Tag: cerpen

  • Bagaimana Cara Mengubah Cerpen Menjadi Teks Prosedur?

    Bagaimana Cara Mengubah Cerpen Menjadi Teks Prosedur?

    Mengubah cerpen menjadi teks prosedur berarti mengalihkan sebuah cerita yang biasanya berisi alur, tokoh, latar, dan konflik menjadi sebuah teks yang berisi langkah-langkah sistematis untuk melakukan sesuatu.

    Proses ini tidak sekadar menyalin isi cerpen, melainkan menata ulang informasi agar sesuai dengan ciri-ciri teks prosedur. Berikut cara yang bisa dilakukan:

    1. Membaca dan memahami cerpen secara keseluruhan

    Langkah pertama adalah membaca cerpen dengan penuh perhatian untuk memahami inti cerita. Dari pemahaman tersebut, kita dapat menentukan kegiatan atau tindakan utama yang dilakukan tokoh.

    Misalnya, jika sebuah cerpen menceritakan seorang anak yang membantu ibunya membuat kue tradisional, maka kegiatan utama yang bisa diambil adalah proses pembuatan kue. Dengan memahami keseluruhan cerita, kita bisa memilah bagian mana yang relevan untuk dijadikan teks prosedur.

    Contoh: Dalam cerpen, tokoh A diceritakan membantu ibunya membuat kue cucur. Ceritanya menggambarkan dari membeli bahan di pasar hingga kue selesai dimasak. Dari sini, inti yang bisa diambil adalah “cara membuat kue cucur”.

    2. Mengidentifikasi kegiatan yang bisa dijadikan langkah prosedural

    Cerpen biasanya penuh dengan detail, termasuk perasaan tokoh, percakapan, atau latar tempat. Namun, dalam teks prosedur, yang diambil adalah tindakan nyata yang berurutan. Oleh karena itu, kita perlu menyeleksi kegiatan tokoh yang dapat dijadikan langkah praktis.

    Contoh: Dari cerpen tadi, bagian percakapan ibu dan anak di pasar tidak perlu masuk ke teks prosedur, tetapi kegiatan membeli tepung, menyiapkan wajan, dan menggoreng adonan adalah rangkaian yang bisa dijadikan langkah prosedur.

    3. Menyusun tujuan teks prosedur

    Setiap teks prosedur selalu diawali dengan tujuan yang jelas agar pembaca tahu hasil akhir yang ingin dicapai. Dari cerpen, kita perlu merumuskan tujuan utama yang akan dicapai tokoh.

    Contoh: Jika cerpen menceritakan pembuatan kue cucur, maka tujuan teks prosedurnya adalah “Cara membuat kue cucur tradisional yang lezat”. Jika cerpen menceritakan perjalanan ke desa, maka tujuan teks prosedurnya bisa berupa “Langkah-langkah melakukan perjalanan ke desa dengan aman”.

    4. Menuliskan alat dan bahan bila diperlukan

    Apabila cerpen yang diubah berkaitan dengan pembuatan sesuatu, penting untuk menuliskan daftar alat dan bahan yang digunakan. Bagian ini biasanya muncul sebelum langkah-langkah prosedur.

    Contoh: Dari cerpen tentang kue cucur, alat dan bahan yang perlu ditulis adalah tepung beras, gula merah, air, wajan, kompor, dan spatula. Dalam cerpen aslinya, mungkin hal ini diceritakan sambil lalu, tetapi dalam teks prosedur harus dituliskan secara jelas.

    5. Mengubah alur cerita menjadi langkah-langkah sistematis

    Bagian terpenting dalam mengubah cerpen menjadi teks prosedur adalah menyusun tindakan tokoh dalam bentuk urutan langkah. Setiap langkah ditulis secara singkat, jelas, dan menggunakan kata kerja imperatif, misalnya “siapkan”, “masukkan”, “panaskan”, atau “aduk”.

    Contoh: Dari cerpen tentang kue cucur, alur cerita diubah menjadi langkah-langkah seperti:

    • Siapkan tepung beras, gula merah, dan air.
    • Rebus gula merah dengan air hingga larut, lalu dinginkan.
    • Campurkan tepung beras dengan larutan gula merah, aduk hingga rata.
    • Panaskan minyak dalam wajan.
    • Tuangkan adonan sedikit demi sedikit, lalu goreng hingga matang.

    6. Menambahkan penutup berupa hasil atau tujuan akhir

    Setelah langkah-langkah dijabarkan, teks prosedur biasanya diakhiri dengan hasil yang dicapai atau penutup yang menjelaskan tujuan akhir. Penutup ini berfungsi sebagai konfirmasi bahwa langkah-langkah sebelumnya akan menghasilkan sesuatu yang jelas.

    Contoh: “Kue cucur siap disajikan selagi hangat.” Atau dalam contoh perjalanan: “Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut, perjalanan ke desa dapat dilakukan dengan lancar dan aman.”

  • Bagaimana Cara Membedakan Novel dan Cerita Pendek?

    Bagaimana Cara Membedakan Novel dan Cerita Pendek?

    Novel dan cerita pendek adalah dua bentuk karya sastra yang populer dan digemari banyak orang.

    Keduanya memiliki kekuatan untuk membawa pembacanya ke dalam dunia yang penuh imajinasi dan petualangan.

    Meskipun memiliki beberapa kesamaan, novel dan cerita pendek memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal struktur, pengembangan cerita, dan karakter.

