Kategori: Berita

  • Haul Ke-334 Tawang Alun, GENTA Perkuat Warisan Leluhur di Petilasan Rowo Bayu

    Haul Ke-334 Tawang Alun, GENTA Perkuat Warisan Leluhur di Petilasan Rowo Bayu

    Peringatan haul Tawang Alun ke-334 tidak hanya menjadi momentum mengenang sosok leluhur, tetapi juga mengajarkan bahwa selain kekuatan fisik, manusia harus memiliki kekuatan batin dan spiritual. Tawang Alun tidak hanya dikenang, tetapi juga diwarisi keberanian serta kebijaksanaannya.

    Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun menunjukkan dukungan terhadap pelestarian alam, kearifan lokal, situs budaya, dan identitas Banyuwangi yang juga termasuk bagian dari situs geopark dunia.

    Hal itu disampaikan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam suasana sakral di Samarwulu, tepi Waduk Rowo Bayu, Kecamatan Songgon, pada Kamis (18/09/25).

    Bupati menambahkan bahwa semangat konservasi Rowo Bayu harus dijaga sebagai rumah bersama yang menjadi energi spiritual bermartabat.

    Generasi Trah Tawang Alun (GENTA) Macan Putih Blambangan melalui tokohnya, Doni Osmond, SH, menegaskan memiliki tanggung jawab moral untuk mempererat silaturahmi sekaligus mewariskan budaya dan sejarah Blambangan yang luar biasa.

    “Peringatan haul ke-334 ini tepat dengan pepengetan tilarnipun Kanjeng Sinuwun Prabu Tawang Alun, Ratu Kerajaan Macan Putih, pada 18 September 1691 hingga 18 September 2025. Biasanya acara digelar sederhana hanya bersama inti trah. Namun kali ini menggunakan protokoler dan prototype model, dimulai pra-acara dengan mohon restu ke eyang di titik sumber, membawa Panji Sonangkara yang dipimpin Mbah Made Widagdo, hingga dilanjutkan ke panggung utama. Ini akan menjadi pegangan saat haul ke-335 nanti, yang direncanakan masuk agenda Banyuwangi Festival,” tutur pria asal Lateng yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.

    Haul Ke-334 Tawang Alun

    Sementara itu, tokoh yang dituakan, Joni Subagyo, SH, MH alias Ki Ageng Bumi Sroyo, menyampaikan bahwa laku budaya ini merupakan amanat sesepuh Mas Soepranoto Manggisan dan HR. Mas Slamet Oetomo.

    Mereka membekali dengan semangat, filosofi, visi misi, serta ragam literasi berupa buku, benda peninggalan, peta, hingga silsilah keluarga besar.

    “Selain Kanjeng Tawang Alun, kami juga memperingati tokoh Wong Agung Wilis, Rempeg Jagapati, dan Sayu Wiwit,” ungkap mantan pimpinan DPRD Banyuwangi tersebut.

    Ketua Masyarakat Adat Nusantara (Matra) Jawa Timur, Kanjeng Pangeran Panji Srie Soe Putra Jowo Uja Ciptonagoro, juga turut memberikan paparan.

    Ia menceritakan tentang kearifan Suku Kajang yang diakui dunia sebagai pelestari alam terbaik, sekaligus memberikan motivasi terkait bela negara.

    Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap proksi media sosial dan intelijen asing yang menguasai antropologi serta sosiologi Nusantara untuk mengadu domba bangsa Indonesia yang bhinneka.

    “Ilmu adiluhung leluhur dan perilaku luhur perlu terus diajarkan kepada generasi penerus. Empat pusaka soso jendro yang harus dijaga adalah menghapus rasa benci, iri, gengsi, dan dendam dari hati,” tuturnya.

    Paparan tersebut juga diperkuat oleh KH. Achmad Wahyud, SH, MHI, serta Wakapolresta Banyuwangi, AKBP Teguh Priyo Sasono, SIK.

    Acara yang dipandu Cornelis dan Fitri ini dihadiri berbagai kalangan, mulai pejabat daerah (Kepala Dinas, Kepala Badan, Camat, dan Kades), seniman, budayawan, pelestari pusaka, media, FKUB, hingga Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) binaan Bakesbangpol.

    Hadir pula Ki Mursyid Bin H. Huzairi Prayitno yang memiliki sejarah dengan Djoko Supaat Slamet, sosok yang pertama kali memulai situs ini berkat bisikan gaib Eyang Tawang Alun dan Srikandi Sayu Wiwit, serta utusan abdi dalem Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

    “Kami turunan Wali Sunan Giri. Ziarah ke Blambangan bagi kami juga merupakan penghormatan kepada leluhur,” ujar Nimas Ayu Ranu Wijayanti, yang kesehariannya menjaga tradisi leluhur dengan melestarikan acara tingkeban, ruwatan, dan pitutur agar budaya tetap adiluhung.

    Sementara itu, Aguk Darsono memberikan apresiasi jika kejayaan Kerajaan Macan Putih dan epos Perang Puputan Bayu dijadikan kalender tetap dalam Banyuwangi Festival. Ia juga berharap tokoh Blambangan dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

    “Hanya dalam Perang Bayu dan Perang Suroboyo, komandan penjajah gugur dan mereka menghabiskan biaya besar. Itu menjadi spirit sekaligus motivasi bagi karakter jati diri bangsa,” ujarnya.

