Tag: Biografi

  • Biografi Raden Saleh, Perintis Seni Lukis Modern Indonesia

    Biografi Raden Saleh, Perintis Seni Lukis Modern Indonesia

    Siapa Raden Saleh?

    Raden Saleh adalah pelukis pertama Indonesia yang memperkenalkan teknik seni lukis modern di nusantara.

    Raden Saleh juga merupakan Perintis Seni Lukis Modern Indonesia yang karya lukisannya banyak dipajang museum di Eropa.

    Harga lukisan Raden Saleh juga sangat fantastis, salah satu karyanya yang berjudul “Berburu Banteng” laku seharga Rp 120 miliar pada 2018 lalu.

    Biografi Raden Saleh

    Raden Saleh Syarif Bustaman lahir di Semarang pada tahun 1811 yang merupakan keturunan Arab dan Jawa.

    Ayahnya bernama Said Husein bin Alwi bin Awal dan ibunya bernama Raden Ayu Syarif Husein.

    Sejak kecil Raden Saleh tinggal bersama pamannya yang bernama Raden Adipati Surohadimenggolo, Bupati Semarang yang terkenal terpelajar.

    Sang paman pernah membantu Thomas Stamford Raffles yang dikenal sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

    Pamannya membantu Gubernur Jenderal Hindia Belanda dalam menerjemahkan sejumlah teks dari kanon sastra klasik Jawa.

    Yang kemudian digunakan Thomas Stamford Raffles sebagai bahan menulis buku terkenalnya yakni the History Of Java.

    Pada 1822, Raden Saleh didaftarkan belajar di sebuah sekolah bangsawan Pribumi yang baru dibuka di Cianjur, Jawa Barat.

    Berkat keluasan pergaulannya, Raden Saleh yang berbakat menggambar sudah terlihat sejak masih muda.

    Ia bisa berkenalan dan belajar kepada AAJ Payen, pelukis keturunan Belgia yang didatangkan pemerintah Hindia-Belanda untuk melukis pemandangan Nusantara.

    Raden Saleh Belajar Seni Lukis di Belanda

    Pada tahun 1829, atas saran Payen pemerintah Hindia Belanda mengirim Raden Saleh ke negeri Belanda untuk belajar seni lukis.

    Pengalaman belajar serta hidup di negeri Belanda dan sejumlah negara Eropa lain kelak sangat mempengaruhi gaya melukis dan pemikiran seorang Raden Saleh.

    Petualangan hidup Raden Saleh di Eropa dimulai di negeri Belanda. Lima tahun pertamanya di Eropa digunakan Raden Saleh untuk belajar banyak hal.

    Dari memperdalam bahasa Belanda hingga belajar teknik melukis potret pada pelukis istana kerajaan Belanda Cornelis Kruesemen.

    Ia juga belajar melukis tema pemandangan pada Andris Bahan nama alat serta belajar melukis tema pemandangan pada Andries Schelfhout.

    Perlahan nama Raden Saleh mulai dikenal masyarakat Belanda.

    Selain berkesempatan menggelar pameran di Den Haag, Ia juga kerap diminta melukis potret sejumlah anggota kerajaan dan para pejabat Belanda.

    Tak jarang karya karya lukis Raden Saleh membuat masyarakat Belanda terperangah.

    Berpetualang di Jerman Hingga Perancis

    Pada tahun 1839, pemerintah Belanda mengirim Raden Saleh untuk melakukan perjalanan artistik ke sejumlah negara Eropa.

    Ia berkunjung dan menetap beberapa bulan di Dusseldorf Frankfurt dan Berlin, Jerman.

    Ia kemudian mengunjungi kota Dresden dan jatuh cinta dengan kota itu.

    Raden Saleh memutuskan tinggal di Dresden hingga sekitar lima tahun di kota itu. Di kota itu pula ia menjadi tamu kehormatan kerajaan Jerman.

    Kehadirannya diterima baik kalangan bangsawan. Untuk pertama kali dalam hidupnya Raden Saleh merasa diperlakukan sederajat sebagai manusia.

    Situasi ini membuatnya leluasa menemukan ekspresi artistik dan rasa percaya dirinya sebagai seniman.

    Raden Saleh juga tak ragu menunjukkan identitasnya sebagai orang Asia, orang Jawa serta sebagai seorang muslim.

    Selama di Dresden, Raden Saleh menjalin persahabatan erat dengan seorang bangsawan terpandang bernama Mayor Friedrich Anton Serres dan istrinya bernama Friederikadi Maxen.

    Salah satu jejak persahabatan Raden Saleh dengan keluarga Serres bisa dilihat pada bangunan Mushola yang dibangun keluarga Serres di kawasan bukit Mühlbach.

    Mushola yang bernama Blaue Häusel itu memang dibuat untuk menghormati Raden Saleh.

    Di mushola itu terdapat tulisan Raden Saleh dalam bahasa Jawa dan Jerman berbunyi : “..Hormati Tuhan, Cintai Manusia.”