    Cara Membedakan Novel dan Cerita Pendek

    Berikut beberapa cara membedakan novel dan cerita pendek:

    1. Jumlah kata

    Novel umumnya memiliki jumlah kata lebih banyak daripada cerita pendek. Novel bisa terdiri dari puluhan ribu kata, bahkan hingga ratusan ribu kata.

    Sedangkan cerita pendek umumnya hanya terdiri dari beberapa ribu kata, biasanya kurang dari 10.000 kata.

    2. Alur cerita

    Novel memiliki alur cerita yang lebih kompleks dan bercabang-cabang. Novel dapat menceritakan kisah beberapa karakter dan memiliki beberapa plot.

    Sedangkan cerita pendek umumnya memiliki alur cerita yang lebih sederhana dan fokus pada satu plot utama.

    3. Pengembangan karakter

    Novel memiliki karakter yang lebih banyak sehingga pembaca dapat mengenal karakter secara lebih mendalam melalui pikiran, perasaan, dan tindakan mereka.

    Sedangkan cerita pendek umumnya memiliki karakter yang lebih sedikit dan lebih sederhana. Pembaca hanya mendapatkan gambaran singkat tentang karakter tersebut.

    4. Tema

    Novel dapat mengangkat tema yang lebih luas. Sedangkan cerita pendek umumnya mengangkat tema yang lebih sederhana dan spesifik.

    5. Gaya bahasa

    Novel dapat menggunakan gaya bahasa yang lebih beragam, seperti deskripsi yang detail, dialog yang panjang, dan alur cerita yang lambat.

    Sedangkan cerita pendek umumnya menggunakan gaya bahasa yang lebih sederhana dan to-the-point.

    6. Waktu baca

    Novel umumnya membutuhkan waktu baca yang lebih lama daripada cerita pendek.

    Novel bisa dibaca dalam beberapa hari, minggu, atau bahkan bulan. Sedangkan cerita pendek umumnya dapat dibaca dalam satu kali duduk.

    Itulah cara membedakan novel dan cerita pendek yang perlu diketahui. Meskipun memiliki perbedaan, baik novel maupun cerita pendek memiliki nilai seni dan keunikan sendiri dalam memberikan pengalaman membaca.

  • Cerpen: Pengertian, Struktur, Ciri, dan Contohnya

    Cerpen: Pengertian, Struktur, Ciri, dan Contohnya

    Dalam dunia literasi, cerpen menjadi salah satu karya fiksi yang cukup populer dan disukai oleh banyak orang.

    Hal tersebut karena cerpen cenderung singkat dan memiliki cerita menarik sehingga tidak butuh waktu lama untuk membacanya.

    Pada artikel ini, sastrawacana.id/ akan membahas mengenai apa itu cerpen, definisinya, struktur, ciri, dan contohnya.

    Pengertian Cerpen

    Cerpen adalah prosa yang dikemas dengan sebuah cerita singkat, ringkas, dan hanya berpusat pada permasalahan tokoh utama saja.

    Dalam bahasa Inggris, cerpen juga dikenal dengan istilah short story, yaitu cerita singkat yang bentuknya berupa fiksi, alias tidak nyata atau hanya berdasarkan oleh imajinasi penulis saja.

    Sesuai dengan namanya, cerpen adalah akronim dari cerita pendek karena ceritanya tidak sepanjang novel sehingga pembaca tidak perlu menghabiskan waktu untuk membaca satu cerpen utuh.

    Kemudian, karena ceritanya relatif pendek dan tidak banyak menampilkan karakter, cerpen juga menjadi lebih mudah dipahami oleh pembaca.

    Menurut Susanto dalam Tarigan (1984:176), cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5.000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

    Sementara menurut KBBI, cerpen artinya adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi.

    Jadi, kesimpulannya pengertian cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang memaparkan kisah seseorang beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek dan singkat.

    Struktur Cerpen

    Layaknya karya sastra lain, cerpen juga memiliki struktur penyusun, adapun struktur cerpen adalah sebagai berikut:

    1. Abstrak

    Abstrak adalah bagian yang menggambarkan keseluruhan isi cerpen.

    2. Orientasi

    Orientasi adalah bagian pengenalan para tokoh, hubungan antartokoh, waktu, dan latar.

    3. Komplikasi

    Komplikasi adalah bagian menuju konflik yang dialami oleh tokoh utama, baik konflik batin maupun konflik fisik.

    4. Resolusi

    Resolusi adalah bagian pemecahan masalah, dimana tokoh utama berjuang untuk mengatasi masalah yang sedang dialami.

    5. Koda

    Koda juga bisa bisa disebut simpulan yang terdapat pada bagian akhir cerpen.

    Ciri-ciri cerpen

    Cerpen juga memiliki ciri-ciri serta karakteristik yang membedakannya dengan jenis karya sastra lainnya. Adapun ciri-ciri cerpen secara umum adalah sebagai berikut:

    1. Bentuk cerita yang singkat dan jelas.

    2. Biasanya panjang cerpen tidak lebih dari 10.000 kata.

    3. Cerita terpusat dan dominan pada satu karakter saja.

    4. Memiliki alur cerita tunggal.

    5. Kisah yang diangkat tak jauh dari kehidupan sehari-hari.

    6. Karakter penokohan tidak dijelaskan secara rinci.

    7. Tidak banyak konflik yang diceritakan.

    8. Tidak banyak karakter yang diceritakan.

    9. Penggunaan kata yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca.

    10. Biasanya di akhir cerita terdapat pesan moral sehingga pembaca mendapat manfaat.

    Contoh Cerpen

    Berikut ini adalah contoh cerpen yang berjudul “Menanti Bangau Lewat” karya Asma Nadia.

