Kategori: Berita

  • Sinergi STIKES Banyuwangi dan FBS Bangkitkan Semangat UKS/M di Blimbingsari

    Sinergi STIKES Banyuwangi dan FBS Bangkitkan Semangat UKS/M di Blimbingsari

    Kesadaran untuk menghidupkan kembali program Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) yang kini banyak hanya tinggal nama kembali digelorakan oleh Tim Promotor UKS STIKES Banyuwangi.

    Kegiatan ini digelar di Aula Satkordikwilcam Blimbingsari pada Kamis (16/10/2025), hasil kolaborasi antara STIKES Banyuwangi, Forum Banyuwangi Sehat (FBS), dan Pembina UKS Kecamatan Blimbingsari.

    Dalam sambutannya saat membuka acara, Kasi PMK Kecamatan Blimbingsari, Abdul Aziz, SH, MH, menyinggung sejumlah isu seperti mutasi camat, digitalisasi perlindungan sosial, dan musrenbang desa.

    Ia menekankan pentingnya menciptakan wilayah Blimbingsari yang aman, nyaman, dan sehat.

    Hal itu dapat diwujudkan dengan menghidupkan kembali program UKS/M di seluruh lembaga pendidikan, yang laporannya disampaikan ke Kantor Kecamatan untuk disinergikan dengan Puskesmas serta para pemangku kepentingan.

    Sementara itu, Aguk Wahyu Nuryadi dari FBS menjelaskan bahwa regulasi UKS merupakan hasil Surat Keputusan Bersama (SKB) empat kementerian.

    Kegiatan UKS dapat didukung oleh dana BOS dan PSM, dengan kepengurusan yang melibatkan komite sekolah, Puskesmas, dan pemangku wilayah.

    Ia menambahkan, UKS maupun program Adiwiyata termasuk indikator penting dalam penilaian Pendidikan Sehat guna mendukung Kabupaten Sehat.

    Paparan materi diawali oleh Intan Nur Wahyuni Ngsih, S.Pd, SD, Pembina UKS SDN 1 Watukebo, yang memaparkan profil dan prestasi sekolahnya sebagai jawara Gerakan Sekolah Sehat.

    “Kami tegas soal kebersihan lingkungan dan toilet, namun mengajar tetap menyenangkan di kelas. Kader Tiwisada dan dokter kecil juga dengan sopan menegur tamu, bahkan guru, yang merokok di lingkungan sekolah,” ujarnya.

    Ia juga menambahkan bahwa situs Watukebo telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui SK Bupati yang mendukung pengembangan Geopark Ijen.

    Kepala SDN 1 Watukebo, Umi Masrohatin, S.Pd, SD, berharap melalui pembinaan dari FBS dan Pembina UKS dapat diadakan sarana-prasarana pengelolaan sampah serta kantin sehat.

    Hal ini sebagai persiapan karena sekolahnya akan mewakili Kabupaten Banyuwangi dalam lomba tingkat Provinsi Jawa Timur.

    Dari Tim Pembina UKS Kabupaten yang juga Pengurus PKK Kabupaten, Pipit Haryono, S.Kep, M.Pd, menyampaikan bahwa SDN 1 Watukebo dapat menjadi studi tiru ideal bagi lembaga pendidikan di wilayah Blimbingsari, Kabat, Rogojampi, hingga Songgon.

    “Monggo, kepala sekolah bisa mengirim guru calon pembina UKS untuk mengikuti pelatihan dua hari di Watukebo dalam waktu dekat agar program UKS ini lebih serius dijalankan. Selanjutnya, bina kader dari siswa untuk siswa, baik dokter kecil maupun Kelompok Kesehatan Remaja,” ujarnya.

    Sesi berikutnya diisi oleh Desika Ulfatunisa, S.Kep, yang memimpin yel-yel “Sehat dimulai dari saya” sebelum menampilkan paparan tentang langkah-langkah pembentukan UKS.

    Ia menjelaskan pentingnya penerbitan SK Kepala Sekolah, penyusunan program, serta kegiatan monitoring. Ia juga mendorong pelibatan Puskesmas dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan kapasitas SDM.

    “Minimal ada kader 10 persen dari jumlah murid di setiap lembaga pendidikan untuk menjalankan program UKS. Maksimalkan pula potensi intra dan ekstrakurikuler guna mendukung UKS agar menjadi budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang menjadi karakter lembaga pendidikan,” tuturnya.

    Desika juga memberikan nomor kontak WhatsApp bagi peserta yang ingin mengundang atau mengunjungi praktik baik di STIKES Banyuwangi, yang berlokasi di Jalan Letkol Istiqlal.

