Tag: literasi

  • Tentang Sesuatu yang Belum Selesai: Cici Arista Devi dan Kisah Perempuan yang Mengabdi dalam Diam

    Tentang Sesuatu yang Belum Selesai: Cici Arista Devi dan Kisah Perempuan yang Mengabdi dalam Diam

    Menulis selalu bermula dari sesuatu yang mengusik, sesuatu yang tak kunjung selesai meski hari terus berganti, lalu perlahan mencari jalan pulang melalui kata-kata.

    Tidak semua yang dilihat dapat begitu saja dilupakan, tidak semua yang dirasakan mampu selesai dalam percakapan.

    Ada pengalaman yang terus tinggal dalam ingatan, ada kegelisahan yang menolak reda, hingga akhirnya memilih hidup sebagai sebuah tulisan.

    Keresahan itu pula yang membawa Cici Arista Devi berlabuh pada aksara: menjadikan tulisan sebagai ruang untuk merawat gagasan, merekam pengalaman, dan memahami berbagai persoalan yang ditemuinya.

    Di balik setiap tulisan, ia percaya selalu ada tanggung jawab untuk menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar rangkaian kata.

    Sebab, tulisan bukan hanya perkara apa yang ingin disampaikan, melainkan juga tentang keberanian melihat kenyataan apa adanya, lalu mengajaknya menjadi bahan renungan bersama.

    Dari sekian banyak hal yang ditemui, ada satu kenyataan yang terus mengetuk pikirannya.

    Kenyataan yang hadir begitu dekat, tumbuh di sekitar kehidupan sehari-hari, tetapi acap kali luput untuk benar-benar dipahami: perempuan.

    Ya, tentang perempuan yang menjalani banyak peran dalam waktu yang bersamaan, tetapi masih sering dipandang hanya dari satu sisi.

    Cici SMK Models

    Tentang pengabdian yang kerap diukur dari apa yang tampak, sementara banyak perjuangan lain berlangsung dalam sunyi dan nyaris luput dari perhatian.

    Kegelisahan itu tidak lahir dari keinginan untuk mempertentangkan peran perempuan di ruang domestik dan ruang publik. Justru sebaliknya, Cici melihat keduanya dapat berjalan berdampingan.

    Menjadi ibu, mengurus keluarga, aktif di organisasi, hingga mengambil bagian dalam kehidupan sosial bukanlah pilihan yang saling meniadakan.

    Dari keyakinan itulah gagasan demi gagasan mulai disusun, hingga akhirnya menjelma menjadi sebuah rajutan kata yang membawa suara perempuan berkemajuan dari sudut pandang yang lebih utuh.

    Rajutan kata itu kemudian menemukan bentuknya dalam sebuah artikel berjudul Dapur, Gendongan, dan Nasyiah: Seni Shodaqoh Waktu Perempuan Berkemajuan.

    Melalui tulisan tersebut, Cici tidak sedang menawarkan jawaban yang paling benar.

    Ia hanya mengajak pembaca berhenti sejenak, melihat kembali kehidupan perempuan dari sudut yang mungkin selama ini luput diperhatikan.

    Bahwa di balik dapur yang tetap mengepul, gendongan yang tak pernah lepas dari pelukan seorang ibu, dan pengabdian di ruang organisasi, ada perjuangan yang berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.

    Barangkali karena lahir dari kegelisahan yang nyata, tulisan itu pun mampu menyentuh pembacanya.

    Bukan semata karena pilihan diksinya, melainkan karena ia berbicara tentang kehidupan yang begitu dekat dengan banyak insan.

    Tentang perempuan yang setiap hari membagi waktunya, tenaganya, bahkan dirinya sendiri, agar keluarga tetap bertumbuh, organisasi terus bergerak, dan nilai-nilai kebaikan tidak berhenti diwariskan.

    Tidak pernah ada yang benar-benar tahu sejauh mana sebuah tulisan akan melangkah.

    Siapa sangka, kegelisahan yang mula-mula hanya bergumul di dalam benaknya, justru memilih jalannya sendiri.

    Cici Arista Devi SMK Models

    Di antara puluhan karya yang berkompetisi, tulisan tersebut mengantarkan nama Cici Arista Devi sebagai Juara I dalam Lomba Menulis Artikel yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Banyuwangi..

    Penghargaan itu tentu menjadi kabar yang membahagiakan. Namun, bagi Cici, kemenangan barangkali bukanlah akhir dari perjalanan sebuah tulisan.

    Sebab, sejak awal yang ia perjuangkan bukan semata-mata menjadi pemenang, melainkan menghadirkan kegelisahan yang selama ini hidup di sekelilingnya agar dapat dibaca, dipahami, dan direnungkan bersama.

    “Tulisan ini tidak lahir karena saya ingin mengubah dunia. Saya hanya tidak ingin perjuangan perempuan berlalu begitu saja tanpa sempat diceritakan. Sebab, ada begitu banyak pengabdian yang tumbuh dalam diam, tetapi justru menjadi penopang kehidupan,” tuturnya.

    Barangkali, itulah yang membuat sebuah tulisan memiliki usia yang lebih panjang daripada tepuk tangan atau sebuah piala penghargaan.

    Ketika perlombaan usai dan nama-nama pemenang perlahan menjadi kenangan, gagasan yang ditinggalkan sebuah tulisan tetap dapat hidup, berpindah dari satu pembaca ke pembaca lainnya, menghadirkan pertanyaan baru, sekaligus menumbuhkan cara pandang yang lebih lapang.

    Bagi Cici, tulisan itu adalah ikhtiar kecil untuk merawat kesadaran bahwa masih banyak hal di sekitar kita yang layak didengar, dipahami, dan diceritakan.

    Sebab, pada akhirnya, setiap tulisan selalu berangkat dari sesuatu yang belum selesai.

    Sesuatu yang masih tinggal dalam pikiran, mengendap dalam perasaan, dan menunggu untuk menemukan bentuknya melalui kata-kata.

