Tag: pendidikan

  • Langkah Baru Menuju Pendidikan Berkualitas, Mendikdasmen Ajak Guru Jadi Mentor dan Penggerak

    Langkah Baru Menuju Pendidikan Berkualitas, Mendikdasmen Ajak Guru Jadi Mentor dan Penggerak

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, melakukan kunjungan kerja ke SMA Negeri 2 Wates, Yogyakarta.

    Dalam acara bertajuk “Sambung Rasa Guru,” Abdul Mu’ti berdialog langsung dengan para guru dan tenaga pengajar untuk mendengarkan masukan serta berbagi visi mengenai pendidikan di Indonesia.

    “Saya merasa bahagia dapat bertemu dengan para ujung tombak pendidikan Indonesia. Melalui forum ini saya mengajak kepada semua guru untuk bersama sama mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua,” kata Abdul Mu’ti, Rabu (13/11).

    Menurutnya, untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan bermutu, pemerintah akan berfokus pada peningkatan sarana dan prasarana sekolah serta peningkatan kualifikasi guru.

    Menteri Mu’ti menegaskan bahwa para guru sebaiknya memiliki standar pendidikan minimal D4 atau S1.

    Dengan kualifikasi ini, harapannya guru bisa menjalankan peran lebih dari sekadar penyampai ilmu, tetapi juga menjadi mentor dan konselor yang membentuk karakter anak didik.

    “Upaya pemenuhan kualifikasi guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, di mana ke depannya guru tidak hanya sebagai penyampai ilmu pengetahuan, namun juga sebagai mentor dan konselor pembangun karakter bangsa peserta didik,” ungkapnya.

    Di hadapan para guru, Abdul Mu’ti juga membahas pentingnya pembelajaran yang menyenangkan. Ia yakin suasana belajar yang bahagia akan meningkatkan mutu pendidikan.

    “Pendidikan yang gembira akan membuat para pelaku pendidikan akan menikmati proses pembelajaran. Dari proses yang gembira itu akan membuat pendidikan kita akan bermutu bagi semua warga satuan pendidikan,” tambahnya.

    Acara ini juga menjadi kesempatan bagi para guru untuk menyampaikan aspirasi.

    Henri Saputro, seorang guru dari SMP Negeri 2 Kalibawang, Kulon Progo, menyoroti kesejahteraan guru sebagai aspek penting untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas dan menyenangkan.

    Henri juga berharap pemerintah memberikan perlindungan hukum bagi para guru agar mereka merasa aman dalam menjalankan tugas.

    “Selain aspek kesejahteraan, melalui forum ini kami meminta kepada Mendikdasmen untuk membuat regulasi atau perlindungan hukum bagi para guru. Jika regulasi itu terwujud akan menjadi hal yang baik dan menjadi bagian penting dari proses peningkatan kualitas pendidikan,” ujar Henri.

    Sementara itu, Titi Nurhayati, Kepala SLB Negeri 1 Kulon Progo, juga menyampaikan aspirasinya.

    Ia menyoroti pentingnya perhatian khusus untuk SLB dari sisi fasilitas, tenaga pengajar, dan tenaga kependidikan.

    “Dengan semangat pendidikan bermutu untuk semua, SLB juga harus menjadi bagian penting dan mendapatkan perhatian khusus dalam proses pembelajaran. Alokasi dana harus ditingkatkan untuk keberlangsungan SLB mengarungi proses pembelajaran untuk peserta didik,” katanya.

    Selain itu, Wulan, seorang guru dari Kelompok Bermain di Kulon Progo, menyinggung soal pengakuan bagi Kelompok Bermain yang saat ini masih dianggap sebagai pendidikan nonformal.

    Wulan menginginkan Kelompok Bermain mendapat status sebagai lembaga pendidikan formal, karena hal ini penting agar para guru PAUD memperoleh hak yang sama dengan tenaga pendidik di lembaga formal lainnya.

    “Saat ini kami memiliki 17 guru yang memiliki pendidikan S-1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), kami menginginkan bahwa Kelompok Bermain harus mendapatkan pengakuan sebagai lembaga pendidikan formal. Sehingga para pengajar juga mendapatkan hak yang sama dengan pengajar pendidikan formal guna meningkatkan kualitas pendidikan,” kata Wulan.

    Acara ini dihadiri oleh sekitar 150 guru dari Kulon Progo. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nunuk Suryani, Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen Iwan Syahril, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kulon Progo Arif Prastowo, serta perwakilan dari Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Yogyakarta dan Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Yogyakarta.

