Blog

  • Apa yang Menjadikan Perang Jawa Termasuk The Great War Menurut Orang Eropa?

    Apa yang Menjadikan Perang Jawa Termasuk The Great War Menurut Orang Eropa?

    Perang Jawa sering dianggap sebagai konflik besar oleh orang-orang Eropa bukan hanya karena berlangsung dalam waktu yang panjang, tetapi juga karena skala pertempuran, dampak politik dan ekonomi, serta tantangan yang dihadapi Belanda dalam mengatasi perlawanan rakyat di Pulau Jawa.

    Sebagai bagian penting dari sejarah kolonial Belanda, perang ini memiliki keunikan tersendiri. Lawan yang dihadapi bukan hanya satu penguasa lokal, tetapi melibatkan berbagai lapisan masyarakat mulai dari rakyat kecil, bangsawan yang kecewa atas campur tangan Belanda, ulama, hingga kelompok lain yang merasa dirugikan akibat kebijakan kolonial seperti pajak, sewa tanah, dan pengambilalihan adat.

    Orang Eropa menilai Perang Jawa sebagai perang besar karena jumlah korban dan kerugian materi yang ditimbulkan sangat tinggi. Belanda harus mengerahkan pasukan dalam jumlah besar, membangun benteng pertahanan atau benteng stelsel, memperluas jalur logistik, serta meningkatkan komunikasi untuk menghadapi perlawanan. Biaya perang menguras keuangan Belanda dan operasi militer yang berlangsung hampir lima tahun membuat sumber daya mereka terkuras, baik dari sisi manusia maupun perlengkapan.

    Baca juga: Mengapa Setelah Perang Jawa Pasukan Tuanku Imam Bonjol Mengalami Kekalahan Melawan Tentara Belanda?

    Dampak sosial perang juga sangat terasa. Terjadi kelaparan, penyebaran penyakit, dan kerusakan ekonomi yang cukup parah di Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga mengurangi jumlah penduduk di beberapa wilayah. Dari sudut pandang Eropa, perang ini menjadi bukti bahwa kolonisasi tidak bisa dijalankan secara sepihak. Belanda tidak bisa begitu saja menata wilayah tanpa menghadapi perlawanan yang terorganisir dengan dukungan rakyat yang kuat.

    Pangeran Diponegoro muncul sebagai tokoh yang mampu menyatukan berbagai elemen lokal dalam skala besar. Ia berhasil melampaui sekat adat dan kedaerahan dengan membawa legitimasi agama serta semangat keadilan sosial. Karena itu Perang Jawa bukan dianggap sebagai pemberontakan kecil, melainkan gerakan besar yang sarat makna ideologis dan moral.

    Bagi Belanda dan Eropa, perang ini menjadi titik balik dalam tata kelola kolonial. Mereka dipaksa memperbarui kebijakan administrasi, strategi militer, pembangunan infrastruktur, hingga sistem ekonomi. Jika sebelumnya kolonialisme banyak bertumpu pada kerja sama dengan penguasa lokal, Perang Jawa menunjukkan bahwa cara itu tidak cukup ketika rakyat dan pemimpin memiliki tekad kuat untuk menentang penjajahan.

    Dengan berbagai alasan tersebut, Perang Jawa disebut sebagai The Great War oleh orang Eropa. Perang ini dianggap besar karena lamanya berlangsung, luasnya dampak, besarnya korban manusia dan materi, kuatnya perlawanan rakyat, serta tekanan yang akhirnya memaksa Belanda melakukan perubahan besar dalam sistem kolonialnya. Bagi Eropa, Perang Jawa bukan hanya tantangan militer, tetapi juga tantangan politik, ekonomi, dan ideologis yang mengguncang kekuasaan kolonial di Asia Tenggara.

  • Mengapa Setelah Perang Jawa Pasukan Tuanku Imam Bonjol Mengalami Kekalahan Melawan Tentara Belanda?

    Mengapa Setelah Perang Jawa Pasukan Tuanku Imam Bonjol Mengalami Kekalahan Melawan Tentara Belanda?

    Setelah Perang Jawa berakhir, Belanda memiliki kesempatan untuk memusatkan kekuatan penuh menghadapi perlawanan di Sumatera Barat.

    Pasukan Tuanku Imam Bonjol yang sebelumnya bertahan dengan semangat jihad dan dukungan rakyat akhirnya kewalahan menghadapi tekanan besar dari militer kolonial.

