Tag: literasi

  • DKPUS Babel Terima Hibah Buku dari Sekretariat DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

    DKPUS Babel Terima Hibah Buku dari Sekretariat DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

    Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKPUS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menerima kunjungan kedinasan dari Sekretariat DPRD Prov. Kep. Babel pada Rabu (8/10/2025).

    Kunjungan ini bertujuan untuk menyerahkan hibah buku kepada Perpustakaan Daerah sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap peningkatan budaya literasi di daerah.

    Sebanyak 108 judul dengan total 109 eksemplar buku diserahkan langsung oleh Plt. Kepala Sekretariat DPRD Prov. Kep. Babel, Dedy Apriandy, SE, MM, kepada Kepala DKPUS Prov. Kep. Babel yang diwakili oleh Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan, Rinaldy, S.T., M.Si., didampingi sejumlah pustakawan.

    Dalam kesempatan tersebut, Dedy Apriandy menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud sinergi antarinstansi pemerintah dalam mendukung program Perpustakaan Nasional Tahun 2025 serta program Gubernur Kep. Babel yang berfokus pada penguatan budaya literasi dan peningkatan minat baca masyarakat.

    Ia berharap hibah buku ini dapat memperkaya koleksi Perpustakaan Daerah, memperluas akses informasi, serta menjadi sarana edukatif bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Melalui langkah kecil seperti ini, diharapkan semangat membaca dan menulis terus tumbuh di tengah masyarakat Bangka Belitung, sehingga budaya literasi dapat menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

    Source: dkpus.babelprov.go.id

  • Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember

    Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember

    Ayat-ayat Tuhan di Langit MTQ XXXI Jawa Timur di Jember
    Oleh : Syafaat
    (Pendamping Kafilah Kab. Banyuwangi)

    Langit malam itu seakan menuliskan ayat-ayat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

    Sejak awal saya tidak mengira bahwa Musabaqah Tilawatil Qur’an provinsi Jawa Timur ke XXXI bisa dihadirkan dengan cara seperti itu, dengan cahaya-cahaya yang menari di udara, dengan huruf-huruf yang seolah jatuh dari langit, dengan kalimat yang tidak bersuara tapi justru lebih dalam menembus hati.

    Bagi sebagian orang mungkin itu hanya atraksi teknologi, hanya permainan lampu dari ratusan drone yang dikendalikan komputer.

    Namun bagi saya, itu adalah tanda, itu adalah isyarat, itu adalah ayat yang lain. Ayat yang tidak ditulis dengan tinta, tidak dibacakan dengan suara, melainkan dilukiskan dengan cahaya, dipamerkan di langit, dan ditinggalkan di hati.

    Malam itu saya belajar sesuatu: bahwa firman Tuhan tidak pernah bisa dibatasi. Mushaf adalah rumahnya, tilawah adalah suaranya, hafalan adalah bentengnya, tetapi hakikat firman Tuhan selalu mencari jalan untuk mendekati manusia.

    Kadang ia hadir dalam lantunan anak kecil yang terbata, kadang dalam suara tua yang parau, kadang dalam doa lirih seorang ibu yang memeluk anaknya, dan malam itu firman itu hadir dalam cahaya, menari di langit Jember.

    Saya tahu, cinta kepada kitab suci bukan sekadar hafalan. Hafalan bisa hilang, bisa terlupa, bisa salah urutan. Tetapi cinta yang menempel di dada tidak akan hilang, ia akan terus menyala bahkan ketika lidah tidak mampu melafalkan lagi.

    Ketika saya melihat anak-anak kafilah yang saya dampingi tertidur di kursi belakang mobil dalam perjalanan pulang, saya merasa seakan Tuhan sedang membisikkan sesuatu: bahwa tugas saya bukan hanya mengantar mereka ikut lomba, bukan hanya memastikan mereka tampil baik di hadapan dewan hakim, tetapi mengantar mereka berjalan di jalan panjang cinta kepada Al-Qur’an.

    Tilawah bisa dilombakan, tajwid bisa dinilai, suara bisa diperingkat, tetapi cinta tidak bisa diberi angka. Cinta hanya bisa ditumbuhkan, dirawat, dipelihara dengan doa dan kasih. Dan cinta itu yang harus menjadi bekal anak-anak ini, bukan hanya piala yang bisa berdebu di lemari.

    Saya teringat pada sebuah kisah lama tentang seorang sufi. Ia tidak pandai membaca Al-Qur’an. Ia hanya bisa mengulang satu ayat, dengan suara yang parau, dengan bacaan yang tidak sempurna.

    Orang-orang menertawakannya, mencibirnya, menganggapnya tak pantas. Tetapi dalam mimpinya, sufi itu mendengar suara Tuhan yang mengatakan: “Aku lebih menyukai satu ayatmu yang penuh cinta daripada seribu ayat yang dibaca tanpa hati.” Malam itu saya merasa seperti sufi itu.

    Tidak ada suara, tidak ada tartil, hanya cahaya drone yang menulis huruf-huruf di langit.

    Tetapi justru dari situ hati saya tersentuh, lebih dalam daripada sekadar mendengar suara qari yang merdu. Dan saya sadar, inilah hakikat cinta religius. Ia tidak butuh alasan panjang, tidak butuh penjelasan rumit.

    Cinta religius adalah ketika hati bergetar hanya karena mendengar satu ayat, atau melihat satu cahaya, atau merasakan satu sentuhan.

    Cinta religius adalah ketika seseorang berwudhu bukan karena ingin shalat, tetapi karena ia ingin wajahnya segar ketika menghadap Tuhan.

    Cinta religius adalah ketika seseorang menangis bukan karena sedang susah, tetapi karena ayat yang dibacanya tiba-tiba terasa seperti surat pribadi dari Tuhan yang ditujukan hanya untuknya.

    Malam MTQ ke XXXI itu memang penuh keramaian, penuh musik, penuh parade. Tetapi yang tinggal di hati saya bukanlah gemerlapnya panggung, bukan pula suara pidato pejabat, melainkan saat-saat langit terbuka dan menuliskan huruf-huruf bercahaya.

    Saya yakin, bagi setiap orang yang menengadah malam itu, ada doa yang diam-diam terpanjat. Ada rasa yang sulit dijelaskan, rasa bahwa kita sedang dilihat oleh sesuatu yang lebih besar, rasa bahwa firman Tuhan selalu menemukan cara untuk turun ke bumi.

    Saya teringat pada ibu saya, yang setiap malam membaca surat Yasin dengan suara lirih. Tidak pernah tartil sempurna, tidak pernah dengan suara merdu.

    Tetapi dari bibirnya saya belajar, bahwa membaca Al-Qur’an bukan untuk dipuji, bukan untuk didengar orang, melainkan untuk membuat hati lebih tenang.

    Cinta ibu kepada Al-Qur’an bukan hafalan yang panjang, melainkan kebiasaan sederhana yang dilakukan tanpa henti. Dari situlah saya tahu, bahwa cinta kepada kitab suci adalah soal kesetiaan, bukan soal kemampuan.

