Blog

  • Gema Madrasah di Liga Puisi – Syafaat

    Gema Madrasah di Liga Puisi – Syafaat

    Gema Madrasah di Liga Puisi
    Oleh: Syafaat

    Liga Puisi 4 yang digelar Jawa Pos Radar Banyuwangi memang telah berakhir, namun gema dan napasnya belum benar-benar pergi. Ia masih berputar di udara seperti gema adzan di dada yang belum selesai berdzikir.

    Setiap kali kenangan itu disentuh, terdengar kembali suara-suara anak madrasah yang membaca puisi dengan wajah serius, suara yang mungkin sedikit gemetar, namun jujur. Suara yang tidak hanya mengucapkan kata, tetapi menyalakan lentera kecil di dalam dirinya sendiri.

    Dari empat kategori jenjang yang dilombakan, tiga juara pertama diraih oleh insan madrasah: SD/MI, SMP/MTs, dan kategori guru.

    Tiga kemenangan itu seperti tiga bait dalam satu puisi panjang tentang kesabaran, bait pertama ketulusan, bait kedua keuletan, bait ketiga doa yang tak bersuara.

    Orang bisa menyebutnya keberuntungan, tetapi siapa pun yang memahami denyut hidup di madrasah akan tahu: ini bukan kebetulan.

    Ini buah dari kerja panjang yang senyap, dari peluh yang jatuh di antara dhuha dan ashar, dari latihan-latihan kecil yang tak pernah dimuat di berita, tapi menyimpan cahaya di baliknya, seperti lampu minyak yang terus menyala di tengah malam panjang.

    Madrasah adalah dunia kecil yang melatih kepekaan dengan cara paling sederhana. Di sana anak-anak belajar membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, melagukan Tilawah dengan suara yang bening, lalu tanpa sadar belajar pula membaca kehidupan dengan rasa yang halus.

    Dua tahun sekali mereka mengadakan Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) hingga ke tingkat provinsi—dan membaca puisi selalu menjadi cabang lomba yang ditunggu, seperti zikir yang berubah rupa menjadi suara.

    Di madrasah, puisi bukan pelarian dari kenyataan, melainkan pelengkap iman. Anak-anak membaca dan menulis tentang ibu yang tak pernah berhenti berdoa, tentang guru yang berjalan di bawah gerimis membawa spidol, tentang langit pagi yang disapa dengan salam dan harapan.

    Sering kali terlupa bahwa di balik seragam hijau tua itu, tersimpan anak-anak yang memendam mimpi menjadi penyair. Mereka mungkin tak memiliki banyak buku sastra, tetapi mereka punya guru yang mengajarkan makna kata ikhlas.

    Mungkin karena itu, setiap kali mereka membaca puisi, ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan, getar yang membuat penonton diam sejenak sebelum bertepuk tangan. Bukan karena kagum, tetapi karena terharu. Sebab yang berbicara di atas panggung bukan sekadar anak madrasah, melainkan hati yang sedang mencari cara untuk bersyukur.

    Kini banyak madrasah menggandeng pelatih profesional, bukan karena kurang percaya diri, melainkan karena ingin belajar dari yang terbaik. Mereka tahu, membaca puisi bukan hanya tentang suara, tetapi tentang keberanian membuka hati.

    Di antara anak-anak itu, ada yang dulunya pemalu, tak berani bicara di depan kelas. Namun ketika diberi teks puisi dan diminta membaca, sesuatu di dalam dirinya menyala. Puisi memberi ruang untuk menjadi diri sendiri, memberi tempat bagi jiwa untuk berbicara tanpa takut dihakimi.

    Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir semakin giat menumbuhkan gerakan literasi dan sastra. Guru-guru madrasah dan ASN membentuk komunitas, menerbitkan antologi, menulis di media.

    Sebagian dari mereka bahkan rutin mengadakan pelatihan menulis di sela jam mengajar, di antara azan dan ujian. Literasi di madrasah bukan sekadar program, melainkan jalan menuju empati; bukan lomba untuk menang, tetapi perjalanan menuju pencerahan.

    Entah dengan rahasia apa, madrasah selalu punya cara yang lembut namun dalam dalam menanak rasa. Kata-kata di sana tumbuh dari tanah yang disiram doa dan diterangi ayat.

    Saat para santri menulis, ada aroma kitab yang baru saja dibuka, wangi kertas, tinta, dan kesunyian yang penuh makna. Di antara diksi-diksi mereka tercium jejak sujud yang panjang, langkah kecil menuju pemahaman yang tak selalu perlu dijelaskan.

    Dan ketika mereka membaca, suara mereka datang dari ruang yang lebih jauh dari sekadar panggung, ada gema doa di setiap jeda, ada dzikir yang bersembunyi di antara tanda baca.

    Bahasa mereka mungkin belum semegah para penyair besar, tetapi kejujuran mereka berdenyut lebih hangat, lebih hidup—seperti embun yang tak tahu bahwa dirinya sedang memantulkan cahaya matahari. Sebab di madrasah, kata-kata tak pernah dikejar untuk dipuji, melainkan dijaga agar tetap suci.

    Di sana, kalimat lahir dari hati yang terbiasa tunduk pada makna, dan setiap makna adalah perjalanan pulang menuju Yang Maha Kata.

    Liga Puisi bukan sekadar ajang, melainkan cermin kecil dari apa yang telah mereka tanam bertahun-tahun. Kemenangan bukan tujuan utama, mereka datang bukan hanya untuk bersaing, tetapi untuk berbagi ruh.

    Ada murid MI yang membaca puisi tentang pendidikan dan kemiskinan, guru madrasah yang menulis tentang sunyi ruang kelas dan karut-marut nasib anak bangsa, siswi MTs yang suaranya nyaris pecah menahan tangis saat membaca tentang perjuangan orang tua. Tak satu pun dari itu dibuat-buat, semuanya lahir dari hati yang mengenal kehilangan dan doa.

    Layak diteladani, bagaimana mereka saling mendukung tanpa iri, tanpa ingin tampil paling indah. Di ruang lomba itu, terpantul semangat lama: bahwa puisi tidak dilahirkan dari kepandaian, melainkan dari kepedihan yang diterima dengan sabar.

    Dan barangkali di situlah madrasah menang, karena mereka telah terbiasa menulis dan membaca dengan kesabaran, seperti santri yang belajar menulis huruf arab satu demi satu hingga menjadi doa yang utuh.

    Madrasah, dengan segala kesederhanaannya, kini menjelma taman kata. Di sana, iman dan imajinasi saling berpelukan seperti dua sahabat lama yang tak pernah benar-benar berpisah. Anak-anak belajar shalawat sambil belajar metafora, menulis bukan untuk terkenal, melainkan agar langit mendengar.

