Tag: budaya Jawa

  • Paguyuban Joko Ismoyo Gelar Ruwatan Massal dengan Semangat Tandang Bareng dan Gotong Royong

    Paguyuban Joko Ismoyo Gelar Ruwatan Massal dengan Semangat Tandang Bareng dan Gotong Royong

    Paguyuban Kerawitan Joko Ismoyo akan menggelar ruwatan massal sebagai ikhtiar bersama untuk saling mendoakan pribadi, keluarga, komunitas, hingga lembaga dan instansi.

    Kegiatan yang rencananya akan dilangsungkan pada 18 November 2026 tersebut diharapkan menjadi momentum menghadirkan aura positif, menjauhkan diri dari sengkala, sekaligus memperoleh kedamaian bagi para sukerta atau mereka yang dipercaya membawa bawaan tertentu sejak lahir.

    Ruwatan akan dipimpin oleh dalang Ki Gondo Bawono, kelahiran 1945 asal Tapanrejo, Kecamatan Muncar.

    Ia akan didampingi sinden sekaligus penyiap umbo rampe ritual, Hj. Soeswati (72), yang juga berprofesi sebagai perias pengantin.

    Soeswati dikenal kuat dalam tirakat serta memahami filosofi berbagai kebutuhan dalam rangkaian ikhtiar untuk menyingkirkan energi negatif.

    Ketua Paguyuban Joko Ismoyo, Ki Mudjiono (78), mengatakan gagasan untuk menggelar ruwatan massal tersebut sebenarnya telah muncul sejak empat hingga lima tahun lalu.

    Namun, niat tersebut baru akan diwujudkan tahun ini dengan membawa semangat kepahlawanan Bung Tomo dan Perang Puputan Bayu.

    Kegiatan dijadwalkan pada jam kerja, bertempat di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.

    Pelaksanaan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian menyongsong Hari Jadi Banyuwangi ke-255 yang jatuh tepat satu bulan setelah pelaksanaan ruwatan.

    “Maturnuwun dukungan sesama penggemar wayang dan kerawitan serta Disbudpar yang tandang bareng mewujudkan niat mulia ini secara kolaborasi tanpa dana APBD. Jadi, murni dari sumbangan pribadi serta sari perorangan maupun komunitas, kantor dan perusahaan yang krenteg ikut manggayu bagyo,” tutur Ki Mudjiono.

    Ia mengatakan, pihaknya yang mayoritas merupakan kalangan sepuh menggandeng Perkumpulan Komunitas Gotong Royong 45, Sanggar Merah Putih ’45, serta EO Senyum Agmadina untuk mengemas kegiatan tersebut.

    Kolaborasi itu sekaligus menjadi upaya mengajak berbagai pihak berbuat untuk kebaikan Banyuwangi agar semakin harmonis dan penuh welas asih, sekaligus mendoakan Nuswantara dan Negara Indonesia.

    Ki Mudjiono yang merupakan Dewan Paripurna Pemuda Panca Marga (PPM-LVRI) tersebut hingga kini masih aktif melatih kerawitan dan melakukan siaran Gending Jawa di Radio Fajar FM.

    Sebelumnya, sekitar dua dekade lalu, ia juga pernah menjadi pramusiar di Radio Komunitas Bung Tomo FM.

    Sementara itu, Pembina Ruwatan Massal Nuswantara, Agus Wahyu Nuryadi, yang akrab disapa Bung Aguk Darsono, menjelaskan bahwa konsep ruwatan tetap mengikuti pakem Jawa, tetapi dikreasikan dengan mengakomodasi adat dan tradisi ngelukat Osing.

    Selain itu, rangkaian kegiatan juga akan dilengkapi dengan doa ruqyah yang dipimpin tokoh agama asal Madura serta sentuhan hipnosis Smart Parenting.

    Pendekatan tersebut dimaksudkan untuk membantu mengurai berbagai aral dan mental block peserta sehingga diharapkan dapat lebih gangsar rejekinya serta membangun keluarga yang samawa dan mampu menghadirkan kebahagiaan lahir dan batin.

    “Saat pembukaan akan disaksikan perwakilan suku dan etnis dari Forum Pembauran Kebangsaan binaan Bakesbangpol. Dan saat siraman dari tujuh sumber mata air, antara lain dari Sumur Sritanjung dan Masjid Kuno maupun tempat sakral lainnya, selain dalang dan sinden, juga penting disiram oleh ibu atau ayahnya seraya mohon pangestu,” tambah Bung Aguk Darsono.