    Kesetiaan membuka mushaf, kesetiaan melafalkan ayat, kesetiaan mendengarkan bacaan orang lain, kesetiaan menundukkan hati ketika ayat dibacakan.

    Dan kesetiaan itulah yang kadang hilang dalam kehidupan modern kita. Kita mudah terpesona pada lomba besar, pada suara merdu, pada panggung yang megah, tetapi lupa pada mushaf kecil yang sepi di pojok rumah.

    Kita sibuk mengejar juara, tetapi lupa membisikkan doa untuk anak-anak yang belajar terbata. Kita bangga dengan hafalan ribuan ayat, tetapi lupa menumbuhkan cinta yang sederhana.

    Padahal, tanpa cinta, hafalan akan kering. Tanpa cinta, tilawah hanya akan jadi nyanyian indah tanpa makna.

    Tanpa cinta, MTQ hanya akan jadi pesta besar yang segera terlupakan. Cinta adalah inti dari semua ibadah. Ketika seseorang shalat tanpa cinta, ia hanya akan menghitung gerakan.

    Ketika seseorang berzikir tanpa cinta, ia hanya akan mengulang kata-kata. Tetapi ketika cinta hadir, shalat akan menjadi pertemuan, zikir akan menjadi percakapan, doa akan menjadi bisikan yang hangat. Dan malam itu, cinta hadir dalam bentuk cahaya.

    Saya tidak tahu apakah bupati muda yang berjanji akan menghadirkan pembukaan istimewa menyadari hal itu.

    Mungkin baginya itu hanya strategi pencitraan, hanya cara untuk menunjukkan kebesaran acara. Tetapi bagi saya, justru di balik permainan cahaya itulah Tuhan menurunkan pelajaran.

    Bahwa firman-Nya tidak hanya terbatas pada lembaran, bahwa cinta bisa datang dari arah yang tak disangka-sangka.

    Bahkan dari drone yang dingin dan tanpa perasaan. Bukankah Tuhan memang sering menghadirkan kasih-Nya lewat jalan yang aneh, lewat kejadian yang sederhana, lewat orang-orang yang tidak kita kira?

    Cinta religius juga sering datang dengan cara seperti itu. Kita tidak selalu jatuh cinta pada orang yang dekat. Kadang kita jatuh cinta pada seseorang yang hanya kita temui sekali. Kadang kita merasakan kedekatan spiritual dengan seseorang yang bahkan tidak kita kenal namanya. Dan dalam cinta religius, kita sadar bahwa rasa itu hanyalah pantulan dari cinta yang lebih besar: cinta Tuhan kepada makhluk-Nya.

    Saya teringat sebuah kisah tentang Rabi’ah al-Adawiyah, seorang perempuan sufi besar. Ia pernah berdoa: “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena ingin surga, jauhkan aku darinya.

    Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka janganlah Kau haramkan aku dari keindahan-Mu.” Doa itu selalu membuat saya terdiam. Sebab di dalamnya ada keberanian untuk menyingkirkan semua imbalan, semua ketakutan, semua hitungan, dan hanya menyisakan cinta.

    Bukankah itulah yang seharusnya menjadi inti dari MTQ, dari tilawah, dari hafalan, dari doa-doa yang kita panjatkan? Bahwa kita membaca bukan untuk lomba, bukan untuk juara, bukan untuk hadiah.

    Kita membaca karena cinta. Kita melafalkan karena cinta. Kita mengulang ayat-ayat itu karena cinta. Dan cinta itulah yang akan menuntun kita, meski suara kita parau, meski hafalan kita terbata, meski tartil kita tidak sempurna.

    Ketika saya menuliskan ini, cahaya drone malam itu masih terbayang jelas di kepala saya. Huruf-huruf bercahaya itu masih menempel di hati saya. Mereka telah padam di langit, tetapi mereka masih menyala di dada saya. Dan mungkin memang begitu cara Tuhan bekerja: cahaya di langit hanya sebentar, tetapi cahaya di hati bisa bertahan lama, bahkan seumur hidup.

    Saya membayangkan suatu hari nanti, anak-anak kafilah yang saya dampingi akan mengenang malam itu. Bukan karena megahnya panggung, bukan karena panjangnya pidato, tetapi karena mereka pernah menengadah dan melihat langit menulis ayat dengan cahaya.

    Dan mungkin dari kenangan itu, cinta mereka kepada Al-Qur’an akan tumbuh. Cinta yang sederhana, cinta yang tidak mencari juara, cinta yang tidak membutuhkan hadiah, tetapi cinta yang membuat mereka ingin terus membaca, terus mendekat, terus menundukkan hati.

    Pada akhirnya, kemenangan sejati bukanlah ketika nama mereka diumumkan sebagai juara. Kemenangan sejati adalah ketika mereka tetap membuka mushaf meski tidak ada yang menilai, ketika mereka tetap melafalkan ayat meski tidak ada yang mendengarkan, ketika mereka tetap berdoa meski tidak ada yang mengaminkan. Kemenangan sejati adalah ketika mereka bisa meraih rida Tuhan melalui cinta yang tulus.

    Dan saya percaya, doa yang lahir dari cinta tidak akan pernah padam. Ia akan terus menyala, bahkan setelah semua lampu stadion dipadamkan, bahkan setelah semua orang pulang, bahkan setelah semua lomba selesai. Doa itu akan tetap ada, menempel di hati, berjalan bersama kehidupan, menyinari jalan yang panjang.

    Doanya sederhana: jangan berhenti membaca, meski tak bersuara. Jangan berhenti mencari, meski hanya lewat cahaya. Jangan berhenti mencinta, meski sebentar saja. Dan saya tahu, doa itu akan terus menyala, bahkan setelah tulisan ini selesai.

  • Perpustakaan Cendana, Pusat Semangat Literasi Warga Karangrejo

    Perpustakaan Cendana, Pusat Semangat Literasi Warga Karangrejo

    Desa Karangrejo di Kecamatan Blimbingsari memiliki salah satu daya tarik yang membedakannya dari desa lain, yakni keberadaan perpustakaan desa dengan koleksi yang lengkap dan terawat.

    Perpustakaan yang dikenal dengan nama Perpustakaan Cendana ini setiap hari selalu ramai dikunjungi warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang datang untuk membaca atau sekadar mencari inspirasi dari buku yang tersedia.

    Koleksi buku di Perpustakaan Cendana sangat beragam. Tidak hanya buku bacaan umum, tetapi juga terdapat buku-buku tentang usaha dan pengembangan keterampilan.

    Hal ini membuat perpustakaan benar-benar menjadi sarana belajar sekaligus ruang berbagi pengetahuan bagi masyarakat Karangrejo.

    Kepala Desa Karangrejo, Subandriyo, menuturkan bahwa keberadaan perpustakaan ini menjadi kebanggaan seluruh warga.

    Kepala Desa Karangrejo
    Subandriyo, Kepala Desa Karangrejo

    “Perpustakaan ini bisa berdiri kokoh berkat kerja sama semua pihak. Perangkat desa dan masyarakat sama-sama menjaga dan menghidupkan. Kolaborasi adalah kunci utama keberhasilannya,” ucapnya.

