Tag: pelestarian budaya

  • Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    BANYUWANGI – Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi mengikuti Festival Literasi Using 2026 yang digelar di SDN Kepatihan, Banyuwangi, Sabtu (5/9).

    Kegiatan yang dihelat setiap tahun ini menjadi salah satu agenda budaya dan literasi terbesar di Banyuwangi, dengan mempertemukan pelajar dalam berbagai kompetisi yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Using.

    Festival yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

    Bupati Banyuwangi di Festival Literasi Using 2026

    Kehadiran Bupati Banyuwangi menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap antusiasme peserta didik yang mengikuti festival tersebut setiap tahunnya.

    Tahun ini, Festival Literasi Using mempertandingkan sejumlah cabang, yakni Geguritan, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Antusiasme pelajar terlihat salah satunya pada cabang Geguritan (baca puisi) tingkat SMP.

    Jumlah peserta pada cabang ini dibatasi sebanyak 45 orang. Pembatasan tersebut dilakukan karena pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peminat cabang ini sangat tinggi.

    Dalam penilaian Geguritan, peserta dinilai dari sejumlah aspek kebahasaan, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan menyampaikan makna dari teks yang dibawakan.

    Salah satu juri pada cabang tersebut adalah Maulana Affandi, mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Menurut Maulana, kemampuan peserta dalam membawakan Geguritan tidak hanya dilihat dari penguasaan teks, tetapi juga dari ketepatan penggunaan bahasa saat menyampaikan setiap bait.

    Pengucapan, intonasi, dan tekanan kata menjadi bagian penting agar isi Geguritan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

    “Selain interpretasi, bahasa juga menjadi fondasi utama dalam membaca Geguritan. Peserta harus mampu menjaga ketepatan pengucapan sekaligus memahami bagaimana sebuah kata disampaikan. Selain itu, intonasi dan tekanan juga ikut menentukan apakah pesan dalam teks bisa sampai kepada pendengar,” ujar Maulana.

    Menurut Maulana, kemampuan menggunakan bahasa daerah akan lebih mudah berkembang ketika peserta didik tidak hanya mempelajarinya secara teori, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Festival Literasi Using menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus melestarikannya melalui karya sastra.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa bahasa Using tidak hanya berkaitan dengan kosakata, tetapi juga memiliki sistem, konteks penggunaan, serta keterkaitan dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

    Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang ia dapatkan selama menempuh studi di UMM.

    “Kalau kita berbicara tentang bahasa Using, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai kumpulan kosakata. Ada sistem, ada cara penggunaan, ada konteks, dan ada identitas masyarakat yang melekat di dalamnya. Karena itu, ketika anak-anak menggunakan bahasa Using dalam karya sastra, sebenarnya mereka sedang berinteraksi dengan kekayaan bahasa dan budaya daerahnya,” jelasnya.

    Hadirnya Maulana sebagai juri turut membawa unsur akademik UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini.

    Pengetahuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan bahasa di Pascasarjana UMM diterapkan dalam kegiatan yang secara langsung melibatkan pelajar dan penggunaan bahasa Using.

    Bagi Maulana, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan praktik kebahasaan di tengah masyarakat.

    Ia berharap pelajar tidak memandang bahasa Using hanya sebagai materi yang dipelajari ketika mengikuti perlombaan.

    “Bahasa akan tetap hidup ketika digunakan. Anak-anak harus merasa bahwa bahasa Using bukan hanya bahasa yang dipelajari untuk mengikuti lomba, tetapi bahasa yang memiliki nilai dan bisa digunakan untuk berkarya,” katanya.

    Ia juga menilai rasa bangga terhadap bahasa daerah perlu ditanamkan sejak dini. Keberanian pelajar menggunakan bahasa Using di ruang publik menjadi salah satu bentuk sederhana dalam menjaga keberadaan bahasa daerah.

    “Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan. Ketika anak-anak berani tampil menggunakan bahasa Using di depan orang lain, itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah,” ujarnya.

    Keterlibatan Maulana sebagai mahasiswa Pascasarjana UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini juga menjadi bagian dari keterlibatan akademisi dalam kegiatan kebahasaan dan budaya di masyarakat.