    Terdorong oleh jiwa artistiknya, pada tahun 1845 Raden Saleh pergi ke Prancis dan menetap selama 5 tahun di kota pusat kesenian Eropa itu.

    Wawasan seni dan pengetahuan Raden Saleh kian bertambah.

    Ia banyak menyerap pengaruh gaya romantic pelukis legendaris Prancis, Eugene Delacroix yang kerap menonjolkan unsur drama dalam lukisan-lukisannya.

    Pada 1846 bersama pelukis terkenal Perancis yang bernama Horace Vernet, Raden Saleh tinggal beberapa bulan di Aljazair.

    Di daerah koloni Perancis ini, Raden Saleh mendapat ilham untuk melukis adegan perkelahian hewan-hewan buas yang menjadi salah satu tema favorit lukisan-lukisannya.

    Selama di Perancis, Raden Saleh juga menjadi saksi revolusi Prancis yang terjadi pada bulan februari 1848 di Paris.

    Peristiwa inilah yang ikut mempengaruhi wawasan kehidupannya. Raden Saleh diketahui tiga kali menggelar pameran lukisannya.

    Karya-karyanya diterima baik oleh penikmat seni dan kritikus di negara itu.

    Saat akhirnya pulang ke Hindia Belanda pada tahun 1851, Raden Saleh yang sudah menjadi pribadi baru.

    Raden Saleh menjelma sebagai manusia dengan pikiran dan perilaku modern.

    Raden Saleh Kembali ke Indonesia

    Pulang dari Eropa dan tinggal di Batavia, Raden Saleh yang bekerja sebagai pelukis dan konservator lukisan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Ia merasa terasing dengan lingkungannya.

    Sebagai seorang yang menyerap budaya dan pendidikan Eropa, Oleh orang-orang Belanda di nusantara dia tetap dianggap sebagai seorang pribumi yang tidak sederajat dengan orang Eropa.

    Sementara saat harus bergaul dengan warga pribumi baik dari kalangan bangsawan maupun rakyat jelata, Raden Saleh juga kesulitan mendapatkan lawan bicara yang bisa mengimbangi tingkat pengetahuan dan pendidikannya.

    Kondisi ini membuatnya sangat kesepian.

    Pada tahun 1855 Raden Saleh menikah dengan Constancia von Mansfeldt. Ia merupakan seorang janda kaya asal Jerman.

    Pasangan ini kemudian membangun rumah mewah di kawasan Cikini.

    Rumah cantik yang diilhami gaya arsitektur istana Callenberg, di mana Raden Saleh pernah tinggal saat di Jerman.

    Rumah tersebut kini masih berdiri dan menjadi bagian dari Kompleks Rumah Sakit PGI.

    Sayangnya perilaku diskriminatif yang diterima Raden Saleh kemudian menyebabkan ia bercerai dengan Constancia.

    Praktek diskriminasi yang dirasakan Raden Saleh mendorongnya menciptakan sejumlah karya lukis yang mengekspresikan kritik atas kolonialisme yang dilakukan Belanda di Bumi Jawa atau wilayah nusantara lainnya.

    Nuansa kritik ini menurut sejumlah pihak misalnya terasa pada lukisan penangkapan Diponegoro, Lukisan sebuah banjir di Jawa, dan lukisan pertarungan antara banteng dan singa.

    Karya terpenting Raden Saleh yakni lukisan bersejarah penangkapan Diponegoro sangat tersohor di Indonesia dan melahirkan banyak tafsir.

    Dari tafsir yang mendukung Raden Saleh sebagai pendukung kolonialisme, hingga tafsir sebaliknya yang menyebut lukisan itu sebagai bentuk kritik Raden Saleh terhadap praktek kolonialisme Belanda terhadap tanah Jawa atau Nusantara.

    Raden Saleh Menikah

    Pada tahun 1867, Raden Saleh menikah dengan Raden Ayu Danudirja. Ia adalah gadis bangsawan dari Keraton Yogyakarta. Mereka berdua kemudian pindah ke Bogor.

    Menjelang akhir hayatnya, Raden Saleh sempat ditahan oleh penguasa kolonial Belanda.

    Hal ini karena tuduhan bahwa Raden Saleh terlibat pemberontakan Gerakan Ratu Adil di Karawang Dan Bekasi pada tahun 1867.

    Meski perjalanan hidupnya diwarnai kekecewaan dan kesepian, hidup Raden Saleh yang dilandasi semangat romantis dan ide kemanusiaan. Ini tetap menjadikan dirinya sosok yang dicintai dan dikagumi.

    Raden Saleh Wafat

    Saat Raden Saleh meninggal pada 23 April 1880, lebih dari 2 ribu orang yang berasal dari berbagai etnis dan kebangsaan mengantarkannya ke pemakaman di kampung Empang, Bogor.

  • Biografi Martha Christina Tiahahu, Sosok Pejuang dari Maluku

    Biografi Martha Christina Tiahahu, Sosok Pejuang dari Maluku

    Biografi Martha Christina Tiahahu

    Martha Christina Tiahahu dilahirkan pada tanggal 4 Januari 1800 di Abubu Nusalaut, Maluku.