    Sekretaris Desa Karangrejo, Abdul Haris, juga menambahkan pentingnya keberadaan perpustakaan ini.

    “Di sini ada berbagai jenis buku, termasuk buku tentang usaha. Harapannya, ketika masyarakat membaca, mereka bisa mendapatkan ide dan semangat baru untuk mencoba hal-hal yang bermanfaat,” ujarnya.

    Perpustakaan Cendana tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga telah mengukir prestasi.

    Tahun ini, perpustakaan desa Karangrejo berhasil masuk enam besar dalam ajang Apresiasi Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (APPPU) Terbaik Desa tingkat Provinsi Jawa Timur.

    Prestasi tersebut menjadi bukti nyata bahwa perpustakaan desa ini terus berkembang dan mampu bersaing di level provinsi.

    Pemerintah Desa Karangrejo berharap perpustakaan yang telah menjadi kebanggaan bersama ini dapat terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mempertahankan prestasi yang pernah diraih.

  • Rumah Besar Kita Sedang Berlayar

    Rumah Besar Kita Sedang Berlayar

    Rumah Besar Kita Sedang Berlayar – Syafaat

    Negeri ini bukan sekadar tanah, bukan sekadar udara dan batu, tapi ia adalah kekasih yang bernapas, yang menangis dalam senja dan tersenyum di fajar. Ia lahir dari darah yang meresap ke bumi, dari keringat yang menempel di batu-batu, dari rintihan sunyi yang dipanjatkan dalam doa.

    Para pendahulu kita mencintainya dengan pengorbanan yang tak masuk akal: senjata seadanya, perut keroncongan, tubuh ringkih, tapi hati mereka membara, tekad mereka lebih keras dari baja.

    Dari penderitaan dan cinta itu, lahirlah rumah bernama Indonesia, sebuah hati yang kita jaga bersama, yang kita rawat dengan harapan dan doa yang tak pernah padam.

    Rumah itu berdiri di atas kesepakatan bersama, cinta yang disepakati semua hati. Bahasa kita satu, nasib kita satu, perbedaan bukan alasan untuk terpisah.

    Suku-suku yang ratusan jumlahnya, budaya yang bertubrukan di perempatan sejarah, keyakinan yang kadang berbeda bahkan bertolak belakang, semuanya dipayungi oleh satu kata yang lebih besar daripada ego: Indonesia.

    Di rumah itu, setiap suara adalah bisikan cinta, setiap langkah adalah tarian hati, setiap tangan yang terulur bukan untuk diri sendiri semata, tetapi untuk menahan dinding tetap tegak, agar atap tak roboh, agar jiwa rumah tetap hangat.

    Rumah ini bukan sekadar bangunan, tapi tubuh kekasih yang kita peluk bersama, yang kita sayangi, yang setiap retaknya terasa seperti luka di hati kita sendiri.

    Perbedaan diolah menjadi harmoni rapuh namun indah, seperti sungai yang mengalir di antara batu-batu berwarna, menyatu tanpa kehilangan bentuk masing-masing.

    Bahasa yang satu bukan sekadar kata, tetapi rindu yang diamini bersama; nasib yang satu bukan sekadar nasib individu, tetapi nasib kolektif yang menuntut pengorbanan, perhatian, dan kesadaran bahwa runtuhnya satu bagian akan menimpa seluruh rumah.

    Rumah ini menuntut kesabaran, keberanian mengakui kesalahan, kebijaksanaan menahan amarah, kasih untuk menambal setiap retak dengan kelembutan.

    Indonesia bukan sekadar nama, bukan sekadar tanah dan air, melainkan kekasih yang jiwa-jiwanya kita rawat bersama, sejarahnya menjadi doa panjang, harapannya cahaya yang tak pernah padam meski badai terus datang.

    Tetapi rumah ini, betapapun megah, tak pernah selesai sekali jadi. Selalu ada genteng yang rembes ketika hujan, dinding yang merekah dimakan waktu, kayu yang lapuk bila penghuninya hanya sibuk menolong diri sendiri.

    Menjaga rumah ini adalah menjaga hati kita sendiri; keruntuhannya adalah patah hati kita, keutuhannya adalah kebahagiaan yang kita bagi bersama.

    Pada malam sunyi, ketika lampu padam dan jangkrik bernyanyi, terbayang kekasih bernama Indonesia, dibangun dengan tergesa sekaligus cinta yang membara. Tiangnya kokoh namun belum dipoles, dinding menjulang tapi kasar, atap tegak meski banyak genteng belum rapat.

    Tergesa itu bukan semata ingin berteduh, tetapi karena luka yang ingin segera diobati dengan persatuan, karena hati yang ingin segera dimiliki bersama. Rumah itu dibangun dari bahan seadanya tapi dengan doa yang tak putus, bata rapuh diperkuat harapan, kayu basah dipanaskan semangat.

    Ia berdiri bukan hanya sebagai tempat berteduh, tetapi sebagai pernyataan: bangsa ini memilih mencintai bersama, meski fondasinya belum sempurna, retakan kecil selalu muncul, dan hanya dengan kesabaran serta ketulusan rumah itu bisa bertahan.

    Hari-hari berlalu. Rumah itu semakin ramai. Anak-anak lahir, cucu-cucu tumbuh. Ada yang rajin membersihkan, ada yang menumpang tidur. Ada yang menyumbang bata, ada yang mencuri kayu.

    Rumah besar itu mulai retak. Retakan kecil, awalnya bisa ditambal tipis, lama-lama dibiarkan. Kita terlalu sibuk. Terlalu lelah. Terlalu mementingkan diri sendiri.

    Kadang negeri ini bukan rumah, tapi perahu yang berlayar di samudra luas, laut yang tak pernah tenang, sesekali hanya beriak kecil, tiba-tiba badai menghadang.

    Perahu itu bernama Indonesia. Kapal-kapal megah berlayar di sekitarnya, dengan layar menjulang, mesin modern, nahkoda terdidik.

    Sedangkan perahu kita sederhana: kayu sederhana, layar tambal dari kain lusuh, tali kadang putus, kemudi retak.

    Namun dengan perahu rapuh inilah pelayaran ditempuh, badai ditantang, gelombang dihadapi, keselamatan tercapai bukan karena keelokan kapal, tapi karena kebersamaan penumpang, doa yang dipanjatkan, dan keyakinan akan arah tujuan.

    Sejarah menuliskan, perahu bernama Indonesia ini pernah oleng, nyaris karam. Namun selalu muncul tangan-tangan yang menambal celah dengan kesetiaan, bahu-bahu yang memikul beban dengan keikhlasan. Badai tidak pernah pergi, ombak terus silih berganti, tapi perahu itu tetap bertahan.

    Rahasianya: keyakinan dan cinta yang melingkupi setiap penumpang. Perahu tetap berlayar meski retak, dengan cahaya harapan yang tak pernah padam.