    Menanti Bangu Lewat
    Asma Nadia

    Teng !…jam dinding berdentang satu kali. Malam semakin larut, tapi Anis masih duduk di ruang tengah. Sejak tadi matanya sulit terpejam.

    Baru beberapa jam yang lalu Ibu Mas Iqbal, suaminya, menelepon, “Nis, Alhamdulillah, barusan ini keponakanmu bertambah lagi…” suara ibu terdengar sumringah di ujung sana.

    “Alhamdulillah…, laki-laki atau perempuan Bu ?” Anis tergagap, kaget dan senang. Sudah seminggu ini keluarga besar Mas Iqbal memang sedang berdebar-debar menanti berita Dini, adik suaminya, yang akan melahirkan.

    “Laki-laki, cakep lho Nis, mirip Mas mu waktu bayi…” Ibu tertawa bahagia. Dini memang adik yang termirip wajahnya dengan Mas Iqbal.

    “Selamat ya Bu nambah cucu lagi, salam buat Dini, insya Allah besok pulang kerja Anis dan Mas Iqbal akan jenguk ke rumah sakit” janji Anis sebelum menutup pembicaraan dengan Ibu yang sedang menunggu Dini di rumah sakit.

    Setelah menutup telpon Anis termenung sesaat. Ia jadi teringat usia pernikahannya yang telah memasuki tahun ke lima, tapi belum juga ada tangis si kecil menghiasi rumah mereka.

    Meskipun demikian ia tetap ikut merasa sangat bahagia mendengar berita kelahiran anak kedua Dini di usia pernikahan mereka yang baru tiga tahun.

    “Koq melamun !…” Mas Iqbal yang baru keluar dari kamar mandi mengagetkannya. Ia memang pulang agak malam hari ini, ada rapat di kantor katanya. Air hangat untuk mandinya sempat Anis panaskan dua kali tadi.

    “Mas, ibu tadi mengabari Dini sudah melahirkan, bayinya laki-laki” cerita Anis.

    “Alhamdulillah…Dila sudah punya adik sekarang” senyum Mas Iqbal sambil mengeringkan rambutnya, tapi entah mengapa Anis menangkap ada sedikit nada getir dalam suaranya. Anis menepis perasaannya sambil segera menata meja menyiapkan makan malam.

    Selepas Isya bersama, Mas Iqbal segera terlelap, seharian ini ia memang lelah sekali. Anis juga sebenarnya agak lelah hari ini. Ia memang beruntung, selepas kuliah dan merasa tidak nyaman bekerja di kantor, Anis memutuskan untuk membuat usaha sendiri saja.

    Dibantu temannya seorang notaris, akhirnya Anis mendirikan perusahaan kecil-kecilan yang bergerak di bidang design interior. Anis memang berlatar pendidikan bidang tersebut, ditambah lagi ia punya bakat seni untuk merancang sesuatu menjadi indah dan menarik.

    Bakat yang selalu tak lupa disyukurinya. Keluarga dan teman-teman banyak yang mendukungnya, akhirnya sekarang ia sudah memiliki kantor mungil sendiri tidak jauh dari rumahnya.

    Dan, seiring dengan kemajuan dan kepercayaan yang mereka peroleh, perusahaannya sedikit demi sedikit mulai dikenal dan dipercaya masyarakat.

    Tapi Anis merasa itu tidak terlalu melelahkannya, semua dilakukan semampunya saja, sama sekali tidak memaksakan diri, malah menyalurkan hobi dan bakatnya merancang dan mendesign sesuatu sekaligus mengisi waktu luangnya.

    Beberapa karyawan cekatan sigap membantunya. Malah sekarang sudah ada beberapa designer interior lain yang bergabung di perusahaan mungilnya.

    Itu sebabnya sesekali saja Anis agak sibuk mengatur ketika ada pesanan mendesign yang datang, selebihnya teman-teman yang mengerjakan.

    Waktu Anis terbanyak tetap buat keluarga, mengurus rumah atau masak buat Mas Iqbal meski ada Siti yang membantunya di rumah, menurutnya itu tetap pekerjaan nomor satu. Anis juga bisa tetap rutin mengaji mengisi ruhaniahnya.

    Namun karena kegiatannya itu, biasanya ia tidur cepat juga, tapi malam ini rasa kantuknya seperti hilang begitu saja. Berita dari ibu tadi membuat Anis teringat lagi. Teringat akan kerinduannya menimang si kecil, buah hatinya sendiri.

    Lima tahun pernikahan adalah bukan waktu yang sebentar. Awalnya Anis biasa saja ketika enam bulan pertama ia tak kunjung hamil juga, ia malah merasa punya waktu lebih banyak untuk suaminya dan merintis kariernya.

    Seiring dengan berjalannya waktu dan tak hentinya orang bertanya, dari mulai keluarga sampai teman-temannya, tentang kapan mereka menimang bayi, atau kenapa belum hamil juga, Anis mulai khawatir.