    Ia menegaskan perlunya dukungan nyata melalui forum musrenbangdes dan musrenbang kecamatan yang dihadiri anggota dewan, agar dapat diakomodasi dalam musrenbang kabupaten bersama Bappeda Jawa Timur.

    Hal itu untuk perbaikan infrastruktur rawa yang ambrol, revitalisasi situs, pembangunan toilet dan tempat ibadah, serta memperbanyak dialog dan diskusi tentang pelestarian adat, tradisi, dan sejarah.

    “Semua ini demi kemajuan Banyuwangi tercinta yang harmoni, welas asih, sekaligus heroik,” tegas Wakil Ketua FPK yang pernah menjadi panitia pengusulan Pahlawan Nasional bagi Pejuang Blambangan ini saat menjabat Sekretaris DHC ’45 Banyuwangi.

  • Sinergi Pemda, NLR, dan Liliana Foundation Wujudkan Program Pemberdayaan Disabilitas di Banyuwangi

    Sinergi Pemda, NLR, dan Liliana Foundation Wujudkan Program Pemberdayaan Disabilitas di Banyuwangi

    Pemerintah Daerah Banyuwangi melalui Wahyudiono, S.T selaku Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Bappeda Kabupaten Banyuwangi menerima audiensi dari Yayasan Aura Lentera Indonesia, NLR Indonesia, dan Liliana Foundation pada Rabu (17/9) siang di lounge Bappeda.

    Pertemuan ini dilakukan dalam rangka persiapan pelaksanaan program advokasi bagi anak dan remaja penyandang disabilitas maupun kusta, sekaligus sebagai tindak lanjut koordinasi antara Pemda Banyuwangi bersama Yayasan Aura Lentera Indonesia, NLR Indonesia yang diwakili Dewi dan Nela, serta Liliana Foundation yang diwakili oleh Mr Elli, seorang warga Lebanon yang kini bermukim di Belanda dan akan turut menjalankan program di Banyuwangi.

    Wahyudiono, S.T menyampaikan jika kolaborasi ini merupakan komitmen pemerintah dalam menyediakan ruang-ruang publik yang ramah bagi difabel.

    “Kami sangat senang sekali dengan adanya kolaborasi ini untuk kita semua berkomitmen bukan hanya secara formal, tapi secara moral dan sosial. Pemerintah daerah juga sedang mengupayakan menyediakan ruang-ruang publik yang ramah difabel, termasuk jalan, taman, dan fasilitas umum lainnya,” ungkapnya.

    Sementara itu, Ketua Yayasan Aura Lentera, Nurhadi Windoyo, menegaskan bahwa masih banyak pandangan keliru terhadap penyandang disabilitas, baik di masyarakat maupun dalam birokrasi.

    Mereka kerap diposisikan hanya sebagai penerima bantuan sosial. Padahal, yang lebih penting adalah perubahan paradigma menuju pemberdayaan yang inklusif.

    Dalam kesempatan tersebut hadir pula perwakilan dari Dinas Sosial, Ivan Candra Febri Yusmanto, S.T, yang menekankan pentingnya kualitas data untuk mendukung lahirnya kebijakan inklusif.

    “Saat ini kami sedang melakukan pendataan penyandang disabilitas, dan data riil tersebut sudah kami pegang,” jelasnya.

    Yayasan Aura Lentera

    Data yang dimaksud meliputi jumlah serta jenis disabilitas sebagai bahan penyusunan E-Disabilitas. Aspirasi Forum Rembug Disabilitas yang dilaksanakan di Disbudpar (15/09/25) dengan moderator Indah Catur Cahyaningtas dan difasilitasi oleh Bappeda pun telah diterima dengan baik oleh Bupati Ipuk Fistiandani.

    Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat, kelompok rentan, dan mitra lainnya menjadi kunci untuk mewujudkan Indonesia yang inklusif, khususnya di Banyuwangi.

    Sebelumnya, pihak NLR dan Liliana Foundation telah menyimak presentasi Rumah Literasi di Gunung Remuk Ketapang serta mendengar narasi sejarah Aura Lentera di Kedai Makmoer sebagai bentuk penyerapan aspirasi untuk sinergi berkelanjutan.

    Selanjutnya, akan dijalankan Proyek BEN di Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Timur, yang mencakup wilayah Jember, Situbondo, serta Banyuwangi.

  • Jambore III FPRB Jawa Timur Hadirkan Inklusi, Relawan Disabilitas Ikut Belajar Mitigasi Bencana

    Jambore III FPRB Jawa Timur Hadirkan Inklusi, Relawan Disabilitas Ikut Belajar Mitigasi Bencana

    Jambore III Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur yang berlangsung di Pantai Grand Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, pada 12-14 September 2025, menjadi ruang pembelajaran kolektif bagi ratusan relawan dari berbagai daerah.

    Selama tiga hari, acara dipadati sesi paparan, diskusi, hingga praktik lapangan dengan beragam topik pengurangan risiko bencana (PRB).

    Agenda berjalan sejak pagi hingga malam, menghadirkan narasumber dari lembaga nasional hingga daerah.

    Tak hanya materi teknis, jambore tahun ini juga menghadirkan sesi tematik paralel yang menekankan inklusi dan pelibatan bermakna.

    Dalam sesi tersebut, mitra Civil Society Organization (CSO) memandu diskusi bersama peserta yang datang dari berbagai forum PRB daerah.