    Hal tersebut sejalan dengan perhatian Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terhadap keberlanjutan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan generasi muda.

    Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Assoc. Prof. Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., menilai pelestarian budaya Using perlu terus diperbarui agar mampu menarik minat generasi Z dan generasi muda untuk mengenal, memahami, menguasai, sekaligus mencintai budaya daerahnya.

    Menurutnya, pembaruan dapat dilakukan dengan mengemas kegiatan seni dan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

    Penggunaan bahasa Using dalam konteks yang lebih kekinian juga dapat menjadi salah satu cara agar bahasa dan budaya daerah tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

    “Penting ada upaya-upaya terbarukan untuk budaya Osing agar bisa menumbuhkan keinginan generasi Z atau generasi muda lainnya untuk lebih mengenal, memahami, menguasai, dan mencintai budaya Osing sebagai upaya pemertahanan dan pelestariannya. Misalnya, bagaimana menata festival seni baca Aljin yang menarik untuk generasi muda Banyuwangi atau penggunaan bahasa Osing yang kekinian,” tuturnya.

    Ia menambahkan, pelestarian budaya juga tidak dapat dilepaskan dari peran pendidik.

    Guru maupun pendidik diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan mengajar, tetapi juga mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan peserta didik dan kebudayaan di sekitarnya.

    “Terus terang, kita sendiri sebagai pendidik kadang hanya suka mengajar, bukan mengajarkan kehidupan,” tutupnya.

  • Dukung Pelestarian Budaya, Kadis Perpusda dan Arkeolog Disbudpar Banyuwangi Kunjungi Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung

    Dukung Pelestarian Budaya, Kadis Perpusda dan Arkeolog Disbudpar Banyuwangi Kunjungi Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung

    Momen peringatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi tonggak penting bagi upaya pelestarian sejarah dan budaya Banyuwangi.

    Bertempat di Dusun Pondokasem, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, digelar kegiatan persiapan Rumah Peradaban sekaligus rintisan Museum Candi Purwo Gumuk Gadung, Senin (10/11).

    Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si, serta Arkeolog Museum Blambangan, Bayu Ari Wibowo, yang hadir mewakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi.

    Acara ini merupakan tindak lanjut dari Sarasehan Rumah Peradaban yang sebelumnya digelar di Pelinggihan Prabu Tawang Alun, Kantor Disbudpar Banyuwangi, pada 11 Oktober 2025 lalu.

    Suasana ramah tamah berlangsung sederhana namun penuh makna, dihadiri oleh tokoh masyarakat Dusun Pondokasem serta para penggiat sejarah dan budaya Nusantara.

    Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si,
    Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si, (Dok. Sastrawacana)

    Dalam sambutannya, Yusdi Irawan mengapresiasi langkah masyarakat dan para penggiat literasi yang telah memprakarsai rintisan Pojok Literasi Candi Purwo Gumuk Gadung dan Rumah Peradaban.

    Menurutnya, kegiatan ini akan menjadi pusat edukasi penting bagi masyarakat, khususnya di wilayah Tegaldlimo dan sekitarnya.

    “Semoga ke depan terus berkembang menjadi embrio yang bermanfaat bagi regenerasi anak bangsa,” ujar Yusdi.

    Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah terus memberikan dukungan terhadap kemajuan literasi di Banyuwangi.

    Salah satunya melalui kegiatan Festival Literasi Using yang digelar pada awal November 2025, dengan tujuan melestarikan budaya Using sekaligus memperkenalkan dunia literasi kepada para pelajar.

    Lebih lanjut, Yusdi menilai bahwa Pojok Literasi yang mengangkat tema peradaban, sejarah, adat istiadat, budaya, dan seni merupakan inisiatif yang patut diapresiasi.

    Sementara itu, Bayu Ari Wibowo, selaku perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan dukungan terhadap setiap upaya yang berkaitan dengan pelestarian cagar budaya.

    Bayu Ari Wibowo
    Bayu Ari Wibowo, Arkeolog Museum Blambangan (Dok. Sastrawacana)

    Tak hanya menghadiri kegiatan simbolis di Rumah Peradaban, Bayu juga terjun langsung meninjau kawasan Candi Purwo Gumuk Gadung bersama warga sekitar sebagai bagian dari survei awal pelestarian.

