Blog

  • Mendikdasmen Izinkan Revitalisasi Sekolah Menyesuaikan Kearifan Lokal Daerah

    Mendikdasmen Izinkan Revitalisasi Sekolah Menyesuaikan Kearifan Lokal Daerah

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan bahwa proses revitalisasi satuan pendidikan dapat menyesuaikan dengan kearifan lokal di wilayah masing-masing sekolah, termasuk dalam pemilihan bahan bangunan.

    Menurutnya, standar pemilihan material bangunan sekolah di berbagai daerah tidak dapat disamaratakan dengan standar yang berlaku di Jakarta.

    Karena itu, masyarakat diharapkan dapat melihat pelaksanaan program revitalisasi sekolah secara lebih menyeluruh.

    “Banyak orang Jakarta melihat Indonesia itu semuanya seperti ukuran Jakarta. Jadi, kalau ada sekolah kok dindingnya itu kayu dianggap di bawah standar,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Jakarta pada Senin (9/3).

    Ia menegaskan bahwa kebijakan revitalisasi satuan pendidikan yang dijalankan Kemendikdasmen memberi ruang bagi sekolah untuk tetap mempertahankan identitas budaya serta kearifan lokal di daerah masing-masing.

    Menurut Abdul Mu’ti, jika suatu daerah memiliki tradisi membangun bangunan dengan bahan kayu, maka pemerintah tidak akan memaksakan penggunaan bahan lain seperti semen atau batu bata.

    “Kalau memang local wisdom-nya kayu, ya jangan dipaksa pakai semen dan batu bata atau tembok, karena itu local wisdom. Kemudian memang ya local wisdom itu kita akomodir,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

    Ia juga menambahkan bahwa pemerintah turut mempertimbangkan lokasi pembangunan sekolah, terutama yang berada di kawasan hutan.

    Apabila kebijakan di wilayah tersebut tidak memperbolehkan pembangunan sekolah permanen, maka Kemendikdasmen akan menyesuaikan dengan aturan yang berlaku.

    “Nah, yang begini kan kadang-kadang snapshot aja kan yang muncul di permukaan, tapi on the ground sesungguhnya terjadi itu tidak banyak yang tahu. Karena memang ya sekali lagi, banyak kita melihat masalah dari Jakarta, bukan langsung ke daerahnya,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

    Sebagai informasi, berdasarkan laman Museum Pendidikan Nasional, kearifan lokal merupakan pandangan atau gagasan yang bernilai baik, tertanam, diikuti, dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

    Nilai tersebut umumnya mencerminkan adat istiadat, pengetahuan lokal, serta etika yang berkembang di suatu daerah.

    Sumber: Antara

  • SMPQ Akmalul Muhsinin Banyuwangi Gelar Nuzulul Qur’an, Ajak Gen Z Dekat dengan Nilai Qurani

    SMPQ Akmalul Muhsinin Banyuwangi Gelar Nuzulul Qur’an, Ajak Gen Z Dekat dengan Nilai Qurani

    Rangkaian acara Malam Peringatan Nuzulul Qur’an sekaligus Haflatul Iftitah SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Banyuwangi berlangsung khidmat di Graha Anak Sholeh, Jalan Kopral Sanusi 32 Karangbaru, Kelurahan Panderejo, Banyuwangi, Minggu (8/3/2026) atau bertepatan dengan Ahad, 19 Ramadhan 1447 H.

    Kegiatan ini dilaksanakan usai sholat tarawih dan witir, diawali dengan lantunan Gema Wahyu Ilahi oleh Gus Romi, serta diisi tausiyah oleh mubaligh Ustadz Agus Abdul Latief, M.Pd asal Kalipuro yang berkolaborasi dengan hadrah Darus Syafa’ah Karangrejo.

    Kepala SMP Qur’an Akmalul Muhsinin, H. Wawuh Sondi Purnomo, ST, Gr, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada para wali santri, keluarga calon murid angkatan pertama, serta warga sekitar atas dukungan, kebersamaan, dan doa restu yang diberikan.

    Ia juga menyampaikan ucapan ahlan wa sahlan kepada para ulama dan tokoh masyarakat yang hadir, di antaranya KH Maftuh Cangaan selaku Pembina AJINU, H. Mujiono, SH (Ketua Umum BKPRMI), HM Shodiqin, S.Pd, M.Si dan Haikal Kafili, M.Pd dari PERGUNU, Sentot Hariyanto selaku Ketua Takmir Masjid Agung Baiturrahman, serta Lurah Panderejo Aris Krisnu, SE. Turut hadir pula Ketua RW H. Sudariyono, SH dan H.M. Reza Fahlevi, SH, MM.

    Nuzulul Qur’an SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Banyuwangi

    Acara yang dipandu oleh MC alumni M. Saifudin tersebut dihadiri sekitar 117 jamaah yang menempati lantai atas, sementara para jamaah perempuan mengikuti dari lantai bawah dengan bantuan layar proyektor.

    Melalui siaran langsung di media sosial, majelis penuh berkah ini juga dapat diikuti oleh ribuan orang karena ditayangkan melalui live streaming Umam TV Taman Suruh serta tiga kanal YouTube, yakni Adilangu, Ciknang Multimedia, dan Ha Pe Aja Wongsorejo.

    Kegiatan ini juga didukung oleh gotongroyong’45 bersama jaringan Sinergi Media, diantaranya sastrawacana.id/, JurnalNews.com, MenaraMadinah.com, JNN Jatim, Aplikasi Gata, serta Radio Komunitas Planet FM JRKBB-JRKI.

    Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Yayasan Ponpes Akmalul Muhsinin, KH Imam Hasan Thoha, menekankan pentingnya memahami Al-Qur’an melalui pendekatan Iqro’ dan I’rab.

    Dengan diselingi syair dan sholawat, beliau mempraktikkan bagaimana santri dapat membaca dengan fasih sekaligus memahami makna Ummul Kitab, yaitu Surah Al-Fatihah.