    1. Peningkatan Kekuatan Militer Belanda

    Setelah Perang Jawa selesai (sekitar 1830), Belanda bisa memfokuskan sumber daya militer, seperti pasukan, persenjataan, dan logistik ke Sumatera Barat untuk menghadapi Tuanku Imam Bonjol dan kaum Padri. Karena Belanda tidak lagi terbagi perhatian ke konflik lain, mereka bisa mengirim pasukan tambahan dan memperkuat operasi militer mereka di wilayah Padri.

    2. Pengepungan dan Pemutusan Jalur Komunikasi serta Logistik

    Belanda secara sistematis memutus jalur-jalur penghubung antara Bonjol dan pantai, memblokade daerah-daerah pengiriman logistik dan suplai ke pertahanan Padri. Hal ini sangat melemahkan pertahanan Imam Bonjol karena pasukannya kesulitan mendapatkan persediaan, bahan makanan, senjata, dan dukungan lain dari luar.

    3. Taktik “Benteng (Fortification)” dan Penyerangan Terkoordinasi

    Belanda mulai membangun benteng-benteng dan kubu di daerah strategis untuk menahan pergerakan pasukan Padri dan mengontrol daerah sekitarnya. Mereka melancarkan serangan meriam, bombardemen terhadap benteng, dan tekanan militer secara terus-menerus terhadap pertahanan Bonjol. Perlawanan yang sporadis dari Padri walau gigih akhirnya tidak mampu menahan serangan besar dan berkepanjangan.

    4. Kemunduran Pemimpin dan Tokoh Pendukung serta Penangkapan

    Seiring waktu, beberapa pemimpin Padri dan figur-figur penting berhasil ditangkap atau dipengaruhi oleh Belanda, menyebabkan melemahnya struktur komando dan koordinasi perlawanan. Ketika pemimpin inti tertangkap atau kehilangan moral dukungan, efektivitas pertahanan menjadi terkikis.

    5. Penggunaan Diplomasi dan Tipu Muslihat oleh Belanda

    Belanda juga memakai cara-cara non-militer seperti perundingan, janji damai, gencatan senjata, yang pada akhirnya digunakan sebagai kesempatan untuk menjebak Imam Bonjol dan melemahkan perlawanan. Perundingan-perundingan seperti itu membuat Padri kadang mempercayai tawaran damai, yang kemudian dibohongi atau dikhianati.

    7. Keletihan Perang Berkepanjangan dan Keterbatasan Sumber Daya

    Perang lama membuat pasukan Padri kelelahan, kehilangan sumber daya (manusia, bahan logistik, dan persenjataan). Sementara kemampuan Belanda dalam memasang suplai terus menerus dan menggantikan kehilangan mereka jauh lebih besar. Keterbatasan seperti ini mengakibatkan pertahanan Imam Bonjol tidak bisa bertahan menghadapi serangan terus menerus.

  • Bagaimana Strategi Pangeran Diponegoro dalam Melawan Pasukan Belanda?

    Bagaimana Strategi Pangeran Diponegoro dalam Melawan Pasukan Belanda?

    Pangeran Diponegoro dikenal sebagai tokoh perlawanan yang memiliki strategi jitu dalam menghadapi pasukan Belanda pada Perang Jawa (1825–1830).

    Perjuangannya tidak hanya didorong oleh faktor politik dan ekonomi, tetapi juga semangat keagamaan yang kuat serta keberpihakan kepada rakyat kecil.

    Dengan memanfaatkan medan, dukungan masyarakat, serta taktik gerilya yang efektif, Diponegoro berhasil membuat Belanda kewalahan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya ditangkap melalui tipu muslihat.

    1. Perang Gerilya (Guerrilla Warfare)

    Diponegoro sangat mengandalkan perang gerilya sebagai taktik utama. Beliau menggunakan pengetahuan terhadap medan perang, seperti pegunungan, hutan, daerah pedesaan untuk melancarkan serangan mendadak (serangan kilat), menyergap pasukan Belanda di lokasi yang tidak terduga, lalu mundur sebelum Belanda sempat mengorganisir kontrapemukulan. Strategi ini membuat Belanda sulit melakukan operasi militer karena medan dan pergerakan rakyat yang fleksibel.

    2. Mobilisasi Dukungan Rakyat

    Dukungan dari masyarakat lokal sangat krusial. Diponegoro mampu menyatukan berbagai elemen seperti petani, santri, ulama, rakyat biasa, bahkan bangsawan yang resah dengan intervensi Belanda. Ini bukan hanya dukungan moral, tetapi juga dukungan logistik, pengetahuan medan, informasi (intel), dan tempat perlindungan. Dengan demikian perlawanan tak hanya militer tetapi juga sosial-politik.

