Blog

  • Memasuki Usia Ke-3, Kopiwangi Pererat Kebersamaan dan Semangat Literasi

    Memasuki Usia Ke-3, Kopiwangi Pererat Kebersamaan dan Semangat Literasi

    Di usianya yang ke-3 tahun, ibarat bayi yang sedang lucu-lucunya—Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI) menggelar Halal Bihalal sekaligus Milad ke-3 dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.

    Dari langkah kecil yang sederhana, KOPIWANGI terus tumbuh menjadi ruang pulang bagi para pegiat literasi untuk saling menyapa, berbagi, dan menguatkan.

    Momentum ini tak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap kata, ide, dan karya yang lahir adalah bagian dari upaya bersama menjaga nyala literasi di Banyuwangi.

    Bertempat di LKP TBM Elit Jalan Bolodewo 51G Kebalen Kidul, Desa Lemahbangdewo, Kecamatan Rogojampi, yang merupakan kediaman Drs. Ir. Jaenuri, NZ, M.Pd (anggota kehormatan KOPIWANGI) kegiatan Halal Bihalal & Milad ke-3 KOPIWANGI berlangsung dengan hangat.

    Tuan rumah dengan tulus membuka ruang dan fasilitas demi terselenggaranya kegiatan ini.

    Meski di usia senja, Jaenuri NZ yang merupakan penulis puisi basa Using, tetap menunjukkan semangat yang menyala dengan memberikan motivasi dan dorongan kepada anggota KOPIWANGI untuk terus menulis, merawat bahasa dan budaya lokal, serta menjadikan literasi sebagai jalan pengabdian yang tak lekang oleh waktu.

    Tepat pukul 09.00 WIB, acara Halal Bihalal & Milad ke-3 KOPIWANGI resmi dimulai. Maria Ulfa selaku pembawa acara membuka kegiatan dengan sebuah pantun, yang menjadi ciri khas tersendiri dalam setiap kegiatan KOPIWANGI.

    Selanjutnya, seluruh hadirin diminta berdiri untuk bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dengan penuh khidmat dan semangat, para peserta mengikuti lagu kebangsaan tersebut sebagai wujud rasa nasionalisme dan kebersamaan.

    Mengalawali sambutan yang pertama disampaikan perwakilan pengurus KOPIWANGI – Nur Ahmadi, S.Pd, M.M masih dalam bulan syawal mengucapakan permintaan maaf kepada semua sobat KOPIWANGI yang hadir.

    Berikutnya Nur Ahmadi menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kedatangan sobat KOPIWANGI. Ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk membesarkan komunitas.

    “Terima kasih kami ucapkan kepada sobat KOPIWANGI yang hadir, ini merupakan komitmen bersama untuk membesarkan KOPIWANGI. Bagi sobat KOPIWANGI yang belum bisa hadir harapannya dalam kegiatan selanjutnya bisa hadir bersama untuk memeriahkan” jelas Nur Ahmadi.

    Acara selanjutnya sebagai bentuk syukur atas 3 tahun perjalanan KOPIWANGI, pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh ustad Moh. Halili, M.HI.

    Sebelum memulai doa bersama, Halili mengajak semua hadirin untuk diam sejenak bersyukur atas semua pemberian dari Allah SWT, bisa hadir dan bertemu dengan orang-orang hebat di komunitas ini.

    Setelah acara doa bersama milad ke-3 KOPIWANGI dilanjutkan dengan prosesi Halal Bihalal saling berjabat tangan satu dengan lainnya.

    MC memberikan arahan kepada hadirin untuk berkeliling sembari berjabat tangan diiringi dengan alunan musik religi membuat suasana semakin khidmat.

    Sebelum ceremonial potong tumpeng berlangsung, momen sharing dan diskusi anggota KOPIWANGI menjadi ritual yang tidak bisa ditinggalkan.

    MC mempersilahkan kepada Andi Budi Setiawan selaku Ketua KOPIWANGI untuk memimpin acara sharing dan diskusi. Mengawali sesi sharing dan diskusi, Andi BS menyampaikan histori perjalanan KOPIWANGI sebelum sebesar ini.

    Selanjutnya Andi BS menyampaikan profil KOPIWANGI dilihat dari visi, misi dan tujuan besarnya. Beberapa event kegiatan literasi yang sudah berjalan, karya-karya KOPIWANGI dan kemitraan yang sudah terjalin baik.

    “Tak terasa dalam 3 tahun ini banyak pencapaian yang sudah diraih KOPIWANGI, mulai dari program literasi yang berdampak bagi sekolah maupun masyarakat (pegiat literasi), karya-karya dari sobat KOPIWANGI yang sudah diterbitkan diantaranya Lentera Di Pengujung Asa (2024), Pena Sang Surya (2024), Marhaban Ya Ramadan : Antologi Pantun, Puisi dan Quote Ramadan (ebook Dispusip Banyuwangi, 2025), Sajak Merah Putih : Antologi Puisi Pahlawan (ebook Dispusip Banyuwangi, 2025) dan Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi – Antologi Pantun Basa Using (ebook Dispusip Banyuwangi, 2026). Ini merupakan bentuk nyata peran KOPIWANGI dalam menyalakan literasi di Banyuwangi” jelas Andi BS.

    Lina Kamalin Kopiwangi

    Di tengah sesi sharing dan diskusi, hadir Lina Kamalin, M.Pd selaku penasihat KOPIWANGI sekaligus Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

    Di tengah kesibukan yang luar biasa, Lina Kamalin selalu menyempatkan hadir membersamai sobat KOPIWANGI.