    Keistimewaan Jambore III kali ini adalah kehadiran kelompok disabilitas. Panitia menghadirkan Gerakan Kesehatan Tuli Indonesia (GERKATIN) serta Yayasan Aura Lentera Indonesia yang mendampingi peserta tunanetra.

    Nurhadi Windoyo, Ketua Yayasan Aura Lentera, mengapresiasi keterlibatan komunitas disabilitas dalam forum besar ini.

    “Kami sangat senang bisa ikut serta di jambore ini, meskipun belum bisa sepenuhnya dilibatkan dalam simulasi,” ujar Windoyo.

    Ia menambahkan, pihaknya berharap ke depan ada kolaborasi lebih luas dalam Jambore Nasional, sehingga relawan dari berbagai latar belakang dapat memahami situasi penyelamatan warga disabilitas ketika bencana melanda.

    Antusiasme juga tampak dari Gerkatin Banyuwangi yang aktif mengikuti simulasi penyelamatan bersama tim PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI).

    Proses latihan dilengkapi pendampingan Juru Bahasa Isyarat (JBI), sehingga semua tahapan dapat dipahami peserta tuli.

    Ricky Malebhy, Ketua Gerkatin Banyuwangi, bahkan mendorong anggotanya terlibat langsung di setiap sesi.

    Fahmi, salah satu anggota Gerkatin, mendapat kesempatan mempraktikkan pertolongan korban tenggelam sekaligus melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP).

    “Kami merasa bangga, lewat jambore ini Gerkatin bisa meningkatkan kapasitas menghadapi bencana,” kata Ricky.

    Selain aspek inklusi, jambore juga menghadirkan materi berbobot dari berbagai instansi. BNPB, Kemendes, Kemendagri, Kemenkeu, Kemen PPN/Bappenas, MPBI, BPBD Jawa Timur, hingga FPRB Jawa Timur hadir membawakan diskusi.

    BNPB membuka jalannya diskusi dengan tema Peran Forum dalam Kolaborasi Pentahelix untuk Membangun Ketangguhan Bencana.

    Direktur Kesiapsiagaan BNPB turut mensosialisasikan rancangan peraturan baru terkait Forum PRB. Selain itu, BNPB juga mengenalkan Katalog Digital Kesiapsiagaan yang tengah diuji coba.

    Sesi panel selanjutnya menyoroti praktik baik Forum PRB daerah dalam implementasi PRBBK. FPRB Jawa Timur berbagi pembelajaran dari Kampung Bungin, disusul sharing session praktik baik PRB yang menginspirasi banyak peserta.

    Pada hari terakhir, jambore menghadirkan sesi panel kedua dengan topik Strategi Kolaborasi dan Koordinasi antar Forum PRB sebagai Pendorong Resiliensi: Tantangan dan Peluang. Diskusi ini dilanjutkan lokakarya mekanisme komunikasi dan koordinasi antar forum, serta praktik lapangan berupa water rescue dan simulasi penyelamatan.

    Menutup rangkaian kegiatan, digelar dialog terbuka untuk menyusun agenda bersama menuju Festival Forum PRB 2026. Sebelum penutupan resmi, panitia membacakan rekomendasi serta komitmen bersama yang menjadi kesepakatan seluruh peserta.

    Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, yang hadir dalam pembukaan, memberikan apresiasi atas terselenggaranya Jambore III.

    “Forum ini adalah wadah strategis yang mempertemukan relawan PRB, tidak hanya dari Jawa Timur tapi juga skala nasional. Melalui forum ini, para relawan mendapat pencerahan untuk memperdalam manajemen pengurangan risiko bencana,” kata Adhy kepada jurnalis, Sabtu (13/9).

    Ketua FPRB Banyuwangi, Mahbub Junaidi, juga menyampaikan penghargaan kepada semua pihak.

    “Terima kasih kepada peserta yang sudah mengikuti kegiatan selama tiga hari penuh di Pantai Grand Watudodol. Apresiasi juga untuk Pemkab Banyuwangi, BPBD, sponsor, serta seluruh instansi terkait yang telah mendukung penuh acara ini,” ujarnya.

  • Jambore III FPRB Jatim Ditutup, Ratusan Relawan Pulang dengan Bekal Ilmu PRB

    Jambore III FPRB Jatim Ditutup, Ratusan Relawan Pulang dengan Bekal Ilmu PRB

    Rangkaian kegiatan Jambore III Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur yang dipusatkan di Pantai Grand Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, resmi berakhir pada Minggu (14/9/2025).

    Selama tiga hari penuh, mulai 12 hingga 14 September, para peserta mengikuti berbagai paparan, diskusi, hingga praktik lapangan yang menghadirkan narasumber dari tingkat pusat hingga daerah.

    Kemeriahan jambore kali ini ditandai dengan padatnya agenda sejak pagi hingga malam. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teori, tetapi juga membahas praktik langsung di lapangan.

    Narasumber yang dihadirkan pun berasal dari lembaga-lembaga strategis, seperti BNPB, Kementerian Desa, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian PPN/Bappenas, Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), BPBD Jawa Timur, FPRB Jawa Timur, hingga mitra Civil Society Organization (CSO).

    Diskusi pertama dibuka dengan tema Peran Forum dalam Kolaborasi Pentahelix untuk Membangun Ketangguhan Bencana bersama BNPB.

