Kategori: Inspirasi

  • Satu dari 103 Peserta Terpilih, Mahasiswi UNEJ Ikuti Program Internasional NSP 2025 di Taiwan

    Satu dari 103 Peserta Terpilih, Mahasiswi UNEJ Ikuti Program Internasional NSP 2025 di Taiwan

    Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) di kancah internasional.

    Scientiatari Cahyaning Adhi, mahasiswi angkatan 2023 Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), berhasil terpilih sebagai salah satu peserta New Southbound Policy (NSP) Short-term Study Program 2025 di National Quemoy University (NQU), Taiwan.

    Mahasiswi yang akrab disapa Scien ini menjadi satu dari 103 mahasiswa terpilih dari tujuh negara mitra NSP yang mengikuti program studi internasional bergengsi tersebut.

    Program ini tidak hanya berlangsung di NQU, tetapi juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi ternama di Taiwan, seperti Taipei Medical University, National Chung Hsing University, National Taipei University of Technology, serta National Pingtung University of Science and Technology.

    Selama satu semester penuh, mulai September 2025 hingga Januari 2026, Scien akan menjalani berbagai kegiatan akademik dan nonakademik. Ia akan mempelajari mata kuliah seperti New Southbound Policy, Cross-Strait Relations, Regional Security, dan International Relations.

    Selain itu, peserta juga mengikuti kursus intensif Bahasa Mandarin selama 12 jam per minggu, serta kegiatan kunjungan lapangan dan program kebudayaan untuk mengenal masyarakat Taiwan secara langsung.

    Untuk bisa lolos, Scien harus melewati proses seleksi yang cukup kompetitif, mulai dari tahap administrasi, penilaian motivation letter, hingga wawancara. Ia bersaing dengan ratusan pendaftar dari berbagai negara.

    “Saya merasa sangat bersyukur dan bangga bisa terpilih. Ini adalah tantangan baru sekaligus kesempatan besar untuk berkembang, baik secara personal maupun profesional,” ungkap Scien.

    Ia mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi justru berasal dari sisi mental. Melihat banyaknya peserta dari berbagai latar belakang negara sempat membuatnya ragu.

    Namun, Scien memilih fokus mempersiapkan diri sebaik mungkin, khususnya dalam menyusun motivation letter dan menghadapi wawancara.

    “Dari situ saya sadar, it’s not only hard work, but also having the confidence to believe in yourself,” tuturnya.

    Ketertarikan Scien pada kajian hubungan lintas selat (cross-strait studies) menjadi motivasi utama mengikuti program ini. Menurutnya, program di NQU menawarkan pendekatan yang menghubungkan teori dengan realitas di kawasan.

    “Program di NQU ini unik karena menghubungkan teori dengan konteks nyata di kawasan. Saya harap bisa memperdalam pemahaman sekaligus melatih cara berpikir kritis untuk bekal di masa depan,” jelasnya.

    Lebih jauh, Scien berharap pengalaman internasional yang diperolehnya dapat memberikan kontribusi positif bagi UNEJ.

    Ia ingin berbagi ilmu serta memotivasi mahasiswa lain agar berani mengambil peluang global.

    “Saya ingin berbagi dengan teman-teman, sekaligus memotivasi agar lebih banyak mahasiswa UNEJ berani mengambil peluang internasional,” ujarnya.

    Sebagai penutup, Scien membagikan pesan bagi mahasiswa UNEJ yang ingin mencoba program serupa.

    Menurutnya, keberanian untuk memulai adalah kunci utama. Ia menyarankan agar calon pendaftar tidak terpaku pada kekurangan, seperti kemampuan bahasa atau minimnya sertifikat, melainkan lebih menonjolkan motivasi dan tujuan yang jelas dalam setiap kesempatan. (Humas UNEJ)

  • Perkuat Budaya Baca Sejak Dini, Penerbit Lintang dan Dinas Perpustakaan Banyuwangi Kunjungi MI Kedaleman

    Perkuat Budaya Baca Sejak Dini, Penerbit Lintang dan Dinas Perpustakaan Banyuwangi Kunjungi MI Kedaleman

    Upaya menghidupkan budaya literasi di kalangan pelajar terus dilakukan oleh Penerbit Lintang bersama media literasi sastrawacana.id/ dengan melakukan kunjungan serta donasi buku.

    Kegiatan ini menyasar lembaga-lembaga pendidikan di berbagai wilayah Banyuwangi sebagai bagian dari gerakan penguatan minat baca sejak dini.

    Kunjungan kali ini terasa lebih istimewa karena dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, S.E., M.Si., yang berlangsung di MI Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, pada Rabu (17/12/2025).

    Di sela-sela kesibukannya, Yusdi Irawan menyempatkan diri untuk turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen Dinas Perpustakaan Kabupaten Banyuwangi dalam mendukung penguatan budaya baca di lingkungan sekolah.

    Kehadirannya sekaligus menjadi wujud perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan perpustakaan sekolah sebagai sarana edukatif yang strategis bagi pembentukan karakter dan peningkatan kualitas literasi peserta didik sejak usia dini.

    Kunjungan Perpusda di MI Kedaleman

    Dalam kesempatan tersebut, Yusdi Irawan memantau langsung kondisi perpustakaan MI Kedaleman sekaligus berdialog dengan pihak sekolah terkait literasi.

    Selain menyerahkan sejumlah buku, ia juga memberikan masukan yang berhubungan dengan pengelolaan perpustakaan dan strategi menumbuhkan minat baca siswa sejak usia dini.

