Blog

  • Stevanus Purbadirja, Pemerhati Lingkungan dan Mahasiswa Berprestasi FMIPA UM 2026 yang Terbitkan 11 Buku

    Stevanus Purbadirja, Pemerhati Lingkungan dan Mahasiswa Berprestasi FMIPA UM 2026 yang Terbitkan 11 Buku

    Stevanus Purbadirja, mahasiswa Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM), berhasil meraih Juara I sebagai Mahasiswa Berprestasi FMIPA Universitas Negeri Malang.

    Pencapaian tersebut tidak hanya mencerminkan kemampuan akademiknya yang kuat, tetapi juga menunjukkan dedikasinya dalam penelitian, literasi, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

    Mahasiswa yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan ini saat ini tengah memfokuskan perhatiannya pada penelitian tentang tanaman mangga.

    Penelitiannya menyoroti potensi pemanfaatan mangga dalam bidang kesehatan dan lingkungan.

    Salah satu yang sedang dikaji adalah pemanfaatan daun mangga yang diolah menjadi teh herbal yang memiliki potensi manfaat bagi kesehatan.

    Melalui penelitian tersebut, ia berupaya mengembangkan pengetahuan ilmiah sekaligus membuka peluang inovasi berbasis sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

    Stevanus Purbadirja Universitas Malang
    Stevanus Purbadirja melakukan pemaparan karya inovasi berbasis daun mangga sebagai potensi lokal

    Keseriusannya dalam meneliti tanaman mangga menjadi salah satu faktor yang mengantarkannya meraih predikat mahasiswa berprestasi tingkat fakultas pada tahun 2026.

    “Tanaman mangga sendiri sebenarnya memiliki beragam manfaat yang selama ini tidak diolah dengan maksimal, saya memiliki minat yang besar untuk mengolahnya karena kelimpahan di daerah yang cukup banyak” ujar Stevanus di kampus yang dulunya bernama IKIP Malang ini Rabu (11/03/26).

    Di luar kegiatan akademik dan penelitian, Stevanus juga memiliki ketertarikan yang kuat pada dunia literasi, khususnya dalam menulis buku.

    Hingga saat ini, mahasiswa tersebut telah berhasil menerbitkan 11 buku dengan beragam tema yang mencerminkan pemikiran kritis, refleksi kehidupan, serta semangat intelektual seorang mahasiswa.

    “Saya mulai menulis sejak tahun 2021 dimana saya berkecimpung dalam dunia literasi dan fokus untuk meningkatkan minat baca, dengan terbitnya 11 buku ini diharapkan dapat mendukung minat baca masyarakat, “Ujar mahasiswa semester 4 ini.

    Salah satu karya yang cukup menonjol adalah buku berjudul Sajak di Persimpangan. Buku ini dinilai sebagai salah satu karya yang kuat karena memadukan kedalaman makna, refleksi sosial, serta kepekaan emosional dalam bentuk puisi.

    “Buku ini saya tulis selama 4 tahun dengan menggambarkan kehidupan masa muda dan emosional seorang anak muda! ‘

    Selain aktif dalam penelitian dan menulis buku, mahasiswa Departemen Biologi ini juga terlibat dalam kegiatan BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di Universitas Negeri Malang.

    Melalui kegiatan tersebut, ia turut berperan dalam memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional.

    Stevanus Purbadirja, Mahasiswa Prestasi FMIPA UM Tahun 2026
    Stevanus Purbadirja, Mahasiswa Prestasi FMIPA UM Tahun 2026

    Partisipasinya dalam program BIPA menunjukkan komitmennya untuk memperluas penggunaan bahasa Indonesia di tingkat global sekaligus membangun jembatan komunikasi antarbudaya.

    Prestasi yang diraih Stevanus Purbadirja menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut untuk unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengembangkan potensi diri di berbagai bidang.

    Melalui penelitian, literasi, dan pengabdian, ia memperlihatkan bahwa semangat belajar dan berkarya dapat berjalan beriringan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    “Kita harus semangat mewujudkan Indonesia Emas 2045, Karena kita adalah masa depan bangsa dan kita harus menjadi pelopor dalam mewujudkan tujuan besar bangsa ini” ujar putra asal Pasuruan ini.

    Dengan berbagai capaian tersebut, Stevanus diharapkan dapat terus menginspirasi mahasiswa lain untuk berani berkarya, melakukan penelitian, serta berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan bangsa.

    Jika bukan dari kita sebagai seorang mahasiswa kapan kita bisa mencapai masa depan dunia.

  • NLR  Indonesia Gelar Lokakarya Pemantapan Peran Personal dan LSM Peduli Disabilitas di 3 Provinsi

    NLR Indonesia Gelar Lokakarya Pemantapan Peran Personal dan LSM Peduli Disabilitas di 3 Provinsi

    Lembaga donor NLR Indonesia yang didukung Liliane Foundation menggelar lokakarya bagi mitra SCN yang telah melalui masa transisi program hingga tahap input data calon penerima manfaat.

    Kegiatan ini berlangsung pada 10–13 Maret 2026 di tiga kota yang berada di tiga provinsi berbeda.

