Kategori: Inspirasi

  • Tentang Sesuatu yang Belum Selesai: Cici Arista Devi dan Kisah Perempuan yang Mengabdi dalam Diam

    Tentang Sesuatu yang Belum Selesai: Cici Arista Devi dan Kisah Perempuan yang Mengabdi dalam Diam

    Menulis selalu bermula dari sesuatu yang mengusik, sesuatu yang tak kunjung selesai meski hari terus berganti, lalu perlahan mencari jalan pulang melalui kata-kata.

    Tidak semua yang dilihat dapat begitu saja dilupakan, tidak semua yang dirasakan mampu selesai dalam percakapan.

    Ada pengalaman yang terus tinggal dalam ingatan, ada kegelisahan yang menolak reda, hingga akhirnya memilih hidup sebagai sebuah tulisan.

    Keresahan itu pula yang membawa Cici Arista Devi berlabuh pada aksara: menjadikan tulisan sebagai ruang untuk merawat gagasan, merekam pengalaman, dan memahami berbagai persoalan yang ditemuinya.

    Di balik setiap tulisan, ia percaya selalu ada tanggung jawab untuk menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar rangkaian kata.

    Sebab, tulisan bukan hanya perkara apa yang ingin disampaikan, melainkan juga tentang keberanian melihat kenyataan apa adanya, lalu mengajaknya menjadi bahan renungan bersama.

    Dari sekian banyak hal yang ditemui, ada satu kenyataan yang terus mengetuk pikirannya.

    Kenyataan yang hadir begitu dekat, tumbuh di sekitar kehidupan sehari-hari, tetapi acap kali luput untuk benar-benar dipahami: perempuan.

    Ya, tentang perempuan yang menjalani banyak peran dalam waktu yang bersamaan, tetapi masih sering dipandang hanya dari satu sisi.

    Cici SMK Models

    Tentang pengabdian yang kerap diukur dari apa yang tampak, sementara banyak perjuangan lain berlangsung dalam sunyi dan nyaris luput dari perhatian.

    Kegelisahan itu tidak lahir dari keinginan untuk mempertentangkan peran perempuan di ruang domestik dan ruang publik. Justru sebaliknya, Cici melihat keduanya dapat berjalan berdampingan.

    Menjadi ibu, mengurus keluarga, aktif di organisasi, hingga mengambil bagian dalam kehidupan sosial bukanlah pilihan yang saling meniadakan.

    Dari keyakinan itulah gagasan demi gagasan mulai disusun, hingga akhirnya menjelma menjadi sebuah rajutan kata yang membawa suara perempuan berkemajuan dari sudut pandang yang lebih utuh.

    Rajutan kata itu kemudian menemukan bentuknya dalam sebuah artikel berjudul Dapur, Gendongan, dan Nasyiah: Seni Shodaqoh Waktu Perempuan Berkemajuan.

    Melalui tulisan tersebut, Cici tidak sedang menawarkan jawaban yang paling benar.

    Ia hanya mengajak pembaca berhenti sejenak, melihat kembali kehidupan perempuan dari sudut yang mungkin selama ini luput diperhatikan.

    Bahwa di balik dapur yang tetap mengepul, gendongan yang tak pernah lepas dari pelukan seorang ibu, dan pengabdian di ruang organisasi, ada perjuangan yang berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.

    Barangkali karena lahir dari kegelisahan yang nyata, tulisan itu pun mampu menyentuh pembacanya.

    Bukan semata karena pilihan diksinya, melainkan karena ia berbicara tentang kehidupan yang begitu dekat dengan banyak insan.

    Tentang perempuan yang setiap hari membagi waktunya, tenaganya, bahkan dirinya sendiri, agar keluarga tetap bertumbuh, organisasi terus bergerak, dan nilai-nilai kebaikan tidak berhenti diwariskan.

    Tidak pernah ada yang benar-benar tahu sejauh mana sebuah tulisan akan melangkah.

    Siapa sangka, kegelisahan yang mula-mula hanya bergumul di dalam benaknya, justru memilih jalannya sendiri.

    Cici Arista Devi SMK Models

    Di antara puluhan karya yang berkompetisi, tulisan tersebut mengantarkan nama Cici Arista Devi sebagai Juara I dalam Lomba Menulis Artikel yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Banyuwangi..

    Penghargaan itu tentu menjadi kabar yang membahagiakan. Namun, bagi Cici, kemenangan barangkali bukanlah akhir dari perjalanan sebuah tulisan.

    Sebab, sejak awal yang ia perjuangkan bukan semata-mata menjadi pemenang, melainkan menghadirkan kegelisahan yang selama ini hidup di sekelilingnya agar dapat dibaca, dipahami, dan direnungkan bersama.

    “Tulisan ini tidak lahir karena saya ingin mengubah dunia. Saya hanya tidak ingin perjuangan perempuan berlalu begitu saja tanpa sempat diceritakan. Sebab, ada begitu banyak pengabdian yang tumbuh dalam diam, tetapi justru menjadi penopang kehidupan,” tuturnya.

    Barangkali, itulah yang membuat sebuah tulisan memiliki usia yang lebih panjang daripada tepuk tangan atau sebuah piala penghargaan.

    Ketika perlombaan usai dan nama-nama pemenang perlahan menjadi kenangan, gagasan yang ditinggalkan sebuah tulisan tetap dapat hidup, berpindah dari satu pembaca ke pembaca lainnya, menghadirkan pertanyaan baru, sekaligus menumbuhkan cara pandang yang lebih lapang.

    Bagi Cici, tulisan itu adalah ikhtiar kecil untuk merawat kesadaran bahwa masih banyak hal di sekitar kita yang layak didengar, dipahami, dan diceritakan.

    Sebab, pada akhirnya, setiap tulisan selalu berangkat dari sesuatu yang belum selesai.

    Sesuatu yang masih tinggal dalam pikiran, mengendap dalam perasaan, dan menunggu untuk menemukan bentuknya melalui kata-kata.

    Begitu pula dengan kisah tentang perempuan yang ia tuliskan. Seolah refleksi untuk berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini hidup dalam dirinya.

    Bahwa perempuan tidak semestinya hanya dikenang dari peran yang tampak di permukaan, melainkan juga dari ketulusan, keteguhan, dan pengabdian yang sering kali berlangsung tanpa sorotan.

    Dan seperti halnya setiap tulisan yang bermula dari sesuatu yang mengusik, kisah Cici pun mengingatkan bahwa kata-kata tidak pernah benar-benar lahir untuk sekadar dibaca.

    Aksara hadir untuk mengetuk kesadaran, merawat harapan, dan membuat kita memandang kehidupan dengan mata yang sedikit lebih jernih daripada sebelumnya.

    Tabik!
    Maulana Affandi
    Menulis agar tidak lupa cara merasa

  • Melalui Serambi Sastra #1, Andi Budi Setiawan Ajak Penulis Muda Banyuwangi Gali Puisi dari Keseharian

    Melalui Serambi Sastra #1, Andi Budi Setiawan Ajak Penulis Muda Banyuwangi Gali Puisi dari Keseharian

    Banyuwangi – Gramedia Banyuwangi berkolaborasi dengan Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) dan Indonesia Book Party (IBP) menggelar Serambi Sastra #1, Minggu (13/09/2026).