  • Sastra Lisan Nyambei dari Rejang Lebong Resmi Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional

    Sastra Lisan Nyambei dari Rejang Lebong Resmi Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional

    Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah menetapkan sastra lisan Nyambei dari Rejang Lebong sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia 2025. Keputusan ini diumumkan dalam Sidang Penetapan WBTB 5–11 Oktober 2025 di Jakarta.

    Bupati Rejang Lebong, H. M. Fikri Thobari, menyatakan kebanggaannya atas pengakuan nasional tersebut. Ia menyebut bahwa penghargaan ini merupakan hasil dari proses panjang dan penilaian komprehensif.

    Menurutnya, pencapaian ini semoga memicu semangat masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya daerah.

    Pemkab Rejang Lebong akan mendorong agar Nyambei dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal.

    Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Zakaria, menegaskan bahwa pengakuan tersebut menegaskan bahwa budaya Nyambei adalah milik masyarakat Rejang Lebong.

    Ia menambahkan bahwa pihaknya akan menggelar lomba Nyambei di tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, bahkan nasional sebagai salah satu cara mempertahankannya.

    Zakaria juga menyatakan bahwa upaya pengusulan Nyambei sebagai warisan budaya takbenda nasional menunjukkan komitmen daerah dalam melestarikan nilai-nilai budaya lokal.

    Selain pelestarian, langkah ini juga diharapkan mendukung visi Rejang Lebong sebagai destinasi wisata budaya.

    Sekilas Tentang Nyambei

    Nyambei adalah tradisi sastra lisan tradisional masyarakat Rejang yang sudah ada sejak zaman dahulu, sebelum pengaruh luar merambah ke wilayah Bengkulu bagian tengah.

    Dalam sejarahnya, Nyambei digunakan sebagai hiburan dalam acara adat dan hajatan masyarakat, terutama sebagai forum berbalas pantun, perkenalan, serta ekspresi emosional melalui untaian bahasa yang penuh makna.

    Uniknya, bahasa yang digunakan dalam Nyambei merupakan perpaduan berbagai unsur bahasa daerah, termasuk pengaruh bahasa Jawa.

    Pertunjukan biasanya diiringi alat musik tradisional, seperti kulintang “jenggung”, menciptakan suasana akrab di malam perkampungan Rejang.

    Dalam tradisi lisan masyarakat Rejang, dikenal istilah pengela (pembuka syair) dan andak (penutup dengan irama berbeda).

    Menariknya, tradisi Nyambei pernah tercatat dalam karya William Marsden The History of Sumatra (1785), yang menunjukkan bahwa tradisi ini telah berlangsung lebih dari dua abad.

    Meski perannya kini sering menyertai pertunjukan seni tari tradisional, semangat Nyambei tetap hidup sebagai simbol keindahan bahasa, kecerdasan lokal, dan romantika budaya Rejang yang terus dijaga.

    Sumber: rejanglebongkab

  • Raih Penghargaan Nobel Sastra 2025, Pria ini Justru Menganggap Dapat ‘Bencana’

    Raih Penghargaan Nobel Sastra 2025, Pria ini Justru Menganggap Dapat ‘Bencana’

    Keputusan Akademi Swedia menganugerahkan Nobel Sastra 2025 kepada László Krasznahorkai, novelis asal Hungaria, justru berujung pada pernyataan tak biasa.

    Alih-alih bersyukur, penulis berusia 61 tahun itu menyebut penghargaan paling bergengsi di dunia sastra tersebut sebagai “bencana”.

    Krasznahorkai menerima kabar kemenangannya saat berada di Frankfurt, Jerman, Kamis malam (9/10) waktu setempat.

    Dalam wawancara via telepon dengan pihak Akademi Swedia, ia mengaku terkejut dan menyamakan momen itu dengan reaksi penulis legendaris Samuel Beckett ketika menerima Nobel.

    “Ini lebih dari sekadar bencana. Saya teringat Samuel Beckett yang juga menyebut penghargaan ini sebagai bencana ketika menerimanya,” ujar Krasznahorkai dikutip dari situs resmi Nobel Prize.

    Meski menyebutnya bencana, penulis Sátántangó itu tetap mengungkapkan rasa bangga dan bahagia karena bisa sejajar dengan para sastrawan besar dunia.

    Ia juga menegaskan pentingnya tetap menggunakan bahasa asli Hungaria dalam karya-karyanya.

    “Saya bangga menulis dengan bahasa kecil seperti bahasa Hongaria. Saya berterima kasih kepada para pembaca yang selalu setia,” katanya.

