Kategori: Berita

  • Permudah Urusan Guru, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Luncurkan Layanan Administrasi Turun ke Sekolah

    Permudah Urusan Guru, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Luncurkan Layanan Administrasi Turun ke Sekolah

    Dalam rangka menyelesaikan berbagai kebutuhan administrasi guru secara lebih cepat dan efektif, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi berinovasi dengan menghadirkan pelayanan langsung ke wilayah sekolah-sekolah.

    Langkah ini dilakukan sebagai upaya mendekatkan layanan kepada guru dan tenaga kependidikan agar proses administrasi menjadi lebih efisien, hemat waktu, dan tidak mengganggu aktivitas pembelajaran di kelas

    Tidak tanggung-tanggung, sebanyak delapan petugas dikerahkan lengkap dengan dukungan perlengkapan teknologi informasi (IT) guna memastikan proses pelayanan berjalan optimal dan efisien.

    Pada Kamis, 9 April 2026, tim dari Dinas Pendidikan kembali hadir di SMP Negeri 1 Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, untuk memberikan pelayanan langsung kepada guru dan tenaga kependidikan.

    Kehadiran layanan langsung ini bertujuan meningkatkan efisiensi waktu sekaligus memudahkan proses pengurusan administrasi tanpa harus datang ke kantor dinas.

    Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Alfian, M.Pd, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang sebagai bentuk pelayanan prima yang lebih dekat dengan guru dan tenaga kependidikan, sehingga mereka dapat lebih fokus menjalankan tugas utama di sekolah.

    “Dengan program ini kami berharap dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan efisien kepada guru dan tenaga kependidikan, serta mendukung program pemerintah untuk menghemat BBM,” ujarnya.

    Selain meningkatkan kualitas layanan, program ini juga diharapkan mampu menghemat waktu dan biaya perjalanan guru, sekaligus mendukung kebijakan efisiensi energi melalui pengurangan mobilitas ke kantor dinas.

    Program pelayanan langsung ini merupakan kegiatan perdana yang direncanakan berlangsung selama 10 hari, mulai 1 April hingga 13 April 2026, dengan waktu pelayanan dimulai pukul 08.00 hingga selesai. Berikut jadwal pelaksanaannya:

    • Rabu, 01 April 2026: Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi (Wilayah Banyuwangi dan Kalipuro)
    • Kamis, 02 April 2026: SMP Negeri 1 Glenmore (Wilayah Kecamatan Genteng, Kalibaru, dan Glenmore)
    • Sabtu, 04 April 2026: SMP Negeri 1 Cluring (Wilayah Kecamatan Gambiran, Cluring, dan Tegalsari)
    • Senin, 06 April 2026: SMP Negeri 1 Purwoharjo (Wilayah Kecamatan Purwoharjo dan Tegaldlimo)
    • Selasa, 07 April 2026: SMP Negeri 1 Srono (Wilayah Kecamatan Srono dan Muncar)
    • Rabu, 08 April 2026: SMP Negeri 1 Rogojampi (Wilayah Kecamatan Kabat, Blimbingsari, dan Rogojampi)
    • Kamis, 09 April 2026: SMP Negeri 1 Singojuruh (Wilayah Kecamatan Sempu, Songgon, dan Singojuruh)
    • Jumat, 10 April 2026: SMP Negeri 1 Wongsorejo (Wilayah Kecamatan Wongsorejo)
    • Sabtu, 11 April 2026: SMP Negeri 1 Siliragung (Wilayah Kecamatan Siliragung, Pesanggaran, dan Bangorejo)
    • Senin, 13 April 2026: SMP Negeri 1 Giri (Wilayah Kecamatan Giri, Glagah, dan Licin)

    Program pelayanan turun ke wilayah ini juga mendapat respons positif dari para kepala sekolah dan guru.

    Mereka mendorong seluruh tenaga pendidik di sekolah masing-masing agar memanfaatkan layanan tersebut secara maksimal.

    Plt Kepala SMP Negeri 3 Rogojampi, Hj. Sri Utami, berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan karena dinilai sangat membantu efisiensi waktu dan tenaga, terutama bagi guru yang tidak perlu meninggalkan proses pembelajaran terlalu lama di kelas.

    Hal senada disampaikan Plt Kepala SMP Negeri 1 Rogojampi, Hj. Puspitorini, S.Pd, yang menyambut baik sekolahnya dijadikan lokasi pelayanan dinas pendidikan. Ia berharap kegiatan turun ke sekolah seperti ini tidak hanya dilakukan pada momentum tertentu saja.

    Dukungan juga datang dari guru SD Negeri 1 Bubuk, Suprapto, S.Pd, yang merasa sangat terbantu dengan penyelenggaraan pelayanan langsung tersebut.

    Ia bahkan mengusulkan agar kegiatan turun ke wilayah ini memiliki akronim khusus agar lebih mudah dikenal dan akrab di kalangan guru dan tenaga kependidikan, misalnya “OSING” yang dapat dimaknai sebagai Optimalisasi Service Instansi bagi Guru.

    Program inovatif ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pelayanan pendidikan yang lebih responsif, dekat, dan efisien bagi tenaga pendidik di Banyuwangi.