    Setiap bait menjadi doa yang disusun dalam bentuk baru; setiap kata adalah zikir yang disampaikan dengan nada lembut. Suatu hari nanti, tak ada lagi yang heran melihat madrasah terus melahirkan penyair.

    Sebab di sana, puisi tak pernah diajarkan sebagai pelajaran, tetapi dihidupkan sebagai kehidupan. Membaca puisi menjadi cara lain untuk bersyukur, menulis puisi menjadi bentuk zikir yang paling sunyi.

    Dan ketika panggung Liga Puisi telah kosong, mikrofon dimatikan, para juri meninggalkan tepat, gema itu masih tinggal. Ia bergetar di dada para guru yang tersenyum bangga, berbisik di hati anak-anak yang malamnya masih mengulang bait-baitnya di depan cermin.

    Di dunia yang semakin bising ini, madrasah telah memberi satu anugerah paling berharga: kemampuan untuk mendengarkan suara hati sendiri, suara yang lirih namun abadi, yang kelak tumbuh menjadi puisi kehidupan itu sendiri.

    Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

  • Membaca Ulang Sastra Pesantren – Syafaat

    Membaca Ulang Sastra Pesantren – Syafaat

    Membaca Ulang Sastra Pesantren
    Oleh : Syafaat (Ketua Lentera Sastra Banyuwangi)

    Tahun lalu, dalam perhelatan Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi, ada satu denyut yang menggugah kesadaran: denyut dari balik tembok pesantren.

    Dari ratusan puisi yang mengalir menuju meja panitia, banyak di antaranya lahir dari tangan-tangan santri, dari ruang-ruang sunyi Kementerian Agama dan pesantren yang tersebar dari Riau hingga Madura, dari Tapal Kuda hingga lereng-lereng pesantren tua di timur Jawa. Fenomena ini tentu bukan kebetulan.

    Ia seperti getar halus dari sejarah yang tengah menulis dirinya sendiri, bahwa pesantren kini sedang membuka babak baru dalam kesusastraan Indonesia.

    Dari balik dinding yang dulu hanya bergema lantunan kitab kuning, desiran syi’ir selepas adzan, kidung puji-pujian sebelum jamaah berkumpul untuk shalat, dan bisikan wirid Subuh yang merambat lembut di antara detik-detik pagi, kini mengalir pula sajak-sajak yang berbahasa Indonesia: puisi yang tetap berjiwa religius namun menatap dunia dengan mata kemanusiaan.

    Dan ketika Sastra Timur Jawa menggelar Temu Karya Serumpun 2025, gema itu kembali terdengar. Di antara halaman-halaman tebal antologi yang disusun dari penulis lintas negara, puisi-puisi santri turut menorehkan warna, lembut tapi teguh, sederhana namun memancarkan kedalaman batin.

    Sastra pesantren telah menjelma bukan hanya gema spiritual, tetapi juga pernyataan estetik: bahwa dari rahim kesunyian, lahir puisi yang membawa cahaya.

    Puisi di pesantren tumbuh dari keseharian yang sederhana, dari ketukan waktu yang diatur oleh adzan, dari denyut kehidupan asrama yang bersahaja, dari perenungan malam di serambi mushala yang remang. Puisi santri lahir bukan dari ruang akademik atau ruang baca yang tenang, tetapi dari ruang-ruang batin yang penuh dzikir dan kesunyian.

    Mereka menulis di antara waktu belajar Nahwu dan Shorof, di antara doa dan kerja bakti, di antara rindu dan kepatuhan.Karena itu, puisi-puisi mereka sering kali tidak berambisi menjadi “modern” atau “eksperimental” dalam pengertian estetika kota, tetapi jujur dan bersumber dari getaran iman yang paling dalam.

    Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru, tradisi puisi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan pesantren, bahkan sejak masa-masa awal penyebaran Islam di Nusantara. Syi’ir-syi’ir berbahasa Arab dan Jawa dengan aksara Pegon digunakan sebagai media pengajaran dan dakwah.

    Nadzoman tentang akhlak, fiqih, dan tasawuf dilagukan dengan nada yang indah agar mudah dihafal. Para santri belajar ilmu sekaligus belajar estetika: bagaimana kata bisa menuntun hati, bagaimana irama bisa menjadi jalan menuju Tuhan. Dalam suasana seperti itulah lahir ungkapan terkenal bahwa “setiap ilmu yang tidak disertai adab adalah kegelapan, dan setiap kata tanpa niat adalah suara kosong.”

    Sastra pesantren, dalam beragam bentuknya, hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syi’ir, dan nadzoman, merupakan cermin dari upaya manusia pesantren memahami dunia. Ia lahir dari pergulatan antara teks dan konteks, antara tradisi keilmuan dan realitas sosial.

    Karya-karya ini dibacakan di surau, di langgar, di rumah-rumah kiai, dan di sela pengajian. Orang-orang tua dan muda mendengarkannya bersama, lalu menurunkannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Karena itulah sastra pesantren memiliki sifat komunal, ia milik bersama, bukan milik individu semata.
    Berbicara tentang “sastra pesantren” berarti berbicara tentang kesadaran budaya yang tumbuh dari pengalaman religius. Ia bukan sekadar catatan kehidupan kaum santri, tetapi juga cermin dari subyektivitas kreatif mereka dalam menafsirkan dunia.

    Sejarah mencatat bahwa sejak abad ke-17, pesantren telah menjadi tempat persemaian para pujangga dan penulis. Yasadipura I (Raden Ngabehi Yasadipura I), Yasadipura II (Tumenggung Sastronagoro), dan Ranggawarsita yang hidup di Kasunanan Surakarta adalah contoh klasik: mereka pernah nyantri, menguasai bahasa Arab dan Jawa, dan menulis karya-karya besar yang menggabungkan hikmah spiritual dengan pengalaman sejarah bangsanya.

    Yasadipura I, misalnya, melalui karyanya Serat Cabolek, adalah sebuah cermin zaman — cermin yang merekam denyut ketegangan antara syariat dan makrifat, antara akal yang tunduk pada hukum dan hati yang mencari makna di balik hukum itu sendiri.

    Di dalamnya bergolak perdebatan antara Ketib Anom, sang penjaga kemurnian ajaran syariat, dengan Haji Mutamakkin, pengembara ruhani yang menapaki lorong-lorong mistik Jawa.

