Blog

  • Bimtek Pokja Desa Sehat Digelar di Srono dan Cluring, Camat Tekankan Pentingnya Dokumentasi dan Sinergi

    Bimtek Pokja Desa Sehat Digelar di Srono dan Cluring, Camat Tekankan Pentingnya Dokumentasi dan Sinergi

    Camat Srono yang sekaligus menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Camat Cluring, Ir. Tri Wahyu Angembani secara resmi membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Kelembagaan Pokja Desa Sehat pada Kamis (12/06/2025).

    Kegiatan ini dilaksanakan di dua lokasi, yakni pagi hari di aula Kecamatan Srono dan siangnya di Kecamatan Cluring, dengan menghadirkan fasilitator dari Forum Banyuwangi Sehat (FBS).

    Dalam sambutannya, Ir. Tri Wahyu Angembani menyampaikan bahwa pada dasarnya seluruh program desa sehat telah berjalan dengan baik.

    Para aparat dan kader sudah aktif bergerak. Namun, ia menekankan perlunya peningkatan dalam hal dokumentasi dan pengarsipan yang seringkali belum dilakukan secara rapi dan terstruktur sesuai timeline.

    “Mung kadang luput didokumentasikan dengan timeline dan pengarsipan ndak rapi. Dan sebagai gerakan boleh dapat partisipasi CSR atau sumbangan tak mengikat yang bila bentuk makanan atau barang hendaknya dicatat dalam nilai rupiah!” tutur sosok perempuan energik yang juga dikenal sebagai ahli investasi dan penanaman modal. Ia merupakan teman semasa SMPP ’86 dari Wakil Bupati Ir. H. Mujiono, M.Si.

    Pejabat yang akan memasuki masa purna tugas di akhir tahun ini juga berharap agar seluruh pemangku kepentingan di bidang kesehatan desa dapat mengikuti bimtek ini secara seksama.

    Hal ini bertujuan agar masing-masing desa mampu mengirimkan data yang valid serta melakukan sinkronisasi program dengan semangat kolaborasi.

    Ia pun mengimbau agar para peserta membawa laptop untuk mendukung proses pelatihan yang lebih efektif.

    Ia menambahkan, apabila Banyuwangi berhasil meraih penghargaan Swasti Saba Wistara, hal tersebut tentu akan berdampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan, minat investor dalam menanamkan modal, serta mewujudkan masyarakat yang sentosa.

    Dari pihak Forum Banyuwangi Sehat (FBS), Desika Ulfarisa menjelaskan bahwa inti dari kelembagaan Pokja Desa Sehat mencakup lima hal utama, yakni Surat Keputusan (SK) pengurus, program kerja, laporan keuangan, sekretariat tetap, dan dokumentasi kegiatan.

    Penjelasan tersebut dilengkapi oleh Pipit Haryono yang turut membagikan link drive berisi panduan teknis, didampingi oleh Forum Komunikasi Kecamatan Sehat: M. Harun di Kecamatan Srono dan Imam di Kecamatan Cluring.

    Ditekankan bahwa pada bulan depan, laporan setengah semester tahun 2025 diharapkan sudah dapat disusun secara mandiri oleh masing-masing desa dengan mengedepankan kearifan lokal.

    Dari divisi TP PKK yang tergabung dalam FBS, Dewi Anggorowati menjelaskan bahwa penilaian Kabupaten Sehat meliputi sembilan tatanan, ditambah aspek kelembagaan yang kini menjadi perhatian utama.

    “Mari semangat tanpa perlu dioprak dengan injuri time, sudah bisa dicicil sesuai data dan fakta!” harapnya di hadapan peserta yang terdiri dari Kasie Kesra, Pokja Desa Sehat, kader PKK, Posyandu, dan KPM Rumah Desa Sehat.

    Ia juga mengingatkan agar sepulang dari Bimtek, seluruh peserta segera melakukan koordinasi dengan bagian perencanaan, sekretaris desa, serta pemangku kepentingan di bidang kesehatan guna menindaklanjuti materi yang telah diterima.

    Dalam sesi diskusi, terungkap berbagai keluhan dan kebingungan yang sering ditemui di lapangan.

    Namun, peserta mengaku merasa lebih lega dan tercerahkan setelah mengikuti bimtek, karena pada dasarnya sebagian besar program dan kegiatan tersebut telah dijalankan.

    Melalui pelatihan ini, terbentuk kesamaan persepsi mengenai tujuan bersama yaitu mewujudkan masyarakat yang sehat, sejahtera, aman, asri, bersih, dan bahagia.

    Kehangatan dan antusiasme peserta turut terlihat dari senyuman Kasie PMK Kecamatan Srono, Imam Basori, dan Kasie PMK Kecamatan Cluring, Arif, yang juga hadir sebagai penasehat bersama Sekretaris Camat.

    Sementara itu, PLKB Cluring, Syaiful Bahri yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Forum Komunikasi Kesehatan Sekolah (FKKS) di Sempu, menyampaikan bahwa mulai tahun ini diharapkan adanya dokumen valid yang dapat menjadi acuan utama bagi para pengambil kebijakan.

    Ia mengakui bahwa proses pembelajaran terkadang terasa tumpang tindih, namun menjadi lebih ringan dan menyenangkan karena dijalani bersama dengan semangat gotong royong untuk kepentingan bersama, sesuai amanat dan tanggung jawab masing-masing pihak.

  • Kolaborasi Pokja dan Rumah Desa Sehat di Blimbingsari Hadirkan Sinergi Baru bagi Pembangunan Kesehatan Masyarakat

    Kolaborasi Pokja dan Rumah Desa Sehat di Blimbingsari Hadirkan Sinergi Baru bagi Pembangunan Kesehatan Masyarakat

    Forum Komunikasi Kecamatan Sehat (FKKS) Blimbingsari mempertemukan dua lembaga yang sama penting dan berbasis pada tema kesehatan, namun di lapangan terasa berjalan sendiri-sendiri.

    Kedua lembaga tersebut adalah Pokja Desa Sehat yang dimotori oleh Kementerian Kesehatan dan Bappenas, serta Rumah Desa Sehat (RDS) yang diinisiasi oleh Kementerian Desa.

    Keduanya juga memiliki regulasi bersama dari Kementerian Dalam Negeri yang melibatkan Gubernur, Bupati/Wali Kota, serta Camat, dengan sasaran yang sama yaitu melibatkan Kepala Desa dan masyarakat.

    Di lapangan, terdapat pihak-pihak lain yang juga bergerak dalam bidang yang sama, seperti PKK (khususnya Pokja IV PKK) serta Bidan Wilayah/Bidan Desa dari Puskesmas, sehingga terkadang tumpang tindih dan terkesan ego-sentris.