    Begitu pula dengan kisah tentang perempuan yang ia tuliskan. Seolah refleksi untuk berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini hidup dalam dirinya.

    Bahwa perempuan tidak semestinya hanya dikenang dari peran yang tampak di permukaan, melainkan juga dari ketulusan, keteguhan, dan pengabdian yang sering kali berlangsung tanpa sorotan.

    Dan seperti halnya setiap tulisan yang bermula dari sesuatu yang mengusik, kisah Cici pun mengingatkan bahwa kata-kata tidak pernah benar-benar lahir untuk sekadar dibaca.

    Aksara hadir untuk mengetuk kesadaran, merawat harapan, dan membuat kita memandang kehidupan dengan mata yang sedikit lebih jernih daripada sebelumnya.

    Tabik!
    Maulana Affandi
    Menulis agar tidak lupa cara merasa

  • Cetak Santri Literat, PPYD Ladunna Gelar Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

    Cetak Santri Literat, PPYD Ladunna Gelar Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

    Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa (PPYD) Ladunna terus memperkuat budaya literasi di kalangan santri melalui kegiatan Belajar Literasi dan Jurnalistik yang diselenggarakan pada Rabu (24/6).

    Bertempat di Masjid Al-Khoirot, pelatihan ini menghadirkan sastrawan dan penulis nasional Bung Aguk Wahyu Nuryadi serta pegiat literasi Yeti Chotimah sebagai narasumber.

    Kegiatan tersebut diikuti puluhan santri yang tampak antusias sejak awal hingga akhir acara.

    Dengan suasana yang hangat dan interaktif, para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan mengikuti berbagai sesi praktik sederhana mengenai dunia kepenulisan.

    Pelatihan ini menjadi salah satu upaya PPYD Ladunna untuk membangun budaya membaca dan menulis di lingkungan pesantren.

    Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, serta menyampaikan gagasan melalui tulisan dinilai menjadi bekal penting bagi generasi muda, termasuk para santri.

    Dalam sesi pertama, Bung Aguk Wahyu Nuryadi mengajak para santri memahami bahwa setiap karya besar selalu berawal dari kebiasaan membaca.

    Menurutnya, seseorang tidak mungkin menjadi penulis yang baik tanpa terlebih dahulu menjadi pembaca yang tekun.

    “Kalau ingin menjadi penulis, mulailah menjadi pembaca. Jangan menunggu punya banyak waktu. Bacalah sedikit demi sedikit setiap hari, karena dari situlah pengetahuan dan ide akan tumbuh,” ujar Bung Aguk di hadapan para peserta.

    Ia juga mengingatkan bahwa membaca bukan sekadar mengeja tulisan, melainkan proses memahami, mempertanyakan, dan menemukan sudut pandang baru terhadap berbagai persoalan.

    Karena itu, budaya membaca perlu dibiasakan sejak dini agar melahirkan generasi yang memiliki daya pikir kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.

    Menurut Bung Aguk, literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami realitas kehidupan.

    Seseorang yang memiliki literasi yang baik akan lebih siap menghadapi perubahan zaman karena mampu menganalisis persoalan sebelum mengambil keputusan.

    “Jangan hanya membaca untuk tahu, tetapi membaca untuk memahami. Ketika kita memahami, kita akan mampu menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.

    Pada sesi berikutnya, Ibu Yeti Chotimah membimbing para santri mengenal dasar-dasar jurnalistik.

    Ia menjelaskan bahwa berita harus dibangun di atas fakta, disusun secara runtut, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami pembaca.

    Para santri dikenalkan dengan unsur-unsur penting dalam penulisan berita, mulai dari cara menentukan sudut pandang, menyusun paragraf pembuka yang menarik, hingga menjaga objektivitas dalam menyampaikan informasi.

    Materi tersebut disampaikan secara komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta yang sebagian besar baru pertama kali belajar jurnalistik.

    Selain membahas penulisan berita, Ibu Yeti juga mengajak para santri memasuki dunia sastra melalui puisi.

    Menurutnya, puisi merupakan media untuk mengekspresikan pengalaman, perasaan, dan nilai-nilai kehidupan dengan bahasa yang indah namun tetap bermakna.

    Suasana ruangan seketika menjadi hening ketika Ibu Yeti membacakan puisinya yang berjudul Diam. Penampilan tersebut mendapat perhatian penuh dari para santri.

    Tidak sedikit peserta yang mengaku baru pertama kali menyaksikan pembacaan puisi secara langsung oleh penyair.

    Pelatihan Literasi dan Jurnalistik di PPYD Ladunna

    Selama kegiatan berlangsung, para peserta terlihat aktif merespons pertanyaan yang diberikan narasumber.

    Beberapa santri bahkan mencoba menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka mengenai kebiasaan membaca maupun menulis. Interaksi tersebut membuat suasana pelatihan menjadi lebih hidup dan mendorong peserta untuk lebih percaya diri mengemukakan gagasan.

    Sebagai bentuk apresiasi terhadap keaktifan peserta, panitia memberikan hadiah berupa buku karya Bung Aguk Wahyu Nuryadi dan Yeti Chotimah kepada beberapa santri yang aktif mengikuti kegiatan.

    Penghargaan tersebut diberikan kepada Radit Besan, Mustofa Besan, dan Dzakiroh Qoyyimah Hubbi.

    Salah seorang penerima hadiah, Dzakiroh Qoyyimah Hubbi, mengaku mendapatkan pengalaman baru yang sangat berkesan melalui kegiatan tersebut.

    Ia mengatakan materi yang disampaikan para narasumber membuatnya semakin tertarik untuk membaca dan belajar menulis.

    “Selama ini saya mengira menulis itu sulit. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi tahu bahwa menulis bisa dipelajari asalkan rajin membaca dan terus berlatih. Saya ingin mulai membiasakan diri menulis setiap hari,” tuturnya.

    Hal senada juga dirasakan peserta lain yang berharap kegiatan serupa dapat kembali diselenggarakan dengan materi yang lebih mendalam.

