Tag: sejarah

  • 10 Perbedaan Candi Hindu dan Budha

    10 Perbedaan Candi Hindu dan Budha

    Perbedaan Candi Hindu dan Budha

    Candi adalah sebuah peninggalan bersejarah yang berasal dari era kerajaan dahulu kala. Menurut sejarahnya, candi merupakan bangunan keagamaan Hindu-Budha yang digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewi oleh pendeta atau tokoh agama pada saat itu.

    Nah, yang jadi pertanyaan adalah, apa perbedaan candi Hindu dan candi Budha? Agar lebih jelas, simak beberapa perbedaannya berikut ini.

    1. Struktur Bangunan

    Walau terkesan sama, tapi sebenarnya candi Hindu dan candi Budha memiliki perbedaan struktur bangunan. Masing-masing memiliki bentuk dan filosofi yang berbeda.

    Pada candi Hindu, terdiri dari 3 bagian, yaitu Bhurloka (dasar candi), Bhurvaloka (tubuh candi), dan Svarloka (atap candi).

    Sedangkan pada candi Budha terdiri dari Kamadhatu (dasar candi), Rupadhatu (tengah candi), dan Arupadhatu (atap candi).

    2. Fungsi Candi

    Secara umum, candi memang disimbolkan sebagai tempat ibadah atau keagamaan. Tapi lebih spesifik lagi, ada perbedaan diantara keduanya.

    Candi Hindu biasanya digunakan sebagai makam para raja dari kerajaan-kerajaan Hindu yang pernah berkuasa. Caranya dengan menyimpan abu jenazah di dalam candi.

    Sedangkan candi Budha umumnya digunakan sebagai tempat ibadah atau pemujaan dewa-dewi pada saat itu.

    3. Bentuk Puncak

    Jika dilihat secara seksama, candi Hindu dan Budha memiliki perbedaan yang cukup unik, terletak pada bentuk puncaknya.

    Pada candi Hindu, bentuk puncaknya meruncing dan biasa disebut dengan Ratna. Sedangkan pada candi Budha, bentuk puncaknya tambun dan biasa disebut dengan Stupa.

    4. Bentuk Bangunan

    Bentuk antara keduanya pun memiliki perbedaan. Kebanyakan candi Hindu memiliki bentuk yang ramping. Sedangkan candi Budha memiliki bentuk yang sedikit besar dan tambun.

    5. Cerita Arca

    Dikarenakan berbeda agama, maka bentuk fisik dan arca pun berbeda. Pada candi Hindu, umumnya dihiasai dengan cerita arca tentang Ramayana dan Krisnayana. Sedangkan pada candi Budha, dihiasai dengan cerita arca tentang Lalitavistara dan Avadana.

    6. Arah Pintu Utama

    Kedua candi ini juga memiliki perbedaan arah pintu utama. Candi Hindu memiliki pintu utama yang mengarah ke barat. Sedangkan candi Budha memiliki pintu utama yang mengarah ke timur.

    7. Bahan Material

    Candi Hindu umumnya menggunakan bahan batu merah yang tidak dibakar. Sedangkan candi Budha menggunakan bahan batu andesit yang telah dibentuk dan dipotong sedemikian rupa mengikuti pola dan bentuk.

    8. Hiasan Relief

    Pada candi Hindu, hiasan relief umumnya terlihat lebih rendah dan teksturnya tidak menonjol. sedangkan pada candi Budha, hiasan relief umumnya terlihat lebih tinggi dan teksturnya menonjol.

    9. Lokasi Pembangunan

    Candi Hindu biasanya dibangun di daerah pegunungan atau dataran tinggi, karena dianggap lebih dekat dengan alam para dewa. Contohnya: Candi Prambanan di Sleman.

    Candi Budha sering dibangun di dataran rendah atau dekat dengan aliran sungai, melambangkan kedamaian dan keseimbangan. Contohnya: Candi Borobudur di Magelang.

    10. Simbolisme dan Makna Filosofis

    Candi Hindu menekankan konsep ketuhanan dan kosmos, menggambarkan hubungan vertikal antara manusia dan dewa-dewa.

    Candi Budha menonjolkan konsep pencerahan dan perjalanan spiritual, menggambarkan proses manusia mencapai Nirwana melalui tahapan hidup.

  • Sejarah Singkat Seni Lukis Dunia

    Sejarah Seni Lukis

    Sejarah Seni Lukis secara umum dapat dibedakan kedalam 5 bagian, yaitu zaman prasejarah, zaman klasik, zaman pertengahan, zaman reinassance, dan zaman art nouveaou.

    Pembagian sejarah ini dibagi sesuai dengan perkembangan zaman, dan berikut adalah sejarah seni lukis secara dan perkembangan di dunia universal.

    Menurut sejarahnya, keberadaan seni lukis sangat erat hubunganya dengan gambar seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

    Peninggalan-peninggalan historis dari zaman prasejarah menggambarkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah memulai kegiatan menggambarnya.

    Dimulai dari membuat gambar di tembok atau dinding gua untuk mengisyaratkan bagian-bagian penting yang terjadi dalam kehidupan.

    Diawal keberadaanya sebuah gambar hanya dibuat dengan material sederhana seperti kapur, arang, atau baan-bahan lainnya.

    Objek seni lukis pada zaman prasejarah didominasi dengan karya-karya yang menghasilkan lukisan manusia, binatang, dan objek-objek alam seperti pohon kulit, bukit, gunung, sungai, dan laut.

    Objek ini dilukis dengan menonjolkan bentuk yang dianggap sakral, misalnya untuk melukiskan binatang banteng maka orang-orang zaman prasejarah akan menonjolkan bagian tanduk banteng karena menggambarkan simbol vital seekor banteng.

  • Sejarah Toga dan Maksud yang Tersirat di Dalamnya

    Sejarah Toga dan Maksud yang Tersirat di Dalamnya

    Sejarah Toga

    Wisuda adalah sebuah aktivitas pelantikan kelulusan Mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya pada suatu Universitas.

