Tag: puisi

  • Puisi Samar Karya Yani

    Samar
    oleh
    Yani

    Samar
    Kulukis bayang wajahmu saat senja temaram
    Disudut sudut hatiku masih kuingat
    raut wajahmu meskipun samar

    Senyum terakhir yang kulihat dari bibir indahmu
    Kini Kucoba goreskan dalam aksara penaku
    ingin rasanya kudengar kembali tawa dan suara lembutmu
    Tapi sadarku..  kau tak mungkin aku milikki

    Aku tak ingin seperti
    punduk rindukan bulan
    Meski di palung hati kau masih kurindukan

    Biarlah namamu kutulis sebagai sang mantan
    Potrekmu pun ku hapus dari beranda maya
    Suatu kesalahan bila aku terus bertahan
    mencintai milik orang

    Rasamu yang pernah kau ucapkan
    Cintamu yang pernah kau titipkan
    Akan kukenang sebagai pelajaran

    Mencintai suami orang
    bukanlah wanita bijaksana

    Karena aku tak ingin bahagia
    di atas derita wanita yang lainnya

  • Puisi Cinta dan Mimpi Karya Eva

    Puisi Cinta dan Mimpi
    Oleh
    Eva

    Dulu..
    Hanyalah sebuah mimpi
    Mimpi Indah yang selalu menemani

    Dulu..
    Hanyalah sebuah bintang
    Yang hanya mampu ku pandang

    Dulu..
    Teramat kuat berlari
    Mengabaikan rasa yang ku beri
    Teramat besar membenci
    Agar ku lekas pergi

    Tapi..
    Hati bersikukuh untuk tetap berdiri
    Melawan benci dengan Cinta suci
    Membalas perih dengan janji
    Janji yang selalu enggan untuk mati

    Dan hari ini..
    Ku bisa memeluk mimpi
    Hingga tak ada yang mampu mengakhiri
    Ku bisa menyentuh bintang
    Bukan hanya sekedar memandang

    Hari ini..
    Ku bisa memeluk erat hatimu
    menikmati senyum indahmu
    Mencumbu setiap hela nafasmu
    Dan membangun mimpi bersamu

  • Puisi Kesempatan Kedua Karya Didi

    Kesempatan Kedua
    oleh
    Didi

    aku masih punya hati
    punya rasa untuk kita
    dan aku akan menanti
    sampai kapanpun kau minta
    yakinkanlah cinta
    kan berpihak padaku
    biar kan dia
    datang memanggilmu untukku

    saat bersamamu
    takkan aku lupakan, aku hilangkan
    walau berat saat kau
    pergi dariku, meninggalkanku

    berikannlah kesempatan yang ke dua untuk kita
    meyesalku tlah tancapkan luka dalam di hatimu
    percayalah aku ksn berubah untukmu

    kesalahan bukan tuk di kenang
    lupakan

  • Puisi Sayup Kangen Karya Rama

    Sayup Kangen
    oleh
    Rama

    Dekatkan aku dengan rumahmu
    Yang layu disejukkan aroma
    Ingatkan ku pulang
    Agar bersih juga kotor
    Selalu kita bicarakan berdua

    Selayaknya saja
    Doa, pelukan, kasih

    Rahasia
    Sedikitkan waktuku
    Jika seringmu melepaskan
    Tempatkan saja

    Seperti biasaku menyembunyikannya
    Aku tak butuh kata dia mereka
    Tidurkanku

    Di ruang seada-adanya karma si buyung.

  • Puisi Kasih di Rindu

    Kasih di Rindu
    oleh
    Rama

    Pedang panjang
    Langit memerah muram mengusam
    Aku ular yang memisah dari kawanan
    Badak sudah terpisah kulit
    Juga daging pengganti ku diam beribu gunjingan

    Dobrak Maju.. dobrak maju..
    Sampai mati aku sialan!

    Gila!
    Lupa siapa bajingan-bajingan lintah itu
    Dogma racuni otak kau

    Aku ingin nari-nari lepas
    Nikmati rintik abadi
    Hujan akan turun di sore kasih

  • Puisi Tak Lagi Terlihat Karya Yani

    Tak Lagi Terlihat
    oleh
    Yani

    Perjalananku suatu saat
    Akan terhenti disini
    Semua cinta akan aku tinggalkan

    Mungkin aku akan diingat atau dilupakan
    Mungkin cintaku telah tergantikan

    Akhir dari perjalanan
    Aku akhiri dengan senyuman
    Kutitip cinta padamu
    Yang  aku tinggalkan

    Andaikan aku masih
    Kau kenang
    Datanglah
    Dengan untaian doa  dan seikat kembang

    Dalam alam yang berbeda aku
    Akan tersenyum
    Buatmu mu sayang

    Meski senyumku tak dapat kau lihat
    Tapi cintaku akan terus dapat kau rasakan
    Meski tubuhku tak lagi tersentuh olehmu
    Dan namaku tak lagi terlihat
    DIBATU NISAN

  • Biografi Chairil Anwar dan Karya-karyanya

    Biografi Chairil Anwar dan Karya-karyanya

    Nama Lengkap : Chairil Anwar
    Tempat Lahir : Medan, Indonesia
    Tanggal Lahir : 26 Juli 1922
    Meninggal : 28 April 1949
    Nama Julukan : Si Binatang Jalang
    Kebangsaan : Indonesia
    Nama Ayah : Toeloes
    Nama Ibu : Saleha

    Biografi Singkat Chairil Anwar

    Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Chairil Anwar merupakan anak tunggal.

    Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat.

    Ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota.

    Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda.

    Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus.

    Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang dapat ditemukan.