    Bertempat di Balai Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, telah dilaksanakan serangkaian sosialisasi pembangunan sumber daya manusia dan lingkungan yang menghadirkan pengurus PKK, Pokja Desa Sehat, serta kader RDS dari 10 desa.

    Plt. Camat Blimbingsari, H. Khoirul Anam, dalam sambutannya menyampaikan betapa pentingnya kolaborasi dan komunikasi antar pemerintahan desa untuk pengembangan sumber daya manusia.

    “Kolaborasi dan komunikasi antar pemerintahan desa di tingkat desa sangat menyokong tumbuh kembangnya pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya. Untuk itu, diharapkan kader desa dapat menjadi jembatan antar program pemerintah yang sesungguhnya saling mendukung untuk kepentingan desa itu sendiri, yang misinya adalah masyarakat sehat, nyaman, aman, sejahtera, dan bahagia!” tuturnya.

    Ia juga berpesan agar semua pihak menjaga kebersihan lingkungan, termasuk mengawasi MCK di sungai karena Kabupaten Banyuwangi telah mendeklarasikan 100% ODF (Open Defecation Free).

    Plt. Camat yang kini menempati kantor baru di kawasan Pantai Pecemengan ini juga menyampaikan sejumlah prestasi tematik desa-desa di Kecamatan Blimbingsari.

    Di antaranya Desa Sukojati sebagai Desa Anti Korupsi, Desa Patoman sebagai Desa/Kampung Pancasila dan Kampung Kebangsaan, Gintangan yang akan menerima tamu studi banding UMKM kerajinan bambu dan gula kelapa, serta Desa Karangrejo yang baru saja menjuarai lomba Perpustakaan Desa dan Rumah Desa Sehat.

    “Dan Desa Bomo sendiri maju ke tingkat nasional atas kinerja zero stunting. Mohon doa restunya!” tambahnya seraya disambut tepuk tangan para hadirin.

    Sementara itu, Kepala Desa Bomo, Ir. M. Sutikno, dalam sambutan selamat datangnya juga mendoakan agar H. Khoirul Anam dapat segera menjadi Camat definitif karena simpati dan kinerjanya yang baik.

    Sekretaris FKKS Blimbingsari yang juga Kasie PMK Kecamatan Blimbingsari, Abdul Aziz, S.H., M.H., selaku moderator mempersilakan narasumber pertama, Aguk Wahyu Nuryadi dari Forum Banyuwangi Sehat.

    Ia mengapresiasi pertemuan yang mempertemukan Forum Banyuwangi Sehat (FBS) dengan DPMD Kabupaten Banyuwangi yang selama ini memiliki program RDS yang masih dipertanyakan di semua kecamatan.

    Kini, telah ditemukan titik temu yang bisa menjadi inspirasi bagi kecamatan lainnya.

    Narasumber kedua, Novita Eka Herawati, S.AP., Fungsional Penggerak Swadaya Masyarakat Bidang Pemberdayaan Kelembagaan Masyarakat dan Sosial Budaya DPMD, dalam paparannya menyampaikan bahwa Rumah Desa Sehat merupakan rumah bersama semua kelembagaan kesehatan dan menjadi pintu untuk mengumpulkan data, dokumen, hingga menjadi sarana advokasi yang menjadi rekomendasi bagi pemegang kebijakan dalam mengambil keputusan.

    “Semua penting dan semua harus dirangkul dengan semangat gotong royong. Saat banyak FKKS dan Pokja Desa Sehat bertanya soal isian data FBS, saya menghubungi kader RDS untuk sinergi. Maka camat bisa tenang saat ada forum di Bappeda. Saya juga menunggu undangan dari camat atau FKKS soal kolaborasi ini. Baru Blimbingsari yang mengawali langkah untuk duduk bersama menyamakan persepsi dan mimpi bersama ini!” tutur.

    KTU Puskesmas, Tuti Lestari A. Jd. Keb., juga menyambut baik pertemuan ini.

    “Maka narasi dan potret timeline bidan desa bisa digunakan untuk mendukung Pokja dan RDS. Kita bisa bersama-sama dalam satu rumah, satu WAG, untuk membuat data tunggal yang nantinya akan dipilah oleh pengurus harian RDS. Mereka punya komputer dan printer, lalu data akan diolah oleh Kasie PMK Kecamatan ataupun pengurus FKKS,” tutur pembina RDS Desa Karangrejo yang siap melangkah ke tingkat provinsi.

    Selesai dialog, peserta masih melanjutkan diskusi. Harapan moderator, kegiatan ini tidak hanya berhenti di administratif saja, tetapi juga bisa berjalan sesuai harapan dalam pelaksanaannya di lapangan.

    Sementara itu, Camat bersama Kepala Desa dan BPD Bomo melakukan kunjungan dan memberikan tali asih kepada warga Dusun Kedunen yang semalam tertimpa musibah kebakaran.

  • Universitas Jember Latih Guru TK Banyuwangi Kembangkan Media Budaya Osing dengan Memanfaatkan AI

    Universitas Jember Latih Guru TK Banyuwangi Kembangkan Media Budaya Osing dengan Memanfaatkan AI

    Dalam upaya mendorong pelestarian budaya lokal sejak dini, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Jember melaksanakan kegiatan pelatihan bertema “Pengembangan Media Pembelajaran Budaya Osing Berbasis Artificial Intelligence (AI) Sebagai Sarana Pelestarian Budaya Pada Anak Usia Dini”.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Dosen Mengabdi di Desa Asal dan menyasar para pendidik anak usia dini di Kabupaten Banyuwangi.

    Pelatihan yang digelar pada Sabtu, (7/62025) di TK Sayuwiwit ini diikuti oleh guru-guru dari enam lembaga Taman Kanak-Kanak (TK) yang tergabung dalam Gugus 6 Gugus Barong Ider Bumi, Kecamatan Banyuwangi.

    Tujuan utama pelatihan ini adalah membekali para guru TK dengan pengetahuan serta keterampilan dalam menciptakan media pembelajaran digital berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mengangkat konten budaya lokal khas masyarakat Osing.

    Mengingat anak-anak zaman sekarang sangat akrab dengan teknologi, penggunaan media digital untuk memperkenalkan budaya lokal dinilai sebagai pendekatan yang strategis agar anak-anak tetap terhubung dengan identitas budaya mereka di tengah kemajuan teknologi.

    Sepanjang kegiatan pelatihan, para guru dikenalkan dengan berbagai macam teknologi AI yang bisa dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, seperti AI untuk menghasilkan teks cerita, ilustrasi gambar, video, suara, musik, hingga animasi 3D.

    Para peserta tidak hanya menerima penjelasan teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan media pembelajaran yang menarik dan kontekstual dengan bantuan AI.