    Krasznahorkai juga mengajak masyarakat untuk terus membaca dan berfantasi, karena menurutnya, imajinasi adalah sumber kekuatan di masa sulit.

    “Membaca memberi kita kekayaan batin dan kekuatan untuk bertahan hidup,” ujarnya.

    Soal karya terbarunya, Krasznahorkai memilih untuk tidak membocorkan apa pun sebelum buku tersebut diterbitkan.

    “Saya tidak pernah membicarakan apa yang sedang saya tulis. Saat waktunya tiba, saya akan memulai kembali dengan karya yang lebih baik dari sebelumnya,” tambahnya.

    László Krasznahorkai lahir pada 1964 di kota kecil Gyula, Hungaria tenggara, dekat perbatasan Rumania.

    Daerah pedesaan itu menjadi latar bagi novel debutnya, Sátántangó, yang terbit pada 1985 dan langsung menjadi fenomena sastra di Hungaria.

    Karya tersebut menggambarkan kehidupan penduduk miskin di sebuah pertanian kolektif menjelang runtuhnya rezim komunis.

    Sumber:

  • DPR Dukung Sastra Lokal Masuk Kurikulum, Upaya Perkuat Identitas Budaya Daerah

    DPR Dukung Sastra Lokal Masuk Kurikulum, Upaya Perkuat Identitas Budaya Daerah

    Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendukung agar sastra lokal, seperti sastra khas Tegal di Jawa Tengah, dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

    Menurut Fikri, upaya tersebut penting untuk memperkuat identitas daerah sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal.

    “Semarak Budaya itu mempunyai makna satu perlindungan budaya. Jadi, Tegal itu punya kekhasan Jawa tetapi berbeda, bukan Sunda tetapi Jawa, Nah, bahasanya saja berbeda, kemudian nanti ada budaya-budaya lain seperti tari dan sebagainya,” kata Fikri.

    Dukungan itu disampaikan dalam kegiatan Rembuk Budaya Tegal yang digelar di Pelataran Sastra Piek Ardiyanto Supriyadi, Kota Tegal.

    Acara tersebut merupakan bagian dari masa reses anggota DPR, hasil kerja sama antara DPR RI dan Kementerian Kebudayaan RI, dengan tujuan merawat serta mengembangkan kekayaan budaya lokal.

    Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan seniman, budayawan, dan generasi muda itu diharapkan menjadi momentum memperkuat karakter budaya Tegal.

    Fikri berharap kekayaan lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan secara kreatif agar tetap relevan.

    Legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX, yang meliputi Kabupaten dan Kota Brebes serta Tegal, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

    “Pemajuan budaya harus mencakup empat pilar utama, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan,” ungkapnya.

    Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa kementeriannya terus memberikan dukungan terhadap subsektor yang berkaitan dengan pemajuan kebudayaan.

    “Begitu juga dukungan kepada komunitas dalam berbagai bentuk baik sarana-prasarana, dukungan dalam berbagai macam event, festival-festival internasional. Misalnya, kita hampir hadir di semua festival film internasional dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan sebagian mempunyai prestasi, sebagian besar kita mendapatkan pencapaian. Begitu juga untuk seni dan juga ekspresi budaya lain,” ujar Fadli Zon.

    Fadli menjelaskan bahwa perhatian kementeriannya tidak hanya terfokus pada bidang seni, tetapi juga mencakup manuskrip, bahasa, sastra, pangan tradisional, permainan rakyat, olahraga tradisional, dan berbagai unsur budaya lainnya.

    Sumber: Antara

  • Festival Sastra Banggai ke-9 Resmi Dibuka dengan Tema Simpul Kesembilan Merajut Kata

    Festival Sastra Banggai ke-9 Resmi Dibuka dengan Tema Simpul Kesembilan Merajut Kata

    Yayasan Babasal Mombasa resmi membuka Festival Sastra Banggai (FSB) ke-9 tahun 2025 dengan tema “Simpul Kesembilan Merajut Kata” pada Rabu (15/10/2025) di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong, Luwuk.

    Acara pembukaan dihadiri oleh Wakil Bupati Banggai Drs. Furqanuddin Masulilli, MM, didampingi Kapolres Banggai dan sejumlah Kepala OPD Kabupaten Banggai.

    Turut hadir pula Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI Bidang Diplomasi Budaya & Hubungan Internasional, Nisa Ringganis, serta Direktur Pengembangan Budaya Digital, Andi Syamsurizal, yang sekaligus membuka kegiatan FSB ke-9 secara resmi.