    Menurutnya, keberadaan perpustakaan sekolah harus dimaknai lebih dari sekadar fasilitas pelengkap, melainkan sebagai ruang pembelajaran yang aktif dan berkelanjutan.

    “Perpustakaan sekolah bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga menjadi ruang yang hidup dan mampu menumbuhkan minat baca anak-anak. Jadi, perlu ada rutinitas membaca karena kebiasaan akan berubah menjadi budaya membaca,” ujar Yusdi Irawan.

    Ia menambahkan, penguatan literasi sejak sekolah dasar menjadi fondasi penting bagi pembangunan sumber daya manusia di masa depan.

    Kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua Kopiwangi, Andi Budi Setiawan, S.Pd., yang dalam kesempatan itu menyerahkan sejumlah buku, termasuk karya tulisnya sendiri.

    Seperti diketahui, Andi Budi Setiawan merupakan penulis asal Banyuwangi yang telah melahirkan berbagai karya sastra serta aktif mendorong gerakan literasi di daerah.

    Kepala Sekolah MI Kedaleman, Nur Lailiyah, S.Ag, menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan perhatian yang diberikan.

    Ia menilai kehadiran Kepala Dinas Perpustakaan bersama Penerbit Lintang dan sastrawacana.id/ menjadi semangat baru bagi sekolah.

    “Kunjungan ini menjadi energi positif bagi kami. Kami merasa mendapat dukungan moral untuk terus mengembangkan perpustakaan serta budaya membaca di sekolah,” ungkap Nur Lailiyah.

    Ia berharap ke depan dapat terjalin kolaborasi berkelanjutan dengan Perpustakaan Daerah Banyuwangi.

    Sebagai informasi, MI Kedaleman Rogojampi dikenal sebagai salah satu sekolah yang memiliki keunggulan dalam bidang keagamaan.

    Para siswa dibekali pendidikan akhlakul karimah sejak dini sebagai fondasi pembentukan karakter.

    Melalui penguatan literasi yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan, sekolah ini berupaya mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

    Sementara itu, Pemimpin Redaksi Penerbit Lintang, Maulana Affandi, S.S., menegaskan bahwa kegiatan donasi buku dan kunjungan sekolah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Penerbit Lintang dalam mendukung gerakan literasi di Banyuwangi.

    “Kami percaya bahwa literasi tidak bisa dibangun secara instan. Butuh kehadiran, ketelatenan, dan kerja bersama berbagai pihak. Kunjungan seperti ini adalah upaya sederhana kami untuk menghadirkan buku lebih dekat dengan anak-anak, sekaligus menumbuhkan kecintaan mereka pada membaca,” ujar Maulana Affandi.

    Menurutnya, sinergi antara komunitas literasi, media, sekolah, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem literasi yang sehat dan berkelanjutan.

    Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan dan menjangkau lebih banyak sekolah, terutama di wilayah-wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses bacaan.

    Kegiatan donasi buku dan kunjungan ini diharapkan menjadi langkah kecil namun berkelanjutan dalam menumbuhkan semangat membaca serta memperkuat ekosistem literasi di Banyuwangi.

  • Harmoni Kopi dan Literasi ala X-Barue Coffee Warnai Milad Muhammadiyah ke-113

    Harmoni Kopi dan Literasi ala X-Barue Coffee Warnai Milad Muhammadiyah ke-113

    Gelaran Milad Muhammadiyah ke-113 pada Ahad, 16 November 2025 menghadirkan berbagai stan menarik, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah X-Barue Coffee dengan konsep unik “Coffee & Literasi”.

    Bukan sekadar menyajikan kenikmatan kopi dalam setiap seduhannya, mereka juga mengajak pengunjung untuk lebih dekat dengan budaya literasi.

    Founder X-Barue Coffee, Muhammad Sodek, menjelaskan bahwa gagasan menggabungkan kopi dan literasi lahir dari kecintaannya terhadap dunia baca.

    X Barue Coffee

    “Kopi dan literasi itu seperti dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Menikmati kopi sambil membaca itu rasanya nikmat,” ungkapnya penuh semangat.

    Menurutnya, membaca sambil menikmati kopi memberi pengalaman yang lebih fokus.

    “Ketika membaca sambil ngopi itu lebih fokus. Dengan menyeruput kopi, kita bisa lebih mudah mencerna,” tambahnya.

    Cici Arista Devi

    Sejalan dengan pandangan Cici Arista Devi, S.Pd, pembina Models Jurnalisme, yang menuturkan bahwa menikmati kopi sambil membaca membuka ruang rasa yang berbeda.

    “Saya bukan kopi holic, tapi ketika literasi disandingkan dengan kopi, setiap cecapan kopi yang saya nikmati menghadirkan sensasi yang sulit diungkapkan, approve banget sama konsep yang diusung X-Barue Coffee” tandasnya.

    Sodek juga berbagi bahwa pengalamannya berkunjung ke Yogyakarta memberikan motivasi kuat untuk menghadirkan konsep literasi dalam coffee shop-nya.

    “Di Jogja, banyak coffee shop yang identik dengan buku ada yang menyediakan buku untuk dibaca bahkan untuk dibeli. Selama ini di Banyuwangi rasanya belum banyak yang begitu, makanya itu memotivasi saya untuk membuat konsep Coffee & Literasi ,” ungkapnya.

    Kehadiran X-Barue Coffee dalam acara ini menunjukkan bahwa literasi dapat dipromosikan melalui cara sederhana namun dekat dengan keseharian masyarakat, salah satunya lewat suasana hangat di sekitar secangkir kopi.