    “Mari generasi Z untuk mau menggeluti Al-Qur’an sebagai kader generasi Qur’ani menyongsong Indonesia Emas 2045. Mari hidup-hidupkan kalam Ilahi sebagai ungkapan tasyakur dan tafakur, serta menjadikan mukjizat Rasulullah sebagai panutan dalam kehidupan bermasyarakat dan sebagai khalifah di muka bumi hingga mampu membedakan yang hak dan batil,” tutur alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep tersebut.

    Pada kesempatan itu pula beliau secara khusus memohon doa restu agar pada tahun ajaran baru 2026–2027 SMP Qur’an Akmalul Muhsinin dapat mulai menerima peserta didik angkatan pertama dengan target satu rombongan belajar atau sekitar 33 murid.

    Sementara itu, mubaligh Ustadz Agus Abdul Latief, M.Pd, dalam tausiyahnya menjelaskan sejarah turunnya wahyu pertama pada 17 Ramadhan di Gua Hira ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun.

    Ia menyampaikan bahwa hingga Haji Wada’ saat Rasulullah berusia 63 tahun, wahyu Al-Qur’an diturunkan secara berangsur sebanyak 6.666 ayat dalam 114 surat dan 30 juz sesuai dengan situasi dan kebutuhan umat, serta dijaga keasliannya oleh Allah hingga hari kiamat.

    “Monggo kita membaca, mengkhatamkan, serta mengenalkan Al-Qur’an kepada anak cucu kita. Semoga mereka juga mau belajar di SMP Qur’an, masya Allah,” ujar Kepala MTs Darusalam Kalipuro tersebut.

    Tokoh masyarakat H.M. Reza Fahlevi turut menyampaikan rasa syukur atas berdirinya pondok pesantren di lingkungan tersebut karena diyakini dapat membawa suasana kampung menjadi lebih damai dan penuh keberkahan.

    Sementara itu, Lurah Panderejo Aris Krisnu, SE mengajak seluruh hadirin untuk turut menyukseskan berbagai program pemerintah daerah hingga program Presiden, termasuk menjaga kebersihan lingkungan melalui gerakan ASRI serta memenuhi kewajiban sebagai warga negara dengan membayar pajak.

  • IKSASS Peringati Nuzulul Qur’an dan Haul Majemuk di Masjid Baitul Muttaqin Lugjag Rogojampi

    IKSASS Peringati Nuzulul Qur’an dan Haul Majemuk di Masjid Baitul Muttaqin Lugjag Rogojampi

    Keluarga Besar Ikatan Santri Salafiyah Sukorejo Situbondo (IKSASS) mengisi rangkaian kegiatan Ramadhan dengan memperingati Nuzulul Qur’an dan Haul Majemuk.

    Kegiatan tersebut digelar di Masjid Baitul Muttaqin Lugjag, Pengatigan, Kecamatan Rogojampi pada Sabtu, 7 Maret 2026 atau bertepatan dengan 17 Ramadhan.

    Acara ini juga dirangkai dengan kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri para santri, alumni, serta masyarakat sekitar.

    Ustadz Faruq atas nama takmir masjid menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah dan warga yang telah menyambut para tamu dengan baik.

    Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyambutan masih terdapat kekurangan.

    “Mohon maaf bila suguh, gupuh, dan lungguh kami ada yang kurang berkenan,” ungkap santri KH Yusuf Muhammad Jember yang saat ini mengajar di MI Islamiyah Rogojampi.

    Ia juga menyampaikan bahwa banyak alumni MI Islamiyah Rogojampi yang melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Sukorejo pada masa kepengasuhan KHR As’ad Syamsul Arifin.

    Sementara itu, alumni angkatan tahun 1970-an, Syech HM Ikrom asal Temenggungan, berharap para santri dapat tumbuh menjadi insan yang berkualitas.

    Menurutnya, santri harus mampu berpikir inspiratif, memiliki kekuatan ekonomi, serta menjaga tradisi silaturahmi dan kekompakan antarsesama.

    “Jaga pesan kiai dan jaga marwah pondok,” pesan mantan anggota DPRD yang juga aktif di Rumah Kebangsaan, sebuah forum yang bergerak dalam penguatan persatuan lintas suku, agama, dan berbagai elemen masyarakat.

    Dalam kesempatan tersebut, KHR Achmad Azaim Ibrahimy sebenarnya dijadwalkan hadir.

    Namun karena adanya udzur yang mendesak dan mendadak, beliau tidak dapat menghadiri acara sehingga diwakilkan oleh Lora Abdul Quddus.

    Dalam taushiyahnya, Lora Abdul Quddus menyampaikan tentang mukjizat Al-Qur’an serta pentingnya menjaga amanat para kiai.

    Ia menegaskan bahwa keberkahan ilmu yang diperoleh selama mondok di pesantren harus terus dijaga agar dapat memberikan manfaat yang maksimal ketika para santri terjun ke tengah masyarakat.

    Pada sesi doa, acara dipimpin oleh Ustadz Mistari selaku Ketua IKSASS Rayon Banyuwangi.

    Sementara itu, Dr. H. Lukman Hakim turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pengajian tersebut.

    Ia juga menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan serupa akan dilanjutkan di Muncar pada tanggal 26, yang insya Allah akan dihadiri langsung oleh pengasuh.

    Selain itu, Lukman Hakim mengungkapkan bahwa tahun ini IKSASS memiliki target untuk memiliki kantor yang berlokasi di dekat Masjid Cheng Ho Sumberrejo.

    Ia pun berharap adanya partisipasi dari para santri dan alumni untuk mewujudkan rencana tersebut.

    “Mari berkhidmat kepada organisasi dan pondok pesantren demi keberkahan ilmu serta kehidupan beragama dan berbangsa,” tutur Rektor Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi sekaligus mantan Ketua BAZNAS Kabupaten Banyuwangi tersebut.