    Mengangkat tema “Menulis yang Dekat: Merangkai Puisi dalam Keseharian”, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya pelajar, pegiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk belajar, berdiskusi, serta mengekspresikan pengalaman melalui puisi.

    Kegiatan berlangsung di Gramedia Banyuwangi N.X Poin Lantai 2, Jalan Kepiting No. 7, Sobo, Banyuwangi. Dari 43 peserta yang melakukan registrasi, sebanyak 21 peserta hadir dan mengikuti kegiatan hingga selesai.

    Peserta berasal dari berbagai kalangan, di antaranya pelajar SMK PGRI Rogojampi, MAN 1 Banyuwangi, dan SMPN 1 Banyuwangi.

    Selain itu, hadir pula anggota KOPIWANGI, Indonesia Book Party, Banyuwangi Book Party, mahasiswa, serta masyarakat umum.

    Serambi Sastra #1 menghadirkan Andi Budi Setiawan sebagai narasumber.

    Selain dikenal sebagai Ketua KOPIWANGI dan penulis buku Algoritma Cinta, Eunoia Sangkakala, dan Rumah Ilalang, Andi juga merupakan guru di SMK PGRI Rogojampi yang aktif menulis.

    Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.20 WIB dan dipandu Putri Nurul Azizah, staf Gramedia Banyuwangi.

    Acara dibuka dengan pantun yang membangun suasana hangat, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan profil narasumber dan sesi berbagi pengalaman tentang perjalanan menulis puisi.

    Dalam sesi tersebut, Andi mengungkapkan bahwa dirinya mulai menulis puisi ketika duduk di kelas X SMA, sekitar tahun 2001.

    Perjalanan panjang itu kemudian melahirkan buku pertamanya, Algoritma Cinta – Biarkan Algoritma Selaras dengan Semesta, yang sebagian besar puisinya ditulis ketika SMA dan baru diterbitkan pada 2021.

    “Hampir 90 persen puisi dalam buku Algoritma Cinta merupakan puisi yang saya tulis sejak SMA. Butuh waktu sekitar 20 tahun sampai akhirnya kumpulan puisi itu menjadi sebuah buku,” ungkap Andi.

    Jauh sebelum aktif menulis, Andi juga telah mengenal puisi sejak masih duduk di taman kanak-kanak.

    Ia pernah dipilih untuk mengikuti seleksi lomba baca puisi, meskipun akhirnya tidak terpilih sebagai wakil sekolah.

    Pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti belajar. Justru dari proses itulah ia semakin dekat dengan dunia puisi, hingga kemudian menjadikan puisi sebagai ruang untuk mengekspresikan pengalaman, perasaan, keresahan, bahkan kritik terhadap berbagai persoalan.

    “Bagi saya, puisi bukan sekadar rangkaian kata. Puisi menjadi ruang untuk mengenali diri, mengolah perasaan, dan menemukan ketenangan,” jelasnya.

    Menurut Andi, menulis puisi yang baik berawal dari kepekaan terhadap apa yang dirasakan, dilihat, dan dialami.

    Penulis tidak perlu memaksakan kata-kata indah, tetapi perlu menemukan kata-kata yang jujur dan mampu mewakili perasaan.

    Ia menyarankan penulis untuk banyak membaca, mengamati, melakukan riset, dan berani menulis.

    Setelah gagasan dituangkan, penulis dapat memperhatikan kembali pilihan diksi, majas, ritme, serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.

    “Puisi yang baik bukan hanya indah dibaca, tetapi juga mampu membuat pembaca ikut merasakan. Karena sesuatu yang lahir dari hati akan sampai ke hati juga,” ujarnya.

    Andi juga membagikan pengalamannya mengenai tantangan dalam menulis puisi.

    Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar mencari kata yang indah, melainkan menemukan kata yang tepat untuk mewakili perasaan tanpa kehilangan makna.

    Karena itu, ia tidak selalu terburu-buru menyelesaikan sebuah puisi. Menurutnya, memberi waktu untuk merenung, membaca kembali, kemudian memperbaiki diksi merupakan bagian penting dari proses kreatif seorang penulis.

    Diskusi semakin hidup ketika peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan.

    Tiga pertanyaan yang muncul antara lain mengenai sosok yang pertama kali mendukungnya dalam membaca puisi, peran media sosial dan teknologi digital bagi sastrawan muda, serta puisi yang paling berkesan baginya.

    Menjawab pertanyaan tersebut, Andi menyebut guru TK sebagai salah satu sosok yang sejak awal memberikan dorongan untuk mengenal puisi.

    Meski tidak lolos dalam seleksi lomba baca puisi saat itu, dukungan tersebut menjadi pengalaman yang terus diingat dan menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai penulis.

    Terkait perkembangan teknologi, Andi mengajak para penulis muda untuk tidak alergi terhadap perubahan. Menurutnya, perkembangan sastra kini tidak hanya berlangsung melalui buku cetak, tetapi juga berkembang melalui ebook, media sosial, dan berbagai platform digital.

    Sementara itu, ketika ditanya mengenai puisi yang paling berkesan, Andi menyebut Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono.

    Ia menilai kekuatan puisi tersebut terletak pada penggunaan diksi yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam dan tetap relevan sepanjang waktu.

    Setelah sesi diskusi, peserta diajak mempraktikkan langsung materi yang telah dibahas.

    Gramedia memberikan waktu 15 menit kepada peserta untuk menulis puisi yang mewakili perasaan atau pengalaman mereka.

    Kesempatan tersebut dimanfaatkan peserta untuk menuangkan pengalaman masing-masing.

    Salah seorang peserta, Vivi, kemudian membacakan puisinya dengan penuh penghayatan dan mendapatkan apresiasi dari narasumber serta peserta lainnya.

    Kegiatan semakin semarak dengan kuis yang dipandu Putri Nurul Azizah. Peserta diminta menebak judul atau penulis buku berdasarkan sampul yang ditampilkan, sebelum acara ditutup dengan pemberian apresiasi.

    Gramedia Banyuwangi memberikan Blind Book kepada tiga peserta teraktif dan dua doorprize bagi pemenang kuis.

    Andi Budi Setiawan juga memberikan tiga buku karyanya kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dan berkesempatan membacakan puisinya.

    Serambi Sastra #1 kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta.

    Lebih dari sekadar pertemuan sastra, kegiatan ini menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa puisi dapat lahir dari sesuatu yang sangat dekat: pengalaman, perasaan, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.

    Serambi Sastra yang diselenggarakan Gramedia Banyuwangi diharapkan dapat menjadi ruang yang terus tumbuh bagi masyarakat Banyuwangi untuk membaca, menulis, dan berbagi gagasan.

    Sebab, terkadang sebuah karya besar tidak dimulai dari kata-kata yang sempurna, tetapi dari keberanian seseorang untuk menuliskan satu kata pertamanya.

