Tag: sekolah

  • Menyongsong Era Society 5.0, SD Negeri 2 Pakistaji Inisiasi Program Sabernet (Sehari Bersama Internet)

    Menyongsong Era Society 5.0, SD Negeri 2 Pakistaji Inisiasi Program Sabernet (Sehari Bersama Internet)

    Perkembangan teknologi yang semakin masif telah menyentuh hampir seluruh lini kehidupan. Semua sektor dituntut untuk beradaptasi, tak terkecuali dunia pendidikan yang merupakan fondasi utama dalam membentuk masa depan bangsa.

    Di era Internet of Things (IoT) ini, internet bukan hanya alat bantu untuk mempermudah berbagai urusan, melainkan telah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari.

    Berangkat dari tantangan dalam proses pembelajaran yang mengharuskan guru dan murid memanfaatkan perangkat serta platform digital, Rohmaniyah, S.Pd., guru kelas VI saat itu, menginisiasi sebuah inovasi pembelajaran dengan mengintegrasikan internet ke dalam kegiatan belajar-mengajar.

    Inovasi tersebut diberi nama Sabernet (Sehari Bersama Internet). Tujuannya sederhana namun berdampak luas, yaitu menghadirkan pembelajaran yang relevan dan adaptif melalui pemanfaatan internet secara produktif.

    Melalui prosedur yang relatif mudah, setiap kelas diarahkan untuk menyisipkan elemen digital dalam pembelajaran sesuai dengan materi yang sedang dipelajari.

    Beragam platform digital dimanfaatkan, mulai dari YouTube, Google Classroom, Quizizz, Canva, Edmodo, Skuling, hingga Platform Merdeka Mengajar (PMM).

    Guru dan murid bersama-sama mempelajari berbagai platform tersebut, sehingga tidak hanya memperkaya proses pembelajaran, namun juga meningkatkan literasi digital warga sekolah secara menyeluruh.

    Pada awal pelaksanaan Sabernet di tahun 2022, kegiatan masih memanfaatkan gawai pribadi milik siswa dan beberapa laptop milik guru.

    Namun sejak SD Negeri 2 Pakistaji mendapatkan bantuan laboratorium komputer lengkap dengan Chromebook dan LCD pada tahun 2024, kegiatan ini terpusat di laboratorium tersebut, sehingga lebih terstruktur dan optimal.

    Dampak positif dari inovasi ini cukup signifikan. Terjadi perubahan pola penggunaan internet oleh warga sekolah, dari yang sebelumnya kurang produktif menjadi lebih bermakna dan mendukung proses pembelajaran.

    Internet bukan lagi sekadar hiburan, tetapi menjadi alat bantu yang memperkaya pengalaman belajar.

    Inovasi Sabernet juga telah mencatatkan sejumlah prestasi membanggakan, antara lain:

    • Masuk nominasi Innovation Government Awards (IGA) 2023,
    • Meraih Terbaik I Sayembara Pendidikan Kabupaten Banyuwangi oleh BBGP Jawa Timur dalam kategori Pemimpin Pembelajaran,
    • Tercantum dalam Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 51 Tahun 2023 tentang Inovasi Daerah.

    Tak hanya di lingkup sekolah, inovasi ini juga telah disosialisasikan ke beberapa sekolah di Kecamatan Kabat.

    Terbaru, Sabernet diikutsertakan dalam Pameran Solusi Pendidikan (PSP) pada ajang Temu Pendidik Nusantara XII yang digelar di SD Negeri Model Kabupaten Banyuwangi pada 8 Juli 2025.

    Rohmaniyah S.Pd bersama dengan Andi Budi Setiawan, S.Pd saat memperkenalkan inovasi Sabernet
    Rohmaniyah S.Pd bersama dengan Andi Budi Setiawan, S.Pd saat memperkenalkan inovasi Sabernet (Dok. sastrawacana.id/)

    Dalam salah satu dokumentasi kegiatan, terlihat Rohmaniyah sedang memperkenalkan inovasi Sabernet kepada Andi Budi Setiawan, S.Pd., redaktur media sastrawacana.id/, sekaligus Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI).

    Rohmaniyah berharap inovasi ini dapat disebarluaskan kepada komunitas literasi dan pendidikan lainnya agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak pihak.

    Pesan inspiratif darinya yang patut direnungkan dan menjadi motivasi bersama adalah:

    “Kebanyakan dari kita selalu berpikir tentang grand design dan ide-ide besar saat berbicara tentang inovasi. Padahal sejatinya, inovasi bisa lahir dari hal-hal kecil di sekitar kita yang dekat dan kita temui setiap hari. Sebab, yang paling penting dari sebuah inovasi adalah nilai kebermanfaatannya. Semakin mudah sebuah inovasi diterapkan, semakin besar pula peluang manfaatnya untuk dirasakan oleh banyak orang.”

  • Apa yang Dimaksud dengan School Well-Being dalam Konteks Pendidikan?

    Apa yang Dimaksud dengan School Well-Being dalam Konteks Pendidikan?