    Dalam sambuannya, ia menyampaikan beberapa pesan dan juga motivasi untuk sobat KOPIWANGI yang hadir.

    “Saya sudah berkomitmen pada diri saya, setiap kegiatan Halal Bihalal dan Milad KOPIWANGI, saya akan selalu menyempatkan hadir untuk membersamai sobat KOPIWANGI,” ungkap Lina Kamalin selaku Penasihat KOPIWANGI.

    Ia kemudian mengibaratkan kebersamaan dalam komunitas seperti konsep dalam ilmu fisika.

    “Garpu tala hanya akan beresonansi kuat ketika bertemu dengan frekuensi yang sama. Ia tidak memaksa, tidak mendominasi—ia hanya bergetar, lalu menemukan yang seirama,” jelasnya.

    Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan semangat yang dibangun di KOPIWANGI.

    “Komunitas ini tidak hadir untuk menyeragamkan, tetapi untuk mempertemukan. Setiap anggota datang dengan latar, pengalaman, dan ‘nada’ yang berbeda. Namun ketika ada satu semangat yang sama—cinta pada literasi—di situlah resonansi itu mulai terasa,” pungkasnya.

    Hal tersebut memberikan energi positif sekaligus menguatkan nyala semangat literasi bagi sobat KOPIWANGI dalam menjalankan peran sebagai agen perubahan dan penggerak literasi di Banyuwangi.

    Tidak berhenti di situ, Lina Kamalin juga mendorong anggota KOPIWANGI untuk terus meningkatkan kualitas karya.

    Selain menulis puisi, pentigraf, dan esai, ia mengajak agar mulai mengembangkan tulisan ke ranah artikel dan opini yang mengangkat isu-isu aktual di masyarakat untuk dipublikasikan melalui media cetak maupun daring.

    Menurutnya, langkah ini menjadi peran penting komunitas literasi dalam memberikan kontribusi pemikiran sekaligus sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah daerah demi Banyuwangi yang lebih baik.

    Sebelum acara berakhir, seremoni pemotongan tumpeng menjadi puncak dari kegiatan hari itu. Bunda Lina didaulat untuk memotong nasi tumpeng dan menyerahkannya kepada Ketua KOPIWANGI.

    Momen ini menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan tiga tahun KOPIWANGI, sekaligus peneguhan kebersamaan dan harapan agar semangat literasi terus tumbuh, menguat, dan memberi manfaat bagi sesama.

    Setelah sesi pemotongan tumpeng selesai dilanjutkan dengan foto bersama. Diakhir MC menutup acara dengan pembagian hadiah bagi hadirin yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar dilanjutkan dengan ramah tamah.

    Menutup seluruh rangkaian kegiatan, kehangatan yang terjalin hari itu seakan meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Bukan sekadar pertemuan, tetapi juga pengingat bahwa kebersamaan yang sederhana mampu melahirkan energi besar untuk terus bergerak.

    Di usia yang ke-3 ini, KOPIWANGI tidak hanya merayakan perjalanan, tetapi juga meneguhkan langkah ke depan—bahwa literasi akan terus hidup selama ada hati yang peduli, tangan yang menulis, dan ruang yang saling menguatkan.

    Dari Rogojampi, semangat itu kembali dinyalakan, untuk terus tumbuh dan memberi makna bagi Banyuwangi.

  • Permudah Urusan Guru, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Luncurkan Layanan Administrasi Turun ke Sekolah

    Permudah Urusan Guru, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Luncurkan Layanan Administrasi Turun ke Sekolah

    Dalam rangka menyelesaikan berbagai kebutuhan administrasi guru secara lebih cepat dan efektif, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi berinovasi dengan menghadirkan pelayanan langsung ke wilayah sekolah-sekolah.

    Langkah ini dilakukan sebagai upaya mendekatkan layanan kepada guru dan tenaga kependidikan agar proses administrasi menjadi lebih efisien, hemat waktu, dan tidak mengganggu aktivitas pembelajaran di kelas

    Tidak tanggung-tanggung, sebanyak delapan petugas dikerahkan lengkap dengan dukungan perlengkapan teknologi informasi (IT) guna memastikan proses pelayanan berjalan optimal dan efisien.

    Pada Kamis, 9 April 2026, tim dari Dinas Pendidikan kembali hadir di SMP Negeri 1 Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, untuk memberikan pelayanan langsung kepada guru dan tenaga kependidikan.

    Kehadiran layanan langsung ini bertujuan meningkatkan efisiensi waktu sekaligus memudahkan proses pengurusan administrasi tanpa harus datang ke kantor dinas.

    Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Alfian, M.Pd, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang sebagai bentuk pelayanan prima yang lebih dekat dengan guru dan tenaga kependidikan, sehingga mereka dapat lebih fokus menjalankan tugas utama di sekolah.

    “Dengan program ini kami berharap dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan efisien kepada guru dan tenaga kependidikan, serta mendukung program pemerintah untuk menghemat BBM,” ujarnya.

    Selain meningkatkan kualitas layanan, program ini juga diharapkan mampu menghemat waktu dan biaya perjalanan guru, sekaligus mendukung kebijakan efisiensi energi melalui pengurangan mobilitas ke kantor dinas.

