Meski edisi terjemahan bahasa Indonesia novel karya peraih Nobel Sastra ini sudah lama hadir, penerbit tetap mempertahankan judul aslinya dalam bahasa Inggris, Big Breasts and Wide Hips.
Kemungkinan besar, keputusan ini diambil untuk menghindari gejolak sosial di tengah situasi publik yang sudah cukup panas belakangan ini.
Bukan tidak mungkin, jika judulnya diterjemahkan mentah-mentah ke bahasa Indonesia, akan ada tuduhan pornografi, cabul, atau merusak moral bangsa.
Bayangkan saja jika diterjemahkan secara langsung, beberapa kemungkinan judulnya bisa seperti:
- Payudara Besar Pinggul Lebar
- Payudara Molek Pantat Semok
- Tobrut dan Pantat Besar
Pilihan terakhir jelas terdengar paling nakal, berpotensi memicu pencekalan, bahkan mungkin membuat novel ini dibakar di tempat oleh pihak-pihak yang merasa terganggu.
Untungnya, judul asli tetap dipakai, sehingga pembaca bisa menikmati isinya tanpa repot bolak-balik membuka Google Translate.
Sesuai judulnya, Mo Yan menghadirkan kisah tentang pesona perempuan Tiongkok di pertengahan abad ke-20, berpusat pada keluarga besar Shangguan Lu.
Ia adalah sosok perempuan tangguh yang membesarkan anak-anak dan cucu-cucunya di tengah pergolakan politik Tiongkok pada masa itu.
Sekilas, kisah keluarga ini mengingatkan pada dinasti fiksi Jose Arcadio Buendia di Macondo ciptaan Gabriel García Márquez.
Meski kerap diselingi deskripsi kemolekan tubuh para tokohnya dan bumbu cerita fantastis khas Tiongkok, novel ini pada dasarnya adalah upaya memotret sejarah politik Tiongkok setelah tumbangnya Dinasti Qing, masa pendudukan Jepang, hingga perebutan kekuasaan antara Partai Komunis dan Kuomintang.
Cerita dibawakan melalui sudut pandang orang pertama, yakni Shangguan Jintong, satu-satunya anak laki-laki keluarga itu yang didapatkan Shangguan Lu dengan berbagai cara.
Selama delapan kali melahirkan, ia hanya mendapatkan anak perempuan, yang pada masa itu dianggap kurang berharga.
Demi memiliki keturunan laki-laki, ia bersedia mengandung dari pria mana saja. Dari narator ini pula, Mo Yan menyelipkan pandangan subtil tentang kesetaraan gender dan feminisme.
Jintong, misalnya, sejak bayi terobsesi pada payudara besar karena produksi susu yang melimpah, dan obsesi itu terus terbawa hingga usia 40-an.
Nuansa realisme magis ala Amerika Latin juga hadir di sini. Salah satu kakak perempuan Jintong, misalnya, tiba-tiba berubah menjadi burung karena menolak pernikahan paksa dengan pemuda kaya.
Adegan ini menjadi potret nyata penindasan terhadap perempuan, yang dijadikan komoditas demi kepentingan ekonomi atau tujuan pragmatis lainnya.
Kekuatan Mo Yan terletak pada kemampuannya merangkai narasi yang deskriptif, naturalis, dan mengalir cepat, membuat pembaca tidak sadar sudah sampai di akhir kisah.
Banyaknya tokoh memang menuntut perhatian ekstra, agar tidak kehilangan jejak siapa yang sedang dibicarakan.
Pada akhirnya, novel setebal lebih dari 700 halaman ini adalah karya kelas dunia yang memadukan keindahan bahasa, kritik sosial, dan sejarah politik.
Sebuah bacaan penting dari salah satu penulis Asia terbaik yang layak mendapat tempat di rak buku siapa pun yang mencintai sastra.
Mau baca bukunya? Klik di sini.