    Tiga kota yang menjadi lokasi penyelenggaraan lokakarya tersebut adalah Palu (Sulawesi Tengah), Kupang (Nusa Tenggara Timur), dan Jember (Jawa Timur).

    Untuk kegiatan di Jember, lokakarya diikuti oleh masing-masing tujuh peserta dari Kabupaten Jember yang akan menangani wilayah Arjasa, Silo, dan Ledokombo.

    Sementara itu, wilayah Besuki dan Bungatan menjadi tanggung jawab organisasi penyandang disabilitas (OPDis) Situbondo.

    Adapun LSM Rumah Literasi Indonesia dan Yayasan Aura Lentera Indonesia akan melakukan pendampingan bagi penyandang disabilitas serta anak dan remaja terdampak kusta berusia 1–24 tahun di Kecamatan Kalipuro dan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi.

    Materi lokakarya dirancang untuk memperkuat kapasitas pimpinan lembaga, officer program, bagian keuangan, serta tim Monitoring, Evaluation and Learning (MEL) dan koordinator lapangan Community Based Rehabilitation (CBR).

    Selain itu, peserta juga dibekali dengan pelatihan penyusunan proposal hingga penandatanganan kontrak kemitraan yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Maret ini.

    “Walau cuti Lebaran ke Ambon, kami tetap melakukan koreksi dan proses agar pada 1 April program sudah efektif berjalan dan segera berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk melakukan intervensi kepada penerima manfaat,” tutur fasilitator NLR, Nona, saat kegiatan berlangsung di Hotel Java Lotus Jember.

    Dalam kesempatan tersebut, Nella dan Anggun menyambut dengan senyum karena pihak donor menekankan pentingnya pemenuhan tenggat waktu, kelengkapan data, serta narasi pendukung program, tanpa melihat kondisi libur panjang atau tanggal merah.

    Selain sesi materi secara langsung, peserta di tiga kota juga mendapatkan bimbingan daring secara serentak dari narasumber Nurlia Wuliyanti dan Jasmine yang berada di kantor NLR Indonesia di Jakarta.

    Bimbingan tersebut memperkuat materi yang sebelumnya telah disampaikan melalui pertemuan daring pada pekan lalu.

    Beberapa materi utama yang dibahas dalam lokakarya ini antara lain Due Diligence, Standard Operating Procedure (SOP), timeline program, serta komitmen profesional yang menjunjung tinggi integritas dan etika kerja.

    Direktur Rumah Literasi Indonesia, Tunggul Harwanto, menyampaikan bahwa pertemuan teknis yang melibatkan mitra dari berbagai kota tersebut memberikan kesempatan untuk saling berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kesiapan dalam menjalankan program sosial kemanusiaan.

    “Dengan pertemuan teknis dan standar NLR yang melibatkan mitra dari kota lainnya, maka kita bisa berbagi pengalaman dan semakin mantap menjalankan program sosial kemanusiaan ini,” tuturnya.

    Hal senada juga disampaikan oleh Indah Catur Cahyaningtyas, Divisi Program Yayasan Aura Lentera Indonesia.

    Ia menjelaskan bahwa kearifan lokal dapat menjadi kekuatan dalam mendukung keberhasilan program bagi anak dan remaja difabel, termasuk bagi mereka yang berada di luar empat desa pilot project selama masih berada dalam kecamatan yang sama.

    “Harapannya, sinergi para pihak dapat menghindarkan ego sektoral dan memperkuat kolaborasi supertim untuk mencapai visi dan misi bersama yang telah dipelopori Bupati dan didukung kepala dinas,” ujar Indah.

    Indah sendiri merupakan istri Nurhadi Windoyo, yang pernah menjabat sebagai Ketua Pertuni serta memiliki pengalaman dalam pengelolaan komputer Braille.

    Sementara itu, Umar Asmoro, yang aktif di Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), mengungkapkan rasa syukur karena Banyuwangi mendapatkan tambahan program Body Talk Kesehatan Reproduksi yang dipimpin oleh program officer Agus Wahyu Nuryadi.

    Selain itu, terdapat pula program Pengembangan Potensi Remaja yang akan dikelola oleh para relawan Rumah Literasi Indonesia yang memiliki minat bergabung dengan Youth Center PKBI serta akan berkolaborasi bersama Forum Anak Banyuwangi, yang diwakili oleh Annisa Rahmawati.

  • BPBD Jatim Gelar Lokakarya Perkuat Peran ULD dalam Penanggulangan Bencana Inklusif

    BPBD Jatim Gelar Lokakarya Perkuat Peran ULD dalam Penanggulangan Bencana Inklusif

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Lokakarya Pembelajaran Unit Layanan Disabilitas (ULD) pada 11–12 Maret 2026 di Hotel Kampi Surabaya.

    Lokakarya tersebut mengangkat tema “Menyusun Perangkat dan Strategi Memperkuat Peran ULD PB dan Lembaga Disabilitas dalam Penanggulangan Bencana.”

    Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran Unit Layanan Disabilitas dalam mewujudkan sistem penanggulangan bencana yang inklusif di Provinsi Jawa Timur.

    Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai organisasi difabel serta pemangku kepentingan terkait.

