Tag: seni

  • Pengertian Sinematografi Secara Umum dan Menurut Para Ahli

    Pengertian Sinematografi Secara Umum dan Menurut Para Ahli

    Beberapa tahun belakangan ini, dunia multimedia sedang naik daun. Hal tersebut dibuktikan dengan sistem akademis yang menempatkan sinematografi dalam kurikulum utamanya.

    Banyak yang menggandrungi bidang ini. Tidak hanya pelajar saja, tapi masyarakat luas juga cukup aktif dalam mencipta karya dalam sinematografi.

    Apalagi pertumbuhan teknologi digital semakin masif, pengguna internet semakin drastis peningkatannya.

    Bahkan, banyak yang menyebutkan jika 70 persen masyarakat Indonesia saat ini sudah online, alias menggunakan internet.

    Maka dari itu tak heran jika begitu banyak bermunculan creator-creator video dalam bidang sinematografi yang mencoba untuk berkarya dalam platform sosial seperti Youtube dan Instagram.

    Tapi apa arti sebenarnya dari sinematografi? Walaupun banyak yang bergelut di dalamnya, namun tak sedikit yang masih samar alias tidak mengetahui definisi sesungguhnya.

    Nah, supaya lebih jelas, berikut adalah pengertian sinematografi secara umum dan menurut para ahli.

    Pengertian Sinematografi Secara Umum

    Sinematografi berasal dari bahasa Inggris, yaitu Cinematography yang diadopsi dari bahasa latin “kinema” yang berarti “gambar”.

    Jadi, secara bahasa bisa dijelaskan bahwa Sinematografi adalah ilmu yang mempelajari dan membahas tentang teknik menangkap gambar.

    Kemudian, gambar-gambar yang berhasil ditangkap tersebut akan digabungkan menjadi sebuah rentenan gambar yang memiliki jalan cerita sesuai ide dari creator.

    Secara konsep objeknya, sinematografi mirip dengan fotografi, yang menangkap pantulan cahaya pada sebuah objek.

    Perbadaannya adalah jika fotografi hanya menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap gambar ganda untuk digabungkan menjadi beberapa gambar yang memiliki jalan cerita.

    Lantas, apa hubungannya sinematografi dengan film?

    Tidak sedikit yang beranggapan jika sinematografi hanya mengambil gambar, bukan video. Penting untuk diketahui, secara harfiah atau konsep keilmuan, video adalah melukis gerak dengan cahaya, atau lebih mudah disebut sebagai gambar yang bergerak.

    Jadi, sebenarnya sama-sama gambar, hanya saja perbedaannya jika pada film, gambar yang ditangkap adalah gambar hidup yang bergerak.

    Namun, semakin ke sini perkembangan sinematografi semakin pesat. Dibuktikan dengan munculnya berbagai macam alat sinema modern yang bisa mendukung dalam penggarapan film sehingga bisa menciptakan karya yang luar biasa.

    Pengertian Sinematografi Menurut Para Ahli

    Berikut ini beberapa definisi sinematografi menurut para ahli.

    1. Sutrisno, (1993: 1)

    Film merupakan rangkaian gambar yang diproyeksikan dengan kecepatan 24 bingkai perdetik sehingga gambar tampak hidup. Setiap gambar dari rangkaian tersebut dengan mudah dapat kita kenal dengan mata telanjang.

    2. Azhar Arsyad, (2003: 48)

    Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinyu.

    Kemampuan film melukiskan gambar hidup dan suara memberinya daya tarik tersendiri. Media ini pada umumnya digunakan untuk tujuan-tujuan hiburan, dokumentasi, dan pendidikan.

    Ia dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan ketrampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu dan mempengaruhi sikap.

    3. Aep Kusnawan, (Et,al: 98-99)

    Sedangkan yang dimaksud dengan film dalam penelitian ini adalah yang diproduksi secara khusus untuk dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop. Film jenis ini juga disebut dengan film teatrikal (threatical film).

    4.  Sumarno, (1994: 4)

    Film adalah gambar hidup dari seonggok seluloid dan dipertontonkan melalui proyektor. Dimana sekarang produksi film tidak hanya menggunakan pita seluloid (proses kimia), tetapi memanfaatkan teknologi video (proses elektronik) namun keduanya tetap sama yaitu gambar hidup.

    5. KBBI, (2002: 316)

    Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), film berarti (1) selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan dibuat potret) / untuk tempat gambar positif (yang akan dimainkan dalam bioskop) (2) lakon (cerita) gambar hidup.

    Nah, itulah pengertian sinematografi secara umum maupun menurut para ahli. Sekarang sudah tahu, kan? Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • 5 Manfaat Mengikuti Ekskul Teater di Sekolah

    5 Manfaat Mengikuti Ekskul Teater di Sekolah

    Saat masih di bangku sekolah, tentu kamu tidak asing lagi dengan ekstra kulikuler atau yang biasa disebut dengab ekskul, bukan?

    Ya, semua sekolah pasti memiliki program ektra kulikuler yang dijadikan sebagai program tambahan setelah mata pelajaran usai.

    Ada berbagai macam ekstra kulikuler yang disediakan oleh sekolah, diantaranya seperti pramuka, musik, basket, voli, sepak bola, pecinta alam, teater dan masih banyak lainnya.

    Tentu saja, sejumlah ekskul tersebut tidak harus kamu ikuti semuanya, melainkan hanya memilih salah satu yang paling kamu minati dan sesuai dengan kemampuanmu.

    Menelisik lebih dalam, ternyata ada salah satu ekskul yang paling banyak diminati, ialah teater. Kamu pasti tahu apa itu teater, bukan?

    Teater bisa menjadi ajang untuk menunjukkan kebolehanmu dalam berakting atau memainkan peran orang lain.

    Menjadi pemain teater sangatlah seru dan menyenangkan. Selain itu, ternyata ada beberapa manfaat yang bisa kamu peroleh saat menjadi pemain teater.

    Manfaat Ekskul Teater di Sekolah

    Apa saja manfaat tersebut? Berikut penjelasannya.