    Ia adalah anak pertama dari Kapitan Paulus Tiahahu, salah satu tokoh yang membantu perjuangan Kapitan Pattimura ketika perang Pattimura meletus.

    Sedangkan Ibu Martha diketahui meninggal saat ia masih kecil.

    Masa Kecil Martha Christina Tiahahu

    Sejak kecil, Martha Christina Tiahahu memang sangat pemberani dan memiliki spirit perjuangan tinggi.

    Ia selalu mengikuti ayahnya kemanapun ia pergi, bahkan ketika ayahnya melakukan pertemuan untuk merencanakan perang.

    Pada tahun 1817, di waktu yang sama pula, Kapitan Pattimura juga melakukan perlawanan melawan Belanda di pulau Saparua, Maluku.

    Pertempuran melawan Belanda kala itu meluas dari Saparua hingga ke pulau Nusalaut.

    Perjuangan Melawan Kolonial Belanda

    Di usianya yang masih muda, Martha memiliki mental dan keberanian yang tinggi.

    Dalam buku biografi Martha Christina Tiahahu yang ditulis oleh L. J. H. Zacharias (1981), disebutkan Martha sampai tiga kali meminta izin kepada ayahnya untuk ikut berperang, namun selalu ditolak.

    Larangan tersebut tidak pernah dihiraukan, Martha tetap ingin ikut bertempur di medan perang. Dia ikut bertempur melawan Belanda di Saparua membantu Kapitan Pattimura.

    Perlawanan ini termasuk pertempuran besar yang pernah terjadi di Indonesia yaitu perang pattimura.

    Kala itu benteng Beverwijk berhasil diduduki oleh Belanda tanpa perlawanan sebab Guru Soselissa salah seorang penduduk menyatakan menyerah atas nama rakyat.

    Di daerah Ouw dan Ulath, serta Saparua. Martha bertempur bersama para raja, rakyat, serta para kapitan.

    Di Kondisi peperangan, ia membantu membawa senjata dan membantu orang yang terluka. Ketika bertempur, Martha Christina suka memegang tombak.

    Namun, kala itu persediaan amunisi kurang sehingga membuat rakyat mundur ke pegunungan.

    Pertempuran pun berlanjut pada tanggal 11 Oktober 1817. Kurang lebih 100 orang pasukan Belanda yang dipimpin oleh Richemont dan Meyer menggempur daerah Ullath.

    Martha bersama rakyat bertempur sengit mempertahankan tanah air. Dalam peperangan tersebut, perwira Belanda yang bernama Richemont tertembak mati oleh peluru rakyat.

    Pasukan Belanda yang kemudian dipimpin oleh Meyer terkepung di tanjakan Ouw. Mereka bertahan dari serangan rakyat disegala penjuru.

    Pertempuran semakin sengit ketika Meyer terkena peluru di leher. Meyer kemudian dievakuasi ke kapal Eversten dan komando pasukan Belanda diambil alih oleh Vermeulen Kringer.

    Tepatnya pada tanggal 12 Oktober 1817, Vermeulen Kringer memerintahkan serangan umum di daerah Ouw dan Ulath.

    Rakyat yang mulai kehabisan amunisi kemudian melempari pasukan Belanda dengan batu.

    Pasukan Belanda kala itu mengetahui bahwa pasukan rakyat sudah mulai kehabisan amunisi.

    Mengetahui hal tersebut Pasukan Belanda kemudian maju dengan senjata lengkap dengan sangkur yang terhunus.

    Martha Christina Tertangkap Belanda

    Perlawanan kemudian berakhir dengan ditangkapnya beberapa pemimpin pertempuran termasuk di dalamnya Martha Christina Tiahahu dan ayahnya Kapitan Paulus Tiahahu.

    Mereka kemudian dibawa kapal Eversten bersama dengan tahanan lainnya, di kapal itu juga terdapat Kapitan Pattimura yang juga tertangkap.

    Beberapa tahanan dijatuhi hukuman mati atas perlawanan mereka termasuk ayah Martha, terkecuali Martha sebab ia masih sangat muda.

    Ia hanya akan dibawa ke Jawa untuk menjalani tanam paksa.

    Hukuman mati ayahnya dilaksanakan pada 17 November 1817. Saat proses eksekusi mati, Martha tidak diijinkan melihat kematian ayahnya.

    Ayahnya dibunuh dengan puluhan peluru dari serdadu Belanda. Bahkan tubuhnya juga ditusuk dengan Kelewang.

    Pahlawan Termuda Yang Mati di Laut Banda

    Martha akan diasingkan ke pulau Jawa dan dipaksa bekerja di perkebunan kopi.

    Dia ditempatkan di sebuah ruangan kosong yang gelap. Martha sempat depresi dan seperti kehilangan akal karena kematian ayahnya.

    Saat sakit, dia tidak mau menerima obat-obatan apapun. Dia pun tidak mau makan, membuat tubuhnya semakin lemas.

    Semangat hidupnya sudah hilang begitu saja. Hanya ada rasa putus asa karena kematian ayahnya.

