Kategori: Berita

  • Pecel Mbak Tutik, Legenda Kuliner Rogojampi yang Tetap Eksis Tanpa Promosi Digital

    Pecel Mbak Tutik, Legenda Kuliner Rogojampi yang Tetap Eksis Tanpa Promosi Digital

    Bagi warga Rogojampi dan sekitarnya, siapa yang tak kenal dengan warung Pecel Mbak Tutik yang melegenda?

    Setiap pagi mulai pukul 05.30 WIB, warung sederhana di barat pertigaan Pasar Rogojampi ini selalu ramai dipadati pelanggan yang ingin menikmati sarapan nasi pecel khas racikan Mbak Tutik.

    Selama lebih dari 40 tahun, nasi pecel ini menjadi menu favorit masyarakat sekitar.

    Setiap harinya, tak kurang dari 20 kilogram beras dimasak untuk memenuhi permintaan pelanggan yang datang silih berganti, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja kantoran, hingga pedagang yang tak pernah absen sarapan di sana.

    Warung Pecel Mbok Tutik Rogojampi

    Cita rasa pecelnya yang khas menjadi daya tarik utama. Nasi hangat disajikan dengan sambal pecel yang gurih pedas, kuah sayur segar, rempeyek renyah, serta lauk pendamping seperti telur ceplok, telur asin, dendeng ikan, dan kerupuk.

    Hidangan ini semakin nikmat ditemani segelas teh hangat atau temulawak yang menambah suasana hangat di pagi hari.

    Rudi, seorang pedagang yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi pelanggan setia, mengaku banyak warung pecel di sekitar Rogojampi, namun tak ada yang mampu menandingi cita rasa nasi pecel Mbak Tutik. Ia bahkan menyebut, “sudah terlanjur jatuh hati dan tidak ingin pindah ke lain hati.”

    Selain nasi pecel, warung ini juga menawarkan aneka jajanan tradisional seperti lumpia, risoles, pisang goreng, donat salju, kue lapis, dan berbagai kue lain yang menggugah selera.

    Suasana hangat dan pelayanan ramah khas Mbak Tutik membuat pelanggan merasa seperti sedang sarapan di rumah sendiri.

    Menariknya, warung Pecel Mbak Tutik tetap eksis meski tanpa promosi digital. Semua pelanggan datang berkat rekomendasi dari mulut ke mulut atau tutur tinular.

    Mbak Tutik meyakini, kunci keberhasilan usahanya terletak pada ketulusan melayani dan menjaga keaslian rasa.

    Prinsip inilah yang membuat warungnya bertahan puluhan tahun dan tetap menjadi salah satu UMKM kebanggaan Rogojampi, sederhana, hangat, dan selalu dirindukan.

  • TUGU SAJUTA, Gerakan Literasi Membangun Budaya Membaca di SDN 3 Siliragung

    TUGU SAJUTA, Gerakan Literasi Membangun Budaya Membaca di SDN 3 Siliragung

    Di era digital, ketika gawai lebih menarik daripada buku, SD Negeri 3 Siliragung menemukan cara unik untuk menghidupkan kembali semangat membaca di kalangan siswanya.

    Lewat program TUGU SAJUTA (Satu Minggu Satu Judul Cerita), sekolah ini menyalakan kembali api literasi yang sempat meredup pascapandemi.

    Program TUGU SAJUTA lahir dari keprihatinan akan rendahnya nilai literasi dalam Rapor Pendidikan sekolah.

    Kepala SD Negeri 3 Siliragung, Nanik Ermawati, S.Pd.Gr , menuturkan bahwa ide ini berangkat dari kebutuhan sederhana, yaitu mengembalikan minat baca anak-anak yang kian menurun.

    SD Negeri 3 Siliragung

    “Program TuGu SaJuTa ini memang sangat bagus untuk sekolah kami yang sedang membenahi nilai literasi di dalam Rapor Pendidikan. Dengan program ini sangat membantu Bapak dan Ibu guru untuk lebih fokus dalam mendampingi anak-anak membaca, terlebih ada kolaborasi langsung dari wali murid yang sudah terjadwal setiap harinya. Sehingga ketika ada ruang perlombaan kami sudah memiliki aset baik yaitu siswa berbakat ini untuk mengeksplornya. Dan alhamdulillah hasil dari pendampingan ini membuahkan juara 2 kategori bercerita tingkat Kecamatan,” jelasnya.

    Melalui TUGU SAJUTA, siswa diajak membaca minimal satu cerita setiap minggu. Setelah itu, mereka bisa menuliskan kembali kisah yang telah dibaca, menggambarkannya, atau bercerita secara langsung di depan guru dan teman-temannya.

    Hasil karya mereka kemudian dipajang di Mading TUGU SAJUTA atau diunggah ke media sosial sekolah, menjadikan literasi sebagai aktivitas yang hidup dan menarik.