    Ketua Panitia Slamet Muhlisin, didampingi Sekretaris Andre Repelita Waluyo, berharap masyarakat luas di Bumi Blambangan maupun anggota Ikawangi Nusantara dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan upaya membersihkan diri secara bersama-sama.

    Hingga saat ini, sebanyak 17 orang telah mendaftar. Panitia masih memberikan kesempatan pendaftaran hingga 10 November pukul 13.45 WIB.

    “Harapan kami peserta perorangan 33 orang dan lembaga 5-8 pihak hingga kumpulan lebih dari 40 orang, kan mustajab doanya. Kami ada form pendaftaran digital lewat aplikasi Gata. Pendaftaran ditutup bila sudah mencapai maksimal 99 pendaftar,” ujar pembaca karakter di TV Osing tersebut sambil tersenyum.

    Andre menambahkan, dalam pelaksanaan kegiatan, panitia juga menggandeng sejumlah media lokal sebagai mitramedia, yakni JRKBB-JRKI, Jurnal News, Sastrawacana, JNN Sumenep, serta Menara Madinah.com Surabaya. Selain itu, kegiatan ruwatan juga akan disiarkan secara langsung melalui YouTube BTD Channel.

    Para peserta nantinya mendapatkan bonus rekening bank dan voucher potongan biaya perjalanan umrah dari mitra panitia. Sementara bagi donatur dan sponsor, panitia menyediakan kartu nama digital melalui aplikasi Gata.

    Dalam kegiatan tersebut juga akan tersedia Bukalapak UMKM serta layanan konsultasi psikologi karakter dan spiritual adiluhung. (Qurrota A’Yunin/AWN)

  • Dari Warisan Sultan Agung, Dosen FISIP UNNES Temukan Nilai Kolaborasi dalam Sastra Gendhing

    Dari Warisan Sultan Agung, Dosen FISIP UNNES Temukan Nilai Kolaborasi dalam Sastra Gendhing

    Di tengah perubahan kehidupan sosial yang semakin dinamis pada abad ke-21, kemampuan masyarakat untuk bekerja sama, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan menjadi semakin penting.

    Kemajuan teknologi memang memudahkan komunikasi dan aktivitas sehari-hari, namun perubahan tersebut juga memunculkan tantangan baru dalam membangun relasi sosial yang sehat.

    Dalam situasi itu, warisan pemikiran Nusantara dapat menjadi sumber pembelajaran untuk menemukan kembali nilai-nilai kehidupan bersama yang relevan dengan kondisi saat ini.

    Salah satu warisan tersebut adalah Sastra Gendhing, karya yang dikaitkan dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma.

    Nilai-nilai di dalamnya dikaji oleh Khoirul Anwar, S.Pd., M.Pd., Dosen FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES), untuk melihat relevansinya dengan kehidupan sosial masyarakat kontemporer.

    Dalam proses kajiannya, Khoirul melibatkan KGPH Puger, putra PB XII sekaligus budayawan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

    Keterlibatan budayawan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif dalam membaca Sastra Gendhing, tidak hanya berdasarkan teks, tetapi juga dengan mempertimbangkan latar belakang kebudayaan Jawa yang melingkupinya.

    Kajian dari sudut pandang sosial-humaniora itu menemukan bahwa Sastra Gendhing tidak hanya berbicara mengenai persoalan filosofis dan spiritual.

    Karya tersebut juga memuat gagasan tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan bersama, membangun hubungan dengan sesama, serta menjaga keseimbangan dalam lingkungan sosial.

    Dari pembacaan tersebut, muncul pemahaman bahwa ajaran dalam Sastra Gendhing memiliki keterkaitan dengan etika kehidupan bersama, khususnya mengenai semangat gotong royong.

    Nilai ini menempatkan kepentingan bersama, tanggung jawab, dan keharmonisan sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan sosial.

    Perspektif tersebut dinilai masih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

    Kehidupan abad ke-21 menuntut setiap individu tidak hanya memiliki kemampuan personal, tetapi juga kecakapan untuk berkomunikasi, bernegosiasi, bekerja dalam tim, menghormati perbedaan, serta mengambil tanggung jawab dalam lingkungan sosial.