  • 5 Manfaat Sedekah di Bulan Ramadan yang Membuka Pintu Berkah

    5 Manfaat Sedekah di Bulan Ramadan yang Membuka Pintu Berkah

    Ada banyak manfaat sedekah di bulan Ramadan yang dapat kita rasakan jika melakukannya dengan ikhlas.

    Sebagaimana diketahui, Ramadan merupakan bulan suci yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah SWT.

    Di bulan inilah umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan sebagai bentuk penghambaan sekaligus upaya mendekatkan diri kepada-Nya.

    Karena itu, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadan akan mendapatkan balasan pahala yang berlipat ganda.

    Momentum spiritual ini menjadi kesempatan berharga bagi setiap Muslim untuk memperbanyak ibadah, termasuk melalui amalan sedekah yang memiliki nilai keutamaan sangat besar di sisi Allah SWT.

    Sedekah sendiri merupakan tindakan memberikan sesuatu kepada orang lain dengan penuh keikhlasan tanpa mengharapkan imbalan.

    Bentuknya tidak selalu berupa harta, tetapi juga bisa berupa tenaga, ilmu, bantuan kepada sesama, atau bahkan sekadar perbuatan baik yang memberikan manfaat bagi orang lain.

    Di bulan Ramadan, amalan sederhana seperti ini justru memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya.

    Adapun manfaat sedekah di bulan Ramadan adalah sebagai berikut:

    1. Mendapatkan pahala berlipat ganda

    Salah satu daya tarik utama bagi umat Muslim untuk bersedekah di bulan Ramadan adalah janji Allah SWT mengenai pelipatgandaan pahala.

    Secara umum, satu kebaikan dapat dibalas hingga 700 kali lipat.

    Namun, khusus di bulan suci, setiap amal sunnah diberi ganjaran setara dengan amal wajib di bulan lain, dan amal wajib akan dilipatgandakan lebih jauh lagi.

    2. Diampuni segala dosa dan jauh dari siksa kubur

    Sedekah dipercaya dapat membersihkan noda dosa.

    Sebagaimana air yang mampu memadamkan api, sedekah dapat menghapus kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan hari ini maupun di masa lalu.

    Tak hanya itu itu, sedekah di bulan Ramadan juga dipercaya dapat menjauhkan diri dari siksa kubur dan memberikan naungan di hari kiamat kelak.

    3. Melancarkan Rizki

    Sebagian besar orang berpikir jika memberikan sedikit harta kepada yang membutuhkan, maka dapat mengurangi kekayaan yang mereka miliki.

    Oleh sebab itu, mereka memilih untuk tidak melakukannya.

    Padahal, dengan bersedekah, harta kita tidak akan habis bahkan akan dilipat gandakan kembali oleh Allah SWT.

    Tak hanya itu, rizki yang kita peroleh kemudian akan menjadi lebih berkah.

    Untuk itu, jangan pernah khawatir ataupun merasa takut bersedekah, terlebih lagi di bulan suci Ramadan.

    4. Menumbuhkan Empati dan Solidaritas

    Sedekah di bulan Ramadan merupakan kegiatan sosial untuk mempererat hubungan antarmanusia.

    Hal ini dikarenakan, berbagi dengan sesama yang sedang membutuhkan dapat menumbuhkan rasa empati sehingga dapat menciptakan rasa persatuan dan kekeluargaan yang kuat.

    5. Melindungi diri dari musibah

    Percaya atau tidak, sedekah di bulan Ramadan juga bisa membantu melindungi diri dari kesulitan hidup, bahkan musibah.

    Saat bersedekah, kita membantu meringankan beban orang lain. Dengan demikian, Allah juga akan menjaga kita dari hal buruk yang tidak diinginkan.

    Itulah beberapa manfaat sedekah di bulan Ramadan yang ternyata sangat luar biasa untuk kehidupan kita di dunia maupun akhirat kelak.

    Bersedekah bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun, baik diberikan secara langsung kepada orang yang membutuhkan ataupun bisa melalui online.

    Saat ini, ada banyak platform sedekah online terpercaya dan juga amanah, salah satunya adalah sedekahlagi.com.

    Sedekahlagi.com merupakan salah satu platform sedekah online memiliki banyak program, diantaranya zakat maal, sedekah subuh, tebar Quran dan buku islami di bulan suci, berbagi takjil Ramadan, sedekah Jumat, bantuan dhuafa, hingga bantuan Palestina.

    Donasi yang terkumpul nantinya akan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan sesuai dengan program dan lokasi penyaluran.

    Platform ini juga berada di bawah naungan sejumlah lembaga sosial seperti Rumah Zakat dan Amal Produktif, sehingga pengelolaannya dilakukan secara amanah.

    Dengan kemudahan yang ada saat ini, tidak ada lagi alasan untuk menunda berbagi. Ramadan adalah momentum terbaik untuk menebar kebaikan dan memperbanyak sedekah.

  • PERGUNU Banyuwangi Gelar Ngaji Rukyat, Bahas Penentuan Awal Bulan dan Hilal 1447 H

    PERGUNU Banyuwangi Gelar Ngaji Rukyat, Bahas Penentuan Awal Bulan dan Hilal 1447 H

    Dalam rangka menyongsong fenomena gerhana bulan sekaligus persiapan penentuan awal bulan hijriah, PC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Banyuwangi menggelar Ngaji Rukyat bertema “Kajian Hilal dan Penentuan Awal Bulan” pada Ahad, 1 Maret 2026.

    Kegiatan ini berlangsung di ruang simulator SMK Negeri Kalipuro Banyuwangi.

    Acara menghadirkan dua pemateri, yakni Kang Gufron Mustafa selaku Ketua Badan Hisab Rukyat Banyuwangi dan Kang Zamroni Fikri, Ustadz Falak Sari PP Subulussalam Tegalsari.

    Keduanya mengupas metode hisab dan rukyat sebagai dua pendekatan yang saling melengkapi dalam menentukan awal bulan hijriah.

    Menurut Haikal Kafili, M.Pd. dan H. Wawuh Sondi Purnomo, ST., Gr., kegiatan ini bertujuan mendiseminasikan cara menakar hilal secara ilmiah dan spiritual, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya rukyat dalam penentuan awal bulan.

