuk bergabung dan memberontak terhadap Belanda. Meski sayangnya, rencana tersebut bocor ke telinga Belanda, sehingga Silas Papare ditangkap dan dipenjarakan di Serui, Jayapura.
  • Biografi Kahlil Gibran: Kisah Hidup Sang Penyair dan Filsuf Dunia

    Biografi Kahlil Gibran: Kisah Hidup Sang Penyair dan Filsuf Dunia

    Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir.

    Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.

    Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat.

    Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.

    Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika.

    Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.

    Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk.

    Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

    Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya.

    Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

    Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun.

    Karya pertamanya, “Spirits Rebellious” ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya.

    Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

    Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

    Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC.

    Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya.

    Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

    Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan’s Gowns.

    Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.

    Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston.

    Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

    Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

    Sebelum tahun 1912 “Broken Wings” telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya.

    Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.

    Pengaruh “Broken Wings” terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama “Broken Wings” ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

    Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya.

    Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.

    Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

    Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”. Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam “The Madman”.

    Setelah “The Madman”, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah “Twenty Drawing”, 1919; “The Forerunne”, 1920; dan “Sang Nabi” pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

    Sebelum terbitnya “Sang Nabi”, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia.

    Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya.

    Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran.

    Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

    Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis).

    Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum.

    Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca “Sang Nabi”.

    Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.

    Gibran menyelesaikan “Sand and Foam” tahun 1926, dan “Jesus the Son of Man” pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, “Lazarus” pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan “The Earth Gods” pada tahun 1931.

    Karyanya yang lain “The Wanderer”, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain “The Garden of the Propeth”.

    Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village.

    Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

    Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

    Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku.”

  • Biografi Hilman Hariwijaya, Penulis Cerpen Lupus

    Biografi Hilman Hariwijaya, Penulis Cerpen Lupus

    Biografi Hilman Hariwijaya

    Nama : Hilman Hariwijaya
    TTL    : Jakarta, 25 Agustus 1964
    Istri   : Nessa Sadin

    Biografi Singkat Hilman Hariwijaya

    Hilman Hariwijaya adalah seorang penulis Indonesia yang lahir di Jakarta pada Tanggal 25 Agustus 1964.

    Namanya dikenal sejak menulis cerita pendek yang diberi judul Lupus di majalah Hai [ada bulan Desember 1986, yang kemudian dibukukan menjadi sebuah novel.

    Sejak kecil, Hilman Hariwijaya sangat suka menulis. Adapun tulisannya mulai dari cerpen, puisi, maupun cerita-cerita drama.

    Setiap pulang sekolah, ia selalu menghabiskan waktunya ke kantor redaksi majalah Hai. Pada saat itu, ia sedikit demi sedikit ikut terlibat dalam redaksi majalah hingga menjadi wartawan paruh hari.

    Pada tahun 1978, ia mengikuti sayembara mengarang. Karya pertamanya yang berjudul “Bian, Adikku yang Tak Pernah Ada” berhasil memenangkan sayembara itu.

    Dari kemenangan itu, akhirnya Hilman semakin semangat dalam menulis hingga muncul karya-karya selanjutnya.

    Karya tulisnya yang paling terkenal dan fenomenal adalah yang berjudul Olga dan Lupus. Karya tersebut sangat laris dan akhirnya diangkat ke layar lebar.

    Kemudian, seiring berjalannya waktu, Hilman tetap menjadi seorang penulis. Hanya saja ia fokus ke penulis skenario dalam dunia perfilman dan sinetron.

    Salah satu karyanya dalam menulis skenario adalah pada sinetron Cinta Fitri yang diperankan oleh Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar.