    Di usia 17 tahun, seharusnya dia tidak menjadi tahanan kolonial. Namun menjadi tahanan orang tuanya yang siap dinikahkan. Tahun 1818, tubuh Martha semakin lemah.

    Pada tanggal 2 Januari 1818 dini hari, Martha Christina Tiahahu mengembuskan napas terakhirnya. Dia wafat di antara perairan pulau buru dan pulau manippa.

    Jasadnya kemudian dilarung ke laut dengan penghormatan militer. Sekarang tubuhnya bersemayam di laut Banda.

    Sosok Martha patut dijadikan inspirasi wanita Indonesia karena kisah hidupnya yang inspiratif.

    Di usia muda dia berjuang sekuat tenaga melawan kolonial belanda untuk mempertahankan tanah air.

  • Biografi Robert Wadlow, Orang Tertinggi di Dunia

    Biografi Robert Wadlow, Orang Tertinggi di Dunia

    Pria asal amerika ini dikatakan sebagai pria tertinggi di dunia. Bagaimana tidak, tinggi tubuhnya mencapai 2.72 meter! Alhasil, dia tercatat dalam sejarah melalui Guinness World Records sebagai orang tertinggi di dunia.

    Robert Pershing Wadlow (lahir di Alton, Illinois, 22 Februari 1918 – meninggal di manistee, Michigan, 15 Juli 1940 pada umur 22 tahun) adalah orang tertinngi di dunia yang pernah hidup. Kadang dia dipanggil “Raksasa Alton” yang diambil dari kota kelahirannya di Alton, Illinois.

    Tinggi Wadlow mencapai 2,72 m (8 kaki 11,1 inci) dengan berat 220 kg (490 pon) saat dia meninggal. Tubuhnya yang besar dan terus bertumbuhnya tinggi saat dewasa disebabkan oleh Hipertropi di hipofisis yang berakibat tidak normalnya jumlah hormon pertumbuhan. Sehingga pertumbuhan terus terjadi bahkan saat ia sudah meninggal.

    Masa kanak-kanak

    Wadlow lahir sebagai anak dari Addie dan Harold Wadlow di Alton, Illinois  pada 22 Februari 1918, dari lima anak, Robert adalah yang paling tua. Tahun 1936, setelah lulus dari SMA Alton, dia melanjutkan pembelajarannya di Kampus Shurtleff dalam bidang hukum. Sejak 1937, Wadlow telah memecahkan rekor sebagai orang tertinggi.

    Sepatunya masih berada di beberapa tempat di Amerika Serikat, termasuk Museum sejarah dan seni Alton. Saat berumur 20 tahun ia menandatangani Perusahaan Sepatu Internasional untuk membuatkannya sepatu secara gratis dengan syarat mengikuti tur promosional.

    Tahun-tahun berikutnya

    Tinggi Wadlow menyebabkan dia sering mendapatkan masalah karena kakinya menjadi rapuh karena tubuhnya yang besar menjadikannya sulit berjalan sehingga dia menggunakan penopang kaki dari besi.

    Pada 27 Juni 1940 (delapan belas hari sebelum kematiannya), dia memiliki tinggi 2,72 (8 kaki 11,1 inci) oleh dokter C. M. Charles dan Cyril MacBryde dari Universitas Washington di St. Louis.

    Saat masih hidup, Wadlow merupakan Selebriti Amerika Serikat paling populer dimasanya; dia begitu terkenal saat ia tur penjuru negeri ditahun 1936 sebagai bagian dari Sirkus Ringling Brothers dan tur promosional dari INTERCO ditahun 1938. Saat itu dia selalu mengikuti tur promosional dan kemunculan publik.

    Kematian Robert Wadlow

    Pada 4 juli 1940, ketika ia muncul dalam Festival Hutan Nasional, penopang kaki besi di kaki Wadlow patah, menyebabkan kapalan dan luka sobek yang parah dan menginfeksi kakinya.

    Dokter merawatnya dengan transfusi darah dan operasi darurat, namun kondisinya terus memburuk dan akhirnya meninggal dunia pada 15 Juli 1940 ia meninggal saat tidur. Dalam usia 22 tahun.

    Ada perkiraan 40,000 orang menghadiri pemakaman Wadlow pada 19 Juli . Dia dimasukan ke dalam peti mati dengan berat setengah ton sehingga membutuhkan 12 orang untuk mengangkut peti mati Robert, yang dilapisi beton. Keluarga Wadlow sangat khawatir jika tubuh Robert dicuri, sehingga kuburan Wadlow dijaga dengan sangat ketat.

  • Biografi Singkat Abdoel Moeis, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Singkat Abdoel Moeis, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Abdoel Moeis

    Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – wafat di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia.

    Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad yang didirikan pada tahun 1916 oleh pemerintah penjajahan Belanda.

    Ia dimakamkan di TMP Cikutra – Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).

    Karier Abdoel Moeis

    Dia pernah bekerja sebagai klerk di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada surat kabar Belanda, Preanger Bode, harian Kaum Muda dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim.