  • Pernikahan Dua Tokoh Dakwah Jadi Momentum Silaturahmi Banyuwangi–Bali

    Pernikahan Dua Tokoh Dakwah Jadi Momentum Silaturahmi Banyuwangi–Bali

    Momentum akad nikah pasangan tokoh dakwah H. Hartono bin Ardjo Djaiman dari Bali dengan Endah Chomisah, P.S.Sos., binti Hariyoso dari Banyuwangi berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Thalita Cafe Kemiren, Kalipuro, Banyuwangi, Minggu (29/03).

    Prosesi pernikahan dipimpin langsung oleh Kepala KUA Kalipuro, H. Lukman, S.Ag., M.Pd.I.

    Pernikahan ini menjadi perhatian karena kedua mempelai telah memasuki usia sekitar 60 tahun. Keduanya juga telah memiliki masing-masing empat anak serta sejumlah cucu.

    Karena itu, suasana akad nikah dan resepsi yang berlangsung tanpa hiburan tersebut tidak diiringi doa yang lazim disampaikan kepada pengantin muda seperti harapan “langgeng sampai kakek-nenek”.

    Sebaliknya, sejak khutbah nikah hingga sambutan dari penghulu dan perwakilan keluarga, yang disampaikan adalah ucapan selamat dan doa agar keduanya membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, disertai guyonan hangat yang mengundang senyum para tamu undangan.

    Sekitar 300 undangan hadir dalam acara tersebut. Para tamu berasal dari Banyuwangi dan rombongan dari Pulau Bali yang datang menggunakan bus pariwisata serta sekitar empat hingga lima kendaraan pribadi.

    Hadir pula seluruh jajaran pengurus PDM dan PDA Tabanan, serta tokoh masyarakat Tabanan seperti Gus Met, Anwar Haryono, Drs. Budi Ratsongko, Widodo, dan H. Ansori yang turut mendampingi mempelai pria.

    Dari Banyuwangi, turut hadir jajaran PDM Banyuwangi, PCM Glagah, PCM Cluring, PCM Rogojampi, Lurah Kemiren, tokoh masyarakat Banyuwangi, jamaah pengajian ibu-ibu, serta sejumlah tokoh pergerakan termasuk para mualaf yang selama ini mendapatkan pembinaan melalui dakwah kedua mempelai.

    Karena masih dalam suasana Idulfitri, momen pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk saling bermaafan dan saling mendoakan agar menjadi hamba yang muttaqin.

    H. Hartono dikenal sebagai mantan Ketua Baznas yang saat ini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tabanan. Ia juga aktif sebagai Dewan Pembina Yayasan Al-Ikhlas Tanah Bang Permai serta pengurus ICMI Tabanan.

    Sementara itu, Endah Chomisah Prihatini merupakan muslimah bercadar yang mengikuti jejak orang tuanya dalam kegiatan pergerakan dan sosial pendidikan keagamaan.

    Ia aktif di TPQ dan RA Tunas Ceria, Sanggarmae bersama Yatie Noore, serta Nasyiatul Aisyiyah.

    Endah juga pernah menjadi guru di TK Al Amin Denpasar dan direncanakan akan kembali ke Bali untuk mendampingi suami merintis SMP Muhammadiyah serta penguatan program LazisMu.

    Sebagai sesama pendakwah dan pegiat pendidikan keagamaan, kedua mempelai dinilai tidak memerlukan nasihat panjang dalam prosesi pernikahan karena telah lama berkiprah sebagai mujahid dakwah di tengah masyarakat.

    Kelancaran acara turut didukung Yuni Ambarwati, S.Pd. yang berperan sebagai EO, mak comblang, sekaligus pemandu acara.

    Ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya rangkaian kegiatan dengan lancar dan penuh keberkahan.

    Menariknya, pertemuan kedua mempelai sebelum menikah terbilang sangat singkat.

    Pertemuan pertama terjadi saat proses ta’aruf di rumah orang tua mempelai perempuan yang berada di belakang Masjid Darul Falah Banjarsari, Glagah. Pertemuan kedua berlangsung langsung pada saat akad nikah.

    Prosesi acara diawali pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Achmad Jamzami dan Olief yang merupakan cucu dari Endah Chomisah.

    Sementara wali nasab mempelai perempuan, kakaknya yang berdomisili di Malang, Cholid Tri Cahyono bin Hariyoso, memimpin langsung proses ijab kabul.

    Selanjutnya, keluarga merencanakan tasyakuran lanjutan di Tabanan, Bali, menunggu momentum putra mempelai pria usai wisuda serta terpenuhinya rombongan belajar SMP Muhammadiyah.

    Dalam agenda tersebut direncanakan akan turut mengundang petugas KUA, penghulu, dan modin, sekaligus menghadirkan kafilah kerabat dan sejawat yang juga dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk berwisata ke Pulau Bali menyesuaikan kalender liburan pendidikan. (Aguk Wahyu Nuryadi/AF).

  • Tradisi Lebaran Rong Dino di Desa Bunder Jadi Ajang Doa Leluhur dan Silaturahmi Warga

    Tradisi Lebaran Rong Dino di Desa Bunder Jadi Ajang Doa Leluhur dan Silaturahmi Warga

    Ratusan warga Desa Bunder, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, mengikuti tradisi ziarah kubur pada hari kedua Hari Raya Idulfitri atau Lebaran Rong Dino, Minggu (22/3).

    Tradisi turun-temurun tersebut dilaksanakan di pemakaman umum desa setempat dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan.

    Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat, dilanjutkan tabur bunga dan makan bersama sebagai simbol kebersamaan serta ungkapan syukur.

    Warga dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua, tampak antusias mengikuti tradisi yang rutin digelar setiap tahun tersebut.

    Salah satu warga, Jatmiko, mengatakan tradisi ziarah makam pada hari kedua Lebaran sudah berlangsung secara turun-temurun.

    Selain untuk mendoakan leluhur, kegiatan tersebut juga menjadi sarana berkumpul keluarga yang pulang dari perantauan.

    “Kegiatan mendoakan para leluhur di makam ini merupakan warisan budaya yang harus kita jaga. Selain untuk mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal, ini juga menjadi momen mempererat silaturahmi antarwarga setelah Idulfitri,” ujarnya.

    Senada dengan itu, warga lainnya menyampaikan bahwa tradisi tersebut memiliki nilai sosial yang kuat karena menjadi momen kebersamaan masyarakat desa.

    “Setiap tahun warga selalu menantikan momen ini. Selain berdoa, mereka juga saling berbagi makanan dan cerita sehingga hubungan antarwarga semakin erat,” ungkapnya.

    Lebaran Rong Dino di Desa Bunder

    Sementara itu, pemangku adat Desa Bunder menjelaskan tradisi ziarah mendoakan leluhur telah berlangsung sejak zaman nenek moyang dan sarat makna spiritual bagi masyarakat.

    “Ziarah mendoakan para leluhur ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Filosofinya adalah mengingat asal-usul, menghormati yang telah mendahului, serta memohon keselamatan kepada Allah SWT serta keberkahan bagi yang masih hidup,” jelasnya.

    Salah satu warga yang turut hadir juga mengaku bersyukur masih dapat mengikuti tradisi tersebut bersama masyarakat desa.

    “Kami merasa lebih dekat dengan keluarga yang sudah tiada. Selain itu, kegiatan ini membuat kami semua berkumpul dan saling memaafkan setelah Lebaran,” tuturnya.

    Tradisi mendoakan para leluhur yang dilaksanakan setiap Lebaran Rong Dino tersebut terus dilestarikan masyarakat karena dianggap sebagai kearifan lokal yang mengandung nilai religius, sosial, dan budaya.

    Selain menjadi sarana doa bagi para leluhur, kegiatan ini juga memperkuat identitas masyarakat serta menjaga keharmonisan antarwarga.

    Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, masyarakat Desa Bunder berharap tradisi tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya Banyuwangi.

  • Halal Bihalal Ikawangi di Pendopo, Bupati Ajak Perantau Jadi Duta Pariwisata Banyuwangi

    Halal Bihalal Ikawangi di Pendopo, Bupati Ajak Perantau Jadi Duta Pariwisata Banyuwangi

    Suasana hangat penuh keakraban mewarnai pertemuan warga diaspora Banyuwangi dalam agenda “Tandang Bareng” yang digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Senin (23/3).

    Kegiatan halal bihalal Hari Raya Idulfitri 1447 H tersebut menjadi ajang silaturahmi para perantau Banyuwangi dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

    Warga Banyuwangi yang tergabung dalam Ikatan Warga Banyuwangi (Ikawangi) memanfaatkan momentum mudik Lebaran untuk berkumpul, tidak hanya dengan keluarga, tetapi juga mempererat hubungan dengan pemerintah daerah.

    Dalam forum tersebut para diaspora berdialog langsung dengan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, baik secara tatap muka maupun melalui sambungan virtual dari berbagai wilayah.

    Dalam sambutannya, Ipuk menyampaikan apresiasi atas kehadiran para perantau yang tetap memiliki kepedulian terhadap kampung halaman.

    Halal Bihalal Diaspora Ikawangi

    Ia mengajak momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang berbagi gagasan dan solusi atas berbagai persoalan daerah.

    “Selamat datang di Banyuwangi dan selamat merayakan Hari Raya Idulfitri. Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk bersilaturahmi sekaligus bertukar pikiran. Kehadiran bapak ibu diharapkan dapat memberikan kontribusi solusi atas berbagai tantangan yang kita hadapi bersama. Tak lupa mohon maaf saat pulang kampung masih ada jalan rusak berlubang karena cuaca hujan dan panjang jalan mencapai 2.500 kilometer,” ujar Ipuk.

    Ia menegaskan pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata.

    Karena itu, Ipuk berharap diaspora Banyuwangi turut ambil bagian dalam memajukan daerah, termasuk berperan sebagai duta promosi pariwisata.

    “Peran teman-teman Ikawangi sangat penting sebagai duta pariwisata. Ceritakan keindahan Banyuwangi kepada dunia agar semakin banyak orang berkunjung,” ujarnya.

    Dalam kesempatan tersebut, Ipuk juga meluncurkan barcode Diaspora Banyuwangi sebagai basis data global warga Banyuwangi yang merantau maupun bermukim di luar daerah, termasuk yang pernah sekolah atau bekerja di Banyuwangi.

    “Selama ini kami belum memiliki data pasti jumlah warga Banyuwangi di perantauan. Melalui jaringan global ini kita bisa saling terhubung dan berkolaborasi,” jelas Ipuk, yang didampingi Bupati Banyuwangi dua periode sebelumnya, Abdullah Azwar Anas.

    Para diaspora yang hadir mengaku merasa dihargai dan dihormati oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui sambutan Bupati Ipuk Fiestiandani.