    Program ini juga merupakan pengembangan dari inovasi sebelumnya, MEKAR MERATA (Meningkatkan Kreativitas Siswa Melalui Literasi Digital), yang fokus pada penguatan fasilitas literasi di tiap kelas.

    Kini, TUGU SAJUTA melangkah lebih jauh dengan menghadirkan budaya membaca yang menyenangkan dan partisipatif.

    Yang membuatnya semakin istimewa adalah kolaborasi aktif dengan wali murid. Setiap kelas memiliki jadwal khusus pendampingan membaca bersama orang tua.

    Mereka tidak hanya membantu anak memahami isi bacaan, tetapi juga turut menjadi narasumber kecil atau motivator.

    Kolaborasi ini mempererat hubungan antara guru, siswa, dan orang tua, sekaligus memperkuat ekosistem literasi di sekolah.

    Literasi SD Negeri 3 Siliragung

    Dari kegiatan yang awalnya sederhana ini, lahirlah berbagai manfaat nyata. Anak-anak menjadi lebih percaya diri saat tampil bercerita, lebih fokus, dan terlatih berpikir kritis.

    Guru pun lebih mudah mengenali potensi literasi siswanya. Sementara bagi orang tua, keterlibatan langsung ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap proses pendidikan anak.

    Kini, setiap pekan di SD Negeri 3 Siliragung selalu ada cerita baru yang lahir dari tangan dan imajinasi siswa.

    TUGU SAJUTA bukan sekadar program membaca, tapi gerakan yang menumbuhkan karakter, membangun kolaborasi, dan menghidupkan kembali budaya literasi di sekolah.

    Dari satu cerita setiap minggu, lahir seribu inspirasi bagi masa depan yang lebih cerdas dan berdaya.

  • PORSMA XI Segera Digelar di Sidoarjo, 1.200 Atlet Kesehatan Muhammadiyah Siap Berlaga

    PORSMA XI Segera Digelar di Sidoarjo, 1.200 Atlet Kesehatan Muhammadiyah Siap Berlaga

    Ribuan calon atlet dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSM/A) se-Jawa Timur tengah bersiap mengikuti Pekan Olahraga Rumah Sakit Muhammadiyah Aisyiyah (PORSMA) ke-XI yang akan digelar di GOR Sidoarjo pada 8 November 2025.

    Ajang dua tahunan yang menjadi pesta olahraga bagi karyawan kesehatan Muhammadiyah ini mengusung tema “Harmony in Motion, Energy in Action.”

    Sebanyak 30 kontingen RSM/A dipastikan ambil bagian dalam PORSMA kali ini, dengan total 1.200 atlet yang telah lolos verifikasi administratif dan dinyatakan sah sebagai peserta.

    Tahun ini, RS Siti Fatimah Tulangan dan RS Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara kegiatan akbar tersebut.

    Menjelang pelaksanaan, Technical Meeting (TM) PORSMA ke-XI digelar di Aula KH Ahmad Dahlan RS Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang, Selasa (28/10).

    Technical Meeting PORSMA ke-XI

    Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, dilanjutkan sambutan dari Ketua Official Komite Nia Arizona, SKM, serta dr. Yahya, Sp.P, Direktur Mutu SDI dan AIK AUMKES PCM Sepanjang, selaku tuan rumah TM.

    Turut hadir M. Taufik Aini, S.Kep., Ners., Ketua Ikatan Karyawan Kesehatan Muhammadiyah (IKKM) Wilayah Jawa Timur yang juga memberikan sambutan dan arahan bagi seluruh peserta.

    Dalam pesannya, Taufik menekankan pentingnya menjunjung tinggi semangat fair play, persaudaraan, dan kebersamaan selama pertandingan.

    “Kita hadir bukan sekadar berlomba, tapi mempererat tali silaturahim dan membangun sinergi positif bagi keluarga besar Ikatan Karyawan Kesehatan Muhammadiyah se-Jawa Timur,” ujar Taufik.

    Acara TM berlangsung hangat dan penuh rasa kekeluargaan. Momen ini juga dimeriahkan dengan peluncuran maskot resmi PORSMA XI, “SIDORI” dan “SIGOGO,” yang menjadi simbol semangat sportivitas dan kebersamaan seluruh peserta.

    Adapun cabang olahraga yang akan dipertandingkan meliputi:

    1. Bola voli (putra dan putri)

    2. Futsal (putra dan putri)

    3. Tenis meja (putra dan putri)

    4. Bulu tangkis (putra dan putri)

    5. Catur (putra dan putri)

    Seluruh cabang olahraga tersebut akan digelar di berbagai venue di Kabupaten Sidoarjo, seperti GOR Delta Sidoarjo, Jenggolo Elektrik Tanggulangin, Futsal Puri Indah Sukodono, Tiza Sport, dan Delta Tirta Sido Kumpul Sidoarjo.

    Pelaksanaan akan berlangsung sepanjang hari penuh (full day), dimulai sejak pukul 05.00 WIB untuk registrasi, kemudian dilanjutkan dengan upacara pembukaan dan pertandingan antar cabang olahraga.