    Melalui lokakarya ini, para peserta diharapkan dapat meningkatkan kapasitas ULD dalam memberikan edukasi serta dukungan kepada penyandang disabilitas yang terdampak bencana.

    Dalam sambutannya, Kepala BPBD Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Timur, Deni Kiki Melia Tamara, S.STP., M.Si, menekankan pentingnya sinergi antara ULD dan organisasi difabel untuk meningkatkan kesadaran serta kesiapsiagaan menghadapi bencana.

    Menurutnya, Jawa Timur memiliki banyak potensi ancaman bencana sehingga peran ULD menjadi sangat penting dalam memberikan edukasi kepada kelompok rentan.

    “Jawa Timur memiliki 14 jenis ancaman bencana, sehingga ULD harus dapat bersinergi dan mengimplementasikan program-program yang dapat memberikan edukasi dan dukungan kepada penyandang disabilitas,” ujarnya.

    Melalui lokakarya ini diharapkan kapasitas ULD semakin meningkat dalam memberikan layanan yang lebih baik bagi penyandang disabilitas yang terdampak bencana.

    Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendekatan inklusif dalam penanggulangan bencana.

    Penyelenggaraan lokakarya ini juga merujuk pada sejumlah regulasi yang menjadi dasar penguatan peran disabilitas dalam penanggulangan bencana.

    Salah satunya adalah Peraturan Kepala BNPB Nomor 14 Tahun 2014 tentang Penanganan, Perlindungan, dan Partisipasi Penyandang Disabilitas dalam Penanggulangan Bencana.

    Peraturan tersebut secara khusus mengatur pembentukan tugas dan fungsi ULD dalam penanggulangan bencana.

    Selain itu, kegiatan ini juga merujuk pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

    Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa penyandang disabilitas termasuk kelompok rentan dalam situasi bencana.

    Mereka sering menghadapi berbagai hambatan, seperti keterbatasan akses terhadap informasi, evakuasi, maupun layanan darurat, sehingga diperlukan sistem penanggulangan bencana yang lebih inklusif.

    Salah satu peserta dari Sidoarjo menyampaikan bahwa keberadaan ULD merupakan program yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh para difabel.

    Ia juga menjelaskan bahwa pengalaman mengikuti lokakarya Training of Trainer (TOT) serta program Siap Siaga telah memberikan bekal penting bagi para peserta untuk melakukan diseminasi pengetahuan.

    “Kami mendiseminasikan ke sekolah-sekolah yang mempunyai siswa berkebutuhan khusus untuk dilatih simulasi siaga kebencanaan bagi difabel,” ungkapnya.

    Sementara itu, peserta dari Yayasan Aura Lentera Indonesia Banyuwangi, Titis Anganten, S.Psi., S.Pd.LB, berharap ke depan dapat diselenggarakan lokakarya serupa yang juga melibatkan guru serta keluarga yang memiliki anggota keluarga difabel.

    Ia mengusulkan agar kegiatan tersebut dapat melibatkan BPBD, Dinas Pendidikan Provinsi di Banyuwangi, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

    Menurutnya, selama ini pelatihan kebencanaan masih bersifat umum, sehingga perlu adanya pendekatan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan penyandang disabilitas.

    “Selama ini pelatihan umum sifatnya, hendaknya ada kekhususan karena memang kebutuhan khusus,” tegas guru SLB Negeri penyandang tunanetra tersebut yang pernah mengalami banjir di rumahnya yang berada dekat Kantor Bupati Banyuwangi.

    Di tempat terpisah, tepatnya di Hotel Java Lotus Jember, Sekretaris Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Banyuwangi, Umar Asmoro, yang sedang mengikuti program BEN NLR Indonesia bersama penyandang disabilitas dari Jember dan Situbondo, juga menyampaikan pandangannya.

    Ia mengatakan bahwa Kabupaten Banyuwangi sebenarnya telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) serta Peraturan Bupati (Perbup) terkait Unit Layanan Disabilitas di bidang ketenagakerjaan dan pendidikan.

    Namun, menurutnya regulasi tersebut belum dijalankan secara efektif oleh dinas terkait sehingga manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh para difabel.

    “Ayo dalam rembug disabilitas mendatang lebih fokus mengoperasionalkan regulasi yang telah diperjuangkan dengan begitu penuh dinamika luar biasa,” harap staf ahli fraksi DPRD Banyuwangi tersebut.

    Umar Asmoro sendiri merupakan penyandang disabilitas akibat polio sejak kecil. Dalam aktivitas sehari-hari ia menggunakan alat bantu dua tongkat kruk serta sepeda motor modifikasi roda tiga.

  • KOPIWANGI dan Dispusip Banyuwangi Bahas Publikasi Ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi serta Pengajuan ISBN

    KOPIWANGI dan Dispusip Banyuwangi Bahas Publikasi Ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi serta Pengajuan ISBN

    Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Andi Budi Setiawan, melakukan kunjungan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Banyuwangi, Selasa (10/03/2026).

    Kunjungan tersebut dilakukan untuk menjalin kerja sama sekaligus membahas publikasi ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi (Antologi Pantun Basa Using) yang telah dirilis melalui platform ebookbanyuwangi.

