Tag: geguritan

  • Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    BANYUWANGI – Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi mengikuti Festival Literasi Using 2026 yang digelar di SDN Kepatihan, Banyuwangi, Sabtu (5/9).

    Kegiatan yang dihelat setiap tahun ini menjadi salah satu agenda budaya dan literasi terbesar di Banyuwangi, dengan mempertemukan pelajar dalam berbagai kompetisi yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Using.

    Festival yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

    Bupati Banyuwangi di Festival Literasi Using 2026

    Kehadiran Bupati Banyuwangi menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap antusiasme peserta didik yang mengikuti festival tersebut setiap tahunnya.

    Tahun ini, Festival Literasi Using mempertandingkan sejumlah cabang, yakni Geguritan, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Antusiasme pelajar terlihat salah satunya pada cabang Geguritan (baca puisi) tingkat SMP.

    Jumlah peserta pada cabang ini dibatasi sebanyak 45 orang. Pembatasan tersebut dilakukan karena pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peminat cabang ini sangat tinggi.

    Dalam penilaian Geguritan, peserta dinilai dari sejumlah aspek kebahasaan, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan menyampaikan makna dari teks yang dibawakan.

    Salah satu juri pada cabang tersebut adalah Maulana Affandi, mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Menurut Maulana, kemampuan peserta dalam membawakan Geguritan tidak hanya dilihat dari penguasaan teks, tetapi juga dari ketepatan penggunaan bahasa saat menyampaikan setiap bait.

    Pengucapan, intonasi, dan tekanan kata menjadi bagian penting agar isi Geguritan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

    “Selain interpretasi, bahasa juga menjadi fondasi utama dalam membaca Geguritan. Peserta harus mampu menjaga ketepatan pengucapan sekaligus memahami bagaimana sebuah kata disampaikan. Selain itu, intonasi dan tekanan juga ikut menentukan apakah pesan dalam teks bisa sampai kepada pendengar,” ujar Maulana.

    Menurut Maulana, kemampuan menggunakan bahasa daerah akan lebih mudah berkembang ketika peserta didik tidak hanya mempelajarinya secara teori, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Festival Literasi Using menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus melestarikannya melalui karya sastra.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa bahasa Using tidak hanya berkaitan dengan kosakata, tetapi juga memiliki sistem, konteks penggunaan, serta keterkaitan dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

    Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang ia dapatkan selama menempuh studi di UMM.

    “Kalau kita berbicara tentang bahasa Using, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai kumpulan kosakata. Ada sistem, ada cara penggunaan, ada konteks, dan ada identitas masyarakat yang melekat di dalamnya. Karena itu, ketika anak-anak menggunakan bahasa Using dalam karya sastra, sebenarnya mereka sedang berinteraksi dengan kekayaan bahasa dan budaya daerahnya,” jelasnya.

    Hadirnya Maulana sebagai juri turut membawa unsur akademik UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini.

    Pengetahuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan bahasa di Pascasarjana UMM diterapkan dalam kegiatan yang secara langsung melibatkan pelajar dan penggunaan bahasa Using.

    Bagi Maulana, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan praktik kebahasaan di tengah masyarakat.

    Ia berharap pelajar tidak memandang bahasa Using hanya sebagai materi yang dipelajari ketika mengikuti perlombaan.

    “Bahasa akan tetap hidup ketika digunakan. Anak-anak harus merasa bahwa bahasa Using bukan hanya bahasa yang dipelajari untuk mengikuti lomba, tetapi bahasa yang memiliki nilai dan bisa digunakan untuk berkarya,” katanya.

    Ia juga menilai rasa bangga terhadap bahasa daerah perlu ditanamkan sejak dini. Keberanian pelajar menggunakan bahasa Using di ruang publik menjadi salah satu bentuk sederhana dalam menjaga keberadaan bahasa daerah.

    “Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan. Ketika anak-anak berani tampil menggunakan bahasa Using di depan orang lain, itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah,” ujarnya.

    Keterlibatan Maulana sebagai mahasiswa Pascasarjana UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini juga menjadi bagian dari keterlibatan akademisi dalam kegiatan kebahasaan dan budaya di masyarakat.

    Hal tersebut sejalan dengan perhatian Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terhadap keberlanjutan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan generasi muda.

    Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Assoc. Prof. Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., menilai pelestarian budaya Using perlu terus diperbarui agar mampu menarik minat generasi Z dan generasi muda untuk mengenal, memahami, menguasai, sekaligus mencintai budaya daerahnya.

    Menurutnya, pembaruan dapat dilakukan dengan mengemas kegiatan seni dan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

    Penggunaan bahasa Using dalam konteks yang lebih kekinian juga dapat menjadi salah satu cara agar bahasa dan budaya daerah tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

    “Penting ada upaya-upaya terbarukan untuk budaya Osing agar bisa menumbuhkan keinginan generasi Z atau generasi muda lainnya untuk lebih mengenal, memahami, menguasai, dan mencintai budaya Osing sebagai upaya pemertahanan dan pelestariannya. Misalnya, bagaimana menata festival seni baca Aljin yang menarik untuk generasi muda Banyuwangi atau penggunaan bahasa Osing yang kekinian,” tuturnya.

    Ia menambahkan, pelestarian budaya juga tidak dapat dilepaskan dari peran pendidik.

    Guru maupun pendidik diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan mengajar, tetapi juga mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan peserta didik dan kebudayaan di sekitarnya.

    “Terus terang, kita sendiri sebagai pendidik kadang hanya suka mengajar, bukan mengajarkan kehidupan,” tutupnya.

  • Wong Sing Nulis Geguritan Diarani?

    Wong Sing Nulis Geguritan Diarani?

    Wong sing nulis geguritan diarani penggurit utawa panggegurit.

    Penggurit iku istilah sing asale saka tembung “gurit” (geguritan), kang artine puisi utawa tembang ing basa Jawa, lan ditambahi imbuhan “pe-” kang nuduhake pelaku.

    Dadi,

    Penggurit = wong sing nggawe utawa nulis geguritan.

    Uga bisa disebut pujangga Jawa, khususé sing nyipta geguritan.

    Conto ing ukara:
    Rong penggurit enom saka sekolah menengah iku menang lomba geguritan tingkat provinsi.

    Ing jagad sastra Jawa, ana macem-macem jinis karya tulis sing ngandhut kaendahan basa lan rasa.

    Salah sijine yaiku geguritan, yaiku puisi Jawa sing ditulis nganggo aturan tartamtu, kaya guru lagu lan guru wilangan.

    Geguritan ora mung nyenengake kanggo diwaca, nanging uga dadi sarana kanggo ngungkapake rasa, pikiran, lan pandangan urip. Nanging, apa jenenge wong sing nulis geguritan?

    Wong sing nulis geguritan diarani penggurit. Tembung “penggurit” asalé saka tembung dasar “gurit” sing artiné geguritan, lan diimbuhi “pe-” kanggo nunjukaké pelaku tumindak.

    Dadi, penggurit iku wong kang nggawe utawa nyipta geguritan. Ing konteks liyane, ana uga sing nyebut panggegurit, sing artine padha, nanging luwih arang dienggo.

    Penggurit iku ora mung sekadar nulis tembung, nanging uga ngrasa, milih diksi (tembung) sing endah, lan nyawijèkaké unsur budaya Jawa menyang saben larik.

    Geguritan bisa ngetokake tema katresnan, alam, kahanan sosial, utawa pepeling urip.

    Mula, dadi penggurit ora gampang, amarga butuh pangrasa lan pamahaman sastra Jawa sing jero.

    Ing jaman saiki, penggurit enom wiwit bermunculan saka sekolah-sekolah lan komunitas sastra.

    Geguritan ora mung ditulis nganggo aturan klasik, nanging uga dikembangaké nganggo gaya modhèren sing luwih bebas.

    Nanging, esensiné tetep padha: ngungkapake rasa nganggo tembung-tembung kang endah lan maknawi.

    Mula saka kuwi, penggurit iku peran penting ing pelestarian sastra Jawa. Karya-karya penggurit bisa dadi warisan budaya sing nyambungaké generasi lawas karo generasi anyar liwat tembung.

  • Jlentrehna Carane Nulis Geguritan sing Apik lan Nduweni Rasa

    Jlentrehna Carane Nulis Geguritan sing Apik lan Nduweni Rasa

    Geguritan iku salah siji wujud karya sastra Jawa kang diwujudake ing wangun puisi.