    Keduanya berhadap-hadapan di hadapan para ulama dan bangsawan Keraton Kartasura, di mana agama dan kekuasaan bersilang pandang, dan bahasa langit bernegosiasi dengan bahasa bumi.

    Melalui karya Yasadipura I, kisah itu menjelma bukan sekadar pertentangan dua tokoh, melainkan pertemuan dua arus besar peradaban: pesantren dan kraton, kitab dan kebudayaan, syariat dan rasa.

    Di sana, pesantren tampak tidak lagi semata sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi menjelma menjadi pusat kebudayaan jiwa Jawa — ruang di mana aksara berdoa, dan doa berubah menjadi aksara

    Dalam berbagai daerah Nusantara, karya-karya santri juga berkembang dalam bentuk lokalnya masing-masing.

    Di Jawa Barat muncul Tjarita Ibrahim dan Tjarita Nurulqamar; di pesisir Jawa Tengah hidup Serat Jatiswara dan Serat Centhini; di Sumatera terdapat Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura; bahkan di Sulawesi Selatan, kisah I La Galigo disisipkan unsur pesantren, ketika tokoh Sawerigading dalam versi santri digambarkan pergi menuntut ilmu ke Mekkah dan pulang mendirikan masjid.

    Proses penyisipan dan penyesuaian ini menunjukkan daya kreatif kaum pesantren dalam mentransformasikan kebudayaan lokal menjadi kebudayaan Islam Nusantara.

    Tradisi puisi dalam pesantren memiliki kekuatan spiritual yang khas. Ia tidak semata berbicara tentang cinta atau keindahan, tetapi juga tentang perjalanan jiwa. Dalam syi’ir-syi’ir pesantren, cinta selalu mengarah pada Tuhan, dan keindahan adalah cermin dari keagungan-Nya.

    Puisi menjadi alat tafakur, sarana tazkiyah (penyucian jiwa). Santri belajar menulis bukan untuk menjadi penyair besar, melainkan untuk memahami makna diri. Dan dalam keheningan malam, mereka melafalkan kata-kata yang seolah menembus batas antara manusia dan Tuhan.

    Puisi-puisi itu kini menemukan bentuk barunya. Para santri muda menulis di koran, di majalah sastra, dan di media sosial. Mereka menulis tentang kehidupan pesantren dengan bahasa yang segar, namun tetap membawa nilai-nilai keislaman dan etika sufistik.

    Karya-karya penyair seperti D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Ahmad Tohari menjadi bukti bahwa dunia pesantren masih memancarkan cahaya bagi kesusastraan Indonesia. Mereka membawa kesederhanaan hidup santri ke panggung nasional, tanpa kehilangan ruh spiritual yang membentuknya.

    Sebut saja dua puisi Acep Zamzam Noor dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan, dua puisi (Fajar bagi Kata-kata, dan Teluk Nipah) yang memantulkan aroma pesantren, serupa dupa yang menyala perlahan di ruang hati.

    Di antara bait-baitnya, tercium wangi kesunyian, getir pengalaman, dan cahaya makrifat yang menetes lembut dari langit penghayatan. Acep, penyair yang menempuh jalan sunyi antara sastra dan tasawuf, seolah menulis dengan tinta yang dicelup dari air wudhu.

    Puisinya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan dzikir yang berirama, doa yang disamarkan dalam keindahan metafora. Ketika ia hadir dalam Liga Puisi 2025 di Banyuwangi, suaranya bukan hanya membaca, ia menafsirkan diri sendiri.

    Setiap larik yang keluar dari bibirnya seperti menyentuh ruang batin para pendengar; menyapa yang jauh, memeluk yang luka, dan mengingatkan bahwa kata sejati selalu lahir dari jiwa yang bersujud.

    Juga KHR Ahmad Azzaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, turut menorehkan cahaya dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan.

    Puisinya yang berjudul “Allahumma Ampelkan Jiwa Raga” adalah napas panjang dari seorang salik yang berjalan di jalan sunyi menuju Yang Maha Cinta.

    Dalam larik-lariknya, kata tidak hanya menjadi bunyi, melainkan doa yang berdenyut, dzikir yang bergetar, dan cahaya yang menuntun jiwa. Puisi itu seolah lahir dari kedalaman malam di mana seorang kekasih berbicara diam-diam dengan Tuhannya.

    Aroma tasawuf begitu kental di dalamnya, seakan setiap kata telah dimandikan oleh air mata rindu yang tak pernah kering. Ia menulis bukan untuk memamerkan keindahan bahasa, melainkan untuk mengembalikan bahasa kepada asalnya: sebagai jalan pulang.

    Dan dari bait-bait itu, kita merasakan sesuatu yang melampaui wacana, semacam getar halus dari hati yang telah luluh di hadapan Sang Maha Segalanya.

    Dalam puisi Allahumma Ampelkan Jiwa Raga, kata “Ampelkan” bukan sekadar seruan, tetapi permohonan seorang hamba agar raganya pun berlabuh di pelukan Ilahi.

    Namun demikian, posisi sastra pesantren, termasuk puisi pesantren, masih berada di pinggiran dalam peta sastra Indonesia. Karya-karya mereka sering dianggap kurang “modern”, atau terlalu “moralistik”.

    Padahal, di tengah krisis spiritual masyarakat modern, suara-suara dari pesantren justru menawarkan keseimbangan. Mereka mengingatkan bahwa sastra bukan hanya permainan bentuk, tetapi juga laku batin; bukan hanya tentang estetika, tetapi juga etika; bukan sekadar tentang kata-kata, tetapi tentang kejujuran hati.

    Dalam pandangan ini, sastra pesantren bukan sekadar genre, melainkan cara hidup. Ia mengajarkan bahwa menulis adalah bagian dari ibadah, membaca adalah bagian dari tafakur, dan mendengar adalah bagian dari dzikir.

    Santri yang menulis puisi sesungguhnya sedang belajar memahami dirinya sendiri: bagaimana ia mencintai, bagaimana ia percaya, bagaimana ia berdoa. Dalam setiap bait puisi, selalu ada jejak sujud yang tak kelihatan.

    Di Banyuwangi, sastra pesantren tumbuh seperti pohon tua yang akarnya menembus masa lalu dan pucuknya menatap langit masa kini. Jejaknya kentara, berdenyut dalam nadi para santri dan insan Kementerian Agama yang menulis bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menyucikan ingatan.

    Sebut saja Shalawat Badar, yang ditulis oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada tahun 60-an, sebuah kidung yang melampaui zaman, menjadi gema dari masa ketika puisi masih lahir dari sujud dan air mata.

    Dari tangan seorang abdi negara, lahirlah syair yang bukan sekadar karya sastra, melainkan dzikir yang berpakaian bahasa.