    Semangat yang tercermin dalam Sastra Gendhing menunjukkan bahwa terciptanya kehidupan yang harmonis membutuhkan kemauan untuk saling memahami dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

    Nilai tersebut dapat menjadi salah satu pijakan dalam membangun karakter masyarakat yang mampu berkolaborasi di tengah perubahan zaman.

    Khoirul Anwar menilai, mempelajari Sastra Gendhing tidak cukup hanya dengan menempatkannya sebagai peninggalan masa lalu yang perlu dilestarikan.

    Kandungan nilai di dalamnya perlu terus dibaca dan dikaitkan dengan persoalan kehidupan masyarakat masa kini.

    Menurutnya, semangat kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap sesama, dan upaya menjaga harmoni merupakan nilai yang tidak kehilangan relevansinya meskipun pola kehidupan masyarakat terus berubah.

    Karena itu, karya-karya intelektual Nusantara dapat diperlakukan sebagai sumber pengetahuan yang masih dapat diajak berdialog dengan persoalan sosial di era modern.

    Kajian tersebut sekaligus membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut terhadap berbagai karya pemikiran Nusantara dengan menggunakan pendekatan lintas disiplin.

    Pendekatan semacam ini memungkinkan warisan intelektual masa lalu tidak hanya dipahami dari sisi sejarah dan budaya, tetapi juga dikaji berdasarkan relevansinya terhadap kebutuhan masyarakat sekarang.

    Di sisi lain, generasi muda diharapkan tidak semakin jauh dari warisan pemikiran para intelektual Nusantara.

    Berbagai karya tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai nilai kehidupan, sekaligus ruang untuk memahami bagaimana gagasan masa lalu dapat diterapkan dan dimaknai kembali sesuai tantangan zaman.

    Melalui pembacaan kembali terhadap Sastra Gendhing, warisan pemikiran Sultan Agung tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah kebudayaan Jawa.

    Nilai-nilai di dalamnya dapat terus dihidupkan sebagai bahan refleksi untuk membangun masyarakat yang memiliki semangat gotong royong, mampu berkolaborasi, menghargai perbedaan, dan menjaga keharmonisan kehidupan bersama. (Miskawi)

  • Panji Blambangan Gelar Peringatan 20 Tahun Pengakuan Keris sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO

    Panji Blambangan Gelar Peringatan 20 Tahun Pengakuan Keris sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO

    Keris adalah senjata tajam golongan belati dari suku Jawa yang dikenal luas di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah.

    Senjata ini memiliki bentuk yang sangat khas dan mudah dikenali, terutama pada bagian pangkal yang tidak simetris dan melebar, serta bilah yang sering kali berkelok-kelok.

    Banyak keris juga memiliki pamor, yaitu serat-serat logam yang tampak pada permukaan bilah hasil lapisan logam yang disatukan.

    Bagi masyarakat Jawa, keris menjadi senjata pamungkas setelah pedang, tombak, dan panah.

    Meskipun bukan senjata utama dalam peperangan, keris merupakan senjata yang digemari dan kerap dibawa pemiliknya ke mana pun.

    Pada masa lalu, keris berfungsi sebagai senjata dalam duel atau pertarungan, sekaligus menjadi pelengkap sesajian dalam upacara adat.

    Dalam perkembangannya hingga masa kini, keris mengalami pergeseran nilai.

    Orang Jawa memaknai keris sebagai benda yang sarat filosofi dan pengajaran hidup, menjadi identitas diri, pesan moral, cermin karakter, sumber ketenteraman, simbol kesabaran, harapan, serta pengingat agar pemiliknya senantiasa menjaga hati, menahan emosi, dan bersikap bersahaja.

    syukuran memperingati 20 tahun pengakuan keris oleh UNESCO

     

    Nilai-nilai tersebut dituangkan dalam bentuk bilah, ricikan, serta ragam pamor keris. Selain itu, keris juga berfungsi sebagai aksesori busana (ageman), simbol budaya, serta koleksi bernilai estetika tinggi.

    UNESCO resmi mengakui keris sebagai Warisan Budaya Dunia Nonbendawi asal Indonesia sejak 25 November 2005.

    Sejak itu, setiap tanggal 25 November diperingati oleh berbagai komunitas pecinta keris sebagai hari pengakuan keris Indonesia di dunia internasional.