    Andi Budi Setiawan tiba di kantor Dispusip Banyuwangi sekitar pukul 10.00 WIB.

    Ia disambut oleh Yusup Khoiri, S.STP, selaku Pustakawan Ahli Madya, di ruang kerjanya untuk berdiskusi mengenai pengembangan literasi daerah.

    Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah membahas publikasi ebook Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi (Antologi Pantun Basa Using) yang sudah tersedia di laman resmi Dispusip Banyuwangi.

    Ebook tersebut dapat diakses masyarakat melalui platform digital perpustakaan daerah. (https://ebookbanyuwangi.id/book/tandang-bareng-mbangun-banyuwangi-antologi-pantun-basa-using/)

    Selain publikasi digital, Dispusip Banyuwangi juga berencana mengajukan ISBN untuk karya tersebut ke Perpustakaan Nasional.

    Langkah ini dilakukan agar antologi pantun tersebut tercatat secara resmi sebagai koleksi karya sastra yang mengangkat kearifan lokal Banyuwangi, khususnya pantun berbahasa Using.

    Antologi Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi memuat 48 pantun karya 34 penulis dari berbagai latar belakang.

    Para penulis berasal dari anggota KOPIWANGI, guru bahasa Using, hingga pegiat literasi yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya daerah.

    Keragaman penulis tersebut menjadi kekuatan utama dalam antologi ini. Karya-karya yang terhimpun menunjukkan bahwa bahasa Using tetap hidup dan dirawat bersama oleh berbagai kalangan lintas generasi dan profesi.

    Secara tematik, pantun-pantun dalam antologi ini mengangkat kearifan lokal Banyuwangi melalui lima subtema utama.

    Subtema tersebut meliputi seni dan pertunjukan, ritual dan tradisi, arsitektur dan tata ruang, kuliner dan pangan, serta hubungan manusia dan alam.

    Melalui tema-tema tersebut, antologi ini merekam potret Banyuwangi secara utuh. Tidak hanya menggambarkan kekayaan seni dan tradisi adat, tetapi juga menampilkan lanskap alam serta ragam kuliner khas daerah.

    Dalam kesempatan itu, Yusup Khoiri menjelaskan bahwa tidak semua karya tulis dapat diajukan untuk mendapatkan ISBN dari Perpustakaan Nasional.

    Menurutnya, terdapat sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi oleh sebuah karya sebelum diajukan secara resmi.

    “Karya yang bisa diajukan ISBN, baik dalam bentuk PDF maupun cetak, harus sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional. Karya tulis yang merupakan produk pembelajaran tidak bisa diajukan ISBN.

    Jika karya tidak memenuhi syarat tersebut, maka bisa dipublikasikan melalui platform ebookbanyuwangi,” jelas Yusup Khoiri.

    Sementara itu, Andi Budi Setiawan menyampaikan bahwa Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi merupakan ebook ketiga yang dirilis oleh Dispusip Banyuwangi.

    Sebelumnya, Dispusip telah menerbitkan dua antologi lain yang juga melibatkan pegiat literasi daerah.

    “Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi merupakan ebook ketiga yang dirilis Dispusip Banyuwangi. Sebelumnya ada Marhaban Ya Ramadan, antologi pantun, puisi, dan quote Ramadan, serta Sajak Merah Putih, antologi puisi bertema pahlawan,” ujar Andi.

    Dispusip Banyuwangi juga mendorong keterlibatan aktif komunitas literasi dalam menghasilkan karya tulis.

    Keterlibatan tersebut diharapkan dapat memperkaya khazanah literasi lokal sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap karya-karya kreatif daerah.

    Langkah ini sejalan dengan visi KOPIWANGI yang mengusung semangat bergerak bersama memajukan literasi Banyuwangi.

    Kolaborasi antara komunitas literasi dan lembaga pemerintah menjadi salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutan budaya melalui karya tulis.

    Melalui inisiatif ini, masyarakat Banyuwangi diharapkan semakin terdorong untuk membaca, menulis, dan mendokumentasikan kekayaan budaya daerah.

    Karena itu, dukungan publik sangat penting agar gerakan literasi terus tumbuh dan memberi dampak luas bagi generasi mendatang.

  • Jurnalis SMK Models Gelar Ngabuburead Produktif, Bahas Literasi sebagai Nutrisi Ruhani

    Jurnalis SMK Models Gelar Ngabuburead Produktif, Bahas Literasi sebagai Nutrisi Ruhani

    Ekstrakurikuler Jurnalis SMK Models (Mojoer Media) menggelar kegiatan Ngabuburead Produktif secara daring pada Selasa, 10 Maret 2026.

    Kegiatan yang dilaksanakan dalam suasana Ramadan ini menghadirkan Maulana Affandi, S.S. sebagai pemateri dengan tema “Literasi sebagai Nutrisi Ruhani.”

    Acara yang dipandu oleh Aurelia Clarista Putri ini menjadi ruang belajar bagi para siswa untuk memanfaatkan waktu menjelang berbuka puasa dengan aktivitas yang bermanfaat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran literasi di kalangan pelajar.