    Dan kini, denyut itu tak padam. Ia menjelma dalam diri Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi hari ini, yang sajak-sajaknya mengalir dengan aroma pesantren, lembut, teduh, dan sarat makna.

    Dalam setiap puisinya terasa desir angin serambi mushala, gema adzan di pagi buta, dan getar kesadaran bahwa kata hanyalah jembatan menuju Yang Maha Kata.

    Kini, ketika dunia semakin bising oleh kata-kata yang kehilangan makna, puisi pesantren hadir sebagai suara yang lembut namun tegas. Ia tidak berteriak, tidak menggurui, tapi mengalir seperti air yang jernih, menyentuh yang mau disapa, dan menghidupkan yang haus akan makna.

    Dalam setiap puisinya, ada doa yang disamarkan, ada cinta yang disembunyikan, dan ada pengakuan kecil bahwa manusia selalu butuh Tuhan dalam setiap perjalanan menulisnya.

    Mungkin di situlah letak keabadian sastra pesantren: ia tidak mencari kemegahan, tapi ketulusan. Ia tidak mengejar abadi, tapi karena keikhlasanlah, ia bertahan dalam keabadian.

    Penulis adalah ASN/Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

  • Pecel Mbak Tutik, Legenda Kuliner Rogojampi yang Tetap Eksis Tanpa Promosi Digital

    Pecel Mbak Tutik, Legenda Kuliner Rogojampi yang Tetap Eksis Tanpa Promosi Digital

    Bagi warga Rogojampi dan sekitarnya, siapa yang tak kenal dengan warung Pecel Mbak Tutik yang melegenda?

    Setiap pagi mulai pukul 05.30 WIB, warung sederhana di barat pertigaan Pasar Rogojampi ini selalu ramai dipadati pelanggan yang ingin menikmati sarapan nasi pecel khas racikan Mbak Tutik.

    Selama lebih dari 40 tahun, nasi pecel ini menjadi menu favorit masyarakat sekitar.

    Setiap harinya, tak kurang dari 20 kilogram beras dimasak untuk memenuhi permintaan pelanggan yang datang silih berganti, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja kantoran, hingga pedagang yang tak pernah absen sarapan di sana.

    Warung Pecel Mbok Tutik Rogojampi

    Cita rasa pecelnya yang khas menjadi daya tarik utama. Nasi hangat disajikan dengan sambal pecel yang gurih pedas, kuah sayur segar, rempeyek renyah, serta lauk pendamping seperti telur ceplok, telur asin, dendeng ikan, dan kerupuk.

    Hidangan ini semakin nikmat ditemani segelas teh hangat atau temulawak yang menambah suasana hangat di pagi hari.

    Rudi, seorang pedagang yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi pelanggan setia, mengaku banyak warung pecel di sekitar Rogojampi, namun tak ada yang mampu menandingi cita rasa nasi pecel Mbak Tutik. Ia bahkan menyebut, “sudah terlanjur jatuh hati dan tidak ingin pindah ke lain hati.”

    Selain nasi pecel, warung ini juga menawarkan aneka jajanan tradisional seperti lumpia, risoles, pisang goreng, donat salju, kue lapis, dan berbagai kue lain yang menggugah selera.

    Suasana hangat dan pelayanan ramah khas Mbak Tutik membuat pelanggan merasa seperti sedang sarapan di rumah sendiri.

    Menariknya, warung Pecel Mbak Tutik tetap eksis meski tanpa promosi digital. Semua pelanggan datang berkat rekomendasi dari mulut ke mulut atau tutur tinular.

    Mbak Tutik meyakini, kunci keberhasilan usahanya terletak pada ketulusan melayani dan menjaga keaslian rasa.

    Prinsip inilah yang membuat warungnya bertahan puluhan tahun dan tetap menjadi salah satu UMKM kebanggaan Rogojampi, sederhana, hangat, dan selalu dirindukan.

  • TUGU SAJUTA, Gerakan Literasi Membangun Budaya Membaca di SDN 3 Siliragung

    TUGU SAJUTA, Gerakan Literasi Membangun Budaya Membaca di SDN 3 Siliragung

    Di era digital, ketika gawai lebih menarik daripada buku, SD Negeri 3 Siliragung menemukan cara unik untuk menghidupkan kembali semangat membaca di kalangan siswanya.

    Lewat program TUGU SAJUTA (Satu Minggu Satu Judul Cerita), sekolah ini menyalakan kembali api literasi yang sempat meredup pascapandemi.

    Program TUGU SAJUTA lahir dari keprihatinan akan rendahnya nilai literasi dalam Rapor Pendidikan sekolah.

    Kepala SD Negeri 3 Siliragung, Nanik Ermawati, S.Pd.Gr , menuturkan bahwa ide ini berangkat dari kebutuhan sederhana, yaitu mengembalikan minat baca anak-anak yang kian menurun.

    SD Negeri 3 Siliragung

    “Program TuGu SaJuTa ini memang sangat bagus untuk sekolah kami yang sedang membenahi nilai literasi di dalam Rapor Pendidikan. Dengan program ini sangat membantu Bapak dan Ibu guru untuk lebih fokus dalam mendampingi anak-anak membaca, terlebih ada kolaborasi langsung dari wali murid yang sudah terjadwal setiap harinya. Sehingga ketika ada ruang perlombaan kami sudah memiliki aset baik yaitu siswa berbakat ini untuk mengeksplornya. Dan alhamdulillah hasil dari pendampingan ini membuahkan juara 2 kategori bercerita tingkat Kecamatan,” jelasnya.

    Melalui TUGU SAJUTA, siswa diajak membaca minimal satu cerita setiap minggu. Setelah itu, mereka bisa menuliskan kembali kisah yang telah dibaca, menggambarkannya, atau bercerita secara langsung di depan guru dan teman-temannya.

    Hasil karya mereka kemudian dipajang di Mading TUGU SAJUTA atau diunggah ke media sosial sekolah, menjadikan literasi sebagai aktivitas yang hidup dan menarik.

    Program ini juga merupakan pengembangan dari inovasi sebelumnya, MEKAR MERATA (Meningkatkan Kreativitas Siswa Melalui Literasi Digital), yang fokus pada penguatan fasilitas literasi di tiap kelas.

    Kini, TUGU SAJUTA melangkah lebih jauh dengan menghadirkan budaya membaca yang menyenangkan dan partisipatif.

    Yang membuatnya semakin istimewa adalah kolaborasi aktif dengan wali murid. Setiap kelas memiliki jadwal khusus pendampingan membaca bersama orang tua.