    Program pelayanan langsung ini merupakan kegiatan perdana yang direncanakan berlangsung selama 10 hari, mulai 1 April hingga 13 April 2026, dengan waktu pelayanan dimulai pukul 08.00 hingga selesai. Berikut jadwal pelaksanaannya:

    • Rabu, 01 April 2026: Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi (Wilayah Banyuwangi dan Kalipuro)
    • Kamis, 02 April 2026: SMP Negeri 1 Glenmore (Wilayah Kecamatan Genteng, Kalibaru, dan Glenmore)
    • Sabtu, 04 April 2026: SMP Negeri 1 Cluring (Wilayah Kecamatan Gambiran, Cluring, dan Tegalsari)
    • Senin, 06 April 2026: SMP Negeri 1 Purwoharjo (Wilayah Kecamatan Purwoharjo dan Tegaldlimo)
    • Selasa, 07 April 2026: SMP Negeri 1 Srono (Wilayah Kecamatan Srono dan Muncar)
    • Rabu, 08 April 2026: SMP Negeri 1 Rogojampi (Wilayah Kecamatan Kabat, Blimbingsari, dan Rogojampi)
    • Kamis, 09 April 2026: SMP Negeri 1 Singojuruh (Wilayah Kecamatan Sempu, Songgon, dan Singojuruh)
    • Jumat, 10 April 2026: SMP Negeri 1 Wongsorejo (Wilayah Kecamatan Wongsorejo)
    • Sabtu, 11 April 2026: SMP Negeri 1 Siliragung (Wilayah Kecamatan Siliragung, Pesanggaran, dan Bangorejo)
    • Senin, 13 April 2026: SMP Negeri 1 Giri (Wilayah Kecamatan Giri, Glagah, dan Licin)

    Program pelayanan turun ke wilayah ini juga mendapat respons positif dari para kepala sekolah dan guru.

    Mereka mendorong seluruh tenaga pendidik di sekolah masing-masing agar memanfaatkan layanan tersebut secara maksimal.

    Plt Kepala SMP Negeri 3 Rogojampi, Hj. Sri Utami, berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan karena dinilai sangat membantu efisiensi waktu dan tenaga, terutama bagi guru yang tidak perlu meninggalkan proses pembelajaran terlalu lama di kelas.

    Hal senada disampaikan Plt Kepala SMP Negeri 1 Rogojampi, Hj. Puspitorini, S.Pd, yang menyambut baik sekolahnya dijadikan lokasi pelayanan dinas pendidikan. Ia berharap kegiatan turun ke sekolah seperti ini tidak hanya dilakukan pada momentum tertentu saja.

    Dukungan juga datang dari guru SD Negeri 1 Bubuk, Suprapto, S.Pd, yang merasa sangat terbantu dengan penyelenggaraan pelayanan langsung tersebut.

    Ia bahkan mengusulkan agar kegiatan turun ke wilayah ini memiliki akronim khusus agar lebih mudah dikenal dan akrab di kalangan guru dan tenaga kependidikan, misalnya “OSING” yang dapat dimaknai sebagai Optimalisasi Service Instansi bagi Guru.

    Program inovatif ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pelayanan pendidikan yang lebih responsif, dekat, dan efisien bagi tenaga pendidik di Banyuwangi.

  • Literasi Digital: Saat Kata-Kata Menemukan Sayapnya di MTs Maulana Ishaq Kabat

    Literasi Digital: Saat Kata-Kata Menemukan Sayapnya di MTs Maulana Ishaq Kabat

    Di sebuah ruang yang tak lagi dibatasi dinding dan jarak, kata-kata menemukan jalannya untuk tumbuh.

    Dari layar-layar kecil yang menyala di sudut-sudut sekolah dasar hingga madrasah ibtidaiyah se-Banyuwangi, suara anak-anak bergetar, mengalir, lalu menjelma makna.

    Di sanalah Festival Literasi Season 2 yang digelar MTs Maulana Ishaq Kabat berlangsung—bukan sekadar lomba, melainkan perayaan bahasa yang hidup.

    Mengusung tema “Berani Bicara, Indah Berkata, Hebat Bercerita”, festival ini seperti membuka gerbang bagi imajinasi untuk berjalan lebih jauh.

    Teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan jembatan yang mempertemukan keberanian dan ekspresi.

    Melalui rekaman video, para peserta menuturkan dunia mereka—dalam pidato yang tegas, puisi yang lirih, dan dongeng yang berdenyut hangat.

    Kepala MTs Maulana Ishaq Kabat, Rustam Effendi, S.Pd.I., melihat lebih dari sekadar inovasi. Ia menyaksikan sebuah gerakan yang perlahan tumbuh dari keberanian kecil anak-anak yang belajar bersuara.

    “Ini bukan hanya tentang lomba. Ini tentang bagaimana anak-anak belajar percaya pada suaranya sendiri,” ujarnya, dengan nada yang menyimpan harapan panjang.

    Di balik layar penilaian, para juri membaca bukan hanya kata, tetapi juga getar yang menyertainya.

    H. Syafaat bersama Joko Wiyono dan Andi Budi Setiawan menjadi saksi bagaimana bahasa tumbuh dalam tubuh generasi muda—kadang gugup, kadang gemilang, namun selalu jujur.

    Dalam pesan penutupnya, Syafaat mengingatkan bahwa kemenangan bukanlah puncak, melainkan jalan yang terus berlanjut.

    “Yang terpenting bukan siapa yang berdiri di atas podium, tetapi siapa yang mampu menyampaikan makna dengan utuh—dengan hati yang hadir di setiap kata,” tuturnya.

    Festival ini pun menghadirkan wajah baru literasi: bersanding dengan dunia digital, bergaul dengan algoritma, bahkan diuji oleh jumlah suka dan penonton di platform seperti TikTok.

