Tag: disabilitas

  • Kader ATM, RDS, dan Pokja Desa Sehat se-Blimbingsari Dibekali Penyusunan Program dan Pendampingan Pasien Penyakit Menular

    Kader ATM, RDS, dan Pokja Desa Sehat se-Blimbingsari Dibekali Penyusunan Program dan Pendampingan Pasien Penyakit Menular

    Kader ATM (AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria), Rumah Desa Sehat (RDS) yang menghadirkan Kader Pembangunan Manusia (KPM), serta pengurus Pokja Desa Sehat dari 10 desa se-Kecamatan Blimbingsari mendapatkan pembekalan di Balai Desa Patoman, Rabu (13/05).

    Balai Desa Patoman tampak bersih dan tertata rapi. Meski berada di lahan yang relatif sempit, berbagai ruangan ditata dengan baik, mulai dari ruang BPD, Rumah Desa Sehat yang terintegrasi dengan Pokja Desa Sehat dan PKK, hingga ruang arsip.

    Fasilitas lain seperti musala, dapur bersih, dan ruang lounge juga tersedia.

    Desa Patoman juga dikenal sebagai desa dengan keberagaman yang harmonis. Desa ini ditetapkan sebagai Kampung Pancasila oleh Pangdam V/Brawijaya dan sebagai Desa Kebangsaan oleh Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Bakesbangpol.

    Keharmonisan masyarakat terlihat dari keberagaman suku seperti Bali, Madura, Tionghoa, Osing, dan Jawa, serta sikap welas asih antarumat beragama dan penghayat kepercayaan, mulai dari Islam, Hindu, Buddha, hingga Katolik.

    Camat Blimbingsari Teddy Ardiansyah, S.STP melalui Kasi PMK Abdul Aziz, SH, MH menyampaikan bahwa berdasarkan surat edaran menteri hingga gubernur, serta hasil koordinasi lintas dinas dan badan melalui zoom meeting, diperlukan kegiatan kolaboratif untuk mendukung sinergi isu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

    FKKS Kecamatan Blimbingsari

    Sementara itu, Kepala Puskesmas Badean, Indah Swartiningtyas, SST.Bid., M.MKes menyampaikan data penderita ODHA sebanyak 40 orang, TBC 38 orang, dan malaria nihil.

    Menurutnya, terdapat berbagai faktor pemicu yang menyebabkan seseorang terpapar penyakit tersebut.

    “Semua tertangani dan ada yang sudah sembuh. Karena itu, masyarakat harus mengenali dan memahami gejalanya serta memastikan pasien mendapat pendampingan rutin minum obat. Tetap waspada seperti saat menangani corona, jaga kesehatan, dan gunakan APD,” ujarnya.

    Bidan yang meraih prestasi nasional dalam inovasi zero stunting tersebut juga menekankan pentingnya peran kader dalam pendampingan pasien di tingkat desa.

    Di kesempatan yang sama, Novita Ika Wulandari, S.AP selaku fungsional Penggerak Swadaya Masyarakat dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) menjelaskan bahwa terdapat alokasi dana sebesar Rp2,5 juta dari ADD khusus untuk program ATM.

    “Contoh program dan usulan anggaran sudah kami siapkan dan masih bisa dikreasikan sesuai kebutuhan desa. Dari dinas dan Kementerian Kesehatan juga diupayakan CSR untuk insentif kader,” jelasnya.

    Ia berharap KPM di Rumah Desa Sehat dapat bersinergi bersama bidan desa, kader KB, Pokja IV PKK, kader ATM, dan Pokja Desa Sehat dalam menyusun program beserta anggarannya.

    Pendamping desa juga diharapkan membantu melengkapi kebutuhan dasar kader guna mewujudkan satu data, dokumen, dan arsip terpadu agar pemerintah desa dan negara benar-benar hadir untuk kesehatan serta kesejahteraan masyarakat.

    Sementara itu, aktivis LSM Gotong Royong ’45 yang juga anggota Forum Banyuwangi Sehat berharap Forum Komunikasi Kecamatan Sehat dapat mengawal program, baik dari sisi administrasi maupun pendampingan di lapangan.

    Dokumentasi kegiatan berupa narasi dan foto timeline diunggah ke Google Drive Forum Banyuwangi Sehat dengan koordinator Kasi PMK.

    Ia juga menambahkan, apabila terdapat penyandang disabilitas fisik maupun intelektual yang belum bisa baca tulis, diharapkan segera didata untuk kemudian dilakukan advokasi.

    Aktivis yang juga pengawas Yayasan Aura Lentera Indonesia tersebut saat ini tengah menjalankan program bersama NLR Indonesia terkait mitigasi pemberdayaan disabilitas di wilayah Rogojampi dan Kalipuro.

    Dalam sesi tanya jawab, peserta yang mayoritas perempuan tampak antusias membahas berbagai persoalan teknis, termasuk kekhawatiran risiko penularan saat merawat jenazah penderita AIDS.

    Para kader bahkan disebut sebagai “kaum penghuni surga” karena menjalankan tugas kemanusiaan yang mulia.