    School well-being dalam konteks pendidikan adalah sebuah konsep yang menggambarkan kesejahteraan menyeluruh di lingkungan sekolah secara holistik.

    Adapun cakupannya dari banyak aspek, seperti aspek fisik, mental, emosional, sosial, dan akademik dari semua warga sekolah, termasuk siswa, guru, tenaga kependidikan, dan pihak terkait lainnya.

    Konsep ini bukan hanya tentang kenyamanan fisik atau fasilitas yang tersedia, tetapi juga tentang bagaimana sekolah menjadi tempat yang aman, inklusif, mendukung perkembangan potensi, serta menjamin kesehatan mental dan hubungan sosial yang positif.

    1. Kesejahteraan Siswa sebagai Fokus Utama

    Dalam konteks school well-being, kesejahteraan siswa menjadi prioritas utama. Hal ini mencakup:

    • Rasa aman di sekolah, baik secara fisik (tidak ada kekerasan atau bullying) maupun emosional (tidak ada tekanan atau diskriminasi).
    • Hubungan sosial yang sehat, seperti persahabatan yang mendukung, interaksi positif dengan guru, serta kerja sama antar siswa.
    • Dukungan emosional dan psikologis, misalnya layanan konseling dan pembimbingan yang membantu siswa menghadapi stres, kecemasan, atau konflik.
    • Kepuasan belajar, yaitu siswa merasa pembelajaran relevan, menyenangkan, dan mendorong rasa percaya diri.

    2. Kesejahteraan Guru dan Staf Sekolah

    School well-being juga mencakup kondisi kerja dan kesejahteraan para guru dan tenaga kependidikan, meliputi:

    • Beban kerja yang seimbang,
    • Iklim kerja yang suportif,
    • Hubungan antar rekan kerja yang sehat,
    • Ketersediaan pelatihan dan pengembangan profesional,
    • Serta dukungan dari pimpinan sekolah.

    Guru yang sejahtera akan lebih mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan membangun relasi positif dengan siswanya.

    3. Lingkungan Fisik dan Budaya Sekolah

    Lingkungan sekolah juga berperan besar dalam school well-being.

    Sekolah yang bersih, aman, memiliki fasilitas pendukung (seperti taman, kantin sehat, toilet bersih), serta memperhatikan aspek keberlanjutan dan keindahan akan menciptakan rasa nyaman dan bangga bagi warga sekolah.

    Tak kalah penting adalah budaya sekolah, yaitu nilai-nilai, aturan, dan kebiasaan yang ditanamkan setiap hari, seperti saling menghormati, tanggung jawab, kerja sama, dan inklusivitas.

    4. School Well-Being dan Prestasi Akademik

    Banyak penelitian menunjukkan bahwa siswa yang merasa aman dan bahagia di sekolah cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik.

    Kesejahteraan tidak hanya mendukung kesehatan mental, tetapi juga meningkatkan motivasi, fokus belajar, dan keinginan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah.

    Kesimpulan:

    School well-being adalah pendekatan menyeluruh untuk menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan semua warga sekolah secara holistik.

    Konsep ini menggabungkan keamanan, kenyamanan, hubungan yang sehat, kepuasan belajar, dan dukungan emosional, baik untuk siswa maupun guru. Ketika sekolah berhasil menerapkan prinsip school well-being, maka akan terbentuk komunitas belajar yang sehat, bahagia, dan berkinerja tinggi.

  • Mengapa semua pihak harus berkolaborasi dalam menciptakan iklim sekolah yang menyenangkan?

    Mengapa semua pihak harus berkolaborasi dalam menciptakan iklim sekolah yang menyenangkan?

    Mengapa semua pihak harus berkolaborasi dalam menciptakan iklim sekolah yang menyenangkan?

    Jawaban:

    Menciptakan iklim sekolah yang menyenangkan merupakan tanggung jawab bersama.

    Tidak hanya guru, tetapi kepala sekolah, siswa, tenaga kependidikan, orang tua, hingga masyarakat sekitar perlu terlibat secara aktif.

    Kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar sekolah menjadi tempat yang tidak hanya mendidik secara akademik, tetapi juga membangun karakter, emosi, dan sosial peserta didik secara menyeluruh.

    Berikut adalah tiga alasan utama mengapa kolaborasi sangat penting:

    1. Iklim Sekolah yang Menyenangkan Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

    Ketika suasana di sekolah kondusif, nyaman, dan positif, siswa akan lebih mudah fokus, percaya diri, dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.

    Rasa aman secara fisik dan emosional membuat mereka lebih terbuka untuk bertanya, berdiskusi, dan berekspresi.

    Namun, suasana seperti ini tidak bisa dibentuk hanya oleh guru di dalam kelas.

    Kepala sekolah harus menciptakan kebijakan yang mendukung iklim positif, tenaga kependidikan menjaga interaksi yang ramah, dan orang tua memberikan dukungan dari rumah.

    Tanpa sinergi tersebut, pembelajaran tidak akan berlangsung optimal.