    Jurnalis: Andi Budi Setiawan

  • Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    Dari Kampus ke Panggung Budaya, Mahasiswa Pascasarjana UMM Jadi Juri Geguritan di Festival Literasi Using 2026

    BANYUWANGI – Ratusan pelajar dari berbagai wilayah di Banyuwangi mengikuti Festival Literasi Using 2026 yang digelar di SDN Kepatihan, Banyuwangi, Sabtu (5/9).

    Kegiatan yang dihelat setiap tahun ini menjadi salah satu agenda budaya dan literasi terbesar di Banyuwangi, dengan mempertemukan pelajar dalam berbagai kompetisi yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Using.

    Festival yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Using tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

    Bupati Banyuwangi di Festival Literasi Using 2026

    Kehadiran Bupati Banyuwangi menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap antusiasme peserta didik yang mengikuti festival tersebut setiap tahunnya.

    Tahun ini, Festival Literasi Using mempertandingkan sejumlah cabang, yakni Geguritan, Ngewer atau stand up comedy, Aksara atau menulis kata, Cerita Cendhek atau cerpen, Nembang, Pidato, Mocoan Lontar, dan Ndongeng.

    Antusiasme pelajar terlihat salah satunya pada cabang Geguritan (baca puisi) tingkat SMP.

    Jumlah peserta pada cabang ini dibatasi sebanyak 45 orang. Pembatasan tersebut dilakukan karena pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, jumlah peminat cabang ini sangat tinggi.

    Dalam penilaian Geguritan, peserta dinilai dari sejumlah aspek kebahasaan, mulai dari pelafalan, artikulasi, intonasi, tekanan kata, kelancaran, hingga kemampuan menyampaikan makna dari teks yang dibawakan.

    Salah satu juri pada cabang tersebut adalah Maulana Affandi, mahasiswa yang sedang menempuh studi lanjut di Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

    Menurut Maulana, kemampuan peserta dalam membawakan Geguritan tidak hanya dilihat dari penguasaan teks, tetapi juga dari ketepatan penggunaan bahasa saat menyampaikan setiap bait.

    Pengucapan, intonasi, dan tekanan kata menjadi bagian penting agar isi Geguritan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

    “Selain interpretasi, bahasa juga menjadi fondasi utama dalam membaca Geguritan. Peserta harus mampu menjaga ketepatan pengucapan sekaligus memahami bagaimana sebuah kata disampaikan. Selain itu, intonasi dan tekanan juga ikut menentukan apakah pesan dalam teks bisa sampai kepada pendengar,” ujar Maulana.

    Menurut Maulana, kemampuan menggunakan bahasa daerah akan lebih mudah berkembang ketika peserta didik tidak hanya mempelajarinya secara teori, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.

    Peserta Festival Literasi Using 2026

    Festival Literasi Using menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus melestarikannya melalui karya sastra.

    Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa bahasa Using tidak hanya berkaitan dengan kosakata, tetapi juga memiliki sistem, konteks penggunaan, serta keterkaitan dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

    Pemahaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang ia dapatkan selama menempuh studi di UMM.

    “Kalau kita berbicara tentang bahasa Using, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai kumpulan kosakata. Ada sistem, ada cara penggunaan, ada konteks, dan ada identitas masyarakat yang melekat di dalamnya. Karena itu, ketika anak-anak menggunakan bahasa Using dalam karya sastra, sebenarnya mereka sedang berinteraksi dengan kekayaan bahasa dan budaya daerahnya,” jelasnya.

    Hadirnya Maulana sebagai juri turut membawa unsur akademik UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini.

    Pengetahuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan bahasa di Pascasarjana UMM diterapkan dalam kegiatan yang secara langsung melibatkan pelajar dan penggunaan bahasa Using.

    Bagi Maulana, keterlibatan dalam kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran di kampus dengan praktik kebahasaan di tengah masyarakat.

    Ia berharap pelajar tidak memandang bahasa Using hanya sebagai materi yang dipelajari ketika mengikuti perlombaan.

    “Bahasa akan tetap hidup ketika digunakan. Anak-anak harus merasa bahwa bahasa Using bukan hanya bahasa yang dipelajari untuk mengikuti lomba, tetapi bahasa yang memiliki nilai dan bisa digunakan untuk berkarya,” katanya.

    Ia juga menilai rasa bangga terhadap bahasa daerah perlu ditanamkan sejak dini. Keberanian pelajar menggunakan bahasa Using di ruang publik menjadi salah satu bentuk sederhana dalam menjaga keberadaan bahasa daerah.

    “Yang paling penting adalah menumbuhkan kebanggaan. Ketika anak-anak berani tampil menggunakan bahasa Using di depan orang lain, itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga bahasa daerah,” ujarnya.

    Keterlibatan Maulana sebagai mahasiswa Pascasarjana UMM dalam Festival Literasi Using tahun ini juga menjadi bagian dari keterlibatan akademisi dalam kegiatan kebahasaan dan budaya di masyarakat.

    Hal tersebut sejalan dengan perhatian Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM terhadap keberlanjutan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan generasi muda.

    Kaprodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia UMM, Assoc. Prof. Dr. Hari Windu Asrini, M.Si., menilai pelestarian budaya Using perlu terus diperbarui agar mampu menarik minat generasi Z dan generasi muda untuk mengenal, memahami, menguasai, sekaligus mencintai budaya daerahnya.

    Menurutnya, pembaruan dapat dilakukan dengan mengemas kegiatan seni dan budaya melalui pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi muda.

    Penggunaan bahasa Using dalam konteks yang lebih kekinian juga dapat menjadi salah satu cara agar bahasa dan budaya daerah tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

    “Penting ada upaya-upaya terbarukan untuk budaya Osing agar bisa menumbuhkan keinginan generasi Z atau generasi muda lainnya untuk lebih mengenal, memahami, menguasai, dan mencintai budaya Osing sebagai upaya pemertahanan dan pelestariannya. Misalnya, bagaimana menata festival seni baca Aljin yang menarik untuk generasi muda Banyuwangi atau penggunaan bahasa Osing yang kekinian,” tuturnya.

    Ia menambahkan, pelestarian budaya juga tidak dapat dilepaskan dari peran pendidik.

    Guru maupun pendidik diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan mengajar, tetapi juga mampu menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan peserta didik dan kebudayaan di sekitarnya.

    “Terus terang, kita sendiri sebagai pendidik kadang hanya suka mengajar, bukan mengajarkan kehidupan,” tutupnya.

  • Era AI Tak Bisa Dihindari, Kepala LAN RI Bekali Mahasiswa UI Cordoba Strategi Jadi Pemimpin Masa Depan

    Era AI Tak Bisa Dihindari, Kepala LAN RI Bekali Mahasiswa UI Cordoba Strategi Jadi Pemimpin Masa Depan

    Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan berpikir kritis.

    Pesan itu disampaikan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Dr. Muhammad Taufiq, DEA, saat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum Nasional di Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba) Banyuwangi, Jumat (3/7).

    Kuliah umum bertema “Menjadi Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat: Kepemimpinan, Pelayanan Publik, dan Masa Depan Indonesia di Era Digital” tersebut diikuti ratusan mahasiswa, dosen, dan tamu undangan.