    Di Banyuwangi, tasyakuran memperingati 20 tahun pengakuan keris oleh UNESCO digelar oleh Paguyuban Tosan Aji (Panji) Blambangan di Lesehan Kremes TMP, Jalan Ahmad Yani No. 67 Banyuwangi, pada saat samarwulu.

    Acara ini dihadiri para tokoh budaya senior seperti Ki Aekanu, Ki Aguk Darsono, Momo Kepus, penyair Fatah Yassin Noor, H. Syafaat Lentera Sastra, serta perupa seperti Harianto Koi dan Mbah Eko, dan masih banyak lainnya.

    Hadir pula sekitar 17 siswa-siswi SMPN 2 Rogojampi yang mulai peduli pada dunia perkerisan setelah melakukan kunjungan ke Museum Blambangan Disbudpar.

    Dalam sambutannya, KRT H. Ilham Riyadi, M.Pd, mengajak generasi muda untuk terus nguri-uri dan melestarikan keris sebagai warisan budaya bangsa.

    Ia menegaskan bahwa pengakuan dunia terhadap nilai adiluhung leluhur harus dijaga agar tetap berkelanjutan sebagai jati diri Indonesia.

    tasyakuran keris diakui UNESCO

    “Ayo bangga dan pelajari nilai ekonomi, sejarah, dan filosofi keris. Jangan dianggap klenik atau syirik, karena besi bertuah pun disebutkan dalam kitab suci,” ujarnya, yang juga dikenal sebagai sahabat Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan kerap diminta bantuan sebagai pawang hujan.

    Acara dilanjutkan dengan doa yang dipimpin H. Syafaat dari Lentera Sastra Kemenag, mendoakan para Mpu yang telah berjasa membangun peradaban Nusantara.

    Ungkapan syukur kemudian ditandai dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol kesejahteraan dan kebersamaan bagi seluruh hadirin.

    Keistimewaan malam itu semakin lengkap dengan sajian khas berupa ketan durian dan ayam kremes persembahan Warung Lalapan Kremes TMP yang dikelola aktivis UMKM Banyuwangi, Robin Hore.

    Rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama di depan backdrop kegiatan dan koleksi keris milik para anggota Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) yang ada di Banyuwangi. (Andre/Aguk)

  • Film Horor Darma Malam Kelahiranku Wujudkan Geliat Sineas Muda Banyuwangi

    Film Horor Darma Malam Kelahiranku Wujudkan Geliat Sineas Muda Banyuwangi

    Industri film Banyuwangi kembali bergeliat dengan hadirnya karya baru dari komunitas anak muda Kresek Entertainment asal Kecamatan Srono, yang merilis sebuah film horor berjudul “Darma Malam Kelahiranku”.

    Film karya Muftiurrahman ini diangkat dari kepercayaan lokal masyarakat Jawa dengan premis cerita akan terjadi tragedi saat tradisi keluarga dilanggar.

    Screening perdana film tersebut digelar di Ruang Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, pada Jumat (14/11).

    Acara tersebut dibuka oleh Kabid Pemasaran Disbudpar Banyuwangi, Ainur Rofiq, yang juga bertindak sebagai moderator diskusi.

    Pemutaran ini dihadiri oleh sineas senior Banyuwangi, Bambang Harjito, serta berbagai perwakilan kelompok pemerhati film di Banyuwangi.

    Angkat Kultur ‘Pamali’ Weton

    Film Horor Darma Malam Kelahiranku

    Film “Darma Malam Kelahiranku” berangkat dari kultur masyarakat yang meyakini bahwa bepergian pada hari kelahiran atau weton adalah pamali (tabu) dan dapat mendatangkan malapetaka.

    Disajikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Jawa, film ini mengisahkan petualangan empat remaja, yaitu Darma dan ketiga kawannya.

    Mereka memutuskan untuk mendaki gunung. Di tengah hutan, mereka bertemu dengan kuncen yang memperingatkan agar mereka pulang.

    Namun, Darma dan kawannya mengabaikan nasihat tersebut dan memilih melanjutkan perjalanan.

    Keputusan itulah yang membawa mereka pada serangkaian peristiwa mistis yang memakan korban jiwa, termasuk Darma sendiri, yang tewas tepat pada hari dan weton kelahirannya.

    Tanggapan dan Evaluasi Membangun

    Film yang diproduksi oleh anak muda ini menuai apresiasi dan kritik yang membangun.