    Melalui pertemuan ini, Abdul Mu’ti berharap komunikasi yang baik dengan para guru terus berlanjut. Pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan dan memastikan bahwa pendidikan yang bermutu dapat dirasakan oleh semua anak di Indonesia, tanpa terkecuali.

  • Evaluasi Kebijakan Zonasi dan Ketersediaan Guru Jadi Fokus Pemerintah di Kabinet Merah Putih

    Evaluasi Kebijakan Zonasi dan Ketersediaan Guru Jadi Fokus Pemerintah di Kabinet Merah Putih

    Pemerintah melalui Kabinet Merah Putih periode 2024-2029 memberikan perhatian besar pada dua isu utama di bidang pendidikan, yaitu kebijakan zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dan distribusi guru di seluruh wilayah Indonesia.

    Kedua isu ini menjadi sorotan dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Kebijakan Pendidikan yang diadakan bersama para Kepala Dinas Pendidikan dari seluruh Indonesia di Jakarta, Senin (11/11).

    Wakil Presiden Gibran Rakabuming menegaskan perlunya evaluasi yang mendalam untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas kebijakan zonasi.

    Gibran mengakui bahwa kebijakan zonasi meskipun bermanfaat dalam mendekatkan siswa dengan sekolah di sekitar mereka, masih menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya.

    Tantangan utamanya adalah ketidakmerataan fasilitas pendidikan dan distribusi guru yang belum optimal di beberapa wilayah.

    “Zonasi, sekali lagi, ini program yang baik, tapi mungkin belum bisa diterapkan di semua wilayah,” ujarnya.

    Di rakor tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas dan akses pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Melalui kebijakan PPDB dan rekrutmen Guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), ia berharap dapat mendukung pembangunan sumber daya manusia, teknologi, dan pendidikan yang menjadi visi utama dari Asta Cita ke-4, program prioritas Presiden dan Wakil Presiden.

    “Satu hal yang ingin kami tekankan pada kesempatan ini, sesuai dengan visi Kemendikdasmen yang mengacu kepada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Program Asta Cita, kami berusaha untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu untuk semua,” paparnya.

    Penyempurnaan PPDB dan Zonasi untuk Pemerataan Akses Pendidikan

    Abdul Mu’ti mengakui bahwa kebijakan PPDB berbasis zonasi masih perlu diperbaiki agar dapat memberikan akses pendidikan yang setara, adil, dan berkualitas untuk semua anak Indonesia.

    Tujuan dari kebijakan zonasi adalah untuk memastikan bahwa setiap anak bisa belajar di sekolah yang dekat dengan tempat tinggal mereka, sekaligus mengintegrasikan siswa dari berbagai latar belakang sosial dalam satu kelas.

    Diharapkan bisa menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan mendukung integrasi sosial di kalangan siswa.

    “Zonasi menjadi kebijakan strategis untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan bermutu, yang tidak jauh dari tempat tinggal. Selain itu, dengan zonasi, satu kelas terdiri atas murid-murid dari berbagai kelas sosial juga dimaksudkan agar terjadi proses integrasi sosial di antara para murid di lingkungan atau wilayah tertentu,” ujar Abdul Mu’ti.

    Namun, ia juga menegaskan bahwa tantangan yang ada, seperti distribusi guru dan fasilitas, harus ditangani agar zonasi bisa berjalan maksimal.

    Rekrutmen Guru PPPK untuk Menjamin Kualitas dan Kesejahteraan Guru

    Di sisi lain, Abdul Mu’ti menyoroti pentingnya rekrutmen guru PPPK sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan guru di seluruh Indonesia.

    Melalui program ini, pemerintah berupaya menambah jumlah guru agar layanan pendidikan dapat berjalan sesuai standar kualitas yang diharapkan.

    Kemendikdasmen juga menilai bahwa rekrutmen guru PPPK dapat membantu meningkatkan kesejahteraan guru, khususnya bagi mereka yang selama ini berstatus non-ASN atau honorer.

    Saat ini, proses rekrutmen guru PPPK untuk tahun 2024 sedang berlangsung.

    Meski ada target untuk mengangkat hampir 300 ribu guru menjadi ASN PPPK, pemerintah masih menghadapi kekurangan tenaga pengajar, yaitu sekitar 200 ribu dari total kebutuhan formasi guru yang mencapai 419.146.

    Untuk menutupi kekurangan ini, Kemendikdasmen akan terus melanjutkan rekrutmen guru hingga tahun 2025.