  • Inspiratif! Semangat Literasi Warnai HUT DWP ke-26, Ketua DWP Cabdindik Banyuwangi: Kami Memberi Ruang Berkreasi untuk Para Wanita Hebat

    Inspiratif! Semangat Literasi Warnai HUT DWP ke-26, Ketua DWP Cabdindik Banyuwangi: Kami Memberi Ruang Berkreasi untuk Para Wanita Hebat

    Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Banyuwangi berlangsung meriah di Aula SMKN 1 Glagah, Sabtu (6/12/2025).

    Acara yang dihadiri seluruh anggota DWP dari SMAN, SMKN, hingga SLBN di bawah naungan Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi ini tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

    Bekerjasama dengan media literasi sastrawacana.id/ dan Penerbit Lintang, tahun ini DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi mengangkat tema besar tentang penguatan literasi dengan menggelar lomba menulis cerpen dan cipta baca puisi.

    Program tersebut diinisiasi langsung oleh Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E, sebagai upaya menghadirkan ruang kreatif bagi para perempuan di lingkungan pendidikan.

    Sebanyak 29 lembaga pendidikan turut ambil bagian, menghadirkan antusiasme yang memenuhi aula sejak pagi.

    Dua pegiat literasi Banyuwangi, yakni Maulana Affandi, S.S., dan Andi Budi Setiawan, S.Pd diundang sebagai juri untuk menilai karya-karya para peserta.

    Untuk kategori cerpen, peserta menulis karya dari rumah lalu mengumpulkannya kepada panitia.

    Sementara lomba cipta baca puisi digelar langsung di ruang perpustakaan SMKN 1 Glagah.

    Peserta Lomba Puisi HUT DWP Banyuwangi

    Sorak bahagia dan semangat para peserta menghiasi jalannya perlombaan. Suasana hangat dan penuh energi membuat peringatan HUT DWP ke-26 terasa lebih hidup dan bermakna.

    Ketua DWP Cabdindik Kabupaten Banyuwangi, Siti Nurjanah Slamet Riyadi, S.E mengatakan bahwa penguatan literasi adalah cara untuk mendorong perempuan-perempuan di lingkungan DWP agar lebih percaya diri menyuarakan gagasannya.

    “Tahun ini kami ingin HUT DWP punya makna yang lebih dalam. Melalui lomba literasi ini, kami menyediakan ruang berkreasi bagi para wanita hebat yang selama ini mungkin belum sempat menunjukkan bakatnya. Kami ingin mereka berani menulis, berani membaca karya sendiri, dan bangga dengan kemampuan mereka,” ujarnya.

    Tak berhenti sampai di situ, ia menambahkan bahwa seluruh karya yang dikumpulkan peserta tidak akan berakhir sebagai dokumen lomba semata.

    DWP Cabdindik Banyuwangi berencana menyatukannya menjadi sebuah buku antologi yang akan dikenang dan menjadi dokumentasi kreativitas para perempuan di lingkungan pendidikan.

    Lebih dari sekadar kumpulan karya, antologi tersebut diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi anggota DWP di tahun-tahun mendatang, sekaligus penanda bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil yang konsisten.

    “Setiap karya punya nilai. Sayang sekali kalau hanya selesai di meja panitia. Karena itu, semua tulisan dan puisi akan kami abadikan dalam bentuk buku antologi agar dapat menjadi jejak karya bersama,” tambah Siti Nurjanah.

     

    Ia percaya bahwa penerbitan antologi ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghargaan terhadap proses dan usaha para peserta.

    Dengan adanya buku tersebut, setiap karya tidak hanya berhenti sebagai hasil lomba, tetapi berubah menjadi jejak kontribusi nyata bagi pengembangan budaya literasi di Banyuwangi.

    Pada sesi penutupan dan penyerahan hadiah, Siti Nurjanah bersama suaminya, Slamet Riyadi, M.Pd yang hadir mewakili Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta.

    Ia menyampaikan harapan agar kegiatan semacam ini dapat menjadi pemantik semangat literasi di Banyuwangi.

    HUT DWP ke 26 Kabupaten Banyuwangi

     

    “Teruslah berkarya, jangan berhenti pada lomba ini saja. Banyuwangi membutuhkan perempuan-perempuan yang tidak hanya mendidik, tapi juga menginspirasi. Semoga dari kegiatan ini lahir lebih banyak penulis, pembaca yang kritis, dan karya-karya yang membanggakan,” tuturnya.

    Peringatan HUT DWP ke-26 tahun ini menjadi bukti bahwa literasi dapat tumbuh di mana saja, termasuk di ruang-ruang organisasi perempuan.

    DWP Cabdindik Banyuwangi berharap agar kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut sebagai ruang untuk pengembangan kreativitas serta memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan.

  • Pelukan Cinta Keluarga dan Sambutan Hangat Guru serta Relawan Dukung Kesetaraan Disabilitas

    Pelukan Cinta Keluarga dan Sambutan Hangat Guru serta Relawan Dukung Kesetaraan Disabilitas

    Program Awareness Raising yang digagas oleh Building Effective Network (BEN) bekerja sama dengan Aura Lentera dan Rumah Literasi Indonesia, berlangsung hangat dan penuh makna pada Jumat (14/11) di aula SLB dekat GOR dan LPP Blambangan FM.

    Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara penyandang disabilitas, pendamping, orangtua, guru, aktivis literasi, serta para pemerhati inklusivitas di Banyuwangi.

    Acara diawali dengan pembukaan oleh NS Tunggul Harwanto, M.Kes., Ketua Rumah Literasi Indonesia Banyuwangi.

    Dalam paparannya, Tunggul memperkenalkan tujuan utama program BEN, yakni membangun jaringan kolaborasi yang efektif antar komunitas dan lembaga yang bergerak dalam isu disabilitas.

