Tag: pahlawan

  • Jelaskan Secara Singkat Perjuangan Nuku, Simak Ringkasannya

    Nuku, seorang pahlawan nasional dari Maluku Utara merupakan sosok inspiratif yang gigih melawan penjajahan Belanda.

    Nuku lahir di Hila, Tidore, pada tahun 1738. Sejak muda, beliau menunjukkan jiwa kepemimpinan dan keberaniannya.

    Pada tahun 1779, Nuku dinobatkan sebagai Sultan Tidore dengan gelar Sultan Nuku Muhammad Amiruddin.

    Beliau memimpin rakyat Seram dan Irian Jaya dalam perlawanan sengit, membangun kora-kora (kapal perang tradisional), dan berhasil merebut kembali Tidore dan Ternate dari cengkeraman Belanda.

    Nuku gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Benteng Hollandia, Ternate, pada tanggal 13 Juni 1805.

    Meskipun telah tiada, semangat juang dan kegigihan Nuku terus menginspirasi generasi penerus untuk berjuang demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

    Keberanian, visi, dan kegigihannya terus menginspirasi generasi penerus untuk berjuang demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

    Nuku menjadi bukti nyata bahwa semangat pantang menyerah dan persatuan dapat mengalahkan penindasan.

    Nuku dikenang sebagai pahlawan yang berani, visioner, dan pantang menyerah. Beliau menjadi simbol perlawanan rakyat Maluku Utara terhadap penjajahan Belanda.

    Semangatnya yang tak pernah padam terus berkobar dalam jiwa para pahlawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia.

  • Siapa yang Dianggap Sebagai Bapak Nasionalisme Indonesia?

    Siapa yang dianggap sebagai bapak nasionalisme Indonesia?

    Jawaban:

    Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi)

    Pembahasan:

    Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker adalah seorang jurnalistik dan aktivis yang lahir di Pasuruan pada tahun 1879.

    Julukan “Bapak Nasionalisme Indonesia” disematkan padanya karena keteguhannya dalam perlawanan terhadap penjajah.

    Sebagai penghormatan atas pengabdian kepada Bangsa Indonesia, pada tahun 1947 Ir. Soekarno memberinya nama Danudirja Setiabudi.

    Informasi yang beredar menyebut jika Bung Karno pernah belajar dari Douwes Dekker tentang gagasan revolusi Indonesia, sementara Douwes Dekker mengatakan bahwa Bung Karno sebagai penyelamat Indonesia.

    Sebagai seorang jurnalis, Douwes Dekker tercatat pernah menjadi bagian dari tiga surat kabar: De Locomotief, Soerabaiasch Handelsblad, dan Bataviaasch Nieuwsblad.

    Saat menjadi staf redaksi Bataviaasch Nieuwsblad pada tahun 1907, tulisan-tulisannya semakin mendukung kaum Indo dan pribumi.

    Kendati Douwes Dekker adalah keturunan Belanda, tapi ia merasa terpanggil oleh kepedulian atas penindasan yang dialami kaum Pribumi oleh bangsa kolonial.

    Hal ini membangkitkan semangatnya untuk melawan segala bentuk diskriminasi terhadap kaum Indo (keturunan Belanda dan Pribumi).

    Douwes Dekker dengan tegas menolak segala bentuk diskriminasi yang dilakukan oleh orang Belanda terhadap kaum Indo (keturunan Belanda campuran) dan Pribumi (orang asli Indonesia).

    Menurut Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker sangat menentang diskriminasi yang dilakukan oleh orang Belanda asli.

    Bahkan, ia mendukung peleburan kaum Indo (keturunan campuran Belanda) sehingga golongan Indo menjadi bagian dari golongan Pribumi.

    Pada tanggal 6 September 1912 di Bandung, Douwes Dekker mendirikan Indische Partij bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat/Ki Hadjar Dewantara.

    Tujuan pendirian organisasi ini adalah untuk menggantikan peran organisasi kaum Indo dan Eropa yang telah didirikan di Indonesia sejak tahun 1898.

    Indische Partij didirikan sebagai sebuah partai politik yang berlandaskan pada pandangan nasionalisme yang menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan seluruh rakyat Hindia dalam mencapai kemerdekaan.

  • Mengapa Sultan Hasanudin Mendapat Julukan Ayam Jantan dari Timur?

    Sultan Hasanudin mendapat julukan Ayam Jantan dari Timur karena kegigihan dan keberaniannya dalam melawan penjajah Belanda.

    Julukan ini bukan sembarang pemberian, melainkan pengakuan atas ketangguhan dan semangat juangnya yang tak terkalahkan.

    Kesultanan Gowa di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin menjelma menjadi kekuatan maritim yang disegani di kawasan timur Nusantara.

    Sejak usia muda, Sultan Hasanuddin menunjukkan jiwa kepemimpinan yang luar biasa. Ia dikenal cerdas, cakap dalam strategi perang, dan tak kenal takut dalam menghadapi lawan.

    Ketika Belanda berusaha memonopoli perdagangan di wilayahnya, Sultan Hasanuddin dengan tegas menentang dan mempelopori perlawanan.

    Pertempuran demi pertempuran dihadapi Sultan Hasanuddin dengan gagah berani. Kegigihannya bagaikan ayam jantan yang selalu siap bertempur demi melindungi wilayahnya.

    Tak heran, Belanda pun dibuat kewalahan dan gentar dengan semangat juangnya yang tak kunjung padam.

    Julukan de Haav van de Osten atau “Ayam Jantan dari Timur” yang diberikan pihak Belanda menjadi simbol perlawanan rakyat Sulawesi Selatan terhadap penjajahan.

    Ketegasan, keberanian, dan pantang menyerah Sultan Hasanuddin menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus berjuang demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

    Atas kegigihannya tersebut, Sultan Hasanuddin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 887/TK/Tahun 1973 pada tanggal 6 November 1973.

  • Siapa Pencipta Lagu Indonesia Raya?

    Siapa Pencipta Lagu Indonesia Raya?

    Pencipta lagu Indonesia Raya adalah Wage Rudolf Soepratman pada tahun 1924.

    WR Soepratman lahir tanggal 9 Maret 1903 di Jatinegara Jakarta. Ia adalah anak dari seorang sersan di Batlyon VIII yang bernama Senen.