    Dalam pemaparannya, Affandi menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan dasar yang saling berkaitan, yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan intelektual, dan kebutuhan batin. Menurutnya, ketiga kebutuhan tersebut perlu dipenuhi secara seimbang.

    Ia merumuskan gagasan itu dalam tiga kunci sederhana, yakni fisik yang lapar membutuhkan makanan, pikiran yang lapar membutuhkan pengetahuan, sementara jiwa yang kosong memerlukan literasi sebagai nutrisi ruhani.

    ngabuburead produktif smk models

    Affandi menjelaskan bahwa literasi tidak sekadar aktivitas membaca dan menulis, tetapi merupakan proses memperkaya batin melalui perjumpaan dengan berbagai gagasan, pengalaman, serta nilai kehidupan yang tertuang dalam teks.

    Menurutnya, melalui kegiatan membaca seseorang dapat bertemu dengan berbagai gagasan dan cara pandang yang disampaikan penulis melalui karya.

    Dari proses tersebut, seseorang tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga memperluas cara pandang terhadap kehidupan.

    Ia juga menegaskan bahwa kebijaksanaan lahir dari literasi. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan gagasan melalui membaca, maka semakin luas pula perspektif yang dimilikinya.

    “Literasi itu bukan hanya soal baca tulis. Literasi adalah proses bertemunya gagasan. Dari sanalah seseorang belajar memahami banyak sudut pandang hingga akhirnya melahirkan kebijaksanaan,” jelasnya.

    Karena itu, ia menilai bahwa tingkat literasi seseorang sangat memengaruhi cara berpikir dan sikap dalam menghadapi persoalan kehidupan.

    Orang yang terbiasa membaca dan berpikir kritis cenderung lebih mampu melihat masalah secara jernih serta mengambil keputusan dengan lebih bijaksana.

    Kegiatan Ngabuburead Produktif tersebut berlangsung interaktif. Para peserta diajak aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta menyampaikan pandangan mereka terkait literasi dan kebiasaan membaca di kalangan pelajar.

    Beberapa siswa seperti Dirly dan Novan turut menyampaikan pendapat serta pengalaman mereka dalam membangun kebiasaan membaca di tengah aktivitas sekolah.

    Salah satu peserta mengaku kegiatan ini memberikan perspektif baru tentang pentingnya membaca.

    “Materinya membuat saya sadar bahwa membaca itu bukan hanya untuk tugas sekolah, tetapi juga untuk memperluas cara berpikir kita,” ujarnya.

    Di akhir sesi, Affandi juga menekankan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

    Dengan literasi yang kuat, pelajar tidak hanya menjadi pembaca informasi, tetapi juga mampu menjadi penghasil gagasan.

    Suksesnya kegiatan Ngabuburead Produktif ini juga tidak lepas dari peran pembina Mojoer Media, Cici Arista Devi, S.Pd., yang memberikan dukungan serta memfasilitasi para siswa sehingga kegiatan literasi tersebut dapat terselenggara dengan baik.

    Kegiatan Ngabuburead Produktif ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat membaca dan menulis di kalangan siswa SMK Models, sekaligus menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat kualitas intelektual dan spiritual melalui literasi.

  • FIBA Rilis Komik La Valise d’Eliane, Kisahkan Perjalanan Pebasket Swiss di Piala Dunia 1953

    FIBA Rilis Komik La Valise d’Eliane, Kisahkan Perjalanan Pebasket Swiss di Piala Dunia 1953

    Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) merilis komik berjudul La Valise d’Eliane yang mengangkat kisah perjalanan pebasket asal Swiss, Eliane Girod, saat mengikuti Piala Dunia Bola Basket Putri 1953 (FIBA Women’s Basketball World Cup 1953).

    Laman resmi FIBA, Senin, menyebutkan komik tersebut diluncurkan bertepatan dengan peringatan International Women’s Day pada 8 Maret.

    Peluncuran ini menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah edisi pertama Piala Dunia Bola Basket Putri yang digelar di Santiago, Chile pada 1953.

    Momentum penerbitan komik itu juga memiliki makna khusus. Tanggal 7 Maret merupakan hari dimulainya turnamen tersebut sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahun ke-100 Eliane Girod pada tahun 2026.

    FIBA menyebutkan bahwa cerita dalam komik tersebut terinspirasi dari catatan harian yang ditulis Girod selama mengikuti turnamen bersejarah tersebut.

    Pada masanya, Girod dikenal sebagai pemain klub bola basket asal Swiss, Chene-Bougeries. Klub tersebut mendominasi kompetisi domestik dengan meraih 13 gelar juara nasional secara beruntun dalam periode 1942 hingga 1954.

    Selain berprestasi di level klub, Girod juga pernah memperkuat tim nasional Swiss.

    Ia menjadi satu dari tiga pemain Chene-Bougeries yang membela negaranya pada ajang FIBA Women’s EuroBasket 1952, setahun sebelum tampil di Piala Dunia Bola Basket Putri 1953.

