Tag: literasi

  • Perkuat Budaya Baca Sejak Dini, Penerbit Lintang dan Dinas Perpustakaan Banyuwangi Kunjungi MI Kedaleman

    Perkuat Budaya Baca Sejak Dini, Penerbit Lintang dan Dinas Perpustakaan Banyuwangi Kunjungi MI Kedaleman

    Upaya menghidupkan budaya literasi di kalangan pelajar terus dilakukan oleh Penerbit Lintang bersama media literasi sastrawacana.id/ dengan melakukan kunjungan serta donasi buku.

    Kegiatan ini menyasar lembaga-lembaga pendidikan di berbagai wilayah Banyuwangi sebagai bagian dari gerakan penguatan minat baca sejak dini.

    Kunjungan kali ini terasa lebih istimewa karena dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, S.E., M.Si., yang berlangsung di MI Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, pada Rabu (17/12/2025).

    Di sela-sela kesibukannya, Yusdi Irawan menyempatkan diri untuk turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi dalam mendukung penguatan budaya baca di lingkungan sekolah.

    Kehadirannya sekaligus menjadi wujud perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan perpustakaan sekolah sebagai sarana edukatif yang strategis bagi pembentukan karakter dan peningkatan kualitas literasi peserta didik sejak usia dini.

    Kunjungan Perpusda di MI Kedaleman

    Dalam kesempatan tersebut, Yusdi Irawan memantau langsung kondisi perpustakaan MI Kedaleman sekaligus berdialog dengan pihak sekolah terkait literasi.

    Selain menyerahkan sejumlah buku, ia juga memberikan masukan yang berhubungan dengan pengelolaan perpustakaan dan strategi menumbuhkan minat baca siswa sejak usia dini.

    Menurutnya, keberadaan perpustakaan sekolah harus dimaknai lebih dari sekadar fasilitas pelengkap, melainkan sebagai ruang pembelajaran yang aktif dan berkelanjutan.

    “Perpustakaan sekolah bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga menjadi ruang yang hidup dan mampu menumbuhkan minat baca anak-anak. Jadi, perlu ada rutinitas membaca karena kebiasaan akan berubah menjadi budaya membaca,” ujar Yusdi Irawan.

    Ia menambahkan, penguatan literasi sejak sekolah dasar menjadi fondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia di masa depan.

    Kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua Kopiwangi, Andi Budi Setiawan, S.Pd., yang dalam kesempatan itu menyerahkan sejumlah buku, termasuk karya tulisnya sendiri.

    Seperti diketahui, Andi Budi Setiawan merupakan penulis asal Banyuwangi yang telah melahirkan berbagai karya sastra serta aktif mendorong gerakan literasi di daerah.

    Kepala Sekolah MI Kedaleman, Nur Lailiyah, S.Ag, menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan perhatian yang diberikan.

    Ia menilai kehadiran Kepala Dinas Perpustakaan bersama Penerbit Lintang dan sastrawacana.id/ menjadi semangat baru bagi sekolah.

    “Kunjungan ini menjadi energi positif bagi kami. Kami merasa mendapat dukungan moral untuk terus mengembangkan perpustakaan serta budaya membaca di sekolah,” ungkap Nur Lailiyah.

    Ia berharap ke depan dapat terjalin kolaborasi berkelanjutan dengan Perpustakaan Daerah Banyuwangi.

    Sebagai informasi, MI Kedaleman Rogojampi dikenal sebagai salah satu sekolah yang memiliki keunggulan dalam bidang keagamaan.

    Para siswa dibekali pendidikan akhlakul karimah sejak dini sebagai fondasi pembentukan karakter.

    Melalui penguatan literasi yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan, sekolah ini berupaya mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

    Sementara itu, Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang, Maulana Affandi, S.S., menegaskan bahwa kegiatan donasi buku dan kunjungan sekolah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Penerbit Lintang dalam mendukung gerakan literasi di Banyuwangi.

    “Kami percaya bahwa literasi tidak bisa dibangun secara instan. Butuh kehadiran, ketelatenan, dan kerja bersama berbagai pihak. Kunjungan seperti ini adalah upaya sederhana kami untuk menghadirkan buku lebih dekat dengan anak-anak, sekaligus menumbuhkan kecintaan mereka pada membaca,” ujar Maulana Affandi.

    Menurutnya, sinergi antara komunitas literasi, media, sekolah, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem literasi yang sehat dan berkelanjutan.

    Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan dan menjangkau lebih banyak sekolah, terutama di wilayah-wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses bacaan.

    Kegiatan donasi buku dan kunjungan ini diharapkan menjadi langkah kecil namun berkelanjutan dalam menumbuhkan semangat membaca serta memperkuat ekosistem literasi di Banyuwangi.

  • Daftar Pemenang Lomba Literasi HUT ke-26 DWP Cabdindik Banyuwangi

    Daftar Pemenang Lomba Literasi HUT ke-26 DWP Cabdindik Banyuwangi

    Perayaan HUT ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Cabdindik Kabupaten Banyuwangi berlangsung dengan nuansa yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

    Bertempat di Aula SMKN 1 Glagah pada Sabtu (6/12/2025), acara tahun ini tak hanya diisi seremonial, tetapi juga diramaikan dengan gelaran lomba menulis cerpen dan cipta baca puisi yang menjadi pusat perhatian seluruh peserta.

    Inisiatif menghadirkan ajang literasi ini datang dari Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E, yang ingin membuka ruang kreatif bagi perempuan di lingkungan pendidikan.

    Sebanyak 29 lembaga berpartisipasi, menghadirkan semangat yang membuat suasana pagi terasa begitu hidup.

    Menurut Siti Nurjanah, kegiatan ini adalah langkah kecil namun berarti dalam mendorong anggota DWP untuk berani mengekspresikan gagasan mereka.

    Ia menilai, banyak potensi yang selama ini tersimpan dan perlu mendapat ruang untuk ditampilkan.

    Adapun juri yang dihadirkan merupakan pegiat literasi yang telah berpengalaman di berbagai kegiatan kepenulisan dan kesastraan, yakni Maulana Affandi, S.S. dan Andi Budi Setiawan, S.Pd.

    Kehadiran para juri ini turut memberikan warna tersendiri, karena peserta dapat memperoleh penilaian sekaligus masukan langsung dari praktisi yang aktif berkecimpung di dunia literasi.

    Dalam proses penjurian, setiap karya dinilai melalui sejumlah kriteria yang telah ditetapkan.

    Untuk kategori cipta baca puisi, penilaian difokuskan pada pemilihan diksi, kedalaman makna, serta penampilan saat membacakan karya.

    Sementara itu, pada lomba menulis cerpen, juri menilai struktur dan isi cerita yang mencakup tema, alur, perwatakan, dan latar.

    Keindahan bahasa juga menjadi aspek penting, terlihat dari ketepatan diksi, gaya bahasa yang digunakan, serta keefektifan kalimat.

    Tak kalah diperhatikan adalah aspek teknis seperti tata bahasa, ejaan, tanda baca, hingga kerapian tulisan.

    Keseluruhan kriteria ini dirancang untuk memastikan setiap karya tampil utuh, kuat, dan bernilai secara literer.

    Setelah melalui proses penilaian oleh juri pegiat literasi, terpilihlah sejumlah nama yang dinyatakan sebagai pemenang untuk dua kategori perlombaan tersebut. Berikut daftarnya:

    Pemenang Lomba Cipta Baca Puisi

    • Juara 1: Siri Rohmatin Nazilah — SMAN 1 Glagah
    • Juara 2: Muntamah Khoir — SMKN 1 Banyuwangi
    • Juara 3: Danik Suselowati — SMAN 1 Cluring
    • Harapan 1: Lisa Nur Afita – SMAN Glenmore
    • Harapan 2: Vika Nur Imamah — SMAN 1 Banyuwangi
    • Harapan 3: Citra Nuraini — SMAN 1 Rogojampi

    Pemenang Lomba Menulis Cerpen

    • Juara 1: Viola Lutfy Sagita — SMAN 1 Cluring
    • Juara 2: Selvia Rahmawati — SMAN 1 Gambiran
    • Juara 3: Syina Dalila, S.Pd., M.Pd — SMKN 1 Glagah
    • Harapan 1: Ghina Ararifah, S.Pd — SLBN Banyuwangi
    • Harapan 2: Alifia Nudia Umbarika, S.Pd — SMAN 1 Srono
    • Harapan 3: Lesmiyati Hariyani — SMAN Darussholah Singojuruh

    Perayaan HUT ke-26 DWP Cabdindik Banyuwangi tahun ini bukan hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga momentum untuk menegaskan bahwa literasi memiliki ruang penting di lingkungan pendidikan.

    Melalui antusias para peserta, dukungan para juri, serta semangat kolaboratif dari berbagai lembaga, kegiatan ini berhasil menghadirkan atmosfer yang menginspirasi.

    Harapannya, langkah kecil ini dapat menjadi awal dari tradisi literasi yang terus tumbuh, memberi ruang bagi lebih banyak perempuan untuk berkarya, berekspresi, dan menguatkan peran mereka dalam membangun budaya baca dan tulis yang lebih maju di Banyuwangi.

  • Saestwo Cafe Siap Jadi Ruang Kreativitas Memperingati Harjaba ke-254

    Saestwo Cafe Siap Jadi Ruang Kreativitas Memperingati Harjaba ke-254

    Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254 pada 18 Desember 2025 sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap Perang Puputan Bayu 1771, sejumlah komunitas dan pelaku usaha lokal berkolaborasi menggelar rangkaian kegiatan bertajuk Lomba Literasi Gotong Royong Harjaba 2025.

    Kegiatan yang akan digelar pada 19–20 Desember 2025 di Saestwo Cafe, Jl. Jembrana, Perum BGM Klarak–Kalipuro ini diinisiasi oleh Saestwo Cafe bersama Komunitas Gotong Royong 45 dan Penerbit Lintang yang menerbitkan Antologi Gotongroyong sebagai materi Lomba Baca Puisi.

    Tujuannya ialah menyediakan wadah ekspresi positif bagi generasi muda agar mereka memiliki ruang yang sehat untuk menyalurkan gagasan, menumbuhkan kreativitas, serta membangun rasa percaya diri.

    “Harjaba adalah momentum penting untuk merayakan kebersamaan, kreativitas, dan kecintaan pada daerah. Melalui lomba ini, kami ingin memberi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk menampilkan potensi mereka sekaligus menumbuhkan rasa bangga pada seni dan budaya Banyuwangi,” ujar Bung Aguk Darsono dari EO Senyum Agmadina, salah satu inisiator kegiatan.

    Kateogori Lomba

    Lomba ini mengusung tema Gotong Royong untuk Banyuwangi Berdaya (Lestarikan Bahasa Daerah, Bangga Bahasa Indonesia, dan Kuasai Bahasa Asing), dengan kategori sebagai berikut:

    • Pidato Dai Cilik (SD/MI/TQA)
    • Story Telling Bahasa Inggris (SD/MI)
    • Bercerita Bahasa Using (usia 10–15 tahun)
    • Melukis di Kanvas (usia 10–17 tahun)
    • Baca Puisi Antologi Gotong Royong (umum)

    Ketua Panitia HM. Shodiqin, S.Pd., MM mengajak berbagai pihak untuk bersinergi, mulai dari para pegiat seni, LKSA yatim-dhuafa, pesantren, BKPRMI, hingga emak-emak pegiat lingkungan dari komunitas Green Jasmine.

    HM Shodiqin

    “Seluruh pemenang dan guru pendamping yang beruntung bisa mendapatkan voucher umroh dua juta dari H. Tulus,” ujar guru SMKN 1 Kalipuro yang baru tiga bulan lalu pulang dari Baitullah.

    Pada hari pertama setelah salat Jumat, selain lomba pildacil dan melukis, panitia juga menghadirkan para pelukis seperti Ben Hendro, Wega Averina, MH Basoeki, Momo, dan Mbah Eko untuk melukis langsung di tempat dengan objek yang ada di kafe.

    Tak ketinggalan, penyair Pramoe Soekarno, Mayor Saimah, dan veteran IGM Sudharma turut tampil membawakan karya mereka.

    Dukungan Mengalir Deras

    Sejumlah dukungan pun mengalir, menambah hangatnya suasana kebersamaan dalam gelaran ini, mulai dari dari PT Tulus Hijrah Baitullah, Koppiwangi (Komunitas Pegiat Peduli Pendidikan Banyuwangi), Yayasan Aura Lentera Indonesia, serta sejumlah media partner seperti sastrawacana.id/, Jurnal News, Menaramadinah.com, JRKBB, dan kanal YouTube Ha Pe Aja.

    “Alhamdulillah, bersamaan dengan satu dasawarsa perjalanan kami, relawan Koppiwangi juga mengadakan tasyakuran tumpengan setelah lomba pildacil,” tutur H. Mujiono, SH, selaku founder dari Koppiwangi.

    Sementara itu, Ketua Umum BKPRMI, Ahmad Sururudin, SE., M.Si., pun turut mendukung dengan memberi hadiah spesial untuk pemenang lomba Pildacil.

    “Juara 1 pildacil beserta orang tuanya akan mendapat bonus menginap di hotel atau homestay yang memiliki kolam renang,” terangnya.

    Untuk kategori story telling, finalis mendapatkan bonus voucher discount English Language Course (ELC) Sibon Mandar.

    Sementara Toko Seragam & Bordir Tiga Jaya Star (081336275599) menyediakan plakat untuk kategori Baca Puisi Gotongroyong.

    Saestwo Cafe sebagai Ruang Kolaborasi

    Owner Saestwo Cafe, Vonny Lagenia Suhendi, mengatakan bahwa tempat usahanya memang dirancang sebagai ruang kolaborasi yang nyaman dan strategis.

    Selama ini Saestwo menjadi tempat berkumpul berbagai komunitas, mulai dari Corolla Club & Mercy BWI, komunitas lagu nostalgia, resepsi pernikahan, hingga mahasiswa yang membutuhkan suasana tenang untuk menulis karya fiksi maupun skripsi dengan dukungan Wi-Fi.

    “Bulan depan, jelang puasa, komunitas barista kopi juga berencana mengadakan event di Saestwo Cafe,” ujarnya sambil tersenyum.

    Lomba Harjaba Saestwo Cafe

    Informasi Pendaftaran

    Untuk calon peserta, pendaftaran dibuka hingga 15 Desember 2025 pukul 11.45 WIB.

    Pendaftaran dapat dilakukan langsung di Saestwo Cafe & Creative Space, Klatak, menemui peracik menu Romi (WA 082131497260) atau secara online melalui tautan bit.ly/HarjabaFest2025.

    Biaya pendaftaran untuk tiap peserta sebesar Rp 35.000.

    Informasi lengkap mengenai petunjuk teknis masing-masing lomba dapat ditemukan dengan mengetik kata kunci “lomba Harjaba 2025 di Saestwo Cafe” pada mesin pencarian Google yang terhubung dengan aplikasi GATA.

  • Harmoni Kopi dan Literasi ala X-Barue Coffee Warnai Milad Muhammadiyah ke-113

    Harmoni Kopi dan Literasi ala X-Barue Coffee Warnai Milad Muhammadiyah ke-113

    Gelaran Milad Muhammadiyah ke-113 pada Ahad, 16 November 2025 menghadirkan berbagai stan menarik, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah X-Barue Coffee dengan konsep unik “Coffee & Literasi”.

    Bukan sekadar menyajikan kenikmatan kopi dalam setiap seduhannya, mereka juga mengajak pengunjung untuk lebih dekat dengan budaya literasi.

    Founder X-Barue Coffee, Muhammad Sodek, menjelaskan bahwa gagasan menggabungkan kopi dan literasi lahir dari kecintaannya terhadap dunia baca.

    X Barue Coffee

    “Kopi dan literasi itu seperti dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Menikmati kopi sambil membaca itu rasanya nikmat,” ungkapnya penuh semangat.

    Menurutnya, membaca sambil menikmati kopi memberi pengalaman yang lebih fokus.

    “Ketika membaca sambil ngopi itu lebih fokus. Dengan menyeruput kopi, kita bisa lebih mudah mencerna,” tambahnya.

    Cici Arista Devi

    Sejalan dengan pandangan Cici Arista Devi, S.Pd, pembina Models Jurnalisme, yang menuturkan bahwa menikmati kopi sambil membaca membuka ruang rasa yang berbeda.

    “Saya bukan kopi holic, tapi ketika literasi disandingkan dengan kopi, setiap cecapan kopi yang saya nikmati menghadirkan sensasi yang sulit diungkapkan, approve banget sama konsep yang diusung X-Barue Coffee” tandasnya.

    Sodek juga berbagi bahwa pengalamannya berkunjung ke Yogyakarta memberikan motivasi kuat untuk menghadirkan konsep literasi dalam coffee shop-nya.

    “Di Jogja, banyak coffee shop yang identik dengan buku ada yang menyediakan buku untuk dibaca bahkan untuk dibeli. Selama ini di Banyuwangi rasanya belum banyak yang begitu, makanya itu memotivasi saya untuk membuat konsep Coffee & Literasi ,” ungkapnya.

    Kehadiran X-Barue Coffee dalam acara ini menunjukkan bahwa literasi dapat dipromosikan melalui cara sederhana namun dekat dengan keseharian masyarakat, salah satunya lewat suasana hangat di sekitar secangkir kopi.

  • Inspiratif! Semangat Literasi Warnai HUT DWP ke-26, Ketua DWP Cabdindik Banyuwangi: Kami Memberi Ruang Berkreasi untuk Para Wanita Hebat

    Inspiratif! Semangat Literasi Warnai HUT DWP ke-26, Ketua DWP Cabdindik Banyuwangi: Kami Memberi Ruang Berkreasi untuk Para Wanita Hebat

    Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Banyuwangi berlangsung meriah di Aula SMKN 1 Glagah, Sabtu (6/12/2025).

    Acara yang dihadiri seluruh anggota DWP dari SMAN, SMKN, hingga SLBN di bawah naungan Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi ini tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

    Bekerjasama dengan media literasi sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang, tahun ini DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi mengangkat tema besar tentang penguatan literasi dengan menggelar lomba menulis cerpen dan cipta baca puisi.

    Program tersebut diinisiasi langsung oleh Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E, sebagai upaya menghadirkan ruang kreatif bagi para perempuan di lingkungan pendidikan.

    Sebanyak 29 lembaga pendidikan turut ambil bagian, menghadirkan antusiasme yang memenuhi aula sejak pagi.

    Dua pegiat literasi Banyuwangi, yakni Maulana Affandi, S.S., dan Andi Budi Setiawan, S.Pd diundang sebagai juri untuk menilai karya-karya para peserta.

    Untuk kategori cerpen, peserta menulis karya dari rumah lalu mengumpulkannya kepada panitia.

    Sementara lomba cipta baca puisi digelar langsung di ruang perpustakaan SMKN 1 Glagah.

    Peserta Lomba Puisi HUT DWP Banyuwangi

    Sorak bahagia dan semangat para peserta menghiasi jalannya perlombaan. Suasana hangat dan penuh energi membuat peringatan HUT DWP ke-26 terasa lebih hidup dan bermakna.

    Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E mengatakan bahwa penguatan literasi adalah cara untuk mendorong perempuan-perempuan di lingkungan DWP agar lebih percaya diri menyuarakan gagasannya.

    “Tahun ini kami ingin HUT DWP punya makna yang lebih dalam. Melalui lomba literasi ini, kami menyediakan ruang berkreasi bagi para wanita hebat yang selama ini mungkin belum sempat menunjukkan bakatnya. Kami ingin mereka berani menulis, berani membaca karya sendiri, dan bangga dengan kemampuan mereka,” ujarnya.

    Tak berhenti sampai di situ, ia menambahkan bahwa seluruh karya yang dikumpulkan peserta tidak akan berakhir sebagai dokumen lomba semata.

    DWP Cabdindik Banyuwangi berencana menyatukannya menjadi sebuah buku antologi yang akan dikenang dan menjadi dokumentasi kreativitas para perempuan di lingkungan pendidikan.

    Lebih dari sekadar kumpulan karya, antologi tersebut diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi anggota DWP di tahun-tahun mendatang, sekaligus penanda bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

    “Setiap karya punya nilai. Sayang sekali kalau hanya selesai di meja panitia. Karena itu, semua tulisan dan puisi akan kami abadikan dalam bentuk buku antologi agar dapat menjadi jejak karya bersama,” tambah Siti Nurjanah.

     

    Ia percaya bahwa penerbitan antologi ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghargaan terhadap proses dan usaha para peserta.

    Dengan adanya buku tersebut, setiap karya tidak hanya berhenti sebagai hasil lomba, tetapi berubah menjadi jejak kontribusi nyata bagi pengembangan budaya literasi di Banyuwangi.

    Pada sesi penutupan dan penyerahan hadiah, Siti Nurjanah bersama suaminya, Slamet Riyadi, M.Pd yang hadir mewakili Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta.

    Ia menyampaikan harapan agar kegiatan semacam ini dapat menjadi pemantik semangat literasi di Banyuwangi.

    HUT DWP ke 26 Kabupaten Banyuwangi

     

    “Teruslah berkarya, jangan berhenti pada lomba ini saja. Banyuwangi membutuhkan perempuan-perempuan yang tidak hanya mendidik, tapi juga menginspirasi. Semoga dari kegiatan ini lahir lebih banyak penulis, pembaca yang kritis, dan karya-karya yang membanggakan,” tuturnya.

    Peringatan HUT DWP ke-26 tahun ini menjadi bukti bahwa literasi dapat tumbuh di mana saja, termasuk di ruang-ruang organisasi perempuan.

    DWP Cabdindik Banyuwangi berharap agar kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut sebagai ruang untuk pengembangan kreativitas serta memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan.

  • LSF RI Gelar Bimtek e-SiAS di Banyuwangi, Dorong Literasi Sensor dan Produksi Film Berkualitas

    LSF RI Gelar Bimtek e-SiAS di Banyuwangi, Dorong Literasi Sensor dan Produksi Film Berkualitas

    BANYUWANGI — Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) menggelar kegiatan Literasi Layanan Penyensoran Film dan Iklan Film: Bimbingan Teknis Pembuatan Akun e-SiAS bersama para pemangku kepentingan perfilman se-Jawa Timur, Rabu (19/11), di Blambangan Ballroom Lantai 1 Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center.

    Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat paham mengenai penggolongan usia penonton dan kriteria sensor, membantu masyarakat memilih tontonan yang bermutu, serta mendorong para pembuat film memahami pedoman sensor agar menghasilkan karya yang layak dan berkualitas.

    Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, M.Si., membuka acara dengan memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini di Banyuwangi.

    Menurutnya, hal ini menegaskan bahwa perkembangan perfilman di Banyuwangi cukup pesat.

    Ia menyampaikan bahwa proses produksi film kini lebih mudah berkat teknologi, namun isi film tetap harus memperhatikan aspek hukum dan regulasi.

    “Harapannya dari Banyuwangi muncul film-film yang berkualitas. Apalagi Banyuwangi sudah menjadi lokasi syuting beberapa film nasional karena keindahan alamnya,” ucapnya.

    Sambutan kedua disampaikan oleh Hairus Salim, Ketua Subkomisi Desa Sensor Mandiri dan Komunitas LSF RI, mewakili Kepala LSF RI.

    Mengawali dengan pantun, ia menekankan pentingnya para pembuat film mendaftarkan karya ke LSF untuk peninjauan resmi.

    Ia mengingatkan bahwa sensor terbaik dimulai dari lingkungan terdekat, mulai keluarga, sekolah, dan komunitas.

    “Dulu, anak yang diam di rumah dianggap anak baik. Sekarang justru perlu diawasi, karena internet menyajikan film dan konten yang tidak semuanya layak,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa bioskop tidak akan menayangkan film tanpa Surat Tanda Lulus Sensor (STLS).

    Acara kemudian dipandu oleh Drs. Aekanu Haryono, budayawan dan seniman Banyuwangi.

    Materi Pertama: Film untuk Menggerakkan Pariwisata

    Materi pertama disampaikan oleh Ainur Rofiq, S.Sos., M.M., Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.

    Dalam paparannya, ia mengatakan secara langsung bahwa Banyuwangi punya potensi yang luar biasa dalam industri perfilman karena keindahan alamnya.

    “Banyuwangi memiliki potensi besar di bidang perfilman. Banyak film yang sudah dan akan diproduksi dengan memanfaatkan keindahan dan kekhasan daerah ini. Film-film itu bukan hanya karya seni, tetapi sekaligus alat promosi yang mampu menggerakkan pariwisata dan pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.”

    Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara sineas dan pemerintah daerah dapat membuka peluang besar bagi pertumbuhan industri kreatif.

    Materi Kedua: Praktik Membuat Akun e-SiAS dan Pemahaman Regulasi

    Memasuki sesi berikutnya, Ketua Subkomisi Penyensoran LSF RI sekaligus praktisi film senior, Hadi Artomo, memberikan materi mengenai regulasi penyensoran, prinsip film yang baik, serta prosedur administratif pendaftaran film.

    Ia memberikan ilmu kepada para peserta bagaimana produksi film yang baik, termasuk dari pemilihan judul, dan bagaimana menulis skenario cerita yang menarik.

    Di tengah pemaparan, ia secara langsung juga mengajarkan peserta cara membuat akun e-SiAS, mulai dari tahap registrasi, pengisian data, hingga cara mengunggah berkas film untuk proses sensor.

    Hadi juga menegaskan bahwa pendaftaran film kini dapat dilakukan melalui direktorat lembaga seni di masing-masing kota untuk memperoleh Tanda Penerimaan Pendaftaran Film (TPPF).

    “Jika ingin syuting di lokasi tertentu, TPPF ini penting sebagai surat pengantar perizinan,” jelasnya.

    Ia mengingatkan bahwa izin lokasi dari masyarakat sekitar wajib dilakukan untuk mencegah sengketa di kemudian hari.

    Diskusi: Aksesibilitas Film bagi Disabilitas

    Dalam sesi diskusi, Safarudin dari Yayasan Aura Lentera menanyakan tentang regulasi agar film dapat diakses oleh penyandang disabilitas, terutama yang memiliki hambatan pendengaran.

    Pertanyaan tersebut disambut baik oleh pihak LSF, yang menyatakan bahwa mereka akan mendorong pengembangan pedoman teknis agar film semakin ramah disabilitas, agar sesuai dengan standar aksesibilitas sehigga memungkinkan semua kalangan menikmati film secara setara.

    Kegiatan ditutup dengan harapan agar insan perfilman di Jawa Timur, khususnya Banyuwangi, semakin memahami pentingnya sensor, regulasi, dan etika produksi demi lahirnya karya yang aman, bermutu, dan bermanfaat bagi publik.

  • KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    KOPIWANGI: Jembatan antara Literasi dan Lintas Generasi

    Oleh: Andi Budi Setiawan (PenaPanuluh)

    Sering kita dengar pernyataan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Tentunya itu bukan sekadar angka, seolah-olah bangsa ini nyaris tidak gemar membaca.

    Namun, jika ditelusuri, data tersebut tidak tercatat dalam laporan resmi UNESCO maupun BPS.

    Faktanya, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2024), tingkat kemampuan baca-tulis masyarakat Indonesia justru sudah sangat tinggi, yaitu sekitar 96–99%.

    Artinya, hampir semua penduduk Indonesia sudah bisa membaca dan menulis.

    Namun tantangannya kini bukan lagi sekadar bisa membaca, melainkan bagaimana menjadikan membaca bagian dari kehidupan.

    Banyak dari kita mampu membaca teks, tetapi belum tentu memahami isinya atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Persoalan utama bukan lagi pada kemampuan membaca, melainkan bagaimana membangun budaya membaca dan memperdalam literasi.

    Literasi bukan hanya sekadar mengenal huruf, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk berpikir reflektif dan kreatif. Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan upaya berkelanjutan.

    Pada dasarnya, literasi memiliki tiga makna, yaitu:

    1. Pertama, Enlightenment (mencerahkan) — literasi menghadirkan kesadaran baru dan membuka wawasan pembacanya. Dengan membaca, seseorang dapat memahami dunia dengan lebih luas.
    2. Kedua, Enrichment (memperkaya) — setiap bacaan memperkaya pengetahuan, memperluas empati, dan menambah khazanah berpikir.
    3. Ketiga, Empowerment (memberdayakan) — literasi menjadikan seseorang memiliki kompetensi dan keterampilan hidup (life skills) untuk menghadapi tantangan zaman.

    Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), sebuah komunitas literasi yang berdiri pada Maret 2023 dan berperan aktif menumbuhkan semangat membaca serta menulis di Banyuwangi.

    Anggotanya berasal dari beragam latar belakang, mulai dari tenaga pendidik (mayoritas guru penggerak), mahasiswa, dosen, penulis, pegiat literasi, hingga masyarakat umum.

    Dengan visi “bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi,” KOPIWANGI mengusung misi yang nyata dan terukur: mengadakan pelatihan menulis fiksi dan nonfiksi, pendampingan sampai penerbitan karya, berbagi praktik baik antarpenulis, serta menyelenggarakan kegiatan dan kolaborasi literasi dengan berbagai pihak.

    Melalui program pelatihan komunitas, KOPIWANGI membuka ruang bagi siapa pun, baik guru, siswa, penulis pemula, maupun masyarakat umum untuk mengasah keterampilan menulis secara daring maupun luring.

    Kegiatan lomba literasi menjadi wadah bagi pegiat literasi dan memotivasi anggota agar terus produktif berkarya.

    Pertemuan bulanan berfungsi sebagai ruang refleksi, diskusi, dan evaluasi agar komunitas tetap tumbuh secara berkelanjutan.

    Beberapa kegiatan telah terlaksana setiap tahun, antara lain lomba cipta dan baca puisi untuk jenjang pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum tingkat kabupaten.

    Selain itu, KOPIWANGI rutin menggelar lomba baca puisi dan mendongeng bagi siswa SD, SMP, dan SMA sederajat, serta lomba cipta puisi, pantun, dan quote antaranggota komunitas.

    Melalui berbagai kegiatan ini, KOPIWANGI terus menumbuhkan semangat berekspresi dan kecintaan terhadap literasi.

    Kegiatan menulis puisi dan esai di KOPIWANGI dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap pelatihan, pendampingan, hingga penerbitan karya antaranggota komunitas.

    Upaya ini membuahkan hasil nyata melalui terbitnya tiga buku antologi, yakni Lentera di Pengujung Asa – Pendidikan yang Memerdekakan (2024), Pena Sang Surya – Kisah Inspiratif Pendidikan Era Milenial (2024), dan Antologi Gotong Royong (2025).

    Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa literasi akan berkembang jika dilakukan bersama dengan tekad serta niat yang kuat.

    Lebih dari sekadar komunitas, KOPIWANGI hadir sebagai jembatan antara literasi dan lintas generasi.

    Di dalamnya, berbagai usia dan latar belakang bersatu dalam semangat yang sama: mencintai literasi.

    Kegiatan sharing dan diskusi antara guru, penulis pemula, penulis senior, hingga kalangan masyarakat umum mendorong inspirasi untuk menulis dan membaca.

    Literasi pun menjadi ruang dialog antar generasi, tempat di mana pengalaman dan gagasan bertemu untuk melahirkan perubahan.

    KOPIWANGI hadir sebagai jembatan antara intuisi dan tulisan; antara pemikiran dan karya.

    Setiap intuisi atau pemikiran yang lahir mengalir ke dalam tulisan dan menjadi karya.

    Melalui tulisan, KOPIWANGI tidak hanya menyalurkan ide tetapi juga meneguhkan bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menggerakkan.

    Makna kata “jembatan” menggambarkan peran sebagai penghubung antara karya literasi dan lintas generasi — sebuah warisan yang dapat dinikmati dari masa ke masa.

    Melalui karya yang sarat nilai positif dan logis, literasi menjadi cermin reflektif budaya, khususnya dalam bidang sastra, yang terus hidup dan berkembang seiring perjalanan waktu.

    Dalam dunia yang dibanjiri informasi, kemampuan literasi menjadi tameng sekaligus kompas.

    Masyarakat yang melek literasi tidak mudah terombang-ambing oleh hoaks, tidak cepat tersulut oleh opini kosong, dan mampu menilai setiap informasi secara kritis.

    Karena itu, gerakan literasi seperti KOPIWANGI memiliki arti penting: membangun Banyuwangi yang cerdas, berbudaya, dan berdaya saing.

    Sampai di sini, KOPIWANGI membuktikan komitmennya bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca buku atau menulis cerita, tetapi sebuah gerakan yang mencerahkan, memperkaya, dan memberdayakan.

    Dari Banyuwangi, semangat api literasi terus menyala — menghubungkan masa lalu lewat tulisan yang berakar pada nilai-nilai budaya, masa kini yang dinamis, dan masa depan yang dipenuhi generasi milenial yang cakap berliterasi.

    Mari dukung gerakan ini, karena setiap kata yang ditulis dan setiap karya yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar bagi generasi berikutnya.

    Penulis merpakan Pendidik di SMK PGRI Rogojampi yang aktif di dunia literasi dan Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

  • Pameran Petak Umpet, Ruang untuk Menemukan Kembali Sastra Anak Indonesia

    Pameran Petak Umpet, Ruang untuk Menemukan Kembali Sastra Anak Indonesia

    Kolaborasi antara Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Museum Anak Bajang, dan Bentara Budaya melahirkan Pameran Arsip dan Ilustrasi Petak Umpet Sastra Anak, sebuah upaya untuk membangkitkan kembali semangat sastra anak Indonesia.

    Pameran yang berlangsung di Bentara Budaya Jakarta pada 7–16 November 2025 ini menjadi ruang penghormatan untuk mengenang setahun wafatnya Dwianto Setyawan, penulis buku anak yang produktif di era 1970–1980an.

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya Dwianto, tetapi juga ajakan untuk menengok masa ketika sastra anak lokal hidup dengan energi dan daya cipta yang kuat.

    Pada masa itu, karya-karya Djokolelono, Arswendo Atmowiloto, Bung Smas, hingga Kembangmanggis mengisi rak buku anak Indonesia dengan kisah-kisah sederhana namun sarat makna.

    Selama beberapa dekade terakhir, karya-karya tersebut kian jarang terdengar. Nama-nama yang dulu akrab kini nyaris tak disebut, dan sebagian bukunya pun sulit ditemukan.

    Menurut Christina M. Udiani, Manajer Redaksi dan Produksi KPG, pameran ini tidak bertujuan mengkotakkan mana yang tergolong sastra anak atau bukan.

    “Pameran ini tidak dimaksudkan sebagai penentu karya mana yang termasuk sastra anak atau bukan, melainkan sebagai ruang bersama untuk mengenang dan mendiskusikannya,” ujarnya.

    Awal 2025 menjadi titik penting bagi kebangkitan sastra anak. KPG bersama pengamat sastra Setyaningsih dan ilustrator Nai Rinaket meluncurkan Seri Klasik Semasa Kecil, yang memuat karya pilihan Dwianto Setyawan dan Djokolelono.

    Hingga kini, sudah ada 15 judul buku klasik anak yang diterbitkan kembali, di antaranya Si Rejeki dan Astrid di Palungloro, disertai buku esai Melangkah ke Sastra Anak.

    Pembukaan pameran dilakukan oleh Romo Sindhunata, pendiri Museum Anak Bajang sekaligus penggagas kegiatan ini. Ia didampingi para kurator, yakni Setyaningsih, Nai Rinaket, dan Hanputro Widyono.

    Suasana pembukaan berlangsung penuh warna. Tarian Warok Cilik dan musik Orkestra Keroncong Sakpenake menyambut pembacaan cerita Terlalu Muluk oleh Altaf Jaddan Adzaro, siswa SD Muhammadiyah Sapen, yang tampil percaya diri di hadapan pengunjung.

    Romo Sindhu menuturkan bahwa dunia anak adalah semesta yang tak pernah berhenti berimajinasi.

    “Anak-anak adalah insan yang merasa bisa mengatur dirinya. Orang dewasa tak dapat sungguh menyelami apa yang ada di dalam pikiran dan khayalan mereka. Itulah yang coba diselami pengarang seperti Dwianto dan kawan-kawan,” terangnya.

    Ruang pamer dirancang layaknya perjalanan waktu. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat transformasi sastra anak Indonesia sejak Si Jamin dan Si Johan (1921), masa proyek Inpres pada era Orde Baru, hingga gelombang buku terjemahan yang pernah mendominasi pasar bacaan anak.

    Beragam arsip, ilustrasi, dan sampul buku lawas ditampilkan untuk menunjukkan bagaimana sastra anak tumbuh seiring perubahan sosial dan budaya bangsa.

    Selama sepuluh hari, pameran ini diisi dengan berbagai kegiatan interaktif seperti permainan Melacak Sersan Grung-Grung, lokakarya bercerita, sesi book playdate, hingga diskusi bertajuk Melangkah ke Sastra Anak yang menghadirkan Sindhunata, Reda Gaudiamo, dan Herdiana Hakim.

    Sumber: Antara, koranbernas

  • Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Gramedia Serpong Berbagi Perlengkapan Sekolah untuk Anak Yatim dan Dhuafa

    Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Gramedia Serpong Berbagi Perlengkapan Sekolah untuk Anak Yatim dan Dhuafa

    Sebanyak 154 anak yatim dan dhuafa dari wilayah Tangerang dan Tangerang Selatan mendapat bantuan perlengkapan sekolah dalam kegiatan bertajuk Penyaluran Donasi Perlengkapan Sekolah yang digelar di Gramedia Summarecon Mall Serpong (SMS), Rabu (5/11).

    Acara yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Gramedia Serpong (Region D) tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap pendidikan dan literasi anak-anak Indonesia.

    Melalui pembagian school kit, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap dunia baca tulis sejak dini.

    Perwakilan Partnership Dompet Dhuafa, Diana Rahma, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan Gramedia yang terus konsisten berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

    “Kami berterima kasih kepada Gramedia yang telah menjadi mitra baik Dompet Dhuafa dalam menebar manfaat. Semoga bantuan perlengkapan sekolah ini menjadi penyemangat bagi adik-adik untuk terus belajar dan mengejar cita-cita,” ujarnya.

    Sementara itu, Sulton, perwakilan Manajemen Summarecon Mall Serpong, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud komitmen Gramedia dalam mendukung kemajuan pendidikan nasional.

    “Setiap anak memiliki hak untuk belajar dan berkembang. Kami berharap bantuan ini bisa memotivasi mereka agar terus berprestasi,” katanya.

    Selama kegiatan berlangsung, suasana di area Gramedia SMS dipenuhi tawa dan antusiasme anak-anak. Beragam permainan interaktif yang dipandu tim Dompet Dhuafa dan Gramedia membuat acara semakin hangat dan menyenangkan.

    Momen paling dinanti terjadi saat pembagian paket perlengkapan sekolah berupa tas, buku, dan alat tulis dilakukan. Senyum lebar menghiasi wajah anak-anak penerima manfaat.

    Tak hanya perlengkapan sekolah, tim Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa juga turut memberikan uang saku sebagai dukungan tambahan agar anak-anak semakin bersemangat menuntut ilmu.

    Melalui kegiatan ini, Dompet Dhuafa dan Gramedia berharap sinergi yang telah terjalin dapat terus berlanjut, menjangkau lebih banyak penerima manfaat di seluruh Indonesia.

    “Kami berharap kolaborasi ini menjadi langkah awal dalam menghadirkan lebih banyak program pemberdayaan dan literasi bagi masyarakat,” tutup Diana.

    Sumber: kbknews

  • Inspiratif, MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember Luncurkan Mobil Literasi dan Gelar LKBB

    Inspiratif, MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember Luncurkan Mobil Literasi dan Gelar LKBB

    MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember menggelar kegiatan peluncuran Mobil Literasi dan pembukaan Lomba Kreativitas Baris Berbaris (LKBB) di halaman asrama putri Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Senin (27/10/2025).

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 1447 H.

    Acara diawali dengan penampilan nasyid Firqatul Insyad Az Zahra yang membawakan mahallul qiyam, dilanjutkan pembacaan orasi ilmiah salah satu pengasuh, Ustaz Jamaluddin.

    Dalam paparannya, Ustaz Jamaluddin menekankan pentingnya budaya literasi di lingkungan pesantren sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam.

    “Literasi adalah cahaya yang menerangi jalan panjang kehidupan, dari huruf menuju hikmah,” ujarnya.

    Peluncuran Mobil Literasi dan pembukaan LKBB secara resmi dilakukan oleh KH. Yazid Karimullah.

    Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa gerakan literasi merupakan bagian dari semangat Iqra’ warabbuka al-akram; bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.

    “Inilah bagian dari sunnatullah dalam menegakkan ilmu dan adab,” tuturnya.

    KH. Yazid Karimullahjuga berpesan agar para santri terus menumbuhkan semangat belajar dan berprestasi di berbagai bidang.

    “Jadilah pemuda yang kakinya menapaki bumi, namun cita-citanya setinggi bintang di langit,” pesannya.

    Dalam kesempatan tersebut, KH. Yazid Karimullah menegaskan pentingnya sinergi antarunit pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Qarnain, khususnya antara MA Nurul Qarnain dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain.

    Ia juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat lembaga tersebut akan bertransformasi menjadi Institut KH. Yazid Karimullah (INSYAKA).

    Peluncuran Mobil Literasi ini diharapkan dapat memperkuat budaya membaca dan menulis di lingkungan pesantren serta menjadi sarana pembinaan literasi bagi para santri.