    WR Soepratman adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara.

    Kepiawaian WR Soepratman dalam bermusik tak luput dari peran kakak iparnya, Willem van Eldik.

    Sewaktu tinggal di Makassar, Soepratman memperoleh pelajaran musik dari kakak iparnya.

    Selain belajar musik dari kakak iparnya, WR Soepratman juga menunjukkan minat besar terhadap dunia seni sejak usia muda.

    Ia belajar bermain biola, gitar, serta menguasai dasar-dasar teori musik. Dari sinilah bakatnya semakin terasah hingga kelak mampu menciptakan lagu yang menggerakkan semangat kebangsaan.

    Pada tahun 1920-an, semangat nasionalisme mulai bangkit di kalangan pemuda Indonesia. Berbagai organisasi pergerakan lahir untuk melawan penjajahan Belanda.

    WR Soepratman yang saat itu sudah fasih bermusik merasa terpanggil untuk menyumbangkan kemampuan seninya bagi perjuangan bangsa. Ia percaya bahwa musik dapat menjadi sarana yang ampuh untuk membangkitkan kesadaran rakyat akan pentingnya persatuan dan kemerdekaan.

    Tepat pada tahun 1924, ia menciptakan lagu Indonesia Raya. Lagu ini pertama kali diperkenalkan secara resmi pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Batavia (sekarang Jakarta).

    Saat dimainkan dengan biola secara instrumental, lagu tersebut langsung mendapat sambutan hangat dari para pemuda yang hadir.

    Lagu Indonesia Raya kemudian menjadi simbol kebangkitan nasional, karena berhasil menyatukan semangat para pemuda dari berbagai daerah untuk memperjuangkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

  • Biografi Singkat Dr. Soepomo, Pahlawan Nasional Indonesia

    Biografi Singkat Dr. Soepomo, Pahlawan Nasional Indonesia

    Prof. Mr. Dr. Soepomo dikenal sebagai arsitek UUD 1945.

    Ia adalah ketua dari Panitia Kecil Perancang Undang-undang Dasar yang beranggotakan Mr. KRMT Wongsonegoro, Mr. Raden AchmadSoebardjo Djojoadisoerjo, Mr. Alexander Andries Maramis, Mr. Raden Panji Singgih, Haji Agus Salim, Dr. Soekiman Wirjosandjojo.

    Pada tanggal 14 Juli 1945, sidang pleno BPUPKI menerima laporan hasil pembahasan panitia pimpinan Soepomo ini. Berikut hasil kerja panitia kecil tersebut:

    • Pernyataan Indonesia Merdeka.
    • Pembukaan Undang-Undang Dasar (Preambul).
    • Undang-Undang Dasar (Batang Tubuh) yang kemudian dinamakan sebagai “Undang-Undang Dasar 1945”

    Soepomo kecil dilahirkan di Sukoharjo, daerah Surakarta pada tanggal 22 Januari 1903.

    Ia adalah keturunan priyayi. Ayahnya adalah Raden Tumenggung Wignyodipuro, menjabat sebagai Bupati Anom, Inspektur Penghasilan Negeri Kasunanan Surakarta.

    Soepomo adalah anak tertua dari 11 bersaudara.

    Pendidikan dasar Soepomo diselesaikan di Europesche Lagere School (ELS).

    Lalu melanjut ke MULO, setingkat SMP, di kota Solo. Selepas dari MULO Soepomo berangkat ke Jakarta untuk meneruskan pendidikannya.

    Ia masuk ke Bataviasche Rechtsschool, sebuah sekolah kejuruan hukum pada saat itu.

    Ia lulus tahun 1923 dan menjadi salah seorang pelajar terbaik.

    Setelah lulus Soepomo diangkat menjadi pegawai negeri di Pengadilan Negeri di Sragen, daerah Surakarta.

    Karena prestasinya yang membanggakan, Soepomo mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke Rijksuniversiteit Leiden di Belanda, di bawah bimbingan Cornelis van Vollenhoven, seorang antropolog juga seorang profesor Hukum Adat Hindia-Belanda.

    Soepomo menyelesaikan pendidikannya hingga ke jenjang doktor hanya dalam rentang waktu tiga tahun, tahun 1924- 1927.

    Thesis doktornya yang berjudul Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta (Reorganisasi sistem agraria di wilayah Surakarta) tidak saja mengupas sistem agraria tradisional di Surakarta, tetapi juga secara tajam menganalisis hukum-hukum kolonial yang berkaitan dengan pertanahan di wilayah Surakarta.

    Dalam masa studinya di Belanda, , Soepomo bergabung dalam organisasi mahasiswa bernama Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereeniging), yang bertujuan Indonesia Merdeka.

    Sekembalinya dari negeri Belanda, Soepomo langsung mengabdikan hidupnya pada pekerjaan.

    Ia pun terpaksa harus berpindah-pindah karena tugas. Soepomo pernah di tempatkan di Sragen,Yogyakarta, Jakarta, dan Purworejo.

    Saat bertugas di Jakarta ia melakukan penelitian hukum adat (privaatrecht der Inheemse bevolking) di daerah hukum (rechtskring) Jawa Barat.

    Saat pemerintah Jepang berkuasa, Soekarno membentuk Panitia Kecil Perancang Undang-undang Dasar yang diketuai oleh Soepomo.

    Beberapa jabatan penting yang pernah diemban oleh Soepomo yaitu: Menteri Kehakiman Republik Indonesia yang pertama, salah satu utusan menghadiri Konperensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, sebagai Duta Besar RI di Inggris (London) tahun 1954-1956, Guru Besar pada Universitas Gajah Mada, Akademi Ilmu Politik, pada Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.

    Soepomo juga adalah Rektor kedua Universitas Indonesia, saat itu masih bernama Presiden Universiteit Indonesia.

    Soepomo juga pernah memimpin berbagai lembaga internasional, misalnya International Insstitute of Differing Civili­zation di Brusel, dan International Commission for a Scientific and Cultural History of Mankind and Indonesian Institute of World Affairs.

    Soepomo meninggal akibat serangan jantung pada tanggal 12 September 1958 di Jakarta.

    Jenazahnya dikebumikan di makam keluarga di kampung Yosoroto, Solo.