    3. Strategi Politik + Spirit Keagamaan

    Keagamaan dan semangat ‘jihad’ menjadi unsur pembangkit moral dan legitimasi. Diponegoro merumuskan perjuangan bukan semata politik atau ekonomi, tapi juga religius—mengobarkan semangat bahwa melawan penjajahan adalah bagian dari kewajiban keagamaan bagi umat Islam. Hal ini membantu memperkuat ikatan sosial, pengorbanan, dan loyalitas pengikut.

    4. Penguasaan Wilayah & Pertahanan Alamiah

    Strategi mempertahankan tempat-tempat tertentu yang secara alamiah sulit diakses, seperti gua, bukit, hutan, dan daerah-daerah yang jauh dari pusat kekuasaan Belanda. Misalnya, penggunaan Gua Selarong sebagai benteng pertahanan dan tempat bergerak secara rahasia.

    5. Penggunaan Taktik Serangan Kilat dan Sabotase

    Selain serangan terbuka yang terbatas, pasukan Diponegoro melakukan sabotase, penyergapan, penghancuran jalur komunikasi atau pasokan Belanda ketika kesempatan muncul. Strategi semacam ini membuat Belanda harus membagi kekuatan dan waspada di banyak titik.

  • Apa Inspirasi Menarik yang Anda Peroleh dari Kegiatan Pengembangan Kompetensi?

    Apa Inspirasi Menarik yang Anda Peroleh dari Kegiatan Pengembangan Kompetensi?

    Inspirasi utama yang saya peroleh dari kegiatan pengembangan kompetensi sebagai guru adalah kesadaran bahwa proses belajar tidak berhenti hanya pada siswa, tetapi juga harus terus dijalani oleh pendidik.

    Seorang guru dituntut untuk selalu memperbarui pengetahuan, menyesuaikan metode pembelajaran, serta menguasai keterampilan baru agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

    Dari sini muncul inspirasi bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar, melainkan juga terus belajar.

    Kegiatan pengembangan kompetensi juga memberi inspirasi tentang pentingnya inovasi dalam pembelajaran.

    Saya menyadari bahwa siswa memiliki gaya belajar yang beragam, sehingga seorang guru harus kreatif menciptakan strategi, media, dan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

    Hal ini mendorong saya untuk lebih berani mencoba metode baru, memanfaatkan teknologi, serta mengemas pembelajaran agar lebih menarik dan bermakna.

    Selain itu, dari kegiatan ini saya mendapatkan inspirasi tentang arti kolaborasi antar guru.

    Pertukaran pengalaman, ide, dan praktik baik yang dibagikan oleh rekan-rekan sejawat membuka wawasan baru serta memperkaya cara pandang saya dalam mengajar.

    Saya merasa termotivasi untuk tidak hanya mengajar secara individual, tetapi juga bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang lebih baik.

    Inspirasi lain yang saya peroleh adalah pentingnya membangun karakter sekaligus kompetensi siswa. Pengembangan kompetensi guru tidak hanya fokus pada peningkatan akademik, tetapi juga menekankan bagaimana guru dapat menjadi teladan dalam sikap, etika, dan semangat belajar sepanjang hayat. Hal ini memberi motivasi bagi saya untuk lebih konsisten menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mendidik, tetapi juga membentuk pribadi siswa yang berkarakter.

  • Jambore III FPRB Jawa Timur Hadirkan Inklusi, Relawan Disabilitas Ikut Belajar Mitigasi Bencana

    Jambore III FPRB Jawa Timur Hadirkan Inklusi, Relawan Disabilitas Ikut Belajar Mitigasi Bencana

    Jambore III Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur yang berlangsung di Pantai Grand Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, pada 12-14 September 2025, menjadi ruang pembelajaran kolektif bagi ratusan relawan dari berbagai daerah.

    Selama tiga hari, acara dipadati sesi paparan, diskusi, hingga praktik lapangan dengan beragam topik pengurangan risiko bencana (PRB).

    Agenda berjalan sejak pagi hingga malam, menghadirkan narasumber dari lembaga nasional hingga daerah.

    Tak hanya materi teknis, jambore tahun ini juga menghadirkan sesi tematik paralel yang menekankan inklusi dan pelibatan bermakna.

    Dalam sesi tersebut, mitra Civil Society Organization (CSO) memandu diskusi bersama peserta yang datang dari berbagai forum PRB daerah.

    Keistimewaan Jambore III kali ini adalah kehadiran kelompok disabilitas. Panitia menghadirkan Gerakan Kesehatan Tuli Indonesia (GERKATIN) serta Yayasan Aura Lentera Indonesia yang mendampingi peserta tunanetra.