    Selain itu ia juga pernah aktif dalam Syarikat Islam dan pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama (1920-1923). Setelah kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan.

    Riwayat Perjuangan

    • Mengecam tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di harian berbahasa Belanda, De Express.
    • Pada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar Dewantara.
    • Pada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat.
    • Mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School – Institute Teknologi Bandung (ITB)

    Karya Sastra Abdoel Moeis

    • Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972)
    • Pertemuan Jodoh (novel, 1933)
    • Surapati (novel, 1950)
    • Robert Anak Surapati(novel, 1953)

    Karya Terjemahan Abdoel Moeis

    • Don Kisot (karya Cerpantes, 1923)
    • Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928)
    • Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932)
    • Tanah Airku (karya C. Swaan Koopman, 1950)
  • Biografi Joko Pinurbo, Sang Penyair Indonesia

    Biografi Joko Pinurbo, Sang Penyair Indonesia

    Biografi Joko Pinurbo
    • Nama : Joko Pinurbo
    • TTL    : Sukabumi, 11 Mei 1962
    • Istri    : Nurnaeni Amperawati Firmina
    • Anak  : Paskasius Wahyu Wibisono, Maria Azalea Anggraeni

    Biografi Singkat Joko Pinurbo

    Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Ia menyelesaikan pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Sanata Darma Yogyakarta pada tahun 1987 dan kemudian menjadi staf pengajar di almamaternya.

    Sejak tahun 1979 Joko Pinurbo sudah tertarik dengan puisi dan atau sajak-sajak yang dibuat oleh para sastrawan terkenal Indonesia. Namun uniknya, selama 20 tahun ia mengamati puisi/sajak, selama itu pula ia belum membuat satu puisi pun.

    Hingga akhirnya pada tahun 1999 barulah ia menghasilkan puisi dan membukukan dalam suatu tema Celana, yang menurut pengakuannya belum pernah ada penyair sebelumnya memakai kata tersebut dalam karya puisi.

    Sejak tahun 1999, sudah 10 buku kumpulan puisi diluncurkan, diantaranya Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005).

    Beberapa buku kumpulan puisinya memperoleh hadiah Sastra Lontar 2001, Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi) 2001, penghargaan Sastra Pusat Bahasa Depdiknas 2002, Tokoh Sastra PIlihan Tempo 2001, Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005.

    Dan yang lebih fenomenal lagi, bukunya sangat laris. Buku kumpulan puisi Kepada Cium (terbit tahun 2007), hanya dalam jangka waktu satu bulan sudah terjual 1000 buku. Suatu jumlah yang luar biasa untuk buku puisi.

    Pendidikan Joko Pinurbo

    • SD Mardi Yuana Warung Kiara, Sukabumi (1973)
    • SMP Sanjaya Babadan, Sleman (1976)
    • Seminari St Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang (1981)
    • IKIP Sanata Darma (sekarang Universitas Sanata Dharma) Yogyakarta (1987)

    Karya Joko Pinurbo

    • Celana (1999)
    • Di Bawah Kibaran Sarung (2001)
    • Pacarkecilku (2002)
    • Trouser Doll merupakan terjemahan karyanya berjudul Celana ke dalam bahasa Inggris (2002)
    • Telepon Genggam (2003)
    • Kekasihku (2004)
    • Pacar Senja – Seratus Puisi Pilihan (2005)
    • Kepada Cium (2007)
    • Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007)
    • Haduh, aku di-follow (2013)
    • Surat Kopi (2014)
    • Malam ini aku akan tidur di matamu (2016)
    • Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016)

    Penghargaan Joko Pinurbo

    • Hadiah Sastra Lontar, 2001,
    • Sih Award (Penghargaan Puisi Terbaik Jurnal Puisi), 2001,
    • Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Depdiknas, 2002,
    • Tokoh Sastra PIlihan Tempo, 2001,
    • Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2005
  • Biografi Benjamin Franklin Lengkap dengan Karyanya

    Biografi Benjamin Franklin Lengkap dengan Karyanya

    Biografi Benjamin Franklin

    Benjamin Franklin adalah seorang tokoh penemu yang lahir di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, 17 Januari 1706.

    Ia meninggal di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat, 17 April 1790 pada umur 84 tahun.

    Franklin adalah orang dengan banyak jenis profesi dan keahlian.

    Ia adalah seorang wartawan, penulis, sastrawan, pengarang, filantrofis, abolisionis, pelayan masyarakat (pejabat), ilmuan, diplomat, dan penemu.

    Lebih dari itu, Benjamin Franklin adalah seorang pengusaha dalam bidang penerbitan dan percetakan.

    Oleh karenanya, banyak karya tulis yang telah diciptakan dan dibaca oleh masyarakat luas.

    Dari sekian banyak keahliannya tersebut, ia telah menemukan berbagai karya yang sampai saat ini masih digunakan. Salah satunya adalah penangkal petir.

    Pada tahun 1740, listrik adalah hal baru bagi dunia. Benjamin Franklin dan kerabatnya mulai menyelidiki fenomena listrik itu.