    2. Kolaborasi Memperkuat Budaya Sekolah yang Positif dan Konsisten

    Nilai-nilai seperti toleransi, kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab tidak bisa dibangun secara instan.

    Diperlukan pembiasaan yang berkesinambungan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

    Ketika guru mengajarkan sopan santun, lalu didukung oleh keteladanan dari kepala sekolah, serta diperkuat oleh pembinaan dari orang tua di rumah, maka nilai-nilai tersebut akan lebih mudah melekat dalam diri siswa.

    Kolaborasi ini memastikan pesan-pesan pendidikan disampaikan secara konsisten di berbagai lingkungan siswa.

    3. Sekolah Menjadi Ruang Tumbuh yang Inklusif dan Empatik

    Kolaborasi antar semua pihak memungkinkan terbentuknya lingkungan sekolah yang inklusif, yaitu sekolah yang menerima keberagaman latar belakang, kebutuhan, dan karakter siswa.

    Dengan komunikasi yang terbuka antar guru, siswa, orang tua, dan pihak sekolah, berbagai tantangan seperti konflik, kesenjangan belajar, atau masalah sosial dapat ditangani lebih cepat dan bijaksana.

    Sekolah pun menjadi tempat yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga empatik dan manusiawi, di mana setiap siswa merasa dihargai dan didukung.

    Dengan demikian, kolaborasi semua pihak bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

    Karena hanya melalui kerja sama yang kuat dan terarah, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, aman, dan bermakna bagi seluruh warga sekolah.

  • Hidupkan Literasi, Gubernur Sulbar Wajibkan Siswa Baca 20 Buku Sebagai Syarat Lulus

    Hidupkan Literasi, Gubernur Sulbar Wajibkan Siswa Baca 20 Buku Sebagai Syarat Lulus

    Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) membuat kebijakan menarik demi menumbuhkan budaya baca di kalangan pelajar, khususnya siswa setingkat SMA/SMK.

    Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, mengeluarkan surat edaran yang mewajibkan setiap siswa untuk membaca minimal 20 judul buku sebagai syarat kelulusan.

    Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Nomor 000.4.14.1/174//11/2025 yang diteken pada 5 Juli 2025 dan disampaikan ke seluruh Bupati, Kepala Dinas Pendidikan, serta instansi terkait di Sulawesi Barat.

    Menurut Gubernur Suhardi Duka, budaya membaca adalah pondasi penting dalam membangun kecerdasan bangsa.

    “Gerakan ini menjadi salah satu upaya nyata Pemprov Sulbar dalam membangun generasi literat sebagai fondasi pembangunan daerah menuju Sulawesi Barat maju dan sejahtera,” ujar Suhardi.

    Langkah ini juga sesuai dengan Undang‑Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

    Dengan mewajibkan siswa membaca 20 buku, diharapkan literasi mereka meningkat signifikan yang pada gilirannya mendukung perkembangan Sulawesi Barat yang lebih maju.

    “Pentingnya pengembangan budaya membaca sebagai bagian dari pembangunan kecerdasan bangsa, sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan,” kata Suhardi.

    Dari 20 judul yang wajib dibaca, dua di antaranya harus membahas tokoh lokal, yaitu Andi Depu, pahlawan wanita asal Sulbar dan Baharuddin Lopa, mantan Jaksa Agung RI.

    Tujuannya bukan hanya mendorong minat baca, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap sejarah dan budaya daerah.

    Tidak hanya soal membaca, kebijakan ini juga mendorong kehadiran pojok baca atau perpustakaan mini di setiap sekolah dan kantor pemerintahan.

    Gubernur memerintahkan agar perpustakaan di sekolah diperbaiki dan dikelola dengan baik. Siswa diminta mengunjungi perpustakaan setidaknya satu kali seminggu.

    Tak ketinggalan, dana BOS dialokasikan untuk mendukung sarana dan buku perpustakaan sesuai Permendikbudristek No. 63 Tahun 2023.

    Tak hanya jenjang SMP dan SMK, Sekolah dasar (SD), madrasah, hingga instansi pemerintahan juga diimbau menerapkan program serupa.

    Dengan membangun budaya baca dari usia dini, pemprov berharap Sulbar mampu mengurangi kesenjangan informasi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di semua jenjang.

    Program ini adalah contoh konkret bahwa literasi adalah kunci membangun bangsa cerdas yang dimulai dari sekolah dan terus menjalar ke seluruh lapisan masyarakat.

  • Program Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Anies Baswedan Dukung Pemerataan Pendidikan untuk Keluarga Prasejahtera

    Program Sekolah Rakyat Resmi Dimulai, Anies Baswedan Dukung Pemerataan Pendidikan untuk Keluarga Prasejahtera

    Pelaksanaan Program Sekolah Rakyat telah resmi dimulai serentak di berbagai wilayah Indonesia pada Senin, 14 Juli 2025.

    Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan menyampaikan dukungannya terhadap program yang ditujukan bagi keluarga kurang mampu agar pelaksanaannya berjalan sesuai rencana dan merata di seluruh daerah..