    “Yang jelas rukyat dan metode hisab saling melengkapi dan memiliki dasar ilmiah maupun ilahiah,” tegas Wawuh, yang kini menjadi Tim Pengembang Mutu SMKN 1 Kalipuro sekaligus mendapat amanah sebagai Kepala SMP Qur’an Akmalul Muhsinin Panderejo.

    Ngaji Rukyat ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat untuk memahami proses penentuan awal bulan secara lebih komprehensif, sekaligus menjaga tradisi keilmuan falak yang menjadi bagian penting dari khazanah Islam Nusantara.

    Ketua PC PERGUNU Banyuwangi, Drs. H. Widjanarko, M.Pd., didampingi HM. Shodiqin, S.Pd., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi jawaban atas kegelisahan umat terkait khilafiah penentuan awal Ramadan 1447 H.

    “Langkah ini strategis bagi Persatuan Guru Nahdlatul Ulama yang sering menjadi rujukan pertanyaan sekaligus penyampai informasi kepada murid. Kami bersyukur bisa memanfaatkan alat sextant dan simulator untuk memahami titik koordinat serta sudut secara lebih paripurna,” ungkap Kepala SMK Gajah Mada tersebut.

    Ia juga menambahkan bahwa perwakilan PERGUNU direncanakan akan turut serta dalam pemantauan 1 Syawal di Pantai Pancur Alas Purwo sebagai bagian dari praktik langsung rukyat hilal.

    Melalui kegiatan ini, PERGUNU Banyuwangi berharap sinergi antara tradisi rukyat dan pendekatan hisab semakin dipahami secara utuh, sehingga umat dapat menyikapi perbedaan dengan bijak, berlandaskan ilmu dan nilai-nilai kebersamaan.

  • Validasi Data BEN-NLR Indonesia, Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Banyuwangi Inklusif

    Validasi Data BEN-NLR Indonesia, Perkuat Sinergi Lintas Sektor untuk Banyuwangi Inklusif

    Dalam upaya memperkuat layanan inklusif bagi anak dan remaja penyandang disabilitas, Rumah Literasi Indonesia bersama Yayasan Aura Lentera Indonesia menggelar Pertemuan Validasi Data Program Building Effective Network (BEN), Selasa (3/3/2026), di Hotel Aston Banyuwangi.

    Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB ini diikuti 45 peserta dari unsur pemerintah daerah, akademisi, tenaga pendidik, serta organisasi penyandang disabilitas.

    Tunggul Harwanto dari Rumah Literasi Indonesia memaparkan latar belakang dan tujuan program BEN.

    Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Banyuwangi menjadi satu-satunya klaster yang dipercaya menjalankan tiga proyek sekaligus, yakni Building Effective Network (BEN) Pemberdayaan Disabilitas Berbasis Jejaring Masyarakat, MYP Pengembangan Potensi Anak dan Remaja Difabel (Down Syndrome & OYPMK), serta Body Talk SRHR tentang Perkembangan Kesehatan Reproduksi.

    Kepercayaan tersebut diberikan karena Banyuwangi dinilai memiliki komitmen kuat dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas dan pengembangan daerah inklusif yang mendapat dukungan penuh dari bupati serta berbagai elemen masyarakat.

    “Kami berharap melalui pertemuan ini, sinergi antarsektor semakin kuat sehingga pelayanan terhadap penyandang disabilitas dapat berjalan terpadu dan berkelanjutan,” ujar Tunggul.

    Program BEN merupakan inisiatif yang didukung oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia.

    Program ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mewujudkan layanan inklusif melalui pendekatan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM).

    Pertemuan ini menjadi forum untuk menyamakan persepsi sekaligus menyusun langkah kolaboratif berbasis data yang valid dan terintegrasi.

    Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda, S.Sos., MBA., MM., hadir sebagai pembicara kunci sekaligus membuka acara secara resmi.

    Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta sistem database yang terintegrasi.

    “Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif ini. Validasi dan integrasi data merupakan langkah strategis untuk memastikan program tepat sasaran dan berkelanjutan,” tegasnya.

    Sesi diskusi yang difasilitasi Indah Catur Cahyaning Tyas dari Yayasan Aura Lentera Indonesia menghadirkan dua narasumber dari unsur pendidikan dan kesehatan.

    Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Alfian, M.Pd., menekankan pentingnya penguatan jejaring lintas sektor guna mendukung pengembangan sekolah inklusif.

    Ia juga mengusulkan agar Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilibatkan dalam kegiatan selanjutnya karena keterkaitannya dengan data kependudukan.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, H. Amir Hidayat, S.K.M., M.Si., menyoroti pentingnya pengembangan layanan kesehatan inklusif berbasis analisis kebutuhan dan data yang akurat serta ramah disabilitas.

    Peserta yang hadir merupakan anggota Forum RBM (Rehabilitasi Berbasis Masyarakat) yang menjadi inti Building Effective Network.

    Mereka berasal dari Dinas Sosial dan PPKB, Bappeda, Camat Kalipuro dan Rogojampi, Kepala Puskesmas Klatak dan Gladag, kepala desa/lurah, tenaga pendidik dari sekolah inklusif dan SLB, serta organisasi seperti Perkins, GERKATIN, HWDI, dan Aisyiyah.

    Tunggul Harwanto dan Indah Catur Cahyaning Tyas selaku Leader Tim Transisi Banyuwangi menegaskan bahwa pertemuan ini bertujuan menyusun perencanaan berbasis data, memperkuat peran Forum RBM, serta membangun komitmen kolaboratif antar pemangku kepentingan di tingkat kabupaten untuk keberlanjutan program hingga 2028.

    Diskusi berlangsung aktif dalam sesi tanya jawab. Masfufah, S.Pd., Ketua Yayasan Matahati, menyampaikan harapan agar pendampingan dan layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas semakin diperkuat, terlebih regulasi sudah tersedia.