    Nurhadi Windoyo, Ketua Yayasan Aura Lentera, mengapresiasi keterlibatan komunitas disabilitas dalam forum besar ini.

    “Kami sangat senang bisa ikut serta di jambore ini, meskipun belum bisa sepenuhnya dilibatkan dalam simulasi,” ujar Windoyo.

    Ia menambahkan, pihaknya berharap ke depan ada kolaborasi lebih luas dalam Jambore Nasional, sehingga relawan dari berbagai latar belakang dapat memahami situasi penyelamatan warga disabilitas ketika bencana melanda.

    Antusiasme juga tampak dari Gerkatin Banyuwangi yang aktif mengikuti simulasi penyelamatan bersama tim PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI).

    Proses latihan dilengkapi pendampingan Juru Bahasa Isyarat (JBI), sehingga semua tahapan dapat dipahami peserta tuli.

    Ricky Malebhy, Ketua Gerkatin Banyuwangi, bahkan mendorong anggotanya terlibat langsung di setiap sesi.

    Fahmi, salah satu anggota Gerkatin, mendapat kesempatan mempraktikkan pertolongan korban tenggelam sekaligus melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP).

    “Kami merasa bangga, lewat jambore ini Gerkatin bisa meningkatkan kapasitas menghadapi bencana,” kata Ricky.

    Selain aspek inklusi, jambore juga menghadirkan materi berbobot dari berbagai instansi. BNPB, Kemendes, Kemendagri, Kemenkeu, Kemen PPN/Bappenas, MPBI, BPBD Jawa Timur, hingga FPRB Jawa Timur hadir membawakan diskusi.

    BNPB membuka jalannya diskusi dengan tema Peran Forum dalam Kolaborasi Pentahelix untuk Membangun Ketangguhan Bencana.

    Direktur Kesiapsiagaan BNPB turut mensosialisasikan rancangan peraturan baru terkait Forum PRB. Selain itu, BNPB juga mengenalkan Katalog Digital Kesiapsiagaan yang tengah diuji coba.

    Sesi panel selanjutnya menyoroti praktik baik Forum PRB daerah dalam implementasi PRBBK. FPRB Jawa Timur berbagi pembelajaran dari Kampung Bungin, disusul sharing session praktik baik PRB yang menginspirasi banyak peserta.

    Pada hari terakhir, jambore menghadirkan sesi panel kedua dengan topik Strategi Kolaborasi dan Koordinasi antar Forum PRB sebagai Pendorong Resiliensi: Tantangan dan Peluang. Diskusi ini dilanjutkan lokakarya mekanisme komunikasi dan koordinasi antar forum, serta praktik lapangan berupa water rescue dan simulasi penyelamatan.

    Menutup rangkaian kegiatan, digelar dialog terbuka untuk menyusun agenda bersama menuju Festival Forum PRB 2026. Sebelum penutupan resmi, panitia membacakan rekomendasi serta komitmen bersama yang menjadi kesepakatan seluruh peserta.

    Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, yang hadir dalam pembukaan, memberikan apresiasi atas terselenggaranya Jambore III.

    “Forum ini adalah wadah strategis yang mempertemukan relawan PRB, tidak hanya dari Jawa Timur tapi juga skala nasional. Melalui forum ini, para relawan mendapat pencerahan untuk memperdalam manajemen pengurangan risiko bencana,” kata Adhy kepada jurnalis, Sabtu (13/9).

    Ketua FPRB Banyuwangi, Mahbub Junaidi, juga menyampaikan penghargaan kepada semua pihak.

    “Terima kasih kepada peserta yang sudah mengikuti kegiatan selama tiga hari penuh di Pantai Grand Watudodol. Apresiasi juga untuk Pemkab Banyuwangi, BPBD, sponsor, serta seluruh instansi terkait yang telah mendukung penuh acara ini,” ujarnya.

  • Jambore III FPRB Jatim Ditutup, Ratusan Relawan Pulang dengan Bekal Ilmu PRB

    Jambore III FPRB Jatim Ditutup, Ratusan Relawan Pulang dengan Bekal Ilmu PRB

    Rangkaian kegiatan Jambore III Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur yang dipusatkan di Pantai Grand Watudodol, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, resmi berakhir pada Minggu (14/9/2025).

    Selama tiga hari penuh, mulai 12 hingga 14 September, para peserta mengikuti berbagai paparan, diskusi, hingga praktik lapangan yang menghadirkan narasumber dari tingkat pusat hingga daerah.

    Kemeriahan jambore kali ini ditandai dengan padatnya agenda sejak pagi hingga malam. Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teori, tetapi juga membahas praktik langsung di lapangan.