    Mereka menilai pelatihan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka wawasan mengenai pentingnya literasi sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

    Melalui kegiatan Belajar Literasi dan Jurnalistik, PPYD Ladunna berharap budaya membaca dan menulis dapat tumbuh menjadi kebiasaan di lingkungan pesantren. (Zakariya Palopi/Mursit Siden)

  • KOPIWANGI Dampingi Penulis Lokal Banyuwangi Terbitkan Buku hingga Pengajuan ISBN

    KOPIWANGI Dampingi Penulis Lokal Banyuwangi Terbitkan Buku hingga Pengajuan ISBN

    Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) terus menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem literasi di Banyuwangi.

    Melalui program pelatihan, pendampingan, hingga penerbitan karya, komunitas ini aktif menjadi jembatan literasi bagi para penulis lokal agar karya mereka dapat diterbitkan dan dikenal lebih luas.

    Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut terlihat dalam pendampingan penerbitan buku berjudul Seribu Cahaya Dari Satu Harapan.

    Proses penerbitan buku tersebut dilakukan bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Banyuwangi sebagai mitra pengembangan literasi daerah.

    KOPIWANGI tidak hanya fokus pada kegiatan menulis, tetapi juga mendampingi penulis sejak tahap awal penyusunan naskah hingga proses pengajuan ISBN.

    Program tersebut selaras dengan visi komunitas untuk bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi melalui penerbitan buku fisik maupun digital.

    Ketua KOPIWANGI, Andi Budi Setiawan, mengatakan bahwa banyak penulis lokal memiliki karya yang layak diterbitkan, tetapi terkendala akses ke penerbit komersial. Karena itu, komunitas hadir untuk memberikan alternatif agar karya tetap bisa diterbitkan menjadi buku.
    “Tidak semua penulis memiliki kesempatan menerbitkan karya di penerbit komersial. Karena itu,

    KOPIWANGI hadir memberikan pendampingan dan membuka jalan agar karya-karya lokal tetap bisa diterbitkan serta dibaca masyarakat luas,” ujarnya.

    Penulis dengan nama pena Bintang Senja menjadi salah satu anggota KOPIWANGI yang mendapatkan pendampingan intensif dalam penyelesaian buku pertamanya.

    Pendampingan dilakukan mulai dari penyusunan struktur buku, penulisan kata pengantar, daftar isi, hingga profil penulis.

    Menurut Bintang Senja, proses pendampingan tersebut sangat membantu dirinya dalam memahami tahapan penerbitan buku. Ia mengaku lebih percaya diri untuk menyelesaikan naskah karena mendapat arahan yang jelas dari komunitas.

    “Terima kasih KOPIWANGI yang telah mendampingi dalam penulisan buku. Mulai dari pembuatan kata pengantar, daftar isi, sampai penulisan profil penulis. Ini sangat membantu agar tulisan saya bisa segera diterbitkan,” jelasnya.

    Selain pendampingan penulisan, KOPIWANGI juga memberikan pelatihan layout buku bagi anggota yang ingin belajar secara mandiri. Pelatihan tersebut menjadi bekal penting agar penulis memahami tata letak buku sesuai kaidah penerbitan.

    Bintang Senja menilai pelatihan layout buku memberi manfaat besar bagi penulis pemula. Dengan kemampuan tersebut, penulis tidak hanya mampu menyusun naskah, tetapi juga mendesain buku sesuai kebutuhan.

    “Pelatihan layout buku ini sangat bermanfaat. Sebagai penulis, saya bisa mendesain layout buku sendiri sesuai keinginan, namun tetap mengikuti aturan yang ada. Harapannya, saya juga bisa membantu teman-teman penulis lain di KOPIWANGI,” tambahnya.

    Setelah proses layout selesai, naskah Seribu Cahaya Dari Satu Harapan kemudian dikirim ke Dispusip Banyuwangi untuk tahap verifikasi.

    Jika dinyatakan lengkap dan sesuai ketentuan, naskah dilanjutkan dengan penandatanganan surat keaslian karya sebelum diajukan ke Perpustakaan Nasional untuk memperoleh ISBN.

    Dalam proses tersebut, KOPIWANGI juga mendampingi penulis saat melakukan penandatanganan dokumen administrasi di Dispusip Banyuwangi.

    Selain itu, komunitas turut berdiskusi mengenai berbagai jenis karya tulis yang dapat diajukan ISBN.

    Pustakawan Ahli Madya Dispusip Banyuwangi, Yusup Choiri, menjelaskan bahwa peluang penerbitan ISBN terbuka untuk berbagai jenis karya tulis.

    Menurutnya, Dispusip Banyuwangi berkomitmen mendukung para penulis lokal agar karya mereka dapat dipublikasikan secara lebih luas.

    “Selain puisi, karya seperti cerpen, novel, esai, opini, dan artikel juga bisa diajukan ISBN. Kami terus berupaya memberikan fasilitasi dan pendampingan bagi penulis lokal agar karya yang dihasilkan bisa dikenal masyarakat lebih luas,” jelas Yusup Choiri.

    Kehadiran para penulis lokal dinilai menjadi tanda meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendokumentasian ide dan karya sastra dalam bentuk buku.

    Hal tersebut juga sejalan dengan semangat KOPIWANGI yang konsisten membangun jembatan literasi di lingkungan sekolah, komunitas, maupun masyarakat umum.

    Menutup kegiatan tersebut, Andi Budi Setiawan menegaskan bahwa KOPIWANGI hadir bukan untuk bersaing dengan pihak lain, melainkan menjadi pelengkap dalam membangun budaya literasi di Banyuwangi.

    “KOPIWANGI hadir dengan memberikan warna yang berbeda. Bukan sebagai kompetitor, tetapi pelengkap dalam membangun ekosistem literasi di Banyuwangi,” tutupnya.

    Melalui kolaborasi antara komunitas, penulis, dan pemerintah daerah, gerakan literasi di Banyuwangi diharapkan terus berkembang. Dukungan masyarakat untuk membaca, menulis, dan mengapresiasi karya lokal menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan budaya literasi di daerah.