    Sebagian besar guru telah memiliki pengetahuan dasar tentang pemanfaatan AI, khususnya dalam membuat teks.

    Namun, antusiasme meningkat ketika pemateri dari Universitas Jember memperlihatkan contoh lagu anak bertema budaya lokal Banyuwangi yang dihasilkan dengan bantuan AI.

    Praktik Dosen Mengabdi di Desa Asal
    Praktik Dosen Mengabdi di Banyuwangi (Dok. sastrawacana.id/)

    Dalam sesi praktik, para guru diajak menggali tema-tema khas budaya Banyuwangi, seperti tarian tradisional, makanan khas, bahasa Osing, serta kekayaan alam daerah, untuk kemudian disusun menjadi lagu edukatif yang ramah bagi anak-anak.

    Kemudian, dengan memanfaatkan teknlogi AI generatif juga tercipta melodi lagu indah dengan nuansa ceria.

    Tidak hanya membuat lagu, para guru juga berlatih membuat animasi 3D sederhana yang menampilkan kekayaan flora dan fauna khas Blambangan.

    Animasi flora meliputi berbagai jenis bunga, buah, dan pohon, sedangkan animasi fauna menampilkan keanekaragaman hewan laut Banyuwangi serta satwa liar dari hutan Alas Purwo.

    Media visual interaktif ini dirancang agar dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas, membantu anak mengenali objek-objek budaya dan alam tanpa harus melihatnya secara langsung.

    “Saya sangat terkesan karena ternyata membuat lagu dan animasi bisa dilakukan dengan bantuan AI. Kami jadi lebih dimudahkan dan berikutnya dapat menjadi inspirasi dalam mengajarkan budaya lokal kepada anak menjadi semakin menarik,” ujar Ibu Nanik, salah satu guru TK dari Kecamatan Kebalenan.

    Reski Yulina Widiastuti, selaku ketua tim pengabdian, menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini bukan sekadar mengenalkan teknologi AI kepada guru, melainkan memperkenalkannya sebagai alat bantu strategis untuk menggali dan mengembangkan ide-ide kreatif dalam proses pembelajaran berbasis budaya.

    “Dengan AI, guru bisa menciptakan lagu, animasi, cerita interaktif, dan banyak hal lainnya tanpa harus menjadi ahli teknologi,” jelasnya.

    Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi dan kolaborasi antarguru, sehingga tercipta komunitas kreatif yang aktif dalam menciptakan konten pembelajaran yang berakar pada budaya lokal.

    Melalui pelatihan ini, diharapkan para pendidik usia dini di Banyuwangi, khususnya di jenjang TK, dapat meningkatkan kompetensi digital mereka dan menghasilkan media pembelajaran yang edukatif sekaligus memikat.

    Harapannya, guru-guru dapat menjadi pionir dalam upaya pelestarian budaya Osing melalui pendidikan yang inovatif, menyenangkan, dan sejalan dengan perkembangan teknologi masa kini.

  • Boyong Tiga Piala, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi Tampil Gemilang di HAN 2025

    Boyong Tiga Piala, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi Tampil Gemilang di HAN 2025

    Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh TK Kemala Bhayangkari Rogojampi dalam perhelatan akbar peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2025.

    Kegiatan ini berlangsung meriah di halaman TK Negeri Model Banyuwangi pada Sabtu (31/05) dan diikuti oleh puluhan lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain (KB) seluruh penjuru Kabupaten Banyuwangi.

    Diselenggarakan oleh Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Banyuwangi, ajang ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan bakat, kreativitas, serta semangat berkompetisi secara positif dalam suasana yang menyenangkan.

    Tidak hanya menjadi tempat menampilkan talenta, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter anak sejak dini melalui pengalaman langsung di atas panggung.

    Pada kesempatan kali ini, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi tampil mencuri perhatian dengan berhasil membawa pulang tiga piala kemenangan dari berbagai cabang lomba, yakni:

    • Juara 1 lomba mewarnai tingkat TK se-Kabupaten Banyuwangi
    • Juara 1 lomba lari rintangan
    • Juara 2 lomba menari bertema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”

    Capaian ini tentu bukan hasil instan, melainkan buah dari kerja keras para guru dalam membina anak-anak secara konsisten, serta kolaborasi antara sekolah dan orang tua murid yang terus terjalin harmonis.

    Kelompok Tari TK Kemala Bhayangkari
    Kelompok Tari TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Salah satu momen paling mengesankan dalam kegiatan ini adalah penampilan tim tari TK Kemala Bhayangkari Rogojampi dalam lomba menari yang mengangkat tema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”.

    Dengan kostum nyentrik yang mencerminkan semangat anak-anak masa kini dan gerakan tari yang enerjik serta terkoordinasi dengan baik, tim ini sukses memukau dewan juri dan penonton.

    Tak heran jika mereka berhasil meraih posisi sebagai Juara 2 tingkat Kabupaten dan menuai banyak pujian.

    Ketua Komite Sekolah, Sugeng, memberikan apresiasi tinggi atas usaha dan kepercayaan diri para peserta didik.

    Ketua Komite TK Kemala Bhayangkari
    Ketua Komite TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Dalam wawancaranya, beliau menyampaikan rasa bangga atas sinergi yang kuat antara guru, siswa, dan orang tua.

    “Anak-anak menunjukkan performa yang luar biasa. Mereka tampil percaya diri, antusias, dan sudah cukup matang untuk ukuran usia dini. Ini adalah hasil nyata dari semangat kebersamaan serta dukungan luar biasa dari para guru dan orang tua,” ujarnya penuh kebanggaan.

    Kebanggaan serupa juga dirasakan oleh para wali murid, salah satunya Eva, orang tua dari peserta lomba tari yang terharu ketika melihat anak-anak menari di atas panggung.

    “Rasanya haru sekali melihat anak-anak tampil sepenuh hati. Mereka begitu percaya diri, dan sebagai orang tua, itu adalah momen yang sangat menyentuh. Kami sangat bersyukur bisa menyaksikan sendiri proses mereka belajar, berlatih, hingga meraih juara,” tutur Eva dengan penuh haru.

    Yang membuat lomba menari tahun ini semakin spesial adalah kehadiran Subari Sofyan, seorang maestro tari tingkat nasional yang didapuk sebagai juri utama.

    Dengan pengalaman panjang di dunia seni pertunjukan, Subari memberikan penilaian yang mendalam dan menyeluruh terhadap setiap penampilan peserta.

    Ia tidak hanya menilai dari aspek gerakan tari, namun juga memperhatikan kostum, pemilihan musik, ekspresi wajah, penguasaan panggung, serta keselarasan gerak antar anggota tim.

    Subari Sofyan
    Juri dan Tim Tari TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Tak berhenti di situ, Subari juga menyempatkan diri untuk memberikan edukasi seni kepada peserta dan para pendamping, menjadikan ajang ini tidak hanya kompetitif namun juga edukatif.