    Pertemuan tersebut juga semakin menguatkan rasa memiliki terhadap Banyuwangi sebagai tanah kelahiran sekaligus rumah besar bersama bagi para perantau.

    Usai forum dialog, acara dilanjutkan ramah tamah dengan sajian khas Banyuwangi seperti rujak soto, kikil kesrut, sego cawuk, kare ayam serta ragam buah dan kudapan, termasuk kopi dan temulawak.

    Acara juga dimeriahkan tarian dan musik khas Banyuwangi hingga lagu Umbul-Umbul Blambangan.

    Peserta yang mengikuti kegiatan secara daring juga berasal dari Spanyol, Belanda, Jepang, dan Cina. Salah satunya Isnain, owner Ecoprint Lis Adiwinoto.

    “Tahun lalu saya hadir, tapi kini hanya videocall,” tuturnya.

    Selain Marhen yang menjabat pejabat Kemenkraf Plt Labuan Bajo, hadir mantan Menteri Arif Yahya serta diaspora yang sedang bertugas di lingkungan eksekutif di Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan Ibu Kota.

    Hadir pula Brigjen (AL) Dr. Lukman Hakim Laros kelahiran Tukang Kayu dan kini menjadi dosen Universitas Pertahanan di perbatasan Timor Timur.

    Ia didampingi sesama alumni SMAN 1 Glagah H.M Shodiqin yang pernah menjadi Sekretaris MUI dan Ketua PCNU Atambua Belu NTT dan kini mutasi di SMKN Pelayaran Kalipuro.

    Di antara banyaknya peserta yang hadir dalam suasana temu kangen tersebut, panitia juga menghadirkan komunitas disabilitas seperti Pertuni, PPDI, Difawanfi, serta Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Dari YALI, tampak hadir GPK Yeti Chotimah, M.Pd., serta bendahara yayasan yang tunanetra Titis Anganten, S.Psi., S.Pd.LB.

    “Kami merasakan kesetaraan di Bumi Blambangan yang laksana Indonesia Mini yang welas asih, harmoni, gotong royong. Yuk jenggirat tangi tandang bareng seduluran selawase!” tutup Titis Anganten.

    (H.MShodiqin/Bung Aguk)

  • Warga Muhammadiyah Padati Lapangan Ahmad Dahlan Rogojampi, Salat Idul Fitri 1447 H Berlangsung Khusyuk dan Tertib

    Warga Muhammadiyah Padati Lapangan Ahmad Dahlan Rogojampi, Salat Idul Fitri 1447 H Berlangsung Khusyuk dan Tertib

    Pelaksanaan salat Idul Fitri 1447 Hijriah yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rogojampi berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan ketertiban di lapangan Ahmad Dahlan Rogojampi pada Jumat pagi, (20/3).

    Sejak fajar mulai menyingsing, para jemaah dari berbagai wilayah di sekitar Rogojampi telah berdatangan dan memadati area lapangan.

    Mereka hadir dengan penuh antusias, mengenakan pakaian muslim yang didominasi warna putih, sehingga menciptakan suasana yang bersih, damai, dan sarat dengan nuansa kebersamaan serta kebahagiaan di hari kemenangan.

    Bertindak sebagai khatib, Ustaz Haji Suharyo AP, S.H yang juga Penasehat PDM Lumajang. Sementara itu, imam salat adalah Ustadz Khairil Anwar, S.Ag.

    Dalam khutbahnya, Suharyo menyampaikan makna Idul Fitri sebagai momentum kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.

    Ia mengajak jemaah menjadikan Idul Fitri sebagai sarana kembali kepada fitrah, memperkuat keimanan, serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama.

    “Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk memperbaiki diri, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT,” ujarnya.

    Suharyo juga mengingatkan sejumlah amalan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW selama Ramadan agar tetap dijaga pada bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya.

    Amalan tersebut meliputi salat tahajud dan salat malam lainnya, membaca Al-Qur’an, berdzikir, meningkatkan kepedulian sosial, menjaga lisan, menjaga wudu, serta menjaga hati agar tetap selaras dengan nilai-nilai keimanan.

    Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan umat di tengah berbagai tantangan zaman.

    Dalam doa penutup, ia berharap seluruh jemaah dapat meningkat derajatnya menjadi insan bertakwa setelah Ramadan, serta diberi kesempatan kembali bertemu dengan Ramadan di tahun mendatang.

    Pelaksanaan salat berlangsung tertib dan lancar dengan dukungan panitia PCM Rogojampi, mulai dari pengaturan saf hingga pengamanan dan kebersihan.

    Kegiatan ditutup dengan saling bersalaman antarjemaah, menciptakan suasana hangat sebagai simbol saling memaafkan di hari yang fitri.

  • Banyuwangi Siagakan 48 Masjid Ramah Pemudik di Berbagai Titik Strategis

    Banyuwangi Siagakan 48 Masjid Ramah Pemudik di Berbagai Titik Strategis

    Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Dewan Masjid Indonesia (DMI) Banyuwangi, serta didukung Baznas Banyuwangi menyiapkan 48 masjid di berbagai titik.

    Program ini ditujukan untuk memudahkan para pemudik selama arus mudik dan balik Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.