    Tahun ini, Festival Sastra Banggai telah mencapai simpul kesembilan sejak pertama kali digelar. Kegiatan ini akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2025, menghadirkan berbagai kelas program, pameran seni, hingga pementasan teatrikal.

    Direktur FSB, Ama Gaspar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan Festival Sastra Banggai ke-9 berjalan beriringan dengan Akademi Sastra Banggai ke-3.

    “Dua kegiatan ini masing-masing didukung oleh Dana Indonesiana, LPDP, Manajemen Talenta Nasional, & Penguatan Festival Sastra Nasional Kementerian Kebudayaan.” Ujar Direktur FSB.

    Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Banggai Ir. H. Amirudin, SP., MM atas dukungan penuh terhadap terselenggaranya FSB tahun ini, serta berharap kegiatan tersebut terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

    Dalam sambutannya, Wakil Bupati Banggai Furqanuddin Masulilli menegaskan bahwa Festival Sastra Banggai bukan sekadar ajang perayaan karya sastra, tetapi juga ruang ekspresi, refleksi, dan pelestarian identitas budaya.

    Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan RI atas dukungannya terhadap penguatan literasi budaya di Banggai.

    “Kami berterima kasih kepada Kementerian Kebudayaan RI atas dukungan dan perhatian terhadap upaya penguatan literasi budaya,” paparnya.

    Sementara itu, Direktur Pengembangan Budaya Digital, Andi Syamsurizal, menjelaskan bahwa pada tahun 2025 pihaknya meluncurkan program penguatan ekosistem sastra sebagai upaya menyatukan berbagai elemen penting dalam dunia sastra Indonesia.

    “Program penguatan komunitas sastra diinisiasi oleh Direkturat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan. Program ini berfokus mendorong berlangsungnya festival-festival sastra di berbagai daerah secara lebih berkelanjutan dan terkoneksi satu sama lain.” terangnya.

    Menurutnya, FSB telah berhasil menjadi ruang dialog penting bagi perkembangan sastra dan kebudayaan nasional, menjadikan Banggai sebagai salah satu lokus sastra penting di Indonesia.

    Malam pembukaan FSB 2025 turut diramaikan oleh sejumlah penulis ternama Indonesia, di antaranya Aan Mansyur, Dee Lestari, Eka Kurniawan, Eko Triono, dan Henry Manampiring. Mereka akan berbagi pengalaman dan mengisi berbagai sesi selama festival berlangsung.

    Menariknya, di wilayah Sulawesi hanya terdapat dua festival sastra besar yang konsisten digelar, yakni Makassar International Writers Festival (MIWF) di Fort Rotterdam Makassar, dan Festival Sastra Banggai di RTH Teluk Lalong, Luwuk.

    Acara pembukaan ditutup dengan prosesi pemukulan gong sebagai tanda dimulainya festival, serta penampilan memukau dari penyanyi solo Pusakata.

    Source: banggainews

  • Pelayanan Prima RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Wujudkan Kepuasan dan Kepercayaan Pasien

    Pelayanan Prima RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Wujudkan Kepuasan dan Kepercayaan Pasien

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien.

    Upaya peningkatan pelayanan prima ini diwujudkan melalui sikap ramah tenaga kesehatan, sistem pelayanan yang cepat dan responsif, serta penerapan teknologi medis yang semakin modern.

    Salah satu wujud peningkatan pelayanan tersebut terlihat pada layanan operasi katarak modern, yang kini menjadi pilihan unggulan bagi masyarakat.

    Pada Selasa (14/10), perawat Irzam Beni, Amd.Kep, tampak dengan sabar mendampingi pasien pascaoperasi katarak di depan ruang apotek.

    Sembari menyerahkan obat, Beni aktif memberikan penjelasan rinci mengenai cara perawatan setelah operasi agar proses penyembuhan berjalan dengan baik.

    “Kami selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien. Karena itu, kami tekankan pentingnya mengikuti anjuran dokter agar kondisi pasien cepat pulih,” terangnya.

    Ia juga menjelaskan bahwa sebelum menjalani operasi, setiap pasien wajib melewati serangkaian pemeriksaan ketat, mulai dari skrining tekanan darah, tes laboratorium, hingga pemeriksaan tambahan lain untuk memastikan kondisi tubuh aman dan siap operasi.

    Prosedur operasi katarak di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi kini menggunakan teknik fakoemulsifikasi, yaitu metode modern yang memanfaatkan energi ultrasonik untuk memecah dan menyedot lensa mata yang keruh menjadi fragmen-fragmen kecil, kemudian menggantikannya dengan lensa buatan.