    Melalui torehan prestasi ini, TK Kemala Bhayangkari Rogojampi menunjukkan bahwa pembinaan karakter dan bakat anak usia dini harus dilakukan secara menyeluruh dan terarah.

    Lingkungan belajar yang positif, guru-guru yang berdedikasi, serta dukungan penuh dari orang tua menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan yang unggul, percaya diri, dan berprestasi.

    Ajang Hari Anak Nasional tahun ini menjadi bukti bahwa anak-anak, meskipun masih sangat belia, namun mampu tampil mengesankan bila diberikan kesempatan, bimbingan, dan ruang untuk berkembang.

    Dan TK Kemala Bhayangkari Rogojampi telah membuktikannya dengan beberapa prestasi yang sangat gemilang.

  • DKB Gelar Forum Sastra di Banyuwangi, Bahas Peran Sastra sebagai Cermin Jiwa dan Alat Tafsir Zaman

    DKB Gelar Forum Sastra di Banyuwangi, Bahas Peran Sastra sebagai Cermin Jiwa dan Alat Tafsir Zaman

    Dewan Kesenian Blambangan (DKB) menggelar forum diskusi sastra bertajuk “Sastra sebagai Arsip Jiwa” pada Kamis malam, 29 Mei 2025, bertempat di Palinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi.

    Acara ini menghadirkan narasumber utama Dr. Tengsoe Tjahjono, seorang akademisi Universitas Brawijaya Malang sekaligus penyair dengan jejak panjang dalam dunia literasi Indonesia.

    Dalam forum tersebut, Dr. Tengsoe membuka refleksi dengan pernyataan filosofis, “Dunia itu obah, dunia itu berubah.”

    Ungkapan tersebut bukan sekadar pembuka, melainkan titik tolak untuk menjelaskan bagaimana sastra berfungsi lebih dari sekadar pencatat realitas.

    Ia mengemukakan bahwa karya sastra memiliki kemampuan untuk menghidupkan kembali kenyataan melalui perenungan estetis dan pemaknaan ulang oleh subjek kreatif.

    Diskusi yang dimoderatori oleh Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, berlangsung dalam suasana terbuka dan kontemplatif.

    Hadir dalam forum tersebut berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap dunia literasi dan kebudayaan, antara lain para sastrawan, akademisi, guru, mahasiswa, seniman, dan pegiat komunitas literasi.

    Menurut Dr. Tengsoe, sastra merupakan aktivitas interpretatif yang menembus batas-batas logika dan data objektif. Ia menyatakan, “Di tangan ilmuwan, A adalah A. Tapi di tangan penyair, A bisa menjadi A plus.”

    Ungkapan ini menggambarkan fleksibilitas semiotik dalam karya sastra, di mana simbol, metafora, dan bahasa figuratif digunakan untuk menafsirkan dunia secara lebih dalam dan kompleks.

    Dalam paparannya, Tengsoe menolak dikotomi lama yang memisahkan antara kehidupan praktis dan kesusastraan.

    Ia menekankan bahwa menjadi sastrawan tidak identik dengan kehidupan yang terpinggirkan secara ekonomi.

    “Faktanya, banyak sastrawan yang bisa keliling dunia karena puisi yang mereka tulis,” ujarnya.

    Dengan demikian, sastra memiliki dimensi ekonomi, sosial, sekaligus spiritual yang relevan dengan perkembangan zaman.

    Ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan dalam akses kesusastraan. Sastra tidak boleh eksklusif hanya bagi kalangan intelektual.

    “Nelayan pun bisa menulis. Petani juga. Kita semua punya pengalaman hidup yang layak dirangkai,” ungkapnya.

    Ia memperkenalkan istilah “arsip jiwa” sebagai konseptualisasi sastra sebagai sarana menyimpan, menata ulang, dan menyuarakan pengalaman manusia secara otentik.

    Salah satu sorotan dalam diskusi adalah pembahasan tentang antologi puisi Jenggirat, karya Tengsoe yang ditulis dengan latar dan napas Banyuwangi.

    Ia menyebut tanah kelahirannya tidak hanya sebagai latar geografis, tetapi sebagai ruang batin yang membentuk kesadaran dan estetika puisinya.

    Dalam sesi tanya-jawab, isu tentang kecerdasan buatan (AI) mengemuka.

    Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan AI menggantikan peran penyair, Dr. Tengsoe menjawab dengan nada santai namun tajam: “AI itu cerdas, tapi tidak bisa nakal. Justru kenakalan itu yang melahirkan puisi.”

    Ia menjelaskan bahwa puisi lahir dari kegelisahan dan ketidakteraturan batin manusia, sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma yang rigid dan kalkulatif.

    Ia juga mengingatkan bahwa puisi bukan sekadar bentuk teknis, melainkan memiliki daya resonansi emosional.

    “Orang yang menulis tapi tidak membaca akan tampak dari puisinya,” paparnya, menekankan pentingnya intertekstualitas dan pengalaman membaca dalam proses kreatif kepenyairan.

    Diskusi ini turut diwarnai oleh respons-respons dari tokoh kebudayaan Banyuwangi. Ketua DKB, Hasan Basri, menyuarakan keprihatinannya terhadap kecenderungan pelombaan puisi di lingkungan pendidikan yang lebih menekankan aspek kompetitif daripada ekspresif.

    Hasan menambahkan bahwa DKB tengah merancang pendekatan kuratorial baru dalam menilai karya sastra, yakni melalui dimensi kedalaman ekspresi dan kejujuran estetis, bukan semata-mata teknik dan kepatuhan formal.

    Sementara itu, dari komunitas Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo, Hakim Said menambahkan dimensi reflektif dengan pendekatan humor dan filosofi.

    Ia mengemukakan bahwa keberanian berimajinasi merupakan dasar dari lahirnya karya sastra.

    “Kalau imajinasi itu hidup, maka bisa jadi kenyataan,” ujarnya.

    Ia menyatakan kesiapan Rumah Kebangsaan untuk mendukung ekosistem sastra Banyuwangi agar lebih menyentuh masyarakat luas.

    Forum diskusi tersebut berlangsung dinamis. Beberapa peserta menyampaikan pendapat dan berbagi pengalaman tentang proses kreatif yang muncul dari keseharian, termasuk bagaimana obrolan warung kopi dan tontonan televisi dapat menjadi sumber narasi literer jika dilihat melalui kesadaran estetik.

    Menutup forum, Dr. Tengsoe menyampaikan sebuah pernyataan penting tentang syarat fundamental menjadi penulis: “Menjadi penulis adalah menjadi pembaca yang baik. Membaca buku, membaca peristiwa, atau membaca manusia.”