    Namun di balik angka-angka itu, tetap ada ruh yang tak tergantikan—kejujuran dalam bercerita.

    Pada akhirnya, panggung itu menemukan pemenangnya. MI Darul Falah Gombolirang menjulang sebagai Juara Umum, sementara SDN 3 Macan Putih dipeluk oleh riuh dukungan sebagai Juara Favorit.

    Tetapi lebih dari itu, setiap peserta pulang membawa sesuatu yang tak kasatmata: keberanian yang tumbuh, bahasa yang menemukan bentuknya, dan mimpi yang mulai percaya diri untuk diucapkan.

    Festival ini menjadi bukti bahwa di tengah derasnya arus teknologi, kata-kata tidak tenggelam. Ia justru menemukan sayapnya—terbang lebih jauh, menyapa lebih banyak hati.

    Dan dari Kabat, sebuah pesan sederhana berangkat: bahwa masa depan tidak hanya dibangun oleh mereka yang pandai berbicara, tetapi oleh mereka yang mampu merawat makna di dalam setiap kata yang diucapkannya.

  • Are Book Titles Italicized or in Quotes? Here’s the Correct Rule

    Are Book Titles Italicized or in Quotes? Here’s the Correct Rule

    Many students and beginner writers often ask the same question when preparing essays, articles, or academic assignments: should book titles be italicized or placed inside quotation marks?

    This question may seem small, but correct formatting is an important part of professional writing.

    It helps readers understand what kind of source you are referring to and shows that you follow recognized academic conventions.

    In standard English writing practice, the general rule is simple. Book titles are italicized, while quotation marks are used for shorter works that appear inside larger publications.

    Understanding this distinction makes your writing clearer, more organized, and academically accurate.

    The Basic Rule for Writing Book Titles

    In most formal writing contexts, including essays, research papers, blog articles, and reports, titles of full-length books should always be written in italics.

    This formatting signals to readers that the text refers to a complete, standalone publication rather than a section within a larger work.

    Examples include:

    • The Great Gatsby
    • To Kill a Mockingbird
    • Harry Potter and the Sorcerer’s Stone
    • Thinking, Fast and Slow

    These examples show how italics visually separate book titles from surrounding sentences.

    This small formatting choice improves readability and helps readers immediately recognize references to published works.

    Major academic institutions and publishers support this rule. Style systems such as the Modern Language Association, the American Psychological Association, and The Chicago Manual of Style all recommend italicizing book titles in formal writing.

    Why Italics Are Used for Book Titles

    Formatting in academic writing is not random. Each formatting choice has a purpose. Italics are used for book titles because books are considered long-form works that exist independently as complete publications.

    When readers see italics in a sentence, they quickly understand that the writer is referring to a major source rather than a small section of text. This helps maintain clarity, especially in essays that include multiple references.

    For example:

    • The theme of moral responsibility is central to To Kill a Mockingbird.

    Here, italics clearly signal that the sentence refers to a full-length novel rather than a chapter or article.

    When Quotation Marks Should Be Used Instead

    Quotation marks are not incorrect punctuation. They simply serve a different purpose.

    Instead of marking complete works, quotation marks are typically used to identify shorter texts that appear inside larger works.

    These shorter texts are still important, but they are considered parts of a broader publication rather than independent titles.

    Examples include:

    • Chapter titles
    • Poems
    • Short stories
    • Magazine articles
    • Journal articles

    For instance, consider the following sentence:

    • I learned about symbolism in the chapter “The Valley of Ashes” from The Great Gatsby.

    In this example, the formatting helps readers understand the structure of the source.

    The book title The Great Gatsby is italicized because it is a complete novel, while the chapter title “The Valley of Ashes” appears inside quotation marks because it represents only one section of the larger book.

    This distinction improves precision in academic writing and prevents confusion when multiple sources are discussed together.

    What Major Academic Style Guides Recommend

    One reason this formatting rule is widely accepted is that it appears consistently across major academic style systems.

    Although different disciplines sometimes follow different citation styles, the treatment of book titles remains largely the same.

    According to the Modern Language Association, writers should italicize the titles of books, plays, and films because they are complete works

    Meanwhile, shorter texts such as articles and chapters should be placed inside quotation marks.

    Similarly, the American Psychological Association recommends italicizing book titles both in reference lists and when mentioning them within academic writing.

    This practice ensures consistency across psychology and social science publications.

    The The Chicago Manual of Style, which is widely used in publishing and humanities research, also supports italic formatting for book titles.

    Because these three major style systems agree on the same rule, students can confidently apply italics in most writing situations.

    Situations Where Quotation Marks May Still Appear Around Book Titles

    Although italics are the standard format, there are a few situations where quotation marks may still be used around book titles.

    These situations usually occur when technical formatting options are limited rather than because the rule has changed.

    For example, quotation marks may appear when:

    • Writing in plain text environments that do not support italics
    • Sending quick notes or informal messages
    • Using simple interfaces that remove formatting styles

    In these cases, quotation marks function as a practical substitute rather than a preferred academic format.

    However, whenever italics are available, they should always be used for book titles in formal writing.

    Common Mistakes Writers Should Avoid

    Because formatting rules may seem small, writers sometimes overlook them.

    However, consistent formatting improves both clarity and credibility in academic work.

    Paying attention to these details helps readers trust your writing and understand your references more easily.

    Some common mistakes include:

    • Using quotation marks instead of italics for book titles in essays
    • Italicizing chapter titles instead of placing them in quotation marks
    • Mixing formatting styles within the same document
    • Forgetting to format titles consistently across paragraphs

    Avoiding these mistakes will make your writing look more professional and organized.