    Atas jasa-jasanya, Soepomo dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 123 Tahun 1965 tanggal 14 Mei 1965.

  • Biografi Mas Mansur, Tokoh Muhammadiyah Pejuang Bangsa

    Biografi Mas Mansur, Tokoh Muhammadiyah Pejuang Bangsa

    K.H. Mas Mansur lahir di kampung Sawahan, Surabaya pada tanggal 25 Juni 1896.

    la adalah putera Kyai Mas Ahmad dari keluarga pesantren Sidoresno Surabaya dan ibunya bernama Ramlah.

    Dari kecil, ia belajar pada ayahnya sendiri, kemudian belajar pada Kyai Cholil di Kademangan, Bangkalan, Madura.

    Hingga pada usia 12 tahun ia dikirim oleh ayahnya ke Mekah untuk memperdalam ilmu.

    Namun, belum lama di sana, terjadilah peristiwa politik di negeri Saudi Arabia dan semua orang asing diperintahkan oleh Raja Syarif Husein di Mekah agar meninggalkan kota itu.

    Mansur berangkat ke Mesir karena ingin meneruskan pelajaran di Universitas Al Azhar, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena menganggap Mesir adalah tempat plesir dan maksiat.

    Di Mesir tidak menerima kiriman uang dari ayahnya sehingga hidup dari dana-dana dan makan pun di mesjid.

    Untung hal yang demikian tidak berlangsung lama. Ayahnya kemudian berubah pendapat dan mau mengirim belanja kepadanya.

    Selama di Mesir banyak membaca buku-buku sastra Barat yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab.

    Di sana menyaksikan pula tumbuhnya nasionalisme dan hal ini membekas dalam jiwanya. Ia belajar di Al Azhar kurang lebih 3 tahun lamanya.

    Selama di Mesir berkesempatan mengunjungi beberapa negara Islam, antara lain meninjau pesantren Syanggit di Tripoli yang amat berkesan dihatinya.

    Berhubung dengan berkecamuknya perang dunia I, dipanggil pulang oleh ayahnya. Dalam perjalanan pulang bermukim lagi satu tahun di Mekah.

    Pada tahun 1915 tiba kembali di tanah airnya. Ia segera disibukkan oleh berbagai kegiatan dalam pergerakan agama, bahkan politik pula.

    Sebagai ulama, dikenal ahli ilmu tasawuf, ilmu tauhid, ilmu kalam, falsafah, dan mantiq K.H. Mas Mansyur menyadari, bahwa pada masa penjajahan itu, agama Islam tidak dapat berkembang.

    Pemerintah jajahan selalu berusaha menjauhkan masyarakat, terutama kaum terpelajarnya, dari kehidupan agama Islam.

    K.H. Mas Mansyur sudah berkata pada zaman itu, bahwa….. di tanah air kita Indo­nesia ini sebagian banyak dari kaum terpelajar kita yang lari dari agama Islam lantaran mereka merasa ragu-ragu disebabkan oleh keadaan pemeluknya yang pada masa ini sedang berada di lapisan yang paling rendah, rendah dan sungguh rendah martabat kedudukannya kalau dibandingkan dengan umat yang lain, ya sekali lagi rendah martabatnya.

    Tetapi di samping kerendahan bangsa kita dewasa ini adalah boleh dikatakan, karena kita sendiri, bukan karena Is­lam.

    Bukan karena Muhammad, dan bukan karena Qur’an dan Hadisnya, Is­lam tetap tinggi, tetapi umatnya belum tentu sebagai dia.

    Biar umatnya tidak terpandang, hina dina, namun dia (Islam) tetap mulia. Kehinaan umatnya bukan menunjukkan atas kehinaannya.

    Tegasnya, kehinaan dan kebenaran serta kemuliaan pemeluk sesuatu agama itu, bukan menjadi ukuran atas kehinaan agama yang dipeluknya.

    Tetapi ukuran kebenaran dan kerendahan suatu agama itu, ialah tersimpan di mata air agama itu sendiri.

    Setibanya kembali di tanah air, dari Jakarta K.H. Mansur tidak langsung pulang ke Surabaya, tetapi singgah di Yogyakarta pada K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, untuk memperkenalkan diri dan bersilaturahmi.

    Rupanya sejak di negeri Saudi Arabia sudah tertarik oleh Muhammadiyah yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan tiga tahun sebelum pulang.

    Sejak itu terjadilah hubungan erat antara K.H. Mas Mansur dengan K.H. Ahmad Dahlan dan pada tahun 1921 K.H. Mas Mansur pun masuk menjadi anggota Muhammadiyah.

    Sebelum masuk Muhammadiyah lebih dahulu telah tertarik kepada politik dan menjadi anggota SI (Serikat Islam) sejak tahun 1915.

    Disamping itu aktif didalam lembaga pendidikan bersama-sama rekan-rekannya ulama mendirikan Madrasah Nadhatul Wathan.

    Taswirul Afkar dan mengajar dipesantren ayahnya Madrasah Mufidah. Di sini menerapkan sistim Mesir.

    Di dalam Muhammadiyah kedudukan K.H. Mas Mansur terus meningkat. Masuk Muhammadiyah, kemudian mendirikan cabang Surabaya yang diketuainya.

    Lalu diangkat menjadi konsul untuk Jawa Timur dan di dalam kongres Muhammadiyah ke-26 pada tahun 1937 dipilih menjadi Ketua Pimpinan Pusat.

    Di dalam kongres-kongres berikutnya dipilih kembali hingga memimpin Muhammadiyah selama 6 tahun penuh, dari tahun 1937 hingga 1943.

    Selama menjadi Ketua PP Muhammadiyah memberi pelajaran pada Madrasah Mu’alimin, yaitu sekolah calon guru Muhammadiyah sekaligus sebagai kader-kader yang disiapkan untuk menanam benih-benih Muhammadiyah ke seluruh Indonesia.

    Di sana K.H. Mas Mansur memberikan pelajaran ilmu tauhid dan terkenal sebagai ustadz yang pandai mengajar.

    Pelajarannya padat, tetapi populer, mudah diikuti. Oleh karenanya para siswanya hingga sekarang masih terkenang kepada almarhum gurunya yang mahir itu.