    Ia menggarisbawahi bahwa karya sastra lahir dari interaksi reflektif antara penulis dan dunia di sekitarnya.

    Sebagai penutup, beberapa peserta membacakan puisi mereka dalam suasana sederhana namun intim.

    Tidak ada mikrofon canggih atau panggung formal, namun kehadiran kata-kata dan semangat kolektif menjadikan malam tersebut sebagai ruang pertukaran intelektual dan ekspresi estetis yang otentik.

    DKB menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini dapat menjadi bagian dari ritual intelektual dan kultural yang berkelanjutan.

    Sastra, sebagaimana ditegaskan oleh para peserta, bukan hanya tentang menulis, tetapi tentang memberi nyawa pada realitas melalui bahasa.

  • Musyawarah Khusus Kelurahan Singotrunan, Warga Sepakat Bentuk Koperasi Merah Putih

    Musyawarah Khusus Kelurahan Singotrunan, Warga Sepakat Bentuk Koperasi Merah Putih

    Warga Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi, menggelar musyawarah kelurahan khusus pada hari Selasa (28/5) untuk membahas pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih.

    Kegiatan yang digelar di Pendopo Kelurahan Singotrunan dan dihadiri oleh berbagai pihak terkait, diantaranya Lurah Singotrunan, perwakilan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Banyuwangi, perwakilan dari Kecamatan Banyuwangi, Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat, sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, serta puluhan warga yang mewakili berbagai RW di wilayah kelurahan.

    Dalam sambutannya, Lurah Singotrunan, Kadarisman, menyampaikan bahwa pembentukan koperasi ini merupakan langkah strategis yang sangat penting untuk memperkuat struktur perekonomian masyarakat di tingkat kelurahan.

    Menurutnya, koperasi menjadi solusi konkret untuk menjawab tantangan ekonomi yang muncul pasca pandemi COVID-19, serta merupakan bagian dari upaya jangka panjang menuju kemandirian ekonomi warga.

    “Koperasi Kelurahan Merah Putih ini diharapkan menjadi wadah ekonomi kerakyatan yang dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel, serta mampu menampung berbagai kegiatan usaha masyarakat seperti simpan pinjam, perdagangan, dan layanan usaha kecil lainnya,” ujarnya.

    Sementara itu, perwakilan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Banyuwangi, Peni, menyatakan bahwa pihaknya akan memberikan pendampingan penuh dalam proses legalisasi dan pembentukan koperasi hingga koperasi tersebut dapat beroperasi secara resmi dan optimal.

    Ia juga mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi aktif sebagai anggota koperasi agar manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara merata dan menyeluruh oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Dalam forum musyawarah yang berlangsung secara demokratis dan penuh semangat kekeluargaan tersebut, peserta secara mufakat menyetujui pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih.

    Mereka juga sepakat untuk segera membentuk struktur organisasi koperasi yang terdiri dari lima orang pengurus dan tiga orang dewan pengawas.

    Dewan pengawas ini dipilih dari perwakilan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang dianggap memiliki integritas dan kepedulian terhadap pembangunan ekonomi warga.

    Pengurus dan pengawas koperasi tersebut diberi mandat untuk segera menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) koperasi serta mempersiapkan seluruh dokumen yang diperlukan untuk pengajuan badan hukum koperasi.

    Sebagaimana diketahui, pembentukan Koperasi Kelurahan Merah Putih ini merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang bertujuan memperkuat basis ekonomi masyarakat di tingkat lokal dan mempercepat pemerataan kesejahteraan di seluruh wilayah Indonesia.

    Salah satu tokoh masyarakat yang hadir dalam musyawarah tersebut turut memberikan pandangan.

    Ia menekankan pentingnya penunjukan pengurus koperasi yang benar-benar kompeten, jujur, dan memiliki pengalaman di bidang usaha maupun dalam pengelolaan koperasi.

    Menurutnya, keberhasilan koperasi sangat bergantung pada kualitas dan integritas orang-orang yang menjalankannya.

    Dengan semangat gotong royong, kemandirian, dan komitmen bersama, warga Kelurahan Singotrunan optimistis bahwa pembentukan koperasi ini akan menjadi tonggak penting dalam pembangunan ekonomi lokal yang inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

  • Dari Buku ke Aksi, Ruang Baca Kita Bangun Budaya Baca di Ruang Publik

    Dari Buku ke Aksi, Ruang Baca Kita Bangun Budaya Baca di Ruang Publik

    Ruang Baca Kita, sebuah komunitas kecil dengan mimpi besar, hadir membawa semangat baru dalam upaya menumbuhkan kembali budaya membaca di tengah masyarakat.

    Diinisiasi oleh sekelompok individu dengan latar belakang beragam, mulai dari pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, hingga pegiat literasi, komunitas ini disatukan oleh kecintaan yang sama terhadap buku dan keinginan kuat untuk berbagi manfaatnya kepada lebih banyak orang.

    Komunitas ini tidak hanya menyediakan ruang untuk membaca buku secara gratis, tetapi juga menjadi wadah interaktif yang memfasilitasi berbagai kegiatan menarik.

    Mulai dari diskusi ringan tentang topik-topik terkini, bedah buku bersama penulis atau pembaca aktif, hingga sesi membaca buku bersama anak-anak sebagai bentuk pendekatan literasi sejak dini.

    Semua kegiatan tersebut dilakukan dengan semangat kebersamaan dan kesukarelaan.

    Lahir dari sebuah keresahan sederhana yang melihat tumpukan buku di rumah yang tak tersentuh dan tak terbaca, ide untuk mengajak teman-teman berkumpul dan membaca bersama pun tumbuh menjadi gerakan yang lebih besar.

    Apa yang awalnya hanya percakapan ringan kini menjelma menjadi agenda rutin yang digelar setiap akhir pekan.

    Bahkan tak jarang, Ruang Baca Kita juga menyelenggarakan kegiatan spontan seperti pojok baca dadakan di lokasi-lokasi strategis, yang selalu berhasil menarik perhatian masyarakat sekitar.

    Salah satu kegiatan yang kini menjadi ciri khas komunitas ini adalah membuka lapak baca di area publik seperti Taman Blambangan, sebuah ruang terbuka hijau yang menjadi pusat aktivitas warga Banyuwangi.

    Dari pagi hingga sore hari, lapak ini ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak yang antusias membuka halaman demi halaman buku cerita, pelajar yang mencari referensi bacaan tambahan, hingga orang dewasa yang sekadar ingin bersantai sambil menikmati bacaan ringan.

    Semua larut dalam atmosfer literasi yang hangat dan inklusif.

    Pada Minggu, 18 Mei 2025, Ruang Baca Kita juga menjalin kolaborasi bersama Banyuwangi Book Party, sebuah inisiatif lokal yang memiliki visi serupa dalam menumbuhkan minat baca masyarakat.