    Tantangan dalam Distribusi Guru PPPK

    Namun, Abdul Mu’ti mengungkapkan beberapa masalah yang ditemukan selama melakukan audiensi dengan organisasi penyelenggara pendidikan.

    Salah satu masalah yang muncul adalah penempatan guru PPPK yang sejauh ini hanya terbatas di sekolah negeri.

    Akibatnya, ada wilayah yang kelebihan formasi guru PPPK di sekolah negeri, sementara sekolah swasta di wilayah yang sama justru kekurangan guru.

    “Penempatan guru PPPK yang hanya di sekolah negeri  ternyata memicu masalah, yakni ada sejumlah sekolah di satu wilayah yang kelebihan formasi guru PPPK, sementara ada sekolah swasta di wilayah yang sama malah kekurangan formasi guru PPPK,” kata Abdul Mu’ti.

    Melihat kondisi ini, Kemendikdasmen mendorong pemerintah daerah untuk melakukan redistribusi guru di wilayah mereka agar pemerataan guru bisa tercapai.

    Dengan langkah ini, diharapkan bahwa tidak hanya sekolah negeri, tetapi juga sekolah swasta bisa mendapatkan dukungan tenaga pengajar yang memadai.

    Melalui kebijakan zonasi PPDB dan program rekrutmen guru PPPK, pemerintah berkomitmen untuk memberikan pelayanan pendidikan berkualitas yang merata di seluruh Indonesia.

    Abdul Mu’ti berharap bahwa langkah-langkah ini dapat menjadi solusi untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, di mana setiap anak Indonesia, tanpa memandang status sosial atau tempat tinggal, bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

  • Mahasiswa Undiksha Raih Emas di Ajang Nasional Shorinji Kempo 2024

    Mahasiswa Undiksha Raih Emas di Ajang Nasional Shorinji Kempo 2024

    Mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) kembali menorehkan prestasi membanggakan di ajang Invitasi Cabang Olahraga Mahasiswa 2024 untuk cabang bela diri Shorinji Kempo, yang berlangsung di Jakarta pada 6-8 November lalu.

    Dua mahasiswa anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kempo Undiksha, yaitu Pade Made Mirah Permatasari dari Program Studi Manajemen dan Ida Bagus Kade Budiartawan dari Program Studi Ilmu Keolahragaan, berhasil meraih medali di ajang ini.

    Mereka berdua berada di bawah bimbingan pelatih Jatim Soenandar.

    Mirah dan Budiartawan sukses membawa pulang tiga medali sekaligus: satu medali emas untuk kategori embu berpasangan campuran I/II DAN, satu medali perak untuk randori kelas 60 kg putri, dan satu medali perunggu untuk randori kelas 60 kg putra.

    Jatim Soenandar mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi ini, terlebih dengan waktu persiapan yang cukup singkat.

    Menurutnya, capaian ini tidak hanya mengharumkan nama para atlet tetapi juga membawa kebanggaan bagi Undiksha.

    Selain itu, kontingen Undiksha berhasil meraih peringkat kelima dalam klasemen akhir medali, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi.

    Dari pihak pimpinan, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Hubungan Masyarakat Undiksha, Prof. Dr. I Ketut Sudiana, M.Kes, turut menyambut hangat prestasi para mahasiswa ini.

    “Kami dari pimpinan memberikan apresiasi atas prestasi ini,” ujarnya pada Jumat, 8 November 2024.

    Prof. Sudiana berharap keberhasilan ini bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan kemampuan mereka dan bersiap menghadapi ajang-ajang bergengsi lainnya di tingkat nasional maupun internasional.

    Ia juga menegaskan bahwa pimpinan Undiksha memiliki komitmen kuat untuk mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa, termasuk di bidang olahraga kempo. 

    Partisipasi mahasiswa dalam berbagai kejuaraan tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga memperkuat capaian Undiksha dalam Simkatmawa.

    “Tentu prestasi dalam ajang ini dapat mendukung capaian Simkatmawa. Semoga ke depan dapat meraih prestasi yang semakin gemilang lagi,” tutupnya penuh harap.

  • Membanggakan, Tim Undiksha Raih Juara Pertama di Konferensi Internasional ICHBS 2024

    Membanggakan, Tim Undiksha Raih Juara Pertama di Konferensi Internasional ICHBS 2024

    Tim dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) berhasil meraih prestasi internasional dalam acara 1st International Conference on Health and Biology Science (ICHBS) 2024 yang berlangsung dari 25 September hingga Oktober 2024 di Universitas Harapan Bangsa.