  • Memasuki Usia Ke-3, Kopiwangi Pererat Kebersamaan dan Semangat Literasi

    Memasuki Usia Ke-3, Kopiwangi Pererat Kebersamaan dan Semangat Literasi

    Di usianya yang ke-3 tahun, ibarat bayi yang sedang lucu-lucunya—Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) menggelar Halal Bihalal sekaligus Milad ke-3 dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.

    Dari langkah kecil yang sederhana, KOPIWANGI terus tumbuh menjadi ruang pulang bagi para pegiat literasi untuk saling menyapa, berbagi, dan menguatkan.

    Momentum ini tak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap kata, ide, dan karya yang lahir adalah bagian dari upaya bersama menjaga nyala literasi di Banyuwangi.

    Bertempat di LKP TBM Elit Jalan Bolodewo 51G Kebalen Kidul, Desa Lemahbangdewo, Kecamatan Rogojampi, yang merupakan kediaman Drs. Ir. Jaenuri, NZ, M.Pd (anggota kehormatan KOPIWANGI) kegiatan Halal Bihalal & Milad ke-3 KOPIWANGI berlangsung dengan hangat.

    Tuan rumah dengan tulus membuka ruang dan fasilitas demi terselenggaranya kegiatan ini.

    Meski di usia senja, Jaenuri NZ yang merupakan penulis puisi basa Using, tetap menunjukkan semangat yang menyala dengan memberikan motivasi dan dorongan kepada anggota KOPIWANGI untuk terus menulis, merawat bahasa dan budaya lokal, serta menjadikan literasi sebagai jalan pengabdian yang tak lekang oleh waktu.

    Tepat pukul 09.00 WIB, acara Halal Bihalal & Milad ke-3 KOPIWANGI resmi dimulai. Maria Ulfa selaku pembawa acara membuka kegiatan dengan sebuah pantun, yang menjadi ciri khas tersendiri dalam setiap kegiatan KOPIWANGI.

    Selanjutnya, seluruh hadirin diminta berdiri untuk bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dengan penuh khidmat dan semangat, para peserta mengikuti lagu kebangsaan tersebut sebagai wujud rasa nasionalisme dan kebersamaan.

    Mengalawali sambutan yang pertama disampaikan perwakilan pengurus KOPIWANGI – Nur Ahmadi, S.Pd, M.M masih dalam bulan syawal mengucapakan permintaan maaf kepada semua sobat KOPIWANGI yang hadir.

    Berikutnya Nur Ahmadi menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kedatangan sobat KOPIWANGI. Ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk membesarkan komunitas.

    “Terima kasih kami ucapkan kepada sobat KOPIWANGI yang hadir, ini merupakan komitmen bersama untuk membesarkan KOPIWANGI. Bagi sobat KOPIWANGI yang belum bisa hadir harapannya dalam kegiatan selanjutnya bisa hadir bersama untuk memeriahkan” jelas Nur Ahmadi.

    Acara selanjutnya sebagai bentuk syukur atas 3 tahun perjalanan KOPIWANGI, pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh ustad Moh. Halili, M.HI.

    Sebelum memulai doa bersama, Halili mengajak semua hadirin untuk diam sejenak bersyukur atas semua pemberian dari Allah SWT, bisa hadir dan bertemu dengan orang-orang hebat di komunitas ini.

    Setelah acara doa bersama milad ke-3 KOPIWANGI dilanjutkan dengan prosesi Halal Bihalal saling berjabat tangan satu dengan lainnya.

    MC memberikan arahan kepada hadirin untuk berkeliling sembari berjabat tangan diiringi dengan alunan musik religi membuat suasana semakin khidmat.

    Sebelum ceremonial potong tumpeng berlangsung, momen sharing dan diskusi anggota KOPIWANGI menjadi ritual yang tidak bisa ditinggalkan.

    MC mempersilahkan kepada Andi Budi Setiawan selaku Ketua KOPIWANGI untuk memimpin acara sharing dan diskusi. Mengawali sesi sharing dan diskusi, Andi BS menyampaikan histori perjalanan KOPIWANGI sebelum sebesar ini.

    Selanjutnya Andi BS menyampaikan profil KOPIWANGI dilihat dari visi, misi dan tujuan besarnya. Beberapa event kegiatan literasi yang sudah berjalan, karya-karya KOPIWANGI dan kemitraan yang sudah terjalin baik.

    “Tak terasa dalam 3 tahun ini banyak pencapaian yang sudah diraih KOPIWANGI, mulai dari program literasi yang berdampak bagi sekolah maupun masyarakat (pegiat literasi), karya-karya dari sobat KOPIWANGI yang sudah diterbitkan diantaranya Lentera Di Pengujung Asa (2024), Pena Sang Surya (2024), Marhaban Ya Ramadan : Antologi Pantun, Puisi dan Quote Ramadan (ebook Dispusip Banyuwangi, 2025), Sajak Merah Putih : Antologi Puisi Pahlawan (ebook Dispusip Banyuwangi, 2025) dan Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi – Antologi Pantun Basa Using (ebook Dispusip Banyuwangi, 2026). Ini merupakan bentuk nyata peran KOPIWANGI dalam menyalakan literasi di Banyuwangi” jelas Andi BS.

    Lina Kamalin Kopiwangi

    Di tengah sesi sharing dan diskusi, hadir Lina Kamalin, M.Pd selaku penasihat KOPIWANGI sekaligus Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

    Di tengah kesibukan yang luar biasa, Lina Kamalin selalu menyempatkan hadir membersamai sobat KOPIWANGI.

    Dalam sambuannya, ia menyampaikan beberapa pesan dan juga motivasi untuk sobat KOPIWANGI yang hadir.

    “Saya sudah berkomitmen pada diri saya, setiap kegiatan Halal Bihalal dan Milad KOPIWANGI, saya akan selalu menyempatkan hadir untuk membersamai sobat KOPIWANGI,” ungkap Lina Kamalin selaku Penasihat KOPIWANGI.