    Pada kesempatan itu, Direktur Kesiapsiagaan BNPB juga memaparkan rancangan peraturan terbaru mengenai keberadaan Forum PRB.

    BNPB sekaligus memperkenalkan Katalog Digital Kesiapsiagaan yang saat ini sedang diuji coba.

    Agenda berlanjut pada sesi panel mengenai Praktik Baik Forum PRB Daerah dalam Implementasi PRBBK yang dipandu langsung oleh perwakilan FPRB Jawa Timur.

    Dalam kesempatan ini, peserta juga diajak mempelajari pengalaman dari Kampung Bungin yang dinilai sukses menjalankan program PRB berbasis komunitas.

    Sesi berikutnya diisi oleh MPBI yang membedah tema besar Mewujudkan Tujuan Peta Jalan PRBBK 2045; Di Mana Kita Sekarang? sekaligus memandu refleksi kolektif: Apakah kita sudah berjalan sesuai arah yang benar menuju 2025?

    Diskusi ini memantik semangat peserta untuk melihat kembali capaian yang sudah dilakukan sekaligus menata langkah ke depan.

    Tak kalah menarik, pada hari kedua digelar sesi tematik paralel secara serentak di beberapa ruangan. Di ruang pertama, mitra CSO memandu diskusi tentang inklusi dan pelibatan bermakna dalam forum PRB.

    Di ruang kedua, BPBD dan FPRB Jawa Timur memfasilitasi penyusunan rencana strategis dengan mengintegrasikan PRB dan API.

    Sementara itu, di ruang ketiga peserta membahas pemanfaatan Indeks Desa serta metode penilaian ketangguhan untuk 75 ribu desa di Indonesia.

    Di ruang keempat, fokus perbincangan diarahkan pada peran Forum PRB dalam implementasi Pooling Fund bencana.

    Agenda malam kedua diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut yang konkret.

    Tidak hanya itu, panitia dan peserta juga mulai membicarakan gambaran awal Jambore IV FPRB Jawa Timur yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2027 mendatang.

    Memasuki hari terakhir, acara dimulai dengan sesi panel kedua yang membahas strategi kolaborasi dan koordinasi antar forum PRB sebagai pendorong resiliensi, termasuk tantangan dan peluang yang dihadapi.

    Setelah itu, peserta terlibat dalam lokakarya mengenai mekanisme komunikasi dan koordinasi antar forum.

    Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti praktik lapangan berupa water rescue dan simulasi penanganan darurat.

    Menutup rangkaian kegiatan, digelar dialog terbuka untuk menyusun agenda bersama menuju Festival Forum PRB 2026.

    Sebelum resmi ditutup, panitia membacakan hasil rekomendasi dan komitmen bersama sebagai kesepakatan kolektif.

    Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan akbar ini.

    “Forum ini menjadi wadah berkumpulnya relawan Pengurangan Risiko Bencana se Jawa Timur, bahkan nasional, sehingga harus bisa memberikan pencerahan untuk belajar manajemen pengurangan risiko bencana,” ujarnya kepada awak media usai pembukaan, Sabtu (13/9).

    Sementara itu, Ketua FPRB Banyuwangi, Mahbub Junaidi, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung jalannya kegiatan.

    “Terima kasih kepada para peserta yang mengikuti acara sejak awal hingga akhir, juga kepada Pemkab Banyuwangi, BPBD, sponsor, serta instansi terkait yang membantu menyediakan fasilitas. Dukungan ini menjadi kunci sukses jambore selama tiga hari di Pantai Grand Watudodol,” ungkapnya.

  • Semakin Meriah, CFD Ahmad Yani Banyuwangi Dihiasi Atraksi Sekolah dan Kuliner Tradisional

    Semakin Meriah, CFD Ahmad Yani Banyuwangi Dihiasi Atraksi Sekolah dan Kuliner Tradisional

    Car Free Day (CFD) di sepanjang jalan protokol Jenderal Ahmad Yani kali ini diisi penampilan dari SMPN Kabat, SMPN Rogojampi, serta SD Guslah.

    Tak ketinggalan, hadir pula permainan tradisional dari SDN Singotrunan, SDN Kepatihan, dan SDI Al Khairiyah, sementara tingkat TK diwakili oleh TK Santa Maria, TK Siwi Peni, serta TK di kawasan Cungking Giri.

    Seluruh kegiatan tersebut dipantau langsung oleh Koordinator Satkordikcam Kota, Drs. Janoto, M.Pd., pada Minggu (14/09/25).

    Beragam atraksi ditampilkan, mulai dari senam, pencak silat, karate, hingga mewarnai. Musik tradisional mengiringi gending Banyuwangenan dan jaranan buto meriah dari SMPN 3 Rogojampi.

    Ada pula tari kreasi dari SMPN 1 dan 2 Rogojampi, serta kuis seputar profil Rasulullah Muhammad SAW yang memberikan hadiah doorprize plus kembang ndog khas muludan, persembahan dari SMPN 1 Kabat.

    pengurus MGMP Bahasa Using

    Di sela-sela penampilan ekstrakurikuler, pengurus MGMP Bahasa Using, Yeti Chotimah dan M. Sofyansyah, S.Pd., juga melakukan sosialisasi Festival Literasi Using yang akan digelar pada Bulan Bahasa Oktober oleh Balai Bahasa Jawa Timur.