    Mereka tidak hanya membantu anak memahami isi bacaan, tetapi juga turut menjadi narasumber kecil atau motivator.

    Kolaborasi ini mempererat hubungan antara guru, siswa, dan orang tua, sekaligus memperkuat ekosistem literasi di sekolah.

    Literasi SD Negeri 3 Siliragung

    Dari kegiatan yang awalnya sederhana ini, lahirlah berbagai manfaat nyata. Anak-anak menjadi lebih percaya diri saat tampil bercerita, lebih fokus, dan terlatih berpikir kritis.

    Guru pun lebih mudah mengenali potensi literasi siswanya. Sementara bagi orang tua, keterlibatan langsung ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap proses pendidikan anak.

    Kini, setiap pekan di SD Negeri 3 Siliragung selalu ada cerita baru yang lahir dari tangan dan imajinasi siswa.

    TUGU SAJUTA bukan sekadar program membaca, tapi gerakan yang menumbuhkan karakter, membangun kolaborasi, dan menghidupkan kembali budaya literasi di sekolah.

    Dari satu cerita setiap minggu, lahir seribu inspirasi bagi masa depan yang lebih cerdas dan berdaya.

  • Kisah Inspiratif Bunda Saimah, Mengabdi Untuk Negeri dari Medan Juang Hingga Ruang Terapi

    Kisah Inspiratif Bunda Saimah, Mengabdi Untuk Negeri dari Medan Juang Hingga Ruang Terapi

    Di tengah kesibukannya sebagai anggota TNI AD, Saimah, S.Hub. Int., atau yang akrab disapa Bunda Saimah, memilih jalur pengabdian yang tak biasa.

    Menjelang masa purnanya, perempuan tangguh ini tak berhenti berbuat untuk negeri. Ia terpanggil untuk melanjutkan pengabdiannya melalui dunia kesehatan dan penyembuhan holistik.

    Setiap akhir pekan, rumahnya di kawasan Brawijaya Cevila Indah, Banyuwangi, berubah menjadi ruang penuh energi positif.

    Dari pagi hingga sore, pasien berdatangan dari berbagai daerah dengan beragam keluhan, mulai dari penyakit fisik hingga keluhan psikis.

    Bunda Saimah menyambut mereka bukan seperti orang asing, tapi layaknya sahabat lama yang datang berkunjung.

    Suasana hangat, senyum ramah, dan sapaan penuh energi positif membuat banyak pasien merasa nyaman sejak awal datang.

    Ia mendengarkan dengan empati, menenangkan dengan senyum, lalu memulai terapi dengan sentuhan lembut.

    Dalam setiap sesi terapi, ia selalu menyelipkan afirmasi positif, agar tubuh dan pikiran pasien lebih rileks serta terbuka terhadap proses penyembuhan.

    Terapi Bunda Saimah

    Kemampuannya dalam penyembuhan bukan datang secara tiba-tiba. Ia bercerita, bakat itu menurun dari sang nenek, seorang terapis tradisional di masa lampau

    Dari warisan itu, Bunda Saimah kemudian mengasah diri dengan mengikuti berbagai pelatihan profesional.

    Piagam serta sertifikat yang tertata rapi di dinding ruang praktiknya menjadi saksi perjalanan panjangnya dalam menekuni dunia terapi.

    Tak hanya dikenal sebagai prajurit tangguh, Bunda Saimah juga memiliki sisi lembut yang puitis. Ia gemar menulis dan membaca puisi.

    Pada 17 Oktober 2025 lalu, ia bahkan tampil membacakan puisinya berjudul “Masa Transisi” dalam acara Launching Buku Antologi Gotong Royong di Dinas Perpustakaan Banyuwangi.

    Puisinya merefleksikan perjalanan hidup dan batinnya sebagai perempuan, prajurit, sekaligus manusia yang terus belajar memahami arti perubahan.

    Perjalanan kariernya pun mengesankan. Pada tahun 2022, ia dipercaya menjadi UN Military Staff Minusca di kawasan Central Asia Pasific, sebuah amanat yang menunjukkan dedikasinya di panggung internasional.

    Pengalaman itu membentuknya menjadi sosok yang disiplin, tangguh, sekaligus empatik terhadap sesama.

    Kini, selain terus menerima pasien, Bunda Saimah juga aktif membina para terapis di Banyuwangi untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan.

    Bunda Saimah

    Ia kerap berbagi ilmu, mulai dari teknik dasar terapi, cara membangun komunikasi yang baik dengan pasien, hingga pentingnya menyembuhkan dengan hati.

    Ia percaya, seorang terapis bukan hanya mengobati tubuh, tapi juga menenangkan jiwa.

    “Bagi saya, mengabdi untuk negeri tidak harus selalu dengan seragam. Selama kita bisa membantu sesama, di situlah letak pengabdian yang sejati,” tutur Bunda Saimah dengan senyum khasnya yang teduh.

    Dengan semangat yang sama, Bunda Saimah terus melangkah. Dari medan juang hingga ruang terapi, dari disiplin militer hingga sentuhan kasih dalam penyembuhan, ia menegaskan satu hal, yaitu pengabdian tidak pernah berhenti, hanya berubah wujud menjadi pelayanan untuk kemanusiaan.

    Tidak sampai di situ. Setelah sekian lama menekuni dunia penyembuhan holistik, ia kini tengah merampungkan sebuah karya yang dirancang sebagai panduan sekaligus refleksi, yakni buku berjudul “Banyuwanginese Treatment.”

    Bunda Saimah Veteran Banyuwangi

    Buku ini nantinya akan menjadi wadah bagi seluruh pengalaman dan keilmuannya dalam dunia terapi, mulai dari akupunktur, bekam, hipnoterapi, refleksi, quantum touch, dan masih banyak lagi.

    Namun lebih dari sekadar kumpulan teknik, Banyuwanginese Treatment merupakan filosofi penyembuhan yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas lokal Banyuwangi.

    Menariknya, Bunda Saimah menulis buku dengan bahasa yang hangat dan membumi.

    Ia menyelipkan kisah nyata dari ruang praktiknya, bagaimana seorang pasien dengan keluhan berat justru sembuh setelah melepaskan beban emosinya dan bagaimana afirmasi positif mampu mengubah cara tubuh merespons rasa sakit.

  • PORSMA XI Segera Digelar di Sidoarjo, 1.200 Atlet Kesehatan Muhammadiyah Siap Berlaga

    PORSMA XI Segera Digelar di Sidoarjo, 1.200 Atlet Kesehatan Muhammadiyah Siap Berlaga

    Ribuan calon atlet dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSM/A) se-Jawa Timur tengah bersiap mengikuti Pekan Olahraga Rumah Sakit Muhammadiyah Aisyiyah (PORSMA) ke-XI yang akan digelar di GOR Sidoarjo pada 8 November 2025.

