Tag: puisi

  • Puisi Payungan Karya Rama

    Payungan
    oleh
    Rama

    Bangkai-bangkai kapal menunggu
    Perahu mungil digiring ke tanjung
    Aku sudah jatuh

    Dengar curah tangis
    Dari rintih botol-botol serak arak
    Kurasa bodoh
    Di antara para bangkai

    Pergilah tak ada
    Sendiriku mengayun puntung
    Mereka asik larut kalap
    Takbir ramai berolah pesta

    Sadar tak ada lagi dirimu
    Jalang menjadi setan
    Aku merasa dihimpit sesak

    Malam terlalu rapuh di meja
    Payungan rindu naluriku
    Kau tak hilang
    Di bayang-bayang

  • Puisi Siapakah Coretan ini Karya Dedy Eka

    Siapakah Coretan ini
    oleh
    Dedy Eka

    terkadang aku menghianati coretan
    coretan yang telah mengajariku untuk mengerti semuanya
    coretan yang telah menggambarkan jalan hidupku
    seolah-olah coretan lah yang menjadi kemudi hidupku

    kini aku telah mencampakannya
    setelah aku berjumpa setapak jalan buntu
    setapak jalan yang kehilangan coretan

    aku tampak seperti orang bodoh
    bahkan sangat bodoh
    hanya tanpa coretan saja aku terasa kosong

    padahal hanya setapak jalan dan hanya tanpa coretan
    aku gak tahu lagi kemana arah coretan itu
    aku harap aku bisa bertemu lagi dengan coretan itu
    seenggaknya aku bisa memuja coretan itu lagi

  • Puisi Kosong-Plong Karya Dedy Eka

    Kosong-Plong
    oleh
    Dedy Eka

    special??
    bagiku gak ada yang special di dunia ini
    memiliki hati atau gak sama saja bagiku
    special itu gak ada

    sama sekali gak ada
    bahkan dalam diriku sendiri
    aku bukanlah orang yang special buwat diriku sendiri
    sempat aku bayangkan klo akan ada untukku

    satu hati yang akan menemaniku disaat hariku tiba
    tapi itu hanyalah sebatas bayanganku saja
    sebatas bayanganku

    orang berkata
    dari hati turun kemata
    sepasang matakupun aku gak melihat yang namanya special

    special bukanlah keyataan melainkan hanya kata-kata
    ya, hanya kata-kata
    kata-kata KOSONG

  • Puisi Ludah di Lidah Karya Enggar

    Ludah di Lidah
    oleh
    Enggar

    Menari berlari meliuk-liuk
    Dunia menerpamu
    Badai cumbu mengitari
    Luka hati bersalut gincu

    Lidah-lidah menjilati
    Entah di mana Tuhan saat itu
    Mungkin duduk sambil minum teh

    Tapi aku tahu
    Kau yang tidak tahu
    Dia sedang merajut mimpi
    Sekaligus mengoyaknya
    Dan kita adalah serpihannya

    Kau tak tahu rasanya
    Berjalan sekehendakmu
    Bersikap sesukamu
    Berpikir cukup dengan seperempat otak
    Atau tidak sama sekali

    Acuh dengan sampah di lidahmu
    Entah dunia sedang apa

    Jalan Terus!
    Karena kau tak pernah tahu
    Nikmatnya menjadi gila
    Asa menggantung senja
    Duka dia rasa seperti pucuk mengering

  • Puisi Patahan Yang Terlambat Karya Rama

    Patahan yang Terlambat

    oleh

    Rama

    Malam ini
    Hujan di rumahku beserta semua isi
    Ambruk penopang
    Juga dinding sawo matang dikibas deras

    Kugambar bara kepulan asap
    Anggur merah yang tercecer di lantai
    Bertahun-tahun ku indahkan
    Tergaris agar mewah atapnya

    Sekarang siapa doamu itu
    Kau lempar batu merusak
    Kau hujan mengelamkan rumahku
    Tapi juga kau
    Karena hidup mati diriku

    Lebur takdir ini enggan milikku
    Atau aku saja
    Jika itu tidak cinta

    Kutunggu di api abadi yang penuh peluh
    Jika itu mustahil kejujuran
    Aku nama yang sekian barisan
    Yang menunggumu
    Di permohonan malam