    Dalam wisuda, biasanya para wisudawan akan menggunakan pakaian atau baju wisuda yang dikenal dengan toga.

    Yap, hampir seluruh negara di dunia ini menggunakan toga dalam acara kelulusan Mahasiswa, termasuk Indonesia.

    Tapi, tahukah kamu bagaimana sejarah toga? Kenapa pakaian ini bisa dijadikan sebagai baju wisuda?

    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kali ini Sastrawacana akan mengupas sejarah toga dan makna di dalamnya.

    Menurut sejarah, Toga berasal dari bahasa latin, yaitu tego yang berarti penutup (tubuh).

    Sampai saat ini, dunia akademis sepakat jika toga merupakan pakaian ala Romawi kuno yang berbentuk sehelai kain panjang berwarna hitam.

    Biasanya, toga terbuat dari wol, yaitu serat yang diperoleh dari rambut hewan dari keluarga Caprinae, terutama domba dan kambing, tetapi bisa juga berasal dari rambut mamalia lainnya seperti alpaca.

    Walau sering dikaitkan dengan bangsa Romawi, nyatanya toga juga pernah dikenakan oleh pribumi Italia, yaitu bangsa Etruskan sekitar tahun 1200 SM Silam. Namun kala itu toga masih berbentuk jubah.

    Terlepas dari itu semua, baju toga tidak hanya sekedar baju biasa, tapi ada makna yang tersirat di dalamnya sehingga dijadikan sebagai pakaian resmi saat pelantikan kelulusan Mahasiswa.

    Apa makna yang tersirat di dalam toga?

    Makna Baju Toga

    Dihimpun dari berbagai sumber, toga wisuda sebenarnya memiliki beberapa makna simbolis yang tersirat di dalamnya. Adapun makna baju toga adalah sebagai berikut:

    1. Simbol Kegelapan yang Berhasil Ditaklukkan

    Warna hitam pada baju toga adalah sebuah simbol yang menggambarkan bahwa kegelapan (dalam arti kebodohan) telah dikalahkan oleh Mahasiswa di bangku perkuliahan.

    2. Bentuk Topi Persegi

    Ada juga yang mengatakan jika bentuk topi persegi pada toga melambangkan cara berpikir sarjana yang dituntut untuk melihat dari beberapa aspek dan sudut.

    Secara sederhana, bisa dikatakan sebuah simbol agar sarjana tidak memiliki sudut pandang yang sempit.

    3. Pemindahan Tali Toga

    Pemindahan tali toga sendiri memiliki makna yang cukup dalam, bukan hanya sebuah aktivitas biasa.

    Ada banyak versi tentang maksud ini, namun yang paling banyak disebutkan adalah sebuah proses penggunaan otak kiri dan kanan.

    Maksudnya, ketika masih menyandang status Mahasiswa, kebanyakan yang dipakai adalah otak kiri saja.

    Ketika sudah lulus, disarankan untuk seimbang dengan cara menggunakan otak kanan juga.

    Jadi, setiap teori yang didapatkan dalam bangku perkuliahan harus dipraktikkan dengan cara yang baik, inovatif, kreatif, dan bijaksana.

    Selain itu, pemindahan tali toga juga dimaknai sebagai sebuah peningkatan pola pikir.

    Ketika otak kiri yang dominan, maka yang ada di dalam pikiran adalah bekerja.

    Jika dikembangkan dengan otak kanan, maka yang ada di dalam pikiran adalah menciptakan lapangan kerja.

    Nah, itulah penjelasan tentang baju toga, sejarah toga, dan maknanya di dalam kehidupan nyata.

    Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Peninggalannya

    Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Peninggalannya

    Sejarah Kerajaan Sriwijaya

    Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang cukup berjaya dan sangat kaya pada masanya.

    Hal tersebut dibuktikan dengan wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya yang sangat luas.

    Bahkan digadang hampir menguasai seluruh wilayah Asia Tenggara.

    Nama Sriwijaya sendiri diambil dari dua suku kata, yaitu Sri yang artinya gemilang dan wijaya yang artinya adalah kemenangan.

    Jika digabungkan, nama Sriwijaya artinya adalah kemenangan yang bergemilang.

    Namun, mengingat bahwa kerajaan Sriwijaya sangat terkenal di Asia Tenggara, maka tak heran jika Sriwijaya memiliki sebutan yang berbeda-beda dari setiap negara.

    Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

    Karena daerah kekuasaan yang sangat luas, peninggalan kerajaan Sriwijaya tak hanya ditemukan di Indonesia saja, tapi juga di negara tetangga yang masih dalam lingkup Asia Tenggara.

    Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

    Adapun beberapa prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya adalah sebagai berikut:

    1. Prasasti Kedukan Bukit

    Prasasti kerajaan Sriwijaya ini ditemukan di wilayah pinggiran kota Palembang.

    Menurut para ahli, diperkirakan jika prasasti Kedutan Bukit sudah ada sejak tahun 683 Masehi.

    Isinya sendiri menceritakan tentang perjalanan raja Sriwijaya.

    2. Prasasti Telaga Batu

    Prasasti Telaga Batu ditemukan di Palembang oleh para arkeolog sekitar tahun 1935.

    Peninggalan kerajaan Sriwijaya ini berisi tentang kutukan atau mantra jahat yang berani berkhianat atau tidak patuh dengan aturan raja.

    3. Prasasti Talang Tuo

    Prasasti talang tuo ditemukan di wilayah bagian barat Palembang.

    Menurut para ahli sejarah, peninggalan kerajaan ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 684 Masehi yang berisi tentang pembangunan Taman Sriseta oleh raja Sriwijaya.

    4. Prasasti Karang Berahi

    Menurut para pengamat sejarah, prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya ini diperkirakan sudah ada dari tahun 868 Masehi silam.

    Adapun isinya tentang doa-doa yang ditujukan kepada dewa.

    5. Prasasti Kota Kapur

    Pemberian nama Prasasti Kota Kapur dikarenakan prasasti ini ditemukan di Kota Kapur, pesisir barat laut Pulau Bangka.