    “Kami mendukung dan langsung meninjau lokasi Candi Purwo Gumuk Gadung bersama warga sekitar untuk memastikan kondisi lapangan, meninjau potensi temuan, dan mengkaji kemungkinan situs ini apakah dapat dikategorikan sebagai situs bersejarah,” jelas Bayu.

    Menurutnya, langkah seperti ini bisa menjadi model pengembangan literasi berbasis budaya, yang ke depan berpotensi dikembangkan menuju digitalisasi buku sejarah dan peningkatan minat baca masyarakat dalam memahami warisan leluhur.

    Sebagai penutup, Bayu juga menyampaikan dukungan terhadap pembentukan Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung, yang akan menampilkan sejumlah artefak, koin kuno, dan benda peninggalan lainnya sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.

    Sementara itu, I Wayan Sucita, selaku penggagas Rumah Peradaban dan Pojok Literasi Candi Purwo Gumuk Gadung, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan pemerintah dan para pihak yang terlibat.

    “Kami berharap sinergi ini dapat terus menumbuhkan semangat pelestarian budaya dari generasi ke generasi,” ungkapnya.

    Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cinderamata sebagai simbol komitmen bersama dalam melestarikan sejarah dan peradaban Banyuwangi di masa lalu. (Tyo/Affandi)

  • Sastra Lisan Nyambei dari Rejang Lebong Resmi Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional

    Sastra Lisan Nyambei dari Rejang Lebong Resmi Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional

    Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah menetapkan sastra lisan Nyambei dari Rejang Lebong sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia 2025. Keputusan ini diumumkan dalam Sidang Penetapan WBTB 5–11 Oktober 2025 di Jakarta.

    Bupati Rejang Lebong, H. M. Fikri Thobari, menyatakan kebanggaannya atas pengakuan nasional tersebut. Ia menyebut bahwa penghargaan ini merupakan hasil dari proses panjang dan penilaian komprehensif.

    Menurutnya, pencapaian ini semoga memicu semangat masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya daerah.

    Pemkab Rejang Lebong akan mendorong agar Nyambei dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal.

    Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Zakaria, menegaskan bahwa pengakuan tersebut menegaskan bahwa budaya Nyambei adalah milik masyarakat Rejang Lebong.

    Ia menambahkan bahwa pihaknya akan menggelar lomba Nyambei di tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, bahkan nasional sebagai salah satu cara mempertahankannya.

    Zakaria juga menyatakan bahwa upaya pengusulan Nyambei sebagai warisan budaya takbenda nasional menunjukkan komitmen daerah dalam melestarikan nilai-nilai budaya lokal.

    Selain pelestarian, langkah ini juga diharapkan mendukung visi Rejang Lebong sebagai destinasi wisata budaya.

    Sekilas Tentang Nyambei

    Nyambei adalah tradisi sastra lisan tradisional masyarakat Rejang yang sudah ada sejak zaman dahulu, sebelum pengaruh luar merambah ke wilayah Bengkulu bagian tengah.

    Dalam sejarahnya, Nyambei digunakan sebagai hiburan dalam acara adat dan hajatan masyarakat, terutama sebagai forum berbalas pantun, perkenalan, serta ekspresi emosional melalui untaian bahasa yang penuh makna.

    Uniknya, bahasa yang digunakan dalam Nyambei merupakan perpaduan berbagai unsur bahasa daerah, termasuk pengaruh bahasa Jawa.

    Pertunjukan biasanya diiringi alat musik tradisional, seperti kulintang “jenggung”, menciptakan suasana akrab di malam perkampungan Rejang.

    Dalam tradisi lisan masyarakat Rejang, dikenal istilah pengela (pembuka syair) dan andak (penutup dengan irama berbeda).

    Menariknya, tradisi Nyambei pernah tercatat dalam karya William Marsden The History of Sumatra (1785), yang menunjukkan bahwa tradisi ini telah berlangsung lebih dari dua abad.