    Proses operasi ini hanya memakan waktu sekitar 15 menit per pasien, dengan masa pemulihan yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional. Dalam waktu kurang dari satu minggu, penglihatan pasien biasanya sudah kembali jelas dan normal.

    Terpisah, Kasubag Marketing RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, Heri Iskandar, S.Kep, menjelaskan bahwa seluruh inovasi layanan yang dilakukan merupakan bagian dari komitmen rumah sakit untuk memberikan pengalaman terbaik bagi pasien.

    “Kami terus berupaya menghadirkan pelayanan yang cepat, ramah, dan profesional. Harapannya, setiap pasien yang datang ke RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi tidak hanya sembuh secara medis, tetapi juga pulang dengan rasa puas dan percaya kepada kami,” ujarnya.

    Dengan semangat pelayanan yang tulus dan berorientasi pada kepuasan pasien, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi terus berbenah untuk memberikan layanan kesehatan terbaik bagi masyarakat.

    Kemudian, mtenaga medis yang profesional, fasilitas modern, serta pendekatan yang humanis, rumah sakit ini berupaya menjadi pilihan utama masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman, nyaman, dan bermutu.

  • Keren! RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Luncurkan Program Unggulan Sectio Caesarea dengan ERACs “BERKAH”

    Keren! RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Luncurkan Program Unggulan Sectio Caesarea dengan ERACs “BERKAH”

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan yang inovatif dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

    Pada Kamis (9/10/2025), rumah sakit yang telah bekerjasama dengan berbagai instansi ini resmi meluncurkan program unggulan “Sectio Caesarea dengan ERACs BERKAH”, sebuah inovasi persalinan melalui operasi caesar dengan metode pemulihan cepat dan minim nyeri.

    Acara peluncuran berlangsung khidmat di aula rumah sakit, dihadiri oleh Ketua MPKU PCM Rogojampi Ir. Hudiono, Direktur RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi dr. Fuadi Shiham, Kabid Pelayanan Medis dr. Gita Putri Santoso, dan Kabag Administrasi dan Keuangan Nur Imron Rosyadi, S.E., M.M., dan para karyawan dari berbagai unit.

    Program Unggulan Sectio Caesarea dengan ERACs BERKAH

    Sebelum seremonial peluncuran program dimulai, kegiatan diawali dengan pengajian karyawan yang dipimpin oleh Ustaz Atok Fahludi, dengan tema memaknai rezeki sebagai ungkapan rasa syukur. Suasana hangat penuh refleksi mengiringi pembukaan acara tersebut.

    Usai pengajian, kegiatan berlanjut dengan sambutan dari Ketua MPKU PCM Rogojampi, Ir. Hudiono, yang menyampaikan apresiasinya terhadap langkah inovatif rumah sakit dalam menghadirkan layanan yang unggul.

    “Program ini adalah bentuk upaya nyata memberikan pelayanan yang excellent kepada masyarakat, terutama dalam kesehatan ibu dan anak. Saya mengapresiasi kerja keras tim marketing, pelayanan medis, dan seluruh jajaran yang telah bersinergi menyiapkan program ini,” ujar Hudiono.

    Ia juga menambahkan bahwa setiap inovasi di lingkungan PKU Muhammadiyah harus tetap mengedepankan profesionalitas serta nilai-nilai Islami sebagai wujud dakwah untuk kemaslahatan umat.

    Sementara itu, Direktur RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, dr. Fuadi Shiham, dalam sambutannya menjelaskan bahwa program ERACs BERKAH merupakan langkah maju dalam pelayanan obstetri modern.

    “Metode Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACs) memungkinkan ibu melahirkan dengan rasa nyeri minimal dan waktu pemulihan yang lebih cepat. Kami ingin para ibu bisa segera berkumpul dengan bayinya dalam kondisi yang aman dan nyaman,” jelas dr. Fuadi.

    Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa BERKAH merupakan akronim dari:

    B: bimbingan bunda terampil bayi sehat
    E: excellent service massage oxytocin pada ibu
    R: rawat kecantikan ibu pasca persalinan
    K: komplit dokumentasi momen persalinan sampai dapat akte kelahiran
    A: antar jemput pasien sampai dirumah
    H : hampers bayi yang menarik dan bermanfaat

    “Melalui konsep BERKAH ini, kami ingin menghadirkan layanan yang lengkap dan berkesan, mulai dari proses kelahiran hingga pendampingan pascaoperasi. Ini bukan hanya pelayanan medis, tetapi juga bentuk kasih sayang dan kepedulian,” tambahnya.