    “Dengan adanya masjid ramah pemudik, kami berharap para pemudik dapat merasa nyaman dan aman selama perjalanan,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat launching program di Masjid Al Huda, Kelurahan Bulusan yang berbatasan dengan Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Selasa (16/3/26).

    Masjid yang terlibat dala program ini akan dibuka selama 24 jam dan dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari area istirahat, tempat ibadah, toilet bersih, serta pengamanan di lingkungan masjid dan area parkir.

    Selain itu, tersedia juga layanan kesehatan yang didukung puskesmas, fasilitas pijat gratis di beberapa titik, serta penyediaan air minum, kopi, teh, makanan ringan gratis hingga menu berbuka.

    Ipuk menambahkan, masjid memiliki peran penting sebagai pusat peradaban, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

    Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan kajian dan diskusi berbagai persoalan kehidupan.

    bupati banyuwangi ipuk

    “Masjid memang pusat peradaban sebagaimana yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW, masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas seperti untuk mengkaji dan diskusi ragam topik kehidupan,” ujar Bupati Ipuk Fiestiandani yang didampingi Ketua Baznas Drs. Dwi Yanto, M. Pd.

    Sementara itu, Kepala Kemenag Banyuwangi, Drs. H. Chaeroni Hidayat, MM, menyampaikan bahwa Banyuwangi menjadi salah satu daerah di Jawa Timur dengan jumlah masjid ramah pemudik terbanyak. Ia juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah, Baznas, dan DMI.

    “Kami berterima kasih atas kolaborasi yang baik antara pemkab, Baznas, dan DMI dan semua yang terlibat, semoga jadi ladang amal saleh kita semua,” ujarnya.

    Peluncuran program ini juga diisi dengan kegiatan sosial, seperti santunan kepada anak yatim, pemberian sembako kepada lansia dhuafa, serta penyerahan bantuan peralatan kepada masjid yang tergabung dalam program.

    Selain itu, diberikan pula dukungan kepada Yayasan Aura Lentera yang mengoordinasikan pemijat tunanetra dan difabel lainnya.

  • NLR  Indonesia Gelar Lokakarya Pemantapan Peran Personal dan LSM Peduli Disabilitas di 3 Provinsi

    NLR Indonesia Gelar Lokakarya Pemantapan Peran Personal dan LSM Peduli Disabilitas di 3 Provinsi

    Lembaga donor NLR Indonesia yang didukung Liliane Foundation menggelar lokakarya bagi mitra SCN yang telah melalui masa transisi program hingga tahap input data calon penerima manfaat.

    Kegiatan ini berlangsung pada 10–13 Maret 2026 di tiga kota yang berada di tiga provinsi berbeda.

    Tiga kota yang menjadi lokasi penyelenggaraan lokakarya tersebut adalah Palu (Sulawesi Tengah), Kupang (Nusa Tenggara Timur), dan Jember (Jawa Timur).

    Untuk kegiatan di Jember, lokakarya diikuti oleh masing-masing tujuh peserta dari Kabupaten Jember yang akan menangani wilayah Arjasa, Silo, dan Ledokombo.

    Sementara itu, wilayah Besuki dan Bungatan menjadi tanggung jawab organisasi penyandang disabilitas (OPDis) Situbondo.

    Adapun LSM Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia akan melakukan pendampingan bagi penyandang disabilitas serta anak dan remaja terdampak kusta berusia 1–24 tahun di Kecamatan Kalipuro dan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi.

    Materi lokakarya dirancang untuk memperkuat kapasitas pimpinan lembaga, officer program, bagian keuangan, serta tim Monitoring, Evaluation and Learning (MEL) dan koordinator lapangan Community Based Rehabilitation (CBR).

    Selain itu, peserta juga dibekali dengan pelatihan penyusunan proposal hingga penandatanganan kontrak kemitraan yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Maret ini.

    “Walau cuti Lebaran ke Ambon, kami tetap melakukan koreksi dan proses agar pada 1 April program sudah efektif berjalan dan segera berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk melakukan intervensi kepada penerima manfaat,” tutur fasilitator NLR, Nona, saat kegiatan berlangsung di Hotel Java Lotus Jember.

    Dalam kesempatan tersebut, Nella dan Anggun menyambut dengan senyum karena pihak donor menekankan pentingnya pemenuhan tenggat waktu, kelengkapan data, serta narasi pendukung program, tanpa melihat kondisi libur panjang atau tanggal merah.

    Selain sesi materi secara langsung, peserta di tiga kota juga mendapatkan bimbingan daring secara serentak dari narasumber Nurlia Wuliyanti dan Jasmine yang berada di kantor NLR Indonesia di Jakarta.

    Bimbingan tersebut memperkuat materi yang sebelumnya telah disampaikan melalui pertemuan daring pada pekan lalu.

    Beberapa materi utama yang dibahas dalam lokakarya ini antara lain Due Diligence, Standard Operating Procedure (SOP), timeline program, serta komitmen profesional yang menjunjung tinggi integritas dan etika kerja.

    Direktur Rumah Literasi Indonesia, Tunggul Harwanto, menyampaikan bahwa pertemuan teknis yang melibatkan mitra dari berbagai kota tersebut memberikan kesempatan untuk saling berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kesiapan dalam menjalankan program sosial kemanusiaan.

    “Dengan pertemuan teknis dan standar NLR yang melibatkan mitra dari kota lainnya, maka kita bisa berbagi pengalaman dan semakin mantap menjalankan program sosial kemanusiaan ini,” tuturnya.