    Hadir pula Pembina Yayasan UI Cordoba sekaligus Menteri PANRB periode 2022–2024 Abdullah Azwar Anas, Ketua Yayasan UI Cordoba, jajaran pimpinan universitas, Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi, serta perwakilan organisasi perangkat daerah di Banyuwangi.

    Dalam paparannya, Muhammad Taufiq menegaskan bahwa perubahan yang dipicu perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat.

    Karena itu, semangat belajar tidak boleh berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan formal.

    “Perubahan hari ini bergerak sangat cepat. Karena itu, semangat belajar tidak boleh berhenti ketika seseorang lulus dari bangku kuliah. Justru di situlah proses belajar yang sesungguhnya dimulai. Teruslah memperdalam ilmu, menguatkan daya analisis, dan jangan pernah merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki,” tegas Taufiq.

    Menurutnya, kemampuan analisis dan penguasaan ilmu menjadi pembeda di tengah derasnya arus informasi.

    Ia juga mengingatkan pentingnya menghargai kompetensi setiap profesi sebagai fondasi dalam pengambilan keputusan.

    “Tidak ada yang lebih memahami pendidikan selain guru, sebagaimana tidak ada yang lebih memahami kesehatan selain dokter. Maka, setiap profesi harus terus memperkuat kompetensinya agar mampu memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat,” ungkapnya.

    Dalam kesempatan itu, Taufiq juga menyoroti pesatnya perkembangan AI yang kini telah masuk ke berbagai sektor, mulai pendidikan, pemerintahan hingga pelayanan publik.

    Ia menilai teknologi tersebut harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelayanan, bukan dipandang sebagai ancaman.

    “Artificial Intelligence mampu membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi AI tidak dapat menggantikan integritas, kebijaksanaan, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, jangan hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga bangun karakter yang membuat teknologi digunakan untuk kemaslahatan,” pesannya.

    Pemaparan tersebut disambut antusias peserta. Sejumlah mahasiswa memanfaatkan sesi diskusi untuk mengajukan pertanyaan seputar transformasi birokrasi, penerapan AI dalam pelayanan publik, hingga kompetensi yang dibutuhkan agar mampu bersaing di era digital.

    Rektor Universitas Islam Cordoba, Prof. Dr. Agus Trihartono, S.Sos., M.A., Ph.D., mengatakan kuliah umum tersebut merupakan bagian dari upaya kampus menghadirkan wawasan kebangsaan dan kepemimpinan kepada mahasiswa melalui dialog langsung dengan para pemimpin nasional.

    “Kampus harus menjadi ruang lahirnya pemimpin masa depan yang mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Kehadiran para pemimpin nasional di lingkungan kampus merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus menghubungkan dunia akademik dengan realitas kebijakan publik,” dawuh beliau dalam sambutannya.

  • Mahasiswa UM Sulap Daun Mangga Jadi Teh Herbal Sehat, Warga RW 15 Lowokwaru Antusias Ikuti Pelatihan

    Mahasiswa UM Sulap Daun Mangga Jadi Teh Herbal Sehat, Warga RW 15 Lowokwaru Antusias Ikuti Pelatihan

    Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) melalui mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yang dibimbing oleh Dr. Ajeng Putri Pratiwi, M.Pd., sukses menggelar pelatihan produksi teh daun mangga di RW 15 Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang.

    Kegiatan ini menarik perhatian warga karena menghadirkan solusi kesehatan berbasis bahan alami sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif yang menjanjikan.

    Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut diketuai oleh Stevanus Purbadirja dari Departemen Biologi bersama tim mahasiswa lintas program studi Universitas Negeri Malang.

    Tim tersebut terdiri atas Talita Armitya Fahrsya Suhadi dari Departemen Matematika, Jalilatul Hikmah dan Rahel Andini Dwi Sasmita dari Departemen Biologi, serta Louis Giatra dari Departemen Teknik Industri.

    pengabdian masyarakat Mahasiswa Universitas Negeri Malang

    Melalui semangat kolaborasi dan kepedulian sosial, tim mahasiswa menghadirkan pelatihan inovatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat sekaligus pemanfaatan sumber daya lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

    Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat pun mendapat apresiasi positif dari warga setempat.

    Ketua PKK RW 15, Ibu Iin, menyampaikan apresiasinya saat memberikan sambutan pada Sabtu (10/05).

    “Ini merupakan inovasi baru dan menarik sehingga ibu-ibu semuanya yang hadir bisa mengikuti dan mengimplementasikannya di lingkungan kita,” ujarnya.

    Pelatihan tersebut mengusung konsep pemanfaatan daun mangga sebagai bahan minuman herbal yang kaya antioksidan.

    Selama ini, daun mangga kerap dianggap sebagai limbah yang kurang bernilai.

    Namun, di tangan mahasiswa UM, daun mangga diolah menjadi teh sehat dengan cita rasa khas dan manfaat yang baik bagi tubuh.

    Daun mangga diketahui mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, mangiferin, dan polifenol yang dipercaya dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.

    Kandungan tersebut juga berpotensi menjadikan teh daun mangga sebagai alternatif minuman herbal preventif di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat.

    Kegiatan berlangsung meriah dan mendapat sambutan hangat dari warga RW 15 Lowokwaru.

    Puluhan peserta yang terdiri atas ibu rumah tangga hingga pelaku UMKM lokal tampak antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan, mulai dari pemilihan daun mangga berkualitas hingga teknik penyeduhan dan pengemasan produk agar memiliki nilai jual tinggi.

    Tidak sedikit warga yang mengaku baru mengetahui bahwa daun mangga dapat diolah menjadi produk herbal yang menarik dan berpotensi dipasarkan.

    “Saya kira daun mangga hanya sekadar daun biasa, ternyata bisa dijadikan teh. Ini inovasi yang baru dan keren, dan pelatihan ini bermanfaat karena membuka pengetahuan baru bagi warga,” ujar Ibu Ulla, Ketua RT 04/RW 15, dalam wawancara pada Sabtu (10/05).

    Pengabdian masyarakat Mahasiswa Universitas Negeri Malang

    Pendapat serupa juga disampaikan Ketua PKK RW 15 Lowokwaru yang mengapresiasi kreativitas mahasiswa UM dalam menghadirkan program inovatif yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

    “Kegiatan ini sangat positif karena tidak hanya memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama warga RW 15. Kegiatan ini sangat diapresiasi oleh warga, terlihat dari antusiasme peserta yang hadir, di mana setiap RT memiliki perwakilan untuk mengikuti kegiatan,” terangnya.

    Sementara itu, Stevanus Purbadirja selaku ketua pelaksana menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata implementasi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui aksi sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    “Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi kreatif yang bermanfaat bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat secara langsung, sesuai dengan program UM saat ini yang harus berdampak dan beraksi nyata,” jelasnya.

    Suasana pelatihan semakin hidup ketika peserta mencoba langsung hasil seduhan teh daun mangga yang telah dibuat bersama. Aroma khas dan rasa unik dari teh tersebut membuat banyak warga tertarik untuk mengembangkan produk secara mandiri.

    Bahkan, beberapa peserta mulai berdiskusi mengenai peluang pemasaran produk melalui media sosial dan kemungkinan menjadikannya sebagai produk unggulan yang dapat dikembangkan di RW 15.