    Ajang dua tahunan yang menjadi pesta olahraga bagi karyawan kesehatan Muhammadiyah ini mengusung tema “Harmony in Motion, Energy in Action.”

    Sebanyak 30 kontingen RSM/A dipastikan ambil bagian dalam PORSMA kali ini, dengan total 1.200 atlet yang telah lolos verifikasi administratif dan dinyatakan sah sebagai peserta.

    Tahun ini, RS Siti Fatimah Tulangan dan RS Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara kegiatan akbar tersebut.

    Menjelang pelaksanaan, Technical Meeting (TM) PORSMA ke-XI digelar di Aula KH Ahmad Dahlan RS Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang, Selasa (28/10).

    Technical Meeting PORSMA ke-XI

    Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, dilanjutkan sambutan dari Ketua Official Komite Nia Arizona, SKM, serta dr. Yahya, Sp.P, Direktur Mutu SDI dan AIK AUMKES PCM Sepanjang, selaku tuan rumah TM.

    Turut hadir M. Taufik Aini, S.Kep., Ners., Ketua Ikatan Karyawan Kesehatan Muhammadiyah (IKKM) Wilayah Jawa Timur yang juga memberikan sambutan dan arahan bagi seluruh peserta.

    Dalam pesannya, Taufik menekankan pentingnya menjunjung tinggi semangat fair play, persaudaraan, dan kebersamaan selama pertandingan.

    “Kita hadir bukan sekadar berlomba, tapi mempererat tali silaturahim dan membangun sinergi positif bagi keluarga besar Ikatan Karyawan Kesehatan Muhammadiyah se-Jawa Timur,” ujar Taufik.

    Acara TM berlangsung hangat dan penuh rasa kekeluargaan. Momen ini juga dimeriahkan dengan peluncuran maskot resmi PORSMA XI, “SIDORI” dan “SIGOGO,” yang menjadi simbol semangat sportivitas dan kebersamaan seluruh peserta.

    Adapun cabang olahraga yang akan dipertandingkan meliputi:

    1. Bola voli (putra dan putri)

    2. Futsal (putra dan putri)

    3. Tenis meja (putra dan putri)

    4. Bulu tangkis (putra dan putri)

    5. Catur (putra dan putri)

    Seluruh cabang olahraga tersebut akan digelar di berbagai venue di Kabupaten Sidoarjo, seperti GOR Delta Sidoarjo, Jenggolo Elektrik Tanggulangin, Futsal Puri Indah Sukodono, Tiza Sport, dan Delta Tirta Sido Kumpul Sidoarjo.

    Pelaksanaan akan berlangsung sepanjang hari penuh (full day), dimulai sejak pukul 05.00 WIB untuk registrasi, kemudian dilanjutkan dengan upacara pembukaan dan pertandingan antar cabang olahraga.

    Nia Arizona

    Sementara itu, Ketua Official Komite Nia Arizona, SKM menjelaskan bahwa PORSMA tahun ini menjadi ajang paling semarak sepanjang sejarah penyelenggaraannya.

    “Peserta meningkat menjadi 1.200 atlet dari 30 rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Jawa Timur. Ini bukti komitmen luar biasa dari semua pihak untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kompetisi bergengsi bagi keluarga besar IKKM,” ungkap Nia.

    Selain menyiapkan trofi untuk juara I, II, dan III bersama, panitia juga menyediakan uang pembinaan serta piala juara umum bergilir bagi kontingen terbaik.

    Untuk menjamin profesionalitas pertandingan, sejumlah wasit berlisensi dari KONI Sidoarjo turut dihadirkan dalam setiap cabang olahraga.

    “Kami ingin PORSMA menjadi ajang yang tidak hanya kompetitif, tapi juga mempererat rasa persaudaraan. Bermainlah dengan fair, junjung sportivitas, dan kedepankan silaturahim di atas kemenangan,” pesan Nia.

    Sementara itu, Edi Suwito, S.Kep., Ners., selaku Steering Committee bidang Kesenian dan Olahraga IKKM Wilayah Jawa Timur, menambahkan bahwa PORSMA tidak hanya tentang prestasi, tetapi juga kesehatan dan kebersamaan.

    Edi Suwito, S.Kep.,Ners

    “Menang atau kalah kita tetap bersaudara. PORSMA adalah ajang untuk memasyarakatkan olahraga, mens sana in corpore sano. Dengan tubuh yang sehat, kita dapat memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat,” ujar Edi.

    Dari ujung timur Pulau Jawa, semangat juga datang dari kontingen RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi Banyuwangi.

    Perwakilannya, Patria Hariyadi, S.Kep., Ners., menyampaikan optimisme tinggi menjelang pelaksanaan PORSMA XI. Ia menegaskan bahwa timnya siap bertanding dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas dan kebersamaan.

    Bagi Patria, kemenangan sejati tidak semata diukur dari raihan piala, melainkan dari kemampuan menjaga tali silaturahim, menumbuhkan kesantunan, serta memelihara semangat kebersamaan yang terus berkobar di hati seluruh keluarga besar IKKM Jawa Timur

    Dengan semangat “Harmony in Motion, Energy in Action,” PORSMA XI diharapkan menjadi ajang pemersatu seluruh karyawan kesehatan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Jawa Timur, memperkuat budaya hidup sehat, serta meneguhkan nilai-nilai sportivitas dan kebersamaan di lingkungan AUM Kesehatan.

  • Program Go Pro Wangi Libatkan Difabelpreneur, Perkuat UMKM Banyuwangi

    Program Go Pro Wangi Libatkan Difabelpreneur, Perkuat UMKM Banyuwangi

    Kehidupan inklusif di Banyuwangi semakin terasa dalam berbagai bidang, termasuk UMKM.

    Selaras dengan program Bupati Banyuwangi, UMKM Naik Kelas sejak tahun 2021, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskompumdag) Kabupaten Banyuwangi telah meluncurkan program Go Pro Wangi (Gerobak Promosi Banyuwangi) sebagai salah satu inovasi dalam memperluas akses pemasaran produk pelaku UMKM, termasuk pelaku usaha difabel yang mereka sebut difabelpreneur.

    Kepala Diskompumdag Banyuwangi, Hj. RR. Nanin Oktaviantie, menjelaskan bahwa Go Pro Wangi memberi kesempatan UMKM tampil di berbagai ajang besar daerah seperti Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Pasar Rakyat, hingga Car Free Day.