    Diperkirakan jika prasasti Kota Kapur sudah ada sejak tahun 686 Masehi.

    Prasasti Sriwijaya ini berisi tentang cerita upaya penyerangan kerajaan Sriwijaya yang ingin menguasai pulau Jawa.

    6. Prasasti Bukit Siguntang

    Prasasti Bukit Siguntang berisi cerita tentang suatu peperangan yang banyak memakan korban jiwa.

    Peninggalan Sriwijaya ini juga ditemukan bersamaan dengan peninggalan Budha Sakyamurni yang sedang mengenakan jubah.

    7. Prasasti Amoghapasa

    Prasasti Amoghapasa adalah prasasti yang tertulis pada bagian belakang stela patung batu yang disebut pāduka Amoghapāśa sebagaimana disebutkan dalam prasasti Padang Roco.

    8. Prasasti Hujung Langit

    Prasasti Hujung Langit atau yang sering disebut sebagai Prasasti Bawang adalah sebuah prasasti batu peninggalan Sriwijaya yang ditemukan di desa Haur Kuning, Lampung, Indonesia.

    Aksara yang digunakan pada prasasti ini adalah Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno.

    Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

    Selain prasasti, ditemukan pula candi-candi peninggalan kerajaan Sriwijaya. Adapun beberapa candi tersebut sebagai berikut:

    • Candi Muara Takus
    • Candi Muaro Jambi
    • Candi Biaro Bahal
    • Candi Kota Kapur
    • Gapura Sriwijaya

    Raja Kerajaan Sriwijaya

    Berikut adalah nama-nama raja kerajaan Sriwijaya yang terkenal di seluruh bagian Asia Tenggara.

    • Raja Daputra Hyang
    • Raja Dharmasetu
    • Raja Balaputradewa
    • Raja Sri Sudamaniwarmadewa
    • Raja Sanggrama Wijayattunggawarman

    Nah, itulah sejarah singkat kerajaan Sriwijaya yang meliputi peninggalan dan nama-nama rajanya.

    Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa membaca artikel sejarah lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • Sejarah Pramuka Dunia dan Indonesia

    Sejarah Pramuka Dunia dan Indonesia

    Sejarah Pramuka Dunia

    Pramuka atau Praja Muda Karana merupakan suatu organisasi pendidikan non formal yang berkembang secara internasional, termasuk Indonesia.

    Awal mula terjadinya sejarah pramuka dimulai sejak awal abad 20 yang diprakarsai oleh Boden Powell, yang dikenal sebagai Bapak Pandu Sedunia.

    Perkembangan pramuka sendiri sangat cepat dan diakui oleh masyarakat.

    Hal tersebut dikarenakan kontribusi Baden Powell yang memang mengarahkan pramuka sebagai organisasi yang bermanfaat.

    Pada masa itu, organisasi pramuka tidak hanya sebagai bentuk organisasi yang mengajarkan baris-berbaris saja.

    Tapi juga mengarahkan masyarakat agar lebih dekat dengan alam, sosial, serta memperkuat hubungan dengan Tuhan.

    Menurut sejarah, pramuka diawali ketika Baden Powell melakukan perkemahan pertamanya pada 25 Juli 1907 di Brownsea, Inggris.

    Lantas, ia mencatat pengalamannya dalam buku Scouting for Boys pada tahun 1908.

    Dari buku itulah, perkembangan pramuka mulai terlihat.

    Ada begitu banyak organisasi yang mulai terbentuk dari berbagai belahan dunia, seperti Girl Guides, CUB, Rover Scout, dan sebagainya.

    Lalu, pada tanggal 30 Juli sampai 8 Agustus 1920 di Olympis Hall, London, ada ratusan partisipan Pramuka melakukan jambore dunia untuk pertama kalinya. Kurang lebih diperkirakan peserta yang datang mencapai 800 orang.

    Jambore ini diikuti oleh 34 negara. Dan dalam acara tersebut, Baden Powell dinobatkan sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).

    Dan di tahun yang sama dibentuk pula Dewan Internasional organisasi Pramuka yang beranggotakan 9 orang.

    Kota London merupakan kantor kesekrariatan Pramuka sedunia. Yang kemudian dipindahkan ke Ottawa, Kanada tahun 1958 dan berpindah lagi ke Geneva, Swiss tahun 1968.

    Sejarah Pramuka Indonesia

    Sejarah pramuka Indonesia dimulai sejak tahun 1912, di mana cikal bakalnya adalah organisasi Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) bentukan Belanda.

    Kemudian pada tahun 1916, organisasi tersebut berganti nama menjadi Nederlands-Indische Padviders Vereeniging (NIPV). Dalam bahasa Indonesia artinya adalah Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda.

    Pada tahun yang sama dibentuk juga organisasi kepemudaan bentukan bangsa Indonesia bernama Javaansche Padviders Organisatie yang diprakarsai oleh S.P. Mangkunegara VII.

    Setelah Sumpah Pemuda, kesadaran masyarakat Indonesia tentang pentingnya keorganisasian semakin meningkat. Hingga beberapa organisasi kepanduan mulai ramai peminatnya.

    Karena banyaknya organisasi kepanduan Indonesia tersebut, maka dibentuklah Persaudaraan Antara Pandu Indonesia (PAPI) pada tanggal 23 Mei 1928.

    Namun, pada 1930, PAPI melebur menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang dirintis oleh tokoh-tokoh organisasi lain.

    Semakin hari, organisasi ini semakin berkembang. Sehingga PAPI menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938.

    Untuk menggalang persatuan dan persaudaraan, BPPKI mengadakan “Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem” disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.

    Saat masa penjajahan Jepang, organisasi kepanduan sempat mendapat tekanan karena Jepang menganggap bahwa organisasi kepanduan bisa meningkatkan semangat persatuan rakyat Indonesia.

    Meski begitu, para tokoh kepanduan tetap memegang prinsipnya masing-masing untuk tetap membela organisasi yang telah berhasil menyatukan rakyat.