    Tim ini terdiri dari beberapa mahasiswa yaitu Made Anggita Abdi Jayanti, Nyoman Gita Laksmi Maharani, Desak Radha Nityanandeshwari, Putu Duta Mahardhika, Made Amanda Cipta Dewi, serta tiga dosen pembimbing dari Prodi Kebidanan: Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini, Putu Irma Pratiwi, dan Dr. Luh Nik Armini.

    Di bawah kepemimpinan Anggita, tim ini berhasil meraih juara pertama dalam kategori Best Method lewat artikel berjudul “Correlation of Age, Body Mass Index, and Age of Menarche with Hemoglobin Levels in Adolescents in Singaraja”.

    Artikel tersebut mengangkat korelasi antara usia, indeks massa tubuh (IMT), dan usia menarche dengan kadar hemoglobin pada remaja di Singaraja.

    Karya ini terinspirasi dari kegiatan pengabdian masyarakat di posyandu remaja yang menemukan masalah anemia ringan hingga sedang pada beberapa remaja, sehingga tim ini terdorong untuk meneliti lebih lanjut masalah tersebut.

    Tim ini mempersiapkan karya mereka dalam waktu dua minggu, dibimbing oleh Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini.

    Bagi Anggita, ini adalah pengalaman pertama di ajang internasional yang mengharuskannya menggunakan bahasa Inggris.

    Meski sempat menghadapi kesulitan, dukungan yang kuat antaranggota tim membuat mereka berhasil melewati tantangan dan meraih prestasi membanggakan ini.

  • UNAIR Raih Peringkat 2 Terbaik di Indonesia, Kado Ulang Tahun ke-70 dengan Prestasi Gemilang

    UNAIR Raih Peringkat 2 Terbaik di Indonesia, Kado Ulang Tahun ke-70 dengan Prestasi Gemilang

    Universitas Airlangga (UNAIR) kembali meraih prestasi yang membanggakan.

    Kali ini, UNAIR berhasil menduduki peringkat kedua sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia menurut Quacquarelli Symonds Asian University Ranking (QS AUR) 2025.

    Pencapaian ini diumumkan secara resmi dalam acara QS Higher Education Summit: Asia Pacific yang digelar di Macau pada Rabu, 6 November 2024.

    Selain meraih posisi kedua terbaik di tingkat nasional, UNAIR juga mencatatkan dirinya di posisi ke-12 di Asia Tenggara dan ke-52 di Asia dengan skor 70.5.

    Dengan peringkat tersebut, UNAIR menunjukkan peningkatan yang signifikan, mengingat sebelumnya pada QS AUR 2024, UNAIR berada pada peringkat ke-15 di Asia Tenggara dan ke-67 di Asia.

    Keberhasilan UNAIR ini tentu tidak terlepas dari penilaian berbagai indikator. Dalam indikator International Student dan International Research Network, UNAIR berhasil meraih peringkat pertama di tingkat nasional.

    Sementara itu, pada indikator Employer Reputation, UNAIR menduduki peringkat kedua terbaik di Indonesia.

    Indikator-indikator ini merupakan tolok ukur utama dalam menilai kualitas dan relevansi pendidikan yang diberikan oleh perguruan tinggi.

    Rektor UNAIR, Prof. Dr. Mohammad Nasih SE MT Ak, menyatakan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari upaya berkelanjutan UNAIR dalam memperbaiki berbagai aspek, termasuk fasilitas pembelajaran dan penelitian.

    Menurutnya, kualitas laboratorium dan fasilitas riset yang mendukung sangat penting untuk mendukung civitas akademika dalam menghasilkan inovasi dan karya yang berdampak luas.

    “Banyaknya fasilitas riset nanti akan berdampak sangat jelas, academic reputation kita pasti meningkat karena riset sangat diakui. Kalau sarana risetnya berstandar internasional, maka juga akan mendapatkan pengakuan. Termasuk juga joint research dengan mitra luar negeri. Kalau fasilitas kita bagus, pasti mereka juga tertarik,” ujar Prof. Nasih.

    Meskipun demikian, Prof. Nasih menegaskan bahwa peringkat bukanlah tujuan utama bagi UNAIR.

    Bagi dirinya, yang lebih penting adalah dampak nyata yang dihasilkan oleh mahasiswa melalui penelitian, inovasi, serta perbaikan berkelanjutan dalam berbagai aspek pendidikan dan pengajaran.