    Nia Arizona

    Sementara itu, Ketua Official Komite Nia Arizona, SKM menjelaskan bahwa PORSMA tahun ini menjadi ajang paling semarak sepanjang sejarah penyelenggaraannya.

    “Peserta meningkat menjadi 1.200 atlet dari 30 rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Jawa Timur. Ini bukti komitmen luar biasa dari semua pihak untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kompetisi bergengsi bagi keluarga besar IKKM,” ungkap Nia.

    Selain menyiapkan trofi untuk juara I, II, dan III bersama, panitia juga menyediakan uang pembinaan serta piala juara umum bergilir bagi kontingen terbaik.

    Untuk menjamin profesionalitas pertandingan, sejumlah wasit berlisensi dari KONI Sidoarjo turut dihadirkan dalam setiap cabang olahraga.

    “Kami ingin PORSMA menjadi ajang yang tidak hanya kompetitif, tapi juga mempererat rasa persaudaraan. Bermainlah dengan fair, junjung sportivitas, dan kedepankan silaturahim di atas kemenangan,” pesan Nia.

    Sementara itu, Edi Suwito, S.Kep., Ners., selaku Steering Committee bidang Kesenian dan Olahraga IKKM Wilayah Jawa Timur, menambahkan bahwa PORSMA tidak hanya tentang prestasi, tetapi juga kesehatan dan kebersamaan.

    Edi Suwito, S.Kep.,Ners

    “Menang atau kalah kita tetap bersaudara. PORSMA adalah ajang untuk memasyarakatkan olahraga, mens sana in corpore sano. Dengan tubuh yang sehat, kita dapat memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat,” ujar Edi.

    Dari ujung timur Pulau Jawa, semangat juga datang dari kontingen RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Banyuwangi.

    Perwakilannya, Patria Hariyadi, S.Kep., Ners., menyampaikan optimisme tinggi menjelang pelaksanaan PORSMA XI. Ia menegaskan bahwa timnya siap bertanding dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas dan kebersamaan.

    Bagi Patria, kemenangan sejati tidak semata diukur dari raihan piala, melainkan dari kemampuan menjaga tali silaturahim, menumbuhkan kesantunan, serta memelihara semangat kebersamaan yang terus berkobar di hati seluruh keluarga besar IKKM Jawa Timur

    Dengan semangat “Harmony in Motion, Energy in Action,” PORSMA XI diharapkan menjadi ajang pemersatu seluruh karyawan kesehatan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Jawa Timur, memperkuat budaya hidup sehat, serta meneguhkan nilai-nilai sportivitas dan kebersamaan di lingkungan AUM Kesehatan.

  • Program Go Pro Wangi Libatkan Difabelpreneur, Perkuat UMKM Banyuwangi

    Program Go Pro Wangi Libatkan Difabelpreneur, Perkuat UMKM Banyuwangi

    Kehidupan inklusif di Banyuwangi semakin terasa dalam berbagai bidang, termasuk UMKM.

    Selaras dengan program Bupati Banyuwangi, UMKM Naik Kelas sejak tahun 2021, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskompumdag) Kabupaten Banyuwangi telah meluncurkan program Go Pro Wangi (Gerobak Promosi Banyuwangi) sebagai salah satu inovasi dalam memperluas akses pemasaran produk pelaku UMKM, termasuk pelaku usaha difabel yang mereka sebut difabelpreneur.

    Kepala Diskompumdag Banyuwangi, Hj. RR. Nanin Oktaviantie, menjelaskan bahwa Go Pro Wangi memberi kesempatan UMKM tampil di berbagai ajang besar daerah seperti Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Pasar Rakyat, hingga Car Free Day.

    “Setiap pelaku UMKM mendapat jatah tampil dua hingga tiga kali dalam satu siklus kegiatan, sehingga semua memiliki kesempatan yang seimbang untuk memperkenalkan produk mereka,” ujar Nanin.

    Diskompumdag Banyuwangi juga menyediakan gerobak dan stan dengan desain menarik serta ramah akses, sementara pelaku UMKM bertanggung jawab membawa produk dan memastikan kemasan yang layak jual.

    Menurut Nanin, keterlibatan pelaku usaha difabel mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam membangun ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

    Selain ruang promosi, pelaku UMKM difabel juga mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas promosi, penguatan branding, serta perluasan jejaring usaha.

    Apresiasi terhadap program ini datang dari Nurhadi Windoyo, Ketua Aura Lentera sekaligus pembina komunitas UMKM Sahabat.

    Windoyo Ketua Aura Lentera
    Windoyo Ketua Aura Lentera (Dok. sastrawacana.id/)

    Ia menilai Go Pro Wangi menjadi wadah penting bagi pelaku usaha difabel untuk belajar menghadapi pasar nyata.