    Sebagai seorang mubaligh K.H. Mas Mansur pandai berpidato. la terkenal dengan pidatonya yang singkat, padat, seringkali dibumbui dengan hal yang lucu-lucu.

    Menulis pun Mas Mansur mahir. Tulisan-tulisannya dimuat berbagai majalah. Tulisannya pun seperti pidatonya, yaitu singkat, padat, jelas dan enak dibaca.

    Pernah pula menerbitkan majalah tengah bulanan yang diberinya nama Le Djinem (baca: Jinem), Journal Ertude, Proprietair.

    Majalah yang nama-namanya mirip bahasa Perancis itu bukan berbahasa Perancis, tetapi berbahasa Jawa dengan huruf Arab.

    Majalah Djinem menyuarakan ”arinom” artinya adik muda atau angkatan muda. Majalah ini terbit tahun 1920.

    Kecuali berpidato dan menulis pun suka berpolemik tentang sesuatu masalah.

    Ia selalu merasa perlu mendudukkan suatu persoalan sewajarnya hingga masyarakat umum memahami soal itu dengan benar-benar. Kalau masih juga lawan polemiknya belum mengerti.

    Mas Mansur tidak segan-segan mendatanginya tidak lain untuk menjelaskan persoalannya.

    Dalam memimpin Muhammadiyah Mas Mansur menerapkan disiplin yang ketat. Menarik garis antara pribadi dan organisasi.

    Ia lebih suka orang-orang Muhammadiyah datang di kotanya tentang urusan organisasi dari pada datang di kediamannya dengan dalih bersilaturrahmi.

    Rapat PP Muhammadiyah pernah dibatalkan, karena pada waktu yang ditetapkan dalam undangan, para anggota belum mencukupi jumlah untuk dapat bersidang.

    Sejak itu PP Muhammadiyah menjauhi kebiasaan jam karet.

    Sebagai tokoh masyarakat, banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, baik dari golongan agama maupun golongan politik membantu Muhammadiyah dalam menyelenggarakan rumah dan poliklinik.

    K.H. Mas Mansur tidak saja memiliki berbagai keahlian dalam soal-soal agama Islam, tetapi banyak pula prakarsanya mengembangkan agama Islam ditanah air.

    Pada tahun 1926 menjadi ketua MAIHS (Mu’tamar al-alam allslam Far’ul Hindisy – Syaqiyah) dengan sekretaris Haji Agus Salim.

    Dalam tahun itu juga menjadi ketua HOH (Haji Organisasi Hindia), dan dalam tahun itu pula bersama H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur Sejak berangkat ke Mekah untuk mewakili Indonesia dalam Mu’tamar Alam Islami sedunia.

    K.H. Mas Mansur adalah seorang ulama yang besar, juga seorang pemimpin yang disegani.

    Bukan saja karena ilmunya yang luas dan dalam mengenai agama Islam, tetapi juga karena wataknya yang luhur dan berbudi.

    Pengaruhnya tidak terbatas dilingkungan umat Islam saja, tetapi juga meluas di segenap masyarakat bangsa, karena itu sudah sewajarnya, apabila pemerintah kolonial Hindia Belanda memperhatikan dan berusaha untuk mendekati K.H. Mas Mansur.

    Dengan melalui Dr. Pijper pemerintah Hindia Belanda menawari K.H. Mas Mansur supaya suka menduduki jabatan sebagai Ketua Hod van Islamietische Zaken, yaitu suatu lembaga tinggi tentang urusan agama Islam, yang berkewajiban memberikan nasehat-nasehat keagamaan Islam kepada Pemerintah Hindia-Belanda.

    K.H. Mas Mansur akan memperoleh gaji sebesar f.1000,- (seribu gulden) setiap bulan, suatu jumlah yang sungguh besar, seperti gaji seorang bupati di zaman Hindia Belanda itu.

    Tetapi diluar dugaan Pemerintah Hindia Belanda dan pihak-pihak yang tidak menyukai beliau, ternyata K.H. Mas Mansur menolak.

    la memilih kebebasan bergerak di dalam perserikatan Muhammadiyah, walaupun dengan keperluan hidup yang serba terbatas daripada menjadi ketua Hod van Islamitiesche Zaken dengan gaji besar dan kehidupan mewah, tetapi menjadi alat pemerintahan penjajahan.

    Karena penolakannya itu, nama Kyai Haji Mas Mansur makin harum, terutama dikalangan para pemimpin pergerakan nasional.

    Prakarsa K.H. Mas Mansur yang mendapat penghargaan dari para pemimpin Islam ialah berdirinya Majelis Islam Tertinggi yang berkembang menjadi MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) pada tahun 1937, menemui Kyai Haji Moh.

    Dahlan pemimpin Nadlatul Ulama (NU) di Surabaya dan mengusulkan pembentukannya Majelis Islam Tertinggi.

    Usul itu mendapat sambutan dan kemudian mereka mengadakan pertemuan dengan para ulama di Surabaya yang di hadiri oleh 70 orang ulama dari Jawa dan Madura.

    Pada pertemuan itulah dibentuk majelis tersebut dengan ketua K.H. Mas Mansur, wakilnya K.H Moh. Dahlan (Surabaya) dan K.H. Wahab Habullah dari NU duduk didalam pengurus pula.

    Pada tanggal 26 Februari – 1 Maret 1938 MIAI mengadakan Kongres Al Islam ke I di Surabaya.

    Sebenarnya umat Islam Indonesia pernah melangsungkan kongres Al Islam sampai yang ke-9 sebelum ada MIAI, namun yang diusahakan MIAI itu disebut Kongres Al Islam ke-1.

    Hal ini tidak menjadi persoalan karena para ulama lebih mementingkan persatuan umat Islam yang waktu itu terasa goncang.

    Kegoncangan itu disebabkan karena adanya perbedaan pandangan antara PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) dengan kelompok-kelompok lainnya.

    Kegoncangan itu melahirkan PARII (Partai Islam Indonesia) yang didirikan pada tanggal 24 Desember 1938 dibawah pimpinan Wiwoho Purbohadijoyo dan dr. Sukirman Wiryosanjoyo. K.H. Mas Mansur duduk sebagai anggota Pengurus Besarnya.