    Kepala Desa Patoman, Suwito, yang telah tiga periode memimpin desa dengan potensi panen cabai jamu tersebut berharap para kepala desa mengetahui kondisi warganya secara by name by address dengan tetap menjaga kerahasiaan data untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

    “Kebetulan saya punya pengalaman 17 tahun mendampingi pasien HIV akibat perilaku asusila di lokalisasi Blibis. Mulai dari bedah rumah hingga mengambilkan obat di RSUD maupun puskesmas sampai pasien sembuh. Hendaknya kita tidak berperilaku menyimpang dari hukum adat, agama, maupun negara,” pesannya.

    Keturunan Sakera tersebut juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan alat cukur di tempat pangkas rambut dengan menggunakan satu silet untuk satu pelanggan.

  • Validasi Data BEN-NLR Indonesia, Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Banyuwangi Inklusif

    Validasi Data BEN-NLR Indonesia, Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Banyuwangi Inklusif

    Dalam upaya memperkuat layanan inklusif bagi anak dan remaja penyandang disabilitas, Rumah Literasi Indonesia bersama Yayasan Aura Lentera Indonesia menggelar Pertemuan Validasi Data Program Building Effective Network (BEN), Selasa (3/3/2026), di Hotel Aston Banyuwangi.

    Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB ini diikuti 45 peserta dari unsur pemerintah daerah, akademisi, tenaga pendidik, serta organisasi penyandang disabilitas.

    Tunggul Harwanto dari Rumah Literasi Indonesia memaparkan latar belakang dan tujuan program BEN.

    Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Banyuwangi menjadi satu-satunya klaster yang dipercaya menjalankan tiga proyek sekaligus, yakni Building Effective Network (BEN) Pemberdayaan Disabilitas Berbasis Jejaring Masyarakat, MYP Pengembangan Potensi Anak dan Remaja Difabel (Down Syndrome & OYPMK), serta Body Talk SRHR tentang Perkembangan Kesehatan Reproduksi.

    Kepercayaan tersebut diberikan karena Banyuwangi dinilai memiliki komitmen kuat dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas dan pengembangan daerah inklusif yang mendapat dukungan penuh dari bupati serta berbagai elemen masyarakat.

    “Kami berharap melalui pertemuan ini, sinergi antarsektor semakin kuat sehingga pelayanan terhadap penyandang disabilitas dapat berjalan terpadu dan berkelanjutan,” ujar Tunggul.

    Program BEN merupakan inisiatif yang didukung oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia.

    Program ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mewujudkan layanan inklusif melalui pendekatan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM).

    Pertemuan ini menjadi forum untuk menyamakan persepsi sekaligus menyusun langkah kolaboratif berbasis data yang valid dan terintegrasi.

    Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda, S.Sos., MBA., MM., hadir sebagai pembicara kunci sekaligus membuka acara secara resmi.

    Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta sistem database yang terintegrasi.

    “Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif ini. Validasi dan integrasi data merupakan langkah strategis untuk memastikan program tepat sasaran dan berkelanjutan,” tegasnya.

    Sesi diskusi yang difasilitasi Indah Catur Cahyaning Tyas dari Yayasan Aura Lentera Indonesia menghadirkan dua narasumber dari unsur pendidikan dan kesehatan.

    Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Alfian, M.Pd., menekankan pentingnya penguatan jejaring lintas sektor guna mendukung pengembangan sekolah inklusif.

    Ia juga mengusulkan agar Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilibatkan dalam kegiatan selanjutnya karena keterkaitannya dengan data kependudukan.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, H. Amir Hidayat, S.K.M., M.Si., menyoroti pentingnya pengembangan layanan kesehatan inklusif berbasis analisis kebutuhan dan data yang akurat serta ramah disabilitas.

    Peserta yang hadir merupakan anggota Forum RBM (Rehabilitasi Berbasis Masyarakat) yang menjadi inti Building Effective Network.

    Mereka berasal dari Dinas Sosial dan PPKB, Bappeda, Camat Kalipuro dan Rogojampi, Kepala Puskesmas Klatak dan Gladag, kepala desa/lurah, tenaga pendidik dari sekolah inklusif dan SLB, serta organisasi seperti Perkins, GERKATIN, HWDI, dan Aisyiyah.

    Tunggul Harwanto dan Indah Catur Cahyaning Tyas selaku Leader Tim Transisi Banyuwangi menegaskan bahwa pertemuan ini bertujuan menyusun perencanaan berbasis data, memperkuat peran Forum RBM, serta membangun komitmen kolaboratif antar pemangku kepentingan di tingkat kabupaten untuk keberlanjutan program hingga 2028.

    Diskusi berlangsung aktif dalam sesi tanya jawab. Masfufah, S.Pd., Ketua Yayasan Matahati, menyampaikan harapan agar pendampingan dan layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas semakin diperkuat, terlebih regulasi sudah tersedia.

    Yudi, guru dari SDN 2 Gladag, juga mengungkapkan tantangan terkait seorang siswa dengan disabilitas intelektual yang orang tuanya belum berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

    Selain itu, Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang terlibat dalam pendataan anak dan remaja disabilitas membagikan temuan lapangan, khususnya terkait tantangan layanan di puskesmas dan sekolah serta pentingnya koordinasi yang baik dengan pemerintah desa.

    Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi dan integrasi layanan bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Banyuwangi, menuju sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan menyongsong pelaksanaan program tiga tahun yang akan dimulai pada April 2026.