    Tak luput pula, Kabid Pelayanan Medis dr. Gita Putri Santoso menyampaikan bahwa ERACs BERKAH merupakan hasil kerja kolaboratif lintas unit yang telah dikaji matang sebelum akhirnya diluncurkan.

    “Program ini bukan hanya inovasi klinis, tetapi juga inovasi pelayanan. Kami berupaya menghadirkan pengalaman persalinan yang lebih nyaman, aman, dan penuh makna,” ujarnya.

    Dari sisi manajerial, Kabag Administrasi dan Keuangan Nur Imron Rosyadi, S.E., M.M. menekankan pentingnya sinergi dan efisiensi dalam pengelolaan layanan unggulan agar program ini berjalan lancar sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi pasien.

    “Kami mendukung sepenuhnya program ini agar dapat berjalan berkelanjutan, memberi manfaat luas bagi masyarakat, dan meningkatkan kepercayaan terhadap RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi,” terangnya.

    Peluncuran Program Unggulan Sectio Caesarea dengan ERACs BERKAH

    Acara peluncuran juga dimeriahkan dengan pemutaran video profil program unggulan, doa bersama, serta dilanjutkan dengan talkshow dan live streaming bertajuk “Operasi Caesar ala Artis Ibu Kota: Minimal Nyeri, Pulang Lebih Cepat”.

    Talkshow ini menghadirkan dr. Tresna Resmantara, Sp.An, dokter spesialis anestesi sekaligus penanggung jawab program ERACs di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, yang memaparkan lebih detail manfaat dan prosedur dari layanan ini.

    Di akhir sesi, Kasubag Marketing RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, Heri Iskandar, S.Ners, menegaskan bahwa inovasi yang terus dilahirkan oleh rumah sakit merupakan komitmen nyata dalam menjadikan RSU PKU sebagai pilihan utama masyarakat, khususnya di wilayah Banyuwangi.

    “Kami terus berupaya menghadirkan program-program unggulan yang tak hanya menjawab kebutuhan masyarakat, tapi juga membawa pembaruan dalam layanan kesehatan. Inovasi ini adalah bagian dari strategi kami untuk menjaga kepercayaan publik dan memperkuat posisi rumah sakit sebagai institusi layanan kesehatan yang unggul dan terpercaya,” ujar Heri.

    Heri Iskandar juga menambahkan bahwa seluruh inovasi yang diluncurkan merupakan bagian dari kontribusi aktif RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi dalam mewujudkan Indonesia Sehat.

    “Setiap program kami rancang untuk memberikan dampak positif yang nyata, baik secara klinis maupun emosional bagi pasien. Ini merupakan bentuk ikhtiar kami dalam mendukung visi besar menciptakan Indonesia yang lebih sehat, bermartabat, dan penuh kepedulian,” lanjutnya.

    Melalui program Sectio Caesarea dengan ERACs BERKAH, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi menegaskan diri sebagai rumah sakit yang terus berinovasi dalam pelayanan ibu dan anak, sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai Islami dalam setiap langkah pelayanannya.

  • Technical Meeting Festival Literasi Using SMP 2025 Digelar Secara Daring, Siap Lestarikan Bahasa dan Budaya Using

    Technical Meeting Festival Literasi Using SMP 2025 Digelar Secara Daring, Siap Lestarikan Bahasa dan Budaya Using

    Persiapan Festival Literasi Using SMP 2025 resmi dimulai dengan technical meeting atau rapat teknis secara daring melalui Zoom pada Rabu (8/10/2025), diikuti oleh panitia, juri, serta pendamping dari sekolah negeri dan swasta yang akan mengikutsertakan muridnya dalam gelaran bergengsi ini.

    Rapat teknis ini menjadi langkah awal untuk menyatukan pemahaman, membahas petunjuk teknis, serta memastikan seluruh rangkaian kegiatan festival berjalan lancar dan seragam di setiap cabang lomba.

    Sebagai informasi, Festival Literasi Using merupakan agenda tahunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang didukung MGMP Bahasa Using SMP, PKG SD serta Balai Bahasa Jawa Timur.

    Ketua MGMP Bahasa Using SMP, Yeti Chotimah menyampaikan bahwa festival ini sudah memasuki tahun kelima pelaksanaan.

    Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar lomba, melainkan ruang bagi siswa untuk mencintai bahasa dan budaya Using, identitas asli masyarakat Banyuwangi.

    “Selama lima tahun ini, Festival Literasi Using menjadi wadah bagi siswa SMP, baik negeri maupun swasta, untuk menunjukkan kecintaan mereka pada bahasa daerah. Tujuannya bukan hanya berlomba, tapi juga melestarikan warisan budaya Using,” ujary Yeti, yang siap memberikan informasi lebih lanjut melalui WhatsApp di 081336275599.

