Tag: building effective network

  • Validasi Data BEN-NLR Indonesia, Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Banyuwangi Inklusif

    Validasi Data BEN-NLR Indonesia, Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Banyuwangi Inklusif

    Dalam upaya memperkuat layanan inklusif bagi anak dan remaja penyandang disabilitas, Rumah Literasi Indonesia bersama Yayasan Aura Lentera Indonesia menggelar Pertemuan Validasi Data Program Building Effective Network (BEN), Selasa (3/3/2026), di Hotel Aston Banyuwangi.

    Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB ini diikuti 45 peserta dari unsur pemerintah daerah, akademisi, tenaga pendidik, serta organisasi penyandang disabilitas.

    Tunggul Harwanto dari Rumah Literasi Indonesia memaparkan latar belakang dan tujuan program BEN.

    Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Banyuwangi menjadi satu-satunya klaster yang dipercaya menjalankan tiga proyek sekaligus, yakni Building Effective Network (BEN) Pemberdayaan Disabilitas Berbasis Jejaring Masyarakat, MYP Pengembangan Potensi Anak dan Remaja Difabel (Down Syndrome & OYPMK), serta Body Talk SRHR tentang Perkembangan Kesehatan Reproduksi.

    Kepercayaan tersebut diberikan karena Banyuwangi dinilai memiliki komitmen kuat dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas dan pengembangan daerah inklusif yang mendapat dukungan penuh dari bupati serta berbagai elemen masyarakat.

    “Kami berharap melalui pertemuan ini, sinergi antarsektor semakin kuat sehingga pelayanan terhadap penyandang disabilitas dapat berjalan terpadu dan berkelanjutan,” ujar Tunggul.

    Program BEN merupakan inisiatif yang didukung oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia.

    Program ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mewujudkan layanan inklusif melalui pendekatan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM).

    Pertemuan ini menjadi forum untuk menyamakan persepsi sekaligus menyusun langkah kolaboratif berbasis data yang valid dan terintegrasi.

    Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda, S.Sos., MBA., MM., hadir sebagai pembicara kunci sekaligus membuka acara secara resmi.

    Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta sistem database yang terintegrasi.

    “Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif ini. Validasi dan integrasi data merupakan langkah strategis untuk memastikan program tepat sasaran dan berkelanjutan,” tegasnya.

    Sesi diskusi yang difasilitasi Indah Catur Cahyaning Tyas dari Yayasan Aura Lentera Indonesia menghadirkan dua narasumber dari unsur pendidikan dan kesehatan.

    Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Alfian, M.Pd., menekankan pentingnya penguatan jejaring lintas sektor guna mendukung pengembangan sekolah inklusif.

    Ia juga mengusulkan agar Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilibatkan dalam kegiatan selanjutnya karena keterkaitannya dengan data kependudukan.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, H. Amir Hidayat, S.K.M., M.Si., menyoroti pentingnya pengembangan layanan kesehatan inklusif berbasis analisis kebutuhan dan data yang akurat serta ramah disabilitas.

    Peserta yang hadir merupakan anggota Forum RBM (Rehabilitasi Berbasis Masyarakat) yang menjadi inti Building Effective Network.

    Mereka berasal dari Dinas Sosial dan PPKB, Bappeda, Camat Kalipuro dan Rogojampi, Kepala Puskesmas Klatak dan Gladag, kepala desa/lurah, tenaga pendidik dari sekolah inklusif dan SLB, serta organisasi seperti Perkins, GERKATIN, HWDI, dan Aisyiyah.

    Tunggul Harwanto dan Indah Catur Cahyaning Tyas selaku Leader Tim Transisi Banyuwangi menegaskan bahwa pertemuan ini bertujuan menyusun perencanaan berbasis data, memperkuat peran Forum RBM, serta membangun komitmen kolaboratif antar pemangku kepentingan di tingkat kabupaten untuk keberlanjutan program hingga 2028.

    Diskusi berlangsung aktif dalam sesi tanya jawab. Masfufah, S.Pd., Ketua Yayasan Matahati, menyampaikan harapan agar pendampingan dan layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas semakin diperkuat, terlebih regulasi sudah tersedia.

    Yudi, guru dari SDN 2 Gladag, juga mengungkapkan tantangan terkait seorang siswa dengan disabilitas intelektual yang orang tuanya belum berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

    Selain itu, Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang terlibat dalam pendataan anak dan remaja disabilitas membagikan temuan lapangan, khususnya terkait tantangan layanan di puskesmas dan sekolah serta pentingnya koordinasi yang baik dengan pemerintah desa.

    Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi dan integrasi layanan bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Banyuwangi, menuju sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan menyongsong pelaksanaan program tiga tahun yang akan dimulai pada April 2026.

  • Deklarasi Forum RBM Wujudkan Disabilitas Banyuwangi yang Ada, Kuat, dan Berdaya

    Deklarasi Forum RBM Wujudkan Disabilitas Banyuwangi yang Ada, Kuat, dan Berdaya

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 dengan tema “Setara Berkarya Berdaya Tanpa Batas” digelar pada Senin (1/12/25), difasilitasi Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari organisasi penyandang disabilitas dan OMS Peduli Disabilitas sebagai bagian dari penguatan Building Effective Network yang baru dideklarasikan.

    Selain Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia, belasan lembaga turut terlibat, di antaranya PPDI, Gerkatin, Pertuni, DMI, HWDI, Taliwangi, Difawangi, NPCI, Persawangi, SLBN Banyuwangi, SLB Matahati, SLB PGRI Cluring, SDN Kepatihan, Stepping Stones, Perkins, NLR Indonesia, serta Liliane Fonds.

    Rangkaian acara dibuka dengan konvoi sepeda motor modifikasi oleh anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI).

    Para penyandang disabilitas dari PPDI, Digawangi, Gerkatin, HWDI, dan Pertuni turut menjadi pembonceng.

    Konvoi dipandu MC Nurul Imam, barista netra dari Asyifa Kopi, dengan titik keberangkatan dari Terminal Wisata Terpadu Sobo (TWTS).

    Asisten Pemerintahan dan Kesra, M.Y. Bramudya, sebelum mengibarkan bendera start, menyampaikan harapannya agar komunitas difabel dapat memanfaatkan terminal terpadu tersebut secara rutin sebagai ruang ekspresi dan wadah diffabelpreneur untuk menampilkan karya, keterampilan, serta produk UMKM Sahabat Komunitas.

    Didampingi Kadinsos PP&KB dan Kasat Binmas yang mewakili Kapolresta yang beberapa bulan lalu memfasilitasi SIM D, Bramudya melepas konvoi.

    Di barisan depan, Kendaraan Tanggap Dinsos membawa pengeras suara berisi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan suara Nurhadi Windoyo, penyiar radio komunitas JRKBB-JRKI yang berprestasi tingkat provinsi dan nasional, mantan Ketua Pertuni, dan kini Ketua YALI.

    Sekitar 45 sepeda motor modifikasi dengan total 99 peserta bergerak menuju Taman Makam Pahlawan Wiswa Raga Satria.

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional Banyuwangi

    Rombongan disambut Bupati Banyuwangi dengan senyum dan pantun.

    “Konvoi ini tidak sekadar beriringan, tetapi membawa pesan bahwa kalian ada, kuat, berdaya, dan Banyuwangi memberi ruang kesetaraan inklusif di dunia pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga kesempatan berkarya,” tutur Bupati yang dikenal sangat peduli pada isu disabilitas dan telah menggagas program Rembug Disabilitas selama tiga tahun terakhir.

    Pada momen ini juga dilakukan pembacaan ikrar dan penandatanganan Program Building Effective Network (BEN) yang difasilitasi Liliane Fonds dan NLR Indonesia.

    Penandatanganan dilakukan oleh Bupati bersama dua lembaga pelaksana program, yaitu Rumah Literasi Indonesia dan Aura Lentera, serta komunitas penyandang disabilitas.

    Deklarasi Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) menjadi inti dari proses menuju visi dan mimpi bersama.

    Di sisi lain, pertandingan sepak bola amputasi dengan tujuh pemain digelar di barat Stadion Diponegoro.

    Laga persahabatan antara Persewangi dan Persaid Jember yang diperkuat sejumlah pemain timnas berlangsung 2×15 menit di bawah kepemimpinan wasit Askab PSSI, Nanang, dan berakhir dengan skor 0–4.

    Puncak HDI 2025 berlangsung di SLB Negeri wilayah Giri dengan penampilan The Filling Band serta Gamelan Gerayangan yang mengiringi tari jejer gandrung tunarungu.

    Acara dilanjutkan dengan sholawatan dan penyerahan santunan untuk anak yatim penyandang disabilitas oleh Wakil Bupati H. Mujiono, didampingi Kadinsos, Kadis Kesehatan, Kadis Pendidikan, dan Camat Giri.