    “Sekali lagi tujuannya bukan peringkat, tetapi bagaimana penelitian bisa dilakukan sebaik-baiknya. Mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas untuk riset dan berdiskusi dengan baik sehingga muncul inovasi-inovasi baru. Bagi UNAIR yang terpenting adalah selalu ada perbaikan, perbaikan, perbaikan,” tegasnya.

    Kenaikan peringkat UNAIR di tingkat nasional dan Asia ini juga menjadi hadiah istimewa dalam rangka perayaan Dies Natalis ke-70 yang akan jatuh pada 10 November mendatang.

    Prestasi ini menunjukkan bahwa UNAIR terus berkomitmen untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

  • Mengagumkan, UNEJ Berhasil Raih Akreditasi Unggul hingga 2030

    Mengagumkan, UNEJ Berhasil Raih Akreditasi Unggul hingga 2030

    Universitas Jember (UNEJ) mendapat kado spesial di usia ke-60, dengan prestasi berhasil mempertahankan akreditasi Unggul hingga tahun 2030.

    Pengumuman tersebut disampaikan oleh Rektor UNEJ, Iwan Taruna, saat memimpin upacara peringatan Dies Natalis ke-60 yang berlangsung di lapangan kampus Tegalboto pada 10 November 2024.

    Iwan Taruna menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras dan semangat gotong royong seluruh civitas akademika UNEJ.

    Keberhasilan ini membuktikan bahwa UNEJ tidak hanya mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain di Indonesia, tetapi juga menunjukkan kualitas yang diakui secara nasional.

    Bahkan, pada pemeringkatan Times Higher Education World University Ranking (THE WUR) 2025, UNEJ berhasil menempati posisi kesepuluh di antara seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia.

    “Alhamdulillah, menapaki usia ke enam puluh tahun, UNEJ berhasil meraih banyak prestasi. Salah satunya dengan keberhasilan mempertahankan akreditasi Unggul hingga tahun 2030. Terima kasih atas kerja sama dan gotong royong yang sudah ditunjukkan semua pihak di UNEJ. Mari pertahankan dan tingkatkan pencapaian ini mengingat tantangan ke depan makin kompleks,” ungkap Iwan Taruna dalam sambutannya.

    Rektor UNEJ ini juga mengajak seluruh keluarga besar universitas untuk menjadikan peringatan Dies Natalis ke-60 sebagai momen refleksi dan evaluasi diri.

    Ia menekankan pentingnya semangat berinovasi dan kreativitas di dunia pendidikan tinggi agar UNEJ dapat terus memberikan kontribusi positif bagi Indonesia, sesuai dengan tema peringatan kali ini, “UNEJ Unggul Menyongsong Indonesia Emas.”

    Iwan Taruna mengingatkan bahwa perjuangan UNEJ dimulai dari kerja keras para pendahulu, seperti Triumvirat dr. R. Achmad, R. Th. Soengedi, dan R. Mas Soerachman yang bersama Bupati Jember pada masa itu, R. Soedjarwo, berjuang keras untuk mendirikan perguruan tinggi di wilayah yang terbilang terpencil.

    Meskipun usaha mereka awalnya diremehkan, berkat semangat persatuan dan gotong royong, UNEJ akhirnya berdiri dan berkembang pesat.

    “Marilah kita terus bersyukur dan melanjutkan perjuangan mereka,” tutup Iwan Taruna.

    Setelah upacara, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Slamin, menjelaskan bahwa keputusan UNEJ mempertahankan akreditasi Unggul tertuang dalam Surat Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Nomor 2719/BAN-PT/PMT1/2024 yang diterbitkan pada 5 November 2024.

    Dalam surat tersebut, BAN-PT menyatakan bahwa UNEJ telah memenuhi sepuluh persyaratan yang ditetapkan, seperti jumlah mahasiswa baru, rasio dosen dengan mahasiswa, jumlah dosen bergelar doktor, dan tingkat kelulusan tepat waktu, sehingga berhak mendapatkan akreditasi Unggul hingga 5 Juli 2030.

  • MI Darunnajah II Banyuwangi Peringati Hari Pahlawan, Hadirkan Veteran Berpuisi dan Ceritakan Kisah Perjuangan

    MI Darunnajah II Banyuwangi Peringati Hari Pahlawan, Hadirkan Veteran Berpuisi dan Ceritakan Kisah Perjuangan

    Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, MI Darunnajah II Banyuwangi menggelar lomba baca puisi bertema kepahlawanan dan mengundang veteran untuk berbagi cerita sejarah perjuangan Indonesia.

    Acara ini diadakan untuk memperkenalkan sejarah pahlawan kepada siswa serta memotivasi mereka dalam meraih cita-cita, terinspirasi dari semangat para pahlawan.