    Fitrahnya sebagai wanita juga mulai bertanya-tanya, apa yang terjadi pada dirinya, atau kapan ia hamil seperti juga pasangan-pasangan lainnya… Atas saran dari banyak orang Anis mencoba konsultasi ke dokter kandungan.

    Seorang dokter wanita dipilihnya. Risih juga ketika menunggu giliran di ruang tunggu klinik, pasien di sekitarnya datang dengan perut membuncit dan obrolan ringan seputar kehamilan mereka. Atau ketika salah seorang diantara mereka bertanya sudah berapa bulan kehamilannya.

    “Saya tidak sedang hamil, hanya ingin konsultasi saja…” senyum Anis sabar meski dadanya berdebar, sementara Mas Iqbal semakin pura-pura asyik dengan korannya. Anis bernafas lega ketika dokter menyatakan ia sehat-sehat saja. Hindari stress dan lelah, hanya itu nasehatnya.

    Setahun berlalu. Ditengah kebahagiaan rumah tangganya ada cemas yang kian mengganggu Anis. Kerinduan menimang bayi semakin menghantuinya.

    Sering Anis gemas melihat tingkah polah anak-anak kecil disekitarnya, dan semakin bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya.

    Setelah itu mulailah usaha Anis dan suaminya lebih gencar dan serius mengupayakan kehamilan. Satu demi satu saran yang diberikan orang lain mereka lakukan, sejauh itu baik dan tidak melanggar syariat Islam.

    Beberapa dokter wanita juga kadang mereka datangi bersama, meski lagi dan lagi sama saja hasilnya. Sementara hari demi hari, tahun demi tahun terus berlalu.

    Kadang Anis menangis ketika semakin gencar pertanyaan ditujukan padanya atau karena cemas yang kerap mengusik tidurnya.

    Mas Iqbal selalu sabar menghiburnya “Anis…apa yang harus disedihkan, dengan atau tanpa anak rumah tangga kita akan berjalan seperti biasa. Aku sudah sangat bahagia dengan apa yang ada sekarang. Insya Allah tidak akan ada yang berubah dalam rumah tangga kita…” goda Mas Iqbal suatu ketika seperti bisa membaca jalan pikirannya.

    Suaminya memang tahu kapan Anis sedang mendalam sedihnya dan harus dihibur agar tidak semakin larut dalam kesedihannya.

    Di saat-saat seperti itu memang cuma suaminya yang paling bisa menghiburnya, tentu saja disamping doa dan berserah dirinya pada Allah.

    Kadang Anis heran kenapa Mas Iqbal bisa begitu sabar dan tenang, seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi. Dia selalu ceria dan optimis seperti biasa.

    Apakah memang pria tidak terlalu memasukkan unsur perasaannya atau mereka hanya pintar menyembunyikan perasaan saja? Anis tidak tahu, yang pasti sikap Mas Iqbal banyak membantu melewati masa-masa sulitnya.

    Sebenarnya Anis juga bukan selalu berada dalam kondisi sedih seperti itu. Sesekali saja ia agak terhanyut oleh perasaannya, biasanya karena ada faktor penyulutnya, yang mengingatkan ia akan mimpinya yang belum terwujud itu.

    Selebihnya Anis bahagia saja, bahkan banyak aktivitas atau prestasi yang diraihnya. Buatnya tidak ada waktu yang disia-siakan. Selagi sempat, semua peluang dan kegiatan positif dilakukannya.

    Kadang-kadang beberapa teman menyatakan kecemburuannya terhadap Anis yang bisa melakukan banyak hal tanpa harus disibuki oleh rengekan si kecil. Anis tersenyum saja.

    Anis juga tidak pernah menyalahkan teman-temannya kalau ketika sesekali bertemu obrolan banyak diisi tentang anak dan seputarnya.

    Buatnya itu hal biasa, usia mereka memang usia produktif. Jadi wajar saja kalau pembicaraan biasanya seputar pernikahan, kehamilan, atau perkembangan anak-anak mereka yang memang semakin lucu dan menakjubkan, atau cerita lain seputar itu.

    Biar bagaimanapun Anis menyadari menjadi ibu adalah proses yang tidak mudah dan perlu belajar atau bertukar pengalaman dengan yang lain. Tapi kadang-kadang, sesekali ketika Anis sedang sedih, rasanya ia tidak mau mendengar itu dulu.

    Anis senang juga jika ada yang berusaha menjaga perasaannya diwaktu-waktu tertentu, dengan tidak terlalu banyak bercerita tentang hal tersebut, bertanya, atau malah menyemangati dengan do’a dan dukungan agar sabar dan yakin akan datangnya si kecil menyemarakkan rumah tangganya.

    Anis tersadar dari lamunannya. Diminumnya segelas air dingin dari lemari es. Sejuk sekali. Meskipun malam tapi udara terasa pengap. Ditambah lagi berwudhu ditengah malam, melunturkan sebagian besar kemelut dalam dadanya.

    Setelah membangunkan suaminya, Anis shalat malam berdua. Di akhir shalat air mata Anis membasahi sajadahnya. “Rabbi…, ampunilah dosa-dosa kami, jangan beri kami cobaan yang tidak kuat kami menanggungnya. Beri kami kekuatan dalam menjalani semuanya. Perkenankan kami memiliki buah hati pewaris kami, penerus kami dalam menegakkan Dien-Mu. Hanya ridha-Mu yang kami cari. Sungguh tidak ada yang lain lagi…”. Selesai shalat Anis terlelap. Dalam mimpinya ia bermain bersama beberapa gadis kecil. Senang sekali.