    Hal senada juga disampaikan oleh Indah Catur Cahyaningtyas, Divisi Program Yayasan Aura Lentera Indonesia.

    Ia menjelaskan bahwa kearifan lokal dapat menjadi kekuatan dalam mendukung keberhasilan program bagi anak dan remaja difabel, termasuk bagi mereka yang berada di luar empat desa pilot project selama masih berada dalam kecamatan yang sama.

    “Harapannya, sinergi para pihak dapat menghindarkan ego sektoral dan memperkuat kolaborasi supertim untuk mencapai visi dan misi bersama yang telah dipelopori Bupati dan didukung kepala dinas,” ujar Indah.

    Indah sendiri merupakan istri Nurhadi Windoyo, yang pernah menjabat sebagai Ketua Pertuni serta memiliki pengalaman dalam pengelolaan komputer Braille.

    Sementara itu, Umar Asmoro, yang aktif di Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), mengungkapkan rasa syukur karena Banyuwangi mendapatkan tambahan program Body Talk Kesehatan Reproduksi yang dipimpin oleh program officer Agus Wahyu Nuryadi.

    Selain itu, terdapat pula program Pengembangan Potensi Remaja yang akan dikelola oleh para relawan Rumah Literasi Indonesia yang memiliki minat bergabung dengan Youth Center PKBI serta akan berkolaborasi bersama Forum Anak Banyuwangi, yang diwakili oleh Annisa Rahmawati.

  • BPBD Jatim Gelar Lokakarya Perkuat Peran ULD dalam Penanggulangan Bencana Inklusif

    BPBD Jatim Gelar Lokakarya Perkuat Peran ULD dalam Penanggulangan Bencana Inklusif

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Lokakarya Pembelajaran Unit Layanan Disabilitas (ULD) pada 11–12 Maret 2026 di Hotel Kampi Surabaya.

    Lokakarya tersebut mengangkat tema “Menyusun Perangkat dan Strategi Memperkuat Peran ULD PB dan Lembaga Disabilitas dalam Penanggulangan Bencana.”

    Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran Unit Layanan Disabilitas dalam mewujudkan sistem penanggulangan bencana yang inklusif di Provinsi Jawa Timur.

    Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai organisasi difabel serta pemangku kepentingan terkait.

    Melalui lokakarya ini, para peserta diharapkan dapat meningkatkan kapasitas ULD dalam memberikan edukasi serta dukungan kepada penyandang disabilitas yang terdampak bencana.

    Dalam sambutannya, Kepala BPBD Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Timur, Deni Kiki Melia Tamara, S.STP., M.Si, menekankan pentingnya sinergi antara ULD dan organisasi difabel untuk meningkatkan kesadaran serta kesiapsiagaan menghadapi bencana.

    Menurutnya, Jawa Timur memiliki banyak potensi ancaman bencana sehingga peran ULD menjadi sangat penting dalam memberikan edukasi kepada kelompok rentan.

    “Jawa Timur memiliki 14 jenis ancaman bencana, sehingga ULD harus dapat bersinergi dan mengimplementasikan program-program yang dapat memberikan edukasi dan dukungan kepada penyandang disabilitas,” ujarnya.

    Melalui lokakarya ini diharapkan kapasitas ULD semakin meningkat dalam memberikan layanan yang lebih baik bagi penyandang disabilitas yang terdampak bencana.

    Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendekatan inklusif dalam penanggulangan bencana.

    Penyelenggaraan lokakarya ini juga merujuk pada sejumlah regulasi yang menjadi dasar penguatan peran disabilitas dalam penanggulangan bencana.

    Salah satunya adalah Peraturan Kepala BNPB Nomor 14 Tahun 2014 tentang Penanganan, Perlindungan, dan Partisipasi Penyandang Disabilitas dalam Penanggulangan Bencana.

    Peraturan tersebut secara khusus mengatur pembentukan tugas dan fungsi ULD dalam penanggulangan bencana.

    Selain itu, kegiatan ini juga merujuk pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

    Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa penyandang disabilitas termasuk kelompok rentan dalam situasi bencana.

    Mereka sering menghadapi berbagai hambatan, seperti keterbatasan akses terhadap informasi, evakuasi, maupun layanan darurat, sehingga diperlukan sistem penanggulangan bencana yang lebih inklusif.

    Salah satu peserta dari Sidoarjo menyampaikan bahwa keberadaan ULD merupakan program yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh para difabel.

    Ia juga menjelaskan bahwa pengalaman mengikuti lokakarya Training of Trainer (TOT) serta program Siap Siaga telah memberikan bekal penting bagi para peserta untuk melakukan diseminasi pengetahuan.

    “Kami mendiseminasikan ke sekolah-sekolah yang mempunyai siswa berkebutuhan khusus untuk dilatih simulasi siaga kebencanaan bagi difabel,” ungkapnya.

    Sementara itu, peserta dari Yayasan Aura Lentera Indonesia Banyuwangi, Titis Anganten, S.Psi., S.Pd.LB, berharap ke depan dapat diselenggarakan lokakarya serupa yang juga melibatkan guru serta keluarga yang memiliki anggota keluarga difabel.

    Ia mengusulkan agar kegiatan tersebut dapat melibatkan BPBD, Dinas Pendidikan Provinsi di Banyuwangi, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

    Menurutnya, selama ini pelatihan kebencanaan masih bersifat umum, sehingga perlu adanya pendekatan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan penyandang disabilitas.