    Secara umum, para pemerhati film yang hadir menilai film ini memiliki kualitas yang sangat baik untuk sebuah karya anak muda, khususnya dalam hal sinematografi dan manajemen adegan.

    “Untuk ukuran karya anak muda, hasilnya sudah luar biasa. Aspek visual dan pengaturan scene di beberapa adegan sudah tertata dengan baik,” ujar Andre Waluyo dari Sanggar Merah Putih 45 dalam diskusi tersebut.

    Di sisi lain, beberapa kritikan juga mengemuka, seperti adegan dinilai masih kurang natural, terutama dari intonasi dialog para pemain yang dianggap masih terdengar seperti membaca naskah teater.

    Aspek makeup dan kostum juga dinilai masih perlu banyak penyempurnaan. Selain itu, terdapat ketidaktepatan dalam pemilihan kandidat atau casting untuk beberapa peran.

    Menurut Bambang Harjito, produser perlu memahami arti Based on True Story dan Based on Culture, karena ketika mencantumkan kalimat Based on True Story, berarti film ini dibuat dari kisah yang betul-betul pernah tejadi peristiwanya.

    Sedangkan jika hanya berdasarkan dari sebuah kepercayaan yang ada pada kultur budaya masyarakat setempat sebaiknya jangan mencantumkan “Based on True Sory” dalam cover filmnya, tetapi yang tepat adalah “Based on Culture”.

    Kehadiran film “Darma Malam Kelahiranku” dinilai sebagai angin segar bagi industri kreatif lokal Banyuwangi.

    Karya ini tidak hanya menjadi media ekspresi bagi sineas muda, tetapi juga upaya pelestarian budaya lokal melalui bahasa dan kepercayaan yang diangkat ke dalam medium film.

  • Wong Sing Nulis Geguritan Diarani?

    Wong Sing Nulis Geguritan Diarani?

    Wong sing nulis geguritan diarani penggurit utawa panggegurit.

    Penggurit iku istilah sing asale saka tembung “gurit” (geguritan), kang artine puisi utawa tembang ing basa Jawa, lan ditambahi imbuhan “pe-” kang nuduhake pelaku.

    Dadi,

    Penggurit = wong sing nggawe utawa nulis geguritan.

    Uga bisa disebut pujangga Jawa, khususé sing nyipta geguritan.

    Conto ing ukara:
    Rong penggurit enom saka sekolah menengah iku menang lomba geguritan tingkat provinsi.

    Ing jagad sastra Jawa, ana macem-macem jinis karya tulis sing ngandhut kaendahan basa lan rasa.

    Salah sijine yaiku geguritan, yaiku puisi Jawa sing ditulis nganggo aturan tartamtu, kaya guru lagu lan guru wilangan.

    Geguritan ora mung nyenengake kanggo diwaca, nanging uga dadi sarana kanggo ngungkapake rasa, pikiran, lan pandangan urip. Nanging, apa jenenge wong sing nulis geguritan?

    Wong sing nulis geguritan diarani penggurit. Tembung “penggurit” asalé saka tembung dasar “gurit” sing artiné geguritan, lan diimbuhi “pe-” kanggo nunjukaké pelaku tumindak.

    Dadi, penggurit iku wong kang nggawe utawa nyipta geguritan. Ing konteks liyane, ana uga sing nyebut panggegurit, sing artine padha, nanging luwih arang dienggo.

    Penggurit iku ora mung sekadar nulis tembung, nanging uga ngrasa, milih diksi (tembung) sing endah, lan nyawijèkaké unsur budaya Jawa menyang saben larik.

    Geguritan bisa ngetokake tema katresnan, alam, kahanan sosial, utawa pepeling urip.

    Mula, dadi penggurit ora gampang, amarga butuh pangrasa lan pamahaman sastra Jawa sing jero.

    Ing jaman saiki, penggurit enom wiwit bermunculan saka sekolah-sekolah lan komunitas sastra.

    Geguritan ora mung ditulis nganggo aturan klasik, nanging uga dikembangaké nganggo gaya modhèren sing luwih bebas.

    Nanging, esensiné tetep padha: ngungkapake rasa nganggo tembung-tembung kang endah lan maknawi.

    Mula saka kuwi, penggurit iku peran penting ing pelestarian sastra Jawa. Karya-karya penggurit bisa dadi warisan budaya sing nyambungaké generasi lawas karo generasi anyar liwat tembung.