  • Refleksi Akhir Tahun 2025, YALI Perkuat Komitmen Angkat Martabat Disabilitas

    Refleksi Akhir Tahun 2025, YALI Perkuat Komitmen Angkat Martabat Disabilitas

    Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI) Banyuwangi menutup tahun 2025 dengan meneguhkan komitmen perjuangan dalam mengangkat harkat dan martabat penyandang disabilitas.

    Tekad tersebut ditegaskan dalam kegiatan Refleksi Aura Lentera Akhir Tahun 2025 yang digelar di Ajeg Resto, Dusun Watu Ulo, Desa Rejosari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Selasa (31/12/2025).

    Kegiatan refleksi akhir tahun ini menjadi ruang evaluasi atas seluruh aktivitas advokasi, pendampingan, dan pemberdayaan penyandang disabilitas yang telah dijalankan YALI sepanjang tahun 2025.

    Selain itu, forum ini juga menjadi momentum memperkuat visi perjuangan menuju masyarakat yang lebih inklusif.

    Acara dibuka oleh Wakil Ketua YALI, M. Safarudi yang akrab disapa Cik Nang dengan menekankan pentingnya menjaga semangat kolektif dalam kerja-kerja sosial.

    Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan arahan dari Bung Aguk Darsono, sesepuh sekaligus pengawas YALI.

    Dalam pesannya, Aguk menegaskan bahwa perjuangan mengangkat martabat penyandang disabilitas harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, terutama dalam memperjuangkan kesetaraan hak di tengah masyarakat.

    Ketua Yayasan Aura Lentera Indonesia, Nurhadi Windoyo, menyampaikan bahwa berbagai aktivitas yang dijalankan YALI selama ini memang terlihat sederhana, namun memiliki dampak luas dalam membangun kesadaran publik.

    “Gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten mampu menggerakkan masyarakat Banyuwangi, bahkan Indonesia, untuk mulai membangun kehidupan yang inklusif, dimulai dari keluarga dan dunia pendidikan,” ujarnya.

    Nurhadi Windoyo, yang merupakan penyandang tunanetra sejak usia tujuh tahun, menambahkan bahwa tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi YALI.

    Pasalnya, sejak didirikan pada tahun 2006, YALI baru secara resmi memiliki badan hukum pada 7 Februari 2025.

    “Hampir dua dasawarsa kami berjuang sebagai komunitas relawan tanpa badan hukum,” tuturnya.

    Dengan telah dimilikinya legalitas organisasi, Nurhadi menegaskan bahwa YALI harus melangkah lebih profesional dalam menjalankan perannya sebagai lembaga sosial.

    “Tidak ada pilihan lain, kita harus profesional. Apalagi YALI juga bekerja sama dengan lembaga internasional, sehingga tata kelola organisasi harus semakin kuat dan akuntabel,” tegas suami Indah Catur Cahyaningtias (Direktur Program YALI 2025–2030) tersebut.

    Melalui refleksi akhir tahun ini, YALI menegaskan kembali posisinya sebagai organisasi yang konsisten memperjuangkan kesetaraan, kemandirian, dan martabat penyandang disabilitas, sekaligus menyiapkan langkah strategis untuk memperluas dampak perjuangan di tahun-tahun mendatang.

  • Semarak HDI 2025 dan Konvoi Difabel Tegaskan Komitmen Inklusif Banyuwangi, Ipuk: Kalian Ada, Kuat, dan Berdaya

    Semarak HDI 2025 dan Konvoi Difabel Tegaskan Komitmen Inklusif Banyuwangi, Ipuk: Kalian Ada, Kuat, dan Berdaya

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 bertema “Setara Berkarya Berdaya Tanpa Batas” digelar pada Senin (1/12/25), difasilitasi Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi.

    Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai organisasi penyandang disabilitas dan lembaga peduli difabel, seperti Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Rangkaian acara dibuka dengan konvoi sepeda motor modifikasi oleh anggota Disabilitas Motor Indonesia (DMI).

    Para penyandang disabilitas dari PPDI, Digawangi, Gerkatin, HWDI, dan Pertuni turut berpartisipasi sebagai pembonceng.

    Konvoi dipandu oleh MC Nurul Imam, barista netra dari Asyifa Kopi, dengan titik start di Terminal Wisata Terpadu Sobo (TWTS).

    Asisten Pemerintahan dan Kesra, M.Y. Bramudya, yang melepas keberangkatan konvoi, berharap komunitas difabel dapat memanfaatkan terminal terpadu tersebut secara rutin sebagai ruang ekspresi maupun wadah diffabelpreneur untuk menampilkan karya, keterampilan, dan produk UMKM Sahabat Komunitas.

    Didampingi Kadinsos PP&KB dan perwakilan Polresta yang sebelumnya memfasilitasi pembuatan SIM D, Bramudya mengibarkan bendera start.

    Iring-iringan dipimpin oleh Kendaraan Tanggap Dinsos yang membawa pengeras suara berisi Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan suara Nurhadi Windoyo, penyiar radio komunitas JRKBB-JRKI yang pernah menjadi Ketua Pertuni dan kini memimpin YALI.

    Peringatan Hari Disabilitas Internasional Banyuwangi

    Sekitar 45 sepeda motor modifikasi dengan total 99 peserta bergerak menuju Taman Makam Pahlawan Wiswa Raga Satria. Di lokasi tersebut, rombongan disambut langsung oleh Bupati Banyuwangi dengan senyum dan pantun.