    Final Conclusion

    Understanding whether book titles should be italicized or placed in quotation marks is an essential skill for students, researchers, and content writers. In most academic and professional contexts, the correct choice is clear.

    Book titles should be italicized, while quotation marks are reserved for shorter works such as chapters and articles.

    By applying this simple rule consistently, writers can improve readability, follow international writing standards, and present their ideas more effectively in both academic and online environments.

  • How to Make a Book in Minecraft: Step-by-Step Crafting Tutorial for Beginners

    How to Make a Book in Minecraft: Step-by-Step Crafting Tutorial for Beginners

    Learning how to craft a book in Minecraft is one of the most important early steps for players who want to unlock advanced crafting features.

    Even though the recipe is simple, books are essential for building bookshelves, creating enchanting tables, and writing custom notes inside the game.

    Because of this, understanding how to make a book helps players progress faster in survival mode and improves their overall gameplay experience.

    Before crafting a book, players need to understand that the recipe requires two basic materials.

    These materials are easy to obtain during early exploration, especially if you spend some time near rivers or grassland areas where animals and sugar cane commonly appear.

    Materials Needed to Make a Book in Minecraft

    To craft one book in Minecraft, you need the following items

    • 3 pieces of paper
    • 1 piece of leather

    Paper is crafted from sugar cane, while leather is obtained from animals such as cows or horses. Once these materials are collected, crafting the book becomes very simple.

    Step 1: How to Make Paper in Minecraft

    Paper is created from sugar cane, which usually grows near rivers, lakes, and coastal areas. Sugar cane is one of the easiest natural resources to find early in the game.

    Follow these steps to make paper

    • Search for sugar cane near water sources
    • Collect at least 3 sugar cane
    • Open the crafting table
    • Place the sugar cane horizontally across one row
    • Craft 3 pieces of paper

    After completing this step, you already have the first required material for crafting a book.

    Step 2: How to Get Leather in Minecraft

    Leather is another important material required for crafting a book. It is commonly obtained from several animals that spawn naturally in many biomes.

    You can collect leather by doing the following

    • Find animals such as cows, horses, llamas, or donkeys
    • Defeat one of these animals
    • Collect the leather dropped after defeat

    Among these options, cows are usually the easiest source of leather for beginners. Many players create small cow farms later to maintain a steady supply of leather for future crafting needs.

    Step 3: Craft the Book in Minecraft

    Once you already have paper and leather, the crafting process becomes very straightforward.

    Follow these steps to craft a book

    • Open the crafting table
    • Place 3 pieces of paper in any slots inside the crafting grid
    • Place 1 leather in another slot
    • Drag the crafted book into your inventory

    After completing these steps, the book is ready to use.

    What Books Are Used for in Minecraft

    Books are not only simple crafting materials. They play a major role in unlocking several important features inside the game that support long term progression.

    Books are commonly used for the following purposes

    • Crafting bookshelves that increase enchantment levels
    • Crafting enchanting tables that allow players to upgrade tools and armor
    • Crafting book and quill for writing notes or stories
    • Trading with librarian villagers for emeralds or enchanted books

    Because of these uses, many experienced players start collecting sugar cane and leather early in their survival worlds.

    Tips for Getting Books Faster in Minecraft

    If you plan to build an enchanting room or upgrade equipment quickly, collecting books efficiently becomes very important. There are several simple strategies that can help speed up the process.

    You can try the following methods

    • Build a small sugar cane farm near your base
    • Breed cows to create a steady leather supply
    • Trade with librarian villagers for books or bookshelves
    • Explore villages to find existing bookshelves that can be broken and collected

    By applying these strategies, you can prepare enough books for advanced crafting much earlier in the game.

    Understanding how to make a book in Minecraft is a basic but essential skill for every player.

    Once you master this recipe, you can unlock enchanting features, improve your equipment, and expand your creative possibilities throughout your world.

  • Pernikahan Dua Tokoh Dakwah Jadi Momentum Silaturahmi Banyuwangi–Bali

    Pernikahan Dua Tokoh Dakwah Jadi Momentum Silaturahmi Banyuwangi–Bali

    Momentum akad nikah pasangan tokoh dakwah H. Hartono bin Ardjo Djaiman dari Bali dengan Endah Chomisah, P.S.Sos., binti Hariyoso dari Banyuwangi berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di Thalita Cafe Kemiren, Kalipuro, Banyuwangi, Minggu (29/03).

    Prosesi pernikahan dipimpin langsung oleh Kepala KUA Kalipuro, H. Lukman, S.Ag., M.Pd.I.

    Pernikahan ini menjadi perhatian karena kedua mempelai telah memasuki usia sekitar 60 tahun. Keduanya juga telah memiliki masing-masing empat anak serta sejumlah cucu.

    Karena itu, suasana akad nikah dan resepsi yang berlangsung tanpa hiburan tersebut tidak diiringi doa yang lazim disampaikan kepada pengantin muda seperti harapan “langgeng sampai kakek-nenek”.

    Sebaliknya, sejak khutbah nikah hingga sambutan dari penghulu dan perwakilan keluarga, yang disampaikan adalah ucapan selamat dan doa agar keduanya membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, disertai guyonan hangat yang mengundang senyum para tamu undangan.

    Sekitar 300 undangan hadir dalam acara tersebut. Para tamu berasal dari Banyuwangi dan rombongan dari Pulau Bali yang datang menggunakan bus pariwisata serta sekitar empat hingga lima kendaraan pribadi.