    Sampai akhirnya Indonesia meraih kemerdekaan, tokoh kepanduan Indonesia membentuk Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia untuk pembentukan satu wadah organisasi kepanduan di Indonesia.

    Dengan inisiatif tersebut akhirnya diadakan Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia pada tanggal 27-29 Desember 1945 di Surakarta dengan hasil terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia.

    Organisasi ini diakui pemerintah sebagai satu-satunya organisasi kepanduan lewat keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan pada 1 Februari 1947.

    Dan setelah cukup lama berdiri, baru akhirnya pada tahun 1961, Gerakan Pramuka lahir. Hal ini dilatarbelakangi karena banyaknya organisasi kepanduan yang ada.

    Sehingga pada tanggal 14 Agustus 1961, dilakukan pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, serta penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka. Maka dari itu, Hari Pramuka diperingati setiap tanggal 14 Agustus.

    Nah, itulah sejarah pramuka di dunia dan Indonesia yang bisa kita gunakan sebagai referensi dan bahan untuk mengingat sejarah.

    Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • Sejarah Perkembangan Filologi Menurut Teori Sastra

    Sejarah Perkembangan Filologi Menurut Teori Sastra

    Sejarah Perkembangan Filologi

    Ilmu filologi dipandang penting dalam menyajikan kebudayaan Yunani kuno yang sampai kini berperan dalam memperluas dan memperdalam pengetahuan pengenai sumber ilmu pengetahuan.

    Kebudayaan Yunani kuno tidak hanya berpengaruh di dunia Barat, tetapi juga di seantero dunia sehingga filologi tetap berperan dalam memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai sumber dari segala ilmu pengetahuan.

    1. Filologi di Eropa Daratan

    Ilmu filologi berkembang di kawasan kerajaan Yunani, yaitu di kota Iskandariyah di benua Afrika pantai utara.

    A. Awal Pertumbuhannya

    Awal sejarah filologi di kota Iskandaria oleh bangsa Yunani pada abad ke-3 S.M dengan membaca naskah Yunani lama yang mulai ditulis pada abad ke-8 S.M dalam huruf Yunani kuno (Huruf bangsa Funisia). Naskah itu berkali-kali disalin sehingga mengalami perubahan dari bentuk aslinya.

    Para penggarap naskah-naskah itu dikenal dengan ahli filologi, di cetus oleh Eratosthenes.

    Para ahli filologi memiliki ilmu yang luas karena dalam memahami isi naskah perlu mengetahui huruf, bahasa, dan ilmu yang dikandungnya.

    Dan kemudian menuliskannnya kembali sehingga dapat diketahui oleh masyarakat pada waktu itu.

    Metode yang digunakan untuk menelaah naskah dikenal dengan ilmu filologi. Metode taraf awal berkembang dari abad ke abad hingga kini.

    Para ahli menguasai ilmu dan kebudayaan Yunani lama yang dikenal dengan aliran Iskandariyah.

    Naskah yang ditulis oleh para budak belian yang diperdagangkan di sekitar laut tengah ini bertujuan untuk kegiatan perdagangan.

    Namun sering terjadi penyimpangan karena tidak memiliki kesadaran terhadap nilai keotentikan naskah lama.

    Oleh karena itu perlu adanya perbaikan yang musti dilakukan oleh ahli filologi.

    Kerusakan atau kekorupan bahasa terjadi karena ketidaksengajaan, bukan ahli dalam ilmu yang ditulis, atau karena keteledoran penyalin.

    Sesudah Iskandariyah jatuh ke dalam kekuasaan Romawi, kegiatan filologi berpindah ke Eropa selatan, berpusat di kota Roma dengan melanjutkan filologi Yunani (meneruskan mazhab Iskandariyah) yang tetap menjadi bahan telaah utama dan bahasa Yunanai tetap digunakan.

    Pada abad ke-1 perkembangan tradisi berupa pembuatan resensi terhadap naskah berkelanjutan hingga pecahnya kerajaan Romawi pada abad ke-4 menjadi kerajaan Romawi Barat dan Romawi Timur. Dan mempengaruhi perkembangan filologi selanjutnya.

    B. Filologi di Romawi Barat

    1). Filologi di Romawi Barat Penggarapan diarahkan kepada naskah-naskah dalam bahasa latin yang berupa puisi dan prosa, sejak abad ke-3 telah digarap secara filologi.

    Bahasa latin menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Adapun telaah naskah keagamaan yang dilakukan oleh pendeta dan berakibat pada naskah Yunani yang mulai ditinggalkan, bahkan dipandang naskah yang berisikan paham jahiliyah sehingga terjadi kemunduran.

    2). Filologi di Romawi Timur Telah muncul pusat-pusat teks Yunani, misalnya di Antioch, Athena, Iskandariyah, Beirut, Konstaninopel, dan Gaza. Selanjutnya berkembang menjadi perguruan tinggi. Dalam periode itu mulailah muncul tafsir pada tepi halaman naskah, disebut dengan scholia.

    3). Filologi di Zaman Renaisan Renaisans di mulai dari Italia pada abad ke-13, menyebar ke negara Eropa lainnya dan berakhir pada abad ke-16.

    Dalam arti sempit renaisan adalah periode yang di dalamnya kebudayaan klasik diambil lagi sebagai pedoman hidup; dan dalam arti luas adalah periode yang di dalamnya rakyat cenderung kepada dunia Yunani klasik atau kepada aliran humanisme.

    Pada abad ke-15 jatuhnya kerajaan Romawi Timur ke tangan bangsa Turki dan ahli filologi berpindah ke Eropa Selatan (Roma). Penemuan mesin cetak di Gitenberg (Jerman) menyebabkan perkembangn baru dalam bidang filologi.

    Di Eropa, filologi diterapkan untuk telaah naskah lama nonklasik. Abad ke-19 ilmu bahasa atau linguistik berkembang menjadi ilmu yag berdiri sendiri, terpisah dari ilmu filologi.

    Pada abad ke-20 pengertian filologi di Eropa daratan tetap seperti semula ialah telaah teks klasik, sedangkan di kawasan Angio-Sakson berubah menjadi linguistik.