    Kegiatan yang berlangsung diikuti oleh 17 peserta dari kelas 1 hingga 6 sebagai bagian dari seleksi Porseni MI.

    Acara dimulai dengan penyampaian sejarah perjuangan kemerdekaan oleh veteran Sekretaris LVRI, Suwadi, serta IGB Sudharma, seorang sastrawan realis dan veteran Seroja yang akan menerbitkan buku fiksi berlatar sejarah perang Timor Timur melalui Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Dalam penyampaian materinya, Suwadi menjelaskan bahwa veteran adalah Warga Negara Indonesia yang pernah tergabung dalam satuan bersenjata resmi dan berperang melawan negara asing demi mempertahankan kemerdekaan NKRI.

    Ia menekankan bahwa perang di Indonesia tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga taktik sosial seperti memahami bahasa dan adat istiadat lawan.

    “Penjajahan bukan hanya bersenjata; penjajah juga membuat rakyat kita bodoh dan miskin. Di masa sekarang, mereka menggunakan teknologi komunikasi, dulu breaker untuk kontak, sekarang menggunakan dunia maya,” tutur Suwadi sambil mencontohkan dialog dengan bahasa daerah Timor Timur dalam percakapan tentang tanam jeruk dan panen kopi.

    IGB Sudharma turut memberikan pesan kepada siswa MI Darunnajah II agar generasi muda rajin belajar agar menjadi pemimpin bangsa.

    “Anak-anak harus rajin belajar dan pintar agar menjadi pemimpin bangsa yang meneruskan perjuangan kami, para veteran. Hormati orang tua dan guru, banyak membaca, serta mengikuti informasi dari radio, televisi, dan buku. Bangsa ini butuh generasi cerdas dan pekerja keras, bukan pemalas. Jangan tenggelam dalam HP hingga lupa belajar dan ibadah.”

    Sudharma kemudian membacakan puisi "Pahlawan Tanpa Nama" yang ia tulis khusus malam sebelumnya.

    Meskipun kondisinya kurang sehat, ia tetap semangat bertemu dengan para siswa, menyampaikan pesan perjuangan yang menginspirasi.

    Kepala MI Darunnajah II, Majidah Himmah, S.Ag (anak KH Makshum Syafi'i) melalui Ketua Panitia, Miss Aida Aristia Dewi, S.Pd., berharap para siswa dapat memetik hikmah dari acara ini, salah satunya adalah meresapi semangat perjuangan para pahlawan.

    Diharapkan, siswa memahami bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan oleh para pahlawan masa lalu, tetapi juga bisa dilanjutkan oleh mereka di masa kini dengan berfokus pada pendidikan dan pengembangan diri.

    Sebagai pelajar, mereka diharapkan menempuh pendidikan yang keras untuk mencapai prestasi akademis dan menjadi anak yang sholehah.

    Kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan sejarah bangsa dan kisah perjuangan para pahlawan sehingga siswa menjadi lebih cinta dan bangga sebagai anak Indonesia.

    Acara juga dirangkai dengan kegiatan keagamaan seperti hafalan Al-Qur'an, tahlilan di makam pahlawan yayasan seperti KH Harun dan KH Makhum Syafi'i yang dipimpin oleh Ustadz Nasrudin, S.Ag., lomba baca puisi, fragmen pantomim perobekan bendera biru, serta menyanyikan lagu nasional "Indonesia Pusaka."

    Kepala Madrasah apresiasi terima kasih ke veteran serta siswi prestasi yang mengharumkan nama madrasah dalam event lomba EO Bina Vokalia di Disbudpar dan Komunitas Gotongroyong'45 di Masjid Al Hilal 2 bareng Sanggar Merah Putih'45, JRKBB-JRKI, IWAPI, UMKK Segoro'45 serta Sedulur Teraphys Blambangan yang didukung media sastrawacana.id/ dan jurnalnews.

    Sementara itu, Bung Aguk Darsono, juri lomba sekaligus anggota G2 Mastrip Jatim yang ayahnya ikut bertempur dalam peristiwa 10 November bersama Bung Tomo dan arek-arek Surabaya, berharap agar acara ini bermanfaat bagi siswa MI Darunnajah II.

    Ia menegaskan bahwa momentum peringatan ini dapat memberikan inspirasi kepada siswa untuk terus memelihara semangat perjuangan dan memperkuat karakter diri sesuai cita-cita para pendiri bangsa.