    Sekitar tujuh dekade kemudian, berbagai kenangan perjalanan Girod kembali ditemukan

    Dengan dukungan keluarganya, termasuk putrinya Corinne Dahan dan cucunya Joachim Dahan, serta mantan rekan setim seperti Claudine Clot dan Yvonne Cotier, sejumlah memorabilia berhasil dikumpulkan.

    Di antara koleksi tersebut terdapat buku harian yang ditulis Girod selama mengikuti turnamen.

    Seluruh memorabilia itu kemudian disumbangkan kepada FIBA Foundation sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah bola basket putri.

    Komik La Valise d’Eliane menggambarkan perjalanan panjang para pemain menuju lokasi turnamen.

    Mereka menempuh rute dari Geneva ke Paris, lalu melanjutkan perjalanan ke Lisbon, Dakar, Rio de Janeiro, hingga akhirnya tiba di Santiago.

    Cerita tersebut juga menyoroti perjuangan para atlet perempuan yang harus menghadapi berbagai stereotip sosial dan budaya pada masa ketika dunia olahraga masih sangat didominasi oleh laki-laki.

    Komik ini ditulis oleh Jacobo Rivero dengan ilustrasi karya Raulowsky.

    Saat ini, La Valise d’Eliane telah tersedia di sejumlah toko buku di Swiss dan Prancis, serta dapat dipesan secara daring melalui situs penerbit Livreo-Alphil.

  • Pemerintah Targetkan 500 Sekolah Terintegrasi Beroperasi pada 2026

    Pemerintah Targetkan 500 Sekolah Terintegrasi Beroperasi pada 2026

    Pemerintah menyiapkan pelaksanaan Program Sekolah Terintegrasi yang akan mulai digulirkan tahun ini dengan target menjangkau 500 sekolah di berbagai daerah.

    Program ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan mutu pendidikan sekaligus memperluas pemerataan layanan pendidikan di Indonesia.

    “Program Sekolah Terintegrasi menargetkan 500 sekolah pada tahun 2026,” kata Kepala Kantor Staf Kepresidenan M. Qodari dalam keterangannya di Jakarta, dilansir dari Antara, Senin, 9 Maret 2026.

    Ia menjelaskan bahwa program yang dikoordinasikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tersebut dirancang untuk menghadirkan sistem layanan pendidikan yang lebih terpadu melalui pengelolaan yang terkoordinasi.

    “Program ini bertujuan mengintegrasikan layanan pendidikan agar lebih efektif dan mampu mempercepat peningkatan kualitas pendidikan sekaligus memperluas pemerataan akses bagi masyarakat,” ujar Qodari.

    Program Sekolah Terintegrasi merupakan model pendidikan satu atap yang menggabungkan jenjang PAUD hingga SMA/SMK dalam satu kawasan dan manajemen.

    Konsep ini dirancang untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan, terutama bagi siswa dari keluarga prasejahtera.

    Selain menyatukan jenjang pendidikan dalam satu lingkungan, konsep ini juga menekankan integrasi fasilitas pendidikan, kesinambungan kurikulum, serta pengembangan sarana vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

    Qodari juga menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan dasar hukum untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.

    “Landasan hukum sedang disiapkan dalam bentuk Instruksi Presiden,” kata dia.

    Dari sisi pembiayaan, pemerintah menyiapkan dukungan anggaran yang cukup besar untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.

    Menurut Qodari, pemerintah telah mengalokasikan dana sekitar Rp60 triliun melalui skema Anggaran Biaya Tambahan (ABT) untuk menjalankan program Sekolah Terintegrasi.

    Ia menambahkan bahwa implementasi program akan dilakukan secara bertahap dengan kebijakan yang terpusat, sambil menyesuaikan kesiapan regulasi serta kondisi pelaksanaan di lapangan.

    “Pemerintah memastikan arah kebijakan tetap konsisten dengan target nasional untuk memperkuat tata kelola pendidikan dan menghadirkan sistem pendidikan yang lebih terintegrasi,” kata dia.

    Melalui program ini, pemerintah berharap transformasi tata kelola pendidikan dapat berjalan lebih efektif sehingga kualitas pendidikan nasional meningkat dan akses pendidikan yang layak dapat dinikmati masyarakat secara lebih merata di berbagai daerah.

    Sumber: metro

  • Guru SDN 12 Tanah Garam Tuntaskan Khatam Al-Qur’an, Program ODOJ Tetap Jalan di Tengah Aktivitas Sekolah

    Guru SDN 12 Tanah Garam Tuntaskan Khatam Al-Qur’an, Program ODOJ Tetap Jalan di Tengah Aktivitas Sekolah

    Program One Day One Juz (ODOJ) yang dicanangkan Pemerintah Kota Solok mulai menunjukkan implementasi nyata di lingkungan sekolah.

    Salah satu contoh datang dari SDN 12 Tanah Garam, di mana sejumlah guru bersama kepala sekolah berhasil menuntaskan khatam Al-Qur’an dalam waktu 16 hari.

    Program tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap visi Wali Kota Solok, H. Ramadhani Kirana Putra, yang ingin memperkuat identitas Kota Solok sebagai “Kota Serambi Madinah” melalui penguatan nilai-nilai spiritual di kalangan aparatur sipil negara (ASN) maupun masyarakat.