    2. Filologi di Kawasan Timur Tengah

    Sejak abad ke-4 kota di Timur Tengah memiliki pusat studi berbagai ilmu pengetahuan yang berasal dari Yunani, seperti Gaza, Belrut, Edessa, dan Antioch. Abad ke-5 dilanda perpecahan gerejani maka para ahli filologi berpindah ke kawasan Persia.

    Dalam lembaga ini naskah Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Siria dan bahasa Arab. Kota Harra di Mesopotamia pernah menjadi pusat studi naskah Yunani, penduduknya yaitu Sabean, suku yang tergolong kuno dan mahir dalam bahasa Arab.

    Zaman dinasi Abasiyah, dalam pemerintahan khalifah Mansur (754-775), Harun Alrasyid (786- 775), dan Makmun (809-833). Puncak perkembangan ilmu pengetahuan Yunani ada dalam pemerintakahn Makmun.

    Sebelum kedatangan agama Islam Persia dan Arab memiliki karya yang terbilang mengagumkan misalnya Mu’allaqat dan Qasidah. Kegiatan meluas ke kawasan luar Negara Arab setelah Islam berkembang serta mistik Islam berkembang dengan maju di Persia, abad ke-10 hingga abad ke-11.

    Meluasnya kekuasaan dinasti Umayah ke Spanyol dan Andalusia pada abad ke-8 hingga abad ke-15 menyebabkan ilmu pengetahuan Yunani yang telah diserap oleh bangsa Arab kembali masuk ke Eropa dengan baju Islam.

    Abad ke-17 telaah teks klasik Arab dan Persia di eropa telah dipandang mantap, di Cambridge dan Oxford. Dan abad ke-18 didirikan pusat studi kebudayaan ketimuran oleh Sivester de Sacy dengan nama Ecole des Langues Orientales Vivantes.

    Sehingga lahirlah ahli orientalis Eropa, yaitu Etienne Qutremere (1782-1857), De Slane, De Sacy (bapak para orientalis di Eropa).

    3. Filologi di Kawasan Asia: India

    India adalah bangsa yang dipandang memiliki cukup dokumen peninggalan masa silam seperti prasasti dan naskah-naskah.

    Kontak langsung dengan bangsa Yunani ada pada zaman Raja Iskandar Zurkarnain yang mengadakan perjalanan sampai ke India pada abad ke-3 S.M daerah Gadhara terdapat seni patung, bukti dari pengaruh Yunani.

    Patung Buddha yang dipahat seperti patung Apollo. Perpaduan antar budaya Yunani, Hindu, Buddha, dan Jaina dinamakan kebudayaan Gadhara, dan mencapai puncaknya pada zaman raja Kaniska Kusana (ke-78 – 100).

    Abad ke-1 terjadi kkontak antara India dan Cina. Ada pula yang menterjemahkan naskah-naskah India ke dalam bahasa Cina, yaitu Fa-hian, Hiuen-tsing, dan I-tsing. Kontak India dengan bangsa Persi lebih awal dari bangsa-bangsa sebelumnya.

    Namun hubungan itu belum memberikan informasi yang mantap. Masuknya karya sastra India Pancatantra yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persi.

    Alberuni, seorang Arab-Persi, pernah mengunjungi India pada tahun 1030 dan mempelajari naskah-naskah India untuk mengetahui kebudayaan bangsa itu.

    Sampai pertengahan abad ke-19 telah banyak dilakukan telaah terhadap karya sastra klasik India. Dengan telah dilakukan studi terhadap weda dan kitab-kitab agama Buddha lainnya dari segi materi perkembangan filologi di India telah dipandang lengkap.

    Semenjak tahun 1850 banyak dilakukan kajian terhadap sastra klasik India secara ilmiah, dan diterbitkan sejumlah naskah dengan kritik teks.hingga pada awal abad ke-20 daftar tersebut sudah meliputi beribu-ribu naskah.

    4. Filologi di Kawasan Nusantara

    Kawasan Nusantara terbagi dalam banya kelompok etnis, memiliki bentuk kebudayaan khas, tanpa meninggalkan sifat kekhasan budaya Nusantara.

    1). Naskah Nusantara dan Para Pedagang Barat Hasrat mengkaji naskah Nusantara timbul dengan kehadiran bangsa barat abad ke-16. Yang mengetahui pertama naskah lama adalah para pedagang. Dan maraknya perdagangan naskah kuno.

    Peter Floris dan Pieter Wilemsz van el binck adalah seseorang bergerak dalam perdaangan naskah kuno. Di zaman VOC usaha mempelajari bahasa-bahasa Nusantara hampir terbatas pada bahasa Melayu.

    2). Telaah Naskah Nusantara oleh Para Penginjil Sesuai dengan teori filologi, sastra lisan termasuk kajian filologi, maka diantara penginjil ada yang mengkaji sastra lisan daerah yang didatanginya, karena kelompok etnis belum mengenal huruf sehingga budayanya masih disimpan dalam sastra lisan, seperti daerah Toraja oleh. N. Adriani dan Kruijt.

    3). Kegiatan Filologi terhadap Naskah Nusantara Kehadiran NBG ke Indonesia mendorong tumbuhnya kegiatan untuk meneliti naskah-nasah Nusantara. Minat itupuun timbul pada para tenaga Belanda dan Inggris.

    Kajian ahli filologi bertujuan untuk menyunting, membahas serta menganalisis isinya dengan menggunakan metode intuitif atau diplomatik.Perkembangan selanjutnya disunting dalam bentuk transliterasi huruf Latin dan berkembang lagi dalam bentuk bahasa asing terutama bahasa Belanda. Adanya telaah naskah untuk tujuan pembahasan isinya, yang ditinjau dari berbagai disiplin.

    Kegiatan filologi terhadap naskah Nusantara, mendorong berbagai kegiatan ilmiah, terutama dimanfaatkan oleh disiplin humaniora dan disiplin ilmu-ilmu sosial.