    "Program ini sangat bermanfaat untuk sahabat-sahabat kami Diffabel pelaku UMKM. Selain memberikan peluang pasar juga menjadi wahana belajar bagi kami menghadapi pasar yang nyata. Selain itu, kesempatan bagi kami untuk sosialisasi dan promosi bahwa kami juga mampu menjalankan usaha, ada produk yang kami hasilkan," kata Windoyo saat ditemui di ajang Kejurprov Voli Jawa Timur 2025 di GOR Tawangalun.

    Saat ini banyak penyandang disabilitas tergabung dalam kelompok UMKM seperti Sahabat dan Mekarwangi.

    Meski begitu, tantangan mobilitas dan pemasaran masih menjadi kendala utama.

    Windoyo berharap pemerintah terus memberikan pendampingan dan pembinaan terpadu agar pelaku difabel bisa tumbuh menjadi difabelpreneur yang unggul.

    Go Pro Wangi

    Dalam ajang Kejurprov Voli Jatim 2025, UMKM Sahabat menampilkan beragam produk, antara lain telur asin hasil karya siswa SLBN Banyuwangi, kue Klemben produksi Mahmud Hasyim (Ketua INAF Persawangi), serta kopi As Syifa milik Nurul Imam (Ketua UMKM Sahabat).

    Melalui Go Pro Wangi, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Banyuwangi berupaya memperluas jangkauan pemasaran produk lokal, memperkuat citra dan daya saing UMKM, serta membuka peluang menuju pasar nasional hingga global.

    “Dengan semangat kolaboratif dan inklusif, Go Pro Wangi menjadi bukti nyata bahwa setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan mengharumkan nama Banyuwangi,” pungkas Nanin.

  • Inspiratif, MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember Luncurkan Mobil Literasi dan Gelar LKBB

    Inspiratif, MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember Luncurkan Mobil Literasi dan Gelar LKBB

    MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember menggelar kegiatan peluncuran Mobil Literasi dan pembukaan Lomba Kreativitas Baris Berbaris (LKBB) di halaman asrama putri Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Senin (27/10/2025).

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 1447 H.

    Acara diawali dengan penampilan nasyid Firqatul Insyad Az Zahra yang membawakan mahallul qiyam, dilanjutkan pembacaan orasi ilmiah salah satu pengasuh, Ustaz Jamaluddin.

    Dalam paparannya, Ustaz Jamaluddin menekankan pentingnya budaya literasi di lingkungan pesantren sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam.

    “Literasi adalah cahaya yang menerangi jalan panjang kehidupan, dari huruf menuju hikmah,” ujarnya.

    Peluncuran Mobil Literasi dan pembukaan LKBB secara resmi dilakukan oleh KH. Yazid Karimullah.

    Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa gerakan literasi merupakan bagian dari semangat Iqra’ warabbuka al-akram; bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.

    “Inilah bagian dari sunnatullah dalam menegakkan ilmu dan adab,” tuturnya.

    KH. Yazid Karimullahjuga berpesan agar para santri terus menumbuhkan semangat belajar dan berprestasi di berbagai bidang.

    “Jadilah pemuda yang kakinya menapaki bumi, namun cita-citanya setinggi bintang di langit,” pesannya.

    Dalam kesempatan tersebut, KH. Yazid Karimullah menegaskan pentingnya sinergi antarunit pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Qarnain, khususnya antara MA Nurul Qarnain dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain.

    Ia juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat lembaga tersebut akan bertransformasi menjadi Institut KH. Yazid Karimullah (INSYAKA).

    Peluncuran Mobil Literasi ini diharapkan dapat memperkuat budaya membaca dan menulis di lingkungan pesantren serta menjadi sarana pembinaan literasi bagi para santri.

  • Penyair Serumpun Asia Tenggara Temu Karya di Jember, Bahas Trauma dan Imajinasi Kebebasan

    Penyair Serumpun Asia Tenggara Temu Karya di Jember, Bahas Trauma dan Imajinasi Kebebasan

    Para penyair dari berbagai negara Asia Tenggara berkumpul di Jember dalam ajang Temu Karya Serumpun 2025 yang digelar di Seger Nusantara, Pakusari Jember pada 25–26 Oktober 2025.

    Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan antara sastrawan Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Timor Leste.

    Acara dibuka dengan Dialog Sastra Penyair Serumpun yang menghadirkan tokoh-tokoh sastra lintas negara.

    Dalam diskusi itu, penyair asal Pattani, Thailand, Abas Salae, menyoroti pentingnya peran bahasa dan sastra dalam menjaga persaudaraan di kawasan Asia Tenggara.

    Ia menilai, kesamaan sejarah dan latar budaya menjadi fondasi yang mempererat hubungan antarpenyair serumpun.

    Sementara itu, penyair dari Riau, Muhammad Asqalani E, turut berbagi pengalaman tentang bagaimana trauma masa lalu membentuk dirinya dalam menulis puisi.

    Ia menganggap pengalaman emosional dapat menjadi sumber inspirasi yang memperkaya makna karya sastra.