    Pada tahun 1750 ia menerbitkan sebuah proposal untuk sebuah percobaan untuk membuktikan bahwa petir adalah listrik.

    Lalu ia menggunakan layang-layang untuk mengumpulkan beberapa muatan listrik dari awan badai.

    Dalam percobaannya terhadap listrik, Franklin menemukan temuan untuk penangkal petir, yang menjadi alasan mengapa bangunan tidak tersambar petir setiap kali ada badai yang menakutkan.

    Ia menulis bahwa konduktor (penghantar listrik) dengan ujung yang tajam memiliki kemampuan untuk menarik muatan listrik dan memiliki jangkauan penarikan yang lebih jauh dibandingkan dengan konduktor dengan ujung yang tumpul.

    Karya Benjamin Franklin

    Selain itu, masih banyak lagi karya-karya yang telah ditemukannya. Adapun karya atau temuan dari Benjamin Franklin adalah sebagai berikut:

    1. Glass Armonika

    Pada tahun 1761, Franklin menciptakan alat musik armonika menggunakan kaca yang ditiup untuk menciptakan nada yang tepat.

    Armonika cukup populer di Inggris dengan komposer besar seperti Beethoven dan Mozart menggubah musik menggunakan alat musik tersebut.

    2. Kompor Franklin

    Kompor ini ditemukan pada tahun 1742. Alat memasak ini dinilai lebih aman dan menghasilkan panas dua kali lipat dari kompor kayu biasa.

    Kompor Franklin memiliki seperti cerobong di puncaknya dan kotak udara di bagian belakang.

    3. Penangkal Petir

    Eksperimen penangkal petir dilakukan oleh Franklin pada tahun 1752 dengan bantuan layang-layang yang diterbangkan pada awan berhalilintar.

    Penangkal petir buatan Franklin mampu membantu mengendalikan kebakaran yang sering terjadi akibat sambaran petir.

    4. Lensa Bifokal

    Terganggu karena sering mengganti kacamata untuk membaca dan meilhat benda jauh, Benjamin Franklin menciptakan lensa dengan dua titik fokus pada tahun 1784.

    Lensa bifocal memuat dua lensa untuk membaca sekaligus melihat jauh yang dipasang pada satu frame kacamata.

    Lensa untuk melihat jauh ditempatkan di bagian atas, sedangkan lensa untuk membaca ditempatkan di bagian bawah.

    5. Odometer

    Saat menjabat sebagai Postmaster General, dia berpikir tentang menemukan rute terbaik untuk mengirimkan surat.

    Odometer (alat untuk mengukur jarak) diciptakan oleh Franklin pada tahun 1775. Odometer membantu dalam mengukur jarak tempuh kereta kuda yang membawa surat.

    6. Kateter untuk Berkemih

    Ketika kakaknya menderita batu ginjal, Franklin mengembangkan kateter urin untuknya. Kateter ini adalah yang pertama diproduksi di Amerika.

    Beberapa penemuan lain Benjamin Franklin termasuk sirip berenang, lengan panjang untuk meraih buku yang ditempatkan pada ketinggian, dan pemetaan Teluk Meksiko.

    7. Poor Richard’s Almanack

    Poor Richard’s Almanack adalah almanak tahunan yang diterbitkan oleh Benjamin Franklin, yang mengadopsi nama samaran “Poor Richard” atau “Richard Saunders” untuk tujuan ini. Publikasi ini muncul terus-menerus dari tahun 1732 hingga 1758.

  • Biografi Armijn Pane Beserta Karya-Karyanya

    Biografi Armijn Pane Beserta Karya-Karyanya

    Armijn Pane lahir di Muara Sipongi, Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada tanggal 18 Agustus 1908. Ia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara.

    Ayahnya Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang seniman daerah yang telah berhasil membukukan sebuah cerita daerah berjudul Tolbok Haleoan.

    Armijn Pane adalah salah satu Sastrawan Senior di Indonesia dengan salah karya sastranya yang paling terkenal ialah novel Belenggu.

    Pada tahun 1933 bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru.

    Misinya adalah mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra.

    Sebagai pelajar di Solo, ia bergabung dengan organisasi pemuda nasional yakni Indonesia Muda, namun politik tampaknya kurang menarik minatnya daripada kesusasteraan.

    Saat itu ia memulai karirnya sebagai penulis dengan menerbitkan beberapa puisi nasionalis, dan dua tahun kemudian menjadi salah seorang pendiri majalah Pujangga Baru.

    Armijn Pane pernah menjadi wartawan surat kabar Soeara Oemoem di Surabaya (1932), mingguan Penindjauan (1934), surat kabar Bintang Timoer (1953), dan menjadi wartawan lepas.

    Ia pun pernah menjadi guru di Taman Siswa di berbagai kota di Jawa Timur. Menjelang kedatangan tentara Jepang, ia duduk sebagai redaktur Balai Pustaka.

    Pada zaman Jepang, Armijn bersama kakaknya Sanusi Pane, bekerja di Kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) dan menjadi kepala bagian Kesusasteraan Indonesia Modern.