    “Semoga momentum ini dapat menginspirasi dan bermanfaat bagi semua pihak, serta semoga semangat perjuangan para pahlawan terus diteruskan oleh generasi muda Indonesia,” ujarnya.

    Perayaan Hari Pahlawan ini melanjutkan tradisi peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober yang lalu, di mana setiap kelas bersama paguyuban menampilkan kuliner, seni adat, busana Nusantara, dan drama bertajuk "Banyuwangi: Indonesia Mini" yang menggambarkan keberagaman dalam harmoni di Bumi Blambangan, sesuai semangat Bhinneka Tunggal Ika. (Q'Nin/AWN)

  • Memukau, Siswa Ekskul Teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi Menghipnotis Penonton di Peringatan Hari Pahlawan Banyuwangi

    Memukau, Siswa Ekskul Teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi Menghipnotis Penonton di Peringatan Hari Pahlawan Banyuwangi

    Siswa ekstra kurikuler teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi tampil menawan dalam acara peringatan Hari Pahlawan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Komunitas Gotong Royong 45, Asosiasi Usaha Mikro Kecil Koperasi Sinergi Gotong Royong 45 (Asosiasi UMKK Segoro 45), Sanggar Merah Putih 45, dan Jaringan Radio Komunitas dan Broadcast Banyuwangi (JRKBB).

    Acara yang diselenggarakan pada Minggu, 3 November 2024 di Masjid Al Hilal 2 ini bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia sekaligus mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menghargai sejarah bangsa.

    Dalam penampilannya, enam siswa ekskul teater yang didampingi oleh Rifkian Kurniawan selaku guru menyuguhkan teatrikal puisi berjudul “Merdekaku Merdekamu”.

    Terbilang sukses, mereka berhasil menggambarkan bagaimana perjuangan para pahlawan yang gugur dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

    Melalui ekspresi dan penjiwaan yang mendalam, penampilan mereka tidak hanya memukau, tetapi juga berhasil mengharukan hati seluruh penonton yang hadir, bahkan tak sedikit yang mengurai air mata.

    Teatrikal puisi yang diperagakan oleh enam siswa tersebut juga menjadi pengingat bagi generasi muda yang saat ini sering terlena dengan dunia maya, sehingga cenderung melupakan sejarah bangsanya.

    Dengan iringan lagu “Tanah Airku”, suasana semakin terbangun, menghipnotis penonton dan membangkitkan semangat nasionalisme, khususnya di kalangan generasi muda.

    Budayawan dan praktisi teater kawakan, Bung Aguk, memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilan siswa SMK Muhammadiyah 6.

    Ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dan penting untuk mengingatkan generasi muda akan sejarah bangsanya.

    Bung Aguk juga memuji kemampuan akting dan penjiwaan siswa yang mampu menarik perhatian serta emosi penonton.

    “Penjiwaannya dapat, penampilan kalian bisa membuat penonton hanyut ke dalam cerita pencipta literasinya,” paparnya.

    Selain itu, Bung Aguk juga menuturkan bahwa penampilan dari para siswa SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi berhasil menggugah rasa nasionalisme yang saat ini mulai memudar di kalangan remaja.

    “Penampilan ini mampu menggugah rasa nasionalisme yang mungkin mulai memudar di kalangan anak muda,” terang Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang saat ini aktif melatih literasi dan dolanan teater di berbagai sekolah, sekaligus baru saja mengikuti Jambore Sastra Asia Tenggara.

    Sementara itu, sutradara sekaligus pelatih ekstra kurikuler teater SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi, Maulana Affandi menyatakan rasa bangga atas pencapaian anak didiknya.

    Ia berharap agar para siswa tidak hanya berperan di atas panggung, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

    “Harapan saya adalah anak-anak ini tidak hanya menjadi pemeran yang baik di atas panggung, tetapi juga bisa menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Mereka harus menyadari bahwa seni dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan moral,” ujarnya.

    Sebagai informasi tambahan, SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi dikenal memiliki prestasi yang membanggakan di bidang teater.

    Sekolah ini pernah meraih juara 1 dalam lomba Porfesi pada tahun 2023 tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Banyuwangi.

    Prestasi tersebut menunjukkan bakat siswa dalam seni peran serta dukungan dari pihak sekolah untuk menumbuhkan potensi yang dimiliki oleh siswa.

    Saat ini, SMK Muhammadiyah 6 juga sedang fokus pada peningkatan bakat dan minat siswa dalam bidang seni dan literasi melalui berbagai program yang dirancang untuk menggali potensi siswa.