    Pandangan itu mendapat penguatan dari sejumlah tokoh lain seperti Rakmat Faisal dari Universitas Negeri Surabaya, Nurul Ludfiah dari Banyuwangi, Faidi Rizal Alief dari Sumenep, Muhammad Lefand dari komunitas Sastra Timur Jawa, dan Yogira Yogaswara dari Ciwedey, Jawa Barat. Diskusi tersebut dipandu oleh Fitri Nura Murti, dosen FKIP Universitas Jember.

    Sastrawan Tengsoe menambahkan bahwa dialog lintas negara semacam ini bukan sekadar ajang pertemuan para penyair, tetapi juga menjadi wadah refleksi bersama tentang kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara.

    Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut agar puisi tetap menjadi jembatan lintas budaya dan bahasa.

    Pada hari kedua, kegiatan berlanjut dengan Peluncuran dan Bedah Buku bertema “Semesta Ingatan: Trauma dan Imajinasi Kebebasan.”

    Dalam sesi tersebut, Prof. Taufiq menilai tema itu mencerminkan perjalanan batin manusia dalam menghadapi luka sejarah serta menemukan makna kebebasan melalui sastra. Ia juga menyebut bahwa ingatan kolektif menjadi sumber penting dalam proses penciptaan karya.

    Pandangan lain datang dari Acep Zamzam Noor, yang berpendapat bahwa trauma tidak selalu membawa dampak negatif, melainkan bisa menjadi kekuatan yang melahirkan karya sastra dengan kedalaman makna.

    Adziah Abd Aziz, penulis asal Malaysia, mengingatkan bahwa kebebasan berimajinasi harus disertai tanggung jawab moral agar tidak mengganggu ruang kreatif penulis lain.

    Sesi ditutup oleh Mashuri yang menegaskan pentingnya ketepatan berbahasa dalam dunia puisi. Ia menilai keindahan sebuah karya lahir dari disiplin berbahasa yang tinggi, sehingga kesalahan kecil pun bisa memengaruhi kekuatan puisi.

  • Mojoer Media, Jurnalis SMK Models Siliragung Jadi Penggerak Literasi di Bulan Bahasa 2025

    Mojoer Media, Jurnalis SMK Models Siliragung Jadi Penggerak Literasi di Bulan Bahasa 2025

    SMK Muhammadiyah 8 Siliragung kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi di kalangan pelajar melalui kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra” pada Minggu, (26/10).

    Tak hanya sukses sebagai pelaksana acara, Ekskul Models Jurnalisme Mojoer Media yang dibina oleh Cici Arista Devi ini juga tampil sebagai motor penggerak di balik suksesnya kegiatan ini.

    Rangkaian acara yang digelar di ballroom ED Hotel SMK Model Siliragung ini meliputi Lomba Baca Puisi, Lomba Bercerita, dan Workshop Pentigraf yang diikuti oleh ratusan peserta SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi.

    Di balik kemeriahan tersebut, para jurnalis muda SMK Models menjadi tim dokumentasi, peliput, dan redaksi yang menyiarkan jalannya kegiatan secara profesional.

    Dipimpin oleh Rhifan Ahmad Aki Pansurna selaku Pimpinan Redaksi Mojoer Media, para jurnalis muda ini menjalankan peran layaknya awak media sesungguhnya, mulai dari melakukan wawancara, menulis berita, hingga mengelola konten publikasi sekolah.

    “Menjadi jurnalis di SMK Models bukan hanya soal menulis berita, tapi juga belajar menyampaikan pesan secara utuh. Ibarat melihat gajah, kita tidak hanya melihat ekornya, tetapi keseluruhan bentuknya,” ujar Rhifan dalam wawancara di sela kegiatan Bulan Bahasa.

    Workshop Pentigraf SMK Models
    Workshop Pentigraf SMK Models Siliragung (Dok. sastrawacana.id/)

    Menurutnya, jurnalistik di sekolah menjadi ruang pembelajaran yang menantang sekaligus menyenangkan.

    Para siswa tidak hanya dilatih berpikir kritis dan menulis, tetapi juga berani berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami proses informasi secara mendalam.

    “Dulu kami hanya menulis untuk tugas sekolah. Tapi lewat Mojoer Media, kami belajar menulis untuk publik, untuk sekolah, bahkan untuk masyarakat. Itu pengalaman yang luar biasa,” tambahnya.

    Rhifan juga mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar bagi generasi muda saat ini adalah menumbuhkan kebiasaan literasi di tengah dominasi media digital.

    “Banyak teman yang terbiasa menghabiskan waktu dengan konten singkat. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan dunia digital sebagai ruang belajar dan menulis yang produktif,” jelasnya.

    Meski begitu, semangat tim Mojoer Media tidak surut. Mereka justru memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan berita kegiatan sekolah, promosi program, hingga publikasi karya siswa.

    Kini, Mojoer Media telah menerbitkan berbagai artikel, liputan kegiatan, dan bahkan buku antologi hasil karya tim jurnalistik.