    1. Menjadi Lebih Terkenal

    Saat ada acara penting di sekolah, biasanya pertunjukan teater sangat diperlukan sebagai hiburan. Selain itu, pertunjukan teater juga kerap diadu dalam lomba antar sekolah, bahkan antar kota atau kabupaten. Tak heran, jika pemain teater sangat populer di Sekolah.

    2. Menjadi Lebih Percaya Diri

    Jika kamu termasuk orang yang kurang percaya diri dan pemalu, ada baiknya kamu mendaftar di ekskul teater. Kenapa? Karena di ekskul teater ini kamu akan dilatih untuk lebih percaya diri tampil di depan umum.

    Mulanya, kamu akan dilatih berdialog dengan dirimu sendiri di depan cermin. Kemudian, mulai berlatih monolog di depan teman-temanmu. Seiring berjalannya waktu, kamu akan menjadi lebih percaya diri dan tidak akan merasa malu lagi saat harus tampil di depan banyak orang.

    3. Menjadi Lebih Mudah Menghafal

    Dalam sebuah pertunjukan akting atau memainkan peran di dalam sebuah cerita, tentunya kamu harus menghafalkan dialog terlebih dahulu. Kebiasaan menghafal dialog tersebut bisa bermanfaat dalam cara belajarmu di kelas.

    Sebab, saat pelajaran berlangsung, kamu dituntut untuk menghafalkan materi pelajaran yang sedang dipelajari. Dengan demikian, kamu dapat menghafalnya dengan mudah karena sudah terlatih menghafal dialog.

    4. Punya Banyak Teman

    Di dalam teater, pasti memiliki anggota yang cukup banyak yang berasal dari kelas yang berbeda. Ini adalah sebuah kesempatan untuk mendapatkan teman yang lebih banyak.

    Dengan mengikuti ekskul teater, kamu tidak hanya memiliki teman di kelas saja, melainkan juga bisa mendapatkan teman baru yang berasal dari kelas yang berbada.

    Bahkan, tidak menutup kemungkinan kamu juga bisa mendapatkan teman baru yang berasal dari sekolah lain saat sedang mengadakan ajang lomba pertunjukan teater.

    5. Kegiatan Positif

    Saat sekolah usai, kamu pasti langsung pulang ke rumah atau nongkrong tidak jelas dengan teman-teman. Kegiatan tersebut hanya membuang waktumu dengan percuma.

    Jika kamu mengikuti ekskul, khususnya teater maka kamu akan mendapatkan dampak positif di dalamnya. Selain itu, orang tuamu akan merasa bangga.

    Nah, itulah beberapa manfaat mengikuti ekskul teater di sekolah. Menarik, bukan?

    Author  : Eva
    Editor   : Maulana Affandi

  • 8 Langkah Membuat Lagu yang Indah dan Enak Didengar

    8 Langkah Membuat Lagu yang Indah dan Enak Didengar

    Buat kamu yang punya hobi bermusik, pasti sempat terbesit keinginan untuk membuat lagu sendiri, kan? Selain terlihat keren, menciptakan lagu adalah sebuah kebanggaan serta prestasi karena sudah berkarya.

    Namun membuat lagu tidaklah semudah yang dibayangkan, juga tidak sesulit yang diperkirakan. Jika kamu mengerti tahapan serta langkah-langkah membuat lagu yang baik dan benar, maka bukan mustahil jika kamu memiliki karya yang indah dan enak di dengar.

    Cara Membuat Lagu

    Lantas, apa saja cara atau langkah membuat lagu? Simak informasinya berikut ini.

    1. Menentukan Tema Lagu

    Hal pertama yang harus dilakukan sebelum membuat lagu adalah menentukan tema. Sebab, dengan tema itu nanti kamu bisa membuat konsep akan seperti apa lagu yang kamu ciptakan nantinya.

    Penting juga, tentukan tema yang kamu kuasai atau yang sedang kamu rasakan saat ini. Misalnya kamu sedang jatuh cinta, maka tema yang diangkat sebaiknya tentang percintaan.

    2. Membuat Kerangka Atau Konsep

    Setelah menentukan tema, kamu harus menentukan kerangka atau konsep dari lagu tersebut. Sebab, lagu ibarat tubuh yang diisi dengan kepala, badan, tangan, dan kaki.

    Setiap anggotanya harus saling bersinergi agar menjadi sebuah karya yang luar biasa. Jadi tentukan konsep atau kerangka agar tidak melebar ke tema lain.

    3. Menentukan Judul

    Dan yang penting dalam membuat lagu adalah kamu harus menentukan judul lagu. Usahakan judul yang dipilih memiliki makna yang dalam dan pelafalan yang khas agar mudah diingat serta menjadi pembeda dengan lagu lain.

    Tidak ada aturan khusus dalam membuat judul lagu, tapi alangkah baiknya jika judul tidak terlalu panjang.

    4. Menulis Lirik dengan Memerhatikan Diksi

    Selanjutnya, tahapan penting dalam menulis lagu adalah menulis lirik. Usahakan untuk menulis lirik dengan diksi yang tepat.

    Sebab, nantinya kata-kata yang tertuang dalam lagu bisa menambah rasa pada lagu tersebut sehingga pendengar menjadi lebih terbawa ke dalam lagu yang kamu ciptakan.

    5. Menentukan Notasi Atau Nada

    Ketika lirik sudah selesai ditulis, maka kamu akan tahu arah dari lagu tersebut. Ketika lagu yang ditulis adalah tipe lagu bahagia, maka kamu bisa menggunakan notasi yang ceria, misalnya nada mayor.

    Begitu pula sebaliknya, ketika lirik yang ditulis penuh dengan kesedihan cinta, maka nada yang harus diambil adalah nada-nada galau, misalnya minor.

    6. Menentukan Tempo

    Langkah membuat lagu yang satu ini hampir sama dengan menentukan notasi atau nada. Kamu harus menentukan tempo yang sesuai dari makna lagu.