    Meski perannya kini sering menyertai pertunjukan seni tari tradisional, semangat Nyambei tetap hidup sebagai simbol keindahan bahasa, kecerdasan lokal, dan romantika budaya Rejang yang terus dijaga.

    Sumber: rejanglebongkab

  • DPR Dukung Sastra Lokal Masuk Kurikulum, Upaya Perkuat Identitas Budaya Daerah

    DPR Dukung Sastra Lokal Masuk Kurikulum, Upaya Perkuat Identitas Budaya Daerah

    Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendukung agar sastra lokal, seperti sastra khas Tegal di Jawa Tengah, dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

    Menurut Fikri, upaya tersebut penting untuk memperkuat identitas daerah sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal.

    “Semarak Budaya itu mempunyai makna satu perlindungan budaya. Jadi, Tegal itu punya kekhasan Jawa tetapi berbeda, bukan Sunda tetapi Jawa, Nah, bahasanya saja berbeda, kemudian nanti ada budaya-budaya lain seperti tari dan sebagainya,” kata Fikri.

    Dukungan itu disampaikan dalam kegiatan Rembuk Budaya Tegal yang digelar di Pelataran Sastra Piek Ardiyanto Supriyadi, Kota Tegal.

    Acara tersebut merupakan bagian dari masa reses anggota DPR, hasil kerja sama antara DPR RI dan Kementerian Kebudayaan RI, dengan tujuan merawat serta mengembangkan kekayaan budaya lokal.

    Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan seniman, budayawan, dan generasi muda itu diharapkan menjadi momentum memperkuat karakter budaya Tegal.

    Fikri berharap kekayaan lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan secara kreatif agar tetap relevan.

    Legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX, yang meliputi Kabupaten dan Kota Brebes serta Tegal, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

    “Pemajuan budaya harus mencakup empat pilar utama, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan,” ungkapnya.

    Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa kementeriannya terus memberikan dukungan terhadap subsektor yang berkaitan dengan pemajuan kebudayaan.

    “Begitu juga dukungan kepada komunitas dalam berbagai bentuk baik sarana-prasarana, dukungan dalam berbagai macam event, festival-festival internasional. Misalnya, kita hampir hadir di semua festival film internasional dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan sebagian mempunyai prestasi, sebagian besar kita mendapatkan pencapaian. Begitu juga untuk seni dan juga ekspresi budaya lain,” ujar Fadli Zon.

    Fadli menjelaskan bahwa perhatian kementeriannya tidak hanya terfokus pada bidang seni, tetapi juga mencakup manuskrip, bahasa, sastra, pangan tradisional, permainan rakyat, olahraga tradisional, dan berbagai unsur budaya lainnya.

    Sumber: Antara

  • Technical Meeting Festival Literasi Using SMP 2025 Digelar Secara Daring, Siap Lestarikan Bahasa dan Budaya Using

    Technical Meeting Festival Literasi Using SMP 2025 Digelar Secara Daring, Siap Lestarikan Bahasa dan Budaya Using

    Persiapan Festival Literasi Using SMP 2025 resmi dimulai dengan technical meeting atau rapat teknis secara daring melalui Zoom pada Rabu (8/10/2025), diikuti oleh panitia, juri, serta pendamping dari sekolah negeri dan swasta yang akan mengikutsertakan muridnya dalam gelaran bergengsi ini.

    Rapat teknis ini menjadi langkah awal untuk menyatukan pemahaman, membahas petunjuk teknis, serta memastikan seluruh rangkaian kegiatan festival berjalan lancar dan seragam di setiap cabang lomba.

    Sebagai informasi, Festival Literasi Using merupakan agenda tahunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang didukung MGMP Bahasa Using SMP, PKG SD serta Balai Bahasa Jawa Timur.

    Ketua MGMP Bahasa Using SMP, Yeti Chotimah menyampaikan bahwa festival ini sudah memasuki tahun kelima pelaksanaan.

    Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar lomba, melainkan ruang bagi siswa untuk mencintai bahasa dan budaya Using, identitas asli masyarakat Banyuwangi.