    Masalah muncul bukan dari laut, bukan dari badai, tetapi dari kita yang ada di dalam perahu. Kita sibuk bertikai, berebut kemudi, tarik layar, saling menyalahkan. Ketika retakan muncul, tak ada yang menambalnya.

    Kita terlalu sibuk membuktikan siapa yang lebih pantas menjadi nahkoda, padahal kekasih ini menangis pelan di setiap retak yang kita abaikan.

    Di era digital, perpecahan tumbuh cepat. Media sosial menjadi pasar riuh sekaligus arena yang menelanjangi manusia. Ada anak muda yang bunuh diri karena dibuli komentar, ada yang diperas karena rekamannya tersebar

    Dunia maya, awalnya jendela kebebasan, berubah menjadi ruang penyiksaan. Retakan perahu hari ini bukan hanya politik dan ekonomi, tapi juga dari sikap kita: jari-jari yang mengetik terlalu cepat, mulut yang ringan menghina, hati yang tipis empati.

    Kita tidak ingin hanya meratap. Retakan bisa ditambal. Rumah bisa diperbaiki, perahu dikuatkan kembali.

    Caranya sederhana tapi tidak mudah: dengan kebersamaan, dengan cinta yang tulus. Ambil semen kesadaran, pasir kesabaran, air pengertian, lalu tambal dinding rumah kita.

    Jika perahu bocor, ambil papan persaudaraan, paku dengan tekad bersama, ikat dengan cinta, ia akan kuat kembali. Menambal retakan bukan pekerjaan satu orang. Semua harus bergerak. Semua harus turun tangan.

    Bayangkan Indonesia sebagai kekasih yang kita cintai dengan seluruh jiwa. Kekasih yang menangis ketika retakan muncul, tersenyum ketika tangan kita menambal, yang berdebar ketika kita mengingatnya.

    Kekasih yang kita peluk dalam doa panjang, yang dulu dicintai para pejuang ketika darah menetes di tanah, yang dibisikkan para ibu ketika melepas anak berperang. Kekasih ini, yang kita warisi, belum selesai kita cintai, tapi terus kita jaga.

    Indonesia adalah perahu itu, rumah itu, kekasih itu. Mungkin tak sebesar kapal modern, tapi punya cerita panjang, daya tahan, dan jiwa yang tak mudah karam. Musuh sejati bukan sesama awak, tetapi badai, ombak, dan bajak laut di luar sana.

    Perahu ini, bagaimanapun keadaannya, adalah rumah kita. Rumah, betapapun rapuh, selalu layak kita jaga bersama. Jangan biarkan ia runtuh hanya karena kita sibuk mengeluhkan retakan kecil tapi enggan menambalnya. Rumah ini milik kita semua. Perahu ini milik kita semua. Negeri ini milik kita semua.

    Dan pada akhirnya, sebagaimana doa dan cinta yang tidak pernah putus, kita hanya bisa berserah, berharap perahu ini, betapapun retak, tetap membawa kita berlayar hingga sampai ke pantai tujuan, dengan kekasih di hati yang selalu menuntun, dengan cinta yang tak pernah surut, dan dengan harapan yang menyalakan lampu di gelapnya samudra.

    Penulis: Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

  • Meriahkan Hari Anak Nasional, TBM Al-Djawahir Gelar Lomba Puitisasi Alquran, Bercerita, dan Mewarnai Se-Kabupaten Banyuwangi

    Meriahkan Hari Anak Nasional, TBM Al-Djawahir Gelar Lomba Puitisasi Alquran, Bercerita, dan Mewarnai Se-Kabupaten Banyuwangi

    Memaknai setahun berdirinya Taman Baca Masyarakat (TBM) Al-Djawahir sekaligus menyambut Hari Anak Nasional, digelar serangkaian lomba kreatif dan literatif yang meliputi puitisasi Alquran, bercerita, serta menggambar dan mewarnai pada Ahad (20/7/2025) di kawasan kompleks TBM Al-Djawahir, Gambiran, Banyuwangi.

    Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas komunitas yang melibatkan TBM Al-Djawahir, Mak'E Mart, Posyandu Desa, komunitas Gotong Royong 45, Sanggar Merah Putih'45, Jaringan Rumah Kita Banyuwangi (JRKBB), media literasi sastrawacana.id/, media online jurnalnews, event organizer Senyum Agmadina, serta komunitas-komunitas literasi lainnya di Kabupaten Banyuwangi.

    Dalam sambutan pembukaan, Djawahir selaku pendiri TBM Al-Djawahir menyampaikan sejarah singkat berdirinya taman baca tersebut.

    Sambutan Pendiri TBM Al Djawahir

    Ia menuturkan bahwa TBM ini lahir dari semangat menyediakan ruang alternatif belajar bagi masyarakat, khususnya anak-anak di wilayah Gambiran dan sekitarnya, agar lebih dekat dengan budaya membaca.

    Pengalaman beliau saat di perpustakaan sekolah membekas untuk diteruskan iqro’ membaca ke anak cucu.

    Ketua panitia, Dafik Ismail, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan ini perdana yang juga sebagai tasyakuran mendapatkan hibah 1000 buku dari Perpustakaan Nasional berikut rak bukunya.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dari berbagai wilayah di Banyuwangi yang telah ikut berpartisipasi, serta kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini seperti Perpustakaan Nasional, Enggal Modified beserta pegiat literasi dan seniman yang jadi juri serta media partner. Semoga kegiatan ini bisa menjadi semangat bersama dalam membumikan literasi di kalangan generasi muda,” ujar aktivis dakwah dalam naungan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) ini.

    Sambutan juga diberikan oleh Yeti Chotimah yang turut menyemarakkan acara dengan membagikan sejumlah buku hasil karyanya sebagai hadiah bagi para pemenang lomba.

    Kehadiran hadiah buku ini diharapkan menjadi motivasi tersendiri bagi peserta untuk terus berkarya dan mencintai literasi. Antara lain buku Sejarah seni budaya, bathokan, cerpen bisikan manis serta yang baru diluncurkan Penerbit Erlangga Jakarta, yakni cerita rakyat maupun adat tradisi Banyuwangi seperti Keboan, Puter Kayun dan Mantu Kucing. Rencana akan terbit 11 judul buku.

    Rangkaian lomba untuk kategori puitisasi Alquran dan bercerita, pelaksanaan lomba dilakukan dalam dua tahap, yaitu seleksi video secara daring dan penampilan langsung di lokasi acara bagi tiga finalis terpilih di masing-masing kategori.

    juri lomba puitisasi alquran
    juri lomba puitisasi alquran (Dok. Fathma/Syifa)

    Dewan juri lomba puitisasi dan bercerita terdiri dari tiga tokoh literasi dan seni yang berpengalaman, yakni Maulana Affandi (penulis dan pemimpin redaksi Penerbit Lintang) sebagai ketua juri, Syaiful Anwar (guru SMK Muhammadiyah 1 Genteng sekaligus penulis aktif ), dan R. Ayu Pudjiati (seniman teater asal Madura).