    Ia kemudian mengibaratkan kebersamaan dalam komunitas seperti konsep dalam ilmu fisika.

    “Garpu tala hanya akan beresonansi kuat ketika bertemu dengan frekuensi yang sama. Ia tidak memaksa, tidak mendominasi—ia hanya bergetar, lalu menemukan yang seirama,” jelasnya.

    Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan semangat yang dibangun di KOPIWANGI.

    “Komunitas ini tidak hadir untuk menyeragamkan, tetapi untuk mempertemukan. Setiap anggota datang dengan latar, pengalaman, dan ‘nada’ yang berbeda. Namun ketika ada satu semangat yang sama—cinta pada literasi—di situlah resonansi itu mulai terasa,” pungkasnya.

    Hal tersebut memberikan energi positif sekaligus menguatkan nyala semangat literasi bagi sobat KOPIWANGI dalam menjalankan peran sebagai agen perubahan dan penggerak literasi di Banyuwangi.

    Tidak berhenti di situ, Lina Kamalin juga mendorong anggota KOPIWANGI untuk terus meningkatkan kualitas karya.

    Selain menulis puisi, pentigraf, dan esai, ia mengajak agar mulai mengembangkan tulisan ke ranah artikel dan opini yang mengangkat isu-isu aktual di masyarakat untuk dipublikasikan melalui media cetak maupun daring.

    Menurutnya, langkah ini menjadi peran penting komunitas literasi dalam memberikan kontribusi pemikiran sekaligus sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah daerah demi Banyuwangi yang lebih baik.

    Sebelum acara berakhir, seremoni pemotongan tumpeng menjadi puncak dari kegiatan hari itu. Bunda Lina didaulat untuk memotong nasi tumpeng dan menyerahkannya kepada Ketua KOPIWANGI.

    Momen ini menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan tiga tahun KOPIWANGI, sekaligus peneguhan kebersamaan dan harapan agar semangat literasi terus tumbuh, menguat, dan memberi manfaat bagi sesama.

    Setelah sesi pemotongan tumpeng selesai dilanjutkan dengan foto bersama. Diakhir MC menutup acara dengan pembagian hadiah bagi hadirin yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar dilanjutkan dengan ramah tamah.

    Menutup seluruh rangkaian kegiatan, kehangatan yang terjalin hari itu seakan meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Bukan sekadar pertemuan, tetapi juga pengingat bahwa kebersamaan yang sederhana mampu melahirkan energi besar untuk terus bergerak.

    Di usia yang ke-3 ini, KOPIWANGI tidak hanya merayakan perjalanan, tetapi juga meneguhkan langkah ke depan—bahwa literasi akan terus hidup selama ada hati yang peduli, tangan yang menulis, dan ruang yang saling menguatkan.

    Dari Rogojampi, semangat itu kembali dinyalakan, untuk terus tumbuh dan memberi makna bagi Banyuwangi.

  • Literasi Digital: Saat Kata-Kata Menemukan Sayapnya di MTs Maulana Ishaq Kabat

    Literasi Digital: Saat Kata-Kata Menemukan Sayapnya di MTs Maulana Ishaq Kabat

    Di sebuah ruang yang tak lagi dibatasi dinding dan jarak, kata-kata menemukan jalannya untuk tumbuh.

    Dari layar-layar kecil yang menyala di sudut-sudut sekolah dasar hingga madrasah ibtidaiyah se-Banyuwangi, suara anak-anak bergetar, mengalir, lalu menjelma makna.

    Di sanalah Festival Literasi Season 2 yang digelar MTs Maulana Ishaq Kabat berlangsung—bukan sekadar lomba, melainkan perayaan bahasa yang hidup.

    Mengusung tema “Berani Bicara, Indah Berkata, Hebat Bercerita”, festival ini seperti membuka gerbang bagi imajinasi untuk berjalan lebih jauh.

    Teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan jembatan yang mempertemukan keberanian dan ekspresi.

    Melalui rekaman video, para peserta menuturkan dunia mereka—dalam pidato yang tegas, puisi yang lirih, dan dongeng yang berdenyut hangat.

    Kepala MTs Maulana Ishaq Kabat, Rustam Effendi, S.Pd.I., melihat lebih dari sekadar inovasi. Ia menyaksikan sebuah gerakan yang perlahan tumbuh dari keberanian kecil anak-anak yang belajar bersuara.

    “Ini bukan hanya tentang lomba. Ini tentang bagaimana anak-anak belajar percaya pada suaranya sendiri,” ujarnya, dengan nada yang menyimpan harapan panjang.

    Di balik layar penilaian, para juri membaca bukan hanya kata, tetapi juga getar yang menyertainya.

    H. Syafaat bersama Joko Wiyono dan Andi Budi Setiawan menjadi saksi bagaimana bahasa tumbuh dalam tubuh generasi muda—kadang gugup, kadang gemilang, namun selalu jujur.

    Dalam pesan penutupnya, Syafaat mengingatkan bahwa kemenangan bukanlah puncak, melainkan jalan yang terus berlanjut.

    “Yang terpenting bukan siapa yang berdiri di atas podium, tetapi siapa yang mampu menyampaikan makna dengan utuh—dengan hati yang hadir di setiap kata,” tuturnya.

    Festival ini pun menghadirkan wajah baru literasi: bersanding dengan dunia digital, bergaul dengan algoritma, bahkan diuji oleh jumlah suka dan penonton di platform seperti TikTok.

    Namun di balik angka-angka itu, tetap ada ruh yang tak tergantikan—kejujuran dalam bercerita.

    Pada akhirnya, panggung itu menemukan pemenangnya. MI Darul Falah Gombolirang menjulang sebagai Juara Umum, sementara SDN 3 Macan Putih dipeluk oleh riuh dukungan sebagai Juara Favorit.

    Tetapi lebih dari itu, setiap peserta pulang membawa sesuatu yang tak kasatmata: keberanian yang tumbuh, bahasa yang menemukan bentuknya, dan mimpi yang mulai percaya diri untuk diucapkan.