    Kolaborasi ini menjadi momen penting yang memperkuat sinergi antar komunitas literasi di Banyuwangi dan menjadi bukti nyata bahwa gerakan membaca bisa tumbuh subur jika digerakkan bersama-sama.

    Bagi Ruang Baca Kita, membaca bukan sekadar aktivitas menambah ilmu pengetahuan, melainkan juga cara untuk memahami dunia dan diri sendiri.

    Melalui membaca, seseorang bisa menemukan minat dan bakat yang sebelumnya tidak disadari.

    Bahkan, membaca bisa menjadi terapi tersendiri untuk menenangkan pikiran, membuka wawasan baru, serta membangun empati terhadap sesama.

    Dengan mengusung semangat gotong royong, keterbukaan, dan inklusivitas, komunitas ini berharap dapat menjadi percikan kecil yang menyalakan api semangat membaca di tengah masyarakat.

    Sebab mereka percaya, perubahan besar dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, seperti satu halaman buku yang dibaca dengan hati.

    Jika Anda meyakini bahwa sebuah perubahan bisa lahir dari lembar demi lembar buku, maka Ruang Baca Kita adalah tempat yang tepat untuk Anda.

    Ayo, bergabung bersama kami dan jadilah bagian dari gerakan literasi yang menyenangkan, inklusif, dan berdampak!

    Untuk informasi kegiatan dan kolaborasi selanjutnya, silakan kunjungi laman Instagram kami di @ruangbacakitaa.

    Kami tunggu kehadiran dan partisipasi Anda dalam menciptakan masyarakat yang gemar membaca!

  • Perkuat Koordinasi dan Pembinaan Al-Qur’an, LPTQ Jawa Timur Adakan Rakorda se-Jatim

    Perkuat Koordinasi dan Pembinaan Al-Qur’an, LPTQ Jawa Timur Adakan Rakorda se-Jatim

    Dalam rangka menyatukan persepsi, mengevaluasi program kerja, serta memperkuat sinergi dan kolaborasi antar lembaga, Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) yang diikuti oleh seluruh perwakilan LPTQ Kabupaten/Kota se-Jawa Timur.

    Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 27 Mei 2025 ini bertempat di Aula Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur, Jl. Balongsari Tama, Surabaya.

    Rakorda ini menjadi momen strategis bagi LPTQ Jawa Timur untuk mempersiapkan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXII Tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2025 yang dijadwalkan akan digelar dalam waktu dekat.

    Kegiatan ini juga menjadi forum komunikasi dan konsolidasi antara LPTQ tingkat provinsi dengan LPTQ kabupaten/kota, serta lintas sektor yang turut berperan dalam pengembangan tilawatil Qur’an di daerah masing-masing.

    Dalam sambutannya, Dr. H. Akh. Jazuli, Asisten Administrasi dan Umum Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur sekaligus Ketua II LPTQ Jawa Timur, menyampaikan bahwa Rakorda ini bukan sekadar ajang evaluasi, melainkan juga wahana untuk menyusun peta jalan program kerja ke depan.

    Ia menegaskan pentingnya memperluas cakupan program LPTQ agar tidak hanya terfokus pada penyelenggaraan MTQ, tetapi juga menjangkau aspek-aspek keagamaan lain yang bersifat pembinaan, edukatif, dan transformasional.

    “Kita perlu merancang program pembinaan yang berkelanjutan, menyentuh masyarakat luas, terutama generasi muda, agar nilai-nilai Al-Qur’an dapat benar-benar membumi dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

    Rakorda ini juga menjadi ruang untuk menyuarakan berbagai tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh LPTQ di tingkat kabupaten/kota.

    Mengangkat beberapa isu yang sedang menjadi perbincangan hangat, forum ini diharapkan dapat merumuskan solusi bersama dan memperkuat koordinasi lintas sektor, khususnya dengan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) dan Kementerian Agama Kabupaten/Kota, yang turut hadir dalam Rakorda ini.

    Selain sebagai ajang perencanaan teknis, Rakorda juga menjadi sarana memperkuat jaringan kerja dan pertukaran informasi antar daerah.

    Beberapa daerah berbagi praktik baik (best practices) dalam pembinaan qari’ dan qari’ah, pengembangan rumah tahfidz, serta pemanfaatan teknologi digital untuk pelatihan Al-Qur’an secara daring.

    “Dengan adanya forum seperti ini, kami merasa lebih didengar dan termotivasi. Semoga hasil Rakorda ini benar-benar menjadi panduan nyata yang bisa diaplikasikan di daerah kami,” ungkap salah satu peserta dari LPTQ Kabupaten Madiun.

    Rakorda yang berlangsung selama sehari penuh ini diisi dengan berbagai sesi, mulai dari laporan kegiatan LPTQ Provinsi, presentasi perencanaan MTQ XXXII, hingga diskusi kelompok tematik.

    Kehadiran para perwakilan dari kabupaten/kota se-Jawa Timur, baik dari unsur LPTQ, Bagian Kesra, maupun Kemenag, menunjukkan komitmen bersama dalam membangun ekosistem pembinaan Al-Qur’an yang kuat dan berkelanjutan.

    LPTQ Jawa Timur berharap, dari Rakorda ini akan lahir langkah-langkah konkret dan sinergis dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan MTQ, serta memperluas dampak positif program-program keagamaan bagi masyarakat.

    Dengan semangat gotong royong dan ukhuwah islamiyah, LPTQ Jawa Timur optimis bahwa penyelenggaraan MTQ XXXII mendatang dapat menjadi momentum strategis untuk menumbuhkan kecintaan umat terhadap Al-Qur’an serta mempererat ikatan sosial-keagamaan di seluruh penjuru Jawa Timur.

  • Dibuka Pukul 08.17 WIB, Seleksi Hari Anak Nasional 2025 Meriahkan Panggung Kreativitas Anak Usia Dini

    Dibuka Pukul 08.17 WIB, Seleksi Hari Anak Nasional 2025 Meriahkan Panggung Kreativitas Anak Usia Dini

    Suasana penuh semangat dan keceriaan mewarnai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 yang digelar oleh Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kecamatan Rogojampi pada Senin pagi (26/5).

    Berlangsung di TK Aisyah Bustanul Athfal Rogojampi, kegiatan yang diselenggarakan oleh IGTKI Kecamatan Rogojampi ini diikuti oleh 25 lembaga Taman Kanak-Kanak dan 5 Kelompok Bermain yang tersebar di wilayah kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

    Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Panitia M. Gufron, S.Pd., yang menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya kegiatan ini.

    Ia menyapa satu per satu tamu undangan, dewan juri, guru, dan peserta lomba dengan penuh semangat.