    “Setiap pelaku UMKM mendapat jatah tampil dua hingga tiga kali dalam satu siklus kegiatan, sehingga semua memiliki kesempatan yang seimbang untuk memperkenalkan produk mereka,” ujar Nanin.

    Diskompumdag Banyuwangi juga menyediakan gerobak dan stan dengan desain menarik serta ramah akses, sementara pelaku UMKM bertanggung jawab membawa produk dan memastikan kemasan yang layak jual.

    Menurut Nanin, keterlibatan pelaku usaha difabel mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam membangun ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

    Selain ruang promosi, pelaku UMKM difabel juga mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas promosi, penguatan branding, serta perluasan jejaring usaha.

    Apresiasi terhadap program ini datang dari Nurhadi Windoyo, Ketua Aura Lentera sekaligus pembina komunitas UMKM Sahabat.

    Windoyo Ketua Aura Lentera
    Windoyo Ketua Aura Lentera (Dok. sastrawacana.id/)

    Ia menilai Go Pro Wangi menjadi wadah penting bagi pelaku usaha difabel untuk belajar menghadapi pasar nyata.

    "Program ini sangat bermanfaat untuk sahabat-sahabat kami Diffabel pelaku UMKM. Selain memberikan peluang pasar juga menjadi wahana belajar bagi kami menghadapi pasar yang nyata. Selain itu, kesempatan bagi kami untuk sosialisasi dan promosi bahwa kami juga mampu menjalankan usaha, ada produk yang kami hasilkan," kata Windoyo saat ditemui di ajang Kejurprov Voli Jawa Timur 2025 di GOR Tawangalun.

    Saat ini banyak penyandang disabilitas tergabung dalam kelompok UMKM seperti Sahabat dan Mekarwangi.

    Meski begitu, tantangan mobilitas dan pemasaran masih menjadi kendala utama.

    Windoyo berharap pemerintah terus memberikan pendampingan dan pembinaan terpadu agar pelaku difabel bisa tumbuh menjadi difabelpreneur yang unggul.

    Go Pro Wangi

    Dalam ajang Kejurprov Voli Jatim 2025, UMKM Sahabat menampilkan beragam produk, antara lain telur asin hasil karya siswa SLBN Banyuwangi, kue Klemben produksi Mahmud Hasyim (Ketua INAF Persawangi), serta kopi As Syifa milik Nurul Imam (Ketua UMKM Sahabat).

    Melalui Go Pro Wangi, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Banyuwangi berupaya memperluas jangkauan pemasaran produk lokal, memperkuat citra dan daya saing UMKM, serta membuka peluang menuju pasar nasional hingga global.

    “Dengan semangat kolaboratif dan inklusif, Go Pro Wangi menjadi bukti nyata bahwa setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan mengharumkan nama Banyuwangi,” pungkas Nanin.

  • Inspiratif, MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember Luncurkan Mobil Literasi dan Gelar LKBB

    Inspiratif, MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember Luncurkan Mobil Literasi dan Gelar LKBB

    MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Jember menggelar kegiatan peluncuran Mobil Literasi dan pembukaan Lomba Kreativitas Baris Berbaris (LKBB) di halaman asrama putri Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Senin (27/10/2025).

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 1447 H.

    Acara diawali dengan penampilan nasyid Firqatul Insyad Az Zahra yang membawakan mahallul qiyam, dilanjutkan pembacaan orasi ilmiah salah satu pengasuh, Ustaz Jamaluddin.

    Dalam paparannya, Ustaz Jamaluddin menekankan pentingnya budaya literasi di lingkungan pesantren sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam.

    “Literasi adalah cahaya yang menerangi jalan panjang kehidupan, dari huruf menuju hikmah,” ujarnya.

    Peluncuran Mobil Literasi dan pembukaan LKBB secara resmi dilakukan oleh KH. Yazid Karimullah.

    Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa gerakan literasi merupakan bagian dari semangat Iqra’ warabbuka al-akram; bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.

    “Inilah bagian dari sunnatullah dalam menegakkan ilmu dan adab,” tuturnya.

    KH. Yazid Karimullahjuga berpesan agar para santri terus menumbuhkan semangat belajar dan berprestasi di berbagai bidang.

    “Jadilah pemuda yang kakinya menapaki bumi, namun cita-citanya setinggi bintang di langit,” pesannya.

    Dalam kesempatan tersebut, KH. Yazid Karimullah menegaskan pentingnya sinergi antarunit pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Qarnain, khususnya antara MA Nurul Qarnain dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain.

    Ia juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat lembaga tersebut akan bertransformasi menjadi Institut KH. Yazid Karimullah (INSYAKA).

    Peluncuran Mobil Literasi ini diharapkan dapat memperkuat budaya membaca dan menulis di lingkungan pesantren serta menjadi sarana pembinaan literasi bagi para santri.

  • Penyair Serumpun Asia Tenggara Temu Karya di Jember, Bahas Trauma dan Imajinasi Kebebasan

    Penyair Serumpun Asia Tenggara Temu Karya di Jember, Bahas Trauma dan Imajinasi Kebebasan

    Para penyair dari berbagai negara Asia Tenggara berkumpul di Jember dalam ajang Temu Karya Serumpun 2025 yang digelar di Seger Nusantara, Pakusari Jember pada 25–26 Oktober 2025.

    Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan antara sastrawan Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Timor Leste.

    Acara dibuka dengan Dialog Sastra Penyair Serumpun yang menghadirkan tokoh-tokoh sastra lintas negara.

    Dalam diskusi itu, penyair asal Pattani, Thailand, Abas Salae, menyoroti pentingnya peran bahasa dan sastra dalam menjaga persaudaraan di kawasan Asia Tenggara.

    Ia menilai, kesamaan sejarah dan latar budaya menjadi fondasi yang mempererat hubungan antarpenyair serumpun.

    Sementara itu, penyair dari Riau, Muhammad Asqalani E, turut berbagi pengalaman tentang bagaimana trauma masa lalu membentuk dirinya dalam menulis puisi.

    Ia menganggap pengalaman emosional dapat menjadi sumber inspirasi yang memperkaya makna karya sastra.

    Pandangan itu mendapat penguatan dari sejumlah tokoh lain seperti Rakmat Faisal dari Universitas Negeri Surabaya, Nurul Ludfiah dari Banyuwangi, Faidi Rizal Alief dari Sumenep, Muhammad Lefand dari komunitas Sastra Timur Jawa, dan Yogira Yogaswara dari Ciwedey, Jawa Barat. Diskusi tersebut dipandu oleh Fitri Nura Murti, dosen FKIP Universitas Jember.