    Semua kegiatan itu telah memenuhi tujuan filologi, ialah melalui telaah naskah-naskah dapat membuka kebudayaan bangsa dan telaah mengangkat nili-nilai luhur yang tersimpan di dalamnya.

  • 7 Kegiatan yang Cocok Dilakukan Saat Hari Pahlawan

    7 Kegiatan yang Cocok Dilakukan Saat Hari Pahlawan

    Hari Pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November setiap tahunnya. Hari dimana masyarakat seluruh Indonesia memiliki kesemptan untuk mengenang jasa Para Pahlawan yang telah mendahului kita.

    Semua kegiatan yang dilakukan bukan hanya untuk senang-senang tapi didalamnya harus selalu ada suatu pelajaran yang dapat mengingatkan dan mengajarkan kepada para penerus bangsa agar memiliki semangat juang seperti para pendahulu kita.

    Nah, kegiatan seperti apa sih, yang bisa dilakukan untuk menyambut Hari Pahlawan? Yuk. Kita simak ulasan yang berikut ini.

    1. Kerja Bakti

    Kegiatan ini dapat di selenggarakan dari pihak desa atau sekolah dan instansi. Kegiatan yang sangat umum ini dapat menumbuhkan rasa gotong royong dan peduli terhadap lingkungan yang dapat dikerjakan secara bersamaan.

    2. Upacara Bendera

    Inilah hal yang paling penting, yaitu mengadakan upacara. Upacara khusus ini menyimbolkan kehormatan dari bangsa kepada Para Pahlawan yang telah gugur setelah berjuang demi kemerdekaan RI.

    3. Berkunjung Ke Museum

    Mungkin bagi kamu yang tidak suka berdiam diri dirumah, atau panas-panas an. Kamu dapat mengunjungi museum di kota terdekat kamu, selain mendapatkan hiburan kamu juga bisa mendapatkan wawasan tambahan tentang sejarah. Sungguh bermanfaat bukan.

    4. Teatrikal

    Nah, kegiatan inilah yang paling seru. kamu bisa mengadakan acara atau mengikuti teatrikal untuk menyambut Hari Pahlawan. Kamu bisa beradu akting dengan kawan mu. Kamu juga bisa mengasah skill terpendam kamu yang ternyata kamu jago dalam akting.

    5. Ziarah Ke Makam Pahlawan

    Salah satu kegiatan sakral bisa kamu lakukan dengan cara berziarah ke Makam Pahlawan guna memperingati Hari Pahlawan. Kamu bisa memanjatkan doa dan memberikan taburan bunga di atas makam.

    6. Nonton film perjuangan

    Memang benar ya, semua kegiatan bisa dilakukan untuk menyambut hari besar ini. salah satunya adalah dengan memutar dan menonton film perjuangan bersama. Kegiatan ini akan sangat lengkap jika kamu mengajak orang terdekat, teman dan keluarga untuk menonton film ini. wahh, pasti seru nih.

    7. Baca buku biografi pahlawan

    Terakhir nih, Bagi para kutu buku atau pecinta novel. Yuk, sebentar saja coba baca buku biografi Pahlawan terdahulu atau sejarah RI. Hal sederhana ini ternyata bermanfaat untuk menumbuhkan rasa cinta, kekaguman dan semangat yang ditularkan oleh Para Pejuang melalui suatu buku.

    Nah, itulah 7 kegiatan seru, sakral dan menarik yang bisa kamu lakukan untuk menyambut Hari Pahlawan. Gunakanlah kesempatan ini sebaik mungkin, dan ingatlah selalu bahwa terdapat hal yang bisa dicontoh dari para pejuang dahulu yang selalu memiliki semangat juang hingga akhir nafas.

  • 7 Fakta Tembok Besar China yang Belum Banyak Diketahui

    7 Fakta Tembok Besar China yang Belum Banyak Diketahui

    Tembok besar China dibangun sendiri oleh tangan manusia berabad-abad silam. Coba bayangkan, bagaimana cara mereka bisa membangun tembok sepanjang ini? Jika menurut nalar sangat tidak mungkin bukan? Inilah yang menjadikan tembok besar china masuk ke dalam 7 keajaiban dunia yang patut dijaga.

    Nah, selain kemegahan dan keunikannya ternyata tembok ini juga menyimpan beberapa fakta yang menarik untuk diulas. Berikut diantaranya:

    1. Tingginya Capai 26 Kaki

    Seperti yang kita ketahui, bangunan di tembok besar China tidaklah sama. Ada beberapa titik yang menjulang dan ada pula bagian yang sedikit rendah. Namun titik tertingginya berada di atas menara jam yaitu 26 kaki.

    2. Waktu Pembangunan yang Sangat Lama

    Proses pembangunan tembok besar china ini memakan waktu lebih dari 2 ribu tahun. Yang secara bergantian para pemimpin Dinasti tersebut melanjutkan pembangunannya.

    3. Tidak Diketahui Keberadaanya

    Meskipun tembok ini telah dibangun dan sudah berdiri sejak berabad-abad yang lalu. Ternyata tidak semua orang mengetahui keberadaanya. Barulah, saat penjelajah portugis (Bento De Gois) menginjakkan kaki di tanah China. Ia menemukan tembok ini dan mengumumkannya ke khalayak ramai. Sehingga tembok besar China mulai dikenal oleh seluruh masyarakat di belahan dunia.

    4. Mitos yang Menyelimuti

    Kabarnya, dalam pembangunan tembok besar China memakai tulang manusia sebagai bahan pembuatannya. Namun, hal itu tidak lah benar. Bahan baku yang dipakai saat itu adalah bahan yang bisa ditemukan di sana seperti kayu, batu bara, genting, tanah liat, dan batu  kapur. Dan ada hal unik juga, mereka menambahkan gumpalan nasi sebagai tamaban bahan baku. Karena mereka percaya bahwa gumpalan nasi mampu mempererat bahan bangunan.

    5. Tidak Ada Pembangunan Lanjutan Selama Berabad-Abad

    Menurut datanya, pembangunan tembok besar China berakhir pada tahun 1644 ketika penguasa terakhir Dinasti Ming dilengserkan. Setelah itu, tidak ada penerusan untuk membangun tembok ini. Yang ada hanya perawatan saja.