    HDI Banyuwangi 2025

    “Insan tidak dilihat dari kesempurnaannya, tetapi dari potensi dan kemanusiaannya yang setara. Pemerintah daerah pun belum sempurna, sehingga kami membutuhkan masukan dan kolaborasi untuk mencapai mimpi bersama,” ujar Wabup yang berkarier dari bawah hingga menjadi Sekda.

    Acara HDI 2025 juga diwarnai pelantikan Pengurus Gerkatin Banyuwangi oleh Ketua Gerkatin Jawa Timur, ditandai penyematan pin oleh Wakil Bupati.

    Sebagai bagian dari kampanye Bisindo, disajikan pembacaan Surat Al-Fatihah oleh kolaborasi qori’ tunanetra dan tunarungu menggunakan bahasa isyarat.

    Antusiasme memuncak ketika hadirin diajak menyanyikan lagu “Manusia Kuat” (Tulus) oleh penyanyi tunanetra bersama 11 anak tunarungu, diselingi puisi dari anak cerebral palsy.

    Stepping Stones turut memberikan bantuan simbolis berupa kursi roda, sepatu bantu tulang bengkok, dan alat kesehatan lainnya.

    Acara ditutup dengan pelepasan balon harapan dan pemborongan produk diffabelpreneur oleh para pejabat yang hadir.

    Menurut Juru Bahasa Isyarat (JBI) Firdaus, setelah HDI 2025 yang difasilitasi supertim B-Fest, pada 2 Desember akan digelar berbagai lomba antar-SLB, dan pada 3 Desember, tepat di Hari Disabilitas Internasional, diadakan jalan sehat di seputaran Gesibu Blambangan.

    “Insya Allah pada 3 Desember kepala sekolah kami, Bu Masfufah, sudah hadir sepulang menerima penghargaan dari Gubernur Khofifah sebagai kepala SLB berprestasi 3 besar dan inspirasi Jatim,” ujar sie acara, Suyitno Baskoro.

    Ketua Forum Organisasi Penyandang Disabilitas, Umar Asmoro, berharap momentum HDI 2025 dapat meningkatkan literasi dan akurasi data penyandang disabilitas, serta mengurangi hambatan bagi kelompok dengan kekhususan dan keistimewaan.

    Umar menegaskan bahwa inklusi bukan sekadar mengizinkan difabel untuk ikut serta, tetapi mengakui difabel sebagai bagian utuh dalam kehidupan inklusif.

  • Atasi Isu Inklusi, BEN bentuk Sub Cluster Network (SCN) Banyuwangi

    Atasi Isu Inklusi, BEN bentuk Sub Cluster Network (SCN) Banyuwangi

    Kolaborasi multipihak untuk menyelesaikan berbagai persoalan inklusi di Banyuwangi mendapatkan struktur baru.

    Pada hari kedua Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN), Rabu (26/11/2025) yang disponsori oleh Liliane Foundation dan NLR Indonesia, berhasil dibentuk kepengurusan Sub Cluster Network (SCN) yang akan bekerja untuk tiga tahun ke depan.

    Rapat yang berlangsung dinamis dan akrab di Ruang Rapat Pangripta BAPPEDA Kabupaten Banyuwangi ini menghimpun berbagai unsur organisasi non-pemerintah (NGO) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) terkait.

    Acara yang dipandu oleh Tunggul Harwanto (Rumah Literasi) dan Indah Cahyaning Tyas (Aura Lentera) ini bertujuan mewujudkan gotong royong dalam menjalankan program, baik dari pemerintah maupun NGO.

    “Intinya, setiap UPTD dan NGO harus saling membantu dan bergotong royong. Program-program yang ada harus dipromosikan hingga ke akar rumput agar semakin banyak yang tahu, terlibat, dan memberikan umpan balik untuk perbaikan,” ujar Indah Cahyaning Tyas saat mereview hasil rapat hari pertama.

    Kegiatan diawali dengan pengisian kuesioner dari NLR untuk pemetaan program BEN, yang kemudian dilanjutkan dengan penyusunan struktur kepengurusan SCN.

    Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN)

    Struktur Kepengurusan SCN Banyuwangi

    Kepengurusan SCN melibatkan perwakilan dari berbagai latar belakang. Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi didapuk sebagai Penasehat, sementara Kepala BAPPEDA menjadi Pembina.

    Ketua umum dijabat oleh Tunggul Harwanto dari Rumah Literasi Indonesia, dengan dua wakil ketua dari HWDI dan PPDI.