    Narasumber yang dihadirkan pun berasal dari lembaga-lembaga strategis, seperti BNPB, Kementerian Desa, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian PPN/Bappenas, Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), BPBD Jawa Timur, FPRB Jawa Timur, hingga mitra Civil Society Organization (CSO).

    Diskusi pertama dibuka dengan tema Peran Forum dalam Kolaborasi Pentahelix untuk Membangun Ketangguhan Bencana bersama BNPB.

    Pada kesempatan itu, Direktur Kesiapsiagaan BNPB juga memaparkan rancangan peraturan terbaru mengenai keberadaan Forum PRB.

    BNPB sekaligus memperkenalkan Katalog Digital Kesiapsiagaan yang saat ini sedang diuji coba.

    Agenda berlanjut pada sesi panel mengenai Praktik Baik Forum PRB Daerah dalam Implementasi PRBBK yang dipandu langsung oleh perwakilan FPRB Jawa Timur.

    Dalam kesempatan ini, peserta juga diajak mempelajari pengalaman dari Kampung Bungin yang dinilai sukses menjalankan program PRB berbasis komunitas.

    Sesi berikutnya diisi oleh MPBI yang membedah tema besar Mewujudkan Tujuan Peta Jalan PRBBK 2045; Di Mana Kita Sekarang? sekaligus memandu refleksi kolektif: Apakah kita sudah berjalan sesuai arah yang benar menuju 2025?

    Diskusi ini memantik semangat peserta untuk melihat kembali capaian yang sudah dilakukan sekaligus menata langkah ke depan.

    Tak kalah menarik, pada hari kedua digelar sesi tematik paralel secara serentak di beberapa ruangan. Di ruang pertama, mitra CSO memandu diskusi tentang inklusi dan pelibatan bermakna dalam forum PRB.

    Di ruang kedua, BPBD dan FPRB Jawa Timur memfasilitasi penyusunan rencana strategis dengan mengintegrasikan PRB dan API.

    Sementara itu, di ruang ketiga peserta membahas pemanfaatan Indeks Desa serta metode penilaian ketangguhan untuk 75 ribu desa di Indonesia.

    Di ruang keempat, fokus perbincangan diarahkan pada peran Forum PRB dalam implementasi Pooling Fund bencana.

    Agenda malam kedua diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut yang konkret.

    Tidak hanya itu, panitia dan peserta juga mulai membicarakan gambaran awal Jambore IV FPRB Jawa Timur yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2027 mendatang.

    Memasuki hari terakhir, acara dimulai dengan sesi panel kedua yang membahas strategi kolaborasi dan koordinasi antar forum PRB sebagai pendorong resiliensi, termasuk tantangan dan peluang yang dihadapi.

    Setelah itu, peserta terlibat dalam lokakarya mengenai mekanisme komunikasi dan koordinasi antar forum.

    Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti praktik lapangan berupa water rescue dan simulasi penanganan darurat.

    Menutup rangkaian kegiatan, digelar dialog terbuka untuk menyusun agenda bersama menuju Festival Forum PRB 2026.

    Sebelum resmi ditutup, panitia membacakan hasil rekomendasi dan komitmen bersama sebagai kesepakatan kolektif.

    Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan akbar ini.

    “Forum ini menjadi wadah berkumpulnya relawan Pengurangan Risiko Bencana se Jawa Timur, bahkan nasional, sehingga harus bisa memberikan pencerahan untuk belajar manajemen pengurangan risiko bencana,” ujarnya kepada awak media usai pembukaan, Sabtu (13/9).

    Sementara itu, Ketua FPRB Banyuwangi, Mahbub Junaidi, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung jalannya kegiatan.

    “Terima kasih kepada para peserta yang mengikuti acara sejak awal hingga akhir, juga kepada Pemkab Banyuwangi, BPBD, sponsor, serta instansi terkait yang membantu menyediakan fasilitas. Dukungan ini menjadi kunci sukses jambore selama tiga hari di Pantai Grand Watudodol,” ungkapnya.

  • Semakin Meriah, CFD Ahmad Yani Banyuwangi Dihiasi Atraksi Sekolah dan Kuliner Tradisional

    Semakin Meriah, CFD Ahmad Yani Banyuwangi Dihiasi Atraksi Sekolah dan Kuliner Tradisional

    Car Free Day (CFD) di sepanjang jalan protokol Jenderal Ahmad Yani kali ini diisi penampilan dari SMPN Kabat, SMPN Rogojampi, serta SD Guslah.