    6. Banyaknya Tenaga Kerja

    Sesuai dengan ukuran panjangnya serta waktu pengerjaannya yang sangat panjang. Sehingga banyak sekali para pekerja yang ikut serta dalam pembangunan. Untuk berapa jumlah pastinya tidak bisa diketahui. Tapi menurut beberapa penelitian, diperkirakan jumlahnya mencapai 800.000 orang.

    7. Memiliki Banyak Nama

    Sejak berdirinya, tembok ini memiliki banyak nama dan sering diganti-ganti. Mulai dari “Barrier”,”Fortress”,”Rampant”,”Purple Frontier” dan ”Earth Dragon”. Hingga nama nya diresmikan pada abad ke 19 yaitu “The Great Wall Of China”.

    Author  : Maulidiyah

  • Biografi Bung Tomo, Pembakar Semangat Pejuang Surabaya

    Biografi Bung Tomo, Pembakar Semangat Pejuang Surabaya

    Biografi Bung Tomo

    Bung Tomo adalah pahlawan yang berasal dari kota Surabaya. Jasanya teramat besar terhadap upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia ketika melawan penjajah yang ingin merebut kedaulatan serta kekuasaan di Surabaya.

    Beliau adalah seorang yang pemberani, hingga akhirnya menjadi orator yang membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk melawan penjajah yang dikenal sebagai pertempuran 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

    Biodata Bung Tomo

    Nama Lengkap : Sutomo
    Tempat Lahir : Surabaya, Jawa Timur
    Tanggal Lahir : 03 Oktober 1920
    Kebangsaan : Indonesia
    Dikenal : Sebagai Pahlawan Indonesia

    Kehidupan Bung Tomo

    Bung Tomo lahir pada tanggal 3 Oktober 1920 di Surabaya, Jawa Timur dengan nama Sutomo. Namun, rakyat lebih mengenalnya dengan julukan Bung Tomo.

    Bung Tomo adalah anak dari Kartawan Tjiptowidjojo, seorang pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda.

    Sejak kecil, Bung Tomo terkenal sebagai anak yang penuh semangat. Pada saat usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO.

    Kemudian Bung tomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

    Di usia muda Bung Tomo cukup aktif dalam organisasi kepanduan atau KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda.

    Bung Tomo juga memiliki minat pada dunia jurnalisme. Beliau pernah bekerja sebagai wartawan lepas pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya pada tahun 1937.

    Setahun kemudian, ia menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat serta menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres, di Surabaya pada tahun 1939.

    Pada masa pendudukan Jepang, Bung Tomo bekerja di kantor berita tentara pendudukan Jepang, Domei, bagian Bahasa Indonesia untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya pada tahun 1942-1945.

    Saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan, beliau memberitakannya dalam bahasa Jawa bersama wartawan senior Romo Bintarti untuk menghindari sensor Jepang.

    Selanjutnya, beliau menjadi Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya.

    Setelah Kemerdekaan

    Pada tahun 1950, Bung Tomo sempat terjun dalam dunia politik. Namun hanya sesaat, hingga akhirnya ia menghilang dari panggung politik karena berbagai alasan.

    Pada awal tahun 1970, ia kembali dan mempunyai pandangan pendapat yang berbeda dengan pemerintahan Orde Baru.

    Ia berbicara dengan keras terhadap program-program yang dijalankan oleh Suharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras tersebut. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto.

    Akhir Hidup Bung Tomo

    Bung Tomo meninggal dunia pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, saat sedang menunaikan ibadah haji.

    Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci yang harus dimakamkan di tanah suci.

    Tapi jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

  • Peninggalan Kerajaan Kediri (Candi, Prasasti, Kitab)

    Peninggalan Kerajaan Kediri (Candi, Prasasti, Kitab)

    Kerajaan Kediri atau yang sering disebut sebagai Kerajaan Panjalu ini berdiri pada tahun 1042 dan runtuh pada tahun 1222 di kota Daha, yang sekarang bernama Kediri, Jawa Timur.

    Dalam sejarahnya, Kerajaan Kediri memiliki banyak peninggalan-peninggalan yang patut dilestarikan. Adapun peninggalan tersebut mulai dari kitab, prasasti, sampai candi.

    Salah satu kitab peninggalan Kerajaan Kediri yang terkenal adalah kitab Kresnayana. Kemudian, prasasti peninggalan Kediri yang cukup tersohor adalah prasasti jaring. Sedangkan candi peninggalan Kerajaan Kediri yang dikenal sampai saat ini adalah Candi Penataran.

    Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

    Untuk lebih jelas, berikut adalah beberapa peninggalan Kerajaan Kediri:

    1. Candi Penataran

    Candi Penataran berada di lereng Gunung Kelud bagian Barat Daya, tepatnya di utara Kota Blitar. Banyak yang mengatakan ika Candi Penataran adalah candi termegah di Jawa Timur. Menurut sejarah, Candi Penataran dibangun saat masa kepemerintahan Raja Srengga hingga kepemerintahan Raja Wikramawardhana atau sekitar abad ke 12 hingga 14 Masehi.

    2. Candi Mirigambar

    Candi Mirigambar adalah candi peninggalan Kerajaan Kediri yang ditemukan di lapangan desa Mirigambar, Kec. Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur. Candi Mirigambar diperkirakan sudah ada sejak tahun 1214 Saka. Strukturnya terbuat dari batu bata merah, seperti halnya kebanyakan candi-candi yang ada di Jawa Timur.

    3. Candi Tondowongso

    Candi Tondowongso ditemukan di Desa Gayam, Kec. Gurah, Kediri-Jawa Timur pada tahun 2007. Jika dilihat dari gaya dan bentuk arca yang ditemukan di sekitar candi, dipercaya bahwa candi ini dibangun pada abad ke 9.

    3. Candi Gurah

    Candi Gurah ditemukan di Kec. Gurah, Kediri Jawa Timur. Candi ini ditemukan pada tahun 1957 dengan ukuran 9 meter x 9 meter.