    Hadir pula seluruh jajaran pengurus PDM dan PDA Tabanan, serta tokoh masyarakat Tabanan seperti Gus Met, Anwar Haryono, Drs. Budi Ratsongko, Widodo, dan H. Ansori yang turut mendampingi mempelai pria.

    Dari Banyuwangi, turut hadir jajaran PDM Banyuwangi, PCM Glagah, PCM Cluring, PCM Rogojampi, Lurah Kemiren, tokoh masyarakat Banyuwangi, jamaah pengajian ibu-ibu, serta sejumlah tokoh pergerakan termasuk para mualaf yang selama ini mendapatkan pembinaan melalui dakwah kedua mempelai.

    Karena masih dalam suasana Idulfitri, momen pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk saling bermaafan dan saling mendoakan agar menjadi hamba yang muttaqin.

    H. Hartono dikenal sebagai mantan Ketua Baznas yang saat ini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tabanan. Ia juga aktif sebagai Dewan Pembina Yayasan Al-Ikhlas Tanah Bang Permai serta pengurus ICMI Tabanan.

    Sementara itu, Endah Chomisah Prihatini merupakan muslimah bercadar yang mengikuti jejak orang tuanya dalam kegiatan pergerakan dan sosial pendidikan keagamaan.

    Ia aktif di TPQ dan RA Tunas Ceria, Sanggarmae bersama Yatie Noore, serta Nasyiatul Aisyiyah.

    Endah juga pernah menjadi guru di TK Al Amin Denpasar dan direncanakan akan kembali ke Bali untuk mendampingi suami merintis SMP Muhammadiyah serta penguatan program LazisMu.

    Sebagai sesama pendakwah dan pegiat pendidikan keagamaan, kedua mempelai dinilai tidak memerlukan nasihat panjang dalam prosesi pernikahan karena telah lama berkiprah sebagai mujahid dakwah di tengah masyarakat.

    Kelancaran acara turut didukung Yuni Ambarwati, S.Pd. yang berperan sebagai EO, mak comblang, sekaligus pemandu acara.

    Ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya rangkaian kegiatan dengan lancar dan penuh keberkahan.

    Menariknya, pertemuan kedua mempelai sebelum menikah terbilang sangat singkat.

    Pertemuan pertama terjadi saat proses ta’aruf di rumah orang tua mempelai perempuan yang berada di belakang Masjid Darul Falah Banjarsari, Glagah. Pertemuan kedua berlangsung langsung pada saat akad nikah.

    Prosesi acara diawali pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Achmad Jamzami dan Olief yang merupakan cucu dari Endah Chomisah.

    Sementara wali nasab mempelai perempuan, kakaknya yang berdomisili di Malang, Cholid Tri Cahyono bin Hariyoso, memimpin langsung proses ijab kabul.

    Selanjutnya, keluarga merencanakan tasyakuran lanjutan di Tabanan, Bali, menunggu momentum putra mempelai pria usai wisuda serta terpenuhinya rombongan belajar SMP Muhammadiyah.

    Dalam agenda tersebut direncanakan akan turut mengundang petugas KUA, penghulu, dan modin, sekaligus menghadirkan kafilah kerabat dan sejawat yang juga dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk berwisata ke Pulau Bali menyesuaikan kalender liburan pendidikan. (Aguk Wahyu Nuryadi/AF).

  • Tradisi Lebaran Rong Dino di Desa Bunder Jadi Ajang Doa Leluhur dan Silaturahmi Warga

    Tradisi Lebaran Rong Dino di Desa Bunder Jadi Ajang Doa Leluhur dan Silaturahmi Warga

    Ratusan warga Desa Bunder, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, mengikuti tradisi ziarah kubur pada hari kedua Hari Raya Idulfitri atau Lebaran Rong Dino, Minggu (22/3).

    Tradisi turun-temurun tersebut dilaksanakan di pemakaman umum desa setempat dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan.

    Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat, dilanjutkan tabur bunga dan makan bersama sebagai simbol kebersamaan serta ungkapan syukur.

    Warga dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua, tampak antusias mengikuti tradisi yang rutin digelar setiap tahun tersebut.

    Salah satu warga, Jatmiko, mengatakan tradisi ziarah makam pada hari kedua Lebaran sudah berlangsung secara turun-temurun.

    Selain untuk mendoakan leluhur, kegiatan tersebut juga menjadi sarana berkumpul keluarga yang pulang dari perantauan.

    “Kegiatan mendoakan para leluhur di makam ini merupakan warisan budaya yang harus kita jaga. Selain untuk mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal, ini juga menjadi momen mempererat silaturahmi antarwarga setelah Idulfitri,” ujarnya.

    Senada dengan itu, warga lainnya menyampaikan bahwa tradisi tersebut memiliki nilai sosial yang kuat karena menjadi momen kebersamaan masyarakat desa.

    “Setiap tahun warga selalu menantikan momen ini. Selain berdoa, mereka juga saling berbagi makanan dan cerita sehingga hubungan antarwarga semakin erat,” ungkapnya.

    Lebaran Rong Dino di Desa Bunder

    Sementara itu, pemangku adat Desa Bunder menjelaskan tradisi ziarah mendoakan leluhur telah berlangsung sejak zaman nenek moyang dan sarat makna spiritual bagi masyarakat.

    “Ziarah mendoakan para leluhur ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Filosofinya adalah mengingat asal-usul, menghormati yang telah mendahului, serta memohon keselamatan kepada Allah SWT serta keberkahan bagi yang masih hidup,” jelasnya.