    “Mudah-mudahan bisa terlaksana dengan baik, seperti dengan rencana dan apa yang menjadi tujuan bisa terlaksana sampai tuntas. Semua rencana baik, kita harapkan bisa terlaksana dengan baik,” ujar Anies saat ditemui media usai menjadi pembicara dalam Global Summer Week (GSW) 2025 di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada hari yang sama.

    Ketika ditanya soal aspek penting dalam pelaksanaan program tersebut, Anies menyampaikan keyakinannya bahwa pemerintah telah mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan agar Sekolah Rakyat bisa berhasil.

    “Saya rasa pemerintah sudah tahu apa yang harus dikerjakan. Kita berharap semua selesai dengan baik,” tegas mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

    Tak hanya menyoroti Sekolah Rakyat, Anies juga menggarisbawahi pentingnya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Menurutnya, kebijakan ini harus dijalankan secara menyeluruh di seluruh tingkat pendidikan, termasuk di sekolah swasta dan lembaga pendidikan berbasis agama seperti pesantren.

    “Kita berharap ini semua sekolah, SD, SMP, SMA, Madrasah Ibtidaiyah, Sanawiyah, Aliyah, ibu hamil, semua di seluruh wilayah terlaksana. Jadi, program itu betul-betul dirasakan oleh rakyat,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa keberhasilan program bukan sekadar terletak pada ide atau rencana, tetapi pada pelaksanaan yang konsisten hingga benar-benar selesai.

    “Kalau ada program yang disiapkan untuk rakyat, maka komentar saya adalah program yang baik untuk rakyat ya dijalankan sampai tuntas untuk semua,” pungkas Anies.

    Sementara itu, di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sekolah Rakyat secara resmi telah dibuka dan diikuti oleh 275 siswa yang berasal dari seluruh kabupaten dan kota di wilayah tersebut.

    Sekolah ini disediakan khusus untuk anak-anak dari keluarga yang masuk kategori sangat miskin, sesuai data dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Nasional (DTKSN).

  • Pemerintah Luncurkan Sekolah Rakyat, Pendidikan Gratis untuk Anak Kurang Mampu Tanpa Tes Akademik

    Pemerintah Luncurkan Sekolah Rakyat, Pendidikan Gratis untuk Anak Kurang Mampu Tanpa Tes Akademik

    Pemerintah meresmikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk Sekolah Rakyat secara serentak di 63 lokasi.

    Program ini bukan sekadar pembukaan sekolah baru, melainkan bagian dari strategi nasional Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas akses pendidikan kepada anak-anak keluarga sangat rentan secara ekonomi.

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa Sekolah Rakyat adalah program negara yang diharapkan dapat menjamin pendidikan bermutu bagi keluarga tidak mampu.

    “Sekolah rakyat adalah strategi besar Pak Presiden Prabowo untuk memutus mata rantai kemiskinan. Sekolah rakyat hadir untuk memberhentikan siklus kemiskinan antar generasi, memperluas pendidikan, menjamin pendidikan yang bermutu untuk keluarga miskin dan miskin ekstrem dan tidak boleh ada yang tertinggal dalam pendidikan,” kata Gus Ipul di lokasi, Senin (14/7).

    Ia juga menambahkan jika proses perekrutan siswa Sekolah Rakyat tidak menggunakan tes akademik.

    Seleksi dilakukan sepenuhnya berdasarkan data ekonomi untuk memastikan bahwa program ini tepat sasaran menyasar anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.

    “Yang pertama ini tidak ada tes akademik, yang ada adalah pendekatan yang sudah dilakukan sejak awal. Mereka-mereka yang tidak beruntung,” kata Saifullah Yusuf dalam keterangan resminya, Senin (14/7).

    Menurut Gus Ipul, langkah ini diambil agar anak-anak dari latar belakang prasejahtera mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan bermutu.

    Ia menekankan bahwa Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi atas ketimpangan sosial yang selama ini menyebabkan banyak anak dari keluarga miskin tertinggal dari sistem pendidikan formal.

    Kurikulum yang diterapkan di Sekolah Rakyat, lanjut Gus Ipul, tetap mengacu pada standar nasional untuk tingkat SLTP.

    Namun demikian, terdapat tambahan materi khusus berupa pendidikan karakter. Uniknya, seluruh materi pendidikan karakter disampaikan oleh guru-guru yang berasal dari Kementerian Agama.

    “(Kurikulumnya) sama dengan standar kurikulum formal. Tapi ada tambahan untuk pendidikan karakter. Untuk pendidikan karakter semua gurunya dari Kementerian Agama. Jadi kita tidak merekrut guru untuk pendidikan karakter. Sepenuhnya dari Kementerian Agama untuk seluruh siswa, baik siswa agama Islam maupun juga agama-agama yang lain,” ujar Gus Ipul.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, melainkan juga pembangunan karakter dan nilai-nilai toleransi lintas agama sebagai bagian dari pendidikan yang holistik.