    4. Candi Tuban

    Candi Tuban adalah salah satu peninggalah Kerajaan Kediri yang terkenal. Namun sayang, kini telah luluh lantah dan hanya tersisa pondasinya saja. Candi ini berjarak sekitar 500 meter saja Candi Mirigambar.

    Prasasti Peninggalan Kerajaan Kediri

    1. Prasasti Jaring

    Prasasti Jaring adalah prasasti yang berada di Lodaya, tepatnya di Jaring, Kembangarum, Sutojayan, Blitar, Jawa Timur. Pertama kali ditemukan oleh Thomas Raffles. Ukurannya mencapai 166 cm x 86 cm x 67 cm. Menurut keterangannya, prasasti Jaring dibuat pada tanggal 19 November 1181 yang berisi seputar keinginan dan harapan para penduduk sekitar.

    2. Prasasti Kamulan

    Prasasti Kamulan adalah prasasti yang menceritakan kisah berdirinya Kabupaten Trenggalek pada tanggal 31 Agustus 1194 tepatnya pada hari Rabu Kliwon. Diperkirakan prasasti ini sudah ada sejak tahun 1194 Masehi pada masa pemerintahan Raja Ketajaya. Prasasti ini ditemukan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur tepatnya di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan.

    3. Prasasti Galunggung

    Prasasti Galunggung adalah prasasti peninggalan Kerajaan Kediri yang aksaranya terdapat ukiran aksara Jawa Kuno. Prasasti yang memiliki ukuran 160 cm X 80 cm X 75 cm ini ditemukan di Rejotangan, Tulung Agung, Jawa Timur.

    4. Prasasti Talan

    Prasati Talan diperkirakan sudah ada sejak tahun 1058 Saka atau 1136 Masehi. Prasati ini ditemukan di sekitar Desa Gurit, Blitar, Jawa Timur. Konon, Prasasti Talan bercerita mengenai masuknya Desa Talan ke wilayah Panumbang.

    5. Prasasti Panumbangan

    Prasasti Panumbangan adalah sebuah prasasti yang diperkirakan dibuat pada 2 Agustus 1120, yakni pada masa pemerintahan Maharaja Bameswara. Prasasti Panumbangan sendiri berisi informasi tentang penetapan Desa Panumbangan sebagai desa yang bebas pajak kala itu.

    6. Prasasti Ngantang

    Prasasti Ngantang adalah prasasti yang berada di Malang, Jawa Timur. Namun saat ini sudah ditempatkan di Museum Nasional. Diperkirakan prasasti ini dibuat pada tahun 1135 Masehi atau 1057 Saka.

    7. Prasasti Kertosono

    Prasasti Kertosono merupakan prasasti seputar keagamaan. Diperikirakan prasasti ini berisi seputar keagamaan pada masa pemerintahan Raja Kamesywara, yang berkuasa pada tahun 1180 sampai 1190.

    8. Prasasti Padelegan

    Prasasti Padelegan merupakan prasasti yang berbentuk stella dengan puncak kurawal 145 cm, lebar atas dan bawah 81 cm dan 70 cm, dan memiliki tebal 18 cm. Prasasti ini menggunakan bahasa Jawa Kuno. Dijelaskan jika prasasti ini dibuat pada 11 Januari 1117 Masehi atau 1038 Saka.

    9. Prasasti Ceker

    Prasasti Ceker adalah prasasti yang sengaja dibuat guna memberikan penghargaan pada masyarakat Desa Ceker yang mengabdi pada Kediri.

    10. Prasasti Sirah Keting

    Prasasti Sirah Keting dibuat untuk mengenang para warga Desa Sirah Keting yang pengabdiannya sangat tinggi pada Kerajaan Kediri. Kala itu, yang memimpin adalah Raja Jayawarsa.

    Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri

    1. Kitab Kakawin Bharatayudha

    Kitab Kakawin Bharatayudha adalah kitab yang dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh. Isinya sendiri menceritakan kisah perjuangan raja Jenggala, Jayabaya yang berhasil menaklukkan Panjalu. Kisah tersebut dianalogikan dengan kisah peperangan antara Kurawa dan Pandawa dalam kisah Mahabrata.

    2. Kitab Kresnayana

    Kitab Kresnayana dikarang oleh Empu Triguna isinya seputar biografi serta sejarah Krisna, seorang anak yang mempunyai kekuatan luar biasa dan sering menolong orang lain dengan ikhlas. Pada kala itu, cerita Krisna sangat digandrungi oleh rakyat.

    3. Kitab Gatotkacasraya

    Kitab Gatotkacasraya dikarang oleh Empu Panuluh pada zaman Rajabaya. Kitab ini berisi tentang Gatotkaca yang waktu itu dianggap sebagai pahlawan karena bisa menyatukan kembali putra Arjuna, yakni Abimayu dengan Siti Sundhari.

    4. Kitab Smaradhana

    Kitab smaradhana dikarang oleh Empu Dharmaja. Kitab ini menceritakan kisah Dewa Kama dan Dewi Ratih, sepasang suami istri yang hilang secara misterius. Hilangnya mereka berdua dikarenakan terkena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa.

    5. Kitab Hariwangsa

    Kitab Hariwangsa berisi tentang silsilah atau garis keturunan Wisnu atau sang Hari. Kitab Hariwangsa ini dibuat oleh Empu Panuluh pada masa Prabu Jayabaya, sekitar tahun 1135 – 1157 Masehi oleh.

    6. Kitab Sumarasantaka

    Kitab Sumarasantaka dikarang oleh Empu Monaguna. Kitab ini bercerita tentang kutukan Harini, seorang bidadari yang dikutuk menjadi manusia karena kesalahannya. Namun, kutukan itu tidak selamanya, Harini hanya butuh waktu agar kutukan tersebut bisa hilang dengan sendirinya.

    Demikian artikel tentang Sejarah Peninggalan Kerajaan Kediri lengkap yang bisa dijadikan sebagai referensi dan pengetahuan.