    “Selama ini pelatihan umum sifatnya, hendaknya ada kekhususan karena memang kebutuhan khusus,” tegas guru SLB Negeri penyandang tunanetra tersebut yang pernah mengalami banjir di rumahnya yang berada dekat Kantor Bupati Banyuwangi.

    Di tempat terpisah, tepatnya di Hotel Java Lotus Jember, Sekretaris Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Banyuwangi, Umar Asmoro, yang sedang mengikuti program BEN NLR Indonesia bersama penyandang disabilitas dari Jember dan Situbondo, juga menyampaikan pandangannya.

    Ia mengatakan bahwa Kabupaten Banyuwangi sebenarnya telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) serta Peraturan Bupati (Perbup) terkait Unit Layanan Disabilitas di bidang ketenagakerjaan dan pendidikan.

    Namun, menurutnya regulasi tersebut belum dijalankan secara efektif oleh dinas terkait sehingga manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh para difabel.

    “Ayo dalam rembug disabilitas mendatang lebih fokus mengoperasionalkan regulasi yang telah diperjuangkan dengan begitu penuh dinamika luar biasa,” harap staf ahli fraksi DPRD Banyuwangi tersebut.

    Umar Asmoro sendiri merupakan penyandang disabilitas akibat polio sejak kecil. Dalam aktivitas sehari-hari ia menggunakan alat bantu dua tongkat kruk serta sepeda motor modifikasi roda tiga.

  • SMPQ Akmalul Muhsinin Banyuwangi Gelar Nuzulul Qur’an, Ajak Gen Z Dekat dengan Nilai Qurani

    SMPQ Akmalul Muhsinin Banyuwangi Gelar Nuzulul Qur’an, Ajak Gen Z Dekat dengan Nilai Qurani

    Rangkaian acara Malam Peringatan Nuzulul Qur’an sekaligus Haflatul Iftitah SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Banyuwangi berlangsung khidmat di Graha Anak Sholeh, Jalan Kopral Sanusi 32 Karangbaru, Kelurahan Panderejo, Banyuwangi, Minggu (8/3/2026) atau bertepatan dengan Ahad, 19 Ramadhan 1447 H.

    Kegiatan ini dilaksanakan usai sholat tarawih dan witir, diawali dengan lantunan Gema Wahyu Ilahi oleh Gus Romi, serta diisi tausiyah oleh mubaligh Ustadz Agus Abdul Latief, M.Pd asal Kalipuro yang berkolaborasi dengan hadrah Darus Syafa’ah Karangrejo.

    Kepala SMP Qur’an Akmalul Muhsinin, H. Wawuh Sondi Purnomo, ST, Gr, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para wali santri, keluarga calon murid angkatan pertama, serta warga sekitar atas dukungan, kebersamaan, dan doa restu yang diberikan.

    Ia juga menyampaikan ucapan ahlan wa sahlan kepada para ulama dan tokoh masyarakat yang hadir, di antaranya KH Maftuh Cangaan selaku Pembina AJINU, H. Mujiono, SH (Ketua Umum BKPRMI), HM Shodiqin, S.Pd, M.Si dan Haikal Kafili, M.Pd dari PERGUNU, Sentot Hariyanto selaku Ketua Takmir Masjid Agung Baiturrahman, serta Lurah Panderejo Aris Krisnu, SE. Turut hadir pula Ketua RW H. Sudariyono, SH dan H.M. Reza Fahlevi, SH, MM.

    Nuzulul Qur’an SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Banyuwangi

    Acara yang dipandu oleh MC alumni M. Saifudin tersebut dihadiri sekitar 117 jamaah yang menempati lantai atas, sementara para jamaah perempuan mengikuti dari lantai bawah dengan bantuan layar proyektor.

    Melalui siaran langsung di media sosial, majelis penuh berkah ini juga dapat diikuti oleh ribuan orang karena ditayangkan melalui live streaming Umam TV Taman Suruh serta tiga kanal YouTube, yakni Adilangu, Ciknang Multimedia, dan Ha Pe Aja Wongsorejo.

    Kegiatan ini juga didukung oleh gotongroyong’45 bersama jaringan Sinergi Media, diantaranya sastrawacana.id/, JurnalNews.com, MenaraMadinah.com, JNN Jatim, Aplikasi Gata, serta Radio Komunitas Planet FM JRKBB-JRKI.

    Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Yayasan Ponpes Akmalul Muhsinin, KH Imam Hasan Thoha, menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an melalui pendekatan Iqro’ dan I’rab.

    Dengan diselingi syair dan sholawat, beliau mempraktikkan bagaimana santri dapat membaca dengan fasih sekaligus memahami makna Ummul Kitab, yaitu Surah Al-Fatihah.

    “Mari generasi Z untuk mau menggeluti Al-Qur’an sebagai kader generasi Qur’ani menyongsong Indonesia Emas 2045. Mari hidup-hidupkan kalam Ilahi sebagai ungkapan tasyakur dan tafakur, serta menjadikan mukjizat Rasulullah sebagai panutan dalam kehidupan bermasyarakat dan sebagai khalifah di muka bumi hingga mampu membedakan yang hak dan batil,” tutur alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep tersebut.