    Program Sekolah Rakyat merupakan bagian dari strategi besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memutus rantai kemiskinan struktural di Indonesia.

    Selain memberikan pendidikan gratis dan berasrama, program ini juga mencakup pemenuhan kebutuhan dasar siswa selama masa belajar.

  • Sambut Siswa Baru, SMKPRO Tanamkan Sekolah Ramah dan Berkarakter

    Sambut Siswa Baru, SMKPRO Tanamkan Sekolah Ramah dan Berkarakter

    Rogojampi, Senin 14 Juli 2025 – Langit mendung dan rintik hujan pagi itu tidak mampu meredupkan semangat dari 447 peserta didik baru SMK PGRI Rogojampi yang memadati lapangan sekolah.

    Mereka mengikuti dengan khidmat Upacara Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2025–2026 dengan tema “MPLS Ramah”.

    Senyum-senyum muda yang penuh harap menyambut hari pertama mereka sebagai keluarga besar SMKPRO.

    Tahun ini, SMK PGRI Rogojampi menerima peserta didik dari enam jurusan unggulan:

    1. Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL),
    2. Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB),
    3. Pemasaran,
    4. Desain Komunikasi Visual (DKV),
    5. Kuliner, serta
    6. Perhotelan.

    Meningkatnya jumlah peserta didik baru menunjukkan kepercayaan masyarakat yang semakin kuat terhadap kualitas pendidikan dan karakter yang dibangun oleh SMK PGRI Rogojampi.

    Upacara yang dipimpin oleh Ketua YPLP Dasmen PGRI Jawa Timur Badan Pelaksana Harian Kabupaten Banyuwangi, Supriyadi, S.Pd., M.Pd., menjadi momentum penting bagi sekolah. Dalam amanatnya, ia menekankan bahaya laten judi online yang mulai menyasar usia pelajar.

    Deklarasi Anti Judi Online SMK PGRI Rogojampi
    Deklarasi Anti Judi Online SMK PGRI Rogojampi (Dok. sastrawacana.id/)

    "Judi online bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga membunuh masa depan. Sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya nilai dan integritas, tempat belajar yang nyaman untuk meraih masa depan cemerlang. Satu kata, Lawan Judi Online!" tegas Supriyadi dalam pidatonya yang disambut tepuk tangan peserta upacara, meski tubuh mereka sedikit basah terkena gerimis pagi.

    Rangkaian kegiatan upacara berlangsung khidmat. Petugas upacara dari OSIS Bhakti Taruna SMKPRO menunjukkan kedisiplinan dan ketangguhan, mencerminkan nilai-nilai kepemimpinan yang terus dibina.

    Puncak seremoni ditandai dengan pengalungan ID card kepada perwakilan peserta didik baru oleh Kepala SMK PGRI Rogojampi, H. Danang Bagiono, S.Si., sebagai simbol resmi dimulainya MPLS yang ramah dan mendidik.

    Tidak hanya perkenalan lingkungan sekolah, tahun ini MPLS juga menjadi ajang komitmen bersama dalam membina karakter.

    Upacara MPLS SMK PGRI Rogojampi 2025

    Dalam prosesi khusus, digelar Deklarasi Anti Judi Online yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah, Waka Kesiswaan Ahmad Misadi, S.Pd., SP, dan Kepala Desa Gitik Hamzah, diikuti oleh perwakilan peserta didik dari tiap jurusan dan disaksikan oleh seluruh peserta upacara.

    Kehadiran para guru yang berdiri di depan peserta didik baru, sabar mengikuti kegiatan upacara dengan baju sedikit basah karena hujan, hal ini menjadi gambaran nyata betapa proses pendidikan adalah kerja bersama, yang dimulai dengan kasih, kesabaran, dan keteladanan.

    Kegiatan upacara diakhiri dengan doa bersama, memohon kelancaran seluruh rangkaian MPLS yang akan berlangsung selama beberapa hari ke depan.

    Bagi para peserta didik baru, inilah babak pertama perjalanan mereka membentuk masa depan yang tidak hanya cakap secara akademik dan vokasi, tetapi juga berkarakter kuat menghadapi tantangan zaman.

    Di tengah derasnya arus digital dan kemudahan akses teknologi, sekolah bukan hanya benteng ilmu, tetapi juga pagar moral. MPLS bukan sekadar seremonial, melainkan pijakan awal dalam membentuk generasi yang sadar akan nilai.

    Mari kita, sebagai orang tua, pendidik, dan masyarakat, bergandengan tangan mendampingi anak-anak kita agar tumbuh menjadi pribadi yang unggul, mandiri, dan bermartabat.

  • Literasi Jadi Sorotan di Classion 2025: SMKPRO Buktikan Komitmen sebagai Sekolah Literasi Nasional

    Literasi Jadi Sorotan di Classion 2025: SMKPRO Buktikan Komitmen sebagai Sekolah Literasi Nasional

    SMK PGRI Rogojampi menggelar kegiatan classmeeting bertajuk “Classion – Classmeeting & Fusion” dengan mengusung tema “Kolaborasi dan Kompetisi antar Kelas yang Seru & Harmonis” pada Selasa, 17 Juni 2025.

    Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengisi waktu setelah pelaksanaan Penilaian Sumatif Akhir Semester (PSAS) Genap selesai.

    Classmeeting tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena menghadirkan kolaborasi antara unsur atletik, seni, dan literasi.

    Peserta didik dari kelas X dan XI berpartisipasi dengan mengirimkan perwakilan dari tiap kelas untuk mengikuti berbagai lomba yang telah dijadwalkan.

    Kegiatan Classion berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 17 hingga 19 Juni 2025, bertempat di kampus SMK PGRI Rogojampi.

    Lomba atletik dan seni dilangsungkan di lapangan sekolah, sementara lomba literasi dipusatkan di aula.

    Salah satu panitia dari OSIS menyampaikan, “Classmeeting tahun ini berbeda dari sebelumnya. Adanya lomba literasi, khususnya cipta dan baca puisi, memberikan kesan tersendiri bagi peserta.”

    Apel pembukaan yang digelar pada pukul 07.00 WIB dipimpin oleh Waka Kesiswaan, Ahmad Misadi, S.P., S.Pd., sebagai pembina sembari memberikan motivasi kepada para peserta.

    Dalam amanatnya ia menyampaikan agar para siswa menjadikan kegiatan classmeeting ini untuk wadah belajar dan berkompetisi secara positif.

    “Jadikan kegiatan classmeeting ini bukan hanya momen untuk kesenangan, tapi juga sebagai wadah belajar dan berkompetisi, melatih sportivitas serta rasa tanggung jawab.”

    Tahun ini, SMK PGRI Rogojampi juga berpartisipasi dalam Program Sekolah Literasi Nasional 2025 yang diadakan oleh Nyalenesaia.

    Hal ini selaras dengan penyelenggaraan lomba literasi cipta dan baca puisi yang memberikan ruang serta peluang bagi peserta didik pecinta literasi untuk semakin bersemangat berkarya.

    Adapun jenis lomba yang digelar dalam Classion 2025 meliputi:

    • Lomba cipta & baca puisi
    • Balap karung
    • Estafet borung
    • Senam
    • Mendongeng
    • Octopus race
    • Estafet sedotan
    • Tari

    Lomba cipta dan baca puisi dilaksanakan dalam dua sesi terpisah. Pada sesi pertama, yaitu lomba cipta puisi, setiap peserta diwajibkan melakukan registrasi sebelum memasuki ruang lomba yang telah ditentukan.

    Dalam ruangan tersebut, peserta hanya diperkenankan membawa bolpoin, sedangkan kertas disediakan langsung oleh panitia.

    Aturan ini diterapkan untuk memastikan bahwa setiap puisi yang ditulis merupakan hasil karya orisinal peserta, tanpa bantuan teknologi apa pun, termasuk kecerdasan buatan (AI), dan sesuai dengan tema yang telah ditentukan.

    Peserta diberikan waktu 40 menit untuk menyelesaikan puisinya. Hasil karya kemudian dikumpulkan untuk dinilai oleh dewan juri.

    Tidak hanya menulis, peserta juga diwajibkan membacakan puisinya dalam sesi kedua lomba baca puisi.

    Penilaian dilakukan berdasarkan dua aspek: kualitas cipta puisi dan performa baca puisi dengan kriteria yang telah ditetapkan.

    Antusiasme peserta sangat tinggi, terlihat dari banyaknya pendaftar dalam lomba cipta dan baca puisi.

    Fakta ini membuktikan bahwa tingkat literasi di SMK PGRI Rogojampi mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya dan menjadi nilai tambah yang berpengaruh dalam akreditasi sekolah.

    Sesi kedua lomba baca puisi berlangsung meriah dan penuh ketegangan.

    Para peserta tampak antusias, meski tak sedikit yang menunjukkan raut gugup hingga pucat saat naik ke panggung untuk membacakan karya mereka secara langsung.

    Penilaian dilakukan berdasarkan tiga aspek utama: vokal, ekspresi, dan totalitas penampilan.

    Salah satu juri, Andi Budi Setiawan, menyampaikan, “Kami ucapkan selamat kepada para peserta yang telah sampai tahap ini. Kalian semua adalah pemenang karena sudah dipercaya sebagai perwakilan kelas. Berikan penampilan terbaik sesuai kriteria yang sudah ditentukan. Selamat berkompetisi!”

    Para peserta benar-benar memberikan performa maksimal.

    Dewan juri pun menghadapi tantangan berat dalam menentukan juara 1, 2, dan 3 karena banyak peserta yang tampil luar biasa dengan vokal yang kuat, ekspresi penuh makna, dan totalitas dalam pembacaan puisi.

    Secara keseluruhan, semua peserta memberikan pertunjukan yang memukau bagi para penonton.