    Ketika lagunya adalah lagu ceria dan bahagia, maka lebih nikmat didengar menggunakan tempo sedikit cepat. Sedangkan saat liriknya sangat sedih, maka yang cocok adalah dengan tempo pelan.

    7. Memastikan Penggunaan Alat Musik

    Dan yang tak kalah penting juga dalam proses pembuatan lagu adalah memastikan nantinya lagu tersebut akan diiringi alat musik apa saja.

    Sebab, harmonisasi dalam sebuah lagu bisa dipengaruhi oleh alat musik yang digunakan. Misalnya kamu bisa menambah embel-embel harmonika atau biola di tengah-tengah lagu sebagai pemanis.

    8. Revisi Sampai Final

    Terakhir, kamu harus terus melakukan revisi terhadap lagu yang kamu ciptakan. Jangan sampai mudah merasa puas.

    Sebab karya yang luar biasa lahir dari beberapa kesalahan yang harus diperbaiki. Kamu harus meminta saran dari teman ataupun orang yang berpengalaman untuk menyempurnakan lagumu.

    Nah, itulah 8 langkah atau cara membuat lagu sendiri yang indah dan enak didengar yang bisa kamu coba. Selamat berkarya!

  • Cara Membuat Lagu Romantis untuk Kekasih Tercinta

    Cara Membuat Lagu Romantis untuk Kekasih Tercinta

    Cara Membuat Lagu Romantis

    Musik merupakan salah satu cabang seni yang memiliki begitu banyak penggemar di dunia ini, termasuk Indonesia. Maka tak heran jika pelaku dari seni musik selalu melejit namanya dan mendapatkan banyak penggemar karena karya-karyanya.

    Selain bisa membuat tenar, banyak juga musisi yang berubah nasibnya karena karya yang diciptakan bisa diterima oleh masyarakat luas.

    Bukan main hebatnya seni musik ini, bahkan kita sendiri seakan tak bisa hidup tanpa musik. Misalnya, saat sedang jenuh ataupun stres, biasanya kita membutuhkan musik sebagai rileksasi diri, bukan?

    Musik memang sangat cocok untuk berbagai hal dan berbagai momen. Contoh lain, semisal kita sedang kencan, maka musik bisa membuat suasana menjadi semakin hangat dan romantis.

    Maka dari itu, banyak yang mengatakan kalau musik benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya, tak heran kalau begitu banyak orang yang ingin menjadi musisi dan menciptakan karya dengan menulis lagu.

    Namun, mencipta karya dalam musik tidaklah mudah. Ada beberapa hal harus kita pahami terlebih dahulu. Selain itu, menulis lagu juga memiliki beberapa tahapan atau alur agar hasilnya menjadi lebih maksimal.

    Pertama, yang perlu diperhatikan dalam menulis lagu adalah menentukan tema. Sebab, tema merupakan inti atau ide cerita dari apa yang akan kita tulis nanti. Biasanya, pemilihan tema ini haruslah dengan apa yang sedang dirasakan agar feel-nya benar-benar dapat dan kita pun bisa menghayati.

    Selanjutnya, adalah pemilihan kata atau diksinya. Sebagai penulis yang baik, alangkah baiknya kita menggunakan kata-kata yang indah dan mengandung makna yang dalam.

    Jika tema yang diangkat adalah percintaan, kita bisa menggunakan kata-kata kiasan yang indah dengan berbagai macam perumpamaan, misalnya ‘kau bagai bayangan, di kala matahari tepat berada di atasku’.

    Kalimat tersebut mengandung makna, bahwa ‘Selagi cinta masih ada, aku tidak akan pernah bisa lepas darimu dan kita akan terus bersama apapun yang terjadi’. Sebab, bagaimanapun juga bayangan tidak akan pernah pisah dengan orangnya selagi ada cahaya.

    Cahaya bisa diibaratkan sebagai cinta. Maka jika cahaya itu redup, berarti cintanya juga telah hilang sehingga hubungan harus berakhir.

    Tahap selanjutnya, kita juga harus menentukan struktur kalimat dalam menulis lagu. Usahakan dalam bait pertama, menggunakan konotasi-konotasi atau sampiran layaknya pantun atau puisi.

    Setelahnya, pada bagian reff barulah kita memberikan kata-kata terbaik atau klimaksnya. Sebenarnya tidak ada teori khusus dalam menulis lagu, apalagi untuk urusan pemilihan kata.

    Namun, sekali lagi diingatkan, bahwa semakin indah kata-kata yang ditulis, maka akan membuat lagu tersebut seakan hidup dan memiliki jiwa.

  • Sejarah Musik Eropa Mulai Zaman Renaisance

    Sejarah Musik Eropa Mulai Zaman Renaisance

    Sejarah Musik Eropa

    Sejarah musik Eropa sudah berlangsung sejak abad pertengahan yang ditandai dengan berakhirnya kerajaan Romawi pada tahun 476 M sampai zaman reformasi Kristen yang dipimpin oleh Marthen Luther pada tahun 1572 M.

    Sejarah perkembangan musik Eropa banyak mengalami perubahan.

    Salah satunya mengubah fungsi musik dari yang hanya digunakan sebagai pengiring ritual keagamaan, kemudian menjadi lebih luas ke semua urusan yang menyangkut duniawi, contohnya sebagai sarana hiburan.

    Guido D’Arezzo pada tahun 1050M, salah satu orang yang berpengaruh pada sejarah ini melakukan perbaikan dasar teori musik maupun lirik.

    Dari pola pikirnya itulah, musik semakin berkembang. Salah satu hasil perbaikan yang dia berhasil ciptakan ialah musik gregorian. Musik ini kemudian disempurnakan oleh Paul Gregorius.

    Zaman Renaisance

    Pada zaman Renaisance (1500 M – 1600 M) terjadi sebuah perkembangan yang cukup signifikan.

    Musik Eropa yang berkembang di zaman ini memiliki ciri khusus dalam penciptaannya.

    Namun, pada zaman Renaisance perkembangan musik gereja justru mengalami kemunduran.