    “Konvoi ini bukan sekadar beriringan, tetapi membawa pesan bahwa kalian ada, kuat, berdaya, dan Banyuwangi memberi ruang kesetaraan inklusif di dunia pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga kesempatan berkarya,” ujar Bupati yang selama tiga tahun terakhir menginisiasi program Rembug Disabilitas.

    Pada momen ini juga dilakukan pembacaan ikrar dan penandatanganan Program Building Effective Network (BEN) yang difasilitasi Liliane Founds dan NLR Indonesia.

    Penandatanganan dilakukan oleh Bupati bersama dua lembaga pelaksana program, yaitu Rumah Literasi Indonesia dan Aura Lentera, serta komunitas penyandang disabilitas.

    Di sisi lain, pertandingan sepak bola amputasi turut meramaikan peringatan HDI.

    Bertempat di sisi barat Stadion Diponegoro, digelar laga persahabatan antara Persewangi dan Persaid Jember yang diperkuat sejumlah pemain timnas.

    Pertandingan 2×15 menit yang dipimpin wasit Askab PSSI, Nanang, berakhir dengan skor 0–4.

    Puncak HDI 2025 digelar di SLB Negeri wilayah Giri. Acara menampilkan The Filling Band dan Gamelan Gerayangan yang mengiringi penampilan tari jejer gandrung tunarungu.

    Kegiatan berlanjut dengan sholawatan dan penyerahan santunan yatim penyandang disabilitas oleh Wakil Bupati H. Mujiono, didampingi para kepala dinas dan Camat Giri.

    “Manusia tidak dinilai dari kesempurnaannya, tetapi dari potensi dan kemanusiaannya yang setara. Pemda pun belum sempurna, sehingga kami membutuhkan masukan dan kolaborasi untuk mencapai mimpi bersama,” ujar Wabup yang memulai karier birokrasi dari bawah hingga menjadi Sekda.

    Acara juga mencakup pelantikan Pengurus Gerkatin serta praktik bahasa isyarat berupa pembacaan Surat Al-Fatihah dan menyanyikan lagu Manusia Kuat (feat. Tulus).

    Selain itu, Perkins menyalurkan bantuan simbolis berupa kursi roda, sepatu bantu tulang bengkok, dan alat kesehatan lainnya.

    Kegiatan ditutup dengan pelepasan balon harapan dan pemborongan produk diffabelpreneur oleh pejabat yang hadir.

    Menurut JBI Firdaus, setelah HDI 2025 yang difasilitasi Dinas Sosial ini, pada tanggal 2 Desember akan digelar berbagai lomba antar-SLB, dan pada 3 Desember dilaksanakan jalan sehat di seputaran Gesibu Blambangan.

    “Insya Allah pada 3 Desember sudah hadir kepala sekolah kami, Bu Masfufah, yang saat ini menerima penghargaan dari Gubernur Khofifah sebagai kepala SLB berprestasi 3 besar dan inspirasi Jatim,” ujar Suyatno Baskoro selaku sie acara.

    Ketua Forum Organisasi Penyandang Disabilitas, Umar Asmoro, berharap momentum HDI 2025 dapat meningkatkan literasi, memperbaiki data penyandang disabilitas, serta mengurangi berbagai hambatan yang selama ini dihadapi kelompok dengan kekhususan dan keistimewaan ini.

  • Atasi Isu Inklusi, BEN bentuk Sub Cluster Network (SCN) Banyuwangi

    Atasi Isu Inklusi, BEN bentuk Sub Cluster Network (SCN) Banyuwangi

    Kolaborasi multipihak untuk menyelesaikan berbagai persoalan inklusi di Banyuwangi mendapatkan struktur baru.

    Pada hari kedua Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN), Rabu (26/11/2025) yang disponsori oleh Liliane Foundation dan NLR Indonesia, berhasil dibentuk kepengurusan Sub Cluster Network (SCN) yang akan bekerja untuk tiga tahun ke depan.

    Rapat yang berlangsung dinamis dan akrab di Ruang Rapat Pangripta BAPPEDA Kabupaten Banyuwangi ini menghimpun berbagai unsur organisasi non-pemerintah (NGO) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) terkait.

    Acara yang dipandu oleh Tunggul Harwanto (Rumah Literasi) dan Indah Cahyaning Tyas (Aura Lentera) ini bertujuan mewujudkan gotong royong dalam menjalankan program, baik dari pemerintah maupun NGO.

    “Intinya, setiap UPTD dan NGO harus saling membantu dan bergotong royong. Program-program yang ada harus dipromosikan hingga ke akar rumput agar semakin banyak yang tahu, terlibat, dan memberikan umpan balik untuk perbaikan,” ujar Indah Cahyaning Tyas saat mereview hasil rapat hari pertama.

    Kegiatan diawali dengan pengisian kuesioner dari NLR untuk pemetaan program BEN, yang kemudian dilanjutkan dengan penyusunan struktur kepengurusan SCN.

    Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN)

    Struktur Kepengurusan SCN Banyuwangi

    Kepengurusan SCN melibatkan perwakilan dari berbagai latar belakang. Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi didapuk sebagai Penasehat, sementara Kepala BAPPEDA menjadi Pembina.