    Lomba baca puisi menjadi penutup kegiatan Classion hari pertama dengan kesan yang mendalam. Pada hari kedua, agenda dilanjutkan dengan lomba mendongeng menggunakan Bahasa Using (bahasa asli masyarakat Banyuwangi).

    Sedangkan hari ketiga akan diisi dengan lomba tari dan puncaknya adalah penyerahan penghargaan (award) kepada para pemenang.

    Kegiatan Classion ini bukan hanya sekadar ajang kompetisi sehat, melainkan juga sebagai ruang kolaborasi dan ekspresi kreativitas siswa di berbagai bidang. Semangat ini selaras dengan jargon SMKPRO:

    “SMK Bisa! SMK Hebat! SMK PGRI Rogojampi Bisa! Hebat! Siapa Kita? SMKPRO!”

  • Tasyakuran SMK PGRI Rogojampi 2025: Menyulam Kenangan, Menyongsong Masa Depan Penuh Prestasi

    Tasyakuran SMK PGRI Rogojampi 2025: Menyulam Kenangan, Menyongsong Masa Depan Penuh Prestasi

    Di bawah langit pagi yang cerah, halaman SMK PGRI Rogojampi berubah menjadi panggung haru dan kebanggaan.

    Hari ini, SMKPRO menggelar Tasyakuran Siswa Kelas XII Tahun Pelajaran 2024–2025 dengan tema “Bersama Berkarya dan Menginspirasi Menyongsong Masa Depan Penuh Prestasi.”

    Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tasyakuran tahun ini digelar secara sederhana namun sarat makna.

    Dibuka dengan alunan musik tradisional dari ekstrakurikuler Panjak SMKPRO, suasana khidmat langsung menyelimuti hadirin. Lagu Indonesia Raya, Hymne SMK PGRI Rogojampi, dan Hymne Guru pun menggema, menegaskan semangat nasionalisme dan penghormatan kepada para pendidik.

    Hiburan pembuka hadir lewat Tari Wanci Kahuripan, dibawakan oleh tiga siswa yang tampil gemilang sebagai Gandrung.

    Suasana semakin semarak dengan penampilan Falda Avrinda yang menyanyikan dua lagu dengan suara merdunya, menggetarkan hati para hadirin.

    Rangkaian sambutan dimulai oleh Ketua OSIS yang menyampaikan harapan agar kakak-kakak kelas XII terus menjunjung tinggi nama baik almamater tercinta.

    Sambutan berikutnya dari perwakilan kelas XII, Siti Nurhalizah, menggugah perasaan:

    “Terima kasih kepada bapak ibu guru dan karyawan atas dedikasi, kesabaran, dan keikhlasan membimbing kami selama tiga tahun ini. Kami takkan melupakan masa-masa indah yang telah kita lewati bersama.”

    Kepala SMK PGRI Rogojampi, H. Danang Bagiono, S.Si, turut memberikan doa dan pesan.

    “Selamat kepada calon wisudawan. Jadikan ilmu dan pengalaman di SMKPRO sebagai bekal untuk menapaki masa depan. Doa terbaik kami selalu menyertai kalian.”

    Kata-kata penuh makna juga datang dari Ketua PGRI Kabupaten Banyuwangi yang mengutip Kahlil Gibran.

    “Cinta tak pernah tahu kedalamannya hingga datang perpisahan.”

    “Ketika kita jauh, kita baru sadar siapa yang benar-benar kita sayangi.” lanjutnya, sebagai ungkapan yang terasa pas menggambarkan suasana tasyakuran.

    Salah satu momen paling menyentuh adalah prosesi basuh kaki orang tua. Siswa-siswi berprestasi dari setiap jurusan dipanggil ke panggung bersama orang tua mereka.

    Dalam hening, mereka bersimpuh, membasuh kaki orang tua sambil mengucap maaf dan terima kasih. Isak tangis haru pun tak terhindarkan.

    Sebuah momen sakral yang menyatukan cinta, perjuangan, dan restu dalam satu prosesi sederhana namun bermakna.

    Acara berlanjut dengan pemotongan tumpeng oleh kepala sekolah, dilanjutkan pengalungan gordon dan pemberian BTS (Buku Tahunan Sekolah).

    Di sela acara, kuis berhadiah dari panitia membuat suasana kembali hangat dan ceria, dengan antusiasme tinggi dari para calon wisudawan.

    Tasyakuran ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Ketua PGRI Kabupaten Banyuwangi, Ketua BPH Dasmen, Ketua PC PGRI Rogojampi, Forkopimka, Komite Sekolah, Kepala Desa Gitik, hingga perwakilan siswa SMP/MTs se-wilayah kecamatan Rogojampi.

    Menjelang penutupan, paduan suara SMKPRO melantunkan lagu Umbul-umbul Belambangan diikuti Tari Jaran Goyang sebagai penampilan pamungkas.

    Lagu Laskar Pelangi yang dibawakan oleh Nandira menjadi penutup manis, menyemangati para siswa untuk terus bermimpi dan menginspirasi.