    Karya-Karya Hilman Hariwijaya

    1. Lupus
    2. Lupus ABG
    3. Lupus Milenia
    4. Lupus Kecil
    5. Olga
    6. Lulu
    7. Vanya
    8. Vladd
  • Biografi Singkat Soeharto, Bapak Pembangunan Nasional

    Biografi Singkat Soeharto, Bapak Pembangunan Nasional

    Nama    : Soeharto
    TTL        : Yogyakarta, Rabu, 8 Juni 1921
    Agama  : Islam
    Istri       : Fatimah Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien)

    Biografi Soeharto Singkat

    Jenderal Besar TNI Purnawiran Haji Muhammad Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Lahir di Kemusuk, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921.

    Ayah Soeharto bernama Kertosudiro, seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam mengairi sawah Desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.

    Pada tahun 1941 Soeharto muda terpilih menjadi prajurit teladan di sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah. Kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945, Soeharto resmi menjadi anggota TNI.

    Genap di usia 26 tahun, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah atau yang akrab dengan sapaan Ibu Tien yang kala itu berusia 24 tahun, seorang anak pegawai Mangkunegaraan.

    Pernikahan Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo.

    Mereka dikaruniai enam putra dan putri, diantaranya: Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

    Selama masa jabatannya, Soeharto berjuang dalam pembangunan dengan strategi Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan).

    Bahkan Soeharto sempat mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada pangan pada 1985. Sehingga Soeharto dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan Nasional.

    Soeharto meninggal pada tanggal 27 Januari 2008, diusianya yang ke 87 tahun. Berita wafatnya Soeharto pertama kali diinformasikan oleh Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta.

    Setelah itu, secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto.

    Pendidikan:

    SD Pedes Yogyakarta
    SMP Muhammadiyah di Yogyakarta
    Sekolah militer di Gombong

    Karir:

    Anggota TNI
    Komandan Brigade Garuda Mataram
    Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan kolonel
    Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD)
    Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat
    Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
    Panglima Kopkamtib
    Mayor Jendral
    1966 – 1998 Presiden Kedua RI

    Penghargaan:

    Bapak Pembangunan Nasional
    Bintang Mahakarya Gotong Royong dari Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong

  • Biografi Marah Roesli, Penulis Novel Siti Nurbaya

    Biografi Marah Roesli, Penulis Novel Siti Nurbaya

    Nama : Marah Rusli bin Abu Bakar
    TTL : Padang, 07 Agustus 1889
    Meninggal : 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.
    Ayah : Abu Bakar, seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran

    Biografi Marah Roesli

    Marah Roesli lahir di keluarga yang terpandang. Ayahnya bekerja sebagai Demang.

    Sedangkan ibunya berasal dari Jawa dan keturunan Sentot Alibasyah, salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro.

    Marah Rusli sekolah di Padang yang menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar pada saat itu.

    Setelah lulus dari bangku Sekolah Dasar, ia melanjutkan ke sekolah Raja (Kweek School) di Bukit Tinggi dan lulus tahun 1910.

    Kemudian, Roesli kembali melanjutkan pendidikannya ke Vee Arstsen School (sekolah dokter hewan) di Bogor dan lulus tahun 1915.

    Setelah tamat, ia ditempatkan di Sumbawa Besar sebagai Ajung Dokter Hewan. Hingga akhirnya pada tahun 1916 ia menjadi Kepala Peternakan.

    Marah Rusli menikah dengan gadis keturunan sunda kelahiran Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1911 dan mempunyai 3 orang anak, dua laki-laki, satu perempuan.

    Sebenarnya hubungan Roesli dengan istrinya tidak mendapat restu orang tua, namun kegigihannya atas dasar cinta dapat meyakinkan keluarga bahwa pilihannya adalah yang terbaik.

    Roesli mencintai dunia sastra sejak kecil. Ia amat suka mendengarkan cerita-cerita sastra dari tukang kaba (Pencerita yang keliling di Sumatera Barat untuk menjual ceritanya).

    Dan hobinya membaca buku sastra menjadikan Roesli semakin tertarik pada dunia sastra.

    Hingga akhirnya Marah Roesli berhasil menulis roman yang berjudul ‘Siti Nurbaya’.