    Pada zaman ini juga dikenal beberapa alat musik, seperti organ dan piano sehingga terciptalah sebuah musik bergaya instrumental.

    Zaman Barok dan Rokoko

    Sejarah perkembangan musik Eropa juga dibuktikan dengan adanya aliran musik baru seperti aliran Rokoko dan Barok. Kedua aliran musik ini memiliki ciri yang nyaris sama, yaitu terdapat pemakaian hiasan musik yang bergaya ornamentik.

    Johan Sebastian Bach

    Dalam sejarah musik Eropa, ada seorang komponis terkenal yang bernama Johan Sebastian Bach. Komponis ini lahir pada tanggal 21 Maret 1685 dari Eisenach Jerman dan wafat di Lipzig Jerman pada tanggal 28 Juli 1750.

    Dia melakukan banyak perbaikan dalam seni musik, salah satu karyanya yang populer adalah misa dalam b minor, 13 konser piano dalam bentuk orkes, 6 konserto Brandenburg dan karya bernama St. Mathew Passion.

    Hasil karya dari komponis ini sering digunakan sebagai pedoman dasar kemunculan musik-musik modern.

    George Fredrick Haendel

    Pada zaman Renaisance, ada seorang musisi bernama George Fredrick Haendel muncul sebagai inisiator.

    Bakat musik yang dimilikinya membuatnya terkenal dan menciptakan sebuah karya berupa water musik, fire work musik dan messiah atau jenis musik bernama Oratorio.

    Frans Joseph Haydn

    Pada tahun 1732M sampai 1809M, seorang musisi terkenal bernama Frans Joseph Haydn berhasil menciptakan banyak karya terkenal seperti 87 kuartet, 24 opera, 100 simfoni, sonata piano maupun surprisse sympony.

    Sampai-sampai Joseph Haydn memiliki julukan sebagai Bapak Simpony karena telah menciptakan karya kuartet dan orkes yang ada sampai sekarang.

    Wolfgang Amandeus Mozart

    Pada tahun 1756M sampai 1791M, seorang komponis bernama Wolfgang Amandeus Mozart berhasil menciptakan karya berupa 40 Simfony, Kuintet, Opera Don Geovani, Requiem Mars, Konserto piano dan Biola Alto. Wolfgang Amandeus Mozart memiliki julukan Anak Ajaib.

    Zaman Romantik

    Pada tahun 1802M sampai 1900M merupakan era musik bergaya romantik yang mengandalkan perasaan subjektif penciptanya.

    Musik dalam zaman ini tidak terlalu mementingkan keindahan nada saja, namun juga sebagai curahan rasa.

    Oleh karenanya pembuatan musik romantik sering menggunakan tempo dan dinamika yang bervarian.

    Zaman Modern

    Sejarah perkembangan musik Eropa yang terakhir terjadi pada zaman modern. Jaman modern berkembang dari tahun 1900 sampai sekarang.

    Musik yang berkembang di zaman modern banyak dipengaruhi kemajuan teknologi sehingga aliran musiknya semakin berwarna dan banyak perubahannya.

    Sekian pembahasan tentang Sejarah Musik Eropa kali ini. Semoga bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di sastrawacana.id/

  • Festival Ogoh-Ogoh: Bentuk Kekompakan Umat Hindu di Bali

    Festival Ogoh-Ogoh: Bentuk Kekompakan Umat Hindu di Bali

    Setiap Agama memiliki hari rayanya masing-masing, begitu pula dengan Agama Hindu. Pada ajaran Agama Hindu, hari raya terbesarnya adalah Hari Raya Nyepi yang dilangsungkan setiap tahun baru menurut kalender Saka.

    Dipercayai oleh umat Hindu, bahwasanya Nyepi merupakan hari penyucian. Yang mana, setiap umat Hindu memohon kepada Tuhan YME untuk menyucikan alam semesta beserta isinya.

    Ada yang menarik saat umat Hindu memperingati Hari Raya Nyepi di Pulau Seribu Pura, Bali, yaitu festival ogoh-ogoh.

    Perlu diketahui terlebih dahulu, ogoh-ogoh merupakan sebuah seni patung dalam kebudayaan dan tradisi Bali. Bentuk dan ide cerita ogoh-ogoh umumnya berpegang pada cerita pewayangan. Namun, seiring perkembangan dunia seni, konsep dari ogoh-ogoh pun semakin bervarian pula.

    Tidak hanya menjadikan cerita pewayangan sebagai konsep, kini ogoh-ogoh yang diciptakan juga turut mengambil konsep lain, salah satunya adalah politik.

    Penampilan festival ogoh-ogoh di Bali dilakukan pada malam sebelum Hari Raya Nyepi yang biasa disebut Ngrupuk.

    Dihimpun dari berbagai sumber, bahwasanya aktivitas Ngrupuk ini bertujuan untuk mengusir Buta Kala dan energi negative di daerah setempat.

    Saat Buta Kala dan energi negative tersebut telah diusir, maka keesokan harinya umat Hindu di Seluruh Pulau Dewata akan tenang dan khitmad dalam menjalankan ibadah pada Hari Raya Nyepi.

    Pada kehidupan bermasyarakat di Bali, dikenal adanya “Banjar”. Banjar sendiri memiliki arti sebuah kesatuan masyarakat yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.

    Banjar diakui oleh hukum dan sangat dihormati dalam kehidupan bermasyarakat rakyat Bali. Banjar memiliki struktur organisasi yang kompleks, anggotanya pun terdiri dari pemuda serta orang tua.

    Dalam proses penciptaan karya yang sudah turun-menurun ini, seluruh masyarakat sekitar atau Banjar sangat kompak dan saling berkolaborasi guna menyelesaikannya.

    Lebih indahnya lagi, setiap Banjar memiliki karya masing-masing. Bahkan, beberapa Banjar menciptakan karya ogoh-ogoh lebih dari satu.

    Tidak ada sifat bersaing, justru setiap Banjar menunjukkan sifat dewasanya yaitu kekompakan dan toleransi bermasyarakat.