    Kemeriahan CFD semakin bertambah dengan hadirnya maskot pasar wit-witan Alas Malang berupa sosok Mak Lampir. Suasana pun semakin menarik ketika rain stopper Ki Ilham Triadi hadir membawa keris dan dupa harum.

    Di sekitar lokasi, warung Bik Ati turut meramaikan dengan sajian Gudeg Bu Poer. Tepat di seberangnya tersedia Loempia Panorama.

    Di sisi selatan, berbagai fashion, aksesori, dan sepatu ikut dipamerkan dan cukup diminati. Sementara itu, di depan Dispora selain kegiatan senam juga hadir komunitas skateboard yang menampilkan aksi seru.

    Senam di CFD Banyuwangi

    Selain pengunjung umum, terlihat pula rombongan tamu yang dipandu staf Bappeda Datu. Sudirman, anggota Kosti, tampak beberapa kali melintas dengan sepeda tuanya.

    Dari sisi pelaku usaha, Bu Faizah yang berjualan kebab dan nasi mandhi mengatakan bahwa hasil penjualannya berjalan normal seperti biasanya. Hal senada disampaikan Rina, penjual polo pendem dan kucur.

    “Alhamdulillah, begitu buka langsung ada pembeli, bahkan di tengah gerimis pun tetap ramai,” tutur perempuan tangguh yang aktif berjualan di berbagai event.

    Ketua Komite SMPN 3 Rogojampi, Ir. Isnain, juga menyatakan apresiasinya.

    “Kami komite dan wali murid mendukung penuh setiap jadwal tampil dari dinas pendidikan. CFD memberi ruang, waktu, dan panggung bagi pelajar untuk berekspresi,” ujar pria yang mengenakan kaos dan topi merah putih bertuliskan “komite” ini, yang juga tercatat sebagai pengurus DPD Lemahbangkulon.

    Tidak hanya hiburan dan kuliner, di depan TMP juga tersedia layanan dari Bank UMKM, Bank Jatim, serta Perpustakaan Daerah. Di area depan BSI, mahasiswi STIKES turut menggelar bakti sosial kesehatan.

    Ajang CFD yang digelar setiap Minggu ini pun kembali membuktikan diri sebagai ruang publik yang menyatukan hiburan, kreativitas pelajar, usaha mikro, hingga layanan sosial bagi masyarakat. Sampai jumpa di CFD berikutnya.

  • Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima Gelar Pelatihan Editing Video Tiktok dan Seni Henna

    Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima Gelar Pelatihan Editing Video Tiktok dan Seni Henna

    Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima bersama EO Senyum Agmadina menggelar acara Pelatihan Editing Video Tiktok dan Seni Henna di Kedai Makmoer Stendo TMP pada Minggu, 14 September 2025, mulai pukul 09.45 hingga 14.17 WIB.

    Kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan baru sekaligus memperkuat semangat komunitas dalam berkarya.

    Pelatihan terbagi menjadi dua sesi. Pertama, pelatihan Editing Video yang menghadirkan TikToker Bunda Puji Winarsih atau akrab disapa Kak Zhiem.

    Ia membagikan teknik dasar editing video, mulai dari penyusunan footage, transisi, hingga trik menghasilkan konten menarik di media sosial yang juga berpotensi mendatangkan cuan.

    Pelatihan Editing Video Tiktok dan Seni Henna

    Dilanjut ke sesi kedua, pelatihan Seni Henna berbahan Bidara Pacaran, dipandu oleh Kak Fadlun.

    Peserta diajak mempraktikkan dasar-dasar seni henna, mulai dari pembuatan pola sederhana di kertas hingga desain kreatif bernilai estetika tinggi.

    Inspirasi desain diambil dari buku maupun eksplorasi motif melalui media sosial serta pemanfaatan AI.

    Acara ini juga dihadiri oleh Bu Faizah selaku Ketua UMKK Sinergi Gotong Royong ’45 dan Ketua Koperasi Segoro ’45 Dafik Ismail, serta Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang akrab sebagai Pembina.

    Salah satu peserta, Faizah, yang merupakan pedagang nasi mandhi dan kebab di CFD, menyampaikan apresiasinya karena merasa mendapat pengalaman dan ilmu baru.

    “Saya merasa bangga melihat semangat peserta hari ini. Kegiatan seperti ini bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga membuka peluang usaha baru. Harapan saya, pelatihan ini bisa menjadi langkah awal untuk generasi muda lebih percaya diri berkarya. Dan bagi anggota kami memang diberi peluang berkembang,berbagi ilmu menyebar rejeki serta silaturahmi ke dinas, asosiasi sejenis dan konsumen,” paparnya.

    Sementara itu, Bung Aguk menegaskan pentingnya nilai kebersamaan dalam setiap kegiatan komunitas.

    “Pelatihan ini tidak hanya tentang belajar editing video atau seni henna, tetapi juga tentang membangun jaringan, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat gotong royong. Inilah yang ingin terus kita kembangkan di Banyuwangi,” jelasnya.

    Tak ketinggalan, Qurrota A’Yunin atau akrab disapa Kak Ninin, selaku Sekretaris UMKK Sinergi Gotong Royong ’45, juga memberikan kesan positif.

    “Saya sangat mengapresiasi antusiasme peserta. Semoga keterampilan yang didapat hari ini tidak berhenti di sini, tetapi bisa dikembangkan lebih lanjut bahkan menjadi peluang usaha yang berdaya guna. Mari kita jadikan pelatihan ini sebagai pintu untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas,” ungkapnya.