    Sesudah kemerdekaan, ia aktif dalam bidang organisasi kebudayaan.

    Ia pun aktif dalam kongres-kongres kebudayaan dan pernah menjadi anggota pengurus harian Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) (1950-1955).

    Tahun 1969 Armijn Pane menerima Anugerah Seni dari pemerintah RI karena karya dan jasanya dalam bidang sastra. Pada awal Fevruari 1970, Tepatnya pada tanggal 16 Februari 1970, beliau meninggal.

    Karya Armijn Pane

    • Puisi Gamelan Djiwa. Jakarta: Bagian Bahasa Djawa. Kebudayaan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. 1960
    • Djiwa Berdjiwa, Jakarta: Balai Pustaka. 1939.
    • Kisah Antara Manusia. 1952
    • Belenggu, Jakarta: Dian Rakyat. Cet. I 1940, IV 1954, Cet. IX 1977, Cet. XIV 1991
    • Djinak-Djinak Merpati. Jakarta: Balai Pustaka, Cet. I 1940
    • Kisah Antara Manusia. Jakarta; Balai Pustaka, Cet I 1953, II 1979
    • Ratna. 1943 (menyadur naskah Hendrik Ibsen, Nora)
    • Antara Bumi dan Langit”. 1951. Dalam Pedoman, 27 Februari 1951.
    • (Belanda) ort Oversicht van de Moderne Indonesische Literatuur (1949). Sebuah tinjauan tentang sastra Indonesia modern
    • Sandjak-sandjak Muda Mr Muhammad Yamin. 1954. sebuah bahasan tentang sajak-sajak Muhammad Yamin
    • Mencari Sendi Baru Tatabahasa Indonesia. 1950. Studinya tentang gramatika bahasa Indonesia
    • Jalan Sejarah Dunia. 1952
    • Tiongkok Jaman Baru, Sejarahnya: Abad ke-19 – sekarang. 1953. sebuah terjemahan
    • Membangun Hari Kedua. 1956. Terjemahan novel Ilya Ehrenburg.
    • Habis Gelap Terbitlah Terang. 1968. Menerjemahkan surat-surat Raden Ajeng Kartini
  • Biografi Merari Siregar Sastrawan Indonesia

    Biografi Merari Siregar Sastrawan Indonesia

    Biografi Merari Siregar

    Merari Siregar lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada 13 Juli 1896. Semasa kecil, Merari Siregar berada di Sipirok.

    OIeh karena itu, sikap, perbuatan, dan jiwa Merari Siregar sangat dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat Sipirok.

    Ia menjumpai kepincangan-kepincangan khususnya mengenai adat, misalnya, kawin paksa yang terdapat dalam masyarakat lingkungannya.

    Setelah dewasa dan menjadi orang terpelajar, Merari Siregar melihat keadaan suku bangsanya yang mempunyai pola berpikir yang tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

    Hati kecilnya ingin mengubah sikap orang-orang yang berpandangan kurang baik khususnya orang-orang di daerah Sipirok.

    Pada tahun 1923, ia menenyam bangku pendidikan di sekolah swasta yang didirikan oleh vereeniging tot van Oost en West, yang pada masa itu merupakan organisasi yang aktif memperakiekkan politik etis Belanda.

    Karyanya yang paling populer adalah Azab dan sengsara diterbitkan pada tahun 1920.

    Prosa berbentuk roman itu muncul saat pemerintah kolonial Belanda sedang gencar-gencarnya melaksanakan politik etis yang ditandai dengan berdirinya Conunissie Voor Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat).

    Karya Karya Merari Siregar

    Novel

    Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet. 1 tahun 1920,Cet.4 1965.
    Binasa Karena Gadis Priangan. Jakarta: Balai Pustaka 1931.
    Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi. Jakarta: Balai Pustaka 1924.
    Cinta dan Hawa Nafsu. Jakarta: t.th.

    Saduran

    Si Jamin dan si Johan. Jakarta: Balai Pustaka 1918.

  • Biografi Andrea Hirata, Penulis Novel Laskar Pelangi

    Biografi Andrea Hirata, Penulis Novel Laskar Pelangi

    Nama Lengkap : Andrea Hirata
    Alias : Andrea Hirata Seman Said Harun
    Lahir : Gantung, Belitung Timur, Bangka Belitung, 24 Oktober 1967
    Profesi : Sastrawan
    Agama : Islam
    Ayah : Seman Said Harunayah
    Ibu : NA Masturah

    Biografi Andrea Hirata

    Andrea Hirata adalah penulis Novel Indonesia. Ia dikenal sebagai seorang novelis yang telah merevolusi sastra Indonesia dan karyanya diangkat ke layar lebar teater musikal.

    Salah satu buku karya Andrea Hirata adalah buku Laskar Pelangi yang sangat populer dan menjadi best seller di beberapa toko buku.

    Andrea Hirata terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun di Gantung, Belitung Timur, Bangka Belitung, 24 Oktober 1982.