    Mmereka saling berbagi dan saling memberi saran guna menciptakan sebuah karya yang indah dan sedap untuk dinikmati oleh setiap penghuni Pulau Bali.

    Festival ogoh-ogoh merupakan salah satu dari sekian banyaknya budaya yang ada di Bali yang dapat menarik minat turis lokal maupun international.

    Bagaimana tidak, saat Ngrupuk sudah dimulai, terlihat ribuan ogoh-ogoh dengan bentuk yang berbeda di arak keliling oleh pemuda-pemudi Bali. Hal tersebut tentunya memanjakan mata setiap yang melihatnya.

    Inilah suatu bentuk kekompakan Umat Hindu di Bali yang patut dijadikan contoh oleh setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat. Saling membantu, saling berbagi, dan saling memotivasi.

    Author : Maulana Affandi

  • Apresiasi Drama Menurut Para Ahli

    Apresiasi Drama Menurut Para Ahli

    Pengertian Drama

    Apresiasi Drama – Secara bahasa, Drama berasal dari bahasa Yunani, yaitu Draomai yang berarti ‘berbuat’ atau ‘beraksi’ dan ‘bertindak’. Dan Drame yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah.

    Dalam arti luas, drama bisa dikatakan sebagai bentuk seni yang menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan perilaku, tindakan, serta emosi melalui akting dan dialog berdasarkan naskah.

    Budianta, dkk (2002:95) berpendapat bahwa drama merupakan sebuah genre sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara verbal adanya dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada.

    Pendapat ini hampir sama dengan pendapat bahwa drama merupakan karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan tikaian dan emosi lewat lakuan dan dialog (Sudjiman, 1990 dalam Siswanto, 2008:163).

    Jenis-Jenis Drama

    Drama dapat dibedakan beberapa jenis berdasarkan bentuk dan isi ceritanya, yaitu sebagai berikut:

    • Opera: drama yang dialognya dinyanyikan dengan diiringi musik.
    • Tragedi: drama yang penuh dengan kesedihan
    • Komedi: drama penggeli hati yang penuh dengan kelucuan.
    • Tragekomedi: perpaduan antara drama tragedi dan komedi.
    • Farce: drama yang menyerupai dagelan, tetapi tidak sepenuhnya dagelan.
    • Tablo: jenis drama yang mengutamakan gerak, para pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakan-gerakan.
    • Melodrama: drama yang dialognya diucapkan dengan diiringi melodi/musik.
    • Sendratari: gabungan antara seni drama dan seni tari.

    Unsur Intrinsik Drama

    1. Tema

    Inti atau ide pokok yang mendasari jalan cerita dalam naskah drama. Contoh: Drama berjudul “Opera Kecoa”, maka temanya adalah tentang Sosial atau Politik.

    2. Dialog / Teks

    Dialog adalah percakapan dalam drama yang merupakan unsur penting. Sebab, dengan adanya dialog atau percakapan, maka drama dapat dilakoni secara verbal. Dialog dalam drama dibagi menjadi 3, yaitu:

    • Prolog, yaitu kata-kata pendahuluan atau pembuka dalam drama.
    • Epilog, yaitu kata-kata penutup atau kata-kata akhir dalam drama.
    • Monolog, yaitu percakapan yang dilakukan sendiri.

    3. Watak atau Penokohan

    Yaitu sifat-sifat dan karakteristik yang dimiliki oleh para pemeran drama. Watak/penokohan dibagi menjadi 3, yaitu:

    • Protagonis, tokoh utama yang biasanya berperilaku baik.
    • Antagonis, penentang tokoh utama yang biasanya bersifat jahat.
    • Tritagonis, tokoh yang perannya hanya sebagai pembantu atau sampingan.

    4. Plot/Alur

    Sebuah urutan atau jalan cerita. Struktur alur cerita dalam drama adalah sebagai berikut:

    • Tahap perkenalan, yaitu perkenalan tokoh, menjelaskan tentang peristiwa yang akan terjadi.
    • Tahap konflik awal, yaitu mulai munculnya konflik atau masalah yang terjadi antara para tokoh.
    • Tahap komplikasi, yaitu konflik yang dimunculkan menjadi lebih serius.
    • Tahap klimaks, yaitu konflik yang datang mencapai titik kulminasi atau mencapai puncak tegangnya.
    • Tahap antiklimaks, yaitu konflik yang tegang tadi mulai menurun dan mereda.
    • Tahap penyelesaian, yaitu tahap terakhir yang menandakan konflik telah selesai.

    Unsur Ekstrinsik Drama

    Adapun unsur ekstrinsik dari drama adalah sebagai berikut:

    • Pimpinan produksi yang bertanggung jawab atas kelangsungan pentas drama
    • Sutradara
    • Tim Kreatif
    • Make up
    • Tata Busana / Kostum
    • Sound system
    • Konsumsi
    • Organisasi pendukung lainnya dalam pementasan suatu drama

    Jenis-Jenis Apresiasi Drama

    1. Apresiasi langsung

    Berhadapan atau interaksi secara langsung dengan karya sastra drama baik dalam bentuk teks tertulis maupun dalam bentuk pementasan.

    2. Apresiasi drama tidak langsung

    Ketika belajar teori drama, sejarah drama, kritik drama. Baik dalam sekolah, kuliah maupun belajar sendiri melalui buku maupun surat kabar dan majalah sastra.

    Tingkatan Apresiasi Drama

    Disick (dalam Herman J. Waluyo, 2002: 45) menyebutkan bahwa apresiasi berhubungan dengan sikap dan nilai. Beliau juga menyebutkan adanya empat tingkatan apresiasi, yaitu sebagai berikut:

    1. Tingkat menggemari

    Seseorang yang baru sampai pada tingkat menggemari, keterlibatan batinnya belum kuat. Dia baru terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan drama. Jika ada drama dia akan senang membaca. Jika ada acara pembacaan drama, secara langsung atau berupa siaran tunda di televisi, ia akan menyediakan waktu untuk menontonnya.