    Salah satu warga yang turut hadir juga mengaku bersyukur masih dapat mengikuti tradisi tersebut bersama masyarakat desa.

    “Kami merasa lebih dekat dengan keluarga yang sudah tiada. Selain itu, kegiatan ini membuat kami semua berkumpul dan saling memaafkan setelah Lebaran,” tuturnya.

    Tradisi mendoakan para leluhur yang dilaksanakan setiap Lebaran Rong Dino tersebut terus dilestarikan masyarakat karena dianggap sebagai kearifan lokal yang mengandung nilai religius, sosial, dan budaya.

    Selain menjadi sarana doa bagi para leluhur, kegiatan ini juga memperkuat identitas masyarakat serta menjaga keharmonisan antarwarga.

    Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, masyarakat Desa Bunder berharap tradisi tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya Banyuwangi.

  • Halal Bihalal Ikawangi di Pendopo, Bupati Ajak Perantau Jadi Duta Pariwisata Banyuwangi

    Halal Bihalal Ikawangi di Pendopo, Bupati Ajak Perantau Jadi Duta Pariwisata Banyuwangi

    Suasana hangat penuh keakraban mewarnai pertemuan warga diaspora Banyuwangi dalam agenda “Tandang Bareng” yang digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Senin (23/3).

    Kegiatan halal bihalal Hari Raya Idulfitri 1447 H tersebut menjadi ajang silaturahmi para perantau Banyuwangi dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

    Warga Banyuwangi yang tergabung dalam Ikatan Warga Banyuwangi (Ikawangi) memanfaatkan momentum mudik Lebaran untuk berkumpul, tidak hanya dengan keluarga, tetapi juga mempererat hubungan dengan pemerintah daerah.

    Dalam forum tersebut para diaspora berdialog langsung dengan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, baik secara tatap muka maupun melalui sambungan virtual dari berbagai wilayah.

    Dalam sambutannya, Ipuk menyampaikan apresiasi atas kehadiran para perantau yang tetap memiliki kepedulian terhadap kampung halaman.

    Halal Bihalal Diaspora Ikawangi

    Ia mengajak momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang berbagi gagasan dan solusi atas berbagai persoalan daerah.

    “Selamat datang di Banyuwangi dan selamat merayakan Hari Raya Idulfitri. Mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk bersilaturahmi sekaligus bertukar pikiran. Kehadiran bapak ibu diharapkan dapat memberikan kontribusi solusi atas berbagai tantangan yang kita hadapi bersama. Tak lupa mohon maaf saat pulang kampung masih ada jalan rusak berlubang karena cuaca hujan dan panjang jalan mencapai 2.500 kilometer,” ujar Ipuk.

    Ia menegaskan pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata.

    Karena itu, Ipuk berharap diaspora Banyuwangi turut ambil bagian dalam memajukan daerah, termasuk berperan sebagai duta promosi pariwisata.

    “Peran teman-teman Ikawangi sangat penting sebagai duta pariwisata. Ceritakan keindahan Banyuwangi kepada dunia agar semakin banyak orang berkunjung,” ujarnya.

    Dalam kesempatan tersebut, Ipuk juga meluncurkan barcode Diaspora Banyuwangi sebagai basis data global warga Banyuwangi yang merantau maupun bermukim di luar daerah, termasuk yang pernah sekolah atau bekerja di Banyuwangi.

    “Selama ini kami belum memiliki data pasti jumlah warga Banyuwangi di perantauan. Melalui jaringan global ini kita bisa saling terhubung dan berkolaborasi,” jelas Ipuk, yang didampingi Bupati Banyuwangi dua periode sebelumnya, Abdullah Azwar Anas.

    Para diaspora yang hadir mengaku merasa dihargai dan dihormati oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui sambutan Bupati Ipuk Fiestiandani.

    Pertemuan tersebut juga semakin menguatkan rasa memiliki terhadap Banyuwangi sebagai tanah kelahiran sekaligus rumah besar bersama bagi para perantau.

    Usai forum dialog, acara dilanjutkan ramah tamah dengan sajian khas Banyuwangi seperti rujak soto, kikil kesrut, sego cawuk, kare ayam serta ragam buah dan kudapan, termasuk kopi dan temulawak.

    Acara juga dimeriahkan tarian dan musik khas Banyuwangi hingga lagu Umbul-Umbul Blambangan.

    Peserta yang mengikuti kegiatan secara daring juga berasal dari Spanyol, Belanda, Jepang, dan Cina. Salah satunya Isnain, owner Ecoprint Lis Adiwinoto.

    “Tahun lalu saya hadir, tapi kini hanya videocall,” tuturnya.

    Selain Marhen yang menjabat pejabat Kemenkraf Plt Labuan Bajo, hadir mantan Menteri Arif Yahya serta diaspora yang sedang bertugas di lingkungan eksekutif di Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan Ibu Kota.

    Hadir pula Brigjen (AL) Dr. Lukman Hakim Laros kelahiran Tukang Kayu dan kini menjadi dosen Universitas Pertahanan di perbatasan Timor Timur.

    Ia didampingi sesama alumni SMAN 1 Glagah H.M Shodiqin yang pernah menjadi Sekretaris MUI dan Ketua PCNU Atambua Belu NTT dan kini mutasi di SMKN Pelayaran Kalipuro.

    Di antara banyaknya peserta yang hadir dalam suasana temu kangen tersebut, panitia juga menghadirkan komunitas disabilitas seperti Pertuni, PPDI, Difawanfi, serta Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI).