    Tasyakuran ini bukan sekadar seremoni pelepasan, tetapi perayaan atas perjuangan, cinta, dan harapan. Kerja keras seluruh panitia dan OSIS Bhakti Taruna SMKPRO telah menghasilkan acara yang membekas di hati.

    SMK BISA… SMK HEBAT!

    SMKPRO… BISA… HEBAT!

    SIAPA KITA? SMKPRO!

  • KB dan TK Muslimat Al Abror Lolos Seleksi 100 Besar Kompetisi Inovasi Pendidikan Banyuwangi

    KB dan TK Muslimat Al Abror Lolos Seleksi 100 Besar Kompetisi Inovasi Pendidikan Banyuwangi

    Menyambut Hari Pendidikan Nasional 2025, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi menggelar Kompetisi Inovasi Satuan Lembaga Pendidikan. Ajang ini diikuti oleh Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Banyuwangi.

    Dari seribu lembaga yang berpartisipasi, sebanyak 100 lembaga berhasil lolos seleksi, termasuk KB dan TK Muslimat Al Abror.

    Menariknya, yayasan ini berhasil meloloskan dua unit sekaligus dalam ajang bergengsi ini.

    Berdiri sejak 2014 di Desa Adat Keboan Aliyan, KB dan TK Muslimat Al Abror sempat menghadapi tantangan besar saat pandemi, hingga nyaris tutup ketika memasuki usia sembilan tahun.

    Namun, semangat kebangkitan kembali membawa lembaga ini bertahan dan kini meraih pencapaian membanggakan.

    Kelompok Bermain Muslimat Al Abror memiliki jumlah peserta didik yang masih terbatas, begitu juga dengan TK-nya yang menempati lahan terbatas hanya beberapa meter persegi.

    Dengan tiga kelas, lima guru, dan dua tenaga kependidikan, lembaga ini terus berjuang meningkatkan kualitas pendidikan.

    “Alhamdulillah, saya bermimpi bisa masuk tiga besar. Jika suatu saat ada yang ingin berbagi pengalaman atau melakukan studi tiru ke lembaga yang masih merintis dengan jumlah peserta didik sedikit, saya ingin menyampaikan: ‘Ojo cilik ati.’ Layani anak negeri dengan hati penuh cinta kasih, sebagaimana Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya,” ujar Kepala KB Al Abror, Mutiara Sani, S.M. Setiap sore, ia juga mengajar mengaji di TPQ Tholibin Ilmi, Cermean, Singolatren, Singojuruh.

    Sambil memangku salah satu muridnya, Faradila Zhakaylah, yang bercita-cita menjadi polwan, Bu Tiara menjelaskan inovasi yang diusungnya, yaitu ACBK (Amati, Contoh, Biasakan, dan Kolaborasi).

    Strategi ini dirancang untuk membantu anak-anak membentuk karakter positif melalui contoh yang baik serta sinergi dengan seluruh warga belajar dan pemangku kepentingan.

    “Baru setahun mengajar langsung masuk 19 besar? Tentu saya terkejut dan bahagia. Pengalaman mengajar ngaji dan aktif di berbagai kegiatan saat sekolah dan kuliah sangat berpengaruh. Namun, yang paling besar daya picunya adalah sosok yang menggembleng kami dengan segala keterbatasan tetapi tetap penuh syukur, sabar, ikhlas, kasih sayang, dan disiplin, yaitu Bu Ida!” ungkapnya.

    Sosok Bu Ida atau Faridatul Hasanah, S.Pd, merupakan Kepala TK Muslimat Al Abror Aliyan yang inovasinya “Sentuhan Alamku” juga berhasil melaju ke seleksi 30 besar per jenjang.

    Ia juga merupakan kepala sekolah dengan dedikasi tinggi versi YPM, peraih prestasi inovasi PAUD HI tingkat nasional saat mengabdi di lembaga sebelumnya.

    Selain itu, ia adalah seorang Asesor Jatim dan mentor narasumber nasional yang telah berbagi ilmu hingga ke Kangean dan Kalimantan.

    “Saya ikut membidani kelahiran TK ini sekitar satu dasawarsa. Saat situasi mengharuskan saya berpindah lembaga, banyak pihak menawarkan tempat mengabdi baru. Namun, hati saya terpanggil kembali ke Al Abror, meskipun saat itu muridnya sedikit dan belum memiliki prestasi. Bersama tujuh guru dan tenaga kependidikan yang baru, kami harus berpikir keras, cerdas, dan ikhlas. Kini, kepercayaan masyarakat mulai tumbuh, bahkan sebelum tahun ajaran baru dibuka, sudah ada yang menitipkan anak dan cucunya. Alhamdulillah, melalui proses luar biasa ini, Allah menjawab perjuangan kami dengan membawa lembaga ini masuk sebagai salah satu lembaga inovatif dalam rangka menyongsong Hardiknas 2025. Dengan penuh syukur dan rendah hati, kami optimis melangkah lebih jauh untuk memberikan yang terbaik bagi pendidikan di Banyuwangi,” ujarnya.