    Dalam karyanya ini, ia ingin mengutarakan landasan pemikirannya terhadap perjuangan rakyat dan emansipasi wanita.

    Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Roesli dinobatkan sebagai Bapak Roman Modern Indonesia oleh H.B Jasmin.

    Sebab, sebelum roman menjadi populer, kebanyakan karya sastra pada saat itu berbentuk hikayat.

    Setelah cukup banyak berkiprah di dunia sastra, Marah Roesli meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat.

    Karya-Karya Marah Roesli

    • Siti Nurbaya (1922)
    • La Hami (1924)
    • Anak dan Kemenakan (1956)
    • Memang Jodoh (otobiografi)
    • Gadis Yang Malang terjemahan novel karya Charles Dickens (1922)

  • Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Indonesia Angkatan 45

    Biografi Abdullah Idrus, Sastrawan Indonesia Angkatan 45

    Nama : Abdullah Idrus
    TTL    : Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921
    Meninggal di Padang, Sumatera Barat, 18 Mei 1979 pada umur 57 tahun)
    Istri   : Ratna Suri (menikah pada tahun 1946
    Anak : Prof. Dr. Ir. Nirwan Idrus, Slamet Riyadi Idrus, Rizal Idrus, Damayanti Idrus, Lanita Idrus, dan Taufik Idrus.

    Biografi Abdullah Idrus

    Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Ia rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa di perpustakaan sekolah.

    Dengan banyaknya buku bacaan yang dibaca, Ia pun menghasilkan cerpen kala itu.

    Karena minat yang ama tinggi pada dunia sastra, akhirnya ia memilih Balai Pustaka sebagai tempat bekerja.

    Idrus berharap dapat menyalurkan minat sastranya di tempat tersebut.

    Hingga pada akhirnya ia bisa membaca dan mendalami karya-karya sastra, bahkan berkenalan dengan para sastrawan terkenal seperti H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Noer Sutan Iskandar, Anas Makruf, dan lain-lain.

    Tidak hanya mencintai dunia sastra, Idrus juga suka membaca buku-buku ilmiah sampai akhirnya ia berhasil menulis buku Teknik Mengarang Cerpen dan International Understanding Through the Study of Foreign Literature.

    Idrus memiliki kemampuan 3 bahasa Asing, yaitu Belanda, Inggris, dan Jerman.

    Hal itulah yang membuatnya semakin mahir untuk menerjemahkan buku-buku asing dan menulisnya kembali dalam Bahasa Indonesia.

    Karya-Karya Abdullah Idrus

    • Aki
    • Corat-Coret di Bawah Tanah
    • Dengan Mata Terbuka
    • Hati Nurani Manusia
    • Hikayat Petualang Lima
    • Hikayat Putri Penelope
    • Perempuan dan Kebangsaan
      Surabaya
    • Ana
    • Buta
    • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
    • Dokter Bisma
    • Jibaku Aceh
    • Kejahatan Membalas Dendam
    • Keluarga Surono
    • Acoka
    • Cerita Wanita Termulia
    • Dari Penciptaan Kedua
    • Dua Episode Masa Kecil
    • Ibu yang Kukenang
    • Keju
    • Kereta Api Baja
    • Perkenalan dengan Anton Chekov
    • Perkenalan dengan Guy de Maupassant
    • Perkenalan dengan Jaroslov Hask
    • Perkenalan dengan Luigi Pirandello
    • Roti Kita Sehari-hari
  • Pengertian Biografi Adalah? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Pengertian Biografi Adalah? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Pengertian Biografi

    Biografi adalah kisah hidup seseorang yang diabadikan dalam bentuk tulisan, teks, atau naskah.

    Biografi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Bios yang artinya hidup dan Graphien yang artinya tulis.

    Sehingga jika digabungkan maka bisa berarti tulisan yang mengisahkan hidup seseorang.