    Festival ini menjadi bukti bahwa di tengah derasnya arus teknologi, kata-kata tidak tenggelam. Ia justru menemukan sayapnya—terbang lebih jauh, menyapa lebih banyak hati.

    Dan dari Kabat, sebuah pesan sederhana berangkat: bahwa masa depan tidak hanya dibangun oleh mereka yang pandai berbicara, tetapi oleh mereka yang mampu merawat makna di dalam setiap kata yang diucapkannya.

  • Pemkot Jakbar Siapkan 20 Ribu Buku Baru untuk 158 Titik Baca

    Pemkot Jakbar Siapkan 20 Ribu Buku Baru untuk 158 Titik Baca

    Pemerintah Kota Jakarta Barat melalui Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Sudin Pusip) berencana menambah sebanyak 20 ribu eksemplar buku baru pada tahun 2026.

    Langkah ini dilakukan untuk memperbarui dan memperkuat referensi bacaan masyarakat di wilayah tersebut.

    Kepala Sudin Pusip Jakarta Barat, Achmad Jazuri, menyampaikan bahwa saat ini koleksi buku yang tersedia mencapai sekitar 66 ribu eksemplar dan akan terus ditingkatkan melalui pengadaan tahun ini.

    “Tahun ini kita bakal ada pengadaan 20 ribu eksemplar buku. Kalau sekarang, sudah ada 66 ribu eksemplar. Itu akan ditambah lagi,” ujar Jazuri di Jakarta, Selasa.

    Ia menjelaskan, pengadaan ribuan buku dengan anggaran lebih dari Rp2 miliar tersebut akan didistribusikan ke 158 titik baca yang tersebar di berbagai lokasi di Jakarta Barat.

    “Kita di Jakbar itu ada sekitar 158 titik baca. Nanti penyebaran buku itu lewat reses anggota dewan (DPRD), sesuai hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan sesuai yang sudah bersurat langsung ke kita,” katanya.

    Titik-titik baca tersebut meliputi beragam fasilitas, mulai dari perpustakaan di kantor Sudin Pusip, perpustakaan keliling, hingga Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) serta forum aspirasi masyarakat.

    “Mulai dari perpustakaan kantor Sudin Pusip, ada yang di perpustakaan keliling (pusling), RPTRA dan juga ada yang ke forum-forum aspirasi masyarakat,” lanjutnya.

    Menurut Jazuri, penambahan koleksi buku ini bertujuan untuk menggantikan buku-buku yang rusak, hilang, maupun yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.

    “Koleksi buku itu ada penyusutan. Misalnya ada yang pinjam tapi tak kembali, ada yang rusak. Setiap tahun, kita juga mengadakan pergantian buku yang sudah ‘out of the date’ (tidak relevan lagi),” ujarnya.

    Ia pun mengajak masyarakat Jakarta Barat untuk memanfaatkan fasilitas literasi yang tersedia sebagai upaya membangun budaya membaca sejak dini.

    “Penyebaran buku-buku itu untuk mendekatkan literasi dengan masyarakat. Jadi, dibutuhkan juga kesadaran untuk mengakses literasi yang sudah tersedia itu,” tutupnya.

    Sumber: Antara

  • Dorong Minat Baca, Guru MIN 14 Al-Azhar Asy-Syarif Sumbangkan Buku untuk Perpustakaan

    Dorong Minat Baca, Guru MIN 14 Al-Azhar Asy-Syarif Sumbangkan Buku untuk Perpustakaan

    Para guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 14 Al-Azhar Asy-Syarif turut ambil bagian dalam Program Sedekah Buku dengan menyumbangkan sejumlah buku baru untuk memperkaya koleksi perpustakaan madrasah.

    Kegiatan ini berlangsung di area perpustakaan MIN 14 pada Rabu (21/1/2026) sebagai langkah nyata dalam menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa.

    Program Sedekah Buku melibatkan seluruh warga madrasah untuk berbagi buku bacaan yang layak dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

    Melalui inisiatif ini, perpustakaan diharapkan memiliki koleksi yang semakin lengkap dan variatif guna mendukung kegiatan belajar mengajar.

    Beragam jenis buku diserahkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari cerita bergambar, dongeng dan fabel, cerita rakyat Nusantara, hingga buku sains sederhana, ensiklopedia anak, kisah Nabi dan Rasul, pembelajaran akhlak dan adab, serta buku-buku motivasi.

    Seluruh bahan bacaan dipilih sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan siswa MIN 14.

    Donasi buku diterima langsung oleh Penanggung Jawab Perpustakaan MIN 14, Inas.

    Ia mengungkapkan bahwa program ini memberikan dampak positif bagi pengembangan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar di madrasah.

    “Program Sedekah Buku ini sangat berarti bagi kami. Buku-buku baru yang disumbangkan akan menambah koleksi perpustakaan dan membuat anak-anak semakin semangat membaca,” ujar Inas.

    Ia menambahkan, kehadiran buku-buku yang menarik dan relevan diharapkan mampu meningkatkan frekuensi kunjungan siswa ke perpustakaan.

    Perpustakaan pun tidak hanya berfungsi sebagai tempat meminjam buku, tetapi juga sebagai ruang belajar yang nyaman dan inspiratif.

    Melalui kegiatan ini, madrasah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta terus menguatkan gerakan literasi dengan melibatkan peran aktif para pendidik.

    Program Sedekah Buku menjadi salah satu upaya strategis dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang berdampak langsung bagi siswa dan lingkungan sekitar.

    Sumber: kemenag

  • Menyalakan Cahaya dari Kelas: Jejak Literasi Betty Lutviyanti di Banyuwangi

    Menyalakan Cahaya dari Kelas: Jejak Literasi Betty Lutviyanti di Banyuwangi

    Di banyak ruang kelas, cahaya pengetahuan kerap hadir dalam bentuk yang sederhana. Dari sana pula, perubahan sering kali bermula.