    Program ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi melalui inovasi berbasis sumber daya lokal.

    Kehadiran mahasiswa UM di tengah masyarakat membuktikan bahwa generasi muda tidak hanya berperan sebagai pelajar di ruang kelas, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan ide kreatif dan solusi nyata bagi lingkungan sekitar.

  • Milad ke-56 RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, Refleksi Pengabdian dan Komitmen Pelayanan Kesehatan

    Milad ke-56 RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, Refleksi Pengabdian dan Komitmen Pelayanan Kesehatan

    Waktu boleh berjalan, zaman boleh berubah, namun satu hal tetap teguh berdiri: pengabdian yang tak pernah padam.

    Di sebuah sudut Kabupaten Banyuwangi, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi merayakan Milad ke-56 pada tanggal 10 April 2026.

    Momentum ini bukan sekadar menjadi penanda bertambahnya usia, tetapi juga menjadi saksi perjalanan panjang dedikasi tanpa henti dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

    Mengusung tema “Semangat dalam Ikhtiar, Harmony dalam Sinergi, Profesional saat Melayani”, peringatan milad tahun ini menjadi refleksi mendalam tentang makna pelayanan kesehatan yang sesungguhnya—lebih dari sekadar tindakan medis, tetapi juga menghadirkan sentuhan kemanusiaan yang tulus dalam setiap pelayanan kepada pasien.

    Rumah sakit yang berdiri sejak tahun 1970 ini telah melalui berbagai fase perjalanan panjang: mulai dari masa keterbatasan sarana dan prasarana, perkembangan teknologi kesehatan yang semakin pesat, hingga dinamika kebutuhan masyarakat modern yang terus berkembang.

    Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah ruh pengabdian yang menjadi fondasi utama pelayanan RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Suasana penuh haru, bangga, dan semangat menyelimuti peringatan Milad ke-56 RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi yang jatuh pada tanggal 10 April 2026.

    Momentum ini menjadi refleksi perjalanan panjang pengabdian rumah sakit yang telah berdiri sejak tahun 1970 dan terus berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat.

    Selama lebih dari setengah abad, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi telah tumbuh menjadi salah satu pilar pelayanan kesehatan masyarakat, tidak hanya di wilayah Banyuwangi tetapi juga di daerah sekitarnya.

    Usia 56 tahun bukan sekadar angka, melainkan bukti keteguhan dalam merawat harapan, menyembuhkan luka, serta menguatkan kehidupan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang humanis dan profesional.

    Direktur RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, dr. Fuadi Shiham, dalam sambutannya menyampaikan bahwa milad ini merupakan momentum penting untuk kembali meneguhkan nilai-nilai perjuangan dan semangat pengabdian seluruh insan rumah sakit.

    Beliau menyampaikan bahwa Milad PKU ke-56 ini, sebagaimana milad-milad sebelumnya, merupakan sebuah rutinitas yang perlu dicermati bersama.

    Pada tahun ini kembali diingatkan tentang program lama rumah sakit, yaitu upaya peningkatan kapasitas rumah sakit.

    Salah satu rencana yang akan dilaksanakan pada tahun ini adalah penambahan Gedung Pelayanan Rawat Jalan Terpadu, yaitu penyatuan gedung laboratorium dan radiologi dalam satu area dengan gedung poliklinik rawat jalan guna mempercepat akses pelayanan serta memperbaiki alur layanan sehingga menjadi lebih efektif dan terintegrasi dalam satu sistem pelayanan rawat jalan terpadu.

    Selain itu, beliau juga menegaskan bahwa RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi akan terus berupaya memenuhi seluruh regulasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, terkait sistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi dengan platform Satu Sehat. Salah satu bentuk implementasinya adalah kewajiban penggunaan rekam medis elektronik sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan modern yang terintegrasi secara nasional.

    Selanjutnya, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi juga berusaha mengikuti regulasi rumah sakit berbasis kompetensi dengan proses penambahan beberapa fasilitas yang dibutuhkan, sebagai bagian dari upaya memenuhi target maksimal 24 kompetensi rumah sakit.

    Lebih lanjut, dr. Fuadi Shiham juga memandang bahwa walaupun usia rumah sakit telah mencapai 56 tahun dan tergolong usia yang matang, masih banyak hal yang perlu diperbaiki dan terus diikhtiarkan secara berkesinambungan sesuai dengan perencanaan yang telah dirancang, baik pada periode masa baktinya maupun pada periode kepemimpinan direktur selanjutnya.

    Beliau menyampaikan dengan penuh optimisme:

    “Perjalanan ini adalah perjalanan tanpa lelah. Kita tidak boleh berhenti, tidak boleh merasa cukup. Semangat harus terus menyala untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.”

    Beliau juga menegaskan bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa yang menuntut keikhlasan, ketulusan, serta profesionalisme dalam setiap tindakan pelayanan kepada masyarakat.

    Rangkaian Kegiatan Penuh Makna

    Perayaan Milad ke-56 RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi diisi dengan berbagai kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan dampak nyata dan langsung kepada masyarakat.

    Pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain:

    • Kegiatan donor darah yang dilaksanakan bekerja sama dengan UPTD PMI Kabupaten Banyuwangi sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan darah bagi masyarakat yang membutuhkan.
    • Kegiatan PKU Mobile Clinic Promotion melalui penyuluhan kesehatan dan konsultasi kesehatan gratis kepada masyarakat.
    • Penyuluhan kesehatan bagi remaja sebagai bentuk nyata kepedulian rumah sakit terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan generasi muda. Antusiasme masyarakat terlihat dari tingginya partisipasi dalam kegiatan ini.

    Sebagai bagian dari kegiatan sosial dalam rangka meningkatkan literasi kesehatan remaja, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi juga melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan di sekolah-sekolah, yaitu di SMK Muhammadiyah 6 dan SMP Muhammadiyah Rogojampi, dengan materi edukasi meliputi:

    • Gizi remaja
    • Kesehatan reproduksi
    • Pencegahan penyalahgunaan narkoba

    Selain itu, dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat melalui media sosial, dilaksanakan kegiatan Challenge Video “Terima Kasih PKU” yang melibatkan pasien maupun masyarakat umum untuk membuat video pengalaman pelayanan mereka di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Kegiatan lainnya adalah Lomba Foto Instagram “Senyum Sehat di PKU Rogojampi” yang berfokus pada dokumentasi momen senyum ceria pasien, pelayanan ramah tenaga kesehatan, serta interaksi sehat pasien dan pengunjung di lingkungan RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi.

    Sebagai bagian dari penguatan komunikasi inspiratif kepada masyarakat, juga dilaksanakan kegiatan Testimoni Pasien Inspiratif melalui pembuatan video kisah pasien sembuh yang menyentuh dengan konsep konten “Kisah Sehat Inspiratif”, yang diharapkan dapat memberikan motivasi serta semangat bagi masyarakat luas.

    Dalam rangka memberikan edukasi kesehatan secara lebih luas kepada masyarakat, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi juga menyelenggarakan kegiatan talkshow kesehatan santai bersama dokter dalam program Bincang Sehat dalam rangka Milad ke-56 RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi yang disiarkan secara langsung melalui YouTube dan Instagram.