    Teks Biografi

    Lebih sederhana lagi, biografi bisa dikatakan sebagai riwayat hidup. Jadi, dalam mengisahkan riwayat hidup seseorang, teks yang digunakan dalam biografi bisa panjang ataupun pendek.

    Biasanya, jika teks biografi panjang, kisah yang dianggap cukup mendetail mengenai masa lalu sedari seseorang tersebut masih kecil hingga dewasa.

    Namun, kadang juga biografi hanya mengambil poin-poin penting dari kisah hidup seseorang.

    Poin-poin penting itu berupa tanggal lahir, nama lengkap, nama kecil, orang tua, pendidikan, karir, prestasi, pasangan, anak, dan tempat tinggal.

    Semua data tersebut dikemas menjadi teks yang ringkas sehingga menjadi sebuah bacaan yang informatif, alias informasi yang diberikan dapat dimengerti oleh pembaca.

    Struktur Teks Biografi

    Adapun struktur teks negosiasi meliputi:

    Orientasi

    Orientasi bisa berupa pengenalan awal terhadap sosok yang sedang ditulis biografinya.

    Pengenalan Lebih Lanjut

    Dalam pengenalan lebih lanjut, teks biografi biasanya berisi tentang latar belakang, silsilah keluarga, serta hari lahir dari tokoh.

    Peristiwa

    Selanjutnya, teks biografi harus berisi peristiwa. Maksud dari peristiwa di sini adalah teks biografi berisi rentetan kisah hidup serta masalah yang pernah dialami oleh seseorang. Baik itu dari kisah ekonomi, pendidikan, ataupun karir.

    Penutup

    Dalam bagian penutup, biasanya berisi mengenai pandangan penulis tentang tokoh atau seseorang yang sedang ditulis teks biografinya. Namun ini sifatnya opsional, kadang juga tidak dicantumkan.

    Siapa yang Layak Ditulis Biografinya?

    Tidak ada yang tidak layak, alias semua bisa ditulis teks biografinya, termasuk diri sendiri. Jadi, biografi tidak harus mengisahkan tokoh-tokoh ternama saja.

    Begitu banyak contoh biografi diri sendiri yang membuktikan bahwa biografi tidak harus mengisahkan tokoh-tokoh penting saja.

    Setiap orang bisa menulis biografi diri sendiri dengan tujuan agar orang lain mengetahui kisah hidupnya.

    Contoh Teks Biografi

    Supaya lebih jelas, berikut adalah beberapa contoh teks biografi singkat dari para tokoh-tokoh penting di Indonesia.

    1. Biografi Soekarno

    Nama Lengkap: Dr. Ir. H. Soekarno
    Nama Kecil: Koesno Sosrodihardjo
    Nama Panggilan: Bung Karno, Soekarno, Pak Karno
    Lahir: Surabaya, 6 Juni 1901
    Wafat: Jakarta, 21 Juni 1970
    Orang Tua : Soekemi Sosrodihardjo (Ayah), Ida Ayu Nyoman Rai (Ibu),
    Istri: Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manopo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, Heldy Djafar
    Anak: Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, Guruh Soekarnoputra, Taufan Soekarnoputra, Bayu Soekarnoputra, Totok Suryawan Soekarnoputra, Karina Kartika Sari Dewi Soekarno, Ayu Gembirowati.