    Ketua umum dijabat oleh Tunggul Harwanto dari Rumah Literasi Indonesia, dengan dua wakil ketua dari HWDI dan PPDI.

    Secara teknis, SCN akan dikelola oleh Sekretaris Robin Febriyanto (Aura Lentera) dan Bendahara yang dijabat Mbak Mega.

    Lima bidang utama SCN

    1. Bidang Pengembangan Organisasi: Dikoordinir Leni Tiara (BAKESBANGPOL) dengan anggota Farid Lubiyantoro (FKLPID).

    2. Bidang Pengembangan Sistem Layanan Terpadu: Dikoordinir Sri Indrastuti (DISDUKCAPIL) dengan anggota dari DISNAKER, DINSOS, dan DINKES.

    3. Bidang Pemberdayaan Anak, Remaja dan Keluarga: Dikoordinir Lintang Katon (DISKOPUMDAG) dengan anggota dari DISPORA, Paguyuban Orang Tua, PERTUNI, dan BPVP.

    4. Bidang Inovasi & Teknologi: Dikoordinir Lina Kamalin (DISPENDIK) dengan anggota dari GERKATIN dan PPDI.

    5. Bidang Media dan Informasi: Diisi oleh perwakilan dari LINDUNGIN, DMI, dan AISIYAH.

    Membedah Tantangan di Lapangan: Data, Disabilitas, dan Kusta

    Rapat Koordinasi Building Effective Network (BEN) Banyuwangi

    Dalam sesi diskusi, beberapa tantangan krusial mengemuka. Lina Kamalin dari DISPENDIK menyoroti persoalan mendasar: yaitu DATA.

    “Keberhasilan program bergantung pada validnya data. Saat ini belum ada data terintegrasi, yang ada hanya data lokal instansi yang dinamis, penuh kekosongan, duplikasi, dan beririsan. Harus ada pengendali akses data, dan program BEN ini bisa menjadi awal yang baik,” paparnya.

    Isu disabilitas juga mendapat perhatian serius. Achmad Amrullah (BPVP) menekankan pentingnya pelatihan bahasa isyarat bagi pelayan publik untuk memudahkan komunikasi dengan penyandang tunarungu.

    Rendy Anugrah (PERTUNI) menambahkan bahwa lingkungan dan keluarga seringkali belum ramah.

    “Masih ada stigma bahwa penyandang disabilitas tidak mampu, bahkan ada keluarga yang menyembunyikannya. Perlu edukasi hingga pelosok desa tentang hak-hak mereka dan motivasi bagi keluarga,” tegas Rendy.

    Persoalan lain yang mengemuka adalah penanganan penyakit kusta. Raras dari Dinas Kesehatan mengungkapkan bahwa kusta seolah menjadi penyakit yang ‘ditinggalkan’.

    “Tidak ada lagi dana dan pelatihan khusus dari pemerintah untuk menangani kusta ditambah banyak keluarga yang menyembunyikan penderitanya,” jelas Raras.

    Terkait dengan hal tersebut Indah menambahkan, “Data tahun 2024 menunjukkan 7 penderita se Kabupaten Banyuwangi, namun dari terakhir kami memperoleh data menjadi 25 orang hanya di Muncar saja. Stigma masyarakat dan tidak adanya anggaran memperparah situasi.”, ujar Indah yang menyoroti rendahnya awareness pemerintah dan masyarakat terhadap penyakit kusta.

    Kolaborasi dan Pilot Project sebagai Solusi

    Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Windoyo, Ketua Aura Lentera, mengkritik pola kerja yang hanya mementingkan kuantitas.

    “Jika hanya mengejar kuantitas, masalah data tidak akan selesai. BEN perlu membuat pilot project terkait database. Jika berhasil, bisa diduplikasi oleh instansi dan NGO lain. Kita harus berkolaborasi, mengesampingkan ego sektoral untuk tujuan yang lebih besar,” ajaknya.

    Pernyataan Windoyo diamini oleh Robin Febriyanto yang kerap menjadi enumerator di lapangan. Ia menceritakan pengalamannya menemui pelayan publik yang masih kaku dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi).

    “Contohnya, saat ada program BPJS gratis dari Dinas Ketenagakerjaan, petugas di Dinas Kesehatan tidak bisa membantu dengan alasan ‘bukan tupoksinya’. Akibatnya, program dan anggaran tidak terserap optimal oleh masyarakat,” tutur Robin.

    Dengan terbentuknya SCN, diharapkan kolaborasi yang lebih solid antara pemerintah dan NGO dapat menjawab tantangan-tantangan tersebut.

    Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem layanan yang terpadu, inklusif, dan tepat sasaran bagi masyarakat Banyuwangi. (Andre Waluyo)

  • Yayasan Aura Lentera dan Rumah Literasi Bangun Jejaring Inklusif bagi Disabilitas dan Penyintas Kusta di Banyuwangi

    Yayasan Aura Lentera dan Rumah Literasi Bangun Jejaring Inklusif bagi Disabilitas dan Penyintas Kusta di Banyuwangi

    Kickoff Program Building Effective Network (BEN) & Meaningful Youth Participation (MYP) digelar di Hotel Aston Banyuwangi, Senin (10/11/2025), bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Kegiatan ini menegaskan semangat “superteam” dalam melayani disabilitas dan penyintas kusta.