    Secara teknis, SCN akan dikelola oleh Sekretaris Robin Febriyanto (Aura Lentera) dan Bendahara yang dijabat Mbak Mega.

    Lima bidang utama SCN

    1. Bidang Pengembangan Organisasi: Dikoordinir Leni Tiara (BAKESBANGPOL) dengan anggota Farid Lubiyantoro (FKLPID).

    2. Bidang Pengembangan Sistem Layanan Terpadu: Dikoordinir Sri Indrastuti (DISDUKCAPIL) dengan anggota dari DISNAKER, DINSOS, dan DINKES.

    3. Bidang Pemberdayaan Anak, Remaja dan Keluarga: Dikoordinir Lintang Katon (DISKOPUMDAG) dengan anggota dari DISPORA, Paguyuban Orang Tua, PERTUNI, dan BPVP.

    4. Bidang Inovasi & Teknologi: Dikoordinir Lina Kamalin (DISPENDIK) dengan anggota dari GERKATIN dan PPDI.

    5. Bidang Media dan Informasi: Diisi oleh perwakilan dari LINDUNGIN, DMI, dan AISIYAH.

    Membedah Tantangan di Lapangan: Data, Disabilitas, dan Kusta

    Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN) Banyuwangi

    Dalam sesi diskusi, beberapa tantangan krusial mengemuka. Lina Kamalin dari DISPENDIK menyoroti persoalan mendasar: yaitu DATA.

    “Keberhasilan program bergantung pada validnya data. Saat ini belum ada data terintegrasi, yang ada hanya data lokal instansi yang dinamis, penuh kekosongan, duplikasi, dan beririsan. Harus ada pengendali akses data, dan program BEN ini bisa menjadi awal yang baik,” paparnya.

    Isu disabilitas juga mendapat perhatian serius. Achmad Amrullah (BPVP) menekankan pentingnya pelatihan bahasa isyarat bagi pelayan publik untuk memudahkan komunikasi dengan penyandang tunarungu.

    Rendy Anugrah (PERTUNI) menambahkan bahwa lingkungan dan keluarga seringkali belum ramah.

    “Masih ada stigma bahwa penyandang disabilitas tidak mampu, bahkan ada keluarga yang menyembunyikannya. Perlu edukasi hingga pelosok desa tentang hak-hak mereka dan motivasi bagi keluarga,” tegas Rendy.

    Persoalan lain yang mengemuka adalah penanganan penyakit kusta. Raras dari Dinas Kesehatan mengungkapkan bahwa kusta seolah menjadi penyakit yang ‘ditinggalkan’.

    “Tidak ada lagi dana dan pelatihan khusus dari pemerintah untuk menangani kusta ditambah banyak keluarga yang menyembunyikan penderitanya,” jelas Raras.

    Terkait dengan hal tersebut Indah menambahkan, “Data tahun 2024 menunjukkan 7 penderita se Kabupaten Banyuwangi, namun dari terakhir kami memperoleh data menjadi 25 orang hanya di Muncar saja. Stigma masyarakat dan tidak adanya anggaran memperparah situasi.”, ujar Indah yang menyoroti rendahnya awareness pemerintah dan masyarakat terhadap penyakit kusta.

    Kolaborasi dan Pilot Project sebagai Solusi

    Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Windoyo, Ketua Aura Lentera, mengkritik pola kerja yang hanya mementingkan kuantitas.

    “Jika hanya mengejar kuantitas, masalah data tidak akan selesai. BEN perlu membuat pilot project terkait database. Jika berhasil, bisa diduplikasi oleh instansi dan NGO lain. Kita harus berkolaborasi, mengesampingkan ego sektoral untuk tujuan yang lebih besar,” ajaknya.

    Pernyataan Windoyo diamini oleh Robin Febriyanto yang kerap menjadi enumerator di lapangan. Ia menceritakan pengalamannya menemui pelayan publik yang masih kaku dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi).

    “Contohnya, saat ada program BPJS gratis dari Dinas Ketenagakerjaan, petugas di Dinas Kesehatan tidak bisa membantu dengan alasan ‘bukan tupoksinya’. Akibatnya, program dan anggaran tidak terserap optimal oleh masyarakat,” tutur Robin.

    Dengan terbentuknya SCN, diharapkan kolaborasi yang lebih solid antara pemerintah dan NGO dapat menjawab tantangan-tantangan tersebut.

    Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem layanan yang terpadu, inklusif, dan tepat sasaran bagi masyarakat Banyuwangi. (Andre Waluyo)