    Pada tahun 1939 berdirilah GAPI (Gabungan Partai-Partai Politik Indonesia) dengan tuntutannya ”Indonesia Berparlemen” dan programnya menyelenggarakan Kongres Rakyat Indonesia (KRI).

    MIAI dengan wakil-wakilnya, Wahid Hasyim, Wondoamiseno, Sukiman dan K.H Mas Mansur ikut serta.

    Beberapa partai dan organisasi lain ikut pula. Dalam tahun 1941 KRI yang telah menjadi badan tetap mengganti nama dengan Majelis Rakyat Indonesia (MRI) K.H. Mas Mansur dipilih menjadi ketuanya.

    Hal itu membuktikan bahwa kepemimpinannya tidak hanya diakui oleh kelompok agama, tetapi juga oleh kaum pergerakan nasional.

    Perlu diketahui pada zaman kolonial itu pemerintah Belanda memang membentuk Dewan Rakyat (Volksraad).

    Tetapi para pemimpin pergerakan nasional, terutama kaum nonkoperasi (tidak bekerjasama dengan pemerintah jajahan) tidak menaruh kepercayaan terhadap Volksraad yang dinamakannya Komidi omong. Volksraad itu memang alat Pemerintah Hindia Belanda.

    Selama berjuang dan memimpin perjuangan umat Islam K.H. Mas Mansur banyak sekali menyumbang buah pikiran berupa pidato-pidato dan tulisan-tulisan diberbagai majalah dan surat kabar.

    Pemerintah RI dengan SK Presiden RI No.162 Tahun 1964 tertanggal 26 Juni 1964 menganugerahi Kyai Haji Mas Mansur gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

    Sumber: pahlawancenter

  • Biografi Singkat Sayuti Melik, Pengetik Naskah Proklamasi

    Biografi Singkat Sayuti Melik, Pengetik Naskah Proklamasi

    Sayuti Melik dilhairkan di Sleman pada tanggal 22 November 1908, merupakan putra seorang Kepala Desa bernama Abdul Mu’in alias Partoprawiro, sedangkan ibunya bernama Sumilah.

    Sayuti mengenyam pendidikan dimulai dari Sekolah Ongko Loro (Setingkat SD) di desa Srowolan, sampai kelas IV dan diteruskan sampai mendapat Ijazah di Yogyakarta.

    Nasionalisme sudah sejak kecil ditanamkan oleh ayahnya kepada Sayuti kecil.

    Ketika itu ayahnya menentang kebijaksanaan pemerintah Belanda yang menggunakan sawahnya untuk ditanami tembakau.

    Ketika belajar di sekolah guru di Solo, 1920, ia belajar nasionalisme dari guru sejarahnya yang berkebangsaan Belanda, H.A. Zurink.

    Pada usia belasan tahun itu, ia sudah tertarik membaca majalah Islam Bergerak pimpinan K.H. Misbach di Kauman, Solo, ulama yang berhaluan kiri.

    Ketika itu banyak orang, termasuk tokoh Islam, memandang Marxisme sebagai ideologi perjuangan untuk menentang penjajahan.

    Dari Kiai Misbach ia belajar Marxisme. Perkenalannya yang pertama dengan Bung Karno terjadi di Bandung pada 1926.

    Tulisan-tulisannya mengenai politik menyebabkan ia ditahan berkali-kali oleh Belanda.

    Pada tahun 1926 ditangkap Belanda karena dituduh membantu PKI dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (1927-1933).

    Tahun 1936 ditangkap Inggris, dipenjara di Singapura selama setahun.

    Setelah diusir dari wilayah Inggris ditangkap kembali oleh Belanda dan dibawa ke Jakarta, dimasukkan sel di Gang Tengah (1937-1938).

    Sepulangnya dari pembuangan, Sayuti berjumpa dengan Soerastri Karma Trimurti, seorang wartawati dan aktivis perempuan di zaman pergerakan dan zaman setelah kemerdekaan dan terlibat dalam berbagai kegiatan pergerakan secara bersama.

    Akhirnya pada 19 Juli 1938 mereka menikah.

    Pada tahun itu juga Mereka mendirikan koran Pesat di Semarang yang terbit tiga kali seminggu dengan tiras 2 ribu eksemplar.

    Karena penghasilannya masih kecil, pasangan suami-istri itu terpaksa melakukan berbagai pekerjaan, dari redaksi hingga urusan percetakan, dari distribusi dan penjualan hingga langganan.

    Trimurti dan Sayuti Melik bergiliran masuk keluar penjara akibat tulisan mereka mengkritik tajam pemerintah Hindia Belanda.

    Sayuti sebagai bekas tahanan politik yang dibuang ke Boven Digul selalu dimata-matai dinas intel Belanda (PID).

    Pada zaman pendudukan Jepang, Maret 1942 koran Pesat diberedel Japan, Trimurti ditangkap Kempetai, Jepang juga mencurigai Sayuti sebagai orang komunis.

    Pada 9 Maret 1943, diresmikan berdirinya Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dipimpin “Empat Sekawan” Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Kiai Mas Mansoer.

    Saat itu Soekarno meminta pemerintah Jepang membebaskan Trimurti, lalu membawanya ke Jakarta untuk bekerja di Putera, dan kemudian di Djawa Hookoo Kai, Himpunan Kebaktian Rakyat Seluruh Jawa.

    Dan lalu Trimurti dan Sayuti Melik dapat hidup relatif tenteram.

    Sayuti terus berada di sisi Bung Karno dan secara diam-diam namanya dimasukkan ke dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

    Sayuti Melik juga termasuk dalam kelompok Menteng 31, yang berperan dalam penculikan Sukarno dan Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945 (Peristiwa Rengasdengklok).

    Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok.

    Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang.

    Sayuti Melik bersama Sukarni merupakan perwakilan pemuda sebagai pembantu Bung Karno dan Bung hatta yang bersama-sama dengan tokoh-tokoh lainnya mengkonsepkan naskah proklamasi.

    Sayuti juga yang mengusulkan agar naskah proklamasi ditandatangani oleh Bung karno dan Bung Hatta, “atas nama bangsa Indonesia” menggantikan kalimat “wakil-wakil bangsa Indonesia.

    Setelah Indonesia Merdeka, Sayuti menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

    Pada tahun 1946 atas perintah Mr. Amir Syarifudin, ia ditangkap oleh Pemerintah RI karena dianggap sebagai orang dekat Persatuan Perjuangan serta dianggap bersekongkol dan turut terlibat dalam “Peristiwa 3 Juli 1946.

