Pada tahun 1970-1980an ini beragam serta menunjukkan suatu norma individual/kelompok individu sehingga cenderung heterogen. Norma-norma tersebut dapat dibagi dalam kelompok berikut:

1. Norma Filsafat dalam Sastra Indonesia

Filsafat eksistensialis adalah suatu pemikiran, filsafat  yang mempertanyakan “keberadaan manusia”. Menurut filsafat ini, manusia membuat rencana dalam keadaan yang bebas, selalu bergerak maju atas kekuatannya sendiri maupun atas dasar situasi yang aktusl. Hidup manusia itu konkret dalam kerangka yang penuh kemungkinan untuk menempatkan dirinya.

Paham filsafat tersebut berpengaruh pada pengarang Indonesia. Pelopor realisasi filsafat eksistensialis dalam karya sastra Indonesia adalah:

A. Iwan Simatupang

Menghasilkan karya-karya yang menunjukkan adanya keterlibatan komunikasi antarbudaya. Iwan Simatupang membuka lembaran sejarah baru dengan unsur struktur yang rumit dan pola pemikiran eksistensialis. Karya Iwan Simatupang tsb ialah Merahnya Merah, Ziarah, Kering  dan Koong. Keempat karya Iwan Simatupang tsb menunjukkan gaya penceritaan yang hampir sama.

B. Kuntowidjojo

Dalam novelnya yang berjudul Khotbah di Atas Bukit, melalui tokoh utamanya menonjolkan filsafat eksistensialis, mengajarkan tentang makna kehidupan. Novel ini diilhami dari cerita yang terdapat dalam Perjanjian baru yang di dalamnya terdapat cerita tentang Yesus yang berkhotbah di atas bukit. Baju yang dikenakan tokoh utamanya pun serba putih seperti gambaran Yesus yang mengenakan jubah putih.

2. Gaya Surealisme

Sejarah Sastra Indonesia membuka lembaran baru dengan munculnya karya-karya bersifat surealisme yang menampilkan pikiran bawah sadar dan hal-hal nonrasional dan tidak sesuai dengan kenyataan atau absurd. Misalnya Rafilus karya Budi darma.

Perhatikan kutipan karya Budi Darma yang berjudul Rafilus berikut:

“Tentu saja kesan saya salah. Tidak mungkin dia tidak akan mati. Meskipun demikian, hampir selamanya saya tidak dapat mengelak untuk berpendapat, bahwa sosok tubuhnya tidak terbentuk dari daging, melainkan dari besi. Kulitnya hitam mengkilat, seperti permukaan besi yang dipoles dan hampir tidak pernah berhenti digosok” (Darma, 1988: 14).

Contoh karya bergaya surealisme yang lain adalah:

– Olenka karya Budi Darma
– Stasiun karya Putu Wijaya.

3. Paham Sufistik dan Kebatinan

Paham ini bukan hal baru dalam sastra Indonesia. Pada abad-17 di Aceh paham ini tumbuh subur. Pada masa Pujangga baru paham ini dipelopori oleh Amir hamzah. Bedanya paham Sufistik Pujangga Baru muncul dalam bentuk kekaguman, sementara tahun 1970-an muncul sebagai salah satu bentuk filsafat-sastra yang diramu dengan paham spiritual nusantara seperti kejawen, mantra dsb. dalam rangka berkomunikasi dan memahami Tuhan.

Tokoh sufistik adalah:

  1. Sutardji Calzoum Bachri
  2. Goenawan Muhammad
  3. Kuntowijoyo
  4. Danarto
  5. Abdul Hadi WM
  6. Emha Ainun Najib

4. Munculnya Norma-norma Kedaerahan

Pada tahun 1970-1980 telah bangkit kembali unsur-unsur kedaerahan. Unsur tersebut didominasi unsur budaya Jawa, meskipun unsur daerah lain juga tidak kalah suburnya. Misalnya: Novel Upacara karya Korrie Layun Rampan menceritakan suatu upacara di daerah Dayak, Pengakuan Pariyem  karya Linus Suryadi, menceritakan selain tentang wanita Jawa juga mengunakan kata-kata Jawa dan struktur bahasa jawa secara dominan.

Karya-karya bersetting Jawa:

– Sri Sumarah dan Bawuk : Umar Kayam
– Kutut Manggung : Linus Suryadi
– Ki Blakasuto Bla Bla :  Darmanto Yatman
– Karta Ia bilang Boten :Darmanto Yatman
– Burung-Burung Manyar : JB Mangunwijaya
– Roro Mendut : JB Mangunwijaya
– Lusi Lindri : JB Mangunwijaya
– Canting : Arswendo Atmowiloto
– Ronggeng Dukuh Paruk : Ahmad Tohari
– Lintang Kemukus Dini Hari : Ahmad Tohari
– Jentera Bianglala : Ahmad Tohari