    Di Banyuwangi, cahaya itu tumbuh pelan namun konsisten melalui langkah seorang pendidik bernama Betty Lutviyanti, yang memilih menjadikan literasi sebagai jalan pengabdian—bukan hanya di sekolah, tetapi juga di ruang-ruang budaya dan sosial.

    Berangkat dari kesehariannya sebagai guru sekolah dasar, Betty menjadikan dunia anak, lingkungan sekolah, dan pendidikan sebagai sumber inspirasi utama karya-karyanya.

    Ia percaya bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan upaya menumbuhkan rasa, nalar, dan imajinasi sejak dini.

    Betty Lutviyanti merupakan pendidik dengan pengalaman mengajar selama 18 tahun. Ia mengabdi sebagai kepala SD Negeri 4 Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

    Dengan latar belakang pendidikan Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta Magister Pendidikan yang diraihnya pada tahun 2025, Betty aktif merancang dan menjalankan berbagai inovasi literasi di sekolah.

    Program seperti GESSAH (Gerakan Sedekah Satu Buku untuk Anak Sekolah), SAPA (Sehari Satu Pantun), dan Rame Riang (Gerakan Membaca Sehari Satu Dongeng) menjadi ikhtiar nyata untuk menumbuhkan budaya baca di kalangan siswa.

    “Literasi harus dihadirkan dengan cara yang dekat dan menyenangkan. Anak-anak perlu merasakan bahwa membaca dan menulis adalah bagian dari keseharian, bukan beban,” ujar Betty dalam salah satu kesempatan.

    Selain mengajar, Betty juga dikenal sebagai penulis produktif. Sejumlah karyanya telah diterbitkan, di antaranya Harmoni Putih Abu-abu dan Hujan Diksi Bulan Desember (2021), Praktik Baik Merdeka Mengajar dan Mengeja Rindu (2023), Pinasthika Laksamana (2024), serta Antologi Gotong Royong dan Toponimi Wilayah di Banyuwangi (2025).

    Ia juga terlibat sebagai kontributor dalam berbagai karya kolaboratif, termasuk e-book Anjasmara Kasmaran: Hikayat Damarwulan terbitan DISPUSIP Banyuwangi, antologi cerita cendhek Using Aroma Ring Pawon Using dalam buku Leroban, serta antologi cerita anak nusantara Lentera dari Timur ke Barat Jilid 2.

    Dedikasi tersebut turut membuahkan prestasi. Betty meraih Juara 2 Lomba Dongeng Video AI (2024), Juara 3 Lomba Cipta Puisi kategori umum KOPIWANGI (2024), serta terpilihnya 59 puisi karyanya dalam ajang cipta puisi bertema ibu dan guru pada tahun 2023.

    Ia juga aktif membina siswa dalam Festival Literasi Using dan PORSENI SD, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.

    Lebih dari sekadar deretan karya dan penghargaan, kiprah Betty Lutviyanti menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh dari ruang kelas yang sederhana, lalu menjalar ke panggung yang lebih luas.

    Ia menghadirkan literasi sebagai praktik kemanusiaan—menghubungkan pendidikan, budaya, dan harapan masa depan.

    Di tengah arus zaman yang serba cepat, langkah Betty menjadi pengingat bahwa perubahan besar kerap berawal dari ketekunan yang sunyi.

    Dari sekolah, cahaya itu dinyalakan—dan dari sana, ia terus menyala, menerangi generasi demi generasi.

  • Sastrawacana: Ruang Tumbuh Jurnalisme di Antara Literasi dan Meja Redaksi

    Sastrawacana: Ruang Tumbuh Jurnalisme di Antara Literasi dan Meja Redaksi

    Bagi penulis, dunia jurnalisme adalah ruang baru yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran.

    Di tengah keseharian sebagai guru matematika di sebuah SMK swasta di Banyuwangi yang diisi dengan mengajar di kelas, mendampingi bimbingan belajar, serta menulis karya sastra, penulis berusaha tetap menyisihkan waktu untuk menulis berita dan opini.

    Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas tambahan, melainkan panggilan nurani untuk ikut mengabadikan peristiwa dengan menghadirkan cerita yang bermakna bagi pembaca.

    Penulis telah lama menekuni dunia kepenulisan, mulai dari puisi, quote, opini, hingga buku, dengan capaian tiga buku solo serta delapan belas buku antologi fiksi dan nonfiksi.

    Tulisan-tulisan tersebut penulis bagikan melalui media sosial, laman pribadi, serta media daring.

    Namun, ketika bergabung sebagai jurnalis di media online Sastrawacana, penulis merasakan tantangan yang berbeda.

    Menulis berita menuntut kedisiplinan, ketelitian, dan tanggung jawab yang lebih besar.

    Penulis belajar bahwa sebuah peristiwa tidak cukup hanya ditulis, tetapi harus disajikan secara utuh, berimbang, dan bernilai bagi publik.

    Sastrawacana, bagi penulis, bukan sekadar media, tapi rumah literasi yang telah berdiri lebih dari sepuluh tahun dan konsisten menyuguhkan konten positif, edukatif, serta inspiratif.

    Fokusnya pada pendidikan, literasi, dan prestasi menjadikan media ini sejalan dengan nilai-nilai yang penulis perjuangkan.

    Karena itu, penulis memilih untuk menaruh perhatian besar pada pemberitaan seputar literasi dan dunia pendidikan, tentang bagaimana literasi tumbuh di Banyuwangi, tentang prestasi peserta didik, pendidik, sekolah, hingga peristiwa kecil yang sering kali luput dari sorotan.

    Di tengah padatnya aktivitas, penulis meyakini bahwa sekecil apa pun momen layak untuk ditulis. Sebab setiap peristiwa memiliki cerita, dan setiap cerita dapat menjadi inspirasi.

    Di situlah penulis menemukan makna jurnalisme: dedikasi untuk hadir, merekam, dan menyampaikan nilai-nilai positif kepada masyarakat.

    Keyakinan ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Pimpinan Redaksi Sastrawacana, Maulana Affandi, S.S.