    2. Tingkat menikmati

    Keterlibatan batin pembaca terhadap drama sudah semakin mendalam. Pemirsa akan ikut sedih, terharu, bahagia, dan sebagainya ketika melihat drama mampu menikmati keindahan yang ada dalam drama itu secara kritis.

    3. Tingkat mereaksi

    Sikap kritis terhadap drama lebih menonjol karena ia telah mampu menafsirkan dan mampu menilai baik-buruknya sebuah drama. Penafsiran drama mampu menyatakan pemahaman drama dan menunjukkan di mana letak pemahaman tersebut. Demikian juga, jika seseorang dalam mengapresiasi dapat menyatakan kekurangan suatu drama, orang tersebut akan mampu menunjukkan di mana letak kekurangan tersebut.

    4. Tingkat produktif

    Apresiator drama mampu menghasilkan, mengkritik, dan membuat resensi terhadap sebuah drama secara tertulis. Dengan kata lain, ada produk yang dihasilkan oleh seseorang yang berkaitan dengan drama.

    Cara Mengapresiasi Sastra

    1. Apresiasi Sastra Secara Reseptif

    Dalam apresiasi sastra, drama dapat diapresiasikan secara reseptif. Apresiasi drama secara reseptif dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan, dan menyaksikan pementasan drama

    2. Apresiasi Sastra Secara Produktif

    Dalam apresiasi sastra, drama dapat diapresiasikan secara produktif. Apresiasi drama secara produktif dapat dilakukan dengan cara membuat naskah drama.

    Nah, begitulah penjelasan tentang apresiasi drama secara lengkap. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya hanya di Sastrawacana.

  • Apa itu Teater? Ini Penjelasan Lengkapnya

    Pengertian teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafsiran, penggarapan, penyajian atau pementasan.  Di mana, sebuah teks drama akan ditampilkan ke dalam sebuah karya dalam panggung.

    Teater berasal dari kata theatron yang diturunkan dari kata theaomai (bahasa yunani) yang artinya takjub melihat atau memandang.

    Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Teater dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis.

    Sedangkan teater dalam arti luas adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak, contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.

    Arti Drama

    Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak  Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

    Arti Teater

    Secara etimologis: Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.

    Dalam arti luas: Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak.

    Dalam arti sempit: Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas.

    Akting yang Baik

    Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak. Dialog yang baik ialah dialog yang terdengar (volume baik), jelas (artikulasi baik), dimengerti (lafal benar), menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah).

    Penjelasan :

    Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar oleh penonton secara jelas. Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata harus terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali.

    Jangan sampai kata-kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih. Lafalkanlah yang benar sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang berlaku. Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah.

  • Pengertian dan Sejarah Perkembangan Pantomim

    Pengertian dan Sejarah Perkembangan Pantomim

    Definisi Pantomim

    sastrawacana.id/ – Pantomim adalah seni pertunjukan yang memvisualisasikan suatu objek atau benda tanpa menggunakan dialog, namun menggunakan gerakan tubuh dan mimik wajah. Bahkan pantomim memvisualisasikan rasa, sifat, dan karakter melalui gerakan tubuh dan mimiknya.

    Pantomim merupakan pertunjukan yang tidak menggunakan bahasa verbal. Istilah pantomim berasal dari bahasa Yunani yang artinya serba isyarat. Berarti secara etimologis, pertunjukan pantomim yang dikenal sampai sekarang itu adalah sebuah pertunjukan yang tidak menggunakan bahasa verbal atau pertunjukan bisu.

    Menurut Aristoteles, seorang filsuf Yunani mengatakan bahwa pantomim telah dikenal sejak zaman Mesir Kuno dan India. Kemudian dalam perkembangannya menyebar ke Yunani. Lebih lanjut Aristoteles menjelaskan bahwa teori pantomim tersebut bermula dari temuan-temuan pada relief-relief candi dan piramida.

    Dalam relief tadi dikisahkan adanya gambaran tentang seorang laki-laki dan atau perempuan sedang melakukan gerakan yang diduga bukan tarian. Hal tersebut semakin jelas sesudah adanya kategorisasi dari berbagai seni pertunjukan yang dilakukan Aristoteles berdasarkan ciri-ciri bawaannya, sehingga dapat dibedakan adanya sebutan tarian dan bahasa isyarat.

    Oleh karena pantomim mengacu pada ciri dasar dari bahasa isyarat tadi, maka jelaslah bahwa seni pertunjukan pantomi memang sudah ada sejak lama.

    Sejarah Pantomim di Dunia

    Pantomim di dunia sebagaimana ditulis Aristoteles dalam Poetics menyebutkan bahwa seni pantomim sudah berumur tua. Bahkan beberapa pendapat menyatakan pantomim sebelum dikenal di Yunani sudah ada lebih dahulu di Mesir dan India.

    Rumusan yang dikemukakan Aristoteles memberikan asumsi bahwa pantomim sudah mulai dapat diungkapkan melalui ciri-ciri dasarnya. Yaitu ketika orang mempertahankan seni gerak tiruan (imitation) yang tidak berdasarkan rhtym secara dominan.

    Seni gerak itu selesai sebagai suatu gerakan isyarat, maka para ahli menyebutnya sebagai pantomim. Charles Aubert dalam bukunya The art of Pantomime (1970) mendefinisikan pantomim adalah seni pertunjukan yang diungkapkan melalui ciri-ciri dasarnya, yakni ketika seseorang melakukan gerak isyarat atau secara umum bahsa bisu.

    Bahasa gerak sang pantomimer adalah universal; menjalankan ekspresi emosi yang serupa diantara berbagai umat manusia. Pantomim merupakan pertunjukan teatrikal dalam sebuah permainan dengan bahasa gerak.

    Kemudian dalam Encyclopedia Britanica dijelaskan bahwa pantomim sebagai seni yang mengandalkan olah tubuh dan kebisuan ini ada di Yunani sejak tahun 600 Sebelum Masehi.