    Yudi, guru dari SDN 2 Gladag, juga mengungkapkan tantangan terkait seorang siswa dengan disabilitas intelektual yang orang tuanya belum berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

    Selain itu, Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang terlibat dalam pendataan anak dan remaja disabilitas membagikan temuan lapangan, khususnya terkait tantangan layanan di puskesmas dan sekolah serta pentingnya koordinasi yang baik dengan pemerintah desa.

    Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi dan integrasi layanan bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Banyuwangi, menuju sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan menyongsong pelaksanaan program tiga tahun yang akan dimulai pada April 2026.

  • Bangun Fondasi Kepengurusan Sejak Awal, HMPS Bioteknologi Genom Mantapkan 41 Pengurus Baru Lewat UPGRADING 2026

    Bangun Fondasi Kepengurusan Sejak Awal, HMPS Bioteknologi Genom Mantapkan 41 Pengurus Baru Lewat UPGRADING 2026

    Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Bioteknologi Genom menyelenggarakan kegiatan UPGRADING 2026 sebagai pembekalan bagi pengurus baru periode 2026 dengan mengusung tema “Pengembangan dan Penguatan Diri untuk Mewujudkan HMPS Bioteknologi Genom yang Inovatif dan Berkualitas.”

    Kegiatan yang berada dalam kategori Program Layanan dan Pembinaan Kesejahteraan ini dilaksanakan pada 15 Februari 2026 di Aula Gedung B20 Lantai 2 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan dihadiri oleh 41 pengurus baru.

    Kegiatan ini berada di bawah pendampingan dosen Dr. Muh Ade Artasasta, S.Si., dengan Naurah Radhwaa Murad sebagai Ketua Pelaksana dan IZ Fathma Agmadina sebagai Ketua Umum HMPS Bioteknologi Genom 2026.

    UPGRADING 2026 juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDGs ke-16 mengenai Perdamaian, Keadilan, serta Kelembagaan yang Kuat.

    Selain itu, kegiatan ini menekankan penguatan mental kebangsaan melalui pendidikan norma, etika, pembinaan karakter, serta pengembangan soft skills mahasiswa.

    Tema yang diangkat didasarkan pada kesadaran bahwa kualitas sebuah organisasi mahasiswa sangat bergantung pada kapasitas, kompetensi, serta integritas para pengurusnya.

    Pengurus yang memiliki pemahaman menyeluruh mengenai sistem organisasi, kemampuan manajerial yang baik, dan komitmen tinggi diyakini mampu menggerakkan roda himpunan secara efektif serta memberikan manfaat optimal bagi seluruh anggota.

    Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 13.40 WIB. Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan doa bersama serta menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars UM, dan Mars HMPS Bioteknologi Genom.

    Prosesi ini dimaksudkan untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme sekaligus mempererat rasa kebersamaan di antara peserta yang berasal dari latar belakang beragam.

    Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Ketua Pelaksana UPGRADING 2026, Ketua Umum HMPS Bioteknologi Genom, serta dosen pendamping. Sambutan tersebut sekaligus menandai dimulainya kegiatan secara resmi.

    Setelah itu, panitia, pemateri, dan seluruh peserta mengikuti sesi dokumentasi sebagai upaya mengabadikan momentum awal kegiatan yang penuh antusiasme.

    Sebelum memasuki sesi inti, panitia memandu jargon penyemangat guna membangun energi positif dan solidaritas peserta.

    Pembacaan tata tertib juga dilakukan untuk memastikan kedisiplinan serta kelancaran jalannya acara.

    Peserta kemudian mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka terhadap materi yang akan disampaikan sepanjang kegiatan.

    UPGRADING 2026 menghadirkan sejumlah pemateri berpengalaman yang menyampaikan materi strategis untuk bekal kepengurusan selama satu periode ke depan.

    Materi pertama membahas dinamika organisasi serta pengenalan kabinet periode 2026, termasuk pemaparan visi dan misi Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum sebagai landasan arah gerak organisasi.

    Pemateri UPGRADING 2026

    Materi ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum HMPS Bioteknologi Genom 2026, IZ Fathma Agmadina, dengan gaya penyampaian interaktif yang mendorong partisipasi aktif peserta dalam diskusi.

    Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya kesiapan personal setiap pengurus dalam menjalankan amanah organisasi.

    “Saya berharap seluruh pengurus tidak hanya memahami struktur dan program kerja, tetapi juga mampu mengembangkan diri, berani berinovasi, dan menjaga komitmen agar HMPS Bioteknologi Genom benar-benar menjadi organisasi yang berkualitas,” ujarnya.

    Materi berikutnya menyoroti pentingnya sistem administrasi yang tertata dalam organisasi.

    Kepala Staf Administrasi HMPS Bioteknologi Genom 2026, Putri Balqis Maulidiyah, memaparkan topik pengelolaan administrasi himpunan secara sistematis.

    Penjelasan mencakup format administrasi, alur pengarsipan, hingga mekanisme dokumentasi kegiatan.

    Pemahaman ini diharapkan menjadi bekal penting bagi pengurus dalam menjalankan berbagai agenda dan program kerja secara profesional.

    Selanjutnya, materi mengenai persidangan organisasi disampaikan oleh Azzahrah Aulia Rahma, yang pernah menjabat sebagai Pimpinan Sidang I periode 2024/2025.

    Ia menjelaskan berbagai bentuk persidangan, kebutuhan perangkat sidang, istilah-istilah yang umum digunakan, serta teknik penggunaan palu sidang sebagai simbol pengesahan keputusan.

    Materi ini dinilai penting karena persidangan merupakan bagian vital dalam pengambilan keputusan organisasi.

    Topik manajemen keuangan menjadi materi berikutnya yang disampaikan oleh Adila Ihsanty Hasanah Muzahid, mantan Bendahara Umum HMPS Bioteknologi Genom periode 2025.

    Ia menekankan bahwa keberhasilan program kerja tidak terlepas dari pengelolaan dana yang transparan dan akuntabel.