    Ketiganya tak hanya menilai, tetapi juga memberikan masukan langsung kepada peserta yang tampil di panggung.

    Mereka menyoroti pentingnya penguasaan panggung, ekspresi wajah, gestur, hingga pemilihan diksi yang tepat agar pesan cerita atau puisi tersampaikan secara kuat dan menyentuh.

    Dalam penjelasannya, Maulana Affandi menyampaikan bahwa seluruh peserta yang tampil langsung di lokasi adalah anak-anak terbaik yang telah lolos proses seleksi ketat dari seluruh peserta yang mengirim video.

    “Anak-anak yang hadir di panggung ini adalah mereka yang terpilih, bukan sembarang peserta. Maka dari itu, orang tua patut berbangga karena putra-putrinya menunjukkan kualitas dan semangat yang luar biasa,” ujarnya dengan semangat.

    Syaiful Anwar juga menegaskan bahwa proses ini diibaratkan sebagai menjajaki anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai puncak.

    “Jadi, anggap saja perlombaan seperti ini sebagai proses anak menaiki anak tangga yang pada waktunya akan sampai di puncak,” jelasnya.

    Sementara itu, lomba menggambar dan mewarnai diperuntukkan bagi siswa TK dan SD, dan diikuti oleh puluhan peserta dari seluruh penjuru Kabupaten Banyuwangi.

    Suasana lomba tampak semarak karena para peserta datang bersama orang tua yang setia mendampingi.

    Sorak semangat, tawa anak-anak, serta dukungan dari para pendamping menambah hangat suasana kegiatan.

    Dewan juri untuk lomba mewarnai dan menggambar juga menghadirkan para praktisi seni dan pendidikan.

    lomba mewarnai dan menggambar
    lomba mewarnai dan menggambar (Dok. Fathma/Syifa)

    Ketua juri adalah Muhammad Taufik, S.Sn yang biasa dipanggil Oklek guru kesenian di SMP Muhammadiyah 1 (Muhi) Genteng.

    Ia didampingi oleh dua juri lainnya, yakni Indriana Laily dan Qurrota Ninin yang juga aktif dalam kegiatan seni dan pengembangan kreativitas anak.

    Dalam proses penilaian, Oklek tak lupa berpesan kepada segenap orang tua yang hadir agar terus mendampingi anak-anaknya untuk mengasah bakat seni yang dimiliki.

    “Anak-anak di sini sudah memiliki bakat seni yang luar biasa, jadi hendaknya didampingi terus, kalau bisa dihadirkan guru seni untuk mengasah bakatnya,” papar Oklek.

    Di akhir acara, para pemenang dari tiap kategori diumumkan dan diberikan penghargaan, berupa trofi, piagam, serta hadiah menarik.

    Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara para pemenang dan dewan juri sebagai penanda kebersamaan dan semangat literasi yang terus tumbuh di tengah masyarakat Banyuwangi.

  • Merawat Rasa Lewat Kata, Webinar Literasi Bahasa Indonesia dan Using Siap Lahirkan Generasi Penulis Baru

    Merawat Rasa Lewat Kata, Webinar Literasi Bahasa Indonesia dan Using Siap Lahirkan Generasi Penulis Baru

    Sebuah webinar literasi bertajuk Pelatihan Menulis Puisi dan Pentigraf Berbahasa Indonesia dan Using sukses diselenggarakan pada Jumat, 18 Juli 2025.

    Acara ini merupakan kolaborasi antara Penerbit Lintang Banyuwangi, media online sastrawacana.id/, dan komunitas literasi Kopiwangi.

    Kegiatan ini diikuti oleh 75 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, guru, hingga praktisi literasi.

    Mereka berkumpul secara daring untuk memperdalam wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan menulis sastra, khususnya puisi dan pentigraf, dalam dua bahasa: Indonesia dan Using.

    Webinar dipandu oleh Yeti Chotimah, seorang pendidik sekaligus penulis produktif yang telah menerbitkan sejumlah buku, termasuk yang bertema kebudayaan Banyuwangi.

    Jalannya acara semakin dinamis berkat kehadiran Qurrota Ninin sebagai pembawa acara, yang telah berpengalaman dalam berbagai kegiatan literasi dan kebudayaan.

    Tiga narasumber utama dihadirkan dalam webinar ini. Pertama, Maulana Affandi, penulis sekaligus pemimpin redaksi Penerbit Lintang.

    Kedua, Andi Budi Setiawan, penulis buku dan editor sastrawacana.id/ yang juga dikenal dengan nama pena Penapanuluh.

    Ketiga, Heri Iskandar dengan nama panggung Dzakawangi, pencipta lagu serta pemerhati bahasa Using yang aktif dalam pelestarian budaya lokal.

    Dalam pemaparannya, Maulana Affandi mengingatkan para peserta akan pentingnya warisan intelektual melalui karya tulis.

    Menurutnya, menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan ide, melainkan bentuk tanggung jawab pada generasi mendatang. Ia juga menegaskan jika penulis itu tak akan pernah mati karena pemikirannya selalu abadi.

    "Fisik kita akan lenyap suatu hari nanti, tapi pemikiran kita harus tetap hidup dan abadi di dalam buku. Maka, warisan terbaik adalah buku yang membuat kita akan dikenang oleh generasi selanjutnya," paparnya.

    Pemateri kedua, Andi Budi Setiawan yang telah menelurkan beberapa karya turut memberikan panduan teknis dalam menulis puisi dan pentigraf yang ideal.

    Salah satu poin yang ditegaskan adalah perihal pemilihan diksi yang harus dilakukan secara mendalam agar menghasilkan karya yang kuat dan penuh makna.

    "Diksi yang tepat akan menghidupkan puisi, bukan sekadar menghiasinya. Sebab, puisi itu perlu rasa yang dapat hadir dari pemilihan kata.”

    Kemudian, penulis buku Algoritma Cinta ini juga memberi tips kepada peserta untuk menggali inspirasi dari pengalaman pribadi dan suasana sekitar.

    Sementara itu, Heri Iskandar memberikan perspektif berbeda dengan menekankan pentingnya menulis dalam bahasa Using.

    Ia mencontohkan beberapa puisi karyanya dalam bahasa Using yang kemudian dijadikan lagu dan telah dikenal luas oleh masyarakat.

    “Saya mengajak generasi muda untuk bangga berbahasa Using. Jangan malu, karena jika kita tidak memakai bahasa ini, maka perlahan akan hilang dari kehidupan kita.”

    Webinar ini juga diwarnai sesi diskusi yang aktif. Salah satu peserta, Halili, S.HI, Kepala MTs Nurul Huda Blimbingsari, menyampaikan pertanyaan seputar cara menjaga konsistensi dalam menulis, terutama saat kehabisan ide.

    Heri Iskandar menjawab lugas, “Yang membuat tulisan tidak selesai biasanya rasa malas. Karena itu, semangat menulis harus dijaga. Jangan menunda-nunda, karena semakin ditunda, semakin berat untuk memulai kembali.”