    Tunggul menegaskan bahwa keberadaan ruang seperti ini sangat dibutuhkan bagi para penyandang disabilitas di Banyuwangi.

    “Kami berharap kegiatan ini bukan hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga wadah bagi teman-teman disabilitas untuk terus berkarya, menunjukkan kemampuan, dan menginspirasi masyarakat luas. Mereka punya potensi besar, dan kita, sebagai masyarakat, harus menjadi lingkaran dukungan yang kuat,” ujarnya.

    Indah Caturningtyas

    Sedang Indah Catur Cahyaningtyas dari Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI) sebagai moderator mengungkapkan jika kesadaran publik tentang hak-hak disabilitas masih perlu diperkuat.

    Sehingga edukasi dan jejaring kolaboratif menjadi kunci penting yang ingin ditegakkan melalui program BEN. Oleh karnanya, butuh intervensi pemerintah dan uluran hati untuk pemberdayaan lainnya.

    Materi pertama disampaikan oleh Masfufah M. Pd dari Perkins Internasional, yang memaparkan gambaran umum tentang isu disabilitas di Banyuwangi serta pentingnya pendekatan humanis dan inklusi dalam proses pendampingan maupun sarpras serta kebijakan publik.

    Kepala Sekolah ini juga menjelaskan bagaimana lembaga dan komunitas dapat berperan menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan ramah bagi disabilitas.

    “Kita perlu memastikan setiap penyandang disabilitas merasakan bahwa mereka diterima. Inklusivitas bukan hanya slogan, tetapi tindakan nyata dalam memperlakukan mereka sebagai individu yang setara,” tegasnya penuh kelembutan.

    Ia menekankan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang.

    “Setiap penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama karena semua manusia itu setara. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana masyarakat mampu menyediakan ruang yang inklusif,” ujar Masfufah.

    Awareness Raising Building Effective Network dan Aura Lentera

    Ia menambahkan bahwa mewujudkan inklusi adalah tanggung jawab bersama, yang dimulai dari cinta keluarga, diteruskan dengan penerimaan di komunitas maupun di sekolah, demi Indonesia yang benar-benar setara.

    Masfufah yang lebih akrab disapa Ufa, melanjutkan materinya dengan menjelaskan konsep CBR (Community-Based Rehabilitation) atau rehabilitasi berbasis komunitas.

    Ia memaparkan bahwa CBR merupakan strategi pengembangan masyarakat yang menggabungkan rehabilitasi, pemberdayaan, dan pembangunan relasi sosial.

    Menurut Ufa, CBR berfungsi untuk meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas, memberdayakan mereka untuk terlibat dalam kehidupan sosial maupun ekonomi, dan menciptakan hubungan harmonis antara disabilitas dan lingkungan sekitarnya.

    Menutup materinya, Ufa memberikan pesan menyentuh kepada orang tua dan pendamping.

    “Menjadi orang tua dari anak disabilitas itu bukan pilihan. Tetapi memutuskan untuk mendampingi dan menjadi guru bagi mereka adalah pilihan penuh cinta dan keteguhan. Di situlah kekuatan sejati sebuah keluarga,” tutupnya.

    Dari puluhan peserta yang hadir, ada satu yang menarik perhatian, yakni Arsy, penyandang daksa dari Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi. Arsy hadir bersama ibunya yang mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini.

    Arsy disabilitas kedaleman

    Ia menyampaikan rasa terima kasih karena memperoleh wawasan baru serta kesempatan berkonsultasi langsung dengan para pegiat disabilitas di Banyuwangi.

    “Kami bersyukur bisa hadir di sini. Banyak ilmu baru yang kami dapat, dan bisa bertanya langsung pada ahlinya tentang pendampingan anak kami,” ujarnya.

    Arsy, yang kini duduk di kelas 2 MI Kedaleman, dikenal berprestasi. Ia bahkan berhasil meraih peringkat satu di kelas, sehingga kisahnya menjadi inspirasi bagi peserta lain.

    Pada sesi akhir, peserta mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi bersama Isti, Tim konsultan Program BEN Indonesia.

    Sesi ini menjadi salah satu bagian paling interaktif karena menjawab kebutuhan-kebutuhan konkret yang sering dialami penyandang disabilitas dan orang tuanya.

    Dalam sesi konsultasi, Isti memberikan sejumlah arahan teknis maupun psikologis yang sangat membantu para peserta.

    Ia menjelaskan pentingnya strategi pendampingan emosional di rumah agar anak merasa aman dan dihargai.

    Selain itu, ia memaparkan cara menstimulasi kemampuan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya, sehingga orang tua dapat mendukung pertumbuhan mereka secara tepat.

    Isti juga menekankan perlunya membangun komunikasi yang efektif antara orang tua, guru, dan komunitas sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak disabilitas.

    Konsulting disabilitas

    Tidak hanya itu, ia turut membahas cara meningkatkan kepercayaan diri anak serta langkah-langkah memetakan minat dan bakat mereka agar dapat diarahkan menuju potensi terbaiknya.

    Dengan penjelasan menyeluruh tersebut, peserta merasa lebih memahami bagaimana memberikan pendampingan yang menyeluruh dan berkelanjutan.

    Lebih istimewa lagi, kegiatan yang digelar pada hari Jumat dan turut disambut hujan yang menyejukkan ini juga dihadiri oleh pihak donor dari NLR Liliane Fonds serta konsultan, Maman Sutarman.