    Pemaparan dilakukan secara sistematis dan informatif agar pengurus memahami prinsip dasar pengelolaan anggaran organisasi.

    Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyerahkan piagam penghargaan kepada seluruh pemateri setelah sesi penyampaian materi selesai.

    Sesi tanya jawab berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari mekanisme kerja organisasi, administrasi, keuangan, hingga pelaksanaan persidangan.

    Antusiasme ini menunjukkan kebutuhan nyata para pengurus baru akan pemahaman komprehensif dalam menjalankan tugas mereka.

    Untuk mengukur efektivitas kegiatan, peserta mengikuti post-test setelah seluruh materi disampaikan.

    Berdasarkan hasil angket kepuasan, kegiatan ini memperoleh penilaian sangat positif, dengan mayoritas peserta menyatakan puas hingga sangat puas terhadap pelaksanaan acara, baik dari segi materi maupun kesiapan teknis panitia.

    Salah satu pengurus baru dari Badan INTRON, Nurul, menyampaikan bahwa materi yang diberikan sangat membantu pengurus yang belum memahami alur kerja organisasi, khususnya dalam pelaksanaan program kerja.

    Ia juga mengapresiasi sesi ice breaking yang dinilai mampu mengembalikan semangat peserta selama kegiatan berlangsung.

    Nurul berharap kegiatan serupa di masa mendatang dapat terlaksana dengan kualitas yang lebih baik.

    Kesan positif juga disampaikan oleh Aurora dari Bidang GEN. Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah awal yang penting dalam memasuki dunia organisasi di perguruan tinggi.

    Ia memperoleh banyak informasi baru yang bermanfaat, menikmati cara penyampaian materi, serta menilai fasilitas konsumsi yang disediakan sangat memadai.

    Aurora turut menyampaikan apresiasi kepada panitia atas kerja keras dalam menyelenggarakan acara.

    Melalui UPGRADING 2026, diharapkan seluruh pengurus baru memahami alur kerja HMPS Bioteknologi Genom selama satu periode kepengurusan.

    Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan awal bagi seluruh badan dan bidang untuk saling mengenal, membangun komunikasi, serta memperkuat solidaritas organisasi.

    Lebih dari sekadar kegiatan formal, UPGRADING 2026 menjadi kesan pertama bagi para pengurus dalam membangun kerja sama profesional sekaligus hubungan interpersonal yang harmonis.

    Panitia berharap kepengurusan yang terbentuk dapat menjadi tim yang solid, saling mendukung, serta mampu menghadapi berbagai tantangan organisasi secara bersama-sama.

    Terselenggaranya kegiatan ini dengan lancar tidak terlepas dari kerja sama panitia, partisipasi aktif peserta, serta dukungan berbagai pihak.

    Harapannya, hubungan yang terjalin antarpengurus tidak hanya sebatas hubungan kerja, tetapi juga berkembang menjadi ikatan kekeluargaan yang dilandasi rasa saling menghargai, kepedulian, dan semangat gotong royong dalam mewujudkan HMPS Bioteknologi Genom yang inovatif dan berkualitas.

  • Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Kesempatan Terakhir Mawar: Ketika Sekolah, Keluarga, dan Negara Menyelamatkan Masa Depan Seorang Siswa

    Oleh: Andi Budi Setiawan

    Ruang kelas selalu menghadirkan wajah-wajah yang berbeda. Tidak hanya berbeda dalam kemampuan akademik, tetapi juga latar belakang keluarga, kondisi sosial, dan pengalaman hidup.

    Di tengah keragaman itulah seorang guru belajar memahami bahwa setiap perilaku peserta didik selalu memiliki cerita yang tidak tampak di permukaan.

    Saya pernah berhadapan dengan seorang siswa pindahan kelas XI, sebut saja Mawar. Pada semester awal, ia hadir sebagai sosok yang tenang, rajin, dan penuh semangat.

    Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menjadi pusat perhatian dalam rapat dewan guru beberapa bulan kemudian.

    Namun, memasuki semester kedua, perubahan itu mulai terlihat. Kehadiran berkurang, tugas tidak dikerjakan, nilai merosot, hingga akhirnya terancam tidak naik kelas.

    Sebagai guru matematika yang saat itu juga menjabat kepala sekolah, saya mencoba menelusuri akar persoalan.

    Bersama wali kelas dan guru BK, kami menemukan bahwa Mawar sedang menghadapi konflik berat di rumah.

    Pertengkaran orang tuanya yang terus-menerus membuatnya kehilangan arah. Ia tidak lagi menemukan ketenangan di rumah, dan sekolah menjadi pelampiasan.

    Dari sinilah sikap acuh, pembangkangan, hingga pergaulan yang salah mulai muncul.

    Sekolah tidak tinggal diam. Peringatan diberikan, pembinaan dilakukan, dan orang tua dipanggil berkali-kali.

    Bahkan tiga surat peringatan resmi telah dilayangkan. Namun perubahan yang diharapkan tidak kunjung datang.

    Dalam rapat dewan guru, dengan pertimbangan yang sangat berat, sekolah memutuskan mengembalikan Mawar kepada orang tuanya karena merasa seluruh upaya pembinaan telah maksimal.

    Keputusan itu justru menjadi titik balik. Mawar dan orang tuanya tersadar bahwa waktu yang tersisa sangat sempit.

    Ia sudah berada di kelas XII dan akan segera menghadapi ujian akhir. Pindah sekolah hampir mustahil, sementara masa depan pendidikannya dipertaruhkan. Orang tua Mawar kemudian mengajukan mediasi ke dinas pendidikan.

    Pertemuan di kantor dinas berlangsung panjang dan penuh pertimbangan. Pihak sekolah memaparkan seluruh proses pembinaan yang telah dilakukan.

    Dinas memahami langkah sekolah, namun melihat adanya itikad baik dari Mawar dan keluarganya, kesempatan terakhir pun diberikan.

    Dengan satu syarat tegas: kesalahan sekecil apa pun akan berakibat dikembalikannya Mawar kepada orang tuanya.