    Sebagai penutup, panitia memberikan buah tangan berupa beberapa buku bagi peserta yang aktif dan berani berbicara tentang mimpinya menjadi penulis.

    Selain itu, disampaikan pula bahwa webinar ini akan berlanjut ke sesi kedua. Nantinya, para peserta akan diajak untuk menulis dan berkolaborasi dalam sebuah buku antologi yang rencananya akan diluncurkan bertepatan dengan peringatan Bulan Bahasa pada Oktober 2025.

    Webinar ini bukan sekadar pelatihan menulis, tetapi menjadi ruang temu yang memperkuat semangat literasi, melestarikan bahasa daerah, dan menumbuhkan kesadaran untuk berkarya sebagai bagian dari warisan budaya.

  • Bagaimana sikap tokoh aku setelah menyadari adanya seorang wanita tua mengikuti perlombaan tersebut?

    Bagaimana sikap tokoh aku setelah menyadari adanya seorang wanita tua mengikuti perlombaan tersebut?

    Pelari Terakhir

    Lomba maraton di kotaku biasanya diadakan setiap musim panas. Semua jalan raya yang dilalui para pelari akan ditutup aksesnya untuk semua kendaraan kecuali ambulans. Tugasku adalah mengikuti pelari dari belakang di ambulans sebagai petugas medis. Pak sopir dan aku berada di dalam mobil yang sejuk berkat AC, mulai mengikuti pelari dengan perlahan. Kami harus tetap berada di belakang pelari terakhir hingga mencapai garis finis.

    “Pak, saya harap pelari terakhir berlari dengan cepat!” kata Pak sopir sambil tertawa. Saat tanda untuk memulai maraton diberikan, para pelari terdepan mulai menjauh dari pandangan kami. Saat itu, mataku tertuju pada seorang wanita yang mengenakan celana biru dan baju putih longgar.

    “Pak, lihatlah itu,” kataku sambil menunjuk wanita tersebut di depan kami.

    Kami sadar bahwa dia akan menjadi “pelari terakhir”. Rambutnya beruban, postur tubuhnya tidak lagi tegap, dan kakinya sedikit pincang. Bahkan hanya berjalan pun sudah tampak sulit, apalagi mengikuti lomba maraton.

    Pak sopir dan aku memperhatikan wanita itu dengan diam. Kami akan bergerak maju sedikit, kemudian berhenti untuk menjaga jarak dari pelari terakhir. Lalu, kami maju lagi untuk terus mengikuti langkahnya. Saat aku menyaksikan perjuangannya, ada keinginan dalam hati untuk menghentikannya, tetapi pada saat yang sama, aku berdoa agar dia terus maju. Akhirnya, dia adalah satu-satunya pelari yang tersisa. Air mataku mengalir karena aku merasa takjub dan penuh hormat pada keberaniannya.

    Saat garis finis terlihat di kejauhan, sorak-sorai penonton sudah tidak terdengar lagi. Namun, seorang pria berdiri sendirian dengan bangga menunggu kedatangan pelari terakhir. Ia memegang salah satu ujung pita kertas yang terikat pada tiang. Pelan-pelan, pelari terakhir melintasi garis finis tersebut. Kedua ujung pita kertas itu berkibar di belakangnya.

    Aku tidak tahu nama wanita itu, tetapi sejak saat itu, dia menjadi bagian dari kehidupanku. Bagi wanita itu, maraton bukanlah tentang mengalahkan orang lain atau memenangkan piala. Ini tentang menyelesaikan apa yang sudah dimulainya, apa pun yang terjadi. Ketika aku menghadapi kesulitan dalam hidup, aku sering kali teringat pada pelari terakhir itu. Kemudian, aku menyadari betapa mudahnya tugas di hadapanku sebenarnya.

    Pertanyaan:

    Bagaimana sikap tokoh aku setelah menyadari adanya seorang wanita tua mengikuti perlombaan tersebut?

    Centang pada pilihan Benar atau Salah untuk setiap pernyataan berdasarkan isi teks!

    • Terharu melihat perjuangan wanita tua meskipun kondisi kakinya sedikit pincang. (Benar/Salah)
    • Bangga menunggu kedatangan wanita tua sebagai pelari terakhir yang melintasi garis finis. (Benar/Salah)
    • Terinspirasi oleh keteguhan wanita tua itu dalam menghadapi tantangan maraton. (Benar/Salah)

    Jawaban:

    Benar
    Salah
    Benar

    Penjelasan:

    Tokoh “aku” dalam cerita Pelari Terakhir menunjukkan sikap yang penuh empati dan penghargaan terhadap perjuangan wanita tua yang mengikuti lomba maraton meskipun kakinya pincang dan tubuhnya tampak lemah. Hal ini terlihat dari ungkapan bahwa ia sampai meneteskan air mata karena merasa takjub dan hormat atas keberanian wanita tersebut. Maka, pernyataan pertama adalah Benar karena menggambarkan perasaan terharu tokoh utama melihat semangat wanita tua.

    Pernyataan kedua adalah Salah, karena tokoh “aku” tidak digambarkan sebagai orang yang bangga menunggu di garis finis. Justru, yang melakukan itu adalah seorang pria tak dikenal yang berdiri sendirian dan memegang pita kertas sebagai simbol penyambutan bagi pelari terakhir.

    Pernyataan ketiga adalah Benar, sebab tokoh “aku” mengakui bahwa sejak kejadian itu, sosok wanita tua tersebut telah menjadi bagian dari hidupnya. Ia sering mengingatnya saat menghadapi kesulitan, dan dari situlah ia mendapatkan inspirasi untuk tidak mudah menyerah. Artinya, tokoh “aku” benar-benar terinspirasi oleh keteguhan wanita tua itu.

  • Hidupkan Literasi, Gubernur Sulbar Wajibkan Siswa Baca 20 Buku Sebagai Syarat Lulus

    Hidupkan Literasi, Gubernur Sulbar Wajibkan Siswa Baca 20 Buku Sebagai Syarat Lulus

    Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) membuat kebijakan menarik demi menumbuhkan budaya baca di kalangan pelajar, khususnya siswa setingkat SMA/SMK.

    Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, mengeluarkan surat edaran yang mewajibkan setiap siswa untuk membaca minimal 20 judul buku sebagai syarat kelulusan.

    Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Nomor 000.4.14.1/174//11/2025 yang diteken pada 5 Juli 2025 dan disampaikan ke seluruh Bupati, Kepala Dinas Pendidikan, serta instansi terkait di Sulawesi Barat.

    Menurut Gubernur Suhardi Duka, budaya membaca adalah pondasi penting dalam membangun kecerdasan bangsa.

    “Gerakan ini menjadi salah satu upaya nyata Pemprov Sulbar dalam membangun generasi literat sebagai fondasi pembangunan daerah menuju Sulawesi Barat maju dan sejahtera,” ujar Suhardi.

    Langkah ini juga sesuai dengan Undang‑Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

    Dengan mewajibkan siswa membaca 20 buku, diharapkan literasi mereka meningkat signifikan yang pada gilirannya mendukung perkembangan Sulawesi Barat yang lebih maju.