    Acara yang dimoderatori oleh Indah Cahyaning Tyas, aktivis Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI), diawali oleh NS. Tunggul Harwanto, M.Kes., Ketua Rumah Literasi Indonesia Banyuwangi, yang memaparkan edukasi tentang program BEN dan MYP.

    Program yang disuport oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia ini digagas untuk memperkuat kapasitas organisasi lokal, komunitas, serta para pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem dukungan yang berkelanjutan.

    Fokus utamanya adalah membangun jejaring efektif antar lembaga, sekolah, tenaga kesehatan, organisasi penyandang disabilitas, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok masyarakat agar anak serta remaja dengan disabilitas maupun yang terdampak kusta memperoleh akses setara terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kegiatan sosial.

    NLR Indonesia sebagai Grant Manager dari Program BEN dan MYP mendapat mandat untuk mengoordinasikan fase transisi, memastikan mekanisme koordinasi terbentuk, serta mempersiapkan peta jalan program Fase I (2026–2028).

    Program BEN saat ini telah dijalankan di tiga negara, yaitu Bangladesh, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, program ini dijalankan di tiga provinsi: Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur.

    Kegiatan soft launching kickoff di Hotel Aston Banyuwangi dihadiri oleh pimpinan SKPD pemerintah daerah seperti Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Kemenag, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, serta Direktur RSUD Blambangan, juga organisasi penyandang disabilitas, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan remaja dengan disabilitas.

    Acara berlangsung hangat dengan sesi dialog interaktif, deklarasi komitmen bersama, serta pembentukan forum jejaring lokal.

    Tujuan kegiatan BEN dan MYP di Banyuwangi:

    1. Memperkenalkan kerangka program Building Effective Networks (BEN) kepada organisasi lokal dan pemangku kepentingan utama.

    2. Memfasilitasi pertukaran informasi dan pemahaman bersama terkait konteks, tantangan, dan peluang dalam memperkuat inklusi anak dan remaja dengan disabilitas.

    3. Membangun komitmen bersama untuk menjalankan fase transisi menuju tata kelola jaringan yang inklusif, transparan, dan berkelanjutan.

    Diharapkan setelah kegiatan ini:

    • Peserta memiliki pemahaman yang jelas mengenai kerangka BEN, roadmap, dan struktur tata kelola yang akan dibangun.
    • Terbentuk kesepahaman awal terkait mekanisme koordinasi, peran, dan tanggung jawab organisasi lokal serta pemangku kepentingan.
    • Tersusunnya rencana tindak lanjut jangka pendek sebagai dasar pelaksanaan fase transisi.
    • Meningkatnya komitmen dan rasa kepemilikan (sense of ownership) dari organisasi lokal dan pemangku kepentingan terhadap tujuan BEN dan MYP di Banyuwangi.

    Bupati Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M., menyampaikan dukungan penuh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi.

    Dalam sambutannya, Suratno menjelaskan bahwa Banyuwangi telah menjadi Kabupaten Inklusif sejak 2014 dan kini telah memiliki Perda serta Perbup Unit Layanan Difabel Terintegrasi.

    “Harapan kami, program ini menjadi energi positif berkelanjutan untuk pelayanan kesetaraan bagi saudara-saudara kita yang istimewa,” tuturnya.

    Sementara itu, Sekretaris Bappeda Kabupaten Banyuwangi, Budi Wahono, S.T., memberikan edukasi tentang berbagai program inklusif yang telah dilakukan Pemerintah Daerah, termasuk membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara).

    Sebagai narasumber, Masfufah, S.Pd., Kepala SLB Negeri Banyuwangi yang juga mewakili PERKINS International, menyampaikan materi tentang manajemen ekosistem inklusif dengan pendekatan Sustainable Development Goals (SDGs) dan Stakeholders Analysis.

    Ia juga mengulas mekanisme Sistem Layanan ULD Terintegrasi yang menjadi fondasi penguatan inklusi di tingkat daerah.

    Dalam sesi tanya jawab, beberapa peserta memberikan masukan mewakili komunitasnya.
    Ricky Malebhy, Ketua Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia), menyampaikan kesulitan komunitas Tuli dalam menyusun program kesejahteraan, terutama terkait keterlibatan dalam aktivitas UMKM Difabel.

    Umar Asmoro, tokoh senior forum OPDis, menambahkan sejumlah masukan terkait pengelolaan masalah difabel dan perlunya langkah nyata dalam penanganannya.

    Yang paling menarik, datang dari Nurhadi Windoyo, seorang tuna netra yang menjabat sebagai Ketua Aura Lentera.

    Menurut Windoyo, “Kita jangan terjebak dalam inovasi yang tidak berkelanjutan. Lebih baik membangun kolaborasi yang kuat dengan berbagai pihak. Hambatan terbesar dalam kolaborasi biasanya adalah ego sektoral.”

    Sementara itu, Mbak Hanum, aktivis pemberdayaan masyarakat, menambahkan, “Kolaborasi syaratnya mau terbuka, mau mendengar, dan siap bekerja sama. Norma yang harus dijaga adalah jangan mengorbankan kepentingan mayoritas demi minoritas, karena itu bukan inklusif, tapi eksklusif. Kita harus membangun sistem layanan terbaik tanpa terjebak pada prosedur yang kaku. Jangan hanya menciptakan inovasi yang indah di permukaan, tapi lupakan pondasi yang kuat,” tegasnya sambil tersenyum.