    Sejak saat itu perubahan nyata terlihat. Orang tuanya mulai hadir secara utuh dalam kehidupan Mawar.

    Mereka mengantar dan menjemput setiap hari, menempuh jarak sekitar 18 kilometer. Mawar pun menunjukkan kesungguhan.

    Ia kembali masuk kelas, mengerjakan tugas, dan menjauhi pergaulan yang sebelumnya menjerumuskannya.

    Kesempatan terakhir itu benar-benar menjadi pintu kesadaran. Mawar tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikannya dan memperoleh ijazah, tetapi juga memperlihatkan perubahan sikap yang signifikan.

    Ia menjadi lebih santun, bertanggung jawab, dan memiliki tujuan hidup yang jelas untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

    Kisah Mawar mengajarkan bahwa kenakalan peserta didik sering kali bukan semata-mata persoalan disiplin sekolah, melainkan cermin dari luka yang mereka bawa dari rumah.

    Ketika sekolah, keluarga, dan negara hadir bersama, pendidikan menemukan maknanya yang paling hakiki: menyelamatkan masa depan.

    Setiap anak bisa saja tersesat, tetapi tidak ada kata terlambat untuk kembali. Kesempatan untuk berubah adalah anugerah yang tidak datang dua kali.

    Dan bagi seorang pendidik, melihat seorang siswa bangkit dari keterpurukan adalah keberhasilan yang jauh melampaui angka-angka di rapor.

  • 5 Cara Cerdas Lindungi Data Pribadi, Hindari Bahaya Doxing dan Jeratan Hukum di Dunia Digital

    5 Cara Cerdas Lindungi Data Pribadi, Hindari Bahaya Doxing dan Jeratan Hukum di Dunia Digital

    sastrawacana.id/ – Di tengah perkembangan teknologi yang kian pesat pada tahun 2026, data pribadi menjadi aset yang sangat berharga sekaligus rentan disalahgunakan.

    Salah satu fenomena yang kian marak dan mengancam anak muda adalah doxing, yaitu tindakan menyebarkan informasi pribadi seseorang ke publik dengan tujuan untuk mengintimidasi, mempermalukan, atau merusak reputasi.

    Tanpa literasi privasi yang kuat, jejak digital yang kita tinggalkan secara tidak sengaja bisa menjadi senjata bagi pihak yang tidak bertanggung jawab.

    Sebagai generasi yang hidup di dunia digital, anak muda harus memiliki kesadaran tinggi bahwa menjaga kerahasiaan data pribadi bukan hanya soal keamanan akun, tetapi juga soal menjaga integritas dan keselamatan diri.

    Baca juga: 5 Ide Side Hustle Berbasis AI Terbaik 2026: Cara Cerdas Cari Cuan Tambahan Hanya dari Rumah!

    Memahami batasan apa yang boleh dibagikan dan apa yang harus dilindungi adalah langkah teknis paling awal untuk terhindar dari konflik hukum dan sosial yang berkepanjangan.

    Berikut adalah 5 cara dan panduan edukatif untuk melindungi data pribadi dan menghindari jeratan hukum terkait privasi digital:

    1. Memahami Definisi Data Pribadi dan Risiko Eksploitasi

    Secara teknis, data pribadi mencakup segala informasi yang dapat mengidentifikasi seseorang secara langsung maupun tidak langsung, mulai dari alamat rumah, nomor telepon, lokasi real-time, hingga foto dokumen identitas seperti KTP.

    Banyak anak muda yang sering kali “terlalu jujur” di media sosial dengan mengunggah foto tiket perjalanan atau dokumen penting tanpa menyensor informasi sensitif.

    Eksploitasi terhadap data ini dapat memicu tindakan kriminal seperti penipuan keuangan, pemerasan, hingga penguntitan (stalking) di dunia nyata.

    2. Bahaya Hukum Tindakan Doxing dalam UU ITE

    Anak muda perlu memahami bahwa menyebarkan data pribadi orang lain tanpa izin dengan maksud jahat adalah perbuatan melawan hukum.

    Berdasarkan regulasi UU ITE di Indonesia, setiap individu yang dengan sengaja menyebarkan informasi elektronik milik orang lain yang bersifat pribadi dapat diancam dengan sanksi pidana dan denda yang sangat besar.

    Menjadi pelaku doxing hanya karena emosi sesaat atau perselisihan di media sosial adalah keputusan konyol yang bisa menghancurkan masa depan dan nama baik di catatan kepolisian.

    3. Pentingnya Kebersihan Jejak Digital (Digital Hygiene)

    Jejak digital adalah cerminan dari perilaku kita. Melakukan pembersihan jejak digital secara rutin adalah langkah etis yang cerdas.

    Periksalah kembali pengaturan privasi di akun media sosial masing-masing, batasi siapa saja yang bisa melihat informasi detail, dan hapuslah unggahan lama yang sekiranya sudah tidak relevan atau terlalu membuka privasi.

    Ingatlah bahwa di tahun 2026, keamanan data bukan lagi sebuah pilihan, melainkan bentuk pertahanan diri di dunia yang saling terhubung.

    4. Menghargai Privasi Orang Lain sebagai Bentuk Etika

    Etika digital bukan hanya tentang melindungi diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan data orang lain.

    Jangan pernah membagikan tangkapan layar percakapan pribadi (chat), nomor telepon, atau rahasia teman ke ruang publik tanpa persetujuan eksplisit dari yang bersangkutan.

    Membangun perilaku yang menghargai privasi orang lain menunjukkan integritas dan empati tinggi, yang sangat dibutuhkan dalam lingkungan profesional dan sosial.

    5. Langkah Teknis Jika Menjadi Korban Pelanggaran Data

    Jika menjadi korban doxing atau kebocoran data pribadi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan segera mengamankan semua akun dengan mengganti kata sandi.

    Lakukan tangkapan layar (screenshot) terhadap semua bukti penyebaran data tersebut sebagai alat bukti yang sah menurut hukum.