    Menurutnya, Andi Budi Setiawan, S.Pd a.k.a Penapanuluh merupakan salah satu aset penting bagi Sastrawacana karena konsistensi dalam menulis, khususnya di bidang literasi dan pendidikan.

    “konsistensi dalam menulis berita maupun opini yang membuatnya layak memperoleh penghargaan.” ungkap Maulana Affandi.

    Penghujung tahun 2025 menjadi momen yang sangat berkesan bagi penulis.

    Penghargaan sebagai Jurnalis Produktif Tahun 2025 dari Sastrawacana bukan hanya sebuah pencapaian personal, melainkan pengakuan atas proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan dan konsistensi.

    Penghargaan ini penulis terima langsung dari Maulana Affandi, sosok yang penulis hormati atas komitmennya menjaga marwah media yang positif dan berorientasi pada literasi.

    Penulis sangat tersanjung dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada beliau serta seluruh jajaran redaksi Sastrawacana atas program apresiasi ini.

    Bagi penulis, penghargaan ini memiliki makna yang mendalam.

    “Penghargaan ini bukan sekadar hadiah di penghujung tahun 2025, melainkan api semangat yang akan terus menyala untuk senantiasa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat lewat berita,” demikian yang selalu penulis yakini.

    Apresiasi ini menjadi motivasi tersendiri, bahwa setiap karya yang ditulis dan dirilis mendapatkan tempat serta penghargaan yang layak.

    Penghargaan ini semakin menguatkan keyakinan penulis bahwa jurnalisme dan literasi adalah dua sayap yang membantu penulis terbang menggapai tujuan: memberi kontribusi positif bagi masyarakat melalui tulisan.

    Sebagai Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), semangat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kerja literasi harus terus diperjuangkan, kapan pun dan di mana pun.

    Harapan penulis, program apresiasi seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi pemantik semangat bagi jurnalis lainnya untuk giat menulis berita, opini, maupun artikel yang mencerahkan.

    Mari bersama-sama menjaga Sastrawacana sebagai ruang bersama untuk menyuguhkan informasi yang positif dan edukatif, serta terus menyalakan api literasi melalui tulisan yang jujur, konsisten, dan bertanggung jawab.

  • Lomba Baca Puisi dan Story Telling Tutup Rangkaian Literasi Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Lomba Baca Puisi dan Story Telling Tutup Rangkaian Literasi Harjaba ke-254 di Saestwo Cafe Banyuwangi

    Momentum peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 sekaligus Hari Ibu dimaknai melalui lomba baca puisi dan story telling yang digelar di Saestwo Cafe, Banyuwangi, Sabtu (20/12/2025).

    Dua cabang lomba tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan literasi yang sebelumnya telah berlangsung selama dua hari, 19–20 Desember 2025.

    Lomba baca puisi yang mengangkat karya dari Antologi Gotong Royong serta lomba story telling diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum.

    Pelaksanaan lomba dimulai pukul 13.00 WIB. Sejumlah peserta datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyuwangi untuk mengikuti kegiatan tersebut.

    Antusiasme terlihat dari kehadiran peserta yang tidak hanya berasal dari sekitar lokasi kegiatan, tetapi juga dari kecamatan lain.

    Sebelumnya, pada hari pertama, Jumat (19/12/2025), panitia telah menyelenggarakan lomba pidato cilik (pildacil) TPA/TPQ, bercerita menggunakan bahasa Using, serta lomba melukis di kanvas.

    Pelaksanaan hari pertama bertepatan dengan peringatan hari lahir Komunitas Peduli Pendidikan Banyuwangi (KOPPIWANGI) yang ke-10 dan dihadiri Ketua KOPPIWANGI, H. Mujiono, S.H.

    Panitia menyebutkan, lomba baca puisi dan story telling pada hari kedua menjadi ruang bagi peserta untuk mengekspresikan gagasan, imajinasi, serta kepekaan terhadap nilai-nilai gotong royong.

    Kehadiran peserta dari berbagai daerah di Banyuwangi menunjukkan bahwa kegiatan literasi masih mendapat perhatian dan minat dari masyarakat..

    Pemenang Lomba Story Telling

    Pemenang lomba story telling event harjaba saestwo cafe

    Juara I: Berlian Ramadhani (MI Darunnajah II)

    Juara II: Queenbe Hilwa Tazkia (SD Lazuardi)

    Juara III: Abdul Ghani Ibrahim (MI Darussalam 1 Kalipuro)

    Harapan I: Adhira Kayyira Luneto

    Harapan II: Zahsy Rouwan Haqueena Yadid

    Harapan III: Chantika Irfa’

    Pemenang Lomba Membaca Puisi

    pemenang lomba baca puisi event harjaba saestwo cafe

    Juara I: Adilla Makhrisza Alharsi (SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya)

    Juara II: Mohammad Rizky Yulleo Altaf (SMK Muhammadiyah 8 Siliragung)

    Juara III: Muhammad Iqbal Maulana (Tenaga Kependidikan SMPN 3 Rogojampi)

    Harapan I: Kristanto (Guru SMA Negeri 1 Bangorejo)

    Harapan II: Farras Aryantaqi (SMK Pelayaran Kalipuro)

    Salah satu juri puisi, Andi Budi Setiawan, S.Pd, menyampaikan bahwa lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi.

    “Yang kami lihat bukan hanya teknik, tetapi keberanian peserta dalam menyuarakan nilai gotong royong dan kepekaan mereka terhadap lingkungan sosialnya. Itu yang membuat pembacaan puisi terasa hidup,” ujarnya.

    Sementara itu, ketua panitia menyebutkan bahwa kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai ajang lomba, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan ekspresi bagi anak-anak, remaja, dan masyarakat umum.

    “Melalui kegiatan ini, nilai literasi, seni, dan budaya lokal diharapkan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat,” ujar ketua panitia, H.M Shodiqin.

    Peringatan Harjaba ke-254 melalui kegiatan lomba literasi ini menjadi salah satu upaya memperkuat semangat gotong royong sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam pengembangan budaya baca, bercerita, dan berkarya di Banyuwangi.