    Sebelum kegiatan Awareness Raising, Maman beserta tim juga telah melakukan FGD dengan PJ Kusta dari Puskesmas Sobo dan Kertosari untuk menggali sejauh apa kondisi OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta) maupun pelayanan untuk penderita kusta yang masih menjalani pengobatan.

    Kegiatan Awareness Raising ini diharapkan dapat memperkuat gerakan inklusif di Banyuwangi dan mendorong masyarakat melihat penyandang disabilitas sebagai individu yang mampu berkarya dan memberikan kontribusi nyata.

  • RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Donor Darah ke-47, Wujud Kepedulian Nyata untuk Sesama

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Gelar Donor Darah ke-47, Wujud Kepedulian Nyata untuk Sesama

    Dalam semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama, RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi kembali menggelar kegiatan donor darah ke-47, bekerja sama dengan Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Banyuwangi, pada Kamis, (13/11).

    Kegiatan sosial yang telah menjadi agenda rutin setiap tiga bulan sekali ini berlangsung di aula RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.

    Suasana terlihat ramai dan penuh antusiasme, baik dari para pendonor tetap maupun masyarakat umum yang baru pertama kali ikut berdonor.

    Kegiatan Donor Darah di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi

    Ketua tim pelaksana dari UDD PMI Banyuwangi, Amirir Rosadi, A.Md.Kep, menjelaskan bahwa kegiatan donor kali ini melibatkan lima orang petugas medis dari tim mobile unit PMI.

    “Kami menyiapkan 70 kantong darah untuk kegiatan donor di Rogojampi kali ini. Alhamdulillah, hingga acara selesai, kami berhasil mengumpulkan 40 kantong darah, sementara ada 9 pendonor yang belum memenuhi syarat karena alasan medis,” ujarnya.

    Dari data tim medis, sembilan orang tersebut dinyatakan tidak lolos karena beberapa faktor: satu orang mengalami tekanan darah tinggi, tiga orang tekanan darah rendah, dua orang baru saja minum obat, dan tiga orang memiliki kadar hemoglobin rendah.

    Meski demikian, Amirir mengapresiasi semangat para pendonor yang datang dengan antusias, bahkan beberapa di antaranya sudah menjadi pendonor rutin sejak kegiatan pertama kali digelar.

    “Antusiasme masyarakat sangat tinggi, dan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memberikan pelayanan terbaik. Saat ini stok darah, khususnya golongan O, mulai menipis. Kami berharap masyarakat lebih termotivasi untuk mendonorkan darahnya. Setetes darah sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” jelas Amirir.

    Selain tenaga medis dari PMI, kegiatan donor darah ini juga mendapat dukungan penuh dari pihak rumah sakit.

    Heri Boani Endang Handayani, selaku koordinator pelaksana dari RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi, menyebutkan bahwa kegiatan “Rogojampi Berdonor” selalu mendapat sambutan positif dari masyarakat.

    Donor Darah di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi

    “Peserta donor darah kali ini cukup variatif. Ada dari instansi pemerintah, para guru, karyawan swasta, pedagang, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum. Semua datang dengan semangat yang sama: ingin membantu sesama,” ujarnya.

    Menurut Handayani, kegiatan donor darah rutin di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi sudah menjadi agenda yang dinantikan oleh banyak pendonor.

    Selain karena lokasi yang strategis dan dekat dengan tempat kerja mereka, pelayanan petugas yang ramah dan profesional juga menjadi alasan utama tingginya partisipasi masyarakat.

    “Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini, mulai dari tenaga medis, pengurus PMI Banyuwangi, hingga masyarakat. Kegiatan sosial ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian bisa diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti mendonorkan darah,” tambahnya.

    RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi berkomitmen untuk terus menjaga keberlanjutan kegiatan donor darah ini.

    Melalui kerja sama yang baik dengan UDD PMI Banyuwangi, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjaga ketersediaan darah di Kabupaten Banyuwangi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berbagi dan menolong sesama.

    Dengan semangat “Satu Tetes Darah untuk Kehidupan”, kegiatan Rogojampi Berdonor ke-47 ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan kemanusiaan.

    “Semoga kegiatan donor darah ini terus istiqomah dan ke depannya mampu menghasilkan lebih banyak kantong darah setiap pelaksanaan. Setiap tetes darah yang disumbangkan adalah kehidupan baru bagi orang lain,” pungkas Handayani.

  • Dukung Pelestarian Budaya, Kadis Perpusda dan Arkeolog Disbudpar Banyuwangi Kunjungi Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung

    Dukung Pelestarian Budaya, Kadis Perpusda dan Arkeolog Disbudpar Banyuwangi Kunjungi Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung

    Momen peringatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi tonggak penting bagi upaya pelestarian sejarah dan budaya Banyuwangi.

    Bertempat di Dusun Pondokasem, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, digelar kegiatan persiapan Rumah Peradaban sekaligus rintisan Museum Candi Purwo Gumuk Gadung, Senin (10/11).

    Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si, serta Arkeolog Museum Blambangan, Bayu Ari Wibowo, yang hadir mewakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi.

    Acara ini merupakan tindak lanjut dari Sarasehan Rumah Peradaban yang sebelumnya digelar di Pelinggihan Prabu Tawang Alun, Kantor Disbudpar Banyuwangi, pada 11 Oktober 2025 lalu.

    Suasana ramah tamah berlangsung sederhana namun penuh makna, dihadiri oleh tokoh masyarakat Dusun Pondokasem serta para penggiat sejarah dan budaya Nusantara.

    Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si,
    Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Yusdi Irawan, SE., M.Si, (Dok. Sastrawacana)

    Dalam sambutannya, Yusdi Irawan mengapresiasi langkah masyarakat dan para penggiat literasi yang telah memprakarsai rintisan Pojok Literasi Candi Purwo Gumuk Gadung dan Rumah Peradaban.