    Tak ketinggalan, hadir pula permainan tradisional dari SDN Singotrunan, SDN Kepatihan, dan SDI Al Khairiyah, sementara tingkat TK diwakili oleh TK Santa Maria, TK Siwi Peni, serta TK di kawasan Cungking Giri.

    Seluruh kegiatan tersebut dipantau langsung oleh Koordinator Satkordikcam Kota, Drs. Janoto, M.Pd., pada Minggu (14/09/25).

    Beragam atraksi ditampilkan, mulai dari senam, pencak silat, karate, hingga mewarnai. Musik tradisional mengiringi gending Banyuwangenan dan jaranan buto meriah dari SMPN 3 Rogojampi.

    Ada pula tari kreasi dari SMPN 1 dan 2 Rogojampi, serta kuis seputar profil Rasulullah Muhammad SAW yang memberikan hadiah doorprize plus kembang ndog khas muludan, persembahan dari SMPN 1 Kabat.

    pengurus MGMP Bahasa Using

    Di sela-sela penampilan ekstrakurikuler, pengurus MGMP Bahasa Using, Yeti Chotimah dan M. Sofyansyah, S.Pd., juga melakukan sosialisasi Festival Literasi Using yang akan digelar pada Bulan Bahasa Oktober oleh Balai Bahasa Jawa Timur.

    Kemeriahan CFD semakin bertambah dengan hadirnya maskot pasar wit-witan Alas Malang berupa sosok Mak Lampir. Suasana pun semakin menarik ketika rain stopper Ki Ilham Triadi hadir membawa keris dan dupa harum.

    Di sekitar lokasi, warung Bik Ati turut meramaikan dengan sajian Gudeg Bu Poer. Tepat di seberangnya tersedia Loempia Panorama.

    Di sisi selatan, berbagai fashion, aksesori, dan sepatu ikut dipamerkan dan cukup diminati. Sementara itu, di depan Dispora selain kegiatan senam juga hadir komunitas skateboard yang menampilkan aksi seru.

    Senam di CFD Banyuwangi

    Selain pengunjung umum, terlihat pula rombongan tamu yang dipandu staf Bappeda Datu. Sudirman, anggota Kosti, tampak beberapa kali melintas dengan sepeda tuanya.

    Dari sisi pelaku usaha, Bu Faizah yang berjualan kebab dan nasi mandhi mengatakan bahwa hasil penjualannya berjalan normal seperti biasanya. Hal senada disampaikan Rina, penjual polo pendem dan kucur.

    “Alhamdulillah, begitu buka langsung ada pembeli, bahkan di tengah gerimis pun tetap ramai,” tutur perempuan tangguh yang aktif berjualan di berbagai event.

    Ketua Komite SMPN 3 Rogojampi, Ir. Isnain, juga menyatakan apresiasinya.

    “Kami komite dan wali murid mendukung penuh setiap jadwal tampil dari dinas pendidikan. CFD memberi ruang, waktu, dan panggung bagi pelajar untuk berekspresi,” ujar pria yang mengenakan kaos dan topi merah putih bertuliskan “komite” ini, yang juga tercatat sebagai pengurus DPD Lemahbangkulon.

    Tidak hanya hiburan dan kuliner, di depan TMP juga tersedia layanan dari Bank UMKM, Bank Jatim, serta Perpustakaan Daerah. Di area depan BSI, mahasiswi STIKES turut menggelar bakti sosial kesehatan.

    Ajang CFD yang digelar setiap Minggu ini pun kembali membuktikan diri sebagai ruang publik yang menyatukan hiburan, kreativitas pelajar, usaha mikro, hingga layanan sosial bagi masyarakat. Sampai jumpa di CFD berikutnya.

  • Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima Gelar Pelatihan Editing Video Tiktok dan Seni Henna

    Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima Gelar Pelatihan Editing Video Tiktok dan Seni Henna

    Komunitas Gotong Royong Empat Puluh Lima bersama EO Senyum Agmadina menggelar acara Pelatihan Editing Video Tiktok dan Seni Henna di Kedai Makmoer Stendo TMP pada Minggu, 14 September 2025, mulai pukul 09.45 hingga 14.17 WIB.

    Kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan baru sekaligus memperkuat semangat komunitas dalam berkarya.

    Pelatihan terbagi menjadi dua sesi. Pertama, pelatihan Editing Video yang menghadirkan TikToker Bunda Puji Winarsih atau akrab disapa Kak Zhiem.

    Ia membagikan teknik dasar editing video, mulai dari penyusunan footage, transisi, hingga trik menghasilkan konten menarik di media sosial yang juga berpotensi mendatangkan cuan.