    Meski disibukkan dengan aktivitas belajar mengajar, para tenaga pendidik di SDN 12 Tanah Garam tetap menjaga komitmen untuk menjalankan program membaca Al-Qur’an setiap hari.

    Kepala sekolah Bambang Suryanto tercatat menuntaskan 30 juz atau satu kali khatam selama periode tersebut. Sementara salah satu guru, Burlian Ahmadi, bahkan berhasil membaca 60 juz atau dua kali khatam dalam kurun waktu yang sama.

    Kepala SDN 12 Tanah Garam, Bambang Suryanto, mengatakan program ODOJ tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sarana membangun karakter spiritual para pendidik.

    “Program One Day One Juz menjadi pengingat bagi kami di tengah kesibukan aktivitas sekolah agar tetap meluangkan waktu membaca Al-Qur’an. Kebiasaan ini memberikan ketenangan batin dan membantu kami lebih fokus dalam menjalankan tugas mendidik siswa,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa kebiasaan membaca Al-Qur’an secara konsisten juga berkontribusi dalam membentuk kedisiplinan serta menjaga integritas para guru dalam menjalankan peran sebagai pendidik dan abdi negara.

    Pihak sekolah juga menyampaikan apresiasi terhadap program yang diinisiasi Pemerintah Kota Solok tersebut.

    Menurut mereka, program ini mampu menghadirkan suasana kerja yang lebih religius sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual di lingkungan pendidikan.

    Keberhasilan SDN 12 Tanah Garam menjalankan program ODOJ diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah maupun lembaga pendidikan lain di Kota Solok untuk membudayakan membaca Al-Qur’an sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

    Sumber: solokkota.go.id

  • Revitalisasi 30 Sekolah di Pidie Jaya, Mendikdasmen Kucurkan Anggaran Rp19,5 Miliar

    Revitalisasi 30 Sekolah di Pidie Jaya, Mendikdasmen Kucurkan Anggaran Rp19,5 Miliar

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mufti menyampaikan bahwa pemerintah pusat mengalokasikan anggaran sekitar Rp19,5 miliar untuk program revitalisasi sekolah di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

    Pernyataan tersebut disampaikan saat ia melakukan kunjungan kerja sekaligus meninjau sejumlah sekolah yang menjadi penerima bantuan revitalisasi di wilayah tersebut pada Senin (9/3/2025).

    “Untuk Pidie Jaya ada 30 sekolah yang menerima program revitalisasi tahun 2025 dengan nilai sekitar Rp19,5 miliar,” kata Abdul Mufti kepada wartawan.

    Ia menjelaskan, puluhan sekolah yang mendapatkan program tersebut berasal dari berbagai jenjang pendidikan. Rinciannya meliputi 3 PAUD, 16 SD, 4 SMP, 5 SMA, serta 2 SMK.

    Program revitalisasi ini, menurutnya, merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk memperbaiki kualitas sarana pendidikan sekaligus mempercepat pemulihan fasilitas sekolah yang terdampak bencana di wilayah tersebut.

    Selain pembangunan dan perbaikan gedung sekolah, pemerintah juga menyalurkan berbagai bantuan penunjang kegiatan belajar mengajar. Bantuan tersebut meliputi perangkat komputer, buku pelajaran, hingga perlengkapan sekolah bagi siswa.

    “Sekolah-sekolah ini selain mendapatkan bantuan revitalisasi juga menerima bantuan peralatan, seperti komputer dan buku-buku,” ujarnya.

    Abdul Mufti juga menyebutkan bahwa program revitalisasi sekolah di Pidie Jaya masih akan berlanjut pada tahun berikutnya. Saat ini, rencana program untuk tahun 2026 masih dalam tahap proses perencanaan.

    “Untuk 2026 masih on progress, nilai anggarannya masih dalam proses perhitungan,” katanya.

    Dalam kunjungan tersebut, Mendikdasmen meninjau sejumlah sekolah penerima program, di antaranya TK Negeri Malahayati, SD Negeri 8 Meureudu, serta SMA Negeri 2 Meurah Dua yang berada di Gampong Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua.

    Di SMA Negeri 2 Meurah Dua, ia juga meresmikan enam ruang kelas darurat yang digunakan sementara oleh siswa untuk kegiatan belajar mengajar sambil menunggu pembangunan gedung sekolah permanen selesai.

    Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin mengungkapkan bahwa jumlah satuan pendidikan di Aceh yang masuk dalam program revitalisasi cukup besar.

    Ia menyebutkan terdapat 2.173 satuan pendidikan yang akan mendapatkan program revitalisasi, terdiri dari 1.010 PAUD, 929 SD, 115 SMP, 119 SMA, serta 99 SMK. Total nilai program tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp1,4 triliun.

    “Perhatian Kementerian Pendidikan untuk Aceh cukup besar karena kebutuhan pembangunan pendidikan di daerah ini masih tinggi,” ujarnya.

    Sementara itu, Bupati Pidie Jaya Sibral Malasy menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan terhadap pembangunan pendidikan di daerahnya, terutama setelah wilayah tersebut terdampak bencana banjir bandang.