  • Perubahan apa yang ibu/bapak rasa akan paling signifikan dalam pembelajaran intrakurikuler?

    Perubahan apa yang ibu/bapak rasa akan paling signifikan dalam pembelajaran intrakurikuler?

    Perubahan yang saya rasa akan paling signifikan dalam pembelajaran intrakurikuler adalah pendekatan yang lebih fleksibel dan berpusat pada peserta didik.

    Saya melihat adanya pergeseran dari metode pembelajaran tradisional, yang umumnya berbasis guru, menuju pembelajaran yang lebih berfokus pada pengembangan kemampuan individu setiap siswa.

    Di masa lalu, saya terbiasa mengikuti panduan kurikulum secara kaku, yang sering mengarahkan seluruh siswa pada jalur yang sama, dengan asumsi bahwa mereka semua siap menerima materi yang sama dalam waktu yang sama.

    Namun, sekarang saya merasa didorong untuk lebih memperhatikan perbedaan kemampuan, minat, dan gaya belajar setiap siswa.

    Salah satu perubahan besar yang saya lihat adalah kebutuhan untuk melakukan asesmen awal di awal pembelajaran.

    Dengan asesmen ini, saya bisa memahami kemampuan dan kebutuhan khusus setiap siswa, sehingga saya bisa menyesuaikan metode dan materi yang lebih tepat.

    Hal ini bukan sekadar perubahan teknis, tetapi juga perubahan pola pikir yang signifikan bagi saya.

    Saya harus lebih kreatif dalam merancang kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa mengembangkan pemahaman sesuai kecepatan mereka sendiri.

    Hal ini juga menuntut saya untuk lebih fleksibel dalam cara saya mengelola waktu dan mengatur dinamika kelas, agar tidak hanya sekadar “menyampaikan materi” tetapi memastikan siswa benar-benar memahami konsep yang diajarkan.

    Perubahan lain yang saya lihat adalah pada pemanfaatan teknologi.

    Pembelajaran intrakurikuler sekarang lebih terbuka untuk menggunakan media digital sebagai alat bantu belajar, yang sangat membantu siswa mengeksplorasi materi secara mandiri.

    Penggunaan teknologi ini juga memungkinkan saya untuk memberikan variasi dalam tugas dan penilaian, yang dapat membantu siswa lebih termotivasi dan terlibat dalam pembelajaran.

  • Manakah di bawah ini yang merupakan pelaksanaan dari prinsip teaching at the right level?

    Manakah di bawah ini yang merupakan pelaksanaan dari prinsip teaching at the right level?

    A. Menyesuaikan pembelajaran lengkah-langkah yang ada di buku pegangan peserta didik.

    B. Memberikan remidial bagi peserta didik yang mendapatkan nilai di bawah standar ketuntasan.

    C. Menggunakan alur tujuan pembelajaran yang didapatkan dari MGMP.

    D. Merancang pembelajaran berdasarkan kemampuan peserta didik yang diukur melalui asesmen awal.

    Jawaban:

    D. Merancang pembelajaran berdasarkan kemampuan peserta didik yang diukur melalui asesmen awal

    Pembahasan:

    Prinsip Teaching at the Right Level (TaRL) bertujuan untuk menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan aktual peserta didik, bukan hanya mengikuti kurikulum atau standar umum yang sama untuk semua.

    Dengan melakukan asesmen awal, guru dapat memahami kemampuan dasar setiap siswa dan merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga setiap siswa dapat belajar dengan efektif di tingkat yang tepat.

    Dengan menerapkan prinsip Teaching at the Right Level, guru dapat membagi peserta didik ke dalam kelompok-kelompok belajar berdasarkan kemampuan mereka.

    Hal ini memungkinkan siswa yang memiliki pemahaman lebih kuat pada materi tertentu untuk tetap tertantang dan terus berkembang, sementara siswa yang masih perlu memahami dasar-dasarnya dapat menerima pembelajaran yang lebih sesuai dengan kecepatan dan gaya belajar mereka.

    Metode ini juga membantu mengurangi kesenjangan belajar antar siswa karena guru dapat fokus memberikan dukungan yang lebih intensif kepada mereka yang membutuhkannya.

    Selain itu, Teaching at the Right Level mendorong siswa untuk merasa lebih termotivasi dan percaya diri karena mereka belajar pada level yang sesuai dan meraih pencapaian kecil secara bertahap.

    Hal ini berbeda dengan metode tradisional yang cenderung memaksa siswa mengikuti satu alur tanpa memperhatikan kemampuan masing-masing.