    “Selama lima tahun ini, Festival Literasi Using menjadi wadah bagi siswa SMP, baik negeri maupun swasta, untuk menunjukkan kecintaan mereka pada bahasa daerah. Tujuannya bukan hanya berlomba, tapi juga melestarikan warisan budaya Using,” ujary Yeti, yang siap memberikan informasi lebih lanjut melalui WhatsApp di 081336275599.

    Tahun ini, Festival Literasi Using akan digelar pada tanggal 1 November 2025 di SDN Model Banyuwangi. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 8 – 26 Oktober 2025 melalui link berikut ini https://bit.ly/FESTIVALUSING2025

    Sementara untuk grup peserta dapat bergabung melalui tautan ini: KLIK DI SINI.

    Ada tujuh kategori yang dilombakan, diantaranya Nulis Aksara (Menulis Kalimat Using), Nulis Cerpen, Moco Geguritan (Baca Puisi), Nembang (Menyanyi), Ngewer (Stand-up Comedy Using), dan Ndongeng (Bercerita) serta pidato.

    Setiap cabang dirancang untuk mengasah kemampuan siswa dalam menulis, membaca, dan menampilkan karya dalam bahasa Using dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.

    Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Didik Eko Wahyudi, S.Pd, memberikan apresiasi terhadap konsistensi MGMP Bahasa Using dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, festival tersebut menjadi wujud nyata dari upaya pelestarian bahasa daerah melalui jalur pendidikan.

    Suasana rapat teknis berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Sekitar 45 peserta yang terdiri dari panitia, juri, dan guru pendamping aktif berdiskusi, menyimak penjelasan juknis tiap cabang lomba, serta menyampaikan pertanyaan seputar aturan teknis.

    Terpisah, Affandi Maulana, pemimpin redaksi media online sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang menyatakan siap menjadi media partner dan merasa terhormat karena dilibatkan sebagai juri bersama dengan tokoh literasi dari komunitas literasi Gotongroyong ’45 serta Kopiwangi.

    Sarjana Sastra UNEJ ini menekankan pentingnya agar karya siswa tidak berhenti hanya di ajang lomba, tetapi terus berkembang dalam aktivitas literasi di dunia pendidikan maupun kehidupan masyarakat.

    "Karya-karya anak kita sebaiknya tidak hanya tampil di panggung festival, tapi juga diabadikan dalam bentuk buku antologi. Dengan begitu, semangat literasi Using bisa terus hidup dan menjadi warisan bagi generasi berikutnya," ujarnya.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd, selaku ketua komunitas Kopiwangi, turut mengapresiasi gelaran festival ini.

    Menurutnya, kegiatan seperti Festival Literasi Using sangat penting karena tidak hanya mengasah kemampuan siswa dalam menulis, membaca, dan menampilkan karya, tetapi juga menumbuhkan kecintaan mereka terhadap bahasa dan budaya Using, sehingga generasi muda tetap terhubung dengan warisan budaya daerahnya.

    Pertemuan daring yang berlangsung selama dua jam itu ditutup dengan sesi foto bersama, dimana seluruh peserta mengangkat simbol tangan literasi sebagai wujud komitmen untuk menjaga bahasa Using agar tetap hidup, digunakan, dan dicintai oleh para pelajar Banyuwangi di tengah arus zaman yang serba digital.

    Selain itu, muncul harapan agar Using kelak bisa diakui sebagai bahasa mandiri dengan identitasnya sendiri, bukan sekadar dipandang sebagai dialek, sehingga keberadaannya dapat terus dilestarikan dan berkembang di tengah masyarakat.

  • Banyuwangi Siapkan Strategi Besar Untuk Memajukan Tradisi Ragam Etnis

    Banyuwangi Siapkan Strategi Besar Untuk Memajukan Tradisi Ragam Etnis

    Banyuwangi yang dikenal sebagai Indonesia Mini karena hidup berbagai suku di bumi Blambangan, mencoba menyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang difasilitasi Bappeda pada Jumat, 15 Agustus 2025 di Pelinggihan Disbudpar.

    Digelar melalui forum diskusi dengan mengundang tokoh adat dan etnis yang mayoritas merupakan pengurus Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) binaan Badan Kesbangpol, serta tokoh pelaku adat Osing dan akademisi.