    Ia berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang menghasilkan tiga sekuel.

    Saat masih kecil, orang tuanya mengubah namanya sebanyak tujuh kali. Nama ketujuhnya adalah Andrea, nama Hirata diberikan oleh ibunya.

    Hirata memulai pendidikan tinggi dengan gelar di bidang ekonomi dari Universitas Indonesia. Meskipun studi mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains-fisika, kimia, biologi, astronomi dan sastra.

    Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa di Himalaya.

    Setelah menerima beasiswa dari Uni Eropa, dia mengambil program master di Eropa, pertama di Universitas Paris, lalu di Universitas Sheffield Hallam di Inggris; tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari universitas tersebut dan ia lulus cum laude.

    Tesis itu telah diadaptasikan ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah.

    Hirata merilis buku Laskar Pelangi pada tahun 2005. Novel ini ditulis dalam waktu enam bulan berdasarkan pengalaman masa kecilnya di Belitung.

    Ia kemudian menggambarkannya sebagai “sebuah ironi tentang kurangnya akses pendidikan bagi anak-anak di salah satu pulau terkaya di dunia.”

    Novel ini terjual lima juta eksemplar, dengan edisi bajakan terjual 15 juta lebih. Novel ini menghasilkan tetralogi Laskar Pelangi, yakni Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.

    Di tahun 2022 kemarin, ada satu buku terbaru Andrea Hirata yang berjudul Ayah dan Sirkus Pohon.

    Pendidikan Andrea Hirata

    • S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
    • S2 Universite de Paris Sorbonne (Perancis)
    • Sheffield Hallam University (Inggris).

    Penghargaan Andrea Hirata

    Berikut ini adalah beberapa penghargaan yang telah diraih oleh Andrea Hirata:

    • Khatulistiwa Literaly Award (KLA), 2007
    • Aisyiyah Award,
    • Paramadina Award
    • Netpac Critics Award
    • Pemenang BuchAwards Jerman 2013
    • Pemenang Festival Buku New York 2013 (general fiction category)
    • Honorary Doctor of Letters (Hon DLitt) dari Universitas Warwick 2015

    Novel Andrea Hirata

    Berikut ini adalah beberapa novel karya Andrea Hirata:

    • Buku Novel Laskar Pelangi (2005)
    • Buku Novel Sang Pemimpi (2006)
    • Novel Edensor (2007)
    • Novel Maryamah Karpov
    • Novel Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (2010)
    • Novel Sebelas Patriot (2011)
    • Novel Laskar Pelangi Song Book (2012)
    • Novel Ayah (2015)
    • Novel Guru Aini (2020)
    • Novel Ayah dan Sirkus Pohon (2022)
  • Biografi Ayu Utami, Aktivis Jurnalis dan Sastrawan Indonesia

    Biografi Ayu Utami, Aktivis Jurnalis dan Sastrawan Indonesia

    Biodata Ayu Utami

    Nama: Ayu Utami
    Lahir: 21 November 1968, Bogor, Jawa Barat
    Kewarganegaraan: Indonesia
    Aliran sastra: roman
    Penghargaan: Sayembara roman Dewan Kesenian Jakarta, Kusala Sastra Khatulistiwa, Prince Claus Award

    Biografi Ayu Utami

    Ayu Utami memiliki nama lengkap Justina Ayu Utami.

    Ia adalah aktivis jurnalis dan sastrawan berkebangsaan Indonesia yang besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

    Ayu Utami pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R.

    Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan.

    Bakat menulisnya sudah tertanam sejak kecil. Ia suka menulis segala hal yang dialami hingga akhirnya ia berhasil menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Saman.

    Novel tersebut mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.

    Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual sekitar 50 ribuan eksemplar.

    Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, Belanda yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Pada akhir tahun 2001, ia meluncurkan novel Larung.

    Karir Ayu Utami

    Wartawan lepas Matra
    Wartawan Forum Keadilan
    Wartawan D&R
    Anggota Sidang Redaksi Kalam
    Kurator Teater Utan Kayu
    Pendiri dan Anggota Aliansi Jurnalis Independen
    Peneliti di Institut Studi Arus Informasi

    Karya Ayu Utami

    Novel Saman, KPG, Jakarta, 1998
    Novel Larung, KPG, Jakarta, 2001
    Kumpulan Esai “Si Parasit Lajang”, GagasMedia, Jakarta, 2003
    Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta, 2008
    Novel Manjali Dan Cakrabirawa (Seri Bilangan Fu), KPG, Jakarta, 2010
    Novel Cerita Cinta Enrico, KPG, Jakarta, 2012
    Novel Soegija: 100% Indonesia, KPG, Jakarta, 2012
    Novel Lalita (Seri Bilangan Fu), KPG, Jakarta, 2012
    Novel Si Parasit Lajang: , KPG, Jakarta, 2013
    Novel Pengakuan: Eks Parasit Lajang, KPG, Jakarta, 2013
    Novel Maya

    Penghargaan

    Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998
    Prince Claus Award 2000
    Khatulistiwa Literary Awards, kategori prosa (2008)