    Menurutnya, kegiatan ini akan menjadi pusat edukasi penting bagi masyarakat, khususnya di wilayah Tegaldlimo dan sekitarnya.

    “Semoga ke depan terus berkembang menjadi embrio yang bermanfaat bagi regenerasi anak bangsa,” ujar Yusdi.

    Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah terus memberikan dukungan terhadap kemajuan literasi di Banyuwangi.

    Salah satunya melalui kegiatan Festival Literasi Using yang digelar pada awal November 2025, dengan tujuan melestarikan budaya Using sekaligus memperkenalkan dunia literasi kepada para pelajar.

    Lebih lanjut, Yusdi menilai bahwa Pojok Literasi yang mengangkat tema peradaban, sejarah, adat istiadat, budaya, dan seni merupakan inisiatif yang patut diapresiasi.

    Sementara itu, Bayu Ari Wibowo, selaku perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan dukungan terhadap setiap upaya yang berkaitan dengan pelestarian cagar budaya.

    Bayu Ari Wibowo
    Bayu Ari Wibowo, Arkeolog Museum Blambangan (Dok. Sastrawacana)

    Tak hanya menghadiri kegiatan simbolis di Rumah Peradaban, Bayu juga terjun langsung meninjau kawasan Candi Purwo Gumuk Gadung bersama warga sekitar sebagai bagian dari survei awal pelestarian.

    “Kami mendukung dan langsung meninjau lokasi Candi Purwo Gumuk Gadung bersama warga sekitar untuk memastikan kondisi lapangan, meninjau potensi temuan, dan mengkaji kemungkinan situs ini apakah dapat dikategorikan sebagai situs bersejarah,” jelas Bayu.

    Menurutnya, langkah seperti ini bisa menjadi model pengembangan literasi berbasis budaya, yang ke depan berpotensi dikembangkan menuju digitalisasi buku sejarah dan peningkatan minat baca masyarakat dalam memahami warisan leluhur.

    Sebagai penutup, Bayu juga menyampaikan dukungan terhadap pembentukan Rumah Peradaban Candi Purwo Gumuk Gadung, yang akan menampilkan sejumlah artefak, koin kuno, dan benda peninggalan lainnya sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.

    Sementara itu, I Wayan Sucita, selaku penggagas Rumah Peradaban dan Pojok Literasi Candi Purwo Gumuk Gadung, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan pemerintah dan para pihak yang terlibat.

    “Kami berharap sinergi ini dapat terus menumbuhkan semangat pelestarian budaya dari generasi ke generasi,” ungkapnya.

    Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cinderamata sebagai simbol komitmen bersama dalam melestarikan sejarah dan peradaban Banyuwangi di masa lalu. (Tyo/Affandi)

  • Banyuwangi Kirim 14 Duta Bahasa Using ke Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi

    Banyuwangi Kirim 14 Duta Bahasa Using ke Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi

    Sebanyak 14 pelajar asal Kabupaten Banyuwangi yang terdiri dari 7 siswa SD dan 7 siswa SMP diberangkatkan menuju Surabaya untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Provinsi Jawa Timur, Jumat (7/11).

    Kegiatan pelepasan peserta berlangsung di pelataran Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.M.

    Dalam arahannya, Suratno menyampaikan agar para peserta terus melestarikan bahasa Using dan tidak malu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

    “Ke-14 siswa tersebut merupakan duta Bahasa Using yang telah bertanding secara berjenjang, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, dan kini provinsi. Mereka adalah hasil seleksi dari kegiatan Festival Literasi Using yang dilaksanakan pada 1 November 2025 dan dihadiri langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani,” paparnya.

    Juara Puisi Festival Literasi Using

    Sementara itu, Erpandi, S.Pd., M.Pd., salah satu pendamping delegasi, menyampaikan harapan besar kepada para peserta.

    “Bisa jadi nanti mereka yang masuk peringkat satu di ajang Tunas Bahasa Ibu kategori Bahasa Madura dan Bahasa Using akan terundang pada peringatan Hari Pendidikan Nasional bulan Mei 2026 di tingkat nasional,” tuturnya sambil mengajak seluruh kafilah menaiki bus pariwisata.

     

    Selain berkompetisi, duta Banyuwangi yang merupakan gabungan pelajar SD dan SMP bersama para guru juga akan menampilkan seni pertunjukan khas Banyuwangenan di Surabaya.

    Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Provinsi Jawa Timur digelar pada 6–8 November 2025 di Hotel Santika Surabaya, dengan format awarding.

    Peserta berasal dari empat kabupaten di Madura, serta Situbondo dan Bondowoso.

    Adapun Banyuwangi menjadi satu-satunya peserta dengan bahasa Using yang sebelumnya telah menorehkan prestasi di tingkat nasional pada ajang serupa.