    Sastrawan Tengsoe menambahkan bahwa dialog lintas negara semacam ini bukan sekadar ajang pertemuan para penyair, tetapi juga menjadi wadah refleksi bersama tentang kemanusiaan di kawasan Asia Tenggara.

    Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut agar puisi tetap menjadi jembatan lintas budaya dan bahasa.

    Pada hari kedua, kegiatan berlanjut dengan Peluncuran dan Bedah Buku bertema “Semesta Ingatan: Trauma dan Imajinasi Kebebasan.”

    Dalam sesi tersebut, Prof. Taufiq menilai tema itu mencerminkan perjalanan batin manusia dalam menghadapi luka sejarah serta menemukan makna kebebasan melalui sastra. Ia juga menyebut bahwa ingatan kolektif menjadi sumber penting dalam proses penciptaan karya.

    Pandangan lain datang dari Acep Zamzam Noor, yang berpendapat bahwa trauma tidak selalu membawa dampak negatif, melainkan bisa menjadi kekuatan yang melahirkan karya sastra dengan kedalaman makna.

    Adziah Abd Aziz, penulis asal Malaysia, mengingatkan bahwa kebebasan berimajinasi harus disertai tanggung jawab moral agar tidak mengganggu ruang kreatif penulis lain.

    Sesi ditutup oleh Mashuri yang menegaskan pentingnya ketepatan berbahasa dalam dunia puisi. Ia menilai keindahan sebuah karya lahir dari disiplin berbahasa yang tinggi, sehingga kesalahan kecil pun bisa memengaruhi kekuatan puisi.

  • Mojoer Media, Jurnalis SMK Models Siliragung Jadi Penggerak Literasi di Bulan Bahasa 2025

    Mojoer Media, Jurnalis SMK Models Siliragung Jadi Penggerak Literasi di Bulan Bahasa 2025

    SMK Muhammadiyah 8 Siliragung kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi di kalangan pelajar melalui kegiatan bertajuk “Swara Kata Bulan Bahasa 2025: Berkarya dengan Bahasa, Berbudaya dengan Sastra” pada Minggu, (26/10).

    Tak hanya sukses sebagai pelaksana acara, Ekskul Models Jurnalisme Mojoer Media yang dibina oleh Cici Arista Devi ini juga tampil sebagai motor penggerak di balik suksesnya kegiatan ini.

    Rangkaian acara yang digelar di ballroom ED Hotel SMK Model Siliragung ini meliputi Lomba Baca Puisi, Lomba Bercerita, dan Workshop Pentigraf yang diikuti oleh ratusan peserta SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi.

    Di balik kemeriahan tersebut, para jurnalis muda SMK Models menjadi tim dokumentasi, peliput, dan redaksi yang menyiarkan jalannya kegiatan secara profesional.

    Dipimpin oleh Rhifan Ahmad Aki Pansurna selaku Pimpinan Redaksi Mojoer Media, para jurnalis muda ini menjalankan peran layaknya awak media sesungguhnya, mulai dari melakukan wawancara, menulis berita, hingga mengelola konten publikasi sekolah.

    “Menjadi jurnalis di SMK Models bukan hanya soal menulis berita, tapi juga belajar menyampaikan pesan secara utuh. Ibarat melihat gajah, kita tidak hanya melihat ekornya, tetapi keseluruhan bentuknya,” ujar Rhifan dalam wawancara di sela kegiatan Bulan Bahasa.

    Workshop Pentigraf SMK Models
    Workshop Pentigraf SMK Models Siliragung (Dok. sastrawacana.id/)

    Menurutnya, jurnalistik di sekolah menjadi ruang pembelajaran yang menantang sekaligus menyenangkan.

    Para siswa tidak hanya dilatih berpikir kritis dan menulis, tetapi juga berani berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami proses informasi secara mendalam.

    “Dulu kami hanya menulis untuk tugas sekolah. Tapi lewat Mojoer Media, kami belajar menulis untuk publik, untuk sekolah, bahkan untuk masyarakat. Itu pengalaman yang luar biasa,” tambahnya.

    Rhifan juga mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar bagi generasi muda saat ini adalah menumbuhkan kebiasaan literasi di tengah dominasi media digital.

    “Banyak teman yang terbiasa menghabiskan waktu dengan konten singkat. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan dunia digital sebagai ruang belajar dan menulis yang produktif,” jelasnya.

    Meski begitu, semangat tim Mojoer Media tidak surut. Mereka justru memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan berita kegiatan sekolah, promosi program, hingga publikasi karya siswa.

    Kini, Mojoer Media telah menerbitkan berbagai artikel, liputan kegiatan, dan bahkan buku antologi hasil karya tim jurnalistik.

    Mojoer Media

    “Teman-teman jurnalis kami sudah berani menulis buku. Itu langkah besar. Artinya, literasi di SMK Models sudah bergerak dari ruang kelas menuju ruang publik,” tutur Rhifan dengan bangga.

    Tak berhenti di situ, Rhifan menyebut bahwa ke depan Mojoer Media akan memperluas jangkauan liputan dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai media literasi di Banyuwangi.

    Kepala SMK Muhammadiyah 8 Siliragung, Muhlas Efendi, S.T., memberikan apresiasi tinggi terhadap kiprah Mojoer Media.

    “Anak-anak jurnalistik kami adalah wajah sekolah. Mereka tidak hanya meliput, tapi juga membangun citra positif lembaga. Melalui tulisan dan karya mereka, SMK Models dikenal luas sebagai sekolah yang literat dan kreatif,” tandasnya.

    Sementara itu, Maulana Affandi, S.S., selaku Pemimpin Redaksi media literasi sastrawacana.id/, turut memberikan apresiasi tinggi kepada tim Jurnalis SMK Models Mojoer Media atas kiprahnya dalam menghidupkan budaya menulis di lingkungan sekolah.

    Menurutnya, semangat dan profesionalitas para jurnalis muda SMK Muhammadiyah 8 Siliragung menjadi bukti nyata bahwa literasi tidak lagi sekadar slogan, tetapi telah tumbuh menjadi gerakan yang berakar kuat di kalangan pelajar.

    “Saya melihat teman-teman Mojoer Media bekerja dengan etos seorang jurnalis sejati. Mereka meliput, menulis, dan mempublikasikan berita dengan tanggung jawab serta semangat belajar yang luar biasa. Semua ini tentu tidak lepas dari dukungan kepala sekolah dan para guru yang mendampingi,” ujarnya. (Heri Iskandar)