    Tahun ini, Festival Literasi Using akan digelar pada tanggal 1 November 2025 di SDN Model Banyuwangi. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 8 – 26 Oktober 2025 melalui link berikut ini https://bit.ly/FESTIVALUSING2025

    Sementara untuk grup peserta dapat bergabung melalui tautan ini: KLIK DI SINI.

    Ada tujuh kategori yang dilombakan, diantaranya Nulis Aksara (Menulis Kalimat Using), Nulis Cerpen, Moco Geguritan (Baca Puisi), Nembang (Menyanyi), Ngewer (Stand-up Comedy Using), dan Ndongeng (Bercerita) serta pidato.

    Setiap cabang dirancang untuk mengasah kemampuan siswa dalam menulis, membaca, dan menampilkan karya dalam bahasa Using dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.

    Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Didik Eko Wahyudi, S.Pd, memberikan apresiasi terhadap konsistensi MGMP Bahasa Using dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, festival tersebut menjadi wujud nyata dari upaya pelestarian bahasa daerah melalui jalur pendidikan.

    Suasana rapat teknis berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Sekitar 45 peserta yang terdiri dari panitia, juri, dan guru pendamping aktif berdiskusi, menyimak penjelasan juknis tiap cabang lomba, serta menyampaikan pertanyaan seputar aturan teknis.

    Terpisah, Affandi Maulana, pemimpin redaksi media online sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang menyatakan siap menjadi media partner dan merasa terhormat karena dilibatkan sebagai juri bersama dengan tokoh literasi dari komunitas literasi Gotongroyong ’45 serta Kopiwangi.

    Sarjana Sastra UNEJ ini menekankan pentingnya agar karya siswa tidak berhenti hanya di ajang lomba, tetapi terus berkembang dalam aktivitas literasi di dunia pendidikan maupun kehidupan masyarakat.

    "Karya-karya anak kita sebaiknya tidak hanya tampil di panggung festival, tapi juga diabadikan dalam bentuk buku antologi. Dengan begitu, semangat literasi Using bisa terus hidup dan menjadi warisan bagi generasi berikutnya," ujarnya.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan, S.Pd, selaku ketua komunitas Kopiwangi, turut mengapresiasi gelaran festival ini.

    Menurutnya, kegiatan seperti Festival Literasi Using sangat penting karena tidak hanya mengasah kemampuan siswa dalam menulis, membaca, dan menampilkan karya, tetapi juga menumbuhkan kecintaan mereka terhadap bahasa dan budaya Using, sehingga generasi muda tetap terhubung dengan warisan budaya daerahnya.

    Pertemuan daring yang berlangsung selama dua jam itu ditutup dengan sesi foto bersama, dimana seluruh peserta mengangkat simbol tangan literasi sebagai wujud komitmen untuk menjaga bahasa Using agar tetap hidup, digunakan, dan dicintai oleh para pelajar Banyuwangi di tengah arus zaman yang serba digital.

    Selain itu, muncul harapan agar Using kelak bisa diakui sebagai bahasa mandiri dengan identitasnya sendiri, bukan sekadar dipandang sebagai dialek, sehingga keberadaannya dapat terus dilestarikan dan berkembang di tengah masyarakat.

  • Dissiptaka Barito Utara Terima Naskah Kuno Al-Qur’an Tulisan Tangan Karya Ulama Lokal

    Dissiptaka Barito Utara Terima Naskah Kuno Al-Qur’an Tulisan Tangan Karya Ulama Lokal

    Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dissiptaka) Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, menerima satu naskah kuno berharga berupa Al-Qur’an tulisan tangan lengkap dengan terjemahan karya ulama sekaligus penulis lokal, almarhum Muhammad Tasin.

    Kepala Dissiptaka Barito Utara, Fakhri Fauzi, menyampaikan apresiasinya atas penyerahan naskah bersejarah tersebut.

    “Kami apresiasi mendalam atas penyerahan naskah tersebut. Ini akan kami arsipkan dan lindungi dengan baik, serta kami usulkan untuk didaftarkan sebagai warisan budaya daerah,” ujarnya.

    Menurut Fakhri, naskah karya ulama besar dari masa lampau itu memiliki nilai historis, intelektual, dan spiritual yang tinggi.

    Keberadaannya menjadi bagian penting dari pelestarian khazanah keagamaan dan kebudayaan masyarakat Barito Utara.

    Dissiptaka juga berencana melakukan kajian mendalam terhadap isi dan kondisi naskah, sekaligus menyiapkan digitalisasi agar dapat diakses masyarakat tanpa merusak dokumen aslinya.