    Mojoer Media

    “Teman-teman jurnalis kami sudah berani menulis buku. Itu langkah besar. Artinya, literasi di SMK Models sudah bergerak dari ruang kelas menuju ruang publik,” tutur Rhifan dengan bangga.

    Tak berhenti di situ, Rhifan menyebut bahwa ke depan Mojoer Media akan memperluas jangkauan liputan dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai media literasi di Banyuwangi.

    Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Muhlas Efendi, S.T., memberikan apresiasi tinggi terhadap kiprah Mojoer Media.

    “Anak-anak jurnalistik kami adalah wajah sekolah. Mereka tidak hanya meliput, tapi juga membangun citra positif lembaga. Melalui tulisan dan karya mereka, SMK Models dikenal luas sebagai sekolah yang literat dan kreatif,” tandasnya.

    Sementara itu, Maulana Affandi, S.S., selaku Pemimpin Redaksi media literasi sastrawacana.id/, turut memberikan apresiasi tinggi kepada tim Jurnalis SMK Models Mojoer Media atas kiprahnya dalam menghidupkan budaya menulis di lingkungan sekolah.

    Menurutnya, semangat dan profesionalitas para jurnalis muda SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menjadi bukti nyata bahwa literasi tidak lagi sekadar slogan, tetapi telah tumbuh menjadi gerakan yang berakar kuat di kalangan pelajar.

    “Saya melihat teman-teman Mojoer Media bekerja dengan etos seorang jurnalis sejati. Mereka meliput, menulis, dan mempublikasikan berita dengan tanggung jawab serta semangat belajar yang luar biasa. Semua ini tentu tidak lepas dari dukungan kepala sekolah dan para guru yang mendampingi,” ujarnya. (Heri Iskandar)

  • Workshop Pentigraf Warnai Semarak Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Workshop Pentigraf Warnai Semarak Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa 2025, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menggelar kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra.”

    Rangkaian kegiatan ini mencakup Lomba Baca Puisi, Lomba Bercerita, dan Workshop Pentigraf yang digelar di Ballroom ED Hotel SMK Models Siliragung.

    Salah satu kegiatan yang menarik perhatian peserta adalah Workshop Pentigraf yang menghadirkan narasumber Maulana Affandi, S.S., Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang Banyuwangi sekaligus penulis buku.

    Workshop Pentigraf SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

    Kegiatan ini diikuti oleh total 60 peserta, yang terdiri atas 13 peserta dari sekolah eksternal (SMP dan SMA), 21 jurnalis SMK Models, serta 26 peserta dari intra dan ekstrakurikuler sekolah.

    Dipandu oleh moderator Ananda Ayu, suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta dengan semangat tinggi mengikuti setiap sesi yang disampaikan pemateri.

    Dalam paparannya, Affandi tidak hanya membahas teori seputar penulisan pentigraf (cerita pendek tiga paragraf), tetapi juga mengajak peserta memahami makna literasi secara lebih luas.

    Ia membagikan trik sederhana agar peserta lebih mudah menulis, yakni dengan memulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    “Menulis pentigraf tidak harus dimulai dari inspirasi besar. Justru ide terbaik bisa lahir dari benda, pengalaman pribadi, atau emosi yang kita rasakan,” ungkapnya.

    Ia kemudian memperkenalkan formula menulis pentigraf melalui tiga elemen dasar, yaitu benda, emosi, dan tempat.

    Dengan menentukan ketiga unsur tersebut, penulis sudah memiliki kerangka cerita yang siap dikembangkan menjadi karya utuh.

    Workshop Pentigraf

    Untuk menambah semangat, Affandi memberikan tantangan spontan kepada beberapa peserta untuk membaca karya pentigraf dan puisi di depan forum. Peserta yang berani tampil mendapat hadiah buku terbitan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Memasuki pertengahan sesi, peserta langsung diberi waktu praktik menulis pentigraf.

    Dalam waktu kurang dari 30 menit, sebagian besar peserta berhasil menuntaskan karya mereka dengan mengikuti trik yang baru saja dipelajari. Suasana ruangan pun dipenuhi antusiasme dan rasa ingin tahu.

    Di akhir sesi, Affandi mengajak peserta melakukan refleksi. Salah satu peserta dari tim Jurnalis SMK Models, Aurelia Clarista menyampaikan kesannya bahwa setelah mengikuti kegiatan ini, ia merasa lebih percaya diri dan mampu menulis pentigraf dengan mudah.

    “Sebelumnya saya merasa kebingungan dalam menentukan ide pentigraf, setelah mendengar pemaparan dari Kak Affandi, ternyata ada trik menulis pentigraf jadi tidak butuh waktu lama,” ujarnya.

    Sebelum workshop ditutup, moderator membuka sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam kesempatan itu, Affandi berpesan kepada seluruh peserta, khususnya para jurnalis muda, untuk tidak minder dalam berkarya.