    Setelah diperiksa oleh Mahkamah Tentara, ia dinyatakan tidak bersalah.

    Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, ia ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Ambarawa. Ia dibebaskan setelah selesai KMB.

    Tahun 1950 ia diangkat menjadi anggota MPRS dan DPR-GR sebagai Wakil dari Angkatan ’45 dan menjadi Wakil Cendekiawan.

    Sebenarnya Sayuti dikenal sebagai pendukung Sukarno. Namun, ketika Bung Karno berkuasa, Sayuti justru tak “terpakai”.

    Dalam suasana gencar-gencarnya memasyarakatkan Nasakom, dialah orang yang berani menentang gagasan Nasakom (nasionalisme, agama, komunisme).

    Ia mengusulkan mengganti Nasakom menjadi Nasasos, dengan mengganti unsur “kom” menjadi “sos” (sosialisme).

    Ia juga menentang pengangkatan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup oleh MPRS. Tulisannya, Belajar Memahami Sukarnoisme dimuat di sekitar 50 koran dan majalah dan kemudian dilarang.

  • Biografi Dewi Sartika, Pahlawan Pendidikan Wanita

    Biografi Dewi Sartika, Pahlawan Pendidikan Wanita

    Raden Dewi Sartika dilahirkan di Bandung, tanggal 4 Desember 1884. Ia terkenal dengan julukan “Djuragan Dewi” atau “Djuragan Ageung”.

    Ayahnya adalah seorang patih, berkedudukan di Bandung dan namanya Raden Somanagara, sedangkan ibunya bernama Raden Aju Radjapermas.

    Suasana masyarakat Bandung saat Raden Dewi Sartika dilahirkan dan dibesarkan adalah suasana yang masih feudal-kolonial.

    Saat itu juga terjadi tindakan melawan ketidakadilan pemerintahan feudal-kolonial.

    Salah satunya adalah adanya peristiwa peletakan bom di bawah panggung pacuan kuda di Tegallega, di mana saat itu para pembesar kolonial akan hadir di pacuan itu, dan akan diledakkan saat pacuan berlangsung.

    Saat bom ditemukan dan telah diadakan pengusutan, bukti mengarah kepada ayah Raden Dewi Sartika.

    Saat pengusutan berlangsung Patih Somanagara dipindahkan ke Mangunredja, Priangan Timur. Setelah dinyatakan bersalah Raden Somanagara dibuang ke Ternate hingga meninggal dunia di sana.

    Raden Dewi Sartika pada awalnya disekolahkan oleh ayahnya di sekolah Belanda, namun sekolah tersebut tidak bisa meluluskannya karena saat itu ayahnya menjalani pembuangan.

    Dan tidak ada sekolah yang saat itu terbuka pintunya bagi anak seorang buangan.

    Raden Dewi Sartika kemudian dirawat oleh bapak-tuanya Patih Aria Tjitjalengka.

    Di dalam keluarga inilah ia melanjutkan pendidikannya, baik dalam pekerjaan kerajinan kewanitaan, maupun dalam hal perkembangan intelektualnya.

    Raden Dewi Sartika adalah seorang gadis yang periang, rajin dan suka bergaul dengan anak-anak rakyat, sabar dan tidak suka berselisih.

    Ia mempunyai kebiasaan bermain-main guru dan sekolah ketika selesai melaksanakan tugasnya.

    Di belakang dapur kepatihan ia mengajar menulis dan membaca teman-teman sesama gadis, anak-anak pembantu rumah tangga Kepatihan.

    Dan anak-anak rakyat sekeliling kepatihan itu yang termasuk temannya.

    Batu tulis yang digunakan saat itu adalah pecahan genting. Papan tulis menggunakan papan-papan yang ada, sedangkan kapur tulis yang digunakan adalah arang kayu.

    Bakat mengajarnya sudah tampak saat ia masih gadis kecil dan kemudian berkembang saat ia dewasa.

    Ketika remaja, Raden Dewi kembali ke ibunya di Bandung.

    Ia berpikir bagaimana caranya agar bisa mendirikan sebuah sekolah, dimana ia berkesempatan memberikan pelajaran kepada gadis-gadis, baik anak-anak golongan priyayi, maupun anak-anak dari golongan rakyat.

    Ia ingin memberikan kemajuan kepada kaum wanita, yang di zamannya, yakni zaman feudal-kolonial, sangat dibelakangkan, jika dibandingkan dengan pendidikan kaum pria saat itu.

    Jalanpun terbuka, ketika keinginannya sampai kepada Bupati Bandung R.A.A. Martanagara.

    Dengan pertolongan Bupati dan bantuan pembesar-pembesar yang berwajib saat itu, maka pada tanggal 16 Januari 1904, Raden Dewi mulai membuka sekolah gadis pertama di Priangan (Bandung), bahkan yang pertama di Indonesia, dengan mengambil tempat di ruangan persidangan kabupaten sebelah barat.

    Dibuka sekaligus kelas satu dan kelas dua dengan tiga orang guru. Sekolah itu bernama “Sakola Istri”.

    Pada tahun 1905, karena kekurangan ruangan maka “Sakola Istri” dipindahkan ke suatu tempat di luar halaman kabupaten, di jalan yang kemudian bernama DJalan Raden Dewi.

    Di sekolah tersebut, para gadis tidak hanya mendapat pelajaran yang bersifat umum saja tetapi juga kerajinan tangan wanita yang saat itu bermanfaat bagi rakyat seperti menjahit menisi, menambal, menyulam, dan merenda.

    Pada tahun 1906, Raden Dewi Sartika, menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, yang masih kaum kerabatnya guru di sekolah Karangpamulangan di Bandung.

    Dengan bantuan moril suaminya ini maka semakin berkembang pula cita-cita dari Raden Dewi.

    Sekolah yang semula dinamakan “Sakola Istri” itu pada tahun 1910 diganti namanya dengan “Sakola Kautamaan Istri” dan mata pelajarannya ditambah dengan memasak, mencuci, menyetrika, dan membatik.