    “Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak, mulai dari orang tua, guru, dewan juri, hingga panitia yang telah bekerja keras. Harapan kami, anak-anak dari Rogojampi bisa menjadi wakil Kabupaten Banyuwangi untuk berkompetisi di tingkat Provinsi Jawa Timur,” ujar Gufron dalam sambutannya.

    Hari Anak Nasional yang rutin diperingati setiap tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk memberikan ruang ekspresi, eksplorasi, dan unjuk bakat bagi para peserta didik.

    Dalam sambutan kedua, Ketua IGTKI Kecamatan Rogojampi, Sri Isniwati, S.Pd., menjelaskan bahwa HAN merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan secara serempak mulai dari tingkat kecamatan hingga pusat oleh IGTKI.

    “Setiap tahun, bentuk lomba yang diadakan selalu berbeda karena HAN bukan sekadar seremoni, tetapi juga ajang pelatihan kompetensi untuk anak-anak dan para pendidik. Tahun ini, kami ingin lebih banyak menggali aspek budaya, lingkungan, dan kemampuan literasi anak sejak usia dini,” terang Isniwati.

    Kegiatan kemudian dibuka secara resmi pada pukul 08.17 WIB oleh Dian Indriyati, S.Pd., selaku Koordinator Wilayah Kerja Satuan Pendidikan (Korwilkersatdik) Kecamatan Rogojampi.

    Dalam sambutannya, Dian menyampaikan apresiasi tinggi kepada IGTKI Rogojampi atas kerja keras dan sinergi dalam menyelenggarakan kegiatan ini dengan sangat baik.

    “Kami sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini yang begitu tertib dan edukatif. HAN bukan hanya milik anak-anak, tapi juga momentum bagi kita sebagai pendidik untuk terus belajar dan mengembangkan pendekatan yang kreatif,” ujar Dian yang juga membuka secara simbolis kegiatan HAN.

    Penampilan Tari TK Kemala Bhayangkari
    Penampilan Tari TK Kemala Bhayangkari (Dok. sastrawacana.id/)

    Peringatan HAN tahun ini di Rogojampi menghadirkan beragam cabang lomba yang menarik dan edukatif, seperti: Lomba Bercerita, Lari Rintangan, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Kreasi 3M lingkunganm dan 7 Tari Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

    Setiap lomba didesain untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kerja sama, kemampuan motorik, serta menanamkan nilai-nilai budaya dan kecintaan terhadap lingkungan.

    Khusus untuk lomba menari, perwakilan Kecamatan Rogojampi diwakili oleh TK Kemala Bhayangkari.

    Mereka menampilkan pertunjukan penuh semangat dan berwarna yang memikat perhatian penonton, memperlihatkan latihan yang matang dan kerja keras yang dilakukan bersama guru dan orang tua.

    Salah satu cabang lomba yang paling menyita perhatian adalah lomba bercerita, di mana anak-anak tampil membawakan cerita-cerita pengalaman pribadinya, seperti saat sedang berlibur ke luar kota.

    Penampilan mereka tidak hanya menampilkan kemampuan bicara di depan umum, tetapi juga ekspresi, intonasi suara, kesesuaian busana, dan penguasaan panggung untuk anak seusia mereka.

    Lomba ini dinilai oleh tiga juri berpengalaman dari berbagai latar belakang seni dan literasi, diantaranya Bung Aguk, seorang budayawan kenamaan Banyuwangi, Sri Umiati, penari senior sekaligus istri dari almarhum maestro tari Banyuwangi, Sumitro Hadi, serta Maulana Affandi, penulis dan pegiat literasi Banyuwangi.

    Menurut para juri, penampilan peserta sangat menggembirakan dan menjadi bukti bahwa geliat literasi di Rogojampi semakin berkembang.

    Namun, mereka juga memberikan beberapa catatan penting agar peserta, terutama para juara, dapat meningkatkan kualitas menjelang kompetisi di tingkat kabupaten.

    “Ada beberapa aspek yang bisa ditingkatkan, seperti penguasaan panggung (blocking), ekspresi wajah, dan pemanfaatan properti. Ini bukan untuk mengurangi nilai, tapi sebagai bekal untuk bisa melangkah lebih jauh di tingkat yang lebih tinggi,” ujar Bung Aguk.

    Sementara itu, Sri Umiati menegaskan bahwa dalam bercerita, ekspresi harus diperhatikan agar isi dalam cerita dapat tersampaikan.

    “Jadi, ekspresi harus selaras dengan cerita yang disampaikan supaya penonton merasakan hal yang serupa dengan apa yang diceritakan,” tegasnya.

    Sementara itu, Maulana Affandi yang mengingatkan agar para guru memerhatikan juknis lomba, termasuk durasi waktu sehingga dapat menulis naskah yang disesuaikan dengan waktu penampilan.

    “Bagaimanapun itu, setiap perlombaan terikat oleh aturan, sehingga diharapkan para guru dapat memerhatikan juknis sehingga para peserta bisa tampil maksimal,” tandasnya.

    Membentuk Generasi Hebat Sejak Dini
    Kegiatan Hari Anak Nasional 2025 di Kecamatan Rogojampi menjadi refleksi nyata bagaimana pendidikan anak usia dini menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak, baik secara akademik, emosional, maupun sosial.

    Dengan dukungan dari guru, orang tua, dan pemerintah daerah, anak-anak Rogojampi menunjukkan bahwa mereka siap menjadi generasi hebat Indonesia yang penuh semangat, cerdas, dan cinta budaya.

    Di sisi lain, peringatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan panggung kebanggaan bagi anak-anak untuk tampil dan mendapat ruang yang layak dalam proses pendidikan mereka.

  • Puisi-Puisi Gimien Artekjursi, Sang Penyair dari Tanah Imajinasi

    Puisi-Puisi Gimien Artekjursi, Sang Penyair dari Tanah Imajinasi

    STASIUN ROGOJAMPI

    (Suatu Malam di Bulan September)

     

    setelah kereta terakhir berangkat

    loket ditutup, sinyal pun dilipat

    rel-rel membujur makin kaku

    dan peron lengang

    berselimut dingin angin malam akhir september

     

    di ruang tunggu

    tinggal nyala lampu menghidupkan malam

    bersama bangku-bangku yang tertidur tanpa mimpi

     

    (di jalanan

    seperti biasa: semua serba diburu

    waktu tak pernah mau menunggu

    sampai habis suara di kerongkonganmu memanggil

    larimu tertinggal jauh

    dikejar bayang-bayang remang lampu jalanan)

     

    dan stasiun masih setia menunggu

    (walau tanpa rindu)

    apapun yang datang

    untuk berangkat

    menuju stasiun-stasiun selanjutnya

    yang juga senantiasa menunggu kedatangan apapun

    yang baru

    walau tanpa rindu

     

    Kumendung, September-Oktober 2023

    *Stasiun Rogojampi merupakan stasiun kereta api kelas I. Terletak di Rogojampi, Banyuwangi. Termasuk dalam Daerah Operasi IX Jember. (Google)

     

    STASIUN KALIWUNGU (RIWAYATMU KINI)

    hanya melintas

    tak ada lagi yang singgah di sini untuk melepas lelah

    kalaupun singgah sekedar menunggu kesempatan lewat

    loket, peron dan bangku-bangku

    tak lagi menunggu apapun

    meski penjaga senantiasa melambai

    menyambut setiap yang melintas

     

    tapi rel-rel tak lepas setia

    membujur di seluruh jalur

    juga tanda-tanda tak henti menunjuk arah dan peringatan

    seiring putaran waktu

     

    lambaian penjaga mencoba mengingatkan:

    pernah banyak kenangan, dulu

    berpuluh musim lalu!