    Selain itu, dilaksanakan pula kegiatan Live Health Talk di media sosial “Karyawan Inspiratif” melalui siaran langsung Instagram dengan topik kesehatan populer yang dikemas melalui storytelling kisah inspiratif karyawan selama memberikan pelayanan kepada masyarakat.

    Sebagai bagian dari penguatan nilai spiritual karyawan, dilaksanakan pula Program Kegiatan Religi Karyawan melalui kegiatan Pengajian Karyawan Milad ke-56 RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi dengan menghadirkan tokoh Muhammadiyah.

    Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan internal rumah sakit, dilaksanakan Program Inovasi Internal Rumah Sakit melalui Lomba Lean Management Rumah Sakit sebagai upaya meningkatkan efisiensi pelayanan di setiap unit kerja sekaligus melatih kedisiplinan karyawan dalam menjalankan tugas keseharian.

    Selain itu, dilaksanakan pula kegiatan Lomba Karyawan Teladan, baik bagi tenaga kesehatan maupun tenaga non-kesehatan sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi karyawan dalam memberikan pelayanan terbaik.

    Sebagai bentuk penghargaan kepada pasien yang telah mempercayakan pelayanan kesehatannya kepada RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, dilaksanakan Program Apresiasi Patient Loyalty Milad ke-56, yaitu kegiatan pemberian apresiasi bagi pasien yang melakukan kunjungan pengobatan paling sering selama periode satu tahun terakhir.

    Penilaian dilakukan menggunakan database SIMRS untuk memfilter pasien yang melakukan kunjungan ulang ke poli, rawat inap, maupun IGD dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.

    Selain itu, dalam rangka memperkenalkan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah kepada masyarakat luas, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi juga menghadirkan paket promosi layanan kesehatan dalam rangka Milad ke-56 yang sekaligus memperkenalkan tokoh-tokoh pergerakan Muhammadiyah.

    Promo layanan kesehatan ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit untuk semakin mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara luas.

    Dukungan dari Berbagai Pihak

    Ucapan selamat dan dukungan mengalir dari berbagai jejaring dan kolega, mulai dari mitra farmasi, penyedia alat kesehatan, hingga berbagai stakeholder di bidang kesehatan lainnya.

    Hal ini menunjukkan bahwa RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi telah menjadi bagian penting dalam ekosistem pelayanan kesehatan yang solid, terpercaya, dan terus berkembang bersama masyarakat.

    Harmoni dalam Sinergi

    Tema milad tahun ini bukan sekadar slogan, tetapi menjadi cerminan nyata perjalanan RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi selama lebih dari lima dekade. Semangat dalam ikhtiar tercermin dari kerja keras tanpa henti seluruh insan rumah sakit.

    Harmoni dalam sinergi terlihat dari kolaborasi seluruh elemen organisasi. Sementara profesionalisme menjadi landasan utama dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat.

    Di usia ke-56 tahun ini, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi tidak hanya merayakan perjalanan panjang pengabdian, tetapi juga menatap masa depan dengan penuh optimisme.

    Sebuah tekad terus diteguhkan: menjadi rumah sakit yang tidak hanya menyembuhkan, tetapi juga menguatkan harapan dan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

    Penulis: Heri Iskandar, S.Kep., Ners

  • Stevanus Purbadirja, Pemerhati Lingkungan dan Mahasiswa Berprestasi FMIPA UM 2026 yang Terbitkan 11 Buku

    Stevanus Purbadirja, Pemerhati Lingkungan dan Mahasiswa Berprestasi FMIPA UM 2026 yang Terbitkan 11 Buku

    Stevanus Purbadirja, mahasiswa Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM), berhasil meraih Juara I sebagai Mahasiswa Berprestasi FMIPA Universitas Negeri Malang.

    Pencapaian tersebut tidak hanya mencerminkan kemampuan akademiknya yang kuat, tetapi juga menunjukkan dedikasinya dalam penelitian, literasi, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

    Mahasiswa yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan ini saat ini tengah memfokuskan perhatiannya pada penelitian tentang tanaman mangga.

    Penelitiannya menyoroti potensi pemanfaatan mangga dalam bidang kesehatan dan lingkungan.

    Salah satu yang sedang dikaji adalah pemanfaatan daun mangga yang diolah menjadi teh herbal yang memiliki potensi manfaat bagi kesehatan.

    Melalui penelitian tersebut, ia berupaya mengembangkan pengetahuan ilmiah sekaligus membuka peluang inovasi berbasis sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

    Stevanus Purbadirja Universitas Malang
    Stevanus Purbadirja melakukan pemaparan karya inovasi berbasis daun mangga sebagai potensi lokal

    Keseriusannya dalam meneliti tanaman mangga menjadi salah satu faktor yang mengantarkannya meraih predikat mahasiswa berprestasi tingkat fakultas pada tahun 2026.

    “Tanaman mangga sendiri sebenarnya memiliki beragam manfaat yang selama ini tidak diolah dengan maksimal, saya memiliki minat yang besar untuk mengolahnya karena kelimpahan di daerah yang cukup banyak” ujar Stevanus di kampus yang dulunya bernama IKIP Malang ini Rabu (11/03/26).

    Di luar kegiatan akademik dan penelitian, Stevanus juga memiliki ketertarikan yang kuat pada dunia literasi, khususnya dalam menulis buku.

    Hingga saat ini, mahasiswa tersebut telah berhasil menerbitkan 11 buku dengan beragam tema yang mencerminkan pemikiran kritis, refleksi kehidupan, serta semangat intelektual seorang mahasiswa.

    “Saya mulai menulis sejak tahun 2021 dimana saya berkecimpung dalam dunia literasi dan fokus untuk meningkatkan minat baca, dengan terbitnya 11 buku ini diharapkan dapat mendukung minat baca masyarakat, “Ujar mahasiswa semester 4 ini.

    Salah satu karya yang cukup menonjol adalah buku berjudul Sajak di Persimpangan. Buku ini dinilai sebagai salah satu karya yang kuat karena memadukan kedalaman makna, refleksi sosial, serta kepekaan emosional dalam bentuk puisi.

    “Buku ini saya tulis selama 4 tahun dengan menggambarkan kehidupan masa muda dan emosional seorang anak muda! ‘

    Selain aktif dalam penelitian dan menulis buku, mahasiswa Departemen Biologi ini juga terlibat dalam kegiatan BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di Universitas Negeri Malang.

    Melalui kegiatan tersebut, ia turut berperan dalam memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional.

    Stevanus Purbadirja, Mahasiswa Prestasi FMIPA UM Tahun 2026
    Stevanus Purbadirja, Mahasiswa Prestasi FMIPA UM Tahun 2026

    Partisipasinya dalam program BIPA menunjukkan komitmennya untuk memperluas penggunaan bahasa Indonesia di tingkat global sekaligus membangun jembatan komunikasi antarbudaya.

    Prestasi yang diraih Stevanus Purbadirja menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut untuk unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengembangkan potensi diri di berbagai bidang.