    Workshop Pentigraf di SMK Models Siliragung

    “Tidak ada karya yang buruk. Semua karya itu baik, jadi jangan pernah malu dengan karya kita sendiri,” pesannya.

    Ia juga berbagi pengalaman pribadinya sebagai jurnalis dan penulis, mendorong peserta untuk terus berkarya dan menjadikan tulisan sebagai sarana menebar manfaat.

    “Menulis itu bukan sekadar hobi, tapi jalan untuk memahami diri dan dunia. Dari satu tulisan kecil, bisa lahir perubahan besar,” ujarnya menutup sesi dengan tepuk tangan meriah dari peserta.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Bulan Bahasa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung yang bekerja sama dengan KOPIWANGI, Sastrawacana, dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

  • Semarak Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Gelar Lomba Literasi dan Workshop Pentigraf

    Semarak Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Gelar Lomba Literasi dan Workshop Pentigraf

    Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menggelar Lomba Baca Puisi dan Bercerita tingkat SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi pada Minggu (26/10).

    Kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra” ini berlangsung meriah di ballroom ED Hotel SMK Models Siliragung.

    Sejak pagi, ratusan peserta bersama guru dan orang tua memenuhi ruangan dengan antusiasme tinggi.

    Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai pembukaan lomba sekaligus pelaksanaan Workshop Pentigraf yang diikuti pelajar dari jenjang SMP hingga SMA sederajat.

    Dari jenjang SD/MI hingga SMP di wilayah Siliragung dan sekitarnya, antusiasme peserta menjadi bukti nyata bahwa dunia literasi kini semakin dekat dan digemari.

    Untuk lomba baca puisi, kategori A diikuti oleh 20 peserta dan kategori B diikuti 50 peserta. Sementara lomba bercerita diikuti oleh 43 peserta.

    Dewan juri terdiri dari tokoh dan praktisi sastra, antara lain Andi BS (Ketua KOPIWANGI), Andi Sep Kurniawan (Penulis Cerita Dwi Bahasa Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur), Meilysa Ajeng Kartika (Dosen dan Penulis), Heri Iskandar (Sastrawan Using dan Konten Kreator), Efa ET (penulis), serta Indriana Laili (jurnalis dari sastrawacana.id/).

    Adapun Workshop Pentigraf diikuti 60 peserta dari kalangan pelajar SMP dan SMA. Narasumber utama, Maulana Affandi, S.S., selaku Pemimpin Redaksi Sastrawacana dan Penerbit Lintang Banyuwangi, membagikan pengalaman menulis cerita tiga paragraf dengan pendekatan kreatif dan inspiratif.

    Suasana semarak literasi di ballroom ED Hotel SMK Muhammadiyah 8 Siliragung makin terasa hangat saat acara dibuka dengan sambutan dari Ketua KOPIWANGI, Andi Budi Setiawan.

    Andi Budi Setiawan

    Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada pihak sekolah yang telah menghadirkan kegiatan literasi yang kreatif dan inspiratif.

    “Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Kepala SMK Models Siliragung yang telah mengadakan event literasi yang begitu hebat. Tidak semua lembaga pendidikan mampu menghadirkan kegiatan sebesar dan seindah ini,” ungkap Andi penuh semangat.

    Ia juga berpesan kepada peserta untuk menjadikan lomba sebagai ruang kebahagiaan, bukan sekadar kompetisi.

    “Menang atau kalah itu biasa. Yang penting, tampil dengan hati senang dan sepenuh hati karena dari situlah semangat literasi sejati lahir,” tambahnya.

    Sementara itu, Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Muhlas Efendi, S.T., menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi jembatan untuk memperluas wawasan dan memperhalus budaya.

    “Bahasa bukan sekadar retorika, melainkan sarana memahami kehidupan dan menebar kebaikan,” tuturnya.

    Muhlas juga menyoroti pentingnya kegiatan literasi di sekolah, khususnya melalui ekstrakurikuler jurnalistik yang aktif membina siswa SMP di wilayah Siliragung.

    “Anak-anak jurnalistik kami turun langsung ke sekolah-sekolah menengah untuk berbagi ilmu menulis berita. Ini bentuk nyata bahwa literasi dapat menjadi amal ibadah yang luas manfaatnya,” ujarnya.

    Dalam sambutannya, ia sempat bernostalgia tentang masa mudanya sebagai pimpinan redaksi media kampus.

    Pengalaman itu menurutnya menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana menulis dan berpikir kritis dapat membentuk karakter dan kepekaan sosial.

    Lomba Baca Puisi SMK Models Siliragung

    Setelah sambutan dan pembukaan resmi oleh Kepala Sekolah, para peserta diarahkan menuju ruang lomba masing-masing. Sementara itu, peserta Workshop Pentigraf tetap di ballroom untuk mengikuti sesi pelatihan intensif.

    Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi SMK Muhammadiyah 8 Siliragung dengan KOPIWANGI, Sastrawacana, dan Penerbit Lintang Banyuwangi.