    Para peserta berharap agar pelatihan serupa dapat digelar secara berkelanjutan, sehingga semakin banyak potensi kreatif masyarakat yang bisa berkembang.

  • TPQ Al-Ikhlas Rogojampi Peringati Maulid Nabi dengan Selawat dan Gebyar Seni

    TPQ Al-Ikhlas Rogojampi Peringati Maulid Nabi dengan Selawat dan Gebyar Seni

    TPQ Al-Ikhlas Dusun Krajan, Rogojampi, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Sabtu malam (21 Rabiul Awal 1447 H).

    Mengusung tema “Meneladani Sifat Nabi untuk Generasi Berkarakter Islami,” gelaran acara rutin tahunan ini semakin meriah dengan hiasan Jodang dan kembang telur karya para santri.

    Acara dibuka dengan hadrah dan pembacaan selawat dipimpin langsung oleh Pengasuh TPQ, Ustaz Zainul Adib, S.Pd.I bersama santri.

    Ustaz Zainul Adib, S.Pd.I, menegaskan bagaimana pentingnya meneladani akhlak Nabi di tengah perkembangan zaman.

    “Di era kemajuan zaman yang semakin canggih ini, perlu kiranya sebagai generasi penerus meneladani sifat dan ahlak mulia Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” paparnya.

    Rangkaian acara berlangsung meriah. Santri-santri tampil membawakan selawatan, tilawah, hingga puisi. Hadirin yang didominasi wali santri tampak antusias menyaksikan penampilan putra-putrinya.

    Puncak acara diisi mauidah hasanah oleh Ustaz Moh. Amin, S.Pd., dari Kauman Rogojampi.

    Dalam ceramahnya, Ustaz Moh. Amin, S.Pd mengingatkan jamaah untuk selalu bersyukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dan memperbanyak selawat.

    “Kita harus bersyukur, karena Nabi Muhammad adalah manusia yang memiliki akhlak paling mulia. Bersyukur dengan cara selalu menyebut namanya lewat solawat serta menjaga dan memelihara syariat yang beliau bawa,” terangnya.

    Acara yang dimulai sejak pukul 18.00 WIB itu ditutup dengan doa bersama. Di akhir kegiatan, Ustaz Zainul Adib menyampaikan pesan serta harapannya.

    “Semoga peringatan Maulid ini membawa keberkahan bagi kita semua dan kelak kita mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW,” tutup Ustaz Zainul Adib.

  • Keluarga, Cantrik, dan Murid Peringati Haul HR. Mas Slamet Oetomo di Puri Gumuk Merang

    Keluarga, Cantrik, dan Murid Peringati Haul HR. Mas Slamet Oetomo di Puri Gumuk Merang

    Haul ke-8 almarhum HR. Mas Slamet Oetomo digelar di Pendopo Puri Gumuk Merang, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Penataban, Giri, Sabtu malam (13/09/25).

    Peringatan ini menjadi tradisi tahunan keluarga dan para cantrik, sebab wafatnya bertepatan dengan bulan Maulid.

    Kegiatan dimulai dengan salat Magrib berjamaah bersama keluarga dan para cantrik yang datang dari jauh.

    Setelah itu, jamaah lain berdatangan dan Ustadz Ahmad Yani dari Jamiyah Kifayah Penataban memimpin tahlil, diawali pembacaan Surat Yasin.

    Selepas ramah tamah, sejumlah hadirin berziarah ke makam almarhum yang bersih dan harum dengan bunga setaman. Surban dan syal merah putih yang sejak awal pemakaman masih terjaga di sana.

    Salah seorang cantrik asal Pakis bernama Irwan menyampaikan pesan, “Semua makhluk hidup pasti mati. Dan ulama waliyullah dan para syahidah sesungguhnya hidup. Dan kekayaan di hati dan keberkahan hidup yang membawa kebahagiaan dunia akherat, itu bagi orang yang mau hening di hati yang kening serta perilaku yang luhur yang manfaat buat segenap makhluk ciptaan Tuhan.”

    Sementara itu, Hariyanto, murid asal Batang-Batang Sumenep, bercerita tentang praktik patrap di Madura, termasuk tradisi ziarah tahunan ke makam Mbah Mas Saleh Manggisan dan HR. Mas Slamet Oetomo yang dilanjutkan dengan ritual patrap bersama putra almarhum, Hang Hargowo atau Mas Wowok.

    Dalam penutup diskusi, Mas Wowok menegaskan kembali pesan almarhum agar murid-muridnya senantiasa berpegang pada tauhid, rukun iman, dan mengamalkan ihsan dengan penuh bashirah.

    Sebagian ajarannya terdokumentasi dalam buku-buku, salah satunya Islam Sebuah Pengakuan yang masih bisa dipesan melalui keluarga.

    Sosok HR. Mas Slamet Oetomo

    HR. Mas Slamet Oetomo lahir pada 8 September 1948 dan wafat pada 13 Desember 2016, dimakamkan di tanah keluarga yang juga berdiri Pendopo Puri Gumuk Merang. Sebagai keturunan Mbah M. Saleh Manggisan, makamnya kini sering diziarahi sebagaimana leluhurnya.

    Semasa hidup, ia dikenal luas sebagai sejarawan dan budayawan dengan pemahaman mendalam mengenai sejarah Blambangan dan masuknya Islam di Bumi Blambangan.