    Pelatihan Editing Video Tiktok dan Seni Henna

    Dilanjut ke sesi kedua, pelatihan Seni Henna berbahan Bidara Pacaran, dipandu oleh Kak Fadlun.

    Peserta diajak mempraktikkan dasar-dasar seni henna, mulai dari pembuatan pola sederhana di kertas hingga desain kreatif bernilai estetika tinggi.

    Inspirasi desain diambil dari buku maupun eksplorasi motif melalui media sosial serta pemanfaatan AI.

    Acara ini juga dihadiri oleh Bu Faizah selaku Ketua UMKK Sinergi Gotong Royong ’45 dan Ketua Koperasi Segoro ’45 Dafik Ismail, serta Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang akrab sebagai Pembina.

    Salah satu peserta, Faizah, yang merupakan pedagang nasi mandhi dan kebab di CFD, menyampaikan apresiasinya karena merasa mendapat pengalaman dan ilmu baru.

    “Saya merasa bangga melihat semangat peserta hari ini. Kegiatan seperti ini bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga membuka peluang usaha baru. Harapan saya, pelatihan ini bisa menjadi langkah awal untuk generasi muda lebih percaya diri berkarya. Dan bagi anggota kami memang diberi peluang berkembang,berbagi ilmu menyebar rejeki serta silaturahmi ke dinas, asosiasi sejenis dan konsumen,” paparnya.

    Sementara itu, Bung Aguk menegaskan pentingnya nilai kebersamaan dalam setiap kegiatan komunitas.

    “Pelatihan ini tidak hanya tentang belajar editing video atau seni henna, tetapi juga tentang membangun jaringan, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat gotong royong. Inilah yang ingin terus kita kembangkan di Banyuwangi,” jelasnya.

    Tak ketinggalan, Qurrota A’Yunin atau akrab disapa Kak Ninin, selaku Sekretaris UMKK Sinergi Gotong Royong ’45, juga memberikan kesan positif.

    “Saya sangat mengapresiasi antusiasme peserta. Semoga keterampilan yang didapat hari ini tidak berhenti di sini, tetapi bisa dikembangkan lebih lanjut bahkan menjadi peluang usaha yang berdaya guna. Mari kita jadikan pelatihan ini sebagai pintu untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas,” ungkapnya.

    Para peserta berharap agar pelatihan serupa dapat digelar secara berkelanjutan, sehingga semakin banyak potensi kreatif masyarakat yang bisa berkembang.

  • TPQ Al-Ikhlas Rogojampi Peringati Maulid Nabi dengan Selawat dan Gebyar Seni

    TPQ Al-Ikhlas Rogojampi Peringati Maulid Nabi dengan Selawat dan Gebyar Seni

    TPQ Al-Ikhlas Dusun Krajan, Rogojampi, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Sabtu malam (21 Rabiul Awal 1447 H).

    Mengusung tema “Meneladani Sifat Nabi untuk Generasi Berkarakter Islami,” gelaran acara rutin tahunan ini semakin meriah dengan hiasan Jodang dan kembang telur karya para santri.

    Acara dibuka dengan hadrah dan pembacaan selawat dipimpin langsung oleh Pengasuh TPQ, Ustaz Zainul Adib, S.Pd.I bersama santri.

    Ustaz Zainul Adib, S.Pd.I, menegaskan bagaimana pentingnya meneladani akhlak Nabi di tengah perkembangan zaman.

    “Di era kemajuan zaman yang semakin canggih ini, perlu kiranya sebagai generasi penerus meneladani sifat dan ahlak mulia Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” paparnya.

    Rangkaian acara berlangsung meriah. Santri-santri tampil membawakan selawatan, tilawah, hingga puisi. Hadirin yang didominasi wali santri tampak antusias menyaksikan penampilan putra-putrinya.

    Puncak acara diisi mauidah hasanah oleh Ustaz Moh. Amin, S.Pd., dari Kauman Rogojampi.

    Dalam ceramahnya, Ustaz Moh. Amin, S.Pd mengingatkan jamaah untuk selalu bersyukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dan memperbanyak selawat.

    “Kita harus bersyukur, karena Nabi Muhammad adalah manusia yang memiliki akhlak paling mulia. Bersyukur dengan cara selalu menyebut namanya lewat solawat serta menjaga dan memelihara syariat yang beliau bawa,” terangnya.

    Acara yang dimulai sejak pukul 18.00 WIB itu ditutup dengan doa bersama. Di akhir kegiatan, Ustaz Zainul Adib menyampaikan pesan serta harapannya.

    “Semoga peringatan Maulid ini membawa keberkahan bagi kita semua dan kelak kita mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW,” tutup Ustaz Zainul Adib.