    “Kami berterima kasih atas kehadiran pemerintah pusat dan perhatian terhadap Pidie Jaya, khususnya di sektor pendidikan. Ini sangat berarti bagi kami,” katanya.

    Ia berharap berbagai program pembangunan yang digulirkan pemerintah dapat terus memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus mendorong kemajuan sektor pendidikan di daerah.

    Setelah meninjau sejumlah sekolah, Mendikdasmen bersama rombongan juga mengunjungi SMA Negeri 1 Meureudu.

    Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mufti melakukan penandatanganan 29 prasasti revitalisasi satuan pendidikan dari berbagai jenjang, mulai PAUD hingga SMA di Kabupaten Pidie Jaya.

    Penandatanganan prasasti itu turut didampingi Kepala Dinas Pendidikan Aceh serta Bupati Pidie Jaya.

    Rangkaian kunjungan kerja Mendikdasmen di Pidie Jaya kemudian ditutup dengan kegiatan buka puasa bersama jajaran pemerintah daerah, unsur pendidikan, dan para siswa.

    Sumber: waspadaaceh

  • Revitalisasi 60 Sekolah di Madura, Pemprov Jatim Dukung Program Mama Mau Naik Kelas

    Revitalisasi 60 Sekolah di Madura, Pemprov Jatim Dukung Program Mama Mau Naik Kelas

    Pemerintah Provinsi Jawa Timur merevitalisasi 60 satuan pendidikan di Pulau Madura sebagai bagian dari penguatan program Mama Mau Naik Kelas/Madura Maju, Madura Unggul yang digagas Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

    Program ini menyasar berbagai jenjang pendidikan menengah dan pendidikan khusus di empat kabupaten di Madura.

    Di Kabupaten Sampang sendiri, sejumlah sekolah juga masuk dalam daftar prioritas revitalisasi.

    “Dari 60 sekolah yang menjadi sasaran revitalisasi ini, di antaranya 7 SMA, 5 SMK, dan 3 SLB berada di Kabupaten Sampang,” kata Bupati Sampang Slamet Junaidi di sela acara safari Ramadhan di Sampang, Jawa Timur, Senin (9/3).

    Menurutnya, inisiatif yang digagas Gubernur Khofifah tersebut menjadi bagian dari upaya strategis untuk mempercepat peningkatan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat sumber daya manusia (SDM) di wilayah Madura.

    Ia menjelaskan, program Mama Mau Naik Kelas dirancang tidak sekadar sebagai jargon pembangunan, tetapi sebagai gerakan nyata untuk mendorong Madura memiliki keunggulan di bidang pendidikan.

    “Menurut pandangan gubernur, kemajuan suatu daerah bukan hanya diukur melalui parameter global, seperti penurunan angka kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, kualitas layanan kesehatan, serta mutu pendidikan yang berdaya saing. Program ini bukan juga untuk mengukur maju atau tidak maju, namun ada kemajuan yang diukur oleh dunia Mama Mau Naik Kelas, Madura maju Madura unggul berarti punya keunggulan kompetitif dan komparatif,” kata bupati.

    Selain pembangunan sarana pendidikan, program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan literasi siswa serta memperluas peluang lulusan SMA dan SMK di Madura agar dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

    Untuk mendukung target tersebut, sejumlah langkah disiapkan. Di antaranya penunjukan 12 SMA Negeri sebagai sekolah percontohan, pemetaan potensi siswa yang akan mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), serta penguatan pembelajaran bagi siswa yang akan mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).

    Penguatan akademik dilakukan melalui intensifikasi materi persiapan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), termasuk pelaksanaan asesmen dan try out secara berkala yang disertai analisis hasil untuk meningkatkan kesiapan siswa menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

    Gubernur Khofifah juga mendorong para kepala sekolah di wilayah Madura untuk bersama-sama meningkatkan capaian siswa yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.

    Sebagai bentuk dukungan, pemerintah provinsi menyiapkan skema penghargaan berupa tambahan revitalisasi infrastruktur bagi sekolah yang mampu meningkatkan jumlah kelulusan siswa melalui jalur UTBK maupun SNBT dibandingkan tahun sebelumnya.

    Program Mama Mau Naik Kelas sendiri telah dicanangkan oleh Gubernur Jawa Timur pada 5 Maret 2026, bersamaan dengan pelaksanaan revitalisasi dan rehabilitasi sarana prasarana di 60 sekolah di wilayah Madura.

    Melalui perbaikan fasilitas pendidikan tersebut, pemerintah berharap lingkungan belajar menjadi lebih aman, nyaman, dan layak sehingga mampu menunjang peningkatan kualitas pembelajaran.

    “Peningkatan mutu pendidikan harus dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan pendidikan, para siswa dan guru merasa nyaman dalam proses transfer ilmu, maksimal dan optimal didukung dengan fasilitas penunjang yang komprehensif,” kata gubernur

    Khofifah juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah pusat untuk mempercepat pembangunan sumber daya manusia di Madura.

    Menurutnya, sinergi yang kuat antarlevel pemerintahan menjadi kunci agar transformasi pendidikan di wilayah Madura dapat berjalan secara maksimal.

    Sumber: Antara