    Kesuksesan acara juga tak lepas dari kerja keras Tim Panitia Ekskul Models Jurnalisme di bawah koordinasi Cici Arista Devi, selaku tenaga pendidik sekaligus pembina dari tim jurnalis di  SMK Models Siliragung. (Andi BS)

  • SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi Gelar Leadership Camp, Tanamkan Jiwa Kepemimpinan dan Karakter Siswa

    SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi Gelar Leadership Camp, Tanamkan Jiwa Kepemimpinan dan Karakter Siswa

    SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi menggelar Leadership Camp Muhlas 2025, sebuah kegiatan gabungan antara program pembentukan karakter siswa dan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) IPM, Jumat–Sabtu (24–25/10/2025).

    Agenda dua hari satu malam ini dilaksanakan di area alam Jeongmara Campuhan dan diikuti 90 siswa (kelas VII–IX) serta 13 guru pendamping, sehingga total peserta mencapai 103 orang.

    Kepala sekolah, Slamet Hidayat, S.Pd membuka kegiatan dengan menekankan pentingnya karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawab bagi siswa.

    Kepada jurnalis media sastrawacana.id/, Slamet berharap kegiatan ini memberi dampak langsung pada perilaku sehari-hari siswa di sekolah dan rumah.

    “Kami ingin program seperti ini membentuk siswa yang berdisiplin, bertanggung jawab, dan siap menjadi pemimpin yang berakhlaq,” katanya.

    Kegiatan Leadership Camp 2025 SMP Muhammadiyah 11 Rogojampi

    Kegiatan yang sedianya direncanakan pada awal tahun ajaran harus diundur karena kondisi cuaca pada Juli–September, sehingga baru dapat dilaksanakan pada akhir Oktober.

    Untuk efisiensi dan sinergi program, sekolah memutuskan menggabungkan agenda pembentukan karakter dengan pergantian pengurus IPM menjadi satu paket kegiatan, yakni Leadership Camp Muhlas 2025.

    Leadership Camp menghadirkan materi campuran, dimana teori, praktik lapangan, dan permainan edukatif dirancang untuk mengasah kepemimpinan, jiwa kebersamaan, dan ketahanan mental.

    Berbagai kegiatan digelar dalam agenda Leadership Camp Muhlas 2025, antara lain materi dasar-dasar kepemimpinan yang dipandu oleh Maulana Affandi, pelatihan keorganisasian dan tata kelola organisasi pelajar, serta pengembangan karakter dan penguatan mental bersama Heri Skandar.

    Selain itu, peserta juga mengikuti latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB), sosialisasi tentang kenakalan remaja dan dampaknya, serta berbagai permainan dan simulasi kepemimpinan yang dikemas secara interaktif di lapangan.

    Pelatihan disusun bergantian antara penyampaian materi, praktik kelompok, dan permainan edukatif sehingga suasana tetap dinamis.

    Leadership Camp 2025

    Salat Jumat menjadi salah satu momen kebersamaan yang dilakukan di lokasi dipimpin oleh H. Jarkoni sebagai imam.

    Kegiatan ini juga menjadi wadah serah terima serta pembekalan bagi pengurus IPM yang baru.

    Menurut penanggung jawab sekaligus ketua panitia kegiatan, Heri Pranoto, S.Sos, tujuan utama kegiatan ini adalah memberi pengalaman nyata bagi siswa untuk lebih mandiri dan kreatif sekaligus menyiapkan pengurus organisasi pelajar yang matang.

    “Kegiatan ini agar anak-anak betul-betul bisa lebih kreatif dan bisa mandiri, serta melatih kepemimpinan yang ada di sekolah maupun organisasi IPM Muhammadiyah,” ujar Heri Pranoto.

    Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan LDKS akan menjadi agenda tahunan yang dipusatkan pada pergantian pengurus IPM, dengan lokasi yang berganti-ganti setiap periode untuk memperkaya pengalaman peserta.

    Dukungan orang tua terhadap kegiatan ini terbilang positif. Beberapa orang tua menyatakan setuju anaknya ikut LDKS dengan harapan anak menjadi lebih mandiri dan berakhlak baik.

    Guru pendamping juga aktif mendampingi setiap kegiatan evaluasi dan permainan untuk memastikan aspek keselamatan dan pembelajaran berjalan sesuai rencana.

    Pihak sekolah berharap hasil Leadership Camp bukan hanya terbaca dari aspek keterampilan kepemimpinan, tetapi juga tercermin dalam perubahan sikap sehari-hari siswa agar lebih disiplin, mau bekerja sama, dan bertanggung jawab.

    Kepala sekolah Slamet menegaskan bahwa program serupa akan terus dikembangkan sebagai bagian dari kurikulum karakter sekolah.

    Kegiatan di Jeongmara Campuhan menjadi momentum penting bagi SMP Muhlas dalam meneguhkan komitmen pembentukan karakter. Melalui latihan kepemimpinan ini, diharapkan lahir generasi pelajar yang tangguh, disiplin, dan berakhlak mulia.