    *****

    Suatu siang di kantornya, Anis sedang merancang sebuah ruang pameran. Ada festival Islam yang akan digelar, mungkin karena tidak banyak designer interior berjilbab rapi seperti Anis, ia dipercaya merancangnya. Ketika sedang mencorat-coret gambar, Fitri mengejutkannya, “Mbak Anis, ada tamu yang mau bertemu”.

    “Dari mana Fit ?” tanya Anis.

    “Katanya dari Yayasan Amanah, mbak, mau menawarkan kerja sama”.

    “Iya deh, saya kedepan sepuluh menit lagi” jawab Anis.

    Setelah bincang-bincang dengan tamunya akhirnya Anis menyepakati kerja sama menyantuni beberapa anak-anak yatim yang diasuh yayasan tersebut.

    Anis memang selalu menyisihkan rezkinya untuk mereka yang membutuhkan. Perusahaan mungil yang dikelolanya selalu berusaha menjalankan syariat Islam.

    Sejak itu Anis punya kegiatan baru, menyantuni dan mengasuh beberapa anak yatim bersama yayasan tersebut. Tidak banyak kegiatan sebenarnya, hanya laba perusahaan kecilnya yang tidak seberapa disisihkan sebagian untuk disalurkan sebagai beasiswa untuk beberapa anak-anak tersebut.

    Itupun setelah dimusyawarahkan dengan semua teman-teman dan disetujui bersama. Tapi banyak hikmah yang Anis dapatkan. Sesekali Anis jadi bertemu dan bersahabat dengan mereka.

    Anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya sehingga tidak seberuntung yang lain, yang mendapat curahan perhatian dan kasih sayang berlimpah dari orang tua.

    Mereka memang kurang beruntung, tapi kesabaran dan ketegaran mereka membuat Anis malu menyadari dirinya yang rapuh, mudah mengeluh dan sedih. Anis jadi menyadari betapa sebenarnya karunia yang diberikan Allah padanya begitu banyak dan berlimpah.

    Kalaupun ada satu atau dua hal yang luput, itu tidak seberapa dibandingkan dengan yang ia telah dapatkan. Anis jadi menata dirinya untuk lebih sabar dan banyak bersyukur. Dengan banyak bersyukur tentu Ia akan lebih banyak memberikan lagi nikmat-Nya.

    *****

    “Bu Anis, kuenya enak sekali…” puji Ina tulus. Mata polosnya bersinar senang. Ia memang anak yang manis, kelas 5 SD dan selalu ranking satu di kelasnya, ibunya hanya penjual gado-gado dengan tiga orang anak, sementara ayahnya sudah meninggal sejak Ina kelas satu.

    Minggu pagi cerah ini Anis memang mengundang beberapa anak asuhnya ke rumah beserta beberapa orang pengurus yayasan. Sejak kemarin ia dan Mas Iqbal pontang-panting menyiapkan semuanya.

    Sebenarnya bisa saja Anis pesan makanan, tapi entah kenapa ia ingin menyiapkan sendiri, untungnya Mas Iqbal setuju dan membantunya penuh.

    “Bu Anis, sup nya Farouk tumpah….” jerit Atikah nyaring.

    Anis sibuk melayani mereka, Mas Iqbal juga tak kalah repot. Sekarang Anis memang semakin dekat dengan mereka, ia berusaha memberikan kasih sayang dan perhatian atau bimbingan semampunya.

    Mereka banyak membuka mata dan hatinya. Anak-anak malang yang membutuhkan kasih sayang dan bimbingan.

    Selesai acara Anis kecapekan luar biasa, anak-anak itu terkadang manja dan mencari perhatiannya saja, tapi Anis senang. Tamu-tamu kecil itu menyemarakkan rumahnya.

    Keesokan paginya Anis bangun agak siang. Selesai shalat subuh dan menyiapkan keperluan Mas Iqbal, ia tertidur lagi.

    Suaminya berangkat kerja tanpa pamit, kasihan pada Anis yang sepertinya masih kelelahan. Anis sendiri tidak pergi kerja hari ini, ia sudah izin sebelumnya.

    Jam setengah delapan pagi Anis terbangun oleh dering telepon dari ibunya.

    “Anis, selamat ulang tahun ya…semoga semakin bertambah keimanannya, sehat, bahagia dan cepat mendapatkan momongan”, ujar ibu mendo’akan.

    “Terima kasih ya, Bu” Anis tersadar bahwa hari ini usianya bertambah lagi. Sebenarnya ia tak pernah menganggap istimewa, tapi kalau ada yang ingat ya senang juga.

    “Masih sering sedih nggak?…” Ibu menggodanya. Selain Mas Iqbal memang ibu yang paling memahami perasaannya dan tentu saja yang paling sering menghibur dan mendo’akannya.

    “Ingat lho Nis, apa saja yang kita dapatkan itu sudah hasil seleksi dari sana dan itu adalah yang terbaik untuk kita. Kita harus ikhlas, sabar, dan senang menerimanya. Istri-istri Rasululloh pun ada yang tidak diberi momongan dan itu bukan dosa. Yang penting kita tak putus usaha dan berdo’a, bagaimana hasilnya biar Allah saja yang menentukan”, ibu menasehati.