    Jangan ragu untuk melaporkan tindakan tersebut ke pihak berwajib melalui portal resmi pengaduan siber agar pelaku dapat diproses secara hukum dan penyebaran data dapat segera dihentikan.

    Kesimpulannya, privasi adalah hak asasi yang harus kita jaga dengan sungguh-sungguh di era digital. Jangan biarkan keinginan untuk mendapatkan perhatian sesaat membuat lalai akan keamanan data.

    Mari kita bangun budaya digital yang sehat dengan saling menghargai privasi dan menjaga etika dalam setiap interaksi daring.

    Dengan melindungi data pribadi, kita tidak hanya menjaga diri dari ancaman hukum, tetapi juga membangun masa depan yang lebih aman, bermartabat, dan penuh integritas.

  • Stop Flexing! Kenali Risiko Hukum dan Dampak Psikologis di Balik Fenomena Pamer Kemewahan Digital

    Stop Flexing! Kenali Risiko Hukum dan Dampak Psikologis di Balik Fenomena Pamer Kemewahan Digital

    sastrawacana.id/ – Di era media sosial yang semakin masif pada tahun 2026 ini, fenomena flexing atau memamerkan kekayaan dan gaya hidup mewah telah menjadi tren yang mengkhawatirkan di kalangan anak muda.

    Tekanan untuk terlihat sukses secara instan sering kali mengaburkan logika dan etika.

    Banyak generasi muda yang terjebak dalam perlombaan semu demi pengakuan digital, tanpa menyadari bahwa budaya instan ini menyimpan risiko besar, mulai dari gangguan kesehatan mental hingga jeratan hukum yang serius.

    Sebagai bagian dari ideologi Sastrawacana, penting bagi kita untuk membangun kesadaran bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari apa yang kita pamerkan di layar ponsel, melainkan dari integritas, etika kerja, dan proses yang kita lalui.

    Baca juga: Mall Tidak Lagi Menarik, Mengapa Anak Muda Mulai Meninggalkan Pusat Perbelanjaan?

    Memahami bahaya di balik budaya flexing adalah langkah awal untuk melindungi masa depan dari keputusan-keputusan konyol yang berujung pada penyesalan.

    Berikut adalah poin-poin edukatif mengapa anak muda harus waspada terhadap budaya instan dan mulai membangun etika kerja yang sehat:

    1. Manipulasi Realitas dan Tekanan Psikologis

    Budaya flexing secara teknis menciptakan standar hidup yang tidak realistis. Apa yang kita lihat di media sosial sering kali hanyalah potongan kecil dari realitas yang sudah disaring (filter).

    Ketika anak muda menjadikan gaya hidup mewah orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan, mereka akan merasa tertinggal dan tidak berharga.

    Tekanan ini sering kali memicu kecemasan kronis dan depresi. Memahami bahwa setiap orang memiliki prosesnya sendiri adalah kunci untuk menjaga kesehatan mental di tengah gempuran konten pamer harta.

    2. Jeratan Investasi Bodong dan Perjudian Online

    Banyak anak muda yang ingin cepat kaya demi bisa melakukan flexing akhirnya terjebak dalam tawaran investasi bodong atau perjudian online yang menjanjikan keuntungan instan.

    Secara teknis, skema-skema ini dirancang untuk memanipulasi keserakahan manusia. Tanpa literasi keuangan dan etika yang kuat, kamu bisa kehilangan segalanya dalam sekejap.

    Banyak kasus hukum di Indonesia yang menyeret anak muda karena terlibat dalam promosi investasi ilegal atau terjebak utang demi gaya hidup, yang pada akhirnya menghancurkan karier mereka sebelum benar-benar dimulai.

    3. Pentingnya Menghargai Proses dan Etika Kerja

    Tidak ada kesuksesan yang bertahan lama jika didapatkan dengan cara instan. Etika kerja yang sehat mengajarkan kita untuk menghargai setiap tahapan belajar, kegagalan, dan usaha keras.

    Anak muda yang beretika akan lebih memilih membangun keterampilan (skill) yang relevan daripada sibuk mencari pengakuan semu.

    Proses inilah yang membentuk karakter dan integritas. Di dunia profesional tahun 2026, perusahaan lebih menghargai individu yang memiliki ketahanan mental dan track record yang jelas daripada mereka yang hanya besar di media sosial tanpa substansi.

    4. Risiko Hukum dan Privasi

    Memamerkan kekayaan atau lokasi secara berlebihan juga memiliki risiko teknis terhadap keamanan pribadi.

    Tindakan ini bisa mengundang pelaku kejahatan siber atau tindakan kriminal nyata seperti perampokan.

    Selain itu, jika gaya hidup yang dipamerkan bersumber dari aktivitas ilegal, jejak digitalmu akan menjadi alat bukti yang sah bagi aparat penegak hukum.

    Berdasarkan aturan hukum yang berlaku, segala informasi elektronik bisa dijadikan dasar penyelidikan.

    Oleh karena itu, menjaga privasi dan tetap rendah hati adalah bentuk perlindungan diri yang paling cerdas.

    5. Membangun Integritas Digital

    Integritas digital adalah konsistensi antara siapa kita di dunia nyata dengan apa yang kita tampilkan di dunia maya.

    Jadilah pribadi yang menginspirasi melalui karya dan perilaku yang positif, bukan melalui pamer kemewahan yang fana.

    Dengan membantu sesama, berbagi ilmu, dan bersikap jujur di media sosial, kamu sedang membangun merek pribadi (personal branding) yang kuat dan terhormat.

    Ini adalah aset jangka panjang yang jauh lebih berharga daripada jumlah likes pada foto barang mewah.

    Kesimpulannya, kesuksesan adalah sebuah maraton, bukan lari cepat (sprint). Jangan biarkan tekanan sosial di internet merusak masa depanmu.

    Mari kita kembali pada nilai-nilai luhur: kerja keras, jujur, dan beretika. Dengan begitu, kita tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga sukses sebagai manusia yang bermartabat.