    Pada kesempatan itu pula beliau secara khusus memohon doa restu agar pada tahun ajaran baru 2026–2027 SMP Qur’an Akmalul Muhsinin dapat mulai menerima peserta didik angkatan pertama dengan target satu rombongan belajar atau sekitar 33 murid.

    Sementara itu, mubaligh Ustadz Agus Abdul Latief, M.Pd, dalam tausiyahnya menjelaskan sejarah turunnya wahyu pertama pada 17 Ramadhan di Gua Hira ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun.

    Ia menyampaikan bahwa hingga Haji Wada’ saat Rasulullah berusia 63 tahun, wahyu Al-Qur’an diturunkan secara berangsur sebanyak 6.666 ayat dalam 114 surat dan 30 juz sesuai dengan situasi dan kebutuhan umat, serta dijaga keasliannya oleh Allah hingga hari kiamat.

    “Monggo kita membaca, mengkhatamkan, serta mengenalkan Al-Qur’an kepada anak cucu kita. Semoga mereka juga mau belajar di SMP Qur’an, masya Allah,” ujar Kepala MTs Darusalam Kalipuro tersebut.

    Tokoh masyarakat H.M. Reza Fahlevi turut menyampaikan rasa syukur atas berdirinya pondok pesantren di lingkungan tersebut karena diyakini dapat membawa suasana kampung menjadi lebih damai dan penuh keberkahan.

    Sementara itu, Lurah Panderejo Aris Krisnu, SE mengajak seluruh hadirin untuk turut menyukseskan berbagai program pemerintah daerah hingga program Presiden, termasuk menjaga kebersihan lingkungan melalui gerakan ASRI serta memenuhi kewajiban sebagai warga negara dengan membayar pajak.

  • IKSASS Peringati Nuzulul Qur’an dan Haul Majemuk di Masjid Baitul Muttaqin Lugjag Rogojampi

    IKSASS Peringati Nuzulul Qur’an dan Haul Majemuk di Masjid Baitul Muttaqin Lugjag Rogojampi

    Keluarga Besar Ikatan Santri Salafiyah Sukorejo Situbondo (IKSASS) mengisi rangkaian kegiatan Ramadhan dengan memperingati Nuzulul Qur’an dan Haul Majemuk.

    Kegiatan tersebut digelar di Masjid Baitul Muttaqin Lugjag, Pengatigan, Kecamatan Rogojampi pada Sabtu, 7 Maret 2026 atau bertepatan dengan 17 Ramadhan.

    Acara ini juga dirangkai dengan kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri para santri, alumni, serta masyarakat sekitar.

    Ustadz Faruq atas nama takmir masjid menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah dan warga yang telah menyambut para tamu dengan baik.

    Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyambutan masih terdapat kekurangan.

    “Mohon maaf bila suguh, gupuh, dan lungguh kami ada yang kurang berkenan,” ungkap santri KH Yusuf Muhammad Jember yang saat ini mengajar di MI Islamiyah Rogojampi.

    Ia juga menyampaikan bahwa banyak alumni MI Islamiyah Rogojampi yang melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Sukorejo pada masa kepengasuhan KHR As’ad Syamsul Arifin.

    Sementara itu, alumni angkatan tahun 1970-an, Syech HM Ikrom asal Temenggungan, berharap para santri dapat tumbuh menjadi insan yang berkualitas.

    Menurutnya, santri harus mampu berpikir inspiratif, memiliki kekuatan ekonomi, serta menjaga tradisi silaturahmi dan kekompakan antarsesama.

    “Jaga pesan kiai dan jaga marwah pondok,” pesan mantan anggota DPRD yang juga aktif di Rumah Kebangsaan, sebuah forum yang bergerak dalam penguatan persatuan lintas suku, agama, dan berbagai elemen masyarakat.

    Dalam kesempatan tersebut, KHR Achmad Azaim Ibrahimy sebenarnya dijadwalkan hadir.

    Namun karena adanya udzur yang mendesak dan mendadak, beliau tidak dapat menghadiri acara sehingga diwakilkan oleh Lora Abdul Quddus.

    Dalam taushiyahnya, Lora Abdul Quddus menyampaikan tentang mukjizat Al-Qur’an serta pentingnya menjaga amanat para kiai.

    Ia menegaskan bahwa keberkahan ilmu yang diperoleh selama mondok di pesantren harus terus dijaga agar dapat memberikan manfaat yang maksimal ketika para santri terjun ke tengah masyarakat.

    Pada sesi doa, acara dipimpin oleh Ustadz Mistari selaku Ketua IKSASS Rayon Banyuwangi.

    Sementara itu, Dr. H. Lukman Hakim turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pengajian tersebut.

    Ia juga menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan serupa akan dilanjutkan di Muncar pada tanggal 26, yang insya Allah akan dihadiri langsung oleh pengasuh.

    Selain itu, Lukman Hakim mengungkapkan bahwa tahun ini IKSASS memiliki target untuk memiliki kantor yang berlokasi di dekat Masjid Cheng Ho Sumberrejo.

    Ia pun berharap adanya partisipasi dari para santri dan alumni untuk mewujudkan rencana tersebut.

    “Mari berkhidmat kepada organisasi dan pondok pesantren demi keberkahan ilmu serta kehidupan beragama dan berbangsa,” tutur Rektor Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi sekaligus mantan Ketua BAZNAS Kabupaten Banyuwangi tersebut.