    Melalui penelitian, literasi, dan pengabdian, ia memperlihatkan bahwa semangat belajar dan berkarya dapat berjalan beriringan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    “Kita harus semangat mewujudkan Indonesia Emas 2045, Karena kita adalah masa depan bangsa dan kita harus menjadi pelopor dalam mewujudkan tujuan besar bangsa ini” ujar putra asal Pasuruan ini.

    Dengan berbagai capaian tersebut, Stevanus diharapkan dapat terus menginspirasi mahasiswa lain untuk berani berkarya, melakukan penelitian, serta berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan bangsa.

    Jika bukan dari kita sebagai seorang mahasiswa kapan kita bisa mencapai masa depan dunia.

  • Jurnalis SMK Models Gelar Ngabuburead Produktif, Bahas Literasi sebagai Nutrisi Ruhani

    Jurnalis SMK Models Gelar Ngabuburead Produktif, Bahas Literasi sebagai Nutrisi Ruhani

    Ekstrakurikuler Jurnalis SMK Models (Mojoer Media) menggelar kegiatan Ngabuburead Produktif secara daring pada Selasa, 10 Maret 2026.

    Kegiatan yang dilaksanakan dalam suasana Ramadan ini menghadirkan Maulana Affandi, S.S. sebagai pemateri dengan tema “Literasi sebagai Nutrisi Ruhani.”

    Acara yang dipandu oleh Aurelia Clarista Putri ini menjadi ruang belajar bagi para siswa untuk memanfaatkan waktu menjelang berbuka puasa dengan aktivitas yang bermanfaat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran literasi di kalangan pelajar.

    Dalam pemaparannya, Affandi menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan dasar yang saling berkaitan, yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan intelektual, dan kebutuhan batin. Menurutnya, ketiga kebutuhan tersebut perlu dipenuhi secara seimbang.

    Ia merumuskan gagasan itu dalam tiga kunci sederhana, yakni fisik yang lapar membutuhkan makanan, pikiran yang lapar membutuhkan pengetahuan, sementara jiwa yang kosong memerlukan literasi sebagai nutrisi ruhani.

    ngabuburead produktif smk models

    Affandi menjelaskan bahwa literasi tidak sekadar aktivitas membaca dan menulis, tetapi merupakan proses memperkaya batin melalui perjumpaan dengan berbagai gagasan, pengalaman, serta nilai kehidupan yang tertuang dalam teks.

    Menurutnya, melalui kegiatan membaca seseorang dapat bertemu dengan berbagai gagasan dan cara pandang yang disampaikan penulis melalui karya.

    Dari proses tersebut, seseorang tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga memperluas cara pandang terhadap kehidupan.

    Ia juga menegaskan bahwa kebijaksanaan lahir dari literasi. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan gagasan melalui membaca, maka semakin luas pula perspektif yang dimilikinya.

    “Literasi itu bukan hanya soal baca tulis. Literasi adalah proses bertemunya gagasan. Dari sanalah seseorang belajar memahami banyak sudut pandang hingga akhirnya melahirkan kebijaksanaan,” jelasnya.

    Karena itu, ia menilai bahwa tingkat literasi seseorang sangat memengaruhi cara berpikir dan sikap dalam menghadapi persoalan kehidupan.

    Orang yang terbiasa membaca dan berpikir kritis cenderung lebih mampu melihat masalah secara jernih serta mengambil keputusan dengan lebih bijaksana.

    Kegiatan Ngabuburead Produktif tersebut berlangsung interaktif. Para peserta diajak aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta menyampaikan pandangan mereka terkait literasi dan kebiasaan membaca di kalangan pelajar.

    Beberapa siswa seperti Dirly dan Novan turut menyampaikan pendapat serta pengalaman mereka dalam membangun kebiasaan membaca di tengah aktivitas sekolah.

    Salah satu peserta mengaku kegiatan ini memberikan perspektif baru tentang pentingnya membaca.

    “Materinya membuat saya sadar bahwa membaca itu bukan hanya untuk tugas sekolah, tetapi juga untuk memperluas cara berpikir kita,” ujarnya.

    Di akhir sesi, Affandi juga menekankan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

    Dengan literasi yang kuat, pelajar tidak hanya menjadi pembaca informasi, tetapi juga mampu menjadi penghasil gagasan.

    Suksesnya kegiatan Ngabuburead Produktif ini juga tidak lepas dari peran pembina Mojoer Media, Cici Arista Devi, S.Pd., yang memberikan dukungan serta memfasilitasi para siswa sehingga kegiatan literasi tersebut dapat terselenggara dengan baik.

    Kegiatan Ngabuburead Produktif ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat membaca dan menulis di kalangan siswa SMK Models, sekaligus menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat kualitas intelektual dan spiritual melalui literasi.

  • Redaksi Sastrawacana.id Beri Pelatihan Jurnalistik di SMK Models, Peserta: Isinya Daging Semua!

    Redaksi Sastrawacana.id Beri Pelatihan Jurnalistik di SMK Models, Peserta: Isinya Daging Semua!

    Redaksi sastrawacana.id/ yang diwakili oleh Maulana Affandi, S.S dan Andi Budi Setiawan, S.Pd, memberi pelatihan jurnalistik tingkat lanjut untuk siswa SMK Models, Rabu (11/2).

    Kegiatan ini menjadi ajang bagi peserta untuk menajamkan kemampuan menulis berita, menentukan angle, dan memahami strategi pengelolaan media sekolah secara praktis.

    Pelatihan yang mulai pukul 13.30 WIB tersebut berlangsung interaktif, dengan total 20 peserta aktif dari angkatan 02.

    Setiap peserta diajak langsung terlibat dalam praktik jurnalistik, mulai dari menyusun judul berita, menentukan sudut pandang, hingga merancang konten untuk media digital sekolah.

    Andi Budi Setiawan membuka sesi dengan menekankan pentingnya mindset jurnalis pelajar.

    Ia mengajak siswa memahami bahwa menjadi jurnalis bukan sekadar menulis, tetapi juga mengamati, menganalisis, dan menafsirkan setiap peristiwa secara kritis.

    “Setiap kegiatan sekolah memiliki cerita yang berbeda. Tugas kalian adalah menemukan yang paling relevan dan bermakna untuk dibagikan,” jelas Andi kepada para peserta.

    Sementara itu, Maulana Affandi menyoroti pentingnya website sekolah sebagai media jurnalistik.

    Ia menjelaskan perbedaan antara website humas dan media jurnalistik, serta bagaimana website bisa menjadi ruang untuk menampilkan berita yang memiliki sudut pandang dan nilai edukatif.

    Peserta diajak belajar membuat artikel yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik bagi pembaca digital.

    Metode pelatihan memadukan teori singkat, diskusi kelompok, dan praktik langsung.

    Peserta mencoba membuat judul, menentukan angle, dan menulis artikel pendek dari studi kasus yang diberikan. Interaksi ini membuat suasana kelas hidup dan penuh semangat.

    Salah satu peserta mengaku terinspirasi oleh materi yang diberikan.

    “Saya baru sadar menulis itu bukan sekadar laporan kegiatan. Kita harus bisa menangkap inti dan pesan dari setiap peristiwa. Pelatihan hari ini benar-benar isinya daging semua!” ujarnya antusias.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional 2026, sekaligus momen berharga bagi jurnalis SMK Models yang tergabung dalam Mojoer Media.