    “Iya Bu” jawab Anis hampir tak terdengar. Ia terharu ibu selalu memperhatikan dan menghiburnya.

    Setelah menutup telpon dari ibu Anis dikejutkan lagi oleh selembar surat di meja, yang ini ucapan selamat dari Mas Iqbal rupanya. Anis tersenyum membacanya tapi matanya akhirnya basah juga.

    Suaminya memang selalu sabar dan penuh perhatian, tak pernah sekalipun ia menyakiti hati Anis, kalaupun ada perbedaan pendapat selalu ia selesaikan dengan bijak. Tiba-tiba Anis merasakan lagi betapa besar nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya.

    Rasanya tidak ada lagi alasan untuk bersedih, apalagi putus asa. Kalau memang sudah tiba waktunya dan baik untuknya, tentu harapan dan do’anya akan dikabulkan. Ia yakin tidak akan ada do’a dan usaha yang sia-sia.

    Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, tidak mungkin Ia mendzholimi hamba-Nya dan Ia yang akan mengabulkan do’a. Insya Allah mungkin esok hari. Ya, siapa tahu… (er)

    “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (Al Ankabuut, 64)

  • Apakah judul cerpen menarik orang untuk membacanya?

    Apakah judul cerpen menarik orang untuk membacanya?

    Apakah judul cerpen menarik orang untuk membacanya?

    Jawaban:

    Ya, judul cerpen Pohon Keramat menarik orang untuk membacanya karena mampu membuat orang penasaran dengan isi dari cerpen tersebut.

    Judul dalam sebuah cerpen memiliki peran yang sangat penting, karena menjadi pintu pertama yang dilihat oleh pembaca sebelum memutuskan untuk melanjutkan membaca isi cerita. Judul yang baik biasanya singkat, padat, namun sarat makna sehingga mampu membangkitkan rasa ingin tahu. Dalam kasus cerpen “Pohon Keramat”, judul ini menarik karena mengandung unsur misteri dan menimbulkan pertanyaan di benak pembaca: mengapa pohon itu disebut keramat, rahasia apa yang terkandung di dalamnya, dan bagaimana kisah yang akan terungkap.

    Judul seperti ini efektif karena dapat membangun imajinasi awal serta menimbulkan rasa penasaran. Orang yang melihat judulnya akan terdorong untuk membaca isi cerpen demi menemukan jawaban dari rasa ingin tahu tersebut. Selain itu, judul yang mengandung unsur keunikan atau hal-hal yang tidak biasa juga lebih mudah diingat pembaca.

    Dalam dunia kepenulisan, judul bahkan sering disebut sebagai “wajah” karya, sebab keberhasilannya menentukan seberapa besar minat orang untuk membuka halaman pertama. Tanpa judul yang menarik, meskipun isi cerita sebenarnya bagus, pembaca mungkin tidak akan tertarik untuk memulai. Oleh karena itu, judul “Pohon Keramat” bisa dikatakan cukup berhasil karena selain sederhana, juga memberikan nuansa mistis dan penuh teka-teki, yang membuat siapa pun ingin tahu apa yang terjadi di balik cerita tersebut.

  • Ceritakan kembali siapa tokoh-tokoh dalam cerpen pohon keramat?

    Ceritakan kembali siapa tokoh-tokoh dalam cerpen pohon keramat?

    Ceritakan kembali siapa tokoh-tokoh dalam cerpen Pohon Keramat?

    Jawaban:

    Pada cermen pohon keramat, terdapat beberapa tokoh, diantaranya: Jayasakti, Penduduk Kampung, Kakek, Kang Hasim, dan Saya.

    • Jayasakti: Tokoh penghuni Gunung Beser yang melawan Belanda pada zaman dahulu.
    • Penduduk Kampung: Diceritakan awalnya tidak berani memasuki Gunung Beser, tapi karena kondisi mendesak akhirnya mereka memberanikan diri.
    • Kakek: Tokoh masyarakat yang sering dimintai pertolongan untuk menyembuhkan orang-orang sakit.
    • Kang Hasim: Tokoh guru mengaji anak-anak di kampung.
    • Saya: Tokoh cucu Kakek yang menceritakan kisah Pohon Keramat.

    Cerpen Pohon Keramat adalah cerita yang ditulis oleh Yus R. Ismail, menceritakan tentang Gunung Beser yang dianggap keramat sehingga tak ada satu orang pun yang berani menebang pohon-pohon di sekitar gunung.

  • Dari bentuknya, cerpen termasuk dalam karya sastra yang berupa?

    Dari bentuknya, cerpen termasuk dalam karya sastra yang berupa?

    Dari bentuknya, cerpen termasuk dalam karya sastra yang berupa prosa.

    Pembahasan

    Cerpen atau cerita pendek merupakan salah satu bentuk karya sastra yang populer di kalangan pembaca karena sifatnya yang ringkas, padat, dan mampu menghadirkan kisah lengkap dalam ruang yang terbatas.

    Dari segi bentuk, cerpen termasuk dalam karya sastra berupa prosa, yaitu karya sastra yang menggunakan bahasa sehari-hari dalam penyampaiannya, tanpa ikatan aturan seperti rima, ritma, atau jumlah baris sebagaimana puisi. Prosa lebih bebas, tetapi tetap memiliki struktur cerita yang jelas.

    Secara umum, prosa adalah karya sastra yang menggunakan bahasa terurai dengan tujuan menyampaikan cerita, gagasan, atau pesan tertentu.