    Dari YALI, tampak hadir GPK Yeti Chotimah, M.Pd., serta bendahara yayasan yang tunanetra Titis Anganten, S.Psi., S.Pd.LB.

    “Kami merasakan kesetaraan di Bumi Blambangan yang laksana Indonesia Mini yang welas asih, harmoni, gotong royong. Yuk jenggirat tangi tandang bareng seduluran selawase!” tutup Titis Anganten.

    (H.MShodiqin/Bung Aguk)

  • Warga Muhammadiyah Padati Lapangan Ahmad Dahlan Rogojampi, Salat Idul Fitri 1447 H Berlangsung Khusyuk dan Tertib

    Warga Muhammadiyah Padati Lapangan Ahmad Dahlan Rogojampi, Salat Idul Fitri 1447 H Berlangsung Khusyuk dan Tertib

    Pelaksanaan salat Idul Fitri 1447 Hijriah yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rogojampi berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan ketertiban di lapangan Ahmad Dahlan Rogojampi pada Jumat pagi, (20/3).

    Sejak fajar mulai menyingsing, para jemaah dari berbagai wilayah di sekitar Rogojampi telah berdatangan dan memadati area lapangan.

    Mereka hadir dengan penuh antusias, mengenakan pakaian muslim yang didominasi warna putih, sehingga menciptakan suasana yang bersih, damai, dan sarat dengan nuansa kebersamaan serta kebahagiaan di hari kemenangan.

    Bertindak sebagai khatib, Ustaz Haji Suharyo AP, S.H yang juga Penasehat PDM Lumajang. Sementara itu, imam salat adalah Ustadz Khairil Anwar, S.Ag.

    Dalam khutbahnya, Suharyo menyampaikan makna Idul Fitri sebagai momentum kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.

    Ia mengajak jemaah menjadikan Idul Fitri sebagai sarana kembali kepada fitrah, memperkuat keimanan, serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama.

    “Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk memperbaiki diri, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT,” ujarnya.

    Suharyo juga mengingatkan sejumlah amalan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW selama Ramadan agar tetap dijaga pada bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya.

    Amalan tersebut meliputi salat tahajud dan salat malam lainnya, membaca Al-Qur’an, berdzikir, meningkatkan kepedulian sosial, menjaga lisan, menjaga wudu, serta menjaga hati agar tetap selaras dengan nilai-nilai keimanan.

    Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan umat di tengah berbagai tantangan zaman.

    Dalam doa penutup, ia berharap seluruh jemaah dapat meningkat derajatnya menjadi insan bertakwa setelah Ramadan, serta diberi kesempatan kembali bertemu dengan Ramadan di tahun mendatang.

    Pelaksanaan salat berlangsung tertib dan lancar dengan dukungan panitia PCM Rogojampi, mulai dari pengaturan saf hingga pengamanan dan kebersihan.

    Kegiatan ditutup dengan saling bersalaman antarjemaah, menciptakan suasana hangat sebagai simbol saling memaafkan di hari yang fitri.

  • Banyuwangi Siagakan 48 Masjid Ramah Pemudik di Berbagai Titik Strategis

    Banyuwangi Siagakan 48 Masjid Ramah Pemudik di Berbagai Titik Strategis

    Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Dewan Masjid Indonesia (DMI) Banyuwangi, serta didukung Baznas Banyuwangi menyiapkan 48 masjid di berbagai titik.

    Program ini ditujukan untuk memudahkan para pemudik selama arus mudik dan balik Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.

    “Dengan adanya masjid ramah pemudik, kami berharap para pemudik dapat merasa nyaman dan aman selama perjalanan,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat launching program di Masjid Al Huda, Kelurahan Bulusan yang berbatasan dengan Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Selasa (16/3/26).

    Masjid yang terlibat dala program ini akan dibuka selama 24 jam dan dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari area istirahat, tempat ibadah, toilet bersih, serta pengamanan di lingkungan masjid dan area parkir.

    Selain itu, tersedia juga layanan kesehatan yang didukung puskesmas, fasilitas pijat gratis di beberapa titik, serta penyediaan air minum, kopi, teh, makanan ringan gratis hingga menu berbuka.

    Ipuk menambahkan, masjid memiliki peran penting sebagai pusat peradaban, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

    Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan kajian dan diskusi berbagai persoalan kehidupan.

    bupati banyuwangi ipuk

    “Masjid memang pusat peradaban sebagaimana yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW, masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas seperti untuk mengkaji dan diskusi ragam topik kehidupan,” ujar Bupati Ipuk Fiestiandani yang didampingi Ketua Baznas Drs. Dwi Yanto, M. Pd.

    Sementara itu, Kepala Kemenag Banyuwangi, Drs. H. Chaeroni Hidayat, MM, menyampaikan bahwa Banyuwangi menjadi salah satu daerah di Jawa Timur dengan jumlah masjid ramah pemudik terbanyak. Ia juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah daerah, Baznas, dan DMI.

    “Kami berterima kasih atas kolaborasi yang baik antara pemkab, Baznas, dan DMI dan semua yang terlibat, semoga jadi ladang amal saleh kita semua,” ujarnya.

    Peluncuran program ini juga diisi dengan kegiatan sosial, seperti santunan kepada anak yatim, pemberian sembako kepada lansia dhuafa, serta penyerahan bantuan peralatan kepada masjid yang tergabung dalam program.

    Selain itu, diberikan pula dukungan kepada Yayasan Aura Lentera yang mengoordinasikan pemijat tunanetra dan difabel lainnya.