    Tak hanya menggelar pelatihan, Mojoer Media juga merilis buku terbaru mereka berjudul Journey of Organization yang mendokumentasikan perjalanan organisasi dan kegiatan jurnalistik sekolah.

    Pelatihan ini diharapkan dapat membekali jurnalis pelajar untuk menghasilkan tulisan yang bernilai, mengelola media sekolah dengan profesional, dan menjadi bagian dari regenerasi Models Jurnalisme yang adaptif dengan perubahan zaman.

    Dengan semangat “Menata aksara, membedah realita,” siswa diajak untuk menulis dengan pemikiran, menyebarkan informasi yang bermanfaat, dan membangun budaya literasi yang kuat di lingkungan sekolah.

  • Perkuat Media NU di Era Digital, MWC NU Rogojampi dan YPIA Rogojampi Gelar Lokakarya Jurnalistik Berbasis AI

    Perkuat Media NU di Era Digital, MWC NU Rogojampi dan YPIA Rogojampi Gelar Lokakarya Jurnalistik Berbasis AI

    sastrawacana.id/ – Dalam rangka memperingati Harlah ke-100 Masehi Nahdlatul Ulama, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Rogojampi bersama Yayasan Pendidikan Islam Ahlussunah WalJama'ah (YPIA) Rogojampi bekerja sama dengan Media sastrawacana.id/ menggelar Lokakarya Jurnalistik Digital NU bertema Inovasi Penulisan Berita dan Dokumentasi NU Berbasis Artificial Intelligence.

    Kegiatan ini dilaksanakan di MI Islamiyah Rogojampi, Ahad (8/2/2026).

    Lokakarya yang dimulai pukul 08.30 WIB ini diikuti puluhan peserta, mayoritas dari kalangan kader muda NU, termasuk perwakilan IPNU, IPPNU ISNU, pengurus ranting NU se-Kecamatan Rogojampi, serta operator dan kepala sekolah lembaga pendidikan di bawah naungan YPIA Rogojampi.

    Hadir pula jajaran syuriah dan tanfidziyah MWC NU Rogojampi, pengurus YPIA, serta perwakilan lembaga pendidikan mulai dari TKM Khodijah 2, MI Islamiyah Rogojampi, MTs Rogojampi, hingga SMA Sultan Agung Rogojampi.

    Kegiatan diawali dengan khutbah iftitah yang disampaikan oleh Rois Syuriah MWC NU Rogojampi, Kyai. Faturrozaq Ahdini.

    Dalam pesannya, Kyai Faturrozaq menekankan pentingnya tanggung jawab moral warga NU di era digital.

    Ia menyebutkan tiga hal yang menjadi tanda rahmat Allah SWT kepada manusia, yakni menjaga lisan dan tulisan, mengenali zaman atau era yang sedang dihadapi, serta istiqamah di jalan Ahlussunnah wal Jamaah.

    “Di era digital dan kecerdasan buatan, menjaga ucapan dan tulisan menjadi sangat penting. Jari jemari kita hari ini bisa menjadi ladang pahala, tetapi juga bisa menjadi sumber masalah jika tidak dijaga,” pesan Kyai Faturrozaq singkat namun reflektif.

    Ketua Pengurus YPIA Rogojampi, Drs. H. Moh. Dimyati, MM, dalam sambutannya menegaskan bahwa literasi digital merupakan kebutuhan mendesak, terutama bagi generasi muda NU.

    Ia menyampaikan bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, sehingga harus direspons dengan sikap bijak dan bertanggung jawab.

    “Generasi muda NU harus sadar teknologi. Kita sudah berada di era digital. Media harus digunakan secara bijak, karena apa yang keluar dari mulut dan tulisan kita akan dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.

    Ia juga menekankan pentingnya mekanisme kontrol editorial, agar setiap berita yang dipublikasikan benar, jelas, dan membawa manfaat.

    Sementara itu, Nanang Khoriri, SH, yang mewakili Ketua Tanfidziyah MWC NU Rogojampi, menyoroti Artificial Intelligence (AI) sebagai fenomena yang memiliki manfaat sekaligus risiko.

    Menurutnya, warga NU tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus selangkah lebih maju dalam memahami dan memanfaatkan AI, khususnya dalam pengelolaan media dan informasi.

    “AI punya kelebihan dan kelemahan. Karena itu, kita harus bijak dalam menggunakan media sosial dan teknologi, agar tidak terjebak arus informasi yang menyesatkan,” tegasnya.

    Lokakarya ini menghadirkan Maulana Affandi Digital Specialist Lintang Academy sebagai narasumber utama.

    Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia hingga tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan.

    Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi peluang besar bagi NU untuk memperkuat dakwah dan narasi keumatan melalui media digital.

    Ia menjelaskan secara teknis pemanfaatan AI dalam penulisan berita dan konten.

    Mulai dari proses ide, penyusunan prompt yang tepat, hingga menghasilkan draft awal yang kemudian harus diedit dan diverifikasi oleh manusia.

    “AI bukan pengganti jurnalis. Ide, arah, dan nilai tetap menjadi tanggung jawab manusia. Hasil AI hanyalah bahan mentah yang wajib disunting agar layak konsumsi publik,” jelasnya.

    Dalam sesi diskusi, peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan, terutama terkait penggunaan AI untuk menulis berita NU secara cepat dan praktis tanpa meninggalkan kaidah jurnalistik.

    Maulana menegaskan bahwa manusia tetap menjadi pengendali utama, sedangkan AI hanyalah alat bantu yang bisa diarahkan sesuai kebutuhan.

    Menjelang akhir sesi pertama, peserta diajak praktik langsung menulis berita dengan bantuan AI.

    Praktik ini memberikan pengalaman nyata bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara efektif, asalkan digunakan secara etis dan bertanggung jawab.

    Narasumber kedua, Andi BS sebagai Jurnas sastrawacana.id/, menekankan bahwa menulis berita NU adalah bentuk khidmah.

    andi budi setiawan mwcnu rogojampi

    Ia mengingatkan pentingnya prinsip kejujuran, kejelasan, dan kemanfaatan, serta penggunaan pola dasar 5W+1H.

    Ia juga mengajak peserta mengangkat kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan budaya NU, serta menghindari kabar provokatif dan praktik salin-tempel.

    Sebagai tindak lanjut, peserta diberi tugas menulis berita tentang kegiatan di lingkungan masing-masing dalam waktu 1×24 jam untuk dikumpulkan kepada panitia sebagai produk lokakarya.

    Salah satu peserta menyampaikan, “Saya sangat mendukung kegiatan lokakarya jurnalistik semacam ini. Materinya padat dan sangat bermanfaat, membantu menulis berita secara mudah, cepat, dan praktis.”

    Panitia berharap lokakarya ini menjadi langkah awal penguatan media NU di Rogojampi, sekaligus mendorong keberlanjutan pengelolaan media online mwcnurogojampi.com dan ypiarogojampi.mwcnurogojampi.com sebagai sarana dakwah, literasi, dan syiar NU yang berdampak luas bagi masyarakat Rogojampi dan Banyuwangi.