    Karena sifatnya inilah, cerpen dapat dikategorikan sebagai bagian dari prosa, sebab ia disajikan dalam bentuk narasi yang mengisahkan suatu peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya.

    Ciri-ciri cerpen menurut pendapat Sumarjo dan Saini (1997:36) sebagai berikut:

    • Ceritanya pendek;
    • Bersifat rekaan (fiction);
    • Bersifat naratif; dan
    • Memiliki kesan tunggal.

    Dengan ciri-ciri tersebut, cerpen tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga media refleksi, kritik sosial, maupun wadah ekspresi pengarang. Cerpen yang baik mampu menyampaikan pesan mendalam meskipun disajikan dalam bentuk yang singkat.

  • 10 Cara Menulis Cerpen untuk Pemula

    10 Cara Menulis Cerpen untuk Pemula

    Apakah kamu punya cita-cita menjadi seorang penulis cerpen? Kalau benar, tentunya kamu harus sering-sering membaca cerpen, baik di surat kabar maupun di buku antologi cerpen.

    Sebab dengan banyak membaca, kamu akan mendapat inspirasi dan mengetahui bagaimana cerpen yang baik dan diterima bagi khalayak ramai.

    Nah, selain rajin membaca, ada beberapa teknik dan cara menulis cerpen yang harus kamu ketahui agar karyamu nanti lebih berkualitas.

    Siapa tahu cerpenmu bisa masuk surat kabar. Kan lumayan. Selain dapat upah, kamu pun akan dapat popularitas dari karyamu itu.

    Cara Menulis Cerpen

    Untuk lebih jelas, berikut adalah beberapa teknik dan cara menulis cerpen untuk pemula. Mari disimak.

    1. Menentukan Tema yang Menarik

    Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menentukan tema. Karena tema ini adalah ide pokok dari cerita yang kamu buat nantinya. Usahakan untuk memilih tema yang sedang hot atau dibahas publik.

    Misalnya saat ini sedang santer isu politik, maka kamu bisa mengangkat tema itu ke dalam cerpenmu. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk mengangkat tema lainnya asal disajikan dengan cara yang tepat.

    2. Menentukan Judul

    Judul adalah salah satu faktor penting dalam sebuah karya sastra, baik novel, roman, ataupun cerpen. Usahakan untuk membuat judul yang menarik dan membuat rasa penasaran pembaca.

    Bahkan untuk meningkatkan jumlah pembaca, penulis-penulis senior sering membuat judul yang kontroversial.

    Tapi cara ini memiliki risiko yang cukup tinggi. Takutnya terjadi konflik di kemudian hari karena judul cerpen yang kontroversional itu.

    Lebih baik kamu menentukan judul yang menarik, lucu, atau satire saja sehingga tidak ada pihak yang merasa disentil.

    3. Kumpulkan Data

    Meskipun cerpen adalah cerita fiksi, kamu pun harus menulisnya dengan penuh hati-hati dengan fenomena yang terjadi saat ini.

    Kalau kamu ingin menulis tentang politik, maka kamu harus tahu suhu politik yang terjadi sekarang.

    Begitu juga dengan tema lain, misalnya percintaan. Kamu harus memiliki data yang mendukung.

    Misalnya apa yang terjadi ketika orang jatuh cinta, atau apa yang akan terjadi ketika orang ditolak cintanya.

    4. Paragraf Pembuka yang Menarik

    Ketahuilah, paragraf pembuka adalah salah satu media untuk pembaca menilai hasil karyamu. Begitu pula dengan editor di redaksi, ketika menyeleksi naskah, maka paragraf utama akan dijadikan patokan.

    Maka dari itu buatlah paragraf pembuka yang menarik dan mengandung rasa penasaran tinggi sehingga pembaca ataupun redaksi akan membaca isi cerpenmu secara utuh.

    5. Menentukan Tokoh

    Memang benar, tokoh dalam cerpen tidak serumit dan serinci tokoh dalam novel. Tapi bagaimanapun juga kamu harus bisa menentukan tokoh utama dan tokoh pendukung dalam karyamu.

    Hal ini dimaksudkan agar cerpen menjadi lebih hidup sehingga pembaca dapat merasakan dan menggambarkan kejadian sebenarnya.

    6. Menentukan Alur Cerita

    Selanjutnya kamu harus bisa menentukan alur cerita. Bisa menggunakan alur maju, alur mundur, atau alur maju mundur alias campuran. Penentuan alur ini harus berimbang dengan isi cerita.

    Sebab karya sastra yang salah menentukan alur menjadi kurang apik hasilnya. Padahal ide yang diangkat sangat baik, tapi karena alur yang kurang tepat menjadikan karya tersebut kurang diminati oleh pembaca.

    7. Membuat Konflik

    Pada dasarnya, pada karya sastra ada dua jenis konflik, yaitu konflik batin dan konflik fisik. Kamu bisa menggunakan salah satu atau keduanya sekaligus.

    Contoh konflik batin, misalnya ada seseorang yang jatuh cinta tapi tidak berani mengutarakan. Contoh konflik fisik adalah pertengkaran yang sampai main tangan (memukul, menampar, menjambak, dan sebagainya).

    8. Menentukan Latar

    Latar adalah tempat terjadinya peristiwa. Usahakan memilih latar yang tepat. Misalnya kamu menceritakan tentang anak sekolah, maka otomatis latarnya adalah di Sekolah.