  • Keluarga, Cantrik, dan Murid Peringati Haul HR. Mas Slamet Oetomo di Puri Gumuk Merang

    Keluarga, Cantrik, dan Murid Peringati Haul HR. Mas Slamet Oetomo di Puri Gumuk Merang

    Haul ke-8 almarhum HR. Mas Slamet Oetomo digelar di Pendopo Puri Gumuk Merang, Jalan Gajah Mada, Kelurahan Penataban, Giri, Sabtu malam (13/09/25).

    Peringatan ini menjadi tradisi tahunan keluarga dan para cantrik, sebab wafatnya bertepatan dengan bulan Maulid.

    Kegiatan dimulai dengan salat Magrib berjamaah bersama keluarga dan para cantrik yang datang dari jauh.

    Setelah itu, jamaah lain berdatangan dan Ustadz Ahmad Yani dari Jamiyah Kifayah Penataban memimpin tahlil, diawali pembacaan Surat Yasin.

    Selepas ramah tamah, sejumlah hadirin berziarah ke makam almarhum yang bersih dan harum dengan bunga setaman. Surban dan syal merah putih yang sejak awal pemakaman masih terjaga di sana.

    Salah seorang cantrik asal Pakis bernama Irwan menyampaikan pesan, “Semua makhluk hidup pasti mati. Dan ulama waliyullah dan para syahidah sesungguhnya hidup. Dan kekayaan di hati dan keberkahan hidup yang membawa kebahagiaan dunia akherat, itu bagi orang yang mau hening di hati yang kening serta perilaku yang luhur yang manfaat buat segenap makhluk ciptaan Tuhan.”

    Sementara itu, Hariyanto, murid asal Batang-Batang Sumenep, bercerita tentang praktik patrap di Madura, termasuk tradisi ziarah tahunan ke makam Mbah Mas Saleh Manggisan dan HR. Mas Slamet Oetomo yang dilanjutkan dengan ritual patrap bersama putra almarhum, Hang Hargowo atau Mas Wowok.

    Dalam penutup diskusi, Mas Wowok menegaskan kembali pesan almarhum agar murid-muridnya senantiasa berpegang pada tauhid, rukun iman, dan mengamalkan ihsan dengan penuh bashirah.

    Sebagian ajarannya terdokumentasi dalam buku-buku, salah satunya Islam Sebuah Pengakuan yang masih bisa dipesan melalui keluarga.

    Sosok HR. Mas Slamet Oetomo

    HR. Mas Slamet Oetomo lahir pada 8 September 1948 dan wafat pada 13 Desember 2016, dimakamkan di tanah keluarga yang juga berdiri Pendopo Puri Gumuk Merang. Sebagai keturunan Mbah M. Saleh Manggisan, makamnya kini sering diziarahi sebagaimana leluhurnya.

    Semasa hidup, ia dikenal luas sebagai sejarawan dan budayawan dengan pemahaman mendalam mengenai sejarah Blambangan dan masuknya Islam di Bumi Blambangan.

    Ia menulis buku, mengoleksi keris dan benda pusaka, serta kerap tampil dalam pameran saat bulan Suro.

    Tak hanya itu, juga menjadi narasumber kajian peristiwa Puputan Bayu dan ikut dalam tim penyusun usulan Pahlawan Nasional dari Bumi Blambangan.

    Di bidang penyiaran, ia aktif di Radio Komunitas Bung Tomo FM dan LPP RKPD Blambangan melalui program Sulur Kembang, yang mampu menarik ratusan pendengar setia.

    Meski hanya menempuh pendidikan setingkat sekolah menengah dan bekerja di Pabrik Kertas Basuki Rahmat serta berdagang ayam, kiprahnya tetap luar biasa.

    Yang jarang diketahui, ia adalah guru kesejatian ketuhanan dengan ajaran patrap (sikap berserah diri sepenuhnya kepada Yang Maha Esa). Murid-muridnya beragam, mayoritas Islam, namun juga ada Hindu, Kristen, bahkan hingga mancanegara, seperti Singapura dan Australia.

    Dalam menyampaikan ilmu, ia tidak menggunakan atribut ulama seperti jubah, sorban, atau peci. Justru tampil sederhana, namun ajarannya berkembang dalam banyak halaqah di berbagai daerah Nusantara, termasuk di Bumi Blambangan.

    Ajaran-ajaran almarhum juga terdokumentasi dalam beberapa karyanya, salah satunya berjudul Islam Sebuah Pengakuan. Buku tersebut dapat dipesan langsung melalui nomor WhatsApp 0813-3688-1945.