    2. Biografi R.A Kartini

    Nama Lengkap : Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat
    Nama lain : R.A Kartini
    Tempat dan Tanggal Lahir : Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879
    Wafat : Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904
    Agama : Islam
    Orang Tua : Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Ayah), M.A. Ngasirah (Ibu)
    Saudara Kandung : R.M Slamet Sosroningrat, P.A Sosrobusono, R.A Soelastri, Drs. R.M.P Sosrokartono, R.A Roekmini, R.A Kardinah, R.A Kartinah, R.M Muljono, R.A Soematri, R.M Rawito
    Suami : K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
    Anak : Soesalit Djojoadhiningrat

  • Biografi Jendral Sudirman, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Jendral Sudirman, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Jendral Sudirman

    • Nama : Raden Soedirman
    • Dikenal : Jenderal Besar Sudirman
    • Lahir : Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916
    • Wafat : Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950
    • Orang Tua : Karsid Kartawiraji (ayah), Siyem (ibu)
    • Saudara : Muhammad Samingan
    • Istri : Alfiah
    • Anak : Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, Taufik Effendi, Titi Wahjuti Satyaningrum, Didi Praptiastuti, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, Ahmad Tidarwono.

    Biografi Singkat Jendral Sudirman

    Jenderal Besar Sudirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Dia merupakan anak dari pasangan Karsid Kartawiuraji dan Siyem. Namun, sejak kecil Jendral Sudirman iku dengan pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo.

    Paman Jendral Sudirman memiliki kondisi keuangan yang lebih baik daripada kedua orang tuanya sehingga kedua orang tuanya merelakan Jendral Sudirman ikut bersama pamannya agar bisa melanjutkan pendidikan.

    Sudirman kecil belajar di HIS (hollandsch inlandsche school). Kemudian pindah ke sekolah milik Taman Siswa pada tahun ketujuh.

    Selanjutnya, ia pindah lagi ke Sekolah Wirotomo karena sekolah milik Taman Siswa tidak dianggap oleh pemerintah Belanda.

    Sedari kecil, Sudirman sudah memiliki jiwa religius yang dibuktikan dengan keteguhan serta ketaatannya dalam beribadah. Bahkan dia juga aktif dalam organisasi-organisasi Islam, salah satunya adalah Hizbul Wathan, milik Muhammadiyah.

    Beranjak dewasa, Sudirman mengikuti pelatihan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Karirnya menjulang tinggi sehingga tak butuh waktu lama akhirnya Sudirman langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya.

    Selanjutnya, ia menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk. Kemudian, Sudirman terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).

    Dalam sejarah, Sudirman adalah Jendral pertama dan termuda di Indonesia. Keberaniannya dalam mengusir penjajah tidak perlu diragukan lagi. Bahkan dia mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk bangsa.

    Dalam biografi Jendral Sudirman, diketahui bahwa ia mengidap penyakit yang cukup parah hingga akhirnya pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar Sudirman wafat di Magelang. Pemakamannya ke Yogyakarta diiringi oleh konvoi empat tank serta 80 kendaraan bermotor.

    Pendidikan Jendral Sudirman

    • Sekolah Taman Siswa
    • HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo
    • Pendidikan Militer PETA, Bpgor

    Karir Jendral Sudirman

    • Guru di His Muhammadiyah, Cilacap
    • Komandan Batalyon, Kroya
    • Panglima Divisi V Banyumas, dengan pangkat Kolonel
    • Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal

    Penghargaan Jendral Sudirman

    • Jendral Besar Anumerta Bintang Lima (1997)
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Sakti
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Gerilya
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Mahaputra Adipurna
    • Jenderal Besar Anumerta Mahaputra Pratama
    • Jenderal Besar Anumerta Bintang Republik Indonesia Adipradana
    • Pahlawan Nasional Indonesia
  • Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

    Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

    Biodata Ki Hajar Dewantara

    Nama Lengkap : Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
    Nama Panggilan : Ki Hadjar Dewantara
    Lahir : Yogyakarta, 2 Mei 1889
    Wafat : Yogyakarta, 26 April 1959
    Agama : Islam
    Orang Tua : Pangeran Soerjaningrat (Ayah), Raden Ayu Sandiah (ibu)
    Saudara : Soerjopranoto
    Istri : Nyi Sutartinah
    Anak : Ratih Tarbiyah, Syailendra Wijaya, Bambang Sokawati Dewantara, Asti Wandansari, Subroto Aria Mataram. Sudiro Alimurtolo.

    Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara

    Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta tanggal 2 Mei 1889 yang kini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara terlahir dari keluarga Bangsawan, yang mana ia merupakan anak dari GPH Soerjaningrat, cucu dari Pakualam III.

    Sejak muda, beliau memiliki semangat yang besar untuk menyebarkan pendidikan ke seluruh rakyat Indonesia.

    Meski berasal dari kalangan bangsawan, Ki Hajar Dewantara tidak membatasi dirinya dalam cakupan pendidikan elit. Ia ingin agar setiap anak Indonesia mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan.

    Salah satu kontribusi terbesar Ki Hajar Dewantara adalah pendirian Taman Siswa pada tahun 1922.

    Ini adalah sekolah model yang dirancang untuk menyediakan pendidikan yang terjangkau dan relevan bagi anak-anak Indonesia pada masa itu.

    Taman Siswa mengusung konsep “belajar sambil berbuat” yang menggabungkan pengetahuan akademis dengan keterampilan praktis.

    Melalui pendekatan ini, Ki Hajar Dewantara ingin menciptakan generasi muda yang memiliki kemampuan holistik dan siap menghadapi tantangan dunia nyata.

    Dalam beberapa versi menyebutkan jika Ki Hajar Dewantara sekolah di ELS yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda dan juga kaum bangsawan.

    Selepas dari ELS Ki Hajar Dewantara kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA yaitu sekolah yang untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda.

    Di waktu muda, Ki Hadjar Dewantara bergabung dengan organisasi Budi Utomo.

    Ia berperan sebagai aktivis untuk menyadarkan masyarakat pribumi tentang pentingnya semangat kebersamaan dan pentingnya pendidikan untuk kemajuan bangsa.

    Ia pun juga membuat semboyan yang sampai sekarang dipakai dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu:

    • Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh)
    • Ing madyo mangun karso, (di tengah memberi semangat)
    • Tut Wuri Handayani, (di belakang memberi dorongan)
  • Biografi Singkat Mohammad Hatta, Tokoh Kemerdekaan Indonesia

    Biografi Singkat Mohammad Hatta, Tokoh Kemerdekaan Indonesia

    Biodata Mohammad Hatta

    Nama : Dr. Drs. H. Mohammad Hatta
    Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902
    Wafat : Jakarta, 14 Maret 1980
    Agama : Islam
    Orang Tua : Muhammad Djamil (ayah), Siti Saleha (ibu)
    Istri : Rahmi Rachim
    Anak : Meutia Hatta, Halida Hatta, Des Alwi, Gemala Hatta
    Pendidikan : Universitas Erasmus Rotterdam Belanda

    Biografi Singkat Mohammad Hatta

    Mohammad adalah anak laki-laki satu-satunya dari enam bersaudara.

    Menjadi anak laki-laki satu-satunya menjadikan Mohammad Hatta memiliki rasa tanggung jawab dan jiwa kepemimpinan sejak kecil.

    Ia memulai pendidikan dasarnya di ELS (Europeesche Lagere School).

    Sejak duduk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan.

    Pada tahun 1921 Hatta melanjutkan pendidikan di Handels Hoge School di Rotterdam, Belanda. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging.

    Namun pahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging.

    Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

    Mohammad Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923.

    Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925.

    Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi saat itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif.

    Hatta pun memasuki jurusan itu dengan dorongan minatnya yang besar di bidang politik.

    Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan kemudian pulang ke Indonesia.

    Pada tahun 1932 dan 1933, Hatta rutin menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat.

    Perjalanan hidupnya pun tidak mulus, dia juga merasakan hal yang sama dengan Soekarno, yaitu mendapat tekanan dari berbagai pihak yang tidak sejalan dengannya.

    Namun karena jiwa nasionalisme dan perjuangannya yang tinggi, Hatta tetap semangat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.