    Ia menulis buku, mengoleksi keris dan benda pusaka, serta kerap tampil dalam pameran saat bulan Suro.

    Tak hanya itu, juga menjadi narasumber kajian peristiwa Puputan Bayu dan ikut dalam tim penyusun usulan Pahlawan Nasional dari Bumi Blambangan.

    Di bidang penyiaran, ia aktif di Radio Komunitas Bung Tomo FM dan LPP RKPD Blambangan melalui program Sulur Kembang, yang mampu menarik ratusan pendengar setia.

    Meski hanya menempuh pendidikan setingkat sekolah menengah dan bekerja di Pabrik Kertas Basuki Rahmat serta berdagang ayam, kiprahnya tetap luar biasa.

    Yang jarang diketahui, ia adalah guru kesejatian ketuhanan dengan ajaran patrap (sikap berserah diri sepenuhnya kepada Yang Maha Esa). Murid-muridnya beragam, mayoritas Islam, namun juga ada Hindu, Kristen, bahkan hingga mancanegara, seperti Singapura dan Australia.

    Dalam menyampaikan ilmu, ia tidak menggunakan atribut ulama seperti jubah, sorban, atau peci. Justru tampil sederhana, namun ajarannya berkembang dalam banyak halaqah di berbagai daerah Nusantara, termasuk di Bumi Blambangan.

    Ajaran-ajaran almarhum juga terdokumentasi dalam beberapa karyanya, salah satunya berjudul Islam Sebuah Pengakuan. Buku tersebut dapat dipesan langsung melalui nomor WhatsApp 0813-3688-1945.

  • Tradisi Kembang Ndog Warnai Santunan Bulanan LKSA Khadijah Banyuwangi

    Tradisi Kembang Ndog Warnai Santunan Bulanan LKSA Khadijah Banyuwangi

    Kegiatan santunan bulanan untuk anak asuh non panti LKSA Khadijah yang berlokasi di Jalan MT Haryono 58 Banyuwangi, kembali digelar pada pekan kedua bulan September 2025.

    Bertepatan dengan masuknya bulan Maulid, jajaran pengurus menambahkan suasana khas dengan menghadirkan jodang kembang ndog, tradisi yang telah melekat kuat dalam perayaan Maulid di Banyuwangi, Jumat siang (12/09/25).

    Aguk Wahyu Nurhadi selaku Humas LKSA Khadijah sekaligus pembawa acara membuka kegiatan dengan memberikan penjelasan mengenai sejarah serta makna dari tradisi kembang ndog-ndogan.

    Ia menuturkan, tradisi ini merupakan gagasan KH. Faqih Cemoro, salah satu ulama besar pendiri NU yang berasal dari Desa Balak, Songgon.

    Kembang dimaknai sebagai simbol keindahan dan wewangian, yang melukiskan rasa bahagia umat Islam menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan telur, terdiri atas tiga bagian: kulitnya melambangkan Islam, putihnya merepresentasikan Iman, dan kuningnya menjadi simbol ihsan.

    Aguk menambahkan, ada alasan khusus mengapa pengurus menyiapkan telur bebek alih-alih telur ayam.

    “Bebek ketika bertelur tidak berkoar, ibarat tangan kanan memberi tanpa diketahui tangan kiri. Sementara ayam selalu berkokok setiap kali bertelur, layaknya orang beramal namun penuh riya,” papar seniman sekaligus wartawan ini.

    Ia juga mengingatkan agar kembang ndog tidak dibuat menyerupai barong atau ogoh-ogoh, sebab hal itu dinilai menyimpang dari esensi syiar agama.

    Suasana religius kemudian dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Asatid LKSA Khadijah, Ustadz Abdul Rostid, S.Pd.

    Rangkaian ibadah dimulai dengan bacaan Ummul Kitab, Asmaul Husna, istighotsah, asyroqol, mahallul qiyam, serta tahlil singkat yang ditujukan untuk orang tua anak asuh maupun pendiri yayasan yang telah wafat.

    Santunan Bulanan LKSA Khadijah Banyuwangi

    Tidak lupa doa khusus juga dipanjatkan bagi para donatur serta dermawan yang memiliki hajat tertentu.

    Usai doa bersama, giliran Ketua LKSA Khadijah, Hj. Miftahul Rochmah, menyampaikan mauidhoh hasanah.

    Ia mengawali tausiyah dengan menyenandungkan lagu yang menggambarkan perjalanan hidup keluarga Rasulullah SAW.

    Disampaikan bahwa Nabi Muhammad sejak kecil telah menjadi yatim piatu, ditinggal ibunda Siti Aminah pada usia masih belia hingga akhirnya dibesarkan oleh kakek, kemudian pamannya.

    “Meski yatim piatu, Rasulullah mampu menjadi teladan sempurna. Beliau sukses sebagai pedagang Al-Amin, menjadi khalifah amanah, memiliki anak cucu yang saleh, dan tentunya menjadi sosok uswatun hasanah yang patut diteladani. Kita semua berharap mendapatkan syafaat beliau di akhirat kelak. Aamiin,” ucap guru agama SMPN 2 yang telah purna tugas tersebut.

    Ia juga berpesan agar setiap muslim menghormati tiga sosok penting dalam hidupnya, yaitu orang tua kandung, mertua, dan guru.