    Aku menyayangimu
    Menyayangimu

  • Puisi Gelisah Karya R.M. Adhitya Haritz

    Gelisah
    oleh
    R.M. Adhitya Haritz

    Teruntuk kekasih hati
    Malam ini KITA mulai bercucuran keringat
    Di antara pepohonan yang rimbun ini
    Keinginan KITA untuk bersatu mengalahkan segalanya
    Walaupun sang penguasa tak merestuinya

    Cucuran keringat ini
    Mengingatkanku akan kegelisahan KITA
    Kenangan indah ini tak akan kulupakan
    Walau hanya sejenak

    Coba kau ingat sayang
    Apa yang telah KITA lakukan semalam
    Indah sekali bukan

    KITA bercumbu mesra
    Di tengah rerimbunan pepohonan ini
    Bersatu mengalahkan mereka yang ingin KITA berpisah

    Kegelisahan KITA ini
    Membuat KITA semakin berhasrat untuk bercumbu
    Marilah segera KITA akhiri saja percumbuan malam ini

    KITA songsong hari esok yang telah menanti

  • Puisi Sajak Karya AHM

    Sajak Kita
    oleh
    AHM

    Di sudut malam ini
    Ku mulai menulis sajak tentang kita
    Hanya ada kau dan aku
    Ya..
    hanya KITA berdua

    Tanpa sehelai benangpun
    KITA mulai menyusuri indahnya malam
    Hingga pagi menjelang
    KITA masih bercengkrama
    Tanpa mempedulikan yang lainnya

    Hingga KITA sama-sama lemas
    Dan terbaring bersama

    Tak terasa pagi mulai menyapa
    Dan kaupun membangunkanku dengan sapaan mesramu
    Saat kubuka mata
    Rasanya aku masih ingin bercumbu denganmu
    TUHAN

  • Puisi Logika Karya Firdho

    Logika

    oleh
    Firdho

    Wajahmu seribu bisu
    Bias senyum detik kita saling pandang
    Hujan dan tanya waktu itu menjadi semesta logika
    Dan di bait irama
    Kata
    Adalah puisi dari manusia

    Adapun maksud pertemuan
    Ingatkanku akan kenang yang belum usai
    Di satu hal
    Jalan masih belum terang
    Belum tenang

    Lalu seri kelabu lantunan subuh
    Aku kamu masih
    Kabut rapuh

  • Puisi Kamu Karya Eva

    Kamu
    oleh
    E.E.T

    Kamu
    Memberiku kepedihan
    Memberiku harapan
    Memberiku kepahitan
    Memberiku luka saat kau campakkan

    Seringkali ku ingin lupakan
    Ku ingin hentikan
    Ku ingin hapuskan
    Semua bayangmu yang selalu melayang bebas
    Dalam lingkar pikiran

    Namun
    Ada bagian dalam kalbuku
    Yang selalu menginginkanmu
    Mendambamu, merindumu

    Karena kamu
    Membuatku kembali merasakan cinta
    Membuatku merasa terlahir kembali ke dunia
    Dengan segala cinta

    Karena kamu
    Alasanku untuk selalu bersyukur
    Dalam lima waktuku
    Andai hadirku dapat damaikanmu
    Maka akan kusandarkan
    Segala harapanku

  • Puisi Larantuka Karya Rama

    Larantuka
    oleh
    Rama

    Dari pelipis mataku
    Menyeruak menuju langit-langit

    Di beberapa malam kutelanjangi

    Ku gumami
    Pagi selalu berhambur warna terang

    Tidur pun tak pernah lelap

    Semua asing dalam kesadaran

    Aku ingin pulang
    Dibawanya ke mana pun
    kemana pun

    Siang ku kira matahari
    Benderang yang kudapat itu hanya kepergian
    Pantaskah kumenatap ego
    Itu mengotak-atik keji pikirku

    Bila saja ada pilihan
    Lenyap saja hati ini
    Gantung di kemelaratan

    Bila ada pilihan
    Perahu erot ini akan membara
    Disetiap perpanjangan gelombang