    Saat ini, pantomim sering diasosiasikan sebagai gaya akting komedi tanpa kata-kata. Berkaitan dengan akting, pantomim pada awalnya untuk menyebut aktor komedi di masa Yunani yang menggunakan gerak tubuh untuk berkomunikasi.

    Kemudian, kedua dipakai untuk menyebut aktor di Romawi yang menyampaikan perannya melalui tari dan lagu. Bentuk awal seni pantomim masih dapat ditelusuri dalam phlyake, sebuah pertunjukan peran jenaka yang mengangkat tema kehidupan yang nyata dan mitologi yang berkembang di kawasan Sparta dan Dorian.

    Pemeran dalam pertunjukan ini tidak saja berpakaian aneh tapi juga menutupi muka mereka dengan topeng yang hanya menyisakan bagian mulut. Penulis pertama seni pantomim Dorian yang ternama adalah Epicharmus.

    Sejak tahun 485-467 SM, dia menjadi satu-satunya penulis pantomim yang paling kondang di Syracuse. Sampai-sampai Aristoteles menganggapnya sebagai penulis puisi dramatik pertama yang sangat berjasa. Epicharmus juga menulis beberapa plat komikal dan menghaluskan permainan pantomim sebelumnya.

    Pantomim dorian kemudian dianggap sebagai bentuk awal pantomim modern. Sejak itu pantomim identik dengan sifat-sifat komikal, karakter para pahlawan atau bahkan dewa pun dapat dijadikan bahan tertawaan.

    Seni pantomim dalam perkembangannya semakin dikenal oleh banyak bangsa-bangsa di dunia, terutama melalui industri film bisu (silent movie) dekade 1900-an berbagai bentuk ekspresi dan gerak yang paling terbaru dikembangkan dengan serius.

    Tahun 1927 sebagai era tanpa kata. Hal ini ditandai dengan banyaknya aktor yang menguasai seni pantomim, seperti dari Amerika Charles Spencer Chaplin atau Charlie Chaplin (1889-1977).

    Chaplin sangat penting dalam percaturan bahasa bisu sebab ia salah satu tokoh besar dalam film bisu, sebelum film bicara (talkies) diketemukan dan dijual kepada masyarakat. Chaplin tampil dan langsung populer tatkala muncul dalam film The Tramp (Si Gelandangan) tahun 1915.

    Film bisu Chaplin lainnya yakni City Light (Lampu Kota), The Gold Rush (Emas yang Merepotkan) dan Modern Times (Jaman Modern). Chaplin setia membuat film tanpa suara dan merupakan jenius film bisu. Lewat film bisu kekuatan Chaplin dapat ditangkap.

    Ia adalah penyair yang sesungguhnya. Ia berbicara dengan bahasa tubuh sebagai isyarat-isyarat dan bukan bahasa tubuh yang digunakan untuk menciptakan indikasi. Dari situ maka pengayaan batin yang diasah, juga membahasakan kekayaan batin ke dalam iysarat-isyarat yang mungkin tak jelas benar akan tetapi puitik dan menyentuh. Itulah hebatnya Chaplin.

    Kemudian di Perancis ada seniman pantomim yang handal pula, yakni Marcel Marceau. Pria kelahiran Perancis 22 Maret 1923 ini mencintai pantomim karena sering menonton film bisu Keaton dan Chaplin.

    Kesungguhannya menekuni mime sangat terpengaruh gaya mime harlequin dan karakter pantomim klasik Deburau’s Pierrot.

    Marceau sangat dikenal dengan karakteer individunya sejak tahun 1947 dengan membawakan gaya sang tooh ciptaannya bernama Bib.

    Bib merupakan tokoh ciptaan yang selalu tampil dengan muka putih. Pertama kali si Bib ini dibawa keliling ke Switzerland, Beligia dan Holland.

    Tahun 1949 Marceau mendapat penghargaan Deburau Prize untuki karya mimenya berjudul Death Before Dawn (Mati Sebeklum Fajar).

    Marceau dalam aktivitasnya begitu teliti. Hal tersebut tidak disimak lewat beberapa karyanya yang tokoh netral Bib itu, misalnya, pada Bib sang Pawang, Bib Naik Kereta Api, Bib Bunuh Diri, Bib memerankan Daud-Goliat, dan Bib Serdadu. Maka tak ayal jika seorang penulis asing ada yang mengatakan Marcell Marceau merupakan Master of Mime.

    Perkembangan Pantomim Indonesia

    Dalam perkembangannya, pantomim menjadi suatu seni pentas tersendiri dan mendapat tempat baru bagi penikmat seni.

    Perkembangan pantomim dunia telah menemukan dinamisitasnya jauh waktu, sedangkan di Indonesia baru dimulai sekitar tahun 1970-an, khususnya di Jakarta dan Yogyakarta.

    Tidak banyak seniman yang menggeluti pantomim dan hanya beberapa seniman yang cukup konsisten, seperti Sena A. Utaya, Didi Petet (Sena Didi Mime), Jemek Supardi, Moortri Poernomo, dan Deddy Ratmoyo.

    Realitas sosial juga menunjukkan bahwa belum tercapai apresiasi yang menggembirakan dari masyarakat terhadap eksisitensi pantomim. Diketahui bahwa dekade 1990-an, Pantomim Yogya mengalami pasang surut yang cukup serius.

  • Tips Melatih Pantomim Untuk Anak Kecil

    Pantomim adalah seni pertunjukan yang memvisualisasikan suatu objek atau benda tanpa menggunakan dialog.

    Namun, menggunakan gerakan tubuh dan mimik wajah. Bahkan pantomim memvisualisasikan rasa dengan gerakan tubuh dan mimiknya. Sederhananya, pantomim merupakan pertunjukan yang tidak menggunakan bahasa verbal.

    Pantomim tergolong dalam seni acting yang satu kategori dengan teater maupun drama. Begitu banyak pantomim yang sudah melalang buana di tingkat internasional maupun nasional, seperti Septian Dwi Cahyo.

    Begitu banyak antusias dan minat seni pantomim belakangan ini dari kalangan pelajar. Bahkan, beberapa tahun terakhir, lomba-lomba antar sekolah sering menjadikan lomba pantomim sebagai list lomba utamanya.