    Memasuki usia dewasa, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastra.

    Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil sangat mahir berbahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Jerman.

    Kesehariannya diisi dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama.

    Seperti Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron.

    Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

    Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun.

    Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.

    Chairil pernah jatuh cinta kepada Sri Aryati, rekan kerja di radio Jepang di Jakarta.

    Tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

    Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

    Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku: Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

    Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan.

    Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: “Krawang-Bekasi”, yang disadurnya dari sajak “The Young Dead Soldiers”, karya Archibald MacLeish (1948).

    Dia juga menulis sajak “Persetujuan dengan Bung Karno”, yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.

    Bahkan sajaknya yang berjudul “Aku” dan “Diponegoro” juga banyak diapresiasi orang sebagai sajak perjuangan.

    Kata Aku binatang jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka.

    Chairil Anwar yang dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku) adalah pelopor Angkatan ’45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid dan kuat.

    Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memelopori puisi modern Indonesia.

    Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

    Hari meninggalnya diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

    Puisi-Puisi Chairil Anwar:

    • Deru Campur Debu (1949)
    • Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
    • Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
    • “Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949”, disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
    • Derai-derai Cemara (1998)
    • Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
    • Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
    • Puisi-puisi Chairil Anwar yang Diterjemahkan dalam Bahasa Asing:
    • “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
    • “Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
    • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
    • “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
    • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
    • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
    • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
    • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
    • Dalam Kumpulan “Poeti Indonezii” (Penyair-Penyair Indonesia). Terjemahan oleh S. Semovolos. Moscow: Inostrannaya Literatura, 1959, № 4, hlm. 3-5; 1960, № 2, hlm. 39-42.
    • Dalam Kumpulan “Golosa Tryoh Tisyach Ostrovov” (Suara Tiga Ribu Pulau). Terjemahan oleh Sergei Severtsev. Moscow, 1963, hlm. 19-38.
    • Dalam kumpulan “Pokoryat Vishinu” (Bertakhta di Atasnya). Puisi penyair Malaysia dan Indonesia dalam terjemahan Victor Pogadaev. Moscow: Klyuch-C, 2009, hlm. 87-89.
    • Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
  • Puisi Epitaf Rumah Buram Karya Maulana Affandi

    Epitaf Rumah Buram
    oleh
    Maulana Affandi

    Pahatan kayu yang indah sebagai atap pelindung tubuh manja
    Walau menengadah sombong tak akan gentar oleh sang mentari
    Rintik air dari langit ketujuh tak mampu membasahi muka
    Tiupan angin kencang tak mampu menembus kokohnya bangunan ini

    Berkumpul, berseri, dan berbagi cerita dengan kawan sedarah
    Saling membantu dan menyayangi tanpa tanda jasa
    Senyum manis dari bibir mereka setiap penghuni rumah
    Tempat pelipur lara saat hati sedang berduka
    Merasa kenyamanan ini adalah keabadian dan lalai dengan kewajiban

    Salah!
    Kesombongan menantang alam seakan dicatat olehnya
    Mereka dendam, mereka murka
    Tak ada yang membantu tak ada yang peduli
    Isakan tangis dari setiap wajah yang disayangi mulai meredup

    Sepi…. Dingin… Sendiri…
    Tubuh terjepit tanah yang dipenuhi cacing-cacing liar
    Kain putih bersahaja sudah berganti warna dan tak layak pakai
    Itulah rumah sesungguhnya, rumah keabadian.
    Rumah yang hanya beratapkan epitaf nama buram.

  • Puisi Burung Karya Dedy

    Burung
    oleh
    Dedy

    aku ingin ingin punya sayap
    seperti burung

    tapi sayap

    yang akan di pasang di pundakku

    yang aku inginkan

    setel antara kanan dan kiri

    sehingga aku mudah

    mengendalikan derajat setiap belokan

    dan
    aku tidak akan berbenturan
    dengan burung-burung lain
    atau planet yang ada di depanku

    apakah ada

    orang yang telah mempunyai sayap
    yang telah aq inginkan?

    kalau pun ada

    aku ingin untuk membelinya

  • Puisi Isi Hati Karya Hardi


    Isi Hati

    oleh

    Hardi

    terseyumlah saat kau mengingatku
    karena saat itu aku sangat merindukanmu

    dan menangislah saat kau merindukanku
    karena saat itu aku sangat berada jauh darimu
    tetapi pejamkanlah mata indahmu itu
    karena saat itu aku akan terasa didekatmu
    karena aku tlah berada di hatimu untuk selamanya

    tak ada yang tersisa lagi untukku
    selain kenangan-kenangan indah bersamamu

    mata indah yang dengannya
    aku biasa melihat keindahan cinta
    mata indah yang dahulu adalah milikku
    kini semuanya terasa jauh meninggalakanku

    kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu
    hati, cinta, dan rinduku adalah milikmu
    cintamu tak kan pernah membebaskanku

    bagaimana mungkin aku bisa terbang
    mencari cinta yang lain??
    saat sayap-sayap ku telah patah karenamu

    cintamu akan tetap tinggal bersamaku
    hingga ahir hayatku dan setelah kematianku
    hingga tangan Tuhan menyatukan cinta kita lagi

    betapapun hati telah terpukau
    sosok terang dalam kegelapan
    yang telah menghidupkan sinar redupku

    namun tak dapat menyinari
    dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya

    aku tidak akan pernah menemukan cinta yang lain
    selain cintamu
    karena mereka tak tertandingi
    oleh sosok dirimu dalam jiwaku

    kau tak kan pernah terganti bagikan pecahan logam
    menggagalkan kesunyian, kesendirian, dan kesedihanku