    “Kami juga segera mengusulkan naskah ini ke tingkat nasional agar dapat memperoleh Sertifikat Naskah Kuno dari instansi berwenang di Jakarta. Langkah ini penting untuk memastikan perlindungan jangka panjang terhadap naskah bersejarah ini,” tambahnya.

    Penyerahan naskah dilakukan oleh Afu Anwar, seorang penghulu di KUA Kecamatan Teweh Tengah. Menurut Fakhri, langkah ini mencerminkan sinergi antara tokoh masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga warisan literasi Islam di Kalimantan Tengah.

    Naskah Al-Qur’an tulisan tangan yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun tersebut akan dipamerkan pada ajang MTQH tingkat Provinsi Kalimantan Tengah di Muara Teweh pada November 2025, sekaligus dijadikan koleksi museum Kabupaten Barito Utara yang tengah direncanakan pendiriannya.

    Berdasarkan data hasil pertemuan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan se-Kalimantan Tengah tahun ini, Kabupaten Kotawaringin Barat saat ini tercatat memiliki koleksi naskah kuno terbanyak.

    Sementara Barito Utara terus berupaya memperkaya koleksinya, termasuk dua naskah lain yang tengah diajukan sertifikasi, yaitu naskah khutbah Hari Raya di Masjid Jami Abdurrahim dan surat permohonan pendirian rumah dari masa kolonial Belanda.

    Dengan bertambahnya koleksi Al-Qur’an tulisan tangan karya Muhammad Tasin, Dissiptaka berharap kesadaran masyarakat terhadap pelestarian warisan sejarah dan literasi keagamaan lokal semakin meningkat, terutama di kalangan generasi muda Barito Utara.

    Source: Antara

  • Tingkatkan Literasi, DAPD Buleleng Perluas Jangkauan Layanan Perpustakaan Keliling

    Tingkatkan Literasi, DAPD Buleleng Perluas Jangkauan Layanan Perpustakaan Keliling

    Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Kabupaten Buleleng terus melakukan berbagai inovasi untuk memperluas akses literasi masyarakat melalui program “Lan Eling” (Layanan Perpustakaan Keliling).

    Program ini menjadi upaya nyata menghadirkan bahan bacaan yang mudah dijangkau oleh masyarakat, terutama di wilayah pelosok, guna menumbuhkan minat baca di semua lapisan.

    Kepala DAPD Buleleng, Made Era Oktarini, menjelaskan bahwa Lan Eling merupakan bentuk layanan jemput bola, di mana petugas perpustakaan mendatangi langsung sekolah, desa, dan kecamatan yang jauh dari perpustakaan daerah.

    “Tidak semua masyarakat memiliki waktu dan akses datang ke perpustakaan daerah. Karena itu, kami yang mendatangi mereka. Dengan layanan keliling ini, buku-buku hadir di tengah masyarakat,” jelasnya.

    Saat ini, DAPD Buleleng mengoperasikan dua unit mobil dan satu sepeda motor layanan keliling, dengan kendaraan roda dua merupakan hibah dari Perpustakaan Nasional tahun 2025.

    Koleksi yang dibawa mencapai lebih dari 21 ribu eksemplar buku, ditambah 500 buku baru hasil hibah tersebut.

    Layanan ini beroperasi secara bergilir ke seluruh wilayah Buleleng, mulai dari Tejakula hingga Gerokgak, dengan prioritas utama sekolah dasar dan desa terpencil.

    “Kami menyusun jadwal rutin agar semua wilayah mendapatkan giliran. Untuk anak-anak TK dan PAUD di Kecamatan Buleleng, kami bekerja sama dengan Dinas Perhubungan dan Undiksha untuk program antar-jemput menggunakan bus sekolah,” tambahnya.

    Kegiatan perpustakaan keliling ini tidak hanya mengenalkan anak-anak pada buku sejak dini, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

    Bahkan, banyak siswa TK yang berkunjung ke Perpustakaan Bung Karno enggan pulang karena antusias mengikuti kegiatan belajar sambil bermain.

    Program Lan Eling juga sejalan dengan konsep transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, di mana aktivitas membaca dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

    Salah satu contohnya adalah kelompok Laklak Kelor, yang berhasil mengintegrasikan literasi dengan pemberdayaan ekonomi lokal dan menjadi nominasi nasional dalam bidang tersebut.

    Selain itu, DAPD Buleleng terus mendorong percepatan akreditasi perpustakaan desa dan sekolah agar layanan baca semakin berkualitas.