    Beda karo puisi umum, geguritan nduweni pakem lan aturan kang luwih khas, utamane ing bab basa, guru lagu, guru wilangan, lan rasa.

    Nanging, geguritan jaman saiki uga luwih bebas, bisa nggunakake basa campuran (krama lan ngoko alus), lan ora sok-sokan manut aturan kaku.

    Geguritan bisa nggambarake rasa tresna, kabungahan, kedukaan, nganti kritik sosial.

    Supaya bisa nulis geguritan sing becik lan nyentuh, ana sawetara langkah kang bisa ditindakake:

    1. Nemtokake Tema

    Tahap sepisanan yaiku nemtokake tema. Tema geguritan iku dhasar saka isine. Bisa milih tema apa wae, kaya:

    • Katresnan
    • Alam
    • Kasangsaran
    • Pangarep-arep
    • Kahanan masyarakat
    • Lelakon urip

    Contone, yen temane “katresnan”, geguritan bisa nggambarake rasa rindu marang kekasih, utawa rasa tresna marang ibu.

    2. Ngolah Rasa lan Gagasan

    Sadurunge nulis, kudu ngolah rasa lan gagasan dhisik. Geguritan sing apik iku bisa ngrasakake lan nyalurake rasa penulis marang pembaca.

    Tulis gagasan utawa rasa sing arep dituduhake. Bisa digambarake nganggo tembung kiasan, simbol, utawa lambang-lambang alam.

    Contone:

    • “Kembang mawar mekar ning wengi” bisa dadi simbol rasa tresna sing diam-diam.
    • “Lintang-lintang ilang saka langit” bisa dadi lambang rasa kelangan.

    3. Ngrancang Struktur: Guru Lagu lan Guru Wilangan

    Geguritan tradisional nduweni guru lagu lan guru wilangan, yaiku aturan jumlah wanda (suku kata) saben larik lan vokal pungkasan saben larik. Contone:

    • Guru wilangan: 8
    • Guru lagu: a

    Tuladha:

    Sasangka lintang katon sumunar (10a)
    Angin semilir nyentuh rasa (9a)
    Nggawa kangen kang anglarani (9i)
    Ati njerit ora kocap (8a)

    Nanging saiki, akeh geguritan modhèren sing luwih bebas, ora mesti manut pakem guru wilangan lan guru lagu. Sing penting, isine jero lan nduweni irama utawa irah-irahan rasa.

    4. Milih Tembung Sing Apik lan Gambar Basa

    Geguritan butuh tembung-tembung kang endah, ora langsung to the point, nanging migunakake gaya basa, kaya:

    • Paribasan (kaya: “ati remuk”, “mripat murub”)
    • Tembung kiasan (kaya: “lintang dadi saksi”, “rembulan ngambang rasa”)
    • Personifikasi (kayata: “kembang nangis”, “angin nyisik ati”)
    • Pilihan tembung kudu halus, sastra, lan bisa nyentuh rasa pembaca

    5. Nulis Geguritan

    Sawise kabeh disiapake, miwiti nulis geguritan. Tulis geguritan nganggo struktur sing wis dirancang.

    Nulis geguritan kudu kanthi rasa lan ketenangan. Aja kesusu. Waca maneh saben larik, rasakna apa wis pas karo temane lan gagasan utama.

    Tuladha geguritan cekak:

    Rinonce swara wengi
    Ngumandhang ing ati sunyi
    Saka kadohaning kowe
    Rasa tansah ora sepi

    Geguritan iku ora mung soal ukara sing apik, nanging uga kudu nduweni rasa, irama, lan makna.

    6. Macakake Lan Revisi

    Sawise rampung nulis, maca maneh geguritanmu kanthi banter. Rasakna iramane, tembunge, lan maknane. Apa ana ukara kang bisa luwih endah?

    Apa ana tembung sing kasar utawa kurang pas? Yen perlu, revisi kanggo nambah rasa lan keapikan.

    7. Judhul Lan Pesan Geguritan

    Wenehana judhul sing cocok lan nyemek makna saka geguritan. Judhul kudu menggambarkan isi utawa tema utama geguritanmu.

    Uga priksa manawa geguritanmu nyalurake pesan moral utawa rasa pribadi sing bisa dirasakake wong liya.