    Santunan LKSA Khadijah Banyuwangi

    Menurutnya, guru tak hanya terbatas pada pendidikan formal di sekolah, tetapi juga guru ngaji, guru seni budaya, guru bela diri, bahkan guru kehidupan yang dijumpai di perjalanan meraih ridho Allah.

    Pesan penting lainnya, lanjut Hj. Miftahul Rochmah, adalah bukti kecintaan kepada Rasulullah yang diwujudkan melalui sholawat dan perilaku akhlaqul karimah dalam keseharian.

    Hadir pula relawan Gotong Royong, Maulana Affandi dalam gelaran tersebut bersama Ahmad Saiful, pemuda yang sedang ikhtiar untuk hijrah demi kehidupan yang lebih baik.

    Setelah salat Asar berjamaah, acara dilanjutkan dengan pembagian kembang ndog kepada seluruh anak asuh dan tamu undangan.

    Kegiatan ditutup dengan makan bersama menyantap hidangan nasi rawon, lalu pembagian paket sembako dan santunan pendidikan bagi 25 anak asuh LKSA Khadijah.

  • Banyuwangi Jadi Tuan Rumah Jambore FPRB 2025, Yayasan Aura Lentera Bawa Inovasi Mitigasi

    Banyuwangi Jadi Tuan Rumah Jambore FPRB 2025, Yayasan Aura Lentera Bawa Inovasi Mitigasi

    Sebanyak lima perwakilan dari Yayasan Aura Lentera Banyuwangi akan hadir dalam Jambore III Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur yang digelar pada Jumat hingga Minggu, 12–14 September 2025.

    Ajang tahunan ini akan mempertemukan sekitar seribu relawan kebencanaan dari berbagai daerah Jawa Timur, termasuk komunitas lokal Banyuwangi, dalam satu forum besar untuk berbagi pengalaman sekaligus memperkuat jejaring relawan.

    Ketua Yayasan Aura Lentera, Windoyo, menuturkan bahwa keikutsertaan pihaknya merupakan wujud konsistensi dalam kerja-kerja kemanusiaan.

    Selama ini, yayasan yang ia pimpin aktif dalam penanggulangan bencana, mulai dari aksi lapangan hingga penyusunan Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana Kabupaten Banyuwangi.

    Tak hanya itu, Windoyo juga dikenal sebagai pengajar di SLB Negeri Banyuwangi dan pernah mengharumkan nama daerah dengan meraih penghargaan The Best 30 pada East Java Education Summit (Ejies) 2025.

    Prestasi tersebut diperolehnya berkat inovasi edukasi kebencanaan bagi siswa tunanetra melalui aplikasi screen reader di smartphone, sehingga mereka dapat memperoleh informasi tentang mitigasi bencana secara lebih mudah.

    “Dalam jambore ini kami mengajak rekan-rekan yang tunanetra dan relawan, dengan harapan bisa kita lanjutkan mengajari teman-teman Diffabel di komunitas kami,” ujarnya.

    Gelaran jambore tahun ini mengusung tema “Together We Are Strong, Humanity for All” dan akan berlangsung di kawasan wisata Pantai Grand Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo.

    Menurut Windoyo, kelima anggota Yayasan Aura Lentera yang sudah resmi terdaftar siap berkontribusi dalam diskusi maupun kegiatan lapangan, bahkan sebagian di antaranya akan didapuk sebagai narasumber.

    Dari sisi penyelenggaraan, Ketua Panitia Lokal H. Ali Affan memastikan bahwa segala persiapan berjalan sesuai rencana.

    Panitia Banyuwangi telah berkoordinasi dengan panitia provinsi serta menjalin komunikasi intensif dengan Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono dan Kepala BPBD Danang Hartanto.

    Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang menyediakan fasilitas pendukung, mulai dari toilet portabel hingga perlengkapan teknis lainnya.

    “Pemkab Banyuwangi bersedia membantu sejumlah fasilitas yang bisa disediakan oleh Pemkab dan sangat dibutuhkan oleh panitia jambore,” tegas Affan.

    Format kegiatan jambore disusun sedemikian rupa agar tidak hanya berisi pertemuan formal, tetapi juga memberi ruang interaktif.

    Peserta akan mengikuti sesi pleno, diskusi paralel, simulasi lapangan, dialog kebijakan, hingga ekspo interaktif.

    Pembukaan acara akan dimeriahkan dengan Gebyar Seni PRB, lalu dilanjutkan dengan berbagai praktik lapangan seperti simulasi water rescue, konservasi mangrove, serta latihan penanganan tsunami yang melibatkan koordinasi antarwilayah.

    Tidak berhenti di situ, panitia juga menyiapkan pameran praktik baik PRB yang ditampilkan melalui papan refleksi dan galeri komunitas, forum kemitraan dengan pelaku usaha dan CSR, hingga stan UMKM binaan relawan kebencanaan dari seluruh Jawa Timur.

    Sebuah sesi ngobrol santai akan digelar untuk merumuskan rekomendasi bersama yang nantinya disampaikan dalam Bulan PRB Nasional 2025.

    Menurut Affan, jambore ini bukan sekadar ajang pertemuan, melainkan wadah refleksi kolektif untuk memperkuat ketangguhan Jawa Timur dalam menghadapi ancaman bencana.

    “Dalam jambore nanti juga akan dilakukan penyusunan rekomendasi Pengurangan Risiko Bencana Jawa Timur untuk tingkat nasional,” pungkasnya.