    Dan tidak lupa juga latar harus masuk akal. Misalnya kamu menceritakan kisah pada tahun 40-an sebelum merdeka, tapi latar yang kamu tulis adalah hotel pencakar langit.

    Itu adalah sebuah kekeliruan, sebab pada jaman itu masih belum ada hotel pencakar langit seperti sekarang.

    9. Penyelesaian Atau Titik Temu

    Dan yang tak kalah penting adalah kamu harus bisa menentukan titik temu dari cerita. Titik temu biasanya berisi tentang penyelesaian masalah.

    Jadi, bagaimana cara tokoh utama untuk menyelesaikan masalah yang sedang dialaminya. Usahakan untuk membuat titik temu dengan misterius alias susah ditebak.

    Hal ini bisa membuat pembaca merasa puas karena tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Memang susah. Tapi dengan jam terbang tinggi, kamu akan terbiasa membuatnya.

    10. Revisi

    Terakhir adalah revisi. Ingatlah, karya yang baik adalah karya yang telah dikoreksi beberapa kali. Jangan merasa puas dengan hasil akhir sebelum melakukan reivisi.

    Kamu juga bisa meminta bantuan orang lain untuk merevisi atau meminta saran agar cerpen yang ditulis menjadi lebih maksimal hasilnya.

    Nah, itulah beberapa cara dan teknik menulis cerpen bagi pemula. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di Sastrawacana.

    Author : Maulana Affandi

  • Perbedaan Antara Cerpen, Novel, dan Roman

    Perbedaan Antara Cerpen, Novel, dan Roman

    Karya sastra merupakan hasil ide, buah pikir, pengalaman, dan olah ciptaan manusia yang disampaikan secara komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Ruang lingkup karya sastra sangatlah luas, ragamnya pun bervarian.

    Karya-karya sastra sering menceritakan sebuah kisah baik dan bertujuan mulia untuk peradaban terus berlanjut.

    Adapun hasil dari sastra tersebut adalah Cerpen, Novel, Roman, Pantun, Gurindam, dan sebagainya.

    Dari begitu banyaknya karya sastra tersebut, ternyata mereka memiliki perbedaan dan keunikan masing-masing dalam unsur intrinsik maupun ekstrinsik.

    Pembahasan kali ini mengenai perbedaan antara cerpen, novel, dan roman.

    Jika dikelompokkan dalam sebuah pengkategorian, ketiga karya sastra di atas berada dalam satu lingkaran, yaitu prosa.

    Prosa sendiri merupakan bentuk karya sastra yang disusun dalam bentuk cerita secara bebas, tanpa memperhatikan panjang naskah dan tidak terikat oleh ritme atau irama.

    Lalu, apakah perbedaan dari ketiga karya sastra tersebut?

    Cerpen, Novel, dan Roman merupakan hasil karya sastra yang sejenis. Tidak ada aturan pasti untuk menulisnya.

    Ide cerita dan bahasa yang digunakan merupakan bahasa sehari-hari sesuai dengan budaya mana yang akan diangkat oleh penulisnya.

    Namun, ada beberapa hal yang membedakan dari ketiga karya sastra tersebut, diantaranya: Alur, Penokohan, Konflik, serta Cerita.

    Cerpen biasanya memberikan cerita yang sederhana, tidak seekstrim dan sekompleks Novel ataupun Roman.

    Dari namanya saja, Cerpen (Cerita Pendek) sudah bisa dinilai bahwa cerita yang diangkat hanyalah cerita yang sederhana yang hanya memusatkan pada satu tokoh dan satu situasi saja.

    Berbeda dengan Novel maupun Roman, di dalamnya ada beberapa tokoh yang diceritakan secara mendalam beserta konflik lengkapnya.

    Panjang cerita pun berbeda, jika Cerpen biasanya hanya menyajikan 3-5 lembar halaman, Novel dan Roman mampu memberikan 100-300 halaman!

    Lantas, Apakah Novel dan Roman bisa dikatakan sama?

    Tentu saja tidak. Novel dan Roman tetap memiliki perbedaan dari unsur intrinsik maupun ekstrinsiknya.

    Secara umum, Roman merupakan prosa yang paling kompleks jika dibandingkan dengan prosa lainnya.

    Jika Novel hanya menceritakan sebagian besar perjalanan hidup tokoh, berbeda dengan Roman.

    Roman menceritakan tokoh secara mendalam bahkan mulai dari kelahiran sampai kematian.

    Untuk lebih jelasnya, silakan melihat tabel di bawah ini.

    Unsur
    Cerpen
    Novel
    Roman
    Alur
    Sederhana
    Kompleks
    Kompleks
    Penokohan
    Karakter tokoh diceritakan tidak secara mendetail
    Karakter tokoh diceritakan sampai mendetail, namun hanya sebagian besar saja
    Karakter tokoh diceritakan sampai mendetail, bahkan hingga meninggal dunia
    Konflik
    Konflik tidak lengkap, hanya batin atau fisik
    Konflik sangat lengkap (batin dan fisik)
    Konflik sangat lengkap (batin dan fisik) bahkan diceritakan secara tragis
    Cerita
    Sederhana, hanya sebagian hidup tokoh
    Kompleks, hampir seluruh perjalan hidup tokoh diceritakan
    Sangat kompleks, bahkan mulai lahir sampai kematian tokoh diceritakan