    Daftar Delegasi Banyuwangi Peraih Juara 1

    Nulis Aksara

    • Ahmed Fahrizi Paythoni – SMPN 2 Banyuwangi
    • Tinnaka Aknini Magfiroh – SDN 2 Gintangan, Blimbingsari

    Ndongeng

    • Graceylla Alley Nadyne CP – SMPN 5 Banyuwangi
    • Novi Jasmin Al Marista – SDN 2 Sumberagung, Pesanggaran

    Ngewer

    • Achmad Fikry Setiawan – SMPN 3 Rogojampi
    • Ulan Pancar Sari – SDN 3 Rogojampi

    Pidato

    • Arayo Datan Pratama – SMPN 3 Rogojampi
    • Annora Hanifa Firmala – SDN 1 Licin

    Maca Geguritan

    • İstiqlal Syukri Ahmad – SMP Bustanul Makmur, Genteng
    • Nabila Umaira Bramanta – SDN 4 Penganjuran, Banyuwangi

    Nembang

    • Cinta Qieta Berliana Putry – SMP Muhammadiyah 7 Sempu
    • Putri Qoireen Khumaira Herlangga – SDN 1 Rogojampi

    Nulis Cerita Cendhek

    • Anggun Aulia Pratama Putri – SMPN 2 Cluring
    • Keyra Febrisal Wardani – SDN 1 Pakistaji, Kabat

    Selain itu, juara 2 kategori cerita cendhek, Sifa Zulliyati (SMPN 1 Singojuruh) dan Aisya Nada Nahdliyina (SDN 1 Tamansuruh, Glagah), juga diundang menghadiri awarding.

    Juara Festival Literasi Using

    Para peserta tersebut akan mengikuti program inkubasi pelatihan menulis cerpen dwibahasa (bahasa lokal dan bahasa Indonesia) yang dilaksanakan Balai Bahasa Jawa Timur bekerja sama dengan Sengker Kuwung Blambangan di Hotel Swiss-Belinn Manyar, Surabaya, pada 9–11 November 2025.

    Peserta dari kategori bahasa Madura juga dijadwalkan mengikuti pelatihan serupa dalam kegiatan bertajuk Kemah Cerpen.

    Salah satu pengurus MGMP Bahasa Using SMP, Widyaningsih, S.Pd. dari SMPN 1 Blimbingsari, berharap bahasa Using terus dilestarikan dan memiliki penerus di masa mendatang.

    “Bahasa Using harus terus bergenerasi sampai anak cucu nanti. Untuk jenjang SD sudah lama berjalan sebagai muatan lokal, tapi di tingkat SMP belum ada regulasi yang tegas. Harapannya, lewat ajang festival ini, Bupati bisa membuat gebrakan yang menjadi gerakan nyata,” ujarnya.

    Widyaningsih juga menegaskan, keberlanjutan bahasa daerah tak hanya bergantung pada peserta didik, tetapi juga dukungan kebijakan dan pelatihan guru melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) dan diseminasi.

  • Kisah Inspiratif Bunda Saimah, Mengabdi Untuk Negeri dari Medan Juang Hingga Ruang Terapi

    Kisah Inspiratif Bunda Saimah, Mengabdi Untuk Negeri dari Medan Juang Hingga Ruang Terapi

    Di tengah kesibukannya sebagai anggota TNI AD, Saimah, S.Hub. Int., atau yang akrab disapa Bunda Saimah, memilih jalur pengabdian yang tak biasa.

    Menjelang masa purnanya, perempuan tangguh ini tak berhenti berbuat untuk negeri. Ia terpanggil untuk melanjutkan pengabdiannya melalui dunia kesehatan dan penyembuhan holistik.

    Setiap akhir pekan, rumahnya di kawasan Brawijaya Cevila Indah, Banyuwangi, berubah menjadi ruang penuh energi positif.

    Dari pagi hingga sore, pasien berdatangan dari berbagai daerah dengan beragam keluhan, mulai dari penyakit fisik hingga keluhan psikis.

    Bunda Saimah menyambut mereka bukan seperti orang asing, tapi layaknya sahabat lama yang datang berkunjung.

    Suasana hangat, senyum ramah, dan sapaan penuh energi positif membuat banyak pasien merasa nyaman sejak awal datang.

    Ia mendengarkan dengan empati, menenangkan dengan senyum, lalu memulai terapi dengan sentuhan lembut.

    Dalam setiap sesi terapi, ia selalu menyelipkan afirmasi positif, agar tubuh dan pikiran pasien lebih rileks serta terbuka terhadap proses penyembuhan.

    Terapi Bunda Saimah

    Kemampuannya dalam penyembuhan bukan datang secara tiba-tiba. Ia bercerita, bakat itu menurun dari sang nenek, seorang terapis tradisional di masa lampau

    Dari warisan itu, Bunda Saimah kemudian mengasah diri dengan mengikuti berbagai pelatihan profesional.

    Piagam serta sertifikat yang tertata rapi di dinding ruang praktiknya menjadi saksi perjalanan panjangnya dalam menekuni dunia terapi.

    Tak hanya dikenal sebagai prajurit tangguh, Bunda Saimah juga memiliki sisi lembut yang puitis. Ia gemar menulis dan membaca puisi.

    Pada 17 Oktober 2025 lalu, ia bahkan tampil membacakan puisinya berjudul “Masa Transisi” dalam acara Launching Buku Antologi Gotong Royong di Dinas Perpustakaan Banyuwangi.

    Puisinya merefleksikan perjalanan hidup dan batinnya sebagai perempuan, prajurit, sekaligus manusia yang terus belajar memahami arti perubahan.

    Perjalanan kariernya pun mengesankan. Pada tahun 2022, ia dipercaya menjadi UN Military Staff Minusca di kawasan Central Asia Pasific, sebuah amanat yang menunjukkan dedikasinya di panggung internasional.

    Pengalaman itu membentuknya menjadi sosok yang disiplin, tangguh, sekaligus empatik terhadap sesama.

    Kini, selain terus menerima pasien, Bunda Saimah juga aktif membina para terapis di Banyuwangi untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan.

    Bunda Saimah

    Ia kerap berbagi ilmu, mulai dari teknik dasar terapi, cara membangun komunikasi yang baik dengan pasien, hingga pentingnya menyembuhkan dengan hati.