    Perhatian dari pihak berwajib saat itu kian bertambah. Murid-murid tidak hanya terbatas pada gadis-gadis yang berada di Bandung dan sekitarnya tetapi datang pula dari Sumatera.

    Beberapa gadis datang dari Bukittinggi untuk belajar dan kemudian diaplikasikan kembali di kampung halamannya dengan mendirikan sekolah keutamaan istri.

    Sekolah gadis ini menyebar ke beberapa tempat di Jawa Barat, Garut, Purwakarta, dan Tasikmalaya.

    Karena baktinya kepada bangsa dalam usahanya mengangkat kaum wanita ketingkatan yang lebih baik, maka pemerintah saat itu memberikan penghargaan dan tanda-tanda jasa kepada Raden Dewi. Nama sekolahnya kemudian menjadi “Sakola Raden Dewi”

    Pada tanggal 16 Januari 1939, Raden Dewi Sartika menghadiri perayaan ke-35 tahun berdirinya sekolah yang ia idam-idamkan bagi kemajuan kaum wanita.

    Perayaan ini mendapat sangat banyak perhatian baik dari kalangan masyarakat di Jawa Barat maupun dari kalangan pemerintah.

    Enam bulan kemudian, tanggal 25 Juli 1939, Raden Dewi Sartika ditimpa musibah.

    Ia ditinggal oleh suaminya yang telah memberikan bimbingan dan dukungan yang menghasilkan tercapainya cita-citanya. Raden Agah Suriawinata meninggal dunia saat itu.

    Di saat Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942, Sekolah Raden Dewi dibubarkan oleh Jepang dan diganti dengan Sekolah Gadis.

    Pada tahun 1946 saat peristiwa Bandung Lautan api, gedung sekolah saat itu terhindar dari bahaya api.

    Raden Dewi sekeluarga saat itu meninggalkan Bandung, mengungsi ke Tjiparaj, sebelah tenggara Bandung, kemudian karena adanya pertempuran berpindah lagi ke Garut, dan dari sini berpindah ke daerah pegunungan di sebelah selatan Tjiamis, yakni di Tjineam.

    Sementara itu keadaan Raden Dewi telah menjadi lemah. Di Tjineam ini ia menderita sakit keras, dan dirawat di rumah sakit darurat Republik Indonesia, di mana ia kemudian menyusul suaminya pulang menghadap Ilahi.

    Raden Dewi Sartika meninggal pada hari Kamis, tanggal 11 September 1947, pukul 09.00 pagi.

    Dimakamkan di tempat itu, lalu dipindahkan ke Bandung, sisa-sisa jasadnya diperistirahatkan untuk selama-lamanya berdekatan dengan peristirahatan sang suami -kawan seperjuangan. Hal ini terjadi di tahun 1951.

  • Biografi Martha Christina Tiahahu, Sosok Pejuang dari Maluku

    Biografi Martha Christina Tiahahu, Sosok Pejuang dari Maluku

    Biografi Martha Christina Tiahahu

    Martha Christina Tiahahu dilahirkan pada tanggal 4 Januari 1800 di Abubu Nusalaut, Maluku.

    Ia adalah anak pertama dari Kapitan Paulus Tiahahu, salah satu tokoh yang membantu perjuangan Kapitan Pattimura ketika perang Pattimura meletus.

    Sedangkan Ibu Martha diketahui meninggal saat ia masih kecil.

    Masa Kecil Martha Christina Tiahahu

    Sejak kecil, Martha Christina Tiahahu memang sangat pemberani dan memiliki spirit perjuangan tinggi.

    Ia selalu mengikuti ayahnya kemanapun ia pergi, bahkan ketika ayahnya melakukan pertemuan untuk merencanakan perang.

    Pada tahun 1817, di waktu yang sama pula, Kapitan Pattimura juga melakukan perlawanan melawan Belanda di pulau Saparua, Maluku.

    Pertempuran melawan Belanda kala itu meluas dari Saparua hingga ke pulau Nusalaut.

    Perjuangan Melawan Kolonial Belanda

    Di usianya yang masih muda, Martha memiliki mental dan keberanian yang tinggi.

    Dalam buku biografi Martha Christina Tiahahu yang ditulis oleh L. J. H. Zacharias (1981), disebutkan Martha sampai tiga kali meminta izin kepada ayahnya untuk ikut berperang, namun selalu ditolak.

    Larangan tersebut tidak pernah dihiraukan, Martha tetap ingin ikut bertempur di medan perang. Dia ikut bertempur melawan Belanda di Saparua membantu Kapitan Pattimura.

    Perlawanan ini termasuk pertempuran besar yang pernah terjadi di Indonesia yaitu perang pattimura.

    Kala itu benteng Beverwijk berhasil diduduki oleh Belanda tanpa perlawanan sebab Guru Soselissa salah seorang penduduk menyatakan menyerah atas nama rakyat.

    Di daerah Ouw dan Ulath, serta Saparua. Martha bertempur bersama para raja, rakyat, serta para kapitan.

    Di Kondisi peperangan, ia membantu membawa senjata dan membantu orang yang terluka. Ketika bertempur, Martha Christina suka memegang tombak.

    Namun, kala itu persediaan amunisi kurang sehingga membuat rakyat mundur ke pegunungan.

    Pertempuran pun berlanjut pada tanggal 11 Oktober 1817. Kurang lebih 100 orang pasukan Belanda yang dipimpin oleh Richemont dan Meyer menggempur daerah Ullath.

    Martha bersama rakyat bertempur sengit mempertahankan tanah air. Dalam peperangan tersebut, perwira Belanda yang bernama Richemont tertembak mati oleh peluru rakyat.

    Pasukan Belanda yang kemudian dipimpin oleh Meyer terkepung di tanjakan Ouw. Mereka bertahan dari serangan rakyat disegala penjuru.

    Pertempuran semakin sengit ketika Meyer terkena peluru di leher. Meyer kemudian dievakuasi ke kapal Eversten dan komando pasukan Belanda diambil alih oleh Vermeulen Kringer.

    Tepatnya pada tanggal 12 Oktober 1817, Vermeulen Kringer memerintahkan serangan umum di daerah Ouw dan Ulath.

    Rakyat yang mulai kehabisan amunisi kemudian melempari pasukan Belanda dengan batu.

    Pasukan Belanda kala itu mengetahui bahwa pasukan rakyat sudah mulai kehabisan amunisi.