    Walau sekarang seni pantomim sudah menjadi hal yang sangat digandrungi, tidak sedikit tenaga pendidik atau guru dari sekolah yang tidak mengerti bagaimana proses pembelajaran pantomim untuk anak didiknya.

    Sehingga pihak sekolah rela mengeluarkan biaya untuk memanggil tenaga ahli dalam seni pantomim guna melatih muridnya.

    Sebelum masuk ke dalam tips melatih pantomim untuk anak, perlu diketahui terlebih dahulu jika ada beberapa kajian penilaian dalam aksi atau pementasan pantomim, yaitu ide cerita, harmonisasi musik, aksi gerakan, blocking atau penguasaan panggung, make up, serta wardrobe. Pelatih pantomim harus mengetahui beberapa unsur penilaian tersebut.

    Pada dasarnya, kemampuan berfikir dan kemampuan fisik anak tidaklah sama dengan yang lainnya. Pelatih pantomim harus mampu melihat dan menyeleksi demi mendapatkan bibit pemeran pantomim terbaik.

    Biasanya, pelatih pantomim yang sudah berpengalaman saat menyeleksi anak yang akan diikutsertakan lomba tidak repot-repot menyuruh ratusan murid untuk berakting.

    Tapi, pelatih tersebut bertanya kepada guru mengenai anak yang super nakal dan proaktif di kelas. Biasanya anak seperti itu merupakan anak yang mudah memahami dan menghapal gerakan yang diperagakan.

    Selanjutnya, saat sudah menemukan anak yang akan dilatih, tanyakan dia apakah dia bersedia dan tidak malu jika harus berakting di depan orang banyak.

    Umumnya anak yang seperti itu sangatlah cuek, dia tidak peduli dan memiliki mental baja. Itulah salah satu alasan memilihnya.

    Lalu, beri dia pemahaman singkat mengenai seni pantomim. Setelah anak mengetahui apa yang dimaksud pantomim, beri dia contoh pantomim melalui video atau gerakan lantas suruh dia memperagakan gerakan tersebut.

    Anak akan mudah mengingat dan mengerti hal apapun jika itu terjadi pada dirinya! Inilah salah satu konsep mendidik anak usia dini, menanamkan dan memberikan contoh tentang kesehariannya dalam beraktifitas, begitu juga dengan pantomim.

    Ajarkan dia gerakan-gerakan yang setiap hari ia lakukan, seperti bangun tidur, menata kasur, mandi, makan, hingga berangkat sekolah.

    Banyak orang salah mengajarkan pantomim kepada anak didiknya, pelatih memaksa gerakan yang memang tidak pernah dilakukan anak sebelumnya, sehingga anak tersebut sangat kewalahan dan berpikir keras untuk melakukan gerakan tersebut, contohnya bertani, berjualan, dsb.

    Banyak kejadian pelatih pantomim mengajarkan gerakan-gerakan tersebut kepada anak didiknya.

    Walau tujuan gerakan tersebut adalah baik demi mendidik anak, tapi hal tersebut kurang tepat diberikan kepada anak kecil yang tidak pernah melakukan hal tersebut sebelumnya.

    Jadi, ajarkan dia mengenai gerakan-gerakan yang setiap hari ia lakukan dalam aktifitasnya.

    Selain itu, pelatih pantomim harus mampu melihat karakter anak didik tersebut. Apakah dia seorang anak dengan karakter jenaka atau serius.

    Hal tersebut dapat dilihat dari cara bergerak, berbicara, dan berfikirnya. Kenapa perlu melihat karakter anak? Karena hal ini berkaitan dengan wardrobe, make up, dan ide cerita dari penampilan pantomimnya tadi.

    Contoh anak yang memiliki karakter jenaka, maka kita latih dia untuk memeragakan gerakan yang jenaka, memberikan dia kostum yang jenaka, dan memberikan make up dengan bias jenaka pula. Maka semua hal tersebut mampu menjadikan pementasannya menjadi lebih hidup dan bernyawa.

    Umumnya pementasan pantomim untuk anak berdurasi 3 – 5 menit. Dalam waktu singkat tersebut, berikan dia gerakan-gerakan yang baik dan berurutan.

    Seperti, bangun tidur langsung merapikan kasur, bergegas untuk mandi, setelah mandi lalu makan pagi, sampai berangkat sekolah.

    Jadi, dengan gerakan yang berurutan tersebut, memudahkan anak dalam memahami seni pantomim yang akan dia peragakan.

    Sekali lagi, jangan berikan gerakan yang tidak urut kepada anak, karena hal tersebut membuat ia berpikir keras sehingga penampilannya tidak bisa maksimal.

    Beri dia kesempatan untuk mengeksplore dirinya lebih dalam, tawarkan gerakan apa yang menurutnya lebih nyaman. Contoh saat akan mandi, dia biasanya sikat gigi terlebih dahulu atau langsung mandi.

    Jika dia menyikat gigi terlebih dahulu, biarkan dia lakukan itu dalam gerakan pantomimnya asal tidak ke luar dari ide cerita. Intinya, beri ruang kepada anak untuk mengeksplore dirinya, tidak selalu mengikuti gerakan yang diajarkan oleh pelatih.

    Tips terakhir, ajarkan anak mengenai penguasaan panggung. Karena pementasan yang baik merupakan pementasan yang mampu menguasai panggung, artinya tidak ada panggung yang kosong, semua terisi oleh aksinya.

    Jadi, dengan panggung yang cukup lebar, ajarkan dia untuk bergerak susai urutan mengisi ruang panggung agar tidak ada ruang panggung yang kosong dalam pementasannya.

    Nah, sekian tips melatih pantomim untuk anak. Artikel ini hanyalah sekedar tips yang berasal dari pengalaman pribadi saat melatih dan mampu membawa beberapa anak latih menjadi juara dalam tingkatannya. Sekian, semoga artikel ini dapat membantu Anda.

    Author: Maulana Affandi