    Kabid Kebudayaan Disbudpar, Dewa Alit, menjelaskan bahwa sebagai kota budaya, Banyuwangi perlu memiliki kerangka acuan dan data lengkap mengenai potensi adat istiadat.

    Data ini tidak hanya menjadi dasar kebijakan kebudayaan, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi atraksi dan destinasi pariwisata jangka menengah yang terus digali dan dilestarikan.

    Karena itu, forum diskusi ini digelar untuk menjaring masukan dan saran terkait kerangka yang telah disusun oleh Tim PPKD.

    I Kadek Yudiana, dosen sejarah Untag, telah merinci ada 45 adat tradisi dari suku adat dan etnis yang bersentuhan dengan insan, alam, dan Tuhan.

    Ketua Forum Pembauran Kebangsaan
    Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (Dok. sastrawacana.id/)

    Sementara itu Ketua FPK, Miskawi yang juga dosen sejarah Uniba, berharap mocoan Osing yang telah ditulis bisa ditambah mocopat Jawa dan mamaca Madura. Istilah dan sebutan sesuai suku tetap perlu dipertahankan untuk kekayaan literasi dan pemetaan.

    Purwadi asal Kemiren mendukung apa yang disampaikan semua tokoh adat karena tidak ingin ada "usingisasi" di Banyuwangi yang memang beragam etnis.

    Ia hanya berharap bagaimana Boso Using menjadi bahasa, bukan bahasa Jawa dialek Using, serta adanya kesepahaman soal ejaan dan istilah.

    "Dan yang ndak setuju bila pejabat dan tokoh budaya pakai bahasa asing dan ganggu kesakralan adat tradisi untuk kepentingan pidato pejabat apalagi ada unsur politik!" tutur Cantrik Eyang Tojo, pembina AMAN ini.

    Dari Desa Kebangsaan dan Pancasila, Patoman, Made Widagdo menyampaikan sejarah Kampung Bali yang telah berdiri lebih dari dua abad.

    Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Banyuwangi

    “Monggo dipilah-dipilih unsur agama dan tradisi Bali serta yang sudah kolaborasi kreatif dengan budaya Jawa, Madura, dan Osing!” tutur tokoh religius, sejarawan, sekaligus pengrajin souvenir hingga tongkat komando ini.

    Sedang Puang Faisal Mandar berharap pemerintah hadir kala pelaku adat nguri-nguri tradisi. Tapi hanya fasilitasi ndak intervensi ritual upacara adat.

    “Pernah pejabat paksa adakan saulak pernikahan padahal belum waktunya ijab qobul. Dan boleh disbudpar sinergi dengan dinas yang bina RPH bantu kepala sapi saat petik laut Mandar yang masuk Banyuwangi Festival serta mau kondisikan semacam bazaar hingga kuliner khas yang dijual pelaku adat!” ungkap tetua adat yang ruang tamunya jadi museum peninggalan adat.

    Banyak masukan lisan dari perwakilan Batak, Minang, Arab dan tertulis dari Tionghoa tentang kesenian maupun kuliner khas.

    Ketua DKB, Hasan Basri, juga memberikan masukan yang menarik dan menjadi pegangan tim untuk penyempurnaan, serta melanjutkan diskusi dan wawancara, termasuk pembagian kuesioner.

    Dari Bappeda yang merekam dan mencatat jalannya diskusi, Datu, terpukau dan menyimak seksama aspirasi para pelaku adat tradisi yang kerap mengalami dinamika dengan tokoh agama atau protokoler pejabat.

    “Harapannya, kita sering bertemu, berbincang sambil ngopi untuk mengungkit pemicu yang pada pertemuan ini belum semua diungkapkan. Tim memang dipacu, tapi jangan terburu-buru. Perlu membuat Google Form untuk menampung inspirasi dan aspirasi dengan cara yang sederhana agar menghindari kesalahan. Bagaimana juga bisa menjadi stimulan kesejahteraan bagi pelaku adat dan seniman. Setiap event bisa menjadi atraksi dan setiap tempat bisa menjadi destinasi wisata. Dan untuk menjaga kesakralan bersih desa adat atau sedekah bumi atau petik laut, pelaku utama dan sutradaranya adalah mereka sendiri. Penonton atau tamu undangan adalah penggembira!” tukas putra guru Bahasa Indonesia yang gemar mempelajari bahasa Jawa kromo inggil ini.