    “Pentingnya pengembangan budaya membaca sebagai bagian dari pembangunan kecerdasan bangsa, sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan,” kata Suhardi.

    Dari 20 judul yang wajib dibaca, dua di antaranya harus membahas tokoh lokal, yaitu Andi Depu, pahlawan wanita asal Sulbar dan Baharuddin Lopa, mantan Jaksa Agung RI.

    Tujuannya bukan hanya mendorong minat baca, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap sejarah dan budaya daerah.

    Tidak hanya soal membaca, kebijakan ini juga mendorong kehadiran pojok baca atau perpustakaan mini di setiap sekolah dan kantor pemerintahan.

    Gubernur memerintahkan agar perpustakaan di sekolah diperbaiki dan dikelola dengan baik. Siswa diminta mengunjungi perpustakaan setidaknya satu kali seminggu.

    Tak ketinggalan, dana BOS dialokasikan untuk mendukung sarana dan buku perpustakaan sesuai Permendikbudristek No. 63 Tahun 2023.

    Tak hanya jenjang SMP dan SMK, Sekolah dasar (SD), madrasah, hingga instansi pemerintahan juga diimbau menerapkan program serupa.

    Dengan membangun budaya baca dari usia dini, pemprov berharap Sulbar mampu mengurangi kesenjangan informasi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di semua jenjang.

    Program ini adalah contoh konkret bahwa literasi adalah kunci membangun bangsa cerdas yang dimulai dari sekolah dan terus menjalar ke seluruh lapisan masyarakat.

  • Program Literasi Desa Segera Dimulai, PLT Camat Rogojampi Dukung Setiap Desa Mengabadikan Sejarah dan Potensinya

    Program Literasi Desa Segera Dimulai, PLT Camat Rogojampi Dukung Setiap Desa Mengabadikan Sejarah dan Potensinya

    Pemerintah Kecamatan Rogojampi terus menunjukkan komitmen serius dalam mendorong budaya literasi serta pelestarian warisan lokal melalui peluncuran program bertajuk Literasi Desa.

    Program ini dilaksanakan atas kerja sama dengan Penerbit Lintang Banyuwangi dan media literasi online sastrawacana.id/, serta melibatkan para pegiat literasi dan budayawan.

    Program Literasi Desa dirancang untuk mendorong setiap desa di wilayah Kecamatan Rogojampi menuliskan sejarah, kebudayaan, tradisi, tokoh penting, serta potensi yang dimiliki desanya.

    Karya-karya tersebut nantinya akan dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buku antologi, yang tidak hanya menjadi dokumentasi penting, tetapi juga sumber inspirasi dan referensi bagi generasi muda dan masyarakat luas.

    PLT Camat Rogojampi, Edy Basuki, SE, memberikan dukungan penuh terhadap program ini dan menyambut antusias partisipasi desa-desa yang akan terlibat dalam penulisan.

    “Program ini merupakan inovasi untuk meningkatkan literasi yang ada di Kecamatan Rogojampi. Dengan ini, diharapkan agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih mengenal desanya sendiri,” kata Edy.

    Menurutnya, banyak potensi dan kekayaan budaya yang selama ini belum terdokumentasikan secara layak, sehingga rentan terlupakan.

    Ia menegaskan bahwa dokumentasi dalam bentuk karya tulis merupakan bentuk pelestarian yang efektif dan abadi.

    “Jika tidak diabadikan dalam sebuah karya, setiap potensi desa akan terkikis seiring waktu. Kita punya kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa, dan itu harus diwariskan dalam bentuk yang bisa dibaca dan dipelajari sepanjang zaman,” tegasnya.

    Program Literasi Desa
    Program Literasi Desa (Dok. sastrawacana.id/)

    Sebagai contoh, Desa Kedaleman yang berada di wilayah Kecamatan Rogojampi dikenal memiliki beragam tradisi lokal yang khas dan menarik, seperti Ider Bumi, sebuah tradisi spiritual yang dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan desa, serta Pencak Obor, pertunjukan seni bela diri yang dilakukan dengan nyala obor sebagai simbol semangat dan keberanian.

    Tradisi-tradisi semacam ini merupakan warisan leluhur yang sarat makna dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat desa.

    Namun, tanpa dokumentasi tertulis, nilai-nilai tersebut bisa saja hilang ditelan zaman, terlebih saat ini sudah memasuki era digital yang sangat padat informasi.

    Dengan hadirnya program Literasi Desa, sejarah dan kekayaan budaya desa-desa akan terkuak dan tersaji dalam buku yang dapat dibaca oleh siapa saja, termasuk oleh generasi mendatang yang mungkin sudah tidak mengalami langsung masa-masa kejayaan tradisi tersebut.

    Buku ini diharapkan menjadi rujukan penting, semacam ensiklopedia desa yang berisi kisah otentik tentang bagaimana sebuah komunitas tumbuh, berkembang, dan hidup dalam bingkai nilai-nilai lokalnya.

    Kecamatan Rogojampi juga telah terlebih dahulu menunjukkan komitmennya terhadap gerakan literasi dengan membentuk sudut baca atau perpustakaan desa di setiap balai desa.

    Berkat inisiatif ini, Kecamatan Rogojampi berhasil meraihJuara Harapan dalam lomba perpustakaan tingkat kabupaten, membuktikan bahwa upaya literasi di kawasan ini bukan hanya slogan semata.

    Untuk mendukung implementasi program Literasi Desa, Kecamatan Rogojampi merangkul beberapa tokoh serta pegiat literasi di Banyuwangi, seperti Aguk Wahyu Nuryadi (budayawan yang juga pengurus Forum Banyuwangi Sehat), Maulana Affandi (pemimpin Redaksi Penerbit Lintang dan media online sastrawacana.id/), Yeti Chotimah (penulis sekaligus pemerhati budaya), Andi Budi Setiawan (sastrawan sekaligus ketua Kopiwangi), serta Heri Iskandar (penulis puisi dan pencipta lagu).

    Semuanya akan menjadi pendamping desa dalam proses penulisan, dari pembekalan teknis, penyusunan naskah, hingga kurasi isi sebelum diterbitkan.

    Aguk Wahyu Nuryadi yang akrab disapa Bung Aguk selaku koordinator tim menyambut baik program ini dan mengungkapkan optimismenya bahwa masyarakat desa mampu menghasilkan karya yang berkualitas.

    “Kami siap mendampingi desa-desa untuk menggali dan merangkai potensi lokal mereka dalam bentuk tulisan. Program ini luar biasa karena bukan hanya bicara literasi, tetapi juga tentang pelestarian budaya dan sejarah yang selama ini tersembunyi,” ucap Bung Aguk.

    Sementara itu, Maulana Affandi menekankan pentingnya menjadikan setiap desa sebagai subjek sejarahnya sendiri.

    “Kami percaya bahwa setiap desa punya kisah. Ada narasi lokal yang layak ditulis, ada potensi yang perlu dipetakan, dan ada sejarah yang perlu diangkat ke permukaan. Melalui program ini, kami ingin membantu desa menyuarakan identitasnya sendiri,” ujar Affandi.

    Dalam waktu dekat, Kecamatan Rogojampi akan mengundang seluruh kepala desa dan sekretaris desa untuk menghadiri pertemuan awal sebagai langkah pembuka.

    Pertemuan ini akan menjadi ajang perkenalan, pengarahan, dan penyusunan strategi pendampingan literasi desa yang sistematis dan terukur.

    Program ini bukan hanya soal menulis, tetapi tentang membangun kesadaran kolektif bahwa desa adalah pusat pengetahuan yang autentik.

    Ketika desa mampu menarasikan dirinya sendiri, maka pembangunan berbasis identitas lokal akan semakin kuat dan berkelanjutan.

    Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pegiat literasi, dan masyarakat, Literasi Desa diharapkan menjadi model inspiratif bagi kecamatan lain di Banyuwangi, bahkan di Indonesia dalam menanamkan budaya menulis dan mencintai sejarah sendiri.

  • Literasi Jadi Sorotan di Classion 2025: SMKPRO Buktikan Komitmen sebagai Sekolah Literasi Nasional

    Literasi Jadi Sorotan di Classion 2025: SMKPRO Buktikan Komitmen sebagai Sekolah Literasi Nasional

    SMK PGRI Rogojampi menggelar kegiatan classmeeting bertajuk “Classion – Classmeeting & Fusion” dengan mengusung tema “Kolaborasi dan Kompetisi antar Kelas yang Seru & Harmonis” pada Selasa, 17 Juni 2025.

    Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengisi waktu setelah pelaksanaan Penilaian Sumatif Akhir Semester (PSAS) Genap selesai.

    Classmeeting tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena menghadirkan kolaborasi antara unsur atletik, seni, dan literasi.

    Peserta didik dari kelas X dan XI berpartisipasi dengan mengirimkan perwakilan dari tiap kelas untuk mengikuti berbagai lomba yang telah dijadwalkan.

    Kegiatan Classion berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 17 hingga 19 Juni 2025, bertempat di kampus SMK PGRI Rogojampi.

    Lomba atletik dan seni dilangsungkan di lapangan sekolah, sementara lomba literasi dipusatkan di aula.

    Salah satu panitia dari OSIS menyampaikan, “Classmeeting tahun ini berbeda dari sebelumnya. Adanya lomba literasi, khususnya cipta dan baca puisi, memberikan kesan tersendiri bagi peserta.”

    Apel pembukaan yang digelar pada pukul 07.00 WIB dipimpin oleh Waka Kesiswaan, Ahmad Misadi, S.P., S.Pd., sebagai pembina sembari memberikan motivasi kepada para peserta.

    Dalam amanatnya ia menyampaikan agar para siswa menjadikan kegiatan classmeeting ini untuk wadah belajar dan berkompetisi secara positif.

    “Jadikan kegiatan classmeeting ini bukan hanya momen untuk kesenangan, tapi juga sebagai wadah belajar dan berkompetisi, melatih sportivitas serta rasa tanggung jawab.”

    Tahun ini, SMK PGRI Rogojampi juga berpartisipasi dalam Program Sekolah Literasi Nasional 2025 yang diadakan oleh Nyalenesaia.

    Hal ini selaras dengan penyelenggaraan lomba literasi cipta dan baca puisi yang memberikan ruang serta peluang bagi peserta didik pecinta literasi untuk semakin bersemangat berkarya.

    Adapun jenis lomba yang digelar dalam Classion 2025 meliputi:

    • Lomba cipta & baca puisi
    • Balap karung
    • Estafet borung
    • Senam
    • Mendongeng
    • Octopus race
    • Estafet sedotan
    • Tari

    Lomba cipta dan baca puisi dilaksanakan dalam dua sesi terpisah. Pada sesi pertama, yaitu lomba cipta puisi, setiap peserta diwajibkan melakukan registrasi sebelum memasuki ruang lomba yang telah ditentukan.

    Dalam ruangan tersebut, peserta hanya diperkenankan membawa bolpoin, sedangkan kertas disediakan langsung oleh panitia.

    Aturan ini diterapkan untuk memastikan bahwa setiap puisi yang ditulis merupakan hasil karya orisinal peserta, tanpa bantuan teknologi apa pun, termasuk kecerdasan buatan (AI), dan sesuai dengan tema yang telah ditentukan.

    Peserta diberikan waktu 40 menit untuk menyelesaikan puisinya. Hasil karya kemudian dikumpulkan untuk dinilai oleh dewan juri.

    Tidak hanya menulis, peserta juga diwajibkan membacakan puisinya dalam sesi kedua lomba baca puisi.

    Penilaian dilakukan berdasarkan dua aspek: kualitas cipta puisi dan performa baca puisi dengan kriteria yang telah ditetapkan.

    Antusiasme peserta sangat tinggi, terlihat dari banyaknya pendaftar dalam lomba cipta dan baca puisi.

    Fakta ini membuktikan bahwa tingkat literasi di SMK PGRI Rogojampi mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya dan menjadi nilai tambah yang berpengaruh dalam akreditasi sekolah.

    Sesi kedua lomba baca puisi berlangsung meriah dan penuh ketegangan.

    Para peserta tampak antusias, meski tak sedikit yang menunjukkan raut gugup hingga pucat saat naik ke panggung untuk membacakan karya mereka secara langsung.

    Penilaian dilakukan berdasarkan tiga aspek utama: vokal, ekspresi, dan totalitas penampilan.

    Salah satu juri, Andi Budi Setiawan, menyampaikan, “Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang telah sampai tahap ini. Kalian semua adalah pemenang karena sudah dipercaya sebagai perwakilan kelas. Berikan penampilan terbaik sesuai kriteria yang sudah ditentukan. Selamat berkompetisi!”

    Para peserta benar-benar memberikan performa maksimal.

    Dewan juri pun menghadapi tantangan berat dalam menentukan juara 1, 2, dan 3 karena banyak peserta yang tampil luar biasa dengan vokal yang kuat, ekspresi penuh makna, dan totalitas dalam pembacaan puisi.

    Secara keseluruhan, semua peserta memberikan pertunjukan yang memukau bagi para penonton.

    Lomba baca puisi menjadi penutup kegiatan Classion hari pertama dengan kesan yang mendalam. Pada hari kedua, agenda dilanjutkan dengan lomba mendongeng menggunakan Bahasa Using (bahasa asli masyarakat Banyuwangi).

    Sedangkan hari ketiga akan diisi dengan lomba tari dan puncaknya adalah penyerahan penghargaan (award) kepada para pemenang.

    Kegiatan Classion ini bukan hanya sekadar ajang kompetisi sehat, melainkan juga sebagai ruang kolaborasi dan ekspresi kreativitas siswa di berbagai bidang. Semangat ini selaras dengan jargon SMKPRO:

    “SMK Bisa! SMK Hebat! SMK PGRI Rogojampi Bisa! Hebat! Siapa Kita? SMKPRO!”