    Ia percaya, seorang terapis bukan hanya mengobati tubuh, tapi juga menenangkan jiwa.

    “Bagi saya, mengabdi untuk negeri tidak harus selalu dengan seragam. Selama kita bisa membantu sesama, di situlah letak pengabdian yang sejati,” tutur Bunda Saimah dengan senyum khasnya yang teduh.

    Dengan semangat yang sama, Bunda Saimah terus melangkah. Dari medan juang hingga ruang terapi, dari disiplin militer hingga sentuhan kasih dalam penyembuhan, ia menegaskan satu hal, yaitu pengabdian tidak pernah berhenti, hanya berubah wujud menjadi pelayanan untuk kemanusiaan.

    Tidak sampai di situ. Setelah sekian lama menekuni dunia penyembuhan holistik, ia kini tengah merampungkan sebuah karya yang dirancang sebagai panduan sekaligus refleksi, yakni buku berjudul “Banyuwanginese Treatment.”

    Bunda Saimah Veteran Banyuwangi

    Buku ini nantinya akan menjadi wadah bagi seluruh pengalaman dan keilmuannya dalam dunia terapi, mulai dari akupunktur, bekam, hipnoterapi, refleksi, quantum touch, dan masih banyak lagi.

    Namun lebih dari sekadar kumpulan teknik, Banyuwanginese Treatment merupakan filosofi penyembuhan yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas lokal Banyuwangi.

    Menariknya, Bunda Saimah menulis buku dengan bahasa yang hangat dan membumi.

    Ia menyelipkan kisah nyata dari ruang praktiknya, bagaimana seorang pasien dengan keluhan berat justru sembuh setelah melepaskan beban emosinya dan bagaimana afirmasi positif mampu mengubah cara tubuh merespons rasa sakit.

  • Program Go Pro Wangi Libatkan Difabelpreneur, Perkuat UMKM Banyuwangi

    Program Go Pro Wangi Libatkan Difabelpreneur, Perkuat UMKM Banyuwangi

    Kehidupan inklusif di Banyuwangi semakin terasa dalam berbagai bidang, termasuk UMKM.

    Selaras dengan program Bupati Banyuwangi, UMKM Naik Kelas sejak tahun 2021, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskompumdag) Kabupaten Banyuwangi telah meluncurkan program Go Pro Wangi (Gerobak Promosi Banyuwangi) sebagai salah satu inovasi dalam memperluas akses pemasaran produk pelaku UMKM, termasuk pelaku usaha difabel yang mereka sebut difabelpreneur.

    Kepala Diskompumdag Banyuwangi, Hj. RR. Nanin Oktaviantie, menjelaskan bahwa Go Pro Wangi memberi kesempatan UMKM tampil di berbagai ajang besar daerah seperti Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Pasar Rakyat, hingga Car Free Day.

    “Setiap pelaku UMKM mendapat jatah tampil dua hingga tiga kali dalam satu siklus kegiatan, sehingga semua memiliki kesempatan yang seimbang untuk memperkenalkan produk mereka,” ujar Nanin.

    Diskompumdag Banyuwangi juga menyediakan gerobak dan stan dengan desain menarik serta ramah akses, sementara pelaku UMKM bertanggung jawab membawa produk dan memastikan kemasan yang layak jual.

    Menurut Nanin, keterlibatan pelaku usaha difabel mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam membangun ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

    Selain ruang promosi, pelaku UMKM difabel juga mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas promosi, penguatan branding, serta perluasan jejaring usaha.

    Apresiasi terhadap program ini datang dari Nurhadi Windoyo, Ketua Aura Lentera sekaligus pembina komunitas UMKM Sahabat.

    Windoyo Ketua Aura Lentera
    Windoyo Ketua Aura Lentera (Dok. sastrawacana.id/)

    Ia menilai Go Pro Wangi menjadi wadah penting bagi pelaku usaha difabel untuk belajar menghadapi pasar nyata.

    "Program ini sangat bermanfaat untuk sahabat-sahabat kami Diffabel pelaku UMKM. Selain memberikan peluang pasar juga menjadi wahana belajar bagi kami menghadapi pasar yang nyata. Selain itu, kesempatan bagi kami untuk sosialisasi dan promosi bahwa kami juga mampu menjalankan usaha, ada produk yang kami hasilkan," kata Windoyo saat ditemui di ajang Kejurprov Voli Jawa Timur 2025 di GOR Tawangalun.

    Saat ini banyak penyandang disabilitas tergabung dalam kelompok UMKM seperti Sahabat dan Mekarwangi.

    Meski begitu, tantangan mobilitas dan pemasaran masih menjadi kendala utama.

    Windoyo berharap pemerintah terus memberikan pendampingan dan pembinaan terpadu agar pelaku difabel bisa tumbuh menjadi difabelpreneur yang unggul.

    Go Pro Wangi

    Dalam ajang Kejurprov Voli Jatim 2025, UMKM Sahabat menampilkan beragam produk, antara lain telur asin hasil karya siswa SLBN Banyuwangi, kue Klemben produksi Mahmud Hasyim (Ketua INAF Persawangi), serta kopi As Syifa milik Nurul Imam (Ketua UMKM Sahabat).

    Melalui Go Pro Wangi, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Banyuwangi berupaya memperluas jangkauan pemasaran produk lokal, memperkuat citra dan daya saing UMKM, serta membuka peluang menuju pasar nasional hingga global.

    “Dengan semangat kolaboratif dan inklusif, Go Pro Wangi menjadi bukti nyata bahwa setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan mengharumkan nama Banyuwangi,” pungkas Nanin.