    Penulis: Bung Aguk/AM

  • Sebutkan Contoh Modernisasi dalam Upaya Pelestarian Budaya

    Sebutkan Contoh Modernisasi dalam Upaya Pelestarian Budaya

    Modernisasi membuka peluang baru untuk melestarikan budaya. Berikut beberapa contohnya:

    1. Pemanfaatan teknologi

    • Media sosial: Budaya dapat dipromosikan dan disebarkan secara luas melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok. Platform ini memungkinkan masyarakat untuk berbagi informasi, foto, video, dan cerita tentang budaya mereka dengan mudah.
    • Website dan aplikasi: Website dan aplikasi khusus budaya dapat dibuat untuk menyediakan informasi yang lebih mendalam tentang sejarah, tradisi, dan praktik budaya. Hal ini dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang budaya mereka dan mendorong mereka untuk mempelajarinya lebih lanjut.
    • Virtual reality (VR) dan augmented reality (AR): Teknologi VR dan AR dapat digunakan untuk menciptakan pengalaman budaya yang imersif. Pengunjung museum, misalnya, dapat menggunakan VR untuk menjelajahi situs budaya secara virtual atau AR untuk melihat artefak budaya dalam 3D.

    2. Dokumentasi dan digitalisasi

    • Digitalisasi arsip: Arsip budaya, seperti naskah kuno, foto, dan rekaman audio, dapat didigitalisasi dan disimpan secara online. Hal ini membantu untuk melestarikan warisan budaya dan membuatnya mudah diakses oleh masyarakat luas.
    • Pemetaan budaya: Teknologi GIS (Geographic Information System) dapat digunakan untuk memetakan situs budaya dan membuat database komprehensif tentang warisan budaya. Hal ini membantu untuk memantau dan melindungi situs budaya dari kerusakan atau kehancuran.

    3. Pendidikan dan pelatihan

    • Kursus online: Kursus online tentang budaya dapat ditawarkan kepada masyarakat luas. Kursus ini dapat membahas berbagai topik, seperti sejarah, bahasa, seni, dan musik budaya.
    • Gamification: Permainan edukasi dapat dikembangkan untuk mengajarkan anak-anak tentang budaya mereka dengan cara yang menyenangkan dan interaktif.
    • Pelatihan bagi pelaku budaya: Pelatihan dapat diberikan kepada pelaku budaya untuk membantu mereka mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk melestarikan dan mempromosikan budaya mereka.

    4. Industri kreatif

    • Ekonomi kreatif: Budaya dapat diintegrasikan ke dalam ekonomi kreatif melalui berbagai produk dan layanan, seperti fashion, musik, seni, dan kuliner. Hal ini membantu untuk menghidupkan kembali tradisi budaya dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
    • Pariwisata budaya: Pariwisata budaya dapat dipromosikan untuk menarik wisatawan yang tertarik dengan budaya lokal. Hal ini dapat membantu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dan meningkatkan kesadaran tentang budaya mereka.

    5. Kolaborasi internasional

    • Pertukaran budaya: Pertukaran budaya dapat dilakukan dengan negara-negara lain untuk mempromosikan saling pengertian dan toleransi. Hal ini dapat dilakukan melalui festival budaya, pameran seni, dan program pertukaran pelajar.
    • Jaringan internasional: Jaringan internasional dapat dibentuk untuk menghubungkan organisasi dan individu yang bekerja untuk melestarikan budaya. Jaringan ini dapat berbagi informasi, sumber daya, dan praktik terbaik.

    Modernisasi bukan hanya tentang kemajuan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita memanfaatkan teknologi tersebut untuk melestarikan budaya dan identitas kita.

    Dengan memanfaatkan contoh-contoh di atas, kita dapat memastikan bahwa budaya kita tetap hidup dan berkembang di era modern.