     

    tapi masihkah ada yang mau mengenang

    kenangan dan masa lalu itu?

    atau sekedar melihat batas nama

    dan terburu-buru segera menjauh untuk melupakan semua?

     

    lengking peluit penjaga stasiun menegaskan berkali-kali:

    kereta lewat dan menjauh dari stasiun ini

    hanya melintas membawa gemuruhnya sendiri

     

    sampai waktu mengubahnya

    :hilang atau berganti

     

    Kaliwungu, 24 November 2023

    *Stasiun Kaliwungu adalah stasiun kereta api kelas II yang terletak di Krajan Kulon, Kaliwungu, Kendal; termasuk ke dalam Daerah Operasi IV Semarang. Tidak ada kereta api yang berhenti di sini, kecuali ada penyusulan antar kereta api. (Google)

     

    STASIUN SUMBERWADUNG (NASIBMU KINI)

     

    tak ada lagi keriuhan:

    perempuan-perempuan menggendong dagangan

    laki-laki bersarung kumuh menggerutu

    anak-anak berseragam sekolah terburu-buru

    :tak ada

     

    hanya penjaga stasiun bertopi merah

    sekali waktu siaga

    dengan tongkat sinyalnya

    menghormat pada kereta melaju

    setelah semua tanda dari jurusan yang akan dilintasi

    dipastikan siap

     

    setelah bertahun-tahun menimbun peristiwa

    hanya sebagian kenangan tersisa

    dalam ingatan mereka

    yang pernah hadir di stasiun itu

     

    di tengah waktu terus berlalu

    zaman berubah

    satu persatu harus ada yang tersisih

    digantikan atau dibuang

    diingat atau dilupakan

     

    tak ada lagi keriuhan di stasiun itu

    selain dalam kenangan

     

    Kumendung, 17 Oktober 2024

    *Stasiun Sumberwadung merupakan stasiun kereta api kelas III/kecil. Terletak di Tulungrejo, Glenmore, Banyuwangi. Sebelumnya stasiun ini menjadi penghentian semua kereta api penumpang dari dan menuju Banyuwangi. Per 10 Februari 2021 hanya KA Tawang Alun yang berhenti di stasiun ini. Kemudian sejak 1 Juni 2023 layanan penumpang di stasiun ini dihapus sama sekali. Sehingga tak ada lagi kereta api yang berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi persilangan dan penyusulan antar kereta api.(Google)

     

    KALIBARU, DI SALAH SATU SUDUTMU AKU PERNAH TINGGAL

     

    kalibaru

    di salah satu sudutmu kenangan itu tertinggal

    menggigil berselimut dingin dan malam yang membekukan

    dan selalu

    tiap kali melintas di jalanmu

    serasa aku terbenam ke masa lalu itu

    yang tak pernah ingin kuulang

    meski ada yang tak mungkin kubuang

    apalagi dilupakan

     

    dan seperti biasa

    dari stasiun

    kereta yang selalu berangkat

    dengan gerbong penuh mimpi yang itu-itu juga

    lengking peluitnya

    masih menembus terowongan mrawan dan garahan

    menggema sampai di perkebunan coklat, karet dan kopi

    tersangkut di runcing daun-daun pinus

    makin mengingatkanku pada suatu yang hilang

    tertimbun waktu

     

    dan di salah satu sudutmu serasa aku masih berdiam

    dengan mimpi dan secuil angan-angan

     

    selain kenangan

    apa yang kita cari ketika kembali ke masa lalu?

    harapan?

    ilusi?

    kesia-sian?

     

    –jangan menangis

    aku tak punya sapu tangan yang lembut

    untuk mengusap air matamu

     

    Kumendung, 2023-2024

    *Kalibaru adalah kota kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang berbatasan dengan Kabupaten Jember.

     

    STASIUN

    (SEBUAH AMSAL)

     

    di stasiun itu menunggu

    di bangku-bangku

    menunggu sebuah perjalanan

    diberangkatkan

    ke berbagai tujuan

     

    awal atau akhir

    tidaklah pasti

    suatu yang awal

    bisa jadi akhir

    bila tak lagi berlanjut

    dan yang akhir

    bisa jadi awal

    ketika terus melaju

     

    ketika akhirnya berhenti

    itu yang pasti

     

    di stasiun itu

    semua berawal

    lalu kembali singgah

    atau sekedar lewat

    bisa juga berakhir

    (tergantung takdir)

     

    Kumendung, 19 Juli 2024

     

    PERJALANAN

    (SEBUAH TANYA)

     

    apakah yang ada setelah perjalanan panjang?

    stasiun tempat berhenti

    stasiun tempat mulai

    dan burung-burung menggaris-bawahi tiap tanda

     

    yang tercecer mungkin terlupakan

    pada tiap tingkungan, pada tiap tanjakan

    pada stasiun-stasiun antara stasiun

    yang membeku, yang terkubur di bawah debu

    bahkan yang tak tahu lagi arah

     

    lantas apa yang sisa setelah perjalanan?

    jejak, kenangan, sebuah kesia-siaan?

    :stasiun-stasiun kosong

    tangis mengering

    cinta tak berkesampaian

     

    hanya matahari yang jelas masih bersinar

    bertahan entah sampai kapan

    (pengembara keburu lelap sebelum menemukan cinta)

     

    Biodata Gimien Artekjursi

    • Lahir: 03 Agustus 1963. Tinggal di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur
    • Puisi-puisi tampil di media cetak dan online di Indonesia dan pada beberapa antologi bersama.
    • Juara Lomba Cipta Puisi Sanggar Minum Kopi Bali (1989)
    • Juara Negeri Kertas com (2022)
    • Juara TISI (Taman Inspirasi Sastra Indonesia) (2023)
    • Nominasi Anugerah Sastra Apajake (2023)