    Mengetahui hal tersebut Pasukan Belanda kemudian maju dengan senjata lengkap dengan sangkur yang terhunus.

    Martha Christina Tertangkap Belanda

    Perlawanan kemudian berakhir dengan ditangkapnya beberapa pemimpin pertempuran termasuk di dalamnya Martha Christina Tiahahu dan ayahnya Kapitan Paulus Tiahahu.

    Mereka kemudian dibawa kapal Eversten bersama dengan tahanan lainnya, di kapal itu juga terdapat Kapitan Pattimura yang juga tertangkap.

    Beberapa tahanan dijatuhi hukuman mati atas perlawanan mereka termasuk ayah Martha, terkecuali Martha sebab ia masih sangat muda.

    Ia hanya akan dibawa ke Jawa untuk menjalani tanam paksa.

    Hukuman mati ayahnya dilaksanakan pada 17 November 1817. Saat proses eksekusi mati, Martha tidak diijinkan melihat kematian ayahnya.

    Ayahnya dibunuh dengan puluhan peluru dari serdadu Belanda. Bahkan tubuhnya juga ditusuk dengan Kelewang.

    Pahlawan Termuda Yang Mati di Laut Banda

    Martha akan diasingkan ke pulau Jawa dan dipaksa bekerja di perkebunan kopi.

    Dia ditempatkan di sebuah ruangan kosong yang gelap. Martha sempat depresi dan seperti kehilangan akal karena kematian ayahnya.

    Saat sakit, dia tidak mau menerima obat-obatan apapun. Dia pun tidak mau makan, membuat tubuhnya semakin lemas.

    Semangat hidupnya sudah hilang begitu saja. Hanya ada rasa putus asa karena kematian ayahnya.

    Di usia 17 tahun, seharusnya dia tidak menjadi tahanan kolonial. Namun menjadi tahanan orang tuanya yang siap dinikahkan. Tahun 1818, tubuh Martha semakin lemah.

    Pada tanggal 2 Januari 1818 dini hari, Martha Christina Tiahahu mengembuskan napas terakhirnya. Dia wafat di antara perairan pulau buru dan pulau manippa.

    Jasadnya kemudian dilarung ke laut dengan penghormatan militer. Sekarang tubuhnya bersemayam di laut Banda.

    Sosok Martha patut dijadikan inspirasi wanita Indonesia karena kisah hidupnya yang inspiratif.

    Di usia muda dia berjuang sekuat tenaga melawan kolonial belanda untuk mempertahankan tanah air.

  • Biografi Silas Papare, Pahlawan dari Papua

    Biografi Silas Papare, Pahlawan dari Papua

    Biografi Silas Papare

    Nama : Silas Ayari Donari Papare
    Lahir : Serui, Papua, 18 Desember 1918
    Meninggal : Serui, Papua, 7 Maret 1973 (umur 54 tahun)
    Agama : Kristen Protestan
    Keluarga : Isteri (Ny. Regina Aibui), Anak (9 orang)

    Pendidikan

    Volschool
    Sekolah Juru Rawat (lulus tahun 1935)

    Organisasi

    Komite Indonesia Merdeka (KIM)
    Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII)
    Badan Perjuangan Irian
    Kompi Irian 17
    Biro Irian

    Jabatan

    Pendiri Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII)
    Pendiri Badan Perjuangan Irian
    Delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York (15 Agustus 1962)
    Pembentuk Komite Indonesia Merdeka (KIM)

    Prestasi

    • Salah satu kapal perang milik TNI AL mendapat kehormatan menggunakan nama KRI Silas Papare yaitu sebuah korvet kelas Parchim, yang dibuat untuk Volksmarine/AL Jerman Timur pada akhir 70-an. Penamaan menurut Pakta Warsawa adalah Project 133
    • Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993.
    • Pada 5 April 1945, Silas mendapat penghargaan dari pemerintah kolonial Belanda berupa Bintang Perunggu, yang diberikan oleh Koningin Wilhelmina
    • Berkat pertolongannya kepada tentara Sekutu melawan Jepang di Irian Jaya, ia kembali memperoleh penghargaan dari bagian OPS Perang Pasifik dari Biro Intelijen tentara Sekutu yang ditandatangani oleh GA Willongbym Mayor Jenderal USA (US ARMY) pada 31 Oktober 1945
    • Nama Beliau juga diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yang berada di Jalan Diponegoro. Sedangkan di kota Nabire, nama Silas Papare dikenang dalam wujud nama jalan.

    Peran

    • Mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Akibatnya, Silas kembali ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di Biak. Namun, Silas berhasil melarikan diri menuju Yogyakarta.
    • Pada Oktober 1949 di Yogyakarta, Silas Papare membentuk Badan Perjuangan Irian
      Ditunjuk menjadi salah seorang delegasi Indonesia dalam Perjanjian New York pada tanggal 15
    • Agustus 1962 yang mengakhiri perseteruan antara Indonesia dan Belanda perihal Irian Barat
    • Pada 29 September 1945, Silas Papare dengan bimbingan ex Digulis Harjono dan Suprapto membentuk Komite Indonesia Merdeka ( KIM )
    • Membentuk Kompi Irian 17 di Markas Besar Angkatan Darat untuk mendukung politik Pemerintah di forum Internasional dalam usaha pengembalian Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia pada tahun 1951.
    • Membentuk Biro Irian di Jakarta pada tahun 1945 dan Silas Papare ditetapkan sebagai Komisaris I (Keppres RI No. 53 tahun 1945 tanggal 17 Pebruari 1954). Membentuk Propinsi Irian Barat di Jakarta sebagai pemerintah tandingan Pemerintah Belanda di Irian Barat.
    • Merupakan pelopor/penganjur/teladan atas anjurannya “I Love Indonesia”, cinta tanah air Indonesia nasionalisme yang mulia dikembangkan di Bumi Irian.
    • Pada 25 Desember 1945, Silas dan beberapa kawannya berupaya mengajak pemuda-pemuda Irian yang tergabung dalam Batalyon Papua untuk bergabung dan memberontak terhadap Belanda. Meski sayangnya, rencana tersebut bocor ke telinga Belanda, sehingga Silas Papare ditangkap dan dipenjarakan di Serui, Jayapura.