    Tunggul dan Indah menutup acara dengan menyampaikan ajakan untuk terus bersinergi dan bergandeng tangan.

    Mereka juga mengumumkan telah terpilihnya tujuh enumerator yang akan bekerja sama dengan camat, kepala desa, dan kepala puskesmas untuk melakukan input data pendampingan di wilayah terpilih.

    “Temuan lokal di desa bisa membuka ruang dialog hingga tingkat kabupaten, bahkan menjadi ajang aspirasi nasional yang berpotensi menjadi isu global untuk kedamaian dan kesejahteraan bersama,” tutup mereka. (Andre/Aguk)

  • Dinsos Banyuwangi Respons Cepat Kondisi Penyandang Disabilitas di Kedaleman Rogojampi

    Dinsos Banyuwangi Respons Cepat Kondisi Penyandang Disabilitas di Kedaleman Rogojampi

    Senyum cerah terpancar dari wajah Luk Luul Maknun (19), penyandang daksa asal Dusun Krajan, Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

    Gadis yang mengalami disabilitas fisik sejak lahir ini mendapat kunjungan dari Komunitas Gotong Royong 45, media online sastrawacana.id/, dan pegiat sosial yang peduli terhadap penyandang disabilitas di daerah, Minggu (9/11).

    Luk Luul tinggal bersama kedua orang tuanya, Mansur (57) dan Sumiyati (53). Ayahnya bekerja sebagai kernet bus Minto jurusan Banyuwangi–Situbondo, sementara ibunya hanya ibu rumah tangga.

    Sejak kecil, Luk Luul tidak mengenyam pendidikan secara penuh, hanya sempat bersekolah di taman kanak-kanak selama dua tahun.

    Hal itu disebabkan keterbatasan orang tua, sang ayah sibuk bekerja, sementara sang ibu tidak bisa mengendarai kendaraan bermotor untuk mengantar.

    Kunjungan Komunitas Gotong Royong 45 yang dipimpin oleh Bung Aguk Darsono, yang juga aktif di Forum Banyuwangi Sehat (FBS) dan Forum Pembauran Kebangsaan {FPK) menjadi awal harapan baru bagi keluarga ini.

    Luk Luul Maknun Disabilitas Kedaleman

    Dalam kesempatan itu, turut hadir Pemimpin Redaksi sastrawacana.id/ sekaligus Direktur Penerbit Lintang Banyuwangi, Maulana Affandi, S.S., serta beberapa pegiat sosial Banyuwangi.

    “Luk Luul ini anak yang cerdas dan ceria. Walau ada sedikit kesulitan berbicara, tapi semangatnya luar biasa. Dia tidak malu, malah terlihat senang saat diajak ngobrol,” ujar Bung Aguk yang juga merupakan pemandu bakat talenta yatim piatu.

    Ditemani pamannya, Iwan (50), yang juga penyandang disabilitas akibat kram dingin saat musibah kapal nelayan di Pantai Puger, Jember, Luk Luul menyampaikan keinginannya yang sederhana, yakni ingin bisa keluar rumah karena ejak kecil hampir seluruh waktunya dihabiskan di dalam rumah.

    Pamannya menuturkan, jika Luk Luul memiliki kursi roda, ia akan lebih mudah beraktivitas di luar rumah.

    “Selama ini dia hanya bisa duduk atau berbaring di kasur, jarang sekali keluar,” ujar Pakdhe Iwan, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang servis elektronik dan dapat dihubungi melalui nomor ponsel 082341828320.

    Menanggapi hal tersebut, Bung Aguk langsung menghubungi Khoirul Hidayat, S.STP., M.Si., Kepala Bidang Pemberdayaan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Banyuwangi, untuk menyampaikan kondisi Luk Luul.

    Khoirul Hidayat menyampaikan, pihaknya siap memberikan bantuan dan berharap pemerintah desa turut aktif memantau kondisi warganya serta memperbarui data agar ia dapat menerima bantuan sosial yang selama ini belum pernah diterimanya.

    “Kami akan segera tindak lanjuti. Tapi ke depannya, pihak desa perlu lebih aktif melaporkan dan memperbarui data agar bantuan sosial bisa tepat sasaran,” ujarnya melalui pesan singkat.

    Sementara itu, Maulana Affandi menyampaikan apresiasi terhadap respons cepat Dinas Sosial Banyuwangi.

    “Langkah cepat Pak Khoirul dan tim Dinsos patut diapresiasi. Ini bukti bahwa kepedulian Dinsos Banyuwangi kepada warga yang membutuhkan sangat tinggi,” ujarnya.

    Menurut Affandi, pihaknya masih menunggu tindak lanjut dari pekerja sosial di Rogojampi untuk mendata Luk Luul, karena namanya belum tercatat dalam data penyandang disabilitas Kabupaten Banyuwangi

    Luk Lukul Maknun Kedaleman

    Ia juga menambahkan, Dinas Sosial Banyuwangi memang dikenal tanggap terhadap berbagai persoalan sosial.

    “Bukan hanya kali ini, sebelumnya Dinas Sosial juga sigap membantu warga lain, seperti Aripin yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan kerja. Hal itu menunjukkan adanya kesinambungan kepedulian yang nyata, salah satunya melalui pemberian kursi roda 3 in 1,” ujarnya.

    Kehadiran komunitas sosial, rekan media, dan pegiat kemanusiaan di rumah Luk Luul membawa semangat baru bagi keluarganya.

    Mereka berharap Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) juga dapat melakukan survei dan memberikan bantuan bagi Luk Luul, yang kini tinggal di rumah warisan kakek-neneknya dari pihak ayah.

    Selain menantikan bantuan berupa kursi roda dan popok, Luk Luul yang memiliki hobi bernyanyi juga direncanakan akan tampil dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) mendatang. Ia akan didampingi oleh relawan dari Komunitas Gotong Royong 45 dan Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Koordinator Divisi Program YALI, Indah Catur Cahyaningtyas, mengatakan dirinya hanyalah relawan, bukan pahlawan.

    “Bersamaan dengan momentum Hari Pahlawan, Luk Luul kami catat sebagai anggota dampingan kami. Harapannya, keluarga bisa lebih responsif dan kami juga akan mengikutkan mereka dalam pelatihan bagi orang tua yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas,” tutur aktivis Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) ini.

    Melalui kegiatan itu, Luk Luul akan mendapat ruang untuk menyalurkan bakatnya dan tampil bersama para penyandang disabilitas lainnya. Lewat gawai milik ibunya, ia juga diharapkan bisa menjalin silaturahmi agar tidak merasa sendirian.

    Dengan nada pasrah, sang ibu, Sumiyati, berharap ada pihak yang peduli terhadap putrinya, terutama dalam hal mobilitas agar bisa beraktivitas di luar rumah.

    “Bukan karena malu, tapi saya enggan merepotkan tetangga dan kerabat. Ternyata saya salah, dulu tidak menyekolahkan, tidak membuatkan KIA, dan baru mengurus KTP setelah usianya lebih dari 18 tahun,” ujarnya lirih.

    Semangat dan senyum Luk Luul menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Di balik segala keterbatasan, tersimpan keyakinan bahwa kuasa Tuhan selalu hadir bagi hamba-Nya, pada waktu dan cara yang paling tepat. (Affandi/Bung Aguk)

  • Bawaslu Banyuwangi Gelar Sosialisasi Pemilu Ramah Difabel Bareng Komunitas Aura Lentera

    Bawaslu Banyuwangi Gelar Sosialisasi Pemilu Ramah Difabel Bareng Komunitas Aura Lentera

    Bawaslu Kabupaten Banyuwangi adakan sosialisasi partisipasi pemilu bagi penyandang disabilitas di Hotel El Royal Banyuwangi, pada Minggu (3/11/24).

    Gelaran ini bertujuan untuk memastikan kesetaraan hak politik bagi para difabel dalam pilkada 27 November mendatang.K

    Komisioner Bawaslu Kabupaten Banyuwangi, Khomisa Kurnia Indra membuka acara yang dihadiri oleh organisasi difabel diantaranya DMI, PPDI, Pertuni, Difawangi, HWDI, Gerkatin, INAF, Taliwangi, Aura Lentera, serta media komunitas pendukung difabel, yaitu JRKBB dan JRKI.Y

    Yel-yel “Setara untuk Indonesia Jaya” disampaikan juga dalam bahasa isyarat yang dipimpin oleh Divisi Program Komunitas Aura Lentera Indah Catur Cahyaningtyas dengan penerjemah bahasa isyarat Firdaus.

    Kehadiran Firdaus memastikan seluruh peserta difabel tuna rungu dapat mengikuti sosialisasi dengan baik.

    Materi utama disampaikan oleh Indah Catur Cahyaningtyas, aktivis difabel yang pernah jadi PPK Banyuwangi dah Caleg Dapil 1 yang mengajak peserta memahami hak politik mereka.

    Indah menegaskan pentingnya partisipasi difabel dalam pemilu untuk menentukan arah pembangunan daerah.

    Selain itu, ia menyoroti perlunya Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ramah difabel agar akses pemilih difabel lebih mudah.

    Dalam sesi diskusi interaktif, ia mengajak peserta berbagi pengalaman tentang kendala yang pernah dihadapi dalam pemilu sebelumnya sebagai bahan evaluasi bagi Bawaslu untuk perbaikan di masa depan.

    Di akhir sesi tanya jawab, Windoyo, Ketua Aula Lentera menyampaikan apresiasinya dan berharap agar Bawaslu memberikan dukungan penuh terhadap hak politik difabel.

    “Kami berharap Bawaslu bareng KPUD benar-benar memperhatikan kebutuhan difabel dalam pemilu kali ini,” paparnya.

    Sosialisasi ini menunjukkan komitmen Bawaslu Banyuwangi dalam menciptakan pemilu yang inklusif dan merata bagi seluruh warga, tanpa terkecuali.

    Kami ingin partisipasi pemilih meningkat dan berkualitas sesuai regulasi serta damai hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara saling sinergi dan peduli tanpa melihat perbedaan yang ada,” tutur pimpinan sekretariat Banwaslu Abdul Aziz,SH,MH. (AW/AWN)