Tag: mahasiswa

  • Ampuh, Inilah 5 Tips Mengatasi Stres Bagi Mahasiswa

    Salah satu sumber penyakit yang terkadang dianggap sepele namun sangat penting untuk diperhatikan adalah stres. Ya, stres bisa terjadi pada siapa pun tanpa kompromi, baik pria maupun wanita, tua maupun muda.

    Tentu saja stres merupakan sebuah ancaman serius bagi kesehatan setiap orang, jika dibiarkan berkepanjangan maka akan bisa berakibat fatal bagi kondisi fisik dan mental seseorang.

    Stres memang kerap menjadi sebuah hal yang menghantui para pekerja kantoran akibat tugas yang menumpuk. Namun, tidak hanya itu saja, Mahasiswa pun juga bisa mengalami stres.

    Bagi Mahasiswa, stres adalah hal yang umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi jika tugas dari dosen sudah menumpuk, ditambah laporan proposal, esai, dan skripsi yang tak kunjung usai.

    Kendati sudah menjadi hal yang umum, tapi stres tidak bisa dibiarkan begitu saja. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, stres merupakan sumber penyakit yang harus segera diusir.

    Tips Menghadapi Stres

    Nah, untuk mengatasinya, berikut adalah beberapa tips yang bisa dilakukan.

    1. Menyelesaikan Tugas Tepat waktu

    Jika kita mendapatkan tugas dari dosen, akan lebih baik jika kita langsung mengerjakannya saat itu juga. Kangan pernah menunda-nunda pekerjaan karena jika sudah menumpuk kita akan kewalahan sendiri.

    Tentu saja ketika tugas sudah menumpuk, kita akan mengerjakannya dengan terburu-buru. Alhasil, pekerjaan kita menjadi tidak sesuai dengan harapan, alias hasilnya tidak maksimal.

    2. Menentukan Prioritas

    Jika tugas dan tanggung jawab sudah terlanjur menumpuk alangkah baiknya kita mulai untuk memilih hal apa yang menjadi prioritas.Jadi, kita bisa mengerjakan dan tetap fokus terhadap tugas yang kita prioritaskan terlebih dahulu. Itu akan membantu agar stres tidak sampai terjadi dan menyerang pikiran kita.

    3. To do list

    Seorang yang perfeksionis, biasanya tidak jauh dari to do list. Mereka akan mencatat segala kegiatan dan tugas yang akan dikerjakan keesokan harinya agar segala sesuatu bisa terlaksana dengan tepat waktu. Metode ini bisa kita lakukan jika merasa rutinitas terlampau padat.

    Hal ini bisa membantu agar tidak terjadi penumpukan tugas maupun aktivitas yang nantinya berujung pada kemunculan stres karena tidak bisa membagi waktu.

    4. Rutin Olahraga

    Bagi kebanyakan Mahasiswa, olahraga adalah hal yang membosankan. Mereka lebih suka jika harus nongkrong daripada membuang keringat dengan berolahraga. Padahal, banyak pakar yang mengatakan bahwa stres bisa diatasi dengan olahraga. Walaupun olahraga ringan seperti yoga sekalipun, kita harus tetap melakukannya, minimal satu kali dalam seminggu.

    5. Puasa gadget

    Dari berbagai sumber yang dihimpun, didapati hasil bahwa gadget adalah salah satu penyebab depresi seseorang. Bukan tentang gadgetnya, namun hal yang dilakukan pada gadget tersebut. Dengan mengetahui hal itu, alangkah baiknya jika kita mengurangi penggunaan gadget untuk beberapa saat saja. Kita bisa menggantinya dengan aktivitas yang lebih baik, misalnya berkunjung atau travelling ke desa yang masih asri dan terbebas dari polusi.

  • Lulusan Sastra, Mau Kerja Apa?

    Patut diakui, tidak semua jurusan di bangku perkuliahan selalu mendapat pandangan baik bagi sebagian orang dalam mengejar karirnya nanti.

    Seolah dukun, mereka yang tidak mengerti apa-apa kerap mempertanyakan hal yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan.

    Terlebih pada Mahasiswa yang berada pada jurusan yang tidak umum dan jarang diminati, seperti Sastra.

    Banyak orang sering bertanya “Kamu kuliah jurusan Sastra, mau jadi apa?”

    Begitulah kira-kira pertanyaan menyesatkan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang tidak paham esensi Sastra.

    Setiap orang memiliki hak dan tanggungjawab atas mimpinya sendiri. Begitu pula Mahasiswa.

    Setiap Mahasiswa selalu memiliki angan dan cita-cita saat yang sangat tinggi.

    Jadi, jika pertanyaan aneh tersebut sering dilontarkan, secara tidak langsung akan melumpuhkan angan yang telah dirajut setinggi mungkin.

    Mungkin menurut sebagian orang, prospek dari Sastra hanyalah berkutat pada penulisan. Memang benar, itu dasarnya.

    Akan tetapi, ada hal di dalam Sastra yang jarang diketahui oleh orang di luar sana.

    Anak Sastra cenderung memiliki kemampuan tata bahasa dan verbal yang baik.

    Selain itu, anak Sastra juga memiliki tingkat sensitivitas tinggi pada bunyi atau tatanan bahasa.

    Cakap berbahasa dan memiliki kemampuan jitu dalam menangkap maksud omongan orang lain. Ingat, kecerdasan orang bisa dinilai dari cara bicaranya.

    Kalau anak Sastra mampu mengatur pola kalimat yang diucapkannya, itu sudah menandakan tingkat kecerdasan anak Sastra yang tidak perlu diragukan lagi.

    “Ujung-ujungnya jadi penulis, mau makan apa?”

    Kadang juga celetukkan tersebut keluar dari bibir orang yang merasa dia lebih hebat dibandingkan anak Sastra.

    Perlu diketahui, J.K Rowling sempat dinobatkan menjadi wanita terkaya karena tulisannya.

    Tidak hanya dia, banyak penulis dalam maupun luar negeri yang bisa mensejahterakan hidupnya dalam urusan financial.

    Dan, satu hal lagi yang paling penting dan jarang disadari oleh banyak orang.

    Penulis adalah pekerjaan mulia, sebab dengan menulis berarti orang tersebut sudah ikut berkontribusi dalam peradaban untuk merubah pola pikir manusia.

    Pada dasarnya, karya tulis merupakan sebuah senjata termahal dalam dunia pendidikan.

    Sehingga banyak orang yang mengatakan jika buku adalah jendela dunia. Lantas siapa yang menciptakan buku jika bukan penulis?

    Bayangkan saja, jika penulis mampu merubah pola pikir jutaan orang dengan karyanya, apakah hal tersebut sia-sia?Tentu saja tidak!

    Dan, apa yang bisa dikenang dari manusia saat sudah tiada? Satu-satunya jawaban adalah karya.

    Selain menjadi penulis buku, masih banyak progress baik bagi Mahasiswa Sastra dalam mencapai karirnya.

    Seperti CopyWriter, Jurnalis, Psikologi, Digital Marketing, Editor, Lembaga Pendidikan, Sutradara, Blogger, Aktor, Penyunting Naskah, Penulis Skenario, Dubes, dan masih banyak yang lainnya.

    Jadi, jangan sampai semangat yang telah membara redup begitu saja karena ucapan-ucapan tidak sehat dari orang-orang